Page 1

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

ISSN: 1412-890X


2

Aturan Butuh Ketegasan Ada yang hilang, mengeropos, dan entah hanyut kemana. Entah itu adalah seonggok hati penuh kesadaran, atau hati yang tak lagi berkiblat dengan kebenaran dan kesejatian manusia. Mungkinkah ini segelumit permasalahan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, ataupun manusia dengan Tuhan. Tentang moral, selalu ada masalah didalamnya. Berpendidikan atau tidak si pelaku. amoral selalu menjadi pelengkap cerita kehidupan sitokoh. Tak terlepas juga dengan mahasiswa. Dengan segala kepercayaan banyak orang terhadap mereka, ada yang menyebut agent of change, iron stock dan sebutan-sebutan berpujian lainnya. Seolah dengan mudahnya, mereka yang dielu-elukan menampakkan diri sebagai yang tercela. Kaum terdidik dan berlabel intelek ini tidak pernah bisa lepas dari kompleksitas permasalahannya. Perilaku amoral memang bukan lagi milik mereka yang tidak terdidik. Tanpa pandang bulu, kenistaan selalu menghukum mereka yang berdosa. Setiap orang berhak atas itu, tergantung management masing-masing yang akan mengarahkan mau dibawa kemana arah mata kehidupan ini. Hematnya, mereka bersorak tentang kebebasan. Namun, ini bukan lagi pembicaraan tentang sebuah kekebebasan. Lebih kepada kita sebagai apa kita. Jika kita memang makhluk ber-Tuhan, maka patuhlah dengan aturan Tuhan. Begitu juga halnya dengan keterkaitan dengan sebuah instansi. Bila kita memang berada disini, Universitas Negeri Padang ini, maka ikutilah jalannya, seperti apa yang telah dituangkan dalam deretan aturan yang membatasi kebebasan tersebut. Seperti halnya yang terjadi di kampus ini, penyelewengan terhadap asusila seakan merajalela. Bukti tertulis berupa surat perjanjian untuk tidak mengulangi tindakan asusila tersebut menumpuk di kantor satuan pengamanan UNP. Menjadi liar, apalagi sampai kebablasan, adalah sebuah proses yang mungkin saja nanti terjadi bila amoral ini dibiarkan begitu saja. Karena bukan lagi menunjukan identitas sebagai kaum intelektual. Memang perlu, untuk mengekang diri dari kebebasan diperlukan sebuah ikatan untuk mengikatnya dari keliaran. Disinilah perlunya ketegasan dari sebuah aturan. Aturan yang akan menjaga dan mengikat dari keliaran pelaku amoral. Tertulis ataupun tidak, resmi, hitam di atas putih sekalipun. Aturan itu sebenarnya ada. Dia mengawasi setiap perilaku. Membatasi dan menjadi iman untuk bertindak. Apapun, kita tidak terlepas dari aturan yang mengikat, disadari maupun tidak. Memang, semua butuh sebuah kata pasti. Yang akan mengatasi kekaburan. Semua butuh kepastian untuk sebuah ketegasan. Tanpa ketegasan, aturan yang tertulis, apa lagi yang hanya dikobarkan lewat lisan semata tidak akan memberi kata pasti untuk sebuah ketegasan. Untuk mengikat ketegasan dalam aturan ini, memang harus berjelas-jelas dalam pastinya sebuah aturan. Sebab aturan butuh ketegasan. Tanpa ketegasan, aturan hanya akan mendebu bersama waktu. Sebuah kepastian dan ketegasan, memang dibutuhkan untuk aman, damai, dan terjaganya kampus ini dari segala bentuk tindakan amoral.

+ Masih Saja Mesum - Mumpung gratis dan “ekslusif” + Menunggu Pembangunan IDB - Sekian lamaaaa…. Aku menungguuuuu…….. + 2066 Mahasiswa UNP Tanpa kabar - Entahlah, tanyakan pada rumput yang bergoyang

Memelihara Wibawa Kampus dengan Etika Kewibawaan kampus perlu selalu dijaga dan dipelihara oleh segenap sivitas akademika di dalam kampus. Selain dipelihara dengan prestasi akademik, wibawa kampus dapat pula dijaga dan dipelihara dengan etika sivitas akademika tersebut baik ketika berada di dalam kampus maupun ketika berada di luar kampus. Prestasi akademik yang tinggi merupakan aspek yang utama untuk memelihara bahkan meningkatkan kewibawaan kampus. Prestasi akademik dapat meliputi prestasi di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan olahraga. Selain prestasi akademik, wibawa kampus dapat pula ditingkatkan dengan sikap dan tingkah laku sivitas akademika yang beretika. Artinya, etika segenap sivitas akademika harus ditampakkan dan selalu dipelihara baik ketika berada di dalam kampus maupun ketika berada di luar kampus. Sebaliknya, perilaku sivitas akademika yang menunjukkan gejala yang amoral akan selalu dipantau oleh masyarakat di luar kampus. Jika gejala perilaku yang amoral sivitas akademika diketahui oleh masyarakat luar kampus, hal itu jelas akan menurunkan wibawa kampus. Di dalam kampus, etika sivitas akademika termasuk mahasiswa harus ditampakkan dalam

berbagai kehidupan di dalam kampus. Etika ini dapat ditampakkan ketika di dalam kelas, di kantor, dan lingkungan kampus. Etika mengikuti perkuliahan yang berada di ruang kuliah harus bersifat formal yakni pakaian, komunikasi, disiplin, sikap dan tingkah laku secara formal pula. Demikian juga etika ketika berurusan dengan pegawai dan dosen di kantor yang harus bersifat formal yakni pakaian, komunikasi, disiplin, sikap dan tingkah laku secara formal juga. Selain itu, hal yang sangat penting adalah menjaga etika yang baik ketika memanfaatkan internet di lingkungan kampus. Dalam hal ini, terutama sivitas akademika terutama mahasiswa harus menjaga kebersihan di lingkungan kampus. Setelah memanfaatkan internet, mahasiswa harus selalu menjaga kebersihan di tempatnya itu. Selain itu, kita juga harus menjaga perilaku yang menjurus kepada gejala yang tidak beretika baik ketika memanfaatkan internet maupun tidak pada siang dan malam hari. Kita juga harus menjaga etika di dalam kampus dari orang-orang luar kampus tidak beretika yang masuk ke kampus kita. Dengan demikian, kita sivitas akademika harus meningkatkan prestasi akademik dan memelihara etika untuk meningkatkan wibawa kampus kita. Eto.

Pokok Padang

Suatu kebanggan bagi kami edisi 176 ini bisa kembali lagi menghampiri pembaca setia semuanya. Kali ini laporan Ganto membahas permasalahan keamanan kampus di malam hari. Ini diangkatkan terkait tertangkapnya beberapa pasangan mahasiswa yang sedang berduaan dikawasan kampus. Kejadian ini sudah sering terjadi namun belum menjadi perhatian serius bagi pihak terkait. Maka dari itu dengan adanya laporan ini bisa menjadi pertimbangan bagi semua pihak untuk memperbaiki keadaan kampus menjadi kampus yang selama ini diidam-idamkan. Selain itu, Ganto juga memberiFoto Bersama: Kru Ganto berfoto bersama peserta dan pemateri PKJTLN usai acara diskusi di PDIKM, Padang Panjang, Rabu(6/11). f/Media takan pemanfaatan kemajuan teknologi di bidang Informasi dan Assalamualaikum Wr. Wb. Telekomunikasi (IT) untuk meningkatkan pelayanan bagi mahasiswa. Ini kami kemas dalam rubrik Teropong Salam Pers Mahasiswa. dengan berbagai info menarik lainnya. Tak hanya itu, Kesuksesan berasal dari kemauan yang kuat. setiap kegiatan dilingkungan UNP juga kami kemas Menjadi manusia yang berkegiatan diatas dalam rubrik Inter. Namun, ada beberapa kegiatan yang batas normal merupakan hal yang biasa dialami tidak bisa kami muat cetak karena keterbatan space guna menyuguhkan informasi untuk pembaca. bisa ditemui di laman web: ganto.or.id. Dengan iringan kalimat itu juga tahun ini Selain menyajikan berita, seperti biasanya Ganto Ganto bisa mengangkatkan sebuah kegiatan juga menyajikan tulisan-tulisan ilmiah mahasiswa dan Pelatihan Keterampilan Jurnalistik Tingkat Lanjut dosen yang terdapat pada rubrik artikel. Karya sastra Nasional (PKJTLN) yang merupakan salah satu berupa cerpen dan puisi juga dapat pembaca nikmati cita-cita besar dari beberapa tahun lalu. Kegiatan dibagian sastra dan budaya. Serta riset kecil-kecilan yang diikuti oleh 13 perwakilan lembaga pers mengenai kebiasaan mahasiswa dalam menghadiri sebuah mahasiswa dari 6 provinsi ini diselenggarakan seminar, untuk sertifikat atau untuk ilmu? di Padang Panjang 4-10 November lalu. Terakhir Akhir kata, kami mengucapkan selamat menikmati Ganto mengadakan PKJTL pada 2009 lalu dan sajian yang kami berikan. Kami selalu menunggu kritik tahun ini merupakan pencapaian terbesar bagi dan saran yang membangun dari seluruh pembaca guna kami semua atas terselenggara acara tersebut. memberikan karya yang lebih baik kedepannya. Selamat Ucapan terimakasih kami aturkan kepada semua membaca. pihak yang telah membantu menyukseskan. Viva Persma!

Surat Kabar Kampus Universitas Negeri Padang STT No. 519 SKK/DITJEN PPG/STT/1979, International Standard Serial Number (ISSN): 1412-890X, Pelindung: Rektor UNP: Prof. Dr. Phil Yanuar Kiram, Penasehat: Pembantu Rektor III UNP: Dr. Syahrial Baktiar, M.Pd, Penanggung Jawab: Prof. Dr. Ermanto, M.Hum, Dewan Ahli: Priondono, Qalbi Salim, Heri Faisal, Arda Sani, Dedi Supendra, Aai Syafitri, Siti Nurasyiyah Staf Ahli: Konsultasi Psikologi: Niken Hartati, S.Psi, M.A, Konsultasi Agama: Dr. Ahmad Kosasih, M.A, Konsultasi Kesehatan: dr. Pudia M. Indika, Kritik Cerpen: M. Ismail Nasution, S.S, M.A Kritik Puisi: Zulfadhli, S.S, M.A, Pemimpin Umum: Faeza Rezi S, Pemimpin Redaksi: Elvia Mawarni Pemimpin Usaha: Mardho Tilla, Bendahara Umum: Wezia Prima Zolla, Kepala Penelitian dan Pengembangan: Meri Maryati, Sekretaris Umum: Ismeirita, Redaktur Pelaksana: Hasduni, Redaktur Berita: Rahmi Jaerman, Winda Yevita Dewi (NA) Redaktur Tulisan: Astuni Rahayu, Redaktur Bahasa Sastra dan Budaya: Ariyanti, Redaktur Artistik dan Online: Jefri Rajif, Layouter: Meri Susanti, Fotografer: Media Rahmi, Reporter: Gumala Resti Halin, Wahida Nia Elfiza, Fidia Oktarisa, Staf Penelitian dan Pengembangan: Liza Roza Lina, Sirkulasi dan Percetakan: Novi Yenti, Reporter Junior: Yola Sastra, Juliana Murti, Novarina Tamril, Edo Febrianto, Ratmiati, Sonya Putri, Doni Fahrizal, Khadijah Ramadhanti, Fitri Aziza, Ranti Maretna Huri, Redda Wanti, Suci Larassaty, Sri Gusmurdiah, Wici Elvinda Rahmaddina Penerbit: SKK Ganto Universitas Negeri Padang, Alamat: Gedung PKM UNP Ruang G 65 Universitas Negeri Padang, Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar. Kode pos 25131. Laman web : http://ganto.or.id , Post-el : redaksiganto@gmail.com, Percetakan: Unit Percetakan PT. Genta Singgalang Press (Isi di luar pertanggungjawaban percetakan), Tarif iklan: Rp 1.500,- (permilimeter kolom-hitam putih), Rp 3.000,- (permilimeter kolom full colour), 1/4 halaman belakang Rp 1.000.000,- (full colour), Iklan Baris Rp 1.000,- (perbaris). Redaksi menerima tulisan berupa artikel, esei, feature, cerpen, resensi buku, puisi, dan bentuk tulisan kritis lainnya

dari sivitas akademika UNP. Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah esensinya. Tulisan yang masuk menjadi hak redaksi dan yang tidak dimuat akan dikembalikan atau menjadi bahan edisi berikutnya. Setiap tulisan yang dimuat akan diberi imbalan/uang lelah semestinya.

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


3 SKK Ganto menerima surat pembaca baik berupa keluhan, kritikan, saran dan permasalahan tentang lingkungan sekitar UNP. Surat pembaca dapat dikirimkan melalui email: redaksiganto@gmail.com atau dapat diantar ke redaksi SKK Ganto, Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Ruang G65 UNP dengan dilampirkan kartu identitas: KTP atau KTM.

FIK Minim Informasi Assalamualaikum Wr Wb Saya mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan. Saya merasa fakultas ini minim informasi sekali. Bahkan berita internal tentang kampus pun juga minim. Sebenarnya apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Apakah karena BEM atau pun Hima fakultas ini tidak berfungsi dengan baik? Atau ada faktor penyebab lainnya? Terima kasih. Az, Mahasiswa FIK

Perpustakaan Basindoda Selain bisa menambah ilmu pengetahuan, membaca di perpustakaan juga bisa menghemat keuangan. Namun saya kecewa. Perpustakaan fakultas selalu tutup pukul 12.00 WIB. Saat saya ingin menghabiskan jeda istirahat dengan membaca di pustaka dan menghemat dana. Tapi pustaka tutup dan baru buka pukul 13.20 WIB. Kepada pihak perpustakaan FBS. Kalau bisa, perpustakaan dibuka saat istirahat tersebut. Agar kami bisa membaca di waktu istirahat sekaligus menghemat keuangan kami. Terima kasih. NF, Mahasiswa FBS UNP

Piala Dekan Saya mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS). Kenapa cuma FBS saja yang tidak mengadakan Piala Dekan? Dulunya Piala Dekan pernah diaadakan di FBS, tetapi kenapa sekarang ditiadakan? Padahal banyak dari mahasiswa FBS yang berminat mengikutinya. Sepertinya olahraga di FBS tidak terperhatikan, padahal kami tidak hanya pencinta seni tetapi juga penikmat dan peminat sepakbola dan olahraga lainnya. Hal itu bisa dilihat setiap sorenya sering mahasiswa FBS bermain takraw di halaman gedung tersebut. KD, Mahasiswa Basindoda

Peminjaman Bus Kampus Saya dan teman-teman sekelas pernah mencoba untuk meminjam bus UNP yang bermuatan 29 orang untuk melayat ke rumah salah satu teman yang orang tua laki-lakinya meninggal dunia. Total uang yang kami keluarkan untuk membayar uang sewa bus UNP tersebut sebesar Rp 775.000,- setelah nego sebelumnya. Sebenarnya berapa ketentuan dari pihak birokrat mengenai jumlah yang harus dibayarkan jika mahasiswa meminjam bus UNP ini? Hal apa yang ditanggung mahasiswa? Apakah gaji sopir juga? Bukankah sopir telah digaji pihak kampus? RT, Mahasiswa FBS

Toilet Mushala FBS Saya mahasiswa FBS, saya selalu menemukan keadaan toilet mushala FBS dalam keadaan kotor. Padahal yang menggunakannya adalah makhluk intelektual. Apakah begitu susah untuk menjaga kebersihan toilet yang kita sendiri selalu menggunakannya? MR, Mahasiswa FBS

Tong Sampah Setelah pembangunan di UNP ini saya semakin kesulitan menemukan keberadaan tong sampah di kampus ini. Pernah seketika saya ingin membuang sampah di salah satu fakultas ini, saya harus memuta-putar hingga dengan berat saya harus pergi ke TPA untuk membuang bungkus makanan saya. Saya mohon pada pihak kampus untuk mengadakan lagi tong sampah ini supaya kampus kita bisa menjadi kampus yang bersih, sehat, dan indah dipandang oleh mata. MS, Mahasiswa FBS

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

Grafis: Edo Febrianto

Wabah Budaya Global Oleh Juliana Murti Mahasiswa Sastra Indonesia TM 2012

asyarakat tidak dapat d i p i s ah k an d ar i manusia. Begitu juga sebaliknya. Seseorang yang tidak pernah hidup bermasyarakat, tidak dapat menunaikan bakat-bakat kemanusiaannya yaitu mencapai kebudayaan. Dengan kata lain, dimana orang hidup bermasyarakat, pasti disana akan timbul kebudayaan. Sehingga dapat didefenisikan, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan hasil budi dan gagasan manusia dari proses belajar untuk mencapai kesejahteraan hidup.Dengan kata lain, manusia tidak akan hidup tanpa adanya kebudayaan, karena manusia hidup dalam lingkaran budaya itu sendiri. Namun, akhir-akhir ini sering terdengar bahwa kebudayaan lokal (Indonesia) sangat rentan dipengaruhi oleh masuknya budaya global. Sebagian masyarakat beranggapan masuknya budaya global akan merubah kebudayaan Indonesia menjadi kebudayaan asing yang serba instan. Sedangkan sebagian dari mereka sangat menikmati masuknya budaya global ini. Banyak diantara masyarakat menganggap perubahan kebudayaan merupakan suatu yang lumrah, suatu proses yang harus dijalani dan dipahami. Sehingga memaksa masyarakat mau tidak mau dihadapkan pada situasi yang sulit antara menerima perubahan kebudayaanatau menolak perubahan tersebut.

M

Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ingin dianggap lokal, primitif, tradisonal, ataupun konvesional. Apabila kita berbicara mengenai perubahan, tentulah dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup, kebudayaan, dan kesempurnaan hidup masyarakat.

Manusia tidak akan hidup tanpa ada kebudayaan, karena manusia hidup dalam lingkar budaya itu sendiri. Sekarang tinggal bagaimana cara Anda dalam mempertahankan keaslian budaya tersebut

Walaupun pada akhirnya, suatu perubahan tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan dampak negatif bagi kebudayaan itu sendiri. Contohnya gaya bicara, berpakaian, bersikap, dan bertingkah laku masyarakat Indonesia yang akan mengalami perubahan akibat pengaruh budaya global. Gaya hidup budaya global identik dengan gaya hidup orang Barat khususnya Amerika. Restoran cepat saji dengan sistem waralaba seperti Kentucky Fried

Chiken, Dunkin Donats, McDonald, terdapat dimana-mana. Begitu pula dengan jenis dan model pakaian serta ragam bentuk hiburan dengan mode atau merek luar negeri, tidak ada bedanya dengan yang biasa dipakai dan ditonton masyarakat di negaranegara maju (Purnama Bahtiar, Dosen FAI UMY). Hal inilah yang patut diprihatinkan pada budaya sekarang.

Terkadang cara berpakaian masyarakat global tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Selain itu, cara makan masyarakat sekarang yang lebih suka mengkonsumsi (membeli) makanan yang serba instan, tanpa ada upaya untuk membuatnya, akan melemahkan bahkan melumpuhkan kreatifitas masyarakat lokal. Alhasil, generasi yang muncul berikutnya adalah generasi mandul kreativitas. Sesungguhnya, dibalik dampak negatif budaya global ini juga tersimpan dampak positifnya. Dengan adanya budaya global kita tidak akan tertinggal jauh dari negara maju lainnya, seperti dibidang teknologi komunikasi dan informasi. Tetapi mengapa efek yang muncul lebih didominasi oleh dampak negatif? Itulah yang akan menjadi PR penerus Indonesia untuk selanjutnya. Adakah kita berupaya memajukan kebudayaan sendiri? Atau malah membiarkan budaya kita terlindas oleh masuknya pengaruh budaya global? Dan sejauh manakah pengakuan terhadap budaya sendiri? Penting untuk kita memaknai apa sebenarnya budaya. Sebagian tidak menginginkan perubahan dalam kelokalan budayanya. Tanpa disadari tindakan yang dilakukan dengan sendirinya telah merubah keaslian kebudayaan. Justru dengan begitu, kita dapat memaknai bahwa perubahan itu akan senantiasa terjadi, dan tanpa disadari akan meresapi diri dan masuk ke dalam pola perilaku dan tindakan. Tinggal kita saja yang lebih memilih kebijakan yang mana. Mungkin dengan menyaring setiap budaya yang masuk dapat mempertahankan keaslian dari sebuah kebudayaan yang telah lama ada.


Laporan

4

Hukum Longgar, Moral Dipertanyakan

Oleh Elvia Mawarni Pemimpin Redaksi SKK Ganto periode 2013

Hukum dan moralitas sangat erat kaitannya. Hukum umumnya didasarkan pada prinsip-prinsip moral masyarakat. Keduanya mengatur perilaku individu dalam masyarakat. Menemukan kendaraan lalu lalang adalah pemandangan biasa di kampus Universitas Negeri Padang (UNP) pada malam hari. Meski jam perkuliahan berakhir pukul 18.00 WIB, namun hingga pukul 21.00 kampus tetap ramai oleh suara kendaraan bermotor. Diantara banyak pengendara itu lebih didominasi oleh muda-mudi yang berpasangpasangan. Kekurangan penerangan dibanyak area kampus membuat para muda-mudi menjadikan lokasi tersebut sebagai destinasi yang ‘menjanjikan’. Muda-mudi berduaduaan di lorong bangunan, di pojok ruangan, di balik pohon, dan di balik bangunan adalah pemandangan menarik lainnya. Ada yang sekadar duduk berdekatdekatan, berpegangan tangan, berpelukan sampai melakukan tindakan yang tidak sewajarnya. Diantara pasangan itu, ada yang kedapatan oleh Satuan Pengamanan (Satpam), tapi lebih banyak yang tidak. Bagi mereka yang kedapatan akan dibawa ke Pos Satpam untuk diinterogasi, dan akhirnya berujung dengan penandatanganan surat perjanjian untuk tidak melakukan hal serupa. Berdasarkan penjelasan Satpam UNP, rata-rata setiap malam selalu ada pasangan yang digrebek.

Seperti yang terjadi baru-baru ini. Sepasang kegiatan akademiknya maksimal selama mahasiswa digrebek karena melakukan dua semester bila terbukti melakukan pengtindakan asusila di belakang bangunan rusakan fasilitas UNP, tindakan kriminal, amoral, dan narkoba. terbengkalai di sudut kampus. Diketahui pria merupakan mahasiswa PerKata ‘amoral’ hanya tertuang di pasal 18 ayat guruan Tinggi Negeri lain, sementara wanita adalah 7 dan 8. Tidak adanya penjelasan lebih detail mahasiswa UNP. Perkara ini berakhir pada selemterkait perilaku amoral Grafis: Edo Febrianto beserta sanksi jelasnya, bar surat perjanjian dan tembusannya dikirim ke menunjukkan tidak ada keseriusan pihak kampus kampus masing-masing. Bagaimana tindak lanjut dalam menangani etika mahasiswa. Sehingga tidari pihak kampus, tidak banyak yang tahu. dak heran ketika terjadi tindakan asusila, Satpam Permasalahan ketertiban kampus sudah mensebagai pihak yang selama ini bertanggungjawab atas kasus itu jadi perbincangan yang tak kunjung menemukan titik pun ragu akan memberi sanksi seperti apa. Ditambah dengan penyelesaian. Hal ini muncul akibat tidak adanya hutidak ada hukum mengenai tingkatan pelanggaran etika yang kum yang jelas dan tegas dari pihak kampus. Pertama dilakukan mahasiswa. Misal, mahasiswa yang melanggar etika dari segi akses masuk kampus yang sangat bebas. tingkat ringan, menengah, dan berat semestinya akan menerima Tidak adanya pengidentifikasian tamu dan penyelekhukum berbeda. Namun yang terjadi selama ini sama saja. sian, merupakan salah satu penyebab timbulnya ketidakPelaku disuguhi dengan surat perjanjian yang membuat mereka tidak amanan dan ketidaknyamanan di lingkungan kampus. akan benar-benar jera. Alhasil, tindakanKedua, dari segi peraturan etika warga tindakan asusila di lingkungan kampus kampus. Panduan akademik yang tertuang tetap berlangsung dari hari ke hari. Kampus semestinya lebih fokus di buku Peraturan Akademik Universitas Negeri Padang tidak serta merta menjadi menangani etika mahasiswa. Universitas tuntunan bagi warga kampus dalam ber- Hassanudin (Unhas) misalnya. Ketika dicari tindak. Buku yang dibagikan pada masa di mesin pencarian internet dengan kata Pengenalan Kehidupan Kampus bagi kunci: “Ketentuan Ketertiban Mahasiswa Mahasiswa Baru (PKKMB) ini hanya menjadi dalam Kampus,” ketentuan ketertiban pajangan rak buku. Mahasiswa malas mem- Unhas muncul di beranda paling atas. baca disamping peraturan yang tertuang Terlihat jelas disana keputusan Rektor disana juga terlalu umum. Tidak diberikan mengenai Peraturan Universitas tentang penjelasan detail yang menjurus kepada Ketentuan Ketertiban Mahasiswa dalam ketertiban dan etika warga kampus. Seperti Kampus. Peraturan ini memang khusus peraturan yang tertuang di pasal 18 ayat 7 membahas ketertiban mahasiswa dalam yang berbunyi: Mahasiswa ditangguhkan kampus. Ada 10 bab dan 15 pasal yang

tertuang di dalam aturan ini. Pada Bab IV tentang Pelanggaran Disiplin dan Ketertiban Kampus, di pasal 6 ayat 9 disebutkan:

Melakukan tindakan asusila, pornoaksi, minum-minuman keras dan/atau mabukmabukan. Selanjutnya pada Bab V tentang klasifikasi pelanggaran, di pasal 7 ayat 3 disebutkan: Pelanggaran terhadap ketentuan

Pasal 6 ayat (9), (10), (11) dan (12) tersebut di atas adalah pelanggaran berat. Lalu pada Bab VI tentang Jenis-Jenis Sanksi, di pasal 9 ayat 3 disebutkan: Pelanggaran

berat yang dilakukan oleh mahasiswa sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (9), (10), (11), dan (12). Pasal 7 ayat (3) di atas, dapat dijatuhi sanksi berat berupa: Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri dan pemberhentian tidak dengan hormat (pemecatan). Permasalahan ketiga ialah tidak adanya badan khusus yang betul-betul konsen menangani kasus ketertiban dan etika mahasiswa ini. Selama ini terlihat kasus tindakan asusila diamanahkan kepada Satpam kampus untuk mengurusnya, padahal semestinya ada badan khusus yang akan menangani hal ini. Badan khusus tersebut adalah yang disebut dengan Komisi Disiplin. Komisi disiplin merupakan kelengkapan non struktural yang bertugas membantu pimpinan dalam memasyarakatkan peraturan/ ketentuan yang berlaku, khususnya dalam melakukan penelitian serta penilaian atas ancaman sanksi skorsing dan pemecatan. Komisi disiplin ini beranggotakan pejabat struktural, wakil dosen, dan wakil mahasiswa, yang ditetapkan berdasarkan keputusan rektor. Ketiga permasalahan diatas bersumber pada satu hal, yakni longgarnya hukum yang ditegakkan pihak kampus. Hukum yang kuat tentu didasari oleh pembentukan moral yang kokoh. Namun jika hukum saja sudah longgar, mau bicara apa kita tentang moral?

Perlu Sanksi Tegas Porno-pornoan di kampus meresahkan lingkungan. Banyak orang yang beranggapan bahwa lingkungannya yang tidak bagus, padahal mahasiswa itu sendiri yang tidak taat peraturan dan berbuat yang tidak pantas di lingkungan kampus. Terutama kami sebagai masyarakat yang tinggal di lingkungan kampus UNP, kami merasa hal itu akan merusak citra lingkungan tempat tinggal kami. Adam, masyarakat yang di tinggal di lingkungan UNP Kami berharap UNP lebih tegasan dan berikan sangsi yang jelas untuk kasus porno-pornoan ini. Petugas keamanan kampus juga harus lebih mengefektifkan kinerjanya, jangan segan-segan menegur atau bahkan memberikan sangsi jika memang diketahui ada pasangan yang berbuat tidak senonoh di lingkungan kampus. Selain itu, pihak UNP seharusnya juga lebih menambah dan meratakan penerangan di kampus. Karena masih banyak tempat-tempat yang gelap, dan takutnya tempat-tempat yang gelap akan memancing orang-orang untuk berbuat yang tidak benar tersebut.

Perilaku yang menyimpang seperti porno-pornoan, dulu dianggap sebagai suatu hal yang tabu, tapi pada zaman sekarang hampir dianggap sudah biasa dan tidak terlalu dipermasalahkan. Porno-pornoan di lingkungan kampus ini dikarenakan lingkungan yang menyebabkan mahasiswa berhubungan sensitif dengan lawan jenis. Selain itu, juga disebabkan karena banyaknya pribadi-pribadi pemuda yag berpikir kesenangan pribadi saja, tanpa mau memikirkan orang lain dan kerugian yang disebabkan oleh perbuatannya. Kasus porno-pornoan ini Galant memang tidak bisa diselesaikan Victory, dalam waktu yang singkat, Pengurus tapi kami berharap pihak BEM UNP UNP lebih memberikan sangsi yang tegas kepada mahasiswa yang ditemukan berbuat yang tidak senonoh dilingkungan kampus. Apalagi kampus sebagai lembaga pendidikan dan mahasiswa yang pastinya menjadi contoh dan panutan bagi masyarakat.

Tindakan asusila bisa ditilik dari berbagai sudut pandang. Kalau dari kacamata sosial, perbuatan itu pastinya melanggar hukum sosial dan mendapat hukuman sosial. Begitu juga dari segi mo- Afriva Khaidir, MAPA., Ph.D., ral, tinDosen Sospol dakan asusila adalah perbuatan yang melanggar moral dan melanggar hukum agama. Perbuatan yang tidak pantas tersebut harus dicegah dan dijauhi, khususnya oleh mahasiswa. Kalau dari lembaga, sebaiknya diberi kontrol yang baik. Selain itu, kampus tidak mungkin juga selalu mengawasi mahasiswa yang berkeliaran dikampus. Ormas masih memiliki tugas lain, tidak hanya mahasiswa yang akan mereka awasi. Dan kalau bisa, rektor memberikan sangsi yang keras dan mengambil keputusan secara basis agama. Mahasiswa juga harus bisa saling menjaga, jangan pulang terlalu malam, dan jangan terbiasa dengan hidup yang bebas.

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


Laporan

5

Gelap-gelapan di Kampus serta seorang senior tengah menunggu hujan reda. Cafe tersebut gelap, karena sudah tutup. Tidak lama Banyak sudut lokasi berselang, senior tersebut di UNP tidak memiliki pergi. Sehingga hanya penerangan. Hal itu Putra dan Putri yang tinggal dimanfaatkan di cafe. Hujan masih turun mahasiswa untuk ketika Putra mulai merayu Putri. berduaan di kala “Sayang gak adek ke malam menjelang. abang,” ujar Putra. Tidak hanya merayu, perlahan Lokasinya di bagian pacarnya tersebut mulai depan universitas. Di depan bertindak tidak sesonoh. gedung rektorat lama, yang Putri sebagai wanita, sejak gempa 2009 lalu tidak mengaku terpaksa mengidigunakan lagi— karena kuti nafsunya. kondisinya yang rusak. “Dia menyentuh bagian Memasuki gerbang utama, sensitif saya,” ujar, Putri berjarak sekitar lima meter, Sabtu (23/11). lalu belok kanan. Banyak Namun sayang, kemespohon-pohon menjulang. raan mereka tidak lama Daunnya rimbun. Saat siang berlangsung. Tiba-tiba ada hari, di sana banyak petugas Satpam yang mahasiswa yang dudukmemergoki. Merekapun diduduk. Ada yang diskusi, bawa ke kantor Satpam. ada yang sekedar duduk Di kantor, mereka banyak menikmati kesejukan, dan Surat Perjanjian: Setumpuk surat perjanjian pelaku mesum masih tertumpuk tanpa adanya kejelasan tindak lanjut, Jumat (29/ mendapat pertanyaan dari ada juga komunitas gambar 11). f/Jefri Satpam. Mereka pun yang biasanya menghabisdiharuskan membuat surat kan waktu untuk menggambar. setahun berpacaran. Keduanya berstatus Menurut keterangan Andri, Satpam yang perjanjian yang berisikan tidak akan menguSaat sore, tak kalah menarik. Di sana mahasiswa. Salah satunya adalah melakukan penggrebekan, awalnya ia su- langi perbuatan yang sama. “Kalau terjadi terdapat lapangan sepakbola. Di salah satu mahasiswa UNP. Sedangkan satunya lagi dah merasa curiga ketika ada sepasang lagi, kami siap di DO,” ujar Putri. Awalnya sisi lapangan itulah pohon-pohon adalah mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta muda-mudi memasuki kawasan FMIPA. Putri mengaku masih sekolah, tapi setelah menjulang tadi berada. Banyak orang latihan (PTS) di Kota Padang. Biasanya jika malam Dengan menggunakan sepeda motor, mere- diminta Kartu Tanda Pelajar, ia akhirnya sepakbola. Di sekeliling lapangan banyak minggu mereka pergi makan dan duduk ka sempat melihat kiri dan kanan. Melalui mengaku kalau mahasiswa UNP. penjaja makanan. Sembari pulang kuliah, di pinggir pantai. Namun, pergi ke UNP jalanan FMIPA yang terkesan gelap dan Salah Seorang Satpam Merayu Pelaku tak jarang mahasiswa mampir untuk duduk baru kali ini mereka lakukan. “Kami tidak sunyi, mereka terus berkendara hingga di Asusila di pinggir lapangan, membeli jajanan, merasa bersalah kok. Kan kami cuma bangunan paling ujung. Lama tidak kemAlih-alih menegakkan aturan, anggota sambil menonton orang bermain sepakbola. duduk saja di sini,” ujar Bujang. bali, akhirnya Andri memutuskan untuk Satpam UNP pernah berusaha merayu Namun, suasananya berbanding terbalik Selain di bagian depan kampus, dekat melakukan patroli ke arah sepasang muda- pelaku pelanggar asusila untuk berbuat ketika malam hari. Tidak ada lagi gedung rektorat lama dan FIS, masih ban- mudi tersebut. “Saya curiga melihat mo- yang tidak-tidak. Hal itu yang dialami mahasiswa yang duduk beramai-ramai yak lokasi sudut kampus yang belum me- tor yang terparkir, tapi orangnya tidak Putri. Ketika itu ia diantar salah satu angdisana. Hanya sesekali saja orang dan miliki penerangan dan cenderung sepi. ada,” ujar Andri. gota Satpam ke kos-nya. Ia hendak mekendaraan lewat. Gelap dan sunyi. Hanya Hal tersebut lalu dijadikan sebagian Ketika penangkapan berlangsung, ada ngambil Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) cahaya lampu dari Fakultas Ilmu Sosial mahasiswa untuk berbuat yang tidak-tidak. beberapa mahasiswa FT tengah berkumpul. yang tertinggal. Ketika dijalan, ia diminta (FIS) dan beberapa rumah warga saja yang Menurut Feri, Wakil Satpam UNP, lokasi Melihat ada mahasiswa yang tertangkap, nomor handphone. “Katanya sih ingin mesamar-samar menyinari. Jarak lampu-lampu yang sering dijadikan lokasi berpacaran mereka langsung ikut menginterogasi. nanyakan jika nanti ada data yang kurang,” itupun jauh. Tetap saja, sinar lampu tersebut mahasiswa di malam hari adalah di jalanan Azwar hidyat yang juga selaku Gubernur kata Putri. tidak dapat memperjelas beberapa orang samping Fakultas Teknik (FT), di belakang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FT, meAwalnya Satpam tersebut memberikan yang “beraktifitas” di pinggiran lapangan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan ngungkapkan tidak terima jika ada maha- semangat kepada Putri agar tidak terlalu sepakbola sana. Alam (FMIPA) dan sekitaran gedung Mata siswa yang menjadikan kampusnya sebagai berlarut-larut dalam masalah. Namun, maDi sepanjang pinggir lapangan itulah Kuliah Umum (MKU) lama yang sekarang lokasi mesum. Apalagi, UNP sendiri dikenal lam esoknya ia mendapat telepon lagi hampir setiap malam ada saja sepasang dijadikan gedung sekolah SMA dan SMP sebagai kampus yang bertugas “mela- dari Satpam tersebut. Ketika itu ia mulai muda-mudi yang duduk. Bukan membaca Pembangunan. “Karena lokasi di sana sepi hirkan” tenaga pengajar. “Kampus kami mendapat rayuan dari Satpam tersebut. buku atau diskusi. Tapi mereka tengah dan gelap,” lanjutnya. ini tempat mencetak guru, bukan membuat Bahkan Satpam tersebut mengaku belum berpacaran. Tidak jarang ada mahasiswa *** anak,” ujar Dayat kepada keduanya. mempunyai istri. “Saya sangat menyayangtertangkap Satuan Pengamanan kampus Malam itu, Rabu (16/10) kantor Satpam Sementara itu, MT dan RZ mengakui kan. Padahal tidak seharusnya mereka berkarena kedapatan bertindak asusila. Bahkan UNP ramai dikunjungi orang. Di luar, ada jika tindakan yang mereka lakukan salah. tindak seperti itu,” cerita Putri. berdasarkan data Satpam UNP, pernah sekitar tujuh petugas yang tengah duduk. RZ selaku pihak yang mengajak MT, sangat Berdasarkan catatan yang ada di kantor dalam satu malam ada dua tersangka yang Di dalam, ada Oskar, Ketua Komandan merasa bersalah. “Saya yang bersalah, saya Satpam, untuk tahun ini sudah ada 15 tertangkap. “Terkadang mereka mengaku Regu dan beberapa Satpam lainnya. Di yang mengajak dia berbuat seperti ini,” kasus yang diproses. Berdasarkan ketehanya berciuman saja. Tapi, tetap saja itu hadapan Oskar, ada dua pasang mahasiswa. ujarnya. RZ mengatakan ide memilih UNP rangan dari Wakil Komando Satpam UNP, tidak etis jika dilakukan di kampus. Apalagi Keduanya seperti ketakutan. Mereka selalu sebagai tempat untuk bertindak demikian, Feri, masih banyaknya kasus pelanggaran di tempat gelap,” ujar Feri Saputra, Wakil menunuduk ke bawah setiap kali Oskar muncul secara spontanitas. Memang sudah asusila dikarenakan lokasi kampus yang Satpam, Selasa (19/11). bertanya. Di dalam ruangan yang ber- direncanakan untuk bertindak demikian, terkesan membiarkan pelanggaran yang Selasa (5/11) malam, sekitar jam 20.30, ukuran sekitar 3 x 3 tersebut, ada juga akan tetapi muncul opsi di UNP karena sama terulang kembali. Menurutnya, sudah Gadis dan Bujang (bukan nama sebenarnya) beberapa mahasiswa. Mereka adalah maha- kebetulan mereka sedang jalan di daerah seharusnya kampus diberikan penerangan tengah asyik duduk berduan. Baik Gadis siswa FT. Kehadiran mahasiswa tersebut Air Tawar. yang memadai, sehingga orang akan takut maupun Bujang duduk di atas satu motor. menambah kesan takut kedua mahasiswa Berdasarkan keterangan Drs. Hamdani, untuk berbuat yang tidak-tidak. Entah apa yang mereka bicarakan, yang yang sedari tadi tertunduk itu. Betapa tidak, M.M Kepala Biro Administrasi Akademik Untuk meminimalisir kejadian tersebut, jelas keduanya tengah berduaan di bawah dengan suara keras terkadang mereka turut dan Kemahasiswaan UNP, saat ini MT saat ini Satpam UNP telah memberlakukan pohon kayu besar di depan FIS. Jalanannya ikut bertanya kepada keduanya. telah mendapatkan skors dari pihak kam- sistem buka tutup pada malam hari di sepi. Hanya ada mereka berdua di sana. Orang yang tengah tertunduk itu, RZ pus. Hal itu dilakukan untuk menimbulkan gerbang utama. Tujuannya untuk meng“Kami hanya sedang becerita saja,” kata dan MT, mahasiswa yang digrebek Sat- efek jera. “Dia telah diskors selama dua identifikasi siapa saja orang yang keluar Bujang. pam karena tengah bertindak asusila di semester,” ujar Hamdani. Ia juga meng- dan masuk kampus. Namun hal itu belum “Iya. Kami tidak berbuat apa-apa kok,” kampus. MT mahasiswa UNP sedangkan harapkan, kejadian yang sama tidak akan dianggap berhasil, karena sejak diberlatimpal Gadis. RZ kuliah di salah satu PTN di Kota terulang lagi. Bukan dari pelaku saja, na- kukan sistem tersebut, masih ada kasus Malam itu keduanya mengaku baru Padang. MT dan RZ digrebek ketika sedang mun menjadi pelajaran bagi semua ma- pelanggaran asusila yang terjadi. “Kami saja makan bakso. Lalu, sebelum berduaan di belakang bangunan terbeng- hasiswa. tetap akan berusaha,” ujar Feri. mengantarkan Gadis ke kosan Bujang kalai, FMIPA UNP. Saat digrebek, posisi Berbeda lagi dengan kasus yang mengajaknya berjalan-jalan terlebih dulu. RZ sedang berdiri dan celana jeansnya menimpa Putra dan Putri (nama samaran). Laporan: Kru SKK Ganto Lalu mereka masuk gerbang UNP. Katanya sedang terbuka. Sehingga mereka tidak Keduanya tercatat sebagai mahasiswa UNP. biar pembicaraan lebih santai. bisa menyangkal, ketika Satpam memin- Malam itu, Jumat (11/11) mereka tengah Gadis dan Bujang mengaku sudah tanya untuk ikut ke pos Satpam. duduk di cafe Seni Rupa. Putra dan putri Oleh Hasduni, Nia/Via, Meri Susanti

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


Laporan

6

Penyebab Asusila Multivariabel Oleh Wahida Nia Elfiza

Kasus asusila tidak terjadi begitu saja, banyak faktor penyebabnya. Andi Armen Efendi tengah berjalan mengelilingi daerah sekitar FBS. Sebagai satpam yang baru dipindahkan bertugas ke kampus selatan ini, Andi memang harus menjaga keamanan kampus pada siang maupun malam hari. Apalagi waktu malam itu, Andi sedang bertugas seorang diri. Saat tengah asyik berjalan, tiba-tiba langkah Andi terhenti, sebab dari kejauhan ia melihat sepasang muda-mudi tengah duduk-duduk di depan gedung utama FBS. Awalnya pasangan itu seperti berbincangbincang saja, namun tidak lama kemudian pasangan tersebut beranjak dari tempatnya dan pergi kesudut gedung yang gelap. Menyaksikan kejadian ini, Andi segera membawa langkahnya menuju pasangan itu. Andi pun mendapati pasangan mudamudi itu sedang berpelukan dan berciuman. Tanpa pikir panjang lagi Andi pun menegur pasangan itu dan memboyongnya ke posko pengamanan pusat yang berada di dekat Fakultas Teknik untuk diproses lebih lanjut. Sesampainya di posko, pasangan itu diberi nasehat terkait perbuatan yang telah mereka lakukan. Mereka diminta meninggalkan KTM atau KTP serta menuliskan biodata lengkapnya. Tidak hanya itu saja pasangan itupun diminta untuk menulis surat perjanjian yang isinya permintaan maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi perbuatan yang telah dilakukan di area kampus kuning ini. Andi bukanlah satu-satunya satpam yang pernah mengusut kasus asusila di kampus, Hendri Salman misalnya, dibelakang bangunan bekas rektorat lama ia mengaku pernah menemukan pasangan muda-mudi yang saling berdekapan satu sama lainnya. Mendapati kejadian tersebut Hendri pun mengusir pasangan itu dan meminta untuk meninggalkan lokasi, mengingat jam kunjungan kampus hanya

Gelap:

Gelap-gelapan: Sepasang muda-mudi tengah berduaan di tengah gelapnya sudut kampus, Jumat (29/11)f/Jefri

“Cuma cari tugas kok, Bang” ungkap Ibrahim, satpam FE, meniru kembali alasan pasangan muda-mudi yang ia tangkap. Lebih lanjut Ibrahim menambahkan seringnya ditemukan pasangan muda-mudi di area kampus dalam rentang pukul 19.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB, disebabkan oleh akses masuk menuju UNP yang banyak sehingga menyebabkan identititas pengunjung UNP tidak terkontrol dengan maksimal. Tidak hanya Ibrahim saja, Zulkifli selaku komandan satpam UNP ikut merasakan hal tersebut. Walaupun barubaru ini sudah ada aturan menutup gerbang utama pada jam sembilan malam, namun itu hanya bagi kendaraan beroda

Fakultas Teknik UNP tampak minim berpenerangan, Jumat (29/11).f/Jefri

sampai jam sembilan malam. Hampir setiap malam satpam menemukan pasangan muda-mudi pada sisisisi kampus yang lengang dan gelap. Dengan membawa laptop dan bermodalkan fasilitas Wifi kampus, para pasangan mudamudi sering berkilah dan mencari alasan.

empat dan roda dua saja, sedangkan untuk pejalan kaki tidak ada larangan. “Belum ada aturan yang jelas mengenai pihakpihak yang diperbolehkan masuk,” keluhnya, Kamis (31/10). Tak hanya itu, keberadaan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) di-

dalam area kampus, juga dijadikan salah satu alasan oleh para pengunjung untuk masuk ke wilayah kampus. Pasalnya aturan jam malam yang dimiliki oleh LPMP sampai jam satu malam. Hal ini memungkinkan para pengunjung menjadikan LPMP sebagai momok untuk menembus penjagaaan yang telah dilakukan Zul dan anggotanya. “Jika alasannya seperti itu, kami tidak bisa melarang, apalagi koordinasi dengan satpam LPMP belum jelas” ujar Zul, Kamis (31/11). Zul tidak menampik faktor lain penyebab penyimpangan ini, seperti masih banyak lokasi-lokasi UNP yang tidak memiliki lampu penerangan dan keadaan kampus yang sepi. Berdasarkan kasus-kasus yang telah Zul tangani bersama anggotanya, wilayah lapangan sepak bola di depan bangunan rektorat lama, dibelakang laboratorium FMIPA, perbatasan antara FBS dengan FT, dan jalan menuju MKU adalah sederet wilayah yang merupakan lokasi strategis ditemukannya pasangan muda-mudi berpacaran pada malam hari. *** “Kejahatan teradi bukan karena niat dari pelaku, tetapi karena ada kesempatan” ujar Azwar Hidayat mantan Ketua BEM FT 2012. Azwar adalah salah seorang mahasiswa yang sempat t er l ib at dal am pr o se s penanganan kasus asusila yang terjadi di belakang laboratorium kimia FMIPA pada bulan Oktober lalu. Menurutnya kondisi UNP yang gelap dan lenganglah yang mengundang pasangan muda-mudi untuk berbuat tidak senonoh di area kampus. Selain itu ia juga menambahkan seharusnya semua elemen kampus harus dilibatkan dalam mengamankan dan menertibkan kampus. Salah satunya dengan mengaktifkan

kegiatan mahasiswa di kampus pada malam hari. Karena mahasiswa ikut mengontrol dan kerja satpam bisa terbantu. “Kerja satpam banyak, saya khawatir mereka kewalahan,” ungkap Azwar, Senin (18/11). Tidak berbeda jauh dengan Azwar, ketua umum MPALH UNP 2013, Oki Aria Adinata menuturkan hal serupa. Oki yang mengaku pernah menegur pasangan yang sedang berpacaran di lapangan sepak bola depan rektorat lama pada pukul 22.00 WIB ini, menyatakan bahwa penjagaan kampus perlu dibenahi lagi seperti menambah jumlah lampu penerangan kampus serta mendukung kegiatan kampus pada malam hari. Jika hal tersebut diaplikasikan maka tindakan asusila yang terjadi di area kampus bisa diminimalisir. “Oleh karena itu penjagaan harus ketat,” ujar Oki. Selasa (29/10). Terkait tindakan asusila yang marak terjadi di kampus, dosen Sosiologi Erianjoni, S.Sos, M.Si pun angkat bicara. Ia memandang secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi tindakan asusila itu terjadi yaitu faktor internal dan faktor ekternal. Dari faktor internal, Erianjoni mengatakan bahwa dalam diri pelaku telah muncul suatu sikap yang tidak acuh terhadap aturan-aturan dan norma-norma. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kejelasan dari kekuatan sanksi yang ada. Sedangkan faktor eksternal ia mengatakan bahwa pengawasan yang masih kurang ketat dari satuan pengamanan kampus, tata ruang UNP yang buruk. Seperti banyaknya kawasan kampus yang menjadi tempat strategis untuk melakukan tindakan asusila serta kepedulian sosial masyarakat yang tidak ada. “Sehingga penyebab kasus asusila bisa dikatakan multivariabel,” papar Erianjoni, Selasa(19/11). Lebih lanjut, Erianjoni mengharapkan agar pengawasan mengenai tindakan asusila bersifat berlapis seperti melibatkan satpam, kamera CCTV, Menwa, serta mahasiswa lainnya. Selain itu petinggi kampus perlu memperjelas serta mempertegas aturan-aturan mengenai tindakan asusila ini. Laporan: Kru SKK Ganto

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


Laporan

7

Rektor: Jangan Racuni Cita-Cita UNP

Oktober lalu, salah seorang satuan pengamanan (satpam) UNP menangkap sepasang muda-mudi yang tengah melakukan tindakan asusila di belakang Laboratorium Kimia, FMIPA. Malam itu jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Dimana suasana lingkungan laboratorium sepi dan gelap. Tanpa pikir panjang satpam yang memergoki kejadian ini pun langsung memboyong pasangan tersebut ke posko pengamanan untuk menjalani proses lebih lanjut. Di posko pasangan tersebut diberi nasehat terkait perbuatan yang telah mereka lakukan. Mereka diminta meninggalkan KTM atau KTP serta menuliskan biodata lengkapnya. Tidak hanya itu saja pasangan itupun diminta untuk menulis surat perjanjian yang isinya permintaan maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi perbuatan yang telah dilakukan di area kampus kuning ini. Ini adalah salah satu kasus tindakan asusila dari 15 kasus asusila lainnya yang telah di proses oleh satpam selama tahun 2013. Dengan bercirikan lokasi yang sepi dan minim penerangan, para pasangan pelaku asusila sering tertangkap oleh satpam dalam keadaan yang tidak-tidak. Selain persoalan penerangan, jumlah akses masuk UNP yang banyak juga ikut menyumbang sebagai penyebab terjadinya kasus asusila di kampus. Pasalnya, identitas pengunjung yang masuk wilayah UNP kurang terkontrol, hal ini dibuktikan dengan tertangkapnya pelaku asusila yang berasal dari luar UNP, seperti mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya di Kota Padang. Walaupun baru-baru ini telah ada aturan menutup gerbang utama UNP pada jam sembilan malam, namun itu hanya bagi kendaraan beroda empat dan roda dua saja, sedangkan untuk pejalan kaki tidak ada larangan sama sekali Menanggapi problematika asusila yang terjadi dilingkungan kampus saat ini, dosen agama, Dr. Ahmad Kosasih pun angkat bicara, ia melihat selama ini tindakan asusila yang terjadi selama ini terjadi karena tidak adanya tenaga yang konsen dalam menangani kasus ini. Selama ini kasus asusila ditangani oleh satuan pengamanan (satpam), padahal tugas utama satpam adalah dalam hal pengamanan kampus. “Mestinya ada badan khusus yang menangani kasus asusila,” ungkapnya, Jumat (22/11). Ia juga menambahkan bahwa maraknya kasus asusila di kampus dikarenakan oleh tidak adanya aturan yang jelas mengenai mahasiswa di kampus baik dari penerapan aturan secara konsisten maupun penetapan sanksi yang tegas terhadap pelanggar. Selain itu Ahmad Kosasih juga mengatakan, menuju cita-cita UNP menjadi kampus religius, UNP memang telah berbenah dari dalam seperti membangun fasilitas-fasilitas agama yang memadai dan mencetuskan agenda-agenda keagamaan. Namun dengan tindakan asusila di dalam kampus yang saat ini masih terjadi, tentu akan berimbas kepada citra UNP sebagai kampus religius. “Lama kelamaan UNP akan dipandang buruk oleh masyarakat luar,” ujarnya lagi. Senada dengan Ahmad Kosasih, Prof. Phil. Yanuar Kiram, mengatakan bahwa Jangan sampai tindakan asusila yang dilakukan sekelompok orang bisa meracuni keberadaan orang yang beragama di kampus ini serta menggagalkan cita-cita UNP menjadi kampus religius. “Gara-gara nila setitik rusak gulai sebelanga,” ujarnya. Jum’at (29/11). Ketika jam menunjukkan pukul 08.00 WIB, reporter SKK Ganto Meri Susanti

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

dan Meri Maryati telah berada di gedung rektorat dengan tujuan ingin melakukan wawancara secara lansung dengan orang nomor satu di UNP yaitu Prof. Phil. Yanuar Kiram, Rektor Universitas Negeri Padang (UNP). Beberapa menit menunggu, rektor belum juga menampakkan diri. Lalu setelah dikonfirmasi ternyata ia sedang menghadiri rapat Sertifikasi di BAAK. Akhirnya reporter Ganto pun harus rela menunggu selama satu setengah jam. Tepat pukul 09.30 WIB akhirnya rektor pun muncul. Di depan ruangannya telah banyak tamu yang menunngu termasuk didalamnya reporter Ganto. Dengan nomor antrian ketiga akhirnya reporter ganto menemui gilirannya untuk mewawancarai rektor. Berikut hasil wawancara yang berhasil direkam oleh reporter SKK Ganto. Apakah Anda mengetahui kalau di UNP seringkali terjadi tindakan asusila? Tidak, saya tidak tahu, sebab saya tidak pernah menerima laporan dari siapapun terkait tindakan asusila yang terjadi di kampus ini. Lagipula saya tidak mampu mengawasi jumlah mahasiswa yang lebih kurang 34 ribu di UNP. Apa yang dilakukan oleh kampus jika ada pelanggar asusila yang tertangkap? Pada dasarnya kampus mempunyai aturan-aturan seperti halnya aturan akademik dan non akademik. Nah untuk itu, mahasiswa yang telibat dalam kasus asusila harus di usut terlebih dahulu oleh prodi, jurusan hingga ke fakultas . sanksi yang diberikan tergantung wewenang masing-masing fakultas, bisa berupa Drop Out (DO) atau mungkin skors dalam jangka waktu tertentu. Jika seandainya kasus tersebut tidak selesai pada tingkatan prodi, jurusan maupun fakultas maka universitas lah yang akan bertindak. Jika seandainya ada laporan tertulis mengenai tindakan asusila ini sampai kepada saya, maka saya akan lansung menindak lanjuti. Seandainya mahasiswa tersebut telah melanggar aturan dan melakukan tindakan amoral di kampus maka saya tidak keberatan untuk memberhentikan pelaku tersebut.

Apakah langkah-langkah /solusi yang diberikan pihak kampus untuk menangani masalah ini? Melihat problema yang terjadi saya pikir semua komponen harus bekerja sama dalam memberantas tindakan asusila yang terjadi di kampus. Pertama, mahasiswa harus saling menegur dan mengingatkan jika secara lansung melihat tindakan asusila. Sedangkan yang kedua kinerja security harus intensif dalam membuat laporan tertulis mengenai pelanggaran yang terjadi di kampus atau dalam arti security harus punya bukti hitam di atas putih. Setelah itu, satpam harus melaporkan pelaku dengan identitas lengkap dan akurat kepada pihak yang berwenang dalam menindak lanjuti aturan seperti fakultas yang bersangkutan. Dan diharapkan fakultas tidak pernah takut dalam memberikan keputusan atas pelanggaran asusila yang telah dilakukan.

Apakah ada peraturan khusus yang mengatur tentang larangan bertindak asusila di kampus? Masalah tentang tindakan asusila itu semua diselesaikan secara tuntas oleh pihak fakultas yang bersangkutan terlebih dahulu. Dalam hal ini Fakultas harus tegas dalam menyelesaikan pelanggaran. Selanjutnya permasalahan itu direkap oleh fakultas dan di ajukan ketingkat universitas.

Apakah tindak lanjut yang akan dilakukan untuk mengatasi penyebab terjadinya kasus asusila di kampus? Untuk penerangan kampus, pihak universitas akan segera menidak lanjuti dengan cara memperbaiki fasilitas penerangan di lokasi- lokasi yang gelap dan sepi. Selain itu pengontrolan aktivitas kampus pada malam hari juga akan dilakukan. Janga sampai aktivitas yang bermaksud positif nantinya disalah artikan. Tidak itu saja, saya pikir perlu melakukan menanamkan nilai-nilai agama kepada diri mahasiswa, dengan cara memberikan pencerahan megenai prilaku yang harus di jauhi dan di taati. Agar mahasiswa merasa malu kepada Allah dalam melakukan tindakan asusila. Semoga iman mahasiswa UNP semakin kuat kepada Allah.

Kenapa tidak ada aturan khusus yang melarang mahasiswa melakukan tindakan asusila padahal UNP dicanangkan sebagai kampus religius? Kampus religius bukanlah sebuah slogan. Dalam hal ini pihak kampus hanya memfasilitasi kampus dengan hal-hal yang berbau agama seperti membangun mushalla pada masing-masing fakultas, mengadakan agenda keagamaan setiap bulannya seperti wirid dan masih banyak lagi. kampus religius bicara mengenai hati masing-masing individu, pimpinan hanya memfasiltasi, tapi tercipta atau tidaknya kehidupan agama kembali kepada diri masing-masing. Karena kita harus punya mozaik kehidupan.

Langkah apa yang dilakukan untuk menuju kampus religius? Saya melihat mahasiswa UNP masih banyak yang konsen beragama, Jangan sampai tindakan asusila yang dilakukan sekelompok orang bisa meracuni keberadaan orang yang beragama di kampus ini. Oleh karena itu kita harus menye-

lamatkan orang-orang yang telah terperangkap dalam tindakan asusila untuk kembali kejalan yang benar. Dengan cara saling mengingatkan satu sama lain serta memberitahukan dampak yang terjadi jika mereka melakukan perbuatan yang salah seperti tindakan asusila. Kampus yang religius harus berasal dari semua kalangan untuk itu seluruh komponen diharapkan peduli dengan fenomena ini. Bagi para pelaku asusila saya berpesan marilah menjaga hati orang-orang yang masih taat dalam agama. Pertimbangkan pembuatan dan dampak dari pembuatan yang akan dilakukan. Sekali lagi jangan sampai tindakan asusila ini mengagalkan misi UNP sebagai kampus religius. Apa tanggapan anda jika ada mahasiswa luar tertangkap melakukan tindakan asusila di UNP? Jika kita telah mengetahui identitas universitas pelaku, sebaiknya kita bekerjasama dengan universitas tersebut, jangan sampai kita main hakim sendiri. Jika dia terbukti bersalah kita kembalikan pelaku tersebut ke universitas yang bersangkutan. Hal ini bermanfaat dalam menegakkan aturan yang tegas dari masingmasing universitas. Kenapa tindakan asusila masih sering terjadi berulang kali di kampus? Hal ini karena belum ada laporan tertulis dari pihak satpam kepada saya, jika ada laporan, saya pasti akan menindak lanjuti. Apakah kegiatan mahasiswa di malam hari mempengaruhi terjadinya tindakan asusila di kampus? Bagi saya mahasiswa harus konsekuen bila mengadakan kegiatan di kampus pada malam hari. prinsip untuk saling menjaga, mengawasi dan mengontrol harus di pegang teguh. Karna dalam membasmi tindakan asusila di kampus semua komponen harus sejalan termasuk mahasiswa.


8 Jika Anda mengalami masalah kesehatan, silahkan manfaatkan rubrik ini. Kirimkan surat tentang masalah Anda kepada pengasuh rubrik ini ke email Ganto, redaksiganto@gmail.com atau Gedung PKM UNP Ruang G 65 UNP. Setiap pertanyaan harap dilengkapi dengan identitas.

Diasuh oleh: dr. Pudia M. Indika

Insomnia Dokter, saya punya masalah dengan jam tidur. Jadwal tidur saya sulit sekali diatur. Misalnya saya hanya bisa tidur sekitar pukul lima pagi dan bangun pukul delapan pagi. Hal ini sudah saya alami sekitar 5 tahun yang lalu. Hal ini sangat mengganggu. Apalagi kalau ada kuliah pagi, saya sering telat karenanya. Apakah ini tergolong penyakit? Kalau iya, bisakah penyakit ini disembuhkan? Hafiz Usri Mahasiswa Pasca Sarjana UNP

Salam sehat. Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering dikeluhkan. Penelitian menunjukkan bahwa kurang lebih 1/3 orang dewasa pernah menderita insomnia setiap tahunnya. Gangguan tidur ini dapat mempengaruhi pekerjaan, aktifitas sosial, dan status kesehatan penderitanya. Bukti lain menunjukkan bahwa adanya korelasi yang bermakna antara kurang tidur dengan kecelakaan lalu lintas. Keluhan insomnia lebih sering didapat pada orang yang mudah cemas atau depresi, orang dengan sosial ekonomi yang rendah, bercerai, mereka dengan penyakit kronis, dan pada peminum alkohol berat. Penelitian menunjukkan bahwa penderita insomnia bisa memicu berbagai macam penyakit. Selain menyebabkan kita sulit untuk berkonsentrasi, insomnia juga akan meningkatkan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Insomnia didefenisikan sebagai suatu persepsi dimana seseorang merasa tidak cukup tidur atau merasakan kualitas tidur yang buruk walaupun orang tersebut sebenarnya memiliki kesempatan tidur yang cukup, sehingga mengakibatkan perasaan yang tidak bugar sewaktu atau setelah terbangun dari tidur. Penderita insomnia berbeda dengan orang yang memang waktu tidurnya pendek (short sleepers), dimana short sleepers meskipun waktu tidur mereka pendek, mereka tetap merasa bugar waktu bangun tidur, berfungsi normal di siang hari dan mereka tidak mengeluh tentang tidur mereka pada malam hari. Faktor resiko Insomnia, yaitu : 1. Emosi. Umumnya insomnia muncul biasanya disebabkan oleh gangguan emosi. Diantaranya seperti: memendam kemarahan, cemas, ataupun depresi 2. Kebiasaan. Kebiasaan buruk seperti: pengguna kafein, alkohol yang berlebihan, tidur yang berlebihan, merokok sebelum tidur dan stress kronik berperan dalam munculnya insomnia 3. Faktor lingkungan, seperti bising, suhu yang ekstrim, dan perubahan lingkungan atau jet lag. 4. Jenis kelamin. Insomnia lebih banyak menyerang wanita (20-50% lebih tinggi daripada pria). Wanita lebih sering menderita insomnia karena siklus menstruasinya. 5. Pengalaman insomnia sebelumnya 6. Penyakit yang kronis yang menyebabkan nyeri (misalnya arthritis), terbatasnya pergerakan misalnya Parkinson, dan kesulitan bernafas (misalnya COPD) Prinsip penanganan gangguan tidur selain menjelaskan, memastikan dan memberikan saran juga mengoptimalkan pola tidur yang sehat. Terapi insomnia dapat dilakukan dengan menggukan obat ataupun tanpa obat. Terapi tersebut dapat berupa : 1. Farmakoterapi. Menggunakan obat–obatan dan sebaiknya konsultasikan dengan dokter anda. 2. Psikoterapi. Pencegahan kejadian “tidak bisa tidur” sangat tergantung dari kemampuan pasien untuk santai dan belajar bagaimana cara–cara tidur yang sehat. Terapi perilaku bisa menyembuhkan insomnia kronik dan terapi ini efektif untuk segala usia 3. Terapi cahaya. Prinsip terapi ini adalah bahwa cahaya terang dapat mengurangi rasa mengantuk dan kegelapan bisa menyebabkan mengantuk. Paparan cahaya dari layar televisi dan gadget dua jam setiap harinya akan mengurangi produksi melatonin dalam tubuh sampai 22 persen. Hormone melatonin adalah hormone yang berfungsi sebagai anti oksidan dan mengontrol tidur.

Law of Attraction

Dengan pikiran, manusia sendiri yang mendefenisikan kegelapan, yang sebenarnya tidak ada. Manusia sendiri jugalah yang\ menciptakan tokoh-tokoh yang disebut baik dan buruk dalam kehidupan. Dan dengan pikiran pula, manusia menciptakan batasan-batasan pada impian, yang sebenarnya juga tidak ada.

Sebaiknya yang harus dikatakan adalah “saya akan senang bertemu dengan dosen A dan saya akan dihargai di depan kelas.” Alam semesta ini seperti sebuah jin di Mungkin sudah banyak yang kenal dengan cerita dalam lampu aladin sukses seorang Jack Canfield, lalu kenapa buku yang akan memberiChicken Soup For The Soul-nya dapat laris di kan apa yang kita Amerika atau bahkan dunia. Apa yang Jack lakukan inginkan. Ketika kita sebenarnya sederhana. Seorang yang berpenghasilan memikirkan hal-hal delapan ribu dolar setahun, lalu bercita-cita ber- negatif, maka ia penghasilan seratus ribu dolar setahun. Demi langsung melaksaMuhammad Arief Hidayatullah tujuannya-yang waktu itu dianggap konyol- Jack nakan perintah itu. Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro mengumumkan mimpinya tersebut, memasang Dan ketika kita memiTM 2010. gambar cek seratus ribu dolar pada langit-langit kirkan hal positif, ia Mahasiswa kelahiran Kampung Laut, kamar, sehingga tiap kali ia bangun, ia ingat dengan akan melaksanakan 4 Januari 1993 ini memiliki hobi apa yang akan diwujudkannya. Ia sering perintah itu juga. membaca manga One Piece memejamkan mata lalu membayangkan apa yang Hukum tarik meakan dilakukan orang-orang berpenghasilan seratus narik ini pun bisa ribu dolar. dipakai berulangIa pada waktu itu memang tidak seketika berubah ulang. Tergantung seberapa sabar kita menjalankan tiga menjadi kaya, ia bahkan mengalami 144 penolakan hal yang diyakini akan membuat semesta mengamini ketika hendak menerbitkan bukunya, yang juga segala tujuan positif, yaitu ask, answer, dan receiving. dianggap konyol waktu itu. Tapi kemudian, cerita Ask (meminta), dalam memutuskan sesuatu yang suksesnya mengilhami banyak orang. Dan apa yang diinginkan, yang terpenting kita harus memutuskan dengan dilakukan Jack Canfiel, sebenarnya dapat dilakukan sungguh-sungguh sesuatu yang diinginkan. Dengan oleh semua orang. demikian, sebuah frekuensi telah Setiap orang mempunyai dikirm pada alam semesta. impian dalam hidupnya. Ada Answer (menjawab). Bagian berbagai macam impian yang kedua ini, alam semesta sedang ingin dicapai seseorang, merancang orang-orang dan misalnya keinginan untuk kejadian-kejadian yang akan memiliki mobil, rumah mewah, membuat keinginan itu terwujud. dan uang yang banyak. Tidak Kita tidak perlu mengetahui sedikit juga yang menginginkan bagaimana alam semesta melakesehatan, seperti sembuh dari kukannya. Tetapi kita terus menjaga tumor, kanker, dan penyakit lain pikiran dalam frekuensi yang opyang menyerang tubuhnya. timal. Dan bila disadari, manusia Ada kalanya saat seseorang dan semesta pada dasarnya lahir merasa lemah dan tidak percaya dari satu ibu yang sama yaitu akan kemungkinan berhasilnya energi. Bila energi yang seorang impian tersebut. Ia merasa ini tidak manusia ciptakan positif, maka mungkin terwujud. Maka pikiran semesta juga akan mendukung yang seperti itu harus ditinggalkan. dan membentuk energi positif Sebab, ketika seseorang memiliki tersebut terwujud. Tergantung pikiran seperti ini, ia akan bagaimana manusia menjaga menenggelamkan proses tercaGrafis: Edo Febrianto energi positif yang ia ciptakan, painya harapan yang sedang seberapa kuat dan yakin dia tumbuh. pada proses yang semesta berikan kepadanya. Receiving (menerima). Bagian ketiga ini, seseorang Sebuah hukum fisika bernama “The Law Of harus menjaga pikirannya agar tetap pada frekuensi Attraction” menyebutkan bahwa apapun yang kita yang bahagia. Bayangkan saat-saat merasa bahagia ketika pikirkan, kita akan menarik hal tersebut ke dalam mendapatkan apa yang kita inginkan. Jaga perasaan itu diri. Inti dari hukum ini terletak kepada apa yang dan gunakan imajinasi bagaimana rasanya ketika kita pikirkan. Apakah itu baik ataukah itu buruk. kebahagiaan itu hadir, serta nikmati proses ini. Hal ini Hukum ini menyebutkan bahwa kita terhubung bertujuan untuk menambah kecepatan terwujudnya apa dengan alam semesta dari apa yang sedang kita yang kita inginkan. pikirkan. Sebab, pikiran mempunyai frekuensi Dalam hal ini, yang perlu ditekankan adalah seseorang yang sama dengan frekuensi semesta. Jadi apa yang tidak perlu mengetahui apa yang akan terjadi nanti, dipikirkan itu akan menentukan apa yang akan bagaimana prosesnya, siapa-siapa orang yang akan diberikan semesta kepada kita. Jika seseorang dipertemukan kepada kita. Kita tidak perlu mengetahui berpikiran baik, maka akan menarik hal-hal yang semua itu. Karena Tuhan telah mengatur dengan sangat baik pula dalam dirinya. Sebaliknya apabila pikiran baik untuk hamba-Nya. kita buruk, maka akan menarik lebih banyak halRasa bahagia akan muncul ketika seseorang hal yang buruk pula. Sebagai contoh, dalam hukum menggunakan pikirannya untuk memikirkan hal-hal yang gravitasi. Ketika seseorang jatuh dari sebuah gedung positif. Untuk memunculkan pikiran yang positif, bisa dari lantai 40, tidak peduli kita orang baik atau dilakukan dengan memperbaiki suasana hati (mood) orang jahat akibatnya akan tetap menghantam tanah. dengan berolahraga, menonton video lucu, jalan-jalan, Jadi hukum alam (gravitasi) berlaku umum. dan sebagainya. Yang terpenting adalah melakukan sesuatu Sama halnya seperti hukum tarik menarik. Bila hal yang membuat perasaan menjadi tenang dan nyaman dipagi hari kita sebagai mahasiswa akan kuliah untuk mengembalikan perasaan bahagia. dengan dosen “A” misalnya, lalu berpikir dan berkata Jadi yang terpenting adalah menjaga perasaan bahagia. dalam hati “saya tidak ingin dimarahi oleh dosen Karena perasaan adalah hasil dari apa yang dipikirkan. A lagi dan saya tidak ingin dipermalukan di depan Jika kita merasa sedih, maka itu mengindikasikan pikiran kelas.” Itu sama saja dengan mengatakan kepada yang sedang berada pada frekuensi yang salah dan semesta bahwa kita ingin lebih banyak dimarahi segera mengubah ke frekuensi yang baik. Selanjutnya lagi oleh dosen “A”. Dan ingin lebih dipermalukan teruslah bermimipi dan yakinlah bahwa mimpi dan di depan kelas. keinginan itu akan dapat diraih. Kita adalah apa yang Mengapa hal demikian dapat terjadi? Ini kita pikirkan, bila kita berpikiran akan berhasil, maka disebabkan karena alam semesta tidak mengenal semesta akan mendukung dengan segala upaya bahwa kata ‘tidak atau jangan’. Alam semesta hanya akan kita, suatu saat pasti kan berhasil. merespon frekuensi dari apa yang dipikirkan.

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


9

ISO tak Sekedar Isonisasi

erkembangan globalisasi yang begitu pesat memberikan dampak dan perubahan yang besar terhadap manusia di dunia. Globalisasi mendorong berbagai lembaga tak terkecuali sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Peningkatan mutu tersebut diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas agar mampu bersaing dalam menghadapi tantangan global. Berbicara tentang pendidikan, maka kita akan berbicara tentang suatu hal yang sangat penting bagi suatu bangsa. Karena bangsa yang maju salah satunya, dapat dilihat dari pendidikannya. Namun pada kenyataannya, pendidikan di Indonesia masih menunjukkan mutu yang belum menggembirakan. Rendahnya mutu masukan (input) dan rendahnya kualitas lulusan (output) yang dihasilkan menjadi permasalahan yang serius. Berdasarkan hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) tahun 2001 yang berpusat di Hongkong, diketahui bahwa sistem pendidikan di Indonesia adalah yang terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang di survei, Indonesia menduduki urutan ke-12, setingkat dibawah Vietnam. Selain itu, berdasarkan data dari Human Development Indeks (HDI) tahun 2008, Indonesia menempati posisi 112, turun dari tahun sebelumnya yang berada pada posisi 107 dari 112 Negara. Hal ini mengakibatkan perlu adanya suatu usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan disetiap jenjang pendidikan. Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menggalakkan sekolah untuk menggunakan sistem manajemen mutu berstandar internasional, yaitu Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001, sebagai sistem pengelolaan manajemen sekolah. Menurut data Kemendiknas tahun 2009, sudah lebih dari empat puluh sekolah di Jakarta yang sudah memiliki sertifikat ISO 9001 ini. Tahun ini diprediksikan sudah lebih dari seratus sekolah di Jakarta yang bersertifikat ISO 9001.

P

ISO 9001 telah mengalami beberapa kali revisi dan revisi yang paling akhir adalah ISO 9001:2008. Sertifikat ISO 9001:2008 dikeluarkan oleh lembaga yang disebut badan sertifikasi. Ada dua syarat untuk mendapatkan sertifikat ISO 9001 yaitu telah menerapkan sistem manajemen mutu IS0 9001:2008 sekurang-kurangnya tiga bulan dan lulus audit sertifikasi. Penerapan ISO 9001: 2008 berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan, sehingga diharapkan dapat memuaskan

mempermudah lapangan pekerjaan bagi mereka. Perusahaan-perusahaan lebih melirik sekolah yang bersertifikat ISO, karena mereka percaya pada mutu pelayanan dari sekolah tersebut. Selain itu, perusahaan yang bekerja sama dengan sekolah tersebut siap untuk menampung lulusan dari sekolah itu. Namun, sertifikat ISO ini belum begitu terasa manfaatnya bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang pada dasarnya harus melanjutkan ke Perguruan Tinggi (PT). Sertifikat ISO pelanggan pentidak menjamin Grafis: Edo Febrianto didikan. Pada siswa tersebut akan akhirnya akan langsung diterima di berdampak pada perguruan tinggi. Perguruan tinggi lebih peningkatan mutu sekolah maupun mutu memandang akreditasi sekolah dibanpendidikan secara nasional di Indonesia. dingkan sekolah tersebut bersertifikat ISO Biaya yang dibutuhkan untuk atau tidak. Siswa dari sekolah berakreditasi mendapatkan sertifikat ISO beragam, ter- A lebih banyak diterima sebagai gantung jenis badan sertifikasi yang dipakai mahasiswa undangan dibandingkan sekolah oleh sekolah tersebut. Diperkirakan mulai yang berakreditasi lebih rendah. dari persiapan hingga mendapatkan serSelain itu, SMM ISO 9001 tidak menyatifikat diperlukan uang puluhan juta ru- takan persyaratan-persyaratan untuk piah. Bahkan sebuah SMK negeri di Jakarta meningkatkan prestasi belajar siswa. mengeluarkan biaya seratus tujuh puluh Sehingga adanya serifikat ISO tidak lima juta rupiah untuk biaya konsultan. menjamin prestasi belajar siswa di Manfaat memiliki sertifikat ISO 9001 sekolah tersebut bagus atau tidak. Prestasi ini bagi sekolah adalah dapat meningkatkan belajar merupakan tingkat keberhasilan prestise sekolah dan pengakuan masyarakat yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha dan pemerintah terhadap sekolah semakin yang dapat memberikan kepuasan tinggi. Selain itu, juga memudahkan sekolah emosional dan dapat diukur dengan alat untuk mendapatkan bantuan dari peme- atau tes tertentu. rintah ataupun dari berbagai perusahaan Dan juga, sebagai sebuah sistem manabaik dalam maupun luar negeri. jemen mutu, ISO 9001 mendefinisikan Untuk siswa Sekolah Menengah Keju- “mutu� dalam nalar industri, yakni untuk ruan (SMK), adanya sertifikat ISO akan kepuasan pelanggan. Hal ini tidak sesuai

Fitri Aziza Fitri Aziza, dilahirkan di Sibisir 25 Maret 1993. Saat ini terdaftar sebagai mahasiswi Jurusan Biologi UNP TM 2011. Penyuka komik dan anime Detektif Conan FB : Fitri Aziza Email : Fitriaziza0604@gmail.com

dengan hakikat mutu dalam terminologi pendidikan, yang lebih substansial dan kultural. Mutu dalam pendidikan berbicara mengenai pembentukan karakter, pemahaman akan kehidupan, relasi sosial, dan pandangan dunia anak didik. Isonisasi sekolah telah menjebak pengelolaan pendidikan pada persoalan manajerial saja. Seakan-akan persoalan pendidikan di Indonesia adalah masalah manajemen pengelolaannya. Padahal dalam pendidikan, manajemen hanya sarana untuk mencapai mutu, bukan sebagai tujuan utama. Oleh karena itu, sekolah harus memikirkan kembali urgensi dari ISO tersebut bagi sekolah dan siswanya. Apakah ISO itu penting bagi sekolah atau tidak. Jangan sampai sekolah sudah menghabiskan biaya yang banyak, tapi manfaatnya tidak begitu terasa. Sekolah tidak boleh menjadikan ISO sebagai sarana promosi saja. Jika memang tidak begitu penting bagi sekolah, lebih baik sekolah memikirkan kembali, akan mengurus ISO atau tidak.

Jika Anda mengalami masalah Psikologi, silahkan manfaatkan rubrik ini. Kirimkan surat tentang masalah Anda kepada pengasuh rubrik ini ke email Ganto, redaksiganto@gmail.com atau Gedung PKM UNP Ruang G 65 UNP. Setiap pertanyaan harap dilengkapi dengan identitas.

Perhatian Orangtua Pengaruhi Kecerdasan Anak Assalammualaikum Wr. Wb. Adik perempuan saya berumur 11 tahun mengalami kesulitan dalam belajar, akibatnya ia masih duduk sebagai murid kelas 3 SD saat ini. Padahal waktu kami di Jakarta dulu ia termasuk anak yang pintar. Entah mengapa saat kami pindah ke Padang, kemampuannya mulai menurun. Saat berada di Padang, Ibu lebih berperan dalam bekerja. Apakah ini berpengaruh? Sonya Putri Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Tahun Masuk 2012 Jawab: Kekuatan cinta seorang ibu ternyata memengaruhi kecerdasan intelektual dan emosional anak. Anak-anak yang mendapatkan perhatian penuh dari ibunya pada awal kehidupannya cenderung memiliki otak dengan ukuran hippocampus, yang lebih besar. Hippocampus adalah bagian otak yang penting dalam

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

pengaturan fungsi belajar, mengingat dan respons terhadap stres. Demikian hasil riset yang dilakukan para pakar saraf Amerika Serikat, seperti dikutip Medical Daily, Selasa (30/10). Hasil scan otak dari dua anak berusia 3 tahun mengungkapkan, bahwa otak kiri secara signifikan berukuran lebih besar dan mengandung lebih sedikit bintik-bintik dan daerah gelap daripada otak kanan yang ukurannya lebih kecil. Penyebabnya menurut para ahli saraf adalah faktor perhatian dan kasih sayang orangtua. Pakar ilmu saraf yang meneliti otak ini menjelaskan, perbedaan keduanya sangat mengejutkan. Otak berukuran kecil di sebelah kanan begitu berbeda karena banyak area pada otak yang hilang dibandingkan yang kiri. Anak yang hidup dengan otak sebelah kanan bukan tidak mungkin akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang cerdas, kurang berempati, cenderung rentan kecanduan dan terlibat kejahatan. Tak hanya itu, anak dengan ukuran otak yang kecil juga cenderung

menjadi beban orang lain dan mengalami problem kesehatan mental dan fisik yang serius di kemudian hari. Anak yang pertumbuhan otaknya maksimal selalu mendapat perhatian dan kasih sayang dari ibunya. Sedangkan anak dengan ukuran otak yang menciut kerap diabaikan dan disakiti. Perbedaan perlakuan inilah yang menjadi alasan mengapa ada anak yang otaknya berkembang secara optimal, sedangkan anak yang lain tidak. Profesor Allan Shore dari University California Los Angeles, Amerika Serikat, yang meneliti masalah ini menjelaskan, pertumbuhan sel otak dipengaruhi oleh interaksi antara bayi dan pengasuh utamanya yaitu, ibu. Jika seorang bayi tidak diperlakukan dengan baik pada dua tahun pertama kehidupannya, kata Shore, maka gen-gen yang bertanggung jawab untuk beragam aspek fungsi otak seperti kecerdasan tidak akan berfungsi dan bahkan tidak eksis.( ( Kondisi ini tentu saja memberikan kekhawatiran dan implikasi pada anak-anak yang diabaikan

orangtuanya pada dua tahun di awal kehidupannya. Semakin parah anak itu ditelantarkan orangtuanya, maka semakin jelas dampak kerusakan yang akan muncul. Tak hanya itu, perbedaan ukuran otak yang ditunjukkan pada hasil scan tersebut juga memunculkan kekhawatiran akan adanya siklus penelantaran anak-anak. Para ahli saraf berpendapat, anak-anak yang ditelantarkan orangtuanya semasa kecil cenderung mengalami hambatan perkembangan otak, sehingga mereka pun cenderung melakukan hal yang sama pada anak-anaknya. Meski demikian, penelitian di AS menun jukkan bahwa siklu s ini sebenarnya bisa diputus. Menurut mereka harus ada penanganan secara dini dan dukungan  penuh dari keluarga. Riset ini merupakan riset pertama yang menunjukkan bagaimana perubahan pada daerah penting dari otak anak berkaitan dengan pola asuh seorang ibu. Sumber: Medical Daily/Ririn Indriani


Liputan Khusus

10

Sektor Pariwisata Kota Padang Sektor pariwisata itu luas. Tak hanya objek wisata alam saja. Oleh Media Rahmi

Salah satu rumah makan yang ada di jalan Ulak Karang Padang terlihat ramai. Silih berganti orang-orang masuk dan keluar dari sana. Ada yang datang secara perorangan dan ada pula yang datang beramai-ramai. Ada yang langsung menyantap makanan di rumah makan tersebut, dan tak sedikit diantara mereka yang membungkusnya untuk dibawa pulang. Begitulah adanya rumah makan yang merupakan salah satu sektor pariwisata, wisata kuliner. Keberadaan rumah makan, khususnya di Kota Padang memiliki rating yang cukup tinggi sebagai salah satu sektor pariwisata dengan kontribusi cukup besar bagi pendapatan kota Padang. Namun, kontribusi rumah makan itu belum seberapa jika dibandingkan dengan hotel yang merupakan sarana dan prasarana wisatawan. Setidaknya ada 260 lebih rumah makan dan 40 hotel di kota ini. Pada dasarnya, sektor pariwisata terbagi tiga yaitu wisata alam, wisata budaya, dan wisata minat. Khusus. wisata alam juga dibagi menjadi dua, wisata alam yang benar-benar alam dan wisata bahari. Ada 60 objek wisata alam yang ada di Kota Padang. “Wisata benar-benar alam seperti Lubuak Tampuruang, dan wisata bahari

seperti pantai Karolin dan pulaupulau di sekitar pantai Padang,” terang Trisna Putra, Senin (18/11). Lebih lanjut, Trisna selaku Kasi Pendataan dan Perencanaan Dinas Pariwisata Kota Padang ini menjelaskan bahwa untuk wisata budaya fokus kepada kebudayaan Minangkabau. Sedangkan wisata minat khusus terdiri dari wisata kuliner, wisata belanja, wisata olahraga, dan wisata konferensi. Wisata belanja seperti penjualan souvenir khas Minangkabau. Wisata konferensi berupa konferensi dan seminar yang diadakan di Kota Padang. “Wisata olahraga seperti Tour de Singkarak kemarin,” tambahnya. Setiap objek wisata tersebut dikelola oleh Dinas Pariwisata mulai dari tahap perencanaan hingga tahap action-nya. Pengelolaan ini dapat berupa pembinaan masyarakat de- Jalan Setapak: P engunjung menuruni tangga di jalan ngan membentuk desa wisata gunung Padang, Minggu (22/9). f/Media seperti desa wisata yang ada di Pauh Limau Manih, Bunguih Taluak masih banyak objek wisata yang ada di Kabuang, dan di Pantai Aie Manih. Melalui Kota Padang yang belum tersentuh oleh pembinaan masyarakat ini tak hanya Dinas Dinas Pariwisata, seperti Gua Kelelawar Pariwisata yang akan mendapatkan di Indarung dan air terjun 100 tingkat di pemasukan, tapi juga perekonomian desa Lubuk Minturun. Penyebabnya yaitu bersangkutan yang akan membaik secara karena anggaran kota lebih diutamakan otomatis. Pengangguran yang ada di desa untuk perbaikan fasilitas umum pasca setempat akan berkurang pula tentunya. gempa. Hal ini diperparah oleh invesSayangnya, untuk memaksimalkan pem- tor yang lebih memilih untuk menaberdayaan sektor pariwisata Kota Padang namkan modalnya di hotel-hotel daripada ini, Dinas Pariwisata memiliki sejumlah objek wisata alam. “Investor lebih kendala. Kendala terbesar terkait dengan tertarik pada pembangunan hotel,” budget.. Bahkan karena kendala tersebut, ujarnya.

setapak yang sengaja dibuat untuk akses ke

Usaha yang dilakukan Dinas Pariwisata untuk mengatasi masalah anggaran ini yaitu dengan menerapkan skala prioritas pada anggaran dan lebih mendekati dinas pusat untuk mendapatkan bantuan. Penerapan skala prioritas berarti Dinas Pariwisata harus lebih selektif dalam penggunaan anggaran. Untuk pendekatan kepada dinas pusat, Dinas Pariwisata Kota Padang sudah pernah melakukannya dengan contoh riil jalan setapak di Gunung Padang. “Sebelumnya tidak ada jalan setapak ke Gunung Padang,” terangnya.

Trans Padang Siap Beroperasi mengaktifkan koridor pertama terlebih dahulu yaitu mulai dari jalan Jalan Adinegoro sampai Jalan Bgd. Aziz Chan. Di koridor pertama ini direncanakan Oleh Gumala Resti Halin ada 66 halte Trans Padang, 33 di kiri dan 33 di kanan. Keberadaan beberapa halte Jumlah bus yang akan diluTrans Padang memberi harapan ncurkan sekitar 20 unit. Koribesar bagi para pengguna jasa dor dua direncanakan bertransportasi. “Jika Trans Padang operasi di tahun 2015 yaitu nanti beroperasi, saya akan jalur Bandara hingga Bay Pas. mempertimbangkan untuk tidak “Untuk jalur ini diusahakan memakai mobil lagi ke kampus” untuk memakai jalur khusus ujar Sari, Mahasiswa UNP, Rabu, Bus Way,” ujar Yudi. (20/11). Sari beranggapan Trans Tarif yang akan dikenaPadang akan berdampak positif kan kepada para penumpang karena bisa mengurangi pungutan Trans Padang kategori umum liar. “Seperti di angkot-angkot, sekitar Rp.3.500,00,- dan setiap persimpangan jalan ada saja untuk pelajar Rp1.500,00,-, yang memberi karcis dan meminta sementara mahasiswa hingga pungutan” ucap mahasiswi Jurusan saat ini masih dikategorikan Bahasa dan Sastra Inggris TM 2011 umum. Pembayaran dilakuini. Ia juga berpendapat jika kan melalui sistem karcis fasilitas yang disediakan nantinya yang dapat dibeli pada pralebih baik, maka besar kemung- Halte UNP: Dalam rangka menunjang fungsi Trans Padang, sebuah halte sudah dibangun di dekat UNP. Kamis (28/11) .f/ mugara di dalam bus atau Redda kinan pengguna kendaraan pribadi di halte-halte tertentu yang akan beralih pada transportasi ini. menyediakan penjualan Di tempat yang berbeda, Yudi Indra Pengadaan Trans Padang bertujuan untuk dengan syarat minimal tamatan SMP. karcis. Bus dilengkapi dengan Air CondiSyiani selaku Kepala Bidang Angkutan mengutamakan keselamatan dan kenyaPerencanaan jasa angkutan umum Trans tioner, kamera pengawas, kebersihan di Dinas Perhubungan Kota Padang manan penumpang. Menurut Yudi, trans- Padang dirancang sejak tahun 2006 lalu. dalam bus dan juga fasilitas untuk mengatakan bahwa bus-bus Trans Padang portasi seperti angkot dan bus kota tidak “Sebenarnya kita lebih dulu mengajukan penumpang berkebutuhan khusus. akan segera dioperasikan. “Paling lambat lagi efektif. Para supir cenderung memi- proposal ke pusat dari pada Pekan Baru Pramugara akan lebih mengutamakan awal Januari 2014 Trans Padang sudah kirkan setoran dan jumlah penumpang se- dan kota lainnya, tetapi gempa pada tahun tempat duduk untuk para ibu-ibu hamil, beroperasi,” ucap Yudi, Selasa (26/11). hingga tidak memberikan kenyamanan 2009 mengakibatkan dana ini disalurkan lanjut usia, dan penyandang cacat. Menurut Yudi, hanya tinggal menunggu yang ekstra bagi penumpang. Dengan ada- untuk kerusakan akibat gempa, sampai Ditahun 2014, dinas perhubungan berenkedatangan bus dari pusat karena untuk nya Trans Padang para supir dan pramugara akhirnya tahun 2012 baru dimulai lagi cana menambah fasilitas berupa smart card. segala persiapan menuju Trans Padang su- tidak perlu memikirkan jumlah setoran perencanaan Trans Padang ini,” ujar Yudi. Smart card akan menggantikan sistem kerja dah lebih dulu disiapkan. Supir dan pramu- yang didapat karena mereka digaji per Sampai saat ini direncanakan jalur Trans karcis yang manual. Saat ini dinas pergara juga sudah mendapatkan pelatihan kilometernya oleh pemerintah. Supir yang Padang terdiri dari lima koridor. Untuk hubungan sedang mencari investor yang mengenai Trans Padang ini. dipekerjakan tetap supir bus kota lama kali pertama ini Dinas Perhubungan hanya ingin bekerja sama terkait hal ini.

Halte angkot atau bus kota sudah biasa. Halte Trans Padang lain cerita.

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


11

Telusur

Memasuki Minangkabau Tempo Dulu Disini terdapat sekitar 1.900 jilid salinan buku dan majalah terbitan sebelum tahun 1942. Sebagian koleksi ini didatangkan langsung dari Belanda. Oleh Sonya Putri

Perjalanan ini dimulai dari kota Padang menuju Padang Panjang, sebuah kota di Minangkabau yang terkenal dengan sebutan serambi mekah. Berselang kurang lebih dua jam perjalanan kita akan sampai di kelurahan Silaiang Bawah, Padang Panjang. Di sebelah kanan jalan kita akan menemukan sebuah gerbang dengan arsitektur gonjong rumah gadang bertuliskan: Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau. Memasuki gerbang tersebut, menelusuri jalan kira-kira sejauh 100 meter, kita akan disambut oleh sebuah area bernuansa Minangkabau. Dengan pandangan mata lurus ke depan, sebuah rumah gadang dengan empat rankiang berdiri kokoh. Rankiang merupakan lumbung padi bagi masyarakat Minang dulunya. Dari gerbang depan jika kita berjalan lurus, di sebelah kiri dan kanan terlihat taman ditanami bunga beragam warna dan rupa. Sekitar 20 meter di depan bangunan Rumah Gadang, tumbuh dan berdiri kokoh sebuah pohon beringin. Berjalan beberapa langkah, kita akan disambut oleh replika bunga raflesia

terlewati hingga janjang (anak tangga) rumah gadang benar-benar berada di depan mata. Rumah gadang yang didirikan pada 8 Oktober 1988 inilah yang menjadi Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM). Menaiki sepuluh janjang sampailah kita di lantai dua rumah gadang. Di lantai dua ini terdapat anjuang (lantai yang ditinggikan), ruang lepas, dan kamar. Di ruang lepas terdapat bangku dan meja tempat pengunjung membaca buku-buku yang ada sekaligus tempat beristirahat. Ada sekitar 1.900 jilid salinan buku dan majalah terbitan sebelum tahun 1942. Selain itu juga ada sekitar 1.500 judul buku terbitan setelah tahun 1950 sumbangan masyarakat dan kumpulan kliping berbagai koran dan majalah. Selain buku, ada juga 90 album foto dan 500 foto dalam bingkai besar dan kecil. Bukan hanya itu, di lantai Melihat-lihat: Seorang pengunjung melihat foto pertunjukan kesenian silat di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan dua juga ada 142 reel Minangkabau, Rabu (6/11). f/Sonya mikrofilm positif isinya berdiameter lebih kurang 3 meter yang berupa naskah-naskah lama, koran-koran menjadi sentral taman tersebut. Jika yang terbit sebelum Perang Dunia II, dan langkah diteruskan, empat buah rankiang, sebagainya. Sekitar 600 kaset juga dapat dua di sisi kiri dan dua di kanan akan ditemukan disana. Isi kaset-kaset tersebut

diantaranya nyanyian cerita klasik Minangkabau seperti saluang, rebab, dan sebagainya. Serta, sekumpulan replika alat musik tradisional Minangkabau juga ada di lantai dua ini. Berjalan ke belakang rumah gadang lalu menuruni janjang, kita akan sampai di lantai satu. Lantai dasar ini dijadikan ruang rapat, kantor, dan aula. Dekat aula, terdapat sebuah pelaminan ciri khas adat Minangkabau. Di pelaminan ini pengunjung bisa berfoto dengan menyewa pakaian adat pernikahan Minang—pakaian marapulai untuk laki-laki dan pakaian anak daro untuk perempuan. Pakaian tersebut cukup disewa dengan membayar sebesar Rp 25.000 per orang. Rumah gadang ini dibuka setiap hari untuk umum. Biasanya mulai dari pukul 8.00-16.00 WIB. Dua orang guide akan menemani pengunjung yang datang; menjelaskan apa saja mengenai seluk beluk PDIKM. Pengunjungnya pun tak terbatas dari dalam negeri saja. Turis dari luar Indonesia juga ada, seperti dari Belanda, Malaysia, dan negara lainnya. Contohnya seorang pengusaha Amy Hanafiah. Amy merupakan warga negara tetangga yang tinggal di Kota Melaka, Malaysia. “Saya suka main ke sini, pemandangannya indah, dan jauh dari kota,” katanya Jumat 8 November lalu. Karena keindahannya, setiap dua minggu sekali Amy berkunjung ke PDIKM dan selalu membawa rombongan yang berbeda. “Teman-teman saya banyak yang minta ikut karena melihat foto-foto saya yang saya upload di dunia maya,” jelasnya sembari tertawa.

Wujud Setia Amai Koto Gadang Pada awalnya, KAS hanya beroperasi di rumah masyarakat, hingga akhirnya dibangun gedung sekolah Amai Setia pada tahun 1913. Bangunan tersebut selesai pada Februari 1915 dan masih beroperasi hingga sekarang sebagai tempat Yayasan KAS. Atas prakarsa beberapa tokoh Koto Gadang, perkumpulan ini diusulkan Oleh Doni Fahrizal untuk menjadi sebuah yayasan. Akhirnya pada 29 Desember 1979, Perkumpulan Keradjinan Amai Setia Koto Gadang adalah nagari seluas berganti status badan hukum menjadi 640 Ha di kaki Gunung Singgalang. Yayasan Keradjinan Amai Setia Berada di sebelah barat Kota (YKAS). Bukittinggi, dipisahkan oleh Ngarai Tidak lagi hanya memasarkan Sianok. Nagarinya dingin dan sejuk, produk dari anak didiknya, YKAS juga rata-rata suhu siang hari 27oC dan mengumpulkan dan membeli keraturun 7oC pada malam hari. jinan dari penduduk sekitar lalu Di perempatan Koto Gadang, memasarkannya. Produk yang terdapat bangunan rumah gadang dan dipasarkan berupa kerajinan perak, Mesjid Jamik Tuo. Masuk ke jalan kain sulaman, renda, dan kain suji. disamping mesjid, sekitar 300 meter Harga yang ditawarkan juga beragam, terlihat rumah bertuliskan Keradjinan mulai dari Rp 35.000,- hingga puluAmai Setia 1915 . Di halamannya han juta rupiah. Peminatnya tidak Dua orang amai sedang membuat desain renda pesanan pelanggan di ruangan kiri Yayasan adasebuah lesehan dengan atap gonjong Menjahit: hanya berasal dari dalam negeri, Kerajinan Amai Setia, Koto Gadang, Sabtu (26/10). f/Doni terbuatdari ijuk. Pengunjung mesti bahkan juga luar negeri. Berkat menanggalkan alas kaki di janjang jika Beringsut ke belakang. Terdapat ruangan masih terbelakang dari segi ilmu jasanya dalam mengembangkan kerajinan ingin masuk ke dalam. yang cukup lapang, hanya meja dibagian pengetahuan. Hal ini disebabkan karena penduduk Koto Gadang, Yayasan Amai Rumah ini berlantai dua. Lantai satu tengah dan lemari kaca berisi sulaman di masyarakat Koto Gadang masih mengang- Setia memperoleh penghargaan Upakarti terdiri dari 3 ruangan, yakni ruang kanan, pinggir ruangan. Pada bagian belakang gap pendidikan tidak terlalu penting bagi dari Presiden Soehartopada tanggal 24 tengah, dan kiri. Pada sisi kanan ruangan ini pengunjung bisa naik ke lantai 2, perempuan. Desember 1987. terdapat seperangkat kursi tamu model berupa museum mini tentang sejarah Amai Perkumpulan Kerajinan Amai Setia Hingga saat ini, YayasanAmai Setia lama dan etalase berisi sulaman kain suji. nan Setia ini. (KAS) berdiri pada 11 Februari 1911. tetap berdiri kokoh di Koto Gadang. Bagian tengah diisi dengan berbagai jenis Amai adalah panggilan untuk wanita Berbagai hal yang dibutuhkan perempuan Menunjukkan kesetiaan melestarikan hasil kerajinan perak. Ada replika rumah gadang, tua atau sudah menikah di Koto Gadang, diajarkan pada perkumpulan ini. Seperti kerajinan daerahnya. “Walaupun jam gadang, karapan kerbau, dan jadi Amai Setia bisa diartikan Ibu-ibu membuat kerajinan, baca tulis, pengetahuan pengunjung saat ini hanya lebih banyak bermacam perhiasan perak seperti cincin, yang setia. Yayasan Amai Setia didirikan agama dan umum, bahkan kepandaian ru- melihat-lihat saja, kami akan selalu kalung, anting, dan sebagainya. Sisi kiri untuk mengangkat harkat dan martabat mah tangga. Rohana Kudus, yang meru- melestarikan kerajinan masyarakat Koto berisi berbagai macam sulaman kain suji, kaum perempuan di daerah Koto Gadang. pakan jurnalis perempuan pertama di In- Gadang”, tutur Nelwati, bendahara Yayasan renda dan kerajinan jahit lainnya. Pada saat itu, perempuan Koto Gadang donesia, diangkat sebagai ketua pertama. Kerajinan Amai Setia, Sabtu, (26/10).

“Amai tidak mencari untung besar, yayasan ini didirikan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Koto Gadang khususnya perempuan”, tutur Nelwati

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


12

Fokus

Tak Terlupakan Tapi Terabaikam

Gedung Joeang: Gedung ini dahulu sering dipergunakan untuk pertemuan para pejuang kemerdekaan mendiskusikan pergerakan mereka. Tampak papan nama yang menunjukkan identitas gedung ini pecah-pecah dan belum diperbaiki. Jumat (15/11). f/Ratmiati

Tugu Adipura: Tugu di jalan Khatib Sulaiman ini merupakan bukti sejarah bahwa kota padang pernah meraih penghargaan sebagai kota terbesih di Indonesia. Saat ini tampak ditumbuhi lumut di bagian atas tugu., Jumat (15/11).f/Ratmiati

Sebuah bangsa yang baik adalah bangsa yang mempertahankan budaya dan mengingat sejarahnya. Mengenai sejarah, setelah zaman penjajahan Belanda, penduduk Indonesia membuat gedung-gedung, monumen-monumen, tugu-tugu, bahkan gerbang-gerbang sebagai pengingat sejarah. Namun tidak untuk hari ini, sebagian besar di kota Padang: gedung, monumen, dan tugu tersebut diabaikan dan dibiarkan saja lekang oleh panas dan hujan. Berikut potret monument yang mengingatkan kita kepada sejarah, tapi tidak terawat. Foto & Teks Foto: Ratmiati Desain & Tata Letak: Doni Fahrizal & Edo Febrianto

Gerbang Utama: Dahulu digunakan masyarakat melakukan acara-acara adat dan keagamaan. Namun hari ini tak ada yang memperhatikan gerbang ini, cat kedua patung yang telah bercampur dengan lumut membuat kedua patung tak enak dipandang. Jumat (15/11).f/Ratmiati

Tugu Veteran: Tugu Monumen veteran Belanda ini berdiri di Jalan Sudirman tepat di pusat pemerintahan Kota Padang. Di bawah tugu ini terkubur pahlawan yang berjuang melawan penindasan di masa penjajahan Belanda. Jumat (26/11). f/Ratmiati

Tugu Simpang Haru: Tugu Simpang Haru atau Tugu Tali Tigo Sapilin ialah tugu berbentuk api yang sedang membara dan dihiasi ukiran-ukiran zaman perang. Tampak cat tugu sudah memudar dan taman tak terawat. Jumat (15/11). f/Ratmiati

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


13 Teropong Sulap Gedung Rektorat Elektronika: Pendidikan Lama Jadi ICT Berbasis IT Setelah ditelusuri, gedung yang masih dalam proses rehab itu tidak akan dibangun kembali menjadi gedung rektorat, melainkan akan dijadikan gedung

Information and Communication Technology (ICT). Gedung ICT ini digunakan sebagai pusat informasi dan teknologi, seperti halnya Pusat Komputer (Puskom) ataupun laboratorium komputer bagi mahasiswa. “Gedung rektorat lama akan digunakan sebagai gedung ICT, bukan gedung rektorat,” tegas Pembantu Rektor II, Dr. Alizamar M.Pd. Kons, Rabu (27/11). Dr. Alizamar M.Pd., Kons., menjelaskan bahwa dana yang digunakan untuk rehab gedung di ambil dari dana APBN. Rehab berfokus pada perbaikan atap serta injeksi pada dinding-dinding yang retak. Sedangkan untuk pengelolaan ketika ICT nanti akan beroperasi barulah menggunakan dana International Deveploment Bank (IDB). “Dana yang digunakan untuk rehab adalah dari APBN, sedangkan untuk operasional ICT dari IDB,” jelasnya, Rabu (27/11). Budiman Kurniawan, Pelaksana lapangan kontraktor PT Surya Pratama Mandiri, mengatakan bahwa perbaikan yang dimulai sejak 5 Sepetember ini ditargetkan selesai 23 Desember 2013. Ada sekitar 200 pekerja yang bekerja dibawah naungan kontraktor dari PT. Surya Pratama Mandiri yang berpusat di Lubuk Begalung. Mereka memulai pekerjaan dari jam delapan pagi hingga jam sepuluh malam. Ia mengungkapkan bahwa tidak terdapat kendala yang begitu berarti selama pelaksanaan proyek ini, selain faktor cuaca. “Berdasarkan schedule, proyek ini berjalan lancar dan tepat waktu dan sejauh ini tidak terdapat kekurangannya”, ujarnya, Senin (28/10). Ryan, Wici*

Diperlebar: Jalan menuju gedung MKU diperlebar. Tak hanya itu, sampah yang biasanya tertumpuk di pinggir j alan juga sudah tidak ada lagi, Jumat (11/10). f/Media

Renti Mahkota adalah satu dari sekian banyak mahasiswa UNP yang bertanyatanya mengenai perbaikan bangunan rektorat lama. Gedung yang sudah lama rusak akibat gempa bumi pada tahun 2009 silam. Gedung besar yang berdiri strategis di tengah kampus UNP ini atapnya sudah lama bolong, dan ketika malam terlihat gelap, karena tidak ada penerangan. Karena tidak lagi beroperasi ataupun digunakan, gedung ini sering dijadikan pelarian bagi mahasiswa yang ingin online atau sekedar duduk-duduk di sekitar pekarangannya. Renti mengatakan sering lewat di depan gedung rektorat yang sekarang sedang diperbaiki. Ia masih berangggapan bahwa gedung tersebut diperbaiki untuk menjadi gedung rektorat kembali. “Teman-teman lain juga beranggapan sama,” tuturnya. Renti juga berharap semoga gedung baru tersebut bermanfaat bagi seluruh masyarakat UNP. “Karena gedung rektorat adalah sebuah icon kampus,” ujar mahasiswa Sastra Indonesia tersebut. Selain Renti, masih banyak mahasiswa lain yang tidak tahu dan bertanya-tanya akan dijadikan apa perbaikan gedung yang sekarang diberi tapal batas seng dengan peringatan, “Yang tidak berkepentingan dilarang masuk” tersebut. Seperti yang dinyatakan oleh Ola Gusyanti dan Rahma Gustia, mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (PLB) 2012, serta Mutiara Kurniati, mahasiswa Jurusan Kimia 2012. Mereka tidak tahu gedung tersebut akan dijadikan apa. “Kami beranggapan bahwa itu hanya renovasi rektorat,” ujarnya, Jumat (29/11).

Pecah: Kaca pintu masuk ruang jurusan sosiologi Fakultas Imu sosial telah lama pecah,. H ingga saat ini belum tampak tanda- tanda pintu ini akan diperbaiki, Senin ( 11/13) . f/ Ratmiati

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

Jurusan Teknik Elektronika (TE) terus memanfaatkan kemajuan teknologi di bidang Informasi dan Telekomunikasi (IT) untuk meningkatkan pelayanan bagi mahasiswa. Terlihat dari berbagai kecanggihan teknologi yang ada di elektronika, seperti Closed Circuit Television (CCTV) dan webcam yang dipasang pada tiap kelas di Jurusan Teknik Elektronika. Tak hanya itu, jurusan ini juga memasang teknologi terbaru yaitu Liquid Crystal Display (LCD), monitor multi fungsi yang dipasang di depan jurusan Elektronika. Menurut Yasdinul Huda, S.Pd., M.T., Sekretaris Jurusan TE, LCD ini merupakan sistem informasi dan komunikasi civitas akademika Jurusan TE. Pada LCD ini ditayangkan berbagai informasi seputar Jurusan TE, video-video tutorial, gambargambar, dan Short Message Service (SMS) get way. Melalui SMS get way, SMS dosen yang berisi pemberitahuan mengenai ketidakhadiran, keterlambatan, tugas, atau informasi lain, akan muncul pada monitor tersebut. “SMS masuk diterima server dan langsung muncul di monitor,” jelasnya, Sabtu (23/11). Yasdinul menambahkan bahwa program LCD tersebut dibuat dan dikembangkan oleh mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika dengan bimbingan dari para dosen. “Mahasiswa dibimbing untuk menerapkan ilmu yang didapatkan saat kuliah,” ujar Yas. Selain itu, Yas berharap agar semua kebutuhan dapat terpenuhi semaksimal mungkin dan dapat menciptakan pendidikan yang berbasis IT. “Semoga bisa berjalan lancar,” tutupnya. Geovani Farel, S.Pd., salah seorang dosen Elektronika mengatakan bahwa ide ini muncul karena melihat bentuk mading yang kurang menarik, kotor dan isinya tidak jelas. Serta diperkuat lagi dengan adanya program go green yang menggencarkan penghematan kertas. Oleh karena itu, timbul keinginan untuk membuat sebuah program yang dapat menayangkan informasi berguna tapi tidak menghabiskan banyak kertas. “Sistemnya seperti monitor di bandara,” jelas pencetus ide penggarapan program LCD ini, Selasa (26/6). Selain itu, Farel melibatkan dan membimbing mahasiswa dalam pembuatan sebuah program atau poyek lain yang didapatkannya. Termasuk untuk penggarapan program LCD di jurusan TE ini. Dari

pembuatan hingga penginstalan program, ia dibantu oleh dua orang mahasiswa sebagai karya tugas akhir semester mereka. “Saat ini ada 34 mahasiswa yang sedang mengerjakan proyek,” kata Farel. Lebih Lanjut, Farel mengungkapkan bahwa tujuannya melibatkan dan membimbing mahasiswa dalam pembuatan beberapa proyek atau program agar mahasiswa tersebut punya pengalaman lebih. “Saat cari kerja, yang ditanya bukan IPK tapi pengalaman. Daripada hanya belajar, lebih baik diimplementasikan,” ujarnya. Pengembangan teknologi yang diusahakan oleh Jurusan TE ini disambut baik oleh beberapa mahasiswa. Salah seorangnya adalah Putri Nurul Wulan, mahasiswa Prodi Pendidikan Teknik Eleltronika TM 2011, menurutnya manfaat LCD ini sangat terasa bagi mahasiswa, karena bisa dengan mudah memperoleh informasi dari jurusan, mengetahui dosen yang tidak hadir beserta tugas yang diberikan dengan cepat. Juga untuk mengetahui kemajuan teknologi terbaru melalui teks, gambar maupun video tutorial yang ditayangkan. Hal senada juga disampaikan Hafizah Hilal Najmi, mahasiswa Prodi Teknik Elektronika TM 2012. Menurutnya LCD tersebut sangat bermanfaat. Ia merasa bangga dengan kecanggihan teknologi yang dikembangkan oleh jurusannya. Animo mahasiswa terhadap LCD ini juga besar. “Apalagi kalau ada penayangan video tutorial,” tuturnya, Rabu (27/11). Selain melakukan pengembangan di bidang IT, Jurusan TE juga berupaya meningkatkan kinerja dosen dengan memberikan berbagai fasilitas. “Kami telah membagikan laptop, hardisk eksternal berkapasitas 1 Terabite, laser pointer, dan modem wifi kepada semua dosen di elektronika,” kata Drs. Putra Jaya, MT, Ketua Jurusan Teknik Elektronika, Selasa (19/11). Putra menyampaikan bahwa kecanggihan Teknologi yang dikembangkan Jurusan TE juga diminati masyarakat UNP lainnya. Hal itu terlihat dari permintaan FE dan FBS kepada Jurusan Teknik Elektronika untuk memasangkan LCD seperti yang dimiliki Elektronika di fakultas mereka. Fitri*, Rahmi

Beralih fungsi: Taman yang biasanya dipakai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial duduk santai, beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah dan sisa pembakaran kayu, Senin (11/ 13).f/Ratmiati


Agama

Jika Anda mengalami masalah keagamaan, silahkan manfaatkan rubrik ini. Kirimkan surat tentang masalah Anda kepada pengasuh rubrik ini ke email Ganto, redaksiganto@gmail.com atau Gedung PKM UNP Ruang G 65 UNP. Setiap pertanyaan harap dilengkapi dengan identitas.

Diasuh oleh: Dr. Ahmad Kosasih, M.A

Syahadat: Pintu Masuk Ajaran Islam Setiap umat Islam tidak ada yang tidak mengenal syahadatain atau dua kalimat syahadat. Ia berada pada urutan pertama sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan selain dari shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji dalam rukun Islam. Sebagaimana yang ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:

Tradisi Berbilang Hari

“Islam dibangun atas lima perkara yaitu: bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak) disembah kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat menunaikan zakat, haji, dan Puasa Ramadhan.”

Assalammualaikum Pak. Saya mau bertanya tentang tradisi tahlilan (Selamatan Kematian) 3,7,14, 40, serta 10 hari. Misalnya, di daerah saya setelah kematian sesorang, keluarga yang bersangkutan melakukan suatu tradisi ini untuk mendoakan orang yang meninggal. Di sela-sela acara ada tindakan membakar kemenyan. Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, apakah pedapat saya ini salah? Selain itu saya juga melihat banyak masalah yang timbul dari tradisi ini seperti menyusahkan keluarga yang ditinggal. Bahkan tradisi ini terlihat telah menjadi suatu kewajiban. Dimana hal ini ditandai, jika seorang tidak melakukan tradisi ini, orang tersebut akan dikucilkan. Bagaimana pendapat bapak mengenai hal ini?

Secara hirarkikal, syahadat diletakkan pada urutan pertama, tentu ada maksud syar’inya yang mengidentifikasinya secara khusus dari rukun yang lain. Maka timbul pertanyaan kenapa bukan shalat, puasa, zakat atau haji yang diletakkan pada urutan pertama? Hal ini perlu diajukan agar dapat memahami seberapa penting dua kalimat syahadat dalam konteks keislaman ataupun keimanan seseorang. Pertanyaan tersebut sekaligus mengantarkan pada sebuah pemahaman mengapa seorang nonmuslim yang masuk Islam harus bersyahadat (bukan sekadar membaca syahadat). Masalah penting lainnya, memahami dua kalimat syahadat tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang akan atau baru masuk Islam saja. Namun, juga penting bagi orang yang memeluk agama Islam sejak ia lahir. Syahadat diletakkan pada urutan pertama, memberi isyarat bahwa ia merupakan pintu masuk ke dalam agama Islam. Oleh sebab itu, seseorang yang akan masuk Islam tidak diperintah terlebih dahulu untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan atau Haji ke Baitullah. Melainkan ia harus bersyahadat terlebih dahulu dengan bersaksi bahwa tiada ilah (yang berhak) disembah melainkan Allah, dan bersyahadat bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah. Bersyahadat merupakan syarat u tama s es e or an g u nt uk b is a mengerjakan amalan rukun Islam lainnya. Tidak diterima amal ibadah seseorang kalau tidak berdasarkan pada syahadat yang terpatri dalam qalbu, dinyatakan dengan lisan dan teraplikasikan dalam perbuatan. Selain itu, kesuksesan dalam memahami syahadat secara benar akan berimplikasi pada keberhasilan dalam menjalankan ibadah-ibadah mahdhah (ketentuannya sudah jelas dan terperinci dalam syariat). Karena konsekuensi logis dari syahadat sangat berkaitan dengan ibadah-ibadah sebagaimana dijelaskan sebagai berikut. Dikaitkan dengan shalat, maka ketika seseorang dihadapkan pada perintah untuk mendirikan shalat, boleh jadi ia akan merasa berat mengerjakan shalat tersebut. Sebab ia tidak memiliki dorongan kuat dari dalam dirinya berupa pemahaman yang benar dari syahadat. Sehingga mengharuskan ia untuk senantiasa

Edo Febrianto Mahasiswa Teknik Pertambangan

Ananda Edo Febrianto. Apabila tahlilan yang anda maksud adalah membaca kalimat “La Ilaha illallah”, maka hal tersebut adalah perbuatan terpuji karena ia adalah kalimah tauhid, yang bagus kita ucapkan dengan berulang-ulang kali. Tetapi jika tahlilan itu hanya dijadikan sebuah ritual pada waktu-waktu tertentu yang tidak ada petunjuknya yang tegas dan jelas dalam sunnah, dikhawatirkan akan jatuh kepada perbuatan bid’ah. Bid’ah adalah ibadah yang diada-adakan tanpa memiliki dasar yang jelas atau tidak punya dasar sama sekali dalam Al-Qur`an dan Sunnah. Berkaitan dengan tahlilan dalam rangka memperingati hari kematian seseorang, yang lazim disebut dengan acara “Berbilang Hari” itu tidak ditemukan dalilnya dalam ajaran Islam. Sebagian ulama mengatakan tradisi itu berasal dari kepercayaan umat Hindu. Sebab, menurut keyakinan umat Hindu, seseorang yang baru meninggal itu arwahnya belum langsung kembali kepada “Sang Hyang” (Tuhan/Dewa), tapi masih berada disekitar rumahnya, maka untuk menghalaunya harus diadakan pesta kenduri dengan melakukan ritual atau doa. Acara itu dilakukan secara berulang-ulang kali dan bertahap supaya dia menjauh dari rumahnya dengan radius tertentu sampai dia benar-benar kembali kepada Sang Hyang. Dari pandangan hukum Islam, sesuatu hal yang dianggap sebagai ibadah tetapi tidak ada dasarnya yang jelas dari Al-quran atau hadist adalah termasuk bid’ah yang sesat dan menyesatkan. Apalagi bila diyakini bahwa orang yang tidak melakukan tradisi tersebut dianggap tidak menjalankan salah satu kewajiban keagamaan atau tidak memuliakan saudaranya yang meninggal itu, jelas sesuatu yang mengada-ada dan tidak berdasar. Bantuan orang yang hidup kepada orang yang sudah meninggal tidak lain adalah melalui doa, dan untuk berdoa bisa kapan dan dimana saja tanpa harus melaksanakan ritualritual tertentu. Selain itu, acara “Berbilang Hari” banyak disoroti oleh para ulama karena acara tersebut sangat membebani keluarga si mayat dan terkesan dipaksakan. Padahal keluarga si mayat itu seharusnya diringankan bebannya karena mungkin si mayat itu meninggalkan keluarganya dalam keadaan miskin atau anak yatim. Biasanya mereka yang sudah sangat kuat memegang tradisi tersebut akan melakukan bebagai upaya agar bisa menyelenggarakannya meskipun dengan jalan berutang dan sebagainya. Allah melarang kita menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan (Q.S.Al-Baqarah:195) dan melarang kita berbuat boros/mubazir (tabzir) karena mubazir itu termasuk perbuatn setan yang harus dihindari (Q.S. AlIsra`26-27: ). Wallahu a’lam bisshawab!

mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah dalam Quran Surat Al-Baqarah: 45 yang artinya: “Dan mohonlah pertolongan

(kepada Allah) dengan sabar dan shalat, dan (shalat) itu sungguh berat kecuali bagi orang yang yang khusyuk”. (Al-Baqarah:45) Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa shalat (yang khusyuk) hanya dapat dijalani bagi orang yang menyadari bahwa shalat itu tidak hanya gerakan fisik tanpa pemaknaan yang mendalam dalam hati dan pikiran. Sehingga banyak orang melaksanakan shalat, namun ia tidak berupaya untuk khusyuk. Jika dikaitkan dengan puasa, apabila seseorang tidak memiliki keyakinan yang kuat terhadap syahadatnya, maka ibadah puasa sangat sulit untuk dikerjakan, karena berpuasa membutuhkan kesabaran berupa sikap untuk menahan diri dari segala yang membatalkan. mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Bagi orang yang beriman, mengerjakan ibadah pu-

Sulaiman Arrasyid, S.Pd. I dilahirkan di Payakumbuh 22 Februari 1981. Saat ini Ia mendedikasikan diri sebagai dosen Pendidikan Agama Islam di MKU UNP, Pembina Unit Kegiatan Kerohanian (UKK UNP), Pembina Lembaga Responsi Agama Islam (LRAI) UNP Motto: “Berusaha menjadi yang terbaik dalam setiap kebaikan”

Keyakinan tersebut muncul pada pribadi yang memahami akan makna dari syahadat yang totalitas dalam melaksanakan perintah Allah. Mustahil bagi pribadi yang tidak memiliki keyakinan demikian mampu menunaikan zakat dan bersedekah dengan baik. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam alQuran yang artinya:

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (QS. At-Taubah: 103) asa bukanlah pekerjaan yang berat karena mereka mempunyai k e ya k i n a n , dan dorongan kuat dalam dirinya untuk mengerjakan perintah Allah SWT. Sehingga ia mampu berpuasa dan menambahnya dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunat yang dianjurkan pada bulan Ramadan. Seperti Tilawah Quran, Qiyamul Lail, memperbanyak sedekah, memberi makan orang miskin, dan lain sebagainya. Demikian pula halnya dengan zakat, apabila seseorang tidak memiliki pemahaman terhadap syahadat secara benar, maka berzakat akan terasa berat dan memberatkan. Ini dikarenakan berzakat dan bersedekah membutuhkan keikhlasan yang nyata dan tidak sekadar hiasan kata-kata ikhlas. Tetapi berzakat dan bersedekah membutuhkan pemahaman totalitas terhadap ajaran Islam yang memerintahkan ummatNya untuk berinfak (membelanjakan) hartanya di jalan Allah. Tanpa perlu merasa hartanya berkurang atau habis. Karena berzakat pada hakikatnya akan mendatangkan keberkahan dan kebersihan harta serta pahala yang berlipat ganda. Grafis: Edo Febrianto

14

Dikaitkan dengan ibadah haji, sebagai rukun Islam yang wajib dilaksanakan sekali dalam seumur hidup, juga membutuhkan komitmen yang kuat dari seorang muslim untuk dapat menunaikannya. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat al-Imran [33]: 97 yang artinya:

“...mengerjakan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang mampu melaksanakan perjalanan ke Baitullah”. Ibadah haji menuntut ketahanan fisik, seperti mampu bertahan dalam desakan-desakan ketika thawaf, berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwa, dan berjalan lebih kurang tujuh kilometer dari Makkah ke Mina untuk melakukan pelontaran jumrah. Selain itu ibadah haji juga harus dilandasi kemampuan jiwa merealisasikan beban dan tanggungjawab dalam hal keimanan. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa syahadat sebagai rukun Islam bersifat maknawiyah dan amaliah yang senantiasa harus melekat pada diri seorang muslim kapanpun dan dimanapun. Syahadat juga harus menjadi ruh atau spirit dalam menjalankan perintah agama. Sehingga amalan-amalan yang dilakukan memang lahir dari pemahaman yang benar dan lurus dari syahadat yang telah diikrarkan.

Wallahua’lam bisshawab.

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


Politik

15

Mahasiswa dan Partai Politik Sebuah pencerdasan terhadap bangsa tidak akan terwujud ketika sesuatu hal yang dianggap tabu bukannya dikupas dan dihadapkan kepada masyarakat secara kritis dan argumentatif, malah dihindarkan atau bahkan diilegalkan .” –Prof. Dr. Magnis Suseno, SJ. Pernyataan di atas seharusnya dapat menyadarkan kita tentang banyaknya permasalahan politik yang terjadi di negeri ini. Permasalahan politik seolah-olah disembunyikan oleh berbagai golongan, bahkan oleh mahasiswa sendiri. Politik adalah cara untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Juga merupakan sebuah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat, yang antara lain berwujud pada proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Namun, perpolitikan model sekarang mulai keluar dari jalurnya. Seperti mewabahnya perpolitikan di tengah-tengah mahasiswa. Maraknya partai politik yang masuk kampus, merupakan suatu hal yang tidak asing lagi. Bahkan tidak jarang para mahasiswa dengan tangan terbuka ikut berpartisipasi dan berperan serta menyukseskan aksi perpolitikan. Seperti halnya kampanye kampanye politik yang diwadahi secara tersirat oleh pihak kampus bahkan organisasi kemahasiswaan. Hal ini terlihat ketika adanya acara-acara organisasi kampus yang bekerjasama dengan partai politik. Baik sekadar menyampaikan kata sambutan dalam sebuah

acara, membuka forum diskusi, sampai dengan seminar yang pematerinya adalah orang-orang yang berasal dari partai politik. Pastinya hal tersebut mengandung unsur kampanye yang diiming-imingi dengan bantuan dana yang telah disepakati. Karena secara tidak langsung, organisasi kampus telah mewadahi partai politik tersebut untuk masuk ke ranah kampus, walaupun sekadar memberi sambutan, diskusi atau memberikan materi pada sebuah seminar. Mengenai perpolitikan ini, kita seharusnya dapat membandingkannya dengan mahasiswa lain. Contohnya aksi tolak politik mahasiswa Univeristas Negeri Papua (Unipa). Mahasiswa Unipa protes mengenai adanya dugaan keterlibatan rektor dalam melakukan politik praktis, pada April 2012 yang lampau. Dugaan adanya kerjasama rektor dengan partai politik ini membuat mereka melakukan demo besar-besaran kepada rektor. Terlihat jelas kalau mereka menolak adanya politik masuk ke ranah kampus. Be lajar dari pe nol ak an mahasiswa Unipa tersebut, mahasiswa lain seharusnya mulai berpikir akan pentingnya permasalahan ini untuk ditindaklanjuti. Sebagai manusia kritis, mahasiswa dituntut untuk memberikan kontribusi dan solusi terbaik mengenai permasalahan politik yang sedang gencar pada saat ini. Memang tidak sedikit mahasiswa yang beranggapan, bahwa

tidak ada salahnya jika mahasiswa menerima ‘sesuatu’ dari partai politik yang bersangkutan, karena tidak ada janji yang mengikat mereka untuk memilih partai politik itu nantinya. Pandangan seperti inilah yang menjadi salah satu faktor semakin mewabahnya pengaruh

litikan tersebut? Berkaitan dengan masalah ini, Dikti mengeluarkan aturan mengenai “Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus atau Partai Politik dalam Kehidupan kampus”, yang termuat dalam SK Dirjen Dikti no. 26/DIKTI/KEP/2002. Melalui ketetapan itu, Dikti dengan tegas melarang segala bentuk organisasi ekstra kampus dan Partai Politik membuka Sekretariat (Perwakilan) dan atau melakukan aktivitas politik praktis di kampus. Aturan jelas memberikan jawaban bahwa mahasiswa bukan wadah untuk berpolitik apalagi berusaha menyukseskan partai politik. Mahasiswa adalah kontrol sosial, sudah selayaknya mahasiswa membela kepentingan rakyat, bukan turut mewadahi partai politik. Karena kerja Grafis: Edo Febrianto sama mahasiswa dengan partai politik hanya akan melemahkan mahasiswa, sehingga sikap kritis, ilmiah, dan wibawa kampus di grogoti. Hal ini pastinya akan politik di kalangan mahasiswa. berpengaruh terhadap peran Terlepas dari semua itu, ada mahasiswa sebagai agen of dampak terselubung yang mampu change yang selalu diharapkan. menghipnotis pemikiran mahasisPeta politik kampus yang kian wa. Sebab, secara tidak sadar memanas saat ini memang menpencitraan yang dimunculkan oleh cuatkan berbagai isu. Banyaknya politikus dalam acara seminar isu-isu tentang bergabungnya maupun kuliah umum mampu organisasi kampus dengan partai menarik simpati mahasiswa. Ke- politik tidak bisa dipungkiri lagi. banyakan mahasiswa tidak sadar Disinilah dipertanyakan dan dalam pembicaraan tersebut dituntut peran mahasiswa yang terdapat kampanye terselubung sesungguhnya. Apakah masih suci yang tentunya akan menguntung- dari perpolitikan, ataukah justru kan pihak si-politikus. sebaliknya. Lalu bagaimana mahasiswa Terlepas dari itu, antara orgaseharusnya? Apakah mahasiswa nisasi mahasiswa dan partai politetap bersedia mewadahi perpo- tik masuk kampus memang dua

Sri Gusmurdiah Mahasiswa Administrasi Pendidikan FIP 2012. Lahir di Pesisir, 29 Maret 1993. FB: SriGusmurdiah. Twitter: @Sri_Shinju Email: Srigusmurdiah@ymail.com

hal yang sangat jauh berbeda. Organisasi mahasiswa independen harus mampu membuktikan kalau mereka tidak bisa di “bius” begitu saja oleh partai politik dengan iming-iming memperoleh suntikan dana untuk sebuah kelancaran acara. Artinya, mahasiswa tidak dijadikan sebagai lahan untuk mendapatkan jumlah suara bagi partai politik ketika masanya tiba. Idealnya mahasiswa seharusnya tidak terlibat partai politik, apalagi berusaha untuk menjadi tim sukses partai politik. Mahasiswa harus kembali ke idealismenya sebagai agent of change. dan social control. Belajar dan bekerja keras untuk memperkuat eksistensi negara demi kemakmuran dan keadilan bagi seluruh masyarakat bukan untuk eksistensi partai politik.

Gantopedia

Prototype Alat Access4Kids Sempurna menjadi suatu hal yang diimpikan dan ingin diraih setiap orang. Tetapi lain halnya ketika seseorang mengalami ketidaksempurnaan pada sistem koordinasi mereka. Seperti motorik halus dan motorik kasar. Berbagai keluhan pun akan timbul dari mereka yang mengalami kekurangan fisik. Hal ini tentu saja menjadi penghambat mereka dalam melakukan kegiatan sehari-hari, apalagi untuk menggunakan teknologi yang semakin canggih seperti saat sekarang ini. Ada beberapa gangguan motorik halus yang bisa mengakibatkan anak-anak tidak bisa melakukan gerakan koordinasi kecil. Kesulitan mengendalikan koordiasi kecil ini biasanya terjadi pada tangan, pergelangan tangan, dan jari. Gangguan tersebut disebabkan adanya kelainan pada neurologis seperti Cerebral palsy, cedera otak traumatik, spina

bifida (cacat lahir karena kelainan tulang belakang), dan distrofi otot (kelemahan otot). Untuk mengatasi hal tersebut, para peneliti di Georgia Tech, Ayanna Howard Profesor Teknik Elektro dan Computer dan Park Hae Won seorang mahasiswa Pascasarjana mencoba membuka dunia tablet untuk anak-anak yang terbatas mobilitasnya. Alat ini diperuntukkan bagi mereka yang kesulitan menyentuh serta gerakan untuk menggeser. Oleh sebab itu diperlukan suatu perangkat untuk bisa mengontrol. Penemuan mereka dikenal dengan Access4Kids, sebuah perangkat input nirkabel yang menggunakan sistem sensor untuk menerjemahkan gerakan

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

fisik menjadi gerakan motorik untuk mengendalikan tablet. Anak yang mengalami gangguan motorik halus bisa menggunakan alat ini ke lengan atau menempatkannya di lengan kursi roda, kemudian memukul sensor atau menggesek sensor dengan tinjunya sesuai dengan kemampuan anak. Gesekan atau ketukan yang sudah terkombinasi tadi akan menjadi sebuah perintah yang berbeda pada tablet yang berbasis sentuhan. Alat yang

b e r n a m a Prototipe perangkat Acces4kids ini memiliki tiga kekuatan resistor sensitif yang mengukur tekanan. Dan dapat menginstruksikan tablet setelah diubah menjadi sinyal. Alat ini memungkinkan anak bisa mengakses aplikasi umum dan aplikasi yang bisa disesuaikan untuk terapi serta pendidikan sains mereka. Untuk hal itu, perangkat yang ada pada alat Prototipe ini ditambah dengan aplikasi pendukung open-source dan perangkat lunak yang dikembangkan di Georgia Tech. Sebagaimana yang diungkapkan peneliti di Georgia Tech, Howard yakin bahwa setiap anak mempunyai keinginan untuk

memiliki kemampuan dalam mengakses teknologi, seperti anak pada ummnya. Namun, kebanyakan orang beranggapan bahwa keterbatasan fisiknya menjadi sebuah penghambat untuk melakukan hal tersebut. Ke t e r b at as an i t u t i d ak menjamin anak untuk tidak bisa mengakses teknologi, karena setiap masalah tentu ada penyelesaiannya. Oleh karena itu, ia menginginkan orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan apa yang ada d al am p i k i r an m e r e k a, sehingga mereka memiliki jalan untuk dapat melihat perkembangan dunia. Jadi, tidak perlu dikhawatirkan lagi. Penyandang cacat juga bisa menggunakan teknologi yang canggih agar mereka bisa berkembang dan menambah pengetahuan seperti anak lainnya.Redda Wanti


Teropong

16

UKO Tidak Pernah Vakum Siang itu Sekretariat Unit Kegiatan Olahraga (UKO) terlihat ditunggui oleh beberapa orang mahasiswa di dalamnya. Tak seperti biasanya dengan pintu yang sering terkunci. Sekretariat bercat hijau muda ini meninggalkan kesan seolah-olah unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dibidang keolahragaan ini telah vakum. Waldi Julio Saputra, selaku ketua UKO mengatakan mereka baru saja selesai Open Recruitment (OR) anggota baru akhir Oktober lalu. “Kami baru saja selesai OR tanggal 19-26 Oktober kemaren,” ungkapnya, Jumat (22/11). OR ini pertama kali diadakan sejak didirikan pada tahun 1998 silam. “Biasanya perekrutan anggota baru dilakukan dengan cara memantau mahasiswa yang mempunyai kemampuan dibidang olahraga, kemudian mereka diajak bergabung,” tutur Waldi. Diadakannya OR ini menegaskan bahwa UKO tidak pernah vakum. “Kami tidak pernah vakum, kalau UKO sering terlihat tidak buka itu karena pengurusnya banyak yang sedang praktek lapangan,” tegasnya. Ia juga menambahkan, selain untuk merangkul mahasiswa yang berminat dan berbakat dibidang olahraga, perekrutan anggota baru diharapkan agar dapat meneruskan kepengurusan UKO, mengingat banyaknya pengurus inti yang sedang praktek lapangan. Perekrutan anggota baru UKO disambut baik oleh mahasiswa, banyak mahasiswa yang mendaftarkan dirinya. Selang tiga hari pendaftaran, tercatat sekitar 76 orang mendaftarkan diri sebagai anggota baru. Waldi mengaku pendaftaran sengaja dibatasi dengan alasan kesiapan dari UKO sendiri. Saat ini terdapat enam cabang unit

kegiatan keolahragaan yang berada dibawah naungan UKO. Diantaranya unit kegiatan sepak bola, basket, silat, karate, sepak takraw dan voli. Masing-masing unit kegiatan memiliki pembimbing tersendiri. Tahun ini UKO mengirim delegasi pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) di Yogyakarta. “Semoga UKO lebih maju kedepannya, dapat mengikuti turnamen baik di Sumbar hingga ajang nasional,” tutup Waldi. Weni Sasmita, selaku pelatih pada bidang pencak silat, juga mengatakan bahwa UKO tidak vakum. “Memang UKO saat ini antara ada dan tiada, tapi vakum sih tidak,” ujarnya, Rabu (27/11). Pernyataan Weni ini terbukti dengan adanya kegiatankegiatan dan latihan-latihan yang rutin dilakukan oleh masing-masing cabang. Pencak silat misalnya, yang masih sering ditemui latihan di depan gedung Rektorat ataupun di dekat Gelanggang Olah Raga (GOR) UNP. Terkait dana pada setiap cabang UKO khususnya pencak silat, Weni mengaku untuk saat ini hanya berupa sumbangan sukarela antar anggotanya. Komunikasi yang kurang baik antara UKO dengan cabang menyebabkan mereka secara mandiri memikirkan kelangsungan cabang masing-masing untuk kedepannya. Reni Dwi Putri, sekretaris Unit Kegiatan Komunikasi Penyiaran Kampus (UKKPK) yang sekretariatnya berseberangan dengan sekretariat UKO, mengaku melihat kesibukan UKO setelah OR. “Sekretariat UKO sering buka terutama pada sore hari, apalagi sekarang mereka juga sudah OR,” ungkapnya, Selasa (26/11). Meri Susanti, Nova*

Kreativitas Kampus Cabang Lokasi kampus cabang yang cukup jauh dari kampus pusat membuat mahasiswa di kampus cabang tidak bisa menikmati keberadaan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) layaknya mahasiswa di kampus pusat. Walaupun demikian, bukan berarti mahasiswa kampus cabang tidak memiliki aktivitas pasca kegiatan perkuliahan. Kampus V UNP Bukittinggi misalnya, di kampus cabang ini terdapat komunitaskomunitas seperti Psikopers, Self Development Centre (SDC), Katarsis, Psikosis, Basket, dan Psikobumi. SDC menggiatkan kegiatan seperti training motivasi kepada siswa SMA Negeri Agam Cendekia dan training Psychology First Aid (PFA), sedangkan Psikosis mengadakan Psychol-

ogy Futsal Cup. Tak hanya di Kampus V UNP Bukittinggi, mahasiswa di Kampus IV UNP Limau Manih juga mempunyai aktivitas sendiri, khususnya pada jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Setiap tahunnya, mahasiswa PLB menyelenggarakan acara tahunan Pengabdian Pada Masyarakat (P2M) dengan tujuan memberikan layanan kepada keluarga dengan anak berkebutuhan khusus. Selain itu, mahasiswa PLB bisa dikatakan memiliki Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) tersendiri. PKM PLB tersebut diantaranya, Komunitas Seni, Komunitas Pecinta Alam, Pramuka, Kegiatan Kerohanian seperti Wonderful Akhwat, Kuliah Umum Bahasa Isyarat dan Kotba (kegiatan memasak). Rahim Kurniawan A, Wakil Ketua HIMA PLB mengungkapkan, bahwa PLB

juga menjalin kerjasama dengan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia. Kerjasama tersebut terlihat dalam perayaan Hari penyandang Disability se-Dunia setiap bulan Desember. “Kerjasama kami ini tidak hanya lingkup Sumbar tapi juga mencakup Indonesia”, jelasnya (18/11). Telah memiliki kreativitas sendiri walaupun berada jauh dari kampus pusat, bukan berarti tanpa kendala. Ari Kiswanto Kenedi selaku Ketua HIMA PGSD UPP IV Bukittinggi mengungkapkan bahwa kegiatan di UNP Air Tawar tidak seluruhnya bisa diikuti. Kurangnya koordinasi sering mengakibatkan keterlambatan dalam mendapatkan informasi. “Kalau ada rapat, kadang pemberitahuannya sudah 2 jam sebelum rapat, sedangkan jarak tempuh untuk ke kampus pusat butuh waktu 2 jam lebih,” jelas Ari, Selasa (19/2). Annisa Risti, Mahasiswa Psikologi TM 2010 juga berpendapat sama, Risti berharap terjalin kerjasama dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan antara kampus pusat dan kampus cabang,. “Sebaiknya ada koordinasi yang baik,” usulnya, Kamis (21/2). Rinaldi, S.Psi., Pembimbing Hima Psikologi mengkonfirmasi keadaan ekstrakurikuler tersebut, bahwa kegiatan kemahasiswaan seperti ekstrakurikuler yang ada di kampus Bukittingi dan kampus pusat belum ada koordinasi, hal ini dikarenakan tidak semuanya bisa dijangkau dengan jarak jauh antara Bukittinggi dan Padang. “Belum ada koordinasi, masih sendiri,” akunya, Senin (18/2). Fidi, Redda*

Kampus Masa Depan Bersama IDB Kerjasama antara Universitas Negeri Padang (UNP) dan Islamic Development Bank (IDB) telah berjalan selama dua tahun. Kerjasama dimulai dengan pengusulan proposal pembangunan UNP kepada pihak IDB pada 2007. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementrian Keuangan dan Kementrian Pendidikan Nasional Indonesia turut membantu terjalinnya kerjasama UNP dengan IDB. Namun, kerjasama antara kedua pihak baru terealisasi pada 2010, karena banyaknya proses yang harus ditempuh dan daya saing yang sangat ketat dalam mendapatkan proyek pembangunan IDB. IDB merupakan sekumpulan negaranegara mayoritas penduduknya beragama islam dan dipimpin oleh Kerajaan Saudi Arabia berpusat di Jeddah. Tujuan dibentuknya IDB yaitu untuk meningkatkan daya tampung dan jaminan kualitas pengajaran dan pembelajaran tingkat universitas di negara-negara anggota IDB. Indonesia bergabung dengan IDB sebagai anggota pendiri pada 1975. Universitas negeri di Indonesia seperti UPI Bandung, USU Medan, Universitas Makasar, UIN Jakarta, UNDIP Semarang dan beberapa universitas lain telah lebih dulu melakukan kerjasama dengan IDB dan mendapatkan bantuan pembangunan berupa fisik dan non fisik. Menurut penjelasan sekretaris IDB UNP, Afriva Khaidir, MAPA., PhD., pembangunan IDB di UNP terlambat dilakukan karena proses yang begitu panjang. Seperti tender yang lama, penawaran, seleksi, rancangan, persetujuan, dan izin. “Hal-hal tersebut membutuhkan proses yang lama,” ujarnya, Senin (25/11).

Selain itu, Afriva juga menjelaskan bahwa bantuan dan kerjasama dari IDB tidak hanya berbentuk pembangunan fisik, tapi juga nonfisik. Pembangunan nonfisik berbentuk pendidikan staf-staf pengajar yang diutus dari masing-masing fakultas yang ada di UNP ke luar negeri. “Untuk sekarang kami telah memberangkatkan 5 staf ke Australia, 5 ke China, 20 ke Singapura, dan 15 ke jepang,” tambahnya. Lebih lanjut, dia juga mengatakan bahwa proses pembangunan secara fisik akan dilakukan pada 2014 mendatang. Penyelesaian pembangunan akan berakhir pada akhir 2015. “Proses pembangunan akan berlangsung selama 18 bulan,” tuturnya. Pembangunan IDB yang akan dilakukan di UNP yaitu; university centre (rektorat, biro dan senat), auditorium, student centre, business centre, pusat pelatihan dan pengembangan guru, laboratorium terpadu, ruang kelas bersama terpadu, Fakultas Ilmu Sosial dan pusat IT. Selain itu juga akan ada alokasi untuk pengadaan peralatan laboratorium, perabotan, perbaikan jalan kampus, peningkatan penerangan dan perlistrikan kampus, kanopi untuk pejalan kaki, tempat parkir, trotoar, taman, dan gerbang. Berkaitan dengan pembangunan yang nantinya akan dilakukan selama proses perkuliahan berlangsung, Afriva mengatakan bahwa mahasiswa harus bersabar dan saling memahami. Karena mau tidak mau proses pembangunan pada awal 2014 nanti harus segera dilakukan, sekalipun itu akan mengganggu proses perkuliahan. “Ini untuk kepentingan bersama, jadi kita saling memahami saja,” tutupnya. Sri*

LRAI Berganti Nama Setelah Lembaga Responsi Agama Islam (LRAI) UNP dibekukan, tak lama berselang waktu lembaga ini berganti nama menjadi Lembaga Mentoring Agama Islam (LMAI). Seperti yang diakui ketua LMAI, Ahmad Rizko, LMAI sama dengan LRAI, baik dari cara kerjanya maupun kerjasamanya dengan pihak UPT MKU. “Tidak ada beda, hanya namanya saja yang berbeda,” ungkapnya, Sabtu (23/11). Terkait dengan pergantian nama, nama LMAI ini merupakan usulan dari pihak Mata Kuliah Umum (MKU). “Di perguruan tinggi lainnya seperti di Universitas Andalas (Unand) dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) juga menggunakan nama LMAI,” kata Rizko. Terlepas dari itu, LMAI ini masih merupakan Badan Semi Otonom yang berada di bawah naungan UKK. LMAI sudah mendapatkan izin dengan menggunakan proposal kegiatan. “Sekarang namanya LMAI, sudah di-ACC proposalnya,” tangkas Rizko. Ia juga menambahkan ketika namanya masih LRAI peserta mentoring mencapai 1500-an namun setelah transisi dari Pembantu Rektor (PR) I ke PR III, hanya sekitar 300-an orang yang mengikutinya. Lebih lanjut Rizko menjelaskan bahwa sistem pertanggungjawaban LMAI juga berubah. Ketika namanya masih LRAI, pertanggungjawabannya di bawah koordinasi PR I. Namun setelah namanya diganti menjadi LMAI, semua koordinasi berada di bawah PR III. Sebagaimana permintaan PR III, semua kegiatan

mahasiswa berada di bawah naungannya. “Jadi lembaga ini berada di bawaah koordinasi PR III, menjadi unit kegiatan mahasiswa,” jelasnya, Jumat (29/11). Menambahkan penjelasan dari Rizko, Amdrean Ruseffendi, Ketua Unit Kegiatan Kerohanian (UKK), mengatakan LRAI berbeda dengan LMAI. Saat masih berbentuk LRAI seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah umum (MKU) Agama diwajibkan mengikuti mentoring, sedangkan LMAI tidak diwajibkan. “LMAI disunahkan, tidak diwajibkan,” tegasnya, Kamis (28/11). Ia mengharapkan agar peserta mentoring banyak kembali dan LMAI harus bekerja lebih intens memperbaiki kekurangan sebelumnya. Pembina UKK, Dra. Murni Yetti, M.Ag., membantah dan tidak mengakui perubahan nama menjadi LMAI. “Yang ada hanya kegiatan mentoring agama Islam,” ungkapnya, Jumat (22/11). Menurut Yet, jka diberikan nama LMAI yang artinya bukan semi otonom tidak masalah, tapi kalau dinamakan lembaga yang semi otonom kenyataannya itu hanya kegiatan mentoring. Menurut Dr. Syahrial Bakhtiar, M.Pd, LMAI dikembalikan ke UKK. “Kegiatan seperti ini dulunya akademik, namun sebenarnya kegiatan itu bukan di akademik melainkan bagian kemahasiswaan,” ujarnya, Kamis (28/11). Syahrial menambahkan bahwa Ia akan mendukung kegiatan mentoring yang dilakukan LMAI. “Apapun bentuk mentoringnya saya setuju,” tegasnya. Sonya*,Liza

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


Kelanjutan SM-3T Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) sudah tiga tahun berjalan. SM-3T adalah program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang bertujuan untuk menjawab tantangan pendidikan sekaligus melakukan percepatan pembangunan berbasis pada penyiapan pendidikan bermutu bagi seluruh putra-putri bangsa yang berada di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Universitas Negeri Padang (UNP) ikut berpartisipasi untuk menghasilkan calon guru unggul dan profesional melalui program ini. Beberapa alumninya sudah ada yang menyelesaikan Program Rintisan Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi Berkewenangan Tambahan (PPGT) dan bahkan sudah ada yang mulai mendaftarkan diri sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Sebagian ada juga yang memilih untuk mengajar di daerah asalnya. Seorang diantaranya adalah Yulnida Ardia, Jurusan Geografi. Siang itu, Yulnida baru menerima surat permohonan mendaftar CPNS. Ia hendak mendaftar CPNS di daerah sasarannya dulu, Simeuleu, Aceh. Yulnida mengaku mendapat banyak pengalaman berharga setelah mengikuti program SM-3T. Salah satunya ketika ia memilih untuk juga mengajar ibu-ibu buta huruf. “Selama di daerah, saya dilatih bagaimana untuk tidak sekedar mengajar,” ujarnya, Senin (21/10). Meskipun tidak ada kejelasan yang pasti untuk langsung diterima menjadi PNS. Bahkan setelah mengabdi selama setahun dan menyelesaikan kuliah PPGT, Yulnida tetap merasa senang bisa menjadi bagian dari SM-3T. Saat ini ia hanya bisa

Teropong

menaruh harapan agar ke depannya para alumni SM-3T bisa mendapatkan kejelasan. Akan tetapi, mereka mengatakan tetap ingin mengajar, meskipun belum diangkat menjadi PNS. “Ya, untung-untung bisa menjadi PNS,” ujar Yulnida. Berbeda dengan Yulnida, program ini baru akan dijalani Adelia Aryani Putri, salah seorang peserta yang lulus SM3T angkatan ke-3 di Pidie Jaya, Aceh. “Pendidikan bukanlah suatu bisnis, tetapi merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab,” tegasnya. Dia berharap agar guru Indonesia menjadi pribadi yang lebih kuat untuk mengabdi pada negaranya sendiri dan dunia. “Guru lebih dari sekedar mengajar di dalam kelas tetapi mengubah dunia menjadi lebih baik,” ungkapnya, Minggu (15/9). Drs. H. Hambali, M.Kes, selaku ketua SM-3T angkatan ke-3 menegaskan bahwa program SM-3T ini memang bertujuan untuk mencari guru-guru profesional yang mempunyai semangat dan kemampuanb untuk mengubah pendidikan bangsa ke arah yang lebih baik lagi. Selain itu, ia juga menjelaskan sekaligus menjawab pertanyaan peserta mengenai kejelasan SM-3T selama ini. Peserta yang selesai menjalani SM-3T akan melanjutkan ke PPGT yang diasramakan dan diberi beasiswa selama 6 bulan untuk PGSD dan PG-PAUD, dan 1 tahun untuk peserta kependidikan lainnya. Selesai PPGT mereka akan diundang kembali ke daerah sasarannya. “Biasanya mereka diharapkan kembali. Kalau menolak maka mereka sendiri yang akan rugi” jelasnya, Selasa (26/11). Ia mengharapkan peserta SM-3T ini sukses di lapangan dan akan menjadi calon guru super selanjutnya. Duni, Ana*

Pencarian Dana Butuh Sosialisai Kurangnya pengetahuan mahasiswa tentang keuangan dan proses pencairan dana di Universitas Negeri Padang (UNP) membuat Organisasi Mahasiswa (Ormawa) kewalahan ketika mengurus keuangan. Salah seorangnya adalah Luthfi Koto, yang merasa prosedur pengajuan dana proposal begitu rumit saat mengadakan kegiatan, mahasiswa tidak langsung mendapatkan dana. Dana baru bisa diterima setelah kegiatan dilakukan. Hal ini membuat mereka harus mencari dana talangan terlebih dahulu untuk menanggung biaya kegiatan. “Kurang masuk akal rasanya jika seperti ini, padahal kami tidak punya uang,” ucap anggota Kaderisasi Unit Kegiatan Wadah Pengkajian dan Pengembangan Sosial Politik ini, Jumat (22/11). Hal senada juga disampaikan oleh Rahmad Satriawan, Ketua Hima Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. Menurutnya proses pengucuran dana setelah diadakannya kegiatan memberatkan mahasiswa. Selain itu pencairan dana untuk Ormawa juga terkesan lama. Rahmad menjelaskan untuk Surat Pertanggungjawaban (SPJ) Rapat Kerja, organisasinya sudah mengajukan sebulan lamanya, dan dua minggu yang lalu menyusul SPJ kegiatan jurnalistik yang diadakan awal November. “Sampai saat ini dana kami belum dicairkan,” ujarnya, Rabu (27/11). Menanggapi hal itu, Drs. Syarkani, Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK) menjelaskan bahwa prosedur pengucuran dana di UNP sudah sesuai dengan prosedur. UNP sudah menga-

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

cu kepada Undang-undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang ditetapkan Menteri Keuangan. “Semua pengeluaran uang negara mengacu ke Standar Biaya Umum (SBU) 2012 yang dikeluarkan Menteri Keuangan,” ujar Syarkani, Selasa (19/11). Dalam aturan tersebut ada dua jenis pencairan dana yaitu sistem UP (Uang Persedian) dan sistem LS (Langsung). Dalam sistem UP, dana bisa diterima terlebih dahulu. Syaratnya Rancangan Anggaran Belanja (RAB) harus diusulkan dan harus menunggu berkas RAB dari pengaju lainnya hingga totalnya 500 juta rupiah. Namun dana ini jarang dipakai karena terkendala pada waktu yang disediakan untuk pengumpulan RAB yang hanya sebulan dan ketidaktepatan para pengaju dalam penyelesaian SPJ. “Banyak dari pengaju yang tidak disiplin dalam penyelesaan SPJ sehingga menimbulkan masalah bagi pengaju lainnya,” jelasnya. Sedangkan untuk sistem LS pencairan dana baru bisa dilakukan setelah acara yang diselenggarakan selesai dan SPJ-nya sudah lengkap. Syarkani juga menilai mahasiswa kurang memahami prosedur pengucuran dana. “Ada baiknya pada kegiatan mahasiswa seperti PKKMB juga disisipkan materi yang menyangkut hal-hal keuangan seperti ini,” lanjutnya. Setelah dikonfirmasi pada Pembantu Rektor II UNP, Dr. Alizamar, M.Pd. Kons, menyatakan sejauh ini belum ada sosialisasi untuk sivitas akademika UNP. “Hal ini memang perlu dijelaskan pada mahasiswa,” ungkapnya, Rabu (27/11). Sastra*, Zolla

17

2.066 Mahasiswa UNP Tanpa Kabar

Mahasiswa Universitas Negeri Padang saat ini tercatat sebanyak 34.000 orang. Dari jumlah tersebut ada 2.066 mahasiswa menghilang tanpa berita hingga semester ganjil ini. Dijelaskan oleh Yushamdi selaku Kepala Unit Pelayanan Teknis Pusat Komputer UNP, ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Salah satunya adalah tingginya keterlamabatan pembayaran uang kuliah. “Padahal kalender akademik sudah dipajang besar di depan rektorat,” ujarnya Rabu (20/11). Selain itu banyak mahasiswa yang cuti tanpa memberi tahu pihak universitas. Mahasiswa yang tidak mengikuti perkuliahan dan tiga kali berturutturut tidak melakukan pembayaran uang kuliah serta tanpa izin resmi seharusnya dikenakan drop out. Sesuai peraturan akademik pada BAB V tentang Pelanggaran akademik, yang diatur pada pasal 18 nomor 11 yang berbunyi: “Mahasiswa diberhentikan bila tidak mengikuti program akademik dan tidak melaksanakan pendaftaran ulang tiga kali semester berturut-turut tanpa izin resmi”. Namun pada kenyatannya aturan tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan. UNP masih menerima mahasiswa kembali mengikuti perkuliahan jika alasan dapat dipertimbangkan. “Terkadang ada mahasiswa yang terkendala biaya, makanya universitas masih memberi toleransi”, ungkap Azhari Suwir, S.E selaku Kepala bagian Pendidikan dan kerjasama Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan UNP, Senin, (25/ 11).

Hanya saja untuk mahasiswa yang melakukan pelanggaran kriminal, UNP menindak tegas dengan langsung menjatuhi hukuman dikeluarkan dari universitas atau penangguhan akademik maksimal selama dua semester jika terbukti melanggar hukum. Hal tersebut telah disesuai deangan peraturan akademik yang diatur pada pasal 18 nomor 6 BAB V di buku peraturan akademik UNP. “UNP masih memakai hati nurani dalam memberhentikan langsung mahasiswa yang cuti tanpa kabar,” ujar Yusuf S.Pd, selaku Kepala sub bagian Registrasi dan Statistik UNP Jumat, (22/11). Azhari juga menambahkan jika mahasiswa ingin mengambil cuti dikarenakan sakit, kerja, ataupun terkendala lainnya seharusnya melapor ke universitas. Lebih lanjut ia menjelaskan peran Pembimbing Akademik (PA) harus lebih maksimal. “Mahasiswa hanya ketemu PA saat mau skripsi saja, padahal PA itu ibarat dokter yang seharusnya dapat memantau secara rutin penyakit mahasiswa didiknya,” sambungnya. Terkait peran seorang PA semestinya mahasiswa harus proaktif dan PA juga harusnya tidak hanya sekedar menunggu saja. Tidak dipungkiri kebanyakan mahasiswa yang hilang tanpa berita adalah mahasiswa yang tidak pernah bertatap muka langsung dengan PA nya. “Bagaimana kami mencari mahasiswa yang tanpa kabar tersebut jika ia tidak pernah bertatap muka langsung dengan PA mereka,” ungkap Dewi Anggraini, S.Pd yang merupakan dosen PA di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Kamis, (28/11). Dewi menambahkan seharusnya dilakukan bimbingan setiap awal semester sehingga fungsi PA terasa maksimal. Via, Suci*

Solusi Sementara Bagi PKL Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang jalan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) sampai ke gerbang dua UNP masih belum terlalu menampakan hasil. Pasalnya, masih ada beberapa PKL yang mangkal di sepanjang jalan menuju gerbang dua tersebut pasca penertiban yang dilakukan Satuan Pengamanan (Satpam) UNP pada 15 November lalu. Tidak hanya di jalan FIS, gedung Lab School UNP yang belum rampung dibangun turut dijadikan oleh beberapa PKL sebagai tempat berjualan. Emi (33), salah seorang PKL yang berjualan di gedung Lab School merupakan pindahan dari FIS akibat penertiban tersebut. Emi sudah berjualan dan mencari nafkah disana selama lima tahun. Emi mengatakan mahasiswa memerlukan mereka, para PKL. Hal ini disebabkan karena di sekitar FIS dan FIP sangat minim kantin atau tempat makan lainnya. “Pedagang butuh dan mahasiswa juga butuh,” ujarnya, Senin (18/11). Sementara itu, rekan-rekan Emi yang masih bertahan di FIS, menuntut agar pihak Birokrat menyediakan tempat bagi mereka untuk berjualan. Menjawab suara dari PKL tersebut, Komandan Satpam, Zulkifli, mengatakan bahwa PR II menginstruksikan untuk menyediakan tempat sementara bagi PKL. Para PKL diperbolehkan berjualan di pinggir lapangan rektorat dekat tumpukan sampah arah gerbang dua UNP. Pada hari Minggu (17/11), Ia

dan mengarahkan para PKL untuk membersihkan lahan yang dipenuhi tumpukan sampah tersebut. “Mereka diperbolehkan berjualan di sana agar tidak berjualan di sembarang tempat,” ujar Zul, Senin (25/11). Menyambung apa yang disampaikan Zulkifli, Elvi Hengki, S.T. M.Pd, Kepala Perlengkapan bagian Rumah Tangga, menjelaskan bahwa pembersihan tersebut dilakukan karena para PKL sudah sangat sering berurusan dengan petugas keamanan. Selama ini mereka berjualan di pinggir badan jalan, sehingga merusak keindahan kampus. Selain itu, keberadaan PKL yang tidak beraturan juga menyebabkan terganggunya lalu-lintas kampus. “Kadang berujung macet,” tuturnya, Rabu (27/11). Hengki juga menyampaikan bahwa ada rencana pembangun Food Center yang berlokasi di belakang Balai Bahasa UNP bagi para PKL. Namun, realisasi pembangunan Food Center ini belum diketahui secara pasti. Karena dalam waktu dekat, proyek pembangunan Islamic Development Bank akan segera berjalan, dan dikhawatirkan akses mahasiswa menuju Food Center akan terhalangi. “Semua pedagang kaki lima akan dipindahkan ke sana,” tutupnya via telepon, Rabu (27/11). Menanggapai hal tersebut, May (45), salah seorang PKL yang baru berjualan di tempat itu, mengungkapkan bahwa ia merasa senang dan terbantu. Sebelumnya, May berjualan di luar area kampus, dan sekarang diperbolehkan untuk berjualan di dalam kampus. “Walaupun hanya untuk sementara,” ujar May, Senin (18/11). Meri, Ranti*


Inter

18 Pramuka UNP

Darma Kubaktikan dengan Mengabdi

Sej ak masi h b e rn am a Gerakan Pandu Indonesia pada tahun 1982 lalu, Unit Kegiatan Praja Muda Karana Universitas Negeri Padang (UK Pramuka UNP), telah memberikan kontribusi yang jelas bagi anggota dan masyarakat. Hal ini terbukti dengan aksi mereka yang terjun langsung ke masyarakat dan ikut serta dalam berbagai kegiatan sosial. Sebagai salah satu organisasi tertua di Indonesia, Pramuka berfungsi sebagai wadah pengembangan kepribadian anggotanya. UK Pramuka memiliki agenda rutin Gugus Depan (Gudep) yang bernama Dang Tuanku dan Bundo kanduang. Agenda rutin tersebut diantaranya Musrac (Musyawarah Racana), pelantikan, pembekalan dewan, rapat kerja, kafe mini dan minuman (KMM), hari ulang tahun Gudep, dan Asosiasi Ramadhan. Salah satu bentuk pengabdian Pramuka kepada masyarakat yakni terjun langsung ke masyarakat Bukik Batabuah,

UKKPK UNP

Nagari Canduang, Kabupaten Agam. Pengabdian itu berupa pemberian penyuluhan mengenai pengolahan ampas tebu menjadi bahan bakar untuk memasak yang diolah secara tradisional. UK Pramuka memilih tempat tersebut karena mayoritas penduduk setempat merupakan petani tebu. UK Pramuka telah mel ak uk an

Open Recuitment angkatan 2013 dari tanggal 17 Oktober hingga 15 November 2013. Tercatat sebanyak 63 orang telah mendaftar sebagai anggota baru. Silvia Herman, mahasiswi Kesejahteraan Keluarga TM 2010, mengaku UK Pramuka mengalami krisis anggota. Hal ini sudah terjadi dari tahun kemarin yang hanya melantik anggota sebanyak 16 orang. Meskipun demikian segala kegiatan yang dilaksanakan oleh UK Pramuka tak pernah terhalang karena keterbatasan anggota. “Semoga UK Pramuka kembali jaya seperti tahun-tahun sebelumnya,” harapnya Kamis (14/11).

BPM FT

Komunikasi untuk Sukses

FT Bahas UKT

Bertujuan untuk meningkatkan komunikasi di kalangan mahasiswa, Unit Kegiatan Komunikasi dan Penyiaran Kampus (UKKPK) UNP mengadakan Talk Show Public Speaking di Aula Fakultas Ilmu Keolahragaan pada Minggu (10/11). Mengangkat tema “Communication Will Change Your Life With Dion Sikumbang,” acara ini diikuti oleh 342 orang mahasiswa UNP beserta undangan. Zulfahmi Arsyadi selaku Ketua Umum UKKPK mengatakan kesuksesan seseorang adalah karena komunikasinya. “Semoga acara ini bisa menjadi aplikasi cara berkomunikasi yang baik,” harapnya, Minggu (10/11). Menurut peserta, Sefri Naldo, acara ini sangat bagus. “Bisa memperbaiki komunikasi kita” ungkapnya, Minggu (10/11) .Wici*

Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknik (BPM FT) UNP mengadakan dialog kemahasiswaan dengan Pembantu Dekan (PD) II dan PD III FT, Rabu (20/11). Mengusung tema

Pembahasan UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang Lebih Transparan Melalui Dialog Kemahasiswaan, acara dilaksanakan di Ruangan Serba Guna (RSG) FT, dihadiri oleh seratusan mahasiswa FT. PD II FT, Drs. Efrizon, MT mengatakan banyak mahasiswa salah mengartikan UKT. UKT hanya untuk membayar uang pelaksanaaan pendidikan. “UKT hanya untuk pembayaran uang teori dan praktek saja, yang lain tidak,” tegasnya. Selaku ketua BPM, Ali Wijaya mengatakan bahwa tujuan acara ini agar mahasiswa berani menyampaikan suaranya. Sri*

FIS UNP

Jaga dan Lestarikan Pohon Dalam rangka memperingati hari\ pohon se-dunia, Studi Lingkungan Hidup (SLH) Geografi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP mengadakan acara aksi pemasangan nama-nama serta pembersihan pohon di Taman FIS UNP, Sabtu (23/11). Aksi ini merupakan lanjutan kegiatan persebaran selebaran tentang manfaat pohon, Kamis (21/11) lalu. Bertemakan Mengenali dan Menjaga Pohon di Sekitar Kita, aksi ini dihadiri oleh Dekan FIS UNP, Ketua BEM FIS UNP, serta

40 orang mahasiswa. Selaku ketua pelaksana, Teddy Pelangi S mengatakan aksi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian mahasiswa terhadap pohon-pohon di selingkungan UNP. “Agar mahasiswa menjaga dan melestarikan pohon UNP,” ujar nya. Silvia Mulianis,mahasiswa pendidikan Geografi yang merupakan seorang peserta juga mengatakan bahwa sebagai mahasiswa kita harus menjaga dan melestarikan pohon. Edo*

UKK UNP

FBS UNP

FIK UNP

Talk Show Muslimah

Pelatihan Jurnalistik

Pelatihan Jurnalistik TV

Unit Kegiatan Kerohanian (UKK) gelar Talk Show Muslimah di ruangan D81 FIS UNP, Minggu (27/10). Mengangkat tema “Eksploitasi Perempuan di Kancah Media” acara ini diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari mahasiswa UNP dan umum dengan pembicara Nanda Alif dan Rika Mayasari. Yona Novertika selaku Ketua Pelaksana mengatakan acara ini bertujuan untuk menemukan kembali jati diri perempuan yang sesungguhnya. Ia berharap acara ini dapat memberikan dampak positif bagi peserta. “Semoga acara ini bermanfaat,” ujarnya. Dalam presentasinya, Nanda mengatakan bahwa banyak perempuan zaman sekarang menggunakan pakaian yang tidak pantas. “Mereka tidak sadar kalau mereka bukan barang murah,” ujar Nanda, Minggu (27/10). Sri*

Bertujuan memberikan bekal kepada mahasiswa dalam kuliah Jurnalistik, HMJ Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (Basindoda) menggelar Pelatihan Jurnalistik, Sabtu (2/11). Bertempat di Teater Tertutup FBS UNP, acara ini diikuti oleh 180 peserta dengan pemateri Rino Mulyadi, Reporter Trans7 dan Hendra Makmur, Wartawan Media Indonesia. Turut hadir Ketua Jurusan Basindoda, Ketua BEM FBS, dan perwakilan Ormawa se-FBS. Rori Wahyudi selaku Ketua Pelaksana mengatakan pelatihan ini diwajibkan untuk mahasiswa Basindoda TM 2013 dan dianjurkan untuk mahasiswa TM 2012. Menurut peserta, Astuti Linda Sari pelatihan ini sangat memotivasi dan mengesankan. “Saya kembali bersemangat untuk menulis,” ungkapnya, Sabtu (2/11). Ranti*, Sastra*

Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNP menggelar pelatihan Jurnalistik Televisi (TV) di Ruang Sidang FIK, Jumat-Sabtu (25-26/ 10). Pelatihan bertajuk “Pelatihan Jurnalistik Olahraga Bagi Mahasiswa FIK UNP Tahun 2013” ini diikuti 34 peserta dari perwakilan ormawa se-FIK dan mendatangkan narasumber dari Padang TV. Turut hadir Pembantu Rektor III UNP, Dekan, Pembantu Dekan, serta Staf Dosen FIK. Acara dibuka oleh Pembantu Dekan I FIK Drs. Syafrizar, M. Pd. Ia mengatakan bahwa kegiatan ini sangat positif dan harus didukungb oleh pihak kampus. Ia berharap, dengan adanya pelatihan ini peserta bisa menjadi seorang jurnalis yang handal. “Mudah-mudahan kalian bisa menjadi wartawan TV yang profesional,” tutur Syafrizar, Jumat (25/10). Sastra*

KOPMA UNP

BEM UNP

UKFF UNP

Diskusi Panel Hadapi AFTA

Aksi K3 Mahasiswa

Musyawarah Besar UKFF

KOPMA gelar diskusi panel dalam rangka memperingati hari jadi KOPMA ke-59 di Ruang Serba Guna (RSG) FT UNP, Sabtu (26/ 10). Diskusi ini diikuti 257 peserta dan mendatangkan tiga panelis yaitu Drs. Ahmad Karisma, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Sumatera Barat, Drs. Agung Sujadtmoko, M.Pd., Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia, dan Hendri Andi Mesta S.E., M.M., AK., dosen jurusan Manajemen FE UNP. Ketua panitia, Weri Andriani mengatakan acara ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan Indonesia yang telah menandatangani Memorandum of Undermengetahui kesiapan kita menghadapi perdagangan bebas, terutama koperasi usaha kecil dan menengah,” jelasnya. Nova*

\ Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNP mengadakan Aksi Mahasiswa untuk K3 (Kebersihan, Ketertiban, Keindahan), Sabtu (2/11). Dengan tema UNP Baru untuk Masyarakat, BEM bersama ormawa se-UNP membersihkan lingkungan UNP, sebagian wilayah Labor dan Cendrawasih. Kegiatan yang melibatkan 100 peserta ini juga dihadiri oleh Dafril, Kasitrantip dan Perizinan Kelurahan Air Tawar Barat. Ardiles, selaku ketua pelaksana mengatakan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keinginan BEM untuk memupuk kepedulian mahasiswa dan masyarakat terhadap lingkungan sekitar. Ia berharap kegiatan ini dapat menimbulkan kesadaran mahasiswa dan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan. “Bisa dimulai dari hal kecil,” ungkapnya, Ana*, Nova*

Unit Kegiatan Fotografi dan Film (UKFF) UNP gelar Musyawarah Besar (Mubes) angkatan IV. Acara yang diselenggarakan di Ruangan PKM ini dibuka oleh sekretaris UKFF, Ridha Syafputri, Sabtu (26/10). Jumlah anggota baru UKFFsebanyak 12 orang. Mahawitra Jaya, selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa dalam perekrutan anggota, UKFF lebih melihat komitmen dan kinerja anggota tersebut. Ia menambahkan perekrutan anggota yang dilakukan UKFF kali ini melewati dua tahap yaitu anggota muda dan anggota penuh. Pada awalnya peserta berjumlah 120 orang dan yang terpilih sampai menjadi anggota penuh hanya 12 orang. “Untuk agenda kedepannya UKFF akan meluncurkan film erbaru mereka yang sekarang dalam proses penggarapan,” tuturnya, Sabtu (26/10). Redda*

FBS UNP

MPALH UNP

FIP UNP

standing (MoU) ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015. “Untuk

Pameran Seni Rupa

Aksi Tanggap Bencana

Pengabdian Masyarakat

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Seni Rupa gelar Pameran Seni Grafis di Galeri FBS UNP, Senin (21/10). Bertema Kembali Mencetak, acara ini dibuka secara resmi oleh Pembantu Dekan I FBS Prof. Dr. Ermanto, M.Hum. Fadlan Faurozi selaku ketua HMJ Seni Rupa mengungkapkan makna Kembali Mencetak mempunyai konotasi tersendiri  bagi perupa di Sumatera Barat. “Agar tak hanya seni lukis dan seni grafis saja yang eksis,” ujarnya, Senin (21/10). Ridho Anandi, selaku ketua pelaksana mengatakan tujuan pameran ini adalah untuk meningkatkan minat dan bakat kreatifitas mahasiswa. “Juga untuk mempopulerkan apresiasi mahasiswa dan masyarakat terhadap seni grafis,” terangnya, Senin (21/ 10). Redda*  

Dalam rangka memperingati hari pengurangan risiko bencana alam tanggal 13 Oktober, Unit Kegiatan (UK) Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (MPALH) gelar Seminar Tanggap Bencana, Sabtu (26/10). Seminar yang diselenggarakan di Aula Fakultas Ilmu Pendidikan lantai 4 ini bertemakan Kita Wujudkan

Organisasi mahasiswa selingkungan Fakultas Ilmu Pendidikan UNP mengadakan pengabdian masyarakat, Jumat-Minggu (8-10/ 11). Acara yang dilaksanakan di Kecamatan Lima Puluh Kota, Kenagarian Bukik Togang, Jorong Muko ini mengangkatkan tema

oleh mahasiswa pecinta alam MAPASTRA-Fakultas Ilmu Budaya UNAND dan MPALHA-LH Blase Pascal-UPI YPTK. Drs. Sutarman Karim, M.Si., selaku pembina MPALH mengatakan acara tersebut sekaligus untuk mengenang gempa 30 September 2009. “Kegiatan seperti ini sangat penting karena Sumatera Barat berada pada posisi rawan bencana,” tuturnya. Sonya*

jurusan. Selaku ketua pelaksana, Ilham Akerda Edyyul berharap mahasiswa bisa mengaplikasikan ilmunya untuk masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak akan mengerti fenomena di masyarakat jika tidak terjun langsung ke lapangan. “Kami mencoba menangani kesulitan masyarakat dengan ilmu yang kami punya,” ujarnya, Sabtu (16/11). Sri*

Optimalkan Potensi Mahasiswa terhadap Permasyarakatan Generasi Muda yang Tanggap Pendidikan. Acara diikuti oleh Bencana. Seminar ini diikuti juga 32 mahasiswa dari masing-masing

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


Feature

Menyibak Harmonisasi Tiga Etnis “Kami cinta Indonesia dan kami menikmati perubahan budaya” (Indra Sofian) Oleh Edo Febrianto dan Meri Susanti

Deretan bangunan tua tiongkok yang didominasi cat berwarna merah serta hiasan perpaduan warna kuning tersebut terlihat ramai oleh orang lalu lalang. Berjubel masyarakat datang silih berganti. Dari raut wajah yang terlihat, mereka sedang berduka. Benar, di tempat itu tertulis Rumah Duka Himpunan Tjinta Teman (HTT). Di sepanjang jalan Kalenteng, Kelurahan Kampung Pondok, Padang, Sumatera Barat ini terlihat sederetan karangan bunga yang bertuliskan Turut

Berduka Cita Atas Meninggalnya Lhoe Sin Tjun pada Minggu 27 Oktober lalu. Rumah Duka HTT yang dihiasi lampion putih dan lukisan naga Latihan: M asyarakat Kam pung P ondok sedang berlatih tarian naga, beranggotakan seorang keturanan seorang keturunan China serta delapan orang Tionghoa di Gedung HBT, Rabu (19/11). f/Edo tersebut merupakan tempat pelayat dan persembahyangan jenazah kaum Tiong- li Kecil, Pondok, Simpang Enam, dan KamRasa solidaritas antar etnis ini sudah hoa. Namun tidak hanya kaum Tionghoa pung Dobi. terjalin sejak lama. Pernah pada saat resaja yang ikut melayat jenazah Lhoe Sin Lin Johan, perempuan berambut ikal formasi tahun 1998, terjadi kerusuhan, aksi Tjun. Sekelompok ibu-ibu berjilbab juga ini merupakan Ketua RT 02 RW IX, Kelura- bakar-bakar yang dilakukan orang pribumi ikut membaur di tengah keramaian itu. han Kampung Pondok. Lin pangilan ak- di luar kelurahan ini. Kemudian timbul Kelurahan Kampung Pondok ditempati rabnya, mengungkapkan bahwa ia memi- inisiatif dari ketiga etnis membuat sebuah oleh tiga etnis, yakni Tionghoa, Keling , liki tetangga dengan agama, budaya, dan penutup jalan untuk menjaga keamanan dan Melayu (Chinkalma). Terbentuk sejak latar belakang yang berbeda-beda. Namun di sekitar kelurahan. “Selama saya tinggal otonomi daerah pada tahun 2000, kelurahan mereka tidak pernah mempersoalkan hal disini, belum pernah terjadi kerusuhan ini merupakan gabungan dari lima kelu- tersebut, bahkan hal itu dijadikan sebagai yang disebabkan oleh warga kelurahan rahan, yaitu kelurahan Tanah Kongsi, Ka- ajang untuk saling bertemu ramah. ini.” Lin bercerita di kedai nasi miliknya

19

pada Kamis, 14 November lalu. Tidak hanya masyarakat yang berdomisili di selingkungan Padang saja yang mengakui keharmonisan kelurahan Kampung Pondok. Keharmonisan kelurahan ini pernah diakui secara nasional pada tahun 2010 lalu. Buk Lin menjelaskan alasan terpilihnya kelurahan Kampung Pondok sebagai kelurahan terbaik tingkat nasional adalah karena pembauran antar budaya dan seni yang solid antar tiga etnis penghuni kelurahan. Pembauran budaya tersebut tampak pada pertunjukkan barongsai yang tidak hanya dilakoni oleh kaum Tionghoa saja. Kaum Melayu dan Keling juga ikut berpartisipasi dalam penampilan seni budaya tersebut. Yani Zendate, perempuan keturunan etnis Keling paruh baya ini juga merasakan keharmonisan di tengah perbedaan di kelurahan ini. Yani telah bekerja selama 14 tahun sebagai pegawai pangsit di kedai milik seorang Tionghoa. Disini, Yani dan majikannya sudah berbaur Nias, seperti keluarga. Dia sering bercerita panjang bahkan berbagi solusi dengan majikannya. Indra Sofian, pegawai kantor HTT juga mengakui keharmonisan tersebut. Namun tak jarang kaum minoritas pribumi ini merasa kecil hati karena sebahagian masyarakat sekitar mengangap kaum mereka sebagai warga negara asing. Padahal mereka memiliki identitas diri sebagai warga negara Indonesia. “Kami rakyat Indonesia dan cinta Indonesia,” ujar laki-laki bermata sipit berkulit putih itu.

Merawat Sejarah di Rumah Gadang Saluak laka nan elok diukir pada dinding rumah gadang yang menyimpan ribuan warisan luhur bangsa di Minangkabau hingga Mentawai. Rumah adat yang megah ini merawat saksi-saksi sejarah yang tertinggal dari masa lampau untuk diceritakan pada anak cucu. Oleh Mardho Tilla

Jalan Diponegoro siang itu cukup lengang, sepeda motor yang lalu lalang hanya terlihat beberapa. Hujan badai yang menyirami Kota Padang membuat kendaraan pribadi maupun umum tak terlalu bergairah untuk memenuhi jalanan kota. Dibalik bunga melati yang bermekaran di taman kota, tampak bangunan khas adat Minangkabau yang berdiri megah dengan tujuh gonjong tajam menghadap langit. Bangunan yang biasa disebut rumah gadang itu merupakan museum kebudayaan yang memiliki ribuan peninggalan penting sejak zaman prasejarah di Minangkabau hingga Mentawai, Muse um itu be rnama Adityawarman. Dibangun tahun 1974 di atas tanah seluas 2,6 hektar, diresmikan 16 Maret 1977 oleh Mendikbud, Prof. Dr. Syarif Thayep pada saat itu dan dikelola oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat (Sumbar). Seperti beberapa museum yang ada di Sumbar, Musem Adityawarman juga menggunakan arsitektur bergaya rumah adat Minang-

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

Museum Adityawarman: Rumah Gadang Maharam menyambut pengunjung yang ingin berkenalan dan mempelajari budaya Minangkabau, Sabtu (16/11).f/doc

kabau dengan beraneka ragam ukiran memenuhi setiap lekuk dinding bangunan. Desain ukiran Minangkabau umumnya terbagi atas tiga jenis berdasarkan inspirasi terbentuknya yaitu nama tumbuh-tumbuhan, nama hewan, dan benda-benda yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Semua jenis ukiran tersebut diatas menunjukkan bahwa unsur penting pembentuk budaya Minangkabau bercerminkan kepada apa yang ada di alam. Sesuai dengan falsafah adat Minangkabau, Alam Takambang Jadi Guru. Desain-desain ukiran ini memiliki makna masing-masing berdasarkan motif dan luas bidang datar yang ditempatinya. Sementara letak ukiran di

Rumah Gadang umumnya pada anjung rumah (bagian depan rumah), badan rumah, jendela, pintu dan bagian-bagian kecil lainnya. Pada ukiran jendela museum digunakan ukiran Saluak Laka, di bandul jendela menggunakan ukiran Itiak Pulang Patang, dan masih banyak ukiran-ukiran lain sesuai dengan filosofi masing-masing. Model desain Museum Adityawarman menyesuaikan dengan model rumah gadang kelarasan koto piliang yang ditandai lantai pada sayap kiri dan kanan bangunan lebih ditinggikan dari lantai yang lain. Dalam bahasa minang diistilahkan dengan baanjuang dengan model rumah yang disebut Gajah Maharam. Seperti disampaikan staf

pelayanan pengunjung dan tamu museum, Ernawati, “Desain rumah gadang ini bertujuan untuk mencerminkan identitas orang Minangkabau” ujar wanita paruh baya berjilbab coklat itu, Selasa (19/11). Museum Adityawarman berfungsi sebagai tempat menyimpan dan melestarikan benda-benda bersejarah seperti cagar budaya  Minangkabau, Mentawai, dan Nusantara. Koleksi utama yang terdapat di Museum Adityawarman dikelompokkan dalam sepuluh macam jenis koleksi, yaitu Ge olog ika/Geo grafik a, B iol ogik a, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika /Heraldika, Filolo­gika, Keramologika, Seni Rupa  dan Teknalogika. Selain itu juga ada ranji-ranji sistem adat di Minangkabau, seperti ranji garis keturunan, harato pusako (warisan), hubungan kekerabatan dan istilah-istilah masyarakat minang seperti Bundo Kanduang dan lain sebagainya. Koleksi yang tersimpan dalam Museum Adityawarman hingga tahun 2012 mencapai 6.192 jenis. Ruangan bagian depan mengedepankan ragam pakaian, makanan dan pesta adat minangkabau yang dipajangkan pada patung atau dibuatkan replikanya. Di lantai bawah dipajang koleksi budaya sejarah dan prasejarah, seperti peralatan-peralatan zaman kuno, fosil, alat transportasi kuno, alat musik dan awetan hewan. Bagian belakang museum dipajang miniatur rumah adat Minangkabau, jenis-jenis ukiran dan cagar budaya dari Mentawai. Begitu banyak kekayaan yang tersimpan dalam bangunan megah ini, sangat disayangkan bila sejarah penting ini diabaikan oleh generasi muda Indonesia.


Resensi

20

Goyang Penasaran dan Kemunafikan Sosial

Judul : Goyang Penasaran Penulis : Intan Paramaditha dan Naomi Srikandi, ed Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun Terbit : Pertama 2013 Tebal : 280 halaman “Goyang dangdut yang meransang itu mendatangkan mudharat. Dan sesungguhnya, ada perbedaan besar antara mendengar dan melihat.” Goyang Penasaran. Ada semacam ‘keakraban’ di dalamnya. Naskah teater yang diangkat dari cerita pendek, buah tangan Intan Paramaditha ini mengangkat sebuah tema yang sesungguhnya sangat dekat dengan budaya kita. Dengan Balutan musik dangdut beserta goyangan ‘maut’, Goyang Penasaran menawarkan cerita horror urban legend yang diselipkan pesan moral. Tentang perempuan, tubuh perempuan, gairah, dendam, cemburu, cinta, bahkan kematian. Salimah dikisahkan sukses menjadi bintang panggung dangdut akibat goyangannya yang aduhai, berhasil membuat lakilaki sekampung tergila-gila dan terus penasaran. Salimah yang digambarkan sexy dan montok itu telah menyihir beratus pasang mata sampai rela lunglai di kakinya demi cinta, mungkin bukan cinta, mungkin hanya nafsu gairah semata. Cerita pun berkembang. Disini kita diingatkan pada sebuah kasus nyata dimana seorang Inul Daratista dan goyang ngebornya yang heboh itu sempat menjadi kontroversi karena dianggap tidak senonoh dan vulgar oleh sang Raja Dangdut Rhoma Irama yang juga seorang Haji. Munafik kah? Ketika kejadiaan itu merebak, Rhoma Irama sudah zinah mata melihat Inul bergoyang. Sampai akhirnya, Rhoma Irama menggunakan paham-paham dan pakempakem agama. Penampilan Salimah yang provokatif, dicerca oleh pemuka agama kampong. Haji

Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal

Takdir tak Memandang Adat : : : : :

Memang Jodoh Marah Rusli Qanita PT. Mizan Pustaka 2013 536 halaman

“Karena tatkala dia masih berumur tiga bulan dalam kandunganku, telah datang pertanda kepadaku, bahwa perjodohannya ada di tanah Jawa.”

Ahmad namanya, ia berceramah di masjid dengan suara lantang dan menyuarakan tentang goyang dangdut Salimah yang menimbulkan mudharat. Sementara itu antara Salimah dengan Haji Ahmad, si pemuka agama yang sok vokal itu ternyata punya sejarah masa lalu, dimana keduanya sempat melakukan perbuatan yang tak jauh dari sebuah perbuatan zinah mata. Kejadiannya pada suatu malam setelah Salimah belajar mengaji. Bukankan itu sebuah kemunafikan? Sebuah cerminan fenomena yang memang dekat lekat pada kehidupan manusia hari ini. Bahwa semakin banyak manusiamanusia yang merasa dirinya paling benar, merasa tinggi namun belum tentu ia tidak luput dari dosa. Resensiator: Ratmiati Mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia TM 2012

Peraturan adat seringkali menjadi permasalahan dalam perjodohan seseorang. Namun, jika takdir telah menentukan pasangan masing-masing, tiada yang mampu menghalangi bahkan menolaknya. Termasuk peraturan adat itu sendiri. Begitu juga dengan tokoh Hamli dan Din Wati. Novel terakhir dari penulis Siti Nurbaya ini mengangkat polemik kebudayaan yang akhirnya menumbalkan nasib perjodohan seorang bangsawan Minang dengan putri seorang Wedana Cibinong yang berasal dari tanah Jawa. Stasiun sebagai latar tempat pertemuan pertama Hamli dengan jodohnya diceritakan secara apik dan menarik. Masalah yang mengangkat polemik kebudayaan dalam novel ini meyakinkan pembaca bahwa penulis Siti Nurbaya ini juga menentang peraturan adatnya. Hal ini terlihat dari tokoh Hamli yang diikat agar tidak kawin dengan gadis yang berasal di luar Padang. Namun ia menentang peraturan tersebut. Dengan menikahi Din Wati, ia pada akhirnya harus dicampakkan dari keluarga besar. Ketika kaum keluarga dan Mamak Hamli tahu kalau kemenakannya itu sudah menikah dengan gadis Jawa, mereka menyuruh Hamli untuk menceraikan istrinya tersebut dan menikah dengan gadis Minang. Namun, Hamli memilih untuk mempertahankan perkawinannya dengan

Din Wati. Karena ia yakin Din Wati adalah jodoh yang telah digariskan Tuhan untuknya. Penolakan Hamli atas permintaan keluarganya tersebut sangat menyingung para tetua di Padang. Sampai-sampai pemberitaan itu terbit di salah satu surat kabar di kota Padang. Sehingga mengencarkan masyarakat di seluruh kota Padang ulah perbuatan Hamli. Berawal dari polemik kebudayaan itulah, halangan dan rintangan datang dalam perjodohan mereka. Baik itu rintangan yang datang dari keluarga besar Din Wati, maupun halangan dari keluarga besar Hamli di Padang. N a m u n , apapun bentuk halangan dan rintangan yang menghadang, jika Tuhan telah bersama kita dan menetapkan garis hidup seseorang, tidak ada yang mampu menghindari bahkan menolaknya. Begitu juga perkawinan antara Hamli dan Din Wati. Bahtera rumah tangga yang mereka arungi dengan penuh keyakinan, kesabaran, dan janji setia yang dipegang erat, membawa kebahagiaan dan keselamatan kepada mereka. Dan membuat keduanya tidak dapat dipisahkan oleh apapun. Kecuali maut yang memisahkan.

Resensiator: Khadijah Ramadhanti Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia TM 2012

Atas Nama Keyakinan, Dendam, dan Tugas Negara Judul Penulis Penerbit Cetakan

: : : :

Pengakuan Algojo 1965 Kurniawan Et al PT. Tempo IntiMedia Tbk 2013

Akhir-akhir ini siapa yang belum pernah mendengar The Act Of Killing (Jagal). Sebuah dokumenter garapan sutradara film Amerika Serikat, Joshhua Oppenheimer ini bercerita seputar pembantaian PKI dan simpatisannya di tahun 1965. Seolah membawa kita kembali pada peristiwa sejarah, dimana konon katanya, “siapapun pada saat itu bisa menjadi korban”. Jagal kemudian hadir, mungkin dengan tujuan mulia agar masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar menjadi Indonesia, namun tidak tahu sejarah di balik terbentuknya sebuah Indonesia. Film ini, pada akhirnya sedikit akan membuat otak berputar dari pikiran-pikiran lama yang selama ini masih dan secara tidak sengaja kita pelihara. Sehingga tak ayal, gambaran PKI yang dulu kita anggap hantu, berubah (mungkin) bahwa yang biadab sebenarnya bukan hanya PKI. Bagaimana tidak, pembantaian PKI dan para simpatisannya dipertontonkan dengan

telanjang melalui pengakuanpengakuan algojo yang dengan heroik membunuh siapa saja yang mereka anggap PKI, setidaknya berhubungan dengan PKI atau golongan kiri. Kebrutalan para algojo seketika menghabisis para awak PKI tak hanya disajikan dalam film the Act Of Killing (jagal). Hasil liputan investigatif tempo yang berhasil dirangkum dalam buku

berjudul “Pengakuan Algojo 1965, Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965” juga menelanjangi perlakuan algojo terhadap PKI dan simpatisannya. Melalui Tempo, para mantan algojo tahun 1965 bercerita bagaimana mereka menghabisi nyawa para PKI dan simpatisannya. Tanpa menimbang dosa, pembantaian dilakukan atas dasar dendam pribadi, keyakinan dan tugas Negara. Uniknya, dari seluruh cerita para algojo yang dijadikan narasumber mengaku tak merasa takut dan merasa bersalah pada tindakan yang dilakukannya. Seperti ungkapan Burhan Zainuddin Rusjiman, sebagai salah satu bahasan dalam buku, mengatakan melakukan pembunuhan dengan prinsip ‘dibunuh atau membunuh’. Lelaki yang dulu bergelar Burhan Kampakkarena kemanapun selalu membawa kampak (kapak)-ini, akan menjagal siapapun yang diduga komunis dengan kampak sandangannya. Kisah Burhan senada dengan pengakuan para algojo lain yang terangkum dalam buku dengan tebal 178 halaman ini. Terkecuali untuk Supardi. Pria 71 tahun yang dulunya penjagal awak PKI dan simpatisannya kini terpasung disebuah

pondok belakang rumah orang tuanya ulah gila. Menurut saudaranya, Supardi menjadi tak waras pikirannya dua tahun pasca peristiwa pembantaian PKI, Supardi jadi brutal dan sering mengamuk. Namun kepandaiannya mengasah benda tajam sejenis pisau, celurit dan lainnya tak hilang. Buku investigatif kru tempo ini tak hanya menghadirkan kisah jagal-menjagal para algojo 1965, perihal korban terbunuh peristiwa 1965 juga dibahas statistiknya. Perkara 1965 juga dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa. Jelas, para algojo menjadi subjek data penelitian. Pun Anwar Congo, penggagas film The Act Of Killing (Jagal). Menurut Joshua Oppenheimer dari hasil penelitiannya, Congo menganggap membunuh adalah bagian dari aktingnya. Bagi masyarakat umum, buku ini mungkin hadir sebagai penimbang sejarah. Tidak banyak yang tahu mengenai bagaimana PKI ‘diselesaikan’ dulunya. Terlebih perkembangan zaman semakin membuaikan masyarakat hingga nyaris lupa pada sejarahnya. Resensiator: Novi Yenti Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia TM 2010

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


Cerpen

21

Kembara Oleh Rio Rinaldi (Alumni Pendidikan Bahasa Indonesia)

Ketika pagi tiba, ia berkaki empat. Ketika tengah hari tiba, ia berkaki dua. Ketika senja melanda, ia berkaki tiga, bermata empat, dan giginya tinggal di luar. Ia bukan binatang. Tapi pada setiap masanya, ia bisa saja jadi binatang. Akhirnya, pada Rabu pagi yang lumayan sendu, melalui tangan seorang dukun beranak, hari itu tuhan berhasil menyelamatkan nyawaku. Ibuku, perempuan tegar dengan peluh tapi semangat yang tak pernah runtuh, juga berhasil menyelamatkanku setelah sembilan bulan kurang sepuluh hari lamanya aku bersarang di rahimnya. Kini, aku dapat berteriak sekeras-kerasnya menyapa bumi yang kau sebut Indonesia. Menyapa tanah yang kerap kau panggil bumi pertiwi. Ibuku memandangku dengan manis sambil berbisik, “Selamat datang ke dunia ini, anakku. Selamat datang ke Indonesia. Kuberi nama kau Kembara.” Waktu bergerak, seirama seperti jam tua selalu berdetak ketika aku mulai belajar merangkak. Di pagi itu pula, aku belajar untuk mengenal angin segar. Aku mulai mengenal mata dan langit yang bersinar. Aku mulai mengenal air yang memencar. Aku mulai mengenal keiklasan yang lebar. Dan sejak itu pula aku belajar tentang arti sebuah kehidupan yang tegar. Dari ibu, dari kehidupan dan nasib yang begitu kasar. Dua puluh tahun kemudian, aku tumbuh dan dewasa. Aku tumbuh menjadi seorang anak yang pintar. Wajahku tampan. Otakku jenius. Barangkali juga terlalu pintar untuk anak seusiaku pada saat itu. Sebab itulah, seluruh teman-temanku menaruh rasa segan dan hormat kepadaku. Meskipun ibuku beruntung aku sudah menamatkan sekolahku sampai tingkat menengah atas, ada kerikil-kerikil tajam yang masih menyumbat hatinya. Sebab, untuk masuk ke universitas negeri saja sekarang sudah setengah mati rasanya. Sementara, ia ingin anaknya sepeti anak yang lain. Bagaimana akan berkuliah seperti orang-orang, untuk makan saja susah. Begitu kata hatinya ketika memandangku yang termenung bawah cahaya rembulan. Siang pun pecah, dan begitu pun rasa marah yang segera ingin buncah, aku memilih cara sopan untuk permisi pada ibu, dengan alasan klise kukatakan bahwa aku mencari angin segar keluar rumah. Angin segar? Apakah kehidupan pernah menghembuskan angin segar? Ah, paling tidak aku bisa menyaksikan apa yang bisa kusaksikan. Entah itu karena aku ingin angin menebas segala pikiran mengenai nama-nama universitas yang masih setia bergelayut, entah karena setansetan gelap dipikiran juga harus segera hanyut. Lalu apa yang membuat pikiran-pikiran setan ini seketika lenyap hanyalah sederhana, sesederhana kesibukan yang ditanggapi orang-orang kota. Kesibukan yang sederhana sekaligus berbahaya, begitu aku ingin menyebutnya. Pandangan dan kepalakepala manusia terlihat begitu pongah. Setelan pakain kerja, jaket almamater kebanggaan, pelayan serta penjual sapu tangan yang kesepian. Sibuknya ibu kota ini hingga orangorang di dalamnya lantas begitu saja melupakan cara sujud di keningnya. Lupa membasahi wajah ataukah mungkin

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

pikiran-pikirannya yang terlalu sesak oleh merek-merek, Kau tau, mungkin karena begitu banyak spandukspanduk besar menggiurkan di sepanjang jalan ketika mendongakkan kepala. Lantas, seperti cerita-cerita sinetron yang kerap ditemui dalam televisi, ketika aku duduk di pinggir jalan membayangkan sesuatu yang tidak jelas, sesuatu yang makin dipahami semakin absurd, seorang lelaki tua sekonyong-konyong hadir menghampiri lalu duduk di sampingku. “Apa yang tengah kau risaukan anak bujang?” sapa lelaki tua itu sambil membakar sebatang puntung rokok yang tertancap di mulutnya. Lamunanku terpecah seketika. “Apa yang sesungguhnya yang dikau cari? Semua sudah ada perannya.”kata lelaki t u a i t u k e m b al i menyela. “Tapi aku belum menemukan peranku.” Kataku menjawab pertanyaannya. “Sebetulnya sudah.” Katanya sambil mengepulkan asap ke udara pelan-pelan. “Kalau memang sudah, peran apa yang tengah kumainkan, Kek?” “Kau telah berperan menjadi dirimu sendiri.” “Bukankah di dalam sebuah drama kita harus bermain peran? Bukan diri kita sendiri.” “Benar, inilah peran. Peran yang semestinya kau mainkan. Aku pun juga tengah memainkan peranku sendiri. Anak muda, buka matamu. Lihat di depan cermin. Tanyakan, peran apa yang tengah kau mainkan.” “Atau jangan-jangan barangkali aku tidak kebagian peran, Kek?” “Ha, ha, ha. Memangnya kau ini siapa? Kaki tangan tuhan? Jangan berpikir yang bukan-bukan.” Kata lelaki tua itu tertawa kecil sambil menepuk pundakku. Entah hati ataukah tangannya, aku merasa sangat dingin saat itu juga. Aku pandangi lelaki tua itu dengan tajam. Sepertinya ia lebih tahu dariku tentang apa artinya kehidupan. “Dengar anak muda, perkara kau tengah memainkan peran apa itu tidak penting sekarang. Yang penting sekarang adalah bagaimana kau memainkan peran itu sebaik-baiknya. Aku, sehat seperti sekarang karena aku memainkan peranku apa adanya. Dan aku bahagia seperti sekarang juga karena aku memainkan peranku apa adanya. “Improvisasi itu perlu, asal jangan berlebihan. Paham?” kata lelaki tua itu sambil menghadapkan wajahnya ke arahku. “Improvisasi, Kek?” “Ya, kata-kata itu sering kudengar di televisi ketika aku menumpang menonton di warung kopi Wak Ujang. Dan ketika aku bertemu berpapasan dengan seorang mahasiswa di jalan, aku selalu bertanya

kata itu baru kudengar.” “Bukan, bukan,” “Sejenis minuman segar?” “Tidak, tidak.” “Berbentuk perangai?” “Bisa jadi, bisa jadi.” “Ah, peran” Lelaki tua itu senang. Ia menghisap puntungnya dengan panjang sekali. Lelaki tua itu menyeringai setelah tidak sadar puntung rokok yang sudah sebesar kukun ya itu mem bakar bibirnya. Tapi ia berhasil menebak pernyataan yang kulontarkan tadi. Ketika ia berhenti menyeringai, tiba-tiba kulihat seorang pemuda seumuran denganku menghampiri tiap mobil-mobil yang berhenti di lampu merah, di ujung sana sambil menggelitik gitar yang ditentengnya. “Lalu kalau dia itu tengah memainkan peran apa, Kek?” Tanyaku sambil me nu nj uk k e arah seberang jalan tempat di mana pemuda itu menjual suaranya. “Dia itu sama sepertiku. Cuma dia lebih beruntung sedikit.” “A p a s e b ab , Kek?” “Coba kau bayangkan, bila di dunia ini tak ada nada-nada yang dinyanyikan orang-orang seperti dia, dunia ini jadi sepi. Hanya saja dia tak seberuntung musisi yang numpang tenar ketika di ekspose media.” Grafis: Edo Febrianto “Lalu bedanya dengan Kakek?” “Kalau di Indonesia tak ada lagi arti kata itu padanya. pengemis sepertiku, lalu kerja pemerintah Lelaki itu terbahak-bahak ketika kembali selanjutnya apa? Lalu di mana peran ormembayangkan hal itu. Aku terkejut ang-orang kaya? Kalau tak ada lagi mendengar kalimat-kalimat yang keluar kemelaratan lantas apa yang akan dari mulut lelaki tua itu. Sambil menghisap diperjuangkan oleh anggota dewan? Bisapuntungnya yang sudah hampir habis, ia bisa mereka itu semakin jauh dengan kita kembali berpetuah. dan semakin sibuk pada proyek “Lihat itu polisi yang lewat. Dia tengah pembangunan saja. Bahkan kau lihat memainkan perannya. Bagaimana ia me- sekarang, banyak yang terpenjara dalam mainkan perannya, itu tergantung bagai- kemiskinan dan begitu sulit lepas untuk mana jiwanya. Jiwanya adalah sutradara mendapatkan kemerdekaannya sendiri. Tapi kecil yang mengatur perannya. Apa dia walaupun begitu, kau tak boleh lupa mau jadi superhero bagi masyarakat atau dengan peran apa yang tengah kau bahkan ingin jadi penjahat. Tidak hanya mainkan. Boleh improvisasi asal jangan dia, presiden, pejabat, dosen, guru, atau berlebihan. Paham,” Kata lelaki tua itu bahkan anak sekolah. Mereka tengah lantang sambil menantang mataku dalammemainkan peran mereka sendiri.” dalam. Ketika ia tengah membicarakan seorang Aku jadi tertegun. Aku menunduk. Aku aparat yang liwat, tiba-tiba di hadapan setuju. Aku seperti mendapatkan sesuatu kami juga melintas seorang lelaki pelajaran yang luar biasa hari itu. berpakaian PNS sambil mengendarai sepeKetika aku ingin menceritakan bahwa da motor dengan cepat. tadi malam aku bermimpi menikah dengan “Nah lihat itu sekarang. Dia juga tengah seorang gadis yang begitu cantik dengan memainkan perannya.” rambut yang disanggul seperti calon istri “Peran apa yang dia mainkan, Kek? raja. Ketika aku menjabat tangan ayahnya Apa dia juga bisa jahat?” dan aku mengikrarkan janji. Dan ketika “Bisa jadi. Tergantung bagaimana dia aku ingin kembali bertanya peran apa memainkan perannya. Sebab, di panggung yang akan kumainkan, lelaki itu sandiwara tidak tertutup kemungkinan menghilang. seorang tokoh bisa saja berubah-ubah Aku tertegun. perangainya.” “Tritagonis.” Padang, 29 Oktober 2013 “Apa itu? Sejenis makanan lezat? KataUntuk Alm. Amris Nura


Sastra Budaya

22

Sajak

KEKASIH, LELAKI DAN WAKTU

Kumpulan Puisi Robby W. Riyodi

AMSAL SEEKOR BURUNG Umpama sayap berpasang-pasang ia begitu lihai menjaga jarak di ruang lapang ketika kita berkehendak mengepak punggung menanti angin dengan tubuh melengkung sungguh kau tangguhkan sesaat ini terlalu buru-buru kemudian sebentar akan menikung dalam ruang ranum aku akan datang untukmu yang sedang menunggu amsal seekor burung yang menggengam ranting kayu kibaskanlah sedikit bulu-bulu, biar rindu semesta memadu dahan yang merancap begitu dalam, isyarat semu padamu tempat ini adalah persinggahan yang akan menjadi lebih lama sebab seorang akan kuat menahan suatu kedatangan di situ sebelum ia akan kembali lepas berterbangan tenggelam jauh ke dalam awan, dan lesap lalu aku datang membawamu sebentar pergi melayang-layang di bawah tingkah langit: sepasang sayap mengibas berkali-kali, melenggok-lenggok dikelok angin punggung ini akan lebih tangguh, ketika sepi kembali menepi diudara kemudian aku akan segera kembali menikung, menggenggam ranum ranting kayu yang merancap dalam pada dahan. Seperti sebuah penatian. Serunai Laut 2013

Sebab, dia adalah lelaki yang menimpal bebal waktu, menyebab kilau mata pedang menjitu busur menancap dalam, Ia kekalkan tubuh kedalam pipih luka leher dan cabik pinggang kiri itu masih menyimpan lebih rusuk, kelak hati seorang akan menyangkut seperti sembuh luka atau lepuh karat yang melepuk utuh besi Dahulu, jauh dari mana sebuah kerinduan berawal seperti pendam kesumat dendam tak akan habis waktu menyumpah sebuah kekalahan pertempuran masa lampau kekasih, engkau adalah kuda troya sepi yang meluluh-lantahkan kokoh benteng-benteng perasaan, lapuk kesunyian dan papa yang terbengkalai itu Sebab, waktu akan selalu tanpak lebih pipih dari timpal baja perkara pedang patah genggaman dan sigi busur berkelok hutang yang tunai membayar seluruh sepi ketika engkau seperti kekaksih penangkal luka-luka lelaki yang melulu menimpal bebal hatinya sendiri sekarang, “engkau adalah lawan tanding yang selalu melebihi”, kekasih “kawan seiring yang mematah rusuk kiri”, Lelaki Waktu, Jika kita saling sepihak, timpalkanlah pedang dan jitu busur pada kilau dan lurus sasaran, biar kelak tak ada lagi yang mememar ingatan dan sayatan adalah luka pinggang kiri yang akan menyimpan lebih rusuk

Oleh Ismeirita

(Mahasiswa Pendidikan Ekonomi TM 2010)

Manusia adalah makhluk yang diciptakan lengkap dengan perasaan yang bisa ia rasakan. Perasaan atau juga dikenal dengan emosi ini, merupakan suatu ungkapan sebagai wujud ekspresi manusia. Manusia tanpa adanya emosi, (mungkin) bukan lagi manusia. Mereka hanya akan menjadi robot tak berperasaan, mereka hanya akan memandang hidup dan kehidupan secara sempit; benar, salah, ya serta tidak. Emosi pun terkadang diluapkan dalam bentuk air mata, baik dengan alasan bahagia, marah, maupun sedih.

KOTA LELAKI Dia adalah lelaki yang menimpal hujan, tameng kesatria pedang, rompi baja seukuran badan cavaleri dan busur-busur panah. Lelaki yang membaluti tubuh kekasihnya dengan doa dan rosario. Mantel besi yang akan utuh menjaga sebuah kerinduan. Sebab hujan kemudian adalah pacak-pacak darah di dalam dada, luka serpih yang jaga pada tiap kilo meter kesakitan. Jarak ini, adalah antara yang menyerupai suatu kepulangan yang tertunda berkali-kali. Dalam kerinduannya itu seorang kekasih menggubah kota dan betahun-tahun penantian menjadi medan perpisahan. Kemudian hamparan tanah dan lapis-lapis air mata menjadi lima ratus peleton menyelinap dalam perangkap kata. Dan Ketika usia adalah sebuah perperangan. Waktu yang menyambutnya dengan perintah penyerangan. Segala siasat, segala angan dan keinginan menjelma troya yang merubuhkan benteng-benteng yang ia bangun dari perasaan. Namun, kesetian itu hanyalah barak-barak peristirahatan yang tenang. Tempat dimana kesakitan itu memilih nasibnya masing-masing. Dan di dalamnya, para kesatria melepas mantel-mantel besi lelaki yang menimpal masa lalunya sendiri. Ketika Hujan merembas ke setiap pori-pori Dan kerinduan adalah darah yang berserak di seluruh kotanya. Kota lelaki sekarang kami huni. Padang, Oktober 2013

Serunai Laut, November 2013

Air Mata Terselip tujuan yang hendak diwujudkan di balik air mata, tangisan, isakan, atau mungkinkah kemunafikan?

ROBBY W. RIYODI mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, bergiat di Rumah Kreatif Serunai Laut dan Kelompok Studi Sastra dan Teater Noktah (KSST Noktah).

Ketika manusia berada pada batas kemampuannya dalam meluapkan emosi, maka ekspresi yang akan diluapkannya adalah air mata. Sehingga pada akhirnya tidak jarang, masyarakat pada umumnya menerjemahkan air mata sebagai suatu simbol kesedihan. Lalu, apabila kita membahas mengenai air mata ataupun kesedihan, adalah lumrah halnya apabila melihat seseorang menangis, maka akan timbul suatu sikap yang disebut simpati atau bahkan empati. Hal ini merujuk pada perasaan, bahwa setiap makhluk hidup, apalagi manusia memiliki keistimewaan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan manusia lainnya. Terang, bahwa sejatinya air mata memang mujarab menjadi sarana

meluluhkan hati orang lain. Baik itu sengaja atau mungkin tidak sengaja. Kenapa? Adakah air mata yang sengaja ‘dijual’ demi belas kasih? Adakah jaman semakin gila sehingga kesedihan dijadikan produk jualan di layar kaca? Sayangnya, jaman mungkin memang sudah gila. Bahwa saat ini, air mata tidak lagi hanya olah luapan kesedihan seseorang. Bahwa menangis, seolah membuat diri yang menangis tidak lagi malu dianggap ‘lemah’ bagi orang lain. Sehingga tidak jarang, alih-alih karena air mata mencuri simpati, ia (air mata) kemudian dijadikan alibi. Sangat mudah bagi seseorang saat ini untuk mengeluarkan air mata, akan sangat mudah melakukannya seperti acting. Namun air mata tidak bersalah apa-apa , cara dan mungkin tujuan yang ingin dicapai. Entah bagaimana bermula, air mata pun ikut menjadi salah satu ‘barang jualan’ di stasiun-stasiun televisi. Masyarakat -yang kurang beruntung nasibnyadi ekspoitasi kemiskinannya, ditelanjangi

kesedihannya. Mereka ini, dipertontonkan seolah ruang-ruang harga diri mereka adalah hak mereka-si kaya dalam program Andai Aku Menjadi misalnya. Lalu akhir-akhir ini, petisi mengenai s al ah s at u ik lan pr od uk yan g mengekspoitasi daerah di Indonesia menjadi perbincangan. Iklan tersebut mendapat kecaman dari daerah yang disebut dala iklan. Daerah yang kemiskinanya dieksploitasi menolak, bahwa bukan hanya karena sekedar harga diri, mereka menolak karena tidak ingin, keadaannya didramatisir dan dimanfaatkan demi kepentingan politik atau bisnis apapun. Bukankah kita tahu, bahwa sejatinya menolong ataupun memberikan simpati harusnya tidak semerta-merta merenggut harga diri orang tersebut, tidak pula harus dipertontonkan dan diberitahukan kepada khalayak ramai. Dan dalam hal apapun, kemiskinan dan kesedihan harusnya tidak patut dijadikan komersialisasi kepentingan.

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013


23

Seminar di Mata Mahasiswa Hai pembaca setia Ganto! Kegiatan seminar adalah salah satu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari dunia mahasiswa. Bisa dikatakan, setiap minggu pasti ada saja seminar baik yang diadakan oleh organisasi kemahasiswaan maupun dari kampus sendiri. Tema seminarpun beragam. Menarik untuk dikaji lebih lanjut akan esensi serta manfaat menjamurnya seminar ini bagi mahasiswa. Apakah sebenarnya tujuan mereka mengikuti seminar ini?

Apa yang membuat anda tertarik untuk mengikuti kegiatan seminar? A. Narasumbernya menarik/terkenal D. 7,28% B. Insertnya murah bahkan kadang gratis C. 6,14% C. Ada door prize B. 23% D. Mendapatkan snack atau makan siang gratis A. 63,57%

D. 3,28%

Apa tujuan anda mengikuti seminar? A. Menambah kredit poin perkuliahan B. Mendapatkan sertifikat C. Memperluas wawasan D. Mengisi waktu luang

A. 9,86% B. 18,86%

C. 68%

Dari berbagai seminar yang anda ikuti, berapakah persentase materi yang telah anda aplikasikan? A. 0 % D. 3,14% A. 15,85% B. kurang dari 35 % C. 21,85% C. kurang dari 75 % D. kurang dari 100 % B. 59,14%

Sudah berapa kalikah anda mengikuti seminar semenjak kuliah? A. Âą 2 kali B. Âą 5 kali D. 9,28% C. lebih dari 5 kali A. 37,6% C. 20,42% D. Tidak pernah sama sekali

Dari A. B. C. D.

Berbagai jenis tema seminar, tema apakah yang menarik menurut anda? Pendidikan Kepenulisan Teknologi A. 29,85% Wirausaha D. 34,86% B. 9,86%

B. 32,7% C. 25,42%

Grafis: Edo Febrianto

INFO KAMPUS

INFO SOSIALISASI TEKNOLOGI E-LEARNING

Sudahkah Anda Tahu E-learning UNP (http://elearning.unp.ac.id), ini adalah metode belajar yang akan diterapkan secara menyeluruh di Universitas Negeri Padang. Mahasiswa dapat kuliah dengan salah seorang dosen pada mata Kuliah yang sedang diambil di KRS tanpa harus Tatap Muka. Di sana ada fasilitas Materi perkuliahan, Kuis Online dengan batas waktu otomatis. Chating dengan Dosen dan mahasiswa lain yang berada dalam satu kelas Online, atau belajar bersama secara Online di Group Diskusi. Teknologi ini dalam waktu dekat akan digalakan lebih maksimal, sebagai sarana

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

menerapkan ICT dalam kehidupan akademik di Universitas Negeri Padang. Dengan demikian kepada Para Mahasiswa, ini merupakan sesuatu yang pantas dicoba untuk diterapkan dalam aktivitas akademik.

Ayo coba sekarang!


24

Sarjana Daur Ulang

Belajar Memiliki Melalui Mars

Oleh Doni Fahrizal ( Mahasiswa Akuntansi TM 2011)

Skripsi merupakan gerbang bagi mahasiswa untuk mencapai status sarjana. Setelah letih beberapa tahun dengan tetek bengek perkuliahan, penyelesaian skripsi membuat seorang mahasiswa akan memperoleh gelar di belakang namanya. Entah sebagai sarjana pendidikan, sarjana teknik, sarjana ekonomi, atau gelar lain sesuai dengan jurusan mereka. Walaupun begitu, terkadang skripsi yang sejatinya diharapkan mampu melahirkan intelektual-intelektual baru dengan pemikiran segarnya, malah berpeluang menciptakan hantu plagiarisme yang mencekam. Hal ini menciptakan mental curang dan tidak percaya diri dalam berkarya. Fenomena ini banyak kita temui di kalangan mahasiswa, tak terkecuali di UNP. Skripsi dengan tema sama, judul yang hampir mirip, dan pembahasan yang hanya ditukar dengan satu atau dua variable saja banyak menjamur di kampus kuning ini. Memang benar, dengan satu variabel yang berbeda saja, seorang mahasiswa sudah berbangga menyebut hasil penelitiannya sudah berbeda. Namun, jarang sekali penelitian mereka akan menghasilkan karya baru. Fenomena ini, pernah diangkat dalam pemberitaan media kampus. Ketika Ganto m e n g an g k at t e r o p o n g t e n t an g “Peminjaman Skripsi Rawan Plagiat” pada edisi 151, di dalamnya dituliskan sebuah kasus yang berkaitan dengan peminjaman skripsi. Kasus tersebut bercerita tentang seorang mahasiswi yang sahabatnya,

terpaksa membawa kabur arsip skripsi (dengan cara menyembunyikannya di balik baju) dari pustaka sebagai pedoman pembuatan skripsinya. Hal itu ia lakukan karena pustaka tidak memberi izin mahasiswa untuk membawa pulang arsip skripsi (dengan tujuan mencegah penjiplakan), perbuatan ini mengindikasikan bahwa masih ada mahasiswa yang “sangat” berpedoman pada arsip skripsi sebelumnya (sampai-sampai harus melanggar aturan). Menurut Wray dan Boomers dalam bukunya Projects In Linguistic, ada dua jenis penjiplakan, yaitu disengaja dan tidak disengaja. Contoh yang disengaja adalah mengambil secara utuh ide orang lain dan sengaja mengakui sebagai pemikiran sendiri (pure palgiarisme). Yang kedua adalah tidak disengaja (paling rentan bagi mahasiswa). Penjiplakan yang tidak disengaja terjadi karena kurangnya pemahaman mahasiswa atas batas-batas pengutipan. Entah kapan skripsi mahasiswa seperti Desi Ariani alumnus Universitas Negeri Yogyakarta yang penelitiannya di bayar Hak Kekayaan Intelektual (HaKI)-nya, lalu diadopsi dosen untuk sebuah karya penelitian, dapat ditiru mahasiswa lain. Akankah mahasiswa selamanya hanya akan membuat skripsi dari hasil daur ulang skripsi lama tanpa ide yang benar-benar fresh. Tentu saja gelar yang tepat bagi mereka juga diganti, tidak hanya sarjana ini-itu, tapi juga Sarjana Daur Ulang.

Tak banyak yang mengenalnya, mungkin ada, tapi hanya dikenal sebagai dosen sendrastik prodi musik di UNP. Sebagian lagi bahkan tak pernah mengetahui apalagi mengenal sosoknya. Dan beberapa yang tersisa mengatakan bahwa ia kenal melalui karyanya menciptakan mars. Di tangan dingin pencinta musik yang telah mengabdikan dirinya selama 27 tahun sebagai dosen Sendratasik prodi musik di UNP inilah lahirnya Mars Universitas Negeri Padang (UNP). Melalui sosok Ervan Lubis, M.Pd, pria kelahiran Sikaping, 10 Juni 1957, mars UNP tercipta, setahun setelah pergantian IKIP menjadi UNP. Tidak membutuhkan waktu lama bagi membuat mars ataupun hymne. Jika sudah dapat visi dan misi dari instansi yang meminta untuk membuat mars, maka dalam kisaran waktu 1 sampai 2 jam mars tersebut selesai, bahkan dalam rapat sekalipun. Tak heran, sampai saat ini beliau telah menciptakan lebih dari 20 mars. Orderan merilis mars pun silih berganti menggandrungi beliau. Permintaan tersebut datang dari berbagai sekolah, universitas, sekolah tinggi serta asosiasi tingkat nasional. Berkat kelihaiannya dalam memadukan komposisi musik dengan irama teratur dan kuat tersebutlah beliau pernah mejadi pelatih Marching Band Semen Padang pada tahun 1986. Aktif menjadi juri seni di Sumatera Barat hingga kini. Pencipta single UNP’S got Talent yang merupakan ajang seni di UNP dan

IKLAN

Ervan Lubis M.Pd

beberapa deret prestasi lainnya. Selain mars, ia juga banyak melahirkan lagu-lagu pop Indonesia maupun lagu pop minang. Lagu-lagu yang diciptakan oleh beliau ini dinyanyiakan oleh Dia Camalia, Yenni Puspita, dan Androy. Suami dari Suyeti S.Pd., ini memiliki harapan besar terhadap berdirinya Orkestra UNP. Menurutnya akan menjadi sebuah kebanggaan apabila UNP memiliki orkestra. Beliau berharap agar semua mahasiswa yang berbakat dan ingin belajar untuk turut berpartisipasi mewujudkan orkestra di UNP. Mars UNP tidak hanya diketahui oleh mahasiswa dari jurusan sendratasik saja. “Mars ini seharusnya diketahui semua mahasiswa UNP dan bangga karena dengan mengetahui dan hafal Mars UNP nantinya tentu akan menimbulkan rasa memiliki terhadap apapun di UNP” tutupnya, Senin (28/10). Suci Larassaty

Satu Jam Bersama Bank Nagari

Sosialisasi fungsi KTM baru baru ini dilakukan oleh Bank Nagari untuk mengedukasi mahasiswa bahwa KTM tidak hanya sebagai tanda pengenal bagi mahasiswa namun juga memiliki fungsi sebagai media transaksi keuangan khususnya untuk pembayaran SPP. Diharapkan kedepannya mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas tersebut secara optimal. Sosialisasi tersebut dilakukan pada hari Krida, pada tiap fakultas yang tersebar dibeberapa tempat termasuk Fakultas FIP yang berlokasi di Bukittingi, Limau manis dan Gadut.

Dengan tema 1 jam bersama Bank Nagari yang friendly membuat mahasiswa antusias dengan berbagai pertanyaan yang inovatif. Menurut Ibu Wiwik Febriani , selaku pemimpin  Bank Nagari UNP,  walaupun sosiaslisasi ini baru pertama kali diadakan,  diharapkan kedepannya menjadi agenda rutin oleh Bank N ag ar i, s eh in gg a  mahasiswa akan lebih memahami fungsi KTM tersebut dan dapat mengaplikasikannya secara lebih luas termasuk dalam pembayaran SPP.

Edisi No. 176/Tahun XXIII/September-Oktober 2013

Ganto edisi 176  

Pers Mahasiswa Surat Kabar Kampus Ganto

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you