Issuu on Google+

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013

CMYK

Cerpen

Teropong

Ide/Grafis/Karikatur: Via/Jefri/Tilla

ISSN: 1412-890X

Alek Gadang UNP.......

(halaman 17)

Kardus Kebencian (halaman 21)


2

Pembelokan Sejarah Studi Banding

Studi banding sudah ada sejak zaman Sriwijaya, yakni pada abad ke-7. Arkeolog meyakini bahwa Sriwijaya pernah menjadi pusat studi Budha terbesar di Dunia. Pada masa itu, para rohaniawan Budha dari penjuru Asia pernah melakukan studi Banding ke Palembang. Selanjutnya pada masa -Kesultanan Aceh abad ke-16, Aceh telah menjalin jaringan diplomatik dengan Turki. Saat itu Laksamana Keumalahayati mengirimkan delegasi Aceh untuk studi banding ke Turki. Lalu terjadi pertukaran delegasi. Dan hasilnya, tercipta hubungan emosional Aceh-Turki yang jejaknya dapat ditelusuri dalam naskah-naskah lama dan cerita rakyat Aceh. Data selanjutnya, tahun 1921, R.O. Winstedt, orientalis Inggris juga pernah melakukan studi banding ke Filipina dan Indoinesia. Ia ditugaskan pemerintah kolonial Inggris di Semenanjung Melayu untuk mempelajari manajemen “Balai Pustaka” di Batavia. Dan sepulangnya, ia mendirikan lembaga penerbitan yang berdiri megah di Kuala Lumpur bernama: “Dewan Bahasa dan Pustaka”, yang sampai sekarang menjadi kebanggaan budayawan Malaysia. Namun, perubahan zaman memang mengambil porsi besar dalam pengikisan nilai-nilai sejarah. Kini masa-masa keemasan Studi Banding telah menjadi catatan-catatan sejarah yang kusam dan tak tersentuh. Studi banding yang bernas hanya tinggal dalam buku-buku sejarah dan sudah mulai dilupakan. Fenomena yang terjadi saat ini, Studi Banding telah mengalami pergeseran makna. Seolah enggan belajar dari sejarah, masyarakat kita telah memilih jalur lain dalam memaknai studi banding, dan membelok dari tujuan awal. Jika pada zaman dahulu sepulang dari studi banding orangorang membawa sekompi ilmu dan langsung melakukan perubahan besar dalam lingkungan tempat ia tumbuh, maka pada zaman sekarang orangorang membawa: berenteng-renteng souvenir, yang habis dalam waktu singkat dan melupakan bahwa mereka punya tanggungjawab besar untuk melakukan perubahan berarti untuk lingkungannya. Topik studi banding ini mulai menghangat saat para anggota legislatif silih berganti touring ke luar daerah, maupun ke luar negeri dengan membawa embel-embel Studi Banding. Berbagai perdebatan muncul karena agenda ini dianggap hanya akan menghabiskan uang negara, sementara masih banyak kekurangan dalam tubuh bangsa yang belum diperbaiki. Dan ternyata, agenda Studi Banding tidak hanya dilakukan oleh anggota legislatif saja, para akademisi yang seharusnya mempunyai “kaca mata” jernih dalam memandang persoalan Studi Banding, malah ikut ambil bagian dalam agenda ini. Termasuk di kampus Kuning sendiri. Mahasiswa, dosen, dan ormawaormawa di semua Fakultas makin menggeliat mengadakan studi banding, baik di dalam maupun ke luar negeri. Lantas, sekarang yang menjadi tanda tanya besar adalah: “Perubahan apa yang telah dilakukan untuk UNP ?” Seyogyanya, grafik yang terbentuk dalam kegiatan Studi Banding ini berupa perbandingan lurus. Makin tinggi frekuensi studi banding, makin tinggi peningkatan kualitas kampus. Namun yang terjadi tidak demikian. Frekuensi studi banding yang tinggi membuat beberapa golongan maupun publik merasa dirugikan. Anggaran yang seharusnya dapat digunakan untuk peningkatan mutu akademik secara lebih nyata, harus dibayarkan untuk perjalanan yang absurd. Satu hal yang menjadi ciri utama studi banding adalah: daerah tujuan. Pulau Bali misalnya, adalah salah satu sasaran empuk pelaku studi Banding. Saat mendengar nama Bali, apa yang ada dalam fikiran anda? Pantai yang indah, dan beragam objek wisata. Bali hanyalah salah satu contoh daerah yang sering mucul dalam opsi lokasi tujuan perjalanan studi banding. Masih banyak daerah lainnya yang juga diminati. Hal utama yang menjadi faktor penentu lokasi tujuan studi banding adalah: ketersediaan objek wisata. Sekarang keputusan ada ditangan kita. Hanya ada dua pilihan: mengembalikan esensi sebenarnya Studi Banding atau penghapusan nama Studi Banding.

+ Pembelokan Sejarah Studi Banding - Pasti nyasar .... + 1800 Mahasiswa UNP Praktek Lapangan - Selamat bertugas, Para Pahlawan ! + Alek Gadang UNP dan Tantangan Sesudahnya - Jangan sampai menambah beban negara

Perlu Revitalisasi Esensi Studi Banding?

Studi banding merupakan kegiatan yang sangat lazim dilakukan oleh sivitas akademika di perguruan tinggi. Kegiatan studi banding yang dilaksanakan baik oleh dosen, pegawai, maupun dilaksanakan oleh mahasiswa, hampir setiap tahun ada di perguruan tinggi. Pertanyaan kita sekarang adalah apakah kegiatan studi banding itu memang perlu dilakukan? Apalagi akhir-akhir ini esensi kegiatan studi banding sudah tergerus oleh kegiatan yang diidentikkan sebagai ajang rekreasi ke daerah lain. Apakah kegiatan studi banding perlu dilakukan oleh sivitas akademika di perguruan tinggi? Pertanyaan ini perlu kita jawab. Jika kegiatan studi banding perlu, maka esensi kegiatan studi banding itu perlu direvitalisasi dengan program-program yang bernas. Program kegiatan yang akan dilaksanakan selama studi banding perlu direncanakan secara matang dan dapat dilaksanakan secara baik pula. Kenyataannya sering pula program kegiatan selama studi banding tidak dapat dilaksanakan secara baik di tempat yang dituju. Jadwal program kegiatan studi banding sering tidak selaras dengan lembaga yang dituju. Akibatnya, kegiatan studi banding sering tidak dapat dilaksanakan secara baik di perguruan tinggi atau lembaga yang dituju tersebut. Misalnya, kegiatan studi banding yang dilakukan oleh mahasiswa atau lembaga kemahasiswaan ke perguruaan tinggi lain pada saat liburan. Padahal pada waktu kegiatan studi banding itu, mahasiswa perguruan tinggi yang dituju juga sedang liburan. Akibatnya, kegiatan studi banding seperti itu sering tidak terlaksana secara maksimal. Setelah kegiatan studi banding, pelaksana studi banding

perlu pula melaporkan hasilnya. Hasil studi banding perlu dikomunikasikan ke seluruh sivitas akademika di perguruan tinggi. Pengkomunikasian hasil studi banding itu dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti komunikasi tatap muka (lisan) dan komunikasi tulis melalui media massa cetak dan elektronik (web). Jika tidak, esensi kegiatan studi banding secara terus-menerus tetap akan tergerus sehingga menjadi sama dengan kegiatan rekreasi dan santai. Kegiatan studi banding di perguruan tinggi baik yang dilaksanakan oleh program studi, jurusan, fakultas maupun yang dilaksanakan oleh hima dan unit kegiatan mahasiswa, perlu direvitalisasi secara baik. Revitalisasi itu dilakukan dengan menyusun program kegiatan yang bernas, memilih perguruan tinggi/lembaga yang relevan, dan penentuan waktu yang tepat. Setelah kegiatan studi banding, hasilnya perlu pula dikomunikasikan secara baik kepada sivitas akademika. Jadi, pelaksanaan kegiatan studi banding di perguruan tinggi perlu didasarkan pada argumen yang logis dan ilmiah. Kepentingan pelaksanaan studi banding itu perlu dikaji ulang sebelum dipastikan untuk dilaksanakan. Jika memang amat penting dan perlu, maka kegiatan studi banding dapat dilaksanakan dengan program kegiatan yang baik dan terencana. Jika studi banding di perguruan tinggi sudah identik dan mirip dengan kegiatan rekreasi, maka lebih baik dilaksanakan kegiatan rekreasi secara jelas saja. Jika kegiatan rekreasi di perguruan tinggi juga dilabel dengan nama studi banding, kenapa kita ikut memaki-maki kegiatan studi banding mirip rekreasi yang dilaksanakan oleh anggota legislatif? (Eto)

Pokok Padang Rubrik ini bersifat human interest. dan ini kami sajikan untuk mengembangkan salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Untuk tahun ini kami hanya menyajikan satu laporan saja. Kami mengangkat Fenomena Studi Banding Mahasiswa dan Dosen. Seperti yang kita ketahui pada saat libur semester lalu banyak pihak yang berlomba-lomba untuk melakukan studi banding. Selain itu, semua acara yang dilaksanakan dalam lingkungan kampus juga kami rangkum dalam rubrik Inter. Namun, jika ada beberapa acara yang tidak ditampilkan kami harap rekan-rekan tidak berkecil hati karena kami tampilkan pada web Ganto dengan alamat http//ganto.or.id yang dilihat oleh orang seluruh pernjuru dunia. Untuk berita hot lainnya kami sajikan Rapat Perwajahan: Kru baru SKK Ganto periode 2013 mengadakan Rapat dalam rubrik Teropong. Diantaranya berita Perwajahan untuk Ganto 6 Edisi ke depan, Senin (21/1). f/Meding. Pengukuhan Guru Besar UNP, kewajiban LRAI, upacara wisuda UNP periode 96, Assalamualaikum, Wr. Wb kegiatan mahasiswa di kampus cabang. Selanjutnya rubrik FeaSalam Pers Mahasiswa. ture, Telusur dan liputan khusus sangat sayang untuk dilewatkan. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda Berbagai artikel yang kami sajikan juga bisa dijadikan sebagai bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam referensi bagi pambaca semua. Dan tidak ketinggalan rangkaian hidup. (John Pattrick). keindahan bahasa yang kami tuangkan dalam rubrik cerpen Begitulah kiranya yang terjadi dalam kehidupan. Jika dan sajak serta rekomendasi buku-buku terbaru dapat pembaca memang ini bisa diterapkan tentunya hidup tidak akan sia-sia. temukan di rubrik resensi buku. Kepengurusan baru Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto baru saja Selain sibuk menggarap edisi perdana ini Ganto juga sedang menerapkan hal ini. Dengan berpikir bijaksana kami bisa mempersiapkan Open Recruitment untuk anggota magang baru menghadirkan kembali edisi 172 tentunya sesuai dengan apa sampai 15 maret mendatang. Untuk seleksi tertulis dan yang dikehendaki oleh pembaca semuanya. wawancara akan dilaksanakan 16 Maret 2013 pukul 07.30 WIB. Ganto yang ada di tangan pembaca ini merupakan hasil Kami mengajak mahasiswa Tahun Masuk (TM) 2011 dan 2012 karya 19 orang kepengurusan baru SKK Ganto UNP. Untuk untuk ikut bergabung menjadi awak redaksi pada tahun 2014 meningkatkan hubungan sosial kru Ganto dengan pembaca kami mendatang. Pembaca juga bisa mengirimkan tulisan untuk dimuat juga menampilkan wajah baru kepengurusan untuk tahun ini. Selain dari kru yang baru, Ganto juga tampil dengan wajahan setiap edisinya ke email redaksiganto@gmail.com atau baru pula. mengantarkan langsung ke redaksi. Kami tetap mengharapkan Ada beberapa rubrik baru yang kami sajikan dalam periode kritik dan saran yang membangun dari pembaca semuanya. kepengurusan tahun ini seperti Telusur dan Liputan Khusus. Selamat menikmati sajian perdana kami. Viva Persma!

Surat Kabar Kampus Universitas Negeri Padang STT No. 519 SKK/DITJEN PPG/STT/1979, International Standard Serial Number (ISSN): 1412-890X, Pelindung Pelindung: Rektor UNP, Penasehat Penasehat: Pembantu Rektor III UNP, Penanggung Jawab Jawab: Prof. Dr. Ermanto, M. Hum, Dewan Ahli Ahli: Priondono, Qalbi Salim, Yudhi Irvan Syah, Heri Faisal, Arda Sani, Dedi Supendra, Dila Monisa, Fitria Ridha Ningsih, Aai Syafitri, Siti Nurasyiyah Staf Ahl Ahli; Konsultasi Psikologi Psikologi: Niken Hartati, S.Psi, M.Psi, Psi, Konsultasi Agama Agama: Dr. Umum Faeza Ahmad Kosasih, M.A, Konsultasi Kesehatan Kesehatan: dr. Pudia M. Indika, Kritik Cerpen: M. Ismail Nasution, S.S. M.A Kritik Puis Puisi: Zulfadhli, S.S, M.A, Pemimpin Umum: Pengembangan: Meri Rezi S, Pemimpin Redaksi Redaksi: Elvia Mawarni Pemimpin Usaha Usaha: Mardho Tilla, Bendahara Umum Umum: Wezia Proma Zolla, Kepala Penelitian dan Pengembangan Maryati, Sekretaris Umum Umum: Ismeirita, Redaktur Pelaksana Pelaksana: Hasduni, Redaktur Berita Berita: Rahmi Jaerman, Winda Yevita Dewi Redaktur Tulisan Tulisan: Astuni Rahayu, Redaktur Bahasa Sastra dan Budaya Budaya: Ariyanti, Redaktur Artistik dan Online Online: Jefri Rajif, Layouter Layouter: Meri Susanti, Fotografer Fotografer: Media Rahmi, Reporter Reporter: Gumala Resti Halin, Wahida Nia Elfiza, Fidia Oktarisa, Staf Penelitian dan Pengembangan Pengembangan: Liza Rosa Lina, Sirkulasi dan Percetakan Percetakan: Novi Yenti, Penerbit: SKK Ganto Universitas Negeri Padang, Alamat: Gedung PKM UNP Ruang G 65 Universitas Negeri Padang Padang, Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar. Kode pos 25131. Laman web : http:// ganto.or.id , Post-el: redaksiganto@gmail.com redaksiganto@gmail.com, Percetakan: Unit Percetakan PT. Genta Singgalang Press (Isi di luar pertanggungjawaban percetakan), Tarif iklan: Rp1.500,- (permilimeter kolom-hitam putih), Rp3.000,- (permilimeter kolom full colour), 1/4 halaman belakang Rp1.000.000,-(full colour), Iklan Baris Rp1.000,- perbaris. Redaksi menerima tulisan berupa artikel, esei, feature, cerpen, resensi buku, puisi, dan bentuk tulisan kritis lainnya dari sivitas akademika UNP. Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah esensinya. Tulisan yang masuk menjadi hak redaksi dan yang tidak dimuat akan dikembalikan atau menjadi bahan edisi berikutnya. Setiap tulisan yang dimuat akan diberi imbalan/uang lelah semestinya.

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


3 SKK Ganto menerima surat pembaca baik berupa keluhan, kritikan, saran dan permasalahan tentang lingkungan sekitar UNP. Surat pembaca dapat dikirimkan melalui email: redaksiganto@gmail.com atau dapat diantar ke redaksi SKK Ganto, Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Ruang G65 UNP dengan dilampiri kartu identitas: KTP atau KTM.

Kampus Cabang Kurang Perhatian Saya mengeluhkan kurangnya perhatian terhadap kampus cabang UNP, diantaranya terhadap kampus PGSD UPP IV Bukittinggi. Misalnya kurang lancarnya komunikasi antara kampus pusat dengan kampus cabang, kurangnya pengeksploitasian bakat mahasiswa disini. Dan kami merasa hanya dibutuhkan pada saat pemungutan suara. Saya mengharapkan ini mendapat perhatian khusus oleh pihak kampus pusat. Terima kasih. AK Mahasiswa PGSD UPP IV Bukittinggi TM 2010

Kapan Kongres Mahasiswa? Saya mempertanyakan kenapa pada beberapa tahun belakangan tidak diadakan lagi kongres mahasiswa. Padahal salah satu hal yang paling penting yang menunjukkan peran kita sebagai mahasiswa adalah dengan penyelenggaraan kongres tersebut. Saya meminta pihak yang berwenang dalam penyelenggaraan kongres untuk dapat mengangkat kongres tahun ini. Fz. Mahasiswa FIP TM 2010

Grafis: Jefri

Pertanyakan Peran PA Pembimbing Akademik (PA) seharusnya berperan maksimal dalam membimbing mahasiswa. Saya merasa ini adalah masalah bersama sebagian besar mahasiswa. Terlebih dalam masa pembuatan Tugas Akhir (Skripsi), kebanyakan PA tidak membimbing mahasiswa dengan baik, malah mempersulit mahasiswanya. Saya mengharapkan pihak universitas dapat menanggapi pengaduan ini. Banyak mahasiswa yang kehilangan arah dalam proses pembuatan skripsi dan pada siapa lagi kami mengadukannya kalau bukan pada PA. Terimakasih. MR. Mahasiswa FMIPA TM 2009

BPM FMIPA Vakum Saya perhatikan akhir-akhir ini BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) FMIPA vacum. Kenapa demikian? Dan saya melihat kepengurusannya juga belum jelas, padahal sudah empat bulan Mubes. Selanjutnya pelantikan BPM nya kapan? Pemilu BEM FMIPA juga kapan? Semestinya 9 februari kemaren. Mohon ditanggapi. Terimakasih. Muhammad Sobri Mahasiswa Kimia TM 2009

Penerangan Sudut Kampus Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada pihak universitas yang sudah memberikan penerangan di beberapa sudut jalan dilingkungan UNP. Namun, saya berharap agar kawasan dan sudut-sudut kampus yang belum tersentuh lampu juga segera diberikan penerangan. Guna menghindari penyalahgunaan lahan remang-remang dilingkungan kampus. Terima kasih. JR, Mahasiswa FT UNP

Waspada Pohon Tua Pepohonan di depan FIS menurut saya mengancam keselamatan orang yang melewati jalanan disekitar pohon. Pasalnya pohon tersebut terlihat sudah sangat lapuk serta banyak ranting-ranting yang patah dan masih menggantung di dahan pohon. Harap ditindaklanjuti demi keselamatan pengguna jalan dan lahan sekitar pohon. Terimakasih. Hana, mahasiswa basindoda, FBS

Perbaikan Toilet

Saya mengeluhka toilet di mushala baru FBS yang kondisinya sangat memprihatinkan. Dari tiga jamban yang ada hanya satu yang bisa digunakan. Hal ini sangat membuat kurang nyamannya pengguna sarana. Kadang untuk menggunakan toilet harus menunggu antrian. Miris sekali menyaksikan mahasiswa kampus seni kurang peka dengan etika dan estetika di sarana umum. RWM, mahasiswa FBS

Jawaban Surat Pembaca Pelaksanaan Kongres Mahasiswa Pada tahun ini tidak ada kongres dalam program kerja MPM. Hal ini dikarenakan tahun lalu, ketika sudah dibentuk kepanitiaan, minat dari UKMUKM yang ada di UNP untuk menyukseskan kongres ini kurang, makanya tahun ini ditiadakan. Namun tidak tertutup kemungkinan juga, jika ada hal yang patut kita diskusikan, dan semua UKM di UNP mau berpartisipasi aktif, kita akan mengangkatkannya.

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013

Pikiran Positif Membentuk Fitrah Manusia Oleh Hengki Yandri Mahasiswa S2 Bimbingan konseling Pasca Sarjana UNP

Suka atau tidak, kita hidup berinteraksi dengan orang lain. Kita saling membutuhkan antara satu sama lainnya, kita tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya orang lain. Namun, fenomena di lingkungan sekitar kita memperlihatkan tindakan-tindakan berlawanan dengan kefitrahan manusia yang seyogyanya memiliki moral, etika, dan keluhuran dalam dirinya. Individu yang telah dirasuki ketamakan, terutama apabila mempunyai kekuasaan dan pengaruh, tidak akan ragu-ragu memakai segala cara untuk mencapai tujuannya walau harus menyalahgunakan amanah yang diberikan kepadanya. Bahkan tidak jarang, amanah digunakan untuk melakukan penindasan, penyiksaan, dan pemerasan terhadap masyarakat lemah. Tingkah laku individu yang menampilkan tindakan-tindakan negatif seperti sombong, iri hati, suka menindas yang lemah, penakut, tidak toleran, bohong, dan tingkah laku negatif lainnya, berawal dari pikiran dan kepercayaan mereka yang irasional terhadap dirinya dan orang lain. Jika ditelusuri lebih jauh, individuindividu yang memiliki sifat negatif adalah orang-orang yang memiliki latar belakang pengalaman belajar yang salah, dalam artian mereka meniru/mempelajari sesuatu hal yang salah sejak mereka masih kecil. Tanpa adanya arahan yang benar dari lingkungan sekitar baik orang tua, keluarga, guru, dan masyarakat. Seolah-olah jika ada tindakan/tingkah laku negatif pada anak dianggap hal yang wajar. Pemahaman dari apa yang dipelajari dari masa kanakkanak, dibawa hingga dewasa, sehingga membentuk konsep akan dirinya. Ditilik dari teori konseling Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) Albert Ellis (2008), ia percaya bahwa manusia mempunyai kepedulian diri dan sosial. Teori ini menganggap manusia itu ada yang rasional dan

irasional. Menurutnya, dualisme tersebut tertanam secara biologis dan berkelanjutan sampai cara berpikir yang baru dipelajari. Manusia mempunyai kemampuan untuk mengontrol pikiran, perasaan, dan tindakannya sendiri. Namun untuk dapat mencapai itu, mereka harus menyadari semua tentang dirinya, sehingga mampu mengarahkan kehidupannya sendiri ke arah yang lebih baik. Pernah suatu ketika penulis menghadapi seorang klien, dia mengungkapkan bahwa ia sulit untuk merubah tingkah laku buruknya disaat menilang pengendara sepeda motor. Ia mudah disogok dan menurutnya itu sudah lumrah terjadi,

“Manusia mungkin berbuat salah, tetapi yang tidak dibenarkan adalah mempertahankan sesuatu yang negatif dan mengulanginya hingga menjadi kebiasaan� (Eleanor Roosevelt).

hingga menjadi kebiasaan baginya dan terkadang mengambil uang tilang di luar batasan yang menurutnya sendiri tak wajar. Namun akhirnya ia sadar, bahwa tindakannya itu tidak benar hingga ia memutuskan untuk konseling dengan penulis, agar kebiasaan buruknya itu hilang. Dari hasil konseling, terungkap bahwa saat SMA ia pernah ditilang, padahal menurutnya perlengkapan motornya lengkap termasuk segala atributnya. Sejak saat itu, ia mempunyai keinginan untuk menjadi polisi, namun dengan niat yang salah. Dengan kata lain, untuk balas dendam. Dari kasus ini, kita dapat melihat bahwa pengalaman membuat ia belajar untuk bisa berbuat sama seperti apa yang dilihat, dialami, dan yang dirasakan sehingga mem-

pengaruhi pemikiran dan kepercayaannya terhadap sesuatu hal yang telah ia pelajari di luar pemikiran yang rasional. Kasus tersebut merupakan satu dari sekian banyak masalah yang berkaitan dengan rendahnya nilai etika, moral, dan keluhuran pada masyarakat saat ini. Dalam buku Terapi Berpikir Positif karangan Dr. Ibrahim Elfiky (2009), dijelaskan bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Satu-satunya yang dibutuhkan sejumlah besar pikiran ini adalah pengarahan. Jika arah yang ditentukan bersifat negatif, maka sekitar 60.000 akan keluar dari memori ke arah negatif. Sebaliknya, jika pengarahannya positif, maka sejumlah pikiran yang sama juga akan keluar dari memori ke arah yang positif. Meminjam kata-kata orang bijak, anda adalah apa yang anda pikirkan, mencerminkan bahwa setiap tindakan kita berawal dari pikiran kita. Konsep berpikir positif mencoba menawarkan suatu pendekatan yang dapat dimanfaatkan oleh setiap individu agar dapat merubah hidupnya menjadi lebih baik. Konsep berpikir positif adalah usaha pribadi seseorang untuk membahagiakan diri mereka dengan memikirkan setiap ucapan, langkah, atau keputusan yang dibuatnya agar sesuai nalar serta tidak menghadirkan pemikiran-pemikiran buruk atau perkataan yang tidak perlu dinyatakan, atau upaya besar kita untuk mendikte setiap alur pemikiran dan pola sikap kita dengan tetap membuat pilihan-pilihan normatif serta terukur, dimana pilihan-pilihan itu membuat kita terlatih untuk membuat kesimpulan dan keputusan benar. Kecuali terkait dengan prinsip keimanan, ada baiknya kita jangan terpaku pada satu dasar pemikiran semata. Jika tiap individu mampu mengarahkan pikiran, perasaan, dan tindakannya ke arah yang positif, maka dimungkinkan ia mampu untuk mengontrol hidupnya menjadi lebih baik, sesuai dengan kefitrahannya sebagai makhluk Tuhan yang memiliki moral, etika, dan keluhuran.

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


4

Laporan

Studi Banding Paradoksal Makna Oleh Hasduni (Redaktur Pelaksana SKK Ganto)

Dalam suatu negara, kita sering mendengarkan kegiatan studi banding yang dilakukan pejabat negara, baik yang dilakukan oleh Presiden ataupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun yang sering menjadi sorotan dan mengundang kontroversi adalah studi banding ke luar negeri yang sering dilakukan DPR. Tak khayal, studi banding tersebut menjadi bumerang bagi pelakunya. Karena selain menghabiskan anggaran cukup besar, anggaran yang digunakan pun bersumber dari uang rakyatnya sendiri. Tak jauh berbeda, di Perguruan Tinggi juga terdapat program yang sama— studi banding. Studi banding ini merupakan sebuah kegiatan akademik yang sering dilakukan oleh dosen dan mahasiswa. Kegiatan studi banding bertujuan melihat bagaimana kemajuan bidang studi yang dimiliki Perguruan Tinggi yang dikunjungi, serta mengamati bagaimana pengembangan kemampuan akademik, peningkatan kualitas akademik, dan cara mereka menjalin kerjasama. Di Universitas Negeri Padang, studi banding sudah cukup familiar, karena mahasiswa dan dosen sudah acap kali mengadakan kegiatan tersebut. Sebut saja studi banding dosen Jurusan Kimia ke Universitas Udayana Bali, dosen jurusan Fisika ke Malaysia dan Singapura, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi ke Pulau Jawa, HMJ Bahasa Indonesia dan daerah ke Universitas Udayana dan UGM, Fakultas Ilmu Pendidikan yang berkunjung ke Malaysia, serta Fakultas Ilmu Keolahragaan studi banding ke Universitas Medan. Namun, semakin ramainya peminat kegiatan ini akhirnya menimbulkan pertanyaan; apakah kegiatan akademik tersebut benar-benar berjalan sesuai fungsinya? Atau sama saja dengan istilah “pelesiran” yang dicapkan untuk pejabat negara yang sering melakukan studi

banding? Mahasiswa merupakan pelaku yang cukup antusias dalam melakukan studi banding. Lihat saja, hampir dalam setiap akhir semester mahasiswa berbondongbondong melakukannya. Bahkan persiapannya sudah dari jauh-jauh hari direncanakan. Tapi sayang, studi banding seakan berubah makna. Kegiatan seperti diskusi, kuliah umum yang mestinya menjadi prioritas utama, seakan hanya kegiatan selingan semata. Prio r i t a s utamanya s e a k a n bertransformasi menjadi jalan-jalan. Mahasiswa seakan-akan lupa dengan identitasnya sebagai k a u m akademisi. Kegiatan yang dilakukan seakan hanya menjadi tameng untuk melakukan ajang pelesiran. Betapa tidak, lokasi yang dikunjungi saja tidak jauhjauh dari lokasi wisata. Sebut saja Bali. Bali seakan memiliki daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa yang akan mengadakan studi banding. Sebagaimana diketahui, Bali merupakan lokasi wisata yang cukup populer. Seandainya mahasiswa ingin menjadikan nama UNP dikenal, seharusnya tidak menjadikan studi banding sebagai tanda pengenal universitas lain. Selain menghabis-habiskan dana dan waktu, kegiatan seperti itu menandakan UNP belum mampu membawa nama baik UNP dengan cara dan tindakan yang akademik. Seharusnya apabila ingin menjadikan nama UNP dikenal, harus melalui karya. Melalui karya yang berkualitas tentu akan dikenal oleh banyak universitas, ketimbang harus menghambur-hamburkan dana dan waktu. Kecuali niatnya diluruskan lagi, dengan kata yang lebih tepat—pelesiran. Meskipun dana yang digunakan bersumber dari dana pribadi, sangat tidak etis rasanya apabila menggunakan embel-embel studi banding sebagai ajang jalan-jalan atau sejenisnya. Bisa saja menggunakan kata

liburan, touring, piknik, dan masih banyak lagi. Jadi supaya jelas, lingkupnya dan tidak menyalahi aturan yang nantinya tidak masuk dalam kategori pelanggaran akademik. Seakan tidak mau kalah, dosen juga cukup antusias dalam melakukan studi banding. Salah satu dosen Jurusan Fisika pernah bercerita tentang kisah studi banding yang pernah ia ikuti bersama beberapa

Grafis: Jefri

dosen lainnya. Saat itu tujuannya ke luar negeri, yaitu Malaysia dan Singapura. Pertimbangannya adalah universitas tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia bidang IPA. Beliau dan rombongan lainnya juga menyempatkan mengunjungi lokasi wisata yang berada di negara berbeda, Thailand. Setelah kegiatan tersebut, banyak hal yang dia dan rombongan dapatkan. Hal paling menonjol yang akan diperbaiki di jurusan adalah pengadaan kembali alat-alat kelengkapan labor supaya lebih baik. Namun diakhir kalimat ia mengatakan, “meskipun semuanya tidak bisa diterapkan, setidaknya sudah ada tindakan yang telah dilakukan yang mengarah ke sana,” terangnya. Output yang didapatkan dari kunjungan dosen tersebut cukup jelas, yaitu inisiatif untuk memperbaiki labor. Namun sangat disayangkan, inisiatif tersebut tidak ada tindakan yang direalisasikan. Mengingat juga, dana yang dibutuhkan

untuk kegiatan tersebut tidaklah sedikit, dan dana yang digunakan juga bersumber dari negara. Bukankah untuk mendapatkan inisiatif seperti itu tidak harus jauh-jauh pergi ke luar negeri? Apalagi sudah menjadi sebuah keharusan untuk terus meningkatkan kualitas akademiknya, termasuk juga kelengkapan labor. Apabila hanya ingin melihat kelengkapan labor dan merasakan suasana akademik di sana, tidak perlu harus ada kata-kata studi banding yang melibatkan banyak peserta. Menurut penulis, dengan mengundang ahli yang berkompeten dari luar negeri atau dalam negeri atau mengirimkan perwakilan, rasanya sudah cukup untuk memperoleh referensi atau rujukan yang diharapkan. Toh, hasilnya sama saja. Bahkan mungkin hal tersebut lebih efektif, mengingat dana yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Ketika pihak UNP berbondong-bondong untuk belajar ke luar, sebaliknya timbal balik dari PT lain nyaris sepi sekali. Entah karena kurang diminati atau memang bukan menjadi prioritas. Apabila ditilik dari letak geografis yang terletak di Sumatera Barat, tentu cukup memiliki daya tarik karena memiliki lokasi wisata yang menarik. Namun sekali lagi kualitas berbicara. Apabila semakin banyak pelaku akademik di kampus yang melakukan studi banding, realita seharusnya membuktikan hasil atau buah dari kegiatan tersebut. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah ada banyak fakta yang membuktikan bahwa kegiatan tersebut benar-benar efektif? Mungkin hanya sebatas laporan pertanggung jawaban yang bisa saja dimanipulasi atau buah tangan untuk kerabat dan keluarga. Namun bentuk nyatanya tidak ada. Studi banding boleh-boleh saja dilakukan, karena itu termasuk ke dalam kegiatan akademik. Namun sebelum melakukannya, seharusnya terlebih dahulu disusun konsep dan tujuan yang telah direncanakan. Nah, ketika sekembalinya dari studi banding, ada sebuah patokan yang bisa dijadikan ukuran keberhasilan kegiatan tersebut. Konsep dan tujuan yang dirancang tentunya harus melihat realita dan fakta di lapangan terlebih dahulu. Agar sepulang dari studi banding, tujuan dan konsep yang direncanakan bisa benar-benar direalisasikan. Jangan hanya sekedar niat semata dan jangan pula sampai nantinya kegiatan akademik berubah menjadi kecelakaan akademik itu sendiri.

Dua Sisi Mata Uang Studi Banding Studi banding yang kerap diadakan oleh mahasiswa ibaratkan dua sisi mata uang. Disatu sisi, mahasiswa bisa belajar, berbagi pengalaman dan juga bisa menjalinkan kebersamaan dengan teman-teman di universitas lain. Disisi lain, mahasiswa kadang cenderung memanfaatkan studi banding ini untuk jalan-jalan dan menghabiskan uang. Sebagain mahasiswa memandang studi banding sebagai salah satu cara untuk menuntut ilmu. Kembali lagi pada tujuan dan niat mahasiswa yang pergi. Sebaiknya studi banding ini adalah momen yang tepat untuk menjalin silaturahmi dengan teman-teman di universitas lain serta sebagai ajang pembelajaran. Dengan demikian, hal-hal yang bersifat membangun bisa dibawa dan diterapkan di UNP. Tri Riski Ananda M a h a s i s w a Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah

Bagaikan katak dalam tempurung” kata-kata itulah yang cocok untuk kita. Kita perlu melihat dunia luar untuk membuka wawasan dan membandingkan bagaimana universitas lain. Itulah salah satu tujuan studi banding yaitu untuk mencari ilmu pengetahuan dengan terjun ke lapangan. Contohnya berkunjung ke DPR, kita bisa menggali ilmu tentang kerja legislatif dan lain sebagainya. Begitu juga di KPK, kita juga bisa melihat sistem kerja mereka. Sedangkan kunjungan ke beberapa kampus seperti UNJ dan UI kita membandingkan sistem kerja organisasi mereka disana. Percuma mahasiswa hanya membaca buku tanpa langsung mengalami dan terjun ke lapangan. Selain kunjungan tersebut tentu juga ada refreshing ke tempat wisata. Harapannya semoga studi banding ini menjadi program UKM, untuk meng-upgrade kemampuan aktivis kampus. Edo Andrefson Mahasiswa Ekonomi Pembangunan

Adanya kunjungan industri dapat menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa. Disana, mahasiswa bisa belajar kedisiplinan, kerja keras dan sebagainya di industri yang di kunjungi. Selain itu, kunjungan industri bisa memotivasi mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan. Di Fakultas Teknik, kunjungan industri ini tidak diwajibkan dan tidak dibebankan bagi mahasiswa dalam bentuk SKS. Hal tersebut dikarenakan jumlah sks mata kuliah mahasiswa sudah cukup banyak. Sejalan dengan hal tersebut, rancangan kurikulum 2013 ini yang akan di terapkan pada 2014 nanti juga akan dikurangi beban sksnya. Akibatnya, mata kuliah yang lebih penting didahulukan, bukan berarti KI tidak penting tetapi mengingat kembali urgensi KI ini belum dapat. Jika KI diberi beban SKS tentu mahasiswa kurang mampu akan terbebani. Jadi dikembalikan kepada mahasiswa, jika mau pergi lebih bagus dan tidak ada hubungannya dengan nilai mahasiswa. Azwizet k, ST, MT S e k r e t a r i s Jurusan Teknik Mesin, FT

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


Laporan

5

Geliat Studi Banding Civitas Akademika UNP Oleh: Meding/Via

Tak hanya digolongan pejabat seperti DPR saja, keberadaan kegiatan yang dikenal dengan studi banding juga cukup eksis di lingkungan kampus Universitas Negeri Padang (UNP). Semua fakultas pernah mengadakan kegiatan studi banding ini, mulai dari mahasiswa hingga dosendosen. “Ada lima perusahaan yang kami kunjungi,” ujar M. Shobri, Rabu (13/2). Shobri merupakan mahasiswa jurusan kimia TM 2009 yang ikut dalam kegiatan Kunjungan Industri (KI) pada tahun 2012 lalu. KI merupakan salah satu mata kuliah yang harus diambil oleh mahasiswa jurusan kimia non kependidikan saat memasuki tahun ketiga perkuliahan mereka. Selama KI, mahasiswa akan berkunjung ke perusahaanperusahaan atau instansi tertentu yang berhubungan dengan kimia tentunya. Pada tahun kemarin, dipilih Batam, Dumai, dan Pekan Baru sebagai daerah kunjungan. Mereka tak hanya mengunjungi perusahaan-perusahaan saja, seperti PT Indofood, PT Indah Kiat, dan Pertamina. Mereka juga mengunjungi universitas seperti Universitas Riau. Tak hanya pada jurusan kimia, pada jurusan teknik mesin juga ada KI. Jurusan ini mengadakan KI tiap tahun, terakhir pada bulan Agustus 2012 yang diikuti oleh mahasiswa angkatan 2010 dengan rute Sumatra-Jawa-Bali. Selain mengunjungi perusahaan, seperti PT Dirgantara dan PT Krakatau Steel, mereka juga berkunjung ke universitas lain seperti Universitas Gajah Mada. Kunjungan industri yang ada pada jurusan kimia dan teknik mesin hanya sebagian dari kunjungan-kunjungan yang ada di universitas ini. Istilah kunjungan yang lebih populer dengan nama studi banding ini, bahkan juga diselenggarakan oleh organisasi-organisasi di UNP. Seperti organisasi Himpunan Mahasiswa Bahasa Indonesia dan Daerah (Hima Basindoda). Mereka mengadakan studi banding ke berbagai universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas Udayana di Bali, Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta, dan Universitas Pendidikan Bandung (UPI) pada tahun lalu. Mereka menyebut studi banding yang memang telah menjadi agenda Hima ini dengan “Kunjungan Budaya dan Studi Banding (KBSB)”. KBSB yang berlangsung hampir dua minggu lamanya ini (20/ 1-2/2) diikuti oleh 27 orang dan satu orang pembimbing. Tak jauh berbeda dengan Hima Basindoda, Hima Pendidikan Ekonomi (Hima Pekon) juga mengadakan studi banding ke universitas-universitas ternama Indonesia. Berangkat menuju Bandung pada pada Sabtu (5/1), tepatnya pada libur semester ganjil, Hima ini mengunjungi Universitas Pendidikan Indonesia. Mereka juga mengunjungi Universitas Negeri Jakarta, dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Tak hanya studi banding ke universitas, Hima Pekon juga berkunjung ke Arsip Nasional Republik Indonesia. Studi banding yang menyita waktu libur semester selama tiga belas hari itu memang merupakan agenda Hima. Studi banding serupa juga diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (BEM FIS). Dalam rangka menyelenggarakan program kerja di akhir kepengurusannya, BEM ini berhasil mengangkat studi banding untuk yang pertama kalinya. Selama delapan hari (17-25/1) perjalanan, mereka mengunjungi beberapa universitas dan kementerian RI. Universitas-universitas tersebut diantaranya UGM dan UNPAD. Sedangkan kementerian yang mereka kunjungi yaitu Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sedangkan pada Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ekonomi Pembangunan, studi

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013

Amati Proses Produksi: Beberapa mahasiswa Jurusan Kimia UNP terlihat tengah berkeliling-keliling mengamati proses produksi di PT Indopalm Dumai dalam rangka Kinjungan Industri Mahasiswa Kimia, Juni 2012 lalu. f/doc

banding yang mereka selenggarakan berlangsung selama sepuluh hari (5-14/1). Kunjungan yang diikuti oleh 44 orang ini juga merupakan studi banding yang pertama bagi HMJ ini. Diantara tempat-tempat yang mereka kunjungi yaitu universitas-universitas seperti Universitas Indonesia, Depok dan IPB. Mereka juga mengadakan kunjungan ke DPR dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jakarta. Tak hanya itu, HMJ ini juga mempunyai kesempatan untuk mengikuti program di salah satu TV swasta. Studi banding yang diadakan UNP selain diselenggarakan oleh organisasi-organisasi mahasiswa juga diselenggarakan oleh fakultas. Hal ini dapat terlihat dari studi banding pada Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Fakultas ini menyebut studi banding mereka dengan “Kunjungan Belasan”. Kunjungan Belasan yang diadakan pada tahun lalu ini diikuti oleh 38 orang mahasiswa dan beberapa orang dosen, termasuk Pembantu Dekan III. Pada Kunjungan Belasan ini, FIK mendatangi Universitas Negeri Medan. Jika pada FIK ada Kunjungan Belasan, pada Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) ada “Kunjungan Media”. Kunjungan media yang diikuti oleh dosen dan mahasiswa ini tidaklah mencakup universitas dalam negeri, melainkan universitas negeri seberang, Universitas Sains Islam Malaysia. Diadakan pada tahun lalu, kunjungan ini merupakan timbal balik dari UNP terhadap universitas tersebut. Universitas Sains Islam Malaysia ini mengunjungi FIP UNP pada 2011. Tak hanya sebatas studi banding atas nama organisasi atau fakultas yang pernah UNP adakan. Studi banding yang hanya diikuti oleh dosen saja juga cukup eksis keberadaannya. Seperti pada jurusan fisika dan matematika pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Pada jurusan fisika, kegiatan studi banding yang diadakan pada Juli 2011 lalu, berlangsung selama satu minggu. Universitas luar negeri merupakan lokasi kunjungannya. Terletak pada dua Negara yang berbeda, dosen-dosen jurusan fisika ini studi banding ke Universiti Sains Malaysia (USM) dan National University of Singapura (NUS). Sebenarnya, kunjungan ini telah direncanakan oleh jurusan fisika semenjak tahun 2000. Namun, karena susahnya mencari waktu pelaksanaan yang tepat, maka studi banding ini baru bisa terwujud sebelas tahun kemudian. Sedangkan pada jurusan matematika, dosen-dosen yang ikut studi banding berjumlah sekitar 20 orang. Kunjungan yang

Foto bersama: Para Dosen FIP foto bersama di bandara dalam rangka kunjungan dosen PGSD FIP ke Universitas Mataram Nusa Tenggara Barat, 24-27 Mei 2011. f/doc

memakan waktu selama lima hari ini, hanya mencakup satu universitas luar negeri saja, Universiti Teknologi Malaysia, tepatnya Departemen Matematika. Sayangnya, selama lima hari studi banding ke luar negeri, dosen-dosen dari jurusan matematika ini hanya memiliki waktu satu hari saja untuk mengambil ilmu dari universitas yang dikunjungi. Hal tersebut karena adanya sedikit kesalahan dalam persiapan sebelumnya. Kesalahan itu berupa kelalaian dalam menghubungi atau mengajukan surat untuk berkunjung ke suatu tempat. Tidak adanya link di luar negeri juga ikut menjadi penyebab kenapa dosen-dosen ini hanya bisa mengunjungi satu universitas saja. Kunjungan-kunjungan yang diselenggarakan para

dosen ini dibiayai sendiri oleh dosen yang bersangkutan. Tidak ada alokasi dana khusus baik dari pihak jurusan maupun fakultas bagi mereka dalam melaksanakan studi banding ini. Walaupun ada juga yang mendapat bantuan dari DIPA seperti yang diperoleh dosen jurusan fisika. Namun, bantuan itu tidaklah cukup. Jadi untuk menutupi kekurangan anggaran, dosen ini harus mengaruk kocek masingmasing. Sedangkan untuk studi banding yang diselenggarakan oleh baik itu organisasi, jurusan, ataupun fakultas di UNP, biaya yang dikeluarkan ada berasal dari anggaran pribadi dan ada juga yang mendapat bantuan dari pihak fakultas. Laporan: Kru SKK Ganto


6

Laporan

Studi Banding Minim Aplikasi Oleh: Duni/Via

Pelaku akademik UNP akhir-akhir ini seringkali berbondong-bondong pergi ke luar untuk melakukan studi banding. Bak jauh panggang dari api, studi banding kehilangan esensi, berubah menjadi agenda pelesiran. Rahmad Dedi, salah satu mahasiswa Kimia tengah bingung lantaran 16 April mendatang, ia dan mahasiswa kimia (non-kependidikan) lainnya diharuskan mengikuti Kunjungan Industri. Meskipun lokasi yang akan dikunjungi merupakan kota besar, yaitu Bandung dan Jakarta, tetap saja ia merasa pelik dengan keharusannya mengikuti KI. Ia bingung lantaran pihak jurusan dan fakultas mengharuskan seluruh mahasiswa kimia mengikuti KI, sedangkan mata kuliah ini berbobot 0 SKS. “Kenapa tidak diberikan SKS saja,” ujarnya, Kamis (14/2). Selain itu, KI juga menjadi salah satu syarat wajib bagi mahasiswa untuk mengajukan seminar. Sebelum melakukan seminar, mahasiswa diharuskan mengumpulkan laporan hasil KI yang telah didiskusikan dengan ketua prodi. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan Rahmad kenapa ia akan mengikuti KI. Pernah Rahmad dan mahasiswa kimia lainnya protes kepada fakultas terkait pelaksanaan KI, namun sampai sekarang belum mendapatkan tanggapan. Protes itu terkait pengadaan bobot SKS untuk mata kuliah KI. “Kalau pelaksanaannya seperti itu, tidak ada penghargaan bagi mahasiswa,” terang Rahmad. KI merupakan suatu kegiatan mengunjungi perusahaan atau instansi yang bertujuan memberikan gambaran kepada mahasiswa terkait ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah dengan realita di lapangan. Namun bagi sebagian mahasiswa, KI banyak merugikan. Selain membutuhkan dana yang cukup besar, tidak adanya penjelasan terkait KI, kegiatan ini juga dianggap hanya menambah jadwal mahasiswa saja. Setahun sebelumnya, Muhamad Shobri dan beberapa mahasiswa Kimia lainnya tengah berembuk untuk menentukan lokasi KI. Saat itu ada dua lokasi yang diusulkan, Jawa dan Batam. Setelah mempertimbangkan dana dan perusahaan yang akan dikunjungi, akhirnya disepakati Batam sebagai lokasi KI. “Kita tahu ke Batam lebih murah dari segi ongkos,” kata Shobri sambil menyantap kue, di depan koperasi mahasiswa MIPA, Rabu (13/2). Setelah tujuan ditentukan, selanjutnya menentukan perusahaan-perusahaan yang akan dikunjungi. Selama perjalanan menuju Batam, terdapat juga beberapa perusahaan yang dikunjungi, seperti di Pekanbaru mengunjungi PT. Indah Kiat (pabrik kertas) dan PT. Indofood, di Dumai mengunjungi PT. Pertamina dan di Batam mengunjungi perusahaan Eko Green Oleochemical. Selama pelaksanaan di lapangan, mahasiswa mengikuti persentasi yang diberikan pihak perusahaan, mendengarkan cerita profil perusahaan, dan diajak berkeliling mengamati proses produksi. KI seakan tidak lengkap jika tidak dibarengi dengan acara jalan-jalan. Selama perjalanan seluruh mahasiswa dan dosen pembimbing juga menyempatkan mengunjungi Candi Muara Takus, Pantai Coastarina, Kampung Vietnam, Jembatan Balerang dan tidak ketinggalan shoping. Shobri mengatakan bahwa acara jalan-jalan merupakan agenda yang telah disepakati bersama, jadi harus dilaksanakan. Sementara itu, ditemui di ruangannya ketua prodi Kimia (non kependidikan) Budhi Oktavia, M.Si, Ph.D membantah jika KI banyak merugikan mahasiswa. Budhi mengatakan bahwa Prodi kimia (non kependidikan) bersifat terapan, jadi tidak cukup hanya dengan teori-teori di kelas saja. Selain itu, tujuannya adalah menunjukkan kepada mahasiswa, dimana nantinya ilmu kimia itu akan diterapkan. “Mahasiswa perlu tahu mengenai bagaimana penerapan ilmu yang telah mereka pelajari, itu bisa didapatkan saat pelaksanaan KI,” ujarnya, Senin (4/ 2). KI dilaksanakan paling lama satu minggu dan diikuti bagi semua angakatan jurusan Kimia (non kependidikan). Kegiatan KI ini juga didampingi maksimal empat dosen, dua pembimbing mahasiswa, satu pimpinan jurusan, dan satu dosen yang mengajar matakuliah. Bagi seluruh dosen yang

mengikutinya, semua biaya ditanggung pihak jurusan, sedangkan bagi mahasiswa diharuskan menyediakan budget tergantung kesepakatan. Terkait keberadaanya yang tidak memiliki bobot SKS, Budhi merencanakan beberapa tahun ke depan matakuliah KI akan dimasukkan ke dalam SKS. Dengan mengabungkan matakuliah yang hampir sama, seperti Kimia Industri dan Praktek Industri. Nantinya ketiga matakuliah tersebut akan digabungkan menjadi satu matakuliah, menjadi matakuliah Kimia Industri dengan empat beban SKS. Namun rencana tersebut belum akan terealisasi di tahun 2013, dikarenakan masih dalam perombakan kurikulum. Tidak hanya di jurusan kimia, beberapa program studi di Fakultas Teknik (FT) juga menyelenggarakan kegiatan yang sama,—KI. Di FT terdapat beberapa prodi yang rutin melaksanakan KI, diantaranya jurusan Elektronika, Mesin, Otomotif, Pertambangan, dan beberapa jurusan lainnya. Namun berbeda dengan yang ada di kimia, di FT kegiatan KI tidak diwajibkan bagi mahasiswa. Seperti halnya di jurusan Teknik Mesin yang rutin tiap tahun mengadakan KI. Menurut Nelvi Erizon, ketua jurusan teknik mesin, tidak diwajibkannya KI dikarenakan pihak jurusan tidak ingin membebani mahasiswanya. Meskipun tidak Foto Bersama: Rombongan Studi Banding Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembanguan UNP mengadakan foto diwajibkan, namun pihak jurusan bersama dengan Mahasiswa Universitas Indonesia dalam kunjungan Januari lalu. f/doc tetap menghimbau agar semua mahasiswa Teknik Mesin mengikuti KI. “Selain dapat menambah pengalaman dan sekali di sana.” Selama di Bali, peserta KBSB juga setelah disibukan rutinitas kerja. “Ini merupakan pengetahuan, KI juga diharapkan bisa memotivasi mengunjungi beberapa lokasi wisata, seperti Danau salah satu hal yang pasti akan kesempatan bagi mahasiswa untuk tambah giat belajar,” ujar Nelvi, Bejugul, Tanah Lot dan Pantai Kuta. alumni untuk melanjutkan studi. Namun sampai Selain Bali, perjalanan yang berlangsung selama sekarang, inisiatif tersebut belum pelajar, beasiswa (14/2). Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) lebih serius 14 hari 14 malam tersebut, juga mengunjungi kota- belajar dan memberikan kesempatan bagi alumni lagi dalam menyelenggarakan studi banding. 2012 kota besar lainnya, diantaranya Jogjakarta, Bandung untuk melanjutkan studi. Namun sampai sekarang lalu, dengan nama kegiatan Kunjungan Belasan, FIK dan Jakarta. Di Jogja, peserta KBSB mengunjungi inisiatif tersebut belum terealisasi. “Kerjasama yang mendanai 38 mahasiswa, PDIII dan beberapa Universitas Gajah Mada, di Bandung mengunjungi diinginkan belum bisa terwujud,” ujar salah satu dosennya untuk mengunjungi Fakultas Olahraga di Universitas Pendidikan Indonesia, di Jakarta mereka dosen Matematika yang juga peserta studi banding, Universitas Negeri Medan (Unimed). Di sana mereka menuju Monas dan Bundaran Hotel Indonesia serta Drs. Lutfiah Almash, MS, Jumat (22/2). melakukan beberapa kegiatan, seperti pertandingan tentunya, tidak lupa diselingi dengan mengunjungi Ironisnya, studi banding tersebut hanya bola voli dan tenis antar mahasiswa dan dosen. Hal lokasi wisata di kota-kota tersebut. berlangsung selama satu hari saja, selebihnya Wisman juga mengharapkan agar ke depannya dimanfaatkan untuk pelesiran ke berbagai negara, tersebut diharapkan mampu meningkatkan hubungan silahturahmi kedua fakultas tersebut. kegiatan studi banding dapat rutin dilakukan. Hal seperti Singapura dan Thailand. Lutfiah mengaku Selain itu, peserta studi banding juga melakukan itu dikarenakan sangat bermanfaat bagi mahasiswa hal itu wajar saja, karena ajang untuk “penyegaran” kegiatan lainnya, seperti melihat aktivitas akademik, untuk menunjang perkuliahan, semangat organisasi setelah disibukan rutinitas kerja. “Ini merupakan berdiskusi bebas dan saling berbagi rancangan dan pengalaman. “Banyak sekali manfaat yang bisa salah satu hal yang pasti akan dilakukan dalam didapat,” ujar Wisman. kurikulum. rangkaian studi banding”. Salah satu dosen pembimbing studi banding Willadi Rasyid selaku dosen sekaligus peserta Bak bertepuk sebelah tangan, kegiatan studi dalam lawatan tersebut, mengaku bahwa kegiatan jurusan Pendidikan Ekonomi, Halkadri Fitra banding yang dilakukan mahasiswa maupun dosen studi banding tersebut sangat bermanfaat bagi per- mengungkapkan bahwa studi banding harus lebih UNP tak segencar kunjungan yang dilakukan pihak sonal maupun fakultas. Selain bisa meningkatkan diefektifkan lagi. Seperti halnya masalah rute yang luar ke UNP. Pernah UMS dan UTM berniat tali silaturahmi, studi banding juga bisa memberikan akan dituju, seharusnya selesaikan terlebih dahulu melakukan kunjungan balik, namun sampai sekarang nilai-nilai positif untuk melakukan pembenahan yang akademis baru dilanjutkan kegiatan refresh- belum terealisai. nantinya. Misalnya dalam pembangunan kolam ing. Selain itu jumlah peserta studi banding juga Menurut Eka Vidya Putra, S.Sos, M.Si dosen renang, di UNP sampai sekarang belum juga harus dievaluasi lagi, karena terlalu banyak. “Apakah Sosiologi UNP, studi banding patut dicurigai dan rampung, sedangkan Unimed memiliki kolam renang perlu yang pergi sebanyak itu?,” ujar Halkadri. dicari tahu apa motif sebenarnya. Saat ini studi yang sangat megah. Selain itu, rupanya Unimed Halkadri juga merasa orang yang kurang tepat banding hanya dijadikan tameng bagi pelakunya mendapatkan bantuan dari Menteri Pemuda dan ketika ditunjuk sebagai dosen pendamping, karena untuk pelesiran. Hal itu dapat dilihat dari rangkaian Olahraga (Menpora) lebih banyak dari pada UNP. ia bukan dari dosen jurusan Pendidikan Ekonomi kegiatan yang banyak jalan-jalannya, lokasi yang *** melainkan Manajemen. “Kalau masalah konten saya menjadi tujuan studi banding tersebut penuh Sore itu sekretariat Himpunan Mahasiswa juga tidak kompeten, karena dosen yang ditunjuk dengan objek wisata. “Lalu ujung-ujungnya ke Jurusan (HMJ) terlihat sepi. Hanya ada salah satu berhalangan jadi saya yang ditunjuk.” tempat wisata juga,” ujarnya, Jumat (15/2). pengurus Hima bernama Bobi yang tengah asyik Eka juga mempertanyakan terkait bahan yang Seakan tak mau kalah, dosen juga cukup antusias berselancar di dunia maya. Beberapa saat berselang, dalam melakukan kegiatan studi banding. Sebut saja distudibandingkan dan dampak yang dihasilkan. Wisman selaku ketua Hima Bahasa Indonesia dan studi banding yang dilakukan dosen jurusan Fisika Selama ini ia menilai itu hanya sebatas kunjungan Daerah (Basindoda) tiba di depan sekretariat. Dengan pertengahan 2011 silam, yang berkunjung ke Na- lalu tidak ada kelanjutannya. Ia tidak sepakat jika mengenakan mantel, Wisman hendak menyerahkan tional University of Singapura (NUS) dan Universi- di UNP masih ada studi banding, kecuali memang map pengajuan judul skripsinya ke jurusan. tas Sains Malaysia (USM), lalu berselang dua pekan, urusan urgen, fokus, dan dirasa memang perlu belajar Sekembalinya dari jurusan, akhirnya Wisman giliran jurusan Matematika yang berkunjung ke Uni- dengan pihak lain. Misalnya masalah parkir. UNP bersedia menceritakan kegiatan studi banding yang versitas Teknologi Malaysia (UTM), dan yang terbaru perlu belajar ke universitas yang jumlah mahasiswa ia dan mahasiswa Bahasa Indonesia lainnya lakukan ada dosen Fakultas Ilmu Pendidikan yang juga dan luas kampusnya relatif sama, namun pengelolaan Januari lalu. berkunjung ke Malaysia Februari 2013 lalu. parkirnya bagus. Tapi tidak juga harus berbondongDengan menambahkan sedikit kata “kunjungan Tujuan studi banding tersebut pun sama saja bondong. “Kirim sajalah dua atau tiga perwakilan. budaya”, jadilah nama studi banding itu dengan dengan apa yang dilakukan mahasiswa, tatap muka Itu yang namanya studi banding,” lanjut Eka. kata Kunjungan Budaya dan Studi Banding (KBSB). untuk memperkenalkan masing-masing lembaga, Ia juga mempertanyakan esensi studi banding Bertepat 20 Januari 2013 lalu, Wisman dan 26 diskusi mengenai kurikulum, proses perkuliahan, yang dilakukan mahasiswa. Menurutnya mahasiswa mahasiswa lainnya didampingi satu pembimbing, kunjungan labor dan kegiatan akademik lainnya. adalah pihak yang paling konyol dalam melakukan mengunjungi Universitas Udayana. Tujuannya adalah Dalam kunjungannya, jurusan matematika dan studi banding. Meskipun uang yang dipakai adalah untuk berdiskusi terkait akademik, seperti organisasi, Uniten pernah berinisiatif untuk melakukan uang pribadi, tapi tetap saja tidak ada esensinya. budaya, dan sebagainya. Alasan kenapa memilih Bali, kerjasama. Kerjasama tersebut berupa pertukaran Apa manfaat untuk orang lain? Apa manfaat untuk Wisman berujar bahwa Bali merupakan salah satu Ironisnya, studi banding tersebut hanya kampus? “Kalau hanya untuk membawa nama UNP daerah yang hingga saat ini tetap menjaga berlangsung selama satu hari saja, selebihnya agar dikenal pihak luar, itu bodoh sekali”, terang kebudayaannya. “Kita di sana bisa lihat banyak sekali dimanfaatkan untuk pelesiran ke berbagai negara, Eka. “Sebagai kaum intelek, kita harus memcagar budaya yang masih dipertahankan,” ujar seperti Singapura dan Thailand. Lutfiah mengaku perkenalkan diri dengan karya,” ujar Eka. Laporan: Kru SKK Ganto Wisman, Kamis (7/2). “Objek wisata juga banyak hal itu wajar saja, karena ajang untuk “penyegaran”

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


Laporan

7

Kunjungan Wajib Prodi Kimia Keberadaan Kunjungan Industri (KI) pada jurusan kimia sedikit berbeda jika dibandingkan dengan KI yang ada pada pada jurusan lain, jurusan Teknik Mesin misalnya. Hal itu karena kewajiban mahasiswa prodi ini untuk mengikuti kegiatan mengunjungi industri ataupun instansi terkait. Bagaimana tidak, KI merupakan sebuah mata kuliah wajib bagi mahasiswa non kependidikan kimia. Walaupun KI ini merupakan mata kuliah wajib yang harus diambil, tetapi mata kuliah ini sama sekali tidak memiliki beban SKS. Apa alasan jurusan ini untuk mewajibkan pengadaan KI ini? Kenapa pula pihak jurusan tidak memberikan beban SKS terhadap mata kuliah ini? Selain itu, kegiatan KI ini menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tergantung jauh dekatnya industri-industri atau instansi-instansi yang dikunjungi. Jika industri-industri maupun instansiinstansi tersebut berada di daerah yang jauh dari Universitas Negeri Padang, maka secara otomatis anggaran yang harus dipersiapkan harus besar pula. Biaya yang tidak sedikit ini harus ditanggung sendiri oleh mahasiswa yang bersangkutan. Dalam hal ini, mahasiswa tidak mendapatkan bantuan apapun dari pihak manapun kecuali dari diri mereka pribadi. Apakah tidak ada anggaran dana dari pihak jurusan atau fakultas untuk kegiatan ini, berhubung KI ini adalah salah satu mata kuliah wajib? Bagaimana pihak jurusan menanggulangi hal ini? Tentunya tidaklah sedikit manfaat yang ditawarkan KI ini melihat tingkat ke-urgenan kegiatannya, hingga mata kuliah yang berjumlah 0 SKS harus diambil oleh mahasiswa. Tentunya dengan pengorbanan yang tidak kecil pula. Mulai dari pengorbanan materi, waktu, tenaga, dan pikiran. Pengorbanan waktu, karena KI ini tidak menghabiskan waktu satu atau dua hari saja. Melainkan satu minggu. Pengorbanan tenaga, karena selama dalam masa KI itu, berbagai tempat harus dikunjungi. sedangkan pengorbanan pikiran harus dialami mahasiswa sejak dari awal keberangkatan hingga pembuatan laporan sepulangnya dari kegiatan kunjungan tersebut. Seberapa besar manfaat KI tersebut? Bagaimana dengan follow up terhadap kegiatan ini agar mahasiswa tingkat selanjutnya melihat bukti real dari manfaat KI? Simak wawancara reporter Ganto Media Rahmi dengan Budhi Oktavia, M.Si, Ph.D Ph.D, Ketua Program Studi Kimia, Senin (4/2). Menurut pandangan Bapak, KI itu apa? KI, Kunjungan Industri adalah aplikasi dari mata kuliah kimia industri. Salah satu mata kuliah wajib yang diikuti oleh mahasiswa Program Studi Kimia. Kegiatan ini berlangsung selama seminggu dengan mengunjungi beberapa industri atau instansi ataupun lembaga pemerintahan. Berapa banyak lokasi yang dikunjungi? Dalam satu hari tempat yang dikunjungi itu antara 1-2 industri, tergantung jarak yang harus ditempuh. Apa yang menjadi latar belakang pengadaan mata kuliah KI? Karena prodi ini bersifat terapan. Jadi tidak cukup hanya dengan teori-teori di kelas saja. Mahasiswa perlu tahu mengenai bagaimana penerapan ilmu kimia yang telah mereka pelajari dalam perkuliahan. Apa yang menjadi landasan sehingga KI ini wajib untuk diikuti oleh mahasiswa Prodi Kimia? Yang menjadi landasannya adalah kurikulum. Kurikulum yang berlaku saat ini mewajibkan mahasiswa untuk mengambil KI ini karena ini adalah mata kuliah. Kapan mahasiswa ini harus mengambil mata kuliah KI ini? Saat mereka memasuki tahun ketiga perkuliahannya. Kira-kira pada semester enam. Jadi, mata kuliah ini diambil oleh mahasiswa satu angkatan perkuliahan. Karena KI ini adalah mata kuliah wajib, berapa SKS yang dibebankan pada mata kuliah ini? Mata kuliah ini berjumlah 0 SKS, namun wajib diambil oleh seluruh mahasiswa Program Studi

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013

Kimia. Bagaimana dengan pembayaran kegiatan ini? Biaya seluruh kegiatan ini ditanggung sendiri oleh mahasiswa yang bersangkutan. Jadi, mengenai hal itu, untuk memilih industri-industri mana saja yang akan dikunjungi diserahkan kepada mahasiswa. Apakah mereka mau mengunjungi tempat yang dekat saja atau yang jauh. Tergantung pada budget mereka juga. Bagaimana jika mahasiswa mengalami kendala dalam pengadaan anggaran ini? Sejauh ini tidak ada yang mengalami, ya. Karena kami, pihak jurusan telah menyosialisasikan KI ini kepada mereka dari awal-awal, saat mereka memasuki tahun pertama perkuliahan. Dengan demikian, kami menganjurkan mereka untuk menabung agar tidak kesulitan mengikuti kegiatan ini nantinya. Melihat ini adalah mata kuliah wajib, kenapa tidak diberikan saja beban SKS? Jadi mata kuliah ini sudah ada dalam waktu yang lama. Pada dasarnya, mata kuliah di jurusan ini ada yang namanya Kimia Industri, Kunjungan Industri, dan Praktek Industri. Sebelum mengambil mata kuliah Praktek Industri, mahasiswa harus mengikuti kunjungan industri terlebih dahulu. Lagian, pada penerapan kurikulum baru matakuliah ini akan digabung menjadi satu menjadi Kimia Industri dengan 4 beban SKS. Kapan penerapan penggabungan itu diterapkan? Seharusnya pada tahun ini karena kurikulum baru itu bertahunkan 2013. Namun, hal itu kan tergantung pada pihak universitas, karena penerapan kurikulum harus diterapkan secara serempak. Namun, sepertinya dalam tahun ini belum bisa terlaksana. Apakah tujuan dari pelaksanaan KI ini? Untuk menunjukkan kepada mahasiswa bagaimana dan dimana penerapan ilmu kimia yang telah mereka pelajari secara langsung. Dengan demikian, mereka tidak akan mengalami kesulitan saat prakteknya waktu mereka mengambil mata kuliah Praktek Industri atau dikenal juga dengan magang. Sejauh ini apakah sudah bisa diwujudkan tujuan tersebut? Alhamdulilah, sejauh ini sudah tercapai. Karena hal itu dapat dilihat dari laporan yang mereka buat setelah mengikuti kegiatan ini. Bagaimana dengan follow up terhadap kegiatan KI ini? Follow up nya dengan menjadikan laporan KI sebagai persyaratan untuk mengajukan proposal penelitian dan untuk mengikuti ujian proposal nantinya. Bagaimana dengan kriteria tempat yang akan dikunjungi? Tentunya industri-industri yang ada hubungannya dengan kimia. Tapi, tak hanya sebatas industri saja. kami juga mengunjungi badan pemerintahan seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Apakah industri yang dikunjungi selalu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya? Tempat yang dikunjungi bisa saja sama dengan yang telah dikunjungi sebelumnya. Hal tersebut karena mahasiswa yang mengunjungi industri itu kan berbeda-beda setiap angkatannya. Seperti industri Semen Padang yang hampir tiap tahun kami kunjungi. Apakah industri yang akan dikunjungi ditentukan oleh pihak jurusan? Lokasi-lokasi yang akan dikunjungi dipilih oleh mahasiswa. Jadi mahasiswa harus membuat list tempat-tempat tersebut yang selanjutnya diserahkan ke pihak jurusan. Apabila pihak jurusan menyetujuinya, maka pihak jurusan akan menyerahkannya pada fakultas. Dari fakultas inilah nantinya akan dikeluarkan surat pernyataan berkunjung ke tempat-tempat yang terkait, bukan dari jurusan. Karena jurusan tidak bisa mengeluarkan surat kepada industri atau instansi yang akan

dikunjungi. Itu kan dari pihak fakultas. Selain mahasiswa, siapa saja yang ikut dalam kegiatan KI ini? KI didampingi oleh maksimal 4 orang dosen, dosen pembimbing mahasiswa, dan Ketua Prodi/ Ketua Jurusan. Kalau untuk pendamping ini, biayanya ditanggung oleh pihak jurusan. Apa sajakah peran para pembimbing yang ikut? Para pembimbing ini berperan untuk menjaga mahasiswa yang ikut tentunya. Tidaklah mungkin membiarkan segitu banyak mahasiswa ke tempat orang lain tanpa ada pengawasan. Agar mereka tetap tertib. Selain itu, para pembimbing ini juga membantu memberikan penjelasan ketika berada dilapangan. Selama berada dilapangan, tidak semua pemateri dapat menjelaskan apa yang belum diketahui mahasiswa. Jadi, dengan adanya pendamping seperti dosen ini, maka mahasiswa tidak akan merasa bingung. Kalau Bapak sendiri, mengikuti KI ini sudah berapa kali? Saya mengikuti KI ini sudah dua kali. Pertama pada tahun 2010 dan yang kedua pada tahun 2012. Saat itu peran Bapak berperan sebagai apa? Pada tahun 2010 saya berperan sebagai dosen. kalau tahun 2012 kemarin saya sebagai Pembina Himpunan Mahasiswa. Tahun terakhir, tempat-tempat apa saja yang dikunjungi dalam kegiatan KI? Terakhir, dalam rute kami ada Pekan Baru, Dumai, dan Batam. Kami mengunjungi diantaranya Indofood, Indah Kiat, Pertamina, dan Pabrik Sawit. Dalam KI ini kami juga mengunjungi jurusan kimia di universitas lain seperti Universitas Riau. Bagaimana dengan proses selama berada di lapangan? Di industri, biasanya mereka akan memperkenalkan terlebih dahulu kepada kami mengenai industri tersebut. Seperti pemberian teori mengenai proses-proses yang berlangsung di industri tersebut. Mereka akan menjelaskan mulai dari bahan mentah yang diperlukan, bagaimana proses pengolahannya, hingga menjadi sebuah produk. Selanjutnya, mereka akan membawa kita untuk melihat-lihat ke labornya, bagaimana proses kerjanya. Berapa lama rombongan KI ini berada

di sebuah industri tersebut? Hal itu tergantung industri yang menerima. Kirakira selama 2-4 jam. Biasanya, saat industri yang akan dikunjungi membalas surat pemberitahuan berkunjung ynag diberikan fakultas ini, pihak mereka juga mencantumkan waktu kapan kami bisa berkunjung kesana. Menurut pandangan Bapak, bagaimana dengan apresiasi mahasiswa yang ikut KI ini? Bagus. Karena banyak manfaatnya. Kegiatan ini kan bisa menambah ilmu dan wawasan mahasiswa. Selain itu pada KI ini biasanya mahasiswa juga akan bertemu dengan alumni yang bekerja di industri yang dikunjungi atau yang berada di kota dekat industri tersebut. dengan begitu, mereka bisa ngumpul-ngumpul sambil sharing juga berbagi pengalaman. Setahu Bapak, apakah ada mahasiswa yang kontra dengan keberadaan KI ini? Setahu saya tidak ada. tapi, kalau mendengar mahasiswa yang kekurangan dana sih ada. Mungkin dalam hal ini teman-teman mereka yang membantu bagi yang kekurangan dana ini, dengan meminjamkan uang mungkin. Bagaimana menurut Bapak tentang kekurangan dari KI ini? Kekurangannya ada pada biaya yang harus dikeluarkan. KI ini butuh biaya yang besar. Sementara itu, anggaran dari universitas untuk kegiatan ini tidak ada. Yang ada hanya untuk dosen saja. Anggaran yang disediakan untuk dosen itu pun tidaklah mencakup secara keseluruhan. Jadi, esensi KI itu sendiri seperti apa? Sangat penting. Karena manfaatnya sangat banyak, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. KI ini sangat berpengaruh terhadap keterampilan mahasiswa nantinya. Dengan adanya KI ini, pengetahuan mereka akan bertambah, terutama bagaimana dan dimana penerapan ilmu kimia yang telah mereka pelajari akan diaplikasikan nantinya. Bagaimana harapan Bapak untuk KI kedepannya? Saya berharap mudah-mudahan untuk KI selanjutnya ada subsidi dananya dari universitas. Selanjutnya, acara ini dikelola langsung oleh pihak fakultas atau universitas. jika dikelola langsung oleh pihak ini, maka kegiatan ini akan lebih baik tentunya, karena akan lebih banyak lagi tempat-tempat yang bisa dikunjungi dengan jumlah link yang semakin banyak pula.


8

Umum

Jika Anda mengalami masalah kesehatan, silahkan manfaatkan rubrik ini. Kirimkan surat tentang masalah Anda kepada pengasuh rubrik ini ke email Ganto, redaksiganto@gmail.com atau Gedung PKM UNP Ruang G 65 UNP. Setiap pertanyaan harap dilengkapi dengan identitas.

Variasi Sakit Kepala

Assalamualaikum wr wb Perkenalkan, saya RZ. Dua tahun belakangan, saya sering mengalami sakit kepala yang tidak biasa. Sakitnya muncul tiba-tiba dengan kondisi yang berbeda-beda. Terkadang, rasa sakit nya muncul ketika saya khawatir dan cemas karena terlambat datang ke kampus, berlari menuju kelas, kemudian melanjutkan aktivitas. Seterusnya, terkadang rasa sakitnya timbul karena kurang tidur atau terlalu lelah. Sakit tersebut kadang muncul diseluruh bagian kepala, atau dibagian atas kepala saja. Jika dibawa berbaring (tidur dengan posisi menelentang), maka rasa sakit tersebut akan pindah kebagian belakang kepala saja. Kemudian jika berbaring dengan posisi tubuh miring ke kanan, maka rasa sakitnya juga akan terasa dibagian kanan saja, begitu pula jika saya tidur berbaring dengan posisi tubuh miring ke kiri. Menurut bapak, penyakit apa yang sebenarnya saya derita? Apakah sakit kepala yang biasa dialami oleh orang lain atau mungkin adakah kaitannya dengan saraf? Dan bagaimana cara mengobatinya? Terima kasih. Wassalam. Waalaikumsalam Wr.Wb Hai RZ, Salam kenal. Pada dasarnya, semua kita pasti pernah mengalami hal yang sama seperti keluhan yang anda rasakan. Tergantung dari kualitas misalnya berdenyut/nyeri, sakit hanya sebelah kepala, bahkan ada sampai memukul kepala untuk menghilangkan nyeri. Selain kualitas tergantung juga kuantitasnya apakah terjadi setiap hari, atau timbul pada saat tertentu. Sakit kepala memiliki variasi dan tidak bisa diatasi dengan cara yang sama untuk masing – masing jenisnya. Macam – macam sakit kepala, antara lain : 1. Ketegangan (tension headache) Gejala yang sering dikeluhkan adalah rasa sakit pada umumnya dimulai dari belakang kepala, dan kemudian menjalar ke arah depan kepala. Perasaan khawatir/kecemasan, kurang tidur/kelelahan, sering menimbulkan sakit kepala jenis ini. Mengatasinya dengan cara melakukan perubahan pada lifestyle terutama pada pola makan dan olahraga, relaksasi fisik dan pikiran. Umumnya sakit kepala ini terjadi dalam hitungan jam hingga harian. 2. Sakit kepala sebelah (migraine) Secara umum migraine atau sakit kepala sebelah ini bisa disebakan oleh aktivitas otak yang tidak normal dan menyebabkan pembuluh darah yang menuju ke otak mengalami perubahan. Sakit kepala jenis ini menyerang hanya satu bagian kepala saja. Cara mengatasinya adalah dengan pengobatan dan istirahat, apabila migraine bertambah berat bila terkena cahaya, untuk sementara waktu menghindari cahaya. Sakit kepala ini terjadi dalam hitungan harian. 3. Sakit kepala campuran (mixed migraine-tension) Gejala yang timbul biasanya bercampur antara keluhan tension dan migraine. Sakit kepala yang dimulai dari bagian leher hingga merasakan sakit di kepala sebelah. Biasanya terjadi karena perubahan hormone, faktor makanan, lingkungan dan stress. Cara mengatasi sakit kepala jenis ini adalah mengenali dan mengidentifikasi pemicu terjadinya, misalnya jika pemicunya adalah makanan maka anda harus membatasi makanan yang menyebabkannya. 4. Sakit kepala yang berlebihan (Cluster headache) Sakit kepala jenis ini bisa dikatakan jenis sakit kepala yang dasyat. Biasanya sakit yang disertai dengan rasa terbakar dan rasa tertusuk – tusuk. Terjadi 2 – 3 x dalam sehari dan bertahan sampai 2 mingguan. Cluster headache termasuk jenis sakit kepala yang sulit disembuhkan, namun pengobatan mampu mengurangi sakit kepala, disertai juga dengan atur pola makan. 5. Sakit kepala akibat adanya penyakit lain Sakit kepala jenis ini timbul akibat adanya penyakit lain seperti sinusitis. Gejalanya biasanya diiringi dengan rasa sakit pada tulang pipi, dahi dan hidung. Penyakit lainnya yang sering di iringi dengan sakit kepala adalah caries dentis (gigi berlubang). Cara mengatasi sakit kepala jenis ini adalah melakukan pengobatan terhadap penyakit utamanya. Sakit kepala yang terjadi hingga berbulan – bulan, dan tidak berkurang dengan pengobatan harus segera di lakukan pemeriksaan lanjutan seperti CT-scan kepala. Pada saat seseorang mengalami sakit kepala, maka sesungguhnya yang terjadi adalah otak mengalami Hipoksia (kekurangan oksigen). Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, contohnya : kurang lancarnya suplai / aliran darah yang dipompakan oleh jantung ke organ tubuh yang terletak dibagian atas (kepala) dari tubuh seseorang. Apabila aliran darah terhambat, secara otomatis oksigen akan berkurang dari biasanya di bagian kepala. Sirkulasi darah yang lancar akan mengakibatkan oksigen dalam tubuh tercukupi. Cara – cara mengatasi sakit kepala secara umum antara lain : 1. menghindari stressor (penyebab)nya 2. Merelaksasikan otak 3. Istirahat yang cukup 4. Mengatur pola makan 5. Melakukan pengobatan Meminum obat – obatan tanpa pengawasan dokter tidak dibenarkan lebih dari 2 hari, apabila dalam jangka waktu tersebut tidak berkurang, segera konsultasikan dengan dokter anda. Terima kasih, salam sehat

Penggunaan Internet Berlanjut Penyalahgunaan Tak bisa dipungkiri, kehidupan masa kini\ Selain itu, ada pengharapan tersendiri sudah beralih ke masa serba canggih, cepat, dari penulis nantinya, yaitu diiringi dan berbasis ICT. Salah satunya penggunaan dengan pendidikan religius, tepatnya internet. Kecanggihan dan pemanfaatan internet dalam penggunaan internet yang sebatas ini bukanlah hal yang baru. Dari berbagai versi kebutuhan pengguna saja, bukan tulisan ‘Pengaruh teknologi terhadap berbagai penyalah-gunaannya. Menjadi generasi aspek kehidupan’ sudah menjadi pembahasan yang gemar meramaikan mesjid atau bagi segala lapisan, baik secara kebetulan tempat-tempat ibadah agama masingmaupun dibahas dalam bentuk komunitas masing akan mengefektifkan waktu ataupun forum-forum umum dan formal. senggang pelajar. Dengan ini, kelak Menurut penulis, zaman high tech generasi penerus bangsa tidak akan menuntut setiap orang harus serba ber-internet, terjerumus kedalam penyimpangan sebab internet berperan sebagai pusat penelusur norma-norma, tetapi mencetak generasi informasi dan menyediakan kemudahan yang yang mampu mengembangkan dan besar dalam berbagai pekerjaan. Faktor lain, memajukan bangsa. Untuk mewujudkan hal tersebut, dunia maya tanpa batas ini bermanfaat luar biasa seperti ajang berbisnis. Ini tentu akan tentu membutuhkan kerjasama dan memudahkan dan menghemat biaya bagi dis- kemauan yang lebih dari segala pihak tributor maupun konsumen, karena sudah seperti orang tua, guru, pemerintah, disediakan toko online. Positif lain, internet juga masyarakat dan individu. Sebagai orang digunakan ulama untuk bertausiah atau tua yang menjadi figur utama anak, memberikan pembelajaran tentang agama pada hendaknya peduli akan perkembangan publik, tujuannya tidak lepas untuk me- dan lingkungan anaknya. Ketegasan dan ningkatkan keimanan dan ketaqwaan masyarakat. kefleksibelan dalam mendidik menjadi Tidak hanya itu, promosi keindahan alam pun keharusan setiap orang tua. Maksudnya dapat disuguhkan melalui website, hal ini tentu apabila si anak berprilaku melanggar dan akan menarik wisatawan dan meningkatkan menyimpang dari asusila maka diberikan kapita daerah maupun negara. Penggunaan sanksi yang bersifat edukatif, sehingga berbagai jejaring sosial pun tinggal menikmati sanksi yang diterima anak bermanfaat saja, seperti facebook, twitter, myspace dan bagi dirinya dan tidak mengulang lainnya. Media ini dapat menghubungkan manusia dari berbagai belahan dunia, baik untuk saling kenal, bertemu sahabat lama, silaturrahim, bahkan sebagai ajang pencari jodoh. Selain itu, berbagai profesi pun tak dapat lagi dipisahkan dari teknologi. Contohnya profesi jurnalis, internet adalah induk dari segalanya, terlambat saja menyampaikan informasi atau berita terkini, Grafis: Jefri media tersebut akan dipandang sebelah mata, sebab ia menyampaikan informasi yang tidak up to date atau sudah basi. Hal inilah yang dihindari semua media cetak maupun elektronik. Berkat internet, setiap media dapat menyajikan berita dalam hitungan detik dengan bermacammacam peristiwa, baik ditingkat lokal, nasional, maupun Internasional. Ketidakterbatasan pemakaian internet juga menjadi ajang penipuan bagi pihak pencari keuntungan, seperti belanja online. Tak semua dapat dipercaya, kadang barang yang kesalahan yang sama. Selanjutnya, bimbingan guru atau dikirim ke pembeli kerap tak sesuai dengan yang diunduh seller-nya. Perkenalan di jejaring sosial lembaga pendidikan terkait harus lebih pun acap terjadi penipuan, yang akhirnya cerdas lagi dalam menyiasati penggunaan merugikan sebelah pihak. Tradisi copy-paste internet bagi siswa. Bila akses internet atau dikenal plagiarisme menjadi trend pelajar diluar sekolah dapat diminimalisasi, maka sekarang. Begitupun dalam kepentingan agama, sekolah hendaknya menyediakan dan saling menghujat, serta mengukutuk, dianggap memanfaatkan ICT dengan memblokir lebih mujarab karena bisa dilihat oleh siapapun. seluruh situs-situs yang tidak ada Belum lagi masalah kebebasan meng-obral hubungannya dengan dunia pendidikan. keindahan tubuh secara aman dan terkendali. Hal ini bertujuan untuk menghindari Ini menjadi pemicu pornografi pada semua jenis penyalahgunaan internet. Sebab, Fasililitas usia. Hal tersebut tak dapat diselesaikan dengan yang disediakan sekolah bertujuan agar hanya memblokir situs-situs tertentu. Toh, siswanya tidak lagi gagap akan teknologi masih banyak akses dan penyedia laman terkait bukan untuk menyalahgunakannya. Setiap yang tetap eksis di situsnya masing-masing. kelas pun sudah ada mata pelajaran TIK Terlebih dunia sensasional dan segala lakonnya yang menuntun para siswa dalam pemakaian komputer maupun teknologi. menjadi tujuan utama ia memakai internet. Peran aktif dan dukungan pemerintah Generasi muda sebagai pemangku masa depan bangsa dan negara, hendaklah mampu menjadi poin utama dalam menentukan membentengi dan mem filter diri dari upaya pemanfaatan internet. Pemerintah penyimpangan penggunaan internet. Meng- seharusnya lebih serius dan peduli gunakan rasionalitas dalam menggunakan terhadap pemblokiran situs-situs yang berbau pornogarafi, pornoaksi dan internet menjadi keharusan setiap individu. Menurut penulis, penggunaan internet di berbagai bentuk perjudian online, yang Indonesia adalah pengguna generasi yang cakap menjadi faktor utama dari pengaruh internet, yaitu generasi yang cerdas, terampil, perkembangan anak. Permasalahan ini tangkas, cepat, dan berdaya saing global, sekaligus bukanlah sepele, bila dalam perkemmawas internet (selektif, protektif, kritis bukan bangan anak sudah terjadi tindak asusila, maniaknya). Ini terbukti dengan kemampuan bagaimana pula dengan penerus bangsa pelajar Indonesia yang mampu menciptakan ini selanjutnya. Walaupun sekarang ada beberapa mobil, robotik, sepeda motor, laptop, dan masih banyak lagi alat elektronik yang dihasilkan peraturan, namun tetap saja akses penelusur situs terlarang masih bisa pelajar Indonesia.

Mimi Herman Lahir di ALahan Panjang, 6 Februari 1993 lalu. Disamping menimba ilmu di Jurusan Kimia UNP, mahasiswa yang sedang duduk di semester 4 ini juga merupakan Sekretaris Umum Ikatan Himpunan Mahasiswa Kimia Wilayah Sumatera. Motto: Berprestasi akademik dan non akademik dengan menyeimbangkan IPTEK dan IMTAQ. Jika ingin berkomunikasi dengannya, pembaca bisa memanfaatkan situs jejaring sosial: Facebook: Mimi Yeni

dilakukan. Sebab itu, diharapkan adanya peraturan tertulis dalam perundangundangan mengenai aksi kejahatan penggunaan internet dalam bentuk apapun dengan memberi sanksi. Adanya peraturan ini, akan lebih sedikit lagi penyalahgunaan internet. Keikutsertaan masyarakat juga diharapkan dengan mengawasi kegiatan kegiatan di warnet sekitar. Hal ini cukup efektif jika pemilik warnet mendesign tempatnya tidak menggunakan kamarkamar yang membatasi pengguna sehingga kemungkinan penggunan mengakses situs-situs terlarang akan semakin kecil. Alangkah baik lagi, jika pemilik warnet menutup sementara tempatnya ketika waktu shalat masuk. Pendidikan tertinggi, mahasiswa tentu sudah tahu banyak mengenai hal ini, baik itu sebagai sebab maupun akibat dari penyalahgunaan teknologi. Penulis sangat berharap pada para agent of change ini selain memfilter dirinya, juga ikut ambil andil melindungi orang-orang disekitarnya. Poin terpenting adalah keinginan yang kuat dari dalam diri setiap generasi muda untuk membentengi dirinya, agar dapat menjadi divide dalam menggunakan internet ataupun menyelamatkan masa depan diri sendiri, bangsa, dan agama. Kesadaran baik dan buruknya seseorang dimasa depan tergantung baik buruknya dimasa sekarang. Setiap individu harus menyadari bahwa tidak akan ada yang bisa menyelamatkan dirinya kecuali ia sendiri, seperti pepatah: sesayangsayangnya orang tua tidak selamanya ia ada, sesayang-sayang saudara kandung tak akan terkemas, ia punya tanggung jawab pula, sekaya-kayanya manusia, lambat laun harta itu akan habis . Tidak ada yang menjadi penolong setia, penolong setia berawal menjadi penolong bagi diri sendiri. Jika setiap individu berpikir demikian maka bangsa ini akan maju, sebab setiap orang sudah berhasil menolong dirinya, tahap selanjutnya tentu menolong kemajuan bangsa, diiringi dengan dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi. Nah, terwujudnya generasi Indonesia sebagai generasi yang cakap dan mawas Internet, tak lepas dari perhatian masyarakat, kerja sama dan kesepakatan dalam diri setiap individu menjadi poin utama, bila sudah disepakati bersama, generasi ini tentu akan memanfaatkan fasilitas internet demi kepentingan dan perubahan perbaikan Indonesia kedepannya.

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


9

Pendidikan

Bahasa Inggris; Nilai Plus Peninggalan Program ISTE Mahkamah Konstitusi (MK) telah menghapus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang berada di sekolah-sekolah pemerintah, karena dianggap bertentangan dengan UUD. Namun yang masih dibahas sekarang, adalah bagaimana kelanjutan kelas Program Pendidikan Guru MIPA Bertaraf Internasional (PPGMIPABI) atau kelas ISTE? Sebab program ini telah dikelola oleh puluhan perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UNP. Terlepas dari keputusan MK, maka tulisan ini menyinggung aspek urgensi bahasa Inggris yang menjadi penciri utama RSBI dan kelas khusus PPGMIPABI di Perguruan Tinggi. Bahasa Inggris digunakan sebagai pengantar dalam aktifitas pembelajaran (medium of instruction). Medium of instruction berarti, bahasa yang dipakai dalam pembelajaran. Indonesia berbeda dengan negara lain yang sudah memakai Bahasa Inggris sebagai pengantar pendidikan seperti Malaysia, Singapura, Pakistan, India, Saudi Arabia, bahkan Ethiopia. Globalisasi telah membuat dunia menjadi tak berbatas. Medium komunikasi lintas geografis dibutuhkan, berupa bahasa internasional yang disepakati bersama. PBB mengakui lima bahasa resmi yang dianggap sebagai bahasa internasional, yaitu Bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Spanyol, Rusia, dan Perancis. Namun, tetap saja bahasa internasional dunia yang paling sering digunakan adalah bahasa Inggris. Ini tak lepas dari peran Amerika Serikat dan Inggris yang kini masih menjadi negara super power dan tempat berkantornya PBB. Lingua Franca (bahasa Latin) adalah sebuah istilah linguistik yang artinya adalah “bahasa pengantar” atau “bahasa pergaulan” disuatu tempat dimana terdapat penutur bahasa yang berbeda-beda. Bahasa Inggris sudah termasuk kedalam lingua franca ini. Pemakaian bahasa Inggris meliputi banyak aspek. Wisatawan lazim menggunakan bahasa Inggris untuk dapat berkomunikasi dengan warga negara asli yang dikunjunginya. Dalam dunia transportasi udara dan laut bahasa Inggris dipakai, karena mustahil kalau para pilot dan syahbandar dan petugas menara pengendali harus menguasai seluruh bahasa di dunia ini. Tulisan dan manual alat elektronik dalam bahasa Inggris, termasuk obat-obatan dan makanan serta benda lainnya yang menjadi komoditas ekspor-impor. Bahasa Inggris juga merambah dunia pendidikan. Keterampilan bahasa Inggris yang dimiliki mahasiswa akan menolong ia untuk mengakses halhal yang selama ini tidak ada dalam sumber pembelajaran lokal, dan memudahkan dalam mengembangkan wawasan pengetahuannya dengan

memberikan akses pada pengetahuan yang ada di luar Indonesia. Sumber pembelajaran kini telah terbuka lebar dengan teknologi ICT (internet). Topik apa saja telah tersedia di dunia virtual. Mau ‘kuliah’ di universitas top seperti Massechuset Institut of Technology Amerika pun bisa, secara virtual. Tapi segala akses kemudahan sumber belajar yang bersikulasi di dunia maya ini memerlukan bahasa Inggris. Seperti buku, menjadi sumber belajar utama, karena buku terjemahan sangat terbatas, sementara buku karangan lokal minim akan jumlah dan cakupan topiknya. Keterbatasan finansial untuk membeli buku cetak bisa diatasi dengan membaca buku elektronik (e-book). Nah, buku-buku teks dan buku ajar dalam bentuk e-book yang banyak dan gratis dari berbagai disiplin ilmu bertebaran di internet tapi dalam bahasa Inggris. Akan sangat repot bila seorang peneliti (mahasiswa, dosen) memulai penelitian tanpa ditunjang jurnal internasional berbahaa Inggris yang berisi

temuan terkini. Contoh jurnal internasional seperti Sciencedirect, Nature, Science, ACS, RSC, dan sebagainya. Jurnal nasional pun ditulis dengan bahasa Inggris untuk meraup penulis dari mana saja serta untuk memperoleh akreditasi. Dalam batas minimal, abstract dari artikel yang ditulis mahasiswa level sarjana juga harus pakai bahasa Inggris.

Sumber belajar lain seperti penuntun praktikum, video pembelajaran, manual penggunaan instrumen, slide powerpoint, kuis, kuliah online, dan sebagainya bertaburan di dunia maya yang umumnya berbahasa Inggris. Apabila ada buku yang terbit dalam bahasa non-Inggris, maka terjemahan bahasa Inggris pun pasti langsung dibuat dan dipasarkan, contohnya buku-buku populer Harun Yahya (Turki). Beasiswa studi luar negeri juga banyak, tapi tentu mempersyaratkan bahasa Inggris berupa angka TOEFL. Demikian pula halnya program pertukaran pelajar ( student exchange) ataupun kuliah singkat (short course) ke universitas luar negeri. Bahkan studi lanjut dalam negeri pun menghendaki angka TOEFL tertentu. Setelah lulus sarjana juga perlu bisa bahasa Inggris, k a r e n a pelamar untuk posisi yang bagus di perusahaan dites melalui interview oleh ekspatriat atau berupa nilai kemampuan bahasa Inggris berupa TOEIC. Ini karena Grafis: Jefri perusahaan besar banyak memperkerjakan tenaga kerja dari berbagai negara. Keterampilan berbahasa ini bukan hanya untuk karir tetapi juga untuk dapat mengejar kesempatan di luar negeri. Gaji di Indonesia dan di luar negeri jauh berbeda dan lowongan kerja itu juga ada di luar negeri. Sebenarnya, kesadaran pentingnya berbahasa asing ini telah disadari oleh pemerintah dan juga orang tua. Tapi ada yang perlu direnungi, kenapa animo yang tinggi berbeda dengan hasil yang diperoleh. Besarnya animo untuk belajar bahasa Inggris telah membuat pengetahuan ini menjadi sebuah komoditas bisnis, seperti berdirinya Lembaga Bahasa LIA, ELS, Oxford, BBC, English First, serta

Miftahul Khair, S.Si, M.Sc lahir di Kamang, 12 September 1977. Disamping menjadi staf pengajar di Jurusan Kimia UNP, ia juga mengampu mata kuliah program ISTE. Motto Hidup: manusia terbaik adalah yang memberikan manfaat untuk orang lain Email: miftah_unp@yahoo.com

beragam Lembaga TOEFL. Orang tua mengirim anaknya ke lembaga-lembaga kursus walau berbiaya mahal. Di sekolah telah dimulai pelajaran bahasa Inggris semenjak SD. Tapi kenapa setelah kuliah (yang berarti sudah 12 tahun belajar bahasa Inggris) sebagian besar mahasiswa masih kesulitan berbahasa Inggris? Mungkin hal ini disebabkan karena bahasa ini belum digunakan sebagai ’Medium of Instruction’. Tidak ada kelas khusus yang secara total berbahasa Inggris. Sementara banyak negara-negara di Asia dan lainnya telah menggunakan Bahasa Inggris sebagai ’Medium of Instruction’. Di Belanda level master seluruhnya pakai Bahasa Inggris. Di Saudi Arabia level sarjana sudah menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar kuliah. Nah, nampaknya inilah ‘yang tersisa’ dari RSBI atau program PPGMIPABI yang mungkin untuk dilestarikan, yaitu menggunakan Bahasa Inggris sebagai medium of instruction dalam perkuliahan. Seperti yang telah berlangsung selama ini di kelas ISTE dimana dosen mengajar, mahasiswa berkomunikasi dengan dosennya, tugas, ujian, buku, dan semuanya dalam bahasa Inggris Sebagai penutup, penulis mencoba menelusuri kemampuan berbahasa dari orang Minang yang hebat pendiri republik ini: M. Natsir menguasai minimal lima bahasa (Inggris, Belanda, Yunani, Arab, Perancis, Jerman), Bung Hatta menguasai bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman, dan Haji Agus Salim menguasai tujuh bahasa asing (Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang). Bagaimana dengan kita?

Jika Anda mengalami masalah Psikologi, silahkan manfaatkan rubrik ini. Kirimkan surat tentang masalah Anda kepada pengasuh rubrik ini ke email Ganto, redaksiganto@gmail.com atau Gedung PKM UNP Ruang G 65 UNP. Setiap pertanyaan harap dilengkapi dengan identitas.

Diasuh oleh Niken Hartati, S.Psi, M.Psi, Psi, Assakamualaikum Wr Wb Saya mau bertanya kepada Ibu pengasuh rubrik konsultasi psikologi SKK Ganto. Begini buk, saya agak sensitif dengan benda-benda tajam. Kadangkala misalnya saat saya melihat pisau, pikiran saya mendadak menjadi “liar”. Saya berfikiran jika saya tusukkan pisau itu pada orang lain apa yang akan terjadi pada saya. Lalu contoh lainnya, saat saya berjalan lalu di depan saya ada seseorang yang membawa benda tajam, misalnya mesin pemotong rumput, saya secara reflex akan pergi ke sebrang jalan karena terlintas saja dalam fikiran saya orang itu akan melukai saya. Apakah kondisi seperti ini kelainan psikologi Buk? Mungkinkah suatu hari kelainan ini akan mencapai klimaksnya? Apakah akan membahayakan saya? Bagaimana cara menyembuhkan nya Buk? Sekian saja. Terimakasih atas jawaban Ibuk. FW, Mahasiswa FMIPA UNP Wa’alaikum salam wr.wb. Nanda FW, pertama-tama saya akan mendeskripsikan proses berpikir nanda kemudian menelaah kemungkinan penyebab terjadinya kondisi tersebut, baru kemudian saya akan memberi pertimbangan cara untuk mengatasinya.

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013

Sensitif Benda Tajam

Secara umum, manusia akan memproses stimulus (berupa informasi dari lingkungan) setelah diseleksi terlebih dahulu. Proses seleksi tersebut sangat dipengaruhi dengan kondisi-kondisi internal individu. Sensitivitas Nanda terhadap benda-benda tajam kemungkinan besar terjadi secara reflex dipengaruhi oleh sistem insting dasar yang sifatnya primitif, yaitu agresi. Pada dasarnya setiap respon yang sifatnya reflex secara perlahan akan menghilang seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman individu yang membuktikan bahwa reaksi tersebut tidak selalu benar. Maksudnya, adalah wajar jika kita menghubungkan benda-benda tajam dengan perilaku agresi, atau berpotensi menjadi korban agresi, sehingga reaksi kita menghindarinya. Namun bukankan sepanjang kehidupan Nanda telah banyak melihat benda tajam dan tidak semua melibatkan perilaku agresi? (kecuali memang pernah mendapatkan pengalaman traumatis sebelumnya terkait kekerasan menggunakan benda tajam). Sehingga seharusnya Nanda telah belajar untuk tidak menghubungkan benda tajam dengan risiko terjadinya agresi. Kesimpulannya, masalah yang terjadi pada Nanda adalah ketidakberhasilan memutuskan hubungan antara stimulus (benda tajam) dengan reaksi reflex primitifnya (agresi).

Alih-alih memutuskan reaksi reflex, menguatnya hubungan antara benda tajam dan agresi kemungkinan besar dipengaruhi oleh beberapa perilaku yang Nanda lakukan. Misalnya sering mengakses informasi terkait kekerasan, seperti menonton film-film bertema agresi, membaca beritaberita kekerasan dan atau pembunuhan, atau menyaksikan penyembelihan binatang dan sebagainya. Perilaku-perilaku semacam itu justru mengembangkan imagery visual (gambarangambaran pikiran) yang membuat hubungan antara benda tajam dan agresi menjadi semakin erat, dan menambah sensitivitas nanda terhadap semua stimulus yang berhubungan dengan benda tajam. Jika diibaratkan satu buah pikiran sebagai koneksi antara dua buah neuron, maka yang terjadi pada Nanda ialah aktifnya satu kompleks neuron secara parallel untuk satu buah stimulus. Selain membuat pemutusan hubungan antara benda tajam dan agresi menjadi tidak mudah dilakukan, hal tersebut juga wujud dari pemborosan kinerja otak Nanda. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengurangi aktivitas pikiran Nanda. Cara pertama dengan teori asosiatif, dapat dilakukan dengan membuat hubungan baru antara benda tajam dengan pengalaman yang positif. Contoh

perilakunya ialah : dekati betul benda tajam, misalnya pisau kemudian hubungkan dengan manfaat positifnya seperti membantu manusia memotong buah-buahan, membuat patung dengan cita rasa seni yang tinggi, atau pikiran apapun yang jauh dari agresi. Ulangi terus menerus hubungan antara benda tajam dengan hal-hal positif tersebut sampai pikiran refleksnya menghilang. Cara kedua, menggunakan teori lupa, ialah dengan menambah jumlah informasi non agresif yang berguna bagi diri Nanda. Jika Nanda memperbanyak mepelajari hal-hal lain (misalnya mengembangkan pengetahuan yang dibutuhkan dalam perkuliahan, mengerjakan tugas dengan serius, berusaha menguasai suatu keterampilan tertentu, memperhatikan kebutuhan orang lain di sekitar Nanda, memikirkan cara berbakti pada orangtua dsb.) maka otak nanda akan sibuk membuat koneksi-koneksi baru sehingga dengan sendirinya koneksi antara benda tajam dan agresi, yang sifatnya primitif, akan berkurang prioritasnya (terlupakan) sehingga Nanda tidak lagi terlalu sensitif pada benda tajam. Menurut saya, cara kedua lebih bermanfaat bagi Nanda, meskipun membutuhkan usaha dan kerja yang lebih keras. Selamat mencoba.


10

Liputan Khusus

Cerita Nelayan di Muaro Padang Oleh Jefri Rajif dan Novi Yenti

Siang itu, Romi seorang nelayan di kawasan Muaro Padang, tengah bersantai di bawah pohon yang tak jauh dari tepian dermaga tempat kapalnya berlabuh. Ia bersama dengan empat orang temannya yang lain tengah berbincang-bincang sembari melepas penat setelah kembali dari melaut. “Indak basuo modal kapatang lai doh,” keluh Romi memulai percakapan siang itu. Romi yang baru saja pulang melaut merupakan nelayan yang bertempat di perkampungan nelayan Muaro Padang. Hasil tangkapan Romi saat itu cuma 300 kg, jika dihitung penghasilan kotornya sekitar lima juta rupiah bisa dikantongi. Namun, uang tersebut nantinya harus dibagi lagi untuk pengeluaran lainnya seperti perbaikan kapal, membayar hutang sebelum melaut, bagi hasil dengan pemilik, ketua kapal dan nelayan lainnya yang juga ikut melaut. Dari bagi hasil tersebut, satu orang kira-kira hanya kebagian lima ratus biru rupiah saja. “Rugi, dari lapan juta modal awal, hanyo limo juta pulang ka ambo,” keluh Romi, Minggu (10/2). Modal delapan juta yang diceritakan Romi itu digunakan untuk keperluan sebelum berangkat melaut. Kebutuhan yang akan dipenuhi itu seperti bahan bakar kapal (solar), ransum (makanan selama 15 hari melaut), uang untuk keluarga yang ditinggal, balok es serta dana tak terduga.. Masalah tidak kembalinya modal ini membuat nelayan dikawasan Muaro Padang kebanyakan berhenti melaut. Selain masalah keuangan, Romi dan temannya mengaku kesulitan dalam mendapatkan bahan bakar solar. Untuk mendapatkan solar, nelayan harus melapor terlebih dahulu kepada Dinas Perikanan agar dapat kupon yang digunakan dalam transaksi pembelian solar di SPBU. “Tidak itu saja, lokasi penyedia solar yang semakin jauh menambah beban ongkos nelayan,” tambah Hamdani, salah seorang rekan Romi yang turut berkumpul.. Bicara mengenai kesulitan yang dirasakan

Romi dan berapa rekannya, membuat pertanyaan mengenai bagaimana koordinasi nelayan Muaro Padang dengan organisasi dan instansi yang berkaitan dengan pekerjaan mereka ini. Merujuk pada sektor pertanian banyak sekali yang membuat petani berhasil, salah satunya adalah koordinasi antara pemerintahan, dinas terkait dan organisasi masyarakatnya. Ternyata, tak terjalin koordinasi yang baik dalam organisasi nelayan di Muaro yang bernama HNSI (Himpunan Nelayan SeIndonesia). Apalagi dengan pemerintah setempat seperti kelurahan dan Dinas Perikanan Sumatera Barat (Sumbar) sekalipun. “Kami memang punya ikatan organisasi semacam itu, tapi kurang tampak geliatnnya,” ujar hamdani. Menurut Hamdani, nelayan di Muaro benarbenar dibiarkan lepas tanpa ada koordinasi dan pantauan dari pihak terkait. Hamdani merasa seharusnya pihak terkait seperti Dinas Perikanan harus turun ke lapangan melihat kondisi nelayan. “Sejauh ini kami tidak menemukan hal yang demikian itu,” keluhnya. Koordinasi yang dinilai kurang bagus ini membuat Edi, nelayan asal Kambang, Pesisir Selatan, bersama empat orang temannya pindah ke Padang untuk melaut dan berharap mendapatkan hasil yang lebih baik. Ternyata setelah empat hari di Padang dan melaut, hasil tangkapannya juga tidak membaik. Menurut Edi, Dinas Perikanan dan Kelautan kurang perhatian terhadap nelayan kawasan Padang khususnya. Edi merasa dirugikan karena Dinas Perikanan dan Kelautan membiarkan nelayan dari luar daerah seperti Sumatra Utara dan Bengkulu memasuki laut territorial Sumbar, seperti kawasan perairan Mentawai. “Padahal kalau awak yang masuk ke perairan mereka itu dilarang, bahkan ditangkap. Tapi ini dibiarkan saja,” jelas Edi. Selain itu Edi menambahkan, bahwa kapal dari luar daerah Sumbar tersebut juga menggunakan perlengkapan menangkap ikan yang lebih lengkap dari nelayan di Padang pada umumnya. Mereka menggunakan Pukat, sedangkan nelayan Padang masih mengandalkan benang nilonepancing untuk menangkap ikan, sehingga hasil tangkapan mereka

Berlabuh: Kapal-kapal nelayan sedang berlabuh di dermaga Muaro Siti Nurbaya, Kamis (22/2). Sebagian kapal ini ada yang melaut sore dan malam hari. f/Jefri.

lebih banyak dibanding hasil tangkapan nelayan Muaro Padang. Suatu kejadian yang menurutnya lebih menyedihkan lagi, ketika Edi dan kawan-kawan tidak mendapatkan ikan, kapal dari luar yang mendapatkan ikan dengan jumlah berton-ton membuang begitu saja ikan yang sudah terletak lama dan busuk dalam kapal mereka. “Tambah susah kami dibueknyo,” ungkapnya. Edi beserta temannya yang lain berharap ada tindak lanjut nyata yang dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Sumbar untuk hal ini. “Agar kesejahteraan nelayan ini dapat juga diperhitungkan,” tutupnya. Bak menemukan dua sisi mata uang, Andi (39 tahun), salah satu nelayan yang bekerja menyiapkan segala kebutuhan kapal yang hendak melaut, mengatakan tak ada masalah dari pihak nelayan. Saat dikonfirmasi mengenai kesulitan mendapatkan

solar, Andi mengaku memang harus mengurusi surat izin terlebih dahulu. Surat yang di ajukan kepada Dinas Perikanan dan Kelautan ini kemudian akan digantikan dengan kupon untuk membeli solar ke SPBU. Harga solar masih dikisaran yang stabil serta tak ada pembatasan dalam membeli solar. tergantung berapa kebutuhan di kapal. “Seperti ini, 2,5 drum solar untuk 15 hari,” ujar Andi, Sabtu (23/2) sambil mengangkat jerigen solar dan menuangkannya ke dalam tangki kapal. Menurut Andi, nelayan di sekitar Muaro dan Bunguih memang memiliki ikatan organisasi nelayan. Hanya saja yang menjadi anggota aktif organisasi tersebut hanyalah para pemilik kapal. Biasanya diskusi dan tinjauan lapangan hanya dilakukan disekitaran pantai Bunguih. “Kadang mereka ke lapangan, nelayan tak sedang di tempat,” terangnya.

Dunia Skateboarder di Gerbang Dua UNP Oleh Ismeirita

Sore itu matahari mulai beranjak keperaduannya. Terik sore membiaskan cahaya tanpa mengesankan panas. Berjalan dari kejauhan sudut kampus Universitas Negeri Padang (UNP), tampak sekelompok mahasiswa tengah asyik dengan sebuah permainan. Keringat pun telah mengalir dari pelipis. Papan persegi panjang dengan kedua ujungnya membentuk setengah lingkaran mengalasi kaki pemainnya. Secara bergantian seolah papan itu menjadi “piala bergilir”. Itulah mereka dengan papan skateboard kegemarannya. Komunitas ini bermain di depan gerbang dua UNP yang sudah lama tidak dioperasikan. Di tengah euforia skateboarder (sebutan untuk pemain skateboard) dalam bermain, seorang yang dituakan dan dianggap inspirer, sedang duduk memperhatikan kawan-kawannya. Inspier itu bernama Rizki Adi Mulya, Mahasiswa Administrasi Pendidikan TM 2007. Rizki mengaku sudah lama “menari” dengan skateboard dan mencintai permainan ini. “Saya bergabung dengan komunitas ini pada pertengahan tahun 2007, karena dulu saya juga biasa main skateboard di Payakumbuh,” tuturnya, Selasa (26/2). Sampai sekarang Rizki masih tetap setia dengan rutinitas yang sering dilakukannya pada sore hari ini. Dalam komunitas ini didominasi mahasiswa UNP sebagai anggota. Meskipun begitu, Rizki mengungkapkan komunitas ini tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa UNP saja. Siapa pun yang ingin bergabung, bisa datang dan mengikuti latihan. Menjadi anggotanya juga tak perlu persyaratan khusus, Rizki mengatakan bahwa komunitas ini bersifat “Freedom”. Dikatakan freedom karena mereka mencintai sesuatu hal yang bebas dan tidak terikat dengan apapun. Komunitas ini berlokasi di UNP Handicraf Center (UHC) di belakang kantor Balai Bahasa UNP. Menurut cerita Rizki, komunitas ini lahir

dilatarbelakangi adanya inisiatif beberapa mahasiswa untuk menyalurkan hobi mereka. Awal terbentuknya pada tahun 2004. Pada saat itu Abdi, mahasiswa Fakultas Teknik (FT) sering memainkan papan skateboardnya dan berkeliling kampus sendirian. Seminggu, dua minggu dan minggu-minggu selanjutnya Abdi masih setia dengan aktivitasnya. Melihat Abdi yang enjoy dengan kegiatannya ini, membuat Putra, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) TM 2006 tertarik untuk melirik permainan Abdi. Meskipun Putra kerap mengisi waktu sorenya dengan mengayuh sepeda BMX nya, Ia tak segan untuk memilih bergabung dengan Abdi. “Dari pertemuan mereka, terbentuklah komunitas Skateboarding kampus selatan yang didominasi mahasiswa FT daan FBS, jelas Rizki. Seiring dengan berjalannya waktu, pada pertengahan tahun 2007 Komunitas Kampus Selatan ini pindah tempat latihan dari area FBS ke gerbang dua UNP yang bersebelahan dengan Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Pada tahun 2008, komunitas ini mulai dilirik dan bertambah anggota. “Jadi ceritanya pada tahun 2008 itu banyak anggota skateboard Bukittinggi dan Payakumbuh yang kuliah di UNP,” ujar Rizki sembari tertawa kecil. Suasana latihan semakin menyenangkan karena pada tahun yang sama gerbang dua UNP ini ditutup. Hal ini diakui Rizki membuat para anggota yang kemudian menamai komunitasnya ini The second gate of UNP skateboarding bertambah semangat. Tidak sekadar memuaskan hati, menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang, para skateboarder ini pernah juga mengikuti perlombaan sampai ke tingkat nasional dan meraih peringkat ketiga. Meskipun begitu, komunitas yang sekarang didominasi oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi ini juga sering mengadakan pertemuan, rapat dan diskusi yang berkaitan dengan komunitas. Misalnya pada ajang perlombaan skateboard. Tempat latihan yang strategis di gerbang dua UNP,membuat komunitas ini sering didatangi tamu dari universitas tetangga. “Seringkali mahasiswa Unand, UPI, ATIP dan lainnya berkunjung, karena lokasi latihan disini permukaannya datar dan di bawah pohon rindang,” ucap Rizki. Tidak hanya latihan semata yang rutin mereka

Beraksi: Pemain skateboard sedang menunjukkan aksi bermainnya di jalan dekat gerbang II UNP, Selasa (26/2). Biasanya mereka berkumpul dan bermain disekitar tempat ini di sore hari. f/ Oping

lakukan, kegiatan gabungan sekedar untuk menjalin keakraban sesama komunitas skateboard juga sering dijalani. “Terkadang kami juga pernah melakukan tour ke Pariaman dengan kereta api bersama anakanak skateboard lainnya”, tambah Rizki. Tour ini bertujuan menjalin silaturrahmi dengan anggota skateboard di wilayah Pariaman dan untuk melihat lokasi–lokasi yang biasa mereka gunakan untuk latihan, tambahnya. Sembari bersantai, Rizki menjelaskan tentang pendanaan komunitas. Ternyata Perusahaan Rokok pernah menjadi donator komunitas ini. “Dulu pernah ada donatur yang bersedia memenuhi perlengkapan kami seperti Rail Hand, Box, Skateboard, Obstacle. Namun sekarang kami lebih sering patungan untuk melengkapi kebutuhan,” jelasnya. Berbicara masalah kelangsungan komunitas, Rizki berharap semoga

selalu ada regenerasi penerus skateboard ini. Dan harapan yang sama juga terlontar dari Rian Kabai, mahasisiwa Desain Komunikasi Visual TM 2010 yang juga anggota skateboard. “Semoga skateboard di UNP tidak mati begitu saja”, tutupnya, (26/2). Tak hanya Rizki dan Rian, Eki Sepriadi, mahasiswa Ekonomi Pembangunan TM 2009 mengaku juga senang bergabung dengan komunitas ini. Sebelum kuliah di UNP, Eki juga sudah akrab dengan permainan skateboard. “Di kampung, saya juga sudah biasa bermain skateboard. Ketika kuliah di Padang saya juga ikut komunitas ini,” katanya. Eki dan lima belas temannya yang tersebar di beberapa fakultas di UNP rutin menjalani aktivitasnya pada hari Senin sampai Kamis pukul 17.00 WIB. “Kami berhenti bermain ketika Adzan Maghrib berkumandang,” katanya.

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


11

Telusur

Monumen Pesawat; Sejarah nan Terabaikan Sebuah mobil sedan berjalan pelan memutari area sebuah monumen. Si pengendara menggunakan area ini sebagai tempat untuk belajar mengendarai mobil. Area yang luas dan lengang ini, sering digunakan orang untuk belajar mengemudi. Hal ini dikarenakan keberadaan monumen di Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang ini nyaris tanpa pengunjung. Terkadang hanya beberapa pasangan muda-mudi yang duduk santai bercengkrama dipelataran monumen. Ada sebuah plang bertuliskan “MONUMEN PESAWAT” yang semua hurufnya tidak lagi lengkap, karena ada beberapa yang sudah lepas. Monumen pesawat yang dicat serba putih ini juga dikelilingi taman bunga dan rumput-rumput panjang tak beraturan. Di bawah monumen pesawat yang melayang pada ketinggian lebih kurang delapan meter ini, terdapat enam patung manusia yang berdiri melingkar. Ada patung amai-amai (sebutan untuk kaum ibu di Minang) dan patung niniak mamak (tokoh masyarakat dalam Minang) yang juga dicat putih. Di dinding monumen ini juga terukir bentuk-bentuk perjuangan masyarakat Minang melawan penjajah pada masa lalu. Monumen pesawat ini, hanya berjarak sekitar lima kilometer dari kota Bukittinggi. Monumen ini dibangun atas kerjasama Pemerintah Daerah Agam dan Pemerintah Kota Bukittinggi pada tahun 2003. Tepatnya pada 27 September 1947. Saat masih berlangsungnya agresi militer Belanda I, Dr. Moh. Hatta membentuk sebuah panitia. Panitia ini bernama panitia pengumpulan emas, dimana emas yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk membeli sebuah pesawat untuk melawan serangan Belanda. Hanya berselang beberapa hari pasca dibentuknya panitia pengumpulan emas ini, Hatta mengadakan apel besar di lapangan utama Bukittinggi (lapangan kantin). Selaku wakil presiden, Hatta menyampaikan bagaimana situasi dan kondisi Negara Indonesia saat itu. Ia juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Minang untuk mengulurkan tangannya guna memberikan

bantuan untuk perjuangan melawan penjajah. Masyarakat Minang sangat merespon baik himbauan tersebut terutama kaum ibu-ibu. Mereka dengan suka rela menyumbangkan perhiasan yang mereka miliki, baik perhiasan emas maupun perak yang berupa liontin, kalung, gelang, anting, dan cincin. Pada saat itu terkumpullah perhiasan seberat 14.5 kilogram yang dilebur menjadi emas batangan. Sumbangan yang terkumpul akhirnya sanggup membeli sebuah pesawat terbang yang didatangkan dari Inggris melalui Landasan Udara (Lanud) Manguwo Yogyakarta menuju Lanud Gandut Agam. Pesawat ketiga yang dimiliki Indonesia ini diberi nama AVRO ANSON RI 003. Sayangnya, pesawat ini tidak berumur panjang untuk membela tanah air. Saat mengudara membeli senjata perang ke Siam, Thailand, Pesawat ini jatuh ke laut dekat Tanjung Hantu perairan Selat Malaka karena mengalami kerusakan mesin. AVRO ANSON RI 003 oleng, dan akhirnya hilang bersama pilotnya, Halim Perdana Kusuma dan Iswahyudi. Kedua pilot ini gugur sebagai bunga bangsa. Nama mereka pun diabadikan sebagai nama bandara. Lanud Halim Perdana Kusuma di Jakarta dan Lanud Iswahyudi di Madiun. Walaupun AVRO ANSON RI 003 telah jatuh, bukan berarti perjuangan untuk mendapatkan senjata berhenti. Hanya selang beberapa hari pasca hilangnya pesawat, Indonesia telah memiliki pesawat lagi dengan tipe yang sama. Pesawat tipe Dakota, dengan call sign RI 004. Pada penerbangan ke Siam kali ini, pesawat tidak dikemudikan oleh bangsa Indonesia, melainkan oleh seorang berkebangsaan Scotlandia, pilot Wade Palmer. Saat itu ada enam orang yang berangkat ke Siam. Mereka adalah H. Tahir, Bahrudin DT. Bagindo, Mas Said, Tahi Siregar, Ali Alkadri, dan Letnan Udara Yacoeb. Tak sedikit pengorbanan yang dilakukan untuk mendapatkan senjata dari Siam. Banyak rintangan dan resiko yang harus mereka lewati. Momentum perjuangan membeli pesawat ini, diabadikan oleh masyarakat Sumatera Barat dengan mendirikan monumen pesawat di Nagari Gadut. Sayangnya, hingga saat ini belum terlihat kesungguhan pemerintah setempat untuk mengelola

Lepas: Huruf-huruf penanda tempat Monumen Pesawat di Kanagarian Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, sudah banyak yang lepas, Senin (28/1). Hal ini mengindikasikan kurangnya perhatian kepada monumen ini . f/Meding.

situs ini dengan baik, terutama dinas pariwisata. Bahkan setiap pengunjung bebas memasuki kawasan monumen ini tanpa ada retribusi yang harus dibayarkan. Jika lokasi ini diberdayakan secara maksimal sebagai objek wisata, pendapatan untuk daerah akan terbantu olehnya. Sejauh ini, tindakan terakhir Pemerintah Daerah hanya berupa pengecatan ulang kerangka monumen. Kendati begitu, masih banyak lagi perbaikanperbaikan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan situs sejarah ini sebelum hilang begitu saja. Seperti perbaikan plang monumen yang tulisannya hampir lepas semua, penataan taman bunga, dan pemasangan kembali ubin-ubin yang

telah pecah. “Karena monumen ini berada dibawah Pemda, jadi masyarakat cuek saja,” ungkap H. Dahrial Malin Saidi, Wali Nagari Gadut, Senin (28/1). Selaku wali nagari, Dahrial mengharapkan bahwa monumen ini bisa langsung dikelola oleh pemerintahan nagari, bukan Pemda Kota Bukittinggi lagi. Mengenai pengelolaan sebuah situs sejarah ini, Dahrial juga menyadari bahwa perlu konsep yang matang bagi sebuah nagari untuk mengelolanya dengan baik. Semua persiapan harus dilakukan dengan sempurna. “Akan tetapi, tidak sedikit dana yang dibutuhkan untuk pengelolaan monumen ini,” tutupnya saat diwawancarai di ruang kerjanya.

Di Balik Frekuensi; Ideologi Kebebasan dalam Tanda Tanya “Jurnalis saat ini sudah banyak bekerja di luar dirinya sendiri. Jurnalisme adalah sekutunya demokrasi. Jurnalisme itu mengabdi pada integritas. Namun jika sebaliknya, jurnalisme adalah lawan demokrasi. Ia musuh masyarakat.” Pemantik diskusi, Syofialdi Bachyul JB (Jakarta Post dan anggota AJI Padang) Lukisan-lukisan dalam Gedung Galeri Taman Budaya menjadi temaram, pamornya sedikit terkalahkan ketika pukul 14.00 WIB “Di Balik Frekuensi” mulai berputar. Sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Ucu Agustin,, berhasil diputar pada hari Selasa (19/2) atas usaha dan kerjasama komunitas Puta Pilem Padang dengan Taman Budaya Sumbar. Dihadiri oleh puluhan jurnalis lokal, budayawan, akademisi, dan juga pengelola media beserta dua orang pemantik, yaitu; Syofialdi Bachyul JB bersama Fitri Adona, yang merupakan anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sumbar sekaligus pengurus Persatuan Wartawan Indonesia Sumbar. Dengan durasi 144 menit 27 detik, Ucu menampilkan dua tokoh sentral. Luviana, seorang jurnalis yang telah bekerja sepuluh tahun di Metro TV, serta Hari Suwandi dan Harto Wiyono, dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong - Sidoarjo ke Jakarta. Seolah ingin mempertanyakan kembali untuk apa media bekerja, kedua tokoh tersebut menampilkan perjalanan nyata Luviana dan Hari Suwandi menentang pemilik dua media besar, Metro TV dan TV One. Film dengan genre feature documentary ini, membuka mata dengan menampilkan realita pemberitaan, khususnya televisi. Realita kepemilikan media ini, akhirnya diketahui memanfaatkan frekuensi sebagai lahan kampanye partainya. Realita

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013

inilah yang kemudian dideskripsikan sebagai ‘konglomerasi’ media. Media yang menguasai ruangruang publik pun, akhirnya tidak lebih seperti tangan gurita kepemilikan kelompok kepentingan. Untuk alasan itulah, film Di balik Frekuensi hadir sebagai sebuah refleksi, penonton seolah dibawa untuk mempertanyakan kembali mengenai kebebasan pers. “Apakah pers benar-benar sudah bebas, sedangkan kebebasan pers yang bergulir semenjak reformasi ini, faktanya hanya dimiliki oleh pengusaha-pengusaha partai besar, mereka yang akhirnya menguasai frekuensi, para pengusaha penguasa.” “Saya tidak bisa bilang bahwa orang-orang dimedia sekarang sakit, hanya saja mereka tidak independent” Ezki Tri Rezeki Widianti (Komisi Penyiaran Indonesia) dalam salah satu shoot yang ditampilkan film ini. Ada lagi Yanuar Nugroho, (peneliti senior bidang inovasi dan perubahan sosial Universitas Manchester) yang menyatakan, “Media saat sekarang menjadi kanal kekuasaan.” Penonoton akhirnya akan sadar, bahwa realita dalam televisi sekarang buta, Ucu dalam filmnya, seolah ingin menyampaikan bahwa media dengan kepentingan pemiliknya sekarang, bertransformasi kembali menjadi ‘masa orde baru yang malu-malu.’ Kembali pada masa otokritik, penguasaan atas pengaruh publik dalam ruang-ruang publik. Ucu yang juga seorang jurnalis ini, terlihat berusaha menyeimbangkan filmnya. Masalah kemanusiaan diperlihatkan ketika Luviana dihadapkan dengan pemecatan sepihak Metro TV. Luviana yang gajinya ditahan karena mempertanyakan newsroom keredaksian dan mengupayakan adanya serikat pekerja, dihadapkan pada keadaan sulit antara idealisme kawartawanan dan upaya mempertahankan hidup di ibu kota, yang tidaklah murah. Berbagai upaya, orasi dan juga diplomasi telah dilakukan. Bala bantuan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan serikat buruh juga telah ditempuh. Namun, janji yang diberikan Surya Paloh sebagai pemilik Metro TV sekaligus ketua umum partai Nasional Demokrat ini, berakhir dengan surat

PHK yang diberikan kepada Luviana. Sampai saat Film ini berhasil diputar, nasib ibu satu anak ini belum jelas. Disisi lain, ada aksi jalan kaki Hari Suwandi dan Harto Wiyono yang memperjuangkan hak-hak korban lapindo yang ditujukan kepada perusahaan Bakrie. Selama perjalanan, dua ‘media berkepentingan’, bising memberitakan dengan angle yang kontradiktif. Metro dengan getol memberitakan bagaimana perjuangan Hari menuju Jakarta untuk memperoleh hak ganti rugi bagi warga siduardjo. DI TV sebelah, TV One juga tidak kalah gesitnya memberitakan dengan angle lain, yakni isu politisasi dan cari sensasi-nya Hari suwandi, sebagai upaya menjatuhkan pamor Bakrie dalam pilpres 2014. Hari yang awalnya menolak untuk diwawancarai TV One karena kesal atas pemberitaannya, sekonyongkonyong tampil di studio TV One dengan penyampaian maaf kepada TV One, terkhususnya Aburizal Bakhrie. Sampai saat film ini berhasil diputar, Hari tidak diketahui keberadaannya. Setelah pemutaran film, Sofyardi Bachyul sebagai pemantik menyebut bahwa apa yang ditampilkan dalam film adalah sebuah realita yang melawan akal sehat, di luar logika, namun realita tersebut terus hidup dan berlangsung sampai sekarang. Begitu juga dengan Fitria Adona, ia menyatakan bahwa yang penting saat sekarang adalah adanya uji kompetensi wartawan. Bukan bermaksud merendahkan, hanya saja untuk mempertahankan idealisme, jurnalis perlu profesional dalam menjalankan uji kompetensi wartawan ini, “yang paling berkuasa dalam suatu surat kabar atau media adalah rapat redaksi. Bayangkan kalau hanya satu orang saja yang idealis dalam keredaksian, apa ia akan diikutkan dalam rapat redaksi?,” tutur Fitri, Selasa, (19/2) Hidayat, seorang jurnalis yang hadir waktu itu mengajukan solusi untuk diadakannya sebuah media watch, terutama untuk media lokal di Padang. Wartawan memang harus idealis dari awal, “harus siap lapar,” ungkapnya. Menanggapi itu, Sofyardi Bachyul menyatakan bahwa seharusnya media watch

diawasi dan diurus oleh orang-orang di luar keredaksian. Perlu orang-orang yang peduli dengan media dan kewartawanan sekarang, seperti kaum intelektual dan pakar komunikasi. Memang, seperti yang sudah sering dikritisi, Kepemilikan media yang berada di Indonesia saat ini hanya mengerucut pada 12 group saja, yakni; MNC Media Group, Jawa Pos Group, Kompas Gramedia Group, Mahaka Media Group, Elang Mahkota Teknologi, CT Corp, Visi Media Asia, Media Group, MRA Media, Femina Group, Tempo Inti Media, dan Beritasatu Media Holding. Media yang dimiliki ketua umum Golkar Aburizal Bakrie, seperti: Suara Karya, Surabaya Post, TV One, ANTeve, VIVANews dimobilisasi dan berafiliasi padanya, sehingga secara tidak langsung akan mendukung karir politiknya di Golkar dan membersihkan dirinya dari kasus Lapindo. Metro TV, jauh sebelumnya digunakan Surya Paloh untuk kampanye politiknya. Pengusaha Chairul Tanjung yang punya Trans TV, Trans 7 dan Detik.com, Dahlan Iskan dengan kelompok media Jawa Pos (Jawa Pos, Indo Pos, Rakyat Merdeka, Radar (151 koran lainnya), JPNN (online) juga menguasai frekuensi sebagai lahan pencitraan. “Saya kira motifnya masih sama dengan era Soeharto, kuasa dan usaha. Power dan businesss,” tuturan Ucu Agustin dalam akun twitternya. Layaknya dua tagline besar sebagai otokritik yang diusung dalam film, yakni: “Hentikan Monopoli, Kembalikan Frekuensi!” dan “Media Mengabdi Pada Publik, Tidak Menghamba Pemilik!” Mengajak penonton, agar kembali harus mempertanyakan media televisi mana yang harus mereka percaya. Mereka harus bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang propaganda. Para gurita televisi, seperti adegan bisu diakhir film ini, seolah menuntut kita untuk skeptis terhadap pemberitaan. Di Balik Frekuensi adalah sebuah ajakan bila media belum juga benar-benar bebas dalam mengupayakan fungsinya mencerdaskan bangsa, Luviana dan kawan-kawannya mengajukan opsi untuk “Don’t Watch Tell Lie Vision”. Ariyanti


12

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


ari 2013

13

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


14

Agama

Jika Anda mengalami masalah keagamaan, silahkan manfaatkan Jika Anda mengalamisurat masalah agama, silahkan rubrik rubrik ini. Kirimkan tentang masalah Andamanfaatkan kepada pengasuh ini. Kirimkan suratGanto, tentang masalah Anda kepadaatau pengasuh rubrik ini ke email redaksiganto@gmail.com Gedungrubrik PKM ini ke alamat Ganto: Gedung PKM UNP Ruang G 65 UNP. Setiap UNP Ruang G 65 UNP. Setiap pertanyaan harap dilengkapi dengan pertanyaan harap dilengkapi dengan identitas. identitas.

Diasuh oleh: Dr. Ahmad Kosasih,M.A.

Apakah Dosa Syirik Tidak Ada Ampunan?

Pertanyaan: Dosa yang paling tidak bisa diampuni adalah syirik, kerena syirik itu mempersekutukan Tuhan. Tapi kebiasaan pada kebanyakan masyarakat kita, mereka sering pergi ke dukun. Misalkan ada seorang yang kecurian lalu pergi ke dukun untuk melihat siapa pelakunya. Dan biasanya si dukun menggunakan telur ayam untuk “melihatnya”. Apakah dosa orang itu bisa diampuni? Bukankah syirik sebesar biji zarahpun tidak akan diampuni? Tolong jelaskan hal ini ya Pak. Terimakasih. Rahima Zakia, Mahasiswa Bimbingan dan Konseling TM 2011 Jawaban: Ananda Rahima yang baik! Suatu hal yang harus kita kritisi dan luruskan dulu ialah pendapat umum yang mengatakan bahwa dosa syirik tidak diampuni Allah, benarkah demikian? Hemat pengasuh, hal itu hanya kesimpulan dari pemahaman terhadap ayat: “Innallaaha laa yaghfiru ayyusyraka bihii wa yaghfiru maa duuna dzaalika li mayyasyaa` ...” (S.An-Nisa`:48). Di dalam Terjemahan Al-Qur`an Departemen Agama, ayat ini diterjemahkan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya...”. Ayat inilah biasanya yang disimpulkan oleh banyak orang bahwa dosa syirik tidak akan diampuni Allah. Tentu saja kesimpulan seperti ini sangat bertentangan dengan fakta yang ada. Bukankah sahabat-sahabat Rasulullah itu seperti Umar bin Khatab dkk, mereka adalah mantanmantan orang musyrik? Begitu pula saudara-saudara kita para muallaf (mantan non Muslim) yang sekarang sudah mendapat hidayah lalu menjadi mslim yang baik semisal Yusuf Hamka (warga Tionghoa), Prof. dr. Sauki Futaki (warga Jepang), Anton Medan (mantan penjahat ulung). Tetapi setelah mereka bertobat dengan tobat yang sebenarnya (tobat nashuha) ternyata mereka jadi muslim yang baik. Bahkan Umar bin Khatab termasuk dalam barisan sahabat yang dijamin masuk surga. Menurut pendapat Pengasuh, itu hanya sebuah kesimpulan dari cara memahami ayat 48 surat An-Nisa` itu. Menurut pengasuh terjemahan ayat tersebut adalah: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa seseorang selagi ia berbuat syirik, tetapi Dia akan mengampuninya jika ia telah keluar dari hal tersebut (kemusyrikannya)”. Hal ini didukung oleh firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 70: “... kecuali orang-orang yang betaubat, beriman dan beramal shalih, maka kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Banyak lagi ayat dan hadis yang sejalan maknanya dengan ayat ini, yang pada intinya menyatakan, Allah akan mengampuni dosa seseorang walau sebesar apapun jika ia mau benar-benar bertaubat. Mengenai datang ke dukun, jika maksudnya menanyakan perkara yang gaib, maka ia telah berbuat syirik. Nabi bersabda: “Siapa saja yang datang kepada si peramal untuk menanyakan sesuatu, kemudian ia benarkan (yakini), tidaklah diterima shalatnya selama empat puluh hari” (H.R. Muslim). Para peramal (ahli nujum) itu ada yang berkolaborasi dengan jin sedangkan jin itu akan membisikkan seribu kebohongan. Walaupun ada yang betul, itu hanya kebetulan, tetapi lebih banyak error (salah) daripada benarnya. Maka dari segi akidah, ia telah melakukan pebuatan syirik, karena tidak ada yang mengetahui dengan pasti pekara gaib kecuali hanya Allah. Ketika ia meyakini keterangan dukun ramal, tukang tenung atau paranormal dsb, berarti ia telah membuat tandingan terhadap kekuasaan Allah (Q.S.2:22; S.31:34; S.29:41). Maka yang perlu dipikirkan sekarang ialah bagaimana kita bisa meninggalkan perbuatan-pebuatan syirik tersebut bukan memikirkan Allah tidak memberi ampun. Sebab, bukankah Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang selagi hamba-Nya mau bertobat dan memperbaiki dirinya? Dalam sebuah riwayat dari Imam Ahmad disebutkan, pada suatu kali Abu Hurairah berkata kepada Al-Yamami, wahai Yamami, janganlah kau mengatakan kepada seseorang bahwa Allah tidak akan mengampunimu atau kamu tidak akan pernah masuk surga. Jawab Yamami, ini ucapan yang sering dilontarkan salah seorang kami ketika marah .... (Lihat Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir Juz I, Beirut, hlm. 322). Wallahu a’lam bisshawab!

Debat; Adu Egoisme Definisi debat secara sederhana adalah sebagai alat atau cara untuk mengeluarkan segala sesuatu yang ada dalam pemikiran manusia. Selain itu debat juga dapat diartikan sebagai pertukaran pemikiran yang berlawanan satu sama lain. Kegiatan debat ini, biasa dilakukan dalam diskusi formal maupun non formal, dalam keadaan mengobrol santai pun perdebatan dapat terjadi. Hal ini sudah lumrah dan acap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Perdebatan juga banyak dijumpai di instansi pemerintahan dan instansi pendidikan. Dimulai dari Sekolah Menengah Atas sampai Perguruan Tinggi, bahkan pada tahap Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama sudah diajarkan untuk mengeluarkan pendapat. Pada dasarnya itu sangatlah baik, untuk membuat seseorang menjadi berani berpikir kritis, wawasannya pun bertambah dan terus berkembang dengan adanya pembelajaranpembelajaran tersebut. Akan tetapi fenomena yang terjadi saat ini, tidak seperti yang diharapkan. Tong kosong nyaring bunyinya. Inilah kata-kata yang pantas untuk kebanyakan mahasiswa, bahkan sarjana yang katanya kaum Intelektual. Sebab, mereka hanya pandai berkata-kata dan kata-kata itu hanya didasari dengan pengetahuan yang sangat minim, pertanggungjawabannya terhadap permasalahan pun apatis. Permasahan seperti ini, banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, apalagi perdebatan dalam agama. Kecintaan seseorang dengan agama bisa membuat perdebatan kusir bahkan fanatisme. Debat kusir secara umum adalah perdebatan panjang yang tiada akhirnya, malah dalam debat kusir yang dihasilkan kebencian antar sesama. Awalnya memang bertujuan untuk mendiskusikan sesuatu yang belum dimengerti atau masih samarsamar, akan tetapi karena minimnya ilmu dan mengutamakan keegoisan, konflik pun muncul, pencapaian tujuan baik menjadi terhambat, berubah menjadi perilaku yang sangat tidak patut ditiru. Apabila semua itu tidak dilandasi dengan dasar-dasar maksimal dan sumber pengetahuan yang benar dari Alqur’an dan hadits, maka akan terjadi penyalahgunaan tujuan debat. Awalnya yang bertujuan mencari suatu kebenaran, malah menjadi ambisi untuk menang dan berbangga hati ketika pendapatnya mengalahkan pendapat lawannya. Masalah-masalah ini adalah furu‘ dan fiqihlah yang menimbulkan perdebatan. Akibatnya, membuat agama terpecah hanya dikarenakan keegoisan masing-masing. Seseorang yang mempunyai keegoisan tinggi, tanpa memikirkan baik atau buruk pemikirannya itu, pada dasarnya mereka hanya memiliki ilmu pengetahuan yang sangat minim, kalaupun ia tahu banyak tentang ilmu-ilmu itu dan memahaminya, pastilah bukan debat kusir yang ditimbulkan, tetapi solusi dari permasalahan yang dihasilkan. Allah SWT pun telah banyak menjelaskan tentang larangan untuk tidak menimbulkan debat kusir, salah satu ayat yang mengungkapkan hal itu, yaitu surat Al-hajj, ayat 3 dan 8 dan surat Luqman, ayat 20, yaitu:

“Diantara manusia ada orang yang membantah tentang Allah, tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat,” (al hajj :3) “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya.” (al hajj: 8) Kadang terdapat sekelompok orang yang merasa paling sahih pemahamannya sehingga melecehkan golongan yang lainnya. Ia menganggap penafsiran selain penafsiran dirinya adalah tidak benar. Kadang juga masalah ijtihad seorang ulama menjadi jalan perpecahan dengan debat yang berkepanjangan. Padahal orang yang ber ijtihad

(dengan memenuhi syarat untuk ber ijtihad), dia akan mendapat pahala, baik salah maupun benar. Oleh karena itu mengapa mesti bersitegang dan bermusuhan? Sebagaimana firman Allah SWT: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (luqman : 20) Allah Swt sudah menegaskan tentang larangan berdebat tanpa didasari ilmu pengetahuan, Allah pun juga melarang keras kepada hamba-hambanya untuk tidak melakukan debat-debat kusir. Secara logika seseorang yang berdebat tanpa didasarkan ilmu dan menomor satukan keegoan masing-masing, hanya akan menimbulkan suatu dendam, ketidakpuasan, menimbulkan kebencian, dan bahkan perpecahan diantara sesama. Sudah banyak contoh-contoh yang terjadi dalam kehidupan masa kini, contoh kasus umumnya dialami penulis sendiri, dalam pemberitaan koran kompas, yang berjudul “Henry vs Ruhut: Dari debat Corby sampai angkat gelas, perseteruan bakal berlanjut?” Berita ini menyajikan perdebatan

Sucia Kartina Lahir di Sibak, 9 Agustus 1993 lalu. Disamping menimba ilmu di Jurusan Psikologi UNP, mahasiswa yang sedang duduk di semester 2 ini juga merupakan anggota Forsis. Motto hidup: “Semua Bisa, dimaksimalkan usaha”. Jika ingin berkomunikasi dengannya, pembaca bisa memanfaatkan situs jejaring sosial: Facebook: Sucia Kartiana

apa yang kamu ketahui, kalau temanmu mengatakan tidak, kembalikanlah permasalahannya kepada Syaikhmu, dan sekali lagi menjauhlah kamu dari perdebatan, Rasulullah bersabda : “Apabila kalian berselisih di dalam Al Qur’an maka tinggalkan tempat itu.” (Muttafaqun Alaihi)

Grafis: Jefri

hebat antara Ruhut Sitompul seorang politisi dari partai ternama demokrat dengan Henry Yoso Diningrat yang merupakan pengacara kondang hingga mengeluarkan kata-kata sindiran yang kasar dan sampai mengangkat gelas segala. Perilaku mereka sangat tidak mencerminkan figur seorang pemimpin dan berintelektual. Sungguh ironis, ketika seorang yang mempunyai pendidikan tinggi dan menjadi bagian dalam tatanan pemerintahan suatu negara bisa melakukan hal-hal yang tidak pantas dilihat oleh publik, hanya dikarenakan ingin menegak pemikiran masing-masing yang dianggap banar. Maka dari itu Allah Swt sudah memperingati dari awal manusia diciptakan, agar tidak terjadi perdebatanperdebatan yang tidak berguna itu, begitu pun dengan pesan Rasulullah, “Aku akan menjamin sebuah rumah didasar surga bagi orang yang meninggalkan debat Kusir meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah) Wahai penuntut ilmu jauhilah perdebatan, karena hal yang demikian itu menyebabkan kemurkaan dan kebencian di dalam hati. Katakan kepada temanmu

(Muttafaqun Alaihi). Rasulullah Saw bukanlah seorang pendebat, ia berkata dengan lurus dan kata-katanya pun dapat dipertanggungjawabkan. Ada suatu percakapan Rasulullah dengan Ali, ketika rasul pergi ke rumah Fatimah dan Ali untuk membangunkan keduanya untuk sholat lail (malam), beliau mengetuk pintu dan berkata: “Tidaklah kalian bangun untuk melaksanakan sholat?” Ali mengatakan : “Sesungguhnya jiwa kami di tangan Allah, dia membangunkan sesuai kehendaknya.” Rasulullah balik sambil memukul pundaknya dan berkata: “Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah “(QS Al Kahfi :54). Rasulullah tidak mendebat Ali dan beliau menganggap bahwa apa yang dijawab Ali termasuk dari jidal (debat). Nah rasul pun tidak pernah mengajarkan umatnya untuk saling bantahbantahan,. Kalaupun ingin mendiskusikan suatu yang belum jelas, harus ada sumbersumber referensi yang bisa dipertanggungjawabkan nantinya, agar tidak menimbulkan perdebatan yang berakhir dengan ketidakjelasan atau banyak sisi negatif. “Berhati-hatilah kamu dari debat dan peliharalah waktumu, insyaallah kamu akan saling mencintai dan saling menyayangi”. (Pesan ini diambil dari kutipan buku yang berjudul 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah)

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


15

Politik

Indonesia Mati dalam Demokrasi Masih ingat, gaya pemerintahan mantan Presiden Indonesia, Drs. Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun silam? Ia dikenal pada rezim orde lama dan orde baru. Tanpa disadari pada rezim ini, ia mampu menjadikan masyarakat Indonesia terbuai dalam iming-iming atau permainan masa kekuasaannya. Pada akhirnya, barulah rakyat Indonesia menyadari bahwa segala hal yang dilakukan pemerintah saat itu adalah suatu pengekangan dan pembatasan hakhak warga negara yang pada hakikatnya, bertentangan dengan sumpah pemuda dan bertolak belakang dengan apa yang tercantum dalam Pancasila dan UUD 1945. Runtuhnya era pemerintahan Soeharto 15 tahun silam, diganti paksa dengan era reformasi. Jika dibandingkan era sebelumnya, reformasi lebih mengedepankan sistem demokrasi-nya. Alhasil, dapat dilihat fenomena yang terjadi sekarang. Demokrasi yang katanya mengabdi untuk rakyat, ternyata jauh dari yang diharapkan. Terlepas dari keberpihakan petinggi negeri ini kepada rakyat, justru ia memanfaatkan kekuasaan yang menjadi dalang dibalik kekacauan demokrasi itu sendiri. Betapa tidak, kasus korupsi yang melibatkan tokoh-tokoh partai politik dan kepala daerah adalah contoh teranyar. Mulai dari kasus Simulator SIM, kasus Hambalang, kasus impor daging sapi, kasus korupsi yang melibatkan Gubernur Riau terkait pelaksanaan PON tahun lalu, dan mungkin masih banyak kasus yang akan muncul dan terungkap setelah itu. Fenomena ini mengundang hasrat masyarakat untuk beraksi terhadap apa yang terjadi dalam peradaban Indonesia saat ini. Diskusi keluarga di depan layar televisi adalah suatu bentuk reaksi masyarakat awam. Namun, semua itu juga tidak terlepas dari peran media sebagai mediator terhadap fakta-fakta yang terjadi. Seperti dalam sumpah pemuda yang baitnya yang berisikan Kami putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, kami putra putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Bunyi sumpah pemuda ini tak lagi menjadi panutan dalam kehidupan masyarakat Indonesia kini. Ia

hanya tinggal sejarah, mungkin perlahanlahan akan lupa diceritakan pada anak cucu. Bahkan, dua puluh tahun ke depan, kalimat itu mungkin saja benar-benar hilang dari ranah ibu Pertiwi. Mungkin saja tak kan ada lagi diperingati setiap tahunnya, apalagi terpateri dalam kehidupan bangsa. Terkait kasus diatas, diha rapkan peran media profesional dalam hal ini,

bunyi kode etik jurnalistik tahun 1999 yang harus dipatuhi oleh ‘awak’ media. Sebab, dalam pemberitaan atau penyedia informasi, sering kali masyarakat awam dengan mudah menerima informasi apa saja yang menjadi topik terpanas. Artinya, masyarakat bukan lagi melihat apakah berita itu benar atau tidaknya, masyarakat tidak lagi memperhatikan modus-modus pemberitaan. Mereka

Grafis: Jefri

tidak menjadi provokator semata tetapi menjadi sebuah media yang memang menjalankan tugasnya sebagai control public atau penyedia informasi. Memilih kelayakan atau kualitas suatu berita menjadi suatu kewajiban sebuah media. Fungsi sebuah media pun harus sesuai dengan kode etik jurnalistik. “Berita diperoleh dengan cara jujur, meneliti kebenaran suatu berita atau keterangan sebelum disiarkan (check dan recheck), sebisanya membedakan yang nyata (fact) dan pendapat (opinion), menghargai dan melindungi kedudukan sumber yang tidak mau disebut namanya, tidak memberitakan berita yang diberikan secara off the record (four eyes only), dengan jujur menyebutkan sumber dalam mengutip berita atau tulisan dari suatu surat kabar atau penerbitan, untuk kesetiakawanan profesi�. Inilah salah satu

hanya menerima saja, tanpa mencari tahu kebenaran sebenarnya. Ibarat terhipnotis, hal itu lantaran sulitnya membedakan informasi-informasi yang benar-benar akurat, apalagi dicampuri oleh kinerja rekan-rekan media yang sudah tidak profesional yang hanya berambisi untuk menaikkan rating stasiun televisi atau media cetak tempat ia bekerja tanpa mengklasifikasikan mana berita yang layak dipublish dan tidak. Kenyataannya, kebanyakan berita terkini tidak sesuai dengan kebutuhan publik. Seperti pemberitaan televisi yang menjadikan ajang tempat berbisnis, menaikkan popularitas seseorang yang acap ramai diberitakan. Apalagi sekarang sibuknya menaikkan martabat suatu Partai Politik (Parpol) atau menurunkan reputasi/citra parpol lawan, sebab pemilu akan digelar sebentar lagi.

Suatu hal yang pasti, setiap parpol tentunya menginginkan kemenangan, dan parpol yang ingin menang otomatis harus berusaha dan berikhtiar lebih keras. Namun, tak jarang partai politik hanya menjadi benalu yang membebani tatanan kenegaraan dan merusak etika politik. Disadari atau tidak, sesungguhnya partai politik yang menjamur di negeri ini tidak lebih dari sekumpulan orangorang yang ingin menciptakan kekuatan dan berusaha organisasi politiknya menjadi kekuatan politik yang hebat dan ternama dalam percaturan politik nasional. Kutipan salah satu pemberitaan koran Kompas (31/5/11). Kasus lain, penangkapan tersangka suap daging sapi yang menimbulkan reaksi sangat keras dari pendukung partai terkait. Penangkapan itu bermula tanggal 29 Januari 2013 siang hari. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima informasi adanya serah terima uang dari yang berinisial JA dan AAE ke orang terdekat salah seorang anggota DPR, LHI yaitu AF, KPK terus membuntuti aktifitas yang di curigai terhadap mereka. Akhirnya, KPK menetapkan AF sebagai tersangka pada tanggal 30 Januari 2013. Kecepatan gerak KPK dipandang dengan berbagai penafsiran. Dari sisi pembela dan pendukung partai, KPK dinilai bertindak tidak adil. Munculah dugaan KPK disetir oleh pihak lain. Partai dianggap scrape dan dituduh antek Amerika dan Yahudi. Para penikmat berita ikut-ikutan mencekal, ada berpendapat positif dan ada pula yang negatif. Maklum orang awam berpendapat, jauh lebih keras, pedas, dan penyampaiannya yang kasar jika dibandingkan orang politik tentu bertolak belakang. Sehingga masalah pun semakin rumit, dan titik terang pun sulit ditemukan. Tampak sangat jauh berbeda dengan kasus Andi Malarangeng, ditetapkan menjadi tersangka sebelum 3 Desember 2012. Pada 3 Desember tersebut, KPK mengirimkan surat permintaan pencekalan Andi Malarangeng ke Dirjen Imigrasi. Tanggal 6 Desember barulah informasi ini tercium media, namun pimpinan KPK menutup-nutupi pene-

Jefriansyah Lahir di Batusangkar, 6 NOvember 1991 lalu. Disamping menimba ilmu di Jurusan Akutansi UNP, mahasiswa yang sedang duduk di semester 6 ini juga merupakan anggota HIma Akutansi serta Anggota Formi Madani. Jika ingin berkomunikasi dengannya, pembaca bisa memanfaatkan situs jejaring sosial: Twitter: @jefriansyahbsk

tepan tersangka ini. Wartawan yang melakukan konfirmasi ke wakil ketua KPK, Bambang Widjajanto dan Buysro Muqoddas, tidak mendapatkan jawaban pasti. Banyak saksi yang menyebut Andi menerima suap proyek Hambalang berbulan-bulan sebelumnya, tapi kenapa baru awal Desember dia jadi tersangka. Tidak ada kejelasan pasti yang didapatkan oleh wartawan. Setelah beberapa hari kemudian, barulah media tahu Andi Malarangeng menjadi tersangka, KPK mengakui dan menetapkan sekretaris dewan pembina Partai Demokrat ini tersangka. Tetapi, KPK tidak mengirimkan penyidiknya untuk menjemput paksa Andi Malarangeng ke KPK untuk diperiksa. Setelah ditetapkan tersangka, KPK baru memeriksa Andi sebulan kemudian, tepatnya 11 Januari 2013. Ketidakefektifan peran hukum di Indonesia menjadikan para penguasa tak jera. Kesalahan yang sama masih tetap dilakukan. Toh, hukuman yang diberikan bisa ditawar. Inilah yang menjadi penyebab dari ketidaktuntasan kasuskasus korupsi di Indonesia. Jika hal ini terus berlangsung terjadi di negeri ini, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan keadilan hakiki.

Gantopedia

Sulap Air Laut jadi Tawar Melalui Eliodomestico Bencana alam menjadi suatu fenomena yang acap kali terjadi di dunia, seperti gempa bumi, banjir, bahkan tsunami. Salah satu keluhan yang akan muncul adalah langkanya air bersih untuk masyarakat yang menjadi korban bencana. Sebenarnya hal ini sedikit menggelikan, seperti saat Jakarta dilanda banjir, pasokan air bersih sulit ditemukan. Padahal Indonesia dikenal sebagai daerah tropis dan dikelilingi lautan nan luas. Air menjadi faktor terpenting dalam kehidupan manusia. Namun, terdapat beberapa permasalahan yang ditemukan dalam pelestarian air, seperti pembalakan liar, pembakaran hutan, dan masalah global warming. Penyebab langkanya air di Indonesia pun tak lepas dari global warming dan ketidakseimbangan ekosistem. Hal ini mengakibatkan penggundulan hutan yang berkesinambungan, sehingga otomatis ia tak mampu lagi menyimpan cadangan air lebih banyak. Malah makin lama semakin berkurang. Selain itu, perbukitan yang dihuni pepohonan sebagai tempat penyimpanan cadangan air pun tak dapat lagi menahan debit air hujan.

Sehingga tanah disekitar perbukitan terkikis, selain memicu terjadinya longsor dan banjir juga membuat rusaknya siklus air bagi kehidupan masyarakat. Banyak cara yang dilakukan para ilmuan untuk menemukan sumber air lain, agar manusia kelak tak hanya berpatokan pada konsep hidrologi saja. Seperti saat ditemukan teknik desalinasi air laut menjadi air tawar. Desalinasi merupakan cara pengubahan air laut menjadi air tawar melalui proses pemanasan. Cara kerjanya sederhana, hanya memanaskan air laut melalui satu wadah bulat yang diberikan selang. Setelah air laut mendidih maka uap akan mengalir pada selang kemudian ditampung dalam wadah atau tempat penampungan air yang lainnya. Hasil uapan itulah yang kemudian berubah menjadi air tawar. Dalam sistem pengolahan ini terdapat bermacam permasalahan, seperti konsumsi energi yang terlalu besar, selain itu pengolahan air pun membutuhkan alat desalinasi dengan tenaga listrik yang

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013

tinggi. Tentu hal ini tidak semua orang mampu untuk memenuhinya, sebab pemakaian tenaga listrik yang tinggi juga membutuhkan harga yang cukup mahal. Sudah jelas, ini akan menyulitkan masyarakat menengah kebawah untuk memiliki alat tersebut. Tak hanya itu,

masalah lain timbul dari prosedur desalinasi kelautan. Yakni meningkatkan kadar natrium, sehingga peristiwa ini akan meningkatkan risiko kerusakan ekosistem. Menjawab persoalan ini, pada tahun 2012, seorang desainer Italia, Gabrielle

berhasil menemukan alat setara dengan desalinasi, jangkauan harganya pun lebih merakyat. Alat buatannya tersebut dikenal sebagai Eliodomestico . Alat ciptaan Gabrielle ini, terdiri dari dua struktur utama, yaitu ketel berwarna hitam pada bagian atas dan penampung air pada bagian bawah. Ketel tersebut memiliki penutup yang sangat rapat sehingga tidak ada uap hasil evaporasi air laut yang terbuang. Penutup ketel juga berfungsi sebagai kondensator yang mengkonversi uap menjadi air yang mengalir melalui pipa metal ke penampung dibawahnya. Eliodomestico adalah sebuah oven tenaga surya sederhana yang mampu mengkonversi lima liter air laut menjadi air tawar setiap harinya. Dia menciptakan perangkat ini agar dapat membantu kebutuhan air di tempat-tempat yang sulit mendapatkan air tawar, terutama di kawasan negara Arab, dengan bentang alam yang berdominasi gurun. Media Green Prophet melaporkan saat ini ada

45 juta orang, atau sekitar 10% penduduk di kawasan Arab tidak dapat mengakses air bersih, apabila pengguna air bersih sebanyak 500 meter per-kubik setiap harinya, negara Arap diperkirakan akan mengalami krisis air bersih pada tahun 2015 nanti. Desainer Italia ini berharap produk rancangannya dapat diadaptasi dengan mudah, sehingga membuat setiap orang dibelahan dunia manapun mampu membuat sendiri Eliodomestico. Sebab, Eliodomestico tidak membutuhkan listrik ataupun perangkat filter khusus. Alat pembuatan Eliodomestico pun berasal dari bahan-bahan yang mudah didapatkan, seperti tanah liat. Hal ini tentu akan memudahkan dan solusi termurah bagi masyarakat yang kesulitan untuk mendapatkan air tawar, terutama bagi yang tinggal didekat laut. Jadi, tak perlu panik lagi untuk masyarakat yang mengalami kesulitan air tawar. Cukup bermodalkan seperangkat Eliodomestico ditambah terik matahari, air tawar sudah dapat dinikmati. (Novi Yenti, dari Berbagai Sumber)


Teropong

16

RSBI Bubar, ISTE Tetap Jalan Pada awal tahun, tepatnya delapan Januari 2013 yang lalu, Mahkamah Agung (MA) akhirnya secara resmi memutuskan untuk menghapuskan sekolah bertitle Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Pasal 50 ayat 3 UU no 20 tahun 2003 yang menjadi dasar berdirinya RSBI dan SBI, ikut dibatalkan oleh MA. Pembatalan diakibatkan, pasal ini diduga bertentangan dengan UUD 1945. Mulai saat itu, semua sekolah-sekolah yang memenuhi kriteria RSBI dihapuskan. Terkait hal ini, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Padang, jauh-jauh hari sudah menyediakan kelas kusus yang dipersiapkan untuk tenaga ahli guruguru di sekolah RSBI. Masing-masing jurusan di FMIPA seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi, memiliki satu buah kelas khusus bernama International Standard Teacher Education (ISTE). Kelas yang berkapasitas maksimal 25 orang mahasiswa tersebut, merupakan kelas yang diatur untuk memakai dua bahasa pengantar, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Para mahasiswa dituntut untuk bisa berbahasa inggris di dalam perkuliahan dan dapat memahami buku-buku dalam bahasa inggris. Selanjutnya, untuk ke depan bisa mengajar dengan menggunakan bahasa inggris. Menurut salah seorang mahasiswa ISTE, Fatma Wati Jurusan Pendidikan Kimia TM 2010, untuk menjadi mahasiswa ISTE harus melewati serangkaian tes masuk. Tes itu terdiri dari tes TOEFL, tes mata kuliah bidang studi, dan tes wawancara dalam Bahasa Inggris. “Tes ini di perbolehkan untuk mahasiswa kependidikan Reguler atau pun Non Reguler” ucapnya, Sabtu (16/02). Lebih lanjut, Fatma mengatakan banyak manfaat yang dituai dari pengadaan kelas ini. Seperti di kelas ISTE, mahasiswa lebih memiliki daya saing tinggi dan hal ini memotivasi untuk lebih baik. Dosen-dosen yang mengajar pun, merupakan dosen-dosen kualitas terbaik. Dosen- desen ini pada umumnya selain

menguasai materi, juga bisa berbahasa inggris. “Ratarata 75%-80% aktivitas belajar mengajar di dalam kelas menggunakan bahasa inggris,” ujarnya. Namun, dengan diberlakukannya keputusan MA untuk meniadakan RSBI, secara otomatis tidak ada lagi guru-guru yang akan mengajar di RSBI tersebut. Sekolah RSBI akan kembali menjadi sekolah biasa seperti awalnya. Akan tetapi pada saat sekarang ini, FMIPA masih tetap mengadakan kelas ISTE yang berguna untuk kelas RSBI. Ketika ditanyai akan hal ini, salah seorang mahasiswi ISTE Anggi Anggara, Jurusan Pendidikan Matematika TM 2010, mengaku bahwa dia sama sekali tidak terganggu dengan RSBI yang dibubarkan. Malahan menurutnya, hal ini bukanlah suatu masalah yang besar. “Manfaat kelas ISTE ini bukan hanya untuk menghasilkan guru untuk mengajar di RSBI, tetapi juga untuk menambah pengetahuan dibidang Bahasa Inggris,” tuturnya, Rabu (20/2). Anggi menambahkan, bahwa ada atau tidak adanya RSBI, itu tidak akan mengurangi nilai ilmu yang didapat selama belajar di ISTE. Menanggapi hal ini, Pembantu Dekan I FMIPA, Prof. Dr. Festiyed, M.S mengaku bahwa memang salah satu dari latar belakang didirikannya kelas ISTE ini, adalah menghasilkan tenaga pengajar yang menguasai materi dan juga bahasa asing. “Dulunya kelas ini ada karena kurangnya tenaga pengajar yang sesuai dengan standar internasional,” ujarnya, Rabu (6/3). Selain faktor tersebut, pengadaan kelas ISTE juga karena menampung mahasiswa-mahasiswa yang berbakat dan merupakan program dari dikti. Ketika ditemui di kantornya, beliau mengatakan bahwa FMIPA akan tetap mengadakan kelas ISTE ini lagi tahun depannya. “Mungkin dengan format dan nama yang berbeda,” ujarnya disela-sela kesibukan. Festiyed juga berharap bahwa dengan adanya kelas ini, mudah-mudaan kedepannya para mahasiswa ini berhasil mengkoordinir bangsa Indonesia mengaplikasikan ilmu untuk bangsa sendiri dan menjadikannya lebih baik. Gumala

Eksistensi Ekskul Kampus V UNP Perkuliahan merupakan tujuan utama seseorang menjadi mahasiswa. Selain mengikuti materi perkuliahan, mahasiswa juga dituntut mampu berkreatifitas dan berkarya dalam bidang non akademis atau dikenal dengan ekstrakurikuler. Ekstrakurikuler bukan hal asing bagi kebanyakan mahasiswa. Pada awal perkuliahan, setiap mahasiswa baru diperkenalkan dengan sejumlah UKM yang mempromosikan kegiatan-kegiatan mereka dalam agenda Pengenalan Kehidupan bagi Mahasiswa Baru (PKMB). Pada kampus pusat, telah disediakan unit-unit kegiatan mahasiswa (UKM) dari berbagai bidang mulai dari Kesenian, PRAMUKA, PPIPM, Jurnalistik, dan masih banyak yang lainnya. Mahasiswa tentu saja berhak memilih kegiatan mana yang mereka inginkan sesuai dengan minat dan bakat mahasiswa tersebut sehingga dapat menjadi sarana untuk mengexplore minat bakat mahasiswa itu sendiri. Setiap kegiatan UKM tidak hanya diikuti oleh mahasiswa sesuai bidang kuliah yang sedang mereka jalani. Terdapat berbagai macam mahasiswa yang berasal dari jurusan yang berbeda-beda dan bergabung dalam satu UKM atau organisasi. Hal ini juga berdampak positif dalam menjalin silaturahmi, serta kebersamaan sesama mahasiswa UNP. Namun, untuk ikut berkecimpung di unit kegiatan mahasiswa, tidak seluruhnya bisa dinikmati mahasiswa UNP. Hal ini disebabkan UNP yang terdiri dari lima lokasi kampus yang tersebar di Sumatera Barat, yakni di Lubuk buaya, Limau Manis, Bandar Buat dan Bukittinggi ini, UKM-nya hanya di tempatkan pada kampus pusat di Air Tawar, Padang saja. Pengaruh terbesar dari dampak geografis tersebut dirasakan oleh mahasiswa UNP Kampus V Bukittinggi. Kegiatan yang disajikan UKM tersebut tidak sepenuhnya mereka dapatkan bahkan hampir tidak tersentuh oleh tangan-tangan mahasiswa

kampus cabang. Hal ini juga mengurangi intensitas serta kuantitas mahasiswa yang berada di kampus cabang untuk berinteraksi dan berpartisipasi dalam kegiatan UKM-UKM tersebut. Namun walaupun terkendala jarak, mahasiswa Kampus V Bukittinggi, tetap mengadakan kegiatan mahasiswanya sendiri. Beberapa kegiatan tersebut diantaranya adalah Psikopers, Dance, SDC, Katarsis, Psikosis, Perkusi, Choir, ECC, Klub Basket, sepak bola, dan kegiatan lainnya. Salah seorang mahasiswa PGSD TM 2010, Ari Kiswanto Kenedi, selaku Ketua HIMA PGSD UPP IV Bukittinggi, mengungkapkan bahwa kegiatan di UNP Air tawar tidak seluruhnya bisa diikuti, sering terjadi miss komunikasi antara kampus di Padang dengan kampus yang ada di Bukittinggi. Hal ini kurangnya koordinasi, keterlambatan dalam mendapatkan informasi, dan lain lain. “Kalau ada rapat, kadangkadang pemberitahuannya sudah dua jam sebelum rapat, sedangkan jarak tempuh untuk kesana sekitar dua jam-an,” jelas Ari , Sabtu (22/12). Keluhan lainnya juga disampaikan Annisa Risti, mahasiswa Psikologi TM 2010 yang juga aktif di BPM FIP UNP periode 2012. Mengenai koordinasi UKM yang ada di kampus Padang, dengan kampus V Bukittinggi, Risti berharap kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dapat saling bekerjasama. “Nantinya semua kegiatan kampus V Bukittinggi ataupun sebaliknya, dapat disaksikan bersama-sama,” ungkap Risti, Kamis (20/12). Saat dimintai konfirmasi, pembimbing HIMA Prodi Psikologi Rinaldi,S.Psi, M.Si, mengenai keadaan ekstrakurikuler, ia menjelaskan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan seperti ekstrakurikuler yang ada di kampus Bukittingi dan kampus pusat, belum ada koordinasi atau fasilitas tertentu untuk menyalurkan dan berkoordinasi dengan sesamanya, karena jarak jauh antar kampus. “Semua ini karena letak geografis kampus V Bukittinggi yang jauh dari kampus pusat,” ungkapnya (13/2). Fidi

Pemerintah Hapuskan Program KKT Usaha pemerintah dalam menghasilkan calon guru yang unggul dan professional, melalui program Kependidikan dengan Kewenangan Tambahan (KKT), pada tahun ini mulai dihentikan. Program ini sudah berjalan lebih kurang satu tahun. Peniadaan program yang dilaksanakan hampir bersamaan dengan program SM3T ini, dinilai tidak efektif karena dilihat dari segi waktu pelaksanaan yang hanya satu semester saja. Hal ini diutarakan oleh kepala Bagian Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) UNP, Drs. Ahmad Hamdani, MM. “Tidak mungkin rasanya peserta bisa menguasai bidang lain dengan baik, hanya dalam waktu satu semester,” ungkapnya, Selasa (26/2). Menurut Pembantu Rektor I UNP, Prof. Dr. H. Agus Irianto, selain masa pembelajaran selama satu semester yang tidak efisien, program ini juga akan menimbulkan persaingan yang ketat dalam memperebutkan peluang lahan kerja suatu bidang studi. “Tidak terbayangkan begitu ketatnya lulusan bidang studi A ditambah dengan lulusan KKT,” tuturnya, Jumat (8/3). Selain itu, beliau menyampaikan keraguannya atas program ini. Baik dari segi penerimaan sertifikat KKT oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD), maupun lulusan KKT yang telah lulus diterima sebagai tenaga guru yang mempergunakan sertifikat lulusan KKT. “Sampai sekarang saya belum mendengar akan hal itu,” ungkapnya. Lebih lanjut, penyebab pasti ditiadakannya program ini hanya pemerintahlah yang lebih tahu. Namun UNP sebagai salah satu instansi yang diberi wewenang dalam menyelenggarakan program KKT, hanya bisa membantu dalam menghasilkan lulusan KKT dan mengeluarkan sertifikat saja. Untuk perihal kelanjutannya, UNP tidak bisa bertindak lebih banyak. “Karena jika ingin pemantauan lebih lanjut tentunya butuh dana yang besar,” ungkapnya, Jumat (8/3). Dalam pengaplikasian di lapangan, program KKT sebanyak 24 sks hanya membahas mata kuliah jurusan saja, sedangkan mata kuliah untuk pendidikan hanya diterapkan pada saat micro teach-

ing. Hal ini disampaikan salah satu peserta KKT Nurlizawati, mahasiswa Pendidikan Sosiologi TM 2006, yang mengambil bidang sejarah dalam pogram KKT, “ mata kuliah pendidikan hanya bermodal ilmu di bangku kuliah saja,” ungkapnya, Selasa (5/3). Selain itu, ia juga mengaku sangat senang dengan adanya program ini. Selain mendapatkan bantuan berupa beasiswa, dia juga bisa mendapatkan pengetahuan di luar bidang utamanya sewaktu kuliah. “Dengan kewenangan tambahan yang diberikan, saya berusaha mendalami bidang itu,” ungkapnya. Namun di balik itu, ia menyayangkan keterlambatan dalam penerimaan sertifikat S1 KKT. Hal ini menyebabkan sertifikat yang telah ia terima pada bulan Februari 2013, sampai saat ini belum bisa ia gunakan sebagaimana mestinya. Ia berharap sertifikat itu bisa secepatnya digunakan. “Semoga saya bisa mengajar di jurusan Sejarah atau Sosiologi, “ tutupnya. Keluhan lain datang dari mahasiswa Pendidikan Sosiologi 2006, ia mengatakan telah mendapatkan informasi bahwa sertifikat KKT akan keluar setelah kuliah berakhir. Namun, sertifikat itu baru keluar setelah 6 bulan kemudian. “Seharusnya kami menerima sertifikat pada April 2012, “ paparnya, Selasa (5/3). Menanggapi pernyataan tersebut, Azhari Suwir, SE selaku Kabag Pendidikan dan Kerjasama UNP, mengatakan bahwa terlambatnya sertifikat KKT dikeluarkan disebabkan menunggu kelengkapan nilai yang masuk dari semua prodi. “Ada satu prodi yang terlambat menyerahkan nilai waktu itu,” ungkapnya, Kamis (7/3). Selain itu, ia menambahkan sertifikat yang telah diberikan kepada peserta lulusan KKT akan membantu peserta dalam mencari pekerjaan kapanpun ia mau, asalkan pekerjaan yang mereka cari berhubungan dengan profesi mengajar. Karena menurutnya,Sertifikat merupakan lisensi bahwa peserta tersebut layak mengajar pada dua kewenangan. “Ini bisa dijadikan solusi bagi sekolah yang kekurangan guru,” ungkapnya. Nia

Sanksi Porno-Pornoan Sebatas Surat Perjanjian Sebut saja Putra dan Putri, mereka adalah pasangan mahasiswa yang tertangkap oleh Satuan Pengamanan (Satpam) ketika berpatroli mengontrol keamanan kampus dimalam hari. Mereka ditangkap karena berpacaran di depan Gedung Balai Bahasa Universitas Negeri Padang (UNP). Menurut Dd satpam yang tidak mau disebutkan namanya, ia mendapati pelaku (Putra dan Putri) di tempat kejadian sedang berpeluk-pelukan dan cium-ciuman di atas motor. “Ia tidak mengindahkan orang-orang yang lewat di depannya,” ungkap Dd, Selasa (6/3). Sy, rekan Dd turut datang ke lokasi ketika Dd melakukan penyergapan karena melihat motor Dd diparkir di depan Kantor Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan (BAAK). Sebelum penyergapan dilakukan, pukul 21.15 Dd telah mengintai mereka dari balik pohon selama 30 menit. “Tidak mungkin saya langsung menangkapnya jika tidak terbukti berbuat,” tegasnya, Selasa (6/3). Menurut Sy, mereka ditangkap karena telah berbuat yang tidak senonoh. Waktu sudah menunjukkan lewat pukul 21.00, dan mereka melakukannya di dalam area kampus serta dekat dengan masjid. Ia menilai apa yang dilakukan oleh Putra dan Putri, tidak mengindahkan norma-norma yang berlaku di kampus. “Kalau ingin pacaran silahkan cari tempat selain dari kampus,” tegasnya. Setelah penyergapan, Putra dan Putri langsung diamankan ke pos Satpam untuk membuat surat perjanjian. Putra merupakan mahasiswa Fakultas Teknik dan Putri merupakan mahasiswi Fakultas Bahasa dan Seni UNP, yang sama-sama angkatan 2011. Menurut pengakuan pelaku, ia duduk bersama dua pasang temannya yang sempat melarikan diri ketika Satpam datang ke lokasi kejadian. “Kami hanya duduk-duduk saja dan tidak melakukan apa-apa,” ungkapnya. Setelah membuat dan menandatangani surat perjanjian yang ditulis di kertas hvs, Satpam

mempersilahkan mereka untuk pulang. Apabila kedapatan melakukan untuk yang kedua kalinya, akan diproses sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sy mengatakan, surat perjanjian ini diharapkan memberikan efek jera kepada mereka. Jika ini kita lanjutkan ke Pembantu Dekan III, mereka akan diberikan sangsi. Sayang jika mereka akan diberikan sangsi akademik. “Kita masih hiba melihat mereka yang datang jauh-jauh dari kampung untuk pergi kuliah,” tutupnya. Menaggapi hal ini, Komandan Satpam UNP Zulkifli, yang didampingi staf administrasi pos komando Satpam UNP Feri Syaputra, sangat menyayangkan hal ini. Menurutnya mahasiswalah yang akan memberikan contoh teladan bagi orangorang di luar kampus, namun ia juga yang merusak citranya sendiri. “Seharusnya mahasiswa itu yang menjadi contoh tauladan,” Ungkap Zulkifli, Kamis (7/2). Hal seperti ini menurut Zulkifli sudah pernah terjadi sebelumnya. Untuk tindak lanjutnya dilihat dari sebesar apa kesalahan yang mereka lakukan. Jika memang sudah melampaui batas, maka mereka kami serahkan ke fakultas masing-masing untuk ditindak lanjuti, sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun, jika yang mereka lakukan masih bisa diberikan pengarahan dan bimbingan, maka pihaknya akan berikan nasehat terlebih dahulu. “Jika itu masih bisa ditoleransi,” Ungkapnya. Menurutnya lagi, hal ini banyak terjadi karena jalur masuk UNP tidak hanya satu pintu. Dengan demikian, banyak orang yang lalu lalang masuk UNP tanpa bisa dikontrol. Selain itu, petugas satpam untuk memantau setiap sudut-sudut kampus juga terbatas, serta perlengkapan yang ada juga tidak memadai. Namun, ini tidak menjadi penghalang bagi satpam untuk selalu menjaga keamanan dan ketertiban kampus. “Kami akan terus bekerja semaksimal mungkin,” tutupnya. Faeza

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


17

Teropong

Dua Guru Besar di Awal Tahun Ruang Serba Guna (RSG) Fakultas Teknik (FT) menjadi ruangan paling bersejarah untuk: Prof. Ali Amran, M.Pd, M.A, Ph.D dan Prof. Dr. Jufrizal. M, Hum. Dua orang dosen, masing-masing dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) ini telah menambah daftar Guru Besar yang dimiliki UNP. Dalam acara seremonial pengukuhan pada Selasa (15/1) lalu, Prof. Ali Amran, M.Pd, M.A, Ph.D dan Prof. Dr. Jufrizal. M, Hum menjadi Guru Besar pertama yang dikukuhkan di tahun 2013. Saat diwawancarai, Prof. Dr. Jufrizal. M, Hum yang merupakan Guru Besar di bidang Atropological Linguistics menjelaskan guru besar merupakan jabatan fungsional yang proses pengangkatannya sama dengan kenaikan pangkat. Mulai dari bidang pengajaran, penelitian, karya ilmiah dan unsur penunjang tridharma perguruan tinggi. “Jadi sebagai calon guru besar ia diharapkan memenuhi empat syarat diatas,” katanya, Jumat (15/2). Disamping mampu mengumpulkan kredit poin paling sedikit 850 dan paling banyak 1050. Saat ini, ia menuturkan bahwa ketersediaan Guru Besar di UNP masih tergolong sedikit. Kurang lebih 47 orang yang telah dikukuhkan. Pengukuhan guru besar di UNP rata-rata dua orang pertahun. Hal ini dikarenakan UNP belum mengatur hal tersebut. Disini suasana dan nuansa akademis belum cukup terbentuk dibanding dengan universitas lain. “Pengukuhan Guru Besar tergantung pada kemauan, tekad dan bakat”, tambahnya. Untuk itu, ia menghimbau para guru besar untuk membangun dan mengembangkan suasana akademis. Suasana akademis ini diwujudkan dalam bentuk nyata berupa orasi ilmiah. Sebagai Guru Besar di Bidang kimia Fisika, Prof. Ali Amran, M.Pd, M.A, Ph.D menjelaskan seleksi pengukuhan saat ini lebih ketat dari pada tahun sebelumnya. “Pada tahun sebelumnya jika telah menghasilkan buku terbitan UNP sudah bisa diangkat menjadi guru besar,” ungkapnya, Rabu (20/ 2). Selain kewajiban diatas ia menjelaskan ada juga kewajiban khusus seorang profesor yaitu menulis buku, menghasilkan karya ilmiah dan menyebarkan gagasan. Jika dilihat pengukuhan guru besar di univesitas lain tidak jauh berbeda dengan UNP. Pengukuhan guru besar di UNP dilakukan berdasarkan kesiapan dosen yang akan dikukuhkan. Tidak ada jadwal pasti mengenai pengukuhan ini. Ia juga mengaku bahwa belum menjadi tradisi di

UNP untuk mewajibkan pengukuhan guru besar pada jadwal yang telah ditentukan, sementara di beberapa perguruan tinggi lain telah diwajibkan. “Harusnya semua dosen berkualifikasi Guru Besar”, sambungnya, Selasa (19/2). Dalam pidato pengukuhan, ia melakukan orasi ilmiah mengenai Mikroemulsi dan Surfaktan. Menjelang dikukuhkan, tercatat sebanyak 17 publikasi ilmiahnya dari tahun 1993 hingga 2010, sebagai penyaji dalam presentasi dalam dan luar negeri sebanyak 41 kali, mengikuti 25 seminar dalam dan luar negeri serta memperoleh 6 kali penghargaan. Menurut peraturan Dikti, adapun syarat baku yang harus dipenuhi untuk mendapatkan gelar guru besar diantaranya syarat akademik dan administratif. Syarat akademis yaitu calon guru besar harus mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal internasional dan nasional. Artikel ilmiah internasional harus terdaftar di website Scorpus. Sedangkan untuk artikel ilmiah nasional dipublikasikan di jurnal terakreditasi dengan syarat sebagai penulis utama sesuai dengan aturan yang berlaku. Selain dari publikasi artikel ilmiah juga diperbolehkan membuat karya lainnya seperti buku. Kemudian harus mendapatkan rekomendasi dari senat universitas. Melewati syarat administratif secara berturut-turut di mulai dari jurusan, fakultas, tim penilai angka kredit universitas, serta tim penilai angka kredit Dikjen Dikti Dekdikbud Jakarta. Selain syarat akademis juga ada syarat administratif yaitu lulus verifikasi. Dalam hal ini calon guru besar harus memenuhi angka kredit komulatif.. Adapun angka kredit yang dinilai yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan karya artikel ilmiah, pengabdian masyarakat dan kegiatan penunjang. Rektor Universitas Negeri Padang Prof. Dr. Phil Yanuar Kiram bersyukur atas pengangkatan guru besar ini. Dengan demikian akan menambah kekuatan universitas dalam mengembangkan pendidikan tinggi. “Hal ini akan berpotensi membuka program-program studi S2 dan S3,” ujarnya, Selasa, (26/2). Ia mengatakan pihak universitas menyediakan biaya-biaya khusus untuk memperlancar perkuliahan, proses penelitian dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk percepatan pengambilan guru besar. “Saya berharap beliau-beliau ini bisa berkontribusi pada bidang keahlian, jurusan dan selalu mengembangkannya,” tutupnya. Liza

Alek Gadang UNP dan Tantangan Sesudahnya

Pelaksanaan wisuda periode 96 kembali diadakan di Gelanggang Olah Raga (GOR) UNP, Sabtu (9/3). Dalam pidatonya, Rektor UNP, Prof. Dr. Phil. Yanuar Kiram menyampaikan wisuda kali ini adalah momen kedua kali baginya tampil sebagai Rektor UNP sejak dilantik. Dalam orasi ilmiahnya, Rektor UNP sempat menyampaikan bahwa UNP mengalami peningkatan dari segi jumlah mahasiswa, kualifikasi akademik dosen dan peningkatan akreditasi jurusan-jurusan. Selama hampir satu dekade yaitu dari tahun akademik 2003/2004 sampai tahun akademik 2012/ 2013, jumlah mahasiswa meningkat dari 12.470 orang mencapai 36.000 orang. Semula hanya satu jurusan/program studi yang terakreditasi A dan sekarang menjadi 10 terakreditasi A, 44 terakreditasi B, dan 7 terakreditasi C. Prestasi yang tak kalah pentingnya adalah 70% dari total dosen UNP yang ada telah memegang sertifikat pendidik pada tahun 2012, “Meningkat sebanyak 22% dibanding tahun 2011,” ungkapnya, Sabtu (9/3). Mengangkat tema “Alumni dan Tantangan dunia Kerja”, Rektor UNP mengajak kita bersama untuk berfikir tentang suatu hal yang menghubungkan antara UNP sebagai lembaga pendidikan tinggi dengan dunia kerja. Menurutnya dunia pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pendidikan tidak hanya dituntut untuk memperkuat aspek kognitif, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan kepribadian (afektif) dan keterampilan (Psikomotor). Yanuar menjelaskan, secara hipotetikal peserta didik (mahasiswa) yang akan menjadi alumni dapat megatasi masalah klasik. Yaitu pengangguran yang

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013

saat ini menjadi salah satu masalah krusial dalam dunia ketenagakerjaan. “Jika ini terjadi, maka keterserapan lulusan pada dunia kerja akan meningkat,” ujarnya. Rektor menyarankan agar para lulusan dapat segera mendharmabaktikan kemampuan mereka di dunia kerja sesuai jurusan/program studi yang ditempuh. Misalnya bagi tenaga pendidikan, bisa menjadi tenaga yang menguasai ilmu pendidikan dan menyelenggarakan proses pembelajaran efektif dan bermutu bagi peserta didik. Sementara bagi lulusan bidang non-kependidikan diharapkan sudah siap menuju kancah perjuangan lain di luar kampus. “Tunjukkan karakter yang kuat dalam memberikan dedikasi yang setinggi-tingginya di tempat Saudarasaudara bekerja dan mengabdi,” katanya. Diakhir orasinya Rektor UNP menyatakan bahwa UNP saat ini sudah berada pada jalur yang benar dalam upaya menghasilkan lulusan yang baik dan mencapai hal terbaik bagi pendidikan. Terakhir Ia mengajak agar civitas akademika memupuk kesamaan tujuan, kesamaan niat untuk memajukan pendidikan bangsa di masa depan. Tercatat 3.059 mahasiswa yang diwisuda dengan rincian Program Diploma (D3) 195 orang, Program D4 6 orang, Sarjana Kependidikan yang tersebar di seluruh fakultas sebanyak 2005 orang, Sarjana NonKependidikan 377 orang, Pendidikan Profesi Konselor 36 orang, PPG Basic Science Matematika dan Fisika 69 orang, Pascasarjana 290 orang, Magister Bimbingan dan Konseling 20 orang, Magister Manajemen 25 orang, Magister Ilmu Ekonomi 7 orang, Magister Pendidikan Teknik 15 orang, dan Program Doktor (S3) sebanyak 14 orang. Rahmi

Pendidikan Agama Islam Wajibkan LRAI Tak seperti biasanya, sekretariat Lembaga Responsi Agama Islam (LRAI) siang itu ramai dikunjungi mahasiswa. Mereka adalah mahasiswa yang hendak mendaftarkan diri untuk mengikuti program LRAI. LRAI merupakan program yang dibawahi oleh Unit Kegiatan Kerohanian (UKK) yang bekerja sama dengan pihak Mata Kuliah Umum (MKU) khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI).. Selain menambah wawasan mahasiswa mengenai nilai-nilai agama, program ini juga membantu pendalaman materi dari perkuliahan PAI. Ketua UPT MKU Dra. Murniyetti, M.Ag, Mengatakan bahwa Surat Keputusan (SK) mengenai LRAI sudah pernah diajukan kepada pihak rektorat. Namun, hal tersebut belum disetujui sehingga SK LRAI baru sebatas Keputusan UPT MKU. Murniyetti juga menyebutkan penjelasan dari Prof. Dr. Phil Yanuar Kiram, yang kala itu menjabat Pembantu Rektor (PR) I, bahwa LRAI hanya sebatas pendalaman PAI dari MKU. “Itulah kenapa SK-nya baru sebatas MKU,” tegasnya, kamis (8/2). Mahasiswa yang akan mengikuti LRAI, cukup mendaftarkan diri ke sekretariatan LRAI dengan membawa persyaratan seperti dua lembar foto ukuran 3x4, foto kopi kartu mahasiswa, formulir calon peserta yang sudah diisi, dan uang pendaftaran senilai Rp. 17.000,00-. Kemudian pendaftaran dilanjutkan dengan cara Online. Peserta cukup membuka Tiny.CC/Pembukaan LRAI, lalu mengisi data yang disediakan. Namun, pemilihan mentor yang akan mengasuh peserta mentoring LRAI masih dilakukan secara manual. Supaya pengelolaan kapasitas peserta mentoringnya lebih terkontrol. Sebelumnya, setiap mentor yang akan mengasuh diberikan pembinaan dan pengayaan terus menerus dari pemateri ataupun senior Unit Kegiatan Kerohanian (UKK). Pembinaan dan pengayaan berbentuk diskusi penyelesaian masalah yang ada di dalam maupun di luar lingkup kehidupan mahasiswa. Hal ini dilakukan, agar para mentor juga memberikan pengarahan kapada anggota mentoringnya tentang bagaimana menyelesaikan

masalah yang ada saat ini. Selama mengikuti LRAI, peserta tak hanya mendapatkan pendalaman materi, namun juga diberikan bimbingan dalam beribadah dan adab membaca Alqur’an. Waktu dan tempat untuk mentoring peserta biasanya diputuskan berdasarkan kesepakatan mentor dengan anggota mentoringnya. Evaluasi mentoring dilakukan dua kali, yaitu ketika ujian tengah semester dengan UAS, yang nantinya akan dilakukan serempak. Ringkasnya LRAI merupakan perpanjangan dari Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Agama Islam (PAI). Seperti yang dituturkan Abdurrahman, selaku dosen mata kuliah PAI sekaligus Pembina UKK, program LRAI sangat membantu dalam menuntaskan perkuliahan PAI. Menurutnya, tiga sks yang diberikan untuk MKU PAI tidak efisien dalam pembelajaran. “Jika di dalam kuliah mahasiswa mendapatkan teori, di LRAI mereka tahu aplikasinya,” tukasnya, Rabu (20/ 2). Abdurrahman memandang, kegiatan LRAI sudah sesuai dengan yang dirancang. Namun program ini semakin hari harus makin memperbaiki kinerjanya. Abdurrahman berharap agar para mentor lebih memupuk kemampuan keagamaannya. Lebih lanjut, harapan Abdurrahman adalah agar program LRAI ini mendapatkan SK dari rektor UNP. Selain memberikan kejelasan kepada mahasiswa, juga bisa dimasukan dalam rancangan silabus mata kuliah PAI. Begitu juga dengan Drs Hamidin, MA. Selaku dosen MKU PAI, Hamidin menganjurkan mahasiswanya untuk mengikuti LRAI. Bagi yang tidak mengikuti akan ada resiko yang ditanggungnya. Ria agustina, Mahasiswa Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan (IIPK) TM 2011, yang mengikuti LRAI tahun lalu, mengatakan sangat banyak manfaat yang ia rasakan setelah mengikuti program LRAI. Selain belajar teori islam, Ria mengatakan juga diajarkan tatacara dan adab beribadah. Hanya saja, Ria mengeluhkan ketidakmampuannya membagi waktu untuk mentoring dan kegiatan lain. “Sering bentrok dengan kegiatan saya,” katanya, Jum’at (22/2). Ria mengaku tidak mendapatkan sanksi dari minimnya ia mengikuti mentoring. “Kakaknya baik, hanya butuh komunikasi dan kami diarahkan lagi bagaimana baiknya.” Ujarnya. Oping

Rancangan UNP ke Depan

Kamis, (28/2) temu ramah dalam rangka peningkatan kegiatan kemahasiswaan tahun 2013 dilaksanakan di ruang sidang senat UNP. Turut hadir Jajaran Rektorat UNP, Pembantu Dekan (PD) III selingkungan UNP dan Dewan Pengurus Harian (DPH) organisasi mahasiswa. Pada kesempatan ini, beberapa petinggi UNP menginformasikan rencana yang akan dilalui UNP, serta civitas akademika untuk beberapa waktu ke depan. Informasi ini menyangkut berbagai lini mulai dari perubahan signifikan seperti sistem penerimaan mahasiswa baru TA 2013. Pada tahun ini tidak dilakukan lagi ujian seleksi tulis namun hanya dilakukan seleksi nilai rapor dari semester satu sampai lima, “SNMPTN diadakan secara online dan tidak dipungut biaya”, tutur Humas UNP, Drs Amril Amir, M.Pd, Kamis (28/2). Sedangkan untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) tamatan 2010, 2011, 2012 yang akan melanjutkan pada bangku perguruan tinggi, bisa mengikuti ujian yang dikenal dengan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Ujian tulis ini dirumuskan oleh Forum Rektor Perguruan Tinggi se-Indonesia. Dan juga dicanangkan 20% tersedia beasiswa bidik misi yang diperuntukkan siswa yang tidak mampu secara ekonomi namun mampu secara akademik, jelasnya lagi. Ditilik pada tahun-tahun sebelumnya, tahun 2010 dan 2011 kuota bidik misi berjumlah 500 orang, pada tahun 2012 kemarin berjumlah 800 orang, dan pada tahun 2013 kuotanya bertambah. “Tahun 2013 ini kuota beasiswa bidik misi 1000 orang”, ungkap Kepala BAAK, Ahmad Hamdani, Kamis (28/2). Event selanjutnya pada 23-29 Juni 2013, UNP dan Universitas Andalas (Unand) menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional ke-XIII. Direncanakan 12 cabang

perlombaan MTQ akan dilaksanakan. Sehingga berkemungkina ada 2000 peserta dan 1500 pendamping yang akan datang ke UNP. “Lebih kurang 120 perguruan tinggi (PT) yang akan berpartisipasi”, jabar Amril Amir. Rencananya, April ini akan diadakan MTQ tingkat Fakultas, pemuncak fakultas akan dilombakan kembali di tingkat universitas dan pemenangnya langsung dibawa ke tingkat nasional. Sebagai pembicara juga, PD III FMIPA, Amrin berharap partisipasi mahasiswa. “Keikutsertaan civitas akademika sangat mendukung acara yang akan kita laksanakan”, jelasnya. Informasi yang disampaikan selanjutnya, berkaitan dengan pengumuman hasil Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang telah dikirim pihak UNP ke Direktorat Jendaral Pendidikan Tinggi (DIRJEN DIKTI) pada Oktober 2012. “dari 272 proposal yang dikirim, lulus seleksi 37 proposal”, ungkapnya kembali. Seiring dengan itu, Pembantu Rektor III UNP, Dr. Syahrial Bakhtiar, M.Pd, memberikan suatu motivasi dan semangat baru untuk para aktivis kampus yang turut hadir pada temu ramah. Dengan mengusulkan adanya Drumband UNP, pembuatan situs Jurnal MTQ yang akan berkolaborasi antara Ganto dan PPIPM, Dies Natalis UNP, dan adanya setiap anggota Organisasi Mahasiswa melakukan Latihan Kepemimpinan Manajemen mahasiswa (LKMM). Tidak sekedar itu, pada tahun 2013, akan dibangun secara besar-besaran gedung Fakultas Ilmus Sosial (FIS), Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam (FMIPA) dan BAAK.Sehingga 4-5 tahun ke depan, suasana UNP akan sembraut, “perlu dibentuk tim K3” tutur Syahrial, Kamis (28/2). Dengan keadaan seperti itu, Syahrialpun mengharapkan pihak BEM U mengutus sepuluh orang perwakilan setiap BEMF untuk pembentukan tim K-3 ini (Kebersihan, keindahan dan Ketertiban), tutupnya, Kamis, (26/2). Rita


Inter

18

KOPMA UNP

PPIPM UNP

Bentangkan Sayap di Tingkat ASEAN Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa (PPIPM) merupakan salah satu Unit Kegiatan (UK) yang ada di Universitas Negeri Padang (UNP). Sebagai UK yang bergerak di bidang penelitian ilmiah, PPIPM bertugas untuk mengembangan daya nalar, sikap ilmiah dan kreativitas mahasiswa. PPIPM sendiri sering menorehkan prestasi yang membanggakan. Salah satunya adalah menjadi pemuncak pada Lomba Karya Ilmiah Tingkat Nasional pada tahun 2012 dan beberapa karya tulis anggota PPIPM lolos dalam seleksi yang diadakan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Prestasinya tidak hanya sampai disitu saja, tahun ini PPIPM lolos menjadi peserta JOSSEA (Join Opinion Solving for South East Asia) tingkat Association of South East Asia Nations (ASEAN), dan membawa nama UNP pada perlombaan yang berlangsung di Yogyakarta pada 21-26 Januari lalu. JOSSEA merupakan iven bergengsi yang diikuti oleh beberapa negara yang ada di kawasan ASEAN. Acara ini diikuti oleh 30 orang peserta, 26 orang diantaranya adalah Mahasiswa Indonesia dari beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Institut Sepuluh November, Institut Pertanian Bogor, Universitas Islam Riau, dan masih banyak lagi. Mahasiswa dari Filipina dan Thailand juga hadir mengikuti perlombaan ini. Tak hanya giat dalam perlombaan,

UKKes UNP

Workshop Gerakan Dasar Tari Unit Kegiatan Kesenian (UKKes) UNP menggelar workshop gerak dasar tari, dilanjutkan dengan pelatihan yang bertempat di gedung PKM, Minggu, (10/ 2). Acara yang diikuti oleh anggota internal UKKes ini, mendatangkan seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia jurusan Karawitan, Zefri Gusria Neldi sebagai pelatih. Workshop ini dilatarbelakanggi oleh keinginan UKKes untuk memaksimalkan pengetahuan tentang gerak dasar tari. Pada kesempatan ini, lebih dikhususkan pada gerak dasar tari minang. Dan juga untuk lebih memaknai sebuah tarian. Acara yang dimulai pada pukul 09.30 WIB ini diikuti oleh anggota internal UKKes yang dikhususkan pada anggota bidang tari. “Kita tingkatkan SDM dari dalam dulu”, ujar Vriessa Liency Phalmenda selaku panitia, Kamis (14/2). Vriessa berharap semoga dengan diadakannya pelatihan gerak dasar tari ini, para anggota dibidang tari bisa merasakan dan memaknai tari tersebut dengan sempurna dan nyaman. “Menari dengan lembut, ceria dan pandai mengambil sikap”, tambahnya. Wak ii

namun mereka juga sering mengadakan workshop dan pelatihan menulis karya ilmiah untuk mahasiswa umum. Hal ini adalah upaya PPIPM untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya bidang keilmiahan dan penelitian untuk perkembangan bangsa. “Harapan kami dengan adanya workshop akan menarik mahasiswa aktif dalam penulisan ilmiah.” Ujar Sekretaris Umum PPIPM, Rahma Dewi Kuria, Rabu (27/2). Jika menilik dari sejarahnya dulu, UK ini terbentuk karena dilatarbelakangi oleh kegelisahan Mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang merasa kesulitan mengangkat kegiatan dibidang keilmiahan. Sebagai usaha untuk memecahkan masalah tersebut, maka mereka mencoba berembuk untuk membentuk sebuah organisasi di bidang keilmiahan. Alhasil, pada 26 Februari 1986 lahirlah sebuah organisasi yang diberi nama Unit kegiatan Ilmiah dan Kurikuler (UKIK) pada saat itu. Seiring berkembangnya kebutuhan mahasiswa terhadap bidang penelitian maka awak UKIK memutuskan untuk berganti nama menjadi Unit Kegiatan Pengembangan Ilmiah dan Penelitian (UKPIP) pada 29 Oktober 1993. Namun atas dasar mufakat dalam Musyawarah Luar Biasa pada tahun 2003, UKPIP berubah nama menjadi PPIPM yang dikukuhkan dalam Surat Keputusan Rektor UNP No. 73/J.41/KP/2003. Zolla

BPM FIS UNP

Wadahi Suara Mahasiswa Mengangkat tema Meningkatkan Kualitas Pendidikan FIS Melalui Aspirasi Mahasiswa, Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP adakan dialog terbuka, Sabtu (16/2). Dialog ini dilaksanakan di ruang D81 pukul 08.00 WIB dan dihadiri oleh 41 peserta. Hadir sebagai pembicara Dekan FIS, Prof. Dr. Syafri Anwar, M. Pd. Kegiatan ini bertujuan mewadahi aspirasi mahasiswa sekaligus sebagai ajang silaturahmi antara pihak birokrat dan mahasiswa. Menurut rencana seharusnya seluruh pihak Birokrat FIS hadir sebagai pembicara, namun karena ada agenda lain jadi tidak dapat menghadiri acara. “Cuma dekan yang ada waktunya untuk hadir,” ujar ketua pelaksana, Piki Setri Pernantah, Sabtu (16/2). Mahasiswa yang hadir saat itu mempertanyakan mengenai rencana pembangunan gedung FIS dan menyampaikan berbagai keluhan. “Kita tidak terlalu formal, cuma sekedar sharing saja,” ungkap Piki. Piki berharap melalui dialog terbuka ini, apa yang menjadi harapan mahasiswa dapat dijawab oleh pihak birokrat dan saling mendukung dan tidak saling menuntut satu sama lain. Meding

FIS; Regenerasi FSDI Dengan mengusung tema, “Bersama satukan hati wujudkan pemimpin berjiwa nurani,” Forum Studi Dinamika Islam (FSDI) FIS mengadakan Musyawarah Besar (MUBES) yang ke XII, Sabtu- Minggu (2223/12). Pada mubes kali ini muncul 9 orang nama calon yang akan dipilih menjadi Ketua FSDI selanjutnya. Nama-nama tersebut diantaranya Chandra dan Abdul Aziz dari Jurusan Sosiologi, Jefri dan Abdul

Wahid dari Jurusan Sejarah, Yon Virgo dan Bambang dari Jurusan Geografi, Bambang Sutrisno dan Riski Hardinata dari Jurusan Ilmu Sosial Politik. Ketua Pelaksana Ego Vinda berharap setelah dibentuknya kepengurusan baru, FSDI akan lebih baik dan bisa menghasilkan gebrakan baru. “Mudahmudahan semua mampu bertanggungjawab dengan bidang yang dipegang,” katanya, Sabtu (8/12). Liza

Sehat melalui Dedikasi dan Kompetensi Minggu, (24/2) Unit Kegiatan Koperasi Mahasiswa (Kopma) adakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) XXVIII di D81 Fakultas Ilmu Sosial. Acara ini dihadiri oleh 39 orang anggota, perwakilan dari Kepala Dinas Koperasi kota Padang, perwakilan Pembantu Rektor III dan Pembina Kopma. Dalam RAT dibahas laporan tahunan yang meliputi keuangan, pendapatan, dan pengeluaran Kopma. Ketua pelaksana acara, Meri Saputra mengatakan bahwa tahun ini Kopma mengalami peningkatan laba dari pada tahun sebelumnya. “Tahun ini untuk dua puluh tiga juta, tahun lalu hanya tiga belas juta” terangnya . Meri berharap agar Kopma UNP tumbuh lebih baik lagi dan menjadi koperasi yang sehat. Perwakilan PR III UNP, Drs. Willadi rasyid berpesan agar Kopma lebih giat lagi mencari ide-ide dan trend baru untuk memajukan koperasi mahasiswa kedepannya. Oping

UK Pramuka

FIS UNP

FE UNP

1800 Mahasiswa Sosialisasikan UNP Praktek Pajak Lapangan Universitas Negeri Padang (UNP) kembali melepas mahasiswa yang akan menjalani Program Pengalaman Lapangan Kependidikan (PPLK) semester JanuariJuli wilayah kota Padang yang di Gedung Olahraga (GOR) UNP, Selasa (12/2). Acara ini melepas lebih dari 1800 mahasiswa kependidikan dimulai pada pukul 09.0011.00 WIB. Acara dimulai dengan penyerahan mahasiswa PPLK dari Unit Pelayanan Teknis PPLK kepada Dinas Pendidikan Sumatera Barat, dan diteruskan ke sekolah tempat pelaksanaan PPLK. Mulida, panitia acara mengatakan tujuan dari pelepasan ini agar terjalinnya birokrasi yang lancar antara sekolah dengan UNP. Salah seorang peserta PPLK, Ayu Gusti Utari mahasiswa Fakultas Teknik TM 2009 mengaku canggung mengikuti acara pelepasan ini. “Ini adalah langkah awal memasuki dunia kerja sesungguhnya,” ujarnya. Wak ii

POSS UNP

PPIPM UNP

Musyawarah Racana Pramuka

Geliat komunitas POSS UNP

Unit Kegiatan Pramuka UNP menggelar musyawarah racana (Musrac) yang ke-30 di ruangan perkuliahan T86, Sabtu dan Minggu (23-24/2). Acara ini bertujuan untuk memilih Dewan Racana periode 2013, dan membahas laporan pertanggungjawaban anggota. Ketua pelaksana acara, Helfarianto mengatakan bahwa Musrac yang diadakan kali ini sebenarnya terlambat dari agenda yang telah direncanakan karena beberapa kendala seperti adanya penerimaan anggota baru pramuka. ”Acara-acara Musrac sebelumnya terlaksana sekitar bulan Desember,” paparnya (23/2). Meyci Trisna, anggota racana mengatakan Musrac yang telah ia kali ini sudah lebih baik dari tahun sebelumnya, namun ia berharap akan masih ada perbaikan yang dilakukan seperti dari segi kedisiplinan. “Dari dulu sampai sekarang masalah ngaret selalu jadi permasalahan utama,” ungkapnya. Wahida

Komunitas Pendayagunaan Open Source Software (POSS) UNP mengadakan temu ramah dengan komunitas Senayan Library Management System (SLIMS) Sumbar, Sabtu (16/2). Acara ini diadakan di ruang perkuliahan T78. POSS UNP yang beberapa waktu lalu mendapat kunjungan dari Mozilla Firefox di gedung perpustakaan pusat UNP (6/ 2) ini, mendatangkan seorang pemateri dari komunitas SLIMS Sumbar yaitu Syafri Doni. Acara ini dihadiri oleh pustakawan dari beberapa universitas, Mahasiswa dan Umum. “Acara ini merupakan ajang silaturrahmi dengan komunitas SLIMS Sumbar,” ujar ketua pelaksana, Agus Candra. POSS UNP berharap bisa mendapat perhatian lebih dari universitas. “Apalagi UNP belum punya unit kegiatan yang bergerak di bidang Teknik Informatika,” tambahnya. Liza

FBS UNP

Di awal semester genap ini Fakultas Ekonomi (FE) UNP mengadakan kuliah umum tentang perpajakan di Auditorium FE, Senin (4/2). Pada kuliah umum ini, narasumber didatangkan langsung dari Direktorat Perpajakan Sumatra Barat (Sumbar). Drs. Idris, MSi selaku PD I mengatakan bahwa kuliah umum ini diadakan dalam rangka memberikan informasi baru kepada mahasiswa baik dari kalangan praktisi maupun akademisi. “Diharapkan agar mahasiswa mau menerima pencerahan ini,” harapnya, Senin (4/2). Verizal Suryadi sebagai salah satu narasumber dalam kuliah umum, sangat berpandangan positif dengan kuliah umum yang diadakan kali ini, melihat dari animo kedisiplinan dan keseriusan mahasiwa FE sendiri. “Tinggal bagaimana mereka menerapkan informasi yang telah mereka dapatkan,” paparnya. Wahida

FMIPA UNP

Lantik Anggota Baru Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa (PPIPM) UNP melantik 72 orang anggota baru angkatan ke XXVII, Minggu (24/2). Acara digelar di ruang A403 dan A404 lantai 4 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNP sekaligus menyambut hari ulang tahun PPIPM ke27. Pelantikan ini merupakan puncak dari kegiatan open recruitment PPIPM yang dimulai sejak september lalu. Pembina PPIPM, diwakili Fitri Amelia,S.Pd.,M.Si., selaku alumni melantik anggota baru secara simbolik dengan memasangkan selempang kepada anggota baru. Muhammad Yusuf, ketua pelaksana menyampaikan ada 87 anggota yang akan dilantik, namun beberapa calon anggota berhalangan hadir sehingga yang dilantik siang itu berjumlah 72 orang. “Akan ada pelantikan susulan untuk anggota baru yang tidak hadir” ujar Yusuf, Minggu (24/ 2). Kedepannya Yusuf berharap anggota baru ini tetap aktif dan berkontribusi untuk membesarkan PPIPM. Tilla

KSR PMI

‘No Valentine’

Pekan Ilmiah Kimia 2013

Peduli Korban Longsor

Jaringan muslimah Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) bekerjasama dengan Unit Kegiatan Kerohanian (UKK) UNP menggelar acara bertemakan We care, we share, let’s cover aurat di ruang Teater Tertutup FBS UNP, Kamis (14/2). Acara ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas seperti Universitas Bung Hatta, Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol, Universitas Andalas, Universitas Putra Indonesia YPTK, dan Universitas Negeri Padang sendiri sebagai tuan rumah. Tujuan diadakannya acara adalah agar tanggal 14 Februari lebih dijadikan sebagai hari tutup aurat dan tidak lagi membudayakan hari Valentine. Ketua Pelaksana acara, Nikmatul Husna berharap dengan adanya acara ini membuat kita menjadi tahu dimana sesungguhnya aurat-aurat itu serta mampu menutup aurat sesuai syariat islam. “Fungky tapi syar’i,” ujarnya, Kamis (14/2). Salah seorang peserta, Dewi Syafrina mengaku bangga mengikuti acara islami penuh makna dalam meningkatkan muslimah yang syar’I ini. “Mari kita peringati tanggal 14 Februari sebagai hari hijab”, ungkapnya, Kamis (14/2). Wak ii

Himpunan Mahasiswa Kimia (Himaki) menggelar acara Pekan Ilmiah Kimia (PIK) yang ke-17 di GOR UNP, Sabtu (16/2). Acara ini diikuti oleh empat provinsi yang ada di Sumatera, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, dan Jambi. Kompetisi ini berlangsung selama tiga hari, yakni tanggal 16-17 dan 23 Februari dengan dua kategori lomba yaitu Lomba Cerdas Tangkas Keterampilan Kimia dan lomba perorangan. Peserta yang hadir merupakan pelajar Sekolah Menengah Atas yang berjumlah 1100 peserta. Menurut Ketua Pelaksana, Anggiat, Mahasiswa Jurusan Kimia TM 2010, acara ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta yang tinggi terhadap ilmu kimia. Peserta yang nantinya mempunyai sertifikat juara akan bisa diterima oleh jurusan kimia tanpa tes. “Ini janji ketua jurusan, semoga mereka mau bergabung di jurusan kimia nantinya,” harapnya, Sabtu (16/2). Salah seorang peserta, Meri Yulia Hidayanti dari SMA N 1 Gunung Talang mengatakan senang bisa mengikuti PIK ini, namun Ia terganggu dengan jalannya proses tes. “Pada saat tes sering ralat soal secara berulang-ulang,” ungkapnya. Wahida

Tujuh hari pasca bencana longsor di Jorong Data Kampung Dadok Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) UNP ikut memberikan partisipasi dalam bencana tersebut. Bencana yang terjadi pada Minggu (27/1) ini mengundang KSR PMI UNP untuk memberikan bantuan berupa alat rumah tangga dan perlengkapan ibadah langsung ke lokasi kejadian. Koordinator Lapangan (Korlap) KSR PMI, Febri Doni Saputra mengungkapkan total dana yang diperoleh sebanyak Rp7.500.000,00. Uang tersebut berasal dari penggalangan dana di tujuh SPBU, salah satunya adalah Pertamina di Jalan Khatib Sulaiman Padang. Pengumpulan dana ini dilaksanakan selama empat hari (Selasa-Jumat) menjelang keberangkatan ke lokasi longsor. Pendistribusian bantuan ini tidak hanya diikuti oleh anggota KSR PMI saja, tapi diikuti juga oleh beberapa alumni KSR PMI. “Mudah-mudahan bantuan yang diberikan bermanfaat bagi korban yang selamat,” ungkapnya, Minggu (3/2) saat diwawancarai di atas bus saat perjalanan pulang menuju UNP. Meding, Liza

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


19

Feature

Jiwa Agung di Masjid Agung “Senang bisa bantu-bantu orang tua, nanti uangnya dikasih ke orang tua,” kata Yudas (15) si penjaga sandal di mesjid Agung Palembang, Sumatera Selatan.

Oleh Fidia Oktarisa Adzan magrib mulai berkumandang di Masjid Agung Palembang (13/1). Cahaya matahari mulai redup berganti kerlap-kerlip sinar lampu di sekeliling masjid. Yudas, anak laki-laki yang kini duduk di kelas tiga, bangku sekolah menengah pertama ini, mulai menjejerkan deretan sandal jepit. Yudas berdiri di depan gerbang masjid, menanti jemaah yang akan menunaikan sholat magrib. “Sendalnya sampai sini pak,” ucap Yudas kepada setiap jama’ah masjid yang tiba di jenjang menuju pintu masjid. Penampilan Yudas terkesan sederhana. Ia memakai sandal tipis berwarna putih, kaus oblong dan celana pendek ukuran tiga perempat. Remaja laki-laki berusia sekitar 15 tahun ini memiliki tinggi sekitar 150 cm, badannya kurus, rambutnya hitam dengan model potongan pendek tapi rapi, dan tangannya menggenggam kertas kecil bertuliskan nomor-nomor untuk penanda sandal yang akan dititipkan. Sulung dari tiga bersaudara ini, memberikan nomor penanda untuk setiap sandal yang sudah tersusun di rak dekat tangga masjid. Satu persatu sandal dititipkan kemudian setelah selesai sholat, akan diambil kembali oleh si empunya sandal. Yudas sudah memulai tugasnya ketika waktu Ashar tiba. Hampir setiap hari, sepulang sekolah dan setelah berganti pakaian, Ia bergegas ke mesjid demi mengumpulkan lembaran kertas seribu rupiah yang akan diperolehnya dari jasa menjaga sandal. “Jarak rumah ke masjid lumayan jauh,” ungkap Yudas yang juga anak dari petugas kebersihan mesjid itu. Namun ia mengaku masalah jarak tidak akan

Menunggu Pelanggan: Yudas, remaja penyedia jasa penitipan sandal tengah menunggu jamaah yang akan menggunakan jasanya di Mesjid Agung Palembang, Minggu (13/1) f/Fidi.

membuatnya surut semangat untuk melakukan hal itu. Sebelum melakoni pekerjaan ini, Yudas sudah terlebih dulu mengantongi izin dari pengurus masjid. Sholat magrib berjamaah sudah selesai, saatnya sandal-sandal dikembalikan pada pemiliknya. Yudas mengembalikan sandal titipan pada pemiliknya dengan memastikan terlebih dahulu nomor penitipannya, sesuai dengan nomor sandal yang ada di rak. Uang kertas seribu rupiah mendominasi kotak milik Yudas. Jama’ah masjid mulai sepi, ia pun segera menunaikan sholat. “Kalau udah sepi gini, saya langsung sholat,” tuturnya.

Bukan tanpa kendala Yudas menjalani pekerjaan ini, saat hujan tiba Ia harus bergegas memindahkan sandal ke tempat yang teduh. Yudas mengenang, tak jarang Ia harus ekstra cepat membawa sandal ke tempat yang lebih aman atau menutupi rak sandal dengan terpal jika hujan yang datang cukup deras. “Kalau hujan datang, bisa basah semuanya tapi sandal-sandal jama’ah tidak boleh basah,” jelas Yudas sambil melihat rak sandal. Jika ditanya kemana hasil uang yang diperolehnya saat berlakon menjadi penjaga sandal, Yudas dengan pasti menjawab uang tersebut diserahkan

sepenuhnya kepada kedua orang tuanya. Pekerjaan yang sudah dilakukannya semenjak duduk di kelas satu sekolah menengah pertama ini, semata-mata untuk membantu perekonomian keluarganya. “Senang rasanya bekerja, uangnya bisa digunakan buat bantu orangtua,” ungkapnya. Baginya membantu orang tua selain menyenangkan juga membanggakan. Salah satu kebanggaannya adalah bisa membuat jama’ah tenang menjalankan ibadah karena sudah ada jasanya yang bersedia menjaga sandal mereka. Pekerjaan ini tentu saja juga tidak membuat Yudas lalai dalam meraih citacitanya. Ia bekerja, tentu saja tanpa mengenyampingkan kewajibannya sebagai seorang anak dan sebagai pelajar. Hal ini dibuktikannya dengan tetap bersekolah dan belajar dengan sungguh-sungguh. Yudas sadar bahwa pendidikan sangat penting untuk masa depannya. Pekerjaan sekarang ini bukanlah sepenuhnya bisa menjadi jaminan masa depannya nanti akan sejahtera. Menjadi anak yang berbakti serta memberikan kebanggaan kepada kedua orang tua, adalah priotitas utama bagi Yudas. Prestasi sekolah juga tak kalah pentingnya dengan pekerjaan yang dituntaskannya setiap hari. Sebagaimana pengakuannya, ia tetap bisa mendapat rangking di kelas. Disamping memiliki niat mulia untuk membantu orang tua dengan ikut bekerja, Ia juga bisa mengukir prestasi di sekolah. Semester ini Yudas meraih rangking sembilan di kelas. Kedua orang tuanya tentu saja bangga anaknya masuk daftar 10 besar. Yudas juga ber harap bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang berikut nya. Selain dirinya, 2 orang adiknya masih kecil dan be lum cukup usia untuk bersekolah. Kelak ia berharap, adik-adiknya juga dapat bersekolah, berprestasi dan bisa menjadi kebanggaan bagi kedua orang tua.

Hidangan Beda Museum Jambi

Suasana di sana sangat tenang. Halamannya cukup luas dengan dua arca bercatkan warna hitam, seolah menyambut setiap pengunjung yang datang ke museum ini. Oleh Media Rahmi

“Kalau yang bentuk guci besar ini apa, Pak?” tanya salah seorang siswa SMP sembari menunjuk salah satu koleksi museum kepada pemandu mereka. Secara spontan, sipemandu pun menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Sembari mendengarkan penjelasan dari pemandu, siswa-siswa SMP tersebut mencatat dengan sigapnya. Setelah selesai dengan satu koleksi, rombongan siswa SMP ini beralih kekoleksi lain museum. Museum ini adalah Museum Negeri Jambi. Museum yang dibangun pada tanggal 18 Februari 1981 ini, diresmikan penggunaannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu, Prof. Fuad Hasan pada tanggal 6 Juni 1988. Museum yang berada di perempatan Jalan Urip Sumaharjo dan Jalan Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH., mempunyai 360 koleksi yang dijaga ketat. Penjagaan dan pengamanan terhadap Museum Negeri Jambi diberikan dengan bantuan satpam. Terdapat beberapa orang satpam yang ditugaskan secara bergantian untuk menjaga museum, disamping para pegawai-pegawai yang juga turut menjaga koleksikoleksi yang ada dengan mengawasi secara langsung setiap pengunjung yang datang. Sedikit berbeda dari museum pada umumnya, museum yang terdiri dari tiga lantai ini memberikan nuansa berbeda kepada setiap pengunjung yang datang. Jika biasanya di dalam museum itu suasananya hening, berbeda dengan Museum Negeri Jambi. Lagu-lagu tradisional Jambi diputarkan disini, selain untuk lebih menghidupkan suasana kebudayaan Jambi, juga untuk menghibur para pengunjung.

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013

Tempat Tidur: Diantara banyak koleksi museum, salah satu yang menarik perhatian adalah tempat tidur kaum bangsawan zaman dulu. Konon katanya, jumlah tiang yang dimiliki melambangkan tingkatan kasta si-empunya. f/Meding

Pada lantai pertama, para pengunjung akan disuguhi dengan miniatur relief provinsi Jambi. Di sebelah kanannya, pengunjung dapat melihat sebuah ruangan pertemuan dengan dua manikin berpakaian adat Jambi didekatnya. Sedangkan di sebelah kiri akan terlihat berbagai koleksi keramologika berupa guci, piring tadah, dan kendi. Jika pengunjung berjalan lurus dari sini, maka akan dijumpai koleksi luar ruangan. Koleksi tersebut berupa arca Bhairawa, meriam, dan koleksi lainnya. Beralih dari koleksi luar ruangan, jika pengunjung beranjak ke sebelah kiri ruangan di lantai satu ini, maka pengunjung akan menjumpai koleksi fauna seperti harimau Sumatra, beruang, buaya, dan lain sebagainya. Semua koleksi Museum Negeri Jambi, dilindungi oleh kaca atau garis pembatas agar koleksi

tersebut tidak cepat rusak dan diusik oleh tangantangan jahil. Pada lantai dua terdapat ruang khasanah budaya Jambi. Disini terdapat koleksi etnografika seperti peralatan-peralatan hidup yang digunakan masyarakat pada zaman dahulunya. Peralatan berburu dan menangkap ikan misalnya. Selain itu, di lantai ini juga ada perlengkapan perkawinan suku Melayu, diantaranya tempat tidur, pakaian adat, dan pelaminan. Perlengkapan perkawinan terpajang pada sudut paling belakang lantai ini. Walaupun terletak paling belakang, aura megah dari koleksi ini akan menarik pengunjung untuk melihatnya. Melihat keseluruhan sudut ruangan. Koleksi yang ada dilantai tiga juga tak kalah menariknya. Disini terdapat beberapa rumah

tradisional masyarakat Jambi. Rumah mini tersusun rapi disalah satu sudut lantai tiga. Koleksi-koleksi lainnya seperti piranti saji keseharian, yang digunakan masyarakat tempo dulu juga ada disini. Piranti tersebut seperti cerano yang berbentuk kerucut. Berbahankan gerabah, cerano ini memiliki pinggiran bibir bergerigi dan kaki tinggi. Selain memiliki koleksi yang tidak sedikit jumlahnya, museum ini juga memiliki banyak fasilitas yang membuat pengunjung semakin merasa betah untuk berada disana. Keberadaan cafe misalnya. Museum ini menyediakan cafe bagi para pengunjung yang ingin beristirahat sejenak. Fasilitasfasilitas seperti perpustakaan, mushalla, gift shop, dan lain sebagainya juga disediakan. Tak hanya itu, hotspot free juga dimiliki oleh Museum Negeri Jambi ini. Museum ini juga memberdayakan outdoor yang ada (bagian luar museum). Pada bagian luar museum terdapat saung (rest area) yang bercorak tradisional. Saung ini sangat bermanfaat bagi para pengunjung yang membutuhkan tempat untuk beristirahat dengan suasana klasik. Semua itu akan menarik pengunjung untuk datang. “Rata-rata tiap hari ada 100 atau lebih pengunjung yang datang,” terang Rini, salah satu pegawai museum, Senin (14/ 1). Rini mengatakan bahwa pengunjung yang datang juga beragam, diantaranya turis, rombongan anak sekolah, dan mahasiswa. Harga tiket untuk memasuki Museum Negeri Jambi tidaklah mahal. Jika dibandingkan dengan ilmu yang akan diperoleh, harga yang harus dibayarkan untuk masuk ke museum ini termasuk kategori sangat murah. Pengunjung dewasa cukup dengan membeli tiket seharga Rp 1500,- untuk melihat keseluruhan koleksi museum. Bagi anak-anak lebih murah lagi, hanya Rp 1000,. Bahkan, harga tiket yang harus dibayar akan jauh lebih terjangkau jika dibeli untuk kunjungan rombongan. Rombongan yang terdiri dari orang dewasa hanya dikenakan harga tiket sebesar seribu rupiah per orangnya. Sedangkan untuk rombongan anak-anak, hanya lima ratus rupiah per anak. “Saya lumayan sering ke museum ini,” ujar Dina, mahasiswa Universitas Batanghari pada Senin (14/1)


Resensi

20

Judul Penulis Penerbit Tahun Terbit Tebal

Surat-Surat Buru

: : : : :

Amba Laksmi Pamuntjak PT Gramedia Pustaka Utama 2012 494 halaman

Amba Kekasih, Suatu hari nanti mungkin aku akan sadar bahwa kamu tidak akan pernah membaca surat ini. Tetapi aku telah menemukan dua kata penting: siapa tahu. Di tempat ini, mengharapkan sesuatu yang tidak bisa diharapkan adalah semacam penyembuhan. Sebab, segala sesuatu telah begitu lama; aku bahkan tak tahu harus memanggilmu apa. Kubayangkan wajahmu saat kamu membaca yang kutuliskan. Mungkin wajahmu sudah lebih tua dari pada wajah bapak ibumu, yang kamu pernah takut akan berubah gara-gara kamu melarikan diri, melarikan diri bersamakubersama pengecut yang tak Pulau Buru, 6 layak ini (Pulau Desember 1973 1973) Terlahir dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua, Amba tumbuh sebagai sosok keras hati di era 1950-an. Dalam suatu situasi genting di Kediri, ia dipertemukan dengan sosok seorang Dokter lulusan Lepiz, Jerman Timur. Pada saat itu, udara seakan lesap. Segala sesuatu di sekelilingnya meluluhkan hati dan pikiran Amba. Hal ini membiarkan dirinya terperangkap dalam cinta dan kasih yang diberikan Bhisma, sehingga menghasilkan hubungan di luar nikah. Namun, sebuah serbuan G30SPKI di Yogyakarta memisahkan mereka. Romantisme yang terbentuk oleh ideologi AmbaBhisma ini, tidak berhenti pada masa orde baru saja, mereka tetap bertahan mengikuti revolusi. Namun walaupun pergejolakan politik sudah berhenti dan seluruh tawanan dipulangkan, Bhsima tak kunjung kembali. Bhisma dan cintanya masih tetanam di tanah tawanan, raga yang akhirnya kembali menuju Tuhan. Laksmi Pamuntjak mengekspresikan diri dengan membangkitakan gairah segar dan menarik melalui peristiwa sejarah di masa lalu. Roman yang berhubungan dengan kebangkitan NKRI dalam merubah sistem pemerintahan ini, begitu lihai

memadu-madankan sebuah kisah romantis yang terselip pada situasi perang. Dimana, siapa saja dapat tertangkap dan tidak lagi bisa bertemu dengan orang-orang yang mereka kasihi. Dalam penyaduran yang melibatkan seluruh tanggal dan tahun yang tepat seperti G30SPKI pada masa Orde Baru, ataupun seluruh tanggal dan tahun yang tertera pada suratsurat, menunjukkan betapa seolah-olah penulis ingin membuktikan bahwa cerita di dalamnya bukan sekedar fiktif melainkan nyata. Pembaca dimanjakan dengan tata bahasa yang mendayu-dayu, pemaknaan yang dalam, serta penuh arti. Hal ini terlihat dalam ucapan Amba kepada seorang lelaki tua “Aku ingin hirup malapetaka yang memberiku nama, aku ingin ia menabrak dan melumatkanku. Ada yang berkata, untuk menaklukkan bahaya, kau harus menantangnya”. Disamping itu, novel ini ditambahkan dengan pendeskripsian pengarang tentang tempat dan kejadian yang jelas, sehingga mereka serasa turut melihat, merasakan, serta ikut serta dalam memerankan tokoh dalam cerita. Seolah berkiblat pada cerita Mahabrata, Laksmi Pamuntjak memberikan seluruh nama pelaku yang persis sama, tapi di tambahkan dengan sebuah sentuhan klasik peristiwa sejarah sampai pengasingan dan pencarian kembali ditahun 2006. Namun, pencitraan pengarang tak selalu mulus. Beberapa alunan kalimat yang disajikan, sulit di pahami. Bahkan pembaca butuh membaca berulangulang kali untuk mendapatkan maksud pengarang. Selain itu sosok Amba dideskripsikan sebagai seseorang yang sangat menarik perhatian, sehingga beberapa golongan yang lanjut usia pun, masih ada yang ingin menunjukkan rasa sukanya. Ini dirasa kurang masuk akal. Walaupun demikian secara keseluruhan, Amba dan ceritanya tetaplah menarik. Resensiator: Gumala Resti Halin Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris TM 2011

Pat Walsh dan Sebuah Refleksi Sejarah Judul Penulis Penerbit Cetakan

: : : :

Di Tempat Kejadian Perkara Pat Walsh Kepustakaan Populer Gramedia Oktober 2012

Jika anda telah menonton Film Balibo yang disutradarai Robert Connoly, buku Di Tempat Kejadian Perkara ini adalah bentuk jawaban dari pertanyaan-pertanyaan, seperti apa Timor Leste setelah kemerdekaannnya? Atau bisa jadi, apa yang sebenarnya terjadi di Timor-Timur ketika masih menjadi bagian NKRI? Atau mungkin, apakah Timor-Timur benar pernah menjadi Indonesia? Pat Walsh sebagai penulis berusaha menekankan, bahwa ia bukan seorang yang anti-Indonesia. Fokusnya adalah masalah HAM. Kumpulan tulisan, refleksi dan juga puisi yang ia kumpulkan dalam 402 halaman ini, adalah hasil dari apa yang ia rasakan selama berada di Timor Leste. Selama sebelas tahun bekerja di Timor Leste dan ikut dalam rekonsiliasi Timor leste setelah berdaulat. Timor Leste saat ini seperti yang disampaikan Pat Walsh dalam bukunya, sedang dalam proses menemukan kembali dirinya sebagai sebuah masyarakat dan bangsa. Sejarah yang terjadi terhadap Timor timur diakui bukanlah sebuah kenangan yang patut dikenang dalam sebuah frame yang manis. Namun orang perlu tahu mengenai sejarah sebagaimana orang perlu tahu akan kebenaran. Kendati sejarah dan arsip mengenai Timor Leste belum bisa ditemukan secara gamblang, baik di Indonesia maupun di Timor Leste, tulisan refleksi dari Pat walsh bisa sedikit memberikan gambaran mengenai apa yang terjadi pada masa-masa penting sekaligus mengerikan tersebut. Tulisan pertama Pat Walsh dalam buku ini dibuka dengan sebuah judul yang menarik; Soeharto, Lelaki dan warisannya. Dengan penekanan bahwa penulis bukanlah anti Indonesia, ia secara terbuka mengungkap dua versi Soeharto. Dua versi yang kontradiktif. Walaupun diakui memiliki kecakapan politik, tetap saja rumah yang ia bangung memiliki cacat mendasar, hasil arsitektur yang buruk dan tak mampu bertahan dari badai. Kesalahannya adalah pada sistem check and balances pada sector public dan swasta, sehingga korupsi dan bisnis

gelap tumbuh sebagai sebuah penyakit yang terlanjur kronis. Kecenderungan akan metode pemerintahannya yang otoriter atas dasar jiwa militernya yang kuat dan prinsip kuno jawa, membuat Soeharto cenderung berpikir sebagai raja ketimbang seorang presiden yang modern. Hal ini kemudian membuat tragedi di masa pemerintahannya yang harus dibayar dengan ongkos dan korban jiwa yang sedemikian rupa. Salah satu ketakutan terhadap apa yang telah terjadi di Timor Leste adalah kecenderungan adanya kebijakan membiarkan atau bahkan melindungi pelaku kejahatan dari tanggungjawab dan sanksi yang telah dilakukan (impunitas). Bila yang dipersepsikan ini benar, maka Indonesia memang harus menghadapi kenyataan bahwa invansi yang dilakukan terhadap Timor Timur waktu itu adalah sebuah pelanggaran HAM berat. Namun tidak ada tindak lanjut, baik Indonesia maupun Timor Leste membiarkan sejarah ini menjadi sebuah penyerangan dimana kedua penyerang sama-sama benar dan sama-sama menjadi korban. Bukankah itu aneh? Pat Walsh lalu membuat fenomena ini dalam sebuah pernyataan yang menyentak, “Namun, baik Indonesia maupun Timor-Leste tak ada yang memilih mengenang serangan terhadap Dili sebagaimana yang terjadi. Latihan memalukan dalam kejahatan perang, agresi dan ketidak-kompetenan. Keduanya memilih untuk mengabaikan kebenaran yang pahit. Indonesia tidak menghukum siapa pun yang harus bertanggungjawab, termasuk atas kematian pasukannya sendiri. Melalui peresmian Monumen Seroja di Jakarta pada 10 November 2002, hari Pahlawan Nasional, Indonesia memilih mengenang peristiwa itu dalam bentuk heroic. Tanda bahwa “Kami” tidak melakukan kesalahan.” Timor Leste juga memilih untuk tidak menekan titik. 7 Desember secara resmi diperingati sebagai hari pahlawan Timor Leste, dan membelokkan perhatian publik dari Indonesia. Orang-orang Dili dibiarkan mengenang kenyataan sebaik yang mereka bisa dan bertanyatanya bagaimana kedua pihak bisa mengaku berjaya pada hari yang menentukan itu.” Resensiator: Ariyanti, Mahasiswa Ilmu Sosial Politik TM 2010

benar fakta diatas opini. Begitu penting dan sakralnya verifikasi, salah satu agensi berita di City News Bureau mengajarkan agar mahasiswanya tidak begitu saja menerima pernyataan yang bahkan sering ditemukan, seperti: “Nak, jika ibumu bilang dia mencintaimu, verifikasilah.” Untuk alasan tersebut, maka konsumen media saat ini dituntut harus berhati-hati atas pesatnya arus informasi. Memang, kebebasan pers setelah reformasi kali ini mengakibatkan informasi bisa beredar bebas, luas. Hal ini kemudian juga dapat menyebabkan overconfident seseorang atau beberapa orang, hingga mereka merasa dapat menyebarkan informasi yang bahkan, mungkin tanpa verifikasi. Selain itu, jurnalisme kaum kepentingan seperti yang dibagi oleh Kovach dan Rosentiel, merupakan salah satu jenis yang paling berbahaya. Realita kepentingan dalam media ini bukan saja terjadi di Amerika, Indonesia juga salah satu penganut paham jurnalisme ini. Dapat dilihat dari kepemilikan media Indonesia sekarang yang disokong oleh kelompok-kelompok kepentingan (partai politik dan kekuasaan). Media-media milik penguasa

parpol seperti Bakrie dan Surya Paloh adalah realita yang kemudian menjadi konsumsi pemberitaan sehari-hari di TV publik. Mereka tentu saja berafiliasi pada kepentingan partai dan pencitraan kedua tokoh. Blur adalah sebuah pilihan briliant untuk konsumen yang cerdas. Bukan saja bacaan wajib seorang wartawan, namun juga santapan yang layak bagi masyarakat umum. Bagi seorang wartawan, Blur hadir layaknya refleksi, Blur menjadi panduan bagi wartawan, apakah mereka telah menjalankan tanggung-jawabnya. Bagi masyarakat umum, Blur mungkin hadir sebagai sebuah kejutan. Tidak banyak yang tahu mengenai bagaimana media bekerja, dan untuk itulah Blur hadir. Masyarakat umum perlu tahu media mana yang mereka percaya dalam memberikan informasi. Kita perlu tahu siapa pemilik media, karena layaknya perusahaan, mereka juga sebuah pencarian profit yang rentan hedonis, rentan untuk terikut arus modernisasi yang kemudian menenggelamkan hal-hal penting yang dianggap lelet dan kuno seperti verifikasi. Perkembangan informasi memang sebuah candu, layaknya modernitas ia juga perlu penyaring. Blur menjelaskan bahwa apapun struktur berita dimasa depan, sejarah komunikasi menunjukkan bahwa teknologi lama tidak akan hilang, mereka hanya berubah. Perkembangan tekhnologi baru, tidak akan mengubah sifat dasar manusia, keingintahuan yang akan dialami secara tidak langsung ini, hanya akan tampil dengan cara yang berbeda. Blur dan apapun jenis buku seperti ini, adalah kebutuhan primer disaat derasnya beragam produk media jurnalistik seperti sekarang. Resensiator: Rahmi Jaerman, Mahasiswa Administrasi Ilmu Pendidikan TM 2010

Blur sebagai Kaca Mata Jurnalistik Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal

: : : : :

Blur Bill Kovach dan Tom Rosenstiel Dewan Pers November 2012 XII +225 Halaman

Melesatnya dunia jurnalistik, lahirnya beragam alternatif seperti blogger, maraknya media sosial dalam lingkup jejaring sosial, lalu tenar pula yang namanya citizen journalism, menyebabkan pertanyaan kian mengalir, siapakah yang akan mengawasi mereka? Apakah tanggung jawab dewan pers? Dua orang penulis Blur, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, optimis bahwa fenomena kemunculan sejenis new media ini, bukanlah suatu kemunduran dalam suatu produk jurnalistik, melainkan sebuah tindakan yang harusnya menuntut kecerdasan dari konsumen. Dalam hal ini, pembaca maupun penikmat TV berita ataupun media online, mampu memilah mana yang fakta dan mana pula yang mengada-ada. Blur membawa setiap pembacanya untuk memahami, bagaimana dan media seperti apa yang pantas dipercaya. Hal ini melainkan karena

kemunculan new media diakui akan rentan instan dan sebenarnya belum pantas disebut sebagai media jurnalistik. Kedua penulis ini, mendoktrin pembacanya agar mampu menanamkan sikap skeptis. Sikap ini, menurut mereka sangat vital untuk mengetahui media jenis apa yang sedang masyarakat nikmati saat sekarang. Untuk itu, Kovach dan Rosentiel membagi media yang beredar menjadi empat jenis identifikasi, yakni; jurnalisme verifikasi, jurnalisme pernyataan, jurnalisme pengukuhan, dan jurnalisme kaum kepentingan. Sebagai salah satu tahap dalam proses jurnalistik, Blur mengungkap bahwa verifikasi adalah tahap terpenting. Dalam ritual jurnalisme, ia (verifikasi) adalah sakral. “Apa yang dipikirkan kebanyakan orang tentang jurnalisme, atau berita tradisional, adalah apa yang kami sebut jurnalisme verifikasi.” Verifikasi menempatkan nilai tertinggi dan mendapatkan sesuatu dengan benar-

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


21

Cerpen

Kardus Kebencian Oleh : Rio Rinaldi

katakan bahwa karya mereka memang apik. Bahkan

(Alumni Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia ramai pembicaraan tentang karya-karya dari tangan dingin penyair jenius itu. Mahasiswa membahas 2008)

Sarjana adalah debu yang berterbangan di jalan. Berserakan disetiap pelosok hingga kota. Bahkan terlindas hujan dan panas. Ada yang nekat menjadi perampas. Merampas dengan tangan. Merampas dengan moral. Merampas dengan segala kemampuan naluri yang mereka anggap halal. Aku lebih suka menyebut kardus. Karena aku tidak suka kotak. Apalagi pengkotak-kotakan dalam sebuah kotak. Kan tidak ada istilah pengkarduskardusan genre, pengkardus-kardusan kekuasaan, status sosial, popularitas, dan...Ah, sudahlah. Sebab akupun sekiranya ikut dikotak-kotakan. Aku hanya mengumpulkannya dalam sebuah kardus. Kardus yang menampung seribu kekecewaan. Kardus yang menampung seribu kemarahan. Kardus yang menampung segala kekesalan. Kardus yang menampung seribu perasaan. Karena bagiku, karduslah yang paling mengerti. Dan ia hanya ada dalam tubuh yang Tuhan beri. Sebab itulah aku senang menyebut kardus. Bukan kotak. Paling tidak ia bisa mengerti dan menyimpan apa yang kupendam dalam benak. Dan tentang apa yang kusanksikan. Baiklah kutinggalkan saja persepsi tentang kardus. Karena jika kulanjutkan bisa-bisa darahku naik dan membuat caci-maki yang meningkat menjadi carut-marut. Dan orang-orang yang mencoba mendekat atau sekedar mengajak bergelut akan kuajak ribut. Ketika malam pecah, tiba-tiba saja aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah hasil karya dari tangan penuh dosa ini belum begitu sempurna? Aku menjawab tidak. Karena bagiku buat apa berdusta. Atau mengakui kemerdekaan yang kurasakan sendiri. Aku mengakui bahwa karyaku hampir sejajar dengan Putu Wijaya, Harris Effendi Thahar, Danarto dan maaf saja jika tak sempat kusebutkan nama-nama penyair tenar yang pernah kubaca karyanya. Itu menurutku. Bukan berarti menurutmu. Bukan berarti juga aku sombong atau menepuk dada, Kawan. Aku hanya

untuk dijadikannya objek skripsi. Tesis bahkan Disertasi. Pernah ketika aku bertanya pada teman lamaku di kampus yang juga kebetulan bekerja di surat kabar yang pernah kukirimkan tulisanku, ia menjawab seraya berseloroh. “Memang, Kawan. Orang-orang redaksi lebih cenderung menjambak tulisan dari tangan-tangan yang sudah ia kenal. Yang sudah besar. Paling tidak dosen. Kritikus. Pakar. Atau orang-orang yang pernah dimuat tulisannya disebuah ontologi sastra nasional. Tulisan dari orang-orang macam kau, ya, paling-paling ia jadikan bahan cerita untuk pengantar sebelum tidur saja.” Sebutnya sambil menempuknepuk pundakku lagi menghilang secepat kilat. Aku memandang nanar padanya ketika seolah mengejek karyaku. Kepalaku mendongak. Meski ia mengatakan sejujurnya. Pada suatu ketika yang lalu, aku pernah bernazar pada langit dan bumi untuk menceritakan perkara keadilan pada kalian. Disaat sebatang Gudang Garam tertancap di mulutku dan mengepulkan asap serta klebotnya di asbak, aku melanjutkan cerita ketika bulan datang menziarahi gulita. Di saat pacarku menerima lamaranku seratus persen, tiba-tiba calon mertuaku bertingkah. “Jadi kamu ini yang namanya Halan?” Todong ayahnya sambil duduk di sebuah kursi goyang yang memunggungiku. Aku manggut-manggut. “Atas dasar apa kamu mau menikahi putri saya?” “Cinta.” Jawabku polos. “Ooo, atas dasar kalian berdua saling mencintai? Bagus. Tapi ya nak ya, hidup itu tidak cukup dengan cinta. Sehari, bisa makan cinta. Dua hari, bisa.

Seminggu, makan batu anak saya. Lagi pula Bapak itu punya kriteria untuk calon mantu. Legislatif atau kontraktor. Jadi, berat kamu sepertinya. Atau janganjangan kamu ini tidak cinta dengan putri saya. Kamu ini cinta dengan harta warisan putri saya. Iya kan?” Todong ayahnya dengan wajah memerah. Matanya memerah. Kupingnya tegak. Kumisnya apalagi. Buru-buru aku melarikan diri dari rupa yang mengganas itu. Sebelum dua pasang sendal melayang dan mendarat di wajahku. Kutahu ayahmu. Ia adalah bekas prajurit militer yang dirumahkan setahun yang lalu. Meski tidak semua dari mereka yang nanar. Dengan perasaan hati yang kecewa dan putus asa, aku memutuskan untuk duduk berselonjor di

depan bibir pantai sambil merenungkan nasib. Nasib dalam kotak. Kotak yang mengkotak-kotakan. Terus terang sejak itu, aku benci status pegawai negeri sipil. Apa itu. Tidak akan sudi aku harus membayar sekian ratus juta untuk membeli kursi haram itu. Apa jadinya nanti jika keturunanku kuwariskan harta dan uang dari hasil menyumpal mulut mereka untuk mendapatkan kursi. Bahkan kinerja diantara mereka saja banyak yang tidak serius. Ada pemberitaan bahwa sering terjaring razia satpol pp saat jam kerja. Mereka yang mengenakan pakaian dinas saat

Prosa yang Puitis Oleh: M. Ismail Nasution., S.S.,M.A.

Cerita dalam cerpen Kardus Kebencian begitu menarik, peristiwa demi peristiwa disampaikan dengan bahasa yang tegas (singkat dengan kalimatkalimat tunggal). Dalam ketegasan itu terkandung kebencian dan kekecewaan sehingga pembaca turut merasakan suasana emosional yang terjadi dalam diri tokoh cerita. Si Aku kecewa karena tulisantulisan yang dikirimkannya ke surat kabar tidak ditanggapi. Rasa marah juga muncul ketika lamaran pernikahannya ditolak oleh ayah dari perempuan yang ia cintai. Kata kardus secara semiotik, bermakna ambigu. Model pertama bisa jadi wadah yang berbentuk bujur sangkar terbuat dari kertas karton. Kardus ini seringkali menjadi tempat penyimpanan barangbarang bahkan untuk lapisan pembungkus kiriman. Bagi anak kos, kardus wadah yang paling efektif untuk menjadi tempat penyimpanan. Model kedua sejalan dengan model pertama, kata kardus mengacu pada otak atau hati manusia yang selalu bekerja setiap waktu. Kebahagiaan dan penderitaan yang dialami oleh manusia selalu ditampung oleh keduanya. Keduanya pulalah yang dapat membedakan setiap individu manusia.

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013

Penggunaan diksi yang berulang-ulang tepat pula untuk memberikan efek lebih terhadap kekecewaan yang dialami si aku. Misalnya, “merampas dengan tangan, merampas dengan moral, merampas dengan segala kemampuan”, “Aku benci. Aku marah. Benci aku. Marah aku. Benci marah. Marah benci. Marah-marah. Bencibenci.” Memang, karya sastra yang indah itu sangat dipengaruhi penggunaan bahasa. Bahasa dalam karya sastra sama fungsinya cat dalam lukisan. Jika pelukis berkecimpung dengan cat maka sastrawan berkecimpung dengan bahasa. Oleh sebab itu, keseimbangan, pertentangan, kepaduan, dan harmonisasi cerita tampak dalam diksi yang digunakan oleh pengarang. Kata-kata kardus , seribu kekecewaan, sarjana berterbangan, klebot, menziarahi gulita, seribu kekecewaan, seribu perasaan, dan sebagainya, menciptakan warna tersendiri bagi cerpen itu. Atas dasar itu pulalah, saya memberi julukan bahwa cerpen kardus kebencian itu mengarah pada prosa yang puitis. Walaupun tidak memiliki tipografi yang sama dengan puisi akan tetapi diksi yang digunakan pengarang mengingatkan saya akan jiwa muda Chairil Anwar dalam puisipuisinya. Ketika membaca puisi-puisi Chairil Anwar itu, kita juga larut dalam suasana emosional.

Sisi lain, cerpen itu membawa pembaca merenungi bagaimana nasib sarjana seperti debu berterbangan. Si Aku memprotes dunia pendidikan Indonesia yang hanya mencetak sarjana yang siap menganggur. Sementara itu, jika ingin menjadi pegawai negeri sipil harus membayar sekian puluh juta. Uniknya, dalam kemarahan itu prinsip hidup si aku muncul, baginya lebih baik menjadi seorang pendidik, daripada menjadi PNS yang harus membayar sekian puluh juta. Ketimpangan-ketimpangan sosial yang dikemukakan pengarang melalui karya-karyanya mengukuhkan kembali bahwa karya sastra itu berfungsi untuk mengajarkan/menunjukkan sesuatu nilai. Bernilai karena karya sastra memantulkan fenomena kehidupan sehari-hari dalam lingkungan masyarakatnya. Di samping itu, dapat menjadi second opinion bagi pembaca merenungi berbagai kejanggalan fenomena-fenomena sosial yang terjadi disekitar kita. Cerpen ini akan lebih menarik lagi jika kata kebencian pada judul dihapus. Tujuannya agar dapat memancing kuriositas pembaca. Pembaca dibiarkan untuk menyimpulkan sendiri bahwa kardus itu adalah kardus kebencian atau kekecewaan bukan seperti kardus yang dipegang oleh sukarelawan banjir yang meminta sumbangan atau kardus yang disita KPK. [ ]

ditangkap di sebuah warung kopi sambil mengadu ekor batu. Assu! Aku lempar batu sekuat-kuatnya ke tengah hamparan pantai. Suara azan berdenging. Aku putuskan untuk pulang. Aku menulis cerita untuk kukirim dalam surat kabar Mingguan. Mana tahu, nasib seorang Sarjana Pendidikan malang sepertiku bisa didengar oleh tuan berdasi. Tapi aku tidak berkecil hati. Walaupun calon mertuaku menolakku mentah-mentah. Tapi masih banyak orang yang lebih malang nasibnya dariku. Sarjana adalah debu yang berterbangan di jalan. Berserakan di setiap pelosok hingga kota. Bahkan terlindas hujan dan panas. Ada yang nekat menjadi perampas. Merampas dengan tangan. Merampas dengan moral. Merampas dengan segala kemampuan naluri yang mereka anggap halal. Sia-sia. Dari Minggu ke Minggu tidak pernah kulihat namaku tercantum di halaman sastra media. Maksudku nama di bawah sebuah judul. Bahkan yang sering kulihat penulisnya itu ke itu saja. Apa jangan-jangan media itu juga wadah menyumpal? Tapi tidak mungkin kata hatiku. Barangkali itu hanya ideologi latah. Latah dalam menilai karya regenerasi. Mereka hanya terpaku pada nama. Kekuasaan. Status sosial. Padahal tidak sedikit yang diantara karya mereka itu seperti karet gelang yang diceburkan ke minyak tanah. Tapi aku tidak berkecil hati. Paling tidak, Grafis: Jefri aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bercermin pada status yang ada pada diriku. Mungkin saja mereka cuma menilai dari segi popularitas, maka wajar saja nama penyair amatir sepertiku cuma tertera dalam asa. Aku gigit jari. Astaga, darahku naik lagi. Maag-ku kambuh. Komplikasi. ****** Sarjana sepertiku, nilai hanyalah sebatas spidol tiga warna yang kutorehkan di papan putih disebuah ruangan berukuran 4x4 meter. Menghadapi segala macam perangai anak-anak yang menepuk dada mereka sebagai anak orang kaya yang tidak bisa dipaksa-paksa atau malah dimaki untuk belajar. Ibuku pernah menyebut-nyebut, bahkan membanding-bandingkanku dengan sepupuku, Untung. Ia mujur. Nasibnya baik. Setelah lepas dari Sekolah Tinggi Pemerintah dalam Negeri di Jatinangor, ia diterjunkan bekerja di kantor bupati yang tak jauh dari rumahnya sekarang. Statusnya pegawai negeri. Banyak orang tua bahkan gadis desa yang mengincarnya. Bahkan bapak kepala desa sudah berencana akan datang kerumahnya untuk mengusut kepastian tanggal pernikahan. Aku iri hati. Namun bagiku menjadi seorang pendidik di sebuah lembaga agaknya sudah lebih baik ketimbang menjadi pegawai negeri yang rata-rata makan gaji buta. Menjadi mesin berputarnya pendidikan bangsa. Menjadi pondasi moralitas generasi muda. Aku benci. Aku marah. Benci aku. Marah aku. Benci marah. Marah benci. Marah-marah. Bencibenci. Semua kutulis panjang-panjang dan kusimpan dalam kardus. Karena kuyakin sesekali kardus itu akan ada yang membuka atau sekedar mengintip ada apa gerangan isi kardus itu. Hatiku benci. Benci pada kotak yang mengkotak-kotakan. Mengkotakkotakan adalah sebab dari keserakahan. Kemunafikan. Keharusan untuk membayar setiap harapan. Harapan adalah tujuan. Tujuan adalah sampan. Sampan adalah kemudi yang lamban. Apabila aku lamban, itu karena aku tak mampu membayar persoalan. Persoalan sekarang adalah mapan. Mapan adalah idaman. Aku menyimpan itu dalam kardus yang berisi kebencian. Kardus yang hanya terbungkus dalam tubuh yang diberi Illahi. Aku tidur. Puntung di atas asbak akan klebot, sirna asapnya jika sampai batas terbatas di atas kardus yang ternganga. Kardus yang menampung seribu kekecewaan. Kardus yang menampung seribu kemarahan. Kardus yang menampung segala kekesalan. Kardus yang menampung seribu perasaan. Padang, 9 Januari 2013


Sajak

22 Terbada Gelombang waktu yang tiada menahu Dipecundangi dunia dengan ramahnya Terbirit oleh kejamnya kelembutan Tiada sapa untuk kebersahajaanya Angan yang meliar Berbahagia dilingkaran tua Dinding kelemahan menguat ke penyambungan Dan terkadang hati Hanya membeku menanti jawab-Nya

Oleh: Zulfadhli, S.S, M.A

Konkretisasi Puisi

Meri Susanti Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia TM 2011

Ibu Sunyi Semalam, hujan menjelang jam tiga pagi, Rambutnya tak lagi selebat zaman reformasi, yang mengikis impiannya sejak dini Dan tangannya kekar meranggas, sibuk membetulkan cermin diujung kaki Apakah ia tampak cantik pagi ini? Paginya bukan jam lima atau jam enam pagi, Tapi ketika ia terbangun dari tidur malamnya, matanya tak bisa terpejam lagi, Dimulainya pagi dengan aktivitas seorang istri, malah terlalu pagi Suaminya, Ayahku yang sunyi Mendengkur di sudut dipan yang telah diperbaharui Subuhnya jam lima pagi, kalah sengit dari Ibuku yang dikucilkan sunyi Dendangnya di dapur sudah terdengar dari tadi, mengalahkan dengkuran selusin anak tetangga sebelah kami, Setelah itu, hancurlah anganku untuk merangkul mimpi Karena lagu lawas yang disukai wanita ini, akan menggema dirumah kami yang persegi Hingga aku berangkat ke esde dua puluh empat Menggarai, Ia tetap wanita yang dikucilkan sunyi, dari reformasi hingga Presiden berganti dua ribu empat belas nanti.

Andini Nafsika Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesi TM 2010

Lilin Untukku Kini, tak adakah lilin yang bisa kau bagi? Bahkan untuk sekedar terangi wajanmu agar tak tumpah kutuangi pelangi. Apalagi tuk setapak ini. Dulu, kau selalu bermimpi jadi mentari Tapi mengapa kini kita hanya bermain di tepian kali? Lalu bagaimana cara panjati langit tinggi? Jika kita hanya berkunang-kunang dalam gelapnya mimpi. Ah... Kau tentu tau, Badai tak kan kekal bersemi.

Najla Anissa Fatin, Mahasiswa Sejarah TM 2010.

Abu-Abu Oleh Meri Maryati (Mahasiswa Kimia TM 2009)

Dalam dunia warna, abu-abu bukanlah termasuk ke dalam kelompok warna primer. Warna primer adalah warna yang berdiri sendiri, ia bukan campuran dari berbagai warna lainnya. Sebaliknya, abu-abu adalah kelompok warna netral, yang merupakan kombinasi dari beberapa warna. Namun, ada juga yang mengatakan abuabu lebih merujuk kepada tingkat kecerahan yang posisinya berada antara warna hitam dan putih. Dengan kata lain, ia tidak hitam dan tidak juga putih. Dalam dunia fashion, sifat netral dari warna abu-abu menjadikannya mudah untuk dikombinasikan atau matching dengan berbagai macam warna pakaian seperti putih, pink gelap, dan sebagainya. Begitu juga jika dibawakan ke dalam jiwa sosial seseorang. Sikap abu-abu mengarah kepada fleksibilitas. Dengan kata lain, ia bisa bergaul dengan siapapun. Tidak hanya golongan hitam maupun putih.

Meskipun begitu, karakter yang dimiliki warna abu-abu ini bak dua sisi mata uang. Di satu sisi merupakan kelebihan, namun di sisi lain merujuk kepada kekurangan. Dalam masalah prinsip, abuabu sering diartikan negatif. Seperti halnya ketika ada orang yang dicap “abu-abu” yang kemudian diartikan sebagai orang yang tidak memiliki ketetapan prinsip. Dalam kondisi tertentu, ia dengan begitu mudah mengubah prinsipnya. Tidak usah jauh-jauh, kita ambil saja contohnya mahasiswa. Ada sebagian mahasiswa yang awalnya menjadikan berlaku jujur disegala situasi sebagai prinsip hidupnya. Namun, ketika berada di posisi sulit, kala ujian misalnya, tak jarang mereka menggadaikan prinsip kejujurannya tersebut. Mereka lantas berlabuh pada perilaku menyontek. Lebih dari itu, ada yang lebih parah. Beberapa mahasiswa bahkan sedari awal tidak memiliki prinsip untuk dijadikan pegangan. Mereka ini hanya meliuk mengikuti kencangnya angin. Baik dalam konteks

Puisi memiliki kekayaan implisit yang menjadikan pembaca berusaha untuk memahami dan mencari hubungan di antara unsur-unsurnya. Puisi dibentuk oleh berbagai kesatuan unsur yang saling berkaitan secara utuh. Antara unsur-unsur atau bagian-bagian tersebut memiliki hubungan yang sangat erat. Oleh karena itu, dalam memahami sebuah puisi, pembaca mencari hubungan antara bagianbagian itu. Dalam puisi-puisi modern—puisi-puisi pascaperiode Amir Hamzah, hubungan antara bagian-bagian dalam puisi seringkali terlihat secara implisit. Namun, apabila dikaji lebih jauh, kelihatan bahwa bagian-bagian itu tidak terpisahkan, melainkan sangat padu. Dalam proses memahami makna puisi atau konkretisasi puisi, keberadaan pembaca menjadi sangat penting. Sebuah karya dianggap sebagai artefak tanpa pembaca. Sebuah karya akan bernilai estetis dan bermakna ketika karya itu dibaca oleh pembaca. Dalam teori resepsi, Isser meyebutkan “A text can only to life when it’s read.” Dengan demikian, sesungguhnya terjadi hubungan dialektik antara teks karya sastra sebagai sistem tanda-tanda dengan pembaca yang memiliki horison harapan sendiri terhadap karya sastra yang dibaca. Melalui proses konkretisasi, ternyata ketiga puisi yang dimuat di Ganto edisi kali ini berkisah tentang harapan dan keinginan. Melalui proses konkretisasi, sebuah puisi juga akan dapat dipahami dengan baik. Puisi “Terbada” yang ditulis oleh Meri Susanti berbicara tentang harapan-harapan yang tak kunjung terwujud. Pergantian waktu yang dipencundangi oleh dunia dengan penuh keramahannya membuat hati hanya membeku, tidak mampu berbuat apa-apa. Hanya bisa menanti sebuah keputusan, takdir, dan putusan dari Yang Kuasa. Puisi “Ibu Sunyi” yang ditulis oleh Andini Nafsika, berkisah tentang sebuah kisah, berbentuk seperti “naratif”. Meskipun puisi ini secara tertulis berbicara tentang malam yang diguyur hujan sebelum jam tiga pagi, tentang impian yang telah terkikis oleh zaman, tentang kekuatan, keberanian, yang ia miliki, namun sama dengan “Terbada”, secara sederhana, puisi ini juga menggambarkan tentang angan, asa, dan harapan-harapan individu yang menginginkan terjadinya perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik. Harapan-harapan itu juga tak pernah terwujud meskipun sudah beberapa dekade lamanya. Hal ini tampak dalam larik //setelah itu, hancurlah anganku untuk merangkul mimpi//Ia tetap wanita yang dikucilkan sunyi, dari reformasi hingga Presiden berganti dua ribu empat belas nanti// “Lilin Untukku” yang diungkapkan oleh Najla Annisa Fatin juga berkisah tentang harapan dan keinginan. Seseorang pernah punya mimpi, keinginan, dan harapan untuk menjadi ‘sesuatu’, tetapi kadang kala, impian itu justru tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam puisi ini dikiaskan dengan // Dulu, kau selalu bermimpi jadi mentari //Tapi mengapa kini kita hanya bermain di tepian kali?// lalu, bagaimana menggapai mimpi-mimpi itu? kalau kita hanya seperti kunang-kunang dalam gelapnya mimpi. Namun yang pasti, manusia akan terus berlari mengerjar mimpimimpinya karena //badai tak kan kekal bersemi. Semoga. Selamat untuk para penyair mimpi, Meri Susanti, Andini Nafsika, dan Najla Annisa Fatin. Teruslah “bermimpi”. Karena seperti halnya teori, mimpi-mimpi atas apa yang ingin kita capai, akan rentan untuk lupa. Untuk itu, menulis adalah salah satu cara dalam menuangkan setiap keinginan manusia. Dan tidak semua orang punya cara menuliskan mimpi yang sama, sebagian orang cenderung lebih suka menuangkannya dalam bentuk puisi, yang konon akan dikenang dengan baik. Seperti yang dilakukan penulis puisi ganto kali ini. Mimpi adalah kunci Untuk kita menaklukkan dunia Berlarian tanpa lelah Sampai engkau meraihnya (Nidji)

ujian diperkuliahan maupun dikehidupan pribadinya. Mahasiswa sangat rentan terpengaruh pesatnya perkembangan dunia. Bisa dikatakan, setiap minggu bahkan setiap hari akan ada saja up date terbaru. Bagi mahasiswa yang tidak memiliki prinsip tadi, tentu akan begitu mudah mengadopsi style yang berkembang. Walaupun sebenarnya, hal tersebut tidak sesuai denga karakter pribadinya. Itulah yang akhirnya menjadikan terlahirnya “mahasiswa abuabu” tadi. Dalam kasus besar, abu-abu juga bisa diwakili oleh perilaku para koruptor. Sebelum terpilih menjadi wakil rakyat di Senayan, tentulah mereka tampil sebagai sosok yang jujur. Namun, ketika pucuk kekuasaan sudah di tangan, lantas tak jarang prinsip tersebut tergerus seiring berjalannya waktu. Terlebih jika abu-abu dikaitkan dengan dunia politik. Banyak lini yang tersandung karenanya. Kita telah mengenal ada istilah politik abu-abu. Begitu juga dengan politikus abu-abu. Politik abu-abu mengarah kepada ketidakjelasan sikap politik seseorang maupun kelompok atau lembaga. Sehubungan dengan tujuan politik sebagai alat untuk mencapai tujuan, maka tak jarang kita melihat kelatahan dalam berpolitik. Politik akan bermanuver mengikuti celah mana yang terbuka dan berpeluang untuk dibuka. Lebih konkretnya, ada saat-saat ketika suatu partai malah mendukung kebijakan tertentu

demi memuluskan tujuan politiknya. Meskipun sebenarnya, hal tersebut bertentangan dengan hati nuraninya atau cita-cita luhur yang diusung partai tersebut. Tidak jauh berbeda dengan politikus abu-abu yang kemudian diartikan kepada ketidaksetiaan. Tentu tak asing lagi di telinga kita, mendengar adanya sosok politikus yang awalnya mendedikasikan dirinya pada partai A. Namun karena suatu hal dan dalam waktu yang tidak begitu lama, ia malah bermanuver dan berlabuh di partai B. Banyak alasan yang bermunculan ketika ditanya atas sikapnya tersebut. Ada yang berkilah bahwa sudah tidak seide , tidak nyaman lagi, dan sebagainya. Apapun alasannya, masyarakat tidak mau tahu dan menilai politikus yang bersikap demikian adalah politikus yang tidak loyal. Bila telah demikian, jika semua aspek kehidupan dinilai relative, tidak adakah yang baik, dan yang salah secara pasti? Bukankah kesetiaan dapat dinilai secara pasti? Abu-abu. Tidak hitam dan tidak juga putih, sehingga banyak yang berseloroh dan bersembunyi di balik fleksibilitas yang dika ndung oleh abu-abu ini. Namun apapun alasannya, sikap abu-abu telah berhasil menggiring seseorang kepada ketidaksetiaan. Cukup pilih, putihlah atau hitamlah.

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


23

Korupsi di Mata Mahasiswa

Hai pembaca setia Ganto ! Jika diibaratkan suatu penyakit, korupsi sudah seperti tumor ganas bagi bangsa Indonesia. Meskipun dilakukan suatu pengobatan maka akan membutuhkan waktu yang lama dan peluang sembuhnya juga kecil. Meskipun begitu, secercah cahaya ditengah gelapnya lorong korupsi tetap menjadi asa bagi pejuang anti korupsi. Mahasiswa sebagai agent of change sudah semestinya menjadi lentera dan bersikap kritis akan hal itu. Bagaimana mahasiswa memandang korupsi tersebut? dan Apa yang bisa dilakukan mahasiswa untuk memberantas korupsi tersebut?

D. 36,53 %

A. 8,7 % B.7,27 %

C. 47,51 %

3. Apa yang anda lakukan ketika mengetahui adanya suatu tindakan korupsi, khususnya yang dilakukan mahasiswa? a. Berdiam diri dan tidak membicarakannya dengan siapapun b. Memberitahukan tindakan tersebut kepada siapapun c. Memperingati orang yang bersangkutan dan menceritakan kepada orang-orang tertentu d. Langsung melaporkan kepada pihak berwenang

D. 3,18 % C. 20,13 % B. 16,16 %

A. 60,53 %

1. Bagaimana anda memandang tindakan korupsi ? a. Indikasi kemerosotan moral seseorang b. Perilaku yang sangat memalukan c. Suatu tradisi yang tidak patut ditiru d. Sesuatu yang manusiawi

C. 28,22 %

D. 33,27 %

A. 35,37 %

D. 17,52 % A. 21 % C. 11,26 % B. 50,22 %

3,14%% B.B.3,14

4. Menurut anda, apa yang melatarbelakangi terjadinya suatu tindakan korupsi ? a. Adanya kesempatan b. Dalam keadaan terpaksa c. Sudah menjadi suatu tradisi sehingga melakukan korupsi adalah suatu hal yang biasa d. Lemahnya penegakan hukum

3. Pada dunia mahasiswa, perilaku seperti apa yang menjadi cikal bakal tindakan korupsi? a. Tidak disiplin waktu b. Melakukan pengelembungan dan manipulasi dana pada suatu organisasi c. Berwirausaha dengan mendapat untung sebesar-besarnya d. Menyalahgunakan wewenang di suatu lembaga

D.23 %

A.29,47 %

C. 15,67 % B. 31,86 %

5. Menurut anda, apa hukuman yang patut diterima seorang koruptor? a. Potong tangan b. Mendirikan lembaga yang bermanfaat bagi masyarakat dengan menggunakan uang pribadi sebanyak uang yang ia korupsi. c. Di-fakirmiskinkan d. Dipenjarakan

Grafis: Wak i

Info Kampus

Jadwal Pelayanan Akademik Semester Genap

Edisi No. 172/Tahun XXIII/ Januari-Februari 2013


24

Perbedaan Kata dan Makna

Dalam bahasa Indonesia, ada dua kata yang sulit dipahami maknanya, sehingga pemakaian kata-kata tersebut acap kali disalah-artikan. Padahal, frekuensi penggunaan dan operasional keduanya sangat tinggi. Kedua kata itu adalah mendengar-menyimak dan berbicara-bercakapcakap. Dalam kehidupan sehari-hari, kata mendengar dan menyimak cenderung disamakan. Padahal, menurut Pekin, Janset, dan Didem (2010) mengutip pendapat Emmert, menyatakan, Listening is more than merely hearing words. Listening is an active process by which students receive, construct meaning from, and respond to spoken and or nonverbal messages. Ketiga pakar tersebut, membedakan makna antara menyimak dan mendengar. Menyimak bukanlah semata-mata mendengar (hearing). Dalam menyimak, penyimak secara aktif menerima, menyusun makna, dan merespon tutur verbal maupun nonverbal yang disampaikan pengujar. Treur (2010) juga secara tegas membedakan makna kata menyimak ( listening ) dengan mendengar (hearing). Pembedaan itu ditemukan dalam pernyataan, The average college student spend about 14 hours per week in class listening (or perhaps ‘hearing’ there is a difference). Menyimak (to listen) memerlukan perhatian, konsentrasi, dan keseriusan yang tinggi sedangkan mendengar (to hear), tidak. Kata kedua adalah berbicara dan bercakapcakap. Berbicara dalam bahasa Inggris to speak, speaking sedangkan bercakap-cakap diserap dari kata to talk, talking. Secara teori, seseorang dapat berbicara tanpa adanya orang lain. Namun, tidak mungkin seseorang bercakap-cakap jika tidak ada orang lain. Dalam bercakap-cakap, selalu ada interaksi. Sebab, di dalam diri manusia ada dua pihak ‘hati dan otak’ dan percakapan pun

Oleh: Nursaid (Dosen Fakultas Bahasa dan Seni

terjalin antara otak dengan hati. Meski tidak berdasarkan penelitian ilmiah, namun layak diakui bahwa kita masih ‘malas’ menyimak dan lebih suka mendengar. Adanya saling menyimak akan menciptakan dan mengembangkan rasa simpati dan empati terhadap pihak yang terlibat dalam komunikasi, terutama empati. Tanpa empati, kita hanya mendengar dan tak mampu bercakap-cakap. Malas menyimak dan enggan bercakap-cakap bukan hanya mengakibatkan buruknya proses dan hasil komunikasi. Dampak terburuk dari kebiasaan itu adalah kita jarang belajar. Misalnya, seorang mahasiswa rajin mengikuti perkuliahan, berada di dalam ruang kuliah selama perkuliahan berlangsung. Namun, benarkah ia sedang belajar? Kebanyakan, tidak. Di dalam ruang perkuliahan, dosen sibuk berbicara, mahasiswa hanya sibuk mendengar. Bukan hanya itu, mahasiswa malah sibuk berbicara dengan pikirannya masing-masing. Tentu saja, mahasiswa tidak terlibat dalam proses belajar. Seharusnya, sebagai dosen, mahasiswa ataupun masyarakat pada umumnya, memperbaiki kebiasaan menyimak dan bercakap-cakap. Kegiatan ini dapat berawal, ketika sedang terlibat dalam proses menyimak dan bercakap-cakap dengan orang lain, si penyimak harus bersedia mengorbankan waktu, perasaan, atau pikirannya. Mungkin saja, apa yang disimak itu hal-hal yang sangat biasa, sangat sederhana, atau bersifat sangat lazim. Namun si penyimak harus mengembangkan empatinya. Disinilah akan terjalin hubungan saling menghargai satu sama lain, komunikasi dan hubungan pun terjalin dengan baik.

Ikhlas dalam Pengabdian

Sosok lemah lembut dan bertutur kata bijak menjadikannya pribadi yang disegani orang-orang disekitanya. “Bekerja dengan ikhlas sebaik mungkin” itulah yang menjadi kalimat kunci baginya dalam menjalani kehidupan. Menurutnya kalimat yang simple ini jika dijabarkan akan memberikan makna yang sangat dalam. Ia adalah Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) periode 2012-2016, Prof. Dr. Phil. Yanuar Kiram yang dilantik pada 20 Juli 2012 lalu. Menjadi seorang pemimpin merupakan hal yang tidak mudah sebab semua yang dikerjakan akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Baginya bekerja dengan semaksimal mungkin akan mendapatkan hasil yang maksimal pula. Tak hanya itu, ia juga menyerahkan semua pekerjaan yang dilakukan kepada tuhan secara ikhlas. “Kita mencari keredoaan Allah,” tuturnya ketika di temui di ruangannya, Selasa (26/2). Rektor yang menamatkan pendidikan S3-nya di Jerman ini bertekat menjadikan UNP menjadi word class university. Untuk mewujudkannya, banyak hal yang dilakukan demi mencapai cita-cita yang besar ini. Selain dari itu, Ia juga bertekat menjadikan UNP sebagai universitas yang dipercaya oleh masyarakat sebagai pelaksana pendidikan tinggi. Menjadikan lulusan terbaik juga merupakan prioritas utamanya. “Kita akan benahi dari dalam terlebih dahulu mulai dari fasilitas, dosen, karyawan dan mahasiswa sendiri,” tegasnya.Untuk mewujudkan semua keinginan universitas, Ia sebagai rektor sangat menekankan kedisiplinan civitas

akademika UNP. Salah satunya yang dilakukan adalah memantau dosen dan karyawan pada awal perkuliahan diawal semester. Begitu juga dengan mahasiswa yang tidak puas dengan pelayanan dosen dan karyawan, silahkan sampaikan. Hal ini menurutnya untuk menjadikan UNP lebih baik kedepannya. “Mahasiswa juga boleh datang langsung ke Rektorat,” tegasnya. Bercerita tentang kunci kesuksesannya sampai menjadi rektor, lelaki kelahiran Rengat, 1 Januari 1957 ini hanya menerapkan prinsip yang telah lama ia yakini itu. Ia merupakan salah satu alumni UNP jurusan Olahraga dan Kesehatan yang meneruskan pendidikan S2 dan S3 ke Jerman. “Saya dibesarkan di UNP dan saya akan mengabdi untuk UNP,” tuturnya. Rektor yang pernah menjadi mahasiswa teladan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang pada tahun 1981 ini juga aktif diberbagai organisasi mahasiswa dulunya. Salah satunya adalah Ketua Badan Legislatif Senat Mahasiswa Fakultas Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan se-Indonesia pada tahun 1 9 8 2 - 1 9 8 3 . Menurutnya organisasi yang dijalaninya selama mengenyam pendidikan tinggi sangat berpengaruh pada pembentukan pola pikir dan tata cara berinteraksi dengan orang lain. Dalam kesibukannya sebagai rektor UNP bapak dari tiga orang anak ini juga senantiasa menyempatkan diri membaca berbagai buku. Salah satunya adalah buku-buku agama yang berguna untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Selain itu, bercengkrama dengan keluarga juga prioritas utama untuk mengisi waktu luangnya. Faeza Rezi S


Ganto Edisi 172