Page 1


2

Edisi No. 194/Tahun XXVII

FAJAR

SARIPATI

Menggugah Semangat Pergerakan Sudah saatnya  mahasiswa  Universitas  Negeri Padang  (UNP)  melakukan  reformasi  pergerakan.  Pola pergerakan  yang  selama  ini  dilakukan  dalam kelompok-kelompok  kecil  harus  diperluas  cakupannya  menjadi  kelompok  massa  yang  lebih  besar.  Maju bersama  sebagai  satu  kesatuan  dalam  upaya memperjuangkan  kepentingan  rakyat.  Bukan bergerak  sendiri  atas  nama  organisasi,  unit kegiatan,  ataupun  komunitas,  melainkan  sebagai mahasiswa.  Mahasiswa  UNP,  mahasiswa  Indonesia. Mahasiswa  adalah  bagian  dari  masyarakat  yang seharusnya  lepas  dari  kepentingan  politik  suatu golongan.  Mahasiswa  menjadi  orang  yang  paling dipercaya  dan  dipertimbangkan  suaranya  oleh rakyat  maupun  pemerintah.  Dengan  kapasitasnya sebagai  kaum  terdidik,  mahasiswa  akan  mampu memandang  suatu  permasalahan  secara  logis  dan memberikan  solusi  yang  solutif. Tidak  dapat  dipungkiri  bahwa  dalam  catatan sejarah  pergerakannya,  mahasiswa  menjadi  komponen  masyarakat  yang  paling  memberikan  pengaruh besar  terhadap  perubahan  bangsa  ini.  Reformasi struktur  pemerintahan,  seperti  peralihan  orde  lama ke  orde  baru  dan  orde  baru  menuju  reformasi  tidak terlepas  dari  campur  tangan  mahasiswa.  Demikianlah  kuatnya  peran  mahasiswa  dalam  mewujudkan perubahan.  Hendaknya,  semangat  pergerakan mahasiswa  dahulu  tetap  mengakar  di  dalam  diri mahasiswa  sekarang. Namun,  saat  ini  mahasiswa  terlihat  lebih menyibukkan  diri  dengan  kuliah  dan  tugas.  Tidak ada  lagi  waktu  untuk  berdiskusi  tentang  permasalahan  yang  terjadi  di  negeri  ini.  Forum-forum  diskusi semakin  minim  peminat.  Hanya  segelintir  mahasiswa  yang  tertarik  mengikuti  diskusi.  Hal  tersebut terbukti  dengan  sedikitnya  peserta  yang  hadir.  Jika mahasiswa  sudah  tidak  tertarik  membahas  permasalahan  yang  terjadi  di  masyarakat,  lalu  pergerakan seperti  yang  masih  diharapkan  dari  mahasiswa? Mahasiswa  seharusnya  kembali  membuka  mata dan  memasang  telinga  terhadap  permasalahan yang  terjadi  di  masyarakat.  Negeri  ini  membutuhkan  mahasiswa  yang  mau  meluangkan  waktu untuk  berdiskusi  dan  melakukan  analis  mendalam secara  ilmiah  terhadap  suatu  permasalahan.  Bangsa ini  membutuhkan  pemuda  yang  tidak  hanya  pandai mengkritisi,  tapi  juga  memberikan  solusi. Menjadi  mahasiswa  bukan  sekadar  masuk  kuliah dan  mengerjakan  tugas.  Ada  banyak  bentuk pergerakan  yang  dapat  dilakukan  sebagai  mahasiswa.  Pergerakan  tidak  saja  perihal  orasi  atau  aksi demontrasi  ke  jalan.  Mengadakan  diskusi  atau  seminar  juga  merupakan  bentuk  pergerakan.  Sekaranglah  saatnya  mahasiswa  menghidupkan  semangat pergerakan  yang  tengah  mati  suri.

GANTOLE

+ Aksi,  Wujud Pergerakan Mahasiswa - Tunjukkan aksimu! + UNP Raih Akreditasi A POKOK PADANG - Salut! + UNP Canangkan Pembangunan Lima Titik Parkir - Semoga tidak harapan palsu.

Memacu Aktivitas Mahasiswa Mahasiswa di  perguruan  tinggi adalah  generasi  muda  yang  dianggap  sudah  tumbuh  dan  berkembang atau  dianggap  mulai  dewasa.  Mahasiswa  tentulah  menjadi  harapankelangsungan  bangsa  dan  negara.  Untuk  itu,  mahasiswa  haruslah  berusaha  untuk  mengembangkan  segala potensi  diri.  Perguruan  Tinggi  tentulah  menjadi  wadah  yang  tepat untuk  pengembangan  potensi  diri  baik  potensi  akademik  maupun  potensi nonakademik  seperti  bakat,  minat, keterampilan  dan  sebagainya. Pengembangan  potensi  akademik  adalah  hal  utama  yang  harus dipacu  dan  digapai  oleh  mahasiswa. Penguasaan  akademiklah  yang akan  mengubah  mahasiswa  menjadi  lulusan  profesional  sesuai dengan  bidang  keilmuannya. Selain  itu,  perguruan  tinggi juga  merupakan  wadah  mengembangkan  karakter,  kepribadian, bakat,  minat,  dan  keterampilan mahasiswa.  Pengembangan  potensi nonakademik  ini  adalah  pokok kedua  yang  harus  dikuasai  mahasiswa  untuk  mendukung  keprofesionalannya  demi  kesuksesan    menjalani  kehidupan  di  masyarakat.

Dalam sejarah  kehidupan  bangsa  dan  negara  ini,  tokoh-tokoh  penerus  kehidupan  bangsa  dan  negara pada  umumnya  berasal  dari  aktivisaktivis  mahasiswa.  Kita  bisa  berkaca  dari  sejarah  prakemerdekaan, sejarah  kemerdekaan,  sejarah  orde lama,  sejarah  orde  baru,  dan  sejarah orde  reformasi.  Tokok-tokoh  bangsa pada  setiap  orde  perkembangan bangsa  umumnya  berasal  dari  aktivis  mahasiswa  perguruan  tinggi. Agar  menjadi  tokoh-tokoh  penerus  bangsa  nantinya,  perguruan tinggi  telah  menyediakan  berbagai sarana  dan  prasarana  untuk  pengembangan  akademik  dan    nonakademik  mahasiswa.  Pengembangan  potensi  akademik  telah difasilitasi  oleh  program  studi  sesuai bidang  keilmuan  yang  dimasukinya.  Pengembangan  potensi  nonakademik  telah  difasilitasi  oleh keberadaan  berbagai  organisasi mahasiswa  di  tingkat  jurusan  dan fakultas  serta  berbagai  organisasi mahasiswa  dan  unit  kegiatan  mahasiswa  di  tingkat  universitas. Pada  pokoknya,  perguruan  tinggi  telah  memfasilitasi  mahasiswa untuk  mengembangkan  potensi

akademik dan  potensi  nonakademik agar  menjadi  lulusan  profesional yang  paripurna  hendaknya.  Organisasi  mahasiswa  dan  unit  kegiatan mahasiswa  merupakan  wadah yang  tepat  mengembangkan  potensi berorganisasi  mahasiswa.  Kembangkanlah  potensi  berorganisasi dalam  diri  mahasiswa  secara  elok. Selain  organisasi  mahasiswa  di  dalam  kampus,  mahasiswa  juga  dapat mengembangkan  kemampuan  berorganisasi  di  luar  kampus.  Berbagai organisasi  di  luar  kampus  seperti Himpunan  Mahasiswa  Islam,  Ikatan Mahasiswa  Muhammadiyah,  Komite Nasional  Pemuda  Indonesia,  dan sebagainya.  Artinya,  jugalah  baik mahasiswa  ikut  berpartisipasi  dan mengembangkan  diri  di  dalam  organisasi  mahasiswa  dan  organisasi  kepemudaan  yang  ada  di  luar  kampus. Singkatnya,  mahasiswa  yang  berhasil  baik  dalam  bidang  akademik  dan berhasil  baik  dalam  pengembangan bakat,  minat,  dan  organisasi  akan menjadi  sukses  dalam  kehidupannya kelak.  Mahasiswa  yang  seperti  inilah yang  akan  berhasil  menjadi  tokohtokoh  penerus  kehidupan  bangsa  dan negara  ini.  (Eto)

POKOK PADANG

Proses Layout: Tim layout SKK Ganto sedang me-layout dan menyelesaikan bahan edisi 194 di sekretariat SKK Ganto. f/Wildan*

Salam Pers  Mahasiswa! Bertahan.  Sebuah  kata  yang sangat  berarti  di  akhir  perjuangan menjalankan  organisasi  ini.  Dalam Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia, bertahan  berarti  tidak  mau  menyerah.  Tetap  pada  keadaannya  meskipun  mengalami  berbagai  hal.  Kata inilah  yang  dirasa  tepat    menggambarkan  kondisi  kru  SKK  Ganto  saat ini.  Bertahan  untuk  menyelesaikan hal  yang  harus  diselesaikan  walaupun  banyak  konflik  internal  mendera.  Mencoba  menjadi  pribadi bertanggung  jawab. Tidaklah  mudah  untuk  bertahan  di  tengah  tekanan  deadline cetak  dan  tugas-tugas  akhir  kuliah yang  harus  dituntaskan.  Masamasa  ujian  akhir  semester  menjadi

momok bagi  kru  Ganto  dalam menyelesaikan  edisi  194  ini.  Maka, tidak  ayal,  beberapa  di  antara mereka  menghilang  satu  per  satu. Hanya  mereka  dengan  mental pemenanglah  yang  masih  mendampingi  penyelesaian  edisi  kali ini. Sampainya  edisi  194  ke  tangan pembaca  tidak  terlepas  dari  perjuangan  dan  sokongan  dari  manusia  tangguh  Ganto, yaitu  mereka yang  bertahan.  Oleh  sebab  itu, apresiasi  yang  tinggi  ditujukan kepada  mereka  yang  telah  bekerja keras  menyelesaikan  edisi  kali  ini. Semoga,  situasi  ini  bermuara  pada pendewasaan  diri  menjadi  pribadi lebih  baik. Selain  menggarap  redaksi,  SKK

Ganto juga  berkomitmen  untuk meningkatkan  jejaring  di  kancah nasional.  Pada  awal  Desember  lalu, Ganto  juga  mengikuti  Kongres Nasional  Perhimpunan  Pers  Mahasiswa  Indonesia  di  Yogyakarta.  Acara  ini  dihadiri  oleh  ratusan  Lembaga  Pers  Mahasiswa  se-Indonesia.  Diharapkan  agar  Ganto  lebih  dikenal lagi  di  kancah  nasional.  Tidak  dapat dipungkiri  bahwa  di  era  globalisasi ini  penting  bagi  suatu  lembaga untuk  membangun  jaringan. Edisi  kali  ini,  Ganto menghadirkan  pembahasan  laporan  mengenai pergerakan  mahasiswa  Indonesia secara  umum  dan  mahasiswa  UNP secara  khusus.  Selain  itu,  Ganto juga  menyuguhkan  beragam  informasi  dan  jawaban  seputar  permasalahan  yang  ada  di  kawasan  kampus, seperti  UNP  raih  akreditasi  A,  UNP canangkan  pembangunan  lima titik  parkir,  dan  juga  berita  kegiatan  yang  diadakan  oleh  unit  kegiatan  mahasiswa  selingkungan  UNP. Jangan  lupa  untuk  berkunjung  ke portal  berita  Ganto  di  http:// www.ganto.or.id.  Untuk  berita kegiatan  yang  tidak  bisa  dicetak, sudah  diterbitkan  di  halaman website tersebut. Akhir  kata,  segenap  Kru  SKK Ganto menyampaikan  permohon maaf  kepada  pembaca  setia.  Kritik dan  saran  selalu  kami  tunggu untuk  baiknya  kita  semua  dalam balutan  hangat  sebuah  ikatan sebagai  keluarga  besar,  yakni  UNP. Selamat  membaca. Viva  Persma!

Sur at Kabar Kam pus U niver sitas Negeri Pad ang STT No. 519 SKK/DITJEN PPG/STT/1979, Internatio nal Standar d Ser ial Num ber ( ISSN): 1412-890X, Pelindung: Rektor UNP: Prof. Ganefri, Ph.D., Penasehat: Wakil Rektor III UNP: Dr. Syahrial Bakhtiar, M.Pd., Penanggung Jawab: Prof. Dr. Ermanto, M.Hum., Dewan Ahli: Jefri Rajif, Novarina Tamril, Sabrina Khairissa, Kurniati Rahmadani. Staf Ahli: Konsultasi Psikologi: Dr. Marjohan, M.Pd., Kons., Konsultasi Agama: Dr. Ahmad Kosasih, M.A., Konsultasi Kesehatan: dr. Pudia M. Indika, Kritik Cerpen: M. Ismail Nasution, S.S., M.A., Kritik Puisi: Utami Dewi Pramesti, M.Pd., Kritik English Corner : Drs. Jufri, M.Pd., Pemimpin U mum: Fitri Aziza, Sekr etaris U mum: Windy Nurul Alifa, Bendahara U mum: Resti Febriani, Atas Nama Pemimp in R ed ak si: Fitri Aziza, Kep ala Penelitian d an Pengem bangan: Sri Gusmurdiah, Pem imp in U s aha: Hari Jimi Akbar, Red aktur Pelak s ana: Yulia Eka Sari, Redaktur Berita: Ermiati Harahap dan Neki Sutria, Redaktur Tulisan: Maida Yusri, Redaktur Bahasa Sastra dan Budaya: Fakhruddin Arrazzi, Redaktur Online: Ranti Maretna Huri Redaktur Artistik: Doly Andhika Putra, Layouter: Fauziah Safitri, Fotografer: Okta Vianof, Riset: Zahara, Staf Usaha: Abdul Hamid. Reporter Junior: Alfendri, Antonia Dwi Rahayuningsih, Arrasyd, Debi Gunawan, Gezal Sabri, Hengky Yalandra, Laila Marni, Lutfi Darwin, Nadila Aprisia, Oktri Diana Putri, Putri Radila, Tivani Monic Sandria, Wildan Firdaus, Penerbit: SKK Ganto UNP, Alamat: Gedung PKM UNP Ruang G65 Universitas Negeri Padang, Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar. Kode pos 25131. Laman web: http://ganto.or.id , email: redaksiganto@gmail.com, Percetakan: Unit Percetakan PT. Padang Graindo Mediatama (Isi di luar pertanggungjawaban percetakan), Tarif iklan: Rp4.000.000,00 (halaman penuh berwarna), Rp1.500.000,00 (1/2 halaman hitam-putih), Rp100.000,00 (iklan web ukuran 300x250 pixel). Redaksi menerima tulisan berupa artikel, esai, feature, cerpen, puisi, dan bentuk tulisan kritis lainnya dari sivitas

akademika UNP. Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah esensinya. Tulisan yang masuk menjadi hak redaksi dan yang tidak dimuat akan dikembalikan atau menjadi bahan edisi berikutnya. Setiap tulisan yang dimuat akan diberi imbalan/uang lelah semestinya.


3

Edisi No. 194/Tahun XXVII

SURAT PEMBACA

SKK Ganto  menerima  surat  pembaca,  baik berupa  keluhan,  kritikan,  saran,  maupun permasalahan  tentang  lingkungan  sekitar  UNP. Surat  pembaca  dapat  dikirimkan  melalui  email redaksiganto@gmail.com  atau  dapat  diantar ke  Sekretariat  SKK  Ganto UNP, Gedung  Pusat Kegiatan  Mahasiswa    Ruang  G65  UNP  dengan dilampirkan  kartu  identitas:  KTP  atau  KTM.

Pengurusan Surat Online Beberapa bulan  lalu,  saya  hendak  membuat surat  keterangan  aktif  kuliah  untuk  beberapa keperluan  di  Kantor  Jurusan,  Fakultas  Ilmu Sosial.    Namun  saya  diminta  untuk  memfotokopi contoh  surat  keterangan  aktif  oleh  orang Jurusan.  Sesudah  saya  memfotokopi    saya diminta  untuk  mencari  sendiri  tanda  tangan Ketua  Prodi,  hal  ini  cukup  sulit  bagi  saya, terkadang  waktu  kuliah  saya  tidak  sesuai dengan  jadwal  mengajar  Ketua  Prodi  tersebut. Alhasil  saya  cukup  lama  untuk  bisa  meminta tanda  tangannya.  Saran  saya,  sebaiknya  FIS membuat  suatu  web  untuk  keperluan  mengurus surat,  agar  mahasiswa  tidak  kebingungan  untuk membuat  surat,  seperti  surat  keterangan  aktif ku liah.

LD Mahasiswa Fakultas Imu Sosial

Penambahan Koleksi Perpustakaan Selamat kepada  UNP  yang  meraih  akreditasi A  dipenghujung  2016.  Akreditasi  A  tersebut, tentunya  tidak  sekadar  status  atau  formalitas belaka  bagi  UNP.  Namun  juga  harus  sesuai dengan  kualitas  UNP  di  semua  bidang.  Jika  pun masih  ada  yang  kurang,  UNP  harus  berbenah secepatnya.    Terkhusus  untuk  perpustkaan pusat  UNP,  sejauh  ini  koleksi  bukunya  masih minim  dan  kurang  lengkap.  Semoga  ke  depannya  koleksi  buku  pustaka  pusat  lebih  banyak  dan lebih  lengkap  lagi.  Sehingga,  mahasiswa  UNP lebih  terbantu  dalam  mencari  berbagai  literatur dan  referensi,  baik  untuk  tugas  perkuliahan maupun  tugas  akhir/skripsi

Sri Gusmurdiah Mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan TM 2012

Pungutan Biaya oleh Satpam Saya ingin  pihak  keamanan  Universitas Negeri  Padang  memberikan  penjelasan  mengenai  aturan  tentang  pemungutan  biaya ketika  kunci  motor  ketinggalan  di  motor.  Saya pernah  mengalami  kejadian  kehilangan  kunci ketika  tergesa-tegesa  memasuki  lokal  karena terlambat.  Pada  saat  itu  ternyata  kunci  motor saya  ketinggalan  di  motor.  Ketika  saya  sudah berada  di  kelas,  baru  saya  sadari  bahwa  kunci motor  saya  ketinggalan.  Setelah  melihat  ke motor,  ternyata  di  motor  saya  juga  tidak  ada. Akhirnya  saya  menanyakan  hal  tersebut  ke pihak  keamanan  yang  berjaga  di  sana,  ternyata kunci  motor  saya  sudah  diamankannya.  Setelah mengisi  surat  perjanjian  dan  melihatkan  Surat Tanda  Nomor  Kendaraan  ke  petugas  tersebut, mereka  meminta  sejumlah  uang.  Apakah  hal itu  memang  peraturan  UNP  atau  bagaimana?

Mahasiswa UNP

Luthfy Darwin Grafik: Doly Andhika 3/1/2017 SURAT PEMBACA

Kursi Kuliah Rusak Salah satu   ru angan  perkuliahan  di  Jurusan  Elektronika, yaitu   ruang  E30,  kursi-kursinya su dah  banyak  yang  ru sak.  Keadaan  itu  sudah  hampir  satu  semester  terjadi  dan  belum  ada perbaikan.  Saya  berharap, setelah  beru bahnya  akreditasi UNP  menjadi  A,  semua  kerusakan yang  ada  dapat  diperbaiki  dengan segera,  sehingga  mahasiswa  merasa  nyaman  untuk  mengikuti  perkuliahan,  serta  posisi  duduk  pun tidak  berantakan.

Mahasiswa Fakultas Teknik

Kecepatan kendaraan di kampus Sebelu m menulis  su rat  pembaca  ini,  saya  sendiri  adalah perwakilan  dari  mahasiswa  yang sering  berpindah-pindah  gedung ku liah.  Karena  jarak  yang  tidak begitu  jauh,  kami  lebih  memilih berjalan  kaki  menuju  gedu ng perkuliahan.  Akan  tetapi  ketaku tan  sering  kami  rasakan  di saat  berjalan  di  sekitar  jalanan lingku ngan  kampus  kita  ini. Untu k  menyeberang  bisa  menunggu  lama,  kita  perlu  berhatihati  karena  rata-rata  pengendara  melajukan  kendaraannya dengan  kecepatan    tinggi. Berdasarkan  yang  kita  ketahu i  dan  kami  lihat  sendiri, kecepatan  kendaraan  di  lingkungan  kampus  ini  sudah  diatur dengan  adanya  plang  peringatan yang  dipasang  di  depan  Fakultas Ilmu   Sosial,  yaitu  mewajibkan selu ru h  kendaraan  melaju dengan  kecepatan  10  km  Perjam. Kami  mau  menanyakan  apakah  peringatan  itu  hanya  berlaku   u ntuk  kendaraan  yang melewati  jalan  di  depan  FIS  saja? Jika  peratu ran  berlaku   u ntuk semu a  jalanan  di  su du t  kampus

ini, kenapa  hal  ini  masih  banyak terjadi?  Kami  pejalan  kaki  masih saja  merasa  takut  untuk  berjalan di  jalan  kampus  ini.  Adakah pihak  yang  berwenang  menegakakan  peringatan  ini?  Memang  ada  beberapa  titik  yang sudah  memiliki  space  untuk  para pejalan  kaki,  tapi  hanya  beberapa  tempat  saja.

Arrasyd Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni

Parkir Liar Saya menyayangkan  adanya parkiran  liar  di  area  tu gu   seorang  anak  bersama  laki-laki dewasa  yang  mengenakan  seragam  wisu da  lengkap  di  dekat simpang  depan  rektorat  lama. Padahal  pos  satpam  ada  di  depannya.  Apakah  parkir  di  sana diperbolehkan?  Atau  memang sudah  diperingati  tapi  tidak  ada peru bahan.  Saya  berharap,  ke depannya  tidak  ada  lagi  kendaraan  yang  terparkir  di  sana. satu  lagi,  jika  itu   memang  tugu, kenapa  terlalu  tertu tu pi  sehingga  keberadaannya  ku rang terasa.  Kalau   tidak  ada  maknanya,  sebaiknya  diruntu hkan saja.

A.A Mahasiswa UNP

Konsistensi Jadwal Ujian Universitas Negeri  Padang selalu  menetapkan  jadwal  ujian baik  ujian  tengah  semester  maupun  ujian  akhir  semester.  Namun,  sangat  disayangkan  jadwal tersebut  belum  sepenuhnya  dilaksanakan  oleh  dosen.  Terkadang ujian  dipercepat  dan  terkadang diperlambat.  Akibatnya  ketika ujian  dipercepat  mahasiswa  terkesan  tidak  siap,  sedangkan  jika diperlambat  membuat  maha-

siswa membatalkan  beberapa rencananya  seperti  pembatalan tiket  yang  telah  di  pesan  jauh  hari. Sehingga  percuma  saja  ada  jadwal ujian.  Saya  berharap  kebijakan  ini lebih  ditegaskan.

Nur Fitri Mahasiswa UNP

Solusi Tempat Parkir di FMIPA Di zaman  yang  modern  ini, hampir  seluruh  mahasiswa  dan dosen  membawa  kendaraan  pribadi  ke  kampus.  Hal  yang  menjadi permasalahan  di  Fakultas  Matematika  dan  Ilmu  Pengetahuan Alam  (FMIPA)  UNP   saat  ini   adalah kurangnya  tempat  parkir  kendaraan.  Tempat  parkir  yang tersedia  tidak  mampu  menampung  seluruh  kendaraan.  Sehingga  banyak  mahasiswa  yang parkir  sembarangan.  Tak  hanya itu,  dosen  pun  juga  banyak  yang parkir  mobilnya  di  badan  jalan. Banyaknya  kendaraan  membuat  tempat  parkir  penuh  terutama  oleh  kendaraan  roda  dua. Bahkan  ada  mahasiswa  yang  tetap memaksakan  memarkirkan  sepeda  motornya  meskipun  tempat parkir  telah  penuh.  Hal  ini  dapat menyulitkan  mahasiswa  yang akan  keluar  dari  parkiran.  Selain itu  dapat  merugikan  pemilik kendaraan  lain,  seperti  gores  pada kendaraannya.  Seharusnya  satpam  yang  bertugas  mengatur kendaraan  yang  akan  parkir  agar tidak  ada  kendaraan  yang  mendesak  kendaraan  yang  lain.  Saya juga  pernah  mendengar  bahwa UNP  akan  membangun  tempat parkir.  Namun  Saya  berharap agar  pihak  kampus  FMIPA  memberikan  solusi  sementara  sampai tempat  parkir  itu  ada.  Agar  dapat terciptanya  ketertiban  dan  keamanan  di  kampus.

AR Mahasiswa FMIPA TM 2014


LAPORAN

4

Edisi No. 194/Tahun XXVII

Aksi, Wujud Pergerakan Mahasiswa Menyadari perannya sebagai agent of change, mahasiswa dituntut kritis terhadap isu di masyarakat. Mereka pun menyuarakan aspirasinya melalui Aksi Oleh Fitri Aziza dan Yulia Eka Sari epat dua  tahun  pemerintahan  Jokowi-Jusuf Kalla  pada  Jumat  21

T

Oktober 2016,  tampak  ratusan mahasiswa  yang  tergabung dalam  Aliansi  Badan  Eksekutif Mahasiswa  (BEM)  se-Sumatra roadshow  dari  halaman  Mesjid  AlAzhar  menuju  Kantor  DPRD Sumbar. Roadshow tersebut merupakan  aksi  damai  yang juga  dilakukan  oleh  Aliansi  BEM seluruh  Indonesia  di  Istana  Negara,  Jakarta  pada  hari  tersebut. Dalam  aksi  tersebut  mahasiswa  menyampaikan  lima  tuntutan  pada  pemerintah,  yaitu tindak  tegas  mafia  kasus  kebakaran  hutan  dan  lahan,  tolak reklamasi  Teluk  Benoa  dan  Teluk Jakarta,  tolak  tax amnesty yang tidak  pro  rakyat,  tolak  perpanjangan  izin  ekspor  konsentrat setelah  Januari  2017,  komitmen terhadap  usaha  hilirisasi  minerba,  serta  cabut  hukum  kebiri dan  selesaikan  akar  permasalahan  kejahatan  seksual  pada  perempuan  dan  anak. Tidak  hanya mengajukan  lima  tuntutan  kepada  pemerintah,  selama  aksi  mahasiswa  juga membagikan  selebaran  kepada masyarakat  yang  bertuliskan “Dua  tahun  Nawa  Cita  digadanggadang,  dua  tahun  pula  Nawa Cita  dininabobokan  oleh  kepentingan-kepentingan  parsial”. Selebaran  tersebut  juga  berisi  penilaian  mahasiswa  terhadap penegakan  hukum  di  Indonesia yang  masih  tajam  ke  bawah  dan tumpul  ke  atas.  Hal  ini  berlatar dari  kekecewaan  mahasiswa  atas diterbitkannya  Surat  Pernyataan  Pemberhentian  Penyelidikan terhadap  15  perusahaan  yang tengah  diselidiki  dalam  kasus kebakaran  hutan  dan  lahan  di Sumatra  dan  Kalimantan. Adapun  tanggapan  dari  pemerintah,  dalam  hal  ini  Ketua  DPRD Sumbar,  Ir.  H.  Hendra  Irwan Rahim  berjanji  akan  meneruskan aspirasi  mahasiswa  tersebut  ke pemerintahan  pusat.  “Insya  Allah,  saya  akan  sampaikan  aspirasi mahasiswa  ini  ke  pusat”  ungkapnya,  Jumat  (21/10). Dua  pekan  setelah  aksi  yang dilakukan  oleh  Aliansi  BEM  seSumbar,  Kantor  DPRD  Sumbar kembali  diramaikan  oleh  300 mahasiswa  yang  tergabung dalam  Gerakan  Mahasiswa  Pembebasan  yang  berasal  dari  Universitas  Negeri  Padang  (UNP), Universitas  Andalas,  Institut Agama  Islam  Imam  Bonjol  Padang,  dan  mahasiswa  Pasca  Universitas  Andalas.  Dalam  aksi yang  berlangsung  pada  Kamis, 3  November  2016  ini,  mahasiswa menuntut  pemerintah  dan  Polri agar  segera  menangkap  dan  mengadili  Basuki  Tjahya  Purnama  alias Ahok  atas  kasus  penistaan  agama. Hendra  Syaputra,  Sekretaris Gerakan  Mahasiswa  Pembebasan Sumatera  Barat  mengatakan bahwa  aksi  tersebut  hanyalah salah  satu  dari  gerakan  yang berusaha  dilakukan  untuk  membangkitkan  kembali  pergerakan

Barat (Sumbar) melakukan

yang mulai  melemah.  “Pergerakan  mahasiswa  dewasa  ini sudah  mulai  melemah,  banyak mahasiswa  yang  tidak  peduli  lagi dengan  bangsa  dan  negaranya,” ujar  Hendra  saat  ditemui  pukul setengah  delapan  malam  di  salah satu  kafe  jalan  Simpang  Tinju, Padang,  Minggu  (4/12). Bagi  Hendra,  melemahnya pergerakan  mahasiswa  terjadi karena  mahasiswa  sekarang hanya  mementingkan  kuliah sesuai  dengan  SKS  yang  sudah diterapkan,  wisuda  tepat  waktu dan  setelahnya  bekerja.  Tidak hanya  itu,  Ia  melihat  mahasiswa juga  mulai  apatis  terhadap politik  dan  ideologi  Islam.  “Mahasiswa  cenderung  suka  diskusi untuk  banyak  hal,  namun  jika  sudah  mengaitkan  islam  ke  dalam politik,  kebanyakan  mereka  hanya  akan  diam,”  tegas  mahasiswa Institut  Teknologi  Padang  ini. Beberapa  pekan  usai  wawancara  dengan  Hendra,  Gerakan Mahasiswa  Pembebasan  Sumbar kembali  mengadakan  aksi  long march  dari  Depan  Hotel  Pangeran Beach  ke  Polresta  Padang  dalam rangka  Aksi  Peduli    Kaum  Muslim Aleppo  Suriah,  Jumat  (23/12). Organisasi Dalam Kampus Pun Ikut Aksi Tidak  hanya  melalui  organisasi  luar  kampus,  mahasiswa UNP  sudah  terlebih  dahulu  melakukan  pergerakan  atas  nama organisasi  di  dalam  kampus, salah  satunya    Wadah  Pengkajian  dan  Pengembangan  Sosial Politik  (WP2SOSPOL)  UNP  yang melakukan  orasi  Menolak  Lupa Tragedi  G-30  S/PKI  pada  30 September  lalu.  Acara  tersebut  diikuti  oleh  puluhan  mahasiwa  UNP. Acara  yang  berakhir  di  Taman  Makam  Pahlawan  ini  diawali  dengan  orasi  dari  UNP menggunakan  topeng  yang  bergambarkan  7  Jendral  Besar  yang terbunuh  dalam  tragedi  G-30  S/ PKI.  Menurut  Hendri  Refsyi  Saputra  sebagai  Koordinator  Lapangan  dalam  kegiatan,  orasi tersebut  tidak  hanya  ditujukan untuk  menolak  lupa,  tapi  juga membangkitkan    ideologi  Pancasila  di  Indonesia  yang  telah dipengaruhi  oleh  oknum-oknum tidak  bertanggung  jawab.  “Komunis,  kapitalis  dan  liberalis telah  merusak  ideologi  bangsa ini.  Oleh  sebab  itu,  kami  suarakan  di  sini  bahwa  ideologi  Pancasilalah  yang  pantas  bagi  bangsa Indonesia,”  ujarnya. Melalui  orasi  yang  mereka gagas,  Hendri  berharap  agar mahasiswa  bisa  berpikir  kritis terhadap  kegiatan  yang  mereka adakan.  Seperti  yang  tertera dalam  Tridarma  Perguruan Tinggi  bahwa  mahasiswa  dituntut  untuk  mengabdikan  diri kepada  masyarakat.  “Jadi,  kami merasa  bahwa  ini  merupakan salah  satu  bentuk  pengabdian kami,”  papar  Hendri. Hal  senada  pun  diungkapkan oleh  Ketua  Himpunan  Jurusan (HMJ)  Sejarah,  Melsa  Maizarah yang  mengungkapkan  kekecewannya  pada  mahasiswa  yang tidak  peduli  dengan  kondisi  lingkungannya.  “Mahasiswa  seka-

Aksi Aleppo : Mahasiswa yang terdiri dari perguruan tinggi se kota padang sedang melakukan aksi peduli muslim suriah di depan Bank Indonesia yang berada di Jalan Jendral Sudirman. Menurut Imam Ali Sabri selaku penanggung jawab aksi ini dilakukan agar pemerintah atau pihak miiter dapat mengirimkan tentara ke suriah untuk membantu musllim suriah, Jumat (23/12). f/Okta

rang hanya  dibebankan  oleh tugas  kuliahnya  masing-masing sehingga  lupa  pada  fungsinya sebagai  agent of change,”  ujar Melsa  saat  ditemui  di  sekretariat HMJ  Sejarah,  Rabu  (23/11). Melsa  yang  pada  28  Oktober lalu  mengadakan  peringatan  hari  pahlawan  di  bawah  naungan HMJ  Sejarah,  mengatakan,  jika mahasiswa  mau  melakukan pergerakan,  dosen  pun  akan memaklumi.  Kata  Melsa,  mereka hanya  punya  persiapan  tiga  hari untuk  melakukan  Aksi  Peringatan  Hari  Pahlawan  ke  Makam Pahlawan.  “Dengan  bantuan  Ketua  program  studi,  dosen  mengizinkan  Mahasiswa  Sejarah  yang punya  jadwal  kuliah  untuk  diliburkan  pada  hari  tersebut,” akunya.  Yang  terpenting  menurut  Melsa    adalah  tanggapan  dari masyarakat  juga  baik.  Oleh sebab  itu,  kata  Melsa,  tidak  ada halangan  bagi  mahasiswa  ikut dalam  aksi.  Apalagi  soal  anggapan  dosen  tidak  mengizinkan mahasiswa  ikut  aksi. Gerakan  berbeda  juga  dilakukan  oleh  Majelis  Permusyawaratan  Mahasiswa  (MPM)  UNP yang  menggelar  Hari  Aspirasi selama  lima  hari,  dari  SeninJumat  (17-21/10).  Selama  hari aspirasi  tersebut  mahasiswa  UNP bisa  mengemukakan  aspirasinya untuk  UNP  melalui  tulisan  yang dimasukkan  ke  dalam  sebuah kotak.  “Kotak  aspirasi  tersebut telah  kami  sebar  ke  fakultasfakultas  dan  kampus  cabang  dan sekarang  sedang  dalam  proses tindak  lanjut  hari  aspirasi,”  ujar Syukran  Novri  Arpan,  Ketua MPM  UNP  Selasa  (22/11). Lain  halnya  dengan  yang  berlaku di  kampus  cabang  UNP Limau Manih.  Ketua HMJ  Pendidikan  Luar  Biasa  (PLB),  Fauzi  Irwan    menjelaskan,  pergerakan  mahasiswa di  kampus  cabang  sangat  berbeda dengan  di  kampus  pusat.  “Di  sini kami  terkendala  akses  informasi yang  tidak  semudah  di  kampus pusat,”  ungkapnya,  Kamis  (1/12). Menurut  Fauzi,  yang  bisa dilakukan  oleh  kampus  cabang membantu  pergerakan  adalah dengan  membantu  setiap  hal

yang diperlukan  oleh  ormawa  di kampus  pusat,  salah  satunya terkait  hari  aspirasi.  HMJ  PLB juga  membantu  menjadi  wadah bagi  mahasiswa  PLB  memberikan  aspirasinya.  “Hingga  saat ini  itu  yang  bisa  kami  lakukan, kalau  untuk  pergerakan  berupa aksi  belum  ada,”  tandas  Fauzi. Tentukan Fokus Aksi Menanggapi  berbagai  pergerakan  yang  ada  di  seluruh  Indonesia,  terkhususnya  di  Sumbar, Koordinator  BEM  Indonesia, Bagus  Tito  Wicaksono  mengatakan  bahwa  pergerakan  mahasiswa  sekarang  sebenarnya  sudah  mulai  tampak.  Di  Jawa sendiri  sudah  ada  pergerakan mahasiswa  yang  menuntut  kebijakan  pemerintah  yang  dirasa merugikan  rakyat.  “Begitu  pun yang  berlaku  di  Sumbar,”  ujar Tito  saat  dihubungi  melalui telepon,  Jumat  (23/12). Menurut  Tito,  mahasiswa yang  terkesan  apatis  pasti  ada dalam  setiap  universitas,  namun bukan  berarti  mereka  tidak peduli  dengan  isu  lingkungan. Mungkin  secara  tidak  langsung mereka  dipengaruhi  beban  kuliah  atau  bahkan  organisasi yang  tidak  memberikan  wadah pada  mereka  untuk  melakukan pergerakan  yang  mereka  sukai. “Apa  pun  yang  mereka  lakukan, saya  rasa  tetap  ada  pergerakan, dan  ini  cukup  bagus,”  lanjutnya. Ada  delapan  isu  yang  menjadi fokus  BEM  Indonesia selama  2016. Delapan  isu  tersebut,  di  antaranya pendidikan,  kesehatan,  lingkungan,  ekonomi,  korupsi,  energi,  pertanian,  dan  maritim.  Melalui  isuisu  tersebut,  satu  tahun  ke  belakang  BEM  Indonesia  berusaha mengubah  opini  publik.  “Setidaknya    sekarang  kita  sudah  punya suara  sebanyak  50-60%  untuk mengubah  suatu  kebijakan  agar lebih  pro  rakyat,”  jelas  Bagus. Soal  fokus,  dosen  Administrasi Pendidikan,  Dr.  Hanif  Alkadri, M.Pd.  juga  angkat  bicara.  Menurutnya,  aktivis  tidak  perlu  membicarakan  masalah  keaktifan  mahasiswa  dalam  pergerakan  lalu mengomentarinya.  Aktivis  harus menyadari  apakah  pergerakan

yang mereka  lakukan  selama  ini sudah  benar-benar  memiliki tujuan.  “Dalam  bergerak  mahasiswa  harus  mempunyai  tujuan yang  jelas,  dikelola  oleh  orang yang  tepat,  dan  dilakukan  secara benar,”  jelas  Hanif,  Senin  (6/12). Hal  terpenting  menurut Hanif  adalah  pelaku  pergerakan. Pergerakan  harusnya  dilakukan oleh  mahasiswa  yang  benarbenar  bagus  secara  akademik. Alasannya  adalah  karena  pergerakan  mahasiswa  berupa  aksi bermula  dari  analisis  suatu kasus  yang  berusaha  dicarikan solusinya.  “Tentunya  orang yang  berakademik  bagus,  mampu  melakukan  analisis  tingkat tinggi,  dan  masyarakat  akan  pro dengan  pergerakan  yang  jelas kredibilitasnya,”  lanjutnya. Hanif  melihat,  banyak  mahasiswa  yang  ikut  aksi  hanya  karena  ikut-ikutan  tanpa  tahu  tujuan  dan  apa  yang  ingin  dicapai serta  mereka  yang  cenderung bermasalah  di  segi  akademiknya.  Tentunya  pergerakan  demikian  akan  sia-sia,  karena  diharapkan  yang  melakukan  pergerakan  adalah  orang  yang  mampu  membenahi  diri  sendiri. Hal  ini  dimaksudkan  Hanif agar  mahasiswa  yang  ikut  organisasi  tidak  pincang,  secara akademik  bagus  dan  skill  juga bagus.  Jika  mahasiswa  hanya kuliah  saja  menurutnya  tidak bagus,  begitu  pun  dengan  mahasiswa  yang  hanya  fokus  pada organisasinya. Saat  ditemui  di  ruangannya, Rektor  UNP,  Prof.  Ganefri,  Ph.D., mengatakan  bahwa  adanya  pergerakan  mahasiswa,  baik  berupa aksi  oleh  WP2SOSPOL  maupun Hari  Aspirasi,  merupakan  suatu hal  yang  bagus.  Menurut  Ganefri, mahasiswa  UNP  yang  diharapkan adalah  mahasiswa  yang  kreatif. Melalui  pergerakan  sebenarnya adalah  proses  pembelajaran  yang kreatif  bagi  mahasiswa.  “Cuma yang  perlu  dijaga,  tidak  boleh  ada anarki  dan  tindakan  yang  merugikan  kepentingan  banyak  orang,” pesannya,  Kamis  (22/12). Laporan: Sri, Hamid, Ermi, Okta, Eka, Arrasyid*, Gezal*


LAPORAN

Edisi No. 194/Tahun XXVII

Hari Aspirasi: Puluhan mahasiswa tengah melakukan orasi dengan berkeliling UNP pada penutupan Hari Aspirasi Mahasiswa, Jumat (21/10). Selain spanduk, beberapa orator menjadikan tubuh mereka sebagai media penyampai aspirasi dengan cara diwarnai. f/Hamid

Pergerakan Mahasiswa dan Permasalahannya Tak hanya masalah yang menjadi latar pergerakan yang harus dicarikan solusinya. Pola, gerakan yang berkelompok dan minim diskusi pun menjadi masalah bagi mahasiswa sendiri. Oleh Fitri Aziza dan Yulia Eka Sari

Suasana di  depan  gerbang Jurusan  Pendidikan  Luar  Biasa (PLB)  Kampus  Cabang    Limau Manis  Universitas  Negeri  Padang (UNP)  tampak  sepi,  Kamis  (1/12). Di  seberang  gerbang  kampus hanya  terlihat  empat  orang perempuan  mengenakan  pakaian  guru  duduk  di  kursi  panjang  dan  beberapa  mahasiswa dengan  pakaian  hitam  putih duduk  di  atas  kursi  yang  terlindungi  oleh  meja  berpayung. “Biasanya  warung  ini  selalu ramai  di  waktu  kuliah,”  ujar Doni  Agus  Frianto,  Mahasiswa PLB  Tahun  Masuk  (TM)  2014, Kamis  (1/12). Doni  duduk  bersama  tiga temannya  yang  juga  menggunakan  pakaian  hitam  putih. Selain  disibukkan  dengan  kuliah, mahasiswa  semester  lima  ini juga  berkutat  dengan  kegiatan keorganisasiaannya.  Salah  satunya  persiapan  seminar  HMJ  PLB dimana  ia  terlibat  sebagai  panitianya.  “Kalau  untuk  organisasi,  sekarang  kami  sedang mempersiapkan  seminar  HMJ PLB.  Tapi  kalau  soal  aksi,  saya tidak  pernah  ikut,”  ujarnya  saat ditanya  tentang  pergerakan mahasiswa  di  kampus  cabang oleh  reporter  Ganto. Selain  Doni,  mahasiswa  di kampus  cabang  pun  menurutnya  hampir  tidak  ada  yang melakukan  aksi.  Hal  ini  disebabkan  keterbatasan  informasi yang  dimiliki  oleh  kampus  cabang.  Saat  ada  pergerakan  di kampus  pusat,  mahasiswa  di kampus  cabang  terkadang  tidak mendapatkan  informasi  sehingga  tidak  ikut  bergerak.  Hal  ini menurut  Doni  menjadi  ketidakseimbangan  tersendiri  bagi  pergerakan  mahasiswa  dalam  bentuk  aksi  di  kampus  cabang. “Namun,  pergerakan  kan  juga tidak  harus  aksi.  Bisa  juga  me-

nyampaikan aspirasi  melalui media  elektronik  maupun  cetak,”  paparnya. Anggapan  bahwa  pergerakan  mahasiswa  tidak  hanya  dapat dilakukan  dengan  cara  aksi, juga  dirasakan  oleh  Al  Fathan Firassan  Ardhi,  Mahasiswa  yang juga  Jurusan  PLB  dan  seangkatan  dengan  Doni.  Menurut  Ardhi, mahasiswa  seharusnya  lebih kreatif  lagi  dalam  melakukan pergerakan.  Selain  aksi  turun  ke jalan,  mahasiswa  juga  bisa  melakukan  pergerakan  dengan  memanfaatkan  media  sosial,  seperti instagram.  “Keluh  kesah  mahasiswa  harusnya  disampaikan secara  lebih  kreatif  lagi,  misalnya  dengan  membuat  meme, video  atau  lainnya,”  jelasnya, Kamis  (1/12). Penyampaian  aspirasi  mahasiswa  melalui  demontrasi,  menurut  Ardhi,  tidak  lagi  tepat  dilakukan  saat  ini.  Apalagi  jika  demo tersebut  menjurus  ke  anarki  dan hal  yang  tidak  bermanfaat. Mahasiswa  seharusnya  menyalurkan  aspirasinya  dengan  memanfaatkan  bakat  yang  dimiliki.  Gambar  yang  disalurkan melalui  media  sosial,  akan  lebih bermanfaat  dibandingkan  dengan  aksi  yang  hanya  bersoraksorak.  “Mahasiswa  berperan untuk  membangun  negeri  ini. Hal  itu  dilakukan  dengan  melakukan  hal  yang  bermanfaat, bukan  hanya  berkata  hoyak… hoyak...”  tegas  Ardhi  sembari bersorak  menirukan  gerakan demostran. Terlebih  lagi,  isu  yang  perlu menjadi  perhatian  dalam  pergerakan  mahasiswa  adalah  kebutuhan  yang  paling  dekat  dengan mahasiswa  itu  sendiri,  seperti masalah  UKT  dan  fasilitas  kampus.  “Kami  berharap  tidak  hanya kotak-kotak  aspirasi  yang  sampai  ke  sini,  tapi  akses  informasi

kami di  perbaiki,  begitu  pun dengan  fasilitas  kampus  dilengkapi,  sehingga  kami  tidak  tertinggal  dari  kampus  pusat,” harap  mahasiswa  yang  aktif  di komunitas  menggambar  ini. Lain  halnya  dengan  Doni  dan Ardhi,  Willy  Caesar  Sumardi, Mahasiswa  Jurusan  Teknik  Elektronika  TM  2014  mengatakan bahwa  pergerakan  mahasiswa memang  bisa  dilakukan  dengan banyak  cara.  Namun,  aksi  lebih memiliki  poin  dan  manfaat  tersendiri.  Melalui  aksi,  kontribusi nyata  mahasiswa  untuk  menegakkan  keadilan  lebih  terlihat. “Mahasiswa  yang  melakukan aksi  bisa  meningkatkan  eksistensi  kampus,  bahwa  kampus  tersebut  bisa  menghasilkan  pemikir bangsa  yang  berkomitmen  tinggi dalam  memperjuangkan  keadilan,”  ujarnya,  Minggu  (25/12). Hariz  Naufaldi,  Sekretaris HMJ  Otomotif  pun  sependapat dengan  Willy.  Menurut  Hariz, pergerakan  bisa  dibedakan  menjadi  dua,  yaitu  pergerakan  yang menimbulkan  efek  dan  tidak menimbulkan  efek.  Pergerakan yang  tidak  menimbulkan  efek dapat  berupa  audiensi,  penyebaran  selebaran  atau  pamflet,  dan surat  pernyataan  yang  dipublikasikan  melalui  media  sosial. “Nah,  aksi  menurut  saya  merupakan  pergerakan  yang  menimbulkan  efek,  khususnya  aksi yang  brutal,”  ujar  Hariz,  Senin (5/12)  saat  diwawancarai  di Teras  Gedung  Unit  Kegiatan Mahasiswa  (UKM)    Fakultas Teknik  UNP. Terkait  pergerakan  mahasiswa  di  UNP,  Hariz  berpendapat bahwa  aksi  yang  dilakukan  oleh mahasiswa  sekarang  sudah  cukup  baik.  Mahasiswa  tidak  lagi mengedepankan  emosinya  dalam  mengadakan  suatu  aksi. Mahasiswa  sekarang  sebelum

5 aksi telah  mengadakan  audiensi dan  aksi  yang  dilakukan  pun cenderung  aksi  damai.  “Namun, yang  menjadi  permasalahan adalah  aksi  seperti  ini  belum  ada titik  terang  untuk  solusinya,” jelas  Hariz. Gerakan  Mahasiswa  Masih Berkelompok Pergerakan  mahasiswa  di UNP  dinilai  masih  dilakukan secara  berkelompok-kelompok, sehingga  tidak  ada  kesatuan dalam  pergerakan  mahasiswa. “Pergerakan  mahasiswa  yang terlihat  sekarang  cenderung berkelompok-kelompok,”  ungkap Rahmat  Faisal,  Ketua  Unit  Kegiatan  WP2SOSPOL  UNP,  Rabu ( 2 3 / 11 ) . Berkelompok-kelompok  yang dimaksud  oleh  Faisal  adalah setiap  ormawa  maupun  UKM sibuk  dengan  kegiatannya  masing-masing.  Misalnya,  kata Faisal,  WP2SOSPOL  sibuk  dengan  aksi  menolak  lupanya, MPALAH  dengan  Hari  Bumi, Ganto  dengan  kesibukan  cetaknya,  MPM  dengan  Hari  Aspirasinya,  sedangkan  mahasiswa  pun sibuk  dengan  pergerakan  mereka  sendiri.  “Memang  kita  memiliki  kepentingan  masing-masing dan  cara  bergerak  yang  berbeda, tapi  untuk  sebuah  pergerakan demi  kepentingan  NKRI  tentunya  harus  meninggalkan  egoego  tersebut,”  ujarnya. Adapun  dampak  dari  pegerakan  yang  berkelompok  tersebut  disampaikan  oleh  Ketua  MPM UNP,  Syukran  Novri  Arpan. Menurut  Syukran,  belum  bersatunya    ormawa  dalam  pergerakan  menyebabkan  dampak  pergerakan  itu  sendiri  masih  belum nampak.  Syukran  mencontohkan  dengan  Hari  Aspirasi  yang digagas  oleh  MPM  UNP.  Meskipun acara  itu  telah  berjalan,  namun partisipasi  dari  ormawa  dan mahasiswa  untuk  mengawal hasilnya  masih  kurang,  “Jika kita  masih  bekelompok-kelompok tentu  hasil  dari  hari  aspirasi tersebut  tidak  tercapai,”  jelasnya,  Rabu  (23/11). Sebagai  lembaga  ormawa tertinggi  pun,  Syukran  mengatakan  telah  ada  upaya  dari  MPM agar  pergerakan  mahasiswa  di UNP  dapat  bersatu.  Salah  satunya  dengan  mengadakan  silaturahmi  antarormawa.  “Sampai sekarang  itu  masih  berlanjut, memang  diharapkan  ini  menjadi upaya  untuk  menyatukan  silaturahmi  kita,”  harapnya. Badan  Eksekutif  Mahasiswa (BEM)  UNP  sebagai  lembaga  yang ditinggikan  di  universitas  juga menyadari  bahwa  pergerakan mahasiswa  saat  ini  cenderung berkelompok.  BEM  UNP  pun  saat ini  sedang  menyusun  pola  untuk membuat  pergerakan  mahasiswa tidak  berkelompok  lagi.  “Saat  ini kami  sudah  punya  polanya,  namun  tidak  dapat  disebutkan  di sini,”  ungkap  Haris  Sabri,  Ketua BEM  UNP,  Rabu  (23/11). Sementara  itu,  Zalmasri  mengatakan  bahwa  pergerakan mahasiswa  sekarang  itu  wajar berkelompok,  karena  ada  kepentingan  berbeda-beda  yang diembannya.  “Di  zaman  saya juga  demikian,”  ujar  aktivis yang  pernah  aktif  di  UKKes  pada tahun  2000  serta  aktif  di  KSR PMI  dan  menjadi  relawan  pada Tsunami  Aceh  2004  ini,  Kamis (8 /12) . Pergerakan  berkelompok  tersebut  salah  satunya  dapat  dilihat dari  atribut  yang  digunakan. Jika  ada  aksi,  mahasiswa  meng-

gunakan atribut  ormawa  masing-masing.  Menurut  Zalmasri, seharusnya  peserta  aksi    menggunakan  atribut  UNP,  sehingga terlihat  bahwa  itu  adalah  pergerakan  dari  mahasiswa  UNP. Untuk  menyatukan  pergerakan tersebut,  BEM  UNP  selaku  lembaga  yang  mengurus  semua ormawa  memiliki  peran  yang sangat  penting.  “BEM  hendaknya mau  membuka  diri.  Jangan mengeksklusifkan  diri,  karena bukan  partai  politik,”  katanya. Perbaiki  Gerakan  dengan Banyak  Diskusi Mengemban  nama  sebagai mahasiswa,  dalam  pergerakan pun  mahasiswa  dituntut  untuk tidak  terbawa  emosi  dalam  melakukan  pergerakan.  Mahasiswa harus  menganalisis  suatu  masalah  dengan  melakukan  musyawarah  terlebih  dahulu,  kemudian  dilanjutkan  dengan  audiensi.  Jika  belum  juga  menemukan solusi  baru  dilakukan  aksi. “Mungkin  bertahap  dulu,  tidak langsung  melakukan  pergerakan  tanpa  tahu  duduk  permasalahannya”  jelas,  Roni  Priadarwin,  Ketua  HMJ  Pertambangan,  Senin  (5/12). Lebih  lanjut  Husnul  Ramadan, Kepala  Divisi  Riset  WP2SOSPOL mengatakan  bahwa  untuk  melakukan  musyawarah  tersebut, mahasiswa  tidak  bisa  melakukannnya  hanya  dengan  diskusi online.  “Harusnya  mahasiswa tidak  hanya  berkomunikasi  di gadget,  tapi  juga  diskusi  tatap muka  dan  menambah  bahan bacaan,”  jelas  mahasiswa  yang juga  aktif  di  Teras  Literasi, sebuah  komunitas  membaca  dan wadah  berdiskusi  di  FIS  UNP, Rabu  (23/11). Namun,  yang  menjadi  permasalahan  di  UNP  dan  generasi bangsa  saat  ini  adalah  malas untuk  membaca,  sehingga  ketika  berdiskusi  tidak  menghasilkan  solusi  yang  optimal.  Permasalahan  inilah  menurut  Husnul yang  harus  dicarikan  solusinya, agar  pergerakan  yang  dilakukan oleh  mahasiswa  itu  benar-benar bermanfaat  dan  memberikan solusi.    “Ini  yang  terjadi  pada generasi  sekarang,  Nah  bagaimana  cara  kita  mengatasinya mulai  dari  diri  sendiri,”  katanya. Dr.  Ahmad  Kosasih,  M.A., dosen  Mata  Kuliah  Pendidikan Agama  Islam  yang  juga  aktif dalam  pergerakan  saat  menjadi mahasiswa,  juga  mengatakan hal  yang  tidak  jauh  berbeda dengan  Husnul.  Saat  ditemui  di ruangan  dosen  Gedung  Mata Kuliah  Umum  B  UNP,  Ahmad mengatakan  bahwa  mahasiswa sekarang  mengahadapi  tantangan  yang  berbeda  dalam pergerakan,  “Perang  kalian  saat ini  adalah  proxy  war,”  tegasnya, Senin  (6/12). Yang  dimaksud  dengan  proxy war  oleh  Ahmad  adalah  perang yang  pihak  ketiganya  tidak tampak.  Pihak  ketiga  tersebut menurutnya  adalah  informasi. Media  dengan  mudahnya  memutarbalikkan  informasi.  Hal yang  benar  bisa  menjadi  salah dan  yang  salah  bisa  menjadi benar.  Jika  mahasiswa  tidak berpengetahuan,  tentunya  mereka  hanya  akan  terbawah arus.  Oleh  sebab  itu ,  jangan terlena  dengan  gadget  yang kalian  genggam,  tapi  perdalam ju ga  pengetahuan  melalui membaca,  diskusi,  dan  lainnya,”  pesannya. Laporan: Okta, Mei, Eka, Erm i


LAPORAN

6

Edisi No. 194/Tahun XXVII

Tujuh Poin Hari Aspirasi Oleh Fitri Aziza dan Yulia Eka Sari

Lepas kotak aspirasi disebar. Harapan pun ditebar oleh mahasiswa Sore itu,  Majelis  Permusyawaratan  Mahasiswa  Universitas  Negeri  Padang  (UNP)  tampak  lengang,  Rabu  (23/11).  Di  dalam  sekretariat,  tampak  dua  mahasis-wi duduk  berhadapan.  Satu  orang berbicara  sambil  melihat  pada laptopnya,  sementara  yang  lain membalik-balik  kertas  dalam  map yang  ada  di  atas  meja. Beberapa  menit  kemudian, suara  percakapan  dua  mahasiswi tadi  digantikan  dengan  selingan suara  antara  pertanyaan  dan jawaban  tentang  Hari  Aspirasi yang  berlangsung  Senin-Jumat (17-21/10)  lalu.  Suara  itu  berasal dari  Ketua  MPM  UNP,  Syukran Novri  Arpan  saat  menjawab  pertanyaan  tentang  hasil  Hari  Aspirasi  yang  ditanyakan  oleh  reporter Ganto. Kilas Balik Hari Aspirasi Hari  Aspirasi  yang  menjadi perbincangan  tersebut  adalah salah  satu  acara  yang  digagas  oleh MPM  UNP  pada  kepengurusan 2016.  Hari  pertama,  diisi  dengan pemotongan  pita  sebagai  pembukaan  acara  oleh  Kepala  Biro  Administrasi  Akademik  dan  Kemahasiswaan,  Azhari  Suwir,  S.E.,  dan dilanjutkan  dengan  penyerahan kotak  ke  setiap  Badan  Perwakilan

Mahasiswa fakultas,  Senin  (17/ 10). Setelah  pembukaan  di  hari pertama,  hari  kedua  diisi  dengan orasi  dan  sosialisasi  hari  aspirasi pada  masyarakat  kampus.  Seperti  yang  dilakukan  oleh  BPM  Fakultas  Ilmu  Sosial  (FIS)  UNP yang mengajak  mahasiswa  mengisi  kertas aspirasi,  lalu  memasukkannya  ke dalam  kotak,  dan  diakhiri  dengan menandatangi    kain  aspirasi  di Lantai  2  SMK  Pembangunan, Selasa  (18/10). Salah  seorang  peserta  yang mengisi  kertas  aspirasi  adalah  Isya Rahma  Agustin,  Mahasiswa  FIS UNP.  Isya  mengatakan,  acara  ini sangat  bagus  karena  membantu mahasiswa  menyampaikan  aspirasinya.  Namun,  dia  khawatir  jika yang  disampaikan  hanya  suarasuara  mayoritas.  “Sebaiknya suara  minoritas  juga  disampaikan, supaya  adil,”  ha-rapnya,  Selasa (18/10). Hal  senada  juga  menjadi  kekhawatiran  Ketua  Himpunan Mahasiswa  Jurusan    Pendidikan Luar  Biasa,  Fauzi  Irwanto  saat ditemui  di  Kampus  Cabang  Limau Manih,  Kamis  (1/12)  lalu.  Kata Fauzi,  memang  sudah  beberapa kali  BEM datang ke  kampus  cabang

untuk menampung  aspirasi  mahasiswa  kampus  cabang,  se-perti pelayanan  akademik,  sara-na  dan prasarana,  namun  belum  ada tindak  lanjutnya.  “Terakhir  hari aspirasi  dari  BPM,  tetapi  efek baliknya  juga  tidak  ada,”  ungkap Fauzi. Kunjungan  ke  kampus  cabang  dalam  rangka  Hari  Aspirasi oleh  MPM  dan  BPM  tersebut  berlangsung  pada  hari  keempat, Kamis  (20/10).  Pada  hari  sebelumnya,  Rabu  (19/10),  diisi  dengan  perayaan  hari  aspirasi  di media  sosial  maupun  perayaan lain  seperti  yang  diselenggarakan  oleh  BPM  Fakultas  Bahasa dan  Seni  (FBS)  UNP  yang  menggelar  panggung  aspirasi  di  Pendopo  FBS  UNP.  Hari  aspirasi  baru ditutup  pada  Jumat  (21/10) dengan  orasi  keliling  UNP  yang berakhir  di  belakang  Gedung Rektorat  UNP. Poin-Poin Aspirasi Mahasiswa Menanggapi  pertanyaan  mahasiswa  mengenai  hasil  hari  aspirasi,  saat  ditanya  oleh  reporter Ganto,  Syukran  menjawabnya dengan  menunjukkan  kertas  yang berisi  tulisan  tujuh  poin  aspirasi mahasiswa  UNP.  Tulisan  tersebut

berjudul “Topik  Pembahasan  Satu Hari  Bersama  Rektor”. Syukran  menjelaskan  bahwa tujuh  poin  tersebut  dirumuskan berdasarkan  kotak  aspirasi  yang disebar  ke  masing-masing  fakultas dan  kampus  cabang  di  UNP.  Tujuh poin  tersebut  baru  disampaikan pada  acara  Satu  Hari  bersama Rektor  yang digagas  oleh BEM Universitas  pada,  Selasa  (1/11).  “Poinpoin  tersebut  sudah  ditanggapi rektor  dan  beliau  menjanjikan beberapa  hal”  tukas  Syukran, Rabu  (23/11). Tujuh  poin  tersebut  terdiri  dari, formula  penetapan  Uang  Kuliah Tunggal  (UKT),  transparansi  dana ormawa,  tarif  sewa  ruangan  dan bus  untuk  mahasiswa  sesuai  dengan  status  UNP  sebagai  Badan Layanan  Umum  (BLU),    transparansi  dana  beasiswa,  perbaikan  fasilitas  kampus,  perlu  adanya evaluasi  dan  perbaikan  pelayanan akademik,  dan  penghapusan  kebijakan  jam  malam. Saat  penyampaian  tujuh  poin tersebut  pada  acara  Satu  Hari bersama  Rektor,  Drs.  Ganefri, M.T.,  Ph.D.,  menjanjikan  beberapa hal.  Di  antaranya,  transparansi dana  ormawa  akan  dilakukan pada  2017,  evaluasi  sikap  dosen

akan diusahakan,  jam  malam telah  dihapuskan,  fasilitas  kampus UNP  sedang  dalam  masa  pembangunan,  namun  akan  diupayakan,  begitu  pun  dengan  transparansi  beasiswa  akan  diusahakan.  Sedangkan  untuk  UKT,  Ganefri  mengatakan  bahwa  sudah ada  formula  yang  jelas    untuk menentukan.  Sementara  terkait tarif  BLU  itu  sudah  jelas  dalam SOP.  “Untuk  etika  dosen,  laporkan saja  pada  saya  jika  ada  masalah, sedangkan  UKT  formula  kita  sudah  jelas,  tapi  tidak  bisa  dibukakan,  begitupun  dengan  BLU  sudah jelas  tarifnya”  jelas  Syukran  menirukan  apa  yang  dikatakan  Ganefri. Syukran  mengatakan,  untuk mengawal  janji  rektor  tersebut adalah  tugas  bersama  seluruh mahasiswa  UNP,  karena  MPM  dan ormawa  lain  hanya  memfasilitasi. “Mengawal  aspirasi  tidak  hanya tugas  MPM,  tapi  juga  mahasiswa,” tegas  Syukran.  Begitupun  untuk menjawab  kekhawatiran  mahasiswa  akan  aspirasi  yang  tidak  sampai  menjadi  tugas    bersama  untuk membagikan  informasi  tersebut. Laporan: Ranti, Sri, Eka, Hamid, Vani*, Gezal*, Arrasyd*

WAWANCARA KHUSUS

Persiapan Menjadi Pemimpin Bangsa

Prof. Dr.  Azwar  Ananda,  MA., Sebagaimana  perannya  sebagai  agen  perubahan,  mahasiswa di  tengah  masyarakat  juga  dituntut  untuk  mampu  membawa perubahan.  Perubahan  tersebut salah  satunya  tampak  dengan pergerakan  yang  diadakan  oleh mahasiswa.  Pergerakan  mahasiswa  sendiri  adalah  kegiatan  yang diadakan  oleh  mahasiswa  baik  di dalam  maupun  di  luar  perguruan tinggi  yang  dilakukan  untuk meningkatkan  kecakapan  dan kemampuan  kepemimpinan  para aktivis  yang  terlibat  di  dalamnya (wikipedia.org).  Adapun  bentuk pergerakan  dapat  berupa  diskusi, seminar  maupun  berupa  aksi. Untuk  melihat  bagaimana pergerakan  mahasiswa  di  Universitas  Negeri  Padang (UNP),  reporter Ganto,  Windy  Nurul  Alifa  dan Yulia  Eka  Sari  mewawancarai Guru  Besar  Pendidikan  Kewarganegaraan  Fakultas  Ilmu  Sosial (FIS)  UNP, Prof. Dr.  Azwar  Ananda, MA.,  di  lantai  satu  gedung  baru Pascasarjana  UNP,  Rabu  (21/12). Berikut  hasil  wawancaranya. Menurut Anda apa makna dari pergerakan mahasiswa?

Dalam arti  positif  pergerakan mahasiswa  menurut  saya  adalah kegiatan  yang  berguna  untuk menyiapkan  pemimpin  dan  politisi  bangsa  di  masa  depan.  Jadi tidak  ada  yang  perlu  dikhawatirkan  dengan  pergerakan  mahasiswa  yang  ada.  Semakin  kritis mereka  semakin  bagus,  apalagi  sekarang  tidak  ada  halangan.  Di  zaman  saya,  demo  saja  tidak  boleh. Melakukan  demo  sedikit  dipanggil oleh  WR  III.  Sekarang  kan  tidak, jadi  mahasiswa  sekarang  bisa  lebih dinamis  dibandingkan  dengan mahasiswa  zaman  dulu.  Pada intinya,  menurut  saya  pergerakan  mahasiswa  bermanfaat  untuk pengaderan  pemimpin  bangsa. Bagaimana seharusnya mahasiswa melakukan pergerakan? Pergerakan  itu  banyak  bentuknya,  ada  diskusi,  seminar, aksi,  dan  lain-lain.  Selama  mereka  masih  melakukan  kegiatan yang  bermanfaat  dan  menambah  skill menjadi  pemimpin bangsa,  terserah  bagaimana bentuknya.  Jika  sekarang  pergerakan  mahasiswa  lebih  ke  diskusi atau  seminar  dan  jarang  melakukan  aksi,  tentunya  dengan bentuk  pergerakan  yang  demikian  peran  penting  ada  di  BEM tingkat  universitas.  BEM  Universitas  Negeri  Padang  harus  bisa mengkoordinir  semua  unit-unit untuk  bergerak  secara  simultan. Makanya,  program  WR  III  dan program  BEM  harus  dijabarkan untuk  mengetahui  pola  pengembangan  mahasiswa.  Kalau  misalnya  setiap  unit  melakukan  pergerakan  sendiri-sendiri  tentu tidak  nampak.  Walaupun  sebe-

narnya tidak  masalah  juga  bergerak  sendiri-sendiri,  karena  ada tujuan  yang  berbeda,  tetap  harus  ada  agenda  yang  mempertemukan  unit-unit  tersebut,  semisal  dialog  masing-masing  fakultas  tentang  masalah-masalah yang  harus  di  bahas  sekali  satu bulan.  Lebih  lanjut,  dalam  sekali tiga  bulan  masalah  tersebut  dibahas  ke  tingkat  universitas.  Pokoknya,  minimal  satu  kali  dalam satu  semester  tiap-tiap  BEM  atau ormawa  lain  yang  ada  di  fakultas harus  mengadakan  seminar  untuk  membahas  isu-isu  terhangat. Kalau  di  zaman  saya,  setiap  Hima akan  mengadakan  seminar  akademik.  Sekurang-kurangnya mengundang  satu  dosen  dan  satu aktivis.  Hal  ini  juga  merupakan sebagai  pelatihan  nalar  untuk menjadi  pemimpin  bangsa. Apa perbedaan pergerakan mahasiswa dulu dengan sekarang? Untuk  bergerak  mahasiswa tentu  harus  dikomandoi  oleh organisasinya.  Inilah  yang membedakan  pergerakan  mahasiswa  dulu  dan  sekarang.  Di  masa saya,  orde  baru  kita  tidak  punya organisasi  tingkat  universitas. Kami  hanya  punya  organisasi tingkat  fakultas  namanya  senat tingkat  fakultas.  Kalau  sekarang sudah  ada  BEM  UNP,  MPM,  dan UKM  untuk  tingkat  universitas serta  ada  BEM  Fakultas,  BPM  dan Hima  untuk  tingkat  fakultas. Tentunya,  adanya  organisasi tersebut  lebih  bagus  dibanding zaman  saya.  Namun,  yang  perlu diperhatikan  adalah  peningkatan  pembinaan  dan  pengembangan  dari  bidang  kemahasis-

waan oleh  WR  III.  Pengembangan ini  bukan  hanya  dari  masalah kebangsaan.  Dulu,  ada  tiga  pengembangan  di  kemahasiswaan, di  antaranya  penalaran,  bakat minat,  dan  kesejahteraan.  Pergerakan  itu  kan  mengacu  kepada reaksi  mahasiswa  terhadap  masalah  kebangsaan  dan  isu-isu terkini.  Di  zaman  reformasi,  saya masih  aktif  membina  mahasiswa,  dan  kebanyakan  mahasiswa  waktu  itu  aktif  untuk  melakukan  pergerakan,  sedangkan  mahasiswa  sekarang  yang  saya  lihat  tidak  begitu  aktif  untuk  melakukan  pergerakan. Bagaimana tanggapan Anda dengan mahasiswa yang tidak ikut pergerakan? Merisaukan.  Bagi  saya  tidak adanya  pergerakan  berarti  tidak akan  lahir  pemimpin-pemimpin bangsa.  Perlu  diingat,  pemimpin bangsa  itu  tidak  hanya  presiden, Menjadi  kepala  sekolah  juga  pemimpin  bangsa.  Jika  pergerakan mahasiswa  tidak  bagus,  bagaimana  mereka  punya  skill  untuk menjadi  pemimpin.  Hal  ini  akan merisaukan  kehidupan  bangsa. Untuk  itu,  pergerakan  mahasiswa  perlu  ditingkatkan,  harus ada  pengaderan  pemimpin  bangsa.  Pengaderan  tersebut  tidak hanya  dari  akademik  saja. Apa upaya yang harus dilakukan oleh universitas untuk mendorong mahasiswa agar lebih aktif melakukan pergerakan? Harusnya  WR  III  ada  program kerja  terkait  pergerakan  mahasiswa,  tapi  saya  tidak  tahu  apakah  ada  atau  tidak,  nanti  tanyakan  saja  pada  beliau.  Seperti

sekarang sudah  Desember  2016, seharusnya  WR  III  mengadakan rapat  dengan  ketua-ketua  organisasi  mahasiswa  di  UNP  untuk menyusun  program  kerja  yang akan  diadakan  pada  tahun  2017, seperti  seminar.  Kalau  untuk sekarang  tentunya  kita  hanya bisa  berharap  pada  WR  III  yang baru  untuk  memperjelas  program  kerja  mahasiswa  yang dapat  membina  mahasiswa  untuk  menyiapkan  diri  menjadi pemimpin  bangsa  di  masa  depan. Karena,  menjadi  pemimpin  bangsa  dimulai  dari  kegiatan  aktivis. Bagaimana saran Anda untuk mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan? Mahasiswa  sekarang  jangan hanya  kuliah-pulang.  Karena untuk  menjadi  pemimpin  di  masa  depan,  mahasiswa  tidak  bisa hanya  mengandalkan  kemampuan  akademik,  tapi  juga  harus punya  pengalaman.  Rugi  mahasiswa  jika  tidak  terlibat  aktif dengan  kegiatan  kemahasiswaan.  Baik  kegiatannya  dalam ruang  lingkup  kecil  maupun  dalam  ruang  lingkup  yang  lebih  besar.  Pengelolaan  ruang  lingkup tersebutlah  yang  akan  mengasah  kemampuan  mahasiswa  secara  praktek  dan  memberikan p en galaman . Bagaimana harapan Anda untuk pergerakan mahasiswa UNP ke depan? Lebih  aktif  dan  lebih  mencerahkan.  Karena  kampus  ini  bukan menara  gading,  tapi  kampus  merupakan  penerang  bagi  masyarakat.  Sekecil  apapun  yang  kalian lakukan  untuk  masyarakat,  akan berarti  banyak  untuk  masa  depan.


LAPORAN

Edisi No. 194/Tahun XXVII

7

ARTIKEL

Diaspora Pergerakan Mahasiswa Oleh Fitri Aziza Pemimpin Umum SKK Ganto sudah menyimpang  dan  tidak berhaluan  kepada  pembangunan  yang  mementingkan  rakyat. Mahasiswa  menilai  malah  dengan  kerja  sama  ini  semakin

lam Aliansi  Badan  Eksekutif  Mahasiswa  (BEM)  se-Sumatra  Barat dengan  melakukan  roadshow dari  halaman  Mesjid  Al-Azhar menuju  Kantor  DPRD  Sumatra

memperburuk kondisi  ekonomi raky at. Pada  2016  ini,  juga  ada  beberapa  aksi  yang  dilakukan  oleh mahasiswa,  terkhususnya  mahasiswa  Sumatra  Barat.  Pada  21 Oktober  2016,  terjadi  aksi  damai yang  dilakukan  oleh  ratusan mahasiswa  yang  tergabung  da-

Barat. Mereka  mengajukan  lima tuntutan  kepada  pemerintahan Jokowi-JK. Aksi  damai  ini  juga dilakukan  oleh  Aliansi  BEM  seluruh  Indonesia  di  Istana  Negara, Jakarta  pada  hari  yang  sama. Dua  pekan  setelahnya  Kantor DPRD  Sumatra  Barat  kembali diramaikan  oleh  300  mahasiswa

Grafis: Fauziah Safitri

Jika melihat  kembali  catatan sejarah  pergerakan,  munculnya sebuah  pergerakan  mahasiswa  di Indonesia  adalah  hal  yang  tidak asing  lagi.  Pergerakan  tersebut tercipta  karena  berbagai  hal, mulai  dari  kegerahan  bangsa  Indonesia  terhadap  penjajahan yang  memaksa  untuk  meraih sebuah  kemerdekaan  bangsa, sampai  gerakan  yang  menuntut sebuah  perubahan  pada  penyelengaraan  negara.  Karena  dianggap  sudah  tidak  berpihak pada  kepentingan  rakyat.  Beberapa  pergerakan  mahasiswa bahkan  mampu  mereformasi struktur  pemerintahan,  seperti peralihan  dari  orde  lama  ke  orde baru  dan  orde  baru  menuju reformasi. Kehadiran  mahasiswa  dengan gerakan  pembaharuannya  sangat diperlukan  sebagai pengontrol implementasi  kebijakan  negara, sehingga  keseimbangan  negara dan  kepentingan  rakyat  dapat terlaksana. Mahasiswa  menyuarakan  masalah,  tidak  terbatas dengan  apa  yang  mereka  rasakan melainkan  tertuju  pada  realita atau  kenyataan  yang  ada  di masyarakat  luas. Contoh  pergerakan  yang  pernah  dilakukan  oleh  mahasiswa, yaitu  demonstrasi  oleh  ribuan mahasiswa  pada  15  Januari 1974  yang  kemudian  dikenal dengan  peristiwa  Malari.  Mereka merasa  tidak  puas  terhadap kebijakan  pemerintah  terkait kerja  sama  dengan  pihak  asing untuk  pembangunan  nasional. Para  mahasiswa  menganggap kebijakan  pemerintah  kala  itu

yang tergabung  dalam  Gerakan Mahasiswa  Pembebasan  yang berasal  dari  UNP,  Universitas Andalas,  Institut  Agama  Islam Imam  Bonjol  Padang,  dan  mahasiswa  Pasca  Universitas  Andalas. Mereka  menuntut  pemerintah dan  Polri  agar  segera  menangkap dan  mengadili  Basuki  Tjahya Purnama  alias  Ahok  atas  kasus penistaan  agama. Namun,  terdapat  perbedaan nyata  dari  ketiga  peristiwa  di atas.  Perbedaannya  adalah  kekuatan  mahasiswa  dalam  berhimpun.  Jika  dilihat,  jumlah mahasiswa  yang  mengikuti  aksi pada  masa  sekarang  hanya  berkisar  ratusan  orang  dan  mereka sudah  merupakan  gabungan dari  beberapa  perguruan  tinggi di  Sumatra  Barat.  Jika  dibandingkan  dengan  jumlah  mahasiswa  UNP  saja  yang  berjumlah  kurang  lebih  30  ribu  orang, jumlah  tersebut  baru  satu  persen.  Mengapa? Tidak  dapat  dipungkiri  bahwa  saat  ini  pergerakan  mahasiswa  terfokus  pada  kelompokkelompok  masing-masing.  Setiap organisasi  sibuk  dengan  bidang kajiannya  sendiri.  Hal  ini  menyebabkan  terjadinya  diaspora pergerakan  mahasiswa.  Terceraiberainya  orientasi  pergerakan. Dengan  semakin  banyaknya alternatif  gerakan  yang  dapat dipilih  sesuai  dengan  minat, orientasi  pergerakan  tidak  lagi terfokus  pada  aksi  protes  terhadap  rezim  yang  ada.   Contoh  kecilnya  dapat  dilihat di  UNP  sendiri.  UNP  telah  memiliki  beragam  organisasi  pemi-

natan yang  dapat  diikuti  oleh mahasiswa  sesuai  dengan  minat dan  keahlian  masing-masing. Namun,  setiap  Unit  Kegiatan cenderung  terfokus  pada  bidang masing-masing.  Maka,  bukanlah suatu  hal  yang  mengherankan jika  pada  aksi  Orasi  Menolak  Lupa Tragedi  G-30  S/PKI  yang  diadakan  oleh  Wadah  Pengkajian dan  Pengembangan  Sosial  Politik 30  September  lalu  hanya  diikuti oleh  puluhan  mahasiwa  UNP. Jika  dilihat  pada  skala  lebih  luas, terdapat  ratusan  bahkan  mungkin  ribuan  ragam  komunitas  di Indonesia.  Apabila  kasus  yang sama  terjadi,  maka  kesatuan pergerakan  mahasiswa  akan semakin  melemah. Oleh  sebab  itu,  sudah  saatnya mahasiswa  kembali  menyatukan  ideologi  pergerakan.  Gerakan  mahasiswa  harus  kembali kepada  semangat  yang  sebenarnya,  yakni  memperjuangkan kepentingan  rakyat  dan  kepentingan  mahasiswa  untuk  memperjuangkan  pendidikan  nasional  yang  ilmiah,  demokratis, dan  mengabdi  pada  rakyat. Walaupun  terpisah  menjadi kelompok-kelompok  kecil  dengan bidang  yang  berbeda-beda,  organisasi  mahasiswa  harus  memiliki isu  bersama  yang  akan  diperjuangkan,  yaitu  hal-hal  yang bermuara  pada  kepentingan rakyat.  Gerakan  mahasiswa  sebaiknya  menjadi  gerakan  yang benar-benar  lahir  dari  sebuah perjuangan  massa.  Bukankah  itu juga  yang  selalu  digaungkan oleh  Bhinneka  Tunggal  Ika? Bersatu  dalam  perbedaan.

ARTIKEL APA KATA MEREKA

Lebih Reaktif dengan Saling Menyelaraskan Aksi Mahasiswa UNP  termasuk  mahasiswa  yang  reaktif  terhadap  perkembangan  yang ada,  menyikapi  banyak  hal  yang  terjadi  dengan  menyampaikan  aspirasinya  kepada pihak-pihak  terkait  tanpa  melalui  kekerasan.  Pergerakan  seperti  ini  merupakan  suatu hal  yang  positif  selagi  aksi  ini  dilakukan  tidak  dengan  cara  yang  anarkis  dan  tidak mengorbankan  diri  sendiri.  Pergerakan  atau  aksi  mahasiswa  pada  tahun  90-an  dahulu jika  dibandingkan  dengan  pergerakan  yang  terjadi  sekarang  memang  berbeda.  Pada tahun  1998  itu  pergerakan  mahasiswa  memang  agak  sedikit  frontal,  juga  cukup  ramai. Kemudian  mahasiswa  pada  zaman  sekarang  ini,  lebih  banyak  yang  ikut  aksi  untuk menyampaikan  aspirasinya,  yaitu  mahasiswa  yang  tergabung  dalam  organisasiorganisasi  tertentu  saja,  lalu  mahasiswa  lainnya  hanya  mewakilkan  saja  suaranya  kepada mereka  yang  telah  aktif  pada  organisasi  tersebut  dengan  tidak  meninggalkan  idealisme sebagai  identitas  mereka.  Kemudian  pada  saat  sekarang  ini  yang  menjadi  pertanyaan adalah  apakah  mahasiswa  tersebut  melakukan  pergerakan  atas  dasar  kemauan  sendiri sebagai  bentuk  kontroversialnya  atau  atas  perintah  dari  pihakpihak  tertentu.  Di  UNP  sendiri,  baik  atas  kesadaran  ataupun atas  perintah,  pergerakan  mahasiswa  tersebut  mulai  minim. Pilihan  untuk  menyampaikan  aspirasi  tergantung  kepada mahasiswa  tersendiri,  sesuai  dengan  bidangnya  masingmasing,  seperti  menulis,  melukis,  turun  langsung  ke  jalan, dan  lain  sebagainya.  Harapannya  mahasiswa  harus  lebih responsif  terhadap  permasalahan  yang  ada,  kemudian menyampaikan  aspirasi  melalui  pergerakan  yang  elegan selaku  kaum  intelektual. Nofrion, M.Pd. Dosen Jurusan Geografi FIS UNP

Adek Indra Mahasiswa Jurusan Kimia UNP TM 2013

Pergerakan mahasiswa,  yaitu  mahasiswa  menyampaikan pendapat  atau  aspirasinya  melalui  kegiatan  atau  cara-cara  tertentu. Masing-masing  fakultas  maupun  organisasi  di  UNP  mempunyai  cara dan  gaya  yang  berbeda-beda  dalam  penyampaian  pendapatnya. Contohnya  seperti  yang  terjadi  di  FBS  sendiri,  mahasiswanya mengemukakan  pendapat  atau  melakukan  aksinya  tidak  dengan orasi,  melainkan  melaui  karya  seperti  menggelar  pertunjukan  seni, lukisan,  dan  bentuk  bahasa,  seni,  dan  budaya  lainnya.  Begitu  juga dengan  fakultas-fakultas  lainnya,  mereka  punya  cara  tersendiri dalam  melakukan  aksi  tersebut.  Menurut  Saya,  pergerakan mahasiswa  UNP  beberapa  waktu  belakangan  ini  cukup  bagus,  seperti adanya  hari  aspirasi  mahasiswa  yang  di  wadahi  oleh  MPM  UNP, kemudian  juga  BEM  UNP.  Harapan  untuk  ke  depannya,  setiap  fakultas yang  ada  di  UNP  menyelaraskan  dan  saling  bersinergi  dalam mengemukakan  pendapat,  sehingga  dapat  berdampak  baik d a n menghasilkan  satu  garis  kebersamaan.  Hal  tersebut tidak  akan  dapat  tercapai  tanpa  adanya dukungan  dari  pihak  universitas  dan  juga pejabat  mahasiswa  di  tingkat  universitas.

Ahmad Fauzan Yusman Wakil Gubernur BEM FBS UNP

Pergerakan mahasiswa  merupakan  sarana  bagi  mahasiswa  menyalurkan  aspirasinya,  dapat  melalui  aksi  damai  maupun berupa  pergerakan-pergerakan  lainnya.  Pergerakan  mahasiswa,  khususnya  mahasiswa  UNP,  belum  terlihat  aksi  dalam  bentuk apa  yang  mereka  lakukan.  Mahasiswa  UNP  saat  sekarang  ini  masih  kurang  kritis  dalam  melakukan  pergerakan  dan menyampaikan  aksinya.  Kemudian  minat  mahasiswa  UNP  secara  keseluruhan  masih  sangat  kurang.  Selain  itu  pada  saat sekarang  ini  pemerintah  telah  merancang  kurikulum  yang  sangat  padat  bagi  mahasiswa,  sehingga  hari-hari  mahasiswa hanya  dipadatkan  dengan  belajar  ini  dan  itu,  dan  tidak  terpikirkan  lagi  untuk  melakukan  aksi-aksi  untuk  melawan  kebijakankebijakan  yang  ditetapkan.  Harapan  untuk  ke  depannya  mahasiswa  selaku  kaum  intelektual  yang  terpelajar,  hendaknya lebih  kritis  dan  aktif  karna  mahasiswa  juga  sebagai  pengawal  pergerakan  bangsa.


KONSULTASI

8

Edisi No. 194/Tahun XXVII

KONSULTASI AGAMA

Jika Anda  mengalami  masalah  agama,  psikologi,  atau  kesehatan,  silakan  manfaatkan  rubrik  ini.  Kirimkan  surat  tentang  masalah  Anda  kepada  pengasuh  rubrik ini  ke  email redaksiganto@gmail.com  atau diantarkan  langsung  ke  Gedung  PKM  UNP  Ruang  G65  UNP.  Setiap  pertanyaan  harap  dilengkapi  dengan  identitas.

Islam Memandang Kebhinekaan

Diasuh oleh Dr. Ahmad Kosasih, M.A. Indonesia merupakan  negara  dengan keberagaman  suku,  ras,  dan  agama. Agama  Islam  merupakan  agama  yang paling  banyak  dianut  oleh  penduduk  Indonesia.  Namun,  akhir-akhir  ini,  komentar  miring  terkait  Islam  sangat  banyak tersebar  di  media,  seperti  pada  kejadian 411  dan  212.  Sebelum  aksi  damai  dilangsungkan,  tersebar  berita  yang  menyatakan  bahwa  Islam  anti  NKRI.  Berita  tersebut  seolah-olah  menyiratkan  bahwa  Islam  merupakan  agama  yang  menolak keras  segala  bentuk  perbedaan  yang  ada. Tetapi  faktanya,  aksi  damai  yang  dilakukan  pada  411  dan  212  tersebut  berjalan dengan  lancar  dan  indah.  Dari  kejadian tersebut,  sebenarnya,  bagaimanakah pandangan  Islam  terhadap  kebinekaan yang  ada  di  NKRI? Vivi Yulanda Ajizah Mahasiswa Pendidikan Geografi TM 2014 Jawaban: Ananda  Vivi!  Islam  adalah  agama rahmatan lil ‘alamin.  Maksudnya,  agama yang  menebarkan  rahmat  kepada  seluruh alam,  baik  manusia  maupun  hewan  dan tumbuh-tumbuhan  (lingkungan  hidup). Islam  juga  mengakui  dan  menghargai perbedaan  yang  ada  karena  perbedaan merupakan  kodrat  yang  tak  terbantahkan.  Perbedaan  itu  meliputi;  ras, bangsa,  suku  bangsa,  bahasa,  warna  kulit bahkan  agama/keyakinan  (Q.S.49:13; S.30:22;  S.10:99).

Dalam menyikapi  perbedaan,  Islam tidak  hanya  mengajarkan  toleransi  yang bersifat  pasif  tapi  juga  toleransi  aktif. Buktinya  Al-quran  mengajarkan  persaudaraan  (ukhuwah)  dalam  arti  yang  luas yang  meliputi;  (a)  persaudaraan  kemanusiaan/ukhuwah insaniyah  (b)  persaudaraan kebangsaan/ukhuwah wathoniyah,  dan  (c) persaudaraan  seiman/ukhuwah imaniyah. Untuk  membangun  persaudaraan kemanusiaan  dan  kebangsaan,  Allah berfirman:  “Hai  manusia,  Sesungguhnya Kami  menciptakan  kamu  dari  seorang laki-laki  dan  seorang  perempuan  dan menjadikan  kamu  berbangsa-bangsa  dan bersuku-suku  supaya  kamu  saling  kenalmengenal.  Sesungguhnya  orang  yang paling  mulia  di  antara  kamu  di  sisi  Allah ialah  orang  yang  paling  taqwa  di  antara kamu.  Sesungguhnya  Allah  Maha  mengetahui  lagi  Maha  Mengenal”  (Q.S.49:13). Untuk  membangun  persaudaraan seiman,  Islam  mengajarkan  bahwa  orangorang  beriman  itu  berada  dalam  satu persaudaraan.  Allah  berfirman:  “orangorang  beriman  itu  Sesungguhnya  bersaudara,  sebab  itu,  damaikanlah  (perbaikilah hubungan)  antara  kedua  saudaramu  itu dan  takutlah  terhadap  Allah,  supaya kamu  mendapat  rahmat”  (Q.S.49:10). Sedangkan  untuk  menjaga  atau  memelihara  persaudaraan,  Al-quran  mengajarkan  agar  kita  senantiasa  menjauhi  halhal  yang  berpotensi  merusak  hubungan persaudaraan  itu.  Hal  tersebut,  yakni saling  merendahkan  satu  sama  lain, mencela  diri  dengan  mencela  orang  lain, saling  memanggil  dengan  panggilan yang  buruk,  prasangka  yang  berlebihan, mencari-cari  kelemahan  atau  aib  seseorang,  dan  menggunjing  (ghibah,  gosip) ( Q.S.49: 11- 12) . Islam  menyuruh  umatnya  berbuat baik  dan  adil  terhadap  nonmuslim  selama ia  tidak  memerangi  Islam  dan  umatnya (Q.S.60:8).  Tetapi  Islam  hanya  melarang umatnya  berhubungan  baik  dengan  nonmuslim  yang  telah  memerangi  umat  Is-

lam serta  mengusirnya  dari  negerinya (Q.S.60:9).  Islam  juga  tidak  mengajarkan kepada  umatnya  memerangi  orang-orang kafir  sebelum  mereka  memerangi  Islam dan  umatnya  (Q.S.2:189). Perintah  untuk  memerangi  orang-orang  kafir  itu  pun  hanyalah  dalam  rangka mengantisipasi  timbulnya  fitnah (Q.S.2:193)  dan  bertujuan  untuk  memelihara  dan  mempertahankan  lima  kebutuhan  manusia  yang  amat  mendesak  (aldharuriyyat al-khamsah),  yakni  nyawa, akal,  harta,  keturunan  serta  kehormatan, dan  agama.  Inilah  sikap  yang  diterapkan oleh  Rasulullah  dalam  menyiarkan  Islam sehingga  Islam  tersebar  ke  seantero penjuru  dunia.  Pertumbuhan  serta  perkembangan  Islam  ibarat  tanaman  yang mulanya  berupa  kecambah  kemudian tumbuh  dan  berkembang  pada  batangnya yang  kokoh  dan  menakjubkan  yang menanamnya  sehingga  membuat  jengkel orang-orang  kafir  (Q.S.48:29). Umat  Islam  Indonesia  sampai  saat  ini meru pakan  jumlah  terbesar  di  antara negara-negara  du nia.  Karena  itu,  secara logika,  perju angan  bangsa  Indonesia dalam  merebut  serta  mempertahankan kemerdekaan,  jelaslah  itu  sumbangan terbesar  dari  u mat  Islam,  tanpa  menapikan  perjuangan  umat  beragama  lainnya.  Sedangkan  bangsa-bangsa  yang pernah  menjajah  Indonesia  notabenenya adalah  penganut  Kristen  Katolik.  Maka perju angan  umat  Islam  melawan  penjajah  saat  itu  bu kan  saja  karena  mereka menjajah  tapi  ju ga  karena  bertentangan dengan  akidah  Islam  dan  mempertahankan  lima  kebutuhan  yang  amat  vital  seperti  dikemu kakan  di  atas. Tetapi  umat  Islam  Indonesia  tidak pernah  memerangi  nonmuslim  yang  tidak  menjajah  bagsa  Indonesia,  bahkan selalu  menjaga  hubungan  baik  dengan mereka.  Buktinya,  umat  Islam  Indonesia bisa  hidup  berdampingan  dan  damai dengan  umat  lain  seperti  Kristen,  Hindu, Budha  bahkan  Konghuchu.  Nah,  jika  ada

kalangan yang  menuduh  umat  Islam  Indonesia  anti  kedamaian  dan  kebhinekaan, berarti  mereka  tidak  memperhatikan fakta  sejarah.  Kalau  pun  ada  kasus-kasus penolakan  terhadap  nonmuslim  pasti dilatarbelakangi  oleh  suatu  persoalan yang  amat  mendasar  dalam  keyakinan mereka  seperti  pelecehan  terhadap  Islam dan  simbol-simbol  Islam. Seharusnya  diperhatikan  dulu  akar persoalannya,  jangan  hanya  melihat sesuatu  yang  terjadi  di  permukaan  saja. Ingat,  kata  radikal  yang  berasil  dari  radic (Ing.)  makna  dasarnya  adalah  akar.  Jadi seorang  yang  disebut  radical  itu  adalah orang  yang  bisa  berpikir  secara  mendasar sampai  ke  akar  persoalan,  bukan  “kekerasan”.  Inilah  satu  contoh  pemutarbalikan  konsep  sehingga  berakibat  pemutarbalikan  makna  dan  berujung  pada  pemutarbalikan  pemahaman  yang  berbuah kekeliruan  besar. Terkait  dengan  aksi  u mat  Islam  411 dan  212  yang  lalu  merupakan  salah  satu bentuk  penyampaian  aspirasi  yang  dilindungi  oleh  konstitusi  dan  HAM  dalam  sebu ah  negara  yang  berdemokrasi.  Sepengetahuan  saya,  tidak  ada  di  situ tu ntutan  yang  bersifat  anti  pada  NKRI. Nah,  jika  ada  indikasi  penyimpangan mu ngkin  saja  ada  pihak-pihak  tertentu yang  bertengger  di  atas  lu apan  massa, dan  tidak  tertu tu p  pu la  kemu ngkinannya  ada  di  sana  “maling  meneriakkan maling”.  Itu  hanyalah  ekses  dari  demokrasi  itu  sendiri.  Di  situlah  diuji  kejelian serta  profesionalitas  aparat  penegak hu ku m  dan  keamanan  agar  mampu memilih  dan  memilah  persoalan  yang terjadi.  Jangan  cepat  menyimpu lkan bahwa  umat  Islam  Indonesia  anti  kebhinekaan.  Itu  adalah  kesimpu lan  yang bias  dan  tidak  ilmiah.  Adapun  isu  yang beredar  baik  di  mediasosial  maupun media  lainnya  yang  menyatakan  bahwa Islam  adalah  anti  NKRI  adalah  isu  yang mengada-ada  karena  tidak  sesuai  dengan fakta  yang  ada.  Waspadalah!  3x

KONSULTASI KESEHATAN

Penyebab Nyeri Telinga nakan handsfree  di  telinga  bagian  kanan saya  saja,  telinga  bagian  kiri  saya  tetap bermas alah? Mahasiswa UNP

Diasuh oleh Dr. Pudia M. Indika Assalamualaikum Wr.Wb. Beberapa  bulan  belakangan  ini,  telinga bagian  kiri  saya  sering  merasa  sakit,  dan berdenging.  Biasanya,  jika  sedang  kambuh,  rasa  sakit  itu  bisa  terasa  hingga sebagian  kepala  saya.  Saya  juga  merasa kemampuan  mendengar  telinga  bagian kiri  saya  sedikit  berkurang  seperti  ada sesuatu  yang  menghambat  di  dalamnya. Saat  ini,  jika  saya  mendengarkan  sesuatu mengunakan  handsfree,  beberapa  jam kemudian  telinga  saya  pasti  bermasalah seperti  keluhan  di  atas.  Padahal,  saya hanya  mengunakan  handsfree  di  telinga bagian  kanan  saya  saja.  Sebenarnya,  apa penyebabnya?  Bagaimana  cara  mengatasi  masalah  tersebut?  Dan,  kenapa  jika saya  mendengarkan  sesuatu  menggu-

Waalaikumsalam Wr.Wb Salam  Sehat  … Telinga  yang  mengalami  sakit,  berdenging,  dan  merasakan  pendengaran yang  berkurang  disebabkan  oleh  beberapa hal,  antara  lain: 1.  Serumen  Prop Adalah  suatu  kondisi  telinga  dipenuhi dengan  serumen  (kotoran  telinga)  yang menggumpal  dan  keras  yang  membentuk sumbatan  pada  liang  telinga.  Serumen merupakan  suatu  cairan  yang  lengket dan  berwarna  kuning  yang  dihasilkan oleh  kelenjar  di  liang  telinga.  Serumen berfungsi  untuk  melapisi  kulit  dari gangguan  luar  (masuknya  benda  asing) dan  infeksi. Penyebab  paling  banyak  yang  dapat menimbulkan  serumen  prop  menjadi menggumpal  adalah  seringnya  membersihkan  telinga  dengan  menggunakan cotton bud  dan  mengoreknya  cukup  dalam sehingga  serumen  terdorong  ke  dalam telinga  dan  menggumpal  serta  menyum-

bat liang  telinga.  Hindari  penggunaan peralatan  seperti  cotton bud,  pensil,  dan lainnya  untuk  membersihkan  telinga karena  dapat  mendorong  serumen  lebih ke  dalam.  Dibutuhkan  pelunak  dari serumen  dalam  membersihkannya. 2.  Peradangan Peradangan  dapat  terjadi  pada  telinga bagian  luar,  bagian  tengah,  dan  bagian dalam.  Umumnya  keluhan  seperti  yang anda  rasakan  berasal  dari  telinga  bagian tengah.  Peradangan  atau  infeksi  pada telinga  dalam  istilah  medis  disebut  dengan otitis.  Penyebab  otitis  adalah  bakteri  atau virus.  Biasanya  merupakan  komplikasi dari  infeksi  saluran  pernapasan  atas.  Virus  atau  bakteri  dari  tenggorokan  bisa sampai  ke  telinga  tengah  melalui  tuba eustachius.  Infeksi  ini  dapat  menyebabkan gendang  telinga  robek,  akan  keluar  cairan yang  pada  awalnya  mengandung  darah lalu  berubah  menjadi  cairan  jernih  dan akhirnya  berupa  nanah.  Sehingga  memerlukan  penanganan  segera  dari  dokter spesialis  THT. 3.  Barotrauma Adalah  gangguan  telinga  yang  terjadi akibat  perubahan  tekanan  udara  di telinga  luar  dan  telinga  tengah  yang

dipisahkan oleh  gendang  telinga.  Penyebab  terjadinya  barotrauma  adalah penyumbatan  pada  saluran  eustachius. Faktor  risiko  terjadinya  gangguan  ini adalah  perubahan  ketinggian  dan  hidung tersumbat.  Apabila  terjadi  perubahan tekanan  secara  tiba–tiba,  maka  untuk menyamakan  tekanan  di  telinga  tengah dan  mengurangi  rasa  nyeri  dapat  diatasi dengan  mengunyah  dan  menelan  yang dapat  membantu  membuka  tuba eustachius sehingga  udara  dapt  keluar  masuk  untuk menyamakan  tekanan  dengan  udara  luar 4.  Paparan  suara Telinga  manusia  mampu  mendengar frekuensi  bunyi  antara  16–20.000  Hz. Kebisingan  dapat  menyebabkan  ketulian progresif.  Paparan  kebisingan  dari lingkungan  termasuk  penggunaan handsfree  sehari–hari  dapat  menurunkan daya  dengar  lebih  kurang  4.000  Hz.  Agar tidak  berkurangya  daya  dengar  sebaiknya penggunaan  handsfree  tidak  lebih  dari  2 jam  sehari  dengan  volume  sedang. Pengobatan  harus  dilakukan  dengan pemeriksaan  yang  dilakukan  oleh  dokter menggunakan  otoskop  agar  dapat  diketahui bagian  kerusakan  yang  terjadi.  (dr.PM) Semoga  bermanfaat.


9

Edisi No. 194/Tahun XXVII

KRITIK ENGLISH CORNER

ENGLISH CORNER

Internet, Friend or Foe? By Dian Montanesa Now a day, internet  is  not rare  things  like  several  decade before,  internet becomes  familiar things  and  cannot  be  separated with  human  life’s  anymore.  Everyone  can  use  internet  wherever  they  want,  as  long  as  they have  packet  data  or  pulsa  to  get connect  with  internet.  Even peoplenow  can  use  internet freely  because of  several  places have provided  by  free  Wi-Fi. Currently  the  expert  user  of internet  not only  young  generation,  but  also  old  generation  and children  generation,  which is the function of internet  are  not  just for  entertaining  but  for  educating  too.Surfing  in  internet  cannot  circumscribe the limit of knowledge,  everyone  freely searching what  they  want  to search,  depends on  what  they interest  with. Interestingly,  the side of internet is not only positives side, but also  negatives side,  the analogy  of  internet  is  like  a  knife, it  has  two  eyes,  negatives  and positives,  it’s depend  on  the  user want  to  use  internet  for  good  or bad  things.  Ironically  most  of teenagers  didn’t  realize  that internet  in  one side can be  very

beneficial and  in  other  side  can be  very  hazardous,  teenagers  forgot  to  filter  what  they  saw  and found  in  internet. Roger  E.  Hernandez  a  researcher  of    teenagers  life  and internet  mention  that  relation between  teenagers  and  internet are  very  close,  when teenagers want  to  know  the  schedule  of  film teenagers  will  check  it  on internet,  when  teenagers  want  to know  score  of  sport  competition they  will  check  it  on  internet, when  teenagers  want  to  finish  the homework  they  will  search  it  on internet,  teenager  browsing internet  when  they  want  to  get contact  with  their  friends,  for download  the  music,do  shopping online,  and  want  to  know  much about  lovely  K-Pop  artist  and learning  about  Senegal  language,  dangerously  several  teenagers  use  internet  for  reveal  their personal  secret  so  everybody  in the  world  will  know  that. In  urban  lifestyle  the  impact of  internet  is  very  sharply,  So many  teenager  forgot  how  to communicate  with  oldest  people politely,  it’s happen  because  of internet  in  their  hand,  and  they forgot  to  build  effective  commu-

nication when  they speaking. Actually  media  social  extremely can  increase  the  effectively of communication,  because  the farest friends  can  be  the  closest friend  when  using  internet,  but in  reality  when  several teenager  are  gathering  they  are  not talking  one  to  another,  they  only focus  on  the  smartphone  that they  operated  and  forgot  to  invite peoples  around  them  to  talk. Basically  the  function  of  advances technology  is  to  help human  life  become  more  easy, and  to minimising  human  involvement  in  the  working  activities.  Factly internet  is one  of  the advance  technology  but  now internet  has  changed  the  system of  social  life  because  the  weak  of social  control  to  guide  that. Unquestionably  internet  can be  people’s  friend  when  people  can use  internet  wisely,  for  instance internet using for searching the  knowledge,  searching  newest information,  or  for build  connection  with  old  friend.  Oppositely internet  also  can  be  foe  when people  cannot  use  internet  positively,  for  instance  internet  use to bullying  someone,  open  negative  content  of

Diasuh oleh Dr. Jufri Syahruddin, M.Pd.

Assalammualaikum wr.  wb. Kepada  Yth.  Dian  Montanesa di  Ganto Tulisan  Anda  dengan  judul  Internet,  Friend  or  Foe? terlihat  cukup  bagus.  Akan tetapi,  setelah  Saya  baca secara  keseluruhan  dari  awal sampai  akhir,  Saya  terpaksa mengernyitkan  dahi  karena begitu  banyak  kelemahannya.  Kelemahan  pertama adalah  dari  segi  bahasa.  Hal ini  tampak  pertama  dari penulisan  ejaan,  pilihan  kata, dan  penjamakan.  Kedua,  dari segi  tata  bahasa  Saya  begitu banyak  menemukan  kalimat yang  kekurangan  unsure  dan ketidakjelasan  maksud. Kesalahan  kata,  tatabahasa  dan  ejaan  Saya  tebalkan agar  penulis  bisa  mempelajari lagi  apa  kesalahannya.  Hal ini  penting  karena  tulisan yang  bagus  jika  tidak  disajikan  dengan  bahasa  yang

baik dan  benar,  hasil  dan maksudnya  tentu  tidak  maksimal.  Pembaca  akan  menjadi  bingung  memahami  isi tulisan  Anda.  Saya  menyarankan  agar  penulis  mempelajari  lagi  bahasa  Inggris dengan  tekun  dan  optimal. Berikutnya  adalah  soal penyajian  tulisan.  Dalam menyajikan  ide,  seorang  penulis  harus  mengikuti  sistematika  dan  proses  yang benar.  Penulis  harus  mengerti  betul  mana  yang  kalimat tesis,  dan  kalimat  pendukung.    Selain  itu,  penulis  juga harus  mengerti  dengan  baik tentang  pola  paragraf  dan kata  transisional. Sungguhpun  banyak  terdapat  kesalahan  pada  tulisan Dian  ini,  Saya  tetap  memberikan  apresiasi  yang  tinggi karena  sudah  memiliki  keberanian  menulis  di  Ganto. Teruslah  belajar  giat  dan semoga  ke  depan  makin  baik.

SOSOK

Gali Potensi Melalui Organisasi

M

uttaqin Kholis  Ali,  alumnus Fakultas  Teknik  (FT)  Universitas Negeri  Padang  (UNP)  merupakan  orang  yang  peduli  dengan  kegiatan-kegiatan  yang  dilakukan  oleh  organisasi  mahasiswa  (ormawa)  selingkungan UNP.  Kepeduliannya  terhadap  ormawa terbukti  dengan  kehadirannya  dalam kegiatan-kegiatan  yang  diadakan  oleh ormawa  UNP.  Tak  jarang,  ia  menjadi pemateri  ataupun  juri  dalam  kegiatan tersebut.  Selama  menimba  ilmu  di  FT  UNP ia  aktif  di  ormawa  yang  ada  di  UNP. Terakhir  ia  menjabat  sebagai  Sekretaris Jendral  Badan  Eksekutif  Mahasiswa  (BEM) UNP  periode  2015-2016. Alumnus  UNP  yang  sudah  aktif  berorganisasi  semenjak  duduk  di  bangku sekolah  menengah  pertama  ini  mengatakan  bahwa  mahasiswa  suka  berorganisasi  sebab  pada  dasarnya  tidak  ada mahasiswa  yang  suka  sendiri.  Hanya  saja, kebanyakan  mahasiswa  terbentur  dalam memilih  organisasi  yang  ingin  ia  ikuti, karena  mareka  merasa  tidak  ada  ormawa yang  sesuai  dengan  keterampilan  atau bakat  yang  dimilikinya.  Kendala  lainnya ialah  mahasiswa  tidak  mengetahui  pentingnya  organisasi.  Hal  ini  dikarenakan tidak  adanya  sosialisasi  yang  komprehensif.  Kendala-kendala  tersebut,  kata Muttaqin  mengakibatkan  antusias  mahasiswa  UNP  untuk  mengikuti  ormawa termasuk  Unit  Kegiatan  Mahasiswa  (UKM) masih  minim. Solusinya  harus  ada  komitmen  bersama  antara  aktivis  dengan  pembuatan kebijakan  akan  regulasi  organisasi.  Komitmen  tersebut  harus  bersifat  terikat  dan memilki  konsekuensi  yang  jelas  bila komitmen  tidak  terlaksana  dengan  semestinya.  Sebab  organisasi  bukanlah  ekstrakulikuler  seperti  anggapan  mahasiswa pada  umumnya.  Organisasi  dan  akademik bukanlah  suatu  pilihan  melainkan    keharusan  untuk  menjalankannya  secara

beri mbang. Selain itu,  sosok  yang  pernah  menjadi Ketua  OSIS  di  Madrasah  Aliyah  Negeri  2 Padang  Sidempuan  ini  mengimbau  agar pengurus  ormawa  UNP  membuat  organisasinya  menjadi  penting  bagi  mahasiswa. Caranya  ialah  dengan  menunjukkan manfaat  yang  diperoleh  mahasiswa setelah  bergabung  dengan  organisasi  itu. Hal  ini  akan  membuat  mahasiswa  tertarik menjadi  bagian  dari  organisasi  tersebut. “Orang  akan  mengejar  sesuatu  yang menurutnya  penting,”  ujar  Sekretaris Umum  LSM  Lembaga  Swadaya  Masyarakat  Pemerhati  Inprastruktur  Pembangunan  Daerah  (PIPD)  ini,  Jumat  (16/12).

Sadari potensi diri sendiri, ikuti ormawa yang diminati dan temukan style baru di ormawa tersebut,” Muttaqin Kholis Ali Alumnus Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Padang (UNP) Muttaqin juga  menceritakan  pengalamannya  saat  berburu  organisasi  dahulu. Ia  mengatakan  bahwa  sebelum  bergabung dengan  BEM  UNP,  ia  pernah  mendaftar  dan mengikuti  proses  pemagangan  diberbagai ormawa  yang  ada  di  UNP.  Namun,  setelah melaluinya,  ia  merasa  tidak  cocok  sehingga  mencari  ormawa  yang  menurutnya sesuai  dengan  minatnya.  Menurutnya dari  berorganisasi,  ia  dapat  mengetahui potensi  dirinya  sendiri.  “Sadari  potensi  diri sendiri,  ikuti  ormawa  yang  diminati  dan temukan  style  baru  di  ormawa  tersebut,” pesann ya. Hal  yang  penting  ketika  menjadi

bagian dari  suatu  organisasi,  kata  Muttaqin  ialah  motivasi. Mayoritas  mahasiswa  mempunyai  motivasi  utama  masuk organisasi  untuk  aktualisasi  dan  eksistensi  diri.    Padahal aktualisasi  dan  eksistensi  diri  didapatkan  setelah  berkecimpung  dalam organisasi  tersebut.  Muttaqin mengibaratkannya  seperti kesuksesan  hidup.  Menurutnya,  kesuksesan  hidup  tidak  dilihat dari  pencapaian-pencapaian

dunia yang telah  dilalui untuk  kepentingan pribadi.  Tetapi kesuksesan  hidup  dapat  dilihat dari  manfaat  yang diterbarkan  sesorang  kepada  khalayak luas  selama  hidupnya.  Sehingga  ketika  orang  tersebut  tiada,  ia  tetap  dikenang  dan dihadiahi  doa.  “Kesuksesan  itu  intinya ialah  pengabdian,”  ujarnya. Oleh  karena  itu ,  kata  Muttaqin,  jika masu k  organisasi  jangan  hanya  termotivasi  u ntuk  menjadi  pemimpin  organisasi,  karena  pemimpin  hanya  akan  menjadi  dampak  dari  apa  yang  telah  dilakukan

selama berada  di  organisasi  tersebut. Lebih  lanjut,  Muttaqin  menjelaskan bahwa  aktivis  bukanlah  orang  yang  hanya aktif  di  sebuah  organisasi.  Tetapi  aktivis ialah  orang  yang  terbiasa  berpikir  terstruktur  dan  mampu  menyederhanakan kerja.  “Organisatoris  itu  kekuatan  pikiran, kefasihan  berbahasa,  dan  kepekaan  perasaannya  bisa  selaras,”  tutupnya.  Ermiati Harahap


OPINI

10

Edisi No. 194/Tahun XXVII

In Memoriam Mohamad Ansyar Oleh Fakhruddin Arrazzi Mahasiswa Jurusan Fisika TM 2013

“Pulau Pandan  jauah  di  tangah Di  balik  Pulau  Angso  Duo Hancua  badan  dikanduang  tanah Budi  baiak  takana  juo” —Pantun  Minang Prof.  Mohamad  Ansyar,  Ph.D.  merupakan  Rektor  Institut  Keguruan  Ilmu Padang  (IKIP)  terakhir  sekaligus  Rektor Universitas  Negeri  Padang  (UNP)  pertama.  Ansyar,  demikian  beliau  akrab disapa,  pernah  menjabat  sebagai  Rektor IKIP  Padang  selama  dua  periode,  yaitu tahun  1991-1995  dan  1995-1999.  Beliau juga  pernah  menjabat  sebagai  Rektor  UNP selama  beberapa  waktu  pada  tahun  1999. Bapak  Ansyar  lahir  di  Lubuk  Linggau pada  25  Agustus  1939,  dan  dibesarkan  di kampung  halamannya,  Kotokaciak,  Maninjau,  Sumatera  Barat.  Beliau  meninggal  pada  hari  Sabtu,  19  November 2016,  pukul  19.25  WIB,  di  Rumah  Sakit M.  Djamil  Padang. Bapak  Ansyar  juga  pernah  menjadi pensiunan  Guru  Besar  UNP.  Beliau  menyelesaikan  program  Sarjana  Muda  (BA) Jurusan  Bahasa  Inggris  IKIP  Padang  di Bukittinggi  pada  tahun  1966,  dan  memperoleh  gelar  Drs.  Sarjana  Pendidikan Jurusan  Bahasa  dan  Sastra  Inggris  di  IKIP Malang  pada  tahun  1971.  Beliau  juga pernah  mengikuti  The One Years Diploma Course,  pendidikan  bahasa  Inggris  di SMEO-RELC  Singapore  pada  tahun  1972. Sementara  itu,  gelar  Doctor of Philosophy (Ph.D) dalam  bidang  studi  Curriculum and Instruction diraihnya  di  Indiana  University,  Bloomington,  Indiana,  U.S.A.  pada tahun  1981.  Demikianlah  perjalanan karir  dan  pendidikan  Bapak  Ansyar. Hingga  wafatnya,  beliau  masih  mengajar  di  program  S-1,  S-2,  dan  dan  S-3 di  UNP. Waktu  itu,  penulis  yang  merupakan reporter  di  Surat  Kabar  Kampus  Ganto UNP  mendapatkan  tugas  untuk  mewawancarai  beliau.  Saat  itu,  kami  akan mengangkat  laporan  tentang  Dies  Natalis UNP  62  dan  sejarah  perluasan  mandat IKIP  Padang  menjadi  UNP  pada  tahun 1999.  Maklum,  beliau  merupakan  rektor di  masa  peralihan  IKIP  Padang  menjadi

UNP. Dengan  salah  seorang  teman,  penulis pun  pergi  ke  rumah  beliau  di  Jalan Tempua  II  Nomor  29,  Padang  pada  Kamis, 20  November  2016.  Dalam  kenangan saya,  Bapak  Ansyar  merupakan  seorang pribadi  yang  ramah,  baik,  murah  senyum,  rendah  hati,  dan  mengayomi. Setelah  kami  sampai  di  rumahnya,  kami pun  memperkenalkan  diri.  Beliau  menyambut  kami  dengan  antusias.  “Dari Ganto ya?  Sudah  lama  saya  tak  diwawancara  oleh  Ganto,”  kelakarnya. Kami  lalu  mewawancarai  beliau seputar  sejarah  perluasan  mandat,  kendala  yang  dihadapi,  dan  harapannya untuk  UNP  ke  depan.  Beliau  bercerita bahwa  perubahan  IKIP  Padang  menjadi  universitas  berawal  dari  tawaran  yang  diberikan  oleh  Direktorat Jenderal  Pendidikan  Tinggi  dengan syarat  mandat yang  diperluas. Artinya,  UNP  tetap  berfokus  kepada  pendidikan guru,  tapi  bidang studinya  diperGrafis: kuat.  Sewaktu  masih kuliah  di  Amerika, beliau  sudah  menyadari bahwa  UNP  akan  mendapatkan  tawaran tak  terduga.  Jadi,  sebagai  Wakil  Rektor  I, beliau  pun  membuat  sebuah  kebijakan bahwa  UNP  memberikan  kesempatan kepada  dosen-dosen  untuk  melanjutkan kuliah  ke  jenjang  S-2  dan  S-3  dengan beasiswa.  Beliau  berkelakar,  bahwa waktu  itu  jumlah  dosen  yang  begelar magister  dan  doktor  masih  dalam hitungan  jari.  “Sekarang,  sudah  banyak ya?”  imbuhnya. Menurut  Bapak  Ansyar,  dosen  merupakan  aset  terbesar  dalam  sebuah  universitas.  Tanpa  dosen,  universitas  tidak akan  ada  artinya.  Aset  ini  harus  ditingkatkan  profesionalismenya  demi  memperkuat  bidang  studi.  Dosen  yang  baik adalah  dosen  yang  bukan  hanya  bisa

mengajar, tapi  juga  mampu  membelajarkan  mahasiswanya.  Bapak  Ansyar bercerita  bahwa  beliau  pernah  memarahi salah  seorang  dosen  yang  mengajar mahasiswanya  dengan  cara  berbicara terus-menerus.  Dosen  tersebut  hanya menjalankan  komunikasi  satu  arah.  Hal ini  tentu  membuat  mahasiswa  jadi  individu  yang  tidak  apatis.  Dosen  yang  baik adalah  dosen  yang  mampu  menumbuhkan  keterampilan  belajar  sendiri kepada  mahasiswanya.  Jadi,  peningkatan mutu  menjadi  suatu  hal  yang  tidak  bisa dielakkan.  Beliau  berharap  UNP  berhasil dalam  menjalankan  misinya  sebagai mandat  yang  diperluas. Wawancara  tersebut  akhirnya  dimuat  di  rubrik  Wawancara Khusus  berjudul  Peningkatan Mutu Seperti Berlayar ke Horizon. Rubrik  Wawancara Khusus ini menjadi  pelengkap  edisi  193  No. 1 9 3 / T a h u n XXVII  dengan tema  Di Balik Sebuah Perayaan. Doly Andhika Lebih  kurang  ada setengah  jam  kami wawancara.  Sesekali,  di pertengahan  wawancara,  beliau  berhenti sesaat  untuk  mempersilahkan  kami untuk  minum.  “Maaf,  hanya  air  putih!” ujarnya.  Sebetulnya,  bukan  air  putih. Tapi,  minuman  bersoda.  Minuman  tersebut  disuguhkan  oleh  isterinya  ketika kami  baru  datang.  Di  akhir  wawancara, beliau  permisi  sebentar  untuk  mengambil  buku  karangannya  yang  berjudul Kurikulum; Hakikat, Fondasi, Desain, dan Pengembangan. Buku  yang  setebal  bantal  tersebut merupakan  revisi  buku  Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum (1989)  yang disponsori  dan  diterbitkan  oleh  Proyek Pengembangan  Lembaga  Pendidikan Tenaga  Pendidikan  (P2-LPTK),  Departemen  Pendidikan  dan  Kebudayaan.  Buku

tersebut diterbitkan  sebagai  tambahan referensi  bagi  mahasiswa,  praktisi  dan aktivis  kurikulum  serta  pembaca  yang tertarik  dengan  kurikulum  pendidikan. Buku  ini  menjadi  referensi  bagi  pembaca yang  ingin  menegetahui  masalah  kurikulum  dan  pembelajaran  dilihat  dari berbagai  dasar  utama  pengembangan k u ri ku lu m. Bapak  Ansyar  merupakan  pribadi yang  suka  membaca.  Beliau  bercerita bahwa  sewaktu  jabatan  rektornya  berakhir,  maka  yang  dikejarnya  terlebih dahulu  adalah  membaca  buku-buku yang  belum  sempat  dibacanya  sewaktu menjadi  pejabat  kampus.  Maklum,  menjadi  pejabat  kampus  merupakan  sesuatu yang  sibuk  dan  memerlukan  konsentrasi. Hal  itulah  barangkali  yang  menyebabkan  waktu  membaca  buku  jadi  berkurang.  Dia  melampiaskan  hasrat  membaca bukunya  tersebut  di  waktu-waktu  senggang  seperti  sekarang. Beliau  juga  bercerita  bahwa,  setelah buku  ini  terbit,  penerbit  memberikannya sepuluh  buku.  Dia  pun  jadi  binggung  ingin memberikannya  kepada  siapa.  Sewaktu Ganto datang  ke  rumahnya  untuk  wawancara,  beliau  pun  terbersit  memberikannya  satu.  Beliau  meminta  kami agar  membuka  langsung  buku  tersebut untuk  ditandatangani  olehnya.  “Ini untuk  perpustakaan  Ganto. Jangan lupa dibaca  ya!”  ujarnya.  Maka,  jadilah  kami pulang  dari  wawancara  itu  tanpa  tangan kosong.  Kami  membawa  oleh-oleh  buku dari  Bapak  Ansyar.  Dan,  ini  sangat mengagumkan.  Jarang-jarang  kami diberi  buku  oleh  narasumber,  apalagi oleh  seorang  mantan  Rektor  UNP. Sewaktu  kami  masih  dalam  pertengahan  proses  penggarapan  edisi  193, kami  pun  mendapatkan  berita  duka, bahwasanya  beliau  pulang  ke  pangkuan Yang  Maha  Kuasa.  Innalillahi wainna ilaihi raji’un!  Tidak  dapat  dipungkiri,  di  usia senjanya,  beliau  masih  memikirkan  UNP agar  bisa  menjadi  lebih  maju  ke  depannya.  Semoga  jasa-jasa  beliau  agar  UNP bisa  menjadi  seperti  sekarang  bisa  menjadi  amal  jariyah  bagi  beliau.  Aamiin.

Dilema Guru Profesional Oleh Leo Randus Saragih, S.Pd Peserta PPG SM-3T Angkatan 4 UNP 2016 Menurut Undang-Undang  Nomor  14 Tahun  2005  dalam  Depdiknas  2004, sertifikasi  pendidik  merupakan  bukti  formal  sebagai  pengakuan  yang  diberikan kepada  guru  dan  dosen  menjadi  tenaga profesional.  Bukti  tersebut  diberikan  oleh universitas  yang  menjadi  mitra  pemerintah  sebagai  lembaga  pengelola  sertifikasi.  Sertifikasi  terdiri  atas  sertifikasi Pegawai  Negeri  Sipil  (PNS),  Guru  Tetap Yayasan,  dan  Guru  Non-PNS  yang  diangkat  oleh  pejabat  berwenang  dengan mengikuti  Pendidikan  dan  Pelatihan Profesi  Guru  (PLPG)  selama  beberapa hari.  Dengan  mengikuti  rangkaian  kegiatan  dan  lulus  seleksi,  peserta  PLPG mendapatkan  setifikat,  serta  berhak menerima  tunjangan  sertifikasi  guru. Demikian  pula  halnya  dengan  Pendidikan  Profesi  Guru  (PPG)  berasrama  dengan  pendidikan  selama  satu  tahun. Kegiatan  yang  dilakukan  berupa  workshop  pembuatan  perangkat  pembelajaran dan  praktek  lapangan  di  sekolah  mitra sesuai  dengan  kurikulum  yang  berlaku. Selama  mengajar  di  daerah  3T,  saya  sebagai  peserta  PPG  Sarjana  Mendidik  di  Daerah  Terdepan,  Terluar,  dan  Tertinggal (SM-3T)  yang  ditempatkan  di  Kabupaten

Maluku Barat  Daya,  menemukan    masalah  mengenai  kinerja  guru  yang  sudah sertifikasi,  dalam  arti  sudah  profesional. Faktanya,  beberapa  guru  senior  yang sudah  sertifikasi  ternyata  memiliki kinerja  dan  kompetensi  yang  justru  tetap. Apalagi  di  daerah  3T,  sistem  pengawasan  yang  kurang  baik  dari  Dinas  Pendidikan setempat,  membuat  kinerja  guru  profesional  menjadi  tambah  ‘bobrok’.  Setidaknya realita  di  tempat  saya  mengabdi  merupakan  salah  satu  contoh  dari  beberapa  daerah yang  kinerja  guru  profesionalnya  tidak  seimbang  dengan  tunjangan  kesejahteraan. Saat  ini  saya  mendapatkan  kesempatan  mengikuti  Beasiswa  PPG.  Selama mengikuti  kegiatan  tersebut,  terlihat bahwa  perhatian  pemerintah  begitu  besar terhadap  peningkatan  kinerja  dan  profesional  seorang  guru.  Ketika  mengikuti  PPG ini,  semua  biaya  hidup  ditanggung  oleh pemerintah,  seperti  akomodasi,  transportasi,  uang  saku,  dan  uang  buku.  Peserta  dibekali  dengan  pendidikan  berasrama,  pelatihan  jurnalistik,  KMD  Pramuka,  public speaking,  pekan  olahraga, latihan  kepemimpinan,  dan  pensi.  Semua kegiatan  telah  dirancang  khusus  oleh pengelola.  Sehingga  jelas  output  dari  PPG

adalah guru  profesional. Ketua  pengelola  Sertifikasi  PPG  Universitas  Negeri  Padang,  Prof.  Agustina, M.Hum.,  dalam  sambutannya  menyatakan  bahwa  program  PPG  sedang  dipertanyakan  kompetensinya  oleh  pemerintah,  yaitu  adanya  indikasi  para  guru yang  sudah  disertifikasi  namun  kinerjanya  tetap,  bahkan  sama  dengan  guru yang  belum  sertifikasi.  Hal  ini  sangat disayangkan.  Sebenarnya  apa  yang  salah dengan  sistem  sertifikasi  guru?  Jika  seorang guru  dinyatakan  profesional  oleh  lembaga pengelola  sertifikasi  melalui  rangkaian kegiatan  beberapa  hari,  bisa  saja  para  calon guru  profesional  ini  mengikutinya  dengan serius  dan  dinyatakan  lulus.  Namun  pada fakta  di  lapangan,  belum  tentu  demikian. Jadi  siapa  yang  rugi?  Pemerintah membayar  mahal,  namun  kinerja  tidak maksimal  dan  kualitas  pendidikan  siswa tidak  ada  perkembangan.  Jika  kejadian ini  berlanjut  secara  terus  menerus,  maka pendidikan  Indonesia  akan  tetap  stagnan, apalagi  pendidikan  di  daerah  tertinggal. Mantan  Menteri  Pendidikan  dan  Kebudayaan,  Anis  Baswedan  dalam  acara  Debat  Pilkada  DKI  di  Net TV  yang  menyinggung  mengenai  pendidikan  juga  menya-

takan bahwa  mutu  pendidikan  dapat ditingkatkan  jika  ada  proses  pendidikan yang  baik.  Hal  yang  menjadi  konsentrasi adalah  mutu  seorang    guru,  bukan  hanya sertifikasinya.  Dan  permasalahannya menurut  Anis  adalah  guru  yang  sudah sertifikasi  namun  kinerjanya  tetap. Selayaknya,  guru  yang  sudah  sertifikasi itu  menjadi  pribadi  menyenangkan  di sekolah,  sehingga  membuat  anak  senang dan  cinta  belajar.  Fakta  ini  seharusnya menjadi  bahan  evaluasi  bagi  pemerintah. Dengan  masalah  kinerja  guru  sertifikasi,  seharusnya  pemerintah  mengkaji ulang  perekrutan  tenaga  pendidik.  Guru yang  direkrut  pemerintah  haruslah  memiliki  minat  menjadi  seorang  guru.  Namun  kenyataannya,  di  berbagai  daerah praktek  Kolusi  Korupsi  dan  Nepotisme menjadi  masalah  utama  dalam  perekrutan  tenaga  pendidik  sehingga  berdampak pada  kinerja  para  tenaga  pendidik. Begitu  pun  dengan  perekrutan  calon guru  di  universitas.  Semestinya  seleksi  yang dilakukan  benar-benar  objektif,  sehingga mahasiswa  yang  terpilih  menjadi  calon guru  adalah  yang  benar-benar  berminat menjadi  guru.  Dan  para  guru  inilah  yang di  kemudian  hari  menjadi  guru  profesional.


OPINI

Edisi No. 194/Tahun XXVII

11

Mahasiswa Mengangggur Oleh Sri Gusmurdiah Mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan TM 2012

Tanpa disadari  keadaan  inilah  yang tengah  berkembang  di  kalangan  mahasiswa  era  sekarang,  yang  disebut dengan  “mahasiswa  menganggur”. Mahasiswa  tapi  pengangguran.    Masalah demikian  timbu l  karena  mahasiswa hanya  disibukkan  mengejar  nilai,  namu n  kegiatan  nonakademik  sering diabaikan.  Tak  urung,  fase  yang  dilewati hanyalah  ku liah,  skripsi,  dan  wisuda. Apakah  menjadi  mahasiswa  hanya cu ku p  dengan  belajar  sesuai  jurusan yang  diampu? Ketika  kuliah,  mahasiswa  cenderung beranggapan  aktivitas  di  luar  perkuliahan  hanya  akan  menganggu  hasil  dan memperlambat  masa  studi.  Namun, sejatinya  tidaklah  demikian.  Kesibukan tidak  selalu  menjadi  masalah.  Mahasiswa yang  aktif  berorganisasi  tidak  selalu bermasalah  dan  terlambat  dalam  menyelesaikan  masa  studinya.  Mereka  tetap  bisa menyelesaikan  kuliah  tepat  waktu  sekaligus  memiliki  kecakapan  yang  memadai untuk  siap  terjun  ke  lingkungan  kerja. Artinya,  walaupun  mahasiswa  super sibuk  dengan  berbagai  kegiatan  organisasi,  perkuliahan  tetap  diutamakan  dan tidak  dikesampingkan. Idealnya,  mahasiswa  memang  tidak sekadar  menjadi  mahasiswa.  Atau  menjadi  “mahasiswa  menganggur”  yang hanya  sibuk  belajar  dan  berkutat  dengan perihal  akademik  semata.  Tetapi,  mahasiswa  juga  harus  memiliki  kegiatan  dan kesibukkan  yang  dapat  mengembangkan kemampuan  nonakademik  dan  sosial. Banyak  hal  positif  yang  dapat  dilakukan, seperti  mengikuti  ektrakurikuler  di kampus,  bergabung  dengan  berbagai komunitas,  menjadi  relawan,  atau  bahkan  bekerja  paruh  waktu. Mahasiswa sibuk cendrung lebih

berprestasi baik. Jika  pada  usia  anak  hingga  remaja Meski  tidak  seluruhnya,  namun  tak kesibukan  memberikan  pengaruh  positif, bisa  dipungkiri  bahwa  mahasiswa  yang pada  orang  dewasa  kesibukan  juga  tak berprestasi  merupakan  mahasiswa  yang kalah  bermanfaat. kesehariannya  dijalani  dengan  berbagai Kesimpulan  Mahoney  tersebut  tenkesibukan.  Tentunya,  kesibukan  yang tunya  juga  berlaku  pada  mahasiswa dilakukan  mahasiswa  tidak  sekadar  sibuk sebagai  manusia  dewasa.  Ketika  mahatak  menentu.  Namun  kesibukan  yang siswa  melakukan  berbagai  aktivitas  dan membuatnya  lebih  produktif  dan  lebih tak  hanya  menganggur,  akan  banyak bisa  mengembangkan  diri. manfaat  yang  diperoleh.  Mahasiswa  yang Sebagaimana  riset  yang  dilakukan aktif  dalam  banyak  kegiatan  akan  cendeoleh  Zenia  Rahmah  dengan  judul  “Perung  berpikiran  positif  dan  lebih  bisa ngaruh  Organisasi  dan bersosialisasi  deKepanitiaan  Terhangan  banyak  ordap  Prestasi  Akaang.  Selain  itu, demik  (Studi  Paakibat  kesida  Mahasiswa/i bukkan  yang Fakultas  Ekosering  menomi  dan  Bisnis nimbulkan Universitas  Telstres,  mahakom  Bandung siswa  akan  ter2014)”.  Penebiasa  mengelitian  tersebut lola  tekanan menyatakan e m o s i o n a ln y a bahwa  mayoritanpa  mengtas  mahasiswa ganggu  rutiniyang  mengikuti tas  perkuliahan kegiatan  organidan  kehidupan sasi  dan  kepanitiaan sehari-hari.  Seberprestasi  dalam hingga,  apabila ak ad emi k n y a. dihadapkan  deSelain  itu,  hasil  riset ngan  berbagai  kepsikologi  dari  Columbia sibukan  dan  maUniversity  dan  Yale  Unisalah  baru,  mahaversity  Josep  Mahoney  yang siswa  tidak  merasa Grafis: Fauziah Safitri dimuat  dalam  harian  Komterbebani.  Sebab,  tepas edisi  Selasa,  12  April lah  terbiasa  menyelesai2016,    menyatakan  bahwa  dari  ribuan kan  permasalahan. anak  usia  5-18  tahun  yang  banyak Mahasiswa  yang  banyak  menghamenghabiskan  waktu  beraktivitas,  terbiskan  waktu   dengan  berbagai  aktivitas nyata  mempunyai  nilai-nilai  akademis dan  berkomu nikasi  dengan  banyak  oryang  lebih  baik,  kepercayaan  diri  lebih ang  dari  berbagai  kalangan,  biasanya tinggi,  dan  relasi  dengan  orang  tua  lebih mempunyai  pola  pikir  berkembang  dan

terbuka terhadap  berbagai  masu kan. Dengan  keadaan  yang  demikian,  mahasiswa  lebih  paham  siapa  dirinya  dan kemana  arah  yang  akan  ditu ju   dalam pengembangan  kemampu an.  Sehingga, mahasiswa  akan  lebih  mudah  meraih prestasi  dan  apa  pun  yang  ingin  dicapai. Melalui  berbagai  kegiatan  yang  dijalani,  mahasiswa  memiliki  banyak  pengetahu an,  pengalaman,  dan  membangun jaringan  dengan  banyak  orang  dari berbagai  kalangan.    Kemungkinan untu k  mengu kir  prestasi  dan  menjadi orang  yang  berhasil  pun  lebih  besar. Banyak  peluang  yang  datang  kepadanya  untu k  menjadi  mahasiswa  su kses.  Begitu  pula  setelah  jadi  sarjana  dan bekerja  nantinya.  Menurut  Nedi  (2007), 80%  kesuksesan  di  du nia  kerja  dan usaha  ditentu kan  oleh  faktor  nonakademik.  Dengan  begitu,  prestasi akademik  hanya  berkontribu si  20% untuk  kesuksesan  di  dunia  kerja. Walau  tak  seluruhnya  mahasiswa sibuk  mampu  mengukir  prestasi  dengan cemerlang,  namun  setidaknya,  mencoba untuk  mengembangkan  diri  selama  masa perkuliahan  telah  menjadi  nilai  tambah untuk  kemajuan  masa  depannya.  Melalui kesibukan  yang  positif,  mahasiswa  lebih bisa  menghargai  waktu.  Sehingga,  tidak ada  waktu  yang  terbuang  percuma  dan tidak  akan  ditemukan  mahasiswa  yang me n g an gg u r . Namun  perlu  diingat,  mahasiswa tentu  harus  bijak  dengan  kesibukan  yang dijalani.  Melakukan  berbagai  kesibukan bukan  berarti  mengabaikan  perkuliahan. Tetapi,  menjadikan  kesibukan  sebagai pengimbang  aktivitas  akademik  yang dijalani  tiap  harinya.  Akademik  tetaplah hal  yang  diutamakan  ketika  berstatus mahasi sw a.

KOLOM

Generasi Pendamai Oleh Yulia Eka Sari Mahasiswa Jurusan Akuntansi TM 2013

Perdamaian… Perdamaian… Banyak  yang  cinta  damai,  tapi  perang semakin  ramai… Masih  ingat  dengan  beberapa  lirik  di atas?  Agaknya  lebih  mudah  mengingat definisi  damai  melalui  tembang  lagu tersebut.  Damai  adalah  ketika  tidak adanya  perang.  Ketika  keadaan  aman sentosa  yang  berbuah  pada    hati  lapang, tenang,  dan  nyaman.  Siapa  yang  tidak merindukan  berada  dalam  situasi  tersebut. Karena  layaknya  sebagai  lakon  dalam kehidupan,  manusia  tidak  pernah  diabsenkan  dari  masalah  setiap  waktunya. Kita  tidak  bisa  mencengah  ‘si  masalah’ untuk  enggan  bertamu,  namun  adalah harapan  besar  agar  dalam  naungan  masalah  yang  sangat  besar  hati  kita  selalu tenang,  damai,  dan  tidak  merasa  terancam. Namun.  belakangan  ini  definisi  damai melebar  pada    para  penengah  yang  tidak berusaha  berada  dalam  situasi  kekacauan.  Selalu  mengupayakan  diri  berada di  tengah  atas  segala  kondisi.  Dengan tujuan  agar  tidak  ada  bentrokkan  yang

terjadi di  dalam  diri  dan  orang  lain. Misalnya  dalam  diskusi  tentang  masalah Ahok  yang  dinilai  SARA,  selalu  ada  kaum tengah  yang  menilai  bahwa  semuanya tidak  perlu  direpotkan,  biar  masalah  itu selesai  dengan  sendirinya.  Tidak  usah berpendapat  terlalu  fanatik  tentang  suatu agama  dan  lainnya.  Ini  agar  individu tersebut  selamat  dari  tudingan  dua  kubu yang  berbeda. Tidak  hanya  di  masyarakat,  terkadang  kata  damai  juga  diartikan  berbeda oleh  mereka  yang  terdidik  dengan  status ‘mahasiswa’.  Sebut  saja  dalam  diskusi kelas,  selalu  ada  kaum  penengah  yang memilih  untuk  menggunakan  opsi  tidak berbicara  daripada  memancing  kisruh  di antara  dua  pemikiran  yang  sedang diupayakan  solusi.  Alasannya  karena “saya  masih  memikirkan,  saya  masih belum  setuju  dengan  keduanya,  atau  saya berpikir  keduanya  baik”.  Tidak  ada  yang salah  untuk  menyatakan  pendapat, namun  tidak  mungkin  untuk  di  tengah ketika  harus  mengambil  keputusan. Bukankah  ketidakpandaian  berpendapat  adalah  bukti  dari  kegagalan  menganalisis  suatu  masalah?  Adalah  wujud  dari kebenaran  tidak  sensitif  terhadap  apa yang  sedang  diperbincangkan.  Atau sinonim  dari  ketidaktahuan  akan  landasan  untuk  membedah  isu.  Hingga  diam adalah  emas,  hal  bijak  untuk  luput  dari lirikan  mata  ketidaksetujuan.  Jika  kita

menarik benang  merah,  bisa  dikatakan transformasi  karakter  selama  sekolah telah  keropos  satu  persatu.  Salah  satunya tentang  nilai    keberanian  dan  kepedulian. Dewasa  ini,tentunya  mahasiswa menghadapi  tantangan  yang  berbeda untuk  memaknai  bagaimana  keberanian dan  kepedulian  tersebut.  Karena,  negeri pulau  kelapa  nan  elok  ini  tidak  lagi dibakar  dengan  isu  komunis,  tidak  ada lagi  pasukan  sekutu,  tidak  ada  lagi  agresi militer  dan  strategi  di  bawah  tanah. Kompletnya,  dimensi  waktu  menciptakan tantangan  yang  berbeda  untuk  pemuda, khususnya  mahasiswa  saat  ini. Jika  keberanian  dahulu  terbukti dengan  pikiran  penuh  dan  fisik  yang  ikut bergerak,  maka  keberanian  kini  adalah untuk  keluar  dari  garis  nyaman  yang menipu.  Keberanian  untuk  mengembangkan  pola  pikir  dengan  membaca  banyak bacaan,  banyak  berdiskusi,  mencari  solusi atas  masalah,  serta  keberanian  bertindak sesuai  dengan  kebenaran.  Berani  mengatakan  yang  benar  adalah  benar  dan  hal yang    menjadi  tanggung  jawab  harus selalu  dipenuhi. Kepedulian  dulu  adalah  keprihatinan karena  celah  besar  antara  kehidupan priyayi  dan  penduduk  biasa.  Juga  keprihatinan  akan  kehidupan  yang  akan dijalani  ke  depan  oleh  bangsa  yang terkungkung  penjajahan.  Sedangkan kepedulian  sekarang,  melihat  dengan

mata hati  nurani  untuk  tidak  menyerahkan  kepasrahan  nasib  orang  lain hanya  pada  negara.  Perihal  pengemis yang  meminta,  sebuah  tanda  bobroknya kepedulian. Kepedulian  kini  juga  perihal,  untuk beratap  pada  rumah  yang  sama  untuk melihat  masalah  bangsa  dengan  banyak sudut  pandang.  Tidak  resah  atau  acuh karenanya.  Bukan  pula  untuk  menjadi diam  di  kala  yang  lain  membutuhkan pertolongan.  Atau  terkesan  abai  akan peran  sebagai  sesama  makhluk  sosial. Keberanian  dan  kepedulian  tersebut jika  dibiarkan  benar-benar  hilang  tentunya  akan  berakibat  pada  hal  buruk yang  terjadi  pada  bangsa.    Akan  ada  generasi  penerus  yang  sama  sekali  tidak  sadar  akan  perannya.  Berujung  pada  ketidakpedulian  akan  tanggung  jawabnya. Akhirnya  hanya  meloloskan  keinginan pribadi  yang  tidak  pada  tempatnya. Dalam  sebuah  dimensi  abad,  para pendamai  adalah  mereka  yang  seutuhnya berani  dan  peduli.  Kedamaian  pada hakikatnya  adalah  keinginan  untuk berada  pada  garis  yang  ingin  mengamankan  keadaan  masyarakat.  Bukan  beralih pada  ketidakberaniaan  dan  ketidakpedulian  yang  mengarah  pada  individualisme. Keadaan  yang  berusaha  diciptakan  adalah keberanian  dan  kepedulian  untuk  membuatnya  tidak  hanya  diri  sendiri  yang damai,  tapi  juga  orang  lain.


FOTO

12

Edisi No. 194/Tahun XXVII

Sampah,Gerakan Musuh Bersama! Mahasiswa, Perubahan! Permasalahan lingkungan  hidup  saat  ini  merupakan  salah  satu  hal  yang  harus menjadi  perhatian  bersama  oleh  publik.  Selain  disebabkan  oleh  peristiwa  alam, kerusakan  lingkungan  juga  disebabkan  oleh  ulah  manusia.  Bahkan,  perbuatan manusialah  yang  menjadi  penyumbang  terbesar  terhadap  kerusakan  lingkungan. Kerusakan  ini  umumnya  disebabkan  oleh  aktivitas  manusia  yang  tidak  ramah lingkungan,  seperti  perusakan  hutan  dan  alih  fungsi  hutan,  pertambangan, pencemaran  udara,  air,  dan  tanah,  dan  lain  sebagainya. Satu  di  antara  banyaknya  aktivitas  manusia  yang  berdampak  terhadap pencemaran  lingkungan  hidup  adalah  membuang  sampah  sembarangan.  Dikutip dari  situs  www.lingkunganhidup.co,  sekitar  10  hingga  20  juta  ton  sampah  plastik mencemari  lautan  di  dunia  setiap  tahun.  Dari  studi  terbaru  juga  memperkirakan bahwa  sekitar  lima  trilyun  partikel  dengan  berat  total  sekitar  270  ton  mengambang di  laut.  Sampah  plastik  menghasilkan  kerugian  sekitar  13  milyar  dolar  tiap  tahun, mulai  dari  kerusakan  ekositem  laut  hingga  wisata  alam.  Pada  situs  yang  sama  juga disebutkan  bahwa  kondisi  pencemaran  laut  di  Indonesia  cukup  memprihatinkan. Sebesar  75%  berkategori  sangat  tercemar,  20%  tercemar  sedang,  dan  5%  tercemar ringan.  Kementerian  Lingkungan  Hidup  dan  Kehutanan  juga  menyatakan  bahwa Indonesia  berada  pada  urutan  kedua  terbesar  sebagai  penyumbang  sampah  plastik ke  laut. Melihat  kondisi  tersebut,  manusia  memiliki  peran  yang  sangat  penting  untuk menjaga  kelestarian  lingkungan  hidup.  Berbagai  upaya  telah  dilakukan  oleh pemerintah  terkhususnya  Kota  Padang  untuk  mengajak  masyarakat  agar  lebih  peduli terhadap  lingkungan.  Mulai  dari  memasang  spanduk  atau  phamflet  berisi  larangan membuang  sampah  sembarangan  hingga  mengeluarkan  peraturan  daerah  Nomor 21  tahun  2012  yang  mengatur  tentang  pengelolaan  sampah  resmi  berlaku  untuk seluruh  Kota  Padang.  Dengan  berlakunya  Perda  ini  di  seluruh  Kota  Padang,  maka siapa  pun  yang  kedapatan  membuang  sampah  sembarangan  akan  dikenakan hukuman  tindak  pidana  ringan  berupa  kurungan  3  bulan  atau  denda  Rp  5  Juta. Walaupun  peraturan  tersebut  telah  dikeluarkan,  masih  saja  terlihat  tumpukan sampah  di  berbagai  titik.

Tempat Pembuangan  Sementara  yang  berada  di  seberang padang  berserakan,  terlihat  masih  adanya  sampah  yang tidak  dibuang  ke  dalam  tong  sampah.  Jumat  (30/11). f/ Ok ta

Pencemaran Air : Terlihat air  yang  menghitam  di  sungai muaro  samping  Lembaga  Permasyarakatan  Klas  IIA  Muaro Padang,  diduga  pencemaran  air  ini  diakibatkan  oleh  limbah pembuangan  rumah  tangga  dan  pembuangan  pabrik  yang berada  di  sepanjang  sungai,  Jumat  (30/11). f/Okta

Pamflet : Pamflet  yang  berada  di  jalan  Semberang  Padang Utara  1  di  dekat  pembuangan  sampah  sementara, mengimbau  para  pembuang  sampah  untuk  tidak membuang  sampah  sembarangan.  Pamflet  tersebut bertuliskan  “masih  punya  iman  jagalah  kebersihan, letakanlah  sampah  pada  tempatnya,”  Jumat  (30/11). f/ Ok ta

Sampah di tempat wisata : Tumpukan sampah  yang  berada  di  tempat  wisata  jembatan  Siti  Nurbaya mengganggu  pemandangan  pengunjung.  Padahal  tempat  wisata  jembatan  Siti  Nurbaya  ini  merupakan salah  satu  destinasi  wisata  di  Kota  Padang,  namun  masih  tidak  ramah  lingkungan,  Jumat  (30/11). f/ Ok ta

Foto dan teks foto: Okta Tata letak: Fauziah Safitri

Menangguk Sampah: Seorang  Bapak  terlihat  sedang menangguk  sampah  yang  berada  di  Sungai  Batang Palinggam,  Padang  Selatan  Kota  Padang, Jumat  (30/11). f/Okta


13

Edisi No. 194/Tahun XXVII

Sambutan: Rektor UNP, Prof. Ganefri, PhD.., dalam sambutannya pada pelantikan Dekan Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi di Gelanggang Olahraga UNP mengumumkan bahwa UNP resmi berakreditasi A, Kamis (29/12). f/ Hamid

UNP Raih Akreditasi A Berdasarkan Surat  Keputusan  Nomor  2989/SK/BAN-PT/ Akred/PT/XII/2016  tertanggal 20  Desember  2016,  Universitas Negeri  Padang  (UNP)  resmi memperoleh  akreditasi  A.  Informasi  tentang  su ksesnya  UNP meraih  akreditasi  A  diperku at oleh  Rektor  UNP,  Prof.  Ganefri, Ph.D.,  pada  pelantikan  Dekan Faku ltas  Teknik  dan  Faku ltas Ekonomi  di  Gelanggang  Olahraga  UNP,  Kamis  (29/12).  “Pada kesempatan  ini  Saya  ingin  mengucapkan  selamat  kepada  UNP yang  akreditasi  institusinya

Tahun depan minimal satu prodi dari tiap fakultas harus terakreditasi internasional

” su dah keluar.  Alhamdulillah, kita  mendapatkan  akreditasi unggul  atau  A,”  paparnya. Lebih  lanjut,  Ganefri  me-

nyampaikan bahwa  dari  12 Lembaga  Pendidikan  Tenaga Kegu ru an  (LPTK)  yang  ada, UNP  termasuk  ke  dalam  empat LPTK  yang    memperoleh  akreditasi  A.  “Saya  mengu capkan terima  kasih  kepada  seluruh sivitas  akademika  UNP.  Ini  prestasi  semua  unit,  komponen,  dan kelu arga  besar  UNP,”  ujarnya. Dengan  pencapaian  yang  telah  diraih  tersebut,  Ganefri mengatakan,  UNP  harus  meningkatkan  suasana  institusinya  sehingga  menggambarkan sebu ah  institusi  yang  berakre-

ditasi A.  “Akreditasi  A  ini  harus tergambarkan  hingga  ke  unit terkecil,”  katanya. Salah  satu   hal  yang  harus ditingkatkan  adalah  pelayanan akademik.  Menurut  Ganefri, semu a  sivitas  akademika  UNP bertanggung  jawab  u ntuk  meningkatkan  layanan  akademik dan  memberikan  layanan  prima  kepada  masyarakat.  Selain itu,  juga  mendorong  program studi  (Prodi)  yang  masih  berakreditasi  C  dan  B  meraih  akreditasi  A,  dan  Prodi  berakreditasi A  dapat  memperoleh  akreditasi internasional.  “Tahun  depan minimal  satu  prodi  dari  tiap faku ltas  haru s  terakreditasi internasional,”  tegasnya. Adli  Hadian  Munif,  Mahasiswa  Ju ru san  Kimia  TM  2013 mengatakan  bahwa  ia  bersyuku r  UNP  meraih  akreditasi  A. Menu ru t  Adli,  akreditasi  A  ini dapat  meningkatkan  minat calon  mahasiswa  untu k  mendaftar  ke  UNP.  UNP  akan  menjadi  semakin  kompetitif  dalam rangking  universitas  baik  di  Indonesia  maupun  du nia.  “Pertahankan  hal  ini,  UNP  bisa  menjadi  panutan  bagi  u niversitas lain,”  u jarnya,  Kamis  (29/12). Lebih  lanju t,  Adli  mengharapkan  su paya  pencapaian ini  dapat  menjadi  berkah  sekaligus  cambuk  bagi  UNP  agar  lebih baik  lagi.  Ia  menginginkan  UNP

melaku kan perbaikan  proses pembelajaran,  sarana-prasarana,  dan  fasilitas.  Seperti  di Faku ltas  Matematika  dan  Ilmu Pengetahuan  Alam,  jika  tidak ada  ru ang  ku liah  yang  kosong, maka  proses  belajar  mengajar dilaksanakan  di  laboratorium yang  tidak  kondusif  untuk  pembelajaran  di  lu ar  praktiku m. Kemudian,  Adli  juga  mengatakan  bahwa  alangkah  baiknya jika  jam  operasional  perpustakaan  ditambah  seperti  di  Universitas  Indonesia  dan  Institut Teknologi  Bandu ng.  Hal  ini akan  meningkatkan  minat  mahasiswa  belajar  di  perpu stakaan.  Kebanyakan  mahasiswa terkendala  ke  perpu stakaan  di pagi  dan  sore  hari  karena  kegiatan  kuliah  serta  kegiatan lainnya.  “Dengan  adanya  penambahan  jam  operasional, mahasiswa  dapat  menikmati fasilitas  perpu stakaan  hingga malam  hari,”  katanya. Deristiana  Dewata,  Alumnus UNP,  juga  bersyuku r  karena UNP  telah  meraih  akreditasi  A. Menu ru tnya,  akreditasi  tersebu t  akan  mempermu dah  alumni  yang  ingin  melanju tkan studi  ataupun  melamar  pekerjaan.  “Karena  akreditasi  selalu menjadi  syarat  ketika  ingin melamar  pekerjaan  dan  mendaftar  S2,”  tu tu pnya.  Fitri, Erm i

Kuliah Umum Bela Negara

Kuliah Umum: Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Laksamana Madya TNI, Widodo, M.Sc., tengah memberikan kuliah umum di Gelanggang Olahraga UNP, Minggu (18/12). f/Wildan*

Sekretaris Jenderal  Kementerian  Pertahanan  (Kemhan) Repu blik  Indonesia  (RI),  Laksamana  Madya  TNI,  Widodo, M.Sc.,  memberikan  ku liah umum  di  Universitas  Negeri Padang  (UNP),  Minggu  (18/12). Kuliah  umum  yang  diikuti  oleh mahasiswa  se-Su matra  Barat (Sumbar)  ini,  merupakan  salah satu   rangkaian  kegiatan  peringatan  Hari  Bela  Negara  Nasional  2016  yang  pada  tahun ini  digelar  di  Padang.  Acara  ini bertujuan  u ntuk  menjalin  komu nikasi  interaktif  antara Menteri  Pertahanan  (Menhan) dengan  sivitas  akademika,  menyamakan  persepsi,  serta  menyatukan  langkah  dalam  upaya  sosialisasi  kebijakan  Menhan. Widodo  menjelaskan,  ada  beberapa  proyeksi  ancaman  yang dapat  mengancam  keutuhan Negara  Kesatuan  Republik  Indo-

nesia. Pertama,  ancaman  terjadinya  perang  terbuka  antarnegara,  dengan  kemungkinan terjadinya  adalah  kecil.  Kedu a, ancaman  nyata,  seperti  terorisme  dan  radikalisme,  saparatisme  dan  pemberontakan  bersenjata,  bencana  alam,  pelanggaran  wilayah  perbatasan,  narkoba,  perampokan  dan  pencurian  sumber  daya  alam,  wabah penyakit,  serta  perang  siber  dan intelijen.  Ketiga,  ancaman  nonfisik,  seperti  makin  eksisnya ancaman  ideologi  Pancasila  dan kebhinekaan  yang  meru sak  jati diri  bangsa. Ancaman  terhadap  ideologi ini,  lanjut  Widodo,  disebut  juga dengan  perang  modern.  Pelaku mempengaruhi  hati  rakyat  u ntuk  membelokkan  ideologi  negara  dengan  memanfaatan  media sosial  dan  media  masa  sehingga mengubah  pola  pikir  masya-

rakat. Solusi  yang  dapat  diberikan,  yaitu  aktu alisasi  dan  pemu rnian  implementasi  nilainilai  Pancasila  sebagai  baris kekuatan  ideologi  bangsa  dan negara  serta  menanamkan  dan mengimplementasikan  nilai-nilai Pancasila  ke  dalam  pikiran  dan jiwa  melalui  program  bela  negara. Dalam  upaya  melaksanakan program  kesadaran  bela  negara tersebut,  terang  Widodo,  ada empat  kebijakan  prioritas  Menhan.  Pertama,  konsep  strategi pertahanan  semesta,  yaitu  strategi  khas  yang  mengedepankan keku atan  rakyat  sebagai  keku atan  u tama.  Jadi,  pertahanan  bu kan  hanya  tu gas  TNI, tapi  juga  rakyat  Indonesia. Kedua,  peran  bela  negara  dalam mengatasi  ancaman  terorisme dan  radikalisme  dengan  memberikan  pengetahu an  ideologi Pancasila,  kebhinekaan  Indone-

sia, dan  toleransi  terhadap perbedaan.  Ketiga,  kepedu lian terhadap  anak  terlantar  dengan merangkul  dan  memberikan perhatian  tentang  belanegara dan  keterampilan.  Keempat, menyiapkan  generasi  bangsa  ke depan  dengan  konsep  bela  negara  melalui  cara  memasu kkan pengetahuan  bela  negara  dalam  kurikulum  pendidikan  dari tingkat  terendah  sampai  pergu ru an  tinggi.  “Untuk  hal  ini, Menhan  telah  melakukan  kerja sama  dengan  Menristekdikti  dan Mendikbu d,”  ujarnya. Di  akhir  penyampaian  materi,  Widodo  menekankan  kepada  mahasiswa  untuk  senantiasa tanggap  terhadap  peru bahan, meningkatkan  kompetensi  diri, kemampuan  belajar,  dan  prestasi,  serta  memiliki  konsep  yang cemerlang.  Menu ru tnya,  maju mu ndurnya  su atu   bangsa  tergantung  pada  semua  lapisan masyarakat,  terutama  generasi mu da.  Untuk  itu ,  mahasiswa sebaiknya  memberikan  ketauladanan  sebagai  pemuda  berpendidikan,  serta  menjadi  pelopor  dan  perekat  persatuan  dan kesatuan.  “Apapun  profesi  nanti,  teru tama  pemimpin,  harus amanah  dan  tidak  berpikir materi  dan  jabatan  semata,” imbu h nya. Terkait  peringatan  Hari  Bela  Negara,  Gubernur  Sumbar, Prof.  Dr.  Irwan  Prayitno,  M.Si., dalam  sambu tannya  pada  kuliah  u mum,  mengatakan  bahwa 19  Desember  merupakan  hari bersejarah  bagi  masyarakat Su mbar.  Hal  ini  sehu bu ngan dengan  mandat  dari  presiden  RI untu k  membentuk  Pemerintahan  Darurat  Republik  Indonesia  di  Sumbar,  tepatnya  Bu kittingi,  ketika  terjadi  peristiwa Agresi  Militer  ke  II  yang  dilan-

carkan Belanda  dengan  mengumumkan  tidak  adanya  lagi negara  Indonesia.  “Kita  bangga Su mbar  pernah  menjadi  ibukota  Indonesia  dan  pejuang Su mbar  telah  mengorbankan jiwa  dan  raga,”  ujarnya. Mengingat  beratnya  perju angan  yang  telah  dilakukan olah  para  pejuang  terdahulu, Irwan  berpesan  kepada  mahasiswa  untuk  menjaga  kesatu an negara  Indonesia.  Karena  menuru t  Irwan,  telah  banyak  terjadi perang  saudara  di  berbagai negara.  Indonesia  yang  memiliki  ragam  etnik  dan  bu daya ju ga  berpotensi  u ntuk  mengalami  hal  serupa.  Di  sinilah peran  mahasiswa  u ntu k  selalu memu pu k  rasa  persatu an  dan tidak  terpengaruh  oleh  berbagai pihak  yang  mencoba  memecah, seperti  penyalahgunaan  narkoba.  “Para  mahasiswa  bangkitlah!  Belajar,  belajar,  dan belajar,”  pesannya. Selain  ku liah  u mum,  pada kesempatan  ini  ju ga  dilakukan penandatangan  nota  kesepahaman  antara  Kemhan  dengan perguruan  tinggi  negeri  dan swasta,  salah  satu nya  UNP. Kerja  sama  dilakukan  dalam bidang  pembinaan  kesadaran bela  negara  di  lingkungan  pergu ru an  tinggi  di  Padang. Rektor  UNP,  Prof.  Ganefri, Ph.D.,  mengatakan  bahwa  kerja sama  yang  dilakukan  ini  ju ga akan  dimanfaatkan  u ntuk  menyiapkan  mahasiswa  dalam orientasi  pengenalan  kampus sehingga  lebih  cinta  pada  tanah air.  “Sebelu mnya  ju ga  sudah ada  materi  seru pa,  tapi  nanti akan  ditingkatkan  porsinya tentang  pertahanan  negara sehingga  lebih  meningkatkan cinta  pada  tanah  air,”  tu tu rnya.  Fitri


FEATURE

14

Edisi No. 194/Tahun XXVII

Sepuluh Menit Mengenang Tsunami Aceh Oleh Sri Gusmurdiah

Hingga sekarang bencana gempa dan tsunami Aceh masih membekas kuat bagi sebagian masyarakat. Ratu san ribu  mayat  bergelimpangan  di  mana-mana. Hampir  semua  bangunan  porak-poranda  dan  rata  dengan tanah.  Satu ,  du a  liang  kubur tak  cu kup  lagi  menampu ng jenazah  yang  bertebaran  di tanah  Serambi  Mekah.  Alat berat  pu n  tak  sekadar  digunakan  untuk  membersihkan pu ing-pu ing  reruntuhan  bangunan.  Namun,  ju ga  u ntuk menguburkan  ribuan  mayat yang  dikubu r  secara  masal. Beberapa  alat  berat  menggeru k  tanah  berada  di  tiga lokasi  yang  berbeda.  Membu at lu bang  semacam  kolam  besar pada  tanah  yang  sedikit  berair. Lalu ,  ribu an  mayat  dimasu kkan  ke  lubang  tersebut.  Mayatmayat  korban  bencana  yang tak  diketahu i  lagi  siapa  orangnya,  bahkan  semua  identitasnya  lenyap  sama  sekali. Yang  tersisa  hanya  puluhan ribu   mayat  yang  haru s  segera d ik eb u mi k an . Demikianlah  salah  satu  adegan  yang  ditayangkan  video doku menter  bencana  gempa dan  tsunami  yang  menerjang Aceh  pada  26  Desember  2004 silam.  Dahsyatnya  bencana gempa  dan  tsunami  yang  mem-

porak-porandakan Aceh  tersebu t,  kembali  menyu su p  ke ingatan  penonton  saat menyaksikan  video  bencana besar  itu .  Salah  satunya Mu hammad  Syau qi.  Air  mata berlinang  di  kedu a  bola  matanya,  saat  film  selesai  ditayangkan.  Wajah  sedih  benar-benar tak  bisa  disembunyikan  oleh mahasiswa  Universitas  Islam Negeri  Aceh  tersebu t.  “Saya hampir  menangis,”  ujar Sy au qi . Walau  sudah  kali  ketiga  menonton  film  dokumenter  bencana  gempa  dan  tsunami  Aceh, Syau qi  tetap  merasakan  kesedihan  yang  mendalam  saat menyaksikan  tayang  pilu  itu. Katanya,  video  dokumenter  itu menariknya  untu k  kembali mengingat  bencana  besar  yang terjadi  di  tanah  kelahirannya. “Mungkin  karena  penduduk  asli Aceh,  saya  sunggu h  sedih  tiap kali  nonton,”  tuturnya,  sambil bersiap-siap  meninggalkan ru angan  seu sai  menonton. Hal  yang  sama  juga  dirasakan  Azizul  Husni  Mubarok.  Pengunju ng  yang  merupakan ma-hasiswa  Universitas  Padjajaran  Bandung  ini,  merasa  terharu   dengan  video  yang  ditontonnya.  Azizul  mengaku, baru   pertama  kali  menonton video  doku menter  tersebut  secara  langsung.  Sebelu mnya,  ia hanya  menyak-sikan  video  bencana  gempa  dan  tsunami  Aceh melalui  jejaring  youtube.  “Saya

Museum Tsunami Aceh: Video dokumenter bencana gempa dan tsunami yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 lalu ditayangkan di bioskop mini yang terdapat di Museum Tsunami Aceh ini. tampak pengunjung duduk-duduk di tangga depan museum, Minggu (20/ 11). f/Sri

menjadi terharu .  Video  yang ditayangkan  di  bios-kop  mini ini  biasanya  tanpa  edit,  jadi lebih  berbeda  saja  dengan video-video  sebelumnya  yang saya  saksikan  melalui  youtube,” ujar  mahasiswa  Ju ru san  ilmu Hu ku m  ini. Tak  hanya  Syauqi  dan  Azizu l,  Video  yang  menayangkan dahsyatnya  bencana  gempa dan  tsunami  yang  menelan 180  ribu   jiwa  di  Aceh,  ju ga berhasil  me-nyedot  perhatian dan  emosi  semua  penonton yang  ada.  Tak  ayal,  beberapa penonton  terisak  dan  berurai air  mata  saat  per-tengahan

hingga akhir  video  berdu rasi 10  menit  ini  dipu tar. Di  gedung  Museu m  Tsunami  Aceh,  memang  terdapat sebu ah  ruangan  yang dijadikan  bioskop  mini. Bioskop  mini  dengan  kapasitas 40  kursi  tersebut,  dikhu su skan  untu k  menayangkan  video  dokumenter  bencana gempa  dan  tsu nami  yang pernah  melanda  Aceh.  Jadwal pemu taran  video  pun  fleksibel,  bisa  mencapai  dua  puluh kali  pemutaran  tiap  harinya. Tergantu ng  permintaan  pengunju ng  yang  akan men on to n .

Bioskop mini  atau  ju ga sering  di  sebut  Ruang  Audio  Visu al  ini  terletak  di  lantai  dua gedung  MuseumTsunami  Aceh. Mu seum  yang  dirancang  oleh Ridwan  Kamil  dan  diresmikan oleh  Presiden  Susilo  Bambang Yu d-hoyono  pada  28  Februari 2008  lalu.  Menonton  bencana gempa  dan  tsu nami  Aceh  di bioskop  mini,  tak  sekadar  sebagai  tempat  mengenang  bencana  dan  kepiluan  yang  pernah dirasakan  masyarakat  Aceh, tapi  juga  sebagai  sarana  edukasi,  agar  ke  depannya  masyarakat  lebih  sadar  dan  siaga b en c a n a .

Museum Kupu-Kupu Taman Wisata Kandi Oleh Ranti Maretna Huri

Museum Kupu-Kupu: Salah seorang pengunjung Museum Kupu-Kupu Taman Wisata Kandi Sawahlunto melihat koleksi awetan kupu-kupu yang dipamerkan, Minggu (9/10). f/Doc

Meskipun akhir  pekan,  pengunjung  Taman  Wisata  Kandi di  Kota  Sawahlunto  tidak  seramai  pada  hari-hari  libur. Siang  itu,  Minggu  (9/10),  saya bersama  13  orang  kawan  berkunjung  ke  Taman  Wisata  Kandi untuk  sebuah  perayaan  kecil. Setelahnya,  kami  menghabiskan  waktu  untuk  berkeliling. Masih  berlokasi  di  Taman

Wisata Kandi,  Taman  Kelinci  dan Museum  Kupu-Kupu  dapat  dijumpai  dengan  berjalan  ke  area kanan  dari  pintu  masuk.  Agak jauh  dari  danau  buatan  dan kebun  binatang  yang  menjadi pusat  Taman  Wisata  Kandi, Taman  Kelinci  dan  Museum Kupu-Kupu  ini  berlokasi  di  dataran  yang  lebih  tinggi.  Karena keterbatasan  waktu,  kami  hanya

menghabiskan waktu  di  Museum Kupu-Kupu,  tanpa  singgah  di Taman  Kelinci,  walaupun  tempatnya  bersebelahan. Di  Museum  Kupu-Kupu  tersebut,  kita  menjumpai  berbagai jenis  kupu-kupu  diawetkan  dalam  kotak  kayu  yang  dibingkai dengan  kaca,  memenuhi  ruangan  museum.  Awetan  kupukupu  tersebut  ditata  sedemikian apik,  ditempatkan  sesuai  dengan spesies,  dan  daerah  asal.  Sebabb kupu-kupu  ini  berasal  dari  berbagai  daerah  di  Indonesia,  hingga  luar  negeri,  seperti  Malaysia, Brazil,  Jepang,  dan  negara  lainnya.  Sayap  kupu-kupu  yang cantik,  terlihat  semakin  menarik  sewaktu  satu  jenis  yang  sama disusun  dengan  banyak  spesies yang  sama  pula  dalam  satu kotak  kaca.  Hal  ini  mengingatkan  saya  pada  film  animasi Tinker  Bell,  produksi  Disney. Museum  Kupu-Kupu  mulai dibuka  semenjak  2012  lalu. Awalnya,  hanya  ada  taman kupu-kupu  saja  yang  dioperasikan.  Di  taman  ini  pengunjung berkesempatan  mengamati  secara  langsung  telur  kupu-kupu pada  tanaman  inangnya,  seperti pohon  jeruk,  sirsak,  tiara  payung dan  lain-lain.  Ya,  di  taman  ini memang  tersedia  bagi  pengunjung  yang  ingin  melihat  secara langsung  metamorfosis  atau

daur hidup  kupu-kupu,  mulai dari  telur,  ulat,  dan  kepompong yang  dapat  dijumpai  pada  ruang kepompong  di  taman  tersebut. (sumber:  www.wisatakandi.com) Haris  (23),  salah  seorang rekan  dalam  rombongan  saya yang  kebetulan  tinggal  di  Sawahlunto  menerangkan  bahwa kupu-kupu  yang  hidup  di  taman tersebut  tidak  berlangsung  lama.  Semenjak  2013  lalu,  kupukupu  tersebut  sudah  banyak yang  mati.  “Bangkai  kupu-kupu tersebut  diawetkan  dan  dipindahkan  ke  museum  ini,”  ujarnya.  Lebih  lanjut  Haris  menjelaskan  bahwa  awetan  kupukupu  satu  spesies  yang  sama dalam  jumlah  banyak,  pada umumnya  di  diimpor  dari  luar negeri.  Sedangkan  jumlahnya

“Semoga Pemerintah setempat lebih memperhatikan dan menghidupkan kembali taman kupu-kupu sebagai tempat membudidayakan kupu-kupu yang hampir punah” yang sedikit,  didatangkan  dari berbagai  daerah  saja,  termasuk Su mb ar. Selain  kupu-kupu,  juga  ada

beberapa kotak  kaca  yang  berisi kumbang  yang  diawetkan  dan berbagai  mamalia  dan  reptil turut  dipamerkan.  Seperti  kupukupu,  kumbang-kumbang  ini juga  disusun  berdasarkan  jenis atau  spesiesnya.  Jika  kupu-kupu dan  kumbang  berjejer  memenuhi  dinding  ruangan  museum, maka  di  tengah-tengah  ruangan tempat  berbagai  jenis  mamalia dan  reptil  yang  juga  diawetkan, seperti  harimau,  kancil,  tapir, orang  utan,  dan  buaya. Salah  satu  pengunjung,  Ravi (19)  mengaku  sangat  tertarik dengan  awetan  kupu-kupu  dalam  museum  tersebut.  “Banyak kupu-kupu  berbagai  warna  dan rupa,  dari  ukuran  kecil  sampai yang  besar.  Selain  itu  kupu-kupu tersebut  dari  berbagai  daerah dan  juga  luar  negeri,”  jelasnya. Selain  Ravi,  Dishe  (22)  juga mengatakan  hal  serupa.  Menurutnya,  museum  ini  sangat berguna  untuk  mengenali  jenis kupu-kupu  yang  berasal  dari berbagai  daerah  termasuk  Sumbar.  Ia  juga  menambahkan  bahwa  saat  ini,  spesies  kupu-kupu sangat  jarang  dijumpai  di  sekitar kita.  “Semoga  Pemerintah  setempat  lebih  memperhatikan  dan menghidupkan  kembali  taman kupu-kupu  sebagai  tempat  membudidayakan  kupu-kupu  yang hampir  punah,”  harapnya.


15

Edisi No. 194/Tahun XXVII

TELUSUR

Kawasan Saribu Rumah Gadang Oleh: Fauziah Safitri Usai letih  menjalankan  rutinitas, keinginan  untuk  jalan-jalan  sore  pun dilaksanakan  dengan  harapan  tidak  saja untuk  refresing  tapi  juga  dapat  menambah  pengetahuan.  Langit  yang  mendung dan  hawa  dingin  seusai  hujan  tidak memudarkan  antusias  untuk  mengenali daerah  Koto  Baru,  Kecamatan  Sungai Pagu  yang  terdapat  di  Kabupaten  Solok Selatan. Sebelum  memasuki  kawasan  Koto Baru,  pengunjung  di  sambut  oleh  tugu bertuliskan  “Kawasan  Saribu  Rumah Gadang”  yang  terletak  di  bagian  kanan jalan.  Nama  kawasan  Saribu  Rumah Gadang  tersebut  dahulu  diberikan  oleh Dr.  Meutia  Hatta,  putri  dari  Proklamator M.  Hatta  semasa  menjabat  sebagai  Deputi di  Departemen  Pariwisata  ketika  berkunjung  ke  Kabupaten  Solok.  Biasanya, tugu  tersebut  kerap  dijadikan  sebagai tempat  berfoto  bagi  wisatawan  yang berk u nj u n g.   Ketika  masuk  ke  kawasan  Saribu Rumah  Gadang,  akan  banyak  ditemui bangunan  rumah  gadang  yang  beragam. Rumah  gadang  merupakan  rumah  adat Minangkabau  yang  berfungsi  sebagai tempat  tinggal  keluarga  besar  dan  pusat kegiatan  orang  seketurunan  dari  kerabat garis  keturunan  ibu.  Rumah  gadang terbuat  dari  kayu  dengan  bentuk  dasarnya  adalah  balok  segi  empat  yang  mengembang  ke  atas,  garis  melintangnya melengkung  tajam  dan  landai  dengan bagian  tengah  lebih  rendah,  lengkung badan  dan  rumah  landai  seperti  badan kapal,  dan  bentuk  atap   melengkung  dan runcing  ke  atas  seperti  tandu k  kerbau yang  disebu t  dengan  gonjong.  Setiap rumah  gadang  dilengkapi  dengan  Rangkiang  yang  bentuknya  sesuai  dengan gaya  bangu nan  rumah  gadang,  tapi ukurannya  lebih  kecil.  Digunakan sebagai  tempat  penyimpanan  padi  milik

Kawasan Saribu Rumah Gadang: Pengunjung sedang melihat salah satu rumah gadang yang terdapat di kawasan Saribu Rumah Gadang, Koto Baru, Solok Selatan, Minggu (26/10) . f/Fauziah

kaum. Di  kawasan  Saribu  Rumah  Gadang, berdiri  rumah  gadang  dari  beberapa  suku. Setiap  suku  memiliki  bentuk  dan  ukuran rumah  gadang  yang  berbeda.  Adanya variasi  dari  rumah  gadang  tersebut, menambah  keunikan  dari  kawasan  Saribu Rumah  Gadang  ini.  Maka,  tidak  jarang tempat  wisata  budaya  ini  dijadikan sebagai  lokasi  pengambilan  gambar beberapa  film.  Di  antaranya film  layar lebar  Di Bawah Lindungan Kabah  yang  di angkat  dari  novel  Buya  Hamka,  film televisi  berjudul  Calon Istri yang Terzalimi, dan  serial  Anak si Bolang  serta  beberapa pengambilan  gambar  liputan  perjalanan lainnya  oleh  media  televisi  dan  media cetak.  Pada  3  Agustus  lalu  dalam  acara Rang Solok Selatan Baralek Gadang, kawasan  Saribu  Rumah  Gadang  juga tercatat  dalam  Museum  Rekor  Indonesia sebagai  kawasan  yang  memiliki  rumah

gadang dengan  jumlah  terbanyak. Beberapa  suku  yang  rumah  gadangnya  berdiri  di  kawasan  Saribu  Rumah Gadang  ini  yaitu  suku  Melayu, suku  Koto Kaciak, suku Durian, dan suku Bariang yang  disebut  dengan Melayu Ampek Niniak.  Lalu  suku  Sikumbang, suku  Koto Anyia, suku Caniago dan suku Kampai yang disebut Tigo Lareh Nan Batigo, Apek Jo Kampai.  Selain  itu  juga  suku Panai Nan Tundang, suku  Panai Tangah, dan  suku Panai Tanjuang yang  disebut dengan  Panai Tigo Ibu.  “Semuanya  terdiri  atas  sebelas Niniak  Mamak  atau  sebelas  suku  yang berasal  dari  3  rumpun,”    jelas  Jalaludin yang  merupakan  ketua  Kerapatan  Adat Nagari  (KAN)  dan  seorang  niniak  mamak dari  suku  Sikumbang  yang  bergelar Datuak  Lelo  Nan  Panjang  yang  ditemui dirumahnya,  Minggu  (26/10). Jalaludin  juga  menjelaskan  sedikit mengenai  sejarah  di  daerah  tersebut.

Dahulu, kata  Jalaludin,  daerah  Koto  Baru dan  beberapa  daerah  lainnya  dipimpin oleh  Rajo  nan  Ampek  Lareh  yang  bertempat  di  Pasia  Talang.  Karena  terjadi perselisihan  dan  persengketaan,  kemudian  muncullah  pepatah  aia lah balareh, tanah lah bakabuang, antara koto baru jo pasia talang.  Hal  ini  menyebabkan  Koto Baru  tidak  lagi  berdaulat  kepada  raja melainkan  beralih  dari  berdaulat  menjadi mu fak at. Lalu  dari  hasil  mufakat,  para  niniak mamak  sepakat  dan  berlomba-lomba dalam  mengembangkan  sukunya.  Karena  semakin  banyak  kaum  terbentuk, maka  semakin  banyak  pulalah  rumah gadang  yang  didirikan.  Hingga  sekarang tercatat  sebanyak  174  rumah  gadang yang  masih  berdiri  kokoh  di  daerah  Koto B aru . Salah  satu  rumah  gadang  yang  terdapat  di  kawasan  Saribu  Rumah  Gadang, yaitu  rumah  gadang  Gajah  Maram  dari suku  Melayu  Buah  Anau  dengan  niniak mamak  bergelar  Datuak  Lelo  Panjang. Rumah  gadang  yang  terkesan  alami  ini memang  tidak  pernah  sekali  pun  di  cat dinding  ataupun  tonggaknya  meskipun atapnya  sudah  diganti  dengan  atap  seng tebal  karena  beberapa  pertimbangan. Pada  dindingnya  terdapat  beberapa ukiran-ukiran  nan  simetris,  sederhana tapi  tampak  mempesona.  Di  dalamnya terdapat  9  bilik  dan  satu  anjuang,  dengan atap  yang  bergonjong  ganjil,  yaitu memiliki  tujuh  gonjongan  dengan  dua gonjong  di  sebelah  kiri,  dua  gonjong  di tengah,  dan  tiga  gonjong  di  sebelah k an an . Di  depan  rumah  gadang  tersebut masih  berdiri  kokoh  lima  buah  bangunan, yaitu  dua  buah  Jinang  yang  bertonggak empat,  dua  buah  rangkiang  yang  bertonggak  enam,  dan  satu  buah  balumbu  yang bertonggak  sembilan.

RAGAM

Budaya Membaca di Negeri Sakura Oleh Rahmi Sukmawati Mahasiswa Jurusan Fisika TM 2013 Pergi ke  negeri  Sakura  u ntuk  menu ntut  ilmu  adalah  salah  satu  pengalaman,  pengetahuan  dan  kesempatan bagi  saya.  Perjalanan  yang  penuh semangat  dan  motivasi  ini  bertu ju an untu k  melaksanakan  magang/  Praktik Kerja  Lapangan  di  sana. Pada  13  Ju ni  lalu ,  tepatnya  saat Ramadhan  sekira  pukul  4.30  WIB,  saya dan  rekan-rekan  lainnya  yang  ju ga melaksanakan  PKL  berangkat  menu ju Bandara  Internasional  Minangkabau. Tepat  pu ku l  09.00  WIB,  berangkat menuju  Kuala  Lu mpur,  Malaysia  untuk transit  dan  dari  Ku ala  Lu mpu r  menu ju Narita  Airtport  Jepang.  Berada  ku rang lebih  7  jam  di  udara  untuk  sampai  di Narita  Airport  Jepang. Kami  melaksanakan  magang  di  Laboratorium  Josaphat  Microwave  Remote Sensing  Laboratory (JMRSL)  Center  for Environmental  Remote  Sensing  (CEReS) Chiba  University  Jepang.  JMRSL  CEReS dikepalai  oleh  salah  satu  pu tra  terbaik bangsa  asal  Indonesia,  Prof.  Josaphat Tetuko  Sri  Sumantyo.  Tempat  ini  sudah menjadi  laboratoriu m  terlengkap  di Jepang  dan  bahkan  di  dunia  dalam pengembangan  microwave remote sensing technology  untuk  penginderaan  jauh di  permukaan  bumi  dan  planet  lain. Kegiatan  pertama  yang  dilakukan adalah  mengikuti  seminar  bersama mahasiswa  JMRSL  Chiba  University.

Foto Bersama: Mahasiswa PKL Fisika berfoto bersama Prof. Joshapat Tetuko Sri Sumantyo selaku Supervisor sekaligus Kepala Joshapat Microwave Remote Sensing Laboratory di Josaphat Laboratory Chiba University, Jepang, Jumat (22/7). f/doc

Dalam satu   ruangan  terdapat  mahasiswa  dari  berbagai  negara  yakni Jepang,  Indonesia,  Malaysia,  Pakistan, Brazil,  Turki,  Korea  dan  Mongolia.    Mulai dari  mahasiswa  S2,  S3,  doctor,  dan  kami mahasiswa  S1  berkumpu l  dalam  suatu ruangan. Kegiatan  selama  di  laboratorium dilaku kan  setiap  harinya  dari  pukul  9 pagi  sampai  5  sore.  Belajar  sendiri dengan  tema  yang  telah  disiapkan  dan bertanya  jika  ada  yang  diragu kan. Setiap  kami  bertanya  mengenai  materi yang  kurang  dipahami,  dengan  senang hati  mereka  menjelaskan  dengan  sejelasjelasnya,  walau pu n  sesekali  kami  tidak memahaminya.

Jepang adalah  salah  satu   negara  di du nia  yang  patut  ditiru  dengan  hal-hal positifnya.  Secara  nyata  terdapat  perbedaan  yang  lumayan  mencolok  dengan Indonesia.  Mulai  dari  budaya  membaca. Sebagian  besar  orang-orang  di  Jepang mu lai  dari  anak-  anak  sampai  lansia memegang  bu ku   bacaan,  misalnya  saat mereka  berada  di  jalan,  kereta  listrik, stasiu n,  di  laboratorium,  dan  sebagainya.  Di  dalam  kereta,  setiap  penumpang  memegang  satu  bu ku,  entah  itu sambil  duduk  atau  sambil  berdiri    tanpa rasa  takut  untu k  terjatu h  karena tangannya  memegang  buku.  Ini  meru pakan  salah  satu  bukti  bahwa  negara Jepang  adalah  bangsa  yang  tinggi

bu daya membacanya.  Selain  membaca, pegawai  dan  mahasiswa  di  JMRSL  Chiba tidak  ada  yang  pulang  cepat.  Mereka pu lang  pada  sore  menjelang  Magrib bahkan  malam  hari. Di  Jepang  tak  hanya  mobil  dan sepeda  motor  yang  haru s  berhenti  di saat  lampu   merah,  tetapi  juga  para pejalan  kaki  dan  sepeda  kayuh.  Mereka sangat  patuh  aturan,  tak  seorang  pun yang  terlihat  melanggar. Selain  itu,  tradisi  dan  budaya  yang tidak  pernah  hilang  dari  masyarakat Jepang,  yaitu  setiap  berpapasan  di  jalanan  mereka  selalu  menundukkan  kepala sambil  tersenyum  dan  menyampaikan salam  “Konniciwa.  Konbanwa,”.  Bahkan ada  yang  mengucapkan  Sumimasen (minta  maaf)  padahal  mereka  tidak punya  salah  dengan  saya  saat  berpapasan.  Hal  itu  dilakukan  oleh  semua  kalangan  dari  yang  tua  sampai  yang  kecil. selama  di  sana,  saya  melihat  kemandirian  dan  kerja  keras  orang  Jepang  yang belum  saya  temukan  di  Indonesia.  Setiap hari  ketika  berangkat  dan  pulang  dari laboratorium,  saya  sering  melihat  anakanak  kecil  berjalan  sendirian  tanpa diantar  dan  dijemput  orangtuanya  ke sekolah.  Badannya  dipenuhi  dengan gelantungan  tas  besar  yang  berisi  buku, minuman,  makanan,  pakaian  dan  bahkan  sepatu  yang  tersangkut  di  tasnya. Sering  juga  saya  temui  anak  kecil  berjalan  di  stasiun  dan  naik  kereta  sendiri dan  mereka  terlihat  percaya  diri,  tanpa ada  rasa  takut.


TEROPONG

16

Seminar SM-3T, Mari Peduli Pendidikan

Seminar: Direktur Masyarakat SM-3T Indonesia, Akhiruddin Haer, S.Pd., Gr., sedang memberikan materi tentang program SM-3T sekaligus pengalamannya ketika mengikuti program tersebut pada Seminar Pendidikan yang digelar oleh Basecare SM-3T Sumatra Barat di Teater Tertutup FBS, Sabtu (24/12). f/Fitri

Basecare Sarjana  Mendidik  di Daerah  Terdepan,  Terluar,  dan Tertinggal  (SM-3T)  Sumatra  Barat mengadakan  Seminar  Pendidikan dengan  tema  Kenali SM-3T, Mari Berkarya, Mari Peduli Pendidikan. Acara  berlangsung  di  Teater Tertutup  Fakultas  Bahasa  dan  Seni,  Sabtu  (24/12).  “Acara  ini  diadakan  karena  kami  sebagai  alumni  ingin  mengenalkan  apa  itu  SM3T  kepada  mahasiswa  kependidikan,”  ujar  Riski  Pratama, S.Pd.,  Gr  selaku  Ketua  Pelaksana. Pengelola  SM-3T  dan  Pendidikan  Profesi  Guru  (PPG)  Dr. Erizal  Gani,  M.Pd  mengungkapkan  bahwa  ia  sangat  bahagia melihat  peserta  SM-3T  yang merasa  senang  mengabdi  di daerah  3T.  Menurutnya,  orangorang  yang  tergabung  di  dalam program  SM-3T  adalah  manusia yang  hebat  karena  mereka  telah dilatih  dan  merasakan  langsung bagaimana  kehidupan  di  daerah tempat  mengabdi.  “Orang-orang  muda  dan  hebat  inilah  yang akan  memajukan  pendidikan Indonesia,”  tuturnya. Adapun  pemateri  yang  dihadirkan  pada  seminar  ini,  yakni Asisten  Direktur  II  Bidang  Keuangan  Pascasarjana  UNP,  Prof. Dr.  Festiyed,  M.S.,  Direktur  Masyarakat  SM-3T  Indonesia, Akhiruddin  Haer,  S.Pd.,  Gr., Guru  Garis  Depan  (GGD)  2016 Lanny  Jaya,  Papua,  Nasmi  Elda Syafrina,  S.Pd.,  Gr.,  dan  GGD 2015  Aceh  Singkil,  Zulfan Akbar,  S.Pd.,  Gr. Prof.  Dr.  Festiyed,  M.S.  menyampaikan  tentang  paradigma pendidikan  Indonesia  masa  depan.  Ia  memulai  dengan  memaparkan  kondisi  global  abad  21, yaitu  era  globalisasi  dimana ilmu  berkembang  dengan  cepat, tapi  manusia  mempelajarinya tetap.  Ada  tujuh  potensi  yang dimiliki  oleh  Indonesia  untuk menghadapi  era  global  tersebut, antara  lain  modal  manusia, alam,  budaya,  sosial,  ideologi, uang,  dan  teknologi.  “Dari  tujuh

potensi tersebut,  manusialah modal  utama  yang  mengendalikan  enam  modal  lain,  yaitu dengan  pendidikan,”  paparnya. Festiyed  juga  mengaitkan pentingnya  pengelolaan  dan peningkatan  kualitas  pendidikan dengan  bonus  demografi  pada 2035,  yaitu  200  juta  dari  300 juta  penduduk  Indonesia  adalah usia  produktif.  Untuk  mempersiapkan  bonus  demografi  tersebut,  perlu  adanya  pendidikan dasar  berkualitas  dan  merata (paudisasi),  pendidikan  menengah  secara  menyeluruh  (universal)  dengan  memastikan semua  penduduk  usia  sekolah bersekolah  serta  memberikan pendidikan  karakter,  dan  pendidikan  tinggi  yang  berkualitas dan  berdaya  saing. Dalam  upaya  meningkatkan mutu  pendidikan  pada  era  global  ini,  kata  Festiyed,  perlu adanya  perubahan  pendidikan, baik  dari  segi  guru,  peserta  didik, maupun  materi  pendidikan. Pertama,  guru  tidak  lagi  memberikan  informasi  dalam  bentuk ceramah  dan  buku  teks,  melainkan  berperan  sebagai  fasilitator, tutor,  dan  sekaligus  pembelajar. Kedua,  peserta  didik  tidak  perlu lagi  menjadi  pengingat  fakta  dan prinsip,  tapi  berperan  sebagai periset,  problem-solver,  dan pembuat  strategi.  Ketiga,  materi tidak  lagi  berbentuk  informasi dalam  bidang  studi  terlepas,  tapi peserta  didik  akan  mempelajari hubungan  antarinformasi  yang membutuhkan  multidisciplinary thinking  dan  kemampuan  melihat  dari  beragam  perspektif. Pemateri  selanjutnya, Akhiruddin  Haer  memaparkan tentang  program  SM-3T.  Menurutnya,  permasalahan  di daerah  3T  bukan  hanya  perihal kurangnya  guru,  tapi  juga  perhatian  masyarakat  terhadap pendidikan  dan  minimnya  sarana  penunjang  proses  pendidikan. Untuk  meningkatkan  mutu  pendidikan  di  daerah  tersebut,  salah

satunya adalah  dengan  memberdayakan  sarjana  pendidikan melalui  program  SM-3T. SM-3T  merupakan  program pengabdian  sarjana  pendidikan untuk  berpartisipasi  dalam  percepatan  pembangunan  pendidikan  di  daerah  3T.  Sarjana tersebut  mengajar  di  daerah  3T selama  satu  tahun  sebagai  penyiapan  pendidik  professional. Setelahnya  dilanjutkan  dengan program  Pendidikan  Profesi  Guru  selama  satu  tahun  pula. “Jadi,  ada  dua  sasaran  yang ingin  dicapai  melalui  SM-3T, yaitu  percepatan  pembangunan di  daerah  3T  dan  penyiapan pendidik  profesional,”  jelasnya. Menyambung  Akhiruddin, Zulfan  Akbar  dan  Nasmi  Elda Syafrina  menceritakan  pengalamannya  selama  mengikuti SM-3T  dan  mengabdi  di  daerah 3T  sebagai  GGD.  Untuk  mencapai daerah  tempatnya  mengabdi, yaitu  Kecamatan  Pulau  Banyak, Aceh  Singkil,  Zulfan  harus  menyeberangi  lautan  dengan  angin kencang  dan  ombak  yang  kuat selama  lima  jam.  “Itu,  dalam kondisi  normal.  Jika  terjadi badai  bisa  lebih.  Taruhannya adalah  nyawa,”  ujar  Zulfan. Namun,  Zulfan  menganggap apa  yang  dilakukannya  selama ini  adalah  bentuk  pengabdian.  Ia melakukan  apa  yang  dapat  dilakukan.  “Bagi  kawan-kawan yang  ikut  SM-3T,  yang  pertama dilakukan  adalah  harus  ikhlas,” pesann ya. Hal  yang  sama  juga  dirasakan  oleh  Nasmi.  Di  samping sulitnya  akses  menuju  lokasi, menjadi  pendidik  di  daerah  3T juga  dituntut  untuk  sabar.  Sebab,  guru  harus  menjelaskan secara  berulang-ulang  satu  materi  pelajaran  agar  siswa  mengerti.  Selain  itu,  menurutnya, menjadi  guru  bukan  sekadar mengajar,  tapi  juga  harus  memiliki  rasa  peduli.  “Saya  bangga menjadi  alumni  SM-3T,”  tutupnya.  Fitri

Edisi No. 194/Tahun XXVII

UNP Canangkan Pembangunan Lima Titik Parkir Lalu lintas  di  Universitas Negeri  Padang  (UNP)  terpantau padat  sewaktu  pergantian  mata kuliah  pagi  dan  siang  yang  tidak jarang  berujung  pada  kemacetan.  Seperti  di  jalan  sekitar Gedung  Mata  Kuliah  Umum (MKU),  depan  Fakultas  Teknik, dan  jalan  di  Gelanggang  Olahraga  (GOr)  UNP.  Kemacetan  ini terjadi  bukan  hanya  disebabkan oleh  banyaknya  pengguna  kendaraan  yang  masuk  ke  UNP, tetapi  juga  beberapa  kendaraan yang  terparkir  di  badan  jalan. Yudha  Rahmanto,  mahasiswa  Program  Studi  Desain  Komunikasi  Visual  TM  2012  yang melewati  jalan  di  depan  Gedung MKU,  menyatakan  bahwa  ia pernah  terjebak  macet  dan  tidak bisa  putar  arah  karena  di  belakangnya  juga  padat  oleh  kendaraan  lain.  Alhasil,  ia  hanya  dapat bersabar  menunggu  kemacetan u s ai . Yuda  mengharapkan  agar pengendara  motor  memarkir kendaraannya  di  tempat  yang telah  disediakan  sehingga  tidak mengganggu  pengguna  jalan lain.  “Gara-gara  beberapa  motor yang  diparkir  sembarangan membuat  banyak  orang  terganggu,”  ujarnya,  Sabtu  (19/ 11).  Ia  juga  berharap  agar  UNP memperluas  tempat  parkir  dan menertibkan  kendaraan  yang diparkir  secara  sembarangan. Menanggapi  hal  tersebut, kepala  bagian  perlengkapan UNP,  Drs.  Nazarudin  Harahap, S.T.,  meminta  mahasiswa untuk  saling  bertoleransi  dan

bersabar, karena  UNP  sedang dalam  masa  pembangunan  gedung  baru.  Setelah  pembangunan  usai,  kata  Nazarudin,  UNP akan  menyelesaikan  masalah perparkiran. Nazarudin  mengimbau  pengendara  motor  maupun  mobil untuk  tidak  memarkir  kendaraannya  di  tepi  jalan,  apalagi dengan  alasan  lebih  dekat dengan  tempat  yang  dituju. “Hargai  pengguna  jalan  lainnya,”  ujarnya,  Kamis  (6/10). Saat  ini,  jelas  Nazarudin,  UNP telah  merencanakan  pembangunan  lima  titik  parkir.  Kelima titik  tersebut  berlokasi  di  dekat GOr  UNP,  di  Fakultas  Ilmu  Sosial (FIS),  di  samping  perpustakaan pusat,  di  belakang  rektorat,  dan di  Gedung  MKU. Lebih  lanjut,  Nazarudin menjelaskan  bahwa  tempat  parkir  yang  akan  dibangun  di  GOr UNP  akan  digunakan  oleh  mahasiswa  Fakultas  Ilmu  Keolahragaan  dan  Fakultas  Bahasa  dan  Seni. Selanjutnya,  tempat  parkir  di FIS  akan  digunakan  oleh  mahasiswa  FIS  dan  Fakultas  Ekonomi. Titik  parkir  ini  terletak  di  belakang  gedung  FIS,  karena  lahan di  sana  cukup  luas.  Sedangkan lahan  di  FE  kurang  memadai untuk  dilakukan  penambahan parkir.  Tempat  parkir  berikutnya  di  samping  pustaka  pusat, tepatnya  di  lahan  tempat  climbing, akan  digunakan  oleh  mahasiswa  yang  mengunjungi  perpustakaan  pusat  dan  mahasiswa  dari  Fakultas  Matematika  dan  Ilmu Pengetahuan  Alam.  Jimi

Pelatihan Dai Ke-2 UNP Laboratorium Akhlak  dan Moral  (LAM)  Universitas  Negeri Padang  (UNP)  kembali  mengadakan  Pelatihan  Dai  Tingkat Mahasiswa  pada  Jumat-Minggu (18-20/11).  Acara  yang  berlangsung  di  Lembaga  Penjaminan  Mutu  dan  Pendidikan  (LPMP) Sumatra  Barat  ini  dihadiri  oleh 95  peserta  yang  berasal  dari  universitas  di  Kota  Padang. Kepala  LAM  UNP,  Dr.  Ahmad Kosasih,  MA.,  menjelaskan  bahwa  pelatihan  dai  ini  diselenggarakan  dengan  tujuan  untuk menciptakan  tenaga  dai  dari mahasiswa  yang  bisa  berdakwah  di  kampus  dan  di  tempat tinggalnya.    Pelatihan  ini  diikuti oleh  95  peserta.  Sebanyak  70% dari  peserta  tersebut  berasal  dari UNP  dan  30%  lagi  dari  luar  UNP. “Jumlah  peserta  95  orang  ini sudah  menunjukkan  antusiasme untuk  ikut  pelatihan,”  ujarnya, Selasa  (6/12). Lebih  lanjut,  Ahmad  mengharapkan  agar  pelatihan  dai yang  diberikan  oleh  UNP  dengan pemateri  dari  MUI  Sumatra Barat  dan  dosen-dosen  UNP  dan IAIN  ini  dapat  melahirkan  dai yang  siap  berdakwah  dengan disiplin  ilmunya  masing-ma-

sing. “Saya  harap  acara  ini masih  berlanjut  untuk  tahun depan  dan  bisa  melahirkan  daidai  baru,”  tutupnya. Syarat  untuk  menjadi  peserta  dari  pelatihan  dai  tersebut adalah  pandai  membaca  Alquran  dengan  lancar  dan  maksimal  mahasiwa  semester  3. Saat  pelatihan,  peserta  dibekali dengan  sejumlah  materi,  di antaranya  adalah  Islam  dan Pandangan  Kebangsaan,  Problematika  Umat  dan  Tantangan Dakwah,  Dakwah  dan  Kemadirian  Ekonomi,  Logika  dan Retorika  Dakwah,  Dakwah  dengan  Pendekatan  Tafsir Maudhu’I,  Strategi  dan  Teknik Komunikasi  yang  Efektif  dan Wawasan  Keislaman. Salah  satu  peserta  pelatihan dai,  Miftahul  Jannahi  Sarnis Mahasiswa  Pendidikan  Bahasa Indonesia  TM  2014  mengungkapkan  bahwa  ia  beruntung dapat  mengikuti  pelatihan  dai karena  mendapatkan  ilmu  tentang  dakwah  dan  dapat  berinteraksi  dengan  peserta  dakwah lainnya.    “Semoga  lebih  banyak lagi  mahasiswa  yang  mengikuti dai  ini,”  harapnya,  Kamis  (8/ 12).  Eka


TEROPONG

Edisi No. 194/Tahun XXVII

UNP Jalankan Program SPADA Indonesia

Foto Bersama: Mahasiswa Universitas Syiah Kuala dan Universitas Negeri Yogyakarta yang mengikuti program SPADA di UNP foto bersama dengan pengurus BEM UNP usai kunjungan dan diskusi di Sekretariat BEM UNP, Rabu (30/11). f/Sri

Demi meningkatkan  pemerataan  akses  terhadap  pembelajaran  yang  bermutu,  Direktorat Jenderal  Pembelajaran  dan  Kemahasiswaan  Kementrian  Riset, Teknologi  dan  Pendidikan  Tinggi menciptakan  sistem  pembelajaran  baru  berupa  pembelajaran dalam  jaringan.  Sistem  yang  dijalankan  mulai  2016  ini  disebut Sistem  Pembelajaran  Daring (SPADA)  Indonesia. Universitas  Negeri  Padang (UNP)  sebagai  salah  satu  perguruan  tinggi  negeri  di  Indonesia pun  ikut  menjalankan  program ini.  Sebanyak  30  mahasiswa Jurusan  Pendidikan  Guru  Sekolah  Dasar  (PGSD)  mengikuti SPADA  ke  Universitas  Negeri Yogyakarta  dan  Universitas Syiah  Kuala,  Aceh.  UNP  juga menerima  30  mahasiswa  dari universitas  terkait.  Program  ini berlangsung  mulai  10  November hingga  10  Desember  2016. Masing-masing  mahasiswa  yang mengikuti  program  diwajibkan mengambil  minimal  tiga  mata kuliah  atau  maksimal  lima  mata

ku liah. Wakil Rektor  I  UNP,  Prof.  Dr. Agus  Irianto,  mengatakan  bahwa pogram  SPADA  Indonesia  ini merupakan  rintisan  tahun  ini dan  baru  diikuti  oleh  mahasiswa PGSD.  Ia  berharap  untuk  tahun depan  program  SPADA  tetap  ada dan  program  studi  yang  mengikutinya  semakin  banyak.  Saat ini,  kata  Agus  SPADA  terkendala dengan  sistem  online  yang  belum terlaksana.  Hal  ini  menyulitkan mahasiswa  yang  mengikuti  program  untuk  mengikuti  perkuliahan  di  universitas  masingmasing  yang  hanya  dapat  dilakukan  secara  online.  “Kalau online-nya  sudah  jalan,  bagus. Tapi  kalau  belum  percuma,” ujarnya,  Rabu  (28/12). Senada  dengan  yang  disampaikan  oleh  Agus,  Muspita  Anjelia, Salah  satu  mahasiswa  Jurusan PGSD  UNP  yang  mengikuti  program  SPADA  di  Universitas  Syiah Kuala  Aceh  juga  mengatakan bahwa  program  ini  belum  sepenuhnya  siap.    Selain  terkendala online,  Muspita  juga  mengaku

terlambat menerima  buku  panduan  pembelajaran.  “Saya  baru menerima  bukunya  setelah  menyelesaikan  program,”  tutur mahasiswa  TM  2014  ini,  Kamis (29/12)  . Novi  Fadila  Anum,  mahasiswa Universitas  Syiah  Kuala,  Aceh yang  mengikuti  SPADA  di  UNP mengatakan,  program  ini  baik untuk  menambah  pengalaman mahasiswa.  Selain  bisa  menambah  wawasan  di  bidang  pembelajaran  sesuai  jurusan,  mahasiswa juga  bisa  belajar  tentang  budaya dan  kebiasaan  masyarakat  di  daerah  tempat  mengikuti  SPADA. “Saya  bisa  mengenal  tempat  baru, lingkungan  baru  yang  belum  saya kenali  sebelumnya,”  ujar  mahasiswa  semester  lima  ini,  Rabu (30/11). Selain    itu,  Novi  berharap program  ini  lebih  digencarkan lagi  ke  depannya,  sehingga  mahasiswa  yang  mengikuti  SPADA bertambah  banyak.  “Semoga informasinya  lebih  disebarluaskan    lagi  oleh  pemerintah  dan pihak  kampus,”  tutupnya.  Sri

17

Dua Mahasiswa UNP Ikuti IJJSS ke Jepang Dua mahasiswa  Universitas Negeri  Padang  (UNP)  mendapatkan  kesempatan  mengikuti Indonesia  Japan  Joint  Scientific Symposium    (IJJSS)  yang  diadakan  oleh  Chiba  University,  Japan.  Mereka  adalah  Arif  Munandar,  mahasiswa  Jurusan  Teknik Pertambangan  dan  Randi  Proska Sandra,  mahasiswa  Jurusan Teknik  Informatika.  Kegiatan yang  berlangsung  selama  lima hari,  yakni  Minggu-Kamis  (20-24/ 11)  ini  diikuti  oleh  para  ilmuan, profesional  perusahaan,  petinggi universitas  serta  mahasiswa. Pelaksanaannya  IJJSS  kali ini  bersamaan  dengan  tiga simposium  lainnya,  yaitu  The 24th  CERes  Internasional  Symposium,  The  4th  Symposium  on Microsatellite  for  Remote  Sensing (SOMIRES)  dan  The  1  st  Symposium  on  Innovative  Microwive Remote  Sensing. Kegiatan  IJJSS  ini  tidak  sekadar  mempresentasikan  hasil  penelitian,  tetapi  juga  mendiskusikan ide-ide  terbaru  di  bidang  riset  dan teknologi  antarpeneliti  dan  ilmuan  di  dunia,  khususnya  Indonesia dan  Jepang.  Keseluruhan  paper yang  dipresentasikan  dalam  kegiatan  ini  akan  dipublikasikan dalam  jurnal  nasional  dan  internasional.  IJJSS  ini  berguna  untuk menguatkan  kolaborasi  kerjasama Indonesia  dan  Jepang  serta  melatih  peneliti  muda  berkarya. Pada  kesempatan  ini,  Arif dan  Randi  mempersentasikan paper  berjudul  “The  Utilization of  CaO  Nanoparticles  from  Limestone  as  a  Countermeasure  Effort of SO2  Gas  Emissions  in  PT. Semen Padang  Using  Corprecipitation Method”.  Arif  menjelaskan  bahwa  ide  ini  muncul  ketika  ia melihat  fenomena  asap  dari kebanyakan  pabrik  yang  belum diatasi  dengan  benar  karena asap  pabrik  hanya  ditanggulangi dengan  alat  penyedot  semata. Oleh  karenanya,  ia  berusaha mencari  solusi  untuk  permasalahan  tersebut  dan  menuliskannya  dalam  karya  tulis  ilmiah. Sebelumnya,  ide  tersebut berhasil  meraih  peringkat  pertama  pada  seleksi  penilaian  pa-

per dalam  Lomba  Karya  Tulis Ilmiah  Nasional  (LKTIN)  yang diadakan  oleh  Universitas  Indonesia.  Namun,  mereka  tidak berhasil  mendapat  juara  karena belum  melakukan  satu  tahap penilaian  lomba,  yakni  penelitian.  Hingga  akhirnya,  Randi menemukan  informasi  mengenai IJJSS  yang  bertemakan  Suistanable Environment for Better Future dari  Persatuan  Pelajar  Indonesia. Setelah  mengetahui  informasi  tersebut,  Arif  dan  Randi langsung  mencari  pembimbing yang  ahli  dalam  penelitian  tersebut.  Mereka  berhasil  meyakinkan  salah  seorang  dosen  Kimia UNP,  yakni  Ananda  Putra,  S.Si., M.si.,  Ph.D.,  menjadi  pembimbing.  Untuk  lebih  mempermudah  proses  penelitian,  mereka menambah  anggota  dari  Jurusan  Kimia  yakni  Yesi  Marta Saputri.  Namun  karena  ada kendala,  Yesi  tidak  bisa  mengikuti  IJJSS  ke  Jepang. Penelitian  yang  diadakan  di  PT Semen  Padang  ini  berlangsung selama  2  bulan.    Keberhasilan  dari penelitian  yang  mereka  lakukan tidak  lepas  dari  bantuan  dan dukungan  dari  pembimbing  lapangan,  Amrullah  Rangkuti  dan Kepala  Biro  SHE,  Musytaqim. Randi  berharap  animo  mahasiswa  untuk  mengikuti  lomba karya  tulis  ilmiah  terutama  yang bertaraf  internasional  semakin meningkat.  Menurutnya,  lomba ini  mempunyai  banyak  manfaat. Selain  memperbaik  citra  kampus, kegiatan  ini  juga  menambah pengalaman  yang  luar  biasa  bagi mahasiswa.  “UNP  menuju  WCU, maka  sudah  seharusnya  mahasiswa  berpikir  internasional  juga,” ujar  Randi,  Senin  (1/1). Senada  dengan  Randi,  Arif berharap  baik  dosen  maupun mahasiswa  UNP  lebih  giat    mengikuti  lomba-lomba  karya ilmiah.  Sebab,  hal  ini  akan berdampak  pada  level  penelitian UNP  sendiri.  Ia  juga  berharap untuk  IJJSS  berikutnya,  UNP mengirim  lebih  banyak  peserta. “Dua  tahun  lagi  IJJSS  akan  hadir kembali,  ditunggu  karyamu,” tutupnya.  Ermi

UNP Luncurkan 50 Buku Karya Dosen Universitas Negeri  Padang (UNP)  bekerja  sama  dengan  PT Prenada  Media  Group  Jakarta luncurkan  50  buku  karya  dosen/ pengajar  UNP  di  Ruang  Serba Guna  Fakultas  Teknik,  Selasa  (27/ 12).  Sebanyak  44  dari  50  buku tersebut  merupakan  hasil  Program  Rekonstruksi  Bahan  Ajar/ Modul  yang  didanai  dengan  dana Bantuan  Operasional  Perguruan Tinggi  (BOPTN)  UNP  tahun  anggaran  2016.  Sedangkan  enam buku  lainnya  diterbitkan  dengan biaya  ditanggung  oleh  penerbit, yaitu  Prenada  Media. Afriva  Khaidir,  S.H.,  M.Hum., MAPA.,  Ph.D.  selaku  Ketua  Panitia Program  Rekonstruksi  Bahan Ajar/  Modul  BOPTN  UNP  2016, mengatakan  bahwa  program  ini bertujuan  untuk  meningkatkan produktivitas  menulis,  terutama menulis  buku  yang  pada  akhirnya dapat  meningkatkan  ketersediaan referensi  dalam  pembelajaran.

Selain itu,  sehubungan  dengan status  UNP  yang  telah  berubah menjadi  Badan  Layanan  Umum, penerbitan  buku  ini  juga  bisa menjadi  income generating bagi UNP  dan  penulis.  Afriva  menambahkan  bahwa  ke  depan  UNP  juga akan  menerbitkan  buku  dalam bentuk  elektronik  atau  e-book. “Dengan  ini  diharapkan  terjadi peningkatan  angka  publikasi UNP,”  imbuhnya. Prof.  Dr.  Agus  Irianto  selaku Penanggung  Jawab  Kegiatan, mengungkapkan  bahwa  menerbitkan  buku  adalah  cita-cita  yang telah  lama  diharapkan  UNP. Semenjak  2013  dosen  UNP  telah membuat  181  bahan  ajar,  2014 ada  143  bahan  ajar,  dan  2015  ada 61  bahan  ajar.  “Tapi  kendalanya semua  bahan  ajar  tersebut  belum diterbitkan,”  paparnya.  Agus mengharapkan  agar  dosen  UNP terus  berkarya  dan  menghasilkan tulisan.  “Tulisan  Ibu,  Bapak  ja-

Serah Terima: Rektor UNP, Prof. Ganefri, Ph.D. dan Direktur PT Prenada Media Group melakukan serah terima nota kesepahaman antara UNP dan PT Prenada Media Group di Ruang Serba Guna Fakultas Teknik UNP, Selasa (27/12). f/Fitri

ngan sampai  di  sini  saja,  tapi berlanjut  ke  depan,”  pesannya ketika  memberikan  sambutan  di hadapan  para  dosen  UNP  yang hadir. Program  penerbitan  buku

hasil karya  dosen  UNP  ini  sangat diapresiasi  oleh  Rektor  UNP,  Prof. Ganefri,  Ph.D..  “Penerbitan  buku ini  sudah  terobosan  baru.  Saya mengapresiasi,”  ujarnya.  Ia  mengharapkan  adanya  kerja  sama

dengan Prenada  Media  yang  memiliki  jaringan  luas  dan  pemasaran  bagus,  buku-buku  yang diterbitkan  bisa  dibaca  oleh  orangorang  se-Indonesia. Drs.  Zubaidi,  Direktur  PT Prenada  Media  Group  yang  juga merupakan  orang  minang  mengatakan  bahwa  ia  telah  lama menunggu  naskah-naskah  dari akademisi  Sumatra  Barat.  Namun,  naskah  tersebut  tidak  banyak  yang  muncul  di  nasional. “Ternyata,  dari  yang  telah  dipaparkan  sebelumnya,  ada  ratusan naskah  yang  tidak  dipublikasikan,”  tuturnya.  Zubaidi  mengharapkan  ke  depan, dosen-dosen UNP lebih  aktif  menulis  dan  buku-buku yang  dihasilkan  lebih  ditingkatkan  kualitasnya.  “Biasanya  sebelum  menerbitkan  buku,  yang kami  pertimbangkan  adalah  bisakah  buku-buku  ini  masuk  ke perguruan  tinggi  yang  ada  di Jawa,”  tambahnya.  Fitri


INTER

18

Jurusan Adminitrasi  Pendidikan

UKFF

Seminar Fotografi Unit Kegiatan  Film  dan Fotografi  (UKFF)  Universitas  Negeri  Padang  (UNP) mengadakan  Seminar  Fotografi  di  Teater  Tertutup Fakultas  Bahasa  dan  Seni UNP,  Jumat  (2/12).  Seminar  ini  membahas  Dasardasar  Fotografi  dan  Genre Fotografi  dengan  pemateri Budi  Ramadhon  dan  Juli Hendra  Multi  Albar. Dalam  seminar  ini,  Budi  menjelaskan,  mempelajari  fotografi  sesungguhnya  adalah  belajar  mengenal  diri  sendiri,  kemudian mentransfer  ide  manual  ke visual.  Ada  beberapa  kriteria  yang  harus  diper-

Edisi No. 194/Tahun XXVII

hatikan dalam  fotografi, yaitu  diafragma,  tekstur, shutter speed,  dan  komposisi.  Sebuah  foto  dikatakan  baik,  apabila  memenuhi  kriteria  tersebut. Ketua  pelaksana,  Rahmanda  Fadli  mengatakan, di  era  teknologi  sekarang ini  peralatan  fotografi  semakin  canggih,  seperti kamera,  flash  tambahan, dan  lainnya.  “Semoga  di era  ilmu  digital  yang  berkembang  sekarang  ini, ilmu  fotografi  kita  semakin  lebih  dalam  lagi,”  harap  mahasiswa  Program Studi  Elektro  Industri  ini. Wildan*

Pemimpin Abad 21 Mengusung tema  Kepemimpinan Abad 21,  Jurusan  Administrasi  Pendidikan  (AP)  Fakultas  Ilmu Pendidikan  (FIP)  Universitas  Negeri  Padang  (UNP) mengadakan  kuliah  umum  untuk  mahasiswa program  S1,  S2,  dan  S3 Jurusan  AP  di  Aula  FIP UNP,  Kamis  (24/11). Prof.  Dr.  Husaini Usman,  M.Pd.,  MT.,  selaku pemateri  menjelaskan, kepemimpinan  abad  21 merupakan  pembelajaran  kepemimpinan  yang terfokus  pada  peningkatan  mutu,  proses,  dan  hasil pembelaj aran.

Husaini menerangkan bahwa  kepala  sekolah  pada praktik  profesionalnya memimpin  pengajaran dan  pembelajaran,  mengkoordinasikan  kurikulum, memantau  kinerja  guru, menilai  kinerja  guru, mendampingi,  dan  melatih  guru. Lebih  lanjut,  Kata  Husaini,  apabila  kepala  sekolah  efektif  dalam  tugasnya,  sekolah  juga  akan  menerima  aspek  positif.  Kepemimpinan  kepala  sekolah  mempengaruhi  mutu guru,  dan  mutu  guru  pun mempengaruhi  hasil  belajar  siswa.  Nadilla*

Uji Materi Pemilu FIS rakan untuk  menjemput aspirasi  mahasiswa  demi menyukseskan  pemilu  pada  Februari  mendatang. Penyampaian  uji  materi  dibagi  atas  dua  sesi.  Sesi pertama  penyampaian  sosialisasi  pelaksanaan  pemilu  dan  sesi  kedua  penyampaian  aspirasi  oleh masing-masing  HMJ.  Adapun  aspirasi  yang  disampaikan,  yaitu  upaya  peningkatan  partisipasi  pemilih,  kejelasan  waktu  pemilihan,  penghitungan suara  dilakukan  secara terbuka,  dan  penentuan jadwal  pemungutan  suara Maida, Lutfi*

yangideal.

PPIPM UNP

LKMM Tingkat Menengah Bertemakan Golden Member‘s For PPIPM 2016 Pusat  Pengembangan  Ilmiah  dan  Penelitian  Mahasiswa  (PPIPM)  Universitas  Negeri  Padang  (UNP)  mengadakan  Latihan  Keterampilan  Manajemen  Mahasiswa  (LKMM)  Tingkat  Menengah.  Kegiatan  bertempat  di  Ruang  Standar  Fisika,  Sabtu  (10/12).    Pada acara  ini,  PPIPM  mendatangkan  pemateri  Hendra Naldi,  SS.,  M.Hum.,  Wakil Dekan  III  FIS  dan  Nofrion, M.Pd.,  Dosen  Geografi  UNP. Ketua  pelaksana,  Rahmat  Nofianto  menjelaskan,    LKMM  Tingkat  Mene-

ngah dilaksanakan  dalam rangka  memberikan  pembekalan  sekaligus  pengarahan  kepada  anggota angkatan  ke-30    menjadi pengurus  PPIPM  2017. Selain  itu,  pada  Minggu  (11/12)  juga  dilaksanakan  outbound  yang berlangsung  di  Sungai Bangek,  Lubuk  Minturun, Padang.  “Acara  ini  lebih kepada  implementasi  terhadap  materi  yang  telah mereka  dapatkan  hari ini,”  tambahnya.  Rahmat berharap  acara  ini  menjadi  ajang  silaturahmi  bagi calon  kepengurusan  baru. Arrasyd*

UKK UNP

UKMF Sudut  Kampus  FIS  UNP

Wadah Diskusi Mahasiswa Unit Kegiatan  Mahasiswa  Fakultas  (UKMF) Sudut  Kampus  Fakultas Ilmu  Sosial  (FIS)  Universitas  Negeri  Padang  merupakan  unit  kegiatan yang  bergerak  di  bidang kajian  sosial,  politik, budaya,  dan  advokasi. Unit  kegiatan  yang  baru  dilantik  pada  Juni  lalu  ini menyediakan wadah  diskusi bagi  mahasiswa.  Sebelumnya  Sudut Kampus  merupakan  organisasi  berbentuk komunitas.  Mereka  mengadakan  diskusi  pertama  kali  pada  1 Mei  2013. Ketua  UKMF  Sudut Kampus  FIS  UNP,  Zorino Farica  S.,  mengatakan bahwa  dalam  penyelenggaraan  diskusi  terdapat  beberapa  metode yang  digunakan.  Di  antaranya,  diskusi  kelompok  mahasiswa,  diskusi kecil,  dan  diskusi  publik. Pada  Oktober  lalu,  Sudut Kampus  mengadakan diskusi  panel  tentang mengenal  sejarah  dan ideologi  PKI  serta  ancaman  bagi  kedaulatan

NKRI. Lebih lanjut,  Zorino mengungkapkan,  mahasiswa  sangat  antusias mengikuti  diskusi  yang diselenggarakan.  “Mereka  juga  ingin  tahu jadwal  diskusi  Sudut Kampus,  apalagi  jika  isunya  menarik,”ujarnya, Sabtu  (24/12). S u d u t Kampus  juga membuka  peluang  bagi mahasiswa untuk  mendiskusikan sebuah  isu  dengan  syarat membawa  referensi  dari  isu  tersebut. “Jadi  isunya  tidak    dari Sudut  Kampus  saja, ”jelasnya.  Setelah  diskusi,  hasilnya  akan  ditempelkan  di  mading  dan juga  ditampilkan  di  beberapa  situs  milik  Sudut Kampus. Saat  ini,  Sudut  Kampus  beranggotakan  20 orang  dan  sekarang  dalam  proses  perekrutan anggota.  Zorino  berharap,  Sudut  Kampus mampu  memberikan ilmu  bagi  mahasiswa, khususnya  mahasiswa FIS  UNP.  Resti

Galeri Investasi  Bursa Efek  Indonesia  (GIBEI)  Fakultas  Ekonomi  (FE)  Universitas  Negeri  Padang mengadakan  Seminar  Pasar  Modal  di  Auditorium Prof.  Kamaluddin  FE  UNP, Sabtu  (26/11).  Acara    dihadiri  oleh  Kepala  Kantor Bursa  Efek  Indonesia  Cabang  Padang,  Reza  Shadat, S.E.,  MM.,  dan  Direktur Corporate  Finance  PT. Panin  Securitas  serta  dua pemateri  dari  Advisory  & Education  Panin  Securitas dan  Co-Faunder  Investor Saham  Pemula  Indonesia. Direktur  Utama  GIBEI FE  UNP,  Ricky  Savega  me-

nyampaikan, seminar  ini merupakan  salah  satu rangkaian  Gebyar  GIBEI 2016.  Gebyar  ini  bertujuan  untuk  mencapai  visi GIBEI,  yakni  sarana  edukasi  dan  sosialisai. Reza  Shadat,  S.E.,  MM., menyampaikan,  semua pengusaha  dan  investor pasti  pernah  mengalami rugi.  Tetapi,  saat  rugi  ia belajar  agar  tidak  mengulang  kesalahan  yang  sama.  Jika  ingin  sukses,  harus  selalu  belajar  dan  jangan  pernah  takut  untuk gagal.  “Karena  gagal  ialah kesuksesan  yang  tertunda,”  ujarnya.  Gezal*

2015 sebagai  pemateri. Ketua  pelaksana,  Selma  Jesti  Rahayu  mengatakan,  acara  ditujukan bagi  muslimah  agar  menjadi  kaum  berintelektual karena  wanita  adalah  guru  pertama  untuk  anakanaknya  kelak.  “Diharapkan  muslimah  semakin semangat  meningkatkan intelektual  sehingga    menjadi  inspirasi  bagi  muslimah  lain,”  ujarnya. Peserta,  Nurjannah, mengatakan  bahwa  selain menambah  pengetahuan, talkshow  ini  memotivasi untuk  terus  mengembangkan  potensi.  Laila*

Pelantikan Pengurus Himpunan Mahasiswa Teknik  Elektro  (HMTE)  Fakultas  Teknik  (FT)  Universitas  Negeri  Padang  (UNP) mengadakan  Pelantikan Pengurusan  periode  20162017  di  lantai  2  Gedung PKM  FT  UNP,  Jumat  (16/ 12).  Pelantikan  ini  dihadiri  oleh  Ketua  Jurusan  Teknik  Elektro,  Drs.  Hambali, M.Kes.. Ketua  umum  HMTE  FT UNP  periode  2016-2017, Muhammad  Rizki  mengatakan  bahwa  setelah  pelantikan  akan  dilaksanakan  rapat  kerja  disusul Training  Dasar  Organisasi untuk  pengurus.  Ia  ber-

pesan agar  mahasiswa elektro  tak  lupa  pada  himpunan.  “Belajarlah  dan raihlah  prestasi,  namun jangan  lupakan  himpunan  jurusan  sendiri,”  ujarnya. Senada  dengan  itu, Hambali  berpesan  kepada pengurus  agar  dapat membagi  waktu  dengan baik,  berkomitmen,  dan sebagai  mahasiswa  jangan sampai  lalai  dalam  perkuliahan.  Ia  juga  berharap pengurus  baru  minimal pencapaiannya  sama dengan  pengurus  sebelumya,  kalau  dapat  lebih baik.  Hamid

BEM FE

FE Expo Badan Eksekutif  Mahasiswa  (BEM)  Fakultas  Ekonomi  (FE)  Universitas  Negeri  Padang  (UNP)  bekerja sama  dengan  ikatan  mahasiswa  bidikmisi  FE  UNP, gelar  Expo  di  depan  Gedung FE,  Kamis  (8/12). Wakil Dekan III FE, Efrizal  Syofyan,  SE,  M.Si,  Ak., mengatakan,  Expo  adalah kegiatan  lanjutan  Mata Kuliah  Kewirausahaan  bagi  mahasiswa  semester  lima.  “Teorinya  diajarkan di  kelas,  praktik  dilakukan di  lapangan,”  ujarnya. Lebih  lanjut,  ia  menjelaskan,  banyak  manfaat dari  berwirausaha,  seperti

menciptakan lapangan kerja,  membantu  pemerintah  untuk  mengurangi angka  pengangguran,  serta  dapat  mengurangi  angka  kemiskinan. Expo  ini  diikuti  oleh 160  kelompok  dan  berlangsung  dua  hari.  Per harinya  ada  80  kelompok yang  turun  ke  lapangan. Peserta  Expo,  Agsa  Sadila  mengatakan,  acara  ini dapat  melatih  mahasiswa turun  ke  lapangan  dan mempromosikan  dagangannya.  Mahasiswa  juga dituntut  bekerjasama  dengan  rekan  satu  tim. Wildan*

BEM UNP

KSR PMI

Talkshow Muslimah Unit Kegiatan  Kerohanian  (UKK)  Universitas Negeri  Padang  (UNP)  adakan  Muslimah  Expo  bertema  Mewujudkan Muslimah Intelektual Menuju Peradaban Cemerlang  di  Aula Batalyon  Infanteri  133/ Yudha  Sakti-Yonif  133 Padang,  Minggu  (4/12). Acara  diikuti  150  peserta  dari  perguruan  tinggi  di Padang.  Menghadirkan Eka  Restianingsih,  Top  5 Competition  Owner  Shayma  Boutiqe  dan  Afnesha Noveriana  Chang  S.Pd., M.A.,  Awarde  LPDP  Studi Master  di  University  Of Leeds,  United  Kingdom

Seminar Pasar Modal

HMTE FT  UNP

BEM FIS

Badan Eksekutif  Mahasiswa  (BEM)  Fakultas  Ilmu Sosial  (FIS)  Universitas Negeri  Padang  (UNP)  adakan  Uji  Materi  Petunjuk Pelaksanaan  Pemilihan Umum  Gubernur  dan  Wakil  Gubernur  BEM  FIS  UNP Periode  2016-2017,  Rabu (30/11).  Kegiatan  yang berlangsung  di  Ruang  Dekanat  FIS  UNP  ini  dihadiri oleh  perwakilan  Himpunan  Mahasiswa  Jurusan (HMJ)  selingkungan  FIS. Ketua  Badan  Perwakilan  Mahasiswa  FIS,  Eki Andro  dalam  sambutannya  mengatakan  bahwa uji  materi  ini  diselengga-

GIBIE FE

MUBES ke XXIII Korps SukaRela  (KSR) Palang  Merah  Indonesia (PMI)  Universitas  Negeri Padang  (UNP)  menyelenggarakan  Musyawarah  Besar  (Mubes)  ke  XXIII. Acara  ini  dilaksanakan  di Ruang  Sidang  Pusat  Kegiatan  Mahasiswa  (PKM) UNP  mulai  dari  Kamis hingga  Sabtu  (15-17/12). Acara  yang  mengusung  tema  Bulatkan Tekad, Pastikan Langkah, Menuju KSR yang Bersinergi  ini dihadiri  oleh  51  orang dari  berbagai  unit  kegiatan  selingkup  UNP  dan Unit  KSR  PMI  Universitas se-Kota  Padang.

Acara dibuka  oleh  Kepala  Sub  Bagian  Minat  dan Bakat  Kemahasiswaan UNP,  Syamsul  Bahri,  S.Pd.. Ia  mengatakan,  keberadaan  Unit  Kegiatan  Mahasiswa  (UKM)  merupakan  salah  satu  penilaian  guna meningkatkan  akreditasi universitas.  “Dari  100% penilaian  akreditasi,  10% diambil  dari  kegiatan  mahasiswa  seperti  acara  yang diselenggarakan  oleh  berbagai  UKM  di  UNP,”  ujarnya. Ketua  pelaksana,  Pebri Gandi  Saputra  berharap agar  KSR  PMI  lebih  baik lagi  ke  depannya.  Wildan*

National Training Badan Eksekutif  Mahasiswa  (BEM)  Universitas Negeri  Padang  (UNP). gelar  National  Traning  The Art of Communication  di Aula  Fakultas  Ilmu  Keolahragaan  UNP,  Sabtu ( 1 7 /1 2 ) . Acara  yang  diiikuti 157  peserta  ini  menghadirkan  tiga  pemateri,  yaitu  Instruktur  Publik Speaking  Pemilihan  Duta  Keselamatan  Jalan  Tingkat  Nasional  2011-2015,  Mukhlis Anwar,  Ketua  Umum  Inspirator  Indonesia,  Arif  Himawan,  dan  Mahasiswa Berprestasi  UNP  2015, Mughni  Bustari.

Ketua pelaksana,  M. Ikhsanul  Arifin  menyampaikan,  kegiatan  bertujuan  membekali  dan  meningkatkan  ilmu  komunikasi  mahasiswa.  Sebab mahasiswa  selaku  agen perubahan  harus  mampu mewujudkan  pribadi    hebat  sebagai  komunikator handal  dan  unggul  serta membangun  citra  positif. Presiden  Mahasiswa UNP,  Muhammad  Haris Sabri  menyampaikan, acara  ini  membekali  mahasiswa  agar  lebih  progres dalam  berkomunikasi  baik intra  maupun  ekstra  kampus.Alfendri*


Edisi No. 194/Tahun XXVII

SEPUTAR MAHASISWA 19

51.94% Mahasiswa Setuju Penambahan Jam Buka Perpustakaan

Hai pembaca  setia Ganto! Perpustakaan  memiliki  peran  strategis  dalam  eksistensi pendidikan  tinggi.  Peraturan  Pemerintah  Indonesia  pasal  40  tentang pendidikan  tinggi  menegaskan  bahwa  perpustakaan  merupakan unsur  penunjang  pendidikan  tinggi.  Perpustakaan  mempunyai peranan  penting  sebagai  jembatan  menuju  penguasaan  ilmu,  selain itu  juga  sebagai  tempat  rekreasi  yang  menyenangkan  (Pudjiono, 2013). Hal  ini  dapat  diartikan  bahwa  perpustakaan  merupakan sesuatu  yang  harus  ada  untuk  kesempurnaan  sesuatu  yang ditunjang,  salah  satunya  dari  segi  pelayanan.  Termasuk  juga  dengan perpustakaan  yang  ada  di  UNP.  Perpustakaan  UNP  telah  menyediakan  layanan  selama  hari  kerja  dari  pukul  07.00-16.00  WIB. Beranjak  dari  hal  tersebut,  bagaimana  tanggapan  Anda  selaku mahasiswa  UNP  terhadap  jadwal  pelayanan  perpustakaan  UNP? Perkembangan  pendidikan saat  ini  menuntut  peranan  perpustakaan  sebagai  salah  satu komponen  penunjang  kesuksesan  kegiatan  pembelajaran.  Perpustakaan  merupakan  suatu unit  kerja  berupa  tempat  penyimpanan  koleksi  pustaka  yang diatur  secara  sistematis  dengan cara  tertentu  untuk  digunakan berkesinambungan  oleh  pemakainya  sebagai  sumber  informasi (Milburga, 1986).  Perpustakaan juga  merupakan  lembaga  yang inti  kegiatannya  adalah  layanan  dengan  cara  menyesuaikan dengan  kepentingan  dan  kebutuhan  pelanggannya,  sehingga arti  pelanggan  bagi  sebuah  perpustakaan  sangatlah  penting bagi  eksistensi  suatu  lembaga. Mengelola  perpustakaan    berkualitas  adalah  salah  satu  syarat menuju  universitas  riset.  Perpustakaan  tidak  hanya  menjadi fasilitas  pelengkap.  Perpustakaan  mendorong  sivitas  akademika melakukan  penelitian-penelitian.  Di  sinilah  peran  perpustakaan,  yaitu  sebagai  media  transfer informasi  kepada  seluruh  masyarakat  kampus. Menurut  Direktorat  Jendral Pendidikan  Tinggi  (2004),  fungsi perpustakaan  perguruan  tinggi adalah  sebagai  berikut.  Pertama, fungsi  edukasi.  Perpustakaan  merupakan  sarana  tempat belajar  bagi  mahasiswa,  oleh karena  itu  koleksi  yang  tersedia harus  mendukung  pencapaian tujuan,  proses,  dan  evaluasi pembelajaran.  Kedua, fungsi informasi.  Perpustakaan  merupakan  sumber  informasi  yang mudah  diakses  oleh  pencari  dan pengguna  informasi. Ketiga, fungsi  riset.  Perpustakaan  menyediakan  bahan-bahan  primer  dan  sekunder  yang dapat  dijadikan  sebagai  bahan untuk  melakukan  penelitian  dan pengkajian  ilmu  pengetahuan, baik  di  bidang  teknologi  maupun seni.  Keempat, fungsi  rekreasi. Perpustakaan  juga  harus  menyediakan  kumpulan  karya  kreatif yang  bermakna  untuk  membangun  minat  serta  daya  inovasi pengguna  perpustakaan  tersebut. Kelima, fungsi  publikasi. Perpustakaan  selayaknya  turut membantu  melakukan  publikasi karya  yang  dihasilkan  oleh mahasiswa  dan  sivitas  akademika  lainnya.  Keenam, fungsi deposit.  Perpustakaan  dapat menjadi  pusat  deposit  untuk seluruh  karya  dan  pengetahuan yang  dihasilkan  oleh  sivitas akademika  perguruan  tinggi yang  bersangkutan.  Ketujuh, fungsi  interpretasi.  Perpustakaan  perguruan  tinggi  seharusnya melakukan  kajian  dan  mem-

berikan nilai  tambah  terhadap sumber-sumber  informasi  yang ada  padanya  untuk  melakukan k ewaj i bann y a. Dengan  demikian,  perpustakaan  perguruan  tinggi  dapat mendukung  berjalannya  proses pembelajaran  dengan  menyediakan  informasi  yang  dibutuhkan  oleh  para  penggunanya.  Selain  itu  beroperasinya  perpustakaan  perguruan  tinggi  ini  merupakan  salah  satu  bentuk  terwujudnya  tridarma  perguruan  tinggi. Selain  memiliki  fungsi  yang telah  dijelaskan  di  atas,  perpustakaan  juga  bertujuan  untuk menyediakan  layanan  yang dibutuhkan  oleh  penggunanya. Jenis  layanan  yang  diberikan dapat  berupa  layanan  sirkulasi, layanan  pinjam  antarperpustakaan,  layanan  referensi,  layanan  pendidikan  pengguna,  serta layanan  penelusuran  informasi. Pelayanan  perpustakaan  apabila ditinjau  dari  segi  kegiatannya, maka  terdapat  dua  jenis  layanan di  perpustakaan,  yaitu    layanan teknis  yang  meliputi  pengolahan dan  pelayanan  perpustakaan sebagai  layanan  pengguna. Berdasarkan  UU  No.  43  tahun  2007  pasal  14  bagian  pertama  dijelaskan  bahwa  layanan perpustakaan  dilakukan  secara prima  dan  berorientasi  bagi  kepentingan  pemustaka  atau  pengunjung,  termasuk  juga  di  sini jam  buka  perpustakaan  tersebut.  Jam  buka  perpustakaan  disesuaikan  dengan  kebutuhan kegiatan  para  pemustaka  sendiri,  yang  berdasarkan  standar nasional  layanan  perpustakaan, yaitu  sekurang-kurangnya  lima puluh  empat  jam  per  minggu. Beranjak  dari  layanan  perpustakaan  terkait  jam  berkunjungnya,  Surat  Kabar  Kampus (SKK)  Ganto  Universitas  Negeri Padang  melakukan  jejak  pendapat  dalam  bentuk  polling  yang disebarkan  oleh  bagian  Riset Subdivisi  Penelitian  dan  Pengembangan  terkait  dengan pendapat  mahasiswa  tentang jam  layanan  perpustakaan  UNP. Polling  yang  disebar  berupa  angket  yang  terdiri  dari  lima  pertanyaan,  teruntuk  800  mahasiswa  UNP.  Data  angket  didapatkan  dari  metode  random sampling yang  diambil  secara  accidentil. Berdasarkan  angket  yang  telah  disebarkan,  dapat  terangkum  bahwa  dari  keseluruhan responden,  persentase  tertinggi untuk  kunjungan  mahasiswa  ke perpustakaan  ada  pada  pilihan pertama,  yaitu  hanya  satu  kali dalam  seminggu,  yakni  sebanyak  30.76%.  Lalu  jumlah  persentase  mahasiswa  yang  berkunjung  2  hingga  lebih  dari  3  kali  da-

lam seminggu  masing-masingnya  hanya  sebesar  23.71%. Selanjutnya,  ketika  ditanyakan  melalui  angket  terkait jam  kunjungan  mahasiswa  ke perpustakaan,  dapat  terlihat bahwa  mahasiswa  sering  berkunjung  ke  perpustakaan  UNP pada  pukul    09.40  hingga  12.00 WIB,  yaitu  45.15%.  Kemudian, 40.01%  dari  seluruh  responden berkunjung  ke  perpustakaan pada  pukul  13.20  WIB  hingga pukul  15.00  WIB.  Sisanya,  responden  berkujung  ke  perpustakaan  pada  pagi  dan  sore  hari. Kurangnya  intensitas  kunjungan  mahasiswa  ke  perpustakaan  kampus  menurut  hasil angket,  yaitu  sebanyak  52.25% responden  menyatakan  penyebabnya  adalah  padatnya  jadwal kuliah  dan  jadwal  tersebut  juga bertepatan  dengan  jam  buka layanan  perpustakaan.  Kemudian  responden  yang  berpendapat

demikian juga  berpendapat  bahwa  jam  kunjungan  ke  perpustakaan  hendaknya  ditambah. Hal  ini  juga  diungkapkan  oleh mahasiswa  Jurusan  Teknik  Informatika  TM  2014,  Deza  Ilham Ardiansyah,  yang  dimuat  pada rubrik  surat pembaca SKK Ganto Edisi  193. Ia  berharap  adanya jam  buka  tambahan  untuk  layanan  perputakaan. Kemudian,  pada  hasil  polling, sebanyak  51.94%  responden menyatakan  setuju    diadakannya  penambahan  jam  kunjungan  ke  perpustakaan.  Lebih  dari seperempat  responden  bahkan sangat  setuju  dengan  hal  tersebut.  Menanggapi  harapan  mahasiswa  demikian,  Drs.  Yurnaldi, M.Si.,  kepala  perpustakaan  menyatakan  kesiapannya  untuk hal  tersebut,  dengan  konsekuensi  adanya  uang  lembur  dan menjaga  ketertiban  serta  keamanan  kampus  (Ulasan  Surat

Pembaca SKK Ganto Edisi  193). Selanjutnya,  hasil  jajak pendapat  terhadap  pendapat mahasiswa  terkait  solusi  yang dapat  diambil  oleh  pihak  kampus  jika  jam  buka  perpustakaan ditambah,  yaitu  26.38%    responden  menyatakan  bahwa petugas  perpustakaan  tetap bertugas  hingga  malam  hari, namun  dengan  gaji  tambahan sebagai  uang  lembur.  Kemudian  25.76%  responden  berpendapat  bahwa  pihak  kampus dapat  memanfaatkan  kinerja mahasiswa  pada  waktu-waktu tertentu  sebagai  petugas  perpustakaan  setelah  jam  dinas  pegawai  selesai.  Selain  itu,  22.69% responden  berpendapat  bahwa menambah  jam  buka  perpustakaan,  lalu  menambahkan  tim satuan  pengamanan  kampus untuk  berpatroli  di  sekitar  gedung  perpustakaan  untuk  menjaga  keamanan  perpustakaan.*


SASTRA BUDAYA

20

Cerpen

Edisi No. 194/Tahun XXVII

Asap yang Selalu Mengepul Oleh Tesa Darma sepi, Andung  Inah  menjawab, “Sudah  terlambat.” Aku  juga  pernah  bertanya kepadanya  kenapa  dia  tidak tinggal  sama  anaknya.  Sambil menyeka  sudut  mata,  Andung Inah  pun  menjawab,  “Sudah terlambat.” Dan,  ketika  aku  bertanya kepadanya  kenapa  Andung  tidak mencari  Angku  yang  baru.  Sambil  tertawa  terpingkal-pingkal, barulah  Andung  Inah  memberi jawaban  dengan  kalimat  lain. “Sudah  beruban,  sudah  keriput, sudah  tidak  cantik  seperti  dulu.” Aku  ikut  tertawa.  Bukan  karena  jawabannya.  Tapi,  karena wajah  tertawa  Andung  Inah yang  lucunya  minta  ampun. Aku  dan  Andung  Inah  adalah tetangga.  Jarak  rumahku  hanya lima  rumah  dari  rumah  Andung Inah.  Aku  sering  pergi  main  ke rumah  Anduang  Inah,  sebab  dia suka membuat  kue.  Hampir setiap hari,  ada  saja  kue  yang  dia  buat. Tujuh  belas  tahun  umurku  dan aku  tetap  sering  ke  sana.  Sayangnya,  hanya  aku  yang  mau  pergi ke  rumah  Andung  Inah.  Temantemanku  selalu  menolak.  Mereka beralasan  tidak  ada  televisi  di sana. Meski  demikian,  alasan  utamaku  pergi  main  ke  rumah Andung  Inah  bukan  hanya  sekadar  ingin  mengecapi  kue  buatannya  yang  lezat.  Ada  hal  yang jauh  lebih  berharga  dari  itu,  yaitu ilmu.  Andung  Inah  suka  bercerita denganku  tentang  kehidupan, tentang  apa  saja  yang  mesti kuketahui. Dan  pada  hari  itu,  Andung Inah  bercerita  tentang  masa mudanya.  Sebelum  bercerita,  dia memberiku  peringatan  garis keras.  “Jangan  ditiru,  ya  Nak! Kalau  ditiru,  nanti  kamu  tidak bahagia  waktu  sudah  tua,”  katanya  mengingatkan. Aku  mengernyit.  “Jadi,  Andung  Inah  tidak  bahagia  sekarang?”  tanyaku  sambil  menatapn y a. Kulihat  matanya  meneduh. “Selama  ada  Aini,  Andung  selalu bahagia,”  jawabnya  dengan  seulas  senyuman.

Dia kemudian  mulai  bercerita. Aku  duduk  dengan  patuh  di  hadapannya.  Mendengarkan  dan sesekali  melontarkan  pertanyaan. *** Semenjak  SD  hingga  SMP, Andung  Inah  adalah  murid  paling pintar  di  sekolahnya.  Dia  selalu mendapat  peringkat  pertama  di kelasnya.  Dia  pun  berhasil  lulus dengan  rasa  bangga  yang  masih menaunginya  hingga  sekarang. Melihat  kepintaran  Andung Inah,  orangtuanya  pun  berniat mengirimkannya  sekolah  ke  Padang.  Andung  Inah  pun  melan-

Grafis: Doly Andhika

Aku mengamati  Andung  Inah yang  sedang  asyik  mengisap  rokok kretek.  Sebersit  rasa  kagum  muncul  melihat  betapa  lajunya  ia mengisap  tembakau  di  usianya yang  sudah  enam  puluh  tahun. Sedangkan  suaminya,  Angku Bidin,  sudah  meninggal  dua  tahun lalu  karena  kanker  paru-paru. Padahal,  Angku  Bidin  seusia  dengan  Andung  Inah,  dan  mereka sama-sama  merokok  sejak    muda. “Nanti  paru-paru  Anduang jadi  hitam,”  komentarku,  entah sudah  yang  keberapa  kalinya. Kulihat  selintas  tawa  di  wajah Andung  Inah  yang  sudah  keriput. Tubuhnya  sudah  tinggal  tulang dan  pipinya sudah kendor.  Kendati begitu,  siapa  pun  yang  melihat pasti  bisa  menebak  betapa  cantiknya  dia  di  masa  mudanya  dulu. “Di  sini  sudah  gelap  juga, Aini,”  ujarnya  sambil  menunjuk dadanya. Aku  tertawa  getir.  “Kalau yang  itu  gelap,  kasih  saja  lampu penerangan,  Andung,”  celotehku Andung  Inah  hanya  menggeleng-geleng  ringan  sambil  mengisap  kembali  rokok  kreteknya yang  tinggal  satu  ruas  jari.  Sejurus kemudian,  kudapati  raut  wajah Andung  Inah  berubah.  Kini,  gelap tak  hanya  bernaung  di  rongga dadanya.  Tetapi,  sudah  merembes ke  raut  wajahnya. Andung  Inah  lalu  menyambar  rokok  kretek  yang  baru  dan menyulutnya.  Setelah  tiga  kali menghisap  dan  menghembuskan asap,  dia  pun  berujar  dengan lambat  seolah  hendak  melepaskan beban  berat  yang  selama  ini  ditanggungnya.  “Sudah  tua  begini, sudah  terlambat.” Terlambat?  Apa  maksudnya? Aku  tidak  mengerti  letak  batas terlambat  bagi  Andung  itu  di mana.  Tetapi,  begitulah  dia!  Jika aku  bertanya  sesuatu  tentang dirinya,  Andung  Inah  selalu  menjawab  bahwa  dia  sudah  terlambat. Hal  ini  seolah  sudah  menjadi  ciri khasnya. Suatu  waktu,  aku  pernah bertanya  kepadanya,  kenapa  di usia  tuanya  ini  dia  jarang  sekali tampak  pergi  ke  surau.  Sambil memandang  jalan  setapak  yang

jutkan pendidikan  SMA  di  sana. Orangtuanya  berharap,  pendidikan  di  kota  bisa  membuat  anak mereka  menjadi  orang  besar. Selama  di  Padang,  Andung  Inah tinggal  di  tempat  kos.  Orangtuanya pun  percaya  bahwa  dia  akan  baikbaik  saja. Dua  tahun  pertama  di  Padang, Andung  Inah  rajin  rajin  pulang  ke kampungnya  di  Pariaman.  Setidaknya  sekali  sebulan.  “Untuk minta  uang  dan  kebutuhan  lainnya,”  ujarnya  dengan  diikuti  tawa terkekeh. Di  SMA,  Andung  Inah  juga berhasil  meraih  peringkat  pertama  dan  menjadi  salah  satu  murid yang  diperhitungkan.  Tapi,  ujian datang  di  tahun  terakhir  masa sekolah.  Bukan  ujian  akhir,  tapi ujian  lain.  “Ujian  yang  datang  dari pergaulan,”  imbuhnya. Andung  Inah  berhasil  termakan  bujuk  rayu  teman-temannya.

Perlahan, ia  mulai  melu-pakan sekolah  dan  jarang  masuk  kelas. Andung  Inah  melepaskan  ajaran agama  yang  ditanamkan orangtuanya.  Andung  Inah  melepas  kerudungnya  dan  meninggalkan  salat.  Andung  Inah  memasuki  masa  di  mana  gejolak  jiwa muda  menghantam  keras  ingin keluar.  Ia  belajar  pacaran,  merokok,  dan  pergi  ke  tempat-tempat hibu ran. Ia  berhenti  sekolah  tepat  sebelum  ujian  akhir.  Orang  tuanya pun  tidak  tahu  kalau  dia  bertindak  seperti  itu.  Setiap  kali  surat panggilan  orang  tua  tiba  di  tangannya,  Andung  Inah  selalu merobeknya.  Sejak  berhenti  dari sekolahnya,  saat  itulah  penyesalannya  dimulai. “Kenapa  tidak  langsung taubat  saat  mulai  menyesal?” tanyaku  sewaktu  Anduang  Inah berhenti  bercerita  beberapa  saat. Andung  Inah  mengisap  rokok kreteknya  lagi  sambil  menatap lantai.  “Setiap  mau  berubah, godaan  yang  lebih  besar  justru datang  dan  membuat  situasi semakin  rumit.” Andung  Inah  lalu  melanjutkan  ceritanya.  Sewaktu  dia  mau pulang  ke  kampung  untuk  meminta  maaf  pada  orangtuanya, dia  secara  tidak  sengaja  bertemu oleh  Angku  Bidin.  Mereka  bertemu di  terminal.  Mereka  lalu  berkenalan  dan  saling  jatuh  hati. Andung  Inah  pun  membatalkan  niatnya  pulang  karena Angku  Bidin—dengan  segenap rayuan  dan  janji—menahannya pergi. Angku  Bidin  juga  berasal  dari Pariaman,  satu  kampung  dengan Andung  Inah.  Itulah  salah  satu alasan  kuat  kenapa  Andung  Inah tak  menaruh  ragu  padanya.  Rasa percaya  itulah  yang  membawa mereka  dalam  hubungan  yang lebih  rumit.  Hamil  di  luar  nikah dan  ijab  kabul  dadakan  demi menutup  aib. Aku  sekarang  sudah  tujuh belas  tahun  dan  sudah  bisa  mencerna  cerita  serumit  itu.  Aku kaget  karena  baru  tahu  Andung Inah  dulunya  seperti  itu.  Padahal, dari  kecil  aku  selalu  bermain  di

ru mah n y a. “Tapi, Andung  dan  Angku saling  cinta,  ‘kan?”  tanyaku memastikan. Aku  sepertinya  salah  bertanya.  Karena  kutangkap  raut pilu  di  wajah  senjanya. “Ya,  kami  saling  cinta,”  katanya.  “Bukan  cinta  yang  dewasa, tapi  cinta  yang  dirajut  sebelum waktunya.  Membuat  jalan  ke depannya  tidak  pernah  mulus.” “Tapi  bisa  tahan  bertahuntahun,”  gumamku. “Terlalu  banyak  keputusan salah  yang  Andung  pilih.  Berpisah bukan  jalan  keluar,”  jawabnya dengan  suara  yang  lebih  yakin dari  sebelumnya. Andung  Inah  lalu  melanjutkan  ceritanya.  Tentang  hari-hari sulit  yang  ia  lalui  di  Padang bersama  suaminya.  Tanpa  campur  tangan  keluarga,  tanpa  di ketahui  kerabat.  Semuanya  berlanjut  sampai  anak  tunggal  kabur dari  rumah. Andung  Inah  punya  satu  anak laki-laki.  Ia  kabur  dari  rumah sewaktu  SMA  karena  tidak  tahan dengan  pertengkaran  orangtuanya.  Anduang  Inah  mencarinya  selama  lima  tahun,  namun tak  berhasil  menemukannya. Ia  akhirnya  memutuskan pulang  ke  kampung  bersama Angku  Bidin. Saat  itulah,  penyesalan  mencapai  puncak  tertingginya. Orangtua  Andung  Inah  sudah meninggal  karena  sakit-sakitan. “Rasanya,  sudah  tak  terhitung  berapa  banyak  kesalahan nenek  tua  ini,”  ujar  Andung  Inah, lebih  pada  dirinya  sendiri. Aku  menyentuh  lengan  kurusnya.  “Tidak  pernah  ada  kata terlambat  untuk  bertaubat.” Andung  Inah  tersenyum,  tapi matanya  tidak. “Janji,  ya?  Jangan  ditiru.  Dan Aini  tidak  boleh  menceritakan kisah  Andung  ini  kepada  orang lain.  Cukup  saja  kamu  yang  tahu dan  pernah  mendengar  ceritanya langsung  dari  Anduang.” Aku  mengangguk  sambil  menyeka  air  mata  yang  jatuh  di sudut  wajahnya. ***

CATATAN BUDAYA

Klakson Oleh Maida Yusri Mahasiswa Jurusan Teknik Elektronika TM 2014 Klason ialah  alat  yang  digunakan  sebagai  media  bagi  kendaraan bermotor  untuk  berkomunikasi, baik  kendaraan  roda  dua  maupun roda  empat.  Klakson  menjadi penanda  atau  peringatan  bagi kendaraan  lainnya.  Dalam  Peraturan  Pemerintah  Nomor  44  Tahun  1993,  pada  Pasal  70  disebutkan  bahwa  klakson  merupakan salah  satu  komponen  wajib  bagi kendaraan  bermotor.  Pada  Pasal 71  dijelaskan  fungsi  klakson  sebagai  isyarat  peringatan  dari  pengemudi  kepada  pengemudi  yang lain. Baru-baru  ini,  klakson  tengah menjadi  perbincangan,  mulai  dari anak-anak  sampai  pada  orang tua,  mulai  dari  artis  sampai  orang biasa.  Meski  klakson  memiliki bunyi  yang  bervariasi,  namun hanya  satu  yang  mampu  me-

narik perhatian,  yaitu  telolet. Istilah  “Om  telolet  Om”  menjadi  populer  dan  viral  di  tengah masyarakat,  tak  hanya  Indonesia,  namun  juga  dunia.  Bermula dari  seorang  anak  kecil  yang  baru pulang  sekolah  berdiri  di  pinggir jalan,  kemudian  berteriak,  “Om telolet  Om”  dengan  kerasnya. Ada  juga  anak  kecil  yang  sambil memegang  kertas  bertuliskan “Om  telolet”.  Teriakan  itu ditujukan  pada  sopir  bus  yang melintas  agar  membunyikan klakson  dengan  bunyi  telolet. Bunyi  tersebut  menjadi  hiburan bagi  anak-anak,  bahkan  demi mendengarkan  klakson  telolet, anak-anak  rela  menunggu  di  tepi jalan  dengan  kebahagian. Mungkin  sebagian  orang  ada yang  mengatakan  bahwa  hal  ini adalah  sebuah  hal  yang  norak,

tidak lucu,  dan  tidak  perlu  di populerkan.  Tapi  nyatanya  hal  itu bisa  membuat  anak-anak  bangsa ini  bahagia  ketika  mengucapkannya.  Keadaan  ini,  seakan  menunjukan  tidak  adanya  wadah hiburan  bagi  anak.  Sampai-sampai  klakson  menjadi  kesenangan. Jika  dibandingkan  keadaan  dulu dengan  sekarang,  tentu  telah menunjukan  kemajuan.  Namun, kemajuan  itu  semakin  mengusik ranah  bermain  anak. Dalam  proses  kehidupannya anak-anak  tidak  hanya  membutuhkan  hak  hidup  namun  hak bermain  dan  belajar  di  lingkungan yang  nyaman.  Ruang  bermain bagi  anak  dinilai  sangat  berpengaruh  positif  untuk  meningkatkan  wawasan  dan  menstimulasi  perkembangan  kognitif, motorik,  sensorik  dan  emosional.

Minimnya ruang  bermain  menyebabkan  anak  lebih  bergantung  pada  hal-hal  instan  atau praktis  seperti  gadget  dan  media online  lainnya. Tidak  hanya  anak-anak.  Orang  tua  pun  ikut  menikmati  fenomena  “telolet”  ini.  Bahkan  sopirsopir  truk  rela  mengganti  klakson mobilnya  dengan  klakson  yang berbunyi  “telolet”.  Secara  sosiologis,  mencuatnya  kejadian  sederhana  yang  kemudian  viral  tersebut  terjadi  akibat  adanya  kejenuhan  hidup  yang  dirasakan masyarakat. Keadaan  ini  semakin  memperjelas,  kurangnya  perhatian orang  tua  dan  pemerintah  terhadap  hak  yang  dimiliki  anak sebagai  seorang  warga  negara.  Orang  tua  sebagai  orang  yang  memberikan  perhatian  dan  kasih  sa-

yang, tidak  menjalankan  kewajiban  karena  tuntutan  pekerjaan. Sedangkan  pemerintah  adalah pihak  yang  berkewajiban  untuk menyediakan  lahan  terbuka  sebagai  tempat  bermain.  Semestinya 30  persen  dari  ruang  publik disediakan  bagi  taman  terbuka hijau,  sesuai  Rencana  Umum  Tata Ruang  Kota. Akibat  dari  hal  tersebut,  si anak  berusaha  mencari  kesenangan  lain,  salah  satunya  seperti fenomena  “telolet”  tersebut.  Padahal  tindakan  tersebut  bisa membahayakan  anak-anak.  Seperti  Klakson  yang  berfungsi sebagai  pengingat,  fenomena  ini juga  seakan  memberi  peringatan kepada  orang  tua  maupun  pemerintah  bahwa  anak-anak  membutuhkan  perhatian  yang  lebih, tak  sekadar  kenyamanan  sesaat.


SASTRA BUDAYA

Edisi No. 194/Tahun XXVII

21

Sajak Dini ini, Akhir yang Basah

Si Malam

Wahai akhir, Kenapa dini ini kau basah? Setiap fajar kau selalu menangis Apa yang membuatmu sedih? Adakah sandaranku dapat menolongmu? Bisakah kita bernegosiasi? Aku ingin berbincang lebih lama lagi bersamamu Tapi kau selalu menangis Adakalanya kucoba tuk ikuti gemercikmu Jatuh, bergulir di setiap sudut mata Tak jarang aku ikut dingin bersamamu Terlelap jauh bersama dinimu Basah ini, dingin ini, dan gemercik ini Kan kulukiskan di celah cakrawala Wahai akhir, Akankah kau melukis indah bersamaku, di celah cakrawala itu Sudikah kau menghiasi lukisanku dengan tejamu? Kenapa kau diam? Bukan, Kenapa kau kau selalu diam? Kau selalu saja menutup mulut Membungkam, diam, bisu, dan membatu Selalu itu kau lakukan atas semua perbincangan ini Tapi aku yakin Akan ku temukan sahutan itu Di ujung tangismu.

Si malam memang agak terlambat Semakin gelap dalam deruman pekat Sedikit semampai tapi jenuh idealisme syarat Terlebih sang pujaan elok menatap lekat

Oleh Wildan Firdaus

Coretan Senja di Langit Legit

Kerlap-kerlip rupa arinya berniat hilang Lalu melangkahi kedalaman cerita derita siang Hendak bergumam meski waktunya diguncang Datang sendiri menggenggam kesepian terang Malam sedikit lagi hampir menghampiri Di kejauhan sempoyongan menegakkan keabadian diri Beringsut-ingsut, menyeret gontai langkah si kaki Sepertinya masih dalam mabuk keanggunan jelita mimpi

Oleh Syah Muhammad Igavalevi Siregar

Verpassen Senyummu yang awet menempel di dinding hati seakan memudar. Tinggalkan noktah merah yang perlahan alirkan perih pada luka yang tak sempat kau usap. Mungkin kau tak paham hakikat rindu. Atau kantung rindumu telah bolong sehingga rindu yang kutabung di sana tak kau rasai. Kau tahu, aku tak pernah membenci rindu. Sensasinya sajikan suasana hampa terkadang juga duka. Namun, rindu kali ini aku tak tahu namanya. Aku tak kan bahagia melihatmu, tapi aku juga sebagai dungu saat aromamu tak lagi sambangi hidungku. Saat suaramu tak lagi singgahi telinga ini, saat bibirmu tak lagi .... Ah, sudahlah! Rindu biarlah kukunci sendiri sampai kau bertanya.

Matahari terbangun dini hari dengan harapan bangsa di pundak kami. Dengan senyuman dan semangat selalu pagi, Yang bersanding di bibir pemikir negeri ini. Debur ombak begitu merdu saat menjelma menjadi deru.

Oleh Riedho Kurnia Pamungkas

Senja selalu saja menawarkan; “Coretlah pencapaianmu Pemuda senja ini, Dan bermimpilah bersama bulan, Esok, bangunlah dengan semangatmu. Lalu ceritakan padaku ‘senja‘ tentang Gurumu hari ini “. Ini adalah nikmat yang penuh nikmat dalam menjala ilmu. Laut, daratan, dan langit yang legit. “Alam Takambang, Jadi Guru “ Saat alam menjadi guru yang nikmat, Dari pencipta yang hikmat.

Oleh Siti Hajar Thaitami

Melawan Duka Bila ini risau tak kan kusesali rasa Berjalan dengan tegap dan melangkah dengan ratap Di pandang latar sunyi yang membiru seakan membeku Salahkah menundukkan luka? Sebab takdir yang tak bisa dielak Yang mengoyak jiwa dalam nestapa Senyap yang kurasa mengekan gerat kebimbangan Apakah ini duka? Sesal tiada arti takdir nyata telah terjadi Hanya secercah harapan jadi pengobat hati Demi membalas budi pertiwi

Oleh Deki Arfandi IKLAN


RESENSI

22

Edisi No. 194/Tahun XXVII

Guru Jurnalisme dan “Civic Education” J udu l Penerbit Cetakan

: Kompas Way Jacob’s Legacy : PT. Kompas Media Nusantara : Pertama, 2016

Buku Kompas Way atau  Cara  Kompas menggambarkan  tentang  bagaimana wartawan  Kompas  tetap  bekerja  sesuai

dengan kode  etik  dan  tuntunan  moral, serta  kiat  lembaga  ini  untuk  terus berkembang  sebagai  lembaga  idealis  dan bisnis  dalam  masyarakat.  Kompas Way berakar  dari  sintesa  berbagai  sumber yang  menyejarah,  hasil  jatuh  bangun, usaha  keras,  kerja  sinergik  yang  diinisiasi dan  dimotori  para  perintis  dan  pendiri perusahaan.  Setelah  P.K.  Ojong  meninggal (1920-1980),  pengembangan  Kompas Way  dimotori  oleh  mitra  dwitunggalnya: Jakob  Oetama  yang  melekat  sebagai legacy, warisan  ilmu  dan  kebijakan. Jakob  Oetama  dalam  buku  pers  Indonesia  Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus menuliskan  manusia  dan kemanusiaan  adalah  nafas  pemberitaan Kompas.  Dalam  seluruh  pemberitaan Kompas segala  sepak  terjang  manusia, cobaan  dan  permasalahannya,  aspirasi dan  hasratnya,  keagungan  dan  kehinaan menjadi  titik  sentral  pemberitaan. Kompas mencoba  peka  akan  nasib  dan pergulatan  manusia  demi  mencapai kemanusiannya,  dan  berpegang  pada ungkapan  klasik  dalam  jurnalistik,  yang lantas  menjadi  adagium  “menghibur yang  papa  dan  mengingatkan  yang

ma p an ” . Jurnalisme pembangunan,  jurnalisme  fakta,  dan  jurnalisme  makna, menurut  Jakob  Oetama,  pada  akhirnya merupakan  temuan-temuan  cerdas  atas tantangan  yang  dihadapi  dunia  pers. Kompas  menemukan  kiat  mencerdaskan agar  senantiasa  survive tanpa  meninggalkan  tugas  pokoknya.  Ketika  represi kekuasaan  semakin  kuat,  bersamaan dengan  hadirnya  media  siber,  diselenggarakanlah  jurnalisme  fakta.  Ketika semakin  besar  tantangan  yang  dihadapi media  cetak  mendapat  tantangan  perkembangan  pesat  siber  atau  media  sosial sebagai  media  masa  depan  yang  mengandalkan  kecepatan,  diselenggarakanlah jurnalisme  makna.  Dalam  praksis  jurnalistik  dengan  tetap  dalam  koridor Pancasila  itu, Kompas  berusaha  selain sebagai  “anjing  penjaga”,  jika  perlu menjadi  anjing  penjaga  yang  santun, juga  sebagai  pendidik  dan  teman  seperjalanan  masyarakat,  tanpa  meninggalkan sisi  lain  industri  media  yang  menuntut pertumbuhan  bisnis  yang  profesional  dan bersih. Terdorong  motivasi  ikut  serta  menggerakkan  kebangkitan  dan  reformasi, menurut  Jakob  Oetama,  wajar  jika  media  ikut  berwacana,  beradu  pendapat, dan  mengajukan  saran.  Semua  itu  tidak mengurangi  atau  menggeser  tugas  media  yang  sejatinya  sebagai  “anjing penjaga”.  Kesetiaan  dan  kemampuan melaksanakan  tugas  itu  membuat  media

berhak atau  sebaliknya  berperan  sebagai suara  hati  bangsanya,  the conscience of the nation.  Taruhlah  sebagai  “anjing penjaga  yang  jinak”  yang  terus  menggonggong  tetapi  tidak  menggigit,  hanya mengilik-ngilik  dan  mengingatkan    adanya  “bahaya”. Perjalanan  hidup  Kompas  hanya sebuah  noktah  kecil  dari  puluhan  surat kabar  yang  umurnya  sudah  ratusan tahun.  Melalui  buku  ini  pembaca  dapat memperoleh  gambaran  dan  pelajaran bagaimana  Kompas  menentukan  pilihan mencerahkan  untuk  terus  hidup  dan berkembang  dengan  tetap  menjaga  diri independen  sebagai  lembaga  idealisme sekaligus  lembaga  bisnis  yang  terhormat. Di  suatu  zaman  pernah  sebagai  anjing penjaga  yang  galak,  di  zaman  lain  sebagai anjing  penurut  dan  sopan.  Dalam  kondisi zamannya,  tanpa  menutup  kemungkinan  polesan,  Kompas Way  jadi  sumber rujukan:  kiat  dan  nilai  yang  ditransformasikan  dan  diwariskan  para  pendirinya  lewat  kata-kata  yang  mengajar dan  perbuatan  yang  meninggalkan keteladanan  yang  terus  didialogkan dengan  realita.  Buku  ini  bisa  menjadi pelengkap  dan  lebih  ringkas  dari  bukubuku  serupa  yang  sudah  terbit  sebelu mnya. Resensiator : Maida Yusri Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika TM 2014

Menunjukkan Sisi Gelap Kebinatangan Manusia Ju du l Penulis Penerbit Cetak an Tebal

: Sesat  Pikir  Para  Binatang :  Danarto :  PT  Grasindo :  Pertama,  April  2016 :  vi  +  178  halaman

Triyanto Triwikromo  merupakan salah  seorang  sastrawan  Indonesia.  Selain menggeluti  sastra-puisi,  namanya  juga harum  sebagai  cerpenis  Indonesia  karena telah  melahirkan  banyak  buku  kumpulan  cerpen,  di  antaranya  Ular di Mangkuk Nabi, Celeng Satu Celeng Semua, dan  Sayap Anjing.  Cerpen-cerpennya diterjemahkan  dalam  bahasa  Swedia, Jerman,  dan  Inggris. Sesat Pikir Para Binatang  merupakan buku  kumpulan  cerpen  terbaru  dari Triyanto  Triwikromo.  Buku  ini  terdiri dari  14  cerpen  dan  berusaha  menunjukkan  sisi  gelap  kebinatangan  manusia. Ya,  manusia  yang  selama  ini  dianggap sebagai  makhluk  sempurna  karena  dianugerahi  akal  dan  pikiran  ternyata tidak  lebih  dari  binatang.  Hal  ini  dikarenakan,  dalam  setiap  tindak  tanduknya, manusia  lebih  cenderung  menuruti hawa- nafs u ny a. Salah  satu  cerpen  yang  terdapat  dalam buku  ini  adalah  Sesat Pikir Para Binatang. Judul  cerpen  tersebut  sekaligus  menjadi judul  dari  kumpulan  cerpen  ini.  Cerpen tersebut  diawali  dengan  sebuah peryataan  dari  Nuh,  Direktur  Kebun

Binatang Halasnom,  kepada  si  “aku” tokoh  utama  bernama  Kalam,  bahwa agar  bisa  bekerja  dengan  baik  di  kebun binatang,  Kalam  harus  mengetahui dengan  seksama  satwa  apa  yang  bersemayam  di  dalam  dirinya. Nuh  merupakan  karakter  yang  unik. Dia  menempatkan  hewan  sebagai  makhluk  mulia  dan  manusia  sekadar  hewan bertulang  belakang  yang  penuh  dosa. Ungkapan  Nuh  tersebut  dinilai  oleh Kalam  berlebihan.  Namun,  karena  dia adalah  pegawai  baru  di  kebun  binatang, dia  tidak  punya  pilihan  lain.  Kalam  pun mengikuti  nasihat  dari  sang  senior,  Nuh. Maka,  pada  hari-hari  pertama  bekerja,  Kalam  disibukkan  dengan  berbagai aktivitas,  seperti  membaca  buku-buku tentang  satwa,  mengenal  lokasi  kebun binatang,  dan  belajar  nama-nama  tumbuhan.  Pada  hari  kelima,  Nuh  memberikan  nasihat  tentang  sepuluh  ciri-ciri kembaran  manusia  di  kebun  binatang. Di  sinilah  letak  satirenya.  Menurut  Nuh, kembaran  manusia  di  kebun  binatang tidak  akan  pernah  melukai  atau  membunuh  manusia.  Kembaran  itu  juga  akan mengajari  manusia  lebih  percaya  kepada Tuhan  dan  mengajaknya  untuk  tidak

melakukan tindakan-tindakan  buruk. Dan  seterusnya,  dan  seterusnya. Barulah  pada  hari  keenam,  Kalam berhasil  menemukan  kembarannya  yang ternyata  adalah  cacing-cacing yang  muncul  dari tanah  becek  berair. Kalam  merasa  jijik dan  geli.  Setelah  diajukan  pertanyaan apakah  kau  ingin menjadi  manusia, barulah  cacing-cacing  tersebut  kembali  menyusup  ke tanah  becek  dan menghilang.  Tetapi,  menurut  Nuh, cacing-cacing  tersebut  tidak  menghilang.  Mereka  hanya  menyusup  ke ku bangan-kubangan  kecil  di  kepala K alam. Kata  Nuh,  Kalam  tidak  perlu kaget  jika  nanti malam  cacing-cacing  itu  berkata  bahwa  mereka  tidak ingin  menjadi  manusia  karena  manusia adalah  makhluk  paling  konyol  sedunia. Sok  kuasa.  Sok  pandai.  Sok  buas.  Sok segalanya.  Si  Kalam  hanya  terdiam.  Dia berpikir  bahwa,  jika  memang  seperti  itu, sesungguhnya  binatang-binatang  berada dalam  situasi  sesat  pikir  yang  luar  biasa,

atau memang  manusia  adalah  makhluk berkasta  terendah  di  dunia. Selain  cerpen  di  atas,  ada  juga  kisah tentang  Kain dalam  Setelah Pembunuhan Pertama yang harus  terus  membunuh  dan  mengembara tak  kunjung  henti.  Dia akhirnya  memutuskan  untuk  bunuh  diri. Ada  juga  kisah  tentang wali  kelas  dalam  Serigala di Kelas Almira yang  harus  mengajar  anak-anak  yang  berprilaku  sebagai  satwa  dan dianggap  sebagai  setansetan  berkebutuhan khusus. Demikianlah!  Cerpen-cerpen  di  dalam kumpulan  ini  sangat menarik.  Bukan  hanya menguak  sisi  kebinatangan  manusia,  buku ini  juga  memperlihatkan  bahwa,  di  tengah kehidupan  yang  keras dan  buas,  manusia  tetap  berusaha  menjadi  manusia.  Selain itu,  buku  ini  juga  dihiasi  oleh  grafis  yang bisa  memanjakan  mata  pembaca.  Jadi, bagi  Anda  pecinta  sastra,  jangan  ketinggalan  untuk  membaca  buku  ini. Resensiator: Fakhruddin Arazzi Mahasiswa Pendidikan Fisika


23

Edisi No. 194/Tahun XXVII

GANTOPEDIA

Kehamilan Menentukan Panjang Usia

Berumur panjang  menjadi  keinginan kebanyakan  orang.  Menikmati  indahnya kehidupan  dan  merasakan  setiap  proses perubahan  zaman.  Berbagai  hal  disarankan agar  memiliki  umur  panjang,  mulai  dari pola hidup sehat, memiliki  sifat  yang optimis, hingga  selalu  menjalani  hidup  dengan bahagia.  Namun  ada  juga  beberapa  penelitian  yang  menemukan  formula  baru  yang membuat  seseorang  memiliki  usia  dengan angka  nominal  lebih  tinggi. Beberapa  penilitian  tersebut  mengatakan  bahwa  perempuan  lebih  banyak berusia  lebih  panjang  dibandingkan dengan  laki-laki.  Banyak  faktor  yang menjadi  penyebabnya,  ada  yang  menga-

takan karena  faktor  kromosom  perempuan  yang  XX.  Dengan  memiliki  dua kromosom  X,  perempuan  mempunyai salinan  ganda  untuk  setiap  gen,  yang berarti  jika  ada  yang  rusak,  maka masih  punya  satu  cadangan,  dan banyak  lagi  faktor  lainnya. Salah  satu  penelitian  yang menunjukkan  perempuan  memiliki  usia  yang  lebih  panjang adalah  hasil  riset  yang  diterbitkan  oleh  American Journal of Public Health November  lalu. Peneliti  dari  University  of  California  San  Diego  School  of  Medicine, Dr.  Aladdin  Shadyab,  PhD.,  menemukan  bahwa  54  persen  dari 20.000  perempuan  memiliki  usia hingga  90  tahun  atau  lebih. Penelitian  tersebut  bukanlah penelitian  singkat,  hingga  pada akhirnya  dirampungkan  dan  dipublikasikan  dalam  jurnal  ilmiah. Penelitian  itu  telah  dilakukan  sejak tahun  1991  lalu,  dengan  melibatkan  ibu-ibu  selama  21  tahun lamanya.  Ibu-ibu  tersebut  diteliti tentang  melahirkan  pertamanya dan  banyak  anak  yang  dimiliki.  Di usia  melahirkan  anak  pertama yang  berbeda-beda,  diamati  siapa  di antara  ibu-ibu  tersebut  yang  mencapai usia  hingga  90  tahun.  Hasil  studi  menunjukkan  bahwa  ibu-ibu  yang  melahirkan anak  pertamanya  di  atas  usia  25  tahun diindikasikan  mencapai  usia  hingga  90 tah u n . Dikutip  dari  Kompas.com,  Shadyab menyatakan  bahwa  studi-studi  sebelumnya  memperlihatkan  kejadian  kehamilan  dan  hubungannya  dengan  kematian tetapi  bukan  terhadap  panjang  usia. ”Studi  kami  yang  pertama  meneliti  usia kehamilan  pertama,  jumlah  anak  dan hubungannya  untuk  bertahan  hidup sampai  tua.  Penemuan  kami  mungkin

membantu mengidentifikasi  target  intervensi  kesehatan  masyarakat  di  masa depan  di  kalangan  perempuan  sebelum kehamilan  dan  tahap  perencanaan  keluarga,  sehingga  dapat  memperbaiki  kesehatan  dalam  jangka  panjang,”  terangnya. Selain  itu,  hasil  penelitian  tersebut menunjukkan,  ibu-ibu  yang  melahirkan anak  lebih  dari  satu  atau  mencapai  empat orang  anak,  memiliki  kesempatan  hidup lebih  lama  dan  kesehatan  yang  lebih  baik. Ditemukan  ibu-ibu  tersebut  tidak  mengalami  kegemukan  berlebihan  atau obesitas,  serta  tidak  memiliki  catatan penyakit  kronis.  Perempuan  yang  sudah mengandung  2-4  kali  berpeluang  mencapai usia  hingga  90  tahun  sebesar  25  persen, dibandingkan  yang  mengandung  sekali seumur  hidup.  Hal  ini  dikarenakan  kandungan  memberikan  perlindungan  bagi  tubuh  si  ibu,  sehingga  ibu  lebih  sehat  dan bugar  hingga  tidak  rentan  di  serang  penyakit  dan  bisa  mencapai  umur  yang  panjang. Persentase  peluang  perempuan  yang melahirkan  anak  pertamanya  di  atas  usia 25  tahun  yang  mendapatkan  usia  panjang,  mencapai  11  persen  dibandingkan yang  melahirkan  anak  pertamanya  di usia  24  tahun  ke  bawah.  Bahkan  perempuan  yang  melahirkan  di  atas  usia  30 tahun  juga  diindikasikan  akan  mencapai usia  panjang  hingga  90  tahun  sebesar  11 persen,  dibandingkan  yang  melahirkan pertama  kali  di  usia  25  tahun. Hasil  penelitian  tersebut  sedikit  berbeda  dengan  dunia  kedokteran  yang mengatakan  bahwa  usia  ideal  perempuan untuk  hamil  adalah  di  antara  usia  20-35 tahun  dan  usia  kehamilan  serta  kelahiran anak  pertama  yang  baik  adalah  di  usia 21  tahun.  Hal  ini  dikarenakan  di  usia tersebut  wanita  memiliki  kebugaran  fisik dan  kesiapan  organ  reproduksi  yang  baik sehingga  dapat  menekan  risiko  kesehatan pada  ibu  dan  juga  janin.  Selain  itu,  usia 24  tahun  adalah  puncak  kesuburan

wanita dan  kemudian  di  usia  setelahnya wanita  mengalami  penurunan  tingkat kesuburan,  sehingga  mengurangi peluang  untuk  memiliki  anak. Sedangkan  usia  melahirkan  yang tidak  sehat  menurut  kedokteran  adalah di  bawah  usia  20  tahun,  faktor  penyebabnya  adalah  kematangan  sel  telur  yang belum  sempurna,  organ  reproduksi  yang belum  siap,  dan  berisiko  tinggi  memiliki kondisi  kesehatan  yang  buruk  saat  hamil, karenanya  resiko  kematian  pada  kehamilan  ini  sangat  tinggi,  simpulnya kesempatan  wanita  berumur  panjang adalah  kecil. Dari  penelitian  yang  dipimpin  Dr. Aladdin  Shadyab  tersebut  juga  dikatakan bahwa  wanita  yang  mencapai  usia  90 tahun  biasanya  memiliki  pendidikan yang  tinggi  sebelum  menikah,  dan  ratarata  adalah  dari  kalangan  yang  mapan dalam  artian  cukup  biaya  dan  mampu membayar  semua  program  kesehatan yang  baik.  Selain  karena  mudahnya mengakses  program  kesehatan  yang menunjang,  juga  memperhitungkan tingkat  stress  wanita,  sebab  kemapanan dan  kedewasaan  pola  pikir  membuat wanita  cenderung  tidak  mengalami  stress berlebihan  dikarenakan  tidak  mudah panik  memikirkan  biaya  kesehatan  dan biaya  anak  atau  juga  dipengaruhi  oleh ketenangan  dan  kedewasaan  berpikir. Penelitian  yang  di  lakukan,  ju ga menemu kan  ada  tren  menu nda  usia kelahiran  anak  pertama.  Terlihat  pada tahu n  1970-an  perempu an  di  Inggris melahirkan  anak  pertamanya  pada rata-rata  u sia  23,5  tahu n,  dan  pada data  yang  dikumpulkan  di  tahu n  2014 rata-rata  u sia  perempu an  di  Inggris melahirkan  pertama  kali  di  u sia  28,6 tahu n.  Namun,  hasil  penelitian  tidak menyarankan  perempu an  u ntuk  menu nda  kehamilannya.  Abdul Hamid (Dari berbagai Sumber)

REFLEKSI

Perilaku Laki-laki Kekinian Oleh Sri Gusmurdiah

Beberapa kali  saya  melewati  sebuah salon  dengan  seorang  teman.  Salon tersebut  tergolong  unik,  terlepas  dari  apa yang  ada  di  dalamnya.  Saya  sangat tertarik  dengan  papan  plang  merek  salon tersebut.  Terpampang  foto  perempuan cantik  di  sana.  Namun,  saya  dan  teman saya  meyakini,  foto  tersebut  bukanlah wanita  sesungguhnya,  melainkan  seorang  pria  yang  berdandan  mengalahkan rupa  cantik  seorang  wanita.  Tak  hanya itu,  sosok  yang  ada  pada  foto  tersebut ternyata  tak  sekadar  model  pada  merek salon  semata,  namun  juga  yang  bekerja di  salon  tersebut.  Barangkali  dia  adalah pemilik  salon. Pada  kesempatan  yang  berbeda,  saya juga  sempat  terheran  dengan  pemandangan  yang  tak  biasa.  Saat  berada  pada tempat  makan,  empat  orang  pria  dengan dandanan  layaknya  wanita,  melangkah dengan  anggun  dan  percaya  dirinya memasuki  tempat  makan  yang  sama. Tak  hanya  pakaian  dan  dandanan,  aksesoris  yang  mereka  gunakan  juga  merupakan  aksesoris  wanita,  seperti  kalung, tas,  hingga  dompet.  Belum  lagi  suaranya yang  lembut  melebihi  wanita.  Beberapa orang  yang  berada  di  rumah  makan

tersebut hanya  tersenyum-senyum  heran  melihat  tingkah  dan  gerak  gerik merek a. Fenomena  di  atas  tidaklah  bermaksud untuk  memojokkan  beberapa  pihak  atau pribadi  tertentu.  Hal  tersebut  hanyalah beberapa  bentuk  gambaran  dari  penyimpangan-penyimpangan  yang  terjadi  di tengah  masyarakat,  yang  konon  sudah dianggap  sebagai  sesuatu  yang  wajar  dan biasa  pada  zaman  sekarang.  Hal  ini,  walau pun  tidak  merugikan  banyak  orang, namun  menjadi  bagian  yang  meresahkan bagi  banyak  pihak.  Terutama,  para  orang  tua  dan  guru  yang  berjuang  sekuat tenaga  mendidik  anak  dan  murid-muridnya,  untuk  menjadi  pribadi  yang  benar dan  tak  menyimpang.  Agar  lebih  fokus, penulis  sengaja  mengkhususkan  pembahasan  kepada  satu  gender  saja,  yaitu laki-laki. Jika  zaman  dulu,  anggap  saja  semasa penulis  masih  berada  pada  jenjang  pendidikan  dasar  atau  sekitar  belasan  tahun lampau.  Laki-laki  yang  berperilaku seperti  wanita,  dipanggil  sebagai  laki-laki jadi-jadian.  Jika  terjadi  hal  demikian, mereka  akan  marah  besar.  Bahkan  sampai  berkelahi  demi  membela  harga

dirinya yang  merasa  dinodai,  sebab dianggap  sama  dengan  wanita.  Adalah sebuah  penghinaan,  jika  seseorang  yang sesungguhnya  laki-laki  yang  dianggap kuat  dan  gagah  perkasa,  disamakan dengan  wanita  yang  notabenenya  keibuan,  lembut,  dan  cantik. Namun,  realita  yang  terjadi  dewasa ini,  tak  terhitung  laki-laki  yang  percaya diri  bahkan  sangat  bangga  saat  berpenampilan  dan  bersikap  layaknya  seorang wanita.  Mereka  seakan  tak  peduli  dan  tak mau  tau  dengan  berbagai  pandangan masyarakat  terhadapnya.  Padahal, kebanyakan  orang-orang  yang  berperilaku  demikian  adalah  mereka  yang tahu  akan  norma  dan  memiliki  pendidikan  yang  memadai. Sementara,  agama  mana  pun  melarang  laki-laki  yang  meneyerupai  wanita dan  begitu  pun  sebaliknya.  Sebab,  melawan  kodratnya  sebagai  manusia.  Sebagaimana  pandangan  Islam  terhadap  hal ini,  hadist  Rasulullah  sebagaimana diriwayatkan  dari  Ibnu  ‘Abbas  RA  berkata,  “Rasulullah  SAW  melaknat  laki-laki yang  menyerupai  wanita  dan  para  wanita yang  menyerupai  laki-laki”.  [HR.  Bukhari juz  7,  hal.  55].  Selain  itu,  pada  hadist  lain

dari Abu  Hurairah,  ia  berkata,  “Rasulullah  SAW  melaknat  orang  laki-laki yang  memakai  pakaian  wanita,  dan wanita  yang  memakai  pakaian  laki-laki”. [HR.  Abu  Dawud  juz  4,  hal  60]. Berdasarkan  hal  tersebut,  jelas  bahwa laki-laki  yang  menyerupai  wanita  merupkan  hal  yang  tidak  benar  dan  dilarang oleh  agama.  Terlepas,  apakah  hal  itu  tabu atau  sudah  menjadi  hal  yang  biasa  di tengah  masyarakat.  Yang  jelas,  sesuatu yang  salah  haruslah  ditinggalkan,  sebab tidak  ada  kebaikan  yang  didatangkan dari  hal  yang  demikian. Sebagai  generasi  muda,  sudah  selayaknya  kita  menjadi  bagian  yang  akan memajukan  bangsa  ini.  Adakalanya menjadi  diri  sendiri  memang  bagus, namun  harus  sesuai  dengan  norma  dan akidah  yang  berlaku  di  tengah  masyarakat  dan  agama.  Tidak  sekadar  bahagia dengan  apa  yang  dianggap  nyaman untuk  dilakukan,  tanpa  memikirkan dampak  dan  mudarat  dari  tindakan tersebut.  Menjadi  manusia  zaman sekarang  dan  mengikuti  modernisasi, bukan  berarti  menerima  dan  melakukan segala  sesuatu  secara  kebablasan,  tanpa menyaringnya  dan  berpikir  panjang.


Edisi No. 194/Tahun XXVII

IKLAN

24

Edisi 194  
Edisi 194  
Advertisement