Issuu on Google+

ISSN 2303-2634


UCAPAN TERIMA KASIH ATAS SUKSESNYA

PEKAN OLAHRAGA PROVINSI XII

PORPROV XII SUMATERA BARAT TAHUN 2012 12 - 12 - 2012 s/d 20 - 12 - 2012 DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

“ Pemerintah Bersama Masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu atas terselenggaranya Porprov XII secara sukses ” Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

REDAKSI

Terdaftar Di ISSN

P

erjalanan waktu yang dilakui dari detik ke detik akhirnya mengantarkan kita semua ke penghujung 2012, dan akan s egera memas uki tahun baru 2013. Itu artinya, setahun perjalanan waktu telah sama-sama kita lalui, dan untuk bers ama pula kita menyambut datangnya tahun baru 2013 dalam penanggalan Mas ehi. Kita tentunya tidak menginginkan perjalanan waktu menjadi s es uatu yang s ia-sia belaka, melainkan menjadi sesuatu yang berarti dan bermakna. Semua itu tentu baru bisa dipetik kalau kita bisa menjadikan tahun yang telah berlalu sebagai sarana untuk evaluasi dan intropeksi diri. Setentang Majalah Sinamar yang mungkin saat ini sedang berada di tangan Anda, para Pembaca, juga memiliki tekad yang sebangun dengan itu, yaitu menjadikan tahun baru sebagai momen untuk melakukan perbaikan - perbaikan yang diperlukan. Sebagai media cetak internal milik Pemkab Limapuluh Kota, diakui masih banyak kelemahan yang melekat pada media ini. Kele

TAJUK BELAJAR DARI SEJARAH SEYOGIANYA kita siapa pun itu, apapun latar belakang sosial, agama, dan pendidikan kita, dan di manapun kita berada di seluruh negeri yang bernama Indonesia ini jangan s ekali-s ekali pernah melupakan sejarah. Bahkan seyogianya pula menjadikan sejarah sebagai pelajaran untuk bekal buat melangkah ke depan. Seyogianya kita juga selalu ingat bahwa negeri yang bernama Republik Indonesia ini, yang hari demi hari terus mengokohkan posisinya sebagai negara yang makin diperhitungkan, bukanlah ada seperti kondisi yang terlihat saat ini. Negeri ini berdiri di atas rentetan perjuangan yang amat panjang, di atas timbunan tidak sedikit mayat pejuang, darah dan airmata para janda dan anak-anak, dan para pemuda yang terpaksa berumur pendek karena diberondong senapan penjajah. Kalau hari ini kita tidak lagi mendengar dentuman meriam, rakyat yang diteror dan diintimidasi, hasil panen yang diambil paksa, para tokoh yang dijebloskan ke penjara, dan sejumlah kawasan yang rata dengan tanah karena di

Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

mahan-kelemahan yang ada tentu tidak akan pernah dijadikan sebagai batu penarung untuk tetap menjadikan media ini eksis dan bertahan. Justru kelemahan-kelemahan yang ada akan dijadikan sebagai bahan kajian atau evaluasi guna melakukan langkah-langkah pembenahan yang diperlukan. Kami berpijak dengan satu prinsip dasar, sesuatu itu tidak akan pernah besar dengan sendirinya. Kendati masih dihadapkan dengan berbagai kelemahan yang masih sulit kami atasi, tapi terus terang kami juga merasa perlu bangga dengan daya tahan yang sejauh ini masih mampu diperlihatkan oleh Majalah Sinamar. Di saat sekian banyak media cetak sejenis yang sudah s ejak lama tidak lagi pernah terlihat, alhamdulillah Majalah Sinamar masih tetap setia menemui para pembacanya. Kami juga merasa perlu menyampaikan bahwa terhitung sejak Sinamar bermetamorfosa dari tabloid menjadi majalah bulanan, ada satu kemajuan terbaru yang berhasil dilakukan, yaitu mendafarkan penerbitan ini di ISSN (Inter bombardir; itu juga hadir bukan dengan sendirinya. Melainkan melalui sebuah proses yang bernama perjuangan, yang begitu panjang, melelahkan, menuntut banyak pengorbanan harta benda dan jiwa sekalipun. Anak-anak muda kini, siapapun ia dan apapun latar belakang pendidikan, agama, dan status sosialnya; tentu sah-sah saja terus bergerak maju mencapai cita-cita seirama dengan kemajuan di berbagai bidang kehidupan yang bergerak dengan sangat dinamis, tapi jangan sekali-sekali pernah melupakan sejarah, karena kondisi yang ada dan dirasakan saat ini bukanlah ada dengan sendirinya dan hadir begitu saja. Mengingat sejarah atau membolakbalik lembaran masa lalu, bukan berarti dimaksudkan untuk menyeret kita ke suasana nostalgik yang dipastikan tidak akan pernah kembali lagi. Tapi langkah itu mengandung muatan yang lebih dari itu: timbulnya kesadaran bahwa kita menikmati kondisi yang ada hari ini berkat perjuangan sebegitu banyak anak negeri yang tidak menginginkan ranah leluhurnya diinjak-injak oleh anak bangsa lain. Bertolak belajar dari sejarah untuk mengetahui secara detail tahap demi

national Standard of Seriel Number), yaitu tanda pengenal unik untuk jenis penerbitan berkala yang belaku sec ara global (internasional/mendunia). Dengan mengantongi Nomor ISSN 2303-2634, itu artinya penerbitan Majalah Sinamar berhak dipantau oleh PDII (Pusat Dokumentas i dan Informas i Ilmiah) LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indones ia) sebagai lembaga yang menyelenggarakan kegiatan ters ebut untuk dilakukan pemantauan atas seluruh publikasi terbitan secara berkala yang diterbitkan di Indonesia. Ihwal Majalah Sinamar telah terdaftar di ISSN, buktinya dengan kasatmata dapat dilihat pada bagian kiri bawah tiap edisi. Di sana, selain terdapat sejumlah garis lurus dengan ukuran bervariasi, juga tertera Nomor ISSN Majalah Sinamar. Bagi Muhamad S.Pd, pemimpin redaksi sekaligus penanggung jawab media ini, kemajuan itu merupakan tantangan untuk makin meningkatkan kualitas isi Majalah Sinamar.(e2) tahap perjalanan republik ini sampai berdiri menjadi negara yang berdaulat, maka s elanjutnya yang diharapkan adalah timbulnya semangat kec intaan kepada bangsa dan negara. Yang kemudian diikuti dengan ucapan, tindakan dan sikap yang menunjukkan kec intaan itu s eperti menentang keras segala daya dan upaya yang mencoba merongrong kedaulatan NKRI. Menyusul dengan akan didirikannya Monumen PDRI di Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, sebagai penanda di daerah itu pernah berdiri Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama kurun waktu 1948-1849. Maka semangat nasionalisme dan patriotisme diharapkan akan semangat mengental di dada anak bangsa untuk tetap bertekad mempertahankan keutuhan negeri ini. Kita tentunya tidak menginginkan Momumen PDRI yang dibangun dengan dana yang tidak sedikit itu, hanya tertinggal berupa bangunan bisu dan kaku tanpa sama sekali memberi efek dan dampak psikologis yang diharapkan, terutama dalam upaya makin meningkatkan kecintaan terhadap negeri ini, Republik Indonesia.(**)

Penerbit : Bagian Humas dan Protokoler Sekretariat Daerah KabupateLima Puluh Kota PELINDUNG : Bupati Lima Puluh Kota I Wakil Bupati Lima Puluh Kota PENASEHAT: Sekda Kab. Lima Puluh Kota I Asisten Adm. Umum Setda Kab. Lima Puluh Kota PENANGGUNG JAWAB : Kabag. Humas dan Protokoler Setda Kab. Lima Puluh Kota PEMIMPIN REDAKSI : Muhamad. S DEWAN REDAKSI : Muhamad. S (Ketua), Adi Warman, Joni Indra, Ronny M.Nur, Mike Zaimy REDAKTUR PELAKSANA: Adi Warman REDAKTUR: Joni Indra, Ronny M.Nur, Mike Zaimy, Eliza STAF REDAKSI: Herpatarmidi REPORTER: Heri Ronaldo, Tesy Febrina, Hendri Gunawan FOTOGRAFER: Herpatarmidi SEKRETARIS : Iis Sugiarti DISTRIBUTOR: Zulfadli KONTRIBUTOR: Wali Nagari, Camat, SKPD, Anggota Balai Wartawan Lima Puluh Kota TATA LETAK/ARTISTIK: Joy ALAMAT REDAKSI : Bagian Humas dan Protokoler Setda Kab. Lima Puluh Kota Kantor Bupati Lima Puluh Kota, Jl. Raya Negara Payakumbuh - Pekanbaru KM 10 Sarilamak 26271 Web : www.limapuluhkotakab.go.id | Email : majalah.sinamar@gmail.com PERCETAKAN : PT. Padang Graindo Mediatama (Isi diluar tanggungjawab percetakan). PERWAKILAN PEKAN BARU : Rachpendri Sakti, Gonjong Limo Pekan Baru - Jl. Arifin Ahmad (Sebelah Universitas Terbuka ) Pekan Baru. Redaksi menerima tulisan, opini, foto dan surat pembaca yang diketik satu setengah spasi, panjang tulisan maksimal 2 halaman folio. Untuk tulisan dan opini panjang 5.00 karakter disertai foto penulis dan biodata. Redaksi berhak merubah redaksional naskah yang di kirim, tanpa merubah maksud da n tujuan. Dikirim via email : majalah.sinamar@gmail.com. Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

3


4

Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

DAFTAR ISI

18 LAPORAN KHUSUS Porprov XII Sukses, Luar Biasa!

23

PENDIDIKAN Harus Kreatif Mencari Sumber Dana Alternatif

24 GALERY 26 SEMINAR

Seminar Ketahanan Nasional

Cover

6 LAPORAN UTAMA

28 INFRASTRUKTUR Horee...Jembatan Ronah Dianggarkan Di 2013 30

KOLOM KESEHATAN Sehat dan Bugar secara Alamiah

32 STUDY BANDING

Humas dan Gonjong Limo Batam

34

KOLOM ADAT Pewarisan Sako dan Pusako

36 SOROT

Ancaman Besar, Kesiapan Kurang

38 NAGARI

Nagari Sikabu-kabu

- Peletakan Batu Pertama Pembangunan Monas PDRI - PDRI, Penyelamat Negara RI - Agar Tidak Lupa Dengan Sejarah - Untuk Membangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi baru - Saksi Hidup Perjuangan PDRI - Simbol Nasionalisme Dalam Bingkai NKRI - Cuplikan Sejarah PDRI

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

40 PERUMAHAN

2013, Bebas Rumah Tidak Layak Huni

42 SOSOK

Aprilia Kartina : Dari Bukik Kanduang Ke Kancah Internasional

43 AGROPOLITAN 44 VARIA 46 SERBA-SERBI


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

ETALASE PONGEK CUBODAK PONG EK cubodak adalah makanan khas warga Situjuah Limo Nagari yang berbahan baku nangka dan dibaluri aneka rempah-rempah. Pongek cubadak dapat dinikmati di rumah makan yang berada di sepanjang jalan menuju Kecamatan Sit ujuah Lim o Nagari ataupun jalan masuk ke Kota Payakumbuh. Di antaranya, Rumah Makan Gulai Kambiang Pongek Situjuah di Ngalau Indah, Rumah Makan Wan Siri, Rumah Makan Si Or di Limbukan, Rumah Makan Gulai Kambiang Situjuah di Padangbacang, dan Rumah Makan Limau Rimbun di antara Situjuah Padang Bacang dengan Kotobaru, Situjuah Banda Dalam. Tapi, bila bosan mengisi perut di rumah makan, tetap bisa membeli pongek cubodak Situjuah lewat sejumlah pedagang yang bejualan di pasar tradisional. Selain pongek cubadak, gulai kambing dari Situjuah Limo Nagari juga terkenal maknyus. Apalagi, jika disantap dengan sambalado karabu baluik atau belut bakar yang dipukul dan dilumeri dengan cabe merah. Duo menu dari Situjuah ini direkomendasikan buat para pencinta makanan yang tekanan darahnya rendah. Bagi yang tekanan darahnya tergolong tinggi, sebaiknya jangan. Berbahaya, lho! (e2)

SURAT Jauh jemput e-KTP... Terima kasih sebelumnya sudah memuat dan menanggapi surat dari saya, mudah-mudahan Pemkab. Lima Puluh Kota memberikan keringanan bagi masyarakat dipelosok-pelosok seperti kami di Kapur IX untuk tidak jauh-jauh mengambil e-KTP. Karena hanya untuk mengambil e-KTP saja kami harus mengeluarkan biaya yang lumayan besar bagi kami. Marni – Kapur IX

Koperasi... Diharapkan Pemkab Lima Puluh Kota untuk menyediakan Koperasi yang khusus menampung hasil kerupuk masyarakat Situjuah khususnya, sehingga toke yang mengambil hasil kerupuk dari masyarakat, tidak semena-mena dalam meletakkan harga Suaiar, Situjuah Gadang

Jalan Jorong.... Kami warga situjuah Padang Jariang mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Lima Puluh Kota yang telah merealisasikan pembangunan jalan di jorong kami, setelah 10 tahun masa permohonan akhirnya dikabulkan juga. Anis- Situjuah Padang Jariang  

Bangga dengan Sinamar... Setelah membaca majalah Sinamar yang diterbitkan oleh Pemkab Lima Puluh Kota, saya merasa bangga menjadi masyarakat LPK, karena dengan membaca majalah ini saya jadi lebih kenal dekat dengan keadaan LPK sesungguhnya tanpa mendengar sebelah pihak dri berita-berita yang beredar di koran-koran. Keyza – harau  

Kelok 9...   Semoga dengan di bangun nya jalan layang kelok 9 ini, bisa membuat arus lalu lintas ke sumbar semakin lancar..dan bisa memacu pertumbuhan ekonomi sumbar..aamiin Azriltanjung-Payakumbuh

Terimakasih, atas saran-sarannya. kami akan berusaha memberikan informasi, artikel dan berita yang lebih lengkap dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota. Pongek Cubodak, makanan khas Nagari Situjuah (f/net)

Redaksi menerima tulisan, opini, foto dan surat pembaca yang diketik satu setengah spasi, panjang tulisan maksimal 2 halaman folio. Untuk tulisan dan opini panjang 500 karakter disertai foto penulis dan biodata. Redaksi berhak merubah redaksional naskah yang dikirim, tanpa merubah maksud dan tujuan. Dikirim via email : majalah.sinamar@gmail.com Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

5


6

Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

LAPORAN UTAMA

Monumen PDRI :

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Monas PDRI Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Rabu (19/12) siang, bagaikan lautan manusia. Ribuan masyarakat setempat, rela meninggalkan rutinitas mereka, termasuk berkebun jeruk, bertanam padi dan menambang hasil bumi, demi menyaksikan upacara Hari Bela Negara (HBN) Nasional 2012.

M.Siebert

S

ej ak enam tahun lalu, berdasarkan Keputusan Presiden No.28 tahun 2006, telah diperingati HBN setiap tangal 19 Desember.Namun pada tahun 2012 ini, untuk pertama kalinya HBN diperingati secara nasional dan dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan monumen nasional Pemerintah Darurat Republik Indonesia ( PDRI) di jorong Sungai Sirih, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota. Karena gemanya masih belum luas seperti hari besar nasional lainnya, Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro pun mengeluarkan Surat Edaran No.SE/84/M/XII/2012 tanggal 6 Desember 2012, yang ditujukan kepada Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Gubernur seluruh Indo Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

nesia, Pangdam seluruh Indonesia dan para Bupati/Walikota di tanah air agar melaksanakan peringatan HBN setiap tanggal 19 Desember. Sedangkan bentuk kegiatan yang dilaksanakan, disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta anggaran yang dimiliki masing-masing instansi, seperti upacara bendera/apel bersama, olah raga, kepanduan, bakti sosial, kerj a bakti membersihkan lingkungan, gelar seni budaya dan lainnya.Khusus peringatan HBN secara Nasional tahun ini yang dipusatkan di Kabupaten Limapuluh Kota, usai upacara HBN dilanjutkan dengan peletakan batu pertama Pembangunan Monumen Nasional PDRI di Sungai Sirih, Koto Tinggi Kendati 5 Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II yakni Menteri Pertahanan Purnomo Yusgianto, Mendagri Gamawan Fauzi, Menteri Pariwisata dan Eko足nomi Kreatif Marie Elka Pangestu, Mendiknas Muhamad Nuh, dan Menteri PU Djoko Kir

manto, batal datang, karena harus menemani kunjungan Presiden SBY ke Malaysia dan India.Namun masyaraakat tetap antusias, dan upacara tetap berlangsung khidmat. Posisi inspektur upacara yang mestinya diemban Menhan Purnamo Yusgiantoro, digantikan oleh Kapala Badan Pendidikan dan Latihan (Kabadiklat) Kemenhan Mayor Jenderal TNI Suwarno. Dia hadir bersama Dirjen Kesbangpol Kemendagri Mayj en TNI Drs.A.Tanribali Lamo, SH, Direktur Jenderal Bela Negara Kemenhan Laksamana Pertama Ken Chaidian, Staf Ahli Kemendagri DR Suhatmansyah, Kasubdit Implementasi Kebij akan Kemendagri Sri Handoko Taruna,M.Si, Ketua Front Bela Negara (FBN) Laksamana Muda Purnawirawan Prof.Dr.Setio Hernowo, Staf Ahli Taufik dan Kolonel Sudarta. Sedangkan rombongan Pemrov Sumbar dipimpin Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim,


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

Kepala Kesbang Pol Sumbar Irvan Khairul Ananda, Staf Ahli Surya Budhi dan sejumlah pejabat lainnya. Sebagai tuan rumah hadir Bupati Limapuluh Kota Alis Maraj o, W abup Limapuluh Kota Asyirwan Yunus, Ketua DPRD Limapuluh Kota Darman Sahladi, Sekkab Limapuluh Kota Yendri Tomas, Kepala SKPD, anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, serta dari Kabupaten/ Kota lainnya terlihat Sekkab Pasbar Yulrizal Baharin dan sejumlah perwira militer di Sumbar.Selain mereka, hadir pula anggota DPD RI dari Daerah Pemilihan Jakarta Andi Mapetahang Fatwa atau AM Fatwa. Pendiri PAN yang pernah dibui semasa Orde Baru berkuasa itu datang ke Kototinggi bersama dua putra-putri Mr Syafruddin Prawiranegara, yakni Aisyah Gani dan Chalid. Namun, Aisyah dan Chalid, tidak datang atas undangan Pemprov Sumbar ataupun Pemkab Limapuluh Kota. Dalam upacara yang diikuti ratusan anggota TNI, Polri, Satpol PP, pelaj ar, mahasiswa dan guru-guru tersebut, Kabadiklat Kemenhan Mayjen TNI Suwarno menyampaikan amanat tertulis Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro,yang pada intinya membeberkan sejarah lahirnya Hari Bela Negara. Sementara itu, Dewan Harian Daerah (DHD) Badan Pembudayaan Kejuang 45 Sumbar diwakili Zulwadi Bagindo Wali menyampaikan ringkasan sejarah PDRI ( 19 Desember 1948-13 Juli 1949). Selepas upacara, W akil Gu­ber­nur Sumbar Muslim Kasim, memberikan penghargaan buat tiga warga Nagari Kototinggi yang menyerahkan sertifikat tanah seluas 21 hektar, untuk pembangunan Monumen Nasional Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (Monas PDRI) di Jorong Sungai Siriah, Nagari Kototinggi. Tiga warga Nagari Kototinggi yang menerima penghargaan itu, Zainir, 70, dari suku Melayu. Kemudian, Jalius Dt Minsiang, 56, dari suku Piliang dan Adrial Efendi Dt Bandaro Mudo, 38, dari suku Kutianyia. Selepas upacara dan menyerahkan penghargaan buat mereka, para pejabat sipil dan militer bersama masyarakat, menghadiri peletakan batu per­tama Monas PDRI di Sungai­ Sirih.

Peletakan batu pertama pembangunan monas tersebut diawali oleh Drs.A.Tanribali Lamo, SH ( Dirjen Kesbang Pol), disusul Mayj en Suwarno,S.IP,MSc, W agub Muslim Kasim, Laksamana Pertama Ken Chaidian (Dirjen Bela Negara Kemenhan), Dr.Suhatmansyah ( staf ahli bidang hukum dan Polhukum). Lalu, diikuti Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo, Ketua DPRD Limapuluh Kota Darman Sahladi, Sekretaris Pembangunan Monumen PDRI Bagindo M.Letter dan Amir Syarifuddin. Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim mengatakan, pembangunan Monas PDRI di Nagari Kototinggi, akan mem­berikan banyak dampak positif terhadap masyarakat di Sumatera Barat. Selain diyakini bisa meningkatkan rasa nasionalisme, pembangunan Monas PDRI secara tidak langsung juga akan berdampak pada perekonomian daerah. Sebelumnya Wagub juga mengharapkan, HBN ini hendaknya dapat lebih disosialisasikan di tengah-tengah masyarakat. Sebab masih banyak masyarakat yang belum memahaminya. Dalam HBN, ada makna besar yang harus dipahami segenap masyarakat Indonesia. Pembangunan Monas PDRI itu diperkirakan menelan dana sebesar Rp261 miliar. Pembangunan Monas PDRI ini, sebagai bukti bahwasanya, di Sumatera Barat pada tahun 1948 sampai 1949, pernah berdiri Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), untuk menyelamatkan Republik dari cengkraman Agresi II Belanda. Monomen yang akan dibangun itu setinggi 30 meter, berukuran 40 x 40 m di Nagari Koto Tinggi, yang akan menj adi bangunan bukti sejarah di Sumatera Barat, yang menandai perjuangaan rakyat Indonesia mempertahankan keberadaan negaranya. Pada daerah lainnya yang pernah menjadi basis PDRI juga akan dibangun tugu PDRI seperti di Koto Bukittinggi sebagai ibukota PDRI, Halaban sebagai lokasi pembentukan Kabinet PDRI, Bidar Alam sebagai lokasi perencanaan kegiatan PDRI, dan rumah yang pernah ditempati Sj arifuddin Prawiranegara untuk istirahat di Sumpur

Kudus juga akan diperbaiki. “Monumen ini nantinya akan berbentuk bangunan modern.Juga dilengkapi lift.Lantai dasarnya akan dihiasi dengan relief perjuangan PDRI di Sumatera Barat”kata Kepala Biro Bina Sosial Setdaprov Sumbar yang juga wakil Ketua Panitia Peringatan Hari Bela Negara 2012 Jefrinal Arifin, didampingi Sekretaris panitia Mulyadi. Selain monumen, di tanah seluas 20 hektar ini juga dibangun perpustakaan, masjid,ruang serbaguna dan taman untuk menarik minat masyarakat berkunjung.Bahkan untuk jangka panjang juga akan dibangun sebuah universitas Bela Negara di kawasan tersebut. Agar monumen ini tidak menjadi bangunan bersejarah yang tidak diketahui orang, juga dibangun jalan lingkar di sekitar kawasan untuk memudahkan akses dari daerah tetangga. Dengan demikian, jarak tempuh dari Bukittinggi ke Koto Tinggi bisa menj adi 36 km, sebelumnya bisa mencapai 50 km. Untuk pembangunan monumen, perpustakaan, museum, masjid dan gedung serbaguna dibutuhkn dana hingga Rp 267 milyar. Tahun 2012 sudah dianggarkan Kemendikbud Rp 5 milyar dan tahun 2013 ditambah lagi Rp 20 milyar. Sedangkan Kabupaten Limapuluh Kota melakukan pembebasan lahan hingga 50 hektar, dan sudah disertifikatkan seluas 29 hektar dengan dana mencapai Rp 20 milyar. Pemprov Sumbar juga mengalokasikan dana Rp 350 juta untuk pendampingan dan biaya operasional. Sedangkan untuk pembangunan jalan lingkar dialokasikan lagi dana melalui Dinas Prasarana Jalan, Tata Ruang dan Pemukiman sebesar Rp 5 milyar. Sebagian besar jalan tersebut telah dikerjakan dan hampir selesai. Selepas peletakan batu per­tama Monas PDRI di Nagari Kototinggi, para pejabat sipil dan militer peserta upacara Hari Bela Negara PDRI bertolak ke Lurahkincia, Nagari Situjuah batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, untuk ziarah dan tabur bunga di makam para syuhada korban Peristiwa Situj uah 15 Januari 1949 yang merupakan rangkaian dari PDRI 19481949.*** Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

7


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

8

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

LAPORAN UTAMA

Purnomo. Y (f/net)

Gamawan Fauzi (f/net)

Irwan Prayitno (f/net)

Muslim Kasim (f/net)

PDRI, Penyelamat Negara RI “Dengan memperingati Hari Bela Negara, diharapkan kita semua meningkatkan kesadaran dan tanggungjawab, dengan senantiasa berbuat yang terbaik, sesuai profesi kita masing-masing, demi menjaga kelangsungan hidup bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini,” Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan RI

M.Siebert

D

engan Keputusan Presiden RI No.28 tahun 2006, ditetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara guna mengenang peristiwa penting dalam sej arah perj alanan bangsa kita dalam mempertahankan Negara Persatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sebagai mana kita ketahui bawa tanggal 19 Desember 1948 Negara RI dalam kondisi kritis karena para Founding Fathers telah ditawan oleh tentara belanda, tetapi beberapa saat sebelum penangkapan para Founding Fathers telah mengambil keputusan yang cerdas yaitu dengan mengirimkan mandat kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat dan Perwakilan RI di New Delhi India. Hal ini dilakukan guna menyelamatkan kelangsungan hidup NKRI dan sekaligus bahwa NKRI masih eksis walaupun surat mandat belum sempat diterima karena kesulitan komunikasi. Menteri Pertahanan RIProf.Dr.Ir.Purnomo Yusgiantoro, Msc , menyimpulkan bahwa PDRI merupakan sebuah mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dari rangkaian sejarah perju Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

angan bangsa ini dalam menpertahankan NegaraKesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan juga dengan peringatan hari Bela Negara pada tanggal 19 Desember 2012 yang merupakan momentum bagi rakyat Indonesia untuk dapat mengisi pembangunan dengan kekuatan soft power seperti perjuangan politik dan diplomasi sebagai mana terjadi pada tanggal 19 Desember 1948. Menhan melalui pidato tertulisnya yang dibacakan Kabadiklat Kemenhan Mayjen TNI Suwarno , selalu inspektur upacara HBN di Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh ,Kabupaten Limapuluh Kota, mengajak seluruh masyarakat Indonesia, untuk menjadikan kesadaran membela negara sebagai gerakan nasional, dengan senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, demi keutuhan dan tetap tegaknya NKR, guna mencapai Indonesia yang maju,adil dan sejahtera. “Dengan memperingati Hari Bela Negara, diharapkan kita semua meningkatkan kesadaran dan tanggungj awab, dengan senantiasa berbuat yang terbaik, sesuai profesi kita masing-masing, demi menj aga kelangsungan hidup bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini,” ucapnya. Dalam upacara yang

diikuti ratusan anggota TNI, Polri, Satpol PP, pelajar, mahasiswa dan guru-guru tersebut, Menhan juga membeberkan sej arah lahirnya Hari Bela Negara. Menurutnya, Hari Bela Negara ditetapkan sebagai Hari Besar Nasional, guna mengenang peristiwa penting dalam sej arah perjalanan bangsa, untuk mempertahankan kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dengan dikuasainya ibukota pemerintahan beserta ditahannya kepala pemerintahan beserta para menterinya pada saat itu , maka untuk mengantisipasi kekosongan kepemimpinan nasional dalam menjalankan roda pemerintahan, Mr.Syarifuddin Prawira Negara berinisiatif membentuk PDRI di Sumatera. Hal ini dilakukan guna menyelamatkan kelangsungan hidup negara RI, sekaligus menunjukkan pada dunia NKRI masih eksis, walaupun surat mandat belum sempat diterima karena kesulitan sarana komunikasi. Peristiwa bersejarah tersebut menunj ukkan kepada seluruh rakyat Indonesia,bahwa membela negara dalam rangka menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara, tidak hanya mewujudkan dengan mengangkat senjata , akan tetapi juga dapat diwujudkan melalui bidang lain yaitu soft power seperti perjuang politik dan diplomasi sebagaimana terjadi pada tanggal 19 Desember 1948. “ Peristiwa itu yang melatar belakangi diperingatinya 19 Desember sebagai Hari Nasional yang wajib diperingati secara nasional setiap tahun oleh seluruh rakyat Indonesia. Dengan memperingati HBN, diharapkan kita semua senantiasa berbuat yang terbaik sesuai profesi kita masingmasing demi menj aga kelangsungan hidup bangsa dan NKRI yang kita cintai ini,” harap Menhan. Pada bagian lain diingatkannya, seluruh rakyat Indonesia hendaknya menjadikan nilai nilai bela negara sebagai landasan sikap dan prilaku dalam kehidupan sehari hari , ulasnya.***


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

PDRI Diakui, Masyarakat Sumbar Boleh Berbangga Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengungkapkan, masyarakat Sumbar boleh berbangga atas diakuinya sejarah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) sebagai hari besar nasional. “Tengoklah, semua hari-hari besar negara peristiwanya selalu terjadi di Pulau Jawa. Satu-satunya hari besar di luar Jawa itu, ada di Sumbar,” ujar Gamawan Fauzi. Gamawan masih ingat betul pada peringatan Hari Nusantara ke7, Senin 18 Desember 2006 di Pelabuhan Bungus Padang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Keppres Nomor 28 Tahun 2006. Negara mengakui PDRI sebagai bagian sejarah, dan memiliki arti penting bagi keutuhan NKRI. Sebagai tokoh yang mengusulkan nama Hari Bela Negara kepada pemerintah saat menj abat Gubernur Sumbar, Gamawan menyebutkan , Pemerintah mengeluarkan Keppres No 113/TK/2011 menetapkan Syafruddin Prawiranegara sebagai pahlawan nasional. “Saya sebagai yang mengusulkan sekaligus menyarankan namanya sebagai Hari Bela Negara, merasa puas dan lega. Apalagi para tokoh yang mengukir sej arahnya, j angan sampai kita lupakan mereka,” kata Gamawan. Monumen Generasi Muda Gubernur Sumatera Barat, Prof. Dr. Irwan Prayitno M.Si, menarik arti penting dari sejarah keberadaan PDRI sebagai’perpanjangan nafas’ Republik Indonesia yang hendak dirong-rong oleh penj aj ah kolonial Belanda melalui Agresinya yang kedua, tahun 1948 silam. Selama lebih kurang lima tahunperjalanan Revolusi Indonesia (1945-1950) atau sering juga disebut sebagai perang kemerdekaan, Indonesia terus menerus dilanda oleh krisisperperangan melalui kekuatan penjajah. Namun patut diakui bahwa tidak ada masa yang lebih gawat selama periode itu selain masa perj uangan gerilnya di zaman PDRI. Setelah ibukota

Jogyakarta dan Bukittinggi sebagai benteng kedua Republik Indonesia diduduki Belanda dalam Agresi Kedua itu, namun di luar dugaan Belanda, sejumlah pimpinan sipil dan militer yang berada di Sumatra Barat, termasuk Bapak Sjafruddin Prawiranegara yang diminta bertahan di Ranah Minang oleh Wapres Mohammad Hatta yang sekaligus sebagai Perdana Meteri ketika itu, dapat diambil inisiatif mendirikan PDRI. Melalui perang gerilnya dan diplomasi PDRI inilah eksitensi Republik Indonesia dapat terus ditegakkan dan diakui keberadaanya oleh dunia internasional. “Saya berharap dengan telah ditetepkanya hari kelahiran PDRI sebagai Hari Bela Negara dan bakal dibangunnya monumen dan tugu PDRI di Koto Tinggi ini, hendaknya dapat menjadi monumen bagi generasi muda Sumatra Barat dan bangsa Indonesia untuk lebih memahami nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa dan memantapkan rasa kebangsaan kita sebagai negara yang berdaulat, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia,”kata Gubernur. Jangan Ada Yang Tercecer

di saat-saat genting. Andaikata PDRI ini tidak ada, maka sulit memperjuangkan kemerdekaan RI di luar negeri. “Insya Allah, sejarah lengkap bersama biografi para pejuang-pejuangnya termasuk para pejuang dari Sumatra Barat, kelak dapat mengisi perpustakaan di Monumen dan Tugu PDRI, terutama, tentunya, untuk mengisi relung hati para generasi muda bangsa ini untuk memahami nilai-nilai sejarah perj uangan bangsa untuk kemudian dapat memupuk rasa persatuan dan kesatuan guna menguatkan kembali rasa kebangsaan masyarakat Indonesia di masa mendatang,’kata wagub. Dalam konteks pembangunan monumen dan Tugu PDRI di Koto Tinggi ini, W agub menyampaikan ucapan terimakasih kepada masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota yang telah bersedia menyediakan lahan untuk pembangunan monumen ini. Rasa terimakasih yang sama juga kami sampaikan kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan pemerintah pusat melalui lima kementeriannya: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pertahanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kementerian PU yang telah memberikan komitmen untuk Sumatra Barat dan bangsa Indonesia ini. Selain di Koto Tinggi ini, nantinya kita harapkan juga bakal dibangun tugu Bela Negara yang representatif di daerahdaerah yang sempat menj adi basis gerilnya para pemimpin PDRI itu, seperti di Kota Bukittinggi, di Halaban dan di Bidar Alam, Kabupaten Solok Selatan. Dikatakannya, pembangunan Monas PDRI di Nagari Kototinggi, akan memberikan banyak dampak positif terhadap masyarakat di Sumatera Barat. Selain diyakini bisa meningkatkan rasa nasionalisme, pembangunan Monas PDRI secara tidak langsung juga akan berdampak pada perekonomian daerah. Akhirnya W agub juga mengharapkan, HBN ini hendaknya dapat lebih disosialissikan di tengah-tengah masyarakat, masih banyak masyarakat

Wakil Gubernur Muslim Kasim, mengatakan, rangkaian panjang sejarah perj uangan PDRI bersama para pej uangnya masih perlu terus digali sehinga tidak ada yang tercecer begitu saja. Karena itu, selaku Ketua Umum Panitia Pelaksanaan Pembangunan Monumen dan Tugu Hari Bela Negara, ia berharap kepada sejarawan di Sumatra Barat untuk dapat terus menggali dan menghimpun kembali rangkaian sejarah panjang perjuangan PDRI ini. Makanya, ia mendukung wacana Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota Desri untuk menggelar sayembara atau lomba menulis tentang PDRI. Perlu Kita ketahui dan kita pahami bersama bahwa ranah Minang ini tidak hanya memberikan para putra-putri terbaiknya untuk memperjuangkan dan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia ,tetapi juga ada Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berdiri di Sumatra Barat untuk memperpanjang ‘nyawa’ Republik yang belum memahaminya. *

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

9


10 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

LAPORAN UTAMA

Pembangunan Monumen PDRI

Agar Tidak Lupa Dengan Sejarah “Ternyata banyak generasi muda yang sudah lupa dengan sejarah yang terjadi di daerahnya sendiri. Bahkan ada yang tidak tahu. Ini memang harus diingatkan, jangan sekali-kali lupakan sejarah.”

I

ni fakta yang seyogianya menj adi perhatian semua kalangan, yaitu ternyata banyak kalangan generasi muda yang sudah lupa dengan sejarah yang terjadi di daerahnya sendiri. Rencana pembangunan Monumen PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) di Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, diharapkan akan mampu mengingatkan semua kalangan akan sejarah perjalanan bangsa ini. Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kemendikbud, Surya Helmi, meruj uk seminar nasional bertema “PDRI dan Penguatan Pembangunan Nasionalisme dan Karakter Bangsa” di Sumbar pada medio November lalu. “ Ternyata banyak generasi muda yang sudah lupa dengan sejarah yang terjadi di daerahnya sendiri,” kata Surya. “Bahkan ada yang tidak tahu. Ini memang harus diingatkan, jangan sekali-kali lupakan sejarah,” tambahnya. Menurut Wakil Gubernur Sumbar Muslim Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

Kasim, pembangunan monumen PDRI di Koto Tinggi harus segera dilakukan. “ Saat ini pembahasannya tidak saja di tingkat pemerintah daerah, tapi sudah di tingkat nasional,” ujar W agub Muslim. Ia juga mengatakan bahwa pembangunan Monumen Bela Negara itu sudah melalui kaj ian yang panjang. Bahkan sudah beberapa kali dilakukan pembahasan oleh beberapa kementerian. Setelah melalui penelitian panj ang, pada akhirnya pemerintah mewujudkan pembangunan Monumen Bela Negara di Koto Tinggi sebagai penanda di daerah itu pernah berdiri Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama 1948-1849. Diperkirakan pembangunan monumen yang berdiri di atas lahan seluas 50 hektar itu menelan dana Rp268. Tahap awal, pembangunan dan pengembangannya dilakukan di atas lahan 20 hektar. Di samping pembangunan Monumen PDRI di Koto Tinggi, juga akan dilakukan pem

bangunan Tugu PDRI di Kota Bukittinggi, Halaban, dan Kabupaten Solok. Dalam konsep fungsi bangunan dan ruang, monumen tersebut diharapkan dapat menempatkan fungsi komersial yang dapat memberikan kontribusi ke daerah seperti bangunan pertokoan/kios, perhotelan dan rekreasi alam dan wisata sejarah yang menarik. Untuk tahap awal atau jangka pendek yang menelan dana Rp26 miliar, dialokasikan untuk pembangunan dasar monumen, diorama, plaza, rumah serba guna, masjid, dan toko souvenir. Di samping itu secara paralel pemerintah kabupaten/kota dan Pemprov Sumbar melaksanakan pembangunan infrastruktur jalan menuju monumen dan j alan lingkar di sekitar lokasi, yang dananya dianggarkan Rp26 miliar. Pembangunan tahap kedua dengan nilai proyek Rp100 miliar, diharapkan sumber dananya berasal dari empat kementerian terkait, yang meliputi Kementrian Dalam


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Sosial, dan Kementerian Pertahanan. Sedangkan tahap berikutnya dengan anggaran Rp41 miliar, berupa pengembangan sarana dan prasarana pendukung monumen termegah di Indonesia tersebut. Pendanaan disepakati bersumber dari para stake holder, DPR dan DPD RI, jajaran pengusaha, tokoh-tokoh nasional, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota se-Indonesia, karena di areal Monumen Bela Negara yang berlokasi di Koto Tinggi itu juga akan dibangun miniatur seluruh provinsi di Indonesia. Simbol Nasionalisme Menurut Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo, secara literaktif monumen diartikan sebagai salah satu bentuk gambaran fisik dari perjalanan tata nilai dan dinamika norma yang berkembang dalam suatu peristiwa yang menj adi konvensi-konvensi istimewa dan dipelihara oleh negara. “Gerak dan langkah perj uangan dalam sej arah tersebut harus kita gambarkan secara fisik dalam suatu bangunan yang menggambarkan pertemuan iven sejarah Yogyakarta, Bukittinggi, dan Koto Tinggi di Kabupaten Limapuluh Kota,” sebut Bupati. Dijelaskan, PDRI berlangsung pada 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949, yang dipimpin Mr. Syafruddin Prawiranegara, yang lahir sebagai penyelamatan kedaulatan RI saat Belanda mengingkari Perjanjian Renville dan menyerang ibu kota Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Sebelum SoekarnoHatta dan sejumlah menteri ditangkap Belanda, digelar sidang darurat yang menghasilkan keputusan memberikan mandat kepada Menteri Kemakmuran Mr. Syafruddin Prawiranegara yang sedang berada di Bukittinggi mendirikan pemerintahan darurat di Sumatera. Kawat yang kedua dituj ukan kepada Dr. Soedarsono, Palar, dan AA. Maramis yang sedang berada di India agar mendirikan Exile Goverment Republic Indonesia di India jika Syafruddin Prawi

negara tidak berhasil mendirikan pemerintahan darurat. Mendengar berita bahwa Yogyakarta telah diduduki Belanda dan sej umlah pemimpin RI telah ditangkap, maka pada 19 Desember 1948 sore, Mr. Syafruddin Prawiranegara bersama Kolonel Hidayat (Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera) mengunjungi Mr. Tengku M. Hassan (Gubernur Sumatera dan Ketua Komisaris Pemerintah Pusat) di Bukittinggi. Disepakati bahwa PDRI telah ditetapkan di Bukittinggi pada jam 18.00 W IB dan malam itu juga mereka akan meninggalkan Bukittinggi menuj u Halaban, sebuah daerah perkebunan teh yang berada 15 kilometer dari Kota Payakumbuh. W alaupun secara resmi kawat dari Presiden Soekarno belum diterima, namun dalam rapat yang digelar di Halaban pada 22 Desember 1948 disepakati membentuk PDRI. Setelah satu bulan agresi militer Belanda, pimpinan PDRI dapat berkomunikasi dengan empat menteri yang berada di Jawa. Mereka sepakat untuk menghilangkan dualisme kepemimpinan di Sumatera dan Jawa. Maka pada 31 Maret 1949, Syafruddin Prawiranegara mengumumkan penyempurnaan susunan pimpinan PDRI. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono pun telah menetap

kan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negaradengan Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2006. Kepres tersebut ditindaklanj uti dengan keluarnya Keputusan Bupati Limapuluh Kota Nomor 34 Tahun 2010 tentang Penetapan dan Pedoman Penyelenggaraan Peringatan Hari Bela Negara dan Rangkaian Peristiwanya di Kabupaten Limapuluh Kota. Berbeda dengan Bukittinggi saat agresi militer Belanda berlangsung, Kabupaten Limapuluh Kota menjadi lebih sibuk karena Koto Tinggi dipilih sebagai pusat administratif Sumatera Barat dan basis perjuangan PDRI. Tak kurang 700 orang pegawai dan pejabat Sumatera Barat beraktivitas di sana. Dijelaskan Alis Maraj o, “Masyarakat Koto Tinggi rela menyediakan tempat untuk Mr. Syafruddin Prawiranegara dan rombongannya menginap. Masyarakat tidak mengenal mereka, namun rela menyediakan makanan dan rumah mereka untuk para pendiri PDRI”. M. Rasyid j uga pernah menyatakan, “Dengan semangat nasionalisme, masyarakat Koto Tinggi bukan hanya mengorbankan yang berwujud materi saja, bahkan j iwa pun ikut mereka korbankan untuk bertempur dengan Belanda”.***

Lokasi pembangunan monumen nasional PDRI di Koto Tinggi (f/joy) Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

11


127Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

LAPORAN UTAMA

Wawancara Wagub Muslim Kasim :

Untuk Membangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru PENGANTAR - Apa makna dan sejauhmana langkah-langkah yang telah dilakukan terkait dengan rencana pembangunan Monumen PDRI di Koto Tinggi serta siapa kelak pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan perawatan, bersama ini diturunkan hasil wawancara Muhammad Siebert dari Sinamar dengan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Muslim Kasim. Berikut petikannya:

Apa tujuan pembangunan Monumen PDRI di Koto Tinggi? Selain nilai historis dan memelihara semangat nasionalisme, keberadaan monumen juga dimaksudkan untuk pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi, supaya pelaksanaan pembangunan bisa dilakukan secara merata. Kalau dibangun pusat pertumbuhan, berarti jalan-jalan akan dibangun dengan bagus, begitu pun sarana dan prasarana lainnya. Kalau presiden ke sana mungkin bisa cepat dibangun. Tapi ini kan presiden tidak bisa ke sana.

Karena sudah menjadi aset nasional, tentu ada anggarannya nanti dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sementara biaya pembangunannya, anggaran keseluruhannya mencakup Rp269 miliar. Tentu dikucurkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Kalau digelundungkan dana sebanyak itu tidak akan habis dalam setahun.

Terkait Hari Bela Negara yang selama ini peringatannya hanya di Sumbar, bagaimana dengan di daerah-daerah lainnya? Kita telah mengusulkan ke pemerintah pusat melalui Menteri Pertahanan agar Hari Bela Menyangkut soal momumen, berarti sudah Negara menjadi kegiatan yang diperingati final? secara nasional. Oleh karena itu perlu Itu sudah final. Sudah ada kepres-nya, yaitu disosialisasikan, perlu ada penegasan. Kepres Kepres No. 28 Tahun 2006. Sudah jelas itu. itu kan bukan berlaku untuk Sumbar saja, tapi secara nasional. Makanya dalam rncana Tentang namanya? pembangunan monumen ini ada yang Monumen PDRI (Pemerintah Darurat mengusulkan agar dibangun miniatur rumahRepublik Indonesia ) rumah adat di masing-masing provinsi yang ada di seluruh Indonesia. Bagaimana dengan perawatan monumen ke depan?

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

Selain pembangunan tugu dan monumen, untuk daerah-daerah yang termasuk PDRI seperti Halaban yang dibangun, Koto Tinggi juga dibangun, bagaimana dengan Silantai dan lainnya? Nanti secara bertahap akan dibangun juga itu oleh pemerintah setempat. Yang paling penting itu kan membangun tingkat kesejahteraan rakyat dan menuntaskan kemiskinan. Untuk apa dibangun monumen kalau umpama masyarakatnya masih miskin? Masing-masing kabupaten, masing-masing pemerintahan itu ada tanggung jawabnya. Kita harapkan sajalah supaya pembangunan ini akan dapat memotivasi seluruh aparatur, masyarakat untuk bersama-sama membangun. Membangun itu tidak harus pemerintah, masyarakat juga bisa membangun, pengusaha juga bisa membangun, para perantau juga bisa membangun. Kelebihan kita di Minang kan begitu. Kita ada namanya energi positif, ada rasa kebersamaan di masyarakat. Alek buruak baa? Baimbauan, alek baiak, baimbauan. Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun. Jadi insya Allah dengan kekuatan-kekuatan seperti itu bisa dibangun.***


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

LAPORAN UTAMA

Darman Sahladi, Ketua DPRD :

Pemkab dan Masyarakat Serius Dukung Monumen KETUA DPRD Kabupaten Limapuluh Kota Darman Sahladi mengungkapkan keseriusan pemerintah maupun masyarakat Limapuluh Kota dalam menyukseskan pembangunan Monumen PDRI di Koto Tinggi. “Masyarakat Limapuluh Kota, khususnya masyarakat Koto Tinggi, memberikan partisipasinya dengan menghibahkan tanahnya seluas 20 hektar, yang dibuktikan dengan surat pernyataan hibah dari masyarakat setempat, di mana saat ini sedang dalam proses pembuatan sertifikat di BPN,” terang Darman. Dikatakan Darman, besar harapan yang ditumpangkan pada pembangunan monumen ini, antara lain dimak

sudkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dengan rencana pembangunan objek wisata sejarah sekaligus rencana pembangunan wisata yang menggambarkan venue-venue dari provinsi di Indonesia dengan bantuan dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia. “Juga diharapkan tercapainya multiplay effect dari kegiatan pembangunan monumen ini, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masayarakat dan Pemkab Limapuluh Kota,” kata politisi Partai Demokrat, yang menj abat Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Limapuluh Kota itu. (mike)

Asyirwan Yunus, Wakil Bupati :

Koto Tinggi Akan jadi Kota Satelit Wakil Bupati Limapuluh Kota, Drs.H. Asyirwan Yunus,M.Si, sebelumnya menilai, keberadaan Monumen Nasional (Monas) PDRI sangat penting artinya untuk mengenang perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari penjajah Belanda. Perjuangan singkat waktu itu telah mampu menanamkan kearifan sej arah mengenai arti pentingnya perjuangan dan kekuatan rakyat dalam kelangsungan hidup bangsa dan Negara,”ujarnya. Perjuangan tersebut, menurutnya, merupakan bukti sejarah, bahwa kemerdekaan nasional yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 oleh Soekarno - Hatta, sebagai wakil bangsa Indonesia, mendapat dukungan, dipertahankan dan ditegakkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pada bagian lain ia menyebutkan, khusus untuk biaya pembangunan fisik Monumen Bela Negara secara keseluruhan termasuk jalan, diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp820 miliar. Sehingga Koto Tinggi sebagai kawasan strategis, bukan tidak mungkin disatu saat nanti berkembang menjadi

kota satelit. Betapa tidak, pembangunan monumen yang akan dilakukan di lokasi Sungai Sirieh, didukung dengan ruas jalan yang memadai dari kabupaten tetangga, Agam dan Pasaman. Rencananya, seluruh dana pembanggunan beserta fasilitas dan jalan, akan dibiayai pemerintah pusat dan Propinsi Sumbar, sebagian dari APBD Limapuluh Kota. Sebagian pekerjaan akan dimulai tahun ini juga, seperti pembukaan jalan dan pelebaran ruas jalan Koto Tinggi - Agam sepanjang 27 km, Koto Tinggi-Bonjo Pasaman sepanjang hampir 18 km. Pembangunan Monumen Nasional Bela Nagara leading sektornya adalah Kementrian Pertahanan yang melibatkan Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Sosial dan Kementrian PU serta Kementrian Pariwisata. Wabup juga menyatakan sangat menyambut baik rencana pembangunan monumen PDRI tersebut, dan apabila rencana tersebut terwujud, maka akan menjadi satu-satunya monumen sejarah kebangsaan Indonesia yang berada di luar pulau Jawa. Wabup Asyirwan mengajak seluruh SKPD (satuan kerja perangkatdaerah) di lingkup Pemkab Limapuluh Kota yang terkait dengan kesuksesan pembangunan monumen ini untuk lebih serius mengusahakan pembangunannya.(aking)

Irwandi , Camat Gunuang Omeh :

Masyarakat Rela Serahkan Tanah CAMAT Gunuang Omeh Irwandi mengungkapkan bahwa untuk menunjang rencana pembangunan monumen, masyarakat setempat menyerahkan tanah seluas 20 hektar, yang dberikan secara ikhlas tanpa menuntut ganti rugi sedikitpun, dan masih bersedia menambahkannya apabila masih dibutuhkan oleh pemerintah demi suksesnya pembangunan monumen dimaksud.*** Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

13


14 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

LAPORAN UTAMA

Saksi Hidup Perjuangan PDRI Bicara Monas :

“ JANGAN DUSTAI SEJARAH “

A

dalah H. Djafri Dt Bandaro Lubuk Sati,72, salah seorang saksi hidup perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang kini masih hidup. Melalui organisasi Tentara Pelajar (TP) bentukan Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), Djafri merasakan secara langsung perjuangan Mr. Syafrudin Prawiranegara dalam melanjutkan kemerdekaan bangsa yang telah direbut sejak 350 tahun setelah dijajah Belanda dan Jepang. Mengenakan atasan semi jas warna coklat mudah yang mulai lusuh, seorang lelaki tua, keluar rumah setelah melihat kedatangan Sinamar. Dengan perantara H Safri Jalinus, salah satu tokoh masyarakat Padangjopang yang sangat intens memberikan dukungan kepada masyarakat dalam perjuangan PDRI. Bersamanya, Anton, salah seorang “tim sukses” pembangunan tugu Monumen Nasional (Monas) PDRI di Kototinggi Kecamatan Gunuangomeh. Sejumlah pekerja terlihat tengah mencat rumah adat semi permanen, yang dihuninya. Datuak Lubuak Sati, begitu warga Limbonang dan bahkan staf di Kantor Gubernur Sumbar-tempat terakhir ia mengabdikan diri sebagai PNS, memanggil namanya. Ia adalah salah satu saksi hidup perjuangan PDRI tahun 1948 silam. Ketika memulai bicara, Djafri terlihat banyak diam. Ketika pertanyaan diajukan, apa posisinya dalam perjuangan PDRI. Ia memulainya dari dipindahkannya SMPN 1 Payakumbuh ke Padangjopang kecamatan Guguak tahun 1948. “Disitulah saya sekolah setahun saja,”katanya.

Selanjutnya H Djafri tidak bisa menahan keinginannya menukilkan pengalaman hidupnya kepada Padang Ekspres. “Saya bersama puluhan anak-anak SMP, menjadi tentara pelajar bentukan IPPI. Kamilah yang mengantarkan surat-surat penting dari Padangjopang ke Kototinggi. Karena tidak ada kenderaan, surat-surat rahasia itu dikirim secara estafet dari Padangjopang (salah satu basis PDRI)-Andiang-Limbonang-SeiantuanKototinggi (tempat berkumpulnya pejuang dan Syafruddin Prawiranegara) dengan jarak sekitar 23 km,”katanya. Perjuangan PDRI, kata pensiunan Kepala Bagian Kebudayaan Kantor Gubernur Sumbar itu, lebih banyak dilakukan di Kototinggi.   Kalau  boleh  diistilahkan,  ibarat seorang ibu yang akan melahirkan anaknya, rasa sakit sudah mulai terasa di Bukittinggi, disaat Syafruddin yang saat itu menjabat Menteri Kesejahteraan Rakyat sedang berada di Bukittinggi. Karena mendengar Jogjakarta yang saat itu menjadi ibukota RI diserang dan disaat bersamaan tentara Belanda (NICA) juga  menggempur  habis-habisan tentara  diseluruh wilayah nusantara, maka pada tanggal 19 Desember 1948, Syafruddin bersama rombongan termasuk salah satunya Kolonel Syarif Usman yang selalu membawa  radiogram,  bergerak  ke  Halaban  Limapuluh Kota. “ Di Halabanlah, dibuat ikraq atau kesepakatan, bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan harus dilanjutkan. Sifatnya hanya sekedar ikrar kesepakatan. Inilah yang kita istilahkan, ketu

Djafri Dt.Bandaro Lubuk Sati ( ditengah ) (net)

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

ban mulai pecah. Waktu berada di Halabanpun, pendek, dari pukul 19.00-03.00 dini hari WIB. Setelah itu, para pejuang berpencar. Syafruddin dan rombongan berangkat ke Kototinggi. Setelah berjalan 2 hari, rombongan baru sampai tanggal 21 Desember. Di Kototinggilah, Kolonel Syarif Usman melalui radiogramnya, memperdengarkan kepada masyarakat Kototinggi dan para tentara, Bung Hatta mengumumkan, Jogjakarta telah dikepung, Presiden Soekarno telah tertangkap dan menginstruksikan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara yang sedang berada di Bukittinggi untuk membentuk PDRI. Kalau tidak bisa, maka diistruksikan kepada Mr. Syhrir yang sedang berada di New Delhi India, untuk membentuk PDRI. Itulah kali pertama Syafruddin Prawiranegara mendengar perintah pembentukan PDRI.   Sejak  saat  itulah,  perjuangan  PDRI  dimulai dengan beragam kisah. Inilah yang kita sebut, anak lahir di Kototinggi. Masyarakat Kototinggilah yang berkorban habis-habisan membantu pejuang,”tukuk Djafri yang juga tercatat sebagai salah satu penasehat Raja Negeri Sembilan Malaysia bersama mantan Gubernur Sumbar, Azwar Anas. Lantas ketika ditanyakan pendapatnya, rencana pendirian tugu Monas di Limapuluh Kota, apakah di Halaban atau di Kototinggi. Ketua Pelaksana Forum Silaturahmi Keraton dan Lembaga Adat Nusantara yang pernah digagas Presiden SBY. Djafri terlihat berfikir. Dengan suara agak rendah, ia kemudian mematok kondisi daerah. “Inilah salah satu “peninggalan” Belanda yang tersisa. Politik devide et impera” atau adu domba, masih terpelihara hingga kini. “Saya adalah orang Minangkabau. Saya adalah orang Luak Limopuluah. Kalau ada pilihan, apakah di Halaban atau Kototinggi sebagaimana rekomendasi Bupati Limapuluh Kota, saya tidak berani jawab. Tapi tolonglah arif. Jangan dustai sejarah. Saya tidak akan menjawab harus di lokasi A atau di B.  Hilangkanlah  sifat  adu  domba.  Selama  kita masih di Luak Limopuluah, maka jangan  pernah  bicara  daerah  lain.  Inilah  yang  harus ditanamkan kepada masyarakat dan pemuda kita, “harapnya. Selanjutnya soal pilihan lokasi, silakan tim khusus yang dibentuk Kementrian Pertahanan Nasional yang menentukan. Sebelumnya, pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota memberikan dua pilihan pendirian tugu Monas yang kabarnya menelan dana Rp20 miliar. Sumber dananya dari Kementrian Pertahanan Nasional. (jonres)


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

LAPORAN UTAMA

MONUMEN PDRI

Simbol Nasionalisme Dalam Bingkai NKRI

Oleh : Yossarika Sofyan

M

onumen PDRI Sebagai Simbol Nasionalisme Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi judul makalah yang disampaikan oleh Bupati Alis Marajo dalam seminar Bela Negara di Pangeran Beach Hotel Padang pada tanggal 13 s/d 14 November 2012 lalu. Nagari Koto Tinggi di Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Lima Puluh Kota memang telah ditetapkan sebagai lokasi pembangunan Monumen PDRI berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 460-14-2011 tanggal 17 Januari 2011 tentang Penetapan Lokasi Pembangunan Monumen dan Tugu Bela Negara. Kemudian untuk mempercepat pembangunan Monumen PDRI tersebut, maka dikeluarkan Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 450-320-2011 tanggal 6 Juni 2011 dengan lokasi pembangunan Monumen PDRI di Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh serta Tugu PDRI di Nagari Halaban Kecamatan Lareh Sago Halaban. Menurut Alis Marajo, secara literaktif monumen diartikan sebagai salah satu bentuk gambaran fisik dari perjalanan tata nilai dan dinamika norma yang berkembang dalam suatu peristiwa yang menjadi konvensi-konvensi istimewa dan dipelihara oleh negara. “Gerak dan langkah perjuangan dalam sejarah tersebut harus kita gambarkan secara fisik dalam suatu bangunan yang menggambarkan pertemuan event sejarah Yogyakarta, Bukittinggi, dan Koto Tinggi di Kabupaten Lima Puluh Kota”, sebut Bupati. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) berlangsung pada 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949 dan dipimpin oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara. PDRI lahir sebagai penyelamatan kedaulatan RI saat Belan

da mengingkari Perjanjian Renville dan menyerang Ibu Kota Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948. Sebelum Soekarno - Hatta dan sejumlah menteri ditangkap oleh Belanda, digelar sidang darurat yang menghasilkan keputusan untuk memberikan mandat kepada Menteri Kemakmuran Mr. Syafruddin Prawiranegara yang sedang berada di Bukittinggi untuk mendirikan Pemerintahan Darurat di Sumatera. Kawat yang kedua ditujukan kepada Dr. Soedarsono, Palar, dan AA. Maramis yang sedang berada di India agar mendirikan Exile Goverment Republic Indonesia di India j ika Syafruddin Prawiranegara tidak berhasil mendirikan Pemerintahan Darurat. Mendengar berita bahwa Yogyakarta telah diduduki oleh Belanda dan sej umlah pemimpin RI telah ditangkap, maka pada tanggal 19 Desember 1948 sore, Mr. Syafruddin Prawiranegara bersama Kolonel Hidayat (Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera) mengunjungi Mr. Tengku M. Hassan (Gubernur Sumatera dan Ketua Komisaris Pemerintah Pusat) di Bukittinggi. Disepakati bahwa PDRI telah ditetapkan di Bukittinggi pada jam 18.00 W IB dan malam itu juga mereka akan meninggalkan Bukittinggi menuj u Halaban, sebuah daerah perkebunan teh yang berada 15 kilometer dari Kota Payakumbuh. W alaupun secara resmi kawat dari Presiden Soekarno belum diterima, namun dalam rapat yang digelar di Halaban pada tanggal 22 Desember 1948 disepakati untuk membentuk PDRI. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono telah menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara dengan Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2006. Kepres tersebut ditindak lanj uti dengan keluarnya Keputusan Bupati Lima Puluh Kota Nomor 34 Tahun 2010 tentang Penetapan dan Pedoman Penyelenggaraan Peringatan Hari Bela Negara dan Rangkaian Peristiwanya di Kabupaten Lima Puluh Kota. Berbeda dengan Bukittinggi saat Agresi Militer Belanda berlangsung, Kabupaten Lima Puluh Kota menjadi lebih sibuk, karena Koto Tinggi dipilih sebagai pusat administratif Sumatera Barat dan basis perjuangan PDRI. Tak kurang 700 orang pegawai dan pejabat Sumatera Barat beraktivitas di sana. Dijelaskan oleh Alis Marajo, “Masyarakat Koto Tinggi rela menyediakan tempat untuk Mr. Syafru

din Prawiranegara dan rombongannya menginap. Masyarakat tidak mengenal mereka, namun rela menyediakan makanan dan rumah mereka untuk para pendiri PDRI”. M. Rasyid juga pernah menyatakan, “Dengan semangat nasionalisme, masyarakat Koto Tinggi bukan hanya mengorbankan yang berwujud materi saja, bahkan jiwa pun ikut mereka korbankan untuk bertempur dengan Belanda”. Bupati Alis Marajo sendiri sangat berharap para generasi muda mengetahui dan meneladani sejarah masa lampau. “PDRI merupakan peristiwa sejarah yang mengandung nilai nasionalisme. Oleh karena itu, pembangunan monumen PDRI di Koto Tinggi nanti harus memperlihatkan secara fisik hal-hal yang berkenaan dengan Pancasila, harus ada diorama yang menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang beraneka kultur dan budaya”, tegas Bupati tentang pembangunan Monumen di atas tanah seluas 50 hektar tersebut. Koto Tinggi berjarak 28 kilometer dari kota Bukittinggi dan 52 kilometer dari ibu kota Sarilamak. Pada peringatan Hari Bela Negara tahun 2012 ini, Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota akan melaksanakan upacara peringatan di lokasi pembangunan Monumen Bela Negara, sekaligus peletakan batu pertama tanda dimulainya pembangunan monumen tersebut. Surya Helmi selaku Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana untuk membangun Museum Bela Negara di lokasi pembangunan Monumen PDRI. Pembangunan Museum ini dilakukan bersama-sama dengan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, DPRD Provinsi Sumatera Barat, serta Pemerintah dan DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota. “Museum Bela Negara merupakan prioritas utama dari pembangunan tiga buah museum di tahun 2013 nanti. Kami sedang menunggu hasil akhir kajian Detail Engineering Desain (DED) yang diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2012 ini”, uj ar Helmi dalam wawancara yang dikutip dari harian Padang Ekpress terbitan Kamis (15/11). Chalid Prawiranegara, putra ketiga Syafruddin Prawiranegara mengapresiasi upaya pemerintah dalam membangun Museum Bela Negara di Kabupaten Lima Puluh Kota. (***) Edisi 90/Tahun XI/Desember2012

15


16 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

LAPORAN UTAMA

Cuplikan Sejarah PDRI

19 DESEMBER 1948 - 13 JULI 1949 Ketua Umum Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Sumatera Barat , H.Jamaris Yunus (mantan Wakil Komandan Sektor Garuda Mas dengan pangkat Opsir Muda) pada peringatan Hari Bela Negara (HBN) tahun 2012 di Koto Tinggi telah menyampaikan sejarah ringkas PDRI 19 Desember 1948- 13 Juli 1949, yang dibacakan Zulwadi Bagindo Wali . Berikut kami sajikan kembali untuk pembaca majalah Sinamar...

B

elanda melancarkan serangan serentak ke kedudukan RI di Jogj akarta dan Bukittinggi. Di Jogjakarta, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta dengan sej umlah petinggi negara ditangkap Belanda. Akibatnya pemerintah RI berada dalam keadaan gawat darurat. Belanda beranggapan Republik telah tiada. Namun Belanda keliru, bahkan dibuat kecewa ketika mendapati kenyataan akhirnya pemerintah alternatif bernama PDRI di belantara Sumatera. Ternyata pada saat krisis itu Menteri Kemakmuran Kabinet Hatta Mr. Syafruddin Prawiranegara sedang berada di Bukittinggi bersama pemimpin sipil dan militer di kota itu mendeklarasikan berdirinya PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Momen itu ternyata amat berkesinambungan dengan keputusan penting yang di buat di Yogyakarta, dimana pada saat genting menjelang penangkapan mereka; Presiden dan W akil Presiden masih j uga sempat menyelenggarakan sidang kabinet dan mengirim kawat ke kedua alamat. Pertama, kedua Menteri Kemakmuran Mr. Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

Syafruddin Prawiranegara yang sedang berada di Bukittinggi. Kedua, kepada Mr. Soedharsono dan Mr. Maramis yang sedang berada di Delhi, India. Walaupun akhirnya diketahui kedua surat kawat itu tidak pernah sampai ke alamatnya karena alat komunikasi keburu dibinasakan oleh Belanda. Kelahiran PDRI tidaklah berarti sendiri; melainkan sudah diantisipasi sebelumnya serta dilaksanakan pada saat yang tepat dengan tindakan yang tepat. Yang melatarbelakanginya adalah kearifan Bung Hatta selaku W akil Presiden merangkap Perdana Menteri dan Menteri Pertanahan dalam mempersiapkan Bukittinggi yang waktu itu tempat kedudukan Gubernur Sumatera menjadi calon Ibukota Republik, apabila seluruh pulau Jawa diduduki Belanda. Dalam suatu rapat kilat di Istana Wakil Presiden sebelum meninggalkan Bukittinggi kembali ke Yogya, Bung Hatta memesankan kepada Mr. Syafruddin: ‘Jij tinggal disini dengan kawan – kawan yang lain. Apabila Belanda menyerbu daerah Republik, saya akan memimpin pemerintahan RI di Sumatera dan Bung Karno di luar negeri. Ada tiga tahapan

yang dilakukan oleh Bung Hatta sehingga PDRI terwujud di Bukittinggi, walaupun telex dari Yogya tidak sampai ke tangan Mr. Syafruddin. Pertama, Yogya sudah padat, disamping menampung anggota pemerintahan pusat dan keluarganya pula hijrah dari Bandung ke Yogya. Letkol Daan Yahya, Ka. Staf Divisi Siliwangi serentak sadar, jika terjadi agresi kedua oleh Belanda, daerah sisa di Jawa tidak memberi cukup keleluasaan dergerak bagi suatu pemerintahan RI dalam perang gerilya. Untuk itu perlu kajian suatu daerah baru di luar Jawa yang memenuhi syarat sebagai Ibukota Republik. Kriterianya; Pertama, daerahnya lebih luas juga strategis dari sudut militer, sumber daya dan logistic cukup, disamping rakyatnya setia kepada NKRI. Akhirnya disimpulkan dan disarankan daerah dimaksud adalah Bukittinggi dan sekitarnya. Memorandum itu diserahkan oleh Letkol Daan Yahya kepada Menteri Pertahanan Bung Hatta bulan Maret 1948. Kedua, tanggap membaca dokumen penting itu, Bung Hatta mulai bulan Mei 1948 mengirim dua tim di Bukittinggi untuk mempersiapkan basis cadangan


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

untuk pusat pemerintahan RI. Kedua tim yang terdiri dari 5 dan 4 perwira itu kurang mendapat dukungan dari Panglima Teritorium Sumatera di Bukittinggi. Ketiga, akhirnya Wakil Presiden Bung Hatta sendiri berangkat ke Sumatera Barat serta W akil I KSAP/ Mantan Panglima Siliwangi, Kol. R. Hidayat didampingi Kapten Islam Salim. Dalam rombongan Bung Hatta itu ikut beberapa pej abat negara, yaitu Mr. Syafruddin Prawiranegara Menteri Kemakmuran RI, Mr. Lukman Hakim dan lain – lain. Langkah penting Bung Hatta di Sumatera adalah menetapkan Bukittinggi dan sekitarnya menjadi basis cadangan pemerintahan pusat RI, mempersiapkan dukungan militer untuk calon Ibukota negara dengan menyerahterimakan Panglima Sumatera dari Mayor Jendral Suhardj o Hardj owardoyo kepada Kolonel R. Hidayat. Menempatkan Letkol. A.E Kawilarang sebagai Komando Sub Teritorum VII/Tapanuli Sumatera Timur bagian selatan, dan Mayor Akil Prawiradireja sebagai Komandan Sub Teritorium Riau. Keseluruhan persiapan Wapres Bung Hatta itu sangat menentukan kelancaran transformasi kewenangan pemerintah pusat kepada PDRI. Tanggal 19 Desember PDRI di Deklarasikan di Bukittinggi. Tetapi karena ancaman serbuan Belanda dan belum lengkapnya unsur petinggi yang akan mengikuti sidang, maka acara sidang kabinet di tunda sampai ditemukan waktu dan tempat yang tepat dalam lajur evakuasi. Residen Sumatera Barat Mr. St. Muhammad Rasyid dalam menunjukan arah pernah berucap: “kalau hendak meke timur ke Lima Puluh Kota. Sawahnya luas, kebunnya banyak dan rakyatnya ramah”. Arah itulah yang ditempuh rombongan Mr. Syafruddin beserta ribuan rakyat meninggalkan Bukittinggi yang telah di bumi-hanguskan. Lewat tengah malam, tanggal 22 Desember 1948 barulah rombongan itu sampai di Halaban, 19 Km arah selatan kota Payakumbuh. Malam itu j uga dilaksanakan sidang penyusunan kabinet PDRI. Disepakati Mr. Syafruddin Prawiranegara menjadi Ketua PDRI. Pagi hari nya sudah ada informasi bahwa Belanda sudah hampir ke kota Payakumbuh. Rombongan Mr. Syafruddin Prawiranegara langsung bergerak menuj u Bangkinang melalui kota Payakumbuh, hampir saja berpapasan dengan Belanda. Dari Halaban ini rombongan PDRI menjadi terbagi tiga. Rombongan kedua adalah Residen Mr.St.Muhammad Rasyid/Menteri Keamanan beserta pengikut-pengikutnya dari pemerintahan Sumatera Barat menu

ju Koto Tinggi. Rombongan ketiga Kol. R. Hidayat Panglima Sumatera menuj u Pasaman terus ke Aceh. Sedangkan rombongan pertama Mr. Syafruddin Prawiranegara bersama anggota kabinet PDRI yang lain menuj u Bangkinang hendak ke Pekanbaru di cegat oleh Ka. Sub Territorium Riau Mayor Akil Prawiradiredja mengarahkan rombongan kabinet PDRI ke Taratak Buluh berhubung Belanda sudah masuk di Pekanbaru. Pada tanggal 24 Desember 1948 pukul 12.00 Rombongan Mr.St.Muhammad Rasyid, Gubernur Militer PDRI tiba di Koto Tinggi, alasan ia memilih Koto Tinggi ialah karena daerah ini dianggap aman dan jauh ke pedalaman dari Payakumbuh guna menghindari serangan Belanda. Dari sini Mr. St. Muhammad Rasyid menjalankan roda pemerintahan PDRI menggunakan j asa zender pemancar radio PHB AURI. Dari Bonjol, sebelum meneruskan perj alanan ke Pasaman, Kol. R Hidayat singgah di Koto Tinggi melalui jalan gerilya lewat Pagadis, di Koto Tinggi mengangkat atasannya Menteri Keamanan/Residen Rasyid menjadi Gubernur Militer Sumatera Barat. Atas prakarsa Kol. R Hidayat pula, stasiun radio di Aceh menyambungkan hubungan radio dan komunikasi antar Bidar Alam, Koto Tinggi dan tempat–tempat penting lainnya di Sumatera, Jawa dan juga Burma, India serta Australia.Stasiun radio Koto Tinggi memainkan peranan visal sebagai saluran komunikasi PDRI dengan daerah lain. Para pemimpin di Bukittinggi sejak awal sudah amat menyadari betapa vitalnya alat komukasi itu. Karenanya Komando TNI Sumatera telah mengeluarkan perintah untuk mengamankan semua barang invertaris negara itu. Alat perlengkapan stasiun udara segera diungsikan ke pelabuhan udara Piobang dan yang lainnya ke Halaban. Hubungan komunikasi dan radio antara PDRI dan luar negeri amat penting sebagai bukti masih kokoh tegaknya negara dan pemerintahan Republik Indonesia. Perang informasi amat tergantung pada peristiwa yang nyata terj adi di front pertempuran. Dalam kaitan inilah amat penting peran serangan faj ar Payakumbuh pada 3 Februari 1949 di bawah pimpinan PDRI di Sumatera, sehingga memberi senjata diplomasi pera perunding RI di forum PBB. Karena kicauan radio PDRI itu Belanda selalu mengincar dimana letak pemancar radio yang memungkinkan mata dunia terbuka bahwa Republik Indonesia masih hidup di tangan PDRI. Berkali-kali pesawat mustang mencecer tempat-tempat dimana pemancar radio itu disembunyikan. Sejak serangan tanggal 10 Januari tersebut, alat perlengkapan stasiun radio dipindahkan ke Kampung

Sungai Dadok yang jaraknya beberapa kilometer dari tempat semula. Semua peralatan radio biasa diangkut oleh 3 atau 4 orang saja, namun generator yang beratnya sekitar dua setengah sampai tiga ton itu ditarik secara gotong royong oleh sekitar 15 orang. Setiba di sebuah jembatan yang terbuat dari pohon kelapa, j embatan tersebut melengkung dan generator tersebut berusaha ditahan oleh pimpinan stasiun radio Koto Tinggi Jacob Lubis. Dalam keadaan hujan, sampai malam hari ia berusaha menahan generator tersebut dan teknisi yang lain juga membantu agar generator tersebut bisa diangkat. Karena air huj an membasahi tubuh Jacob Lubis, orang mengira Jacob Lubis menangis. Sehingga sampai saat ini jembatan tersebut diberi nama “Jembatan aie mato si Yakuik”. Serangan Belanda tanggal 10 Januari 1949 menerobos Koto Tinggi telah menimbulkan trauma tersendiri bagi pemerintah Gubernur Militer di Koto Tinggi. Mr. St. Mohammad Rasyid sudah mulai memikirkan strategi militer yang lebih baik menghadapi Belanda dan melindangi pemerintahan Republik yang ada di Sumatera Barat. Untuk itu disepakati dengan Wakil Gubernur Militer Letkol. Dahlan Ibrahim dan ketua Majelis Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) Chatib Soelaiman menyelenggarakan rapat dengan jajaran pertahanan dan pertahanan di Sumatera Barat dengan memanfaatkan fasilitas Bupati Limapuluh Kota Arisun St. Alamsyah di Surau Lurah Kincia Situjuah Batur. Akhirnya rapat itu terselenggara pada tanggal 14 Januari 1949, Gubernur Militer berhalangan hadir kerena kesehatannya terganggu dan pimpinan rapat di serahkan kepada ketua MPRD Chatib Soelaiman. Karena kelelahan sebagai peserta yang tidak pernah pulang terlelap di tempat rapat dan sergap tembakan musuh. Tanggal 15 Januari menjadi sebuah hari yang kelam bagi PDRI karena pada waktu itu jatuh korban 60 orang anggota BPNK dan penduduk sipil yang dibunuh di bawah beringin. Chatib Soelaiman sendiri bersama Bupati Militer 50 Kota Arisun St. Alamsyah dan tujuh orang petinggi militer lainnya gugur sebagai syuhada. 63 tahun sudah peristiwa demi peristiwa dalam rangkaian sejarah PDRI berlalu, masih segar dalam ingatan para pelaku sejarah yang masih hidup. Akan tetapi hari demi hari kedepan ingatan sejarah itu akan terkubur seiring gugurnya satu demi satu para pelaku dan saksi sejarah. Semoga pembangunan monumen nasional PDRI merupakan sumber utama ingatan sej arah bagi generasi penerus tentang perjuangan PDRI sebagai sebuah mata rantai sejarah perjuangan bangsa.*** Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

17


18 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

LAPORAN KHUSUS

Gubernur dan Masyarakat Sumbar Acungkan Jempol

PORPROV XII SUKSES, LUAR BIASA Pesta apapun pasti ada kekurangan. Tak terkecuali Pekan Olahraga Provinsi XII Sumbar Tahun 2012 di Kabupaten Lima Puluh Kota. Meski begitu, tidak salah jika Gubernur Sumbar, Komite Olahraga Nasional Indonesia Provinsi Sumbar, para Kepala Daerah, masyarakat olahraga serta warga Sumatera Barat mengacungkan jempol kanannya atas spirit dan keuletan panitia pelaksana dalam menyukseskan kegiatan atau alek Sumatera Barat ini.

Dodi Syahputra

B

angga dengan sukses Porprov XII. Tunggu dulu, panpel seluruhnya menyadari banyak kekurangan yang terjadi di alek ini. Kekurangan ini, oleh Ketua Umum Panpel Drs. H. Asyirwan Yunus, MSi dijawab dengan bijaksana, bahwa usaha yang maksimal telah dilakukan panitia. 29 cabang olahraga yang dipertandingkan, berjalan dengan kategori keberhasilan masingmasing cabang. Porprov XII, merupakan alek olahraga multi iven pertama yang digelar di Lima Puluh Kota. Ini kali yang pertama. Makanya, di pembukaan dan penutupan kegiatan Porprov XII, Ketua Umum Porprov XII, Drs. H. Asyirwan Yunus memaklumkan bahwa Porprov XII terlaksana atas Keputusan Gubernur Sumbar Nomor 426/420/2010 tanggal 30 September 2010 tentang Penetapan Penyelenggaraan Porprov Sumbar XII di Lima Puluh Kota. Asyirwan Yunus pun mengatakan bahwa tujuan penyelenggaraan Porprov XII adalah memupuk rasa persatuan dan kesatuan serta persaudaraan di Sumbar. Berikutnya, juga menj adi tuj uan; memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat, serta meningkatkan prestasi atlet sebagai atlet andalan Sumatera Barat. Sukses prestasi, sukses penyelenggaraan, dan sukses ekonomi kreatif, tidak bisa dipungkiri telah diungkapkan langsung oleh Gubernur Sumbar Prof. Dr. H Irwan Prayitno. Menurutnya, kegigihan dan tekad luar biasa Panpel patut diacungkan jempol. Tak cukup satu jempol, Wakil Gubernur Sumbar ikut bangga dan memberikan pujian. Bahwa, kerasnya usaha Lima Puluh Kota yang perdana melaksanakan multi iven olahraga prestasi, sungguh luar biasa. Kekurangan dan kelebihan Porprov XII setidaknya memberikan stimulus positif bagi Sumbar umumnya, Lima Puluh Kota khususnya. Masyarakat Lima Puluh Kota kini menda Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

Pembukaan Porprov XII Kabupaten Lima Puluh Kota (f/joy)

pat angin kesegaran dari datangnya kontingen seluruh kabupaten dan kota di Sumbar sebanyak 9.338 orang, terdiri dari 7.562 orang atlet, 1.096 orang wasit/juri dan pers, serta 680 orang panitia. Seluruh kontingen ditempatkan di 40 pemondokan sekolah yang sangat layak ditempati kontingen di sembilan kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota. Khusus venue pertandingan, Panpel sejak mula memang telah menyepakati dengan seluruh KONI di Sumbar serta Gubernur, bahwa tidak akan membangun venue pertandingan. Optimalisasi pemakaian tempat-tempat yang layak untuk venue olahraga diutamakan. Kemudian, ternyata cuaca dan alam pun ikut mendukung. Rekor MURI Kali ini, pertama kalinya pula di Porprov setelah 12 kali dilaksanakan sejak di Padang 1986 lalu, Museum Rekor Indonesia memberikan sertifikat rekor kepada Lima Puluh Kota. Sungguh luar biasa, 1.000 lebih penabuh talempongpocik mendapatkan Rekor Muri di penghujung 2012 ini. Keluarbiasaan lain yang ditampilkan di Pembukaan Porprov XII, adalah senam massa 3 generasi, juga lebih dari seribu penari berusia 18 sampai 80 tahun. Tak sepuluh, seratus, tidak pula seribu manusia yang

menyaksikan Pembukaan, pertandingan dan Porprov XII kali ini. Jutaan manusia membaca, mendengar, melihat dan memantau setiap perkembangan Porprov XII sejak awal Panpel dibentuk sampai ditutup secara resmi 20 Desember lalu. Bahkan, smapai hari ini, rating website resmi Porprov tetap digdaya, dikunjungi sampai 5.000 visitor setiap harinya. Di media televisi nasional, televisi lokal, media massa cetak dan elektronik, portal dan online, serta blogger berpacu menyemarakkan Porprov XII dengan pemberitaan terfokus. Memang, tak hanya kejadiankejadian baik saja yang terekam, sebagai bagian dari alek besar Sumatera Barat, sedikit cacat, kesalahan, serta kritik membangun dilayangkan, baik kepada Panpel maupun SC yang bekerja keras luar biasa ini. Sukses Porprov XII Sumbar di Lima Puluh Kota. Sukses kita semua. Semua kontingen telah kembali ke daerah masing-masing. Kenangan kebaikan akan selalu tinggal. Kenangan hangat akan selalu teringat. Persoalan dan hambatan selama Porprov XII semoga dimaafkan. Jayalah Olahraga Dua belas kali Pekan Olahraga Provinsi digelar di Sumatera Barat, baru kali ini yang pecah rekor MURI, baru kali ini punya media center, baru kali ini animo masyarakat


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

begitu tinggi. Ketua Pelaksana Pekan Olahraga XII Sumatera Barat Sumatera Barat di Lima Puluh Kota, Drs. H. Asyirwan Yunus, MSi memberikan apresiasinya terhadap peran media center dalam menyukseskan iven olahraga dua tahunan tersebut. Menurutnya, media center telah mampu menjadi “rumah” bagi wartawan peliput Porprov XII. “Informasi dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumbar, sebelumnya dalam pekan Olahraga Sumatera Barat tidak pernah ada media center. Konsep itu baru ditemukan pada Porprov XII di Limapuluh Kota. Artinya, Limapuluh Kota mencatatkan sejarah pula dalam pendirian media center dalam Porprov Sumbar ini,” kata Asyirwan. Dikutip dari pemberitaan media center, www.porprov.limapuluhkota.go.id, Asyirwan Yunus mengatakan, konsep media center tersebut juga menarik perhatian KONI Sumbar. Ada kemungkinan KONI Sumbar akan mengadopsi konsep ini pada pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi XIII Sumatera Barat selanj utnya di Dharmasraya. “Meskipun masih ada kekurangan dalam media center ini, namun kita sangat patut untuk memberikan apresiasi pada seluruh kru yang menj alankan media center ini, terutama pada ketuanya, Saiful, SP” kata Asyirwan Yunus. Menurut Asyirwan, proses pendirian media center tersebut sangat singkat. “Hanya satu hari saja setelah diminta untuk didirikan, media center ini telah selesai dibentuk dan didirikan,” kata Asyirwan. Lebih jauh, terkait Pekan Olahraga Sumatera Barat XII di Limapuluh Kota, Asyirwan Yunus menilai sudah berjalan dengan sukses. ”Meskipun ada sejumlah cabang olahraga yang bermasalah, tetapi dapat diselesaikan dengan baik melalui koordinasi dengan pengurus provinsi masing-masing cabor,”katanya. Dalam kesempatan tersebut, Asyirwan sebagai ketua pelaksana juga menyampaikan permohonan maaf pada seluruh yang terlibat dalam pelaksanaan Porprov Sumbar XII di Limapuluh Kota, jika ada pelayanan yang kurang memuaskan. “Panitia telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyukseskan acara ini. Namun, kadang kala ada terjadi permasalahan, karena itu kami sebagai panitia meminta maaf untuk itu,” pungkasnya.***

Ajang Pembuktian Pembinaan Olahraga

Porprov XII Sumbar PEKAN Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar tahun 2012 berakhir. Prosesi penutupan dilangsungkandi GOR Singa Harau. Wakil Gubernur, Muslim Kasim menyatakan dengan ditutupnya Porprov, maka setidaknya ajang pembuktian pembinaan yang dilakukan penggiat olahraga di Sumbar, telah dilakukan. Terlepas dari adanya persoalan sekaitan Porprov XII dugaan mendatangkan atlet dari luar Sumbar, namun, jika memang atlet yang diturunkan itu adalah masyarakat Sumbar maka dimanapun mereka berada, apakah merantau, ikut orang tua, sekolah atau bekerja, sesungguhnya mereka adalah insan olahraga milik Sumbar. “Kita berharap, jika memang ada atlit yang tidak menepat di Sumbar, jika suatu waktu dibutuhkan untuk memperkuat nama Sumbar, agar bersedia. Bagi yang tidak bersedia, inilah tantangan kita, “kata Muslim Kasim. Selama pagelaran Porprov yang secara resmi dibuka sejak 12 Desember lalu, diikuti tidak kurang dari 9700 atlit, pelatih dan official itu. Dari 29 cabang yang dipertandingkan dan satu cabang eksebisi yakni golf yang digelar lapangan golf Malibou Anai Padang Pariaman. Dari data yang terkumpulkan di media center (MC), Kota Padang berhasil mempertahankan gelar juaranya. Hanya saja dibandingkan dengan pelaksanaan Porprov XII yang digelar bersama tahun 2010 silam, perolehan suara ibukota provinsi itu, jauh turun. Tahun 2010, Padang berhasil mengumpulkan 256 keping medali. Jumlah itu terdiri dari 135 emas, 49 perak dan 87 perunggu. Di posisi kedua, sampai berita ini naik cetak, masih belum didapatkan data yang pasti. Catatan MC, Kota Bukittinggi mengumpulkan 49 emas, 38 perak dan 59 perunggu. Diurutan ketiga, ditempati Kabupaten Padang Pariaman yang mengum

pulkan 42 emas, 14 perak dan 47 perunggu. Namun data yang dikumpulkan KONI Limapuluh Kota, tuan rumah berhasil mengumpulkan 187 keping medali. Jumlah itu terdiri dari 52 emas, 59 perak dan 74 perunggu. Dengan catatan itu, maka Limapuluh Kota berada di urutan kedua. “ Hingga kini, kita belum dapat mengumumkan data resmi perolehan medali. Sebab, data masih berkembang dan belum semuanya terkumpul,” kata Asyirwan Yunus, Ketua Umum Panita Pelaksana Porprov saat jumpa pers di MC, jelang penutupan. Padang Panjang Turun 10 Angka Masih dari data MC, hasil yang mencengangkan, terlihat pada perolehan medali Kota Padang Panjang. Dimana pada Porprov XI, di Agam itu, Padang Panjang berada diurutan 2 dengan, 41 emas, 36 perak dan 37 perunggu. Nyatanya hasil negatif itu, terjadi dengan hanya perolehan 15 emas, 42 perak dan 44 perunggu. Begitu juga dengan Kabupaten Pasaman. Kabupaten yang dimekarkan menjadi dua bersama Pasaman Barat itu, tahun 2010 berhasil, berada diurutan 3 dengan perolehan 37 emas, 32 perak dan 39 perunggu. Tidak saja dua daerah diatas, sejumlah kabupaten/kota juga mengalami hal yang sama. Kabupaten Pesisir Selatan yang sebelumnya diurutan enam (21-17-25), kini berada di urutan 11 (17-15-16). Wagub Muslim Kasim ketika dimintakan pendapatanya, menyatakan hasil perolehan medali itu sesungguhnya tidak semata-mata menjadi tujuan pelaksanaan Porprov. Sebab menurutnya, terpenting adalah bagaimana keseriusan dalam pembinaan yang dilakukan.***

Tiga yatim bersaudara, penyumbang emas pertama kontingen Limapuluh Kota (f/net) Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

19


20 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

Wakil Gubernur Muslim Kasim, Walikota dan Bupati se - Sumatera Barat, Ketua Limapuluh Kota jadi sentra Sumbar Umum KONI Sumbar, Syahrial Bakhtiar, Ketua KONI Kota dan Kabupaten seSumatera Barat dan tamu istimewa lainnya ikut membahanakan dan ugusan tanggal, bulan dan tahun Sungguh luar biasanya, Belasan ribu menyaksikan langsung kemeriahan di 12-12-12 ditambah pelaksanaan masyarakat berkumpul sampai ke Lima Puluh Kota ini. Mereka disambut tari ke 12 kalinya menajdi waktu yang lapangan GOR Singa Harau Sarilamak, khas Minangkabau untuk menanti tamu sangat istimewa karena hanya dapat membludak.Memenuhi ruangan indoor terhormat, Tari Pasambahan dan sajian ditemui satu kali dalam seratus tahun. stadion. Tak mampu menampung Siriah dalam Carano diiringi musik tradisi Setelah tahun 2012, gugusan itu baru masyarakat Lima Puluh Kota yang talempong dan alunan alat tiup Bansi akan ditemui lagi pada tahun 2112 nanti. berdatangan bahkan dari pinggir yang mendayu-dayu. Rombongan Provinsi Sumatera Barat di tanggal kabupaten sekalipun. Membludaknya kemudian diaantarkan menuju tribun bersej arah itu digagas pula untuk masyarakat sampai ke luar arena kehormatan. Kalungan bunga dari Uda menggoreskan sejarah pelaksanaan iven pembukaan. Ramainya, luar biasa. Tak dan Uni Lima Puluh Kota mengharumkan olahraga dua tahunan tingkat Provinsi: mampu lagi arena parkir reguler sampai tamu yang tiba. Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Barat parkir dadakan menampung. Havid yang atlet aerosport, Luar biasa. Rasa penasaran masih melayang di atas lagit GOR untuk XII di Kabupaten Lima Puluh Kota. Tepat tengah hari atau pukul 12.12 semakin jelas terbayang ketika sebuah turun menyerahkan bendera Pekan WIB, gerbang sayap kiri dan kanan GOR parasut aero sport berputar-putar di langit Olahraga Provinsi Sumatera Barat Singa Harau, tempat pelaksanaan prosesi sekitar GOR Singa Harau. Sementara itu, kepada Paskibraka. Bendera itu pembukaan Pekan Olahraga Provinsi di kediaman Bupati Limapuluh Kota, Alis dibentangkan dengan iringan tepuk Sumatera Barat XII, mulai dibuka. Marajo, tamu kehormatan sudah mulai tangan riuh dari belasan ribu penonton Belasan ribu masyarakat berdesakan berdatangan. Deputi Menko Kesra Bidang pembukaan Porprov Sumbar XII tersebut. memasuki GOR agar bisa mendapatkan Koordinasi Kebudayaan,Pariwisata, Atraksi Havids itu menjadi mata rantai tempat yang strategis untuk dapat Pemuda dan Olahraga, Sugi Hartatmo, rentetan atraksi pembuka lain yang Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, mampu menghipnotis ribuan penonton.*** menyaksikan prosesi pembukaan.

Istimewa, 12-12-12-12

G

Irwan Prayitno, Gubernur Sumbar :

Apresiasi Pelaksanaan Porprov Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Barat di Lima Puluh Kota diapresiasi oleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno. Dalam sambutannya, Irwan Prayitno berharap Porprov Sumbar ke-XII ini dapat menghasilkan atlet-atlet yang handal dan bisa bertarung di ajang yang lebih tinggi lagi yaitu Porwil yang akan berlangsung di Jawa Barat. Gubernur juga menghimbau kepada seluruh kontingen baik atlet, pelatih maupun ofisial untuk menjunjung nilai-nilai sportivitas yang menjadi cirri utama olahraga. “Semoga Porprov ini dapat menghasilkan atlet terbaik dan berpotensial sehingga nantinya bisa membawa nama baik bagi Sumatera Barat ketika bertanding ditingkat yang lebih tinggi seperti Porwil dan ajang tingkat dunia,” katanya. Selain itu, Irwan Prayitno juga mengapresiasi atraksi seni dan budaya yang mengiringi pembukaan Porprov di Limapuluh Kota. Menurutnya, ide tersebut sangat kreatif dan mampu memberikan hiburan yang berkualitas. Sementara itu, Menko Kesra Agung Laksono dalam pesannya yang dibacakan Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Sugi Hartatmo. Menurutnya, ajang olahraga tingkat Provinsi haruslah menjadi ajang untuk meningkatkan kemampuan atlet sekaligus mencari bibit handal untuk mengikuti ajang olahraga yang lebih tinggi.***

Asyirwan Yunus, Wakil Bupati :

Pelayanan terbaik bagi tetamu Porprov Menurut Asyirwan, Pekan Olahraga Provinsi XII Sumatera Barat merupakan momen bagi seluruh cabang olahraga untuk memantau kemampuan atletnya. Hal itu perlu untuk membawa nama Sumatera Barat pada ajang olahraga yang lebih tinggi.”Ini menjadi salah satu hal yang istimewa terkait Porprov ini,” katanya. Namun, yang lebih istimewa menurut dia adalah pelaksanaannya di Limapuluh Kota. “Lewat dilaksanakannya di Lima Puluh Kota, masyarakat Limapuluh Kota tidak saja akan mendapatkan tontonan olahraga yang berkualitas, tetapi masyarakat juga diberikan ruang untuk berkreasi dengan pertimbangan ekonomis,” katanya. Dengan kreatifitas, menurut Asyirwan masyarakat Limapuluh Kota akan dapat meraup keuntungan ekonomi selama sepekan diadakannya Porprov. “Masyarakat seharusnya jeli melihat peluang ini. Karena pengalaman selama ini, selama satu pekan pelaksanaan Porprov di daerah manapun di Sumatera Barat, putaran uang di daerah tersebut dari komponen Porprov itu bisa mencapai millliaran rupiah. “Ini adalah kesempatan yang istimewa bagi masyarakat Limapuluh Kota,” katanya.*** Edisi 90Tahun XI/Desember 2012


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

LAPORAN KHUSUS

Insya Allah, Jumpa lagi 2014 di Dharmasraya

WAGUB TUTUP PORPROV 2012 “ Perjalanan prestasi olahraga Sumatera Barat akan berpondasi kepada ajang-ajang olahraga seperti Porprov ini “

A

lhamdulillah, berkat kerja keras dari Kab. Limapuluh Kota serta dukungan dari seluruh Kepala daerah se-Sumatera Barat, Komunitas olah raga baik KONI provinsi, KONI Kab/ Kota, dan tentu saja dukungan yang sangat luar biasa dari masayarakat Sumatera Barat, Porprov XII Tahun 2012 ini dapat berjalan baik, lancar, tertib dan sukses. Kalaupun ada riak-riak diberbagai tempat pertandingan, itu bisa kita katakan sebagai hal yang lumrah dari sebuah sebuah semangat untuk berkompetisi untuk menjadi yang tercepat, terkuat dan yang terbaik. Semangat berkompetisi inilah yang diharapkan dapat tertular dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Menjadi masyarakat yang kompetitif, memiliki daya saing tinggi namun tentu

tidak meninggalkan filosifi budaya minang selalau mengedepankan kebersamaan, gotong royong, dan musyawarah untuk mufakat. Hal ini disampaikan oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Muslim Kasim ketika memberikan sambutan dalam acara Penutupan ProProv ke XII Kab. 50 Kota di GOR Singa Harau, Kamis, (20/ 12). W akil Gubernur Muslim Kasim menjelaskan bahwa perjalanan prestasi olahraga Sumatera Barat akan berpondasi kepada ajang-ajang olahraga seperti Porprov ini. Ajang seperti Porprov ini bisa kita lihat sebagai wadah yang tepat dan strategis dalam membangun prestasi olahraga di sumatera barat. Sebuah kompetisi yang sehat dan teratur adalah barometer untuk mengukur pencapaian prestasi yang telah diupayakan. Lebih lanjut Muslim Kasim menyampaikan tidak

Porprov kali ini sebagai saringan tahap awal dalam membentuk serta menyiapkan kerangka kontingen sumatera barat yang akan berlaga pada ajang kualifikasi PON tahun 2015 dan PON 2016 nantinya. Jadi kepada seluruh atlit sumatera barat yang berprsetasi pada ajang Porprov ke XII ini jangan cepat berpuas diri. Teruslah giat dan bersemangat berlatih, pacu diri nuntuk menjadi yang terbaik. Karena untuk beberapa tahun kedepan kepada anda lah akan kami gantungkan harapan untuk menj adi tulang punggung sumatera barat, baik pada ajang nasional dan internasional. PON tahun 2016 memang masih menyisakan 4 tahun lagi , namun dalam mempersiapkan atlit, tentu kita akan berkaca kepada pembinaanpembinaannya serta hasil dan prestasi Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

21


22 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

mereka pada ajang-ajang seperti ini. Terakhir Muslim Kasim menyampaikan harapannya kepada pemerintah Kab. Dharmasrya sebagai Tuan rumah Porprov ke XIII nantinya agar segera bersiap diri, supaya apa yang telah kita canangkan bersama, bahwa ivent Proprov ini bisa terus dilaksanakan 2 tahun sekali bisa terwuj udkan dengan baik karena pelaj aran yang bisa kita dapatkan bersama apabila terjadi keterlambatan dan kelalaian dalam menggelar ivent Porprov ini akan berdampak yang kurang baik dalam hal pembinaan prestasi olahraga di Sumatera Barat. Kota Padang berhasil kembali menj adi j uara umum pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII-2012 yang dihelat mulai 12 Desember di Kabupaten Limapuluh Kota.Kontignen Kota Bingkuang tersebut, sukses memboyong total 268 medali, dengan rincian, 102 medali emas, 78 perak, serta 88 medali perunggu. Posisi kedua ditempati oleh tuan rumah Limapuluh Kota dengan raihan 52 medali emas, 51 medali perak, serta 71 medali perunggu. Posisi ketiga ditempati oleh Kota Bukittinggi dengan raihan 49 medali emas, 36 perak, serta 63 medali perunggu.Data tersebut merupakan perolehan medali Porprov hingga Kamis (20/12) pukul 22.00 WIB. Meski kembali menjadi juara umum, namun hasil yang diraih kontingen Kota Padang tersebut, masih jauh dari

target yang dicanangkan sebanyak 134 medali emas. Dibandingkan dengan hasil yang diraih ibukota provinsi tersebut, pada Porprov XI-2010, jauh turun. Pada iven yang sama, dua tahun lalu, Padang berhasil mengumpulkan 256 keping medali dengan rincian, 135 medali emas, 49 perak dan 87 perunggu. Porprov XII yang dilaksanakan di Kabupaten Limapuluh Kota, secara resmi telah berakhir Kamis (20/12) dengan ditutup langsung oleh Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim di Lapangan GOR Singa Harau Limapuluh Kota. Acara ditutup dengan meriah, diawali nonton bareng final cabang olahraga sepak bola antara Ka­bupaten Pasaman Barat dengan Kabupaten Padang Pariaman dengan skor 0 - 1 tersebut dihadiri lebih dari 5000 orang dari undangan dan perwakilan masing masing kontingen pada pukul 17.30 WIB. Asyirwan Yunus selaku ketua panitia Porprov XII dalam sam­butannya mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada seluruh kontingen, ofisial dan atlet, serta masyarakat atas partisipasi dalam turut menyukseskan perhelatan dua tahunan tersebut. “Tidak lupa, kami sangat bangga dengan keberadaan Media Center (MC) yang selama pekan olahraga tingkat provinsi diadakan baru kali ini memakai pusat informasi yang juga sekaligus merupakan “rumah” bagi war­tawan. Dimana dengan keberadaan MC tersebut, informasi dan akti­fitas yang

terjadi selama kegiatan berlang­sung bisa dikumpul dan disiarkan untuk kesuksesan acara,” terangnya. Sementara W akil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim, menyampaikan apresiasinya kepada pengurus dan panitia pelaksana Prorprov XII yang telah sukses menghantarkan Porprov XII hingga penutupan dan berj alan lancar. “Dengan ditutupnya Porprov, maka setidaknya ajang pembuktian pembinaan yang dilakukan penggiat olahraga di Sumbar, telah dilakukan. Terlepas dari adanya kasus, mendatangkan atlet dari luar Sumbar, namun jika sebatas, kalau memang atlet yang diturunkan itu adalah, masyarakat Sumbar, maka dimanapun mereka berada, apakah merantau, ikut orang tua, sekolah atau bekerja, sesungguhnya mereka adalah insan olahraga milik Sum­bar. Jadi kita berharap, jika memang ada atlit yang tidak menetap di Sumbar, j ika suatu waktu dibutuhkan untuk mem­perkuat nama Sumbar, agar bersedia. Bagi yang tidak bersedia, inilah tantangan kita,” tegas Muslim Kasim. Selama pagelaran Porprov yang secara resmi dibuka sejak 12 Desember lalu, diikuti tidak kurang dari 9700 atlit, pelatih serta ofisial. Sebanya 29 cabang dipertandingkan ditambah satu cabang eksebisi yakni golf yang digelar lapangan golf Malibo Anai Padang Pariaman. (dody syahputra)

Wagub Muslim Kasim menyerahkan bendera Porprov kepada tuan rumah Porprov XIII, Kabupaten Dharmasraya (f/herpa)

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

PENDIDIKAN pendidikan PAUD yang ada. Makanya, menurut Desri, untuk meningkatkan kualitas pendidikan PAUD, diharapkan pemerintah untuk dapat lebih memperhatikan kesejahteraan para PAUD. Sebab, dalam pandangan Desri, dengan ditopang oleh tingkat kesejahteraan yang layak, diharapkan akan berimbas terhadap meningkatnya kualitas pendidikan PAUD. “Karena para guru itu akan terdorong memberikan yang terbaik untuk anak didiknya,” kata Desri.

Nasib Guru PAUD

Harus Kreatif Mencari Sumber Dana Alternatif “Untuk meningkatkan kualitas pendidikan PAUD, diharapkan pemerintah dapat lebih memperhatikan kesejahteraan para guru PAUD. Sebab, dengan kesejahteraan yang layak diharapkan akan berimbas terhadap peningkatan kualitas PAUD.”

Gerak Cepat Harapan semakin membaiknya pendidikan PAUD di Kabupaten Limapuluh Kota memang tampak terbuka sejak dipimpin oleh Ny. Rismawati Alis Marajo. Setelah dilantik beberapa bulan yang lalu sebagai Bunda PAUD Kabupapaten Limapuluh Kota, Ny. Rismawati langsung memberikan perhatiannya kepada PAUD yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota, yang dibuktikan dengan dilantiknya Bunda PA

A

prianti, 35, mengaku keterlibatannya untuk menjadi tenaga pengajar di sebuah TK (taman kanak-kanak) di nagarinya hanya karena didorong keinginan mengabdi untuk dunia pendidikan. “Kalau honor yang diterima, j angan ditanyalah,” katanya. “Bahkan untuk pembeli bedak saja tidak cukup,” ia menambahkan. Menurut ibu dari tiga anak ini, sebagian besar anak murid SD di nagarinya tidak berlatar belakang pendidikan TK. Akibatnya, kemampuan mereka relatif jauh di bawah anak-anak yang pernah mengenyam pendidikan di TK. Terdorong pertimbangan itulah, Aprianti bersama sejumlah rekannya mendirikan TK di nagarinya, sementara untuk tempat belajar menumpang di sebuah gedung milik pemerintahan nagari. “Kami sama sekali tak berorientasi honor,” sebutnya.Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota Desri, S.Pd, MM mengakui realitas tersebut. Menurut Desri, banyak dari guru-guru PAUD (pendidikan anak usia dini) yang hanya tenaga honorer, dengan tingkat honor yang jauh dari memadai. Bisa dimengerti, menurut Desri, yang memberi honor guru

Desri, Kadis Pendidikan (f/joy)

PUAD itu hanyalah orangtua/wali murid, yang sebagian besar di antaranya berlatar belakang ekonomi tidak mampu. “Kita tentu saja prihatin dengan kondisi itu,” kata Desri. Dikatakan, di tengah semakin membaiknya tingkat kesadaran sebagian kalangan tentang perlunya pendidikan pra-sekolah seperti PAUD dan TK, tambah salah seorang asisten di lingkup Pemkab Pesisir Selatan ini, sementara pada bagian lain tidak diimbangi kemampuan ekonomi masyarakat untuk berperan serta memback-up lembaga

Rismawati, Bunda PAUD Limapuluh Kota (f/joy)

UD untuk 13 kecamatan dan 79 nagari. “Kita memang dituntut untuk memberikan perhatian terhadap pendidikan PAUD,” kata Ny. Rismawati. Dasarnya, karena pendidikan masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak. Untuk memperoleh proses pendidikan yang optimal, tambahnya, diharapkan Bunda PAUD dapat membantu semua kelancaran pelaksanaan PAUD agar tercapai pembentukan karakter bangsa dan dalan sumber daya manusia. (mamad) Edisi 90/Tahun XI/desember 2012

23


24 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

GALERY

Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim menyerahkan api obor Porprov kepada Sekretaris Daerah Lima Puluh Kota Yendri Tomas setelah pengambilan api di Nagari Tuo Pariangan (f/her)

Teriakan semangat untuk kesuksesan Porprov XII di Lima Puluh Kota (f/joy)

Pagelaran 1000 Talempong Pacik pada acara pembukaan yang menghasilkan rekor MURI (f/joy) Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

Bupati Alis Marajo memberikan semangat kepada kontingen Lima Puluh Kota (f/her)

Nil Maizar pelatih timnas PSSI menyalakan api porprov (f/bule)


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

GALERY

PERILAKU

Wakil Bupati Asyirwan Yunus dengan Piagam MURI atas pagelaran 1000 talempong pacik pada pembukaan Porprov (f/angga)

Bupati Alis Marajo mengalungkan medali pemenang pertandingan tenis meja (f/her)

Wakil Bupati Asyirwan Yunus mengalungkan medali cabang olahraga senam (f/meddy)

Bupati Alis Marajo menyerahkan bendera Porprov kepada Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim pada penutupan Porprov XII ( f/her)

Wakil gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim menyerahkan bendera Porprov kepada tuan rumah Porprov XIII Kabupaten Dharmasraya (f/joy)

Upacara penutupan Porprov XII (f/her)

PORPROV XII SUKSES Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

25


26 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

KETAHANAN NASIONAL

Seminar Ketahanan Nasional

justru banyak yang salah. Untuk itu, kita perlu mengembalikan pada fungsinya. Karena pusa­ko tuo itu tidak boleh dijual atau digadai-kan  apa  pun  ala-sannya,”  tegasnya.  Dia  berharap,  ada  sinergi  antara  aparat penegak hukum baik Polri dan TNI dengan ninik  mamak,  pemuka  ma-syara-kat,  alim ulama dan cadiak pandai. Bupati Limapuluh Kota dr.Alis Marajo Dt,Sori Marajo, dalam paparannya selaku nara sumber pada seminar sehari tersebut mengatakan, dalam upaya menguatkan ketahanan nasional di Sumatera Barat kita harus memanfaatkan atau memberdayakan potensi atau nilai-nilai budaya lokal, mewariskan adat budaya,melaksanakan tupoksi kita masingmasing dalam keluarga, dalam kampuang dan dalam nagari, serta selalu berusaha menambah wawasan, pengetahuan dan kecerdasan melalui pelatihan, pendidikan dan pengajaran. Kol.Inf.Amrin (f/weri) Kalau disekolah, maka cukupkah pembelajaran saja .Untuk mewariskan adat ini, saya menilai perlu ada pendidikan. Untuk itu perlu ada MoU yang terus menerus, berupa Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau kesepakatan antara niniak mamak, pihak Polri (LKAAM). Dia mencontohkan, konflik , pihak Panglima,dsb, bertujuan untuk agraria yang sering terjadi akhir-akhir ini menghilangkan pemahaman radikalisme. biasanya bermula dari keluarga. Untuk itu, Samakah pemangku adat dengan niniak harus cepat diselesaikan melalui pendekatan mamak? Tidak semua niniak mamak itu adat. Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut pamangku adat. Ini persoalan kita, oleh karena hingga terjadi konflik besar. “Kalau itu sudah itu apa yang harus kita lakukan sekarang, harus kita selesaikan (masalah kecil, red) pastinya ada peraturan-peraturan yang mengikat atau tidak akan jadi lebih besar,” ujarnya. Dia mengukuhkan sementara hirarkis kita dalam memaparkan,  pende-katan  adat  istiadat  dan otonomi dengan pemerintah provinsi . budaya untuk menyelesaikan masalah Peraturan-peraturan itu belum tentu menjadi bukanlah  hal baru  di Minang-kabau.  Namun, rujukan pemerintah kabupaten/ kota.Tapi sudah ada dan diterapkan sejak lama. Selain kalau peraturan Bupati, peraturan walikota di itu, juga perlu ditingkatkan lagi sinergi antara buat dalam mengukuhkan, ini adalah bagian pemerintah  dae-rah,  ninik  mamak,  Polri  dan kewenagan pemerintah. Kenapa tidak? Seperti TNI ke depan. “Konsep ini perlu kita di Lima Puluh Kota, misalnya, kita buat bupati menghibahkan dana 100 juta untuk bundo kembangkan lagi ke depan,” sarannya. Ketua V LKAAM Sumbar, Yulizar kanduang, 100 juta untuk ormas Islam, tidak Yunus menyarankan perlunya revitalisasi nilai ada masalah. Cuma yang mempermasalahkan, dan peran pemangku adat sehingga mampu Permendagri No 39 tahun 2012 , itu yang mempertahankan jati diri mereka. Selama ini, menghambat. Tidak boleh dua kali berturutkata Yulizar,  peran  itu  tidak  dijalan-kan  oleh turut. “Jadi ini yang perlu kita lihat dalam pemangku adat dengan baik. “Seperti contoh, maraknya sengketa tanah ulayat.  Sebe-tulnya, perjuangan-perjuangan kedepan di dalam tanah ulayat atau tanah pusako tinggi tidak instalasi dan interaksi secara nasional dalam bisa dijual atau digadaikan. Ketika tanah bagaimana kehendak MoU, Menteri pusako ini dijual, berarti ada yang salah. Pertahanan hingga lain sebagaimananya, Sebab,  yang  meme-gang  harta  pusako ini sudah tidak hibah lagi yang kita berikan. Kita adalah mandeh tuo dalam kaum. Kalau tidak cari terobosan baru untuk membantu ada izin dari mandeh, itu tidak akan bisa organisasi kemasyarakatan, organisasi ninik dijual,”  ujarnya.  perwa-kilan  nagari,  Babinsa mamak, dan ulama. Saya sangat mendukung dan  per-wa-kilan  Lembaga  Kerapatan  Adat apa yang digagaskan pak Danrem tadi, kita Alam Minangkabau (LKAAM). Dia menjadikan nilai menjadi norma, bagaimana mencontohkan, konflik agraria yang sering norma itu menjadi aturan dan aturan itu terjadi akhir-akhir ini bia”Tapi kenyataannya, mewarnai kebijakan, “ tambahnya. (mamad)

Redam Konflik Sejak Dini

G

angguan  kea-manan  yang  besar bermula dari gangguan kecil. Untuk itu, potensi gangguan keamanan harus  dian-tisipasi  sejak  dini.  Untuk mewu-judkannya,  dibutuhkan  kepedulian masyarakat. Komandan Korem 032 Wirab-raja, Kolonel  Inf Amrin  menye-butkan, masyarakat harus bahu membahu menciptakan rasa aman dan damai. Kepedulian masyarakat harus diwujudkan melalui pen-dekatan budaya dan adat istiadat yang melibatkan perangkat seperti wali nagari, badan pembinaan kea-manan  dan  ketertiban  masyarakat (Babinkamtibmas) dan bintara pembina desa (Babinsa).   ”Potensi konflik harus diredam sejak awal. Jangan sampai konflik itu meledak dulu,  baru  sibuk  menye-lesaikannya. Bukankan lebih baik kita mencegah daripada mengobati?” tegasnya. mengingatkan bawah po-tensi  gangguan  keamanan  ada  di  seluruh daerah Indonesia. Ta-pi di Sumbar, dia menilai persen-tasenya  lebih  kecil  diban-ding  daerah lain.  “Walau  demi-kian,  kita  jangan  sampai terlena.  Ja-ngan  kita  tunggu  itu  terjadi,  lebih baik kita berjaga-jaga dan men-ce-gah agar konflik itu tidak terjadi,” tegasnya di sela-sela se-minar  sehari  dengan  tema  “Re-vi-ta-lisasi Nilai Budaya Lokal ser-ta Peranan Pemangku Adat dan Ulama untuk Penguatan Keta-ha-nan Pangan di Sumbar” di Gedung Sapta Marga Ma-korem 032 Wirabraja, Kamis (13/12) lalu. Acara tersebut diikuti oleh sejumlah pejabat terkait seperti Polri, Muspida Sumbar, perwakilan nagari, Babinsa dan perwakilan Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

Berdayakan Budaya Lokal Untuk Penguatan Ketahanan Nasional “Secara substansi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah representasi dari nilai-nilai adat dan budaya suku-suku bangsa yang terangkai dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika menjadi budaya nasional.”

M.Siebert

K

ekuatan dan kemampuan teknologi dan militer Amerika Serikat diatas kekuatan dan kemampuan teknologi dan militer Cina, Jepang maupun Korea.Tetapi perlu diketahui, bahwa ketahanan budaya negara Cina, Jepang dan Korea lebih unggul dibanding ketahanan budaya negara Amerika Serikat. Hal ini dikatakan Pangdam I/BB Mayjen TNI Lodewijk F Paulus dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kolonel Czi Baj a Bungaran Staf Ahli Pangdam I/BB Bidang Managemen Sishanneg pada pembukaan Seminar Nasional Revitalisasi nilai budaya lokal dan peranan pemangku adat dan ulama dalam penguatan ketahanan Nasional di Sumatera Barat, bertempat di gedung Sapta Marga Makorem 032/Wbr Kamis (13/12) lalu. Lebih lanjut dikatakan Pangdam, Nasionalisme dan karakteristik bangsa Cina, Jepang dan Korea lebih kokoh, hal itu disebabkan peranan nilai-nilai budaya mereka dalam membentuk jati diri mereka. Di sinilah letak urgen dan strategisnya acara seminar ini. Setidaknya, dapat memotivasi kita untuk memperhatikan dan memberdayakan potensi budaya lokal khususnya untuk penguatan ketahanan nasional di Sumatera Barat. Secara substansi nilainilai yang terkandung dalam Pancasila adalah representasi dari nilai-nilai adat dan budaya suku-suku bangsa yang terangkai dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika menjadi budaya nasional. Ketentuan pokok yang menjadi dasar negara sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 dijiwai oleh nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Oleh sebab itu indikator ketahanan nasional dapat diukur dari “seberapa besar rakyat Indonesia mampu mengamalkan nilai-nilai budaya lokal (local genius) “ yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Perlu diketahui, bahwa ketahanan nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa yang terdiri atas ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, baik yang datang dari dalam maupun luar, secara langsung maupun yang tidak lang

Suasana Seminar Ketahanan Nasional di Gedung Sapta Marga Makorem 032/Wbr (f/weri)

sung yang mengancam dan membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Dalam kesempatan itu Pangdam j uga, menyampaikan apresiasi kepada Danrem 032/ W br Kolonel Inf Drs.Amrin dan jajarannya atas terlaksananya seminar, yang merupakan suatu terobosan kreatif yang dapat menjadi motivasi bagi TNI, setidaknya di lingkungan Kodam I /Bukit Barisan. Apalagi tema yang dibahas menyangkut kearifan lokal yang merupakan salah satu dari komponen ketahanan nasional. Dari tema yang dibahas dalam seminar ini yaitu : “ Revitalisasi nilai budaya lokal dan peranan pemangku adat dan ulama dalam penguatan ketahanan nasional di Sumatera Barat. Perdayakan Perangkat Nagari Gubernur Sumbar dalam sambutanya j uga mengatakan, Dalam kontek ketahanan nasional, struktur masyarakat Minangkabau juga memiliki perangkat atau unsur pimpinan yang mengayomi dan membimbing masyarakat adat dengan berbagai tingkatan. Perangkat adat yang menunjuk pada unsur pimpinan adat di Minangkabau disebut, tunggku tigo sajarangan, yang terdiri dari Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadik Pandai

sedangkan perangkat adat yang menunj uk pada Urang Ampek Jiniah terdiri dari Penghulu, Manti, Malin, dan Dubalang dengan batas tanggung jawab selingkar kaummnya yang kerap disebut orang Empat Jinih dalam suku. Disamping itu ciri khas adat Minangkabau berada pada hak dan kekuatan musyawarah dan mufakat berada ditangan kemanakan dan anak nagari yang dij alankan oelh Penghulu, Alim Ulama dan Cadik Pandai dalam memberikan penguatan hidup secara adat, bulek aia ka pambuluh, bulek kato ka mufakat. Oleh karena itu dengan perangkat dan struktur yang ada dalam adat Minangkabau akan meniadakan ancaman, disintegrasi, keamanan, kekerasan bahkan terorisme di Sumbar. Gubernur juga mendu­kung perangkat di nagari diber­da­yakan lagi untuk mendukung terciptanya rasa aman di tengah masyarakat. “Jika kondisi telah aman dan terpelihara, dam­paknya pembangunan akan semakin sukses,” katanya. Gubernur atas nama Pemerintah Provinsi Sumbar menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Danrem 032/W br Kolonel Inf Drs.Amrin atas terselenggaranya seminar nasional ini, sebagai wahana menghadirkan dan menguatkan kembali semangat persatuan dan kesatuan dalam memantapkan ketahanan nasional di Sumbar.*** Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

27


28 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

INFRASTRUKTUR

Hore...Jembatan Ronah Dianggarka “Warga sangat berharap pembangunan jembatan tersebut, sebab jika jembatan tidak juga segera diperbaiki, sangat jauh warga harus memutar jalan untuk sampai ke Jorong Balai Panjang.”

J

embatan gantung Ronah, Jorong Lareh nan Panjang Nagari Batu Payuang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, yang putus akibat tinginya debit air, direncanakan pembangunannya dengan APBD pada tahun anggaran 2013 mendatang, yang sudah diusulkan dalam Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD). Jembatan gantung yang sangat penting untuk kebutuhan masyarakat di Nagari Batu Payuang sebagai akses utama dua jorong di nagari tersebut sehinga pembangunannya segera di lakukan pada tahun 2013 mendatang, sama halnya dengan Jembatan Kociak, Nagari Stujuah Gadang. Sementara Jembatan di Jorong Sikabu-kabu, Nagari Sikabu-kabu Tanj uang Haro Padang Panj ang, Kecamatan Luak, masih dalam perencanaan. Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerj aan Umum Kabupaten Limapuluh Kota, Afrizal, menjelaskan j embatan gantung Ronah diaj ukan anggarannya sebesar Rp2 miliar dengan

model jembatan gantung menggunakan rangka ringan. “Pembangunan jembatan Ronah, sudah diajukan anggarannya sebesar Rp 2 milyar, namun jumlah ini baru usulan untuk bisa dibahas dalam pembahasan APBD 2013 nanti,” ungkap Afrizal. “Sementara untuk dua jembatan lainnya yang j uga terputus oleh Galodo tahun 2009 j uga direncakan pembangunanya 2013 seperti di Kociak dan Sikabu-kabu. Namun yang sudah ada program kerj annya, baru jembatan Kociak di Nagari Situjuah, Kecamatan Situjuah Limo Nagari,” tambahnya. Wali Jorong Lareh nan Panj ang, Momon, menyampaikan harapan masyarakat agar pembangunan jembatan sebagai akses penting petani dan masyarakat, sudah terjawab. “Warga sangat berharap pembangunan jembatan tersebut, sebab j ika j embatan tidak j uga segera diperbaiki, sangat jauh warga harus memutar jalan untuk sampai ke Jorong Balai Panjang,” ucap Momon. Masyara

kat menurut Momon, bersedia membebaskan lahan guna pembangunan jembatan, jika tempatnya dipindahkan dari lokasi jembatan saat ini sehingga jaraknya tidak terlalu panjang dan memakan biaya besar. “Warga di kedua pinggiran sungai Batang Sinamar bersedia menyediakan lahan jika memang dibutuhkan. Hal itu langsung diungkapkan masyarakat di kedua pinggiran sungai kepada saya,” ucap Momon. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, ambruknya j embatan gantung yang diperkirakan sudah berumur 31 tahun itu disebabkan karena diterjang air setelah kawasan itu diguyur hujan lebat selama beberapa hari. Rubuhnya jembatan dengan bentangan sepanjang 50 meter dan lebar sekitar 4 meter tersebut, menurut Wali Jorong Lareh Nan Panjang, Momon, disebabkan debit air yang cukup tinggi di Sungai Batang Sinamar. Jembatan yang menghubungkan Jorong Lareh nan Pan

Jembatan Ronah kondisinya sebelum roboh (f/net) Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

an di 2013 jang dengan Jorong Subarang Aia ini setiap hari digunakan warga untuk pulang pergi ke lahan pertanian mereka. “Jembatan ko pasti kaditampuah tiok hari dek petani di siko ko ma pak,” ungkap Rohman, 54, salah seorang warga Batupayuang. Jembatan tersebu, juga menjadi akses transportasi terdekat warga menuju se­ko­lah, kantor camat, pasar dan Puskesmas. Dengan terbannya pondasi dari jem­batan, warga ter­paksa memutar jalan hingga 8 kilometer untuk menuju daerah seberang sungai. Sebelum ambruk, jembatan yang dibangun sejak 1981 lalu itu, kon­disinya juga sudah memprihatinkan. Sejumlah lantainya sering diganti masyarakat dengan menggunakan bahan-bahan seadanya seperti bambu.Warga berharap jembatan yang sangat penting sebagai akses tranportasi pertanian warga itu segera diperbaiki. Terperosok Di bagian lain, kerusakan jalan kabupaten dari Lampasi di Kota Payakumbuh menuj u Koto Tangah Simalanggang, Kecamatan Payakumbuh, belum mendapat perhatian yang diharapkan, walaupun kondisinya cukup memprihatinkan. Pasalnya, pada sejumlah titik badan jalan sudah banyak terdapat lobang yang berpotensi memicu terj adinya kecelakaan lalulintas. Pantauan Haluan ke lokasi, kerusakan jalan sudah lama berlangsung itu, yang terparah di kawasan Nagari Simalanggang sampai ke Pekan Rabaa Nagari Koto Tangah Simalanggang. Di kawasan itu banyak terdapat lobang di badan jalan. Ketika musim hujan saat ini, lobang j alan tertutup oleh air hujan, sehinggga tidak jarang sepeda motor terperosok masuk lubang jalan. Salah seorang anggota masyarakat setempat, Ita, yang ditanya sekaitan dengan kerusakan jalan di dua lokasi itu, sangat berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Limapuluh Kota melalui dinas terkait hendaknya memperhatikan kondisi jalan kabupaten yang sudah rusak. “Jangan hendaknya terjadi korban terlebih dahulu setelah itu jalan diperbaiki,” sebutnya.

Aktivis Forum Peduli Luak Limopuluah, Yudilfan Habib, yang diminta pendapatnya tentang kerusakan jalan kabupaten di Simalanggang, menegaskan kepala daerah belum sepenuhnya pro rakyat, masyarakat masih mau diumbuak dengan goro (gotong royong), sehingga perbaikan jalan kabupaten yang rusak terabaikan. Itulah sebabnya terj adi demo penyampaian aspirasi ke DPRD belum lama ini. Wakil Ketua DPRD Limapuluh Kota, drh.Hamen, sebelumnya mengakui terjadinya kerusakan jalan di sejumlah titik selepas jembatan Lampasi sampai ke Koto Tangah Simalanggang. Karena itu, lanjutnya, sepantasnya masyarakat meminta Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota untuk memperbaiki badan jalan yang berlobang. Ruas jalan kabupaten itu termasuk ramai lalu lintasnya, mulai dari truk pengangkut bahan kebutuhan pokok, bahan pakan ayam ras petelur, mobil pribadi, angpedes dan sepeda motor. “Jalan rusak berpotensi sebagai pemicu terjadinya kecelakaan, mengingat pada lobang jalan ada kerekel yang berserak

Afrizal, Kabid Bina Marga Dinas PU (f/joy)

an yang membahayakan pengemudi sepeda motor j ika tidak hati hati,” ulasnya. Kepala Dinas PU Limapuluh Kota, Yusdianto Yusawar yang hendak dikonfirmasi belum bisa dihubungi. Namun Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU setempat, Afrizal, menyatakan badan j alan dari Lampasi ke Koto Tangah Simalanggang memang banyak yang sudah rusak, namun tidak begitu parah, lalu lintas masih berjalan dengan lancar. “Untuk memperbaiki j alan tersebut, direncanakan menggunakan dana pemeliharaan jalan kabupaten,” ulasnya. (fdl/fi)

Jalan di Lampasi yang mengalami kerusakan berat (f/net)

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

29


30 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

KESEHATAN

Sehat dan Bugar Secara Alamiah Tubuh akan sehat kalau zat gizi yang diperlukan bisa masuk secara sempurna, dan sisa metabolisme serta racun-racun bisa dikeluarkan dengan sempurna pula.

Oleh : dr.Prima Noveki Syahrir *)

SETIDAKNYA terdapat tiga hal yang diajarkan Allah SWT soal makanan pada manusia: 1. Makanan yang yang boleh dimakan adalah yang halal saja. 2. Makanan yang baik dan cocok sesuai kondisi. Artinya makanan yang cocok bagi bayi tidak sama dengan yang cocok bagi orang dewasa. Makanan yang baik bagi laki-laki dewasa belum tentu cocok bagi wanita hamil, dan seterusnya. Kata “baik” mengarah pada jenis dan komposisi menu makanan. 3. Tidak boleh melampaui batas. Kata jangan “melampaui batas” mengarah pada jumlah makanan yang dikonsumsi setiap harinya. Yang menarik sebagai dasar pengkajian ilmu gizi menurut Syari’ah adalah, Allah mengatakan bahwa manusia yang melampaui batas bisa mengakibatkan kemurkaan Allah. Nah, bagaimana wujud kemurkaan Allah itu ?. Makan berlebihan bakal menyebabkan problem pada proses pencernaan. Proses pencernaan yang kurang baik bakal menimbulkan masalah dalam proses penyerapan dan pengolahan makanan atau metabolisme dalam tubuh. Selanjutnya metabolisme yang tidak sempurna akan menghasilkan sampah-sampah yang bersifat racun bagi tubuh. Racun yang menumpuk ini akan menimbulkan berbagai keluhan yang kita sebut penyakit. Penyakit yang timbul akibat makan yang berlebihan atau melampaui batas adalah wujud dari murka Allah. Mari kita amati gejala-gejala berikut, mungkin anda pernah atau sedang menderita satu atau beberapa gejala di bawah ini : 1. Sering sakit maag, kembung, atau sembelit. 2. Sering sakit kepala. 3. Letih, lesu, tak bergairah, sukar tidur. 4. Nafas dan keringat berbau tak sedap. 5. Kesemutan, nyeri otot dan persendian terutama bangun tidur. Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

6. Kelebihan berat badan (kegemukan). 7. Komposisi tubuh tidak seimbang (atas besarbawah kecil, atas bawah kecil -tengah besar, dan sebagainya). 8. Asma, sinusitis, allergi, sering pileks, batuk, dan flu. 9. Jerawatan, bisul, kulit kusam, eksim. 10. Keputihan. Gejala-gejala di atas adalah gejala asidosis kronis (tingkat keasaman tubuh tinggi dalam waktu lama). Untuk yang lebih parah kita kenal berbagai penyakit akibat pola makan yang jelek dan berlebih-lebihan yang tidak bisa disembuhkan seperti : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Asam urat tinggi. Osteoporosis (kerapuhan tulang). Kholesterol tinggi Diabetes atau sakit gula Atherosklerosis atau kekakuan pembuluh darah Stroke Gangguan Fungsi jantung Penyakit Liver Kanker


31 1. 2. 3.

Siklus pembuangan, berlangsung dari bangun tidur s/d jam 12 siang. Siklus pencernaan, mulai dari jam 12 siang s/d jam 20 malam. Siklus penyerapan, mulai dari jam 20 malam s/d bangun tidur.

Yang kedua adalah suasana asam-basa tubuh yang terbentuk setelah makanan diolah atau dimetabolisme. Maka dikenal 3 golongan makanan, yaitu : 1. Buah-buahan dan sayur-sayuran dikenal sebagai makanan pembentuk basa. 2. Karbohidrat, lemak dan protein hewani dikenal sebagai makanan pembentuk asam. 3. Kacang-kacangan sebagai sumber protein nabati dikenal sebagai makanan yang bersifat netral (tidak cendrung membentuk asam dan tidak cendrung membentuk basa). Tubuh akan sehat kalau zat gizi yang diperlukan bisa masuk secara sempurna, dan sisa metabolisme serta racunracun bisa dikeluarkan dengan sempurna pula.

Penderita penyakit-penyakit ini akan bolak balik masuk rumah sakit. Berobat sama dokter, keluhan berkurang, habis obat sakit lagi‌..makan obat lagi, sembuh sebentar‌‌habis obat, sakit lagi..begitu set erusnya. Semua gejal a it u sebetulnya ti dak memerlukan pengobatan yang bolak-balik itu, atau mungkin perlu pengobatan sementara, dan serentak dengan itu merobah pola makan dengan yang lebih sei mbang, karena 90% penyebabnya adalah ketidakseimbangan asam-basa tubuh yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan zat gizi yang dikonsumsi seharihari. Karena itu penanganan yang paling elegan adalah dengan memperbaiki pola makan dan aktivitas seharihari yang disesuaikan dengan: 1.

Keseimbangan zat gizi yang dikonsumsi.

2.

Keseimbangan asam-basa dan siklus alamiah tubuh manusia.

3.

Penerapan pol a mi num mengoptimalkan metabolisme.

4.

Pemakaian suplemen makanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan.

5.

Olah raga teratur.

6.

Dan menjauhi hal-hal yang akan memperburuk kesehatan.

yang

bisa

Karena tidak mungkin terlalu jelimet memilih jenis makanan yang mengandung zat gizi tertentu yang diperlukan tubuh, maka ada 2 pengetahuan dasar yang bisa dijadikan pegangan. Yang pertama adalah siklus kerja saluran cerna yang terdiri dari tiga siklus yaitu :

Pola Makan a. Bangun tidur sampai jam 12 siang (siklus pembuangan) Pada siklus ini tubuh terutama saluran cerna melakukan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme dan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Jadi makanan yang dimakan adalah makanan yang membantu proses pembuangan sekaligus menyediakan sumber energi yang langsung diserap menjadi tenaga. Makanan yang cocok pada siklus ini adalah buah-buahan saja karena buah-buahan adalah jenis makanan pembentuk basa dan bekerja membongkar racun-racun yang terlanj ur masuk ke dalam tubuh. Disamping itu buah-buahan juga mengandung enzim yang sama dengan enzim di usus besar dan mineral non logam yang mempunyai berat jenis rendah, tempat sisa makanan ditumpuk sebelum dibuang menjadi tinja atau feses. Para ahli gizi terkemuka menganjurkan memulai makan buahbuahan ini dengan meminum 2 gelas air hangat ditambah 1 buah perasan jeruk nipis setelah bangun tidur. Air perasan jeruk nipis ini diminum pelan-pelan, seteguk-seteguk, dan dihabiskan paling cepat dalam waktu 1 jam. Kemudian sampai jam 12 siang baru memakan beraneka macam buah-buahan yang banyak mengandung air seperti jeruk, pepaya, semangka, apel, peer, melon, mangga, dan lain-lain. b.

Dari jam 12 siang sampai jam 20 malam ( siklus pencernaan)

Pada siklus ini baru saluran cerna siap diisi dengan makanan padat. Kita mulai memakan makanan padat seperti nasi, kentang, roti, daging, ikan, telur, tempe, tahu, dan lain-lain. Tetapi juga harus dipertimbangkan komposisi makanan dalam 1 porsi supaya enzim-enzim pencernaan bisa bekerja secara maksimal dan penyerapan di saluran cerna berlangsung dengan sempurna.

*) Penulis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Limapuluh Kota Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012


32 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

PERS DAN KEHUMASAN

Study Banding Ke Batam

Wabup : Duet AA Masih Solid “Kalau ado dunsanak-dunsanak mandanga kaba buruang nan mangatokan antaro bupati jo wakia bupati lah indak lai sairing jo sajalan, ambo pastikan kaba saroman itu tidak batua samo sakali.” Wakil Bupati (Wabup) Limapuluh Kota Drs. H. Asyirwan Yunus M.Si. menegaskan hahwa dua tahun lebih ia bersama Bupati dr. Alis Marajo Dt. Sori Marajo dipercaya memimpin Kabupaten Limapuluh Kota, sampai sekarang masih tetap solid dalam menjalankan roda pemerintahan. “Kalau ado dunsanakdunsanak mandanga kaba buruang nan mangatakan antaro bupati jo wakia bupati sudah indak lai sairing jo sajalan, ambo pastikan kaba saroman itu tidak batua samo sakali,” kata W abup Asyirwan dalam pertemuan dengan perantau Limapuluh Kota di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (25/12). “Kita punya komitmen kalau Allah mengijinkan kita sampai akhir priode 2012 akan komit tetap bersatu,” tambahnya. Dalam kunjungan ke Kota Batam yang diikuti sejumlah wartawan yang tergabung dalam BW (Balai Wartawan) Limapuluh Kota-Payakumbuh itu, selain mengadakan silaturahmi dengan para perantau Batam asal Kabupaten Limapuluh Kota yang tergabung dalam organisasi Gonjong Limo Kota Batam, rombongan juga mengadakan kunj ungan ke Pemko Batam. Di Pemko Batam, rombongan diterima di ruangan Humas. Pada kesempatan itu, Wabup Asyirwan juga menyampaikan sejumlah perkembangan terbaru di kampung halaman. Antara lain, dengan ditetapkannya Nagari Koto Tinggi di Kecamatan Gunuang Omeh sebagai tempat dibangunnya Monumen Nasional Bela Negara. Selanjutnya, dalam program eKTP, Limapuluh Kota masuk nominasi 10 besar yaitu nomor 4 kabupaten/kota tercepat pelaksanaan e-KTP secara nasional. Kemudian, pemerintah pusat menetapkan Limapuluh Kota sebagai salah satu daerah pelaksana program transmigrasi nasional yang dipusatkan di Galugua, Kecamatan Kapur IX. “Yang menj adi kebanggaan kita bersama adalahpembangunan mega proyek fly over (jembatan layang) Kelok 9 yang murni didanai melalui dana APBN, dimana kalau sampai tuntas diperkirakan Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

Wakil Bupati Asyirwan Yunus saat melakukan kunjungan silaturahim dengan para perantau Batam yang tergabung dalam organisasi Gonjong Limo Batam (f/dadang)

menelan dana Rp1 triliun,” kata Wabup Asyirwan Yunus. Pada kesempatan yang sama, W abup Asyirwan juga menginformasikan tentang penghargaan yang diterima Pokmaswas Sosa I di Kenagarian Koto Bangun, Kecamatan Kapur IX, yang berhasil merebut penghargaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Sementara sebelumnya Bupati Alis Maraj o menerima Penghargaan P2BN dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas prestasi di bidang pertanian. “Nah, tentunya semua ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota, baik yang berada di kampuang sendiri atau pun dunsanak-dunsanak kito yang ado di rantau,” kata W abup, sambil mengharapkan masukan dukungan dari perantau Batam asal Kabupaten Limapuluh Kota. “Mungkin sudah banyak perantau kita yang sukses di sini, makanya kami berharap masukan berharga,” tambahnya. Informasi lain yang disampaikan Wabup adalah ten

tang Porprov XII Sumbar yang dipusatkan di Kabupaten Limapuluh Kota, yang dilaksanakan dari 12 sampai 20 Desember 2012. “Porprov yang ke12 itu dilaksanakan tepat pada tanggal 12 bulan 12 dan tahun 2012, di mana Porprovnya juga ke-12. Nah, ini Porprov paling bersejarah sepanjang abad karena angka yang sama hanya akan bisa terulang lagi setelah 100 tahun lagi,” katanya. Terjalin Baik Pertemuan rombongan Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Limapuluh Kota dan wartawan diterima oleh Kasubag Publikasi Bagian Humas Sekretariat Daerah Kota Batam Yudi Admajianto, S.STP di ruang kerja Kepala Bagian Humas Setdako Batam. Menurut Yudi Admaj ianto, Bagian Humas Sekretariat Daerah Kota Batam merupakan “Pintu Gerbang Informasi” Pemerintah Kota Batam yang bergerak dalam terminal informasi dan komunikasi serta merupakan tempat keluar masuk


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

nya segala bentuk informasi. Bagian Humas ini dibentuk berdasarkan Peraturan W alikota Batam Nomor 6 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas dan Fungsi Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD Kota Batam, maka Bagian Humas mempunyai tugas untuk membantu Asisten Pemerintahan dalam melaksanakan pembinaan hubungan masyarakat yang berkaitan dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah. Berdasarkan Peraturan Wako Batam Nomor 6 Tahun 2008, Bagian Humas dibagi dalam 3 subag yakni : Subag Publikasi, Subag Pemberitaan dan Subag Dokumentasi.Dengan mottonya “Penyampai Pesan Membangun Kesan”, Bagian Humas berupaya agar dapat membangun citra positif Pemerintah Kota Batam di kalangan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan. Oleh karenanya dalam rangka memperjelas kebij akan dan kegiatan pemerintah daerah, maka Bagian Humas berperan sebagai lembaga pemberi, penyedia dan pelayanan semua informasi serta pendokumentasian secara proposional terkait berbagai program dan kebijakan Pemerintah Kota Batam secara institusional. Berdasarkan pengamatan dan peninjauan kami dilapangan, Bagian Humas Setdako Batam dalam pelaksanaan tugasnya sudah didukung dengan sarana yang sangat memadai dan pegawai-pegawai yang cukup profesional dibidangnya serta ditunjang dengan anggaran yang cukup. Selanjutnya mengenai kerjasama Humas dengan media pers, menurut keterangan kasubag Publikasi Yudi Admaj ianto, selama ini terjalin baik, baik itu dengan media cetak maupun media televisi walaupun di Kota Batam jumlah media ini cukup banyak namun selama ini bisa dikatakan tidak ada kendala yang berarti dalam kerjasama yang dilakukan. Lebih jauh menurut Kasubag Publikasi, saat ini Humas Setdako Batam mempunyai satu media cetak sebagai sarana penyebaran informasi keluar, yakni Maj alah “Media Batam” yang beroplah 1000 eksemplar tiap bulannya yang pasti memuat seluruh informasiinformasi tentang kegiatan pembangunan yang telah dan yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Batam dan dengan majalah “Media Batam” ini, humas berharap dapat menjembatani sebagain besar informasiinformsi yang berkembang di lingkup pemerintah kota Batam ke masayarakat luas di Kota Batam khususnya dan Riau umumnya. Akhirnya dari study komparatif ini kami berkesimpulan bahwa Humas Pemko Batam bekerja dengan baik na

Rombongan saat berkunjung ke Bagian Humas Sekdako Batam (f/adi)

mun ditunj ang dengan sarana dan sarana yang sangat memadai, sementara itu selama ini Humas Setda Kabupaten Limapuluh Kota juga bisa bekerja relatif baik, dengan segala keterbatasan sarana, prasarana serta anggaran. Sementara itu, Ketua PW I Limapuluh Kota-Payakumbuh Syafril Nita menj elaskan maksud kunj ungan tersebut, yaitu apapun jenis pekerjaan yang dilakoni, kualitas sangat dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Kualitas tersebut harus terus dijaga dan perlu pula untuk ditingkatkan dari waktu ke waktu agar tidak tertinggal dari orang lain. Salah satu caranya adalah dengan membandingkan kemampuan sendiri dengan kemampuan orang lain. “Itu pula yang menjadi dasar dilakukannya studi banding wartawan ke Kepulauan Riau,”

kata Syafril Nita. Ia berharap, sejumlahwartawan muda yang dibawa oleh rombongan mampu memetikhasil positif dari kunjungan tersebut dan mampu mengimplementasikannya dalam kerja sehari-hari sebagai jurnalis di Payakumbuh-Limapuluh Kota. “Dengan demikian, tugas kewartawanan sebagai pilar keempat pembangunan bisa terwujud,” katanya. Studi banding itu diikuti 26 awak berita dari berbagai media cetak dan online yang memiliki wilayah kerja Payakumbuh-Limapuluh Kota. Ikut pula dalam rombongan, Kepala Bagian Humas Sekretariat Kabupaten Limapuluh Kota, M.Siebert. Pimpinan rombongan dipercayakan pada W akil Bupati Limapuluh Kota, Asyirwan, Yunus yang j uga mengiringi rombongan di Batam.(m.siebert)

Rombongan di Gedung Batam Press Centre (f/aw) Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

33


34 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

ADAT

Rangkaian Tutua Nan Didanga

PEWARISAN SAKO DAN PUSAKO Oleh : dr. Alis Marajo Dt.Sori Marajo

Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau ( LKAAM ) Kabupaten Limapuluh Kota

B

ila ada dua orang berbeda pendapat, mengadu kepada seorang penghulu untuk menyelesaikan perkaranya, maka sang datuk tadi memberikan jawaban agar persoalan kalian itu diselesaikan secara damai. Ungkapan penghulu secara klasiknya “Cari saja lah Nan Elok”yaitu definisinya katuju dek Awak dan Lamak dek Urang lain,artinya jangan sebuah keputusan penyelesaian ada yang bahagian yang dirugikan dan ada pula bahagian yang dimenangkan. Sebagai ilustrasi dapat kita lihat misalnya ada perkara antara dua anak kemenakan lalu mengadu kepada dubalang maka dubalang mengatakan bahwa tidak mungkin kalian berdua berselisih paham atau berkelahi oleh karena antara kalian berdua”Ba Bako dan Babaki” artinya saling terkait hubungan famili atau misalnya antara kedua insan yang berlainan jenis,yang berhubungannya sudah sangat dekat katakanlah dengan istilah sekarang berpacaran,lalu dinasehati oleh dubalang maka dubalang adat mengatakan bahwa tidak mungkin kalian meneruskan hubungan oleh karena kalian satu suku,dan kalau kalian teruskan juga mungkin saja ninik mamak kalian akan terutang juga mungkin saja Ninik Mamak kalian akan terutang kepada Nagari,dalam hal ini terutang kepada nagari adalah salah satu dari sanksi Undang Adat dalam Nagari,yang kita sebut dengan Adat Nan Teradat. Lalu Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

ada lagi dua kelompok yang saling mengadu kepada dubalang Adat dimana suatu kelompok kehilangan barang dagangannya dan kelompok lain terbukti mengambil barang dagangannya maka dubalang berkata patut untuk dikadukan kepada polisi,inilah arti Dubalang yang tahu meletakan mungkin dan patut. Kita telah singgung diatas tentang apa itu”Adat kalau kita tanyakan kepada Ninik Mamak,katakanlah seorang’’Datuk menjawab : Adat itu ada ’’Ampek Parakaro” , Nan pertamo adolah Baso j o Basi,Nan Kaduo Sambah Manyambah,Nan katigo Siriah jo Pinang dan Nan kaampek adolah Alue Nan Baturuk’’.Kalimat j awaban ini belum selesai seperti itu,akan tetapi dilanjutkan dengan “Adat Tapakai,undang Talukih,Limbago Tatuang,Alue ta Taruik,Syarak ta Lazimkan. Dalam wujud pemahamannya bahwa adat itu adalah alat komunikasi dengan orang lain secara harmonis dengan meletakan dasar menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan rusaknya hubungan antara satu dengan lain nya. Adat bukan suatu bacaan,akan tetapi terpakai dalam kehidupan seharihari.undang talukih artinya tergambar dalam bentuk lambang fisik tentang hubungan atau jalan adat satu kelompok dengan kelompok lainya. Kita ketahui bersama hubungan antara satu kelompok dengan kelompok lainya dalam tatanan masyarakat Minangkabau ada 4 bahagian yaitu’’Batali Darah,Batali Adat,Batali Budi dan Batali Ameh Perak. Batali darah adalah sesuai dengan silsilah keturunan menurut garis ke Ibuan (Matrilineal),sementara Batali Adat ada dua hal:pertama adalah Batali Sako arti nya sama-sama mengakui bahwa penghulunya misalnya Dt.Bandaro tetapi

bagaimana gambaran silsilahnya tidak dapat diketahui lagi oleh karena sudah sangat panj ang sekali,yang Kedua adalah Batali Pusako yaitu sawahnya saling berdekatan,ladangnya saling berdekatan,tanj ungnya saling bersekatan. lalu disebutkan bahwa harta yang diberikan sebagai imbal jasa tadi dikatakan ganggam Bauntuak. Jadi jual beli dalam bahasa dan adat Minangkabau adalah”Ameh perak”maka dikatakan bahwa ganggam bauntuak itu dapat pula dibagi ganggam bauntuak salalo harimau balang artinya dimilikinya terus menerus atau ada pula ganggam bauntuak sakaturunan artinya satu generasi (50 tahun),maka pengertian ganggam bauntuak adalah di ganggam dalam adat dan di untuakkan dalam limbago atau kesepakatan kaum.Hal ini merupakan dasar adat Minangkabau dalam aspek ‘’Adat nan di adatkan” atau dalam mewariskan sako datuak yang turun temurun. PEWARISAN SAKO DAN PUSAKO Sako adalah gelar ninik mamak,misalnya Sori Maraj o atau “Pangulu”Pewarisannya adalah turun temurun artinya dari mamak kepada “Kemenakan “,kemenakan disini bisa bersifat langsung atau bisa juga bersifat tidak langsung,misalnya kakak laki-laki dari si datuak tadi maka sebutanya juga sebagi kemenakan. Urutan turun temurun yang akan mewarisi sako datuak,pertama bertali darah,kalau sudah tidak ada yang bertali darah,maka urutan kedua pewarisnya adalah batali adat,kalau tidak ada pula yang bertali adat,maka j atuhnya kepada batali budi,tetapi kalau tidak ada lagi batali budi,maka jatuhnya kepada kelompok


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

yang bertali ameh perak. Sebutan sakonya kalau masih ada yang bertali darah maka sebutan nya sako datuk nya utuh misalnya Sandaro,kalau jatuhnya kepada batali adat maka sebutan nya Dt.Bandaro Nan Kuniang (Kuniang dek alek),kalau jatuhnya kepada batali budi sebutan nya Bandaro Nan Hitam ( Dek badamai ) atau Dt.Bandaro Putiah (Dek bakarelaan), tetapi kalau jatuhnya ada kemenakan batali ameh perak maka biasanya disebut Dt.Bandaro Nan Kayo(Kayo dek Ameh Perak), pewarisan ini terjadi biasanya kalau adat nan diadatkan dalam suatu nagari itu adalah Adat Lareh Nan Bunta(Adat bodi caniago).Kalau adat disuatu hari itu adalah Koto Piliang atau Lareh Nan Gadang maka kalau tidak ada lagi yang bertali darah, maka tidak dapat diwarisi lagi (dihanyutkan). Konon khabarnya di Nagarinagari dengan sistim kelarasan yang tertua pun yang kita sebut dengan Lareh Nan Panjang hal ini juga tidak dapat diwarisi lagi.Akan tetapi pada sistim kelarasan Lareh Nan Bunta maka hal ini dapat diwarisi dengan urutan Batali darah,Batali adat,Batali budi dan Batali ameh perak. Tentang “Pusako” atau Pisako adalah harta dalam hal ini termasuk tanah,air,dan alam lain nya. Didalam komunitas masyarakat Minangkabau semua harta termasuk gunung dan rimba belantara pun semuanya terbagi habis,hal ini dapat kita dengar ungkapan Minangkabau yang berbunyi”Sahalai rumpuik,Sabingka tanah,sebuah Capon”di nagari ko ado nan punyo,Hak bamiliak,Barato bapunyo. Tentang Pusako ada dua macam yaitu Pusako Randah ialah harta yang cara memperolehnya mungkin saja jual beli yang j elas siapa penj ual,dan siapa pembeli atau dalam bahasa Minang,” Dapek dek ameh perak”, biasanya harta ini adalah akibat pencarian kehidupan pasangan suami isteri,harta ini tetap pewarisan nya sesuai dengan garis keibuan sesuai sistim matrilineal yang berlaku di Minangkabau,kalau misalnya seorang ayah mewariskan kepada anak laki-laki,maka anak nya ini akan memberikan hak miliknya kepada adik nya yang perempuan dan kalau tidak mendesak oleh kehidupan biasanya anak laki-laki ini tidak mengganggu gugat pemberian bapaknya ini,kalau terpaksa misalnya maka adik perempuan nya ini

(kalau bersuami)yang mengatasi kesulitan kakak laki-lakinya. Yang kedua adalah harta Pusako tinggi yaitu harta yang tidak dapat diketahui lagi cara memperolehnya oleh kaum itu akan tetapi sudah diwarisi turun temurun.Harta Pusako tinggi ini bukanlah milik dari pribadi-pribadi akan tetapi disebut dengan “Ulayat Suku” Ulayat Payuang (Kampuang)Ulayat Paruik,yang ganggam bauntuak untuk kaum di nagari maka sering inilah yang disebut dengan “Ulayat di Nagari” dibukanlah Ulayat Nagari. Harta Pusako Tinggi inilah yang tidak dapat perjual belikan,juga tidak dapat digadaikan akan tetapi dapat dipakai dalam j angka waktu atau disewakan,dan semuanya dengan memakai sistim ke Minang Maimbauan adat dipakai Limbago dituang,Alue dituruik,Ladang di lukih. Harta pusako tinggi ini otoritas penggunaan berada di tangan Ninik Mamak (Datuak),sementara ganggam bauntuak artinya Pusako tinggi yang berhakkan untuk sebuah jurai kaum dalam jangka waktu misalnya kalau jangka waktu itu adalah untuk lamalamanya disebut dalam bahasa adat ”Salamo kuciang mangeong atau salamo harimau balang”.kalau diperuntungkan hanya selama seumur kaum itu disebut “Salamo hiduik atau salamo seseorang itu belum mendapatkan pencarian dalam bentuk lain”. Pada prinsipnya secara budaya sebuah harta pusako tinggi tidak dapat berpindah hak kepada pihak lain,tetapi kalau pihak lain itu sudah menjadi atau merupakan Tali Adat dengan pemegang hak ulayat maka dapat berobah menjadi ganggam bauntuak. Demikianlah pada zaman lampau,misalnya ketika terjadi Perang Paderi tahun 1821-1837 banyak sekali tentara sentot didatangkan oleh pemerintah Belanda untuk membantu Belanda dalam melawan Paderi sampai akhirnya Tuanku Imam Bonjol dibuang keManado,maka tentara sentot itu tidak lagi pulang ke Negerinya,ada yang berasal dari Jawa Tengah,ada yang berasal dari Jawa Barat,mereka itu dijadikan kemenakan dalam Nagari,diberi suku,dan diberi sawah setumpak atau peladangan dalam ganggam bauntuak,bukan hanya bekas anak buah sentot,buruh-buruh yang mengerjakan jalan raya Padang - Pekan

baru pun sekitar tahun 1900 an,ada dari Nias dan sebagainya,maka mereka itu diberi suku dan bermamak dengan suku yang ada di Nagari tersebut. Demikianlah caranya orang minang menerima dengan iklas para pendatang untuk dijadikan sebagai “ Dunsanak”.inilah implikasi pemahaman Adat Nan Tigo Parakaro”Baso j o Basi,Siriah j o pinang,Sambah manyambah”artinya tidak ingin konflik tidak radikal dalam pituah Minangkabau dikatakan “Usak tak Tasenseng,dalam tak dapat di ajuak”. Pusako dalam artian Ulayat di Minangkabau pewarisannya sesuai dengan kaedah adat yang berbunyi “ Sako Turun Temurun, Pusako Jawek ba jawek “. Lalu bagaimana pemahaman “ Jawek “ itu, disinilah kita lihat ada makna yang terkandung dalam menyebutkan nama suku di Minangkabau, dan urutannya ini adalah konvensi yang sangat bersifat intitif, umpamanya bagaimana urutan suku – suku dalam kelompok suku nan anam ( Pitopang ) yaitu jambak pitopang, salo kutianyia, buluh kasok banu hampu, artinya kalau suku jambak punah, maka pusakonya di jawek oleh suku pitopang, kalau suku pitopang punah, maka di jawek ( di wariskan kepada ) suku salo, kalau suku ini juga punah, maka di jawek oleh suku kutianyia, kalau punah pula suku ini maka di wariskan pada suku buluh kasok, kalau suku ini juga punah maka diwariskan pada suku banuhampu. Kalau kelompok suku nan anam ini semuanya punah, maka diwariskan pada kelompok suku nan limo ( Malayu, bendang, kampai, mandahiliang, domo/panai ), dan urutan pewarisnya pun berurutan dari melayu sampai dengan domo/panai. Kalau kelompok suku kedua ini juga punah, maka di jawek oleh kelompok suku ke tiga ( kelompok sembilan ) yaitu urutannya meliputi koto-piliang, tanjuangpayobada, sikumbang-picancag, simabua-sipisang. Selanjutnya kalau kelompok suku ketiga ini juga punah, maka di wariskan kepada kelompok suku ke empat yaitu kelompok suku nan tujuah bodi caniago yang meliputi urutannya sbb: Bodi-caniago, sapangj angs u m a g ek , s in g k u a n g -m a n d a lik o , balaimansiang. (TAMAT )

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

35


36 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

SOROT Lima Puluh Kota Rawan Bencana

Ancaman Besar Kesiapan Kurang “Masih lemahnya aturan untuk menangani dampak bencana alam, mungkin menjadi salah satu hal yang menyebabkan sulitnya penanganan dampak bencana di daerah Limapuluh Kota.”

Azril Tamin, Kepala BPBD (f/joy)

M

asih ingat dengan kejadian pada Minggu (11/9), saat jalur transportasi di jalan negara Sumbar-Riau yang tergolong ramai dan padat, yang melintasi kabupaten ini, kembali terhenti dan menimbulkan kemacetan panjang aki bat l ongsor yang terjadi di jembatan Pincuran Basi Jorong Ulu Aia Kenagarian KM 31 Jalan Raya Sumbar Riau?. Longsor tersebut disebabkan oleh anak sungai yang meluap dan membawa material lumpur sehingga meluap hingga ke sampai ke badan jalan. Kejadian yang terjadi sejak Minggu pagi itu mulai bisa teratasi hingga siang, setelah satu alat berat dari jenis eksavator) dit urunkan ke lokasi untuk membersihkan material lumpur. Unt uk bisa mengantisipasi kemacetan, polisi memberlakukan sistem buka-tutup jalan. Bencana jalan putus juga terjadi untuk ruas jalan Pangkalan dengan Kapur IX, serta jalan aspal yang putus dan pohon tumbang berada di Kenagarian Gunuang Malintang. Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

Peristiwa tersebut menyebabkan akses warga yang bi asa menggunakan jalan tersebut jadi terganggu. Putusnya jalan yang terjadi pada Sabtu (10/11), disebabkan karena tergerus air hujan, sebab air sungai Batang Mahat yang meluap, sehingga jalan menjadi ambruk dan putus. Sementara itu, pascarobohnya sebuah jembatan di Jorong Lareh Nan Panjang, Kenagarian Batu Kecamatan Lareh Sago Halaban, yang belum mendapat perbaikan, mengakibatkan ratusan warga terpaksa menyabung nyawa dengan cara menyeberangi jembatan di atas derasnya aliran Batang Sinamar. Jem batan yang menj adi akses bagi sejumlah warga itu roboh karena terban oleh air air sungai yang disebabkan hujan deras. Jembatan kayu yang dibuat tahun 1981 ini memiliki panjang sekitar 50 meter dan lebar sekitar 4 meter. Jembatan ini termasuk paling sering digunakan dan merupakan salah satu alternatif yang menghubungkan Jorong Lareh Nan Panj ang dengan Jorong Subarang Aia. Walaupun kondisi jembatan sudah tergolong parah, akan tetapi warga setempat masih menggunakannya menyeberang. Hujan yang turun deras di daerah ini juga membuat ratusan petak sawah yang baru ditanam petani terancam tidak tumbuh dengan baik. Sebab, beberapa batang air dan sungai di Kabupaten Limapuluh Kota meluap. Salah satunya Batang Harau yang terdapat di Kenagarian Batu Balang, Kecamatan Harau. Air yang mel uap t ersebut mengenangi beberapa petak sawah warga yang berada di dekat Batang Harau. Genangan air t ersebut bakal berakibat fatal, sebab sawah yang baru ditanami petani sudah terendam

air. Bencana dengan berbagai jenis dan bentuknya itu, terutama pada saat musim hujan seperti sekarang ini , tergolong sering melanda kawasan Kabupaten Limapuluh Kota. “Yang kemudian sering menjadi persoalan, kesiapan dalam penanganan dam pak yang ditimbulkan oleh bencana alam di daerah masih terbatas,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota, Azril Tamin K. Informasi yang diterima di BPBD Limapuluh Kota menyebutkan, setidaknya terdapat 35 titik dampak bencana yang sampai sejauh ini bel um di tanggulangi secara maksimal . Padahal Kabupaten Lim apul uh Kota sudah dikenal sebagai daerah rawan bencana, seperti banjir, galodo, longsor, angin kencang hingga puting beliung. Mem ang, dibutuhkan kesiapan pemerintah untuk lebih meperhatikan kesiapan penanganannya. Banyaknya daerah yang terkena dam pak bencana yang belum tertanggulangi secara maksimal, dibenarkan Azril. Menurut Azril kondisi demikian disebabkan oleh masih belum siapnya aturan penangulangan bencana dan keterbatasan anggaran. “Masih lemahnya aturan untuk menangani dampak bencana alam, mungkin menjadi salah satu hal yang menyebabkan sulitnya penanganan dam pak bencana di daerah Limapuluh Kota,” katanya. Namun, tambah Azril, tentunya sebagai tugas utama di jajaran BPBD, upaya untuk menangani sejumlah dampak yang ditimbulkan oleh bencana akan terus diupayakan. Azril bertekad akan melakukan langkah-langkah ke arah itu sampai ia memasuki usia pensiun sebagai PNS (pegawai negeri sipil)


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

pada 2014 mendatang. Azril membenarkan, dari 35 titik yang menjadi kawasan dampak bencana alam saat ini, setidaknya masih ada sekitar 20 lebih yang belum benarbenar tertangani. “Namun untuk ketanggapdaruratan kita cukup siap di daerah,” katanya. Hanya saja dampak bencana seperti kausus jembatan putus, rusaknya irigasi, jalan terban dan longsor yang belum ditangani BPBD. Dijelaskan, daerah yang tergolong rawan bencana alam di Kabupaten Limapuluh Kota antara lain meliputi Kecamatan Luak, Lareh Sago Halaban yang berada di lereng gunung Sago, Kecamatan Harau, Kecamatan Suliki, Harau, Pangkalan dan Kapur IX. “Sebab, umumnya daerahdaerah tersebut posisi geografisnya berada di pinggir aliran sungai dan di lereng perbukitan,” terang Azril. Ditanya persoalan yang dihadapi BPBD Limapuluh Kota sebelumnya untuk sepuluh titik proyek bencana yang telah dikerjakan dan tidak bisa dibayarkan dari anggaran daerah, menurut Azril Tamin, akan tetap diupayakan pembayarannya dengan mengajukan pada APBD 2013 ini. “Kita juga akan terus mengupayakan dana Rekon (rencana kontigensi) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). “Daerah kita mem ang merupakan rawan bencana, sehingga dibutuhkan kesiapan anggaran yang besar untuk menangani dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam itu, seperti rusaknya irigasi pertanian, terputusnya jalur transportasi dan dam pak lainnya,” kata Azril, menambahkan. Sementara di bagian lain, sambungnya, dana-dana di APBD tidak cukup mendukung untuk itu. Persoalan kebencanaan j uga disinggung olehanggota DPRD Limapuluh Kota, Zulfahmi. Dalam pandangan umum Fraksi Demokrat pada sebuah sidang pariupurna DPRD Limapuluh Kota, beberapa waktu lalu, Zulfami menyinggung tentang pentingnya penanggulangan dampak bencana dianggarkan oleh Pemkab Limapuluh Kota di APBD

Zulfahmi (f/joy)

Kabupaten Limapuluh pada tahun anggaran 2013 mendatang. Tidak hanya sampai di sana. Fraksi Partai Dem okrat , sebagaim ana yang disampaikan Zulfahmi, juga melihat pentingnya j embatan bongkarpasang disiasati pemerintah, dimaksudkan untuk langkah tanggap darurat. “Berhubungan dengan galodo tahun 2009 yang masih belum tersentuh oleh bantuan seluruhnya,

seperti masih adanya jembatan yang terputus sepanjang tiga tahun terakhir, Demokrat meminta agar dianggarkan pada 2013,” ucap Zulfahmi. Sementara Afrizal, Kepala Bidang Bina Marga di Dinas PU ( Pekerjaan Um um ) Pem kab Limapuluh Kota yang dikonfirmasi tentang itu, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan yang putus akibat galodo tahun 2009 lalu sudah dimasukkan dalam rencana kerja tahun 2013. Namun diakui Afrizal, yang telah dimasukkan ke anggaran 2013 tersebut bel um semua jembatan yang terputus. “Dua jembatan yang putus akibat Galodo tahun 2009 direncanakan pembangunannya pada 2013 seperti di Kociak dan Sikabu-kabu. Namun yang sudah ada program kerjanya baru jembatan Kociak di Nagari Situjuah, Kecamatan Situjuah Limo Nagari. Sementara yang di Jorong Sikabu-kabu, Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Kecamatan Luak belum bisa dipastikan,” ungkap Afrizal. (fi)

Bencana Alam Tanah Longsor (f/mmd) Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

37


38 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

NAGARI

Nagari Sikabu-Kabu

Agar Tak Lagi Menenteng Sepatu Bila Ke Sekolah .... “Jalan perjuangan seharusnya kondisinya sudah lebih baik sehingga jasa perjuangan yang dilakukan oleh sejumlah pejuang di daerah itu untuk Indonesia bisa dirasakan hasilnya.”

S

ejumlah bocah kecil berseragam sekolah warna merah-putih tampak menenteng sepatu ketika melintasi salah satu ruas jalan tanah berlumpur saat menuj u ke sekolah mereka. Takut sepatu kecipratan atau malah terbenam dalam lumpur, mereka lebih memilih menenteng sepatu untuk kemudian dipasang lagi sesampai di ujung jalan. Itulah keseharian yang bisa dilihat di atas puncak Bukik Talang di Jorong Sikabu-kabu, Nagari Sikabukabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Kecamatan Luak. “Masyarakat di sini memang mengharapkan perbaikan j alan sepanj ang sekitar 500 meter lagi, dimaksudkan agar anak-anak tidak lagi kerepotan saban hari menuj u atau sepulang dari sekolah,” ujar Hardinaton, 32,salah seorang warga di sana. Soal masih adanya jalan di sepanjang jalan perjuangan di kedua daerah tersebut, dibenarkan oleh Sekretaris Nagari Sika

bu-kabu Tanj uang Haro Padang Panj ang, Mulyadi. Menurut Mulyadi kepada Sinamar, j alan perj uangan seharusnya kondisinya sudah lebih baik sehingga j asa perj uangan yang dilakukan oleh sej umlah pej uang di daerah itu untuk Indonesia bisa dirasakan hasilnya. “Perj uangan memang belum berakhir,” kata Mulyadi. Ihwal perjuangan yang harus ia lakukan bersama dengan masyarakat senagarinya, menurut Mulyadi, antara lain yaitu bagaimana agar pembangunan di daerah yang pernah menjadi basis pejuang tersebut menjadi perhatian pemerintah secara maksimal. Menurut Mulyadi, terdapat beberapa pejuang di daerah itu seperti Kapten Haji Amir, Angku Mudo Main, Haji Kutar, Rasidin Datuak Paduko, Rusli dan sejumlah pej uang lainnya. Dari peninj auan langsung ke lapangan, terlihat kawasan ini terkesan sangat ter

lambat disentuh pembangunan. Bahkan, seperti diuraikan di atas, masih ada jalan sepanjang 500 meter yangHaro Padang Panjang, Mulyadi. Menurut Mulyadi kepada Sinamar, j alan perj uangan seharusnya kondisinya sudah lebih baik sehingga j asa perj uangan yang dilakukan oleh sejumlah pejuang di daerah itu untuk Indonesia bisa dirasakan hasilnya. “Perj uangan memang belum berakhir,” kata Mulyadi. Ihwal perjuangan yang harus ia lakukan bersama dengan masyarakat senagarinya, menurut Mulyadi, antara lain yaitu bagaimana agar pembangunan di daerah yang pernah menjadi basis pejuang tersebut menjadi perhatian pemerintah secara maksimal. Menurut Mulyadi, terdapat beberapa pejuang di daerah itu seperti Kapten Haji Amir, Angku Mudo Main, Haji Kutar, Rasidin Datuak Paduko, Rusli dan sejum

Keindahan alam Nagari Tanjuang Aro Sikabu - Kabu (f/int)

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

lah pejuang lainnya. Dari peninjauan langsung ke lapangan, terlihat kawasan ini terkesan sangat terlambat disentuh pembangunan. Bahkan, seperti diuraikan di atas, masih ada j alan sepanj ang 500 meter yang menghubungkan ke nagari tetangga, yang sama sekali belum dilapisi aspal alias masih berupa jalan tanah. Pelajar di daerah ini terpaksa harus menenteng sepatu mereka untuk menuju sekolah, terutama pada saat musim hujan. Meski sudah ada sebagian jalan yang sudah dilapisi aspal sej ak beberapa tahun terakhir, namun pengerjaannya juga belum tuntas. Dalam artian masih ada sekitar 1,5 kilometer lagi yang perlu dilapisi aspal sehingga jalur ini bisa difungsikan untuk menghubungkan Nagari Sungai Kamuyang dan Nagari Sikabu- kabu Tanjung Haro secara utuh. Kalau kondisi jalan masih jauh dari memadai, lain halnya penerangan dengan memanfaatkan arus listrik milik PT PLN (Persero). Sebab, sejak tujuh bulan terakhir masyarakat di sana sudah menikmati penerangan dari listrik, yang sebagian di antaranya dimanfaatkan untuk penerangan jalan. Kendati demikian, jika dibandingkan dengan lamanya Indonesia merdeka, penerangan yang telah dinikmamati masyarakat tergolong terlambat. Tempat Pertahanan Merujuk sejarah, puncak Bukik Talang di Jorong Sikabu-kabu yang infrastruktur j alannya masih dalam kondisi memprihatinkan itu, dulunya dijadikan para pejuang sebagai tempat pertahanan dari serangan-serangan penj aj ah. Ruas j alan yang kini dimanfaatkan anak-anak untuk pergi dan pulang dari sekolah, juga digunakan oleh para pejuang dulunya untuk menghindari musuh saat memperj uangkan kemerdekaan. Tapi inilah ironisnya. Kendati Indonesia sudah merdeka lebih dari 67 tahun, kondisi jalan di sana sama saja dengan kondisi yang dulu. Yang membedakan saat melintasi jalan itu saat ini adalah tidak ada lagi desingan peluru dan rasa ketakutan akan diberondong tembakan. Sementara lumpur jalan yang cukup kental saat musim hujan tetap sama beceknnya dengan kondisi puluhan tahun yang silam. entunya masih sangat orisil tanah yang diinjak para pejuang untuk merebut kemerdekaan jadi saksi sejarah, di salah satu daerah yang berjarak sekitar 9 km di selatan pusat Kota Payakumbuh itu. Sebab tanah tersebut belum pernah sekalipun disentuh pembangunan, terhitung sej ak zaman pej uang bergerilya guna merebut kemerdekaan dari Belanda, saat pendudukan Jepang,

zaman kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru dan era reformasi. Dari cerita sej umlah warga, saksi, dan pelaku sej arah, Talang merupakan benteng pertahanan yang cukup kuat yang didukung oleh letaknya yang strategis. Tidak itu saja, bahkan pada masa perjuangan tersebut daerah yang berada di kaki Gunung Sago ini merupakan jalur aman mobilitas para gerilyawan. Sebab berada dekat dengan kawasan hutan sebagai persembunyian, jika sewaktu-waktu terj adi serangan mendadak dari tentara musuh. Bahkan, menurut cerita salah seorang pej uang yang sempat bergabung dengan Fisabillah, Rasidin Datuak Paduko, 84, di Talang terdapat sebuah asrama darurat untuk Tentara Nasional Indonesia. Meski tidak diabadikan dengan wujud monumen sejarah, namun di tempat itu kini telah dibangun sebuah mushala dengan nama Mushala Pejuang 45. Tempat ini menjadi salah satu basis perjuangan. “Di tempat bangunan Mushala Pejuang 45 itu dulu adalah sebuah asrama sementara bagi para pejuang kemerdekaan,” kenang Rasidin. Saat Belanda masuk ke Payakumbuh, tentara nasional terpaksa mundur ke daerah ini. “Selain Lurah Kincia di Situj uah Batua, sej umlah tempat di daerah ini juga menjadi tempat menyusun strategi perjuangan,” tambah Rasidin, mengilasbalik sejarah. Salah satu tokoh pejuang yang masih menjadi bagian cerita sejarah di Nagari Sikabukabu adalah Kapten Haji Amir. “Haji Amir adalah salah satu pimpinan kami, dia berpangkat kapten di Kesatuan Singa Harau,” ucap Rasidin. Sebagai saksi

sejarah perjuangan melawan penjajahan masa itu, di sini juga terdapat sebuah benteng pertahanan semacam parit yang digali di tanah sebagai pertahanan. Tempat itu dikenal masyarakat setmpat dengan nama “Lubang Ase”. Dari sini, sejenis senjata mesin yang dinamakan Ase yang mampu memuntahkan ratusan peluru dalam hitungan menit itu, ditembakkan. “Ase itu merupakan sejenis senapan mesin yang diletakkan di tanah dengan peluru sebesar jari kelingking orang dewasa. Bila Ase berbunyi, biasanya juga membuat ciut nyali tentara Belanda,” ungkap pejuang yang mengaku hanya menerima uang veteran sebesar Rp 48 ribu/bulan itu. Sayangnya tempat itu tidak dipelihara sebagai saksi sej arah sehingga mulai menghilang ditumbuhi semak belukar. Padahal, menurut Rasidin, dari tempat itulah para pejuang melakukan pertahanan bila tentara musuh mulai memasuki perkampungan penduduk. Desingan peluru dari Ase juga membuat ciut tentara musuh yang coba memasuki daerah di kaki Gunung Sago itu. Warga di Kenagarian Sikabukabu masih mendapatkan cerita bahwa penembak yang terkenal hebat menggunakan Ase bernama Muat atau lebih dikenal dengan Muat Ase. Sayang, pejuang ini dikabarkan meninggal dunia beberapa tahun lalu. Tak hanya mereka yang angkat senjata, sejumlah warga di kawasan ini juga memiliki jasa besar terhadap kemerdekaan, sebab mereka menyediakan makanan untuk para pejuang atau semacam dapur umum. (fi)

Kantor Wali Nagari Tanjuang Aro Sikabu-kabu (f/int) Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

39


40 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

PERUMAHAN

2013, Bebas Rumah Tidak Layak Huni “Kita yakin pada 2013 mendatang di Limapuluh Kota tidak ada lagi ditemukan rumah tidak layak huni. Sebab kita akan berupaya dengan sekuat tenaga untuk bisa melaksanakan program nasional itu dengan baik dan sukses.”

A

pa yang bisa diperbuat Syahrial, 47, dengan status sebagai pekerja serabutan yang disandangnya? Jangankan memikirkan membangunkan rumah yang layak huni untuk isteri dengan tiga orang anak hasil pernikahan mereka, warga sebuah nagari di Kecamatan Harau ini malah mengaku sering kewalahan untuk menutupi kebutuhan dasar anggota keluarganya. Makanya, setelah sekitar 14 tahun usia pernikahan dengan sang isteri, keluarga Syahrial terpaksa menetap di sebuah tempat yang sebenarnya tidak layak disebut dengan rumah. Sudahlah ukuran fisiknya sangat kecil, hanya 4 x 6 meter, berdinding papan yang sudah lapuk di sana-sini, masih diparparah lagi dengan lantai tanah; sementara pada bagian atap tempat yang dihuni keluarga Syahrial juga sudah banyak yang bocor. “Malu ambo kalau ado nan datang mancaliak tampek tingga kami,” katanya. Realitas kehidupan yang sudah belasan tahun dijalaninya itu, menurut Syahrial, seakan mempertegas kesimpulan bahwa ia gagal menjadi kepala keluarga bagi isteri dan anakanaknya. “Itulah malangnya kalau dulu indak basikolah,” ujarnya, seolah meratapi nasib. “Untuak bisa batahan hiduik, tapaso mengakok karajo apo sajo.” Tapi, kalau program Bappeda Kabupaten Limapuluh Kota jadi dijalankan, yaitu akan membebaskan masyarakat daerah ini untuk mendiami rumah-rumah yang tidak layak huni pada 2013 mendatang, tentu kabar tersebut merupakan angin segar bagi Syahrial dengan anggota masyarakat lainnya yang senasib. Sebab, sebagian besar di antara mereka memang tidak punya kemampuan untuk keluar dari kondisi keterjepitan yang mengungkung. Kepala Bappeda Kabupaten Limapuluh Kota Ir. Novyan Burano mengakui, salah satu dari tiga program kerja prioritas Bappeda Limapuluh Kota, merupakan program sosial yang difokuskan pada program rehabilitasi rumah tidak layak huni. “Kita Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

Novyan Burano (f/joy)

yakin, kalau program itu sukses dijalankan, pada 2013 mendatang Kabupaten Limapuluh Kota akan terbebas dari rumah tidak layak huni,” kata Novyan. Artinya, tambah Novyan lagi, tidak akan ada lagi di daerah ini rumah dengan kondisi atap yang bocor, dinding bolong, dan lantai tanah. Lalu, apa yang mendasari Novyan dengan optimismenya untuk membebaskan Kabupaten Limapuluh Kota dari rumah yang tidak layak huni? Menurut Novyan, dasarnya adalah peluang anggaran yang bersumber dari Kementerian Perumahan Rakyat untuk tahun anggaran 2013. Bahkan, tambah Novyan yang pernah maju di ajang Pemilukada Limapuluh Kota dengan membidik kursi wakil bupati itu, untuk kesuksesan program pembangunan rumah layak huni tersebut sudah pula direncanakan sejalan dengan dua program nasional lainnya di daerah ini, yaitu pembangunan jalan layang Kelok 9 di Kecamatan Harau, dan Monumen Bela Negara di Koto Tinggi, Kecamatan Suliki. “Kita yakin pada tahun 2013 mendatang di Limapuluh Kota tidak ada lagi ditemukan rumah tidak layak huni. Sebab kita akan berupaya dengan sekuat tenaga untuk bisa melaksanakan program nasional itu dengan baik dan sukses. Sehingga dengan demikian diharapkan

ada tahun 2013 mendatang tidak ditemukan lagi warga Kabupaten Limapuluh Kota yang tinggal di rumah tidak layak huni,” ucap Novyan. Bila jadi dilaksanakan, ini sebuah program yang tergolong berat. Sebab, merujuk data 2011, jumlah rumah tidak layak huni di Kabupaten Limapuluh Kota mencapai 5.000 unit. Tentu saja, seiring bertambahnya tahun dan populasi penduduk, jumlah rumah layak huni juga praktis akan bertambah banyak dibandingkan dengan data setahun yang lalu itu. Sementara, program itu mengharuskan untuk menyelesaikan pekerjaan pada tahun itu juga. Disinggung tentang itu, Novyan mengatakan bahwa hingga saat ini memang sudah ada data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan nasional tentang jumlah rumah tidak layak huni di daerah ini, namun pihaknya belum mengatahui jumlah pastinya. “Masih perlu koordinasi dengan masing-masing nagari untuk mengumpulkan dan mendata semua rumah tidak layak huni tersebut,” ungkap pegawai senior itu. “Kita yakin pada tahun 2013 mendatang di Limapuluh Kota tidak ada lagi ditemukan rumah tidak layak huni. Sebab kita akan berupaya dengan sekuat tenaga untuk bisa melaksanakan program nasional itu dengan baik dan sukses. Sehingga dengan demikian diharapkan ada tahun 2013 mendatang tidak ditemukan lagi warga Kabupaten Limapuluh Kota yang tinggal di rumah tidak layak huni,” ucap Novyan. Bila jadi dilaksanakan, ini sebuah program yang tergolong berat. Sebab, merujuk data 2011, jumlah rumah tidak layak huni di Kabupaten Limapuluh Kota mencapai 5.000 unit. Tentu saja, seiring bertambahnya tahun dan populasi penduduk, jumlah rumah layak huni juga praktis akan bertambah banyak dibandingkan dengan data setahun yang lalu itu. Sementara, program itu mengharuskan untuk menyelesaikan pekerjaan pada tahun itu juga. Dising


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

Rumah tidak layak huni (f/her)

gung tentang itu, Novyan mengatakan bahwa hingga saat ini memang sudah ada data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan nasional tentang jumlah rumah tidak layak huni di daerah ini, namun pihaknya belum mengetahui jumlah pastinya. “Masih perlu koordinasi dengan masingmasing nagari untuk mengumpulkan dan mendata semua rumah tidak layak huni tersebut,” ungkap pegawai senior itu. Novyan menjelaskan, program sosial pembangunan rumah tidak layak huni tersebut merupakan satu dari dua program prioritas lainnya yang dikelola oleh Bappeda Limapuluh Kota. Yaitu, satu program diarahkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. “Pada program ini difokuskan kepada komoditas gambir, dimaksudkan untuk bisa menembus pasar internasional,” katanya. Dalam konteks persoalan seperti ini, menurut Novyan, komoditas gambir yang dikirim ke luar daerah atau ke luar negeri bukan lagi dari jenis gambir mentah, namun bahan baku gambir yang dihasilka petani dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan dunia industri. “Kita tidak ingin lagi seperti analogi ‘sapi punya susu, nona punya nama,’ sebab gambir adalah komoditas unggulan kita,” kata Novyan. Satu lagi program kerja prioritas Bappeda Kabupaten Limapuluh Kota, menurut Novyan, adalah mewujudkan Limapuluh Kota menjadi daerah yang sehat melalui gerakan seribu jamban, penyediaan air minum dan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat). Menyo

al gerakan seribu jamban, dikatakan, dimaksudkan untuk mengugurangi kebiasaan masyarakat buang air besar di sembarang tempat. Di tempat terpisah, Sekretaris Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi ( Disosnakertrans ) Kabupaten Limapuluh tergolong berat. Sebab, merujuk data 2011, jumlah rumah tidak layak huni di Kabupaten Limapuluh Kota mencapai 5.000 unit. Tentu saja, seiring bertambahnya tahun dan populasi penduduk, jumlah rumah layak huni juga praktis akan bertambah banyak dibandingkan dengan data setahun yang lalu itu. Sementara, program itu mengharuskan untuk menyelesaikan pekerjaan pada tahun itu juga. Disinggung tentang itu, Novyan mengatakan bahwa hingga saat ini memang sudah ada data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan nasional tentang jumlah rumah tidak layak huni di daerah ini, namun pihaknya belum mengatahui jumlah pastinya. “Masih perlu koordinasi dengan masing-masing nagari untuk mengumpulkan dan mendata semua rumah tidak layak huni tersebut,” ungkap pegawai senior itu. Novyan menjelaskan, program sosial pembangunan rumah tidak layak huni tersebut merupakan satu dari dua program prioritas lainnya yang dikelola oleh Bappeda Limapuluh Kota. Yaitu, satu program diarahkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. “ Pada program ini difokuskan kepada komoditas gambir, dimaksudkan untuk bisa menembus pasar internasional,” katanya. Dalam konteks persoalan seperti

ini, menurut Novyan, komoditas gambir yang dikirim ke luar daerah atau ke luar negeri bukan lagi dari jenis gambir mentah, namun bahan baku gambir yang dihasilkan petani dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan dunia industri. “Kita tidak ingin lagi seperti analogi ‘sapi punya susu, nona punya nama,’ sebab gambir adalah komoditas unggulan kita,” kata Novyan. Satu lagi program kerja prioritas Bappeda Kabupaten Limapuluh Kota, menurut Novyan, adalah mewujudkan Limapuluh Kota menjadi daerah yang sehat melalui gerakan seribu jamban, penyediaan air minum dan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat). Menyoal gerakan seribu jamban, dikatakan, dimaksudkan untuk mengurangi kebiasaan masyarakat buang air besar di sembarang tempat. Di tempat terpisah, Sekretaris Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Limapuluh Kota, Syaiful, membenarkan bahwa berdasarkan data tahun 2010, rumah tidak layak huni sesuai dengan kriteria atap bocor, dinding tadia (anyaman dari bambu) dan lantai tanah, tercatat sebanyak 5.000 lebih. “Rumah tidak layak huni sangat berbeda dengan kemiskinan, jangan disamakan atau digeneralisir. Sebab kemiskinan dinilai melalui 14 kriteria,” ucap Syaiful. Meski sedikit ragu dengan pelaksanaan program tersebut, sebab mengingat anggaran yang mungkin tersedia di daerah; namun jika ini merupakan program pusat,  kemungkinan akan bisa terwujud. “Jika program nasional dan anggarannya tersedia, tentu bisa diselesaikan dalam jangka waktu satu tahun,” pungkasnya. Mendengar angin segar yang dihembuskan Bappeda Limapuluh Kota, salah seorang warga yang tinggal di rumah tidak layak huni di Kecamatan Luak, Sabar, 35, mengaku sangat senang jika hal itu memang benarbenar diwujudkan  oleh  pemerintah. Sehingga dinding rumah dari papan seadanya dan atap rumah dari ijuk pohon enau itu yang ia tempati selama ini, akan bisa diganti dengan yang lebih baik. “Serius tu ado program rehab rumah untuak sado rumah indak layak huni di daerah kito? Lai indak janji-janji ajak nan potang-potang ko pulo? Alah didata dan di foto, tapi ndak juo ado yang mampaelok do,” kata bapak dari tiga anak itu. Sebuah harapan dan keinginan yang tidak berlebihan, agaknya. (fi) Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

41


42 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

SOSOK

Aprilia Kartina

Dari Bukik Kanduang Ke Kancah Internasional “Sokongan dari Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota sangat diharapkan sekali bagi atlet-atlet yang ada di daerah ini agar mereka mampu berprestasi di tingkat yang lebih tinggi.”

A

prilia Kartina berhasil ini memang selalu menunj ukkan pelatihan atletik satu-satunya di Limapul membuktikan bahwa tidak perbaikan waktu dari setiap pertandingan luh Kota itu dengan “menggoes” sepeda selamanya sang anak menjadi yang diikutinya. Berawal dari mengikuti dari Sikabu-Kabu, Kecamatan Luak ke beban bagi kedua orangtuanya. Dalam kejuaraan-kej uaraan antarkampung, Sungai Baringin di Kecamatan usianya yang masih belia, yaitu sekitar Porprov (pekan olahraga provinsi), Porwil Payakumbuh yang berjarak lebih kurang 15 tahun, Pia –begitu ia akrab disapa—, (pekan olahraga wilayah, Popnas (pekan 25 km. Meskipun dia menyuruh Pia untuk bahkan telah mampu membangun satu olahraga pelajar nasional), sampai ke sampai di tempat latihan di subuh hari, unit rumah permanen bagi orangtuanya PON (pekan olahraga nasional). hal tersebut tidak sedikitpun sebagai buah prestasinya di dunia Persatuan Atletik Seluruh Indonesia menyurutkan niat Pia untuk menjadi atlet olahraga. Prestasi yang berhasil diukir (PASI) Sumbar pantas merasa bangga, handal. Pia di dunia olahraga juga mengantarkan karena atlet masa depannya, Hal tersebut serta merta anak seorang petani itu untuk membuat Priadi yakin suatu saat Pia melalangbuana ke beberapa negara di Anak Petani akan go international. Demikian Benua Asia, bahkan Eropa. Itu artinya, Kendati terlahir dari pasangan suamipengakuan pria yang telah puluhan tahun anak dari pasangan Asri dengan Eti ini isteri yang berprofesi sebagai petani mengabdikan hidupnya di dunia atletik tidak sekadar berhasil mengharumkan sederhana, tidak membuat Pia patah ini . Menurut Priadi yang telah nama daerah asalnya, yaitu Kabupaten semangat untuk mencapai apa yang dia menelorkan puluhuan atlet cabor lari di Limapuluh Kota; bahkan berhasil inginkan. Di bagian lain, terbiasa berlari Limapuluh Kota ini, minimnya fasilitas membawa nama baik Indonesia di mendaki Bukit Cinta dan persawahan baik moril maupun materil yang diberikan kancah internasional. yang terletak persis di belakang oleh Pemkab Limapuluh Kota tidak Sejak Januari lalu, Pia masuk rumahnya, membuat Pia terlatih secara mmbuatnya patah arang untuk Pelatnas dan merupakan satu-satunya alami dalam menaklukan medan berat. mendedikasikan hidupnya pada cabor atlet Sumbar yang terpilih memperkuat Bakat Pia ditemukan oleh pria asal yang pernah membesarkan namanya kontingen Indonesia yang tergabung Sungai Baringin, Kabupaten Limapuluh beberapa tahun yang lalu ini. Tidak dalam Program Indonesia Emas (Prima) Kota, yang bernama Priadika. Tanpa pikir dipungkirinya, kelangsungan pusat untuk mengikuti kejuaraan Multi Event panjang, langsung saja Pia menerima pelatihan lari ini mendapatkan bantuan “The 5th Children of Asia Internasional ajakan Priadika untuk dilatih di lapangan dari Pemprov dan Pemda namun tidak Sport Games “Children of Asia sederhana di kawasan Sungai Baringin mencukupi bagi semua atlet yang International Sport Games di Yakutia, yang dimilikinya. Diakui, apa yang diraih bernaung di sana, sehingga Rusia. Pada iven ini, Pia Pia bukan sesuatu yang datang begitu memaksanya untuk mengeluarkan dana menyumbangkan emas di nomor lari saja, karena semuanya dilalui dengan pribadi demi terlahirnya atlet-atlet jarak menengah 1000 meter. Pada April proses. Priadika menyebutkan awal-awal internasional lainnya dari Limapuluh “Pak Aziz Haily menjadi duapelatihan periode.di Beliau 2012, Pia mengikuti Kejuaraan bupati Nasionalselama mengikuti tempat pemusatan Kota. (mike) Atletik Yunior di Jakarta. Pia mengaku sangat dekat dengan wartawan dan pintar membangun tidak pernah menyangka akan hubungan media-massa.” menginjakandengan kaki keluar dari negara Indonesia. “Namun kalau Allah SW T sudah berkehendak, semuanya bisa saja terjadi,” kata gadis yang sekarang tengah menyelesaikan pendidikannya di SMA Ragunan Jakarta itu. Mulai dari beberapa negara di Benua Asia sampai Eropa sana pernah didatangi Pia, berkat prestasi di cabang atletik yang diraihnya. Dalam waktu dekat, Pia yang pernah menghabiskan masa SMP-nya di SMP 2 Luak ini tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan remaja internasional se-Asia yang dipusatkan di Negeri Cina. Besar harapan Pia untuk kembali mampu memenangkan perlombaan ini dalam upayanya untuk dapat mengikuti Olimpiade ke-31 yang akan digelar di Rio de Janeiro, Brasil. Menelisik ke belakang, gadis kelahiran Sikabu-kabu Tanj uang Haro Padang Aprilia Kartina (tengah) bersama pelatihnya (f/mikely) Panjang, Kecamatan Luak, pada 21 April Edisi 90/Tahun XI/Deseber 2012


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

AGROPOLITAN

Budidaya Belut Plano Lestari

Siap Diekspor Ke Singapura “Di mana-mana kita makan, kalau ada belut, maka kita sering minta untuk dihidangkan. Belut mempunyai protein yang tinggi, kandungan gizi yang cukup untuk yang memakannya.”

M

asyarakat Jorong Ateh, Kenagarian Taram, Kecamatan Harau, bakal punya sumber ekonomi baru, yaitu dari usaha budidaya belut. Bahkan, Kelompok Tani (Poktan) Plano Lestari yang menj adi perintis peternakan beluk di kenagarian tersebut, siap mengekspor belut yang dihasilkan ke negara tetangga, Singapura. “Insya Allah, kalau kelak usaha yang kami kelola menghasilkan, kami berencana melakukan ekspor belut ke Singapura,” kata Ketua Keltan Plano Lestari, Hondri Yasman, kepada Wakil Bupati Drs. H. Asyirwan Yunus M.Si. yang melakukan kunjungan kerja ke kenagarian tersebut, Kamis (15/11). Di Taram, W abup Asyirwan Yunus secara simbolis melepaskan bibit belut di kolam pembenihan milik keltan tersebut. Dalam laporannya ke Wabup Asyirwan, Hondri menjelaskan bahwa sekitar 30 persen dari anggota keltan yang ia pimpin berasal dari kalangan keluarga yang tidak mampu, yang ratarata tidak memiliki sumber penghasilan tetap untuk memutar roda ekonomi keluarganya. Keltan tersebut memiliki sebanyak 25 kolam ikan untuk budidaya belut, yang terdiri dari lima kolam pembibitan dan kolam untuk pemeliharaan. Kepada Wabup Asyirwan juga dijelaskan Hondri, yaitu untuk satu unit kolam pembenihan dengan ukuran fisik ukuran 2 x 2 meter, ia bersama anggota kelompoknya memasukkan sebanyak 10 induk betina dan 5 induk jantan. Dari satu induk betina dapat dihasilkan sebanyak 700 ekor anak atau benih belut. “Harga benih belut saat ini lumayan menjanjikan, yang mencapai Rp1,5 juta/kg,” tambahnya. Selain dijual, menurut Hondri, benih belut yang dihasilkan juga dibudidayakan sendiri oleh anggota Keltan Plano Lestari. “Untuk kebutuhan lokal, kami membudidayakannya belum sampai usia tujuh bulan dan satu tahun. Beratnya mencapai 5-6 ekor perkilogram. Sedangkan untuk kualitas ekspor, kami

membudidayakan selama setahun, dengan beratnya untuk tiap satu kg terdiri dari empat ekor belut,” kata Hondri. Hondri mengakui bahwa budidaya belut merupakan jenis pekerjaan yang tidak terlalu berat dan susah. Apalagi makanan belut tergolong gampang dicari, termasuk induk belut juga mudah didapatkan. “Kami membelinya ke­pada Pak Ujang, pembudidaya belut di Ujung Gading, Pasaman. Harga 1 paket yang terdiri dari 10 induk betina dan 5 induk jantan sebanyak Rp150 ribu. Untuk satu paket induk ini biasanya bisa meng­hasilkan 70 ribu anak,” terang Hondri. Dalam sambutannya di hadapan anggota Keltan Plano Lestari, W abup Asyirwan mengatakan bahwa belut merupakan makanan primadona; bukan saja bagi masyarakat Indonesia, tapi juga bagi masyarakat mancanegara. “Di mana-mana kita makan, kalau ada belut, maka kita minta untuk dihidangkan. Belut mempunyai protein yang tinggi, kandungan gizi yang cukup untuk yang

memakannya,” katanya. Menurut Wabup Asyirwan, kendati budidaya belut ter­bilang baru dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota, tapi ia yakin belut dari daerah ini terutama yang dihasilkan Keltan Plano Lestari Nagari Taram bisa diekspor ke Singa­pura. “Selain bisa diekspor ke Singapura dan negara-negara terdekat lainnya, belut dari sini tentu juga bisa buat memenuhi kebutuhan lokal,” ujarnya, Dalam kesempatan yang sama, Wabup Asyirwan juga mengajak para petani maupun peternak membentuk kelompok-kelompok dalam mengelola usaha tertentu, yang diperkuat dengan SK (surat keputusan) wali nagari. “Bentuklah kelompok-kelompok yang diperkuat dengan SK wali na­gari, dimaksudkan agar mempunyai dasar hu­kum yang kuat sehingga dapat diberikan bantuan, baik dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten,” katanya. (her)

Wakil Bupati Asyirwan Yunus melepaskan benih belut Kelompok Tani Plano Lestari Taram (f/her)

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

43


44 Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

VARIA

Sertijab di YONIF 131/BS PADANG - Batalyon Infantri (Yonif) 131/Braja Sakti kini dipimpin komandan baru, yang resmi diduduki Mayor Inf Dec Jerry Manungkalit usai sertijab (serah terima jabatan) di Gedung Sapta Marga Korem 032/W ira Braja di Padang, Rabu (14/11). Komandan sebelumnya, Letkol Inf Trisno Widodo, meski tidak lagi menjabat, tapi sedang dipersiapkan untuk menduduki posisi Dandim 0306/ 50 Kota. Danrem 032/W ira Braja Kolonel Inf Drs Amrin dalam sertijab itu mengatakan, sebagaimana diungkapkan Kepala Penerangan Korem 032, Kapten Inf Syamsu HL, pergantian pejabat adalah suatu dinamika dalam berorganisasi dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya meningkatkan kinerj a satuan, sekaligus memperluas wawasan dan pengetahuan serta keterampilan di bidang kepemimpinan dan manajerial. Danrem juga mengatakan, yang penting dipahami dan disadari pejabat yang menerima jabatan bahwa jabatan itu adalah amanah. Untuk itu para prajurit dituntut senantiasa meningkatkan pembinaan satuan kewilayahan secara konseptual dan terpadu guna memantapkan kualitas prajurit dan satuan. “Di samping itu, yang sangat penting adalah pembinaan geografi, demografi dan kondisi sosial kewilayahan,” tandasnya. Informasi yang diterima menyebutkan, Letkol Inf Trisno Widodo yang baru saja melepaskan tongkat komando sebagai Danyon 131/Braja Sakti, pada akhir November akan diserahi tongkat komando Komandan Kodim 0306/50 Kota dari Letkol Inf Isdon Handoko. Letkol Isdon sendiri bersiap untuk segera mengemban amanah baru sebagai Pasi Logs di jajaran Korem 033/Wira Pratama di Kepri. (ds)

Warga Bergoro Di Bukik Limau BUKIK LIMAU – Sekitar 300-an masyarakat sekitar kawasan Gunung Bungsu melakukan kegiatan gotong royong (goro) membersihkan pekarangan di pusat pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota di Bukik Limau, Sarilamak, Kecamatan Harau, Sabtu (17/11). Tampak hadir dan ikut bergoro Bupati Limapuluh Kota dr. Alis Marajo Dt. Sori Marajo. Mereka bergabung dalam kelompok solidaritas anak nagari pedukung program Pemkab Limapuluh Kota, yang dikoordinatori Tajul Fuadi, putra Taeh Bukik, Kecamatan Payakumbuh. Mereka datang ke lokasi dengan menaiki 7 truk serta sejumlah kendaraan roda empat dan roda dua milik pribadi. “Ini bukti kepedulian kami mendukung visi, misi dan program Pemkab Limapuluh Kota dalam upaya membangun nagari dan IKK Sarilamak,” ujar Tajul. Dari Pemkab Limapuluh Kota yang ikut bergoro di sekitar Kantor Bupati dan DPRD Kabupaten Limapuluh Kota tersebut, selain Bupati Alis Marajo Dt Sori Marajo, juga tampak Sekdakab Yendri Thomas, dan sejumlah Kepala SKPD (satuan kerja perangkat daerah) di lingkungan Pemkab Limapuluh Kota. Sementara masyarakat yang hadir bergotong royong antara lain terlihat berasal dari Nagari Taeh Bukik, Taeh Baruh, dan Gurun. (mhd)

Bupati Datangi Pasar Raba’a Simalanggang SIMALANGGANG - Bupati Limapuluh Kota dr. Alis Marajo Dt. Sori Marajo tanpa disangka-sangka mendatangi Pakan Rabaa Simalanggang di Kecamatan Payakumbuh, Rabu (21/11). Sebelum kembali ke Sarilamak, Bupati yang didampingi Kabag Humas dan Protokoler Muhamad S.S.Pd., menyempatkan diri mencicipi pical tradisional. Bupati Alis Marajo datang ke Pakan Rabaa dimaksudkan untuk melakukan sidak (inspeksi mendadak) terhadap terhadap harga berbagai barang kebutuhan pokok. Dari sidak itu diketahui, harga ikan nila nirwana di Rp. 20.000/kg, ikan rayo Rp. 30.000/kg, dan ikan gabus Rp 25.000/kg. Tak lupa Alis Marajo melepas taragak makanan tradisional dengan menyempatkan membeli tapai taeh seharga Rp 5.000 dan kipang kacang Rp1.000. Pada saat yang sama, Bupati Alis Marajo juga menyampaikan kekecewaannya karena tidak ditemukannya lagi buku-buku cerita maupun pantun Minangkabau di pasaran. “Keadaan ini harus segera ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan dan pihak terkait agar generasi yang akan datang dapat mempelajari sastra Minang,” harapnya. Bupati juga meminta dinas terkait mensosialisasikan pengemasan produk lokal. (mike)

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012


Sinamar Majalah Pemkab Lima Puluh Kota

Media Informasi Pelayanan Aparatur dan Publik

VARIA

Musim Durian Sudah Tiba PANGKALAN – Masyarakat di sejumlah nagari sentra perkebunan durian di Kabupaten Limapuluh Kota sejak dua pekan terakhir dihadapkan dengan kesibukan baru, yaitu mencari buah durian untuk kemudian menjualnya. Mencari dan menjual buah durian praktis menjadi sumber baru mata pencaharian oleh masyarakat. Di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, misalnya, tercatat dua nagari yang anggota masyarakatnya intens mencari buah durian, yaitu Manggilang dan Koto Alam. Karena berada di sisi jalan negara SumbarRiau, menjual buah durian di kedua kenagarian itu juga lebih mudah, yaitu dipasarkan di pinggir jalan untuk kemudian berharap para pengguna ruas jalan nasional itu mampir untuk menawar dan kemudian membeli durian yang dipasarkan. Karena masih musim awal, harga durian yang dipasarkan tergolong tinggi. Bakar, 48, pedagang durian di Koto Alam, menyebut bahwa ia melempar duriannya ke pasaran dengan harga bervariasi, antara Rp15.000 sampai Rp30.000/buah. “Karena durian yang jatuh dari batangnya belum seberapa, harga pembelian di tingkat petani juga masih tinggi,” kata Bakar, menyebut alasan duriannya dijual tinggi. Tapi biasanya harga penjualan yang tinggi itu tidak berlangsung lama. Begitu buah durian sudah membanjiri pasaran, maka harga dengan sendirinya jatuh, bahkan sampai ke tingkat terendah. Ketika buah durian sedang banyak-banyaknya di pasaran, tidak jarang buah durian dengan ukuran besar hanya dihargai Rp5.000/buah saja. Pada kondisi seperti ini, tidak lagi banyak anggota masyarakat yang hunting buah durian ke hutan-hutan.(e2)

Paralayang Terkendala Sarana TAEH BUKIK - Olahraga paralayang di pinggang Gunung Bungsu Nagari Taehbukik, Kecamatan Payakumbuh (lebih kurang 12 km dari Payakumbuh arah barat), bisa dijadikan salah satu alternatif dalam mendongkrak kunjungan wisatawan ke daerah ini. Hanya saja, saat ini lokasi olahraga yang didukung dengan wisata alamnya, masih membutuhkan pembenahan lebih lanjut. Pengelola kawasan olahraga paralayang, Havid, mengatakan saat ini olahraga paralayang mulai dikenal masyarakat. Tidak saja di Limapuluh Kota bahkan sampai provinsi tetangga, Riau bahkan negeri jiran Malaysia. “Sejak mulai dibuka, sudah banyak peminat dari Pekanbaru dan Malaysia untuk menjajal lokasi paralayang kita. Hanya saja sarana prasarana masih terbatas. Ditambah lagi jalan menuju tempat take off terban. Sebagian besar rencana kunjungan tersebut gagal,” katanya. Direktur Utama PD Gonjong Limo, Ardi Ekis, mengatakan PD Gonjong Limo bisa mengelola bidang usaha pariwisata. “Kawasan olahraga paralayang ini juga menjadi pantauan kami, terutama untuk menyediakan sarana penunjang seperti home stay,” katanya. Dikatakan Ardi, salah satu opsi yaitu mencarikan investor atau pihak ketiga. “Namun untuk membawa investor perlu memiliki dasar setidaknya studi kelayakan,” jelasnya lagi.(ds)

Masyarakat Harapkan Pustu KOTO ALAM – Masyarakat dua jorong di Kenagarian Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, yaitu Jorong Koto Tangah dan Koto Ranah, berharap ke dinas terkait di jajaran Pemkab Limapuluh Kota untuk mendirikan pustu (puskesmas pembantu) di kawasan mereka guna mendapatkan layanan kesehatan yang cepat, tepat, dan dekat. Agustiar, Wali Jorong Koto Tangah, menjelaskan bahwa selama ini untuk mendapatkan layanan jasa kesehatan terdekat, warga kedua jorong mendatangi pustu yang berlokasi di Jorong Simpang Tigo. Kendati infrastruktur jalan dari kedua jorong menuju ke Simpang Tigo cukup memadai, “Tapi karena konsentrasi penduduk Nagari Koto Alam lebih banyak di kedua jorong, tidak ada salahnya di jorong kami juga didirikan pustu,” kata Agustiar. Dijelaskan Agustiar, yang agak repot kalau ada di antara warga yang membutuhkan layanan jasa kesehatan pada malam hari. “Kalau pustu ada di kawasan kami, tentu tidak perlu susahsusah menjangkaunya,” jelas Agustiar. Masyarakat juga dinilai tidak akan kesulitan untuk membawa petugas medis di pustu itu ke rumah pesakitan pada malam hari untuk memberikan layanan jasa medis yang diperlukan.(e2) Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012

45


46

4

SERBA-SERBI

Negara Terkecil di Dunia

Tidak banyak yang tahu kalau di dunia ini ternyata banyak Negara yang luasnya tidak lebih dari 200 square miles atau sekitar 300-an km2. Jumlah penduduknya pun hanya ratusan ribu jiwa, malah ada yang hanya berpenduduk 14.014 jiwa. Wahh..rasanya aneh ya, Bandingkan saja dengan kota Jakarta, luas daratan 661,52 km2 dan lautan seluas 6.977,5 km2, jumlah penduduk mencapai 8,5 juta jiwa lebih. Sementara berdasarkan data Negara-negara terkecil di dunia, Vatican menempati urutan pertama hanya 0,2 square miles, sedang penduduknya kebanyakan bukan penduduk permanen, alias mereka tinggal sementara di sana karena tugas. Berikut ini adalah 7 negara terkecil di dunia, yang rata-rata luasnya tidak sampai setengah kota Jakarta : 1. VATIKAN Ini adalah Negara terkecil di dunia, luasnya 0,44 km2 dengan penduduk sekitar 800 orang, namun kebanyakan mereka bukanlah penduduk permanen. Negara kecil ini melindungi Basilika St Peter, yang merupakan pusat rohani bagi umat Katolik Roma di seluruh dunia. Posisi Vatican sendiri berada dalam lingkungan Roma, Italia.

2. MONACO Merupakan Negara terkecil kedua, letaknya di dekat Nice, Perancis. Negara kota yang berbentuk kerajaan ini telah ada sejak abad ke-13, luasnya 1,95 km2 dan hanya memiliki penduduk 32.000 jiwa. Negara ini hanya memiliki satu kotamadya. Tidak ada perbedaan geografis antara Negara dan kota Monaco, meskipun tanggung jawab pemerintah dan dari kotamadya (tingkat kota) berbeda. Menurut konstitusi dari 1911, kerajaan dibagi menjadi tiga kota.

3. NAURU Berada di urutan ke-3 negara terkecil di dunia dengan luas wilayah total 21 km2. Letaknya, di Samudra Pasifik bagian selatan, persis di bawah garis khatulistiwa dan di sebelah selatan Kepulauan Marshall. Jarak dari Pulau Papua ke Nauru kira-kira sebanding dengan jarak dari Pulau Papua ke Pulau Jawa. Nauru dulunya dikenal dengan sebutan Pleasant Island, merupakan koloni kekaisaran Jerman sejak akhir abad ke 19. Setelah PD I, Nauru di bawah perwalian PBB dan secara administrative dikelola oleh Australia, New Zealand, dan Inggris.

4. TUVALU Dulunya dikenal sebagai Kepulauan Ellice, adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di antara Hawaii dan Australia di Samudra Pasifik.Titik tertinggi di antara 114 pulau yang membentuk negara ini hanya setinggi 5 m di atas permukaan laut. Luasnya 26 km2, dengan jumlah penduduk 11.500 (sensus 2006). (joy/net)

Edisi 90/Tahun XI/Desember 2012


Pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota Mengucapkan: SELAMAT DAN SUKSES ATAS DITERIMANYA PENGHARGAAN

ADIBAKTI MINA BAHARI Yang Diberikan Kepada

POKMASWAS SOSA Kotobangun, Kecamatan Kapur IX Kabupaten Lima Puluh Kota Oleh :

Wakil Presiden Budiono Tanggal 17 Desember 2012 Di Mataram, Nusa Tenggara Barat Sebagai

JUARA I POKMASWAS TAHUN 2012

Tertanda, Alis Marajo Dt. Sori Marajo Bupati

Asyirwan Yunus Wakil Bupati

Darman Sahladi Ketua DPRD

Yendri Thomas Sekdakab


Majalah Sinamar Edisi 90