Page 21

K A R I M U N

Senin, 3 Oktober 2011

21

Sekolah Mulai Bersiap Hadapi UN KARIMUN — Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Karimun, Harris Fadillah menyatakan, pihaknya segera memulai tahapan persiapan pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Saat ini sudah dilakukan beberapa tahapan. "Saat ini sudah ada sekolah yang mulai melakukan terobosan-terobosan dalam persiapan UN. Seperti pembekalan terhadap materi pelajaran yang di UN-kan," ujar Harris, Sabtu (1/10). Sampai saat ini kata Harris, baru satu sekolah yang melaporkan dalam persiapan UN tersebut, yakni SMA Binaan (SMAN 4 Karimun). "Untuk persiapan kita sendiri (Disdik), akan melakukan pendataan calon siswa atau peserta yang bakal mengikuti UN," katanya. Harrris mengatakan, pendataan tersebut dikoordinasikan melalui kepala sekolah, yang selanjutnya data tersebut akan diserahkan kepada disdik. "Terobosan yang dilakukan harus di luar jam belajar rutin. Ini bukan penambahan jam belajar. Sifatnya hanya pemantapan mata pelajaran yang di-UN-kan," tandasnya. Dikatakan Harris, berhubung masa efektif siswa belajar baru berlangsung selama sekitar dua pekan, setelah mengalami libur panjang Ramadhan dan lebaran Idul Fitri, maka untuk pelaksanaan try out (TO) yang digelar oleh pihak sekolah masih belum dijadwalkan. (gan)

GANI/HALUAN KEPRI

BENAHI JARING — Seorang nelayan tradisional di Pantai Pasir Panjang, Meral sedang membenahi jaring, Minggu (2/10) kemarin. Hal ini sebagai persiapan menjelang menangkap ikan. Nelayan seperti ini butuh perhatian pemerintah.

Kamis, JCH Karimun ke Madinah

NET

DUA orang Jamaah Calon Haji (JCH) emberkasi Batam menaiki lift Bandara Hang Nadim beberapa saat akan terbang ke Jeddah untuk melaksanakan proses ibadah Haji musim haji lalu. KARIMUN — Sebanyak 156 Jamaah Calon Haji (JCH) akan bertolak ke Madinah, Kamis (3/10) nanti. Pada Senin (3/10) esok, JCH akan berkumpul di Tanjungbalai Karimun untuk melakukan serangkaian persiapan seperti pemeriksaan kopor, pemantaman manasik haji terakhir. "Kegiatan itu juga akan melibatkan seluruh instansi terkait seperti Dinas Kesehatan, Bea Cukai, Imigrasi, Kesehatan Pelabuhan, Karantina dan Kementerian

Agama," ujar Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun Erman Zaruddin di Jelutung, Kecamatan Meral, Sabtu (1/10) lalu. Usai melengkapi seluruh administrasi, kata Erman, Bupati Karimun Nurdin Basirun JCH melepas sekaligus menepungtawari JCH sebelum berangkat ke tanah suci Mekkah. Tepuk tepung tawar merupakan tradisi budaya Melayu sejak dahulu. Erman dalam kesempatan itu memberikan imbauan

agar JCH berkumpul di halaman rumah dinas Bupati Karimun, Rabu (5/10) pada pukul 06.30 WIB, untuk dilakukan pelepasan singkat oleh Kakanmenag. Bupati Karimun pada 07.00 WIB akan melepas jamaah menuju asrama haji di Tebing, Kecamatan Tebing. "Kamis (6/ 10) sekitar pukul 10.00 WIB JCH akan diberangkatkan ke Madinah," kata Erman. Disebutkan Erman, dari 156 JCH asal Kabupaten Karimun tersebut, perbandingan usia antara jamaah tua dan muda seimbang. JCH paling tua yakni Darsani yang telah berumur 84 tahun. Selain perbandingan umur, jumlah JCH yang berasal dari pulau-pulau di Kabupaten Karimun juga sebanding dengan JCH asal pulau Karimun Besar. "Alhamdulillah, kondisi kesehatan seluruh JCH asal Karimun sangat baik. Kita mendoakan mudah-mudahan mereka akan baik-baik saja dalam menjalankan serangkaian ibadah haji di tanah suci dan kembali dengan selamat ke tanah air dan menjadi haji yang mabrur," pungkas Erman. (ham)

12 Tahun Pemkab Karimun

Pembangunan Belum Sejahterakan Rakyat KARIMUN — Ketua Laskar Melayu Bersatu (LMB) Kabupaten Karimun, Datok Panglima Muda Azman Zainal menilai pembangunan Karimun belum menyejahterakan rakyat, kendati umurnya sudah mencapai 12 tahun. Duet kepemimpinan Nurdin-Rafiq terkesan cuma banyak menghabiskan uang rakyat dengan anggaran yang boros. "Tanggal 12 Oktober nanti, Karimun genap berumur 12 tahun. Kita akui Karimun terus bersolek, tapi pembangunan terkesan tidak memperhatikan efektifitas dan efisiensi. Sehingga beberapa pembangunan malah tidak bermanfaat sebagaimana yang diharapkan, seperti pembangunan Balai Adat dan beberapa pem-

bangunan yang tidak efektif," katanya, Minggu (2/10) kemarin. Dikatakan, sebagai masyarakat, dirinya patut dan wajar mendesak percepatan pembangunan yang menyejahterakan rakyat. Karena semangat kehadiran Kabupaten Karimun dulunya tidak lain adalah dalam rangka menyejahtera-

kan rakyat. "Saya pikir, kalau memang duet Nurdin-Rafiq perlu merombak pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) demi kebaikan dan percepatan pembanguna, saya pikir tidak ada salahnya dilakukan," katanya. Ditegaskan Azman, bagi SKPD yang belum bisa bekerja dengan baik, tidak ada salahnya melakukan pergantian. Tentunya Bupati harus memilih dan menempatkan orang yang sesuai dengan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing pembantunya. "Ini kaitannya dengan cara pemegang kekuasaan memimpin. Jika tidak bisa memimpin pembantunya, bagaimana pula bisa memimpin rakyat. Dam-

Suku Asli Mulai Diajar Menjahit

Makna Kesaktian Pancasila Memudar KARIMUN — Makna perayaan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober kian memudar, bahkan momentum hari bersejarah itu sudah hilang sama sekali. Jangankan ada kegiatan yang menonjolkan sikap patriotik selaku anak bangsa. Sehelai spanduk ucapan saja tidak ditemui di Karimun. Ironisnya, banyak diantara pelajar di Karimun ketika ditanya kapan Hari Kesaktian Pancasila, hampir semuanya menyebut tidak tahu. "Sekarang hari apa ya? Ya Sabtu. Setiap tanggal 1 Oktober memangnya diperingati sebagai hari apa? hmm.. saya tak tahu," ujar Ricky, salah seorang pelajar SMA ketika tengah berkumpul dengan teman-temannya ditanya hari apa yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober, Sabtu (1/10) lalu di Tanjungbalai Karimun.

Kawan-kawannya yang lain terlihat mengolok-olok Ricky karena tidak tahu, namun ketika pertanyaan itu ditujukan kepada yang lain, dengan malu-malu namun secara jujur mereka mengakui juga tidak mengenal hari bersejarah itu. Parahnya lagi, ketika ditanya sila demi sila dari Pancasila, ada yang menyebut tidak hafal. Bukan hanya pelajar, hampir seluruh komponen kemasyarakatan di Karimun yang seolah lupa dengan makna hari Kesaktian Pancasila. Bahkan, di berbagai instansi pemerintah bendera merah putih banyak yang dikibarkan setinggi tiang. Padahal, hari itu, merah putih haruslah berkibar setengah tiang. Ketua MPC Pemuda Pancasila Amril Tanjung, ketika dikonfirmasi Sabtu (1/10) lalu mengaku cukup prihatin de-

ngan semakin tipisnya rasa nasionalisme di hati anak bangsa. Namun, ia pun mengakui tidak bisa berbuat banyak. "Kita akan berupaya melakukan koordinasi dengan komponen terkait untuk menumbuhkan rasa nasionalisme di hati anak bangsa di Karimun ini," kata Amril yang baru saja terpilih sebagai Ketua MPC Pemuda Pancasila periode 2011-2015 ini. Diakui Amril, menumbuhkembangkan kesadaran dan pemahaman akan makna kesaktian Pancasila di kalangan pelajar merupakan tanggungjawab seluruh komponen masyarakat. "Itu bukan hanya tugas guru yang mengajar di sekolah saja, namun juga tanggungjawab seluruh masyarakat termasuk orang tua di rumah," ujar pria yang sering disapa Allen ini. (ham)

Empat Fraksi Desak Inventarisasi Aset KARIMUN — Empat dari delapan fraksi di DPRD Karimun dalam Rapat Paripurna Penyampaian Laporan Panitia Khusus A terhadap Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Retribusi mendesak pemerintah kabupaten setempat menginventarisasi aset daerah. "Inventarisasi aset daerah harus segera dilakukan, karena masih banyak belum terdata," ucap Sekretaris Panitia Khusus A yang membahas tentang Rancangan Peraturan Daerah Karimun (Ranperda) tentang Retribusi, John Abrison, pada pandangan akhir dari Fraksi Demokrat, di Gedung DPRD Karimun, beberapa hari lalu. John Abrison mengatakan

Fraksi Demokrat mengharapkan Pemkab Karimun memandang serius ungkapan tersebut demi meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi. Dia juga membacakan pendapat yang sama dari Fraksi Bintang Reformasi (FBR) yang mengharapkan Pemkab Karimun lebih memerhatikan dan menginventarisasi aset, mengingat masih banyak aset daerah yang belum terdata sehingga terkesan keberadaan aset tersebut terbengkalai dan tidak bermanfaat. Sedangkan Fraksi Hanura mengharapkan bupati dan wakil bupati memberikan penegasan yang terukur ter-

hadap semua perangkat teknis daerah dalam rangka percepatan inventarisasi aset daerah yang sudah dipisahkan maupun yang tidak dipisahkan, guna mengoptimalkan pencatatan potensi daerah yang bersumber dari aset. Kemudian menurut Fraksi Keadilan Pembangunan (FKP), pendataan aset harus segera dilakukan oleh Pemkab Karimun. Selanjutnya Fraksi Kebangkitan Indonesia Baru (FKIB), meminta Pemkab Karimun lebih mengoptimalkan sistem pendataan aset daerah sehingga mampu meningkatkan penarikan retrebusi dari aset daerah.(ant)

paknya adalah nanti kesejahteraan masyarakat," ujarnya menandaskan. Azman juga mengatakan, Nurdin-Rafiq bukan orang baru dalam hal memimpin Kabupaten Karimun. Dimana keduanya sudah pernah memimpin bumi berazam dalam periode beberapa tahun kemarin. Sepatutnya itu dijadikan pembelajaran saat ini. Bukan malah semakin bobrok. "Dengan usia Kabupaten Karimun ke-12, itu diumpamakan seperti kelapa tua. Semakin tua kelapa akan semakin berminyak. Dan Kabupaten Karimun juga seharusnya seperti itu, semakin tua maka harus semakin maju," pungkasnya. (gan)

ILHAM/HALUAN KEPRI

KEPALA Seksi (Kasie) Pendidikan Anak Usiah Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dinas Pendidikan (Disdik) Karimun, Siti Muanah didampingi Ketua PKBM Sinar Bangsa Nyimas Novi Ujiani memberikan alat menjahit kepada peserta pelatihan di kantor PKBM Sinar Bangsa, Sabtu (1/10).

KARIMUN — Program pemberdayakan sumber daya manusia (SDM) suku asli di Karimun terus digesa oleh berbagai elemen. Setelah sebelumnya ada program pengentasan buta aksara, maka selanjutnya masyarakat suku asli yang telah pintar menulis dan membaca, mereka mulai diajarkan keterampilan menjahit. Ini dilakukan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sinar Bangsa. Keterampilan menjahit atau keaksaraan usaha mandiri (KUM) tersebut merupakan lanjutan dari keaksaraan fungsional atau sebelumnya dikenal dengan pembelajaran buta huruf (PBH). Ketua Penyelenggara PKBM Sinar Bangsa Nyimas Novi Ujiani disela-sela penyerahan peralatan menjahit kepada 30 peserta KUM di kantor PKBM Sinar Bangsa, Jelutung, Kecamatan Meral, Sabtu (1/10) lalu mengatakan, setelah puluhan masyarakat yang mengenal huruf dan angka atau yang mengantongi surat keterangan melek aksara (Sukma), maka mereka mulai diajarkan berbagai keterampilan keluarga seperti menjahit, membuat makanan dan home industri lainnya, agar bisa membantu

perekonomian keluarga. "Bagi ibu-ibu yang telah mengenal huruf dan angka, maka kami berikan pelatihan keterampilan menjahit yang dibantu oleh tutor-tutor berpengalaman. Peserta yang mengikuti pelatihan menjahit tersebut tidak dipungut bayaran alias gratis karena biayanya telah ditanggung pemerintah pusat melalui dana blockgrant," ungkap wanita yang kerap disapa Novi ini. Pelatihan kepada warga yang pada umumnya berasal dari Suku Akit (suku asli di Karimun), tinggal di Teluk Setimbul, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral tersebut tidak hanya berhenti sampai disitu. Setelah diberikan pelatihan keterampilan, maka mereka melanjutkan pendidikan kesetaraan berupa paket A atau yang setara dengan sekolah dasar (SD).

Kepala Seksi Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Kasi PAUD dan Dikmas) Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun Siti Mu'anah mengatakan, program

pendidikan dan keterampilan yang dilakukan PKBM Sinar Bangsa merupakan program pemerintah luar sekolah yang dilakukan secara non formal. "PKBM merupakan perpanjangan tangan pemerintah dalam memberantas buta huruf atau sekarang dikenal dengan keaksaraan fungsional (KF) secara non formal. Kalau untuk formal semisal taman kanakkanak (TK), maka untuk non formal yang dikelola oleh swasta seperti pendidikan anak usia dini (PAUD). Keberadaan PKBM sangat membantu pemerintah dalam memberantas buta huruf dan memajukan dunia pendidikan," ungkap Siti. Di Kabupaten Karimun, ungkapnya, terdapat 17 PKBM yang tersebar di Pulau Karimun Besar, Kundur dan Moro. Di Kundur ada PKBM Bhakti Negeri dan Fajar Kundur, sementara di Moro ada PKBM Moro Mandiri. Pada umumnya yang menjadi target bagi PKBM adalah masyarakat pesisir yang bekerja sebagai nelayan. "Masing-masing PKBM mendidik lebih dari 100 masyarakat yang tidak mengenal huruf dan angka," tandas Siti. (ham)

HaluanKepri 03Okt11  

HaluanKepri 03Okt11