Issuu on Google+

Nama

: Muhammad Syaiful Akbar

Nim

: 11143102937

Jurusan

: Ilmu Komunikasi V PR A

Mapel

: Sosiologi Komunikasi

FENOMENA SOSIAL DAN KONFLIK SOSIAL DI BANGKINANG Bangkinang merupakan ibukota dari kabupaten Kampar. Bangkinang mendapat gelar sebagai kota beriman. Mengapa dikatakan demikaian, dikarenakan di bangkinang masyarakat yang berdomisili orang-orangnya merupakan orang – orang yang agamis. Sehingga boleh dikatakan 95% penduduknya adalah beragama islam. Masyarakat di bangkinang sangat mematuhi dan menghargai yang namanya agama akan tetapi mereka tidak mau bergaul dengan orang-orang non muslim ataupun yang beragama selain islam. Pernah terjadi konflik yang sangat besar di bangkinang karena adanya selisih paham antara masyarakat asli dan masyrakat pendatang. Dimana masyarakat pendatang ini banyak yang beragama selain islam. Sekitar tahun 2005, penduduk asli bangkinang membakar habis gereja-gereja yang ada di bangkinang. Mereka beranggapan bahwa dengan adanya gereja di bangkinang maka akan mempengaruhi nama dan citra dari kota bangkinang itu sendiri. Semua gereja di bumi hanguskan di bangkinang sehingga masyarakat pendatang yang ingin sembahyang hannya terbatas di rumah saja. Ini terjadi perbedaan sudut pandang yang terjadi di antara masyarakat asli dan masyarakat pendatang. Sebenarnya memang sudah ada undang-undang untuk saling toleransi di antara umat beragama, akan tetapi pemahaman dan juga pemikiran masyarakat yang sangat kokoh terhadap agama islam membuat masyarakat asli tidak bisa menerima hal itu. Memang sudah berbagai macam cara yang telah dilakukan oleh pemerintahan kota bangkinang untuk mencari jalan keluar dari konflik ini. Akan tetapi sampai sekarang konflik ini tidak bisa di selesaikan dikarenakan pemahaman dan adat yang sangat melekat kuat di darah masyarakat asli


bangkinang yang memegang teguh kata-kata yang menjuluki kota bagkinang sebagai kota beriman. Bukan hanya terbatas itu saja .ada konflik lain yang terjadi di bangkinang berupa perbedaan sudut pangang antara agama, budaya dan adat. Seperti hal nya adat balimau kasai yang setiap tahun di adakan untuk memperingati penyambutan bulan suci ramadhan. Adat balimau kasai ini adalah adat tahunan yang dimana masyarakat pergi berbondong – bonding kesungai sambil mandi dengan ramuan limau kasai. Adat balimau kasai ini tidak semua orang yang memperingati ataupun melaksanakannya. Adanya pemahaman yang berbeda yang terjadi dalam pemaknaan acara balimau kasai ini. Sekelompok orang menilai adat ini merupakan turunan dari leluhur nenek moyang yang terdahulu. Mereka berpendapat bahwa jika tidak melaksanakan acara ini maka sama saja mereka tidak menghargai leluhur mereka. Mereka sangat menghargai ninik mamak yang ada di daerah bangkinang tersebut yang secara turun temurun hal ini tidak pernah di tinggalkan. Adapula kelompok yang berpandangan ataupun berpersepsi berbeda tentang balimau kasai ini terutama kalangan ulama. Ulama yang ada di bangkinang berpendapat bahwa hal ini salah dikarenakan acara balimau kasai ini merupakan adat dari kaum hindu budha yang dahulunya mengadakan adat ini untuk ritual penghapusan dosa .hal ini sudah melenceng dari kaedah agama islam . untuk menyambut hari suci seperti bulan ramadhan , tidak harus menyambut dengan hal seperti itu. Lebih baik lagi jikalau kita menyambut hari suci dengan acara – acara yang bersifat agama. Sebenarnya, permasalahan ini bisa di selsaikan dengan melihat antara agama dan budaya. Kita bisa membedakan mana agama dan mana pula budaya.kita tidak bisa memandang dengan satu sisi, akan tetapi kita harus dapat mendifferensiasikan kedua hal itu. Kalau di pandang dari segi agama memang salah. Akan tetapi acara balimau kasai ini tidak dipandang dalam konteks akidah. Acara ini merupakan acara bersama untuk menyatakan bahwasanya mereka gembira dengan datangnya bulan ramadhan.


Dalam konteks budaya, balimau kasai ini merupakan suatu warisan kebudayaan yang harus di lestarikan. Budaya tidak bisa di satukan dengan agama. Karena kebudayaan merupakan suatu kebiasaan yang sering dilakukan secara turun temurun sedang kan agama merupakan pedoman, petunjuk dan jalan hidup manusia itu sediri. Hal ini tergantung kepada dari mana manusia itu memandang acara ini. Apakah dari sudut agama ataupun kebudayaan. Dan di tahun 2014 ini , konflik yang terjadi baru-baru ini di bangkinang adalah banyak nya kelompok – kelompok yang berdiri seperti kelompok islam tarekat, kelompok islam muammaddiyad, dan kelompok islam nahdatul ulama. Kelompok – kelompok ini memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda dan sering memicu konflik dengan perbedaan cara pandang terhadap pelaksanaan ibadah dan agama yang berbeda. Pada dasarnya, konflik- konflik yang terjadi ini tidak akan terjadi apabila individuindividu dari masing masing masyarakat mau menerima dan memberikan pemaknaan yang baik terhadap realita yang terjadi di masyarakat. Dan juga bisa di pandang dari segi social bahwasanya manusia itu aktif dan memiliki ide ataupun kebiasaan yang berbeda pula.


sibernetika XI - XIV