Issuu on Google+

Maret 2009

1


2

National Geographic Traveler


Maret 2009

3


4

National Geographic Traveler


Maret 2009

5


6

National Geographic Traveler


Maret 2009

7


8

National Geographic Traveler


Maret 2009

9


10 National Geographic Traveler


Maret 2009 11


12 National Geographic Traveler


Maret 2009 13


14 National Geographic Traveler


Maret 2009 15


16 National Geographic Traveler


Maret 2009 17


18 National Geographic Traveler


Maret 2009 19


20 National Geographic Traveler


Maret 2009 21


22 National Geographic Traveler


Maret 2009 23


24 National Geographic Traveler


Maret 2009 25


Sudut Pandang

OPINI DAN REKOMENDASI

SUDUT PANDANG Oleh Darmaningtyas

Kereta Tak Berkuda

Revitalisasi KA sebagai sarana transportasi darat unggulan, sekaligus tujuan wisata andalan.

A

gaknya tak ada satupun lagu yang mampu menandingi popularitas lagu Kereta Apiku karya Ibu Soed. Saat indera pendengaran menyimak liriknya, “Ayo kawanku lekas naik, keretaku tak berhenti lama,� seketika memori tentang KA berpendar-pendar memenuhi alam pikiran. Maka tak heran jika iklan layanan di TVKA, terutama KA eksekutif ke semua jurusan, hingga kini masih mengumandangkan lagu yang sarat makna nostalgia ini. Patut diakui, lagu legendaris yang memadukan melodi riang dan lirik sederhana ini memang memiliki kemampuan magis untuk mendorong kaum tua dan muda menggunakan jasa kereta api (KA) ke mana pun, baik jarak pendek maupun jauh untuk keperluan bisnis maupun rekreasi. Dibanding angkutan laut, udara, maupun darat lainnya, KA merupakan moda angkutan umum yang memiliki kapasitas (daya angkut), kecepatan, keamanan, kenyamanan, maupun dari aspek lingkungan yang tidak polutif. Terlebih dari aspek historis, KA memiliki sejarah yang teramat khas. Munculnya istilah “kereta tak berkuda� tidak lepas dari sejarah KA itu sendiri. Pada mulanya, para pekerja tambang di Jerman dan Eropa bagian Tengah membuat rel dari kayu besar guna mengangkut biji tambang lebih banyak. Tetapi ternyata rel itu tidak mampu menahan beban berat. Untuk memperkuatnya, orang Inggris kemudian menambahkan lempengan besi tipis di atas rel KA. Menjelang tahun 1734, roda besi dipasang di gerbong-gerbong kereta yang kemudian ditarik dengan menggunakan tenaga kuda. Penggunaan tenaga kuda untuk menarik kereta itu mengalami banyak kendala, 26 National Geographic Traveler

seperti kelelahan, gangguan binatang liar, kecepatan, dan daya jangkauannya terbatas. Adalah Richard Trevithick yang kemudian merancang lokomotif dengan menggunakan tenaga uap untuk menggantikan tenaga kuda tersebut. Trevithick mendesain tenaga uap tersebut untuk digerakkan di atas rel guna menggantikan tenaga kuda, dan berhasil! Hasil rancangan Trevithick itu kemudian menggantikan pemakaian tenaga kuda untuk menarik gerbang KA. Pasca penemuan jenius Trevithick itu, perkembangan lokomotif sampai sekarang terus mengalami perubahan, baik bentuk, jenis, kecepatan, maupun bahan bakar y a n g digunakan. Semuanya itu menunjukkan adanya revolusi dalam dunia perkereta apian.

Kereta api memiliki daya angkut banyak, daya jelajah luas, serta waktu tempuh singkat.

Fungsi KA pun mengalami pergeseran. Bila awalnya hanya sebagai moda pengangkut barang, terutama bijih tambang, maka seperti yang diimpikan oleh Trevethick, KA menjadi angkutan umum yang mengelilingi kota, untuk mengangkut barang maupun manusia. Di Indonesia, keberadaan jaringan KA tidak lepas dari peran pemerintah kolonial Belanda, yang telah membangun jalan dan mengoperasikan KA pertama di pulau Jawa, pada era 1864-1867. Hingga tahun 1939, panjang jalur rel KA di Jawa dan Sumatera, tidak termasuk rel jarak sempit (small spoor) di Aceh dan beberapa tempat di Jawa serta Sulawesi , telah mencapai 12.260-an km. Tapi memasuki tahun 1980-an, jalan KA menyusut hingga 50% atau menjadi 6.370 km. Jumlah stasiun pemberhentian pun merosot drastis, dari 1.561 menjadi 571 unit. Pada tahun 2000, panjang rel tinggal 4.030 km; lokomotif pada tahun 1939 sebanyak 1.314 turun menjadi 530 buah. Sedangkan jumlah penumpang dari 146,9 juta jiwa (1955), pada tahun 2000 menjadi 191,9 jutra atau naik 30%. Menurunnya jumlah prasarana dan sarana di negeri ini amat tragis, mengingat kebutuhan bertransportasi masyarakat meningkat tajam sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk dan mobilitas warga. Mestinya, peningkatan jumlah penduduk dan mobilitas warga itu difasilitasi dengan moda angkutan umum massal yang memiliki daya angkut cukup luas, kecepatan tinggi dan harga terjangkau sekaligus tingkat keamanan dan kenyamanannya terjamin. Ini semua telah dimiliki oleh KA. Sayang, bila kemudian kuantitas


Sudut Pandang

dan kualitas prasarana dan sarana KA justru menurun. Penurunan prasarana dan sarana KA itu tidak terlepas dari kebijakan transportasi nasional yang selama berpuluh tahun labih berpihak pada industri otomotif. Akibatnya, jaringan rel KA yang ada, sebagian besar ditutup atau dimatikan, seperti jaringan rel kereta api dari Bantul ke Yogyakarta. Sekarang, kirta berharap pada kebijakan pemerintah merevitalisasi KA. Diharapkan revitalisasi itu dapat menghidupkan kembali jaringan rel KA yang sudah mati, bukan sekedar sebagai sarana mobilitas geografis, tapi juga sebagai bagian dari pengembangan wisata di Indonesia. Bayangkan, jika seluruh jaringan rel KA yang pernah ada itu dihidupkan lagi, pasti banyak warga akan menggunakannya, baik sebagai sarana mobilitas maupun rekreasi. Sama halnya orang luar Jakarta ingin naik Busway Transjakarta, sekadar untuk merasakannya. Demikianlah yang kan terjadi pada KA, bila jalur-jalurnya direvitalisasi. Diharapkan, kelak, banyak warga ingin naik KA sekadar ingin rekreasi melihat pemandangan indah sepanjang jalur KA. Menjadikan KA sebagai sarana dan sekaligus tujuan wisata itu sudah terwujud di Ambarawa (Jawa Tengah) dan SawaDWI OBLO (KANAN BAWAH), TOTO SANTIKO BUDI (KANAN ATAS)

Jaringan rel kereta api bergairah, minat masyarakat pun akan sama bergairah (atas). Goresan jati diri dekat jalur kereta api (bawah).

glunto (Sumatra Barat). Banyak orang datang ke sana sekadar melihat stasiun tua, sekaligus merasakan naik gerbong tua yang jalannya megap-megap. Bila revitalisasi itu menyentuh aspek turistik, maka seperti bunyi peribahasa “sekali mendayung, tiga pulau terlampaui,� selain tersedia angkutan umum massal yang hemat energi dan tidak terlalu berpolusi, juga akan dapat meningkatkan arus wisatawan. Hal itu mengingat di Jawa dan Sumatra terdapat banyak stasiun tua yang

mati dan di sepanjang jalur rel KA tersebut pemandangannya sangat eksotik dan menarik bagi wisatawan asing maupun domestik. Dengan mengupayakan revitalisasi dan pembukaan jalur, maka sama halnya dengan mengundang wisatawan dan mendatangkan keuntungan. Darmaningtyas, DirekturINSTRAN(LSM Transportasi) dan Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Maret 2009 27


28 National Geographic Traveler


Maret 2009 29


30 National Geographic Traveler


Maret 2009 31


32 National Geographic Traveler


Maret 2009 33


34 National Geographic Traveler


Maret 2009 35


36 National Geographic Traveler


Maret 2009 37


38 National Geographic Traveler


Maret 2009 39


40 National Geographic Traveler


Maret 2009 41


42 National Geographic Traveler


Maret 2009 43


44 National Geographic Traveler


Maret 2009 45


46 National Geographic Traveler


Maret 2009 47


48 National Geographic Traveler


Maret 2009 49


50 National Geographic Traveler


Maret 2009 51


52 National Geographic Traveler


Maret 2009 53


54 National Geographic Traveler


Maret 2009 55


56 National Geographic Traveler


Maret 2009 57


58 National Geographic Traveler


Maret 2009 59


60 National Geographic Traveler


Maret 2009 61


62 National Geographic Traveler


Maret 2009 63


64 National Geographic Traveler


Maret 2009 65


66 National Geographic Traveler


Maret 2009 67


68 National Geographic Traveler


Maret 2009 69


70 National Geographic Traveler


Maret 2009 71


72 National Geographic Traveler


Maret 2009 73


74 National Geographic Traveler


Maret 2009 75


76 National Geographic Traveler


Maret 2009 77


78 National Geographic Traveler


Maret 2009 79


80 National Geographic Traveler


Maret 2009 81


82 National Geographic Traveler


Maret 2009 83


84 National Geographic Traveler


Maret 2009 85


86 National Geographic Traveler


Maret 2009 87


88 National Geographic Traveler


Maret 2009 89


90 National Geographic Traveler


Maret 2009 91


92 National Geographic Traveler


Maret 2009 93


94 National Geographic Traveler


Maret 2009 95


96 National Geographic Traveler


Maret 2009 97


98 National Geographic Traveler


Maret 2009 99


100 National Geographic Traveler


Maret 2009 101


102 National Geographic Traveler


Maret 2009 103


104 National Geographic Traveler


Maret 2009 105


106 National Geographic Traveler


Maret 2009 107


108 National Geographic Traveler


Maret 2009 109


110 National Geographic Traveler


Maret 2009 111


112 National Geographic Traveler


Layout Majalah