Page 1


REWIND ART COMMUNITY: PERFORMANCE ART YANG TUMBUH DI KAMPUS SENI RUPA IKIP JAKARTA DAN CATATAN PERJALANANNYA Oleh: Angga Wijaya

<< Rewind Art Community adalah komunitas Performance Art berasal dari Jakarta. Cikal bakalnya terjadi pada tahun 90-an oleh mahasiswa Jurusan Seni Rupa IKIP Jakarta (sekarang UNJ) yang aktif menggelar Performance Art secara sporadis di kampusnya. Nama Rewind Art tercetus pada tahun 2001 atas prakarsa sekelompok mahasiswa yang menggelar event festival performance art pertama di Jakarta yang dilakukan di lingkungan Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta bertajuk “Rewind Art”, inisiatif ini digagas karena menganggap aktifitas performance art hanya menjadi bagian dari sebuah acara lain, seperti pameran atau demonstrasi. Maka Festival Performance Art yang bernama “Rewind Art” pada tahun 2005 dijadikan nama komunitas untuk menggolongkan warga Seni Rupa UNJ yang aktif berkarya dan berorganisasi di wilayah Performance Art. Gagasan bersumber dari Performance Art yang biasa dilakukan oleh teman-teman di Seni Rupa UNJ cenderung merupakan kegiatan yang mengambil sebagian atau banyak visual, gerakan, suasana, suara, peralatan, kostum, pemikiran, interaksi, pernyataan, dan emosi dari kehidupan sehari-hari secara personal, keluarga, kelompok, masyarakat, bangsa, keyakinan, kenangan, lingkungan serta budaya. Berarti performance art adalah aktifitas seni yang mengulang sesuatu yang terdapat dalam atau diluar kehidupan penampil untuk mengungkapkan gagasan. Proses pengulangan tersebut dianalogikan dalam alat pada media rekam yaitu tombol Rewind (memutar kembali) untuk menandai esensi dari Performance Art tersebut. Status keanggotaan Rewind Art Community resmi didapat secara otomatis ketika individu atau kelompok yang merupakan bagian dari warga Jurusan Seni Rupa UNJ berpartisipasi

sebagai

performance

artist

dalam

event

performance

art

yang

diselenggarakan, dilakukan dan diikuti oleh Rewind Art Community. Namun keanggotan yang fokus dalam organisasi Rewind Art Community sangat minim, disebabkan anggota atau

1


mahasiswa yang aktif melakukan performance art pada saat masih kuliah, setelah lulus dari kampus Seni Rupa UNJ tidak intens dan interest lagi terhadap Performance Art. Berikut nama-nama yang masih aktif melakukan Performance Art dalam Rewind Art Community sampai saat ini 2012, yaitu Ridwan Rau-Rau, Arief NgaNga, Juan Zaki Ersad, Panji Jin, Dwi Penjol, Safirul Islami, Wildigda Sunu, Angga Anggur, Catur Hadi Dharma, Ardiyansyah, Haryo Hutomo, Moh Hasrul, Riezky Ponga, Rishma â&#x20AC;&#x153;Mametâ&#x20AC;? Riyasa, Jehan Syauqi, Anita Bonit, Farhanaz Rupaidha, Amy Zahrawan, Dhigel, Taufiq Putra, Adi Sundoro, Biba Dolby, Dado Wacky, Kepala Rengat, Gilang, Ari, Hendra, Mencheng, Kukuh, Sarah and more participators. Database-Agus Jemat Writer-Angga Wijaya Publicator-Opang Darmawan, Angga Cipta Documentator-Apriliyan BSM, Duchan Hartoko

Nama-nama tersebut yang kerap melakukan Performance Art dan mengelola komunitas Rewind Art. Aktif menggelar event performance art di kampus Universitas Negeri Jakarta, maupun diluar kampus dalam bentuk gerakan inisiatif secara kelompok ataupun mandiri, serta berpartisipasi sebagai artist dalam event Performance Art bertaraf lokal, nasional dan international. http://rewindartcommunity.blogspot.com

Cikal Bakal: Gerakan Aktivisme Performance Art hadir tidak bisa dilepaskan dari kegelisahan, pemberontakan terhadap sistem kekuasaan dan perlawanan terhadap hegemoni yang mapan. Pada generasi 90-an merupakan cikal bakal terbentuknya aksi performance (teatrikal), sekitar tahun 1995 diprakarsai oleh Iweng (SRâ&#x20AC;&#x2122;93) yang mengkordirnir teman-teman di kampus untuk melakukan performance.1

1

Agus

Jemat

berdasarkan

wawancara

dengan

Rayento

Tambunan

dan

Iman

Syahrial,

http://rewindartcommunity.blogspot.com

2


Sistem pemerintahan Orde Baru yang begitu kuat menekan ekspresi masyarakat Indonesia, terutama mahasiswa. Membuat memanasnya suhu politik di Indonesia pada akhir tahun 90-an, hal itu yang membuat kegelisahan mahasiswa berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan, menjadikan Performance Art sebagai bentuk baru untuk mahasiswa bersuara. Pada tahun 90-an para pelaku performance art kerap melakukan aksinya di Kampus IKIP Jakarta serta turun ke jalan melakukan performance art (bergaya teatrikal) sebagai alat demonstrasi yang mengusung tema politik.2

Dokumentasi Performance yang dilakukan pada tahun 90-an

2

Ibid. http://rewindartcommunity.blogspot.com

3


Performance Art tidak hanya sebagai gerakan aktivisme mahasiswa pada masa Orde Baru tahun 90-an saja, namun performance art sebagai alat demonstrasi masih digunakan mahasiswa masa Reformasi bahkan sampai sekarang, untuk menyuarakan masalah sosialpolitik dan lingkungan dalam bentuk aktifitas seni pertunjukan. Seperti pada tahun 2003, pada festival Performance Art Rewind Art #3

yang

dilakukan di kampus Seni Rupa UNJ, terdapat gerakan aktivisme mahasiswa dalam pemberontakan sistem di kampus, saat itu festival tersebut ditekan oleh pihak birokrasi kampus yang menyatakan bahwa Performance Art merupakan anti estetik yang berbahaya. Pembatasan di berikan pada mahasiswa seni rupa UNJ, menjadikan tensi Performance Art semakin menggila, puncaknya adalah praktek sporadis pembuatan lukisan di atas badan sebuah patung karya dosen oleh 5 artist Rewind Art (Yudhi Pramudya, Winanda Suciyadi, Ronald Qodariansjah, Indra Virsa dan Aan Sriyanto) yang mendapat reaksi keras dari pihak kampus dan berujung hukuman skorsing perkuliahan untuk kelima artist tersebut yang jatuh beberapa bulan setelah event. Jatuhnya hukuman skorsing untuk 5 artist pasca Rewind Art #3 membuat suhu pergesekan antara mahasiswa seni rupa UNJ dengan birokrat kampus menjadi memanas. Akhirnya komitmen untuk menjadikan Rewind Art sebagai event tahunan dilanggar, Rewind Art #4 yang bertajuk â&#x20AC;&#x153;Kampus Bukan Penjaraâ&#x20AC;? di gelar tahun 2003 tepatnya bulan september hanya berselang 4 bulan dari Rewind Art #3, menampilkan puluhan performer individu atau kelompok, serta pemasangan instalasi di sekitar kampus. Semua ini dilakukan berdasarkan ekspresi menggebu-gebu untuk menumpahkan semua kegelisahannya atas situasi kehidupan di kampus UNJ saat itu, di mana areal kreatif mahasiswa dibatasi dengan penguncian studio dan pelarangan mahasiswa berkarya seni 24 jam di kampus, serta jatuhnya hukuman atas 5 orang rekan mahasiswa yang melakukan aksi pengecatan terhadap patung karya dosen tersebut3.

3

Agus Jemat,â&#x20AC;?Mengenai Rewind Artâ&#x20AC;?, http://rewindartcommunity.blogspot.com

4


Pada sepuluh tahun terakhir setelah festival performance art Rewind Art diselengarakan dan masih berlanjut sampai sekarang, aksi Performance Art sangat dekat kaitannya sebagai gerakan aktivisme yang mengusung tema sosial, politik dan lingkungan. Rewind Art Community pun kerap mengadakan event secara inisiatif dalam merespon isu tersebut dan diundang untuk melakukan pertunjukan performance art saat terjadi hari peringatan, seperti Hari Bumi, HAM, May Day, Hari Pendidikan, Hari Pahlawan ataupun respon kepedulian saat terjadi bencana, yang biasa diselenggarakan oleh pihak LSM, Komunitas atau Organisasi Masyarakat, seperti Hari Pahlawan Galeri bawah tanah 2009, Memperingati hari HAM, KOMNAS HAM 2009. Mengenang Korban Merapi Bunderan HI Jakarta 2010.

5


Medium Seni Baru Setelah Performance Art pada awalnya sebagai gerakan aktivisme mahasiswa yang kerap mengangkat tema sosial-politik. Kesadaran tentang Performance Art sebagai bentuk medium seni baru oleh Mahasiswa Seni Rupa UNJ mulai tumbuh seiring dengan kesadaran membentuk sebuah festival Performance Art pertama di Jakarta yang diberi nama Rewind Art (2001). Setelah mendapat bekal pengalaman mempraktekan dan mengapresiasi Performance Art selama beberapa tahun sekelompok mahasiswa (komunitas kolong meja) mencetuskan ide untuk menggelar event yang menampilkan Performance Art secara independent. Setelah berkonsolidasi dengan para generasi Performance Art era 90-an, terlahirlah nama Rewind Art sebagai tajuk event tersebut. Mengambil tempat di sentral kampus bernama Pendopo SR di wilayah Rawamangun, Jakarta Timur. Event berdurasi tiga hari digelar yang diisi oleh puluhan Performance, dilakukan secara perorangan dan kelompok dengan masih berkecenderungan bergaya teatrikal.4 Setelah terbentuknya festival Performance Art Rewind Art (2001), pada Rewind Art #2 (2002) tingkat semangat berekspresi dan apresiasi mulai tinggi, medium ini dijadikan eksperimentasi sebuah karya seni pertunjukan, yang saat itu banyak meluapkan ekspresi personal yang dilakukan oleh performer5 sehingga banyak yang menampilkan muatan Masokisme. Pada tahun berikutnya terjadi pergolakan tentang memaknai Performance Art sebagai sebuah seni atau bukan? Telah diceritakan di atas bahwa pada festival performance art Rewind Art #3 dan #4 terjadi gesekan dengan birokrasi kampus --tempat dimana event diselenggarakan-- yang menilai bahwa performance art merupakan kegiatan anti estetik yang berbahaya. Hal itu yang membuat pengkajian ulang dalam memahami Performance Art, akhirnya membuat pelaku Performance membentuk sebuah konsep â&#x20AC;&#x201D;yang sesungguhnya tataran Performance Art menekankan seni pada konseptual atau idea art (Sol LeWitt)â&#x20AC;&#x201D; dalam melakukan Performance Art layaknya sebuah karya seni lainnya, sebagai nilai tanggung jawab atas karya yang dibuat.

4

Ibid. http://rewindartcommunity.blogspot.com

6


REWIND ART 5 (2005)

Festival Rewind Art #5 pada tahun 2005 menunjukan Performance Art mulai beragam dan menarik, pada saat itu pula mahasiswa Seni Rupa UNJ sepakat membentuk komunitas Performance Art yang diambil dari nama festival tersebut <<Rewind Art Community. Festival Rewind Art #6, #7, dan #8 merupakan masa aktifnya performance art diselenggarakan, pada mulai tahun 2006 pula Performance Art menjadi sering dilakukan selain event tahunan Rewind Art, seperti membuat event Senam Sore yang kerap dilakukan di Rabu sore setiap bulannya. Ada pula Performance Art secara tiba-tiba dilakukan tanpa ada hal apapun, bahkan inisiatif individu melakukan Performance Art secara mandiri. Hal itu yang membuat aktifitas dan performer5 meningkat, banyak yang mengeksplorasi secara spontan dan mengimprovisasi medium ini â&#x20AC;&#x201D;dibandingkan teatrikal.

5

Panggilan terhadap pelaku Prefomance Art atau seniman Perfomance Art

7


Performance Art dijadikan sebagi jenis medium seni yang baru ditandai pula saat ditetapkannya Performance Art (seni pertunjukan) dalam cangkupan Seni Ekperimental ke cabang seni rupa dalam Persiapan Karya Seni Rupa Tugas Akhir yang dapat dipilih oleh mahasiswa seni Rupa UNJ mulai dibuka pada tahun 2010.

Praktek Performance Art Kejenuhan terhadap medium seni yang ada dan semangat bermain-main untuk mencoba medium lain membuat praktek Performance Art menghasilkan karya pertunjukan eksperimentasi yang menarik. Performance Art sudah tidak sekaku teatrikal, penampilannya sudah sangat personal dari berbagai permasalahan yang disikapi. Sejak tahun 2006 pertunjukan Festival Rewind Art menjadi beragam, yang ditandai melonjaknya aktifitas performance sehingga menghasilkan berbagai muatan pertunjukan seperti Masokisme, Feminisme ataupun Eksibisionisme. Performance Art menjadi bentuk katarsis6 yang berbeda dirasakan oleh aktifitas kesenirupaan yang mapan dan baku, selain itu juga ada yang memakai Performance Art sebagai bentuk pelarian dari aktifitas kesenian yang tidak mampu dilakukan di medium lain oleh pelakunya sebagaimana melukis dan mematung.

6

terapi emosi dalam pelampiasan ekspresi secara positif dalam hal ini terapi dalam bentuk kesenian

8


Wildigda Sunu Performance Art-nya yang diteteskan lilin panas

Safir dan Dwi Penjol. Performance Art-nya dengan muatan masokis, menjahit antara lengan mereka berdua

Tubuh menjadi medium utama dalam Performance Art, sehingga penuh dengan eksplorasi tubuh itu sendiri, melalui aktifitas dan gerak, interaksi, melukai diri sendiri (masokis) dan menelanjangi diri (eksibisionis). Namun terdapat juga kesadaran performer yang berlatar belakang seni rupa dengan memakai aktifitas dan peralatan seni rupa, mulai banyak menampilkan visual dalam pertunjukan dan membuat artefak, seperti barang/benda yang dihasilkan dalam akhir praktek performance art atau artefak tersebut merupakan kostum dan peralatan yang digunakan dalam aktifitas performance, entah itu instalasi sekalipun. Kecenderungan itu yang terjadi pada Rewind Art, aktifitas seni yang mengulang sesuatu yang terdapat dalam atau diluar kehidupan si performer untuk mengungkapkan gagasan. Sehingga menghasilkan performer yang intens terhadap Performance Art, baik performer laki-laki ataupun perempuan, tidak terjadi batasan gender, bahkan performance Art sendiri menjadi praktek bagi perempuan untuk menyuarakan gagasan dan pesannya.

Mamet, Bonit dan Jehan dalam performance art nya, yang merupakan performer perempuan di Rewind Art Community

Riezky Ponga dalam perfromance art nya memakai atribute agama namun disisi lain sedang ditayangkan film porno.

9


Mamet dan Ana dalam performance art nya dengan konsep mentrasfer melalui mulut ke mulut. Rio Performance Art nya yang menari telanjang

Event dan Komunitas Pasca Orde Baru, mulai banyak inisiatif tumbuhnya kantung-kantung kesenian dan komunitas seni, sebagai bentuk wadah ekspresi yang telah bebas berdemokrasi. Perkembangan Performance Art mulai tumbuh sebagai medium seni baru dalam dunia seni rupa yang lebih luas di Indonesia. Performance Art mulai banyak dilakukan oleh artist yang mengeksplorasi dan berekspresi dalam medium ini, seniman-seniman pelopor seperti Tisna Sanjaya, Arahmaini, Christiawan, Iwan Wijono, Heri Dono mulai dikenal dan kerap tampil dalam event berskala Nasional dan International. Selain di Seni Rupa UNJ, Performance Art pun mulai dipraktekan sebagai bentuk baru kesenian dalam wilayah Institusi Pendidikan. Di IKJ, UPI, ISI Jogja dan UNY juga terdapat kelompok Performance Art dan kerap mengadakan event Performance Art, dari hal itu mahasiswa seni rupa yang intens berkarya Performance Art kerap mengundang dan diundang dalam event Performance Art serupa, seperti Dance On Water, UPI Bandung, 2006.

10


Nama Rewind Art Community pun mulai dikenal seiring dengan perkembangan komunitas-komunitas seni yang tumbuh, Rewind Art Community sebagai komunitas Performance Art dari Jakarta pertama kali tampil pada event Performance Art yaitu ASEAN Performance art Exhibition Occupying Space 2007.

Selain itu tampil pula pada Brand New Colony "The End Of Art" Performance Art Event di Asbestos Art Space, Bandung, 2009 dan baru-baru ini tampil pada Nirmana Award, Fx Senayan, 2012. Selain dalam seputar komunitas, Rewind Art Community juga kerap tampil pada pembukaan pameran, pameran yang diselenggarakan secara internal (dalam kampus Seni Rupa UNJ) sebagai bentuk happening maupun undangan dari luar, seperti Pameran Seni Rupa Nasional Manifesto 2008, Galeri Nasional Indonesia dan Pembukaan Pameran Hospital Without Wall, Galeri Cipta 2011.

11


Rewind Art Communty juga mengikuti workshop mengenai Performance Art, seperti Domush Cafe workshop Performance Art 2010, workshop bersama Asbestos 2011, Pamafest Idea sirkuit Malang 2011 dan Jakarta 320 Ruang Rupa 2004, 2006, 2008, 2010. Workshop tersebut menambah pengetahuan mengenai Performance Art dalam medan kesenian yang lebih luas khususnya di Indonesia, serta membuka relasi kepada Rewind Art Communty.

Rewind Art Community dalam Pembukaan Pameran Seni Rupa Nasional Manifesto 2008, Galeri Nasional INdonesia

Happening Rewind Art Communty dan Booth Komunitas dalam Nirmana Award di sebuah Mall Fx Senayan Jakarta 2012

Riezky Ponga dalam Performance Art Touring Jakarta-Bandung-Singapore 2012

Menariknya adalah Rewind Art Community pernah diundang dalam event yang tidak ada sangkutannya dengan acara kesenian, seperti International Motor Show JCC Senayan Jakarta 2006, SMS112 Polda Vickysianipar 2009 dan masuk dalam Program Asal Usul Trans 7. Dari hal tersebut menyatakan bahwa Performance Art menekankan bentuk kesenian tersebut dalam konten intertaiment, Rewind Art pun kerap mendapatkan bayaran, hal itu pula yang menyatakan bahwa karya seni Performance Art mempunyai nilai jual pada 12


penampilannya yang dibayar saat diundang —seperti layaknya sebuah Band musik ataupun nanggep istilah pada acara nonton wayang. Berbeda pada karya seni murni seperti lukisan ataupun patung yang memiliki nilai jual dari materi (kebendaaan). Pada awalnya Performane Art merupakan kegelisahan, suatu bentuk kesenian yang menolak mapan, mendekatkan diri kepada masyarakat sebagai penyadaran dan perubahan, seperti pada fungsi kemunculannya dalam gerakan aktivisme, mendobrak sistem pemerintahan yang kontra, formal dan eksklusif. Namun setelah munculnya kantungkantung kesenian dan komunitas seni sebagai ruang alternatif merubah praktek performance menjadi pekerjaan profesional yang mendekatkan jarak Performance Art menjadi sebuah bentuk kesenian yang mapan pula —diserap menjadi bagian yang integral.

Public Space Namun dalam bentuk Performance Art yang mempertunjukan praktek di kantungkantung kesenian dan kembali kepada pemahaman orang-orang dalam lingkup kesenian saja. Performance Art pun tetap hadir di ruang publik (Public Space) namun tak hadir hanya sebagai gerakan aktivisme lagi, tapi sebagai pemakaian “ruang” berkesenian yang lebih luas. Merespon keadaan ruang publik, memberi daya kejut peristiwa keseharian ataupun solusi sebuah permasalahan dalam ruang publik yang digunakan. Performance Art tersebut pun hadir tetap dari kegelisahan, kegelisahan terhadap ruang yang lebih luas di ruang publik. Rewind Art Communty mulai mengeksplorasi kegiatan tersebut pada ruang publik. Seperti pada kelompok Harmoni Kota dari Rewind Art Community, suatu pagi mereka pernah “iseng” mencoba untuk melakukan Performance Art di ruang publik, yaitu sarana Transportasi Halte Busway Transjakarta, mereka berempat Rau-Rau, Jemat, Ersad, dan Rocky memakai kemeja dan dasi layaknya orang kantoran namun mereka tidak memakai celana, hanya boxer saja dan berkeliling Jakarta menaiki Trasportasi Umun Transjakarta. Mereka meminta respon pendapat masyarakat —yang menaiki transportasi tersebut-mengenai kota Jakarta untuk dituliskannya di baju mereka masing-masing.

13


Harmoni Kota: Rau Rau, Jemat, Rocky, Ersad Performance Art di Ruang Publik Transjakarta

Pada Jakarta 320 (2010) yang diselenggarakan oleh Ruang Rupa, Rewind Art Community diminta untuk mengisi workshop Performance Art yang dilakukan di Ruang Publik. Saat itu peserta terdiri dari berbagai mahasiswa Universitas di Jakarta, mereka mencoba merespon ruang kota Jakarta dan permasalahan yang terjadi pada masyarakat, berinteraksi pada media kesenian yang lebih cair dan mengejutkan. Foto Instalasi dan Performance Art di ruang publik, Museum 0 Kota Tua Jakarta, Jakarta 32 Ruang Rupa 2010. Kiri bawah: Foto Performance Art Majelis Rupa IKJ, Terminal 0 Blok M, Jakarta 32 Ruang Rupa 2010. Merespon permasalahan masyarakat yang tidak menyeberang di jembatan penyeberangan, tempat aman yang telah disediakan. Kanan Bawah: Foto Perforance Art Riezky Ponga, Halte 0 Busway Dukuh Atas, Jakrta 32 Ruang Rupa 2010. Merespon pengguna transportasi yang mengantri, dengan memberikan tissue dan permen sebagai memecah kebosanan

14


Selepas diselenggarakannya festival performance art Rewind Art #9 (2009) terjadi kesurutan dalam praktek performance art sampai pada Rewind Art #11 (2011), bahkan pada Rewind Art #10 (2010) yang merupakan peringatan

satu

diselenggarakan.

dekade Kesurutan

Rewind

Art

tersebut

Festival terlihat

ini pada

kejenuhan berkarya pada medium ini, tampilan visual pertunjukan yang monoton, spontanitas yang sekedar tampil dan gila-gilaan. Satu dekade “Rewind Art” happening potong kue

Menurunnya regenerasi individu yang mau interest dan intens menjadi faktor utama, serta iklim kampus yang secara tidak sadar “menertibkan” aktifitas kesenian sehingga semangat pergerakan inisiatif di kampus tidak begitu direspon dan penting. Hal itu yang membuat masing-masing individu dan kelompok bergerak ke luar kampus secara mandiri, mencari ruang-ruang baru dalam berkesenian. Rewind Art Community pun merasa butuh udara segar untuk keluar dari wilayah pasif dan monoton di dalam kampus untuk membangkitkan aura kesenian Performance Art dalam seputar komunitas, dan membuat festival performance yang berbeda dengan festival Rewind Art yang diselenggarakan di kampus Seni Rupa UNJ, bertempat di lahan Pengepul Rawamangun, wilayah disana digunakan sebagai background pertunjukan yang baru. Dengan tajuk “Carnival of Public Art” yang merupakan wacana pemahaman tentang butuhnya alternatif hiburan kepada publik yang dibangun dari sebuah karya seni, sehingga menimbulkan interaksi, apresiasi secara langsung dan kritis terhadap permasalahan sosiallingkungan, agar penyampaian seni tersebut berdampak dalam memberi perubahan dari permasalahan yang terjadi di ruang publik yang luas dan kompleks. Setidaknya memberi hiburan dari kejenuhan masalah urban terutama perkotaan besar seperti di Ibu Kota Jakarta7.

7

Angga Wijaya, pengantar perfomance art “Carnival Of Public Art” Lahan Pengepul Rawamangun, 2012.

15


Dwi Penjol dalam “Carnival of Public Art” Wildigda Sunu performance Art nya dalam “Carnival of Performance Art nya memberi solusi lebih intim, Transtra Public Art” mengajak anak-anak di pemukiman sana untuk dengan membantu salah satu warga membersihkan bermain balon sabun sederhana gelas plastik bekas

Metamorfosis Performance Art Kesurutan dan kejenuhan pada medium ini memberi dampak pada metamorfosis praktek Performance Art itu sendiri, seiring dengan perkembangan seni mutakhir sekarang atas perkembangan media massa dan teknologi. Penggunaan seni yang berhibridasi dengan proyek teknologi, dan disokong oleh media massa, seperti jaringan media sosial internet yang sangat dinamis, munculah istilah-istilah Video Performance Art, Multimedia Performance Art, dan Pertunjukan Musik Eksperimental dengan pendekatan Performance Art bahkan Performance Art pun dapat dilakukan secara streaming. Performance Art merupakan peristiwa dengan ruang presentasi dimanapun, sifat Performance Art sesungguhnya ephermal (live) berbasis waktu. Pada saat Performance Art berlangsung, ruang dihuni oleh penonton —publik saat itu— performer menghadapi publik tersebut secara langsung, dan berstrategi menarik perhatian publik pada dirinya, sehingga menimbulkan tegangan. Namun erat kaitannya Performance Art dengan media rekam, sebagai dokumentasi peristiwa tersebut merubah sifat ephermal Performance Art menjadi beku, apalagi dalam video tersebut memasuki proses editing —menambah unsur artistik media video— yang sekarang disebut sebagai Video Performance Art. Teknologi memang sangat mempengaruhi perkembangan seni yang sekarang disebut new media art (seni media baru) pada tataran seni kontemporer. Di Era teknologi reproduksi segala hal dapat didokumentasikan, digandakan dan disebarluaskan, memberi dampak pada metamorfosis Performance Art tersebut bahwa nilai apresiasi dalam 16


menikmati performance art telah berubah, mempunyai ketegangan (feel) berbeda antara menonton langsung (real-space, real-time) dan pada ruang digital Video Performance Art yang dapat dicopy, ditonton dimana saja, pada waktu kapan saja, dapat diulang dan diputar terus-menerus. Hal ini yang menjadi pertanyaaan, yang mungkin mempengaruhi daya hidup Performance Art itu secara live dan real. Rewind Art Community pun menyadari bahwa konsep apresiasi Performance Art telah berubah, sehingga banyak pula muncul Performance Art yang dihadirkan lebih mementingkan daya rekamnya sebagai dokumentasi dibandingkan keadaan secara langsung di ruang Performance Art dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, sehingga fisik karya (artefak) dari Performance Art hanya menjadi dalam bentuk video. Database dokumentasi Performance Art yang dimiliki oleh Rewind Art Community dikelola secara rapih, yang berguna hanya sebatas perekam citraan peristiwa Performance Art tersebut secara langsung. Namun belakangan ini juga telah hadir Video Performance Art yang seperti dilakukan oleh Ridwan Rau-Rau yang merekam Peformance Art-nya disebuah studio â&#x20AC;&#x201D;bertempat di Serrumâ&#x20AC;&#x201D; dan melalui proses editing artitistik video.

Namun Ridwan Rau-Rau dan Dwi Penjol pernah menisbihkan konsep dokumentasi sebuah Performance Art itu sendiri, mereka mencoba mengintervensi balik, saat Rewind Art Community diundang di sebuah event pameran dokumentasi Performance Art UPI Bandung â&#x20AC;&#x153;Genderang Performanceâ&#x20AC;? yang diselenggarakan di Griya Popo Iskandar. Mereka berdua tidak mengizinkan siapapun untuk mendokumentasikan Performance Art mereka saat itu, mereka mematikan lampu dan menciumi penonton dengan bol ayam yang bau, mereka menilai bahwa peristiwa itu sebagai dokumentasi, terutama dengan bau yang disungguhkan, dari tingkat sensitifitas indera penciuman sehingga menghasilkan persepsi masing-masing di ingatan otak penonton. 17


Semua Identifikasi yang telah dijabarkan dalam pergerakan dan perjalanan Performance Art dari komunitas Rewind Art diatas kecenderungan praktek yang dilakukan merupakan semangat bermain-main dari kejenuhan, namun praktek Performance Art dalam bentuk apapun masih dilakukan oleh komunitas performance ini, sesuai dengan kebutuhan bahasa ungkap pertunjukan, seperti keberlangsungan Performance Art sebagai gerakan aktivisme, medium ekspresi, bermain di ruang publik dan pemakaian media teknologi. Keberlangsungan Performance Art sebagai medium seni pun tetap terjaga dan tumbuh seiring dengan terus hadir dan aktifnya individu yang melakukan praktek kesenian ini menurut persepsi mereka masing-masing. Rewind Art Community melihat perkembangan kesenian di Indonesia secara luas dengan segala wacana dan perkembangannya, komunitas ini hadir dengan segala pemahaman-nya memberi daya bagi kesenian di Indonesia yang beragam sebagai keniscayaan berkesenian yang telah dijalani oleh Rewind Art Community ini sampai sekarang.

Jakarta, 22 Juli 2012. Catatan perjalanan Komunitas Performance Art: Rewind Art Community Makalah ini hasil riset dari workshop penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual yang diselenggarakan oleh Ruang Rupa (18-29 Juni 2012). Makalah ini akan dipublikasikan di jarakpandang.net Dan akan sebagai dokumen pribadi Rewind Art Community

Angga Wijaya, Lahir di Bandar Lampung, 20 Juli 1989. Sedang menempuh pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Jurusan Pend. Seni Rupa. Aktif sebagai penulis lepas, dan kerap menulis mengenai Performance Art di Rewind Art Community, bergabung pada komunitas tersebut pada tahun 2008, aktif melakukan performance art pula. Selain berkarya seni rupa (melukis) ia juga kerap sebagai penyelenggara kesenian, dan pengajar seni temporer. Email: anggawijaya2415081537@gmail.com | 089635502712 | postartfolder.blogspot.com

18

Makalah Rewind Art  

Catatan perjalanan Komunitas Performance Art: Rewind Art Community Makalah ini hasil riset dari workshop penulisan Seni Rupa dan Budaya Visu...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you