Page 1

Kabar Ruang Sidang

w w w . s e p u t a r j a b a r . c o m

Edisi Perdana Juni 2013

22

Dada Rosada Batal Diperiksa K

OMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) hari gagal mengorek keterangan penting dari salah satu saksi kasus suap hakim Setyabudi Tedjocahyono. Pasalnya KPK batal meminta keterangan Walikota Bandung Dada Rosada karena sakit. Juru Bicara KPK, Johan Budi mengatakan, pemeriksaan terhadap Dada sangat penting karena ada beberapa informasi yang harus didalami lewat Dada. Namun dikarenakan kondisi kesehatan Dada yang kurang sehat, maka KPK memutuskan untuk memanggil ulang Dada pada pekan ini. Sebelumnya, KPK hari ini menjadwalkan pemeriksaan terhadap Walikota Bandung Dada Rosada dalam kasus dugaan suap untuk pemulusan penanganan perkara korupsi bantuan sosial (bansos) pemerintah kota setempat pada 2011 di Pengadilan Negeri (PN) Bandung. Dada sendiri sudah hadir di Gedung KPK sejak pukul 10.00 WIB, namun pemeriksaan itu batal dilakukan karena kondisi kesehatan Dada kurang sehat. Sekitar 30 menit kemudian Dada sudah keluar dari Gedung KPK

Kisah Petani Pangalengan Terjebak Konflik Lahan

M

OMO dan Yana, ayah dan anak ini divonis delapan bulan penjara ini pada 4 April 2013, resmi ditahan. Mereka ini warga Pengalengan, Jawa Barat (Jabar) yang bersengketa lahan dengan Perusahaan Daerah Agribisnis dan Pertambangan (PDAP) sejak 2003. Tak terima putusan, upaya banding pun diajukan sejak majelis hakim selesai mengetok palu sidang di Pengadilan Bale Bandung. Kini, LBH Bandung mempermasalahkan prosedur penahanan kedua warga ini. “Sekarang yang jadi permasalahan penahanan Momo dan Yana, menurut kami inskontitusional,”  kata Arip Yogiawan, Direktur Eksekutif LBH Bandung, Senin (3/6/13). Yogi mengatakan, penahanan Momo dan Yana bermasalah karena sampai detik ini PN Bandung belum mengeluarkan surat penetapan pe-

nahanan. Sedang Momo dan Yana, sudah ditahan di LP Jelekong, Ciparay, Bandung. Mereka berencana melaporkan kasus ini ke Komnas HAM. Penangkapan Momo dan Yana berawal pada Senin 24 Oktober tepat pukul 14.00 segerombolan orang datang ke rumah Sumpena meminta menyerahkan lahan seluas 50 tumbak. Namun, Sumpena tidak ada di rumah. Mereka pulang dan kembali lagi sore dengan jumlah massa lebih banyak. “Segerombolan orang itu melakukan pematokan mulai dari lahan sebelah kanan kantor PDAP terus merambat ke samping sampai kira-kira 30 lahan dipatok. Petani penggarap mulai berdatangan dari segala arah. Sekitar seratus orang. Mereka datang untuk menghadang sekaligus menghentikan upaya pematokan,” kata Dije, koordinator Aliansi Gerakan Reforma Agraria

(AGRA) Pangalengan. Sekitar pukul 17.10 terjadi bentrokan antara petani penggarap dengan para pematok lahan. Petani penggarap mengejar pematok lahan hingga mereka terdesak dan masuk ke kantor PDAP, mengamankan diri. “Menjelang magrib petani penggarap terus berdatangan dari berbagai kampung. Saat itu mencapai lima ratus orang. Semua mengepung kantor PDAP dan meminta semua

dikarenakan pemeriksaanya dibatalkan, Dia menedaskan, pihaknya tetap akan membantu proses hukum yang tengah dilakukan oleh KPK. KPK memeriksa Dada sebagai saksi untuk para tersangka kasus dugaan penyuapan ke hakim Pengadilan Negeri Bandung Setyabudi Tejocahyono tersebut. Sebelumnya Dada sudah lima kali diperiksa yakni pada 31 Mei, 29 Mei, 28 Mei, 23 Mei, 20 Mei, dan 4 Juni. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, KPK menggeledah dua rumah Dada Rosada. Penggeledahan dilakukan di dua rumah Dada, yakni rumah dinas Wali Kota Bandung Jalan Kauman No 56 dan Rumah Jalan Tirtasari II no 15 di Bandung juga yang diduga rumah Wali Kota Bandung. Dalam kasus ini, KPK juga melarang Dada Rosada bepergian ke luar negeri. Dikabarkan, saat ini tim penyidik dan pimpinan KPK sedang melakukan gelar perkara terhadap kasus tersebut. Gelar perkara ini disebut-sebut akan menentukan status Dada Rosada apakah akan menjadi tersangka atau tetap sebagai saksi. (r21)

orang di dalam keluar. Adu fisik tak terhindarkan saat preman bayaran PDAP keluar dari ruangan itu. Akhirnya mereka melarikan diri,” kata Dije. Selepas Magrib, keadaan makin memanas. Hari sudah gelap, kabut disertai udara dingin mulai turun. Massa smakin emosi karena selain para preman, tak ada lagi yang keluar dari kantor PDAP. Saat itu aksi pelemparan mulai terjadi hingga menyebabkan pos satpam depan kantor PDAP, sebuah dispenser dan televisi, rusak. “Orang-orang PDAP baru bisa keluar pukul 20.40 setelah mendapat

pengawalan ketat kepolisian sektor Pangalengan, Koramil dan satu panser  Dalmas. Setelah orangorang PDAP dievakuasi, massa pun membubarkan diri.” Setelah peristiwa pengepungan kantor PDAP itu, Momo dan Yana dilaporkan PDAP ke polis. Padahal,  kata Dije, keduanya tidak ada di lokasi saat kejadian. Yogi menceritakan, konflik antara petani penggarap dengan PDAP terjadi sejak 2003. Proses penyelesaian berlarut larut. Mereka tidak pernah menemukan titik kesepakatan. (mongabay)


Sjo 22  

Halaman 22 versi cetak SEPUTAR JABAR ONLINE edisi 1, Juni 2013

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you