Issuu on Google+

Pembangunan

w w w . s e p u t a r j a b a r . c o m

Edisi Perdana Juni 2013

20

Terminal Baranang Siang Dibuka Lagi A

KTIVITAS bus di Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (5/6) pagi dibuka kembali, setelah kurang lebih selama empat jam ditutup. Sekitar pukul 08.00 WIB palang penutup terminal dibuka beramai-ramai oleh para supir dan kondektur, setelah aparat kepolisian menginstruksikan terminal dibuka kembali. Puluhan bus yang memarkirkan kendaraannya di luar terminal akhirnya masuk kembali ke dalam terminal dan beroperasi kembali. Sementara itu, arus lalu lintas di Jalan Pajajaran Kota Bogor yang sempat lumpuh karena aksi penutupan jalan oleh para

supir bus Terminal Baranangsiang kembali terurai. Dibukanya kembali terminal disambut tepuk tangan para supir, kondektur dan penumpang yang masih memantau di depan terminal. "Untuk saat ini terminal sudah dibuka kembali. Situasi darurat kita ingin pulihkan dulu arus, ke depannya akan ditutup atau dibuka kembali akan dibahas siang ini," kata Kapolres Bogor, AKBP Bahtiar Ujang Purnama. Sementara itu, Kakorlantas Mabes Polri Irjen Pol, Pudji mengatakan, hendaknya kebijakan yang diterapkan Pemerintah Kota Bogor disosialisasikan dengan baik sehingga bila ada pihak-pi-

hak yang tidak setuju bisa dicarikan solusinya dan tidak menyebabkan peristiwa seperti tersebut. Menurut Kakorlantas, penutupan arus yang dilakukan supir bus Terminal Baranangsiang ti-

dak berimbas pada tol karena sudah diatasi dan dialihkan. Hingga berita ini diturunkan, situasi arus lalu lintas di sekitar Terminal Barnangsiang dan Jalan Pajajaran kembali normal.(rol/r22)

Telkom Gagal Raih Lisensi MVNO di Arab Saudi

P

Banyak Pengusaha Kontruksi Belum Siap Hadapi MEA

P

ENGUSAHA kontruksi di Jawa Barat masih banyak yang belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomia Asean (MEA) pada 2015 nanti. Dari sekitar ribuan pengusaha jasa kontruksi yang ada di Jabar, yang sudah siap menghadapi pasar bebas Asean ini hanya sekitar 10 persen. ‘’Pengusaha, yang sudah siap menghadapi MEA sekitar 10 persen. Gapensi (Gabungan pengusaha kontruksi Indonesia) di Jabar saja, sekitar 3.500,’’ ujar Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi Daerah Jabar, Indrato kepada wartawan, Senin (3/6/13).

Menurut Indrato, saat ini pengusaha jasa kontruksi memang masih banyak yang berpikir lokal. Jadi masih berpikiri regulasi dan protect. Padahal, sebenarnya sudah bukan eranya lagi. Pengusaha, harus profesional. Ini lah, yang harus ditingkatkan dari semua pengusaha yang ada di Jabar menghadapi MEA tahun 2015 mendatang. Makanya, pihaknya menghadap ke Gubernur Jabar untuk pembinaan. Untuk menghadapi MEA, kata Indrato,  semua pengusaha harus disiapkan dengan meningkatkan profesionalisme mereka. Kalau tidak siap, nantinya kontraktor asing bisa ma-

suk ke semua  kabupaten dan kota di Jabar. Karena itu diperlukan pembinaan untuk membentuk pengusaha agar jangan cengeng. Peningkatan profesionalisme tersebut, berkaitan dengan tenaga ahli, sumber daya manusia, pendidikan dan lain-lain. Jangan sampai SDM Jabar kalah dengan provinsi lain. Provinsi Jabar, menurut Indrato,  baru membentuk unit sertifikasi badan usaha. Karena, selama ini Jabar tidak memiliki lembaga tersebut. Sertifikat badan usaha (SBU) di Jabar yang akan diterbitkan sekitar 14.015 ribu dari sekitar 7 ribu badan usaha jasa kontruksi.  (r22)

T Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) terpaksa menguburkan niatnya untuk melakukan ekspansi bisnis ke Arab Saudi, setelah gagal memperebutkan lisensi Mobile Virtual Network Operator (MVNO) di negara tersebut. Situs resmi Komisi Komunikasi dan Informasi Teknologi (The Communications and Information Technology Commission/CITC) Arab Saudi, mengumumkan bahwa nama Telkom tidak masuk dalam "short list" operator telekomunikasi yang maju memperebutkan tiga lisensi MNVO. MVNO adalah penyelenggaraan layanan jasa telekomunikasi bergerak dalam bentuk suara dan data, dimana penyelenggara tersebut tidak memiliki izin atas spektrum frekuensi atau lisensi jaringan akses, tetapi dapat menyewa atau memakai spektrum frekuensi milik Mobile Network Operator (MNO) melalui suatu perjanjian bisnis. Tender lisensi MVNO tersebut sejalan ketentuan bahwa operator eksisting di negera itu diharuskan melakukan bekerjasama dengan satu

MVNO guna menyelenggarakan layanan seluler atau data. Pada 11 Mei 2013, CITC mengumumkan lima kandidat yang lolos memperebutkan lisensi MVNO yakni konsorsium yakni Axiom Mobile, Virgin Mobile Saudi Consortium, Jawraa Consortium Lebara, FastNet Consortium, dan Safari Consortium. Adapun Virgin Mobile disebut-sebut akan menggandeng Saudi Telecom Company (STC), sementara Axiom melirik jaringan milik Zain. Arab Saudi menjadi negara ketiga di Timur Tengah yang mengadopsi MVNO setelah Oman dan Yordania. Dengan begitu pemberian lisensi MVNO ini merupakan bagian dari liberalisasi terhadap industri telekomunikasi di negera itu. Adapun harga satu lisensi MVNO ditetapkan sebesar 1,33 juta dolar AS, atau sekitar Rp13,039 miliar. Terkait dengan kandasnya Telkom masuk ke Arab Saudi tersebut, Deputi Menteri BUMN Bidang Industri Strategis dan Manufaktur, Dwijanti Tjahjaningsih mengatakan belum informasi tersebut. (ant)


Sjo 20