Page 1

Vol. 5 Issue 7 | 20 November 2017

K-O-I-N-O-N-I-A Head Office Newsletter

Inspiration

From the Desk of Brian Cox

B

ulan lalu kita, bersama guru-guru, staf dan pemimpin-pemimpin SDH, mempelajari pernyataan-pernyataan yang ada di dalam Profil Lulusan SDH. Kita mengingatkan diri kita sendiri bahwa pernyataan-pernyataan ini bukan merupakan sebuah ceklis tugas, namun profil tersebut adalah indikator keberhasilan kita mengembangkan orang-orang muda kita melalui Pendidikan Kristen Alkitabiah. Salah satu pernyataan di dalam Profil Lulusan terkesan sangat sederhana ketika kita sekilas membacanya, namun sebenarnya memiliki makna yang jauh lebih dalam bila dianalisa baik-baik:

Profil Lulusan 10: Dengan bijak dapat membedakan antara benar dan salah serta memiliki karakter yang kuat untuk mengambil tindakan yang tepat.

Salah satu dari sekian banyak cara untuk membantu anggota komunitas kita agar mampu membedakan yang benar dari yang salah adalah dengan memiliki peraturan-peraturan dan panduan-panduan perilaku komunitas yang bisa diterapkan. Penting kita memiliki peraturan dan panduan tersebut untuk memastikan terjadinya suatu komunitas yang teratur dan positif.

Jika kita bertanya kepada orang-orang apa yang membedakan benar dan salah di dalam Alkitab; kebanyakan orang akan menjawab Sepuluh Perintah Allah. Itu hanya sebagian benar. Di dalam Perjanjian Lama dan Baru kita menemukan bahwa ada satu perintah yang esensial; diekspresikan dalam dua pernyataan: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu..... Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Baru di dalam “Perintah Agung� inilah Sepuluh Perintah Allah memperoleh konteksnya: Target Utama

Batasan

Mengasihi Allah

JANGAN ada Allah Lain JANGAN menyembah berhala JANGAN sebut nama Allah sia-sia JANGAN mengabaikan/ menyalahgunakan hari Sabat

Mengasihi Manusia (Mulai dari menghormati orang tua) JANGAN membunuh JANGAN Berzinah JANGAN mencuri JANGAN mengucapkan saksi dusta

JANGAN mengingini kepunyaan orang lain atau hubungan yang dimiliki orang lain


Jadi bagian pertama dari Perintah Agung ini “Kasihilah Allahmu”; memiliki beberapa batasan, contohnya: “Jangan ada Allah lain”. Mengapa? Karena mengasihi Allah artinya kita akan tergantung kepada Dia dalam segala hal; Ia satu-satunya tempat perlindungan kita. Tiap butir dari Sepuluh Perintah Allah memberikan batasan jelas mengenai Perintah Agung Kasih “ Kasihi Allah; Kasihi Manusia.” Jadi “JANGAN mengabaikan/ menyalahgunakan hari Sabat” – artinya kita tidak diciptakan untuk bekerja 24 jam sehari 7 jam seminggu; bila kita seperti demikian, kita sedang menyatakan bahwa Allah bukanlah tempat kita bergantung; melainkan, kita mau bergantung kepada diri kita sendiri. Ketika kita perhatikan bagian dari Perintah Agung yang berhubungan dengan mengasihi orang lain, kita dapati batasan “JANGAN berzinah”. Jadi Allah tidak menetapkan semua cara bagaimana kita bisa mengasihi satu dengan yang lain. Ia membiarkan kita memilih dari begitu banyak cara yang tidak terbatas; satu batasan adalah untuk menghindari hubungan perzinahan. Jadi pengertian kita akan apa yang “Benar” sekarang jadi sangat luas, yaitu semua pikiran dan tindakan yang menunjukkan kasih kita kepada Allah dan kepada orang lain. Bila kita melihat contoh dari Orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) pemahaman kita mengenai “Bertindak Benar” menjadi lebih jelas. Seseorang yang sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yeriko diserang, dirampok dan dibiarkan untuk mati. Seorang

imam dan seorang Lewi melewati jalan tersebut namun tidak berhenti untuk menolong, mereka tidak melanggar peraturan atau hukum apapun, namun apakah mereka “bertindak benar?” Orang Samaria, sebaliknya, “memiliki belas kasihan”. Ia berhenti, merawat luka-luka korban, membawa dia ke tempat yang aman dan menanggung kelanjutan pengobatannya. Tidak ada buku peraturan manapun yang mengatur dia untuk bertindak demikian; perilakunya juga bukan suatu bentuk ketaatan dari butir manapun di dalam Sepuluh Perintah Allah. Ia meresponi “Perintah Agung”—Mengasihi Allah, mengasihi manusia. Yesus menyimpulkan dengan dua pernyataan: Orang yang melakukan yang benar adalah orang yang menunjukkan belas kasihan. Pergi dan Perbuatlah demikian. Hanya melalui pemahaman anugerah agung yang begitu murah hati maka kita bisa tahu apa yang benar dari yang salah dan memiliki karakter untuk hidup di dalam kebenaran itu. Kita adalah pemimpin-pemimpin Kristen, Pendidik-pendidik dan staf pendukung yang butuh MENGERTI anugerah dan belas kasihan Allah yang besar dan dengan demikian memiliki pemahaman yang besar mengenai apa artinya melakukan yang benar.

sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. Kolose 2:3

Salam & Berkat, Brian .


Artikel

MSL dan Pemuridan

K

etika musim pendaftaran sekolah tiba, para orang tua sibuk mencari sekolah untuk anak-anaknya. Mereka mungkin bertanya-tanya, “Sekolah ini mahal, apakah sepadan ya dengan biaya yang dikeluarkan?” “Sekolah lain juga bagus …” “Apakah saya harus menyekolahkan anak saya di sekolah Kristen ya, apa bedanya dengan sekolah lain?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar saja ada dalam benak para orang tua murid. Mereka berusaha meyakinkan diri mereka bahwa pilihan mereka untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Kristen adalah pilihan yang tepat. Sebenarnya, mengapa para orang tua berkomitmen untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Kristen, walaupun harus dengan biaya mahal? Jawabannya tidak lain tidak bukan adalah karena nilai-nilai (values) yang dianut sekolah Kristen yang mereka tidak bisa dapatkan di sekolah lain. Sekolah-sekolah Kristen secara unik bertugas untuk memuridkan peserta didik menjadi murid Kristus dan menyediakan pengalaman di mana mereka juga mengembangkan kepemimpinan mereka. Namun kita perlu ingat bahwa pemuridan, tidak dimulai dari kepemimpinan. Kristus memanggil murid-muridnya untuk meninggalkan apa yang mereka kerjakan dan mengikut Dia. Di dalam pekerjaan pemuridan ini, kurikulum yang mereka alami termasuk presentasi akan kebenaran diikuti asesmen yang otentik dalam konteks nyata dalam kehidupan. Pada akhirnya, Yesus memberikan murid-muridnya kesempatan untuk pergi dan mencoba memimpin. Asesmen-asesmen yang mereka jalani bukanlah tes tertulis, tetapi pengalaman nyata yang penuh dengan eror sampai diakhir Injil dan di dalam Kisah para rasul, kita baru mulai membaca generasi penerus kepemimpinan Kristus bertin-

dak. Stephen Kaufmann (1992) menyimpulkan bahwa sekolah Kristen yang melakukan perubahan program belajar dengan meningkatkan kesempatan untuk melakukan mission service learning dan aplikasi kehidupan nyata akan konten pelajaran yang didasari oleh Biblical Christian Worldview lebih mengalami kesuksesan dalam mencapai misi mereka di dalam diri peserta didik mereka. Kaufmann dan Eames (2007) juga menemukan bahwa pemimpin sekolah yang memiliki keberanian dalam mengambil resiko yang cenderung akan mengimplementasikan program seperti demikian. Memperkuat pemuridan dan memperluas kesempatan melakukan mission service learning di sekolah dapat menolong kita mencapai dua tujuan kita sebagai sekolah Kristen, yaitu mencapai misi sekaligus memperdalam komitmen dari para orang tua terhadap sekolah-sekolah Kristen. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kita sebagai sekolah Kristen ingin mengarah ke sana. Pertama, kita harus ingat bahwa setiap sekolah tidak bisa selalu sama. Kita dapat melihat ide-ide yang dikerjakan oleh sekolah-sekolah Kristen lain, namun jangan secara bulat-bulat mengimplementasikan program yang dikerjakan oleh sekolah

Murid-murid kelas 2 SD di SDH Lippo Village, mengunjungi sebuah sekolah dasar negeri di wilayah Tangerang. Mereka menyanyi, membacakan cerita dan membagikan berkat hasil pekerjaan mereka sendiri yang sudah dipersiapkan sejak 3 minggu sebelumnya


Service Learning di sekolah Kristen mengalir dari perintah untuk mengabarkan Injil melalui perkataan dan tindakan. Mentoring dari guru secara intensional diperlukan ketika siswa mengerjakan Mission Service Learning. Ini yang seringkali terlewat oleh guru, terutama guru-guru di tingkat menengah. Peserta didik tetap perlu bimbingan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Mission Service Learning seharusnya menjadi tindak lanjut pembelajaran di kelas. Kita melakukan Mission service learning dalam rangka memuridkan peserta didik menjadi murid Kristus yang melakukan Firman Tuhan ketika mengasihi dan melayani sesama manusia.

Kegiatan Mission Service Learning di SDH Cikarang: Live In Kelas 11

lain. Kembangkan program-program mission service learning yang sesuai dengan usia peserta didik dengan menggunakan potensi-potensi yang dimiliki oleh komunitas sekolah baik guru, staf, orang tua, maupun siswa. Lihat dan carilah kesempatan-kesempatan yang unik untuk komunitas sekolah dimana anda melayani. Hal kedua, jangan tunggu sampai kita mengerti semua dan memiliki jawaban atau solusi dari semua hal. Komunikasikan kepada orang tua, apa yang kita sedang kita kerjakan dan di dalam mengerjakan hal tersebut akan ada kemungkinan kita akan menghadapi tantangan dan melakukannya dengan penuh kekurangan, dan jabarkan partisipasi dan dukungan yang kita butuhkan dari mereka. Selanjutnya, penting untuk kita perhatikan bahwa berpartisipasi secara sukarela dalam kesempatan pemuridan dan pelayanan berdampak lebih mendalam dari pada program yang dikondisikan untuk dilakukan secara wajib. Sekolah kita melakukan Mission Service Learning bukan sekedar untuk memenuhi tuntutan program, tetapi untuk menjawab panggilan. Mission Service Learning berbeda dengan bakti sosial/community service, dan perbedaannya sangat mendasar. Pemuridan dan usaha melakukan Mission

Jangan lupa untuk membagikan cerita. Ketika kesempatan melakukan pemuridan dan Mission service learning terus bertumbuh dan berkembang di sekolah kita, kita akan memilki semakin banyak cerita tentang kesempatan-kesempatan unik yang tersedia bagi peserta didik kita. Kisah-kisah inilah yang seharusnya kita bagikan kepada orang tua dan komunitas, termasuk pada saat open house. Muridmurid kita akan membawa ceritacerita ini kerumah mereka, kepada para orang tua mereka yang kemudian melihat perubahan hidup yang dialami anak-anak mereka. (--Esther) -------------------------------------Bibliografi Kaufmann, Stephen. 1992. Sabbatical study report to schools in study. Faculty forum paper presented at Covenant College. Cited in Kaufmann and Eames 2007, 79. Kaufmann, Stephen J., and Kevin J. Eames. 2007. The leader as risk taker: Equipping students to engage the culture. In Schools as communities: Educational leadership, relationships, and The Eternal Value of Christian Schooling, ed. James Drexler, 61–80. Colorado Springs, CO: Purposeful Design Publications.


Praise

500 tahun Reformasi Gereja Bersyukur untuk peringatan 500 tahun Reformasi yang sdh berlangsung di beberapa kota dan di Jakarta pada minggu lalu. Bersyukur untuk peringatan untuk terus setia kepada keutamaan Kristus yang didalamNya tersedia anugerah untuk diresponi dalam iman. Bersyukur untuk terus setia melakukan segala sesuatu hanya untuk kemuliaan Allah.

Prayers

Proses Interview Leaders & Lulusan TC Minggu ini kita memulai proses wawancara calon Pemimpin untuk seluruh SDH dan SLH, serta Lulusan TC yang akan ditempatkan di seluruh SDH dan SLH. Doakan kiranya proses persiapan dan wawancara berlangsung dengan baik. Kiranya hikmat Tuhan menyertai tim seleksi di sepanjang proses ini.

Open House

Open House yang sedang dan akan dilaksanakan di unit-unit, kiranya Tuhan pimpin dan berikan hikmat bagi para leader dan guru/staf yang mempersiapkannya.

Koinonia 201117  
Koinonia 201117  
Advertisement