Issuu on Google+

SARUNG Kita Selesai Dipermak Edisi:IX/16/April/2010


SATU TAHUN UNTUK SARUNG.. Bertepatan pada 1 April 2009, salah satu departemen dari CSS MoRA UIN SuKa untuk pertama-kalinya menerbitkan bulettin dengan nama “SARUNG”. Artinya, bertepatan pada tanggal itu, SARUNG lahir, dan pada tanggal yang sama untuk tahun ini adalah ulang tahun SARUNG yang pertama. Selamat Ulang Tahun Sarung..!!! Apa yang telah kau lakukan setahun ini? Sejauh ini, SARUNG baru menerbitkan 8 edisi bulettin, dan yang di tangan anda adalah edisi ke-9. Namun, redaksi belum menerbitkan satu majalah pun, yang padahal dari awal merupakan satu target. Melewati satu tahun umurnya, SARUNG melakukan beberapa perombakan. Jika sebelumnya berada di bawah tanggungan salah satu departemen CSS MoRA, kali ini SARUNG berdiri bebas, semi-otonom di bawah CSS MoRA, di luar departemen. Selain itu, SARUNG mengadakan penggemukan redaksi, dengan dilakukannya seleksi dan penerimaan sedikitnya 17 personil baru. Tentunya masih angka yang relatif kecil. Namun, dengan total pengurus 19 orang, SARUNG bertekad untuk menjebolkan sebuah majalah... Terlepas dari itu semua, dapur redaksi lebih banyak menyajikan seputar kepengurusan baru SARUNG di samping tulisan lainnya dalam rubrikrubriknya untuk edisi ke-9 ini. Ini merupakan proyek terakhir dari Founding Fathers SARUNG (Isti, Makmun, Apit, Fadhli, dan Wulan). 3 diantaranya dibebastugaskan, dan 2 lainnya melanjutkan perjuangan bersama pengurus yang baru... Semoga Anda menikmati edisi-demi edisi dari awal, termasuk edisi ini, dan terutama edisi-edisi berikutnya. Semoga Pengurus baru semakin mematangkan terbitan-terbitan berikutnya. Keep Spirit...!!! 2

by: Founding Fathers

Satu Tahun Untuk Sarung hlm. 2 Protes Mancur hlm. 3 Ritual Baru CSS MoRA di Pesantren: Jimpitan dan Ronda Malam hlm. 4 Yusuf al-Qaradhawi dan Muhammad al-Ghazali: Prototipe Kritikus Hadis Kontemporer hlm. 5 Menyanggah “Buta Huruf”nya Muhammad SAW dengan Analisis Kronologi Kebahasaan hlm. 6 SARUNG “numpang” dilantik hlm. 7 SARUNG Kita Selesai dipermak hal. 8 Syaikh Nawawi al-Bantani Kreator Tafsir Munir hlm. 10 Menggagas Kembali “Pluralisme” Agama, bukan “Relativisme” dalam beragama hlm. 12 Cincin Kesetiaan hlm. 13

Supported by:

COMMUNITY OF SANTRI SCHOLARS OF MINISTRY OF RELIGIOUS AFFAIRS Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta email: sarung_cssmora@yahoo.co.id


Protes Mancur...!!! Suatu ketika seekor kucing, Meong, datang dan bermain di sekitar taman Ushuluddin. Dulu, dia sering bermain, menghabiskan waktu luang, bercengkrama bersama dengan penduduk-penduduk di taman Ushuluddin. Dia kenal baik dengan si Item, bangku tempat mahasiswa sering bersenda gurau atau sekedar istirahat menunggu jam kuliah berikutnya, atau bahkan mahasiswa yang asik pacaran. Ia juga dekat dengan si si Ijo, yang ternyata sekarang sudah merayap ke sana-sini dari atap si item. Namun, yang membuat dia kaget saat itu adalah si Mancur. Tak biasanya ia pucat seperti itu. Biasanya ia ceria, meniupkan airnya sekencangkencangnya, dan menyambutnya kembali dengan baknya. Suara percikan air menjadi parameter keceriaannya, semakin rame, berarti semakin ceria. Akan tetapi sekarang dia murung, pucat, diam, dan dia melihat ke tanah dari tadi, tak berubah! Si kucing menjadi penasaran, dia memperhatikan, apa sih yang di lihat si Mancur? Ia melihat ke arah yang sama, akan tetapi tidak ada apa-apa di sana. Ia tidak bisa memendam penasarannya, akhirnya ia mendatanginya. "Hei, ada apa dengan mu? Ada masalah?" Meong bertanya. Si Mancur tidak menjawab, ia tetap saja diam, ia sama sekali tidak menghiraukan Meong. Meong melihat kepada si Item dan si Ijo sembari memberikan isyarat yang berarti "kenapa?" Keduanya menggeleng. "Beberapa hari ini dia begitu terus, Yong." kata Ijo. "Mancur, kamu kenapa, kok g main-main lagi? Kok kamu gak niupin air lagi sambil bermain sama Ijo dan Item?" tanya meong sok bijaksana plus sambil penasaran. " Ya itu dia masalahnya Yong,!" akhirnya ia menjawab. "Maksudmu?" meong mengerinyitkan dahinya. "Aku gak bisa main air lagi, mana coba airnya? Liat tu air yang di bakku, udah ijo, kotor, gak ngalir." "Ooh... gitu toh?!" meong manggut-manggut "Iya,!!" timpal Mancur mangkel. "Aku gak dipratiin lagi Yong. Liatin tu tiap hari mahasiswa datang, lalu-lalang di sini, mereka ketawa-ketawa, bernyanyi, jingkrak-jingkrak, tapi g da yang nyadar kalau aku lagi sedih. Mang seh ne bukan tugas mereka yang bersihin, tapi paling gak liatin kek kepeduliannya ke lingkungan sekitar. Palagi pemerintah Ushuluddin ne, kita tu dah dilupain, liat tu Ijo, Item, sebenarnya gak jauh beda nasibnya sama aku!" Meong hanya diam, dia gak tau mau ngomong apa. Dia sengaja biarin Mancur melepaskan emosinya dulu. "Peduli mereka tu bukan berarti mereka yang bersihin, ya syukur banget kalau mereka yang bersihin. Tapi paling gak usulin kek ke atas. Kritik kek kinerja pengelolaan kebersihannya. Ne kita di taman cuma disapu lantainya tok, ne buktinya airku jadi kayak gini.!" "Ya gimana lagi Cur, andai aku bisa nolong..." Meong angkat bicara dengan nada lesu.[Eel]


Ritual baru CSS MoRA di Pesantren:

Jimpitan dan Ronda Malam Jika ada yang sempat berkunjung ke PP. Aji Mahasiswa Al-Muhsin Krapyak, hendaknya tidak melewatkan pemandangan malam hari di depan komplek Abu Bakar. Mulai kira-kira pukul 23.30, beberapa santri, yang mayoritas anggota CSS MoRA UIN Su-Ka, akan menggelar tikar besar. Bukan untuk menjajakan barang untuk dijual tentunya, tapi untuk mengamankan pondok sekaligus "menyemarakkannya" (baca: ronda malam). Di waktu yang sama, beberapa orang ditugaskan mengambil "jimpitan" dari setiap kamar di komplek Abu Bakar. Dua kegiatan ini, rutin dilakukan setiap malam. Selain untuk menjaga keamanan pondok, juga agar ikatan persaudaraan antar santri semakin erat. Seperti malam itu, ditemani se-termos besar kopi hangat dan beberapa cemilan, nampak beberapa santri tengah asyik "lempar-lemparan" kartu (baca: pockeran). agaknya, beberapa jenis kegiatan dilakukan para peronda untuk menjaga mata mereka terjaga. Di lain waktu, beberapa di antara mereka "tertangkap kamera" tengah nonton film, main game, masak, bermain badminton, atau ngobrol ngalur-ngidul. "Ada ada saja..." “Awas maling cak...,!!!" [Goez]

4


kolom kajur

Yusuf al-Qaradhawi dan Muhammad al-Ghazali: Prototipe Kritikus Hadis Kontemporer

Dalam dunia pemikiran Islam, dikenal tiga aliran besar, Pertama, pemikir Islam tradisionalis atau salafi, yang berupaya mengembalikan kejayaan Islam masa lalu, karena dianggap belum mengandung "penyimpangan" dan "kemunduran". Ked ua , kelompok modernis, yang menganjurkan adopsi modernitas Barat sebagai model epistemologi yang tepat bagi masa kini. Dan ketiga, kelompok moderat atau eklektis, yang berupaya mengkombinasikan unsur-unsur "terbaik", baik yang terdapat dalam yang menjadi kecenderungan kelompok pertama maupun kedua. Muhammad al-Ghazali dan Yusuf alQaradhawi patut dimasukkan dalam kategori pemikir Islam yang moderat, atau dalam istilah Zain YS, "reformis moderat". Sebagai kritikus hadis, keduanya tidak meninggalkan tradisi-tradis lama, namun juga tidak terjebak pada ortodoksi kaum tradisionalis, atau fundamentalis yang menyanjung-nyanjung tradisi tanpa cacat. Sementara itu jika dilihat dari aspek epistemologisnya, pemikiran Muhammad al-Ghazali dan Yusuf al-Qaradhawi masuk dalam kategori yang disebut 'Abid al-Jabiri sebagai bayani yaitu epistemologi yang berpijak kepada teks, baik secara langsung atau tidak dalam cara memperoleh pengetahuan.

Hal demikian tidak lepas dari latar belakang pendidikan Muhammad al-Ghazali dan Yusuf al-Qaradhawi, yang sangat akrab dengan jargon kembali kepada al-Qur'an dan sunnah. Meski demikian ada sisi-sisi perbedaan diantara keduanya. Meskipun keduanya sama-sama aktivis al-Ikhwan al-Muslimin, namun perspektif fiqih yang digunakan berbeda, Muhammad al-Ghazali lebih dekat dengan pemikiran mazhab Hanafi (lebih mengutamakan ra'y), sementara Yu s u f a l - Q a ra d h aw i l e b i h b a nya k mengakomodasi berbagai aliran, termasuk mazhab Hanafi dan Maliki (rasionalis), Hanbali (tradisionalis), dan Syafi'i (tengahtengah). Itulah mengapa al-Ghazali lebih dekat kepada pola moderat/eklektistradisionalis. Dalam dua karya besar yang ditulis oleh masing-masing tokoh besar tersebut (Kaifa Nata'ammal ma'a alSunnah al-Nabawiyyah dan al-Sunnah baina ahl al-Fiqh wa ahl al-hadits), kita juga dapat melihat bagaimana keterikatan keduanya pada metodologi pemahaman yang kontekstual, bukan tekstualis, literal atau skriptual.


Menyanggah "Buta huruf"nya Muhammad SAW dengan Analisis Kronologi Kebahasaan Secara umum, umat Islam meyakini bahwa Rasulullah adalah buta huruf ( ummy ). Pemahaman seperti ini memiliki landasan teologis dari Alquran yang mengulang term ummy (yang memiliki makna dasar tidak bisa membaca dan menulis) sebanyak enam kali, dan dua diantaranya dialamatkan langsung kepada Rasulullah. Akan tetapi, sebagian kalangan lainnya membantah hal ini. Menurut mereka, ummy dalam konteks ayat-ayat tersebut bukanlah berarti "tidak bisa baca-tulis". Beragam argumentasi dengan analisis kuat mereka tekankan. Dalam tulisan ini akan di sampaikan satu saja dari beragam argumen tersebut. Membaca adalah melihat tulisan, mengerti dan d a p at m e l i s a n ka n a p a ya n g te r t u l i s (Poerwadarminta, 1987). Artinya, kemampuan membaca adalah kemampuan mengenal hurufhuruf. Akan tetapi, mengenal huruf adalah tahap awal membaca. Pada tahap berikutnya, seseorang harus mampu menginteraksikan satu huruf dengan huruf yang lain. Umpamanya, huruf k, a, m, dan u, jika hanya bisa dikenali oleh seseorang, berarti ia belum bisa membaca. Akan tetapi, jika ia telah mampu menangkap arti dari "kamu" sebagai penunjuk orang kedua tunggal dan bisa menyuarakan dengan benar, barulah orang tersebut dikatakan bisa membaca. Contoh lain, jika dalam bahasa arab dikenal huruf "‫ "ا‬dan "‫"ن‬ yang keduanya berbunyi "alif" dan "nun". Akan tetapi setelah tergabung dalam satu kata, bisa berbunyi "an" atau "anna", dan tidak ada sama sekali bunyi "alif" di sana. Begitu juga sebaliknya. Apabila orang tersebut mendengarkan suatu kata, ia mengenal huruf apa saja yang membentuk kata tersebut sekaligus mampu menuliskannya. Apabila ia mendengar suatu kata, namun ia tidak bisa menuliskannya, maka ia belumlah bisa membaca. Sebagai contoh, seseorang

6

mendengar temannya berbicara "kamu" ia mengetahui bahwa kata tersebut tersusun dari huruf k, a, m, dan u. Poin terakhir ini juga disebut sebagai kemampuan mengeja, karena pada dasarnya kemampuan membaca linear dengan mengeja. Orang yang bisa membaca, berarti ia bisa mengeja, dan begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, perlu digarisbawahi, kemampuan membaca seseorang terikat oleh bahasa yang ia kenal. Ketika ia hanya mengenal bahasa Indonesia, maka ia akan membaca dalam koridor bahasa Indonesia, apabila ia mengenal bahasa Inggris, maka ia membaca dalam koridor bahasa Inggris, dan begitu juga dengan bahasa Arab, Cina, dan sebagainya. Dan keterikatan bahasa ini tidak bisa diabaikan, karena ia akan sangat menentukan. Sebagai contoh, ketika seorang Indonesia membaca kata "air" dalam koridor bahasa Indonesia, maka ia bermakna zat cair yang biasa diminum, digunakan untuk mandi, mencuci, dan sebagainya. Dan ketika ia membaca dalam koridor bahasa Inggris, maka ia bermakna apa yang kita hirup. Lebih bermasalah lagi, ketika kasus ini terjadi pada bahasa yang berbeda dengan model tulisan yang berbeda pula, sebagai contoh bahasa Arab dan Inggris. Sebuah kata bahasa Arab ‫ ﻣرﯾض‬jika dibaca dan dieja dalam koridor bahasa Inggris ia akan menjadi m, a, r, i, dan d, bukan ‫ ي‬,‫ ر‬,‫م‬, dan ‫ض‬. Dan sebaliknya, ketika sebuah kata dalam bahasa Inggris "house" jika dieja dalam koridor bahasa Arab ia akan menjadi ‫ و‬,‫ه‬, dan ‫س‬, bukan h, o, u, s, dan e. Jadi, terbuktilah bahwa kemampuan membaca dan mengeja terikat kepada bahasa apa yang digunakan oleh kata tersebut.


Poin apa yang dapat kita perhatikan dari penjelasan di atas? Bahwasanya seorang yang bisa membaca mestilah mengenal huruf-huruf dan bisa mengeja dalam bahasa yang ia kenal. Seorang yang bisa membaca akan mengeja dengan benar karena ia telah benar-benar mengenal huruf, memahami interaksi antar huruf, serta mengerti bagaimana menyuarakannya. Fakta historis membuktikan bahwa Rasulullah pernah mengeja suatu kata dalam bahasa Arab dengan benar. Informasi ini dapat kita lihat dari hadis yang berbicara mengenai keutamaan membaca Alquran yang ditakhrij oleh imam Naisaburi dan al-Baihaqi : ‫ اﻟم‬: ‫ﻓﺈن ﷲ ﯾﺄﺟرﻛم ﻋﻠﻰ ﺗﻼوﺗﮫ ﻛل ﺣـرف ﻋﺷـر ﺣﺳـﻧﺎت أﻣﺎ إﻧﻲ ﻻ أﻗـول‬.. ...‫ﺣرف و ﻟﻛن أﻟف و ﻻم و ﻣﯾم‬ ‫ﻣن ﻗرأ ﺣرﻓﺎ ﻣن اﻟﻘرآن ﻛﺗب ﻟﮫ ﺑﮫ ﺣﺳﻧﺔ ﻻ أﻗول ﺑﺳم و ﻟﻛن ﺑﺎء و ﺳﯾن و ﻣﯾم‬ ...‫و ﻻ أﻗول أﻟم و ﻟﻛن اﻷﻟف و اﻟﻼم و اﻟﻣﯾم‬ Dalam hadis di atas, Rasulullah menjelaskan mengenai keutamaan membaca Alquran. Sekaligus di sini, beliau juga memperlihatkan kemampuan mengejanya. "Saya tidak bermaksud ‫ اﻟم‬sebagai satu huruf, melainkan ‫ ل‬,‫ا‬, dan ‫م‬." Bukankah Rasulullah telah mengeja dalam hadis ini? Dan bukankah ejaannya benar? Mengapa beliau tidak mengejanya menjadi "a, l, i, f, l, a, m, m, i, dan m"? Hal ini tentunya karena beliau bisa membaca. Hal ini juga karena beliau berbahasa Arab dan mengerti bahasa tersebut. Artinya, beliau telah benar-benar mengenal huruf-huruf Arab, bagaimana interaksi huruf-huruf satu sama lainnya, dan bagaimana penyuaraannya. Barangkali, masih ada yang menyangkal hal ini. Dengan dalih bahwa dalam kasus tersebut, beliau mengeja huruf muqatha'ah yang cara pembacaannya sesuai dengan bunyi dasar hurufnya, yaitu 'alif', 'lam', dan 'mim'. Akan tetapi, penulis menguatkan asumsi penulis tentang kemampuan membaca Rasulullah dengan hadis kedua, dimana dalam mengeja kata ‫ ﺑﺴﻢ‬. Rasulullah berkata, “Saya tidak bermaksud ‫ ﺑﺴﻢ‬sebagai satu huruf, tetapi ‫ب‬, ‫س‬, dan ‫م‬.”. Tentu saja ini hanyalah satu argumen saja. Dan argumen kecil ini tentunya tidak cukup kuat untuk meruntuhkan semua argumen yang mendasari pernyataan bahwa Rasulullah SAW buta huruf. Kiranya, yang menjadi tujuan dari tulisan ini adalah supaya pembaca yang lain merespon, merenungi, menambahi, memperbaiki, mengkritisi atau bahkan menyalahkannya. Wallahu a'lamu bi al-Shawab..

SARUNG ‘Numpang’ Dilantik Di sela kepenatan "ilmiah" seluruh anggota CSS MoRA UIN SuKA, pada tanggal 10 April 2010 diadakanlah acara rihlah 'alamiyyah di Grojogan S e w u , Ta w a n g M a n g u . Sebagaimana namanya, acara ini lebih ditujukan kepada refreshing, di samping agenda lainnya. Akan tetapi, SARUNG yang mencium adanya bau 'kesempatan' numpang kepada panitia untuk dilaksanakannya pelantikan crew Sarung yang baru. Pemberangkatan yang sedikit molor akhirnya ditempuh lebih kurang selama tiga jam. Sekitar jam 11.20 seluruh rombongan menginjakkan kakinya di tanah Ta w a n g M a n g u t u r u n d a r i kendaraan masing-masing berupa 3 unit bus dan 4 sepeda motor. "Tepatnya 95 anggota yang ikut plus pembimbing." kata Ahmad Nasukha, ketua panitia. Lagi-lagi acara inti mengalami penundaan lantaran para cacing telah pasang spanduk demo bertuliskan "Turunkan Nasi" di perut masing-masing anggota. Prosesi makan bareng akhirnya diprioritaskan. Meski mengalami banyak gangguan dari para monyet, semua anggota tetap menikmati hidangannya. Tidak hanya itu, keterlambatan ini juga disebabkan para anggota sendiri terperangah menyaksikan nuansa alam Grojogan Sewu. Mereka jadi uringuringan ke sana ke mari menikmati keasrian alam. to be continued... hlm. 16

By: Fadhli Lukman TH ‘08 7


SARUNG Kita Selesai Dipermak Mengikuti Pelantikan CSS MoRA UIN SuKA 2010-2011, SARUNG pun tidak mau kalah, ikut-ikutan kaderisasi "Belum genap tiga tahun nama Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs UIN Sunan Kalijaga didirikan, organisasi ini kembali melakukan reorganisasi guna masa bakti 2010-2011. “Hal ini dilakukan sebagai upaya mengejawantahkan regenerasi kepengurusan". Demikian diungkapkan Ketua CSS MoRA UIN SuKa masa bakti 2010-2011, Abdul Qodir yang menggantikan Hasan Mahfudh dalam sambutannya seusai terpilih secara aklamasi menjadi ketua CSS MoRA baru dalam Mubes (Musyawarah Besar) II tanggal 21 Maret 2010 di Pondok Pesantren Pandan Aji Mahasiswa al-Muhsin. Meskipun dengan kondisi serta peralatan seadanya, musyawarah berjalan hampir tanpa hambatan. Sehingga pada hari itu pula, dapat disampaikan Laporan Pertanggungjawaban pengurus lama. Abdul Qodir, ketika diwawancarai mengungkapkan keyakinannya bahwa kepengurusan yang diketuainya akan mampu menyempurnakan sekaligus membenahi program kerja-program kerja yang masih terbengkalai dan belum maksimal. "al-Muhafadhah 'Ala al-Qadim al-Shalih...", kelakarnya. Untuk publikasi dan "unjuk gigi" misalnya, adalah sesuatu yang belum pas menurutnya, jika komunitas CSS MoRA UIN SUKA lebih dikenal dengan komunitas TH-K (Tafsir Hadis Krapyak ed.). Karena itu, selain akan terus men-support keberlangsungan buletin SARUNG, sebagian besar program kerja masa bakti 2010-2011 akan difokuskan kepada usaha-usaha bermasyarakat dan bersosial. Hal ini tercerminkan misalnya, dari program kerja bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM ed.) yang mencanangkan program "Pesantren Binaan". Begitu juga halnya dengan SARUNG yang dirombak menjadi lembaga semi otonom dan telah melebarkan sayapnya dengan penambahan jumlah redaksi. Tepatnya pada tanggal 27-28 Maret lalu, diadakan kegiatan Pelatihan Jurnalistik dan Open Rekrutmen Redaksi Sarung yang berisikan pembekalan-pembekalan jurnalistik dan ke-SARUNG-an yang kemudian diikuti dengan seleksi. 8


Materi kaderisasi, selain dengan pengenalan-pengenalan lebih mendalam mengenai SARUNG dan isinya, dalam acara tersebut, redaksi SARUNG juga bekerja sama dengan Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Balairung. Hadir untuk memberikan pelatihan, Kepala Biro Pengembangan redaksi Balairung saudara Gading Gumilang Putra. Seleksi berlangsung cukup ketat. Dari 34 anggota pendaftar dan 25 peserta yang ikut berparsipasi, telah menelorkan 17 orang yang dinyatakan lulus. Bentuk kepengurusan baru ini telah dilantik pada Sabtu, 10 April 2010 pada rangkaian acara Rihlah 窶連lamiyyah bersama seluruh anggota CSS MORA UIN SUKa. Serangkaian tes yang berhasil dilalui menunjukkan bahwa mereka qualified secara kemampuan mengelola meja redaksi maupun secara mental keorganisasian (baca: komitmen, loyalitas). Pada kepengurusan baru ini (baik CSS MoRA UIN SUKA maupun SARUNG), banyak didominasi wajah-wajah baru dari anggota CSS angkatan kedua dan ketiga. Kebijakan ini diambil atas dasar pertimbangan kapasitas plus animo anggota-anggota baru yang tinggi. Selain itu juga ditujukan agar dapat terealisasinya regenerasi yang baik. Pada momentum pergantian kepengurusan CSS MoRa UIN SUKA serta SARUNG kali ini, diharapkan pengurus yang terpilih dapat menunjukkan dedikasi dan kemampuannya untuk memperlihatkan prestasi kerja yang nyata. Terlebih mengingat tantangan kedepan yang semakin berat dan mengharuskan setiap individu yang terpilih menjadi pengurus bersikap tanggap dan tepat dalam menentukan kebijakan-kebijakannya. Jika boleh diibaratkan, kepengurusan periode sekarang tak ubahnya Dewan Perwakilan Rakyat. Perlu diingat tentunya, mereka bukan Babby Sitter yang mengasuh bayi yang hanya bisa menangis. Bukan pula komandan perang yang mengepalai prajurit-prajurit yang pasti taat.[Ashley]

9


Syaikh Nawawi al-Bantani kreator Tafsir Munir; Cendekiawan Muslim Indonesia yang "Besar" di Makkah Siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini? Namanya begitu tenar hampir di seantoro dunia Islam. Maka tak heran bila para ulama Mesir menganugerahkan gelar Sayyid Ulama' Hijaz ("Pemimpin para ulama Hijaz") kepadanya. Di Indonesia sendiri, terutama di pesantren, nama al-Bantani sendiri lebih banyak gaungnya daripada ulama lain sekelas al-Bukhari dan Muslim. Syaikh Nawawi bin Umar lahir pada tahun 1230 H (1815 Masehi) di desa Tanara, Banten. Sejak kecil ia bersama saudara-saudaranya (Tamim dan Ahmad) belajar ilmu agama kepada ayah mereka sendiri, Kiai Umar ibn Arabi, seorang penghulu di Tanara. Mereka juga ngangsu kaweruh kepada Kyai Sahal (Banten) dan Kiai Yusuf (Purwakarta). Pada usianya yang ke-15, Nawawi pergi ke Makkah untuk melakukan ibadah haji sekaligus menetap di sana selama 3 tahun guna mendalami ilmuilmu agama. Dan rupanya hati Nawawi terpikat dengan kehidupan intelektual di Mekkah, sehingga setelah ia tiba di Tanara banten, tak lebih dari setahun ia meneruskan perjuangan ayahnya mengajar. Setelah itu, Nawawi pun kembali belajar ke Mekkah dan tinggal di sana selamanya. Di Makkah, selama 30 tahun (antara tahun 18301860) Nawawi berguru kepada Syaikh Khatib Sambas, pemimpin tarekat Qadiriah dan penulis kitab Fath al-'Arifin, (bacaan pengamal tarekat di kawasan Asia Tenggara), Syekh 'Abd al-Ghani Bima, Syekh Y u suf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, serta 'Abdu al-Hamid Daghestani. 10

Dalam penggambaran Snouck Hurgronje, disebutkan bahwa Nawawi adalah orang yang rendah hati (tawadlu'). Meski kedudukan Nawawi di Makkah sangat tinggi, hingga hampir semua orang di Makkah ingin mencium tangannya, ia tidak pernah sekalipun menolak orang yang meminta nasihat kepadanya dalam bidang agama. Selain itu, ciri yang menonjol dari Nawawi adalah sikapnya yang moderat. Ini terlihat misalnya ketika ia dimintai fatwa oleh Sayyid Ustman bin Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia yang menurutnya telah te r l e g i t i m a s i d a l a m "sistem yang durhaka" Baru-baru ini diketahui bahwa Sayyid Ustman bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai p e n g g e r a k pemberontakan Banten 1888. Namun secara hatihati Nawawi menjawab dengan bahasa yang m a n i s t a n p a menyinggung perasaan Sayyid Ustman. Sebab Nawawi tahu bahwa di satu sisi ia memahami kecenderungan masyarakat Jawa yang senang akan dunia spiritual dan di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung dalam persoalan politik. Kematangan intelektual Nawawi ditunjukkannya dengan menjadi pengajar di Masjid Haram. Di sela-sela waktu senggangnya ia menulis bukubuku, kisaran tahun 1860-1870. Terbukti, bahwa ia adalah penulis yang produktif dan berbakat. Tulisan-tulisannya meliputi seluruh aspek ilmu agama, mulai nahw, fiqh, aqidah, akhlak, sirah nabawiyyah, al-Qur'an dan hadits. Hanya sayangnya, hanya beberapa saja yang sampai kepada kita.


Serial (1) pakar tafsir Indonesia

Di antaranya: Syarh al-Jurumiyyah, Lubab Al-Bayan, Kasyifah al-Saji, 'Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-zaujain, Dhariyyat Al-Yaqin, Bahjat al-Wasil bi Syarh al-Masil, Fath al-Mujib, Syarh Sullam al-Manajah, Tanqih al-Qaul al-Hatsits dan termasuk Tafsir Murah Labib li Kasyf Ma'ni al-Qur'an al-Majid, yang dikenal sebagai Tafsir Munir. Pemikiran Nawawi dalam bidang al-Qur'an dapat secara langsung dibaca melalui buah karya monumentalnya Tafsir Munir. Melalui kitab ini, pembaca dapat mengetahui lebih lanjut bagaimana sosok Nawawi menafsirkan al-Qur'an dalam bahasa Arab dan metode-metode yang ia pakai. Karena kitab ini pula, banyak ulama Mesir yang mengakui kedalaman ilmunya. Di Kairo, Tafsir Munir sering dirujuk sebagai referensi diskusi-diskusi ulama Al-Azhar. Sementara di Indonesia, beberapa pesantren bahkan menjadikannya kurikulum wajib bagi santri-santrinya. Tafsir ini disusun secara khusus dengan metode tahlili. Dibandingkan dengan tafsir Jalalain, tafsir ini lebih panjang dan lebih banyak content-nya. Jika tafsir Jalalain hanya menjelaskan kata-kata muradif (sinonim), maka pada Tafsir Munir, Nawawi menjelaskan maksud ayat tersebut secara sederhana. Hanya saja, Nawawi jarang mengetengahkan pendapat beliau dalam pendapat-pendapat yang dikutipnya. Nawawi cenderung tidak men-tarjih pendapatpendapat tersebut. Dimyati Badruzzaman dalam Tesis MA-nya di IIQ Jakarta tahun 2001 yang berjudul "Studi Kritis Kisah kisah Israiliyat dalam Tafsir Munir Karya Syekh Nawawi" menyebutkan bahwa Nawawi sengaja menyederhanakan tafsirnya, agar pembaca langsung memahami inti persoalan, tanpa harus dibawa ke metode ijtihad dalam menafsirkan AlQur'an. Adapun ilmu dan pendekatan yang sangat dominan mewarnai kitab Tafsir Munir adalah pendekatan bahasa seperti unsur balaghah, nahw, dan shorf. Dalam hal periwayatan, tafsir ini banyak menukil hadis, perkataan (qaul) sahabat dan tabi'in meski tanpa disertai sanad. Dilihat dari sudut ini, tafsir ini merupakan kombinasi dari tafsir bi al-riwayah dan bi al-ra'y. Sayangnya tafsir ini banyak mengemukakan riwayat israiliyat yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Hal yang menjadi kekurangan dalam kitab ini adalah sifatnya yang lebih cenderung beraliran salaf yaitu ber-khidmah kepada nash. Inilah yang membedakan antara tafsir dengan metode tahlili dengan maudlu'i. Pada metode tahlili, penafsir seakan pasif, hanya menunggu apa yang diminta oleh teks. Berbeda dengan tafsir maudlu'i dimana penafsir aktif mencari ayatayat yang mendukung topik yang dipilihnya. Disamping itu, menurut KH. DR. Ahsin Sacho' Muhammad, rektor IIQ Jakarta, tafsir ini tidak memiliki "sentuhan kemasyarakatan" (baca: melangit). Terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, kehadiran Nawawi sebagai orang Indonesia yang menjadi Sayyid Ulama' Hijaz tentu telah menorehkan tulisan emas bagi perjuangan kaum santri dan akademisi Indonesia. Tentu baik, jika serial tafsir-1 ini diakhiri dengan kutipan sya'ir : Hum Rijal wa nahnu Rijal.[Ibnu al-Qalam]

11


teriakan ilalang

Menggagas Kembali "Pluralisme Agama", bukan "Relativisme dalam Beragama" Pengantar Redaksi: Tulisan ini oleh penulis dimaksudkan untuk menanggapi tulisan saudari Fitrah Meutia dalam buletin al-faTH edisi 02/maret 2010 dengan judul Pengantar Kegelisahan Akademis Terhadap Wacana "Pluralisme Agama". Pada awalnya, pimpinan redaksi melakukan lobby kepada redaksi buletin al-faTH agar bisa memuat tulisan yang berkaitan. Dengan pertimbangan, bahwa hal semacam ini akan meramaikan pergulatan intelektual masyarakat Ushuluddin. Namun, karena satu dan lain hal, tulisan tersebut diputuskan dimuat dalam SARUNG edisi ke-9 ini semata untuk untuk tujuan akademik.

"Dalam Islam tidak dikenal Pluralisme agama, yang ada hanyalah toleransi dalam hubungan sosial." (al-faTH edisi 02/maret 2010). Satu kalimat tersebut menambah daftar panjang kebencian umat Islam terhadap terma "Pluralisme". Istilah yang juga pada Juli 2005 lalu memantik respon keras dari Majlis Ulama Indonesia. Perdebatan ontologis seputar definisi "pas" bagi terma ini pun terus berlanjut hingga sekarang. Penulis sepenuhnya menghargai paparan apapun mengenai hal tersebut. Karena dalam tulisan ini, penulis juga hanya ingin menyampaikan apa yang penulis pahami. Bisa benar, dan sangat mungkin salah. Selain juga untuk menanggapi penjelasan saudari Fitrah Meutia yang memahami Pluralisme Agama sebagai "penyama-rataan agama dengan segala doktrin yang terdapat di dalamnya". Fakta historis mengatakan bahwa ekslusifisme dalam memeluk agama dan fanatisme yang berlebihan terhadapnya, telah menimbulkan dehumanisasi peradaban manusia. Perang salib selama berabad-berabad, tidak terlepas dari konsepsi tentang fanatisme di masingmasing kubu Islam-Kristen. Adalah "Inna alDin 'Inda Allah al-Islam", yang ditentangkan dengan "extra ecclesiam nulla salus" (Tidak ada keselamatan di luar Gereja). Fenomena semacam ini kemudian membuat kita berfikir, apakah (permusuhan) ini yang dikehendaki oleh setiap agama?

Agaknya, pendefinisian suatu agama oleh penganut agama lainlah yang menyebabkan terjadinya proses interaksi yang kurang harmonis antar agama-agama. Sebaliknya, pengakuan akan kebenaran agama lain, bisa juga menyemai benih keraguan akan kebenaran agama yang selama ini kita anut, sehingga memungkinkan adanya formulasi sebuah agama baru, agama "Gadogado". Yaitu yang diadopsikan dari kebenarankebenaran beberapa agama untuk dijadikan satu ajaran utuh yang saling melengkapi. Inilah sebenarnya "relativisme dalam beragama". Ini pulalah yang dikhawatirkan oleh saudari Fitrah dalam tulisannya. Padahal menurut penulis, Pluralisme Agama tidaklah demikian. Merujuk definisi Nur Kholis Madjid yang dikutip oleh Abdul Moqsith Ghazali, "Pluralisme Agama" seyogyanya diterjemahkan sebagai "suatu sistem nilai yang memandang kemajemukan agama secara positif sekaligus optimis dengan menerimanya sebagai kenyataan (Sunnah Allah)". Dimaksudkan positif, karena kemajemukan tersebut bukanlah suatu kemungkaran yang harus dienyahkan, dan optimis, karena dengan bersikap plural, seseorang akan memahami bahwa kemajemukan tersebut sesungguhnya merupakan potensi agar setiap umat terus berlomba menciptakan kebaikan di bumi. to be continued, hlm. 14

12


gnalali nairat

Cincin Ketulusan... Senyum mentari menyibak tirai-tirai jendela kegelapan yang ronanya terkaburkan. Sekelebat sinaran dengan konfigurasinya merenggangkan pandangan-pandangan pekat manusia. Malam yang berarti dengan sang purnama dan tretesan bintang nan gemintang berlalu begitu saja, pergi tanpa ada salam dari pandangan-pandangan pekat itu. Tak ada kompetisi tentunya antara malam dan siang..hanya Kelaziman. Kelaziman yang menempatkan manusia pada salah satu sudut-sudut roda yang kian hari berputar semakin cepat. Masa yang dilalui, keadaan yang berubah, panas hujan yang mengguyur semua berlalu tanpa erti……………………… Dan roda itu kini berputar semakin cepat memekatkan pandangan, mengaburkan, Semua tampak tak peduli……………………, sesosok ruh terus menatap menggeleng dalam asa lingkaran ketulusan.. Disudut manakah dulu ia berada?? *** Langkah layu itu tampak semakin menjauh dan tersamarkan oleh guyuran hujan nan lebat. Dalam lebat derita yang menggontaikan langkahnya, Fathiya tetap berusaha terlihat tegar menyisiri jalanan becek berbatu, menantang fenomena alam yang mengharuskan manusia berteduh. Semenjak tadi, fikiran sadarnya dipenuhi dengan sebuah keinginan besar, "ia harus menemui Ibunya....." Sepanjang jalan ia menangis. Meski air matanya sedikit tersamarkan oleh guyuran hujan, orang yang melihatnya, masih bisa melihatnya sesenggukan. Di tengah ramainya alam, fikiran Fathiya berkecamuk. Ada perdebatan di otaknya antara dorongan halus untuk terus menangis sedih dan keinginan yang kuat untuk berhenti merengek dan menghiba karena dia "Fathiya".

Fathiya kecil nan manja kini adalah seorang mahasiswi dengan aneka ide yang seringkali membuat orang berdecak kagum. Konsep diri membuatnya menikmati hari-hari dalam rutinitas ganda. Dalam sepelik apapun konflik yang dihadapinya, ia masih dapat tersenyum. Itu karena Fathiya meyakini bahwa senyumnya akan tersambut oleh ribuan senyum ketulusan yang khusus dihadirkan oleh-Nya dalam nasihat bening. Tak tampak menggurui, yang terasa adalah jiwa yang menyatu. Akhirnya ia sampai di pangkuan Ibunya. Serta merta disungkurkannya tubuhnya keras-keras kepangkuannya."Bruk..". Ditengah hujan yang semakin deras, dikecupnya sebongkah batu kali yang mengukir nama Ibunya. Batu itu berkilat - kilat. Lama ia membenamkan mukanya dalam dekapan kehangatan pusara ibunya. Gemetar, jari-jarinya menengadah... "Getir jiwamu dalam bibir yang kaku, menggigil. Kini amat tampak jelas dihadapku bahwa kau amat sedang berduka atas kembalinya wanita agung dalam hidupmu pada Sang Pemilik Masa… Aku menjadi saksi kuat akan keperihan Nonaku tersayang. "ku ingin hapus air mata itu Nona..do'aku tak k an terhenti tuk sang kekasih, itulah dirimu, meski kau tak pernah tau. Kebahagiaanmu adalah bahagiaku dalam harap dan do'a agungku, behitu pula sedihku". *** "Salamun 'alaik ya ukhtii al-kariimah.." suara penuh semangat membuyarkan diamnya dipelataran kantor sekretariat BEM-J TH. Tempat dimana semangat dan konsepkonsepnya menggeliat. "eh..mm..yaa..alaik salam warohmatulloh wa barokatuh..". "'afwan ukhti..kaif haluk?? Sedang menunggu rapatkah? Atau sedang piket?" “Hari ini gak ada kegiatan apapun mas... Fathiya baik-baik kok.." 13


Lelaki yang dipanggil "mas" itu balas tersenyum. Dipandanginya lamat-lamat gadis yang dilabelkan sifat "kuat & tegar" padanya. Untuk beberapa detik ia melamun, meyakinkan dirinya apakah gadis di depannya itu benar-benar tidak sedang kalut. Ia tahu, kematian ibunya beberapa hari lalu tentu masih menghantui pikirannya. Ia juga menyadari, bahwa ia benar-benar tidak bisa berbuat banyak untuk gadis seperjuangannya itu. "Mas pergi dulu yach....! ada ujian" "Fathiya kini sendiri. Tak terasa matanya kembali basah. Tampak rona wajah yang penuh asa meski sendu menimpa. Lirih kudengar sesekali ia mengucap "Allah..Allah ...Allah". Aku jadi tahu, tangisnya bukan sekadar air mata tak bermakna. Tangisnya adalah munajat cinta. Baru ku paham betul bahwa ia tak pernah merasa sendiri. Kekasih Agungnya selalu dihadirkan. "Kau harus lulus ujian Fathiya..!!". Bisikku. Kurasakan air matanya membasahiku. Aku bertambah sayang kepadanya. Meski dia tak pernah tau ikhlasku mengasihinya. *** (To becontinued) by: Fitrah Meutia TH ‘08, aktif di PSLD (Pusat Studi dan Layanan Difabel) UIN SuKa

Menggagas kembali... hlm. 12

Dengan demikian, "Pluralisme Agama" bukanlah "bersikap liar" dengan meragukan kebenaran agama yang dianut, me-nisbi-kan kebenaran yang dikandungnya. Dan bukan pula "bersikap kaku" dengan cenderung menyalahkan orang lain yang berbeda keyakinan meskipun mengakui adanya kemajemukan. Dengan kata lain, Pluralisme Agama bukanlah suatu pandangan yang menyatakan semua umat manusia akan masuk surga, ataupun menyatakan bahwa Umat Islam nanti bisa saja terselamatkan oleh Yesus. "Pluralisme agama" bukanlah membenarkan semua agama. Namun ia memandang, semua agama memiliki jalan sendiri-sendiri dalam mencapai kebenaran. Dengan dilandasi keyakinan bahwa jalan kenebaran tidak hanya satu. Karena pada dasarnya, tidak ada agama yang melegalkan perbuatan-perbuatan kotor dan tercela. Pluralisme Agama bermaksud untuk menyama-ratakan hak tiap-tiap penganut a ga ma tertent u u nt u k t u mb u h d a n berkembang. Sehingga terciptalah hubungan yang saling mempercayai dan saling menghargai antar umat beragama tanpa menyalahkan satu sama lainnya. by: Abdul Qodir TH ‘08

Tahukah Anda, ternyata metode tertua dalam pembelajaran Alquran di Indonesia adalah metode Baghdadiah. Sesuai namanya, metode ini diadopsi dari Baghdad, semenjak pemerintahan Bani Abassiah. Proses pembelajarannya memiliki 17 langkah, dan pada masing-masing langkah semua huruf hijaiyyah ditampilkan. Pola bunnyi dan susunan huruf rapi, sehingga menimbulkan estetika tersendiri. Keterampilan mengeja menjadi ciri khas yang menarik dari metode ini. Metode ini masih digunakan hingga tahun 70-an di Indonesia, dan sepertinya sekarang sudah mulai luntur dimakan usia...

SARUNG menerima tulisan seputar Quran dan Hadis (max: 2 hlm quarto 1,5 spasi), opini (max: 2 hlm quarto, 1,5 spasi), dan sastra dalam bentuk puisi, cerpen, dll. Redaksi berhak menyeleksi tulisan yang akan diterbitkan dan mengurangi atau menambah dengan tidak merubah substansi makna tulisan. Yang berminat bisa menghubungi redaksi secara langsung atau via email: sarung_cssmora@yahoo.co.id


gallery

Ketum CSS MoRA UIN SuKA baru ngasih sambutan

welcome to Grojogan Sewu!

pimred SARUNG baru

ikrar dan pelantikan pengurus baru SARUNG

sebelum

narsis di tangga: awas jatoh...!!!

sesudah

SARUNG: mandi bareng

Rihlah ‘Alamiyah: Mengiringi pelantikan Pengurus CSS MoRA UIN SuKa 20102011, dan bertepatan dengan selesainya UTS, CSS MoRA membawa semua anggotanya untuk refreshing sejenak di Grojogan Sewu, Tawang Mangu, Solo. Eh... ternyata pengurus SARUNG yang belum dilantik dapat kesempatan. “Mas Ketua Panitia, ntar di tempatnya SARUNG minta waktu buat pelantikan ya..!!! hahaha... curang..!!!


Sarung... hlm. 7

Acara dimulai setelah melaksanakan Shalat Zuhur. Menimbang keterlambatan beberapa lama, dan para anggota sudah tidak sabar ingin bermain dan menikmati liburan, agenda sharing CSS MoRA (acara inti ed.) yang telah direncanakan tidak jadi dilaksanakan. Rangkaian acara langsung melompat kepada pelantikan crew SARUNG periode 2010/2011. Momen inilah yang dirasa begitu berharga bagi CSS MoRA UIN SUKA karena ini pertama kalinya CSS MoRA UIN SUKA mengadakan perekrutan crew SARUNG. Abdul Qodir, selaku Ketua CSS MoRA UIN SuKa, secara langsung melantik dan membacakan sumpah yang kemudian diikuti seluruh crew. Beliau mengharapkan kinerja yang lebih baik dari SARUNG untuk Crew SARUNG: mandi bareng habis pelantikan kepengurusannya yang akan datang. Perekrutan serta pelantikan ini bertujuan untuk meresmikan crew Sarung serta meningkatkan semangat kerja mereka. Usai pelantikan, SARUNG mengadakan musyawarah kecil-kecilan sekaligus m e l a k u ka n s e l e b ra s i "sumpah setia" secara internal. Selanjutnya, SARUNG ikut nimbrung bersama teman-teman CSS MoRA mandi bareng di lokasi Air Terjun Grojogan Sewu. Belum puas bermain, ternyata acara harus diakhiri pada pukul 16.00 WIB ditandai dengan adanya instruksi dari pembimbing. Dengan terpaksa harus menaiki anak tangga yang cukup menguras tenaga. Selamat bekerja crew SARUNG yang baru‌!!! [Ika]


Buletin 9: Sarung Kita Selesai Dipermak