Page 1

Edisi XVII

Laporan Khusus

About Irshad Manji Opini

Catatan untuk Para Politikus Kolom Kajur

Wajah Muslim indonesia dalam Kilasan Sejarah Cerpen

Kidung Luka di Bibir Sungai

Radikal Vs Liberal


Salam Redaksi Assalamu'alaikum Wr. Wb. Alhamdulillahi Rabbil 'alamin…., segenap piji Penasihat: Prof. Dr. Suryadi, M.Ag (Pengelola PBSB UIN Sunan Kalijaga) Penanggung Jawab: Pangeran S. Naga P. (Ketua CSS MoRA UIN Sunan Kalijaga) Pimpinan Umum: Siti Mas'ulah Pimpinan Redaksi: Muh. Ali Asy'ari Sekretaris: Nilda Hayati

syukur teruntuk Dzat Yang Maha Kuasa, yang telah membukakan jalan lapang bagi kami, Tim Redaksi Sarung, untuk dapat menyajikan bulletin SARUNG edisi ke-XVII. Meski banyak rintangan dan melewati mekanisme panjang (dan melelahkan), namun akhirnya SARUNG dapat kembali hadir di tengah-tengah kita. Tak lupa, ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berpartisipasi dalam pembuatan Biletin SARUNG, khususnya kepada CSS MoRA UIN Sunan Kalijaga (baik anggota maupun pengurus red.) atas do'a serta support yang tak henti – hentinya mengalir (meski di tengah kesibukan kuliah dan seabrek tugas organisasi).

Bendahara: Zuraidha Hanum Editor: Siti Sahila Arasy Mulyazir Layout: Reno Novriadi M. Zainul Hakim M. Mufid M.

SARUNG edisi ke-XVII ini akan mengupas seputar Fundamental dan Liberal dalam menyoroti berbagai problem yang dihadapi masyarakat beru-beru ini, termasuk di antaranya adalah pro-kontra konser Lady Gaga dan buku Allah, Liberty and Love beserta penulisnya, Irshad Manji,

Selamat membaca…..

Dir. Produksi: A. Syaifullah M. Syafi'ie Kemas M. Intizam Dir. Pemasaran Halimatus S. Azam Anhar Yulia Rahmi Staff Redaksi: Asep Nahrul M. Wali Ramadhani Siti Fauziah

1

Laporan Utama


Laporan Utama

Buletin

Edisi XVII

Radikal Vs Liberal

I

SU-ISU KEAGAMAAN TIDAK PERNAH TERLEPAS datang ke lokasi kejadian. Aksi ini pun mendapatkan banyak kecaman DARI KEHIDUPAN MANUSIA KARENA AGAMA dari berbagai pihak terutama dari pihak yang kontra MERUPAKAN BAGIAN DARI KEHIDUPAN terhadap tindakan anarkis ini. SERTASEBAGAI SUMBER ATURAN DALAM BERPenolakan serupa tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di Amsterdam, KEHIDUPAN. Belanda, Malaysia dan beberapa negara lainnya. Baru-baru ini kita dihebohkan dengan Terkait penolakan tersebut, Irshad Manji merebaknya isu tentang Irshad Manji dan Lady mengatakan bahwa ia tidak akan gentar dengan Gaga. Mengenai Irshad Manji yang datang ke berbagai ancaman dan penolakan tersebut dan ia Indonesia dalam rangka pepromosian buku barunya akan terus menerbitkan buku-bukunya. yang berjudul Allah, Liberty, and Love, secara garis Begitu juga halnya pro-kontra kasus konser besar terdapat tiga kelompok yang menyikapinya. Lady Gaga di Indonesia. Setelah beberapa lama Lady Pertama, yang pro terhadapnya, seperti ormas- Gaga dan kontroversinya menghiasi pertelevisian ormas yang dianggap liberal. Kedua, yang kontra Indonesia, akhirnya konser yang telah menjual terhadapnya, seperti ormas-ormas yang dianggap sekitar 50.000 tiket itu dibatalkan oleh pihak radikal. Dan ketiga, kelompok yang tidak peduli managemen Lady Gaga sendiri dengan alasan dengan wacana ini. keamanan. Insiden pembubaran paksa diskusi Menyikapi kontroversi antara kaum radikal mengenai buku Allah, Liberty, and Love karya Irshad dan liberal, salah satu Stasiun Televisi swasta Manji di Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) I n d o n e s i a , T V O n e , ra b u m a l a m ( 1 6 / 5 ) Banguntapan, Bantul yang terjadi pada Rabu malam mempertemukan kedua kubu dalam program acara (9/5/2012) , mengakibatkan tujuh orang (5 ILC (Indonesian lawyer Club) untuk berdialog secara perempuan dan 2 laki-laki) terluka. damai. Sebelumnya beberapa ancaman agar Dalam acara tersebut, ketua An Nashr diskusi itu dibatalkan sudah diterima oleh pihak Institute, Munarman, SH membantah sejumlah panitia. Akan tetapi, karena menganggap massa klaim dan tuduhan aktifis liberal, Ratna Sarumpaet tidak memiliki otoritas pelarangan, diskusi itu tetap kepada ormas-ormas Islam. dilangsungkan. Diskusi yang dihadiri sekitar 50 Bantahan pertama terkait klaim sepihak orang itu dimulai pada pukul 19.00 WIB. Diskusi Ratna Sarumpaet bahwa kelompok liberal mewakili tersebut berlangsung lancar sekitar 45 menit, Silent Majority (Istilah untuk kelompok atau namun tiba-tiba muncul pekik takbir dari sejumlah masyarakat yang tidak mengekspresikan pendapat massa. Massa yang sedang emosi segera mereka secara terbuka-red), menurutnya membubarkan paksa diskusi tersebut, sehingga pengakuan tersebut merupakan pengakuan yang menyebabkan beberapa orang terluka. setelah tidak memiliki fakta. massa membubarkan diri, baru kemudian polisi “Kelompok yang selalu mengklaim Silent Salam Redaksi

2

Next


Buletin

Laporan Utama

Edisi XVII

Majority, seolah-olah mewakili Silent Majority, padahal nggak ada itu. Kita pernah uji di lapangan dan itu tidak terbukti, itu omong kosong besar.” Kata Munarman. Selanjutnya Munarman membantah kesan bahwa negara tunduk dan dikontrol oleh tekanan kelompok-kelompok Islam saja. “Seolah-olah negara mengikuti kelompok tertentu, padahal mereka (baca: liberalis) meminta membubarkan FPI, mereka juga menekan-nekan negara dan hendak mengendalikannya. Dulu mereka juga meminta dibatalkannya RUU APP.” Lontar Munarman. Lebih dari itu, menurutnya jika mereka merupakan liberalis sejati, seharusnya mereka membebaskan pula kelompok manapun untuk berpartisipasi menuntun negara, bukan malah membatasinya. Munarman juga membantah pernyataan Ratna Sarumpaet yang menyatakan bahwa Kelompok Islam tidak mengurus persoalan kemiskinan, penzaliman terhadap TKI di luar negeri, dan persoalan korupsi. Menurut Munarman, pernyataan tersebut tidak benar, karena seluruh ormas Islam sudah bekerja menangani kemiskinan. Bahkan terkait persoalan TKI yang mengalami masalah di Arab Saudi, FPI sudah mengadvokasi dan memberi bantuan langsung ke rumah sakit di Madinah, ketika pihak-pihak lain belum dapat menembus ke sana. Munarman juga menantang kelompok liberal untuk membuktikan bahwa mereka mewakili masyarakat mayoritas secara riil, dan menghentikan klaim sepihak yang selalu mereka bangun. “Saya kira kalau dipertandingkan misalnya, Kita uji saja, kita ilmiyah, faktual, saya tidak mengkhayal-khayal. Kita lihat di Internet lebih banyak mana orang yang meminta pembubaran JIL atau FPI? permintaan agar JIL

Prev.

3

dibubarkan yang lebih banyak! Tidak ada klaim seperti itu, berhentilah mengklaim sebagai perwakilan mayoritas.” tuturnya. Dia pun mengutarakan pandangan bahwa jika persoalan kenegaraan dikembalikan kepada parameter konstitusi, tidak ada masyarakat yang harus berpedoman kepada ukuran kemanusiaan, melainkan kepada religiusitas. Al-Khathath, sekjen FUI (Forum Umat Islam) mengutarakan bahwa Lady Gaga adalah salah satu bisnis Yahudi. Yahudi telah menguasai Amerika dan akan menguasai Indonesia dengan musik, Lady Gaga, Irshad Manji dan lainnya.

Laporan Khusus


Laporan Khusus

Buletin

Edisi XVII

About Irshad Manji Irshad Manji lahir di Uganda pada tahun 1968, ayahnya berkebangsaan India Gujarat dan Ibunya berkebangsaan Mesir. Dia pindah ke Kanada pada umur empat tahun karena adanya pengusiran dari diktator Uganda yang berkuasa pada saat itu yaitu Idi Amin Dada. Keluarga Irshad memutuskan pindah ke Vancouver, Kanada pada tahun 1972, melalui pelabuhan di Montreal. Irshad Manji tumbuh menjadi wanita yang cerdas dan kritis, terlebih ia terjun dalam bidang jurnalistik. Pemikirannya tentang Islam dan juga kebebasan sangat mewarnai tulisan dan juga program-program televisi yang dibuatnya. Di Kanada, Irshad dibesarkan dalam dua jenis sekolah, sekolah publik yang sekuler, yang bernama J.N. Burnett Junior Secondary School dan di madrasah selama beberapa jam setiap hari sabtu. Sementara ia unggul di sekolah umum, Irshad dikeluarkan dari madrasah padausia 14 tahun karena dinilai terlalu banyak bertanya. Lalu, ia meneruskan belajar tentang Islam dari berbagai sumber, terutama perpustakaan. Irshad juga mendatangkan guru Bahasa Arab, yang membantu dia memahami al-Qur'an dalam bahasa aslinya. Selama dua puluh tahun lebih."Saya memilih tetap menjadi Muslim dan menjalani ajaran Islam," Paparnya kala itu. Irshad Manji lebih dikenal sebagai seorang jurnalis oleh masyarakat, wartawan danadvokat dari interpretasi “reformasi dan

Laporan Utma

progresif” Islam. Dia juga terkenal sebagai kritikus aliran tradisional Islam dan telah dijelaskan oleh The New York Times sebagai mimpi terburuk “Osama bin Laden. Dan satuhal yang kontroversial darinya ialah karena menyatakan secara terbuka bahwa dia adalah seorang lesbian. Dia menjabat sebagai Direktur Proyek Keberanian Moral di Sekolah Robert F. Wagner Pascasarjana Pelayanan Publik di Universitas New York, yang bertujuan untuk mengajarkan para pemimpinmu untuk “menantang kebenaran politik, kesesuaian intelektual dan sensor diri. Dia juga pendiri dan presiden- Proyek Ijtihad, sebuah organisasi amal-mempromosikan “tradisi berpikir kritis, perdebatan dan perbedaan pendapat” dalam Islam, di antara jaringan “dari reformis Muslim dan sekutu non-Muslim.” Ia juga pernah menjabat sebagai produser eksekutif dari sebuah saluran TV yang didedikasi untuk spiritualitas. D i a nta ra ka r ya - ka r ya nya a d a l a h bukuManji yang paling terakhir, Allah, Liberty and Love dirilis pada bulan Juni 2011 di AS, Kanada dan Negara lainnya. Buku ini berisikan tentang bagaimana mendamaikan iman dan kebebasan dalam dunia yang mendidih dengan dogma represif. Kunciajaran Manji adalah keberanian moral, kemauan untuk berbicara ketika orang lain ingin membungkam mulut.

4

Next


Buletin

Laporan Khusus

Edisi XVII

Buku Manji sebelumnya, The Trouble with Islam Today (awalnya diterbitkan sebagai Trouble with Islam), ia menulisnya sebagai surat terbuka bagi sesama muslim, telah diterbitkan lebih dari 30 bahasa, termasuk Bahasa Arab, Persia, Urdu, Melayudan Indonesia. Buku itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia "BerimanTanpa Rasa Takut: TantanganUmat Islam SaatIni". Diterbitkan Koalisi Perempuan Indonesia dan Nun Publisher. Karya tersebut diluncurkan di Perpustakaan Nasional Jakarta (22/04/2008). Isinya mirip surat terbuka yang sekaligus bercerita pengalaman keislamannya sejak kecil hingga dewasa. Dia terganggu dengan cara Islam yang dipraktikkan saat ini dan pengaruh Arab di Islam yang mengambil individualitas perempuan serta memperkenalkan konsep kehormatan perempuan. Salah satu karya filmnya adalah, Roberr F. Wagner Graduate School of Public Service dan film Faith Without Fear, yang tayang pertama kali di bulan April 2007. Sebuah film dokumenter berdasarkan bukunya, atas permintaan PBS (America's Public Broadcaster). Irshad Manji telah menghasilkan dokumenter PBS, Faith Without Fear, sebagai upaya untuk “mendamaikan imannya kepada Allah dengan cintanya pada kebebasan”. Ketika terbit perdana pada bulan September 2003, berbulan-bulan buku ini menjadi buku terlaris di Kanada, Amerika serikat, disusul negara-negara lain dengan versi terjemahan. Ia meraih penghargaan pada bulan Februari 2007 dariUniversitas Rice,Texas, Houston. Ia juga mendapatkan penghargaan Chutzpah Award oleh Oprah Winfrey, seorang keturunan Afrika-Amerika. Selain itu ia juga mendapatkan penghargaan lain dari Honorary Doctorate, University of Puget Sound.

Prev.

Pemikiran Irshad Manji Ideologi Ketakutan (Ideology of Fear) 1. Di dalam wawancara dengan VOA TV, Washington DC, Irsyad Manji menegaskan pemikirannya : “Let me tell you where I stand, I have always been clear that islam began as religion of justice, but it has become corrupted into an ideology of fear. And we moslemsprimerely who are responsible for the corrupting”.

Pernyataan tersebut berawal dari suatu prinsip bahwa islam adalah agama keadilan (religion of justice), dan dalam perjalanannya ia terperangkap dalam apa yang ia sebut dengan ideology ketakutan (ideology of fear). Pesan utama dari ideologi ini adalah bahwa kita tidak perlu memiliki ketakutanakan Tuhan, karena Tuhan adalah cinta. Kita perlu berjuang dalam hidup tanpa ketakutan. Kita harus punya kekuatan untuk berbicara ketika semua orang menyuruh kita diam. Karena ada hal yang lebih penting yang dapat kita lakukan selain hanya merasa takut. Keberanian Moral (Moral Courage) 2. Kata kunci ajaran Irshad Manji – sebagaimana yang ia nyatakan terletak pada “keberanian moral”. Robert F. Kennedy menggambarkan keberanian moral sebagai kesediaan untuk berbicara kebenaran terhadap pihak kuasa dalam suatu komunitas demi kebaikan yang lebihbesar. Hal ini merupakan tahap lanjutan dari kesadaran akan ideologi ketakutan. Dalam pandangannya, integritas jauh lebih penting dibandingkan identitas. Identitas bisa menjebak, sedangkan integritas bisa memberikan kebebasan.

5

Next


Laporan Khusus Keberanian moral akan terus berusaha m e n c a p a i i n te g r i ta s , m e s k i p u n h a r u s “menanggalkan” identitas. Dalam pandangan Irshad, keberanian moral memungkinkan masingmasing dari kita untuk menggunakan nurani, menggantikan consensus denganin dividualitas, dan lebih mendekatkan kepada Sang Pencipta melalui pengenalan terhadap diri sendiri. Formula utama keberanian moral adalah adanya suatu keyakinan yang hanya melibatkan “persetujuan” Tuhan dan hati nurani dalam setiap tindakan, tanpa melihat hal lainnya. Islam yang Real atau yang Ideal ? 3. Ketika ia ditanya tentang definisi agama, beliau menjawab: Agama adalah cara kita bersikap terhadap orang lain. Sederhana, tanpa harus menyederhanakan. Dengan definisi itu, cara muslim bersikap – bukan dalam teori tapi dalam kenyataan – itulah sesungguhnya Islam. Perasaan puas terhadap diri sendiri adalah Islam. Ijtihad: Konsep Kunci Pemikiran Irshad Manji Dalam hal ijtihad ia mengatakan : “Aku hanya menyerukan agar semangat ijtihad disebarluaskan, tidak hanya sebatas untuk akademisi dan para teolog. Singkirkan elitism yang menanamkan pola kepatuhan dikalangan muslim-kepa tuhan menghentikan kita untuk menyuarakan dogma yang dipolitisasi dan ketinggalan zaman.”

Buletin

Edisi XVII

banyak hal. Sesosok Feminis-Lesbian Selain karena pemikiran-pemikirannya yang bersifat liberal, ia juga mengampanyekan kebolehan LGBT (lesbian, gay, bisexual, dan transgender/trans-sexual). Tidak hanya melakukan eksplorasi kehidupan gay dan lesbian, bahkan ia juga mengaku sebagai seorang lesbian. Sebagaimana ungkapannya: “saya adalah seorang lesbian dan saya tidak meminta persetujuan kaum Muslim atas orientasi seksual saya. Saya hanya meminta persetujuan dari dua entitas saja: Sang Pencipta dan nurani saya.” Label lesbian yang melekat padanya seolah tak menjadi persoalan bagi dirinya karena menurutnya setiap manusia dilahirkan dengan keunikan masing-masing. Ia percaya bahwa keputusannya untuk tidak menikah dan berpasangan dengan sesame jenis bukanlah hal yang menyalahi kodrat. Ini karena ia memiliki alasan tertentu mengenai hal tersebut. Ia merasa bersalah bila membawa kehidupan baru kedunia yang dinilainya kacau seperti sekarang. Tidak etis baginya untuk melahirkan anak didunia kekerasan seperti ini. Sehingga lebih baik baginya untuk berpasangan dengan sesama jenis. Ia percaya bahwa ia dapat melahirkan dalam bentuk apapun seperti melahirkan ide dalam bentuk tulisan, lukisan dan lain-lainnya.

Ijtihad dalam versinya adalah perjuangan untuk memahami dunia dengan menggunakan pikiran. Ijtihad adalah praktik berpikir yang independen, yang tidak terpengaruh oleh apapun. Ijtihad tidak membungkam manusia untuk menanyakan sesuatu. Ijtihad membuka jalan bagi manusia untuk mengembangkan Prev.

6

Kolom Kajur


Buletin

Kolom Kajur

Edisi XVII

Wajah Islam Indonesia dalam Kilasan Sejarah Antara Legal Formalis dan Non Legal Formalis Muslim Inayah Rohmaniyah, S.Ag, M.Hum, MA*

Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, namun yang paling tidak ter-arabisasi-kan, dan negara dengan mayoritas Muslim terjauh dari tanah suci (Nurcholish Madjid) Pernyataan Nurcholish Madjid pada tahun 60-an ini menggambarkan fenomena Islam Indonesia sebelum tahun 80-an. Islam dengan wajah yang sarat dengan nilai-nilai budaya lokal (tidak ter-Arabisasikan) terutama jika dilihat salah satunya dari simbol-simbol yang dapat dilihat di wilayah publik. Islam dengan gambaran yang lebih menekankan pada nilai etis dan sikap serta perilaku umat, dan tidak mengedepankan simbol-simbol fisik dan jargon-jargon yang melambangkan identitas kelompok. Wajah Islam yang berbeda dengan apa yang sering menggejala akhir-akhir ini, yang bahkan diwarnai dengan kekerasan dengan mengatasnamakan pembelaan terhadap Islam. Ketiadaan simbol-simbol keagamaan pada era sebelum 80-an tersebut dapat dilihat dari dua perspektif yang berbeda tetapi saling terkait. Dari perspektif gerakan sosial, pengaruh gerakan sosial Islam global belum mewarnai wajah pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Dari perspektif politik, hal tersebut dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintahan era Presiden Soeharto (1966-1998), yang mengatur bahwa seluruh organisasi dan partai politik harus menunjukkan kesetiaannya pada Pancasila dan berdasarkan pada asas tunggal, yaitu Pancasila. Salah satu kebijakan politik Presiden Suharto yang terkenal pada masa tersebut adalah pelarangan penggunaan segala simbol-simbol Islam di wilayah publik (depoliticizing Islam). Kebijakan politik tersebut memunculkan Laporan Khusus

respon yang berbeda dari kalangan masyarakat Muslim, terutama terkait dengan persoalan peran Islam dalam konteks negara dan strategi menghadapi kekuasaan negara. Masyarakat muslim secara umum terbagi dalam dua kelompok yang memiliki pandangan berbeda. Abdurrahman Wahid menyebutnya sebagai kelompok non-legalformalist Muslims dan Legal-Formalist Muslims. Kelompok pertama yaitu yang menerima Pancasila sebagai dasar bagi kehidupan sosial dan politik. Pancasila dengan lima prinsipnya dalam konteks ini dipandang sebagai jalan tengah ideal yang dapat mempersatukan masyarakat Indonesia yang plural dan menjunjung prinsip toleransi. Nilai-nilai Islam menurut kelompok ini secara prinsip sudah termuat dalam kelima sila di dalam Pancasila. Kelompok kedua adalah mereka yang menghendaki Islam secara formal menjadi bagian integral dan dasar dari kehidupan bernegara. Mereka menolak untuk mengakui Pancasila sebagai dasar falsafah dan kehidupan bernegara. Perbedaan dua kelompok tentang peran Islam dan dasar negara terlihat ketika bunyi sila pertama dari Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa� dipersoalkan oleh kelompok Legalformalist Muslims. Menurut kelompok ini pencantuman sila pertama tidak jelas, sehingga perlu ditambah dengan kata-kata “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya.� Dokumen yang memuat pernyataan tersebut tidak disepakati oleh mayoritas dan

7

Next


Kolom Kajur sampai sekarang dikenal dengan Piagam Jakarta. Kedua kelompok pada awalnya sepakat untuk melakukan kegiatan dakwah dengan basis masyarakat, namun mereka tidak sepaham tentang agenda politik jangka panjang. Pada era Orde Baru, kelompok legal-formalist Muslims tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan resistansi mereka terhadap Pancasila. Namun demikian, mereka tetap bekerja di masyarakat baik melalui lembaga pendidikan, lembaga dakwah, maupun lembaga kemasyarakatan lainnya dan berpegang teguh pada idealisme terwujudnya Negara Islam. Pada era ini istilah fundamentalisme, radikalisme, liberalisme, dan sekularisme hampir tidak muncul dalam perdebatan publik. Sampai akhir tahun 70-an, simbol-simbol Islam secara virtual belum nampak di wilayah publik. Salah satu simbol yang mudah dikenali misalnya terkait dengan fenomena jilbab. Perempuan pada era tersebut tidak mengenakan model pakaian seperti halnya yang saat ini disebut sebagai jilbab atau pakaian Islami. Koleksi foto-foto perempuan bahkan dari kalangan pesantren pada tahun 60-an atau 70-an menjadi bukti sejarah yang akurat. Perempuan kadang mengenakan apa yang disebut dengan kerudung/kudung di kepala mereka dengan bentuknya yang panjang, transparan dan ringan. Kerudung bahkan kadang disangkutkan pada gelungan rambut (rambut perempuan biasanya panjang dan digelung atau digulung) tanpa menutupi rambut bagian depan. Pelajar perempuan mengenakan seragam rok pendek dan blouse lengan pendek tanpa penutup kepala, kecuali kadang topi seragam. Di arena publik, baik di perkantoran, jalan umum, tempat perbelanjaan maupun hiburan, perempuan mengenakan baju daerah atau pakaian nasional yang tidak dikaitkan dengan agama tertentu. Di pesantren, santri perempuan juga mengenakan busana yang sama

Prev.

Buletin

Edisi XVII

atau kadang mengenakan kain panjang, kebaya model kupu baru dengan sebagian dada dan leher terbuka dan kerudung yang transparan. Berbagai istilah seperti ikhwan dan akhawat, baju koko, jilbab, konsep peraturan daerah syariah (Perda Syariah) maupun jargon atau kalimat yang diambil dari Islam yang di pasang di jalan-jalan besar dan tempat umum, belum mewarnai wajah Islam nusantara. Partai politik yang berdasarkan agama dan organisasi masyarakat yang mengusung simbol Islam juga belum meramaikan atau mendominasi kehidupan berpolitik dan bernegara. Partai-partai Islam tidak mendapatkan perolehan kursi yang signifikan dalam pemilu dan pada tahun 1973 berfusi ke dalam satu partai yaitu PPP. Pada akhir 1980-an Presiden Suharto dengan para pembantunya mulai merangkul kalangan Muslim. Salah satu teori mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan karena dukungan dari pihak militer untuk mengokohkan kekuasaannya yang sudah mulai melemah. Puncak kedekatan pemerintah dengan Islam terjadi pada tahun 1990 ketika Presiden Suharto meresmikan pendirian ICMI pada tanggal 6 Desember 1990. Pendirian ICMI ini mempunyai dampak besar terhadap wacana politis maupun ideologis pada

Sampai akhir tahun 70-an, simbol-simbol Islam secara virtual belum nampak di wilayah publik. Salah satu simbol yang mudah dikenali misalnya terkait dengan fenomena jilbab.

8

Next


Buletin

Kolom Kajur

Edisi XVII

tahun 1990-an. Di sisi lain, pada tahun yang sama pengaruh Islam dari luar negeri terutama Timur Tengah juga mulai dapat dilihat. Islamisasi yang diidealisasikan oleh kelompok legal formalist dengan sejarahnya yang panjang mendorong dan memperkuat adanya interaksi yang produktif antara kaum intelek Indonesia dan para gurunya di Timur Tengah. Mahasiwa dikirim untuk studi di Mesir dan Saudi Arabia serta berinteraksi dengan berbagai gerakan seperti Ikhwanul Muslimin dan Salafi-Wahhabi. Mereka kembali ke Indonesia dengan membawa buku-buku dan gagasan tentang pentingnya memperbaharui kepercayaan dan praktek Islam. Proses tersebut terus berlanjut dan bahkan semakin menguat. Menurut sebuah teori, trend pada tahun 80-an ini secara luas dipengaruhi adanya empat faktor eksternal antara lain: adanya dana dari Saudi Arabia; perkembangan gerakan kelompok-kelompok Muslim yang berbasis di kampus-kampus sekuler yang mendorong berkembangnya industri Penerbitan Muslim dan penerbitan buku-buku versi terjemah karya Ihkwanul Muslimin maupun Salafi-Wahhabi; perang di Afghanistan; dan didirikannya Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta yang merupakan cabang dari Universitas Imam Muhammad bin Saud di Riyadh. Salah satu perkembangan terpenting dari gejala tersebut adalah penyebaran gagasan dan ideologi Ikhwanul Muslimin dan salafiWahhabi di Indonesia. Fenomena gerakan Islam semakin tampak seiring dengan munculnya gerakan reformasi yang menyusul berakhirnya pemerintahan Presiden Suharto pada tahun 1998. Reformasi di satu sisi mendorong dan meningkatkan proses demokratisasi di Indonesia. Namun demikian, di sisi lain era reformasi juga menjadi angin segar bagi kebangkitan organisasi dan kelompok legal formalist Muslim yang secara epistemologis mendasarkan pada teks agama secara tekstual deduktif (teks adalah kebenaran), dan pada umumnya menjadi gerakan sosial keagamaan yang lebih terorganisir. Reformasi bahkan memberi peluang munculnya gerakan sosial keagamaan yang permisif menggunakan kekerasan atas nama agama. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan terhadap Islam radikal di Indonesia meningkat dan bahkan gambaran yang nyata Islam di Indonesia pasca era Suharto adalah gambaran Islam radikal. Penelitian lain menemukan adanya peningkatan salafi dan salafi jihadi sebagai manhaj (metodelogi) bagi gerakan radikal di Indonesia. Munculnya fenomena gerakan Islam pasca reformasi dapat dilihat dari maraknya simbol-simbol Islam di wilayah publik. Salah satu gejala yang mudah dilihat adalah populernya apa yang sering disebut sebagai Prev.

9

Next


Kolom Kajur

Buletin

Edisi XVII

jilbabisasi atau lautan jilbab, yaitu jilbab dengan modelnya yang sangat berbeda dengan kerudung pada era sebelum 80-an. Jilbab bahkan dianggap menjadi penanda dan pembeda seseorang sebagai Muslimah yang baik, sebuah pelabelan dan anggapan yang tidak muncul pada era sebelumnya. Selain itu, pembentukan partai politik Islam juga menjadi trend baru di arena politik tanah air. Banyaknya partai politik Islam yang mengikuti Pemilihan Umum tahun 1999 (20 dari 48 partai politik) merupakan fakta historis keterlibatan Islam secara formal di wilayah publik/politik. Sebagian bahkan dengan menggunakan asas, simbol dan nama Islam. Selain itu, fenomena lainnya adalah maraknya Islam garis keras atau Islam radikal, dengan cirinya yang intoleran, ekslusif dan bahkan menggunakan kekerasan dengan mengatasnamakan keyakinan agama. Pendekatan historis dan epistemologis terhadap fenomena gerakan maupun pemikiran keagaamaan di Indonesia memperlihatkan bagaimana Islam yang digambarkan oleh Nurcholish Madjid pada tahun 60-an telah mengalami pergeseran. Islam yang dahulu tidak ter-Arabisasikan, sejak tahun 80-an mulai terArabisasikan dengan maraknya penggunaan bahasa Arab bahkan di jalan-jalan besar dan tempat umum, pakaian ala Arab (jilbab, cadar, gamis dll), istilah arab (Ihkwan-Akhawat), pembatasan gerak dan kontrol terhadap perempuan, dan berbagai simbol lain yang sebelumnya tidak ada. Perubahan paradigma dan orientasi merupakan bagian yang tak terelakkan dari kehidupan manusia dan keberagamaan masyarakat. Yang perlu menjadi catatan adalah pentingnya kesadaran historis, epistemologis dan aksiologis dari sebuah perubahan yang ada di masyarakat kita. Dengan kesadaran tersebut diharapkan perubahan akan mengantarkan manusia pada keadaan yang lebih baik dan bukan sebaliknya, mengantarkan manusia kepada masa barbarian yang penuh dengan intoleransi, kekerasan dan gelimang darah, atas nama apapun.

* Penulis adalah tenaga pengajar Fakultas Ushuluddi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ph.D Cand. Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Yogya, Pengurus Harian PKBI DIY, dan Peneliti di PSKK UGM.

Prev.

10

Ke-TH-an


Buletin

Ke-TH-an

Edisi XVII

Reinterpretasi Makna Jihad di Indonesia Oleh : Wali Ramadhani (CSS UIN SUKA '10) Maka disebabkan oleh rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan mereka. (QS. Ali-Imran : 139) Kata jihad seolah menjadi penyebab

al-Qur'an banyak terdapat ayat yang

adanya kekerasan dan intoleran dalam Islam. berisi perintah untuk berperang, namun Sejak abad kedua Hijriyah hingga sekarang, banyak pula ayat-ayat yang berisi perintah kata Jihad selalu dicampuradukkan dengan untuk bersikap toleran. Secara dzahir terkesan istilah qital, qatl, harb, dan ghazwu dengan kontradiktif antara kedua jenis ayat-ayat itu, dalih adanya sinonimitas. Padahal kata Jihad Sehingga di- sebagian kalangan umat muslim sendiri secara etimologi berakar kata dari kata terdapat anggapan yang menyatakan bahwa “al-Jahd” yang berarti “letih atau sukar”. Ada ayat-ayat toleransi telah dinasakh oleh ayatjuga yang berpendapat bahwa jihad berasal ayat peperangan. Namun hal ini dikritik oleh dari akar kata “al-Juhd” yang berarti Syaikh Muhammad al-Gazali : “kemampuan”. Ini disebabkan karena jihad

“asumsi bahwa ada 120 ayat-ayat

menuntut kemampuan dan harus dilakukan

dalam al-Qur'an yang dihapus oleh

sekuat tenaga. Tidak ada ahli linguistik arab

ayat “pedang” adalah asumsi yang

yang memaknai kata jihad dengan qital,

absurd. Absurditas ini menunjukkan

harb,dan ghazwu. Namun yang menjadi

bahwa mayoritas kaum

pertanyaannya adalah kenapa jihad dalam

muslimin–yang berada di era

islam sering dimaknai dengan peperangan dan

keterbelakangan pemikiran dan ilmu

bentuk kekerasan? Padahal Islam sendiri

dalam peradaban kita—adalah

merupakan agama yang mengusung

orang-orang yang tidak tahu al-

perdamaian. Lantas makna jihad seperti apa

Q u r ' a n . M u n g k i n s a l a h s at u

dikehendaki oleh al-Qur'an ?

kegagalan dakwah islam disebabkan oleh asumsi kaum muslimin bahwa

Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam

Prev.

11

Next


Ke-TH-an

Buletin

Edisi XVII

pedanglah yang menjadi sarana

tekanan dan ancaman, sehingga diizinkan

kewajiban menyampaikan risalah.

berperang untuk mempertahankan hidup.

Dengan demikian, pendapat tentang

Dengan demikian, jihad menggunakan

nasikh-mansukh yang berakibat

kekerasan merupakan upaya defensif dan opsi

hilangnya fungsi sebagian ayat-ayat

terakhir umat Islam yang bertujuan untuk

adalah pendapat yang problematik.

membebaskan umat Islam dari ketertindasan.

Selamanya di dalam al-Qur'an tidak

Banyak data historis yang menyebutkan

akan pernah ada ayat yang tidak

bahwa Rasulullah saw sangat lemah lembut dan

berfungsi. Setiap ayat memiliki fungsi

bijaksana sebagaimana tergambar dalam surah

sesuai kondisi dan situasi yang terjadi.�

ali-Imran: 139. Sehingga mustahil bagi nabi

Diketahui bahwa ayat yang pertama sekali memerintahkan untuk melakukan kekerasan membolehkan untuk berjihad dalam bentuk tanpa alasan tertentu. Hal ini juga diperkuat peperangan adalah surah al-Hajj: 39-40 yang oleh pendapat Tsabit al-Faudi yang membagi artinya: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang- jihad menjadi dua yaitu jihad pada periode orang yang diperangi, Karena sesungguhnya Makkah dan jihad pada periode Madinah. Ayatmereka telah dianiaya dan sesungguhnya Allah, ayat jihad pada periode Makkah (makkiyah) benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. pada umumnya menyeru umat Islam untuk (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari bersabar terhadap tindakan musuh tanpa kampung halaman mereka tanpa alasan yang mengambil tindakan aktif berupa perang secara benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan terbuka, dan memang tidak ada pilihan lain kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada selain pilihan tersebut, disamping terus menolak (keganasan) sebagian manusia dengan berdakwah secara lisan di tengah-tengah umat sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan manusia. Sedangkan ayat-ayat jihad pada biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah periode Madinah (madaniyah), sesuai dengan ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di kondisi umat Islam pada masa itu yang lebih dalamnya banyak disebut Nama Allah. kuat, menyeru kaum Muslimin untuk Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menghadapi musuh secara konfrontatif dan menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah aktif memerangi orang kafir. Jadi, semasa benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.�

hidupnya, Rasulullah tidak serta-merta

Ayat tersebut diturunkan ketika Nabi dan memperbolehkan umat islam untuk melakukan

Prev.

12

Next


Buletin

Ke-TH-an

Edisi XVII

perbuatan yang sangat dibenci (kurhun)

kemampuan semaksimal mungkin

agar

sebagaimana yang dinyatakan oleh QS. Al-

selalu berada pada tali agama Allah. Jihad juga

Baqarah: 216, namun dilegalkan oleh tiga sebab:

merupakan suatu jalan untuk berjuang

pertama, mempertahankan diri dari tindakan

melawan kemiskinan, kebodohan, serta segala

kezaliman, sebagaimana firman Allah dalam QS al-

bentuk kemaksiatan yang menjalar di negara

Hajj: 39, kedua, melawan tindakan pengusiran

ini.

seperti keterangan dalam QS al-Hajj: 40, ketiga,

Perintah jihad yang paling utama haruslah

mempertahankan diri dari serangan internal dan

berarti berjuang untuk menegakkan kebenaran,

eksternal yang membahayakan jiwa, harta, harga

nilai-nilai keluhuran yang universal, dan

diri dan kebebasan beragama dan berpendapat,

humanis yang dapat mengatasi kepentingan

seperti yang terdapat dalam QS al-Baqarah: 194.

semua golongan agama, ideologi, ras, etnik dan

Adanya Pemahaman bahwa jihad haruslah

lain sebagainya. Seandainya makna jihad

dengan berperang, ini merupakan pemahaman

dimaknai seperti ini, tentu saja didalam al-

yang terlalu sempit karena jihad sendiri memiliki

Qur'an tidak akan ditemukan kontradiktifitas

makna yang beragam. Dalam al-Qur'an, dari

antarsatu ayat dengan ayat lainnya.

keseluruhan ayat yang terdapat kata jihad, tidak

Akhirnya, makna jihad yang seperti inilah

semuanya identik bermakna perang, seperti QS al-

yang akan menjadi wahana untuk mencitakan

ankabut: 69, al-an'am: 109, an-Nahl: 38, an-Nur:

keamanan dan ketentraman dalam kehidupan

53 yang bermakna bersungguh-sungguh, QS al-

berbangsa dan bernegara. Wallahu a'lam

ankabut: 8 dan Luqman: 15 yang bermakna

bissawab.

memaksa. Hakekat jihad pada konteks sekarang (khususnya di Indonesia) bukan bertujuan untuk mati di jalan Allah, melainkan bagaimana kita bisa hidup istiqomah di jalan Allah (al-jihad lil-hayah la lil maut) karena di Indonesia umat muslim tidak tertindas dan tidak dizalimi oleh orang-orang nonmuslim. Jihad bukanlah berarti teror yang disusul dengan bom bunuh diri dan beranggapan bahwa

Prev.

13

Next


Opini

Buletin

Edisi XVII

Catatan Untuk Para Politikus Kekerasan itu embrio nyata kehidupan dan pergulatan manusia. Semakin longgar manusia membuka kran tajamnya persaingan, emosi, dan ambisi, maka semakin besar dan luas kekerasan terjadi. Kekerasan adalah potret lain sejarah manusia yang sedang gagal m e n u n a i ka n t u ga s ke m a sya ra kata n , kemanusiaan dan kenegaraannya, di samping bukti ketidak-mampuan Negara dalam memanusiakan dan memberikan keadilan 1 terhadap rakyatnya (F. Maulidiyah, 2005) . Kutipan prolog di atas hanyalah patahan paragraf untuk mengingatkan kita bahwa kekerasan (radikalisme) merupakan salah satu episode yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, entah dalam kontek individu maupun kontek kenegaraan (masyarakat). Sebagai sebuah Negara, alur kebijakan dan kehidupan masyarakat diatur oleh sekelompok orang yang disebut dengan politikus (bisa juga disebut pejabat). Seperti halnya Indonesia, dunia politik dikenal sebagai wadah untuk membentuk beberapa rumusan dalam menentukan arah dan tujuan bangsa ini. Rupanya, dunia politik di negeri ini pun tidak terlepas dari praktik radikalisme yang dilakukan oleh para politikus itu sendiri. Kekerasan tersebut berimplikasi pada carut-

Prev.

marutnya bentuk perpolitikan. Padahal, esensi (pengertian maupun tujuan) dari konsep politik adalah untuk menyelesaikan konflik antarmanusia, sebagai proses pembuatan keputusan-keputusan ataupun pengembangan kebijakan-kebijakan2. Lebih parah lagi, bukan hanya praktik kekerasan (radikalisme) yang dilakukan oleh sebagian besar politikus kita, tetapi juga berkembang kepada praktik kebebasan (liberalisme) yang kebablasan. Radikalisme3 dan liberalisme4 yang dilakukan oleh politikus kita secara jelas telah membawa kenyataan buruk dalam peta kehidupan masyarakat bangsa ini. Radikalisme dan liberalisme sejatinya tidak hanya berwujud kekerasan fisik saja, tetapi juga dapat berbentuk abstrak dan kasat mata. Kekerasan dan kebebasan yang kebablasan—secara fisik maupun kasat mata— telah menjarah beberapa aspek kehidupan bangsa ini, seperti kekerasan dalam aspek ekonomi, budaya, maupun aspek politik itu sendiri. Lantas apa saja bentuk kekerasan dan kebebasan yang kebablasan yang dilakukan oleh para politikus kita? Menjawab pertanyaan seperti ini rasanya merupakan hal yang sangat mudah.

14

Next


Kekecewaan dan kemarahan masyarakat kita terhadap beberapa politikus yang tidak sejalan dengan keinginan masyarakat merupakan salah satu referensi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Apa alasan masyarakat tersebut murka? Rupanya tingkah dan pola beberapa politikus kita yang negatif telah memantik rasa jengkel masyarakat kecil. Lambat laun mulai muncul stigma negatif, bahwa politikus kita mulai brutal terhadap rakyatnya. Pasalnya, tindak pidana yang dilakukan oleh politikus pasca reformasi meningkat dengan tajam. Pertama, mengenai tindak pidana korupsi, kita bisa memberikan reaksi ganda. Kita harus berterimakasih bahwa kasus korupsi yang pada masa orde baru disembunyikan dengan rapi, akhirnya mulai terkuak dan dibuka ke publik. Akan tetapi di sisi lain kita juga berduka cita, bahwa ternyata pelaku korupsi tersebut justru dilakukan oleh para politikus kita yang dipercayai menjadi pelaku pemerintahan. Korupsi merupakan momok tersendiri bagi masyarakat kita. Salah satu fakta menarik tentang korupsi adalah bahwa korupsi kini telah berubah menjadi budaya di sekitar kita. Bahaya laten, begitu disebut oleh beberapa kalangan. Bahaya laten yang mampu membahayakan stabilitas nasional. Korupsi juga dapat berimplikasi pada ketimpangan keuangan dan perekonomian Negara, di samping merugikan rakyat kecil tentunya. Di Prev.

sisi lain kita juga harus memberikan apresiasi kepada pemerintah yang berinisiatif membentuk sebuah lembaga pemberantasa korupsi, yaitu Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK). Meskipun dalam perjalanannya KPK juga tidak luput dari simpang siur korupsi itu sendiri. Kedua, menyangkut praktik pasar bebas. Indonesia, secara sadar maupun tidak, mulai terjerumus ke dalam praktik pasar bebas. Realita yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin ternyata masih bertahan dan semakin menjadi-jadi. Parahnya, orang miskin yang kreatif saja masih sulit menemukan ritme dan irama dalam berkompetisi di pasar ekonomi, apalagi orang miskin yang tidak kreatif. Kecanduan terhadap produk luar masih menjadi trend di masyarakat, meski telah digalakkan gerakan cinta produk dalam negeri. Hal ini salah satunya mungkin disebabkan oleh keunggulan kualitas produk luar negeri. Praktik pasar bebas yang tidak dikontrol, merupakan salah satu bentuk dari sistem liberalisme yang kebablasan. Kebebasan dalam perekonomian semestinya diiringi dengan pemetaan rambu-rambu dan batasan yang jelas. Sehingga tidak terjadi realita yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Ketiga, banyak orang yang tidak

15

Next


Ke-CSS-An

Buletin

Edisi XVII

Menanti Generasi Baru PBSB 2012

S

e n i n ( 1 4 / 0 5 / 1 2 ) D i re k t o ra t berharap kepada seluruh santri yang memasuki

Pendidikan Diniyah dan Pondok perguruan tinggi, untuk tetap menjaga nilai-nilai

Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam, kepesantrenan seperti etika dan sopan-santun.

Kemenag RI menyelenggarakan Selanjutnya penyampaian laporan oleh Kabid

seleksi Program Beasiswa Santri Pekapontren, Drs. H. Muntachob, MHI. Pada

Berprestasi (PBSB) di aula Kanwil Kemenag DIY. kesempatan itu beliau menuturkan bahwa Penyelenggaraan Program tersebut merupakan peserta seleksi PBSB 2012 yang berasal dari salah satu peluang besar bagi para santri untuk Provinsi D.I. Yogyakarta berjumlah 110 siswa, menempuh studi lebih lanjut ke berbagai diantaranya program IPA (53 siswa), IPS (34 perguruan tinggi di Indonesia. Program ini siswa) dan Keagamaan (23 siswa). berupaya menghilangkan dikotomi yang selama ini terjadi antara sekolah umum dan sekolah yang berstatus kepesantrenan. Hal ini dapat diketahui dengan adanya anggapan yang menyatakan bahwa tamatan pesantren belum siap dan sanggup untuk bersaing dengan para siswa tamatan sekolah umum. Namun, setelah beberapa tahun program ini dilaksanakan, anggapan seperti ini mulai memudar. Hal ini dapat dilihat dari persentase kemajuan yang diraih oleh para santri di beberapa perguruan tinggi yang menunjukkan bahwa santri juga

Kasi Pengembangan Santri Bidang Pekapontren, Hj. Retnosiwi Dwikaningrum, SH.I menyatakan bahwa demi terlaksananya seleksi ini, terlebih dahulu pihak PD Pontren melakukan sosialisasi dengan cara menyebarkan undangan dan buku panduan PBSB ke berbagai pondok pesantren dan sekolah MA yang di bawahi oleh pesantren. Beliau juga menuturkan bahwa dari 110 peserta seleksi yang berasal dari Provinsi D.I. Yogyakarta, 35 peserta di antaranya

dengan

pilihan UIN Malik Ibrahim dan UNAIR mengikuti tes seleksi di GOR Patriot Banyumanik Semarang.

mampu melakukan apa yang dilakukan oleh siswa pada umumnya. Penyelenggaraan seleksi ini secara resmi dibuka langsung oleh Drs. H. Zainal Abidin, M.Pd.I, yang menjabat sebagai Pgs. Kakanwil Kemenag Prov. DIY. Dalam sambutannya beliau

Opini

17

Cerpen


menyadari jika di bangsa ini telah terjadi fenomena penimbunan kasus-kasus pidana. Semakin hari semakin tinggi timbunan kasus yang belum diselesaikan secara tuntas. Padahal, di mana-mana, yang namanya penimbunan atau penumpukan itu, tidak diperbolehkan oleh pemerintah (dalam hal ini diwakili oleh politikus atau pejabat). Bahan Bakar Minyak (BBM), beras Bantuan Logistik (Bulog), misalnya, tidak boleh ditimbun atau ditumpuk oleh kalangan atau orang tertentu saja. Merugikan rakyat katanya. Namun di sisi lain, politikus dan pejabat juga rupanya sedang rajin menumpuk dan menimbun kasus-kasus pidana. Praktik seperti ini, takutnya, akan diikuti oleh rakyatnya, di mana rakyat juga akan melakukan penimbunan, yaitu penimbunan rasa amarah dan murka. Amarah yang ditimbun atau ditumpuk, suata saat akan meledak dan menghasilkan guncangan dahsyat. Itu yang harus diwaspadai oleh politikus kita. Tiga realita di atas (korupsi, praktik pasar bebas yang tidak dikontrol, dan penimbunan kasus pidana), merupakan beberapa di antara sekian bentuk kekerasan dari politikus kita terhadap masyarakat luas. Kekerasan yang terjadi salah satunya disebabkan oleh adanya paham kebebasan yang kebablasan. Jika dibiarkan terus seperti ini, maka perlahan akan menimbulkan sikap tidak percaya di tengah masyarakat luas. AB Prev.

Fathin Mazayasyah, dalam bukunya Jangan Percaya Politikus, memaparkan bahwa kini mulai timbul rasa tidak percaya terhadap konsep dan kebijakan yang dikeluarkan oleh para politikus. Hal tersebut yang mulai berkembang di masyarakat kita. Sesuatu yang wajar tentunya, mengingat sudah sekian kali masyarakat kita dikecewakan oleh tindakan para politikus itu sendiri.5 Sebagai epilog, tulisan ini hanyalah catatan untuk politikus kita yang masih berjibaku dalam tindak kekerasan dan kebebasan yang tidak terkontrol. Juga sebagai pengingat bagi pejabat yang masih asyik bergelut dalam sikap egoisme dan ingin menang sendiri. Pangeran S Naga P Pentor CSS MoRA UIN Sunan Kalijaga '10

1

Sunardi, dkk., Republik Kaum Tikus, Jakarta: Edsa Mahkota, 2005, hal. 67 2 Lihat Rafael Raga Maran dalam Pengantar Sosiologi Politik, hal. 18 3 Radikalisme diartikan sebagai paham yang menghendaki kemajuan dan perubahan, namun dengan menggunakan cara keras bahkan kejam. 4 Secara sederhana, liberalisme adalah paham yang menginginkan terobosan dan kemajuan dengan mengedepankan aspek individualitas dan egoisme. 5 Abu Azka Fathin Mazayasyah, Jangan Percaya Politikus, Yogyakarta: Magma Pustaka, 2007

16

Next


Buletin

Cerpen

Edisi XVII

Kidung Luka di Bibir Sungai Oleh : Qur 'Ain* Kali ini kutunjukkan kepada sahabat lamaku, sebuah sungai yang mengalir dengan airnya yang bening dan ketika ada seseorang di permukaan sungai maka orang tersebut akan tergambar di sana. Ini kali, di waktu senja aku membawa sahabat lamaku ke tempat ini yang kurahasiakan pada siapa pun.

tahun berpisah dengan Wilda bagi

Kami menjelma ikan-ikan yang berjalan

mengikuti arus air ketika aku dan sahabat lamaku sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa itu mendekati tubir sungai. Sungguh, kami menjelma hal biasa. Kali ini aku akan berpartisipasi untuknya, sepasang ekor ikan yang berada di air ketika kami mendengarkan berbagai cerita yang akan dia mencoba melongo ke dalamnya. Ikan-ikan sampaikan padaku. –Apa kamu ke sini hanya ingin mengatakan

berjalan dan saling memburu. Kemudian

mengintip di bawah batu atau mengubur dirinya itu, Wil?– –Tidak ada pilihan lain, Aiman. Aku sudah

ke pasir.

–Sudah berapa orang yang kamu bawa ke lama mengurung ini semua. Semuanya akan kuceritakan padamu selama kita berpisah.–

sini, Aiman?– –Maksudmu?– tanyaku tidak mengerti.

–Tidakkah ada cara lain?–

–Tidak mungkin orang sepertimu tidak

–Aku pikir ini jalan satu-satunya.– Bersama riak air dalam sungai aku

pernah membawa wanita ke tempat yang indah ini, atau pacarmu.–

mempersilahkan sahabat lamaku memulai

–Hahahaha.–

maksud kedatangannya menemuiku. Mula-mula

–Apa artinya kamu tertawa?–

wajah Wilda tegar, tapi kemudian raut wajahnya

–Kamu tahu sendiri siapa aku. Aku ini tidak tak ubahnya sore hari yang hendak di telan malam. terlalu pintar merayu wanita.–

Aku sempat berpikir dan sembari

–Itu dulu. Sekarang?–

kuperhatikan lekat-lekat wajahnya, haruskah saat

–Aku sibuk merawat sungai ini, Wilda.–

ingin mengenang kenangan, orang itu harus

–Kamu jadi penunggu sungai?–

menyatukan diri bersama kenangan itu? Apakah

Kami tertawa.

Wilda akan menceritakan kenangan? Aku

Aku mengajak sahabat lamaku itu duduk meyakini dia akan menceritakan sesuatu yang dia di sebuah bangku persis di bawah rindang pohon kenang. Bukankah setiap yang ditinggalkan bugenvil tak jauh dari bibir sungai. Sepuluh

Ke-CSS-an

18

Next


Cerpen

Buletin

adalah kenangan? Hmmm.

Edisi XVII

berbagi dan saling memberi. Kadang

Kemudian aku bertanya-tanya lagi dalam persahabatan di antara kami ada yang tidak adil. diam, apa batas kenangan dan sekarang? Aku tidak Sampai saat ini pula, aku sendiri tidak pernah mau melihat Wilda terus-terusan menyuguhkan mengatakan kegelisahan sesungguhnya yang wajah yang buruk seperti ini. mengungkungku selama ini. Aku curang kalau –Namanya Fais, dan yang satunya Aufa.– –Kamu sayang sama mereka?–

soal perasaan kepada seorang wanita. –Kamu tahu, Aiman? Lelaki itu sangat

–Fais sudah menyatakan cintanya padaku.–

baik padaku.–

–Lho, nasib Aufa?–

–Lelaki yang mana, Wil?–

–Dia teman yang baik, meski bagiku aneh.

–Aufa, Aiman. Dia selalu punya cara

Kerap kali dia muncul dan

menampakkan tersendiri untuk dekat denganku dan bersikap kecemburuannya bila aku bersama Fais. Tapi baik di depanku.– mungkin itu hanyalah perasaanku saja, tak bisa dipastikan benar.–

–Seharusnya kan memang begitu bila orang jatuh cinta.–

Ini tidak mungkin hal sepele. Wilda jauh-jauh

_Tidak Aiman, aku dekat dengannya

datang ke tempat ini dan menceritakan pengalaman bukan karena percintaan. Kami satu kelas kala pribadinya kepadaku. kembali aku merasa itu. Ditambah perpaduan nama kota kami yang dipulangkan ke masa lalu ketika masa sekolah dasar. cantik dan gojlokan teman-teman bak Wilda adalah sahabatku yang tak banyak berubah penghulu, serasa semuanya istimewa dan dari masa kecilnya hingga sekarang. Pendiriannya indah. Aufa adalah lelaki yang kutemui sebagai benar-benar seperti sekarang yang kulihat dan sosok yang kreatif dan bertanggung jawab atas seperti yang kukenal. Bila dia menghendaki sesuatu dirinya sendiri. Aku membayangkan itu semua apa pun maka dia harus mendapatkan itu semua atas apa yang dia dilakukan kepadaku.– dengan segera. Begitulah cara kami bersahabat, saling –Fais kalah di hatimu dari Aufa?– –Entahlah. Dulu, Aufa pernah mengajakku saingan untuk mempublikasikan tulisan kita ke media. Sayangnya aku suka ilmiah dan dia menulis fiksi. Aku suka cara-cara itu, Aiman. Aku suka cara dia memperhatikanku.– –Kasihan sekali Fais.– –Fais juga baik kok. Banyak hal pada dirinya sebagai sebuah kemiripan dengan Hilman.–

Prev.

19

Next


Buletin

Cerpen

Edisi XVII –Oh, Hilman. Lelaki yang telah

salah satu di antara mereka. Aku takut

menambatkan jiwanya dalam hatimu,–

antara Aufa dan Fais terjadi perseteruan. Hanya

gumamku.

karena aku. Aku takut suatu saat nanti justru

–Fais begitu mencintai bola dan sepulan

teman-teman lainlah yang akan menganggapku

asap dari mulutnya serasa menggangguku.

sebagai perempuan pemberi harapan palsu.

Bukankah kamu tahu, Aiman. Hilman juga begitu

Katanya aku telah mempermainkan perasaan

bukan?–

mereka.– –Sabar ya, sahabatku.–

Aku berkata iya pada Wilda. Kulihat

–Aufa yang baik begitu menggemari lagu-

malaikat meletakkan mendung kecemasan di

lagu Iwan Fals, bahkan dia sering menyanyikannya

mata Wilda. –Ah, aku jadi rindu Fais. Dia telah berbuat

di depanku. Sedang Fais, dia selalu menyuguhkan

banyak hal kepadaku. Dia selalu mengirim puisi

lagu-lagu Dewa karena dia tahu, sekalipun aku

menjelang tidurku. Bila sebelumnya aku tidak

bukanlah maha dewi, tetaplah aku bala dewa,

mengiriminya sms, tengah malam bila aku

fans grup band yang sudah pupus itu. Aku hanya

terbangun, selalu kulihat ada pesan masuk dari

berharap akhirnya kami bisa menjadi sekawanan

dia. Isinya puisi. Lelaki yang sangat penyabar dan

bumi, bintang, dan purnama. –Kok bisa begitu, Wil? Kamu tidak

setia.– –Hahahaha. Aku juga bisa bikin puisi

mengharapkan mereka?– –Jika alur ceritanya begini, dan mereka

sebelum tidur.– –Iya. Kalau kamu langsung bikin puisi

akan menganggapku sebagai pengkhianat dan membenciku.–

tidur.– Kami tertawa kembali. Seperti riak air,

–Kamu jangan menyerah. Kamu tahu, Wil,

kupikir ia juga sedang mendengarkan percakapan

hidup itu bagai sungai. Ya, seperti sungai ini yang

ini. Barangkali sungai akan mencatatnya, lalu

ada di hadapan kita. Dalam sungai, air berjalan ke

akan diceritakan kembali pada batu-batu atau

hulu hingga ke suatu muara. Tapi dalam

pohonan. Begitulah sungai, hanya dengan cara itu

perjalanan air akan membentur batu-batu, dan

ia bisa berbagi kisah. Sungguh menjadi manusia

menghanyutkan benda berat. Demikian kamu.– –Tapi, aku akan tetap merasa bahagia.

sangat sempurna. Rugilah seseorang bila

Sebab aku telah berhasil menguasai diriku sendiri

menganggap pemberian tuhan tidak seberapa. –Tapi, Aiman, suatu hari aku bilang pada

dan mereka tidak menjadi jelmaan

mereka. Aku takut menambatkan hati pada

Prev.

20

Next


Cerpen

Buletin

Edisi XVII

kucing dan tikus karenaku._ Aku mendengar kepak sayap bangau baru saja melintas di depanku, mencumbu anakanak ikan dalam sungai. Wilda tersadar dari lamunannya. Masih saja sahabat lamaku itu dengan matanya yang sekarang ini makin sayu. Aku menunjukkan senja padanya. Kukatakan kali ini senja amat buruk dan aku tidak suka. Wilda hanya menggeleng tidak mengerti maksudku. Kukatakan kembali dengan berteriak bahwa senja kali ini amat buruk seperti wajah Wilda yang sendu. –Ah, awas kamu ya aku ceburkan ke sungai ini kalau bilang wajahku sendu lagi.– Wilda tersenyum. Dan, di kedalaman hatiku kemudian berkata, –Sampai batu-batu mencabik tubuhku sekalipun, Wil, itu tidak seberapa sakitnya ketimbang cerita yang kamu ungkapkan kepadaku di bibir sungai ini.– Tempat Ngaji, 29 Mei 2012 *Koplak community 2011

Prev.

21

Next


Buletin

Puisi Ketika Tuhan Menjawabku

Edisi XVII

Ketidakpastian Terombang daku pada lautan gundah Dihantam badai yang membuncah Ditenggelamkan ombak yang sedang marah Laskar badai teriakkan kebenaran Tentara ombak jeritkan keadilan Dan aku tetap terapung Tak mengenal warna Tak memahami kata

Terlampau jauh sudah aku berjalan Menemukan dan menjemputnya pulang Melengkapi lagi bagian yang pernah ia tinggalkan Di sini. . . di jiwa ini Ketika segalanya telah tertuang buang Dan Tuhan memang tak pernah tertidur barang sesaat Saatnya perjalanan panjang ini Ku sudahi Tak lagi mencipta langkah walau sejengkal

Layarku hancur saat mereka bercerita Dayungku patah kala mereka bercanda Sampanku karam karena mereka bercengkrama

Karena bagiku. . . Engkau adalah bagian yang hilang itu Engkau adalah saat membahagiakan Dimana Tuhan mencoba menjawabku Semogalah tiada lagi akan pernah beda Apa yang ada di antara jejaring jiwa Kita.

Lalu. Aku tetap terapung Tak pasti Seolah mati Karena aku tetap saja tak tahu Siapa itu kebenaran Apa itu keadilan.

*Laz0e_Ardhie

*Neima Hamada

Surat Pembaca Dear : SARUNG Salam semangat…. Temen2 crew sarung, mau numpang curhat nee…, Kok tiap edisi deadline buat temen-temen yang mau ngasih tulisan ke SARUNG singkat banget ya? Kan jadi kurang maksimal nulis-nya kalo buru-buru terus, kadang-kadang malah gak sempet nyerahin tuisan coz deadline-nya udah habiz, kira-kira buat edisi mendatang deadline –nya bisa ditambah gak??? Kan sayang kalo banyak tementemen yang punya potensi tapi gak tersalurkan gara-gara deadline. Makasih waktunya, aku tunggu jawabannya. By : Dee '11 Salam semangat juga… Makasih ya atas perhatian dan sarannya, ehmmm… tentang deadline kami minta ma'af banget kalo deadline yang di angket terlalu singkat, sampek nyusahin temen-temen yang mau nulis. Sebenernya deadline buat nulis tu 1 minggu, Cuma seringnya kami nyebarin infonya via facebook dulu baru bikin angket, jadi angketnya emang agak telet, hehehe…,saran buat mbak ma temen-temen Css yang pada hobby nulis sering-sering aja up-date info di Facebook sarung atau Facebook CSS ,kiami tunggu loh tulisan-tulisannya, tentang angket kami usahain untuk edisi selanjutnya gak telat lagi, makasih ya…..

Cerpen

22

Buletin 17: Radikal vs Liberal  

dipublikasikan pada Juni 2012

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you