Issuu on Google+


Kaisan rezeki Fotografer : Venesya Dokumentasi Teras Pers

Dokumentasi Teras Pers


EDITORIAL

REDAKSI Pemimpin Umum Venesya Wakil Pemimpin Umum Dewa Ayu Indah K. P. Sekretaris Sara Pratiwi Bendahara Novita Sri Rejeki Pemimpin Redaksi Aloysius Bram Editor Kenia Intan Christina T. Reporter Tegar Pambudi, Albertus Gilang, Ryan Sara, Gregorius Bramantyo, Nicholas Ryan, Gregorius Christian Hadi Litbang Claudya Tarigan, Artyastiani P. Layouter Maria Heris Devina Ignatius Arkadia Ilustrator Renaldi Prakoso Edmundus Dewa Fotografer Gregorius Christian H. Regy Eka Marcomm Dewa Ayu Indah Karunia Pratiwi dan Novita Sri Rejeki Twitter Email

: @teraspers : redaksi.teraspers@gmail.com

Contact Person: Venesya (+6287738753215) Alamat Redaksi: Jl. Babarsari No. 6 Yogyakarta 55281

“Aturan pertama: dosen tidak pernah salah. Dan aturan kedua: bila dosen salah, tinjau kembali aturan yang pertama� Pemeo tersebut tentu akrab di telinga kita. Terdengar lucu, ringan, dan bermuatan sarkasme memang. Namun, bisa jadi pemeo tersebut menunjukkan bahwa ternyata ada kultur yang tidak sehat dalam konteks pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FISIP UAJY). Sebagaimana hakikatnya pendidikan, idealnya, segala sesuatu perlu diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan dan tidak diskriminatif. Dan hal-hal tersebutlah yang sepertinya belum terwujud di lingkungan akademik FISIP UAJY. Problematika seperti penetapan aturan perkuliahan; perubahan jadwal ujian dari yang semestinya; kompetensi dosen; hingga transparansi penilaian yang dilakukan oleh dosen adalah segelintir masalah klasik yang konkrit. Menjadi permasalahan karena kerap kali hal-hal tersebut dirasa kurang berorientasi pada mahasiswa sehingga berujung merugikan. Dan pihak yang dirugikan acap kali terlampau tak acuh untuk menyoalkannya. Diam dan apatis menjadi zona nyaman yang dipilih. Bahkan tidak jarang masalah-masalah tersebut kerap kali hanya sekedar menjadi cas-cis-cus dan topik obrolan di kantin saja. Sehingga seakan-akan semua berjalan baik-baik saja. Lewat penerbitan kali ini, Teras Pers berusaha untuk menyodorkan bahwa sejatinya terdapat problematika yang perlu menjadi perhatian kolektif para civitas akademis FISIP UAJY. Terkait dengan kinerja dan bahkan tanggung jawab dosen. Garis merah yang ditarik dalam penerbitan kali ini berawal dari realita bahwa belum ada semangat dan sistem yang memadai untuk mendukung terwujudnya kultur pendidikan yang sehat di FISIP UAJY. Sehingga perlu adanya pembaharuan yang berkesinambungan untuk menciptakan kondisi tersebut. Disini evaluasi adalah kunci. Dan sudah seharusnya hal ini disadari betul sebagai sesuatu yang substansial lagi genting. Agar tidak setengah hati dalam menyokong dinamika akademis yang sehat serta dilandasi dengan semangat egaliter dan rendah hati. Baik bagi mahasiswa, terlebih dosen.

DAFTAR ISI LIPUTAN 1 02-03

OPINI 14-15

LIPUTAN 2 04-05

SENI BUDAYA 16-17

POLITIK KITA 06-07

SOSOK 18-19

LITBANG 08-09

KOMUNITAS 20-21

SEKITAR KITA 10

SPECIAL PAGE 22-24

SUDUT 11

KOMIK 25

DJENDELA RANA 12-13


LIPUTAN UTAMA

Kemelut Kode Etik Dosen

“Dosen jangan sampai menunjukkan perilaku ‘jarkoni’ (bisa mengajar tapi tidak bisa melakukan).”

ini supaya dosen kita betul-betul bisa bersikap profesional,” kata Sri Nurhartanto, Rabu (6/1). Kepada Awak TerasPers Bambang menjelaskan bahwa aturan atau kode etik yang dimiliki setiap perguruan tinggi berbeda. Setelah undang-undang mengenai otonomi keluar sekitar tahun 2001/2002, masing-masing perguruan tinggi memiliki wewenang sendiri. “Perguruan tinggi baik swasta maupun negeri secara mandiri menyelenggarakan evaluasi, mengatur proses pembelajaran, juga mengatur tugas dan kewajiban dosennya,” papar Bambang ketika ditemui di ruang kerjanya.

Ilustrasi Renaldi Prakoso

Demikian ucap Bambang Supriyadi, Koordinator Kopertis Wilayah V, ketika ditemui awak Teras pada Kamis (14/1). Bambang mengatakan bahwa profesi dosen tidak sekedar mendidik secara ilmu pengetahuan tetapi juga mendidik secara perilaku. Hal senada juga diungkapkan oleh Sri Nurhartanto, Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dosen sebagai pendidik harus memberi panutan, terutama bagi mahasiswa. Oleh karenanya, penting sebagai dosen untuk memahami pedoman berupa kode etik yang sudah diterimanya. “Pedoman

02

Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) sebagai salah satu perguruan tinggi swasta juga memiliki seperangkat pedoman etika. Setelah melewati proses yang panjang, akhirnya kode etik dosen UAJY disahkan dalam Peraturan Universitas Atma Jaya Yogyakarta Nomor 29/ HP/ KE/ 2011. Secara garis besar, peraturan tersebut berisi bagaimana dosen menjalankan fungsi utamanya dalam hal berperilaku, baik dengan sesama dosen, pegawai/ karyawan, maupun dengan mahasiswa. “Itu fungsi kode etik bagi kita. Menuntun perilaku komunitas dosen sedemikan rupa,” kata Sri Nurhartanto. Buku Kode Etik tersebut kemudian oleh bagian KSDM (Kantor Sumber Daya Manusia) UAJY didistribusikan ke kepala unit. Dalam hal ini dekan di tiap fakultas. “Dekan yang nantinya membagikan ke dosen,” terang CH. Me-


disuhanoro kepala KSDM UAJY, Jumat (22/1). Awak Teras Pers telah melakukan wawancara terhadap beberapa dosen di FISIP UAJY. Berdasarkan wawancara tersebut, nyatanya masih terdapat dosen yang belum mengetahui adanya Kode Etik dosen UAJY. Pedoman etika yang mereka (dosen) gunakan sejauh ini berasal dari hasil ngobrol atau diskusi ketika pertemuan rutin di tingkat prodi maupun fakultas. “Yang tertulis saya tidak pernah diberi ya, tapi sebenarnya hal ini (kode etik) disharingkan setiap waktu, secara informal,” terang Lukas Deni Setyawan, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UAJY, Selasa (1/12). Hal serupa juga diungkapkan oleh Rebekka Rismayanti. Sebagai dosen baru, Rebekka mengaku sejauh ini dirinya belum mendapat sosialisasi mengenai kode etik dosen UAJY, “Peraturan yang disosialisasikan lebih banyak tentang pendidikan, penelitian dan pengabdian sih,” kata Rebekka, Selasa (5/1). Dekan FISIP UAJY, Ninik Sri Rejeki, mengungkapkan bahwa buku kode etik tersebut memang ada. Namun dirinya perlu melihat lagi apakah kode etik tersebut sudah dimiliki oleh setiap dosen di Fisip UAJY, karena ketika kode etik dibagikan, dirinya belum menjadi Dekan FISIP. “Ini yang perlu ditinjau ulang,” katanya. Ninik menjelaskan sejauh ini sosialisasi kode etik maupun aturan lain di FISIP sebatas diskusi ketika rapat prodi, fakultas, maupun dengan sistem pencangkokkan. Poin terkahir dikhusukan untuk dosen-dosen yang masih baru. Meski sudah disosialisasikan secara lisan, akan lebih baik jika kode etik disosialisasikan secara tertulis. Ketika ditemui di kantor Kopertis wilayah V, Bambang menjelaskan bahwa ketiadaan dokumen secara tertulis menyebabkan penerapan kode etik kurang efektif. “Kebijakan tersebut harus diwujudkan dalam bentuk dokumen, yang akan dipakai untuk mengimplementasikan kalau ada pelanggaranpelanggaranatauketidaknormalanperilakudosen.” Tidak jauh berbeda dengan UAJY, Universitas Gadjah Mada (UGM) juga memiliki pedoman etika bagi para dosennya. Kode etik dosen tersebut kurang lebih mengatur mengenai kompetensi dosen, prinsip kualifikasi dosen, prinsip profesionalisme, dan Tridharma. “Kita punya buku kecil, buku saku yang dibagikan setiap tahun. Di dalam buku, salah satunya ada kode etik itu,” kata Muhamad Sulhan, Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM. “Buku juga dapat di download melalui website UGM,” lanjutnya. Terkait dengan proses sosialisasinya, UGM juga melakukannya secara berjenjang dari Universitas, Fakultas, hingga pada pengurus unitnya masig-masing. Kerapkali

pada momen-momen tertentu, ada eventevent yang sengaja dibuat oleh universitas, “untuk menyegarkan bahwa ente itu pegawai UGM lho,” jelas Muhammad Sulhan. Ruang Kritik Kurang Efektif “Perlu kerjasama dengan berbagai pihak untuk mengontrol satu dengan yang lain. Hal ini menjadi penting apabila ingin semuanya menjadi baik,” terang Sri Nurhartanto. Mahasiswa juga berhak mengkritik dosen, asalkan dengan sopan. Di UAJY, mahasiswa dan dosen punya ruang untuk dapat menyampaikan keluh kesahnya. “Ada sebenarnya jika mahasiswa ingin komplain dengan menggunakan form. Kalau tidak salah ada di prodi atau fakultas,” terang Lukas Deni Setyawan, Selasa (1/12). Selain itu, ktitik juga bisa disampaikan melalui evaluasi yang diisi oleh mahasiswa sebelum melihat nilai di akhir semester. Akan tetapi, ruang untuk berkeluh kesah itu dinilai kurang efektif. Beberapa waktu lalu, keluh kesah justru disampaikan melalui majalah Teras Pers bukan melalui surat atau form komplain yang sudah ada. “Nah itu bisa jadi evaluasi. Sejauh mana efektivitas form itu,” terang Lukas Deni. Dari hasil wawancara terhadap beberapa mahasiswa yang enggan disebut namanya, ada ketakutan yang menghantui ketika menyampaikan kritik. Karena takut mempengaruhi nilai maupun proses belajar ketika di kelas. “Kalau menurut saya, sebaiknya temen-temen juga jangan takut,” kata Lukas Deni Setyawan. Ia menambahkan sebenarnya dirinya dan juga dosen-dosen lain menerima kritik yang disampaikan oleh siapapun. Mekanisme kontrol yang serupa juga diterapkan di UGM. Setiap enam bulan mahasiswa mengisi form terkait kinerja dosen selama satu semester. Berdasar pengalaman Sulhan selama 16 tahun mengajar, form tersebut benar-benar bisa memberikan efek jera. Pasalnya hasil form tersebut akan dibahas di tingkat fakultas hingga jurusan. Nila setitik rusak susu sebelangga, menurut Sulhan adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan evaluasi enam bulanan itu. Ketika ada dosen yang ‘bermasalah’ maka akan turut tercoreng nama jurusan di mana mereka mengajar. “Jadi malunya dua track,” katanya. Tanpa perlu menunggu sampai rapat enam bulanan, jika ada dosen ‘bermasalah’ pihak yang bersangkutan mengundurkan diri. “Kami takut sekali form enam bulan sekali itu. Bukan takut ding tapi malu,” tutupnya. (Kenia Intan N./Ryan Sara P.)

03


LIPUTAN UTAMA

Menyoal Sistem Evaluasi Dosen Mengacu pada Peraturan Pemerintah No 9 tahun 1999, tugas utama dari dosen adalah sebagai pengajar. Hal ini guna mewujudkan cita-cita dari pendidikan tinggi di Indonesia yaitu untuk membentuk peserta didik yang berorientasi sebagai bagian dari masyarakat yang berdaya guna baik dalam bidang pengetahuan, teknologi atau seni dan budaya. Diperlukan sebuah kontrol untuk memastikan bahwa setiap penyelenggaraan akademik yang berjalan tetap pada orientasi tersebut. Salah satu kontrol tersebut dapat mewujud dalam sebuah sistem evaluasi. Terlebih evaluasi terhadap dosen.

Sistem evaluasi menjadi penting guna mengawasi dan mengawal kinerja dosen agar tidak menyimpang dari cita-cita pendidikan tinggi dan tidak merugikan mahasiswa. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FISIP UAJY) sendiri sebagai instansi pendidikan tinggi memiliki sistem evaluasi terhadap dosen. Form evaluasi dosen selalu dibagikan kepada mahasiswa di setiap akhir semester melalui jaringan Sistem Informasi Akademik Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (SIATMA). Sistem ini melibatkan mahasiswa sebagai pihak yang paling relevan dalam menilai kinerja dosen. Pupung Arifin, yang ketika ditemui Teras Pers masih menjabat sebagai Wakil Dekan I menjelaskan bahwa ada tindak lanjut dari pihak dekanat terkait evaluasi yang telah diberikan mahasiswa. Tindak lanjut tersebut mewujud pada sistem ranking yang dibuat dekanat berdasarkan evaluasi tersebut. Ranking ini menunjukan daftar dosen dengan tingkat kepuasan tinggi sampai dosen dengan tingkat kepuasan rendah. Bagi dosen yang ada di urutan

04

bawah, dekanat akan memanggil dosen tersebut. Pupung memaparkan, sebagai bukti dekanat telah melakukan satu kali pemanggilan untuk dua dosen dengan ranking terbawah di awal semester lalu. “Saat ini tinggal menunggu apakah dosen tersebut melakukan perubahan atau tidak�, jelasnya. Selain evaluasi dari mahasiswa, dosen pun juga mendapatkan evaluasi dan penilaian dari kolega sesama dosen. Namun pihak dekanat sendiri justru sangsi terhadap hasil evaluasi yang setiap akhir semester mereka terima. G. Arum Yudarwati selaku Wakil Dekan I yang baru menjabat memaparkan, bahwa dekanat mengalami kesulitan untuk menilai sejauh mana partisipasi serta objektifitas mahasiswa dalam memberikan evaluasi kepada dosen di setiap akhir semester. Menurut Arum, permasalahan menjadi sulit ketika mahasiswa tidak memberi penilaian secara benar dan hanya sekedar formalitas dalam mengisi form evaluasi. “Sejatinya, mahasiswa mempunyai power yang tidak bisa diganggu gugat ketika memberikan penilaian dan evaluasi kepada dosen�, tegas Arum. Arum


sendiri juga mengkritik mahasiswa yang ia nilai cenderung ‘main aman’ dan berpangku tangan terkait dalam urusan mengevaluasi dosen. “Padahal saat itulah independensi mahasiswa dalam mengkritik dosen diuji”, kata Arum. Evaluasi menurut Dosen Beragam tanggapan datang dari para dosen sebagai pihak yang dievaluasi terkait perkuliahan. Salah satunya adalah Argo Twikromo. Argo, begitu ia akrab disapa, memandang evaluasi terhadap dosen adalah sebuah refleksi bagi para dosen, terlepas dari apa pun hasil evaluasi tersebut. Ia menerima segala hasil evaluasi karena menurutnya, evaluasi merupakan hak serta kebebasan bagi mahasiswa, apa pun latar belakangnya. “Hasil Ilustrasi Renaldi Prakoso dari evaluasi jangan dibantah. Terkadang ada benarnya juga kok. Apa pun hasilnya, itu menjadi refleksi bagi kita”, ujar dosen berambut gondrong tersebut. Argo juga menambahkan bahwa evaluasi merupakan upaya pembagian kekuasaan. Sistem pembagian kekuasaan ini juga diterapkan di kelasnya. Hasilnya adalah meningkatnya suasana kondusif di dalam kelas. Meski begitu, baik dosen maupun mahasiswa harus bertanggung jawab dan siap akan konsekuensi dari pembagian kekuasaan tersebut. “Membagi kekuasaan ini supaya mahasiswa tidak terlalu takut dengan kita (dosen) dan supaya suasana kondusif”, kata Argo. Pendapat lain diutarakan oleh Yohanes Widodo. Dirinya memaparkan bahwa ketika awal menjadi dosen, ia sering memberikan kesempatan pada mahasiswanya di setiap akhir semester untuk memberikan evaluasi pengajaran kepada dirinya, terlepas dari evaluasi yang juga ia terima dari dekanat. Selain itu, Yohanes juga menyampaikan kritiknya terhadap sistem evaluasi yang ada di FISIP UAJY. Menu-

rutnya, evaluasi seharusnya bersifat pertanyaan terbuka, bukan malah bersifat kuantiatif. “Karena orang cenderung tidak terlalu berpikir untuk mengisinya dan seperti terkotak-kotakkan. Berbeda kalau modelnya bersifat kualitatif”, tutur dosen yang sering disapa Mas Boi tersebut. Ia menambahkan, evaluasi yang baik adalah evaluasi yang secara seimbang memandang sisi positif dan negatif. Menurutnya hal tersebut menjadi penting karena semua orang pasti memiliki sisi positif dan juga sisi negatif. Penilaian Mahasiswa Menanggapi sistem evaluasi dosen yang ada kampus, beberapa mahasiswa memberikan tanggapannya. Terdapat mahasiswa yang merasa sudah cukup puas dengan sistem evaluasi yang ada di SIATMA. Salah satu mahasiswa tersebut adalah Yulandha Simanungkalit, mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2014. Menurut Yulandha, pertanyaan-pertanyaan yang dimuat dalam form evaluasi dosen SIATMA sudah mewakili pendapat mahasiswa secara pribadi. Ia berpendapat bahwa hal-hal penting dijadikan indikator dalam form seperti ketepatan waktu dosen, kejelasan standar penilaian, dan kejelasan materi. Menurutnya, evaluasi untuk dosen berguna untuk melihat apakah dosen yang bersangkutan mampu mengajar mahasiswanya atau tidak. “Formnya sudah bagus, pertanyaan-pertanyaannya menyangkut hal-hal yang penting. Menurutku, fungsi form evaluasi dosen pastinya untuk menilai seberapa kompetenkah dosen dalam mengajar mahasiswanya”, kata mahasiswi konsentrasi studi Public Relation tersebut. Sedangkan menurut Gabriella Olivia, mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2012, pertanyaan-pertanyaan di form belum menyinggung cara dan metode dosen dalam mengajar. Padahal, cara dan metode dosen mengajar di kelas adalah hal yang krusial bagi mahasiswa. Menurutnya, hal ini dikarenakan form tersebut menggunakan format pilihan jawaban tertutup. “Lebih baik setiap pertanyaan bersifat terbuka, supaya bisa lebih leluasa dalam menjawab”, kata Gabriella. Ia juga berharap untuk ke depannya supaya evaluasi dosen di SIATMA dapat diakses melalui gadget. (Tegar Pambudi/Gregorius Bramantyo)

05


POLITIK KITA

Permasalahan

Klasik di Kelas Kejadian yang dialami oleh seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2014 di mata kuliah Komunikasi Internasional, manambah daftar panjang persoalan penerapan kebijakan dan aturan dosen di kelas. Mahasiswa tersebut tidak dapat mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) lantaran kebijakan dosen pengampu, Lukas Ispandriarno, dirasa tidak berimbang dan berujung merugikan dirinya. Kebijakan tersebut terkait dengan aturan toleransi keterlambatan yang tidak diberlakukan di kelas. “Ketika dosen sudah datang dan mengabsen mahasiswa dengan memanggil nama, maka yang datang setelahnya tidak berhak untuk tanda-tangan,” terang mahasiswa tersebut. Namun yang menjadi muara permasalahan adalah pada tanggal yang sama bukan hanya dirinya saja yang terlambat. Akan tetapi hanya tanda tangannya saja yang dianggap tidak sah. “Tanda tangan saya ditimpa tipe-x, sedang mahasiswa lain yang juga terlambat dibiarkan saja,” keluhnya. Mahasiswa tersebut sebenarnya sepakat bila aturan yang diterapkan untuk menumbuhkan kedisiplinan. Akan tetapi pada praktiknya, aturan yang ditetapkan justru merugikan mahasiswa. Lukas S. Ispandriarno ketika dimintai keterangan oleh Teras Pers (5/1) memaparkan bahwa tidak ada yang salah dengan kebijakan

06

dan aturan yang ia terapkan di kelasnya. Lukas menjelaskan bahwa kebijakan serta aturan yang ia terapkan adalah hal yang tepat dan kontekstual di dunia pendidikan. “Pada dasarnya saya mengharapkan apa yang saya lakukan ini dapat diterapkan tidak hanya di FISIP saja. Karena hal ini adalah hal yang wajar sebagaimana di dunia pendidikan,” katanya. Penerapan kebijakan serta aturan dosen yang dirasa kurang berorientasi pada mahasiswa juga terjadi di kelas Penulisan Naskah Berita (PNB) yang diampu Olivia Lewi Pramesti. Berbeda dengan kelas Komunikasi Internasional, kebijakan dosen yang ditetapkan dirasa menyulitkan mahasiswa lantaran jadwal ujian akhir semester justru dimajukan dari jadwal yang telah terlampir di lembar rencana studi mahasiswa. Perubahan ini berpotensi membuat jadwal ujian mata kuliah yang satu dengan mata yang lain bertabrakan. “Beruntung jadwal ujian mata kuliah yang seharusnya diadakan dan telah tertera di lembaran KRS juga maju, sehingga mata kuliah penulisan naskah berita tidak saling bertabrakan,” terang sumber yang enggan disebut namanya. Menurut sumber, perubahan jadwal memang sudah disepakati oleh forum kelas. Terlepas dari kenyataan bahwa mahasiswa sendiri mengalami keseganan untuk menyam-


paikan keengganan mereka terhadap majunya jadwal ujian. “Ada ketakutan bila menyampaikan hal tersebut dapat mengancam nilai kami sebagai mahasiswa,” keluh sumber tersebut. Ketika diminta keterangan oleh Teras Pers (28/12), Olivia Lewi mengatakan bahwa perubahan jadwal ujian ia lakukan untuk membantu proses pengerjaan tugas akhir mata kuliah itu sendiri. “PNB adalah mata kuliah teknik, sehingga perubahan itu justru saya lakukan untuk membantu teman-teman mahasiswa mendapatkan kriteria yang saya inginkan sebagai dosen,” terangnya. Olivia Lewi mengaku sudah mendiskusikan perubahan jadwal ujian ini bersama mahasiswanya. Dan tidak ada mahasiswanya yang menyampaikan keberatan. Permasalahan serupa terjadi di kelas mata kuliah Reportase Investigasi yang diampu Th. Diyah Wulandari. Jadwal ujian akhir semester di kelas tersebut dirubah tiga hari sebelum ujian berlangsung. Sebagaimana dipaparkan oleh salah satu sumber yang mengambil mata kuliah tersebut, perubahan jadwal hanya diumumkan melalui sebuah grup media chatting Whatsapp. “Di dalam grup hanya ada beberapa mahasiswa yang tergabung. Jika kondisinya seperti itu, mahasiswa jelas tidak dapat berbuat banyak hal,” tukas sumber yang enggan disebut namanya itu. Sumber tersebut menambahkan bahwa perubahan jadwal ujian yang dilakukan oleh dosen dirasa tidak berorientasi kepada mahasiswa. “Jadwal kuliah maupun ujian kan ada agar mata kuliah satu tidak bertabrakan dengan mata kuliah yang lain. Sehingga mahasiswa dapat dengan bijak menyusun rencana studinya,” keluhnya. Ketika dimintai klarifikasi oleh Teras (3/1), Wulan menjelaskan bahwa dirinya dengan terpaksa harus merubah jadwal tersebut. Hal itu ia lakukan lantaran dirinya harus pergi ke Jakarta untuk mengurus keperluan studi lanjut yang akan ia tempuh. “Karena bagaimana pun juga ini berkaitan dengan kepentingan lembaga untuk meningkatkan mutu dan kualitas dosen,” terangnya. Wulan pun menolak bila peristiwa ini dilihat sebagai sebuah permasalahan atas kebijakan dosen yang tidak berorientasi kepada mahasiswa. Dirinya mengatakan bahwa peru-

bahan tersebut sudah ia lakukan sesuai dengan prosedur yang ada. “Perubahan tersebut sudah saya konsultasikan dengan Wakil Dekan I, begitu juga kepada Kaprodi, serta pihak Tata Usaha Bagian Ujian,” imbuhnya. Dirinya juga menjelaskan bahwa telah mendiskusikan itu dengan beberapa peserta didiknya. Ia beranggapan bahwa ketiadaan waktu untuk membahas dengan seluruh kelas membuat ia hanya menyampaikan hal tersebut kepada beberapa mahasiswanya melalui grup Whatsapp. Mahasiswa Perlu Proaktif Kebijakan perkuliahan menjadi sebuah permasalahan klasik serupa yang tak jarang terjadi. Wakil Dekan I yang baru menjabat, G. Arum Yudarwati, menanggapi bahwa pada prinsipnya aturan serta kebijakan perkuliahan ada di tangan dosen. Dengan syarat melalui mekanisme negosiasi antara mahasiswa dengan dosen. “Pada dasarnya aturan yang telah tercantum di buku pedoman misalnya, atau jadwal ujian di lembar rencana studi bersifat fleksibel karena dosen juga perlu melihat bagaimana dinamika yang terjadi di kelas,” papar Arum. Dirinya juga menambahkan bahwa prinsip yang harus dipenuhi dalam penetapan aturan serta kebijakan kelas adalah jangan sampai merugikan mahasiswa. “Mahasiswa berhak untuk protes bila diajukannya jadwal ujian tertentu dapat mengancam jadwal ujian yang lain,” terangnya. Arum memberikan catatan terhadap mahasiswa untuk turut aktif ketika dosen mengajak peserta didiknya mendiskusikan kontrak belajar maupun memaparkan silabus perkuliahannya. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa mahasiswa seharusnya memanfaatkan sistem evaluasi di SIATMA pada setiap akhir semester. “Dari evaluasi di sistem SIATMA itulah mahasiswa mempunyai power untuk menilai dosennya karena dapat berpengaruh terhadap indeks prestasi dosen,” terang Arum. (Albertus Gilang/Aloysius Bram)

07


LITBANG

Dosen di Mata Mahasiswa Mahasiswa memiliki pandangan sendiri terhadap dosen yang telah mengajarnya. Sebagai selingan, Teras Pers melakukan riset untuk mengetahui pandangan mahasiswa terhadap dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta khususnya Program Studi Ilmu Komunikasi. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 85 responden melalui aplikasi google docs. Mahasiswa yang mengisinya adalah mahasiswa angkatan 2012, 2013, dan 2014, dengan pertimbangan responden tersebut telah mengenal lebih banyak dosen. Kategori pertama, adalah dosen yang selalu transparansi nilai terhadap mahasiswa. Anita Herawati mendapatkan suara sebanyak 26%, Bonaventura Satya Bharata mendapat 19%, Lukas S. Ispandriarno mendapat 13%, dan Joseph Joedhi Darmawan mendapat 2%. Sementara itu, 40% responden memilih lainnya. Beberapa dosen yang disebutkan pada pilihan lainnya di antaranya adalah Olivia Lewi, Desideria Cempaka, Pupung Arifin, Arum Yudarwati. Selanjutnya Teras Pers memberikan kategori dosen yang paling banyak memberikan tugas kepada mahasiswa. Sebanyak 42% responden memilih Setio Budi, 28% memilih Olivia Lewi, 10% memilih Anita Herawati, 7% memilih Lukas S. Ispandriarno, dan 13% memilih lainnya. Dengan demikian, dosen yang dianggap paling banyak memberikan tugas adalah Setio Budi. Kategori berikutnya adalah dosen yang paling mudah menyampaikan materi sehingga mahasiswa dapat mudah mengerti. Bonaventura Satya Bharata dipilih oleh 18% persen responden, Yudi Perbawaningsih dan Ranggabumi Nuswantoro sama-sama mendapat 12%, Lukas S. Ispandriarno dipilih oleh 10% responden. Se-

08

dangkan 48% responden memilih lainnya, dosen yang disebutkan diantaranya Diyah Hayu Rahmitasari, Desideria Cempaka dan Olivia Lewi. Dosen yang paling terbuka relasi dengan mahasiswa sebanyak 28% memilih Olivia Lewi, 11% memilih Anita Herawati, Bonaventura Satya Bharata dan Ninik Sri Rejeki mendapat 7% suara dan 47% memilih lainnya. Responden menyebutkan Diyah Hayu Rahmitasari, Argo Twikromo dan Josep Joedhi Darmawan. Dosen yang dianggap paling moody jatuh pada Dina Listiorini dengan persentase sebesar 39%. Pada urutan kedua di tempati oleh Diyah Hayu Rahmitasari dengan persentase 22%, kemudian Alexander Beny Pramudyanto dan Birgitta Bestari Puspita Jati masing-masing 2% dan 4%. Sisanya 33% terbagi menjadi beberapa dosen. Selain moody, kategori selanjutnya adalah dosen yang dianggap mahasiswa paling cuek yaitu Setio Budi dengan persentase 36%. Dina Listiorini dan Joseph Darmawan masing-masing 28% dan 19%. Lalu sebesar 11% diraih oleh Yudi Perbawaningsih. Sisa 6% diraih oleh beberapa dosen lainnya. Kategori terakhir adalah dosen yang paling menjaga image, sebesar 43% diraih oleh Joseph Darmawan yang juga merupakan persentase tertinggi. Diikuti oleh Setio Budi 22%, Dina Listiorini 19%, dan Birgitta Bestari Puspita Jati 16%. Kategori-kategori tersebut menunjukkan bagaimana pandangan setiap mahasiswa terhadap dosen kesayangan mereka yang dinilai cuek, moody, menjaga image, tranparasi nilai, terbuka relasi dengan mahasiswa dan kategori lainnya yang telah dituliskan. (Claudya Tarigan/Artyastiani P.)


Dosen yang Selalu Transparansi Nilai Lukas S. Ispandriarno 13% Lainnya 40%

Bonaventura Satya Bharata, M. Si 19%

Anita Herawati 26%

Josep Joedhi Darmawan 2%

Dosen Termoody

Dosen yang Termudah Menyampaikan Materi Lukas S Ispandriarno 10%

Lainnya 33%

Dina Listiorini 39%

lexander Beny Pramudyanto Birgitta Bestari 2% Puspita Jati 4%

Diyah Hayu Rahmitasari 22%

Dosen Tercuek Terhadap Mahasiswa Lainnya 6% Dina Listiorini 28% Setio Budi 36% Joseph Joedhi Darmawan 19%

Yudi Perbawaningsih 11%

Lainnya 48%

Bonaventura Satya Bharata 18%

Yudi Purbawaningsih 12% Ranggabumi Nuswantoro 12%


SEKITAR KITA

Isu Tak Sedap Pengusaha Laundry Kesan pengap muncul ketika memasuki ruangan berukuran 4x5 meter itu. Pakaianpakaian setengah kering digantung di setiap sisi dinding yang ada, dua unit mesin cuci terpampang di pojok dinding yang menghadap ke jalan raya lengkap dengan kotak-kotak deterjennya. Tepat di dinding seberangnya terdapat meja kasir dan timbangan meja yang dilengkapi dengan keranjang pakaian di atasnya. Di ruangan inilah wanita paruh baya bernama Nining menjalankan jasa laundry bersama ibunya. Enam tahun lalu, Nining memulai jasa laundry yang tak jauh dari lokasi saat ini di kelurahan Maguwo, Banguntapan. Saat itu, hanya dia yang membuka jasa laundry di lingkungan itu. Ketertarikannya pada jenis usaha ini bermula dari cerita seorang teman yang lebih awal memulai jasa laundry. Kemudahan manajemen dan minimnya resiko usaha membuat Nining memilih jenis usaha ini. “Sebelum buka jasa laundry, tahun 2000-2007 saya buka toko perhiasan di bandara Adisucipto dan bandara Bali. Setelah itu berhenti dan buka salon, tapi tutup setelah sebulan karena dikira aneh-aneh,” jelas Nining (9/1). Jasa laundry saat ini memang tumbuh dengan pesat seperti cendawan seiring bertambahnya jumlah warga yang menghuni Kota Yogyakarta. Dari data lansiran BLH Kota Yogyakata, tahun 2015 yang lalu di wilayah Kota Yogyakarta saja sudah ada 400-an usaha laundry. Bagi sebagian warga, keberadaan jasa laundry dirasa cukup meringankan pekerjaan rumahnya. Walau demikian, isu tak sedap turut meliputi usaha ini. Contohnya adalah media massa lokal Tribun Jogja yang sepanjang tahun 2015 telah delapan kali merilis berita terkait laundry. Dua diantaranya menyebutkan bahwa limbah usaha laundry berisiko menularkan penyakit kulit dan berpotensi mencemari air tanah. Isu yang muncul seperti di atas menurut Nining memberatkan pengusaha laun-

10

dry kecil sepertinya. Ia mengaku bahwa tidak semua laundry memperlakukan pakaian pelanggannya dengan demikian, seperti pula miliknya. Sebagai seorang pengusaha laundry, ia termasuk cukup memperhatikan masalah kebersihan dan kesehatan dengan tidak mencampur pakaian pelanggannya. Menurutnya, laundry yang mencampur pakaian pelanggan akan memasang label di pakaian pelanggan agar tidak tertukar. “Kalau di laundry-laundry lain kan sering dipasangi label, tapi saya nggak pakai,” aku Nining (9/1). Terkait isu pencemaran air tanah, dirinya enggan jika usaha laundry di tuding sebagai satu-satunya penyebab. Meningkatnya tingkat pencemaran dikatakannya sebagai imbas dari kebutuhan mencuci seluruh penghuni Kota Yogyakarta dan bukan hanya dari usaha laundry saja. Pengusaha jasa laundry seperti dirinya, pada umumnya mengolah limbah cucian seperti dengan membuang langsung melalui saluran pembuangan yang tersedia seperti selokan. “Kalau dibilang mencemari air tanah atau sungai, bukan karena laundry yang makin banyak tapi karena warganya yang tambah banyak,” begitu katanya dengan serius. Hal yang tak jauh berbeda juga dirasakan oleh Eko, pemilik usaha jasa Banyu Laundry, yang lokasinya tidak jauh dari usaha jasa milik Nining. Pendapatnya tak jauh berbeda dengan pendapat Nining, terlebih terkait isu limbah laundry yang berpotensi mencemari air tanah. Dirinya berpendapat bahwa hal tersebut dirasanya wajar. Laundry menggunakan deterjen dan bahan-bahan kimia lain, hanya laundry sebaiknya tidak dituding sebagai biang keladi. “Kalau warga mencuci pakaian di rumah, limbahnya dibuang kemana? Kan sama saja dengan laundry,” kata Eko saat di wawancara awak Teras (24/1). (Gregorius Christian Hadi)


SUDUT

Beberapa mahasiswa FISIP UAJY mengeluhkan hal-hal yang disebabkan oleh ketidaksesuaian latar belakang pendidikan sang dosen dengan mata kuliah yang diampunya. Pendapat yang tak jauh berbeda diutarakan pula oleh mahasiswa lain. Ia menjelaskan kekecewaannya terhadap salah seorang dosen FISIP UAJY. “Kurang paham kalau sedang diajar, soalnya latar belakang dosennya tidak sesuai dengan mata kuliah yang diampu,” paparnya. Demikianlah dinamika perkuliahan, tidak terlepas dari dua unsur paling penting, yakni dosen dan mahasiswa. Keduanya tentu mengharapkan kegiatan belajar mengajar di kampus berjalan dengan baik. Namun realitanya, hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada saja permasalahan yang mengiringi dinamika tersebut. Misalnya di kampus kita, FISIP UAJY, di mana permasalahan seputar proses penempatan dosen yang masih dipertanyakan. Dua pendapat mahasiswa di atas menjadi acuan awak Teras Pers menggali lebih jauh mengenai proses penempatan dosen. Apakah mengacu pada sebuah peraturan baku yang disusun oleh pemerintah? Atau mungkin pihak universitas memiliki kebijakan tersendiri dalam mengatur hal ini? Awak Teras Pers berhasil mewawancarai Dekan FISIP UAJY, Ninik Sri Rejeki dan dua dosen FISIP UAJY, Bonaventura Satya Bharata dan Birgitta Bestari Puspita terkait proses penempatan dosen di FISIP UAJY. Menurut Ninik, kampus memang belum memiliki aturan tertulis atau buku saku yang mengatur proses penempatan dosen. Hanya saja, kampus memang mengacu kepada DIKTI (Pendidikan Tinggi) yang disusun oleh pemerintah. “Kalau kita mengacu pada peraturan di DIKTI, bisa dilihat dari latar belakang pendidikan terakhir, apakah dia diberi penugasan sesuai dengan ilmu terakhirnya itu,” jelas Ninik (22/12). Berdasarkan hasil wawancara singkat dengan Bonaventura dan Birgitta, penempatan dosen di kampus FISIP UAJY dapat berdasarkan beberapa hal, yakni latar belakang pendidikan, riset-riset, serta interest atau minat dosen yang dimaksud. “Jadi meskipun, misalnya latar pendidikannya politik, bisa saja dia mengajar mata kuliah selain politik, sesuai ketertarikannya mengajar apa,” terang Bonaventura (28/11). Namun Bonaventura me-

Ketika Penempatan Dosen

Dipertanyakan “Di mata kuliah yang seharusnya menganalisis, dosennya malah lebih condong ke praktikum,” nambahkan pula, dosen tersebut tetap harus memiliki dasar-dasar ilmu mata kuliah yang diampunya. Selain itu, dapat pula dilihat dari riset-risetnya. Jadi misalnya, seorang dosen dengan latar belakang pendidikan politik dapat membuat riset-riset yang berhubungan dengan bidang komunikasi yang menjadi minatnya. Untuk memaksimalkan minatnya itu, seorang dosen dapat—katakanlah—belajar lagi. “Lagipula ilmu terus berkembang, wajar kalo dosen belajar lagi,” ungkap Birgitta (1/12). Tak hanya itu, penempatan dosen ternyata juga dipengaruhi tingkatan mata kuliah. Ninik menjelaskan bahwa dosen-dosen yang mengajar di semester awal justru biasanya adalah dosen dengan gelar S3. Hal tersebut ditempuh lantaran mata kuliah awal sering kali merupakan mata kuliah yang menjadi dasar dan bersifat krusial bagi mata kuliah selanjutnya. Ninik mengaku bahwa sejauh ini belum ada masalah yang ia terima dari mahasiswa terkait dosen-dosen yang “diragukan”. Jika kemudian ada laporan mengenai dosen terkait kredibilitasnya, solusi seperti pengoptimalan dosen dapat ditempuh.“Pengoptimalan itu, misalnya dosen yang belum S3 disekolahkan lagi,” jelas Ninik. Lebih jauh, Ninik menambahkan pula bahwa belum ditemukannya masalah (seputar penempatan dosen) bukan berarti tidak ada masalah. “Bisa saja itu karena kami menangani evaluasi itu belum begitu baik,” tuturnya. (Nicholas Ryan, Christina Tjandrawira)

11


OPINI

Belajar Menghargai Kebebasan Berbicara soal pendidikan dan hasil dari proses akademis tidak hanya berujung pada rentetan nilai di secarik kertas lembar hasil studi. Pendidikan adalah proses panjang pembelajaran yang dijalani dalam keseharian para akademisi. Proses belajar tidak terlepas dari lingkungan institusi pendidikan. Proses belajar berlangsung di segenap sudut institusi pendidikan, dengan siapapun kita berjumpa. Belajar tidak hanya dilakukan oleh peserta didik, tetapi juga oleh tenaga pengajar dan segenap anggota institusi pendidikan. Mahasiswa, dosen dan karyawan membentuk sebuah relasi dalam sebuah institusi pendidikan. Setiap hari setiap orang dalam lingkungan kampus selalu berinteraksi, bertukar pengetahuan, pendapat dan bahkan pengalaman. Salah satu dosen FISIP UAJY selalu mengatakan pada mahasiswanya di kelas “Saya masih belajar hingga saat ini, dan saya banyak belajar dari kalian para mahasiswa.� Dosen berusaha menciptakan sebuah suasana kelas yang segar dan kondusif untuk belajar. Sebaliknya, ada dosen yang selalu meminta pada mahasiswa untuk menuruti keinginannya. Keinginan dalam hal peraturan di kelas. Peraturan yang dibuat tersebut bertujuan agar dosen merasa nyaman mengajar dan metodenya mudah dipahami. Namun, tidak semua mahasiswa mampu menyesuaikan dirinya. Justru ada beberapa mahasiswa yang tidak mampu mengikuti peraturan tersebut. Karena keberagaman akan selalu ada dalam setiap kelompok.

14

Kembali pada relasi yang terbentuk di kalangan civitas akademis FISIP UAJY. Secara umum, dapat dikatakan bahwa relasi yang terbentuk bukanlah relasi setara antara mahasiswa, dosen dan karyawan. Ketimpangan kuasa di antara keluarga civitas akademis masih terasa. Ketimpangan antara dosen dengan mahasiswa adalah kasus yang sering kali terjadi. Tampak sebagai hal yang wajar. Mulai dari pendidikan tingkat Sekolah Dasar hingga tingkat Universitas, masih langgeng terjadi. Sering muncul ungkapan “Dosen punya pena untuk menentukan nasib mahasiswa, sedangkan mahasiswa tidak.� Contoh sederhana yang sering memunculkan gejolak adalah berkenaan dengan penilaian dosen terhadap mahasiswa yang tidak sesuai (setidaknya, mendekati) dengan nilai yang sewajarnya didapat oleh mahasiswa. Tidak hanya sampai di situ, civitas FISIP UAJY sempat ramai mempersoalkan surat aduan seorang mahasiswa yang merasa dirugikan oleh salah satu dosen berkaitan dengan nilai Ujian Akhir Semester. Mahasiswa bungkam akan keadaan yang selama ini terjadi bukan berarti apatis. Namun, merupakan sebuah strategi menyelamatkan diri dari tekanan-tekanan yang akan didapat oleh mahasiswa jika angkat bicara. Meskipun mahasiswa memiliki media cetak seperti Teras Pers dan Esensi, belum tentu kebebasan dapat dienyam sesuai dengan prinsip kebebasan pers yang disampaikan


dalam perkuliahan oleh dosen. Relasi kuasa yang terjadi dalam civitas akademis tampaknya masih menjadi salah satu pengganjal terwujudnya suasana pendidikan yang kondusif. Melihat dari sisi mahasiswa, koarkoar soal kebebasan dan kesetaraan antara dosen dan mahasiswa sudah menjadi hal yang klise. Ketika dosen sudah memberikan kebebasan pada mahasiswa, justru mahasiswa kadang menyepelekan dan seenaknya sendiri. Berbicara soal kebebasan, menjadi persoalan ketika kebebasan yang didapat oleh mahasiswa jusru tidak diolah dengan bertanggung jawab. Kesadaran soal belajar juga perlu ditilik lagi oleh kita mahasiswa FISIP UAJY. Sekurang-kurangnya, berusaha untuk menghargai yang diberikan dan diusahakan oleh dosen. Sikap saling menghargai setiap pribadi adalah nilai yang harus selalu dipegang dalam mempertahankan kebebasan dan kenyamanan masing-masing pihak. Bukan pada mempertahankan nama baik dan citra diri di hadapan teman-teman. Sikap membela nama baikjustru akan merugikan diri, karena tidak bisa menerima kritikan yang membangun untuk perkembangan di masa mendatang. Sebuah relasi akan harmonis jika ada keseimbangan di antara anggota civitas akademis. Nyaman adalah indikasi kondusifitas sudah cukup dalam suasana belajar. Indikasi ketidaknyamanan adalah munculnya suara-suara miring akan suatu keadaan. Kalangan mahasiswa menempelkan nilai dengan sebutan “Dosen penak” dan “Dosen ra penak” Walaupun nyaman dan tidak nyaman pada sebuah kondisi kelas adalah hal yang relatif. Setidaknya riak-riak kecil yang demikianlah bisa menjadi cerminan kondusifitas suasana pembelajaran. Salah satu mahasiswa FISIP UAJY pernah mengungkapkan “Kita di sini cuma sementara, cuma beberapa tahun, tapi para dosen menetap di kampus bertahun-tahun, bahkan ada yang sudah puluhan tahun. Jadi,

wajar kalau kita mahasiswa yang harus menyesuaikan dengan mereka...” Ada benarnya dengan hal yang diungkapkan oleh salah satu mahasiswa, bahwa sebagai mahasiswa juga harus bisa menempatkan diri dengan semestinya. Selain itu, ada ungkapan di kalangan mahasiswa “Ikuti cara mainnya aja...” Artinya mahasiswa yang menyesuaikan dengan karakter dosen. Bukan hal yang bijaksana bila hanya menuntut dosen untuk mengikuti kemauan mahasiswa yang ada sekian banyak kepala. Lebih realistis bila mahasiswa yang menyesuiakan dengan keadaan dosen. Hal ini terdengar seperti suara pesimistis yang ingin aman dan lurus-lurus saja dalam menjalani perkuliahan. Namun, memang hal inilah yang sadar maupun tidak disadari selama ini dilakukan. Mahasiswa, dosen dan karyawan memiliki problem di masing-masing posisi mereka. Justru, dengan adaptasi yang berhasil oleh mahasiswa akan menciptakan kenyamanan dalam pembelajaran di kelas, dan di lingkungan FISIP UAJY. Sebagai sesama anggota keluarga civitas akademis FISIP UAJY, mari kita saling membuka diri, membuka pikiran dan memikirkan tentang kenyamanan bersama. Berusaha tidak mengedepankan ego diri dan kalangan privat dalam komunitas FISIP UAJY. Manusia dilahirkan dalam keadaan bebas. Berbagai pilihan tersaji setiap hari di hadapan setiap orang. Pilihan untuk mencela orang lain atau mengkritik dengan motivasi yang membangun. Pilihan menuntut orang lain untuk selalu tunduk dan patuh dengan keinginan kita atau memberikan kebebasan dan saling beradaptasi. Pilihan untuk menekan pihak-pihak tertentu demi mencapai keuntungan diri sendiri atau berusaha membuka diri dan bekerjasama secara terbuka dan adil dengan orang lain. Setiap kebebasan yang kita dapatkan, selalu memiliki konsekuensi dalam menikmatinya. Konsekuensi yang ditangung adalah adanya tanggungjawab. Y. Advent Krisdamarjati Penulis adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Studi Kajian Media, Angkatan 2012.

15


SENI BUDAYA

TOPENG KAYU KLASIK: MENARIK TAPI KURANG DILIRIK

Topeng diartikan sebagai kesenian yang terbuat dari kayu, logam, kertas dan sejenisnya yang digunakan sebagai penutup wajah. Kegunaannya pun biasa diperlukan dalam upacara ritual, lakon teater, atau tarian rakyat. Setiap topeng menggambarkan tokoh tertentu rupa wajah manusia ataupun binatang. Simbah Warnowaskito merupakan salah satu pengerajin pertama topeng kayu klasik di daerah Bantul, Yogyakarta. Kerajinan topeng kayu klasik ini dirintis sejak tahun 1920. Pada waktu itu Indonesia masih dalam masa penjajahan Belanda.

16

Tempat pembuatan topeng Simbah Warnowaskito saat ini hanya berupa “bengkel� kecil, yang terletak tepat di depan rumahnya. Pada siang itu, salah satu cucu Simbah yaitu Pak Warsono tengah beristirahat siang. Penampilannya sederhana seperti seniman topeng lainnya. Beliau menceritakan dengan rinci bagaimana sejarah topeng klasik khas Simbah Warnowaskito. Pada mulanya, kerajinan topeng kayu klasik ini dimulai dari kesenangan Simbah Warnowaskito terhadap wayang kulit. Bermula dari kegemarannya bermain wayang kulit


dengan dua orang saudaranya, Simbah Warnokasito “mbarang” berkeliling desa untuk menampilkan pementasan wayang sederhana. Sewaktu “mbarang” keliling desa, beliau berinisiatif membuat penampilan mereka semakin menarik dengan topeng. Pada awalnya topeng yang digunakan terbuat dari kertas. Setelah itu, Simbah Warnokasito memanfaatkan jenis Kayu Jaranan untuk pembuatan topengnya. Mulailah dari situ, topeng kayu menjadi salah satu pendukung penampilannya. Seiring berjalannya waktu, Simbah Warnowakito memutuskan untuk mengkhususkan penggunaan topeng-topeng buatannya, yakni untuk tari. Topeng-topeng tersebut seringkali digunakan untuk lakon drama percintaan Panji dengan Candrakirana. Kemudian Simbah Warnokasito pun mulai melakukan pengerjaan kerajinan tangan berupa topeng kayu klasik di rumahnya. Pada tahun antara 1951-1953, bahkan beliau pernah dikunjungi oleh turis dari Eropa. Mereka belajar untuk belajar budaya tradisonal Indonesia khususnya topeng kayu. Sebagai seorang pengerajin dan pelestari budaya Indonesia yakni topeng klasik, Simbah Warnowaskito tidak luput dari perhatian orang-orang nomor satu di Indonesia. Pada waktu zaman orde baru, Presiden Soeharto sendiri bahkan mengundang Simbah Warnowaskito untuk datang ke istana negara untuk memperlihatkan secara langsung proses pembuatan topeng kayu klasik tersebut. Setelah Mbah Warnokasito wafat, usaha pembuatan topeng kayu klasik dilanjutkan oleh ketiga cucunya. Namun, saat ini hanya dua orang cucunya saja yang menjadi pengerajin topeng kayu klasik. Cucu pertamanya adalah Pak Warsono yang saat ini masih aktif bekerja di rumahnya dan juga di Rumah Budaya Tembi setiap hari Selasa. “Saya hanya membuat topeng cerita Panji dan Candrakirana. Sama seperti Simbah Warnokasito,” kata Beliau. Kemudian juga ada Pak Rono yang juga meneruskan kerajinan topeng kayu klasik, namun lebih menekankan juga pada pembuatan patung asmat. Topeng kayu klasik pada saat ini tidak seeksis jaman Simbah Warnokasito. Peminat topeng klasik di jaman sekarang hanya para penari tradisonal di wilayah Yogyakarta. Pak Warsono memiliki kendala dalam pemasaran topeng-topeng kayu klasiknya. “Yang nyari topeng sekarang sepi mbak, ya palingan saya jualan di Desa Wisata Tembi yang ramai”, ujar Pak Warsono. Kisaran harga

topeng kayu klasik berkisar Rp 500.000 – Rp 2.500.000. Kualitasnya pun baik, karena mampu bertahan sampai 50 tahun. Harga topeng kayu klasik yang cukup mahal semakin menyulitkan Pak Warsono untuk menjual hasil karyanya dengan cepat. Karena itu, agar tetap menghasilkan pendapatan untuk keluarganya, Pak Warsono menjual karya berupa gantungan kunci. “Topeng kayu kan mahal ya Mbak, jadi saya sekarang coba buat gantungan kunci berbentuk topeng,” jelas Pak Warsono. (Dewa Ayu Indah Karunia Pratiwi/Novita Sri Rejeki)

17


SOSOK

Nostalgia di Sudut Beringharjo Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat membuat beberapa perangkatnya yang dulu pernah Berjaya dan menjadi primadona publik kian tersisih. Salah satu perangkat teknologi informasi-komunikasi yang cukup kentara mengalami ketersisihan tersebut adalah tape radio. Sekarang, akses terhadap siaran radio terbantu lewat fitur canggih dalam smartphone. Munculnya fasilitas radio streaming yang membuat radio bisa diakses di mana pun dengan bermodal jaringan internet, membuat perangkat radio manual tak terjamah. Namun, keberadaan perangkat tape radio tidak sepenuhnya hilang. Bahkan kini perangkat lawas tersebut mulai kembali diburu oleh para penggemarnya. Setidaknya begitulah yang dipaparkan oleh Trisno Wiyadi. Lelaki sepuh berusia 85 tahun itu adalah salah satu penjual radio yang namanya cukup kondang di kalangan para kolektor radio kuno. Bahkan pelanggannya tidak hanya dari Kota Yogyakarta saja. Para kolektor yang berasal dari Solo sampai Jakarta pun rela menyambangi Pasar Beringharjo untuk berburu radio lawas di lapak Trisno. Ia juga mengaku, kerap disambangi oleh beberapa kolektor radio yang berasal dari luar negeri. “Beberapa waktu lalu bahkan ada seseorang dari Jepang yang membeli salah satu koleksi radio saya�, ungkap pria kelahiran Sleman, 31 Desember 1940 tersebut. Setiap hari, Trisno membuka lapaknya dari pukul tujuh pagi hingga sore hari. Kurang lebih selama seharian, ia menghabiskan waktunya di selasar utara pasar Beringharjo. “Kalau tutupnya tergantung kondisi. Jika suasana

18


pasar sudah sepi, ya tutup. Terserah mau pulang jam berapa saja, tidak perlu ngikut pasar karena lapak saya ada di luar”, jelasnya. Perihal radio kuno yang ia jual, Trisno mengaku bahwa ia mempunyai beberapa kawan dan kerabat dari berbagai kota sebagai pemasok dagangannya tersebut. Soal penjualan ia mengaku dapat mengantongi tiga ratus ribu hingga satu juta rupiah dari setiap penjualan satu unit radio. Hal itu tergantung dari merk radio itu sendiri. Seperti radio bermerk Cawang misalnya. Radio pabrikan Tiongkok yang tidak lagi diproduksi itu ia banderol seharga 300400 ribu rupiah. Sedangkan untuk merk Panasonic, ia pasang harga dikisaran 400-500 ribu rupiah. Sementara yang termahal adalah radio merk Philips keluaran tahun 1980. Harga barang tersebut dapat membumbung hingga menyentuh banderol 1 juta rupiah. Mahalnya harga radio-radio tersebut bukan hanya karena fungsinya, namun lebih kepada sifatnya yang langka dan hobi yang membuat orang rela merogoh gocek lebih dalam untuk mendapatkan barang tersebut. Ia sendiri mengaku bahwa kini penjual radio kuno yang ada dapat dihitung dengan jari. Setidaknya di sentra pasar loak Bering-

harjo, memang hanya Trisno seorang yang mempunyai koleksi radio kuno yang komplit. “Kalau pun ada, itu pun masih kalah pamor dibanding punya saya”, celotehnya ketika di wawancara Teras Pers (23/1). Walaupun begitu, laiknya seseorang yang berdagang, kas yang mengalir ke dalam dompetnya tidaklah menentu. Trisno bercerita bahwa dalam sehari, ia bahkan bisa mendapatkan banyak pemasukan. Namun, bergantinya hari turut juga membawa pergantian rejeki. Terkadang dalam sehari, ia hanya mendapati satu barang saja yang laku terjual. “Resiko pedagang itu ya penghasilannya tidak menentu. Kadang laku, kadang juga nggak. Tidak seperti pegawai kantoran yang gajinya tetap”, ucap Trisno sembari tertawa ringan. Di senjakala usianya kini, ia mengaku tidak pernah bosan dan selalu menikmati profesinya sebagai penjual radio lawas. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya untuk beralih profesi. “Tidak pernah terpikir akan hal itu. Harus tetap ini (berjualan radiored). Tidak bisa dirubah, karena tidak ada kolektor lain selain saya”, tukas Trisno menutup wawancara dengan Teras Pers sore itu. (Gregorius Bramantyo)

19


KOMUNITAS

Menantang Jaman bersama Code Pintar Ketidaksengajaan, kata yang tepat untuk menggambarkan awal berdirinya komunitas Code Pintar. Kini Code Pintar menjadi salah satu komunitas yang mengisi dinamika humaniora Kota Yogyakarta.

Berawal dari sebuah bangunan di daerah Jogoyudan yang disewa pada tahun 2012, beberapa anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Universitas Sanata Dharma, NATAS, yang berlatar belakang Ilmu Pendidikan berinisiatif menjadi pengajar. Sebuah kelas belajar kemudian dibuka bagi anak-anak di kawasan Jogoyudan RW 11 RT 49. Anak-anak yang duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat secara bebas memanfaatkan Code Pintar sebagai wahana belajar. “Kami hanya ingin membantu adikadik belajar dan mengerjakan PR yang diberikan sekolah,� jelas Sabina Tiphani, salah satu pengurus Code Pintar ketika menceritakan cikal bakal berdirinya komunitas. Hingga tak selang berapa lama, Fafa-begitu biasa ia disapa-beserta kawan-kawan sepakat wadah belajar yang telah terbentuk itu diberi nama Komunitas Belajar Code Pintar. Awalnya, para relawan pengajar Code Pintar hanya fokus pada bagaimana keberadaan mereka berguna bagi warga Jogoyudan. Akan tetapi, mereka merasa tidak cukup bila hanya menjamah ranah akademis. Komunitas ini juga menjamah bidang lain seperti kesenian. Cair dan Menantang Jaman Membentuk pola pikir yang kritis, memiliki ruang untuk merefleksikan dan mengekspresikan perasaan, serta mengembangkan diri sesuai minat dan bakat adalah visi yang diusung sebagai saka guru kegiatan mereka. Visi ini tercetus karena kondisi pendidikan formal

20

yang dinilai masih konservatif. Selain itu, situasi jaman semakin menantang setiap manusianya untuk terus berkembang. Dengan menerapkan visi ini diharapkan kegiatan yang mereka selenggarakan semakin jelas dan berorientasi. Visi mengenai Code Pintar sebagai ruang refleksi dan ekspresi misalnya. Visi ini dirumuskan melihat modernitas yang menuntut orang-orang untuk sibuk bekerja keras. Code Pintar melihat kondisi ini sebagai salah satu sebab permasalahan yang acap kali membuat manusia lupa untuk merefleksikan hidup. “Begitu juga dengan anak-anak, di mana sekolah sangat menuntut peserta didiknya hanya berfokus mengerjakan tugas dan mengabaikan aspek yang lain seperti ekspresi emosional,� terang Fafa.


Kondisi sosio-kultural yang timpang dan kerap kali berujung penindasan juga menjadi hal yang diresahkan oleh Code Pintar. Keresahan ini terwujud dalam visi Code Pintar yang berusaha untuk membentuk perspektif kritis para peserta didiknya. “Kita ingin anak-anak belajar bersikap kritis terhadap permasalahan-permasalahan yang dekat dengan kacamata mereka sebagai anak-anak,” imbuh Fafa. Sedangkan visi mengembangkan diri sesuai minat dan bakat sengaja dirumuskan Code Pintar untuk menerjemahkan permasalahan pendidikan di Indonesia. Para siswa dinilai banyak dijejali dengan hal-hal yang belum tentu mereka minati. Menurut Fafa, ini membuat standar tentang “pintar” dan “pandai” menjadi sesat. “Tiap anak pasti punya hal yang dia suka dan kuasai. Sedangkan pendidikan formal kadang menganggap hal-hal di luar mata pelajaran bukanlah indikator kepandaian,” tegas Fafa. Pemikiran ini membuat Code pintar selalu mengapresiasi seluruh minat dan bakat anak. “Hal apapun yang dilakukan dengan intens dan sepenuh hati akan membuahkan sesuatu,” lanjutnya. Visi yang terakhir tadi diterjemahkan ke dalam beragam aktifitas dan materi di ranah non-akademis. Menulis dan membaca cerpen serta puisi, bermain peran dalam drama, bermusik, menari adalah kegiatankegiatan yang sudah mereka jalani sejauh ini. Tidak ketinggalan kegiatan di bidang seni rupa juga diperkenalkan. Anak-anak membuat buku harian, menggambar, membuat kartu pos, membuat stencil, dan bahkan memotret dengan kamera lubang jarum. Bukan Kisah Negeri Dongeng Kurang lebih sudah empat tahun berlangsung. Keberadaan Code Pintar bukan sekedar kisah yang beriring dengan harapanharapan indah semata. Tak dinyana komunitas ini juga menghadapi berbagai kendala. Salah satunya mengenai jumlah tenaga pengajar yang belum memadai. Dikarenakan

tenaga pengajar yang ada adalah mahasiswa yang juga mempunyai kesibukan lain. Kendala inilah yang akhirnya membuat pengurus Code Pintar mau tidak mau harus mengurangi ambisinya. Sehingga menjadi lebih fokus di ranah non-akademis dan keterampilan tangan, walaupun tidak mengeliminasi rutinitas di bidang akademis yang sudah berjalan. Menolak berhenti dan mengalah, kendala tersebut disiasati dengan dibentuknya sistem rekruitmen relawan pengajar dalam acara pentas dan penggalangan dana. Cara ini dilakukan pada Agustus 2015 silam. “Setelah kami melakukan rekruitmen, orientasi kegiatan kami bergeser lebih ke arah kegiatan berbasis karya, disamping kegiatan akademis tetap berlangsung,” jelas Fafa. Menurutnya, sistem tersebut berhasil menyelamatkan Code Pintar dari kekurangan tenaga pengajar. “Kami bisa menyiapkan terlebih dahulu tenaga-tenaga pengajar yang mempunyai beberapa keterampilan khusus,” imbuh Fafa. Selain keterbatasan tenaga pengajar, kendala lain yang harus dihadapi oleh Code Pintar mengenai biaya operasional. Tanpa adanya perhatian dari pihak pemerintah, akhirnya patungan dilakukan oleh para tenaga pengajar serta aksi penggalangan dana pun ditempuh. Meskipun dengan cara ini, masalah biaya operasional belum sepenuhnya terentaskan. Berbagai kendala boleh menghadang, akan tetapi hal ini tidak mengurangi fokus para pengajar untuk menjadikan Code Pintar bermanfaat untuk sekitar. Melalui berbagai aktifitas yang diadakan, Code Pintar berusaha konsisten memberdayakan anak-anak di Kampung Jogoyudan sesuai dengan tujuan awal. Begitu juga dengan Fafa, dirinya berharap agar kedepannya Code Pintar dapat semakin matang. “Semoga visi-visi yang telah dirumuskan dapat semakin terwujud dalam diri orang-orang yang terlibat. Aku juga berharap Code Pintar panjang umurnya,” tutupnya. (Aloysius Bram)

21


SPECIAL PAGE

Cerpen oleh Maria Hervina Janwarin

DEPRESI.

“Kamu itu gimana sih? Masa kamu kalah dari temanmu Winda? Bagaimana bisa IP kamu tertinggal jauh sama IP dia?” omel seorang wanita paruh baya, yang sedang berdiri di hadapanku sambil mengacung-acungkan kertas berisi transkrip nilai akademikku. Ya, dia adalah mamaku. “Ya bisa ajalah. Kan si Winda itu memang pinter, dan rajin belajar. Jadi, wajarlah kalau nilai dia lebih bagus dari aku, Ma.” Ujarku tak peduli dengan omelannya, yang selalu sama saja. “Dinar, di dunia ini nggak ada orang yang pintar atau bodoh. Di dunia ini cuma ada tipe orang yang pekerja keras dan orang yang malas. Jadi, si Winda itu bukannya pintar. Tapi dia itu bekerja keras untuk belajar, kalau kamu belajar lebih keras lagi kamu pasti bisa melampaui dia.” Jelas mama panjang-lebar. “Ma, aku ini udah belajar semampu aku. Kemampuan setiap orang itu berbeda-beda, Ma. Mama nggak bisa dong, maksa aku untuk melakukan hal yang di

22

luar dari kemampuan aku.” Sanggahku dengan nada keras pada mama. Mama membanting kertas nilai ku ke atas meja. “Cukup. Masalah ini, kita anggap selesai. Mama ngga peduli tentang apapun alasan kamu, yang mama mau kamu harus dapat nilai yang lebih tinggi dari sekarang. Kamu ngerti, kan?” ucap mama tepat di hadapan wajahku, kemudian mama pergi meninggalkan aku sendirian. Ya, hampir setiap hari mama mengomeli aku karena masalah nilai dan persaingan dengan teman kuliah. Mama sangat tak menyukai, jika ada temanku yang memiliki nilai atau kemampuan yang lebih unggul dari aku. Terutama kalau sudah menyangkut tentang Winda, temanku sejak SD yang selalu dijadikan mama sebagai sainganku dalam segala aspek kehidupan. Bahkan hingga saat ini pun, mama masih tetap membandingbandingkan aku dengan Winda, dan memaksa aku agar selalu lebih unggul dari Winda. Sebenarnya aku tahu, mama melakukan ini karena ingin bersaing dengan Tante Siska, mamanya Winda. Mama dan Tante Siska seringkali bertemu di semacam pertemuan arisan, di sana Tante Siska sering sekali berkoar-koar. Bercerita mengenai keunggulan dan prestasi anaknya, Winda. Setiap cerita tentang Winda, yang keluar dari mulut Tante Siska selalu mendapat berbagai pujian dari ibu-ibu lain yang ada di pertemuan tersebut. Hal ini menyebabkan mama juga ikut bercerita tentang aku dan sederet prestasiku, yang aku tahu itu hanya bualan mama saja. Tanpa diduga para ibu-ibu itu jadi antusias dan malah ingin bertemu denganku, tentu saja mama jadi sangat bangga mendengarnya. Sejak saat itulah, mama jadi gila pujian tentang anaknya dan selalu memaksakan aku untuk megikuti semua kemauannnya. *** Hari ini, aku merasa sedang tak enak badan. Rasanya seluruh tubuhku pegal dan lemas, aku berniat untuk tak berangkat kuliah hari ini dan memilih untuk melanjutkan tidurku. Tak sampai beberapa menit aku


kembali tidur, terdengar suara mama yang berteriak menyuruhku untuk segera bangun. “Dinar! Ayo Bangun, kamu kuliah pagi, kan? Ayo cepat bangun Dinar.” Seru mama dari arah ruang makan,. Dengan kesal aku segera bangun dari tempat tidur, dan berjalan gontai menuju ruang makan. Aku menghampiri mama yang tengah menyiapkan sarapan, dengan masih memakai baju piyamaku. Mama yang melihat aku dalam keadaan baru bangun ttidur langsung kembali mengomel. “Ya ampun, Dinar! Kamu kok belum mandi sih? Kamu cepetan mandi terus, berangkat kuliah. Nanti kamu telat gimana?” tanya mama dengan nada suara tinggi. “Ma, hari ini Dinar ngga kuliah deh. Dinar lagi ngga enak badan, kayaknya Dinar mau sakit deh, Ma.” Ucapku dengan nada lemas. Mama langsung menggenggam lenganku dengan kuat. “Dinar, jangan mulai manja! Sekarang juga kamu mandi terus siap-siap berangkat kuliah. Mama ngga mau dengar alasan apapun, kamu harus perbaiki nilai kamu yang jelek itu. Ngerti?” ujar mama sambil sedikit mendorong tanganku. Aku memandang mama dengan perasaan sedih, sembari berjalan kembali kamar. Tak lama kemudian, aku sudah berada di dalam taksi bersama mama. Suasana di dalam taksi sangatlah hening, mama sama sekali tak bicara sepatah katapun bahkan tak menoleh padaku. Pandangannya hanya lurus tertuju ke depan. Aku pun juga sama sekali tak mempedulikan keadaan di dalam taksi itu. Aku memilih, untuk menatap pemandangan jalan raya melalui jendela taksi. Sambil sesekali memejamkan mata karena merasa pusing. “Dinar.” Panggil mama padaku, suaranya memecah kesunyian di dalam taksi itu. “Hmm...?” sahutku sambil menyandarkan kepalaku ke kaca jendela taksi. “Kamu harus ingat. Kamu adalah satu-satunya anak mama, yang sangat mama banggakan. Mama ingin, kamu bisa memenuhi semua keinginan mama.” Kata mama, matanya yang sudah terpejam kembali terbuka lebar mendengar perkataan mamaku. “Keinginan mama ngga banyak, kok. Mama cuma minta kamu, harus menjadi yang terbaik melebihi Winda, teman kamu itu...” lanjut mama, tanpa menoleh padaku. Mendengar ucapannya itu, aku langsung menengok ke arah mama dengan perasaan kesal. “Ma! Cukup, Ma! Cukup! Bisa ngga sih, Mama ngga usah bahas hal itu lagi? Aku depresi, Ma! Kenapa sih, apapun yang aku lakukan selalu saja kurang di mata Mama. Mama harusnya sadar, kalau mama kayak gini terus. Lama-lama,

aku bisa mati karena depresi!” sergahku pada mama, lalu aku menghentikan taksi itu dan segera turun meninggalkan mama sendirian. *** Aku berjalan dengan langkah gontai menuju ke dalam gedung kampus, setelah aku turun dari taksi yang mengantarku sampai di depan gerbang kampus. Aku benarbenar tidak memiliki semangat untuk kuliah hari ini, sudahlah aku merasa tidak enak badan ditambah lagi dengan kejadian di dalam taksi tadi, makin membuat aku malas untuk kuliah. Aku berjalan sambil melamun, dan tanpa sengaja aku menabrak seorang gadis yang ternyata sedang berdiri di depanku. Dan tubuhku mendadak terhuyung. “Lho? Dinar, kamu kenapa? Muka kamu pucat banget.” Gadis yang aku tabrak itu menahan tubuhku, yang sudah hampir jatuh terjerembab ke tanah. Aku menatap wajah gadis itu, dan aku terkejut saat mengetahui bahwa gadis itu adalah Winda. Dengan cepat aku langsung menepis tangannya yang menahan tubuhku, dan melangkah mundur ke belakang menghindari Winda. Winda terlihat bingung dan terkejut dengan reaksiku yang sangat spontan dan aneh. “Dinar, kamu kenapa? Kok kamu jadi aneh gini, sih. Ada apa?” tanya Winda dengan raut wajah bingung dan khawatir, dia berusaha kembali menahan tubuhku yang sudah mulai goyah. “Jangan sentuh aku!” seruku dengan suara menggelegar, yang aku sendiri tidak tahu dari mana asalnya. Winda terkejut mendengar seruanku, sehingga dia menarik kembali tangannya yang sudah terulur. “Kamu pikir kamu hebat, hah?! Kamu tahu, mamamu selalu saja membanggakan berbagai kehebatanmu di depan mamaku dan semua teman-temannya.” Seruku menumpahkan semua perasaanku. “Gara-gara hal itu, aku selalu jadi korban obsesi mamaku. Obsesi untuk membuat aku selalu sama seperti kamu!” lanjutku dengan nada lantang. Aku sudah terlalu depresi, menghadapi semua hal ini. Winda terlihat terkejut dan kebingungan, dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dia tak bisa bicara apapun saat aku membentaknya. Perlahan Winda berjalan mendekatiku dan meraih tanganku, dan menggenggam tanganku. “Dinar, aku ngga tahu apapun yang terjadi selama ini antara mamaku dan mamamu. Ataupun apa yang terjadi di antara kita berdua. Tapi, tolong kamu jangan marah-

23


marah gini sama aku. Kalau kamu marahmarah sama aku kayak gini, aku malah makin ngga ngerti.” Ucap Winda dengan nada lembut berusaha menenangkanku. Kepalaku yang sejak tadi sudah berat, malah jadi semakin berat mendengar omongannya. “Udahlah. Kamu memang ngga akan pernah mengerti, tentang perasaan orang seperti aku. Orang yang selalu ditekan, dituntut, dan dipaksa untuk menjadi seperti orang lain. Kamu ngga pernah merasakan itu, jadi sampai kapanpun kamu ngga akan ngerti.” Sergahku dengan nada kasar, sambil menghempaskan tangan Winda sekali lagi lalu berjalan meninggalkannya dengan langkah gontai menuju gerbang kampus. “Dinar! Dinar! Dinar! Tunggu, aku mau ngomong sama kamu.” Seru Winda berusaha memanggil aku. Namun, aku sama sekali tak menghiraukannya. Aku terus berjalan. “Dinar! Dinar! Dinar! Mama mau bicara sama kamu. Kamu harus dengarkan Mama! Dinar!” Sayup-sayup aku mendengar suara mama, yang memanggilku. Langkahku sedikit goyah mendengar suara itu. *** “Dinar! Apa ini? Kenapa nilai raport kamu kayak gini semua, hah?! Kamu pikir dengan nilai seperti ini, kamu bisa menyaingi Winda? Hah?!” suara mama menggema di seluruh sudut ruang tamu, sembari melempar buku raport SMA-ku ke arah wajahku. “Ma, apa yang salah sih? Nilai aku ini udah bagus, Ma. Ngga ada satupun nilai merah di raportku. Lagian aku juga dapat peringkat kedua, di kelas. Kurang apa lagi sih, Ma?” sahutku sambil mengambil buku raport yang dilempar oleh mama. “Apa kamu bilang? Jadi kamu bangga dapat peringkat kedua? Kamu bangga kalau kamu berada di bawah Winda dan jadi budaknya?” “Ma! Mama tuh, apa-apaan sih? Kenapa mama selalu membandingkan aku sama Winda? Bisa ngga sih, sekali aja mama berhenti melakukan ini? Aku capek, Ma kalau begini terus!” seruku tak sanggup lagi menahan amarahku atas perlakuan mama padaku. Aku segera berbalik hendak pergi ke kamarku. “Dinar! Dinar! Dinar! Mama mau bicara sama kamu. Kamu harus dengarkan mama! Dinar!” teriak mama padaku, aku sama sekali tak menghiraukan panggilannya itu. terdengar mama menghela napas kesal.

“OK! Kalau memang kamu ngga mau menuruti kemauan mama. Kamu tinggal pilih, kamu mau lihat mama mati atau kamu menuruti semua kemauan mama, selama mama masih hidup. Silahkan tentuka pilihan kamu.” ujar Mama dengan nada tegas. Kakiku segera berhenti melangkah, mendengar hal itu. Telapak tanganku mengepal, dan air mata mulai mengalir di pipi karena menahan kesal. Perlahan aku memejamkan kedua mataku kuat-kuat, dan aku menjawab pilihan dari mama. “Baiklah. Aku akan menuruti semua kemauan mama. Tapi, aku akan melakukannya selama aku masih sanggup melakukannya.” Jawabku dengan nada datar. Aku yakin, saat itu mama sedang tersenyum di belakangku. *** Aku terus melangkahkan kakiku untuk berjalan, hingga aku tak menyadari bahwa aku sudah keluar jauh dari gerbang kampus. Kenangan masa laluku, membuat aku tak bisa lagi menggunakan akal sehatku. Samar-samar aku mendengar suara orang-orang yang berteriak, mereka memanggil namaku dengan panik. Di antara suara mereka aku juga mendengar suara Winda, yang dengan histeris meneriakkan namaku. Suara klakson sebuah mobil berhasil membuat tersadar, bahwa aku telah berada di tengah jalan raya. Klakson mobil kembali terdengar dan kini aku melihat sebuah mobil tengah melaju kencang ke arahku, di sisi lain aku juga melihat Winda yang tengah berlari ke arahku dengan panik. Dan saat itu aku sadar, jika aku tidak menghindar dari mobil itu. Maka, nyawaku berada dalam bahaya. Namun aku memilih untuk tidak bergerak dari sana, aku memilih untuk membiarkan nyawaku berada dalam bahaya. Mungkin dengan ini, aku bisa mengakhiri tugasku untuk memenuhi semua keinginan mama. Ku pejamkan kedua mataku dengan kuat, sembari kuucapkan maaf dan salam perpisahan untuk mama di dalam hatiku. Tak sampai lima detik, sebuah minibus melaju menyambar tubuhku yang sudah pasrah di tengah jalan raya tersebut. Tubuhku terhempas jatuh di atas aspal, disertai bunyi tulangku yang remuk. Dengan pandangan tertutup airmata, aku masih bisa melihat Winda yang berlari menghampiri tubuhku sambil menangis. Setelah itu semuanya gelap. Gelap!

TAMAT 24


KOMIK

Ilustrasi Renaldi Prakoso



Teras Edisi Februari 2015