Page 1

Edisi 08/2015

Ilmu non-agama tidak berkah dan manfaat? Pertanyaan: Salam Ustadz, Saya siswi SMA yang mau lanjut kuliah. Saya minat di bidang Matematika-IPA, tapi ada yang bilang kalau belajar ilmu non-agama itu tidak berkah dan manfaat. Saya mau tanya supaya saya mantap lanjut kuliah: Ilmu yg berkah dan manfaat itu yang bagaimana? Apa benar ilmu non-agama itu tidak berkah dan manfaat? Terimakasih. Rifqiya, Demangan.

Jawaban: Waalaikumsalam. Allah SWT dalam QS. Fushilat: 53, Ali Imran: 191, dan Yunus: 101 berfirman tentang pentingnya mengamati penciptaan alam semesta dan seisinya. Meneliti alam semesta dapat meningkatkan iman pada kekuasaan Allah SWT. Dalam hadits Rasulullah juga bersabda: "Janganlah berpikit tentang Dzat Allah, berpikirlah tentang ciptaan Allah" (HR. Ahmad dan Thabrani). Al-Quran dan Hadits telah menekankan pentinganya belajar IPA yang secara teoretis didasarkan pada eksperimentasi (al-tajribah) dan interpretasi terhadap gejala alam. Ilmu ini pada perkembangannya memiliki cabang-cabang seperti Fisika, Kimia, Biologi, Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa. Pembagian IPA dalam berbagai cabang tersebut sejatinya untuk mempermudah mempelajari alam seisinya dari sudut pandang tertentu. Namun sasaran yang diselidiki adalah satu, yaitu alam semesta dan seisinya, tak terkecuali asal mula penciptaan alam semesta beserta proses dan mekanismenya. Mempelajari IPA banyak berkahnya. Berkah artinya adalah bertambahnya kebaikan. Melalui belajar IPA semoga keimanan kita pada Allah SWT semakin bertambah.

Silahkan berkunjung ke:

Donasi buletin SANTRI dapat dikirim melalui:

Website Islam Ramah

4

Buletin SANTRI Edisi 08 Jum’at, 10 April 2015

Bank BRI Syariah No. Rekening 102 040 1617 a/n Sarjoko

Ketika [Mushola] Tuhan Disudutkan Oleh: Ryan Perdana*

T

ulisan ini berisi kegelisahan yang lama tertahan. Kegelisahan yang muncul setiap menginjakkan kaki di bangunan-bangunan besar nan megah. Kegelisahan akan jaminan kemudahan mendapatkan ruang yang baik untuk mencoba mengingat Tuhan, yang tiap hari terpinggirkan dari kesibukan duniawi yang tak berkesudahan. Ruang itu bernama mushola. Saya tak berani menulis dan

berharap adanya masjid. Karena pada kenyataannya, mushola saja seperti terlalu tinggi untuk diharapkan keberadaannya. Jangankan masjid, mushola saja entah ada atau tidak, misal ada, apakah cukup layak atau tidak. Pe m o d a l b e s a r p e m i l i k bangunan-bangunan agung tidak menempatkan mushola sebagai ruang yang diprioritaskan dalam master plannya. Mushola dipinggirkan,

Buletin SANTRI Edisi 08 Jum’at, 10 April 2015

1


disudutkan, dipojokkan atau entah istilah lain apalagi yang pas untuk menjelaskan bahwa mushola tidak dimuliakan secara letak dan porsi ukuran. Dalam hal ini, Tuhan mau tidak mau harus mafhum bahwa umat ciptaan-Nya sendiri justru menempatkan-Nya dengan cara seperti itu. Walaupun setiap jengkal bumi adalah rumah-Nya, namun tak terbantah, bagi sebagian besar umat, Tuhan hanya “terlihat” secara kadangkadang melalui tempat ibadah. Kenyataannya, tempat ibadah sebagai representasi simbol kehadiran Tuhan di dunia justru tidak mendapat posisi sebagaimana mestinya. Mushola hanya ditempatkan pada sudut sempit parkiran di basement. Berkawan dengan centang-perenang selangselang jalur air dan listrik. Tak jarang, letaknya menempel atau menyatu dengan WC umum yang kumuh. Menyedihkan. Tuhan dinomorsekiankan. Rumah Tuhan hanya disisipkan dengan keadaan seadanya. Diada-adakan dengan terpaksa. Semacam pantespantes saja. Keterlaluan. *** Ketika itu, waktu dzuhur sudah masuk dan saya sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Berputar-

Buletin SANTRI Edisi 08 Jum’at, 10 April 2015

putar ke sana kemari mencari mushola. Setelah sekian menit berkeliling dan bertanya ke Pak Satpam, akhirnya mushola saya temukan. Baiklah, untuk sementara hati saya lega, dzuhur tidak terlewat. Namun, jujur saya agak menahan perasaan. Mushola yang kemudian saya masuki itu terletak di sudut, benar-benar sudut di tepi jalan masuk mobil dari luar mal. Misal pengguna mushola akan keluar atau masuk, harus selalu waspada dan tengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada mobil yang mendekat. Posisinya persis dimana sopir akan memutar lingkar setir, memang itu semacam tikungan kecil. Ukurannya hanya nol koma sekian persen dari bangunan inti mal. Kebersihan ala kadarnya. Jamaah harus giliran untuak sholat. Ketika berwudhu pun harus bersiap merampingkan tubuh agar tidak bersenggolan dengan pengguna lain. Pengalaman berikutnya, di sebuah rumah makan cepat saji di bilangan Jakarta Utara. Terdapati oleh saya, mushola terletak di ujung belakang bangunan dan menyatu dengan mesin genset. Otomatis, deru mesin dengan kekuatan decibel yang besar itu akan mengalahkan fokus jamaah. Tuhan, aku yakin Engkau tidak akan merasa terganggu dan mengeluh

“Di jaman yang ukuran standar kemuliaan adalah materi, Tuhan berada di pojok terakhir. Tuhan menjadi dzat yang tidak lagi penting. Hingga apapun yang berkenaan denganNya menjadi suatu hal yang dipikirkan belakangan. Bangunan yang menjadi tempat pemujaan-Nya pun ada di belakang.”

berisik, namun itu bukti betapa Engkau ditepikan bersama mesin yang dianggap akan mengganggu kenyamanan konsumen dan mengurangi profit perusahaan. Tidak hanya dua pengalaman yang saya miliki terkait hal di atas. Cukup banyak kejadian hingga akhirnya terakumulasi menjadi tumpukan rasa, lalu saya pilih tulisan ini menjadi media penuangannya. Begitulah. *** Di jaman yang ukuran standar kemuliaan adalah materi, Tuhan berada di pojok terakhir. Tuhan menjadi dzat yang tidak lagi penting. Hingga apapun yang berkenaan dengan-Nya menjadi suatu hal yang dipikirkan belakangan. Bangunan yang menjadi tempat pemujaan-Nya pun ada di belakang. Diingat kalau sempat. Sebagai orang biasa yang tak berkuasa, begini saja yang bisa dilakukan. Sekadar menulis yang mungkin tak ada artinya. Tak ada kontribusi nyata yang memiliki kadar kemungkinan untuk direalisasikan. Modal dan ciri-ciri kami hanya harapan. Hanya mempunyai kumpulan semoga dan semoga. Dengan sedikit upaya ini semoga ada perubahan bahwa Engkau semakin diutamakan dan dimuliakan. Tidak lagi berdampingan dengan bau sisa konsumsi. Tidak lagi bersisian dengan mesin yang tak merdu dalam berbunyi. Penulis: Ryan Perdana, tinggal di Sleman Yogyakarta.

Buletin SANTRI Edisi 08 Jum’at, 10 April 2015


disudutkan, dipojokkan atau entah istilah lain apalagi yang pas untuk menjelaskan bahwa mushola tidak dimuliakan secara letak dan porsi ukuran. Dalam hal ini, Tuhan mau tidak mau harus mafhum bahwa umat ciptaan-Nya sendiri justru menempatkan-Nya dengan cara seperti itu. Walaupun setiap jengkal bumi adalah rumah-Nya, namun tak terbantah, bagi sebagian besar umat, Tuhan hanya “terlihat” secara kadangkadang melalui tempat ibadah. Kenyataannya, tempat ibadah sebagai representasi simbol kehadiran Tuhan di dunia justru tidak mendapat posisi sebagaimana mestinya. Mushola hanya ditempatkan pada sudut sempit parkiran di basement. Berkawan dengan centang-perenang selangselang jalur air dan listrik. Tak jarang, letaknya menempel atau menyatu dengan WC umum yang kumuh. Menyedihkan. Tuhan dinomorsekiankan. Rumah Tuhan hanya disisipkan dengan keadaan seadanya. Diada-adakan dengan terpaksa. Semacam pantespantes saja. Keterlaluan. *** Ketika itu, waktu dzuhur sudah masuk dan saya sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Berputar-

Buletin SANTRI Edisi 08 Jum’at, 10 April 2015

putar ke sana kemari mencari mushola. Setelah sekian menit berkeliling dan bertanya ke Pak Satpam, akhirnya mushola saya temukan. Baiklah, untuk sementara hati saya lega, dzuhur tidak terlewat. Namun, jujur saya agak menahan perasaan. Mushola yang kemudian saya masuki itu terletak di sudut, benar-benar sudut di tepi jalan masuk mobil dari luar mal. Misal pengguna mushola akan keluar atau masuk, harus selalu waspada dan tengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada mobil yang mendekat. Posisinya persis dimana sopir akan memutar lingkar setir, memang itu semacam tikungan kecil. Ukurannya hanya nol koma sekian persen dari bangunan inti mal. Kebersihan ala kadarnya. Jamaah harus giliran untuak sholat. Ketika berwudhu pun harus bersiap merampingkan tubuh agar tidak bersenggolan dengan pengguna lain. Pengalaman berikutnya, di sebuah rumah makan cepat saji di bilangan Jakarta Utara. Terdapati oleh saya, mushola terletak di ujung belakang bangunan dan menyatu dengan mesin genset. Otomatis, deru mesin dengan kekuatan decibel yang besar itu akan mengalahkan fokus jamaah. Tuhan, aku yakin Engkau tidak akan merasa terganggu dan mengeluh

“Di jaman yang ukuran standar kemuliaan adalah materi, Tuhan berada di pojok terakhir. Tuhan menjadi dzat yang tidak lagi penting. Hingga apapun yang berkenaan denganNya menjadi suatu hal yang dipikirkan belakangan. Bangunan yang menjadi tempat pemujaan-Nya pun ada di belakang.”

berisik, namun itu bukti betapa Engkau ditepikan bersama mesin yang dianggap akan mengganggu kenyamanan konsumen dan mengurangi profit perusahaan. Tidak hanya dua pengalaman yang saya miliki terkait hal di atas. Cukup banyak kejadian hingga akhirnya terakumulasi menjadi tumpukan rasa, lalu saya pilih tulisan ini menjadi media penuangannya. Begitulah. *** Di jaman yang ukuran standar kemuliaan adalah materi, Tuhan berada di pojok terakhir. Tuhan menjadi dzat yang tidak lagi penting. Hingga apapun yang berkenaan dengan-Nya menjadi suatu hal yang dipikirkan belakangan. Bangunan yang menjadi tempat pemujaan-Nya pun ada di belakang. Diingat kalau sempat. Sebagai orang biasa yang tak berkuasa, begini saja yang bisa dilakukan. Sekadar menulis yang mungkin tak ada artinya. Tak ada kontribusi nyata yang memiliki kadar kemungkinan untuk direalisasikan. Modal dan ciri-ciri kami hanya harapan. Hanya mempunyai kumpulan semoga dan semoga. Dengan sedikit upaya ini semoga ada perubahan bahwa Engkau semakin diutamakan dan dimuliakan. Tidak lagi berdampingan dengan bau sisa konsumsi. Tidak lagi bersisian dengan mesin yang tak merdu dalam berbunyi. Penulis: Ryan Perdana, tinggal di Sleman Yogyakarta.

Buletin SANTRI Edisi 08 Jum’at, 10 April 2015


Edisi 08/2015

Ilmu non-agama tidak berkah dan manfaat? Pertanyaan: Salam Ustadz, Saya siswi SMA yang mau lanjut kuliah. Saya minat di bidang Matematika-IPA, tapi ada yang bilang kalau belajar ilmu non-agama itu tidak berkah dan manfaat. Saya mau tanya supaya saya mantap lanjut kuliah: Ilmu yg berkah dan manfaat itu yang bagaimana? Apa benar ilmu non-agama itu tidak berkah dan manfaat? Terimakasih. Rifqiya, Demangan.

Jawaban: Waalaikumsalam. Allah SWT dalam QS. Fushilat: 53, Ali Imran: 191, dan Yunus: 101 berfirman tentang pentingnya mengamati penciptaan alam semesta dan seisinya. Meneliti alam semesta dapat meningkatkan iman pada kekuasaan Allah SWT. Dalam hadits Rasulullah juga bersabda: "Janganlah berpikit tentang Dzat Allah, berpikirlah tentang ciptaan Allah" (HR. Ahmad dan Thabrani). Al-Quran dan Hadits telah menekankan pentinganya belajar IPA yang secara teoretis didasarkan pada eksperimentasi (al-tajribah) dan interpretasi terhadap gejala alam. Ilmu ini pada perkembangannya memiliki cabang-cabang seperti Fisika, Kimia, Biologi, Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa. Pembagian IPA dalam berbagai cabang tersebut sejatinya untuk mempermudah mempelajari alam seisinya dari sudut pandang tertentu. Namun sasaran yang diselidiki adalah satu, yaitu alam semesta dan seisinya, tak terkecuali asal mula penciptaan alam semesta beserta proses dan mekanismenya. Mempelajari IPA banyak berkahnya. Berkah artinya adalah bertambahnya kebaikan. Melalui belajar IPA semoga keimanan kita pada Allah SWT semakin bertambah.

Silahkan berkunjung ke:

Donasi buletin SANTRI dapat dikirim melalui:

Website Islam Ramah

4

Buletin SANTRI Edisi 08 Jum’at, 10 April 2015

Bank BRI Syariah No. Rekening 102 040 1617 a/n Sarjoko

Ketika [Mushola] Tuhan Disudutkan Oleh: Ryan Perdana*

T

ulisan ini berisi kegelisahan yang lama tertahan. Kegelisahan yang muncul setiap menginjakkan kaki di bangunan-bangunan besar nan megah. Kegelisahan akan jaminan kemudahan mendapatkan ruang yang baik untuk mencoba mengingat Tuhan, yang tiap hari terpinggirkan dari kesibukan duniawi yang tak berkesudahan. Ruang itu bernama mushola. Saya tak berani menulis dan

berharap adanya masjid. Karena pada kenyataannya, mushola saja seperti terlalu tinggi untuk diharapkan keberadaannya. Jangankan masjid, mushola saja entah ada atau tidak, misal ada, apakah cukup layak atau tidak. Pe m o d a l b e s a r p e m i l i k bangunan-bangunan agung tidak menempatkan mushola sebagai ruang yang diprioritaskan dalam master plannya. Mushola dipinggirkan,

Buletin SANTRI Edisi 08 Jum’at, 10 April 2015

1

Edisi 8 - Ketika [Mushola] Tuhan di sudutkan  
Edisi 8 - Ketika [Mushola] Tuhan di sudutkan  
Advertisement