Page 1

Edisi 15/2015

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Android Pertanyaan: Salam ustadz, mau nanya. Di zaman yang serba canggih ini, seperti adanya HP android semakin memudahkan kita dalam menemukan aplikasi, salah satunya aplikasi qur'an. Pertanyaan saya, bolehkah saya sewaktu ke WC/toilet membawa HP yang berisikan aplikasi qur'an ustadz? Dan apakah saya harus bersuci ketika mau membaca qur'an dalam bentuk aplikasi itu sebagaimana memegang mushaf alqur'an? Suwun. Majid, 22 tahun. Timoho Jogja. Jawaban: Wa'alaikumsalam. Membaca Al-Quran melalui HP android (al-jawwal/al-hatif) merupakan isu kontemporer yang belum pernah dibahas di dalam kitab Fikih klasik. Ulama-ulama salaf belum mengkajinya karena memang pada zaman mereka belum terdapat kemajuan elektronik secanggih zaman sekarang. Persoalan membaca Al-Quran melalui HP android baru menjadi perdebatan di kalangan ulama zaman sekarang (ulama al-mu'ashirin). Sebagian ulama yang menganggap aplikasi al-Quran di HP dikategorikan sama dengan mushaf berpendapat wajib wudhu sebelum membuka aplikasi al-Quran, sebagaimana kewajiban wudhu bagi orang yang hendak menyentuh mushaf. Sebagian ulama lainnya berpendapat tidak wajib wudhu bagi orang yang hendak membaca program al-Quran maupun hanya sekadar membawa HP-nya. Menurut pendapat ulama kontemporer versi kedua ini, aplikasi android tidak bisa disamakan dengan mushaf karena bisa hilang tatkala pindah aplikasi atau di-uninstall. Namun sangat diutamakan berwudhu terlebih dulu sebelum membuka program al-Quran sebagai bentuk tata krama kita saat membaca kalam ilahi. Adapun hukum membawa HP berisikan aplikasi al-Quran ke dalam toilet, menurut fatwa-fatwa ulama kontemporer diperbolehkan asalkan tidak ada niat merendahkan kitab suci al-Quran.

4

Buletin SANTRI Edisi 15 Jum’at, 29 Mei 2015

Agama Kita adalah Kebaikan Oleh: Muhammad Khotim*

M

elalui media sosial, saya seringkali menemui quote (kata-kata mutiara) dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Salah satu quote yang pernah saya temui adalah “tidak penting apapun agamamu dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu�. Sekilas, pasti terjadi ambigu (pro-kontra) diantara kita bila menangkap pesan tersebut. Namun, bagi yang membacanya secara utuh, saya kira pernyataan Gus Dur tersebut tidak menjadi soal.

Bagi saya sendiri, pesan tersebut mengandung makna yang dalam dan cukup relevan dengan kehidupan sekarang ini, terlebih kita sebagai orang Indonesia yang hidup berdampingan dengan agama maupun kepercayaan lain. Oleh sebab itu, perbedaan agama dan suku tidak bisa membatasi kita dalam melakukan kebaikan. Kebaikan adalah fitrah manusia, jika ingin menjadikan kehidupan ini harmoni, aman, dan adem ayem. Sehingga ketika kita melakukan kebaikan, tidaklah etis kiranya kita mempertanyakan; agamamu apa? Kamu Buletin SANTRI Edisi 15 Jum’at, 29 Mei 2015

1


suku mana? Dengan demikian, pesan dari Gus Dur menurut hemat saya merupakan sindiran sekaligus pelajaran bagi kita bersama. Karena di dalam keseharian kita, diakui atau tidak, selalu dipengaruhi oleh bias agama dan suku. Perbuatan baik seperti sedekah, membela kemanusiaan, misalnya, tak jarang selalu ditujukan ke pa d a o r a n g y a n g m e m p u n y a i kesamaan dengan kita. Entah itu di dalam organisasi, ras, agama, dan lain-lain. Padahal, sebagai orang yang beriman, yang mengakui akan adanya Tuhan, pasti akan berjalan berdampingan, sebagaimana titah Tuhan kepada manusia; menjadikannya sebagai khalifah fil ardh (wakil Tuhan di bumi). Apalagi kita sebagai sesama Muslim, seharusnya bisa hidup rukun, bergandengan tangan, karena kita disatukan dalam nilai-nilai universal agama Islam dan ketauhidan. Sehingga tidak perlu kiranya kita membeda-bedakan yang lain. Apalagi saling curiga (su'udzon) terhadap kelompok maupun agama orang lain. Orang yang bijak adalah ia yang bisa menghargai perbedaan dan tidak membeda-bedakan yang sama. Karena semuanya memiliki karakter tersendiri. Bahkan, Nabi Muhammad Saw pernah diperingatkan oleh Tuhan di dalam kitab suci al-Qur'an, “Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua orang di muka bumi, tanpa kecuali. Apakah engkau (hai Muhammad) akan memaksa umat manusia sehingga menjadi beriman?”. QS. Yunus (10): 99.

Buletin SANTRI Edisi 15 Jum’at, 29 Mei 2015

Dengan tegas, Tuhan memperingatkan bahwa tugas Rasulullah hanyalah menyampaikan berita (al-balagh) dari Allah, dan beliau tidak berhak, bahkan tidak bisa memaksa orang lain untuk percaya dan mengikuti beliau, betapapun benarnya beliau dan ajarannya itu. Agama Anti Kekerasan Dalam ajaran Islam, agama tidak pernah mengajarkan untuk melakukan kekerasan kepada orang yang berbeda iman maupun berbeda keyakinan. Dan agama juga tidak mengajarkan membeda-bedakan dalam melakukan kebaikan kepada orang lain. Bahkan, junjungan kita, Rasulullah Saw sering mencotohkan kepada kita agar senantiasa berbuat baik kepada sesama tanpa memandang agama atau suku. Ketika beliau berdakwah misalnya, beliau selalu mengedepankan kebaikan kepada semua orang, baik itu kepada orang Yahudi maupun Nasrani. Beliau tidak pernah pilih kasih terhadap mereka. Apakah mereka seiman ataupun tidak. Karena dalam kacamata nabi, kebaikan harus didahulukan, apapun itu alasannya. Sekalipun juga ketika ada orang yang melakukan kejahatan kepada nabi, beliau tidak membalasnya dengan kejahatan serupa. Nabi Saw malah membalas orang yang menjahatinya tersebut dengan kebaikan. Suatu ketika beliau sedang berdakwah kepada penduduk Thaif, beliau justru menerima hinaan, cacian, dan lemparan batu, hingga membuat Beliau berdarah. Kejadian itu

Sehingga menjadi ironis sontak direspon oleh Malaikat Jibril. Jibril manakala banyak orang mengaku datang kepada nabi dan memberikan beriman tetapi perbuatan mereka tidak tawaran agar penduduk Thaif mencerminkan sebagai orang yang d i b u m i h a n g u s k a n . Ya k n i d e n g a n beriman. Bahkan, sebagian besar di membenturkan dua gunung agar antara kita masih ada yang menghimpit kaum Thaif. Akan menggunakan justifikasi tetapi apa jawaban Nabi keimanannya untuk atas tawaran malaikat menindas yang lain dan Jibril tersebut? Nabi “Tidak penting apapun melabeli sesat maupun t i d a k agamamu dan sukumu, kalau kafir terhadap liyan. menghendakinya. kamu bisa melakukan sesuatu Sungguh ironi. Dalam suatu yang baik untuk semua orang, Diakhir tulisan hadist diriwayatkan orang tidak akan pernah i n i , s aya ingin dari Jabir berkata, tanya apa agamamu”. menekankan bahwa Rasulullah Saw keimanan seseorang itu bersabda, ''Orang tercermin dari perbuatannya, beriman itu bersikap ramah bukan bungkusnya (tampilan dan tidak ada kebaikan bagi luar). Maka jika kita mengatakan diri kita seorang yang tidak bersikap ramah. sebagai orang yang beriman, apakah Dan sebaik-baik manusia adalah orang perbuatan kita sudah mencerminkan yang paling bermanfaat bagi manusia.” keimanan kita? Mari saling (HR. Thabrani dan Daruquthni)”. Hadist bermuhasabah, bercermin, dan tersebut mengandung pesan bahwasanya menanyakan pada diri kita sendiri. orang beriman itu pasti bersifat ramah, Wallahhu a'lam. bukan marah, karena setiap agama mengajarkan kebaikan. Maka *Penulis adalah jama'ah mushola addipertanyakan jika ada orang beriman Dakhil, Timoho-Jogja. tetapi malah berbuat sewenang-wenang d a n m e l u k a i s e s a m a . Ke m u d i a n ditegaskan lagi sebaik-baik manusia Donasi buletin SANTRI adalah mereka yang bermanfaat bagi dapat dikirim melalui: yang lain. Artinya, kehidupan manusia Bank BRI Syariah mendapatkan ar ti/bermakna jika No. Rekening 102 040 1617 kehidupannya mendatangkan a/n Sarjoko kemanfaatan bagi yang lain.

Buletin SANTRI Edisi 15 Jum’at, 29 Mei 2015


suku mana? Dengan demikian, pesan dari Gus Dur menurut hemat saya merupakan sindiran sekaligus pelajaran bagi kita bersama. Karena di dalam keseharian kita, diakui atau tidak, selalu dipengaruhi oleh bias agama dan suku. Perbuatan baik seperti sedekah, membela kemanusiaan, misalnya, tak jarang selalu ditujukan ke pa d a o r a n g y a n g m e m p u n y a i kesamaan dengan kita. Entah itu di dalam organisasi, ras, agama, dan lain-lain. Padahal, sebagai orang yang beriman, yang mengakui akan adanya Tuhan, pasti akan berjalan berdampingan, sebagaimana titah Tuhan kepada manusia; menjadikannya sebagai khalifah fil ardh (wakil Tuhan di bumi). Apalagi kita sebagai sesama Muslim, seharusnya bisa hidup rukun, bergandengan tangan, karena kita disatukan dalam nilai-nilai universal agama Islam dan ketauhidan. Sehingga tidak perlu kiranya kita membeda-bedakan yang lain. Apalagi saling curiga (su'udzon) terhadap kelompok maupun agama orang lain. Orang yang bijak adalah ia yang bisa menghargai perbedaan dan tidak membeda-bedakan yang sama. Karena semuanya memiliki karakter tersendiri. Bahkan, Nabi Muhammad Saw pernah diperingatkan oleh Tuhan di dalam kitab suci al-Qur'an, “Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua orang di muka bumi, tanpa kecuali. Apakah engkau (hai Muhammad) akan memaksa umat manusia sehingga menjadi beriman?”. QS. Yunus (10): 99.

Buletin SANTRI Edisi 15 Jum’at, 29 Mei 2015

Dengan tegas, Tuhan memperingatkan bahwa tugas Rasulullah hanyalah menyampaikan berita (al-balagh) dari Allah, dan beliau tidak berhak, bahkan tidak bisa memaksa orang lain untuk percaya dan mengikuti beliau, betapapun benarnya beliau dan ajarannya itu. Agama Anti Kekerasan Dalam ajaran Islam, agama tidak pernah mengajarkan untuk melakukan kekerasan kepada orang yang berbeda iman maupun berbeda keyakinan. Dan agama juga tidak mengajarkan membeda-bedakan dalam melakukan kebaikan kepada orang lain. Bahkan, junjungan kita, Rasulullah Saw sering mencotohkan kepada kita agar senantiasa berbuat baik kepada sesama tanpa memandang agama atau suku. Ketika beliau berdakwah misalnya, beliau selalu mengedepankan kebaikan kepada semua orang, baik itu kepada orang Yahudi maupun Nasrani. Beliau tidak pernah pilih kasih terhadap mereka. Apakah mereka seiman ataupun tidak. Karena dalam kacamata nabi, kebaikan harus didahulukan, apapun itu alasannya. Sekalipun juga ketika ada orang yang melakukan kejahatan kepada nabi, beliau tidak membalasnya dengan kejahatan serupa. Nabi Saw malah membalas orang yang menjahatinya tersebut dengan kebaikan. Suatu ketika beliau sedang berdakwah kepada penduduk Thaif, beliau justru menerima hinaan, cacian, dan lemparan batu, hingga membuat Beliau berdarah. Kejadian itu

Sehingga menjadi ironis sontak direspon oleh Malaikat Jibril. Jibril manakala banyak orang mengaku datang kepada nabi dan memberikan beriman tetapi perbuatan mereka tidak tawaran agar penduduk Thaif mencerminkan sebagai orang yang d i b u m i h a n g u s k a n . Ya k n i d e n g a n beriman. Bahkan, sebagian besar di membenturkan dua gunung agar antara kita masih ada yang menghimpit kaum Thaif. Akan menggunakan justifikasi tetapi apa jawaban Nabi keimanannya untuk atas tawaran malaikat menindas yang lain dan Jibril tersebut? Nabi “Tidak penting apapun melabeli sesat maupun t i d a k agamamu dan sukumu, kalau kafir terhadap liyan. menghendakinya. kamu bisa melakukan sesuatu Sungguh ironi. Dalam suatu yang baik untuk semua orang, Diakhir tulisan hadist diriwayatkan orang tidak akan pernah i n i , s aya ingin dari Jabir berkata, tanya apa agamamu”. menekankan bahwa Rasulullah Saw keimanan seseorang itu bersabda, ''Orang tercermin dari perbuatannya, beriman itu bersikap ramah bukan bungkusnya (tampilan dan tidak ada kebaikan bagi luar). Maka jika kita mengatakan diri kita seorang yang tidak bersikap ramah. sebagai orang yang beriman, apakah Dan sebaik-baik manusia adalah orang perbuatan kita sudah mencerminkan yang paling bermanfaat bagi manusia.” keimanan kita? Mari saling (HR. Thabrani dan Daruquthni)”. Hadist bermuhasabah, bercermin, dan tersebut mengandung pesan bahwasanya menanyakan pada diri kita sendiri. orang beriman itu pasti bersifat ramah, Wallahhu a'lam. bukan marah, karena setiap agama mengajarkan kebaikan. Maka *Penulis adalah jama'ah mushola addipertanyakan jika ada orang beriman Dakhil, Timoho-Jogja. tetapi malah berbuat sewenang-wenang d a n m e l u k a i s e s a m a . Ke m u d i a n ditegaskan lagi sebaik-baik manusia Donasi buletin SANTRI adalah mereka yang bermanfaat bagi dapat dikirim melalui: yang lain. Artinya, kehidupan manusia Bank BRI Syariah mendapatkan ar ti/bermakna jika No. Rekening 102 040 1617 kehidupannya mendatangkan a/n Sarjoko kemanfaatan bagi yang lain.

Buletin SANTRI Edisi 15 Jum’at, 29 Mei 2015


Edisi 15/2015

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Android Pertanyaan: Salam ustadz, mau nanya. Di zaman yang serba canggih ini, seperti adanya HP android semakin memudahkan kita dalam menemukan aplikasi, salah satunya aplikasi qur'an. Pertanyaan saya, bolehkah saya sewaktu ke WC/toilet membawa HP yang berisikan aplikasi qur'an ustadz? Dan apakah saya harus bersuci ketika mau membaca qur'an dalam bentuk aplikasi itu sebagaimana memegang mushaf alqur'an? Suwun. Majid, 22 tahun. Timoho Jogja. Jawaban: Wa'alaikumsalam. Membaca Al-Quran melalui HP android (al-jawwal/al-hatif) merupakan isu kontemporer yang belum pernah dibahas di dalam kitab Fikih klasik. Ulama-ulama salaf belum mengkajinya karena memang pada zaman mereka belum terdapat kemajuan elektronik secanggih zaman sekarang. Persoalan membaca Al-Quran melalui HP android baru menjadi perdebatan di kalangan ulama zaman sekarang (ulama al-mu'ashirin). Sebagian ulama yang menganggap aplikasi al-Quran di HP dikategorikan sama dengan mushaf berpendapat wajib wudhu sebelum membuka aplikasi al-Quran, sebagaimana kewajiban wudhu bagi orang yang hendak menyentuh mushaf. Sebagian ulama lainnya berpendapat tidak wajib wudhu bagi orang yang hendak membaca program al-Quran maupun hanya sekadar membawa HP-nya. Menurut pendapat ulama kontemporer versi kedua ini, aplikasi android tidak bisa disamakan dengan mushaf karena bisa hilang tatkala pindah aplikasi atau di-uninstall. Namun sangat diutamakan berwudhu terlebih dulu sebelum membuka program al-Quran sebagai bentuk tata krama kita saat membaca kalam ilahi. Adapun hukum membawa HP berisikan aplikasi al-Quran ke dalam toilet, menurut fatwa-fatwa ulama kontemporer diperbolehkan asalkan tidak ada niat merendahkan kitab suci al-Quran.

4

Buletin SANTRI Edisi 15 Jum’at, 29 Mei 2015

Agama Kita adalah Kebaikan Oleh: Muhammad Khotim*

M

elalui media sosial, saya seringkali menemui quote (kata-kata mutiara) dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Salah satu quote yang pernah saya temui adalah “tidak penting apapun agamamu dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu�. Sekilas, pasti terjadi ambigu (pro-kontra) diantara kita bila menangkap pesan tersebut. Namun, bagi yang membacanya secara utuh, saya kira pernyataan Gus Dur tersebut tidak menjadi soal.

Bagi saya sendiri, pesan tersebut mengandung makna yang dalam dan cukup relevan dengan kehidupan sekarang ini, terlebih kita sebagai orang Indonesia yang hidup berdampingan dengan agama maupun kepercayaan lain. Oleh sebab itu, perbedaan agama dan suku tidak bisa membatasi kita dalam melakukan kebaikan. Kebaikan adalah fitrah manusia, jika ingin menjadikan kehidupan ini harmoni, aman, dan adem ayem. Sehingga ketika kita melakukan kebaikan, tidaklah etis kiranya kita mempertanyakan; agamamu apa? Kamu Buletin SANTRI Edisi 15 Jum’at, 29 Mei 2015

1

Edisi 15 agama kita adalah kebaikan  
Edisi 15 agama kita adalah kebaikan  
Advertisement