Page 1

Edisi 10/2015

Jaminan Menggunakan KTP Pertanyaan: Salam Ustadz Irwan, saya punya pertanyaan. Saya pernah membeli bensin eceran di jalan dan ternyata saya lupa tidak membawa uang tunai. Akhirnya saya meninggalkan KTP/identitas sebagai jaminan. Bagaimana hukumnya transaksi saya tadi? Apakah sah atau tidak?

Jawaban: Waalaikumsalam. Dalam Muamalat Islam, kitab-kitab fikih menjelaskan bahwa jual beli ('aqdul bay'i) adakalanya kontan (halan) dan adakalanya dengan tempo pembayaran (muajjalan). Dalam kasus di atas bisa dikategorikan jual beli dengan tempo. Hal ini diperbolehkan dan dianjurkan disertai jaminan (watsiqah) atau tanda bukti, baik berupa kuitansi atau KTP. Dengan demikian maka pihak pembeli diharapkan memenuhi janji dan tanggungannya. Dengan jaminan KTP maka kedua belah pihak yang bertransaksi akan terhindar dari penipuan (ghurur).

“Gunakanlah 2 Cermin. Satu cermin untuk melihat kekuranganmu; satu lagi untuk melebihkan orang lain.” -Ibrahim bin Juneid-

Hadirilah Rutinan Majlis Sholawat Gusdurian Rabu, 29 April 2015 pukul: 19.30 WIB di Pendopo Hijau Yayasan LKiS. Jl. Pura No. 203 Surowajan Baru, Banguntapan, Bantul. Terbuka untuk umum. Ajak sanak dan keluarga terdekat.

4

Buletin SANTRI Edisi 10 Jum’at, 24 April 2015

Donasi buletin SANTRI dapat dikirim melalui:

Bank BRI Syariah No. Rekening 102 040 1617 a/n Sarjoko

Radikalisme, Mushala dan Tradisi Sholawatan Oleh: Nur Khoiriyyah*

S

aya ingin menulis sebuah tulisan reflektif tentang hari ini. Karena hari ini saya tengah bahagia. Kebahagiaan saya yang pertama ialah terpasangnya spanduk penolakan terhadap kelompok radikalisme di pojok depan rumah, dalam hal ini adalah ISIS. Kedua, banyak remaja yang bershalawat ria di Mushala, yang pemandangan ini tidak seperti biasanya. Terlepas dari unsur subjektifitas dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan keadaan yang ada di desa kelahiran saya tersebut, Margoyoso, PatiJawa Tengah. Tentang spanduk penolakan ISIS,

saya mulai menelisik dengan menanyakan kepada bapak, ihwal siapa yang memasang spanduk di depan rumah itu. Beliau menjawab, spanduk itu merupakan instruksi dari kecamatan kepada semua pemerintah desa Margoyoso. Pantas saja, pada sore sebelumnya disaat saya mengantar ibu periksa kesehatan di desa tetangga, terpampang juga spanduk serupa. Saya tidak tahu, apakah dengan adanya spanduk-spanduk itu masyarakat bisa memahami maksudnya. Namun terlepas dari substansi spanduk tersebut, setidaknya pemerintah menaruh perhatian terhadap Buletin SANTRI Edisi 10 Jum’at, 24 April 2015

1


permasalahan global, terutama soal radikalisme yang menggunakan kekerasan bermotif agama. Diskusi dengan bapak pun ke m ba l i b e r l a n j u t , y a k n i d e n g a n membahas beberapa motif dibalik gerakan radikalisme yang transnasional itu. Salah satu motif yang saya pahami adalah; adanya pihak yang berkepentingan menjadikan agama sebagai pengalihan isu. Agama hanya dijadikan sebagai kedok dan alat politik untuk merebut kekuasaan. Karena dalam kasus ISIS (negara Islam IrakSyiria), ada indikasi terhadap permainan dan kepentingan penguasaan kilang minyak di dua negara itu. Mengingat, kedua negeri tersebut mempunyai sumber minyak yang melimpah ruah. Apalagi saat ini ada juga konflik di Yaman. Menurut sepengetahuan saya ihwal itu bukan motif agama atau ideologi, tetapi faktor politik dan kekuasaan. Karena kalau diamati sederhana saja, mengapa Arab Saudi begitu getol menyerang Yaman, tetapi pada kasus kemanusiaan di Palestina, Arab Saudi diam. Dari uraian dan cara berfikir sederhana itu, bapak menyepakatinya. Namun sekali lagi saya menegaskan ke bapak, bahwa apa yang saya sampaikan adalah beberapa wacana yang saya baca dan saya perhatikan dari berbagai forum yang pernah saya ikuti. Di antara para analisis resolusi konflik dan studi kajian Timur Tengah mengatakan seperti itu. Energi Posistif Sholawat Kebahagiaan saya yang kedua, disaat adzan Isya' berkumandang di mushala sebelah rumah, beberapa remaja Buletin SANTRI Edisi 10 Jum’at, 24 April 2015

sudah berkumpul di dalam mushala. Selang beberapa waktu, pujian atau shalawat pun mereka dendangkan. Saya sangat akrab dengan lagu itu, lagu wajib yang harus didendangkan oleh salah satu majelis shalawat yang saya ikuti di Jogja. “Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka, yang penuh suka duka”, demikianlah sedikit cuplikan yang paling mudah saya ingat. Dengan melihat remaja yang kini menggandrungi sholawatan dan secara rutin berlatih rebana, membuat saya sedikit bernafas lega tentang desa saya. Karena saya berpikir bahwa remaja memiliki kegiatan yang positif. Hal ini mengingatkan saya terhadap fenomena beberapa tahun terakhir, ada kemerosotan moral serius di desa saya, mulai dari remaja yang hamil di luar nikah hingga melahirkan pun belum juga menikah, karena pihak keluarga tidak merestui. Kedua, remaja tertangkap pencurian motor (curanmor). Ketiga, adanya kasus dugaan pencabulan terhadap anak kelas 4 SD. Terkait tiga permasalah tersebut sebenarnya saya tidak ingin menyebarluaskannya, akan tetapi, saya hanya ingin memberikan alasan atas kesedihan saya. Begitu memprihatinkannya moralitas bangsa saat ini. Itu baru di desa tempat tinggal saya, mungkin di tempat-tempat lain juga tidak jauh berbeda. Sekali lagi saya ingin tegaskan, ini loh realitas sosial yang sedang kita hadapi, bahwa generasi muda sedang mengalami “darurat moral”. Mungkin salah satu rekomendasi yang saya ajukan kepada mereka adalah agar mereka memiliki aktfitas yang positif, seperti bershalawat

perjuangan ini, yakni “kemauan dan misalnya. Mungkin terkesan konservatif, kemampuan”. Kemauan menjadi hal wagu, atau berbagai macam lainnya. utama, karena bagaimana seorang bisa Namun beberapa hal terbukti, dengan atau mampu sedang dia tidak memiliki pergaulan yang sehat, atau menyibukkan keinginan untuk tahu. Bahasa diri dengan kegiatan yang positif akan sederhananya, “setiap ada kemauan pasti berdampak positif pula. ada jalan”. Seperti yang saya amati, dalam Dari kemauan tersebut, beberapa kebiasaan bershalawat terdapat beberapa kekurangan terkait segi bacaan dan variasi bait-syair yang mengandung nilai lagu, bisa diasah melalui proses belajar kebersamaan, do'a, dan keteladanan Nabi bersama. Dengan sering mengikuti, Muhammad Saw yang penuh kasih mendengar, dan membacanya sayang dan akhlak mulia sholawatan, akan semakin Saya jadi teringat “Pertanyaan yang l a n c a r, a p a l a g i j i k a salah satu perkataan muncul kemudian adalah, dibarengi dengan mas Imam Shofwan, bagaimana jika remaja kemampuan untuk salah satu ujung generasi penerusnya tidak lagi memahami arti dan t o m b a k Ya y a s a n gandrung dengan sholawat, kandungan isinya. Pantau, bahwa dari tidak lagi tertarik untuk sekedar Ketenteraman hati dan surau-surau kecil, dan nongkrong di mushala? ke te n a n g a n p i k i r a n dari para penguri-uri Lalu akan jadi apa, 10 tahun hanyalah setetes imbal surau justru bisa ke depan nasib mushala dari lautan pahala. menjadi benteng tersebut.” Demikianlah dalam terhadap laku radikalisme. hemat saya jika kita ingin Pe r t a n y a a n y a n g m u n c u l membangun bangsa, diantaranya bisa kemudian adalah, bagaimana jika remaja dimulai dari hal yang sederhana. Salah generasi penerusnya tidak lagi gandrung satunya melalui sholawatan. Karena di dengan sholawat, tidak lagi tertarik untuk dalamnya kita bisa meneladani pribadi sekedar nongkrong di mushala? Lalu akan Nabi yang rahmatan lil'alamin, yang jadi apa, 10 tahun ke depan nasib mushala memiliki uswah hasanah yang patut ditiru tersebut. oleh seluruh umatnya. Bila hal ini Hal ini yang disampaikan oleh teraplikasikan dengan baik, maka akan salah satu pemuda yang saat remajanya tercipta kehidupan yang harmoni. dulu memang mengabdikan sebagian Wallahhu a'lam. waktunya untuk berkumandang dan bershalawat di masjid. Dalam diskusi *Penulis adalah jama'ah Majlis Sholawat dengannya, saya menyimpulkan dua hal Gusdurian Yogyakarta penting sebagai modal untuk meneruskan

Buletin SANTRI Edisi 10 Jum’at, 24 April 2015


permasalahan global, terutama soal radikalisme yang menggunakan kekerasan bermotif agama. Diskusi dengan bapak pun ke m ba l i b e r l a n j u t , y a k n i d e n g a n membahas beberapa motif dibalik gerakan radikalisme yang transnasional itu. Salah satu motif yang saya pahami adalah; adanya pihak yang berkepentingan menjadikan agama sebagai pengalihan isu. Agama hanya dijadikan sebagai kedok dan alat politik untuk merebut kekuasaan. Karena dalam kasus ISIS (negara Islam IrakSyiria), ada indikasi terhadap permainan dan kepentingan penguasaan kilang minyak di dua negara itu. Mengingat, kedua negeri tersebut mempunyai sumber minyak yang melimpah ruah. Apalagi saat ini ada juga konflik di Yaman. Menurut sepengetahuan saya ihwal itu bukan motif agama atau ideologi, tetapi faktor politik dan kekuasaan. Karena kalau diamati sederhana saja, mengapa Arab Saudi begitu getol menyerang Yaman, tetapi pada kasus kemanusiaan di Palestina, Arab Saudi diam. Dari uraian dan cara berfikir sederhana itu, bapak menyepakatinya. Namun sekali lagi saya menegaskan ke bapak, bahwa apa yang saya sampaikan adalah beberapa wacana yang saya baca dan saya perhatikan dari berbagai forum yang pernah saya ikuti. Di antara para analisis resolusi konflik dan studi kajian Timur Tengah mengatakan seperti itu. Energi Posistif Sholawat Kebahagiaan saya yang kedua, disaat adzan Isya' berkumandang di mushala sebelah rumah, beberapa remaja Buletin SANTRI Edisi 10 Jum’at, 24 April 2015

sudah berkumpul di dalam mushala. Selang beberapa waktu, pujian atau shalawat pun mereka dendangkan. Saya sangat akrab dengan lagu itu, lagu wajib yang harus didendangkan oleh salah satu majelis shalawat yang saya ikuti di Jogja. “Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka, yang penuh suka duka”, demikianlah sedikit cuplikan yang paling mudah saya ingat. Dengan melihat remaja yang kini menggandrungi sholawatan dan secara rutin berlatih rebana, membuat saya sedikit bernafas lega tentang desa saya. Karena saya berpikir bahwa remaja memiliki kegiatan yang positif. Hal ini mengingatkan saya terhadap fenomena beberapa tahun terakhir, ada kemerosotan moral serius di desa saya, mulai dari remaja yang hamil di luar nikah hingga melahirkan pun belum juga menikah, karena pihak keluarga tidak merestui. Kedua, remaja tertangkap pencurian motor (curanmor). Ketiga, adanya kasus dugaan pencabulan terhadap anak kelas 4 SD. Terkait tiga permasalah tersebut sebenarnya saya tidak ingin menyebarluaskannya, akan tetapi, saya hanya ingin memberikan alasan atas kesedihan saya. Begitu memprihatinkannya moralitas bangsa saat ini. Itu baru di desa tempat tinggal saya, mungkin di tempat-tempat lain juga tidak jauh berbeda. Sekali lagi saya ingin tegaskan, ini loh realitas sosial yang sedang kita hadapi, bahwa generasi muda sedang mengalami “darurat moral”. Mungkin salah satu rekomendasi yang saya ajukan kepada mereka adalah agar mereka memiliki aktfitas yang positif, seperti bershalawat

perjuangan ini, yakni “kemauan dan misalnya. Mungkin terkesan konservatif, kemampuan”. Kemauan menjadi hal wagu, atau berbagai macam lainnya. utama, karena bagaimana seorang bisa Namun beberapa hal terbukti, dengan atau mampu sedang dia tidak memiliki pergaulan yang sehat, atau menyibukkan keinginan untuk tahu. Bahasa diri dengan kegiatan yang positif akan sederhananya, “setiap ada kemauan pasti berdampak positif pula. ada jalan”. Seperti yang saya amati, dalam Dari kemauan tersebut, beberapa kebiasaan bershalawat terdapat beberapa kekurangan terkait segi bacaan dan variasi bait-syair yang mengandung nilai lagu, bisa diasah melalui proses belajar kebersamaan, do'a, dan keteladanan Nabi bersama. Dengan sering mengikuti, Muhammad Saw yang penuh kasih mendengar, dan membacanya sayang dan akhlak mulia sholawatan, akan semakin Saya jadi teringat “Pertanyaan yang l a n c a r, a p a l a g i j i k a salah satu perkataan muncul kemudian adalah, dibarengi dengan mas Imam Shofwan, bagaimana jika remaja kemampuan untuk salah satu ujung generasi penerusnya tidak lagi memahami arti dan t o m b a k Ya y a s a n gandrung dengan sholawat, kandungan isinya. Pantau, bahwa dari tidak lagi tertarik untuk sekedar Ketenteraman hati dan surau-surau kecil, dan nongkrong di mushala? ke te n a n g a n p i k i r a n dari para penguri-uri Lalu akan jadi apa, 10 tahun hanyalah setetes imbal surau justru bisa ke depan nasib mushala dari lautan pahala. menjadi benteng tersebut.” Demikianlah dalam terhadap laku radikalisme. hemat saya jika kita ingin Pe r t a n y a a n y a n g m u n c u l membangun bangsa, diantaranya bisa kemudian adalah, bagaimana jika remaja dimulai dari hal yang sederhana. Salah generasi penerusnya tidak lagi gandrung satunya melalui sholawatan. Karena di dengan sholawat, tidak lagi tertarik untuk dalamnya kita bisa meneladani pribadi sekedar nongkrong di mushala? Lalu akan Nabi yang rahmatan lil'alamin, yang jadi apa, 10 tahun ke depan nasib mushala memiliki uswah hasanah yang patut ditiru tersebut. oleh seluruh umatnya. Bila hal ini Hal ini yang disampaikan oleh teraplikasikan dengan baik, maka akan salah satu pemuda yang saat remajanya tercipta kehidupan yang harmoni. dulu memang mengabdikan sebagian Wallahhu a'lam. waktunya untuk berkumandang dan bershalawat di masjid. Dalam diskusi *Penulis adalah jama'ah Majlis Sholawat dengannya, saya menyimpulkan dua hal Gusdurian Yogyakarta penting sebagai modal untuk meneruskan

Buletin SANTRI Edisi 10 Jum’at, 24 April 2015


Edisi 10/2015

Jaminan Menggunakan KTP Pertanyaan: Salam Ustadz Irwan, saya punya pertanyaan. Saya pernah membeli bensin eceran di jalan dan ternyata saya lupa tidak membawa uang tunai. Akhirnya saya meninggalkan KTP/identitas sebagai jaminan. Bagaimana hukumnya transaksi saya tadi? Apakah sah atau tidak?

Jawaban: Waalaikumsalam. Dalam Muamalat Islam, kitab-kitab fikih menjelaskan bahwa jual beli ('aqdul bay'i) adakalanya kontan (halan) dan adakalanya dengan tempo pembayaran (muajjalan). Dalam kasus di atas bisa dikategorikan jual beli dengan tempo. Hal ini diperbolehkan dan dianjurkan disertai jaminan (watsiqah) atau tanda bukti, baik berupa kuitansi atau KTP. Dengan demikian maka pihak pembeli diharapkan memenuhi janji dan tanggungannya. Dengan jaminan KTP maka kedua belah pihak yang bertransaksi akan terhindar dari penipuan (ghurur).

“Gunakanlah 2 Cermin. Satu cermin untuk melihat kekuranganmu; satu lagi untuk melebihkan orang lain.” -Ibrahim bin Juneid-

Hadirilah Rutinan Majlis Sholawat Gusdurian Rabu, 29 April 2015 pukul: 19.30 WIB di Pendopo Hijau Yayasan LKiS. Jl. Pura No. 203 Surowajan Baru, Banguntapan, Bantul. Terbuka untuk umum. Ajak sanak dan keluarga terdekat.

4

Buletin SANTRI Edisi 10 Jum’at, 24 April 2015

Donasi buletin SANTRI dapat dikirim melalui:

Bank BRI Syariah No. Rekening 102 040 1617 a/n Sarjoko

Radikalisme, Mushala dan Tradisi Sholawatan Oleh: Nur Khoiriyyah*

S

aya ingin menulis sebuah tulisan reflektif tentang hari ini. Karena hari ini saya tengah bahagia. Kebahagiaan saya yang pertama ialah terpasangnya spanduk penolakan terhadap kelompok radikalisme di pojok depan rumah, dalam hal ini adalah ISIS. Kedua, banyak remaja yang bershalawat ria di Mushala, yang pemandangan ini tidak seperti biasanya. Terlepas dari unsur subjektifitas dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan keadaan yang ada di desa kelahiran saya tersebut, Margoyoso, PatiJawa Tengah. Tentang spanduk penolakan ISIS,

saya mulai menelisik dengan menanyakan kepada bapak, ihwal siapa yang memasang spanduk di depan rumah itu. Beliau menjawab, spanduk itu merupakan instruksi dari kecamatan kepada semua pemerintah desa Margoyoso. Pantas saja, pada sore sebelumnya disaat saya mengantar ibu periksa kesehatan di desa tetangga, terpampang juga spanduk serupa. Saya tidak tahu, apakah dengan adanya spanduk-spanduk itu masyarakat bisa memahami maksudnya. Namun terlepas dari substansi spanduk tersebut, setidaknya pemerintah menaruh perhatian terhadap Buletin SANTRI Edisi 10 Jum’at, 24 April 2015

1

Edisi 10 radikalisme, mushola dan tradisi sholawatan  
Edisi 10 radikalisme, mushola dan tradisi sholawatan  
Advertisement