Issuu on Google+


Resensi

Bukan Mission Impossible yang Kita Emban Judul

: Mission Possible “Karya Injil Melalui Talenta Medis” Penerbit: Literatur Perkantas Tahun : 2012 Cetakan: Pertama: vi+120 hlm.

Mission Possible - buku yang baru saja diterbitkan Literatur Perkantas ini, berisi 12 kisah mengenai tokoh yang berbeda yang berkiprah sebagai seorang Kristen di ladang medis, khususnya di negara kita, Indonesia. Buku ini didahului prelude tokoh Paulus, salah seorang dalam Perjanjian Baru yang perkerjaan misi nya paling gencar dan radikal. Di sini juga dijelaskan mengenai “definisi” yang benar dari “misi” dan batasan –batasan “misi” yang kerap kali kita salah untuk mengerti. 12 kisah tersebut tersusun sebagai suatu kumpulan ceritacerita pendek yang ditulis oleh mereka dengan gaya bahasa masing-masing, sesuai dengan penekanan atau bobot yang ingin mereka tekankan. Kebanyakan, kisah-kisah ini juga diawali dengan bagaimana dan apa saja aspekaspek pergumulan yang mereka hadapi sampai akhirnya membawa mereka kepada misi yang ditetapkan Tuhan secara tepat “just for them” untuk mereka. Kerap kali hal-hal besar yang Tuhan wujudkan melalui hidup mereka dimulai dari hal-hal dan kejadian yang sederhana, dan diawali dengan suatu langkah yang “kecil” dengan keberanian akan penyerahan diri yang “besar” dan total. Banyak bagian dari kisah-kisah ini yang menekankan pentingya untuk menjadi warna yang berbeda, menunjukkan diri sebagai terang dan garam ditengah kegelapan dan kehampaan. Seperti Paulus sebagai “agen misi” 2

Tuhan pada zaman Alkitab yang mengalami penderitaan, disesah, dan menderita sakit, beberapa kisah juga menceritakan hal-hal yang sama yang terjadi di pedalaman Papua dan daerah terpencil lainnya. Namun demikian mujizat-mujizat yang sama ajaibnya juga terjadi pada tokoh-tokoh ini melalui kuasa doa dan iman. Kisah-kisah ini juga berisi “quotes” baik berupa kalimat ataupun kutipan ayat Alkitab yang terasa begitu tepat mengena pada saat kita membaca kisah yang sedang diceritakan, sehingga membuat kita lebih memahami dan tersemangati. Beberapa penulis juga terdorong untuk menuangkan curahan hati dan harapan mereka untuk generasi-generasi pembaca buku ini. Sebagian lagi memberikan gambaran mengenai kebutuhan tenagatenaga medis pada bidang yang mereka kerjakan dan betapa luasnya bidang tersebut untuk dimasuki oleh generasi-generasi yang baru. Beberapa kisah mereka, seolaholah “memanggil-manggil” kita dengan kuat. Inilah salah satu kelebihan dari tulisan yang dituliskan langsung oleh mereka yang mengalaminya. Demikianlah buku ini sarat akan kisahkisah inspiratif, yang walaupun belum sempurna secara tata cara penulisan maupun pengetikan, namun sarat akan makna yang menyadarkan kita bahwa para Kristen dokter dan para pelayan medis memiliki banyak sekali kesempatan yang indah untuk mempengaruhi pasien serta lingkungan sekitar dengan hal-hal yang baik, dan membawa mereka kepada Tuhan. Menggenapi misi dan Amanat Agung Tuhan Yesus sendiri ... “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Dari Redaksi

Halo, apa kabar? Kali ini, Samaritan hadir dengan topik komitmen terhadap panggilan. Sebenarnya, mau mengajak pembacanya untuk “memikir” ulang apa artiya menjadi seorang Kristen – seorang pengikut Kristus – dalam arti yang sesungguhnya. Jelas, menjadi orang Kristen, buka semata-mata datang seminggu sekali ke gereja atau memasukkan selembar dua lembar uang dalam kantong kolekte, lalu pulang. Menjadi orang Kristen – itu berarti seorang dokter telah menyerah kepada kemurahan hati-Nya dan bersedia menjadi pelayan-Nya. Ia telah membuat saya – dokter - menjadi anggota dari rumah tangga-Nya, sehingga sekarang saya telah merupakan hambaNya, yang setiap waktu siap sedia untuk menjalankan perintahperintah-Nya, betapapun berlawanan dengan apa yang hingga kini saya anggap urusan pribadi saya. Semoga, isi Samaritan kali ini bisa mengajak pembacanya untuk memikir ulang akan komitmennya sebagai seorang dokter. Dokter Kristen. Selamat membaca!

Redaksi menerima kiriman naskah dari pembaca alumni PMK FK/FKG di seluruh Indonesia. Tulisan dapat dikirim ke Sekretariat Redaksi melalui surat, fax, atau e-mail. Redaksi berhak menolak atau mengedit tulisan yang masuk tanpa mengubah maknanya

Komitmen Terhadap Panggilan

3


Samaritan diterbitkan sebagai sarana informasi dan pembinaan bagi mahasiswa dan tenaga medis Kristen Penerbit: Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas

Edisi 3 Tahun 2012

DAFTAR ISI 5 7 10 13 17 19 21 22 24 24 26 29 31 32 32 33 36 37 40 42

Komitmen Terhadap Panggilan Hidup Advokasi untuk Perubahan Komitmen Pelayanan Medis di Daerah Terpencil SJSN dan Rumah Sakit Misi Indonesia Kamp Medis Nasional ( KMdN ) Mahasiswa XVIII Kamp Medis Nasional Alumni IX Tuhan Memanggil Saya Sekapur Sirih dari Wisma Kinasih Terjawab Allah yang Memanggil Kita “Gak Ompong Lagi…!” Obatku di Dapur “Entrepreneurship” Masuki Dunia Kedokteran Perancis Berencana Hapus PR Sekolah Mahasiswa Berpacaran Find and Commit To Your Calling Menjalani Masa Percobaan Pokok Doa Pelayanan Medis Dokter Identik dengan Kaya? Selamat Ulang Tahun

Pemimpin Umum: dr. Lineus Hewis, Sp.A Redaksi: dr. Grace Lumempouw, Sp.Pros dr. Lydia Pratanu Gunadi, MS dr. Maria Irawati Simajuntak, Sp.PD- KIC dr.Eka Yudha Lantang , Sp.AN Ir. Indrawaty Sitepu dr. Elia A.B. Kuncoro dr. Edi Tehuteru, Sp.A (K) MHA, IBCLC dr. Maria Ham, Ph.D, Sp Redaktur Pelaksana: Thomas Nelson Pattiradjawane Sekretaris Redaksi: Dra. Jacqueline Fidelia Rorimpandey Alamat Redaksi: Jl. Pintu Air Raya No. 7 Blok C5 Jakarta 10710 Tel: 021-3452923 | Fax: 021-352 2170 E-mail: pmdn_perkantas@yahoo.com FB: Medis Nasional Perkantas Twitter: @MedisPerkantas Desain sampul: Philip Ayus Tata letak: Philip Ayus Percetakan: PT. Digigrafx Isi di luar tanggung jawab percetakan

Pengganti Ongkos Cetak: Eceran Rp. 12.000,00/eks (Khusus pembelian di Persekutuan Medis) Di luar itu dikenakan ongkos kirim Rp. 5.000,00/eks Harga langganan: Mahasiswa Rp. 68.000,00/tahun Alumni Rp. 80.000,00/tahun Harga sudah termasuk ongkos kirim

Foto dan Gambar: - Koleksi pribadi - dari berbagai sumber

4

Biaya dapat ditransfer ke: BCA KCU Matraman, Jakarta No. Rek. 342 256 679 a.n. Eveline Marceliana Bukti transfer mohon dapat dikirim melalui fax atau email dengan nama dan alamat lengkap pengirim


Atrium

KOMITMEN TERHADAP PANGGILAN HIDUP

T

oni, sebut saja begitu, adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit. Di usianya yang ke-26 dan telah tiga tahun bekerja, Toni sudah berpindah-pindah tempat bekerja lebih dari lima kali Akibatnya, ia tidak pernah sempat menunjukkan kinerja yang baik dan stabil di rumah sakit atau perusahaan tempatnya bekerja. Padahal, dahulu Toni adalah seorang mahasiswa yang berprestasi di kampus. Berbeda dengan Rino. Meskipun saat kuliah prestasinya tidak sebaik Toni, namun ia berusaha mendapatkan pekerjaan di intansi yang sejak dulu ia idam-idamkan. Setelah ia diterima, ia berusaha mengerahkan tenaganya untuk memberikan unjuk kerja yang optimal. Di tahun ketiga ia bekerja, ia sudah diangkat menjadi Kepala Bagian. Komitmen terhadap Semua Panggilan Hidup Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan banyak orang muda seperti Toni. Namun tidak sedikit pula yang seperti Rino. Apa yang membedakan keduanya? Terlepas dari baik buruknya suatu perusahaan, komitmen memainkan peranan amat penting dalam karir Toni dan Rino. Apa sebenarnya komitmen? Ada beberapa definisi komitmen. Komitmen merupakan dedikasi terhadap pekerjaan; serta konsistensi atau keselarasan antara sikap, ucapan, dan tindakan. Adapula yang menyatakan komitmen sebagai janji untuk mewujudkan sesuatu atau mengikatkan diri pada suatu hubungan atau pekerjaan. Ada beberapa contoh mengenai komitmen berikut ini:

Komitmen Terhadap Panggilan

Komitmen dalam Bekerja

Dalam cerita di atas, Rino memiliki komitmen dalam bekerja. Seseorang dengan komitmen yang kuat akan memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya, sekaligus mematuhi kesepakatan yang telah dibuat antara dirinya dengan tempat bekerjanya. Dengan kata lain, ia akan melakukan apa yang disebut “walk the talk�, yaitu mengerjakan apa yang sudah ia katakan, sehingga ia menjadi orang yang dapat dipercaya dan diandalkan oleh orang lain. Komitmen sebagai Orang Tua

Menjadi orang tua bukanlah suatu tugas yang ringan. Menjadi ibu rumah tangga seringkali bagi sebagian perempuan merupakan tugas yang jauh lebih berat dibandingkan menjadi wanita karir. Mengapa? Untuk menjadi ibu dibutuhkan komitmen yang mungkin lebih kuat, karena di dalamnya harus ada unsur cinta 5


Atrium dan kesabaran - dua hal ini mungkin tidak terlalu dibutuhkan dalam pekerjaan. Seseorang yang menjalani peran sebagai ibu atau ayah tanpa didasari sebuah komitmen, akan menjalani peran tersebut demi kepentingan diri mereka sendiri, bukan demi kebaikan si anak. Misalnya, orang tua yang memiliki komitmen akan mendampingi anak belajar ketika si anak sedang ujian, demi masa depan anaknya. Namun orang tua tanpa komitmen akan menyuruh anaknya belajar, memarahi anaknya bila mendapat hasil ujian yang buruk, namun mereka asyik jalan-jalan ke mal saat si anak berjuang untuk belajar.

komitmen hanya akan menjadi sebuah romantic love atau cinta romantis. Cinta seperti ini hanya dilandasi ketertarikan fisik dan kebutuhan emosional satu sama lain. Bila sampai beberapa lama elemen komitmen tidak juga muncul, maka hubungan cinta jenis ini akan segera berakhir. Komitmen sebagai Kunci Sukses

Komitmen dalam Hubungan Cinta

Dalam hubungan cinta, komitmen juga menjadi salah satu faktor penentu jalannya hubungan tersebut. Ada tiga elemen yang menentukan “pola� hubungan cinta sepasang manusia, yaitu : intimacy (elemen emosional yang meliputi keterbukaan, kehangatan, dan rasa saling percaya); passion (elemen motivasi, meliputi ketertarikan fisik seksual), dan commitment (elemen pemikiran yang membuat seseorang memutuskan untuk mencintai dan tinggal bersama dengan orang yang dicintai); (Sternberg, 1984). Hubungan cinta yang dengan absennya 6

Tanpa disadari, komitmen memegang peranan penting yang menentukan kunci sukses seseorang. Komitmen diperlukan dalam berbagai segi kehidupan kita. Khususnya, dalam panggilan hidup sebagai dokter. Dengan memiliki komitmen, kita mampu menjadi dokter yang dapat dipercaya; dokter yang dapat diandalkan; dan pribadi yang dapat diteladani. */tnp

SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


F aktual ADVOKASI UNTUK PERUBAHAN dr. Benyamin Sihombing, MPH

D

ari banyak kegiatan di bidang kesehatan masyarakat (publik), advokasi merupakan kegiatan yang sangat penting, ditujukan untuk merubah kebijakan atau paradigma dari pengambil keputusan. Perubahan ini kemudian diharapkan akan membawa keuntungan bagi suatu program tertentu demi kepentingan masyarakat luas. Banyak teman yang bekerja di puskesmas saat PTT atau di klinik, mengeluh - mereka frustasi, saat masalah program yang akan mereka coba atasi berada pada otoritas diluar atau diatas mereka, seperti camat, dinas kesehatan, sektor non kesehatan, bupati dan lain-lain. Usulan atau upaya baik yang mereka ingin perjuangkan, tidak ditanggapi bahkan ditolak oleh pengambil keputusan. Biasanya ini segera menimbulkan reaksi dari teman-teman kita, mulai seperti:”tidak tahu prioritas”, ”tidak kompeten”,”tidak punya integritas” sampai pada: ”dikuasai kegelapan”. Sebelum kita ikutikutan menegakkan ”diagnosa” di atas dan ada baiknya lebih dahulu kita berpikir jernih tentang kemungkinan masalah yang sebenarnya. Ada pihak/pejabat yang memang tidak kompeten dibidangnya atau tidak punya integritas, namun dari pengalaman saya, yang sering terjadi adalah bahwa pihak pengambil keputusan tidak mengerti latar belakang atau konten ”upaya baik” yang kita usulkan. Terkadang, penyebabnya adalah soal prioritas yang lebih tinggi dari ”upaya baik” kita. Bisa juga dikarenakan kesibukannya, sehingga ”waktu” kita menyampaikan usulan tidak tepat. Kemungkinan lain adalah memang si pihak Komitmen Terhadap Panggilan

pengambil keputusan belum mengerti besaran masalah dan impaknya bagi masyarakatnya, sehingga tidak tahu prioritas. Namun dalam kasus ini memang tugas kitalah untuk memberi pengertian dan meyakinkan dia secara ilmu pengetahuan dan pengalaman. Hal lain adalah si pengambil keputusan sudah mempunyai persepsi yang salah terlebih dahulu tentang ”upaya baik” yang kita gagas, sehingga memang perlu usaha dan penjelasan yang persuasif yang tidak bisa hanya sekali saja, namun harus berulang-ulang. Seorang teman mengatakan ada 3 modal dasar penting untuk suatu advokasi yang berhasil, yakni kesabaran, kesabaran dan kesabaran. Tidak boleh terjadi, dimana kita bosan mengadvokasi pihak pengambil keputusan. Yang bisa terjadi adalah pihak pengambil keputusan menjadi ”bosan” dengan kita, sehingga akhirnya menyetujui usulan kita. Saya ingin membagikan upaya advokasi yang kami lakukan untuk mencoba menghilangkan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta (terminologi yang dipakai untuk pasien kusta yang sedang masa pengobatan dan juga yang telah selesai pengobatan namun mengalami kecacatan) baru-baru ini. Ada 2 musuh besar yang harus dihadapi dalam penanggulangan penyakit kusta. Pertama adalah kuman kusta (mycobacterium leprae) dan yang kedua, stigma terhadap kusta. Bukan saja stigma kusta yang tumbuh di masyarakat, tapi juga di kalangan petugas kesehatan sendiri. Walaupun isolasi atau pengasingan secara fisik pasien kusta sudah tidak ada lagi saat ini namun 7


F aktual Faktual perlakuan diskriminatif masih terjadi dalam masyarakat. Mereka dijauhi teman dan kerabat karena penyakitnya, sulit menikah, ditolak bekerja, hasil produksinya tidak dibeli karena penyakitnya, ditolak menggunakan fasilitasfasilitas publik. Fasilitas publik yang dimaksud termasuk fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan klinik. Masih sering kita mendapatkan laporan dari teman-teman di lapangan, orang yang telah selesai pengobatan kusta namun cacat, ketika akan berobat penyakit umum (bukan kusta) di suatu RS/klinik, oleh RS/ klinik tersebut, orang tersebut dirujuk ke RS kusta, yang jaraknya tidak dekat. Ada juga laporan bahwa orang yang cacat kusta ditolak secara halus untuk mendapatkan penanganan penyakit/ kondisi umumnya di klinik, dengan alasan dokternya tidak ada atau ruangan sudah penuh; padahal kenyataannya tidak. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi tentang kusta pada petugas kesehatan dan juga karena leprophobia (takut berlebihan terhadap kusta) pada petugas kesehatan. Disamping itu, kita menyaksikan banyak rumah sakit kusta minim fasilitas untuk layanan pasien kusta, berbeda halnya dengan pasien-pasien umum. Upaya untuk memperbaiki masalah ini sudah dilakukan secara sporadis dan lokal oleh pihak dan organisasi yang prihatin, namun belum mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Belajar dari hal di atas, kami membentuk sebuah forum yang terdiri dari organisasi/ institusi pemerintah dan non pemerintah, untuk semakin merapatkan barisan dan 8

mengarus-utamakan isu yang akan disuarakan yakni penghentian diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta. Forum ini kemudian kami beri nama Koaliasi Indonesia untuk Inklusi Kusta (KITA). Kegiatan forum yang utama adalah advokasi, yang dalam masalah ini untuk merubah kebijakan pelayanan kesehatan ke arah yang tidak diskriminatif terhadap orang yang pernah mengalami kusta. Pada tahap awal penting untuk menentukan 2 audiences advokasi, yakni primary audience, pihak pengambil keputusan dan secondary audience, orang/ kelompok yang bisa mempengaruhi si pengambil keputusan di atas. Dalam kasus kami maka primary audience adalah direktur rumah sakit/ manager klinik, dokter, perawat di seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia dan secondary audienceadalah menteri kesehatan, organisasi profesi, dan institusi pendidikan dan lain-lain. Secondary audience disini diharapkan akan merubah paradigma dan kebijakan lokal rumah sakit/klinik untuk menjamin pelayanan yang tidak diskriminatif terhadap orang yang pernah mengalami kusta. Agar gaungnya besar dan mudah dibaca masyarakat luas, maka strateginya adalah dengan membuat suatu Piagam Seruan Nasional untuk Mengatasi Kusta, yang berisikan dukungan anti-diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta. Piagam ini kemudian ditandatangani oleh 14 ketua organisasi/institusi kesehatan dan profesi, termasuk Menteri Kesehatan.Piagam ini akan SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


F aktual Faktual

diperbanyak untuk kemudian disebarkan di seluruh fasilitas kesehatan pemerintah ataupun swasta yang ada kasus kustanya. Mencari waktu untuk audiensi kepada semua secondary audience tidak mudah.Butuh kesabaran untuk terus berusaha mendapatkan waktu mereka untuk bisa memaparkan latar belakang dan tujuan Piagam Seruan Nasional dibuat, sehingga yang bersangkutan akhirnya mau ikut menandatangani piagam tersebut. Agar gaung Piagam Seruan Nasional ini semakin besar, maka pencanangannya dilakukan pada perayaan Hari Kusta Sedunia tahun 2012 di Kementerian Kesehatan dan isi piagam tersebut secara keseluruhan di iklankan di koran Kompas dan Media Indonesia sehingga dibaca secara luas oleh masyarakat terutama primary audience. Namun target bukan hanya sampai disini, karena target lain adalah advokasi langsung sekaligus sosialisasi isi piagam seruan nasional mengatasi kusta ini kepada pihak rumah sakit dan klinik. Disini peran organisasi orang yang pernah mengalami kusta, yang merupakan anggota KITA, sangat sentral. Mereka adalah representasi pihak yang terdampak dari diskriminasi di pelayanan kesehatan selama ini, sehingga posisinya sangat kuat dalam menyuarakan isi Piagam Seruan Nasional tersebut. Mereka diterima dengan baik dan positif oleh pihak rumah sakit dan pesan advokasi pun dengan lancar mengalir. Sampai saat ini kegiatan advokasi dan disertai kegiatan Komitmen Terhadap Panggilan

penempelan piagam di rumahsakit dan klinik oleh petugas kesehatan dan organisasi orang yang pernah mengalami kusta masih terus berlangsung di daerah-daerah. Sebagian besar kegiatan ini diliput oleh media sehingga masyarakat lebih disadarkan tentang isu diskriminasi kusta ini. Kesinambungan advokasi/sosialisasi isi piagam seruan nasional ini akan terus dipastikan supaya tidak redup ditengah jalan. Usaha lain, menyisipkan materi Piagam Seruan Nasional pada simposium ilmu kedokteran/kesehatan, pertemuan rumah sakit, pertemuan dinas kesehatan dan lain sebagainya. Meskipun impak dari advokasi ini belum terlihat sekarang namun KITA optimis, melihat respon yang ada, upaya advokasi ini akan merubah paradigma petugas kesehatan dan kebijakan rumah sakit/klinikuntuk memberikan pelayanan yang optimal bagi orang yang pernah mengalami kusta, sama seperti masyarakat lainnya. Pengalaman saya pribadi advokasi membutuhkan kesabaran (untuk terus mencoba dan tidak selalu menyalahkan pihak tertentu), ke-rendah hatian untuk bekerjasama dan menerima perspektif dengan orang lain, berpikiran luas (think out of the box), kepekaan terhadap masalah yang dihadapi orang banyak dan ilmu pengetahuan. Bukan sesuatu yang mudah memang, namun saat berhasil itu akan merubah kebijakan yang berdampak luas untuk kemanusiaan.

Dr. Benyamin Sihombing, MPH Alumni Fak. Kedokteran Universitas Sumatera Utara (1989 – 2006) Master of Public Health course, National University of Singapore (2008 – 2009 ) Saat ini Bekerja di Ditjen Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Kemenkes RI & Neglected Tropical Diseases (NTD) Programme, WHO Indonesia

9


F aktual Faktual

KOMITMEN PELAYANAN MEDIS DI DAERAH TERPENCIL dr. Herman Wibowo, M.P.H.

S

aya dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga yang tidak mengenal Kristus, keluarga kami menganut ajaran Khong Fu cius, dan masih ada abu leluhur yang dipuja. Hanya karena kasih karunia Allah yang telah menetapkan saya akan menjadi umat tebusan-Nya sebelum dunia dijadikan. (Ef.1: 4) maka melalui sekolah dasar dan sekolah menengah saya telah mengenal ajaran Kristen. Waktu saya menempuh kuliah kedokteran di UGM Yogya, dan saya bergereja di GKI Ngupasan dengan gembalanya adalah paman saya sendiri. Selama menjadi jemaat di sana saya sangat aktif dalam berbagai “pelayanan” dari guru sekolah minggu, komisi pemuda dan lain sebagainya, bahkan saya menjadi pengrus komisi. Meskipun berbagai kegiatan saya lakukan, namun saya tidak bersedia dibaptis, karena saya banyak dikecewakan oleh tokoh gereja dan para aktivis yang kehidupannya tak sesuai dengan Firman dan menjadi “batu sandungan” bagi saya. Hanya pesan paman saya yang mengubah keputusan dalam hidup saya:” to be the good singer for the beautiful song”.Menjadi pelaku Firman yang baik. Saya mau dibaptis dan menerima Kristus secara pribadi dan rindu untuk menjadi saksi Kristus yang baik, karena Alkitab yang berisi kebenaran Firman Allah, adalah lagu yang indah untuk diterapkan dalam kehidupan kita. Selama pelayanan di GKI saya mempunyai 2 orang teman seangkatan ( dr. Timotius W. Dan dr. Yahya W.), dan kami bertiga memiliki kerinduan yang sama, bila satu 10

saat kami lulus menjadi dokter ingin menjadi saksi bagi kemuliaan nama-Nya ke manapun Tuhan utus. Setelah lulus selama beberapa bulan saya berpetualang bekerja sebagai relawan, di beberapa Balai Pengobatan Kristen, diantaranya: YAKKUM Solo dan Puwodadi, juga di RS Kristen Ngesti Waluyo, Parakan. Rupanya di sanalah Tuhan mempersiapkan saya untuk memenuhi panggilannya, sesuai dengan visi kami waktu masih kuliah, melayani di daerah terpencil. Dipanggil ke Tentena Panggilan ke RS GKST Tentena menjadi jawaban panggilan saya, maka saya menerima untuk diutus ke Tentena, pada awal tahun 1971. Lalu, saya menuju Makasar, mengikuti pelatihan bedah di RS Labuang Baji dengan mentor seorang ahli bedah dr. De Jong, dan tinggal di rumah kepalaRS Labuang Baji, seorang ahli bedah sekaligus hamba Tuhan yang setia dalam pelayanan, yang memberikan dorongan dan motivasi yang baik. Tentena, seperti yang digambarkan oleh dokter pendahulu saya, adalah tempat yang begitu indah dan nyaman. Namun, kondisi rumah sakitnya kotor, kumuh dan defisit, tidak ada obat dan sarana pelayanan yang layak, para perawat dan pegawai banyak yang menderita, karena gaji yang jauh dari mencukupi kebutuhan minimal mereka. Disamping itu, ada perawat senior yang mendominasi klinik, sehingga melakukan “sabotase” agar pasien datang di tempat praktek pribadinya daripada SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


F aktual Faktual

Akhirnya saya harus membuktik an diri bahwa saya datang buk an demi uang tapi merinduk an pelayanan yang menjadi berkat bagi orang lain.

ke rumah sakit. Administrasi yang kacau dan korup, keterlibatan pejabat gereja (Sinode GKST) yang terlalu jauh, menghambat kemajuan RS, bahkan menganggap Rumah Sakit sebagai salah satu “Sumber Penghasilan Gereja” dan bukan sebagai “Sarana Pelayanan Gereja”. Bukan Demi Uang Sementara itu, kondisi rumah dokter peninggalan dokter zending, merupakan rumah papan yang rapuh dan berlobang, sering ada ular yang melingkar di atap rumah. Perabot reot dan kotor. Waktu itu, “kota Tentena” tanpa listrik, kondisi jalan berbatu, untuk mencapainya dari Jawa- ke Palu dengan pesawat ( tidak ada penerbangan setiap hari), Palu Parigi dengan jeep melalui jalan bergunung yang banyak kelokan dan jurang yang terjal, memerlukan 8 jam perjalanan, dari Parigi ke Poso dengan motor laut semalaman, dari Poso

Komitmen Terhadap Panggilan

ke Tentena dengan mobil RS selama 6 jam atau lebih, walaupun jaraknya hanya 55 Km. Semua serba kekurangan, gaji yang hanya lebih besar sedikit dari gaji PNS ( Pegawai Negeri Sipil), membuat awal karier begitu sulitnya. Akhirnya saya harus membuktikan diri bahwa saya datang bukan demi uang tapi merindukan pelayanan yang menjadi berkat bagi orang lain. Saya tetap bertahan dan menggunakan bekal obat yang saya bawa dari hasil tabungan istri saya dan “meminjam” bukan “meminta” uang dari NHK untuk memulai pelayanan saya di RS GKST Tentena. Di Tentena, penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi masalah utama, dengan keadaan kekurangan pengetahuan bagi masyarakat setempat dan sarana kesehatan yang sangat minim. Kondisi Rumah Sakit dengan defisit anggaran yang cukup besar, karena pelayanan yang “buruk”, kunjungan kurang, kurang kepercayaan dari masyarakat, membuat saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana memulai memperbaiki Rumah Sakit ini. RS GKST harus diberi otonomi untuk mengelola keuangan dan manajemen mandiri. Status Rumah Sakit terhadap Gereja harus dibetulkan. Tempat tempat sumber “korupsi”, dapur, apotek dan bangsal perawatan diperbaiki. Pembuktian kemampuan dalam kompetensi kuratif, untuk membangkitkan kepercayaan masyarakat, agar tidak lagi berobat ke dukun atau ke petugas kesehatan yang mencari keuntungan bagi diri sendiri. Kesejahteraan pegawai secara bertahap ditingkatkan, juga kemampuannya.

11


F aktual Faktual Karena dengan pertolongan Tuhan tugas di Tentena selama 8 tahun. semata, maka semua hambatan dan masalah Saya belajar, bahwa setiap panggilan dapat diatasi, keberhasilan demi keberhasilan memerlukan komitmen, dan komitmen diraih. memerlukan persiapan , dan setelah itu percaya Kesehatan hanyalah salah satu faktor saja dan yakinlah bahwa Tuhan akan dalam Pembangunan Masyarakat, tetapi memperlengkapi kita dengan “sempurna.” Kesehatan dapat merupakan “Point Of Entry” Dia akan beserta dan senantiasa yang baik bagi upaya menolong kita dalam Pembangunan segala masalah dan Masyarakat secara kesulitan yang akan menyeluruh. hadapi. Karena Saya belajar, bahwa setiap kita U p a y a Allah turut bekerja panggilan memerluk an dalam segala sesuatu Pembangunan Masyarakat Desa komitmen, dan komitmen u n t u k dimulai dengan 3 mendatangkan memerlukan persiapan , dan kebaikan bagi Desa Percontohan, menuai hasil pada yang setelah itu percaya dan mereka awalnya, kemudian mengasihi Dia, yaitu yakinlah bahwa Tuhan akan mereka masalah timbul silih yang memperlengkapi kita dengan terpanggil sesuai berganti sehingga terpaksa “dihentikan rencana Allah. “sempurna.” sementara” setelah Masa-masa saya kurang lebih 3 tahun, bekerja di Tentena, dan diganti dengan pendekatan yang baru merupakan masa yang “indah” yang tidak akan melalui “ Taman Gizi” yang akhirnya pernah saya lupakan, dan merupakan “ bukti berkembang hampir kesemua Desa yang ada. penyertaan Tuhan yang tidak taranya”. Segala Selanjutnya dibentuk Pusat Pelatihan puji dan hormat bagi Dia yang telah memanggil Pengembangan Masyarakat Desa yang melatih dan menetapkan setiap umat-Nya dalam kader2 untuk mengembangkan Desa -Desa yang rencana agung untuk mendatangkan damai ada. sejahtera bagi seluruh umat manusia.

Harga Sebuah Komitmen Semua yang saya perjuangkan dengan pertolongan dan penyertaan Tuhan, meski kerja keras terfokus pada sasaran yang ingin dicapai untuk kesejahteraan masyarakat pedesaan, kadang membuat keluarga terlantar. Suami istri harus terpisah selama 3 tahun, untuk bekerja di tempat yang berbeda demi kesejahteraan keluarga. Namun kasih karunia dan pemeliharaan Tuhan nyata, kami tetap bahagia di dalam penghiburan yang sejati dari Allah Roh Kudus. Sampai bisa menyelesaikan 12

Tentang Penulis: Dr. Herman Wibowo .MPH Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta, 1970 Tropen Institute , Master of Public Health , ICHD , Amsterdam Holland , 1979 Sudah pensiun 12 tahun yang lalu dan saat ini Praktek Swasta di Palu serta aktif di Gereja & Haggai Institute.

SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


F aktual Faktual

SJSN DAN RUMAH SAKIT MISI INDONESIA

B

elakangan ini singkatan SJSN dan BPJS banyak diperbincangkan di media massa. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan SJSN dan BPJS? Apa kaitanya dengan rumah sakit misi di Indonesia?

Apa itu SJSN dan BPJS? Amanat UUD 45 hasil amandemen menyatakan bahwa “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.” (Pasal 28H ayat 1) dan “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak” (Pasal 34 ayat 3). Hal inilah yang mendasari diterbitkannya Undang-Undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggara jaminan sosial. Pemerintah merencanakan dengan dilaksanakannya SJSN ini Pemerintah maka akan tercapai suatu kondisi Universal Coverage Assurance,yang artinya terdapat asuransi kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia.Langkah yang ditempuh adalah dengan membentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau lebih dikenal dengan BPJS, yang akan mulai dilaksanakan pada 1 Januari 2014. Jadi dapat dikatakan bahwa BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk Komitmen Terhadap Panggilan

menyelenggarakan program jaminan sosial (SJSN). Bagaimana SJSN dilaksanakan? SJSN dilaksanakan dengan didasarkan pada asas kemanusiaan, manfaat, dan keadilan sosial, dengan tujuan memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia. Prinsip-prinsip yang digunakan dalam SJSN adalah: asuransi, kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, keberhati-hatian, akuntabilitas dan probabilitas, kepesertaan

bersifat wajib, dan dana amanat dan hasil pengelolaan seluruhnya untuk pengembangan program dansebesar-besarnya kepentingan peserta.Jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas. SJSN dapat dikatakan sebagai suatu cara kegotongroyongan yang terorganisasikan dengan memberikansantunan/pertolongan pada sesama yang meng-iur.Dengan iuran yang dibayar secara rutin maka peserta akan mendapatkan manfaat: • Meringankan beban biaya ketika sakit (jaminan kesehatan) atau mengalami kecelakaan kerja (jaminan kecelakaan kerja). • Menerima sejumlah uang tunai ketika memasuki usia pensiun/hari tua (jaminan hari tua). 13


F aktual Faktual •

Menerima sejumlah uang bulanan seumur hidupnya ketika menjalani pensiun (jaminan pensiun). Ahli waris menerima sejumlah uang ketika peserta meninggal dunia (jaminan kematian).

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang sudah ada pada saat ini adalah • Perusahaan Perseroan (Persero) • Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). • Perusahaan Perseroan (Persero)Tabungan Sosial Pegawai Model asuransi yang diterapkan pada Negeri (TASPEN) SJSN adalah asuransi sosial. Asuransi sosial • Perusahaan Perseroan adalah suatu mekanisme pengumpulan dana (Persero)Asuransi Sosial Angkatan yang bersifat wajib yang berasal dari iuran guna Bersenjata Republik Indonesia memberikan perlindungan (ASABRI) atas risiko sosial ekonomi • Perusahaan yang menimpa peserta dan / (Persero) SJSN dapat Perseroan atau anggota keluarganya. Asuransi Kesehatan dikatakan sebagai suatu Indonesia (ASKES). Setiap orang yang berstatus sebagai pekerja wajib cara kegotongroyongan • A p a b i l a membayar iuran yang diperlukan, untuk yang terorganisasikan pelaksanaan SJSN besarnya ditetapkan berdasarkan persentase dari dengan memberik an dapat dibentuk BPJS upah atau suatu jumlah santunan/pertolongan baru. nominal tertentu; sedangkan pada sesama yang iuran program jaminan D a l a m sosial bagi fakir miskin dan pelaksanaannya, mengiur. orang yang tidak mampu manfaat jaminan dibayarkan oleh Pemerintah. Anggota keluarga kesehatan pelayanan perseorangan berupa peserta berhak menerima manfaat jaminan pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan kesehatan.BPJS wajib memberikan nomor promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, identitas tunggal kepada setiap peserta dan termasuk obat dan bahan medis habis pakai anggota keluarganya. Setiap peserta dapat yang diperlukan. Untuk jenis pelayanan yang mengikutsertakan anggota keluarga yang lain dapat menimbulkan penyalahgunaan yang menjadi tanggungannya dengan pelayanan, peserta dikenakan urun biaya. menambah iuran. Setiap peserta berhak Manfaat jaminan kesehatan tersebut diberikan memperoleh manfaat dan informasi tentang pada fasilitas kesehatan milik Pemerintah atau pelaksanaan program jaminan sosial yang swasta yang menjalin kerja sama dengan BPJS. diikuti. Dalam keadaan darurat, pelayanan dapat Dana yang terkumpul disebut sebagai diberikan pada fasilitas kesehatan yang tidak Dana Jaminan Sosial. Dana ini adalah dana menjalin kerja sama dengan BPJS. amanat milik seluruh peserta yang merupakan Bila di suatu daerah belum tersedia fasilitas himpunan iuran beserta hasil kesehatan yang memenuhi syarat guna pengembangannya yang dikelola oleh BPJS memenuhi kebutuhan medik sejumlah peserta, untuk pembayaran manfaat kepada peserta maka BPJS wajib memberikan kompensasi. Bila dan pembiayaan operasional penyelenggaraan peserta membutuhkan pelayanan rawat inap program jaminan sosial. 14 SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


F aktual Faktual di rumah sakit, maka kelas pelayanan di rumah biaya yang harus dibayar akibat peningkatan sakit diberikan berdasarkan kelas standar (kelas kelas perawatan. III). Besarnya pembayaran kepada fasilitas Untuk pelayanan yang dapat kesehatan untuk setiap wilayah ditetapkan menimbulkan penyalahgunaan biaya / berdasarkan kesepakatan antara BPJS dan membuka peluang moral hazard (sangat asosiasi fasilitas kesehatan di wilayah tersebut. dipengaruhi selera dan perilaku peserta, BPJS mengembangkan sistem pelayanan misalnya pemakaian obat-obat suplemen, kesehatan, sistem kendali mutu pelayanan, dan pemeriksaan diagnostik, dan tindakan yang sistem pembayaran pelayanan kesehatan untuk tidak sesuai dengan kebutuhan medik), peserta meningkatkan efisiensi dan efektivitas jaminan dikenakan urun biaya. kesehatan. Daftar dan harga tertinggi obatFasilitas kesehatan yang dapat obatan, serta bahan medis habis pakai yang memberikan pelayanan pelayanan kesehatan dijamin oleh BPJS sesuai dengan SJSN ditetapkan sesuai meliputi rumah sakit, dengan peraturan dokter praktek, dan perundangDalam pelaksanaannya, klinik, laboratorium, undangan. dan fasilitas manfaat jaminan kesehatan apotek Pelayanan kesehatan lainnya. pelayanan perseorangan Fasilitas kesehatan kesehatan yang didapatkan oleh berupa pelayanan kesehatan memenuhi syarat peserta meliputi tertentu apabila yang mencakup pelayanan fasilitas kesehatan pelayanan dan penyuluhan promotif, preventif, kuratif, tersebut diakui dan kesehatan, imunisasi, izin dari dan rehabilitatif, termasuk memiliki pelayanan Keluarga instansi Pemerintah obat dan bahan medis habis yang bertanggung Berencana, rawat jalan, rawat inap, jawab di bidang pakai yang diperlukan. pelayanan gawat kesehatan. darurat, dan Pe m b a y a r a n tindakan medis lainnya, termasuk cuci darah kepada fasilitas kesehatan oleh BPJS berkaitan dan operasi jantung. Pelayanan tersebut dengan pelayanan yang diberikan kepada diberikan sesuai dengan pelayanan standar peserta dilakukan secara efektif dan efisien. (kelas III), baik mutu maupun jenis BPJS dapat memberikan anggaran tertentu pelayanannya dalam rangka menjamin kepada suatu rumah sakit di suatu daerah kesinambungan program dan kepuasan untuk melayani sejumlah peserta atau peserta. Luasnya pelayanan kesehatan membayar sejumlah tetap tertentu per kapita disesuaikan dengan kebutuhan peserta dan per bulan (kapitasi). Anggaran tersebut sudah kemampuan keuangan BPJS. Peserta yang mencakup jasa medis, biaya perawatan, biaya menginginkan kelas yang lebih tinggi dari pada pemeriksaan penunjang, dan biaya obat-obatan haknya (kelas standar), dapat meningkatkan yang penggunaan rincinya diatur sendiri oleh haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan pimpinan rumah sakit. Dengan demikian, tambahan, atau membayar sendiri selisih sebuah rumah sakit akan lebih leluasa antara biaya yang dijamin oleh BPJS dengan menggunakan dana seefektif dan seefisien

“

Komitmen Terhadap Panggilan

15


F aktual mungkin. Dalam hal pengembangan pelayanan kesehatan, BPJS menerapan sistem kendali mutu dan kendali biaya, termasuk menerapkan iur biaya untuk mencegah penyalahgunaan pelayanan kesehatan. Penetapan daftar dan plafon harga dilakukan oleh BPJS dengan mempertimbangkan perkembangan kebutuhan medik ketersediaan, serta efektivitas dan efisiensi obat atau bahan medis habis pakai. Apa tantangan yang dihadapai RS Misi? 1. Perubahan pola konsumsi kesehatan masyarakat. Pasien cenderung memanfaatkan semaksimal mungkin haknya yang dijaminkan oleh SJSN. Hampir semua pasien akan berobat ke rumah sakit yang telah bekerja sama dengan BPJS untuk memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas tanggungan kesehatan yang menjadi haknya. Pasien dari golongan ekonomiyang lebih baik akan memanfaatkan haknya untuk mendapatkan fasilitas perawatan di atas kelas standar dengan membayarkan selisih biaya. 2. Standarisasi pelayanan rumah sakit. Rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS adalah rumah sakit yang pelayanannya sudah terstandarisasi. Standar yang dimaksud di sini adalah standar mutu pelayanan, baik dalam bidang medis maupun manajemen. Standar pelayanan perumahsakitan Indonesia yang baru dikeluarkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) adalah Standar Akreditasi Baru Rumah Sakit Indonesia. Standar ini mengadopsi standar yang diterapkan oleh Joint 16

3.

Commision International for Hospital Accreditation (JCI) ditambah dengan muatan lokal MDGs (Millenium Development Goals). Standar inilah yang akan digukanak oleh BPJS untuk menilai kualifikasi rumah sakit yang akan dijadikan rekanan dalam melayani peserta SJSN. Penerapan prinsip kendali mutu dan kendali biaya. Untuk memastikan mutu pelayanan suatu rumah sakit, prinsip ini harus dilaksanakan dengan tertib. Unit cost�yang bersaing� akan menjadi hal mendasar yang harus dimiliki oleh rumah sakit untuk dapat bertahan dalam persaingan perumahsakitan yang makin ketat. Tanpa penerapan prinsip kendali mutu dan kendali biaya, maka rumah sakit akan ditinggalkan bukan hanya oleh pasien, tetapi juga stafnya.

Melihat betapa vitalnya peran RS Misi sebagai perpanjangan tangan gereja Kristus di Indonesia, adalah tugas kita semua untuk berjuang keras mempertahankan keberadaan dan peran RS Misi. Tinggal kita renungkan, apakah peran kita masing-masing. ----- ‘’ ----SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Laporan KAMP MEDIS NASIONAL (KMDN) MAHASISWA XVIII “Christian doctors: Devote to doing what is good� (Titus 3:8)

S

ungguh mengucap syukur atas terselenggaranya Kamp Medis Nasional (KMdN) Mahasiswa yang ke-18. Kamp yang berlangsung selama 6 hari 5 malam dari tanggal 31 Juli-05 Agustus 2012 di Wisma Kinasih, Caringin ini diikuti oleh sekitar 208 peserta yang merupakan mahasiswa FK, FKG, dan Akademi Keperawatan dari 21 daerah di Indonesia. Kamp medis tahun ini diselenggarakan dengan cara yang berbeda dengan kamp-kamp sebelumnya. Jika sebelumnya kamp medis mahasiswa dan alumni digabung, maka pada KMdN XVIII ini kedua kamp tersebut dipisah. Tema dari KMdN XVIII ini adalah Christian Doctors: Devote to doing what is good yang diambil dari Titus 3:8. Diharapkan melalui tema ini dapat menolong para calon dokter, dokter gigi serta perawat Kristen yang telah menikmati kasih karunia dari Tuhan, mau mengabdikan hidupnya untuk melakukan perbuatan baik terutama dalam profesi mereka. Setiap sesi dalam kamp ini pun dibuat dengan tujuan agar tema ini pun dapat dimengerti dan dihidupi oleh setiap peserta.

Komitmen Terhadap Panggilan

Baik dalam sesi eksposisi kitab Ratapan yang yang mengajak para peserta untuk memiliki mata bagi yang tak terlihat, telinga bagi yang tak terdengar, hati bagi yang tak tersapa, tangan bagi yang tak terjamah, serta seruan bagi yang tak terucap. Maupun dalam panel-panel diskusi yang membahas mengenai kondisi terkini pelayanan kesehatan di Indonesia, memaknai kurikulum terkini serta berbagai profesi misi medis. Juga dalam berbagai seminar pilihan serta lokakarya yang diharapkan dapat memperlengkapi setiap peserta. Dalam kamp medis kali ini pun terdapat beberapa tambahan seperti waktu Pendalaman Alkitab (PA) yang dilakukan pada hari ke-3, dimana peserta bersama dengan peserta-peserta lain yang ada didalam kelompok kecilnya secara bersama-sama belajar mengenai integritas melalui bahan PA yang telah disiapkan oleh panitia dibantu dengan pemimpin kelompok masing-masing. Belajar dari teladan nabi Elisa dalam kisah penyembuhan Naaman dalam kitab 2 Raja-Raja 5:15-27 dan belajar dari kejatuhan Gehazi, hamba dari nabi Elisa. Penambahan waktu diskusi sesuai dengan minat

17


Laporan dalam bentuk kelompok pun dilakukan setelah pemaparan materi oleh para panelis dalam panel diskusi 3 mengenai berbagai profesi misi medis. Peserta setelah mendengarkan berbagai pilihan profesi misi medis, diminta untuk memilih 1 bidang yang mereka minati dan kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok sesuai minta mereka dan disana mereka dapat bertanya jawab lebih lanjut dengan fasilitator yang ada. Untuk para calon perawat maupun dokter gigi disediakan kelompok khusus dengan fasilitator yang merupakan perawat serta dokter gigi. Bersyukur dalam KMdN XVIII ini, Tuhan juga sediakan para pembicara, Pdt. Erick Sudharma, MTh sebagai pembicara utama yang telah menyampaikan eksposisi kitab Ratapan. Para pembicara seminar pilihan maupun lokakarya baik dari kalangan medis maupun non media. Juga para alumni yang mau memberi waktu mereka untuk berbagi cerita mengenai panggilan mereka serta ladang pelayanan mereka, diantaranya dr. Edi Lubis, Sp.M, dr. Buce Tahalele, dr. Adiyana Esti, Prof. George Matthew, MBBS, MS, MD, FCAMS, dr. Shelly Franciska, dr. Fu Shen, dr. Alva Juan, dan tim dari Obor Berkat Indonesia. Serta para fasilitator yang telah memberi diri untuk membantu para peserta untuk dapat lebih mengerti mengenai bidang profesi misi medis yang mereka nikmati. Bersyukur untuk para panitia yang telah bekerja keras dalam menyiapkan kamp ini, baik panitia pengarah maupun panitia pelaksana. Dimana terdapat 7 orang panitia pengarah yang diketuai oleh dr. Lineus Hewis, Sp.A dan 21 orang panitia pelaksana yang diketuai oleh 18

dr. Priska Karina Gunadi serta 10 orang tim kerja yang membantu dalam mendesain baju, warta, poster, buku acara dll serta membantu dalam hal sound selama acara serta dokumentasi. Bersyukur ditengah kesibukan kerja maupun kuliah, mereka terus bisa dengan setia dan komit dalam mengerjakan pelayanan ini baik sebelum maupun selama kamp berlangsung. Bersyukur juga untuk para pelayan yang telah melayani baik para MC yang tidak hanya berasal dari Jakarta tapi juga dari daerah seperti Pontianak, Medan, dan Semarang. Juga para pemusik baik gitaris maupun keyboardis yang telah mempelihatkan talenta mereka dengan luar biasa dan para singer. Serta para pemimpin kamar, pemimpin kelompok kecil, pembuat bahan PA, pembuat bahan saat teduh, serta tim kerja yang telah membantu kita sebelum maupun saat kamp berlangsung. Bersyukur juga untuk mereka yang telah turut mendukung kamp ini baik secara tidak langsung baik. Berharap kiranya dengan berakhirnya KMdN XVIII ini tidak berakhir pula semangat untuk melayani maupun semangat untuk mengaplikasikan setiap komitmen yang telah diambil dalam kamp ini. Kiranya Tuhan yang meneguhkan dan memampukan kita semua untuk terus setia melayani Dia dan terus setia mengabdikan hidup kita untuk melakukan perbuatan baik. Soli Deo Gloria!

dr. Priska Karina Gunadi Ketua Pelaksana KMdN XVIII

SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Laporan

KAMP MEDIS NASIONAL ALUMNI IX Quo Vadis, Doctor? : Find and Commit To Your Calling ntuk pertama kalinya, Kamp Medis Nasional Alumni yang biasanya dilakukan bersama-sama dengan Kamp Medis Nasional mahasiswa, diselenggarakan secara terpisah. Tentunya dengan berbagai alasan dan pertimbangan, semuanya agar alumni bisa mendapatkan lebih banyak berkat dalam sebuah pertemuan dengan para sejawat dari berbagai pelosok tanah air. Menggumuli panggilan hidup dan

U

sebagian peserta, melalui kamp ini ditantang untuk mengadakan evaluasi kembali apakah dalam menjalankan profesinya sampai saat ini sesuai dengan komitmen yang telah dibuat sebelumnya. Materi-materi yang diangkat dalam kamp ini menyoroti secara spesifik kehidupan saat menjadi alumni dengan memberikan banyak kesempatan bagi para alumni untuk bisa saling berbagi visi dan inspirasi yang telah dikerjakan

menjadi bermakna, inilah yang menjadi tema sentral dalam Kamp Medis Nasional Alumni kesembilan. Selama kurang lebih 4 hari yakni 5-8 Juli 2012, sekitar 180 dokter, dokter gigi dan perawat Kristen diajak untuk merenungkan kembali apa kehendak Tuhan di dalam kehidupan profesional mereka saat ini, mengadakan dialog secara mendalam kepada Tuhan dan berbagi dengan saudara seiman tentang panggilan Tuhan secara khusus dalam kehidupan profesi yang dijalani saat ini. Untuk Komitmen Terhadap Panggilan

dalam kehidupan, pekerjaan dan pelayanan masing-masing alumni. Eksposisi Alkitab dalam kamp kali ini dibawakan oleh Rev. Robert Solomon, MD dari Trinity Theological College Singapura, berbicara tuntas tentang Musa. Dr. Solomon banyak berbicara, bagaimana Musa dipersiapkan oleh Allah, kemudian dipanggil dan akhirnya digunakan secara luar biasa oleh Allah. Kita patut bersyukur bahwa ada nuansa yang berbeda pada kamp ini, yaitu adanya ses19


Laporan sion khusus alumni keperawatan yang sejak dahulu menjadi kerinduan dari rekan-rekan keperawatan dalam kamp-kamp alumni sebelumnya. Sejumlah pembicara seperti : Joan E. Edwards, RNC, CNS, PhD(c) (Associate Clinical Professor Woman’s University College of Nursing – Houston Texas), Dawn M. Capaque, RN, BsC, MA (perintis pelayanan di ICVF Filipina) dan Dr.Fransiska M.S. Sumartiningsih, SKp, MPd (Dekan Fakultas Keperawatan & Ilmu Kesehatan UPH Tangerang) selama dua hari mengupas tuntas bagaimana seharusnya perawat Kristen menunjukkan integritas dan kompetensinya serta menekankan betapa pentingnya bagi sesama perawat Kristen untuk bisa berkumpul dalam suatu komunitas untuk bisa saling berbagi dan mendukung satu sama lain. Hal yang paling menggembirakan adalah melalui session ini lahir interest group keperawatan yang ke depannya akan bertemu kembali untuk menggarap secara khusus pelayanan bagi perawat lewat wadah persekutuan. Namun kelahiran interest group dalam kamp medis nasional alumni ini bukan hanya terjadi bagi alumni keperawatan. Kita bisa bersyukur bahwa dalam kamp kali ini ada beberapa interest group yang juga terbentuk antara lain : rumah sakit misi , herbal,dll . Di samping itu terdapat pertemuan untuk penguatan kembali bagi beberapa interest group yang sebelumnya telah ada yaitu dalam bidang pendidikan dan urban mission. Rasa syukur kita juga tidak berhenti sampai di situ 20

karena terdapat komitmen dari beberapa peserta yang berasal dari daerah yang sama untuk memikirkan pelayanan alumni yang dapat diterapkan di masing-masing kota, misalnya Manado, Bandung dan Jogjakarta. Kehadiran interest group dan kelompok sedaerah ini tak lain dari kerinduan untuk mengimplementasikan beberapa diskusi yang secara intens dibawakan oleh beberapa pembicara yang berkualitas antara lain : Prof. George Matthews, MD yang adalah seorang ahli bedah digestif dan mantan dekan dari Christian Medical College di Vellore, India dan Prof. Taralan Tambunan, SpA(K) serta beberapa pembicara lainnya yang membagikan betapa pentingnya untuk memiliki kehidupan yang berdampak bagi sekitarnya. Kamp ini merupakan kamp pertama dari tiga kamp sekuensial yang akan diadakan setiap dua tahun yang memberi fokus kepada pengembangan jejaring dan mendorong para alumni untuk melakukan yang terbaik dalam area tertentu dalam pelayanan medis. Dengan demikian, menjadi doa kita bersama momentum kamp ini dapat menjadi suatu langkah awal dari kegerakan alumni medis Kristen untuk bahu membahu dan menjalin langkah dengan pihak lain untuk bersama –sama membangun dunia kesehatan di Indonesia yang mencerminkan kasih. Amin!

dr. Eka Yudha Lantang,SpAn, MMin Ketua Panitia KMdNA IX tahun 2012 SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Kesaksian TUHAN MEMANGGIL SAYA Ns. Taruli Ekaristi, S.Kep.

D

ahulu, kalau saya ditanya tentang cita-cita, saya akan dengan tegas menjawab tidak mau jadi dokter, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya. Waktu kecil saya melihat berbagai contoh tenaga kesehatan yang sikapnya tidak semulia pekerjaannya. Dokter yang sombong dan perawat yang galak menjadi alasan saya semakin tidak tertarik dengan pekerjaan di bidang kesehatan. Saat ini, ketika ditanya kenapa saya bekerja sebagai perawat, saya akan menjawab dengan pasti bahwa Tuhan memanggil saya. Proses untuk bisa memahami bahwa Tuhan mengarahkan saya ke profesi kesehatan pun tidak mudah. Tahun-tahun awal perkuliahan bagi saya adalah suatu beban yang harus tetap dijalani, demi membahagiakan orangtua. Namun Tuhan “menangkap� saya melalui persekutuan kampus. Saya pun mulai dikuatkan bahwa rencana Tuhan adalah damai sejahtera, bukan kecelakaan. Saya masuk kampus keperawatan atas perkenan Tuhan, untuk membentuk saya menjadi pribadi yang Dia inginkan. Tuhan membukakan bahwa pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia, namun seringkali dikerjakan dengan sungutsungut. Persekutuan kampus memberi andil yang besar mempersiapkan saya menjadi seorang perawat Kristen yang siap diutus ke dunia pekerjaan sebenarnya. Pada kenyataannya, tidak mudah untuk tetap setia pada panggilan Tuhan. Banyak tantangan yang membuat saya tergoda untuk melenceng dari panggilan sebagai perawat Kristen. Beban kerja membuat penurunan daya tahan fisik, membuat stress tingkat tinggi, bahkan menyita waktu hubungan pribadi dengan Tuhan dan sesama. Saling sikut antar teman sejawat membuat ketidakharmonisan, ditambah lagi terkadang harus menghadapi orang dengan karakter sulit. Semua beban kerja tersebut Komitmen Terhadap Panggilan

kadang membuat saya jadi perawat yang apatis, self centered, dan malas. Puji Tuhan untuk terselenggaranya Kamp Medis Nasional Alumni (KMdNA) 2012. Dengan mengikuti KMdNA panggilan saya dalam profesi keperawatan dipertajam. Firman yang disampaikan pada sesi eksposisi membuat saya memahami dengan positif maksud Allah mempersiapkan dan membentuk saya melalui keluarga, pendidikan, dan persekutuan yang saya alami. Saya pun belajar bahwa tantangan dari luar dan kelemahan dari dalam diri dipakai Allah untuk membuat saya semakin mengandalkan Dia. Sesi-sesi khusus perawat yang disediakan menolong saya untuk kembali memiliki komitmen bekerja sebagai perawat dengan totalitas dan loyalitas tinggi.sebagai wujud ibadah pada Tuhan dan demi kesejahteraan sesama. Saya pun semakin semangat meng up-grade ilmu, untuk bisa lebih berdampak. Akhirnya, saya pun menemukan kembali sukacita menjalani panggilan Tuhan sebagai perawat. Allah pun membawa saya masuk dalam persekutuan yang indah dengan sesama rekan sejawat perawat dari berbagai daerah, berbagai tempat kerja, bahkan dari luar negeri. Senang rasanya bisa bertukar pikiran dengan temanteman seiman baik yang seprofesi maupun beda profesi. Persekutuan di KMdNA membuat saya tergerak mengajak beberapa rekan perawat di rumah sakit tempat saya bekerja untuk membentuk small group,dimana kami bisa bertumbuh bersama. Dan sampai saat ini pun kami rutin bertemu, saling menguatkan dan mendukung. Sungguh merupakan suatu pengalaman rohani yang bermakna ketika saya mengikuti KmdNA. Berlimpah berkat yang saya dapatkan. Dan tentu saja, saya rindu ikut kembali KMdNA selanjutnya. 21


Kesaksian

SEKAPUR SIRIH DARI WISMA KINASIH Oleh: dr.Deddi Ekaputra Rangan

S

ewaktu dihubungi pihak Perkantas untuk menuliskan sesuatu sebagai kesaksian selama Kamp Medis Alumni IX pada tanggal 5 – 8 Juli 2012 di Wisma Kinasih Caringin, sebetulnya saya tidak punya gambaran apa yang bisa saya bagikan di sini. Ditambah lagi dengan ketrampilan menulis (apalagi dengan narasi yang panjang) yang mungkin sudah mengalami degenerasi, karena tidak pernah dilatih lagi. Namun, karena dikejar tenggat waktu – apalagi sudah mengiyakan, maka saya coba untuk berbagi pengalaman selama Kamp Medis Alumni IX. Mungkin sebetulnya saya bukan orang yang tepat untuk bisa berbagi pengalaman tentang suatu kegiatan di sini, mengingat saya baru bisa bergabung di acara tersebut di dua hari terakhir ( 7 dan 8 Juli 2012 ), akibat kesibukan yang tidak bisa saya kompromikan. Sibuk, itu adalah kata keramat yang mungkin bisa menggambarkan profesi seorang dokter. Bagaimana tidak, tugasnya yang mulia untuk menyehatkan kehidupan bangsa (secara jasmani dan rohani) bukanlah perkara yang enteng. Bahkan seringkali menyangkut hidup dan matinya seorang manusia. Saya sangat terkesan kepada para dokter peserta Kamp Medis Alumni IX, yang di tengah ke-SIBUK-annya masih bisa meluangkan waktu berkumpul mendengarkan berbagai kuliah, ceramah, dan sharing dari para pakar di bidangnya. Apakah itu karena “panggilan hati”? Wallahualam. Tapi katanya ada satu ruang di dalam hati manusia yang tidak bisa diisi oleh apa pun dan siapa pun, kecuali oleh TUHAN. Mungkin itu yang bisa menjelaskan istilah “panggilan hati”. Menarik juga melihat tema Kamp Medis Alumni IX: Quo Vadis, Doctor ?, dan sub tema: Menajamkan Panggilan Profesi, Totalitas Bekerja, dan Kepedulian Berbangsa. Saya rasa itu adalah tantangan dan harapan dari Panitia

22

kepada semua peserta, bahwa setelah paripurna mengikuti Kamp Medis ini, para dokter kembali menjadi fokus pada panggilan profesinya, menunjukkan totalitas bekerja, dan semakin peduli pada masalah bangsa terutama di bidang kesehatan- suatu harapan yang mulia di tengah-tengah arus globalisasi modern, diiringi dengan hedonisme dan sekularisme sebagai dayang-dayangnya. Di tengah tuntutan ekonomi yang tidak semakin ringan di satu sisi, apalagi seorang dokter sudah terlanjur dicap sebagai golongan berpendidikan tinggi dan berpendapatan besar – tak pelak bisa membuat seorang dokter frustasi apabila sampai suatu masa ternyata dia belum bisa berada di level kepintaran dan kemakmuran yang diharapkan. Tidak menjadi seorang dokter spesialis dan tidak berkantong tebal seakan-akan menjadi aib pada profesi seorang dokter. Di sisi lain, peraturan negara yang secara langsung terkait periuk nasi seorang dokter juga tidak semakin mudah. Multidimensi dan tidak mudah memang bila mengutak- atik perihal ketiga hal yang menjadi sub tema : Menajamkan Panggilan Profesi, Totalitas Bekerja, dan Kepedulian Berbangsa. Berhasilkah Kamp Medis Alumni IX menantang saya untuk menjadi manusia unggul? Saya rasa jawabannya tidak akan bisa didapatkan satu atau dua bulan bahkan satu tahun setelah Kamp Medis ini. Saya mempunyai empat orang tokoh dunia yang saya kagumi (yang tentunya tidak dapat dibandingkan dengan Yesus Kristus sebagai manusia) adalah Paus Yohanes Paulus II (almarhum), Sri Mulyani Indrawati, Bunda Theresa (almarhumah), dan KH Abdurrahman Wahid (almarhum). Terlepas dari mereka sebagai manusia yang tentu punya kelemahan, saya melihat konteks yang sesuai tentang bagaimana proses mereka belajar terus menerus untuk mencapai tujuan hidup demi membuat suatu perubahan yang signifikan dan SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Kesaksian berpengaruh dalam suatu masyarakat, dan itu membentuk mereka menjadi manusia istimewa. Banyak materi yang luar biasa baik yang telah dipaparkan di dalam Kamp Medis ini, tinggal bagaimana saya bisa mengejawantahkannya di dalam kehidupan sehari-hari, dan itu adalah proses belajar. Belajar selalu mempunyai elemen benar dan salah. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada murid, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan murid terhadap stimulus yang diberikan oleh guru. Sebagai seorang pengikut Kristus, Sang Guru Agung adalah Yesus Kristus. Dan karena saya hidup di dalam stimulus dunia, saya juga bisa belajar dari tokoh-tokoh dunia yang saya kagumi. Pada akhirnya, segala jenis Kamp, retreat, atau lokakarya merupakan sarana pembelajaran yang mempunyai tujuan perubahan paradigma dan perilaku, dan tidak terbatas hanya sekedar penambahan pengetahuan saja. Menurut pakar, perubahan perilaku tersebut bersifat relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula – sangat identik dengan proses pertobatan. Apakah saya sanggup melakukannya? Sekali lagi, tiga hal seperti penajaman panggilan profesi (sebagai dokter), totalitas bekerja, dan kepedulian berbangsa adalah parameter-parameter luhur dan mulia, dan tidak ada satupun hukum positif yang bertentangan dengan hal-hal tersebut. Sebagai manusia sekuler mungkin saya akan mempunyai banyak alasan untuk menyelingkuhi ketiga hal mulia tersebut, namun sebagai manusia pilihan Allah, saya percaya bahwa TUHAN yang sudah memperkenankan saya menjadi seorang dokter akan memperlengkapi saya dengan kemampuan untuk tujuan mulia itu – dengan cara apa pun dan dimana pun. Wisma Kinasih yang hijau dan sejuk menjadi saksi bahwa di saat ibadah Minggu pagi di hari terakhir, Ev.Tumbur Tobing menegaskan pentingnya menjaga komitmen. Perubahan perilaku yang permanen sejatinya mempunyai Komitmen Terhadap Panggilan

ruh yang bernama komitmen. Saya ingin menutup tulisan ini dengan puisi tentang komitmen – ditulis oleh Isabella Kirei, yang sangat baik untuk kita renungkan : KOMITMEN Jika komitmen sudah di tetapkan, maka tak ada lagi alasan untuk lupa tak ada lagi alasan untuk menunda tak ada lagi alasan untuk bermalas-malas Jika komitmen sudah di tetapkan, maka pilihan selanjutnya hanya menjalankannya dengan baik tanpa keluh kesah Jika komitmen sudah di tetapkan, maka yang mencatat, membaca, mendengar, mengetahui komitmen tersebut bukan hanya diri, atau teman seperjuangan, atau organisasi dan kepanitiaan terpilih, tapi juga Allah. Allah Maha Mengetahui, jika komitmen sudah di tetapkan, tidakkah kau takut Allah akan menanyakan pertanggung jawabanmu nanti, di hari saat bukan lisan yang berucap di hari, saat pilihannya hanya dua, SurgaNya, atau NerakaNya. " Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji- pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak- Mu semuanya itu ada dan diciptakan. " (Wahyu 4:11) Dr. Deddi Ekaputra Rangan, CHt Alumni Fakultas Kedokteran Univesitas Sam Ratulangi Health Section Senior Supervisor HRD Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd Wayang Windu Geothermal Power Plant Pangalengan - West Java

23


Kesaksian

TERJAWAB Ns. Ice Hendriani S. S.Kep.

S

emula, saya memilih untuk tidak ikut Kamp, karena ada beberapa pertimbangan. Saya berpikir, saya tidak akan menemukan temanteman perawat di Kamp ini, dan tidak ada bahan yang berhubungan dengan profesi saya sebagai perawat. Pernah, tahun 2010, saat Kamp Alumni Medis di Semarang, saya ikut dan saya terberkati dengan banyak hal. Waktu itu, saya masih merasakan ada sesuatu yang kurang, karena saya tidak bisa beribadah dengan teman-teman dari profesi saya. Beberapa waktu sebelum pelaksanaan Kamp, dr.Maria mensharingkan, bahwa dalam Kamp kali ini, ada kegiatan khusus untuk Perawat. Pada kegiatan ini akan ada pembicara dari dalam dan luar negri yang menggeluti profesi Keperawatan. Nah, karena dorongan dari dr. Maria, saya mengikuti Kamp ini, saya merindukan persekutuan dengan teman-teman saya perawat dan merindukan bisa belajar dari senior-senior saya yang sudah menggeluti profesi ini dengan segala tantangan yang ada. Pada akhirnya saya sangat bersyukur bisa ikut Kamp ini karena di bukakan banyak hal, dan kerinduan saya agar persekutuan perawat

bisa dibina terjawab melalui Kamp ini. Saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki kerinduan yang sama, karena kita menyadari kita adalah profesi yang dekat dengan pasien dan memiliki jumlah yang sangat banyak. Jika banyak perawat yang mencintai Tuhan, dan di bina dengan baik, maka kita bisa memberikan pelayanan yang baik bagi pasien-pasien kita, sehingga kita bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menyatakan kasih dan kemurahan Tuhan bagi setiap orang/setiap pasien yang kita rawat. Terus berdoa agar persekutan alumni perawat yang baru di rintis bisa tetap berjalan dan semakin banyak perawat-perawat yang bergabung. Semakin banyak perawat yang berintegritas, profesional, dan bermisi. Dan pada akhirnya biarlah semua kembali untuk Kemuliaan Allah. Ns. Ice Hendriani Simajuntak, S.Kep Alumni Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara, 2000 Perawat di Siloam Hospital Lippo Village Tangerang

ALLAH YANG MEMANGGIL KITA dr. Yeny Tanoyo

S

aya sangat bersyukur mendapat kesempatan mengikuti Kamp Medis Nasional Alumni IX, 58 Juli 2012. Selama 4 hari Tuhan banyak berbicara kepada saya. Saya diingatkan untuk bersyukur memiliki Allah sebagai Gembala yang baik, yang mengasihi dan memelihara hidup saya. Namun seringkali saya tidak 24

mendengar suara-Nya dan lebih memilih berjalan mengikuti kehendak saya sendiri. Saya juga diingatkan tentang panggilan Allah dalam hidup saya. Saya dipanggil terutama untuk bersekutu dengan Allah. Selanjutnya, saya dipanggil untuk menjadi dan melakukan apa yang Allah inginkan. Mengerti panggilan hidup penting agar saya dapat hidup SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Kesaksian optimal, bermakna, menjadi berkat, berkenan, dan memuliakan Tuhan. Eksposisi utama dalam kamp ini adalah mengenai Musa. Saya belajar banyak dari kehidupan Musa. Seringkali saya berpikir ingin segera mengerjakan ini dan itu untuk melayani Tuhan. Ketika ternyata hal-hal tersebut tidak terjadi seperti apa yang saya pikirkan, saya merasa gagal dan kecewa.Banyak orang cenderung pergi untuk melayani Tuhan dengan terburu-buru. Padahal masa persiapan sebelum melayani adalah hal yang penting. Yesus mempersiapkan pelayanannya selama 30 tahun, untuk melayani sekitar 3,5 tahun (perbandingannya hampir 10:1!).Masa hidup Musa dibagi menjadi 3: 40 tahun pertama sebagai Pangeran Mesir, 40 tahun kedua kehidupan sebagai gembala, dan 40 tahun berikutnya memimpin bangsa Israel ke tanah perjanjian. Masa persiapan pelayanan Musa dibanding masa pelayanannya adalah 2:1. Hal ini menyadarkan saya untuk mengucap syukur kepada Tuhan untuk setiap proses yang Ia rancangkan dalam hidup saya, yang semuanya untuk mempersiapkan saya mengerjakan pelayanan sesuai kehendakNya. Semua hal yang terjadi dalam hidup saya tidak sia-sia. Dalam menggumuli panggilan Tuhan, kita perlu mengerti bahwa yang paling penting bukanlah siapa kita, apa yang dapat kita lakukan, atau apa yang menjadi kekurangan dan kelemahan kita. Kita harus ingat bahwa yang utama adalah Allah yang memanggil kita. Kita mungkin bukan siapa-siapa. Seperti Musa, kita harus belajar bahwa Allah bisa memakai yang bukan siapa-siapa. Menjawab panggilan Allah tidak mudah. Kita harus rela meninggalkan kepunyaan kita. Komitmen Terhadap Panggilan

Suatu ketika Allah berencana memusnahkan seluruh umat Israel dan menyelamatkan Musa dan keluarganya. Tetapi Musa meminta Allah untuk membinasakan dirinya dan mengampuni bangsanya, Musa mengasihi bangsanya, seorang hamba yang tidak egois. Ini yang membuat pelayanannya menjadi sangat efektif. Hal ini sulit diterapkan dalam profesi kita sebagai dokter. Sebagai dokter kita dididik dan dilatih untuk menyembuhkan. Sehingga ketika kita gagal, kita mulai kehilangan ketertarikan kita terhadap mereka. Kita tidak banyak dilatih untuk peduli (care).Perumpamaan orang Samaria yang baik dalam Lukas 10 memberi kita pelajaran yang sangat berharga, betapa orang Samaria itu tidak hanya menyembuhkan, tapi juga mempedulikan (not just curing –requires knowledge and skill, but caring –requires love). Saya belajar untuk memiliki hati yang mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh dan juga mengasihi pasien dan orangorang yang Tuhan percayakan untuk saya layani. Tentunya untuk itu, perlu anugerah Allah. Karena itu saya harus menjaga keintiman dengan Tuhan tiap-tiap hari. Terima kasih untuk Panitia dan semua pihak yang sudah bekerja keras memberi yang terbaik dalam Kamp Medis Nasional Alumni IX. Semoga kita bisa terus berjuang bersama untuk menjadi tenaga medis Kristen yang mengerti panggilan kita dan mengerjakannya dengan taat dan setia untuk membawa terang Kristus bagi dunia. Tuhan memberkati! dr.Yeny Tanoyo Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2004

25


Info

“GAK OMPONG LAGI…!” Perancah polymer mengendalikan pertumbuhan ‘stem cells’ ke dalam ukuran-ukuran dan bentuk-bentuk tertentu.

M

ungkin sulit untuk mengingat bagaimana rasanya kehilangan gigi pada waktu masih kecil, tetapi banyak orang dewasa memiliki kenangan yang kurang menyenangkan saat gigi-gigi mereka mulai rontok dan harus memikirkan soal gigi palsu atau gigi implant. Selama bertahuntahun para peneliti menyelidiki ‘stem cells’ dalam upaya menumbuhkan gigi yang dibuat dari sel-sel orang itu sendiri. Baru-baru ini seorang Profesor bidang Endodontik, Dr. Peter Murray, dan koleganya dari College of Dental Medicine di Nova Southeastern University (NSU) mengembangkan metodemetode untuk mengendalikan pertumbuhan ‘stem cell’ dewasa terhadap pusat jaringan gigi (generating dental tissue) dan gigi pengganti yang ‘riil’ (benar). Pendekatan para peneliti NSU ini adalah untuk mengekstrak ‘stem cells’ dari jaringan mulut, sebagaimana yang terdapat dalam gigi itu sendiri, atau dari sumsum tulang. Setelah diperoleh, sel-sel tersebut ditanam/ dipasang pada sebuah perancah (scaffold) polymer dalam bentuk yang sesuai dengan gigi yang diinginkan. Polymer yang dipergunakan adalah bahan yang sama dengan yang digunakan dalam jahitan-jahitan bioreabsorbable sehingga pada akhirnya perancah itu menjadi 26

larut. Gigi geligi bisa ditumbuhkan secara terpisah baru kemudian dimasukkan ke dalam mulut pasien atau ‘stem cells’ bisa ditumbuhkan di dalam mulut hingga mencapai ukuran gigi sepenuhnya dalam beberapa bulan. Sejauh ini gigi telah ditumbuhkan lagi pada tikus dan monyet dan percobaan klinis pada manusia sedang dipersiapkan, namun demikian apakah teknologi bisa menumbuhkan gigi yang dipelihara oleh darah dan memiliki sensasi penuh, masih perlu dilihat lagi. Gigi memberikan suatu tantangan tersendiri bagi para peneliti karea ‘stem cell’ harus distimulasi untuk menumbuhkan keseimbangan yang benar akan jaringan keras, dentin, dan enamel sementara itu di waktu yang sama juga memproduksi ukuran dan bentuk yang betul. Sebagaimana yang dijelaskan Dr. Murray mengenai hal tersebut, sesungguhnya manusia sudah memiliki dua set gigi, gigi bayi (susu)

SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Info dan gigi dewasa sepanjang kehidupan mereka sehingga “apa yang kami usahakan ini hanyalah menyalin (meng-copy) yang aslinya dan memberikan seseorang itu pilihan ketiga untuk menumbuhkan kembali gigi mereka”. Hal ini tidak saja hanya penting untuk menggantikan gigi yang rontok, tetapi bisa juga menjadi suatu tindakan (treatment) standar pada saat dibutuhkan perawatan ortodontis yang ekstrim. Sampai saat ini para peneliti NSU sudah menerima bantuan dana sekitar $1,7 juta untuk penelitian ‘dental stem cell’. Dr. Murray percaya bahwa jika mereka bisa mendemonstrasikan kendali atas penumbuhan gigi kembali dan membuktikan bahwa teknologi itu maka gigi geligi ini akan menjadi hal pertama mengenai adopsi yang tersebar ke seluruh Amerika Serikat. Dia juga melaporkan bahwa hal ini sangat menarik perhatian publik dan bahkan di kalangan para dokter gigi, yang dibuktikan dengan berhasilnya penjualan presentasinya mengenai “Regenerative Endodontic Procedures” barubaru ini dalam konferensi Dental Association di Las Vegas Sebagaimana perkembangan dalam penelitian ‘stem cell’ embrionik yang meluncurkan bank tali pusar(umbilical cord banks), janji yang dipegang terapi ‘stem cell’ dental menuntun ke bank gigi, seperti BioEden, StemSave, dan Store-A-Tooth (misalnya StemSave harganya $ 2,430 untuk menjaga gigi seorang anak selama 20 tahun). Terapi-terapi stem cell digunakan secara aktif untuk memperbaiki kerusakan tulang, facial bones dan bahkan organ-organ seperti jantung, namun demikian ada pihak yang skeptic terus mengejek penemuan potensial stem cell ini. Komitmen Terhadap Panggilan

Selanjutnya perkembangan dari penelitian ini sering digelayuti awan politis yang mengelilingi penelitian ‘stem cell’ embrionik. Tetapi satu terapi yang akan mendiamkan para kaum skeptic ini adalah regenerasi gigi. Bidang statistic tooth loss sedikit mengejutkan: 7 dari 10 orang dewasa usia 3544 tahun telah kehilangan setidaknya satu gigi, dan seperempat dari mereka yang berusia 65 tahun atau lebih (atau sekitar 20 juta) kehilangan semua gigi permanen mereka. Tambahan efek samping dari pengobatan bisa mempengaruhi kesehatan mulut, seperti perubahan sifat dari air liur yang menolong menahan pertumbuhan bakteri. Dan pertambahan gigi yg hilang membawa pada kebiasaan makan yang buruk, bahkan di kalangan para dokter gigi, menurut penelitian terakhir, yang membawa kepada efek kesehatan sekunder. Ditambah lagi dengan makanan dengan gula tinggi yang berkonribusi bagi epidemic obesitas dan menambah kasuskasus penyakit periodontal karena pengabaian, dan kita bisa melihat bahwa pasar untuk penggantian gigi bertumbuh secara luar biasa dan tanpa bisa diduga. Memiliki satu set penuh gigi-gigi fungsional menjadi semakin penting ketika populasi/penduduk dewasa berusaha untuk memelihara gaya hidup yang aktif. Dan pertumbuhan media social membawa wajah orangorang diplester di facebook, twitter, dan you tube. Oleh karena itu bagaimana penampilan gigi anda menkjadi lebi penting dari sebelumnya, terutama dengan semakin banyak orang-orang yang membawa kamera27


Info kamera berkualitas tinggi di perangkat mobile beberapa bulan. Perancah sudah berhasil mereka (Hp, Ipad,dll). dipergunakan untuk menumbuhkan gigi yang Para dokter gigi berada di barisan depan benar secara anatomis dalm 9 minggu oleh dari pertambahan permintaan akan gigi yang para peneliti di Colombia University Medical sempurna. Sebuah survey pada tahun 2009 Center. yang dilakukan oleh Walaupun janji NSU menunjukkan terapi-terapi stem cell bahwa 96% dari para tinggal direalisasikan, dokter gigi yang Pada tikus, stem cell ada sedikit keraguan disur vey berharap para peneliti di bertumbuh di dalam bahwa regenerasi stem cell akan NSU dan di seluruh sebuah gigi (warna dunia mendominasi bidang akan gigi dan mulut (denmelanjutkan upayahijau) yang memiliki tistry) di masa depan. upaya mereka untuk sifat-sifat yang sama menggunakan stem cell Sebagai tambahan, lebih dari setengahnya untuk obat regenerative dengan gigi alami. memprediksikan bahwa (regenerative medicine). teknologinya bakal tersedia di dalam 10 tahun Dr. Murray tetap optimistis: “Pada waktu mendatang. terapi-terapi stem cell menjadi rutin, maka itu Pada tikus, stem cell bertumbuh di dalam akan menjadi historis dan suatu masa yang sebuah gigi (warna hijau) yang memiliki sifat- paling fantastis di dalam praktek seorang sifat yang sama dengan gigi alami. dokter gigi� Penelitian penggunaan stem cell untuk Sumber: menumbuhkan kembali gigi baru telah [Media: Sun Sentinel] berlangsung sekitar kurang lebih 10 tahun. [Sources: ABC, BBC, DentalAegis, Ivanhoe, Pada tahun 2002 Prof. Paul Sharpe pada DenPopSci, Sun Sentinel] tal Institute dari King College di Inggiris http://singularityhub.com/2012/05/10/ menerima dana bantuan Wellcome Trust toothless-no-more-researchers-using-stem-cells-tosebesar $ 500.000 untuk mewujudkan grow-new-teeth/ penumbuhan gigi kembali dengan stem cell *Diterjemahkan oleh Ir. Nora D. Jacob. pada tikus ke dalam gigi regenerative untuk manusia. Sebuah perusahaan dibentuk,namanya Odontis, dan di tahun 2010 sudah siap untuk meluncurkan produk teknologi Bio Tooth, tetapi sejak tahun lalu menderita kerugian yang sama setelah radar dan situs (website) mereka ditutup tahun lalu ketika dialihkan kepada Geron Corporation yang meninggalkan penelitian stem cell. Para peneliti dari Universitas Tokyo pada tahun 2009 dilaporkan berhasil dengan implantasi stem cell kuman-kuman gigi pada tikus yang bertumbuh menjadi gigi fungsional dalam

“

28

SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Info

OBATKU DI DAPUR Dr. Prapti Utami

H

ampir di seluruh Nusantara memiliki kearifan lokal dalam bidang pengobatan herbal yang diwariskan secara turun temurun. Namun, sungguh ironis karena kebijakan pemerintah yang ada saat ini, justru memberikan kesempatan yang begitu luas bagi masuknya produk alamiah dari luar negeri, yang notabene bahan dasarnya dari Indonesia. Hal ini memberi kesan bahwa pengembangan tanaman obat di Indonesia oleh putra bangsa sendiri berjalan dengan sangat lambat. Pencanangan program saintifikasi jamu masih yang sebenarnya merupakan langkah yang sangat baik dari pemerintah belum disosialisasikan secara luas. Program ini bertujuan untuk memberi pemahaman yang benar tentang pengobatan herbal kepada para dokter yang tidak mendapatkan ilmu tanaman obat dengan cukup saat duduk di bangku kuliah. Melalui program ini diharapkan tenaga medis bisa melakukan praktek pengobatan dengan menggunakan tanaman obat secara legal melalui ijin yang telah disahkan oleh pemerintah. Sebenarnya tanpa disadari kearifan lokal dapat ditemui di tempat yang tidak jauh dari kita, yakni di dapur. Dengan memanfaatkan bumbu-bumbu dapur, kita bisa merasakan betapa Tuhan telah menyiapkan berbagai hal guna menjaga kesehatan kita melalui tanaman yang sederhana.Berikut beberapa jenis rempah dan tanaman sederhana rumah di rumah yang dapat digunakan sebagai obat dan bahan kecantikan: 1.

Jahe (Zingiber officinalle) Tanaman ini sangat tenar dan dekat dengan kita. Jahe bisa digunakan sebagai bahan minuman yang menyehatkan seperti STMJ, wedang ronde, serbat,dan lain-lain. Aroma wangi berasal dari minyak atsiri gingerol, zingiberena, resin dan zingiberol. Untuk menjaga kesehatan pencernaan, kita cukup mengambil jahe sebesar 1 jari, tidak usah dikupas, cukup dicuci air mengalir lalu dimemarkan, seduh dengan air panas 200cc dan jangan lupa ditambahkan dengan kunyit dan madu. Di Amerika Serikat, jahe sudah diteliti penggunannya sebagai antivomitus pada wanita yang hamil.

Komitmen Terhadap Panggilan

2.

Bawang merah (Allium cepa) Tanaman ini sering menjadi bagian dari campuran acar atau bumbu sate. Namun manfaatnya dapat diperluas menjadi bahan alternatif untuk mengatasi batuk yang membandel. Cara penggunaannya adalah ambil bawang merah 1 siung, ditumbuk kasar, seduh dengan 100 cc air panas, tutup gelas, jika sudah hangat disaring, tambahkan garam sedikit, minum waktu mau tidur. Sifat anti inflamasi dan mukolitik dari tanaman ini sangat menolong untuk melegakan tenggorokan. 3.

Bawang putih (Allium sativum) Nama tenarnya adalah garlic. Tanaman ini memiliki segudang manfaat yang telah 29


Info dikenal dengan baik, antara lain: meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi stres dan karena kandungan mineral yang cukup lengkap dan efek sejumlah zat aktif didalamnya, bawang putih dianggap dapat menurunkan kolesterol.Pada tahun 1858, Louis Pasteur melaporkan adanya aktifitas antibakteri pada tanaman ini dan selama Perang Dunia I dan II, bawang putih digunakan sebagai antiseptikuntuk mencegah gangren.Jauh sebelumnya, Bangsa Yunani memanfaatkan tanaman ini untuk menambah kekuatan atletatlet mereka saat mengikuti olimpiade. Penggunaan praktis tanaman ini dalam kehidupan sehari-hari adalah saat anak kita atau mungkin kita sendiri tertusuk benda kecil, seperti serutan kayu. Terkadang ekstraksi menggunakan pinset dapat menyelesaikan masalah, namun ada kalanya saat seorang anak yang takut berobat ke dokter atau kurang kooperatif, pilihan menggunakan bawang putih dapat diambil. Caranya : ambil bawang putih ambil sedikit, dan tempelkan di kulit yang luka, diselotip selama 12 sampai dengan 24 jam. Menurut pengalaman penulis, pada daerah yang terkena tidak atau sedikit dijumpai tandatanda peradangan dan benda kecil tersebut akan lebih mudah diekstraksi. Suatu cara yang terlihat old fashioned, namun telah banyak menolong anak-anak yang ketakutan. Lidah buaya (Aloe vera) Penulis lebih suka menyebutnya sebagai tanaman sejuta manfaat.Terdapat 200 spesies Aloe vera yang tumbuh di dunia ini dan kandungan air yang hampir mencapai 99% menjadikan

tanaman ini sebagai pilihan terbaik untuk menangani kasus-kasus luka bakar (terbatas pada derajat 1 dan 2 saja), misalnya luka bakar yang sering terjadi di dapur akibatterkena minyak goreng panas yang menempel di kulit. Ambillah lidah buaya, iris daunnya dan tempelkan lendir di luka bakar tersebut. Kandungan vitamin,mineral, enzim, asam amino dan beragam zat bermanfaat lain dalam tanaman ini memberik khasiat untuk mengembalikan fungsi sel. Itulah sebabnya lidah buaya menjadi bahan produk kosmetik.Salah satu senyawa utama tanaman ini yaitu Aloin memiliki khasiat antiseptik dan antibiotik. 5.

Daun salam (Syzygium polyanthum) Berkat aroma atsirinya yang khas membuat daun ini menjadi pilihan penyedap makanan. Kandungan tanninnya membuat daun ini bisa bermanfaat sebagai antidiare. Seringkali daun ini direbus untuk menurunkan kolesterol, membantu menurunkan asam urat bahkan membantu menurunkan hipertensi. Penggunaan 5 sampai 7 lembar yang direbus dalam 4 gelas air putihsampai menjadi 2 gelas dapat direkomendasikan untuk kasus-kasus hipertensi. Perlu diperhatikan bahwa penggunaan ini sangat bersifat individual. Penulis pernah menjumpai kasus dimana terjadi penurunan scara drastis dari tekanan darah dan kadar gula darah akibat meminum ramuan dengan takaran yang tidak jelas.

4.

30

dr.Prapti Utami Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro 1996 Menjadi Dokter Praktek Konsultasi Terapi Herbal sejak tahun 2000 Website: www.familyherbal.web.id atau www.kuramping.com Email: sekarutamitoga@yahoo.com

SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Info

“ENTREPRENEURSHIP” MASUKI DUNIA KEDOKTERAN

S

ejak tahun 2009, Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menyelenggarakan Blok XXIII, yakni Health Care Entrepreneurship (HC-E), sebagai blok pilihan (elektif) yang unik pada fase terakhir program studi sarjana kedokteran. Hal itu dilakukan dalam rangka pelaksanaan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Blok XXIII tersebut, akan diberikan selama lima minggu, dengan bobot 4 SKS. Tujuannya, agar sarjana kedokteran mampu beralih profesi menjadi pebisnis.

Kepada para calon dokter diberikan wawasan dan pemahaman tentang hakikat entrepreneurship yang berlandaskan kreativitas, inovasi, analisis risiko, dan terobosan-terobosan baru. Mereka juga perlu memahami peranti entrepreneurship agar dapat menunjang dan mengembangkan praktek dokter serta mampu memberikan kontribusi-kontribusinya kepada masyarakat secara lebih baik. “Entrepreneurship tidak selalu indentik dengan berdagang. Kewirausahaan dimaksudkan untuk memberikan pendidikan agar dokter tidak hanya sebagai pegawai, tetapi berani melakukan terobosan dan inovasi dalam memberikan pelayanan kesehatan,” ujar Komitmen Terhadap Panggilan

Koordinator blok Health care Entrepreneurship Universitas Atma Jaya, Lukas Kristanda. Tujuan Blok Entrepreneurship adalah mempersiapkan mahasiswa sebagai dokter yang mampu memperbesar kontribusi profesionalnya dalam rangka peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat, melalui pemahaman dan penerapan konsep dasar dan keterampilan kewirausahaan (entrepreneurship). Mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan diri menjadi pribadi tangguh dengan pola pikir kewirausahaan, mengembangkan dan menerapkan sikap dan keterampilan kewirausahaan, dan menguasai konsep dasar wirausaha, serta melakukan perencanaan yang berkaitan dengan perwujudan gagasan inovatif dalam proyek entrepreneurial. Mereka diharapkan dapat menyusun rencana wirausaha (entrepreneurial business plan, E-biz plan) serta mengelola faktor-faktor yang menunjang keberhasilan dan pertumbuhan usaha yang digelutinya. “Dokter adalah pekerjaan yang mandiri. Para dokter dapat membuka praktik dokternya sendiri. Oleh karena itu, perlu pendidikan para dokter menjadi wirausahawan dengan membuka klinik kesehatan dan kegiatan kesehatan lainnya sehingga membuka lapangan kerja,” tandas Lukas. Pendidikan kewirausahaan bagi para dokter diharapkan bisa memberikan alternatif pelayanan kesehatan bagi kemanusiaan. Sumber: www.suarapembaruan.com/*tnp

31


Info

PERANCIS BERENCANA HAPUS PR SEKOLAH

B

anyak cara yang digunakan seorang politisi untuk mengambil hati rakyatnya. Itulah yang dilakukan Presiden Perancis Francois Hollande. Bukan janji peningkatan ekonomi atau penambahan lapangan kerja yang diumbar Hollande untuk rakyatnya. Dia justru menjanjikan program pendidikan baru yang di dalamnya termasuk menghapus pekerjaan rumah. "Pekerjaan sekolah seharusnya dikerjakan di sekolah dan bukan di rumah. Penghapusan ini untuk menciptakan kesetaraan pendidikan karena banyak anak yang tak mendapat bantuan di rumahnya," kata Hollande menerangkan alasannya ingin menghapus pekerjaan rumah. Hollande juga menyarankan untuk mengembalikan lagi hari sekolah menjadi empat setengah hari. Kini sebagian besar sekolah di Perancis menerapkan empat hari sekolah. Selain itu, Hollande juga mengusulkan untuk

mereduksi jumlah siswa tidak naik kelas, meningkatkan kualitas guru, pendidikan anak usia dini di kawasan miskin, dan mencari jalan untuk mengurangi angka siswa yang membolos. Setelah terpilih dalam pemilihan presiden Mei lalu, Hollande yang berhaluan sosialis berjanji untuk menjadikan pendidikan fokus utama dalam masa jabatan lima tahunnya. Jika Perancis benar-benar menghapuskan pekerjaan rumah siswa sekolah, dipastikan banyak anak-anak di seluruh dunia yang iri kepada anak-anak Perancis. Apalagi anak-anak Indonesia. Sumber: www.kompas.com

MAHASISWA BERPACARAN

K

esibukan dan tuntutan untuk selalu berprestasi bisa membuat orang lupa bersosialisasi. Lebih parah lagi, lupa pacaran dan berkeluarga. Bagi Pemerintah Singapura ini membahayakan karena populasi terancam berkurang. Untuk itu, pemerintah mendukung program Ngee Ann Polytechnic – sekolah politeknik – untuk mengajari mahasiswa berpacaran dan membina relasi. Bahan yang diajarkan antara lain menganalisa lagu-lagu cinta yang menjadi kesukaan orang lain, cara-cara berkontak dengan seorang secara cepat atau lewat internet. “Guru saya mengatakan, jika seorang pria memandang lebih dari lima detik, itu artinya ia agak tertarik dan sekaligus merupakan kesempatan,” kata Isabel Seet [18] kepada Straits Times. Mata kuliahnya berjudul: “Memahami Hubungan:Cinta dan Seks” dengan pengajar dari Social Development Unit, lembaga pendorong perjodohan. Lembaga ini berdiri sejak Oktober 2007, dan mengajari orang cara memahami dasar-dasar hubungan antar-sesama manusia. Kasihan juga ya, untuk halhal yang naluriah saja, Singapura agak kerepotan. Mungkin benar, uang ternyata bukan segalanya. Apalagi uang asal Indonesia, yang ternyata memakmurkan Singapura. Hmm… Sumber: www.kompas.com

32

SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Untaian Firman Tuhan

FIND AND COMMIT TO YOUR CALLING Ir. Tadius Gunadi, M.C.S.

“Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibr. 11: 8)

A

pa yang dilakukan Abraham ini sangat mengutamakan panggilan Tuhan bagi masa terkenal sehingga ia di sebut sebagai depan hidupnya yaitu karena imannya kepada bapa orang beriman. Ia taat kepada Tuhan. Kok bisa ya? Berapa banyak orang panggilan Allah sekalipun belum mengetahui sekarang yang mengutamakan kehendak Tuhan bagi hidupnya (pemilihan karir dll.)? Mengapa dengan jelas. Bagi Abraham, orang beriman bukan iman Abraham berdampak demikian, kenapa sekedar label, tapi harus serius terhadap kebanyakan orang tidak seperti dia? Iman panggilan Tuhan itu. Ia tidak hidup seperti seperti apa yang Abraham miliki sehingga ia kebanyakan orang yang lebih menuruti bisa mengutamakan panggilan Allah bagi masa kehendak orang tua atau dirinya untuk depan hidupnya? Walau kita tidak tahu pasti, tapi dari ayat meneruskan usaha keluarga, menjadi kaya, tersohor, hidup enak dan terpandang. Tapi berikutnya kita bisa menemukan beberapa petunjuk kenapa ia Abraham memilih untuk memilih untuk taat hidup sesuai dengan panggilan atau kehendak Sekarang banyak or- kepada panggilan Allah. Salah satunya yaitu Tuhan. ang (termasuk orang karena ia percaya bahwa “kristen”) yang tidak kehendak Allah jauh Mengapa Abraham mengutamakan percaya bahwa kehendak lebih baik (tidak sedikit panggilan Tuhan? Allah lebih baik dari lebih baik) dari kehendak dirinya bahkan dari Mengapa ia tidak rencana dirinya atau kehendak orang tuanya. utamakan kehendak orkehendak orang tua Ia mungkin menyadari ang tuanya yang mungkin mengharapkan dia dan mereka. Maka mereka akan keterbatasan keluarganya tetap tinggal memilih untuk hidup pemikirannya dan Allah sebagai pencipta tentu di Ur Kasdim, mewarisi menurut kehendak dan memiliki rencana yang tanah dan usaha orang rencana diri atau orang lebih mulia dan bernilai tuanya? Kenapa ia kekal. Sekarang banyak memilih untuk lebih tua mereka. orang (termasuk orang menaati panggilan Allah untuk tinggalkan Ur Kasdim ke tempat yang “kristen”) yang tidak percaya bahwa kehendak dijanjikan Tuhan? Padahal Tuhan belum Allah lebih baik dari rencana dirinya atau memberitahu dia dimana dan seperti apa kehendak orang tua mereka. Maka mereka memilih untuk hidup menurut kehendak dan tanah yang dijanjikan itu. Alkitab hanya menulis bahwa “Karena rencana diri atau orang tua mereka. iman Abraham taat.” Jadi alasan ia lebih Seharusnya, jika beriman kepada Allah maka

Komitmen Terhadap Panggilan

33


Untaian Firman Tuhan kita percaya bahwa rencana Allah lebih baik daripada rencana kita. Selain itu, saya duga kebanyakan kita kurang mau memilih hidup sesuai kehendak atau panggilan Allah karena berpikir itu pilihan untuk hidup menderita, miskin, dan hina. Karena itu, kita memilih hidup sesuai dengan rencana diri atau orang tua kita yang mengutamakan kesuksesan secara profesi dan materi, serta kebahagiaan keluarga. Kita harus menguji: Apakah benar jika kita memilih hidup sesuai panggilan Tuhan maka berarti kita memilih hidup menderita, miskin, dan hina? Kalau kita lihat hidup Abraham, maka yang terjadi sebaliknya. Di awal mungkin hidupnya lebih miskin dan kurang terpandang, tapi makin tahun hidupnya makin kaya, makmur dan terpandang. Usaha peternakannya makin berkembang, sehingga ia tidak hanya memiliki ternak yang sangat banyak tapi juga pekerja yang cukup banyak. Di akhir hidupnya ia sudah hidup seperti seorang raja yang disegani dan dihormati banyak orang. Sebaliknya hidup yang tidak mengutamakan kehendak dan panggilan Tuhan di awal bisa kelihatan sangat enak dan makmur. Tapi dengan berjalannya waktu bisa menjadi tidak mempunyai apa-apa. Seperti yang kita lihat pada Lot, keponakan Abraham. Demikian juga orang masa kini yang memilih untuk mengutamakan kekayaan bisa kelihatan kaya tapi sebenarnya hidup dengan banyak hutang. Dan kita bisa lihat dokter-dokter yang menaati kehendak dan panggilan Allah di awal mungkin susah dan sederhana. Tapi dengan kerja yang baik maka pasiennya tambah banyak sehingga pemasukan uang atau hartanya juga 34

jadi tambah banyak. Belum lagi keturunannya yang diberkati Tuhan. Tetap taat sekalipun seperti tidak masuk akal Dalam menekuni panggilan Allah ternyata tidaklah mudah. Abraham bahkan alami berbagai situasi yang tidak masuk akal. Tapi ia tetap taat, kenapa? Mari kita lihat 3 pengalaman Abraham: 1. A b r a h a m dijanjikan tanah dimana keturunannya akan tinggal. Ternyata di tanah itu berkalikali alami kemarau yang panjang yang menyebabkan mereka harus mengungsi ke tempat bahkan negara lain. Namun positifnya tanah itu membuat dia mengharapkan tanah air yang lebih baik yaitu tanah air Sorgawi. Demikian juga kita, yang mencoba menaati panggilan Tuhan untuk melayani di RS tertentu atau RS misi di daerah pedalaman harus siap menghadapi berbagai kejadian yang membuat kita diawal bisa bertanya, apakah saya tidak salah memutuskan? Jangan-jangan panggilanTuhan bukan di tempat ini. Kok sulit sekali survive di tempat ini? Saran saya, jangan cepat-cepat menyimpulkan demikian. Sebab kemanapun anda dipanggil, maka anda akan alami hal seperti yang dialami Abraham. Hal ini untuk menyadarkan kita bahwa Tuhan sedang menyediakan tempat yang lebih baik ke depan. Sehebat apapun tempat anda, kita masih hidup di dunia yang fana. 2.

Ia dan isterinya, Sarai, juga dijanjikan akan mempunyai keturunan yang tidak tanggung-tanggung yaitu sebanyak bintang SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Untaian Firman Tuhan ia sudah gila? Kehilangan akal sehat? Tidak di langit atau pasir di pantai. Tapi, dengan bisa berpikir jernih lagi seperti para teroris lewatnya tahun seorang anakpun tidak yang telah dicuci otaknya? Sama sekali mereka miliki. Dimana janji Tuhan ya?. tidak. Sebab karena imannya, ia percaya Tapi dikatakan bahwa Abraham sekalipun bahwa Allah berkuasa membangkitkan sesekali ia mulai tidak sabar dan bahkan Ishak dari antara orang mati, dan setelah mungkin meragukan Allah tapi akhirnya itu ia akan memberi keturunan seperti tetap percaya kepada Allah, bahwa Ia setia yang dijanjikan Tuhan. Saya jadi terkesima menepati janji-Nya. Akibatnya sekalipun dengan iman Abraham yang memiliki mereka sudah sangat tua dan secara medis, kecerdasan yang luar biasa itu. Kenapa? mustahil mempunyai anak, akhirnya, apa Sebab pada waktu itu belum ada kejadian yang dijanjikan Tuhan itu terjadi. Mereka dimana orang yang mati memiliki anak dimasa tua dibangkitkan. Namun mereka. Saya kira kitapun Abraham bisa berpikir begitu sering akan alami janji... mari kita sabar karena ia sudah alami hal-hal janji Tuhan yang sepertinya tidak digenapi m e n a n t i k a n yang mustahil seperti mereka di awal bahkan sampai Tuhan, bahwa Ia bisa punya anak dimasa tua mereka. Saya kira hal itu kita sudah tua. Namun membuat segala membuat ia percaya bahwa kita jangan melangkahi sesuatu indah tidak ada yang mustahil bagi tindakan Allah karena ketidak sabaran kita, pada waktu-Nya Allah! sebab hal itu sering akan Demikian juga sebagai menimbulkan dampak negatif yang tidak kecil. Sebaliknya mari dokter yang mau hidup menaati panggilan dan kita sabar menantikan Tuhan, bahwa Ia kehendak Tuhan, harus memiliki iman bahwa membuat segala sesuatu indah pada tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, sehingga waktu-Nya (He makes all thing beautiful in kita bisa tetap taat sekalipun harus menghadapi hal-hal yang kelihatannya tidak masuk diakal His time). di masa kini maupun yang akan datang. Perintah Allah agar Abraham mempersembahkan Ishak, anaknya, juga Ir. Tadius Gunadi, M.C.S. terlihat sangat tidak masuk diakal. Allah Alumni Fakultas Tehnik Elektro UKI Jakarta sepertinya bercanda atau tidak serius. Master of Christian Studies ( MCS) Regent Mana mungkin Ishak harus College, Vancour Canada dipersembahkan, bukankah janji Sebagai Staf Senior Perkantas Nasional dan keturunan Abraham yang akan sangat Pembicara , Mentor bagi banyak seperti bintang di langit itu akan mereka peroleh melalui Ishak bukan pelayanan Mahasiswa dan Alumni. Ismael? Bukankah perintah ini terlihat kontradiktif dengan kata-kata Allah sebelumnya? Mungkin jika Abraham berontak dan tidak mau menaati perintah ini akan mudah kita maklumi. Namun kita tercengang melihat bagaimana Abraham menaati perintah ini. Apakah

“

3.

Komitmen Terhadap Panggilan

35


Dari Suku ke Suku Suku Pancana:

MENJALANI MASA PERCOBAAN

O

rang Pancana, dikenal juga sebagai orang Kapontori. Tercatat, populasi mereka ada sekitar 15.000 jiwa. Mereka tinggal di sebelah selatan pegunungan Mekonga yang terletak di propinsi Sulawesi Tenggara. Kalau mencermati bahasa mereka, menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara orang-orang Pancana, orang Cia-Cia dan orang Muna. Kebudayaan orang Pancana tampaknya dipengaruhi oleh tetangga-tetangga mereka – orang Muna, Bingkokan, dan Maronene. Mata pencaharian utama orang Pancana adalah bertani, dengan hasil utamanya jagung. Selain itu, mereka juga menanam ubi, tebu, sayur, tembakau, dan kopi. Orang Pancana mengerjakan lahan berpindah, terutama karena mereka tidak bisa memelihara kesuburan tanah tempat mereka bercocok tanam akibat metode pertanian yang tidak sesuai. Tanah pertanian baru dibuka dengan menebang pohon-pohon dan membakar ranting-rantingnya. Rumah-rumah mereka terpencar di tanahtanah yang telah disiapkan untuk pertanian. Rumah-rumah dibangun di atas panggung setinggi 1,5-2 meter. Orang Pancana membuat rumah dengan atap tinggi dari daun-daunan. Kebanyakan kelompok-kelompok masyarakat di Sulawesi mengenal perbedaan tingkatan kelas sosial. Pengelompokkan itu antara lain: bangsawan, kelas menengah, dan orang biasa. Setiap tingkatan kelas memiliki adat istiadat sendiri. Hak istimewa memiliki tanah diputuskan oleh dewan penasihat desa, yang

memiliki otoritas tak bersyarat atas seluruh tanah. Garis keturunan orang Pancana adalah patrilineal. Dalam pernikahan orang Pancana, mempelai pria membeli mempelai wanita. Harga itu ditentukan status sosial mempelai pria di dalam masyarakat. Semakin tinggi statusnya, semakin tinggi pula ia harus membayar. Sebelum pernikahan, calon suami harus menjalani masa percobaan oleh keluarga calon isteri. Persyaratan ini menjadi penyebab utama banyaknya kawin lari. Poligami adalah hal yang biasa di kalangan bangsawan, tetapi jarang lagi dipraktekkan. Hampir semua orang Pancana menganut Islam Sunni. Namun demikian, kepercayaan tradisional dan animisme memiliki perang penting dalam kehidupan mereka. Seringkali terlihat, bagaimana mereka menggunakan dukun untuk berbagai hal, seperti menyembuhkan penyakit, mengutuki musuh dan minta keberuntungan. Mengabaikan pasien Orang Pancana atau orang Kapontori itu sering mengeluh mengenai pelayanan pegawai puskesmas yang selalu mengabaikan pasiennya. Di kecamatan Kapontori, meskipun pegawai puskesmasnya ada 16 orang termasuk petugas pustu, namun pegawai yang lain tidak dapat melayani pasien karena bukan profesinya/ sebagai pegawai umum. Apalagi kalau masyarakat memanggil perawat yang saat itu bertugas atau piket datang periksa ke rumahnya, maka siapa yang ada di puskesmas. Kepala Pusekesmas sendiri mengakui kalau memang pegawainya kurang disiplin dengan waktu dan terlambat melayani pasien. Dibutuhkan, lebih banyak sarana medis, klinikklinik dan tenaga medis untuk memperbaiki layanan kesehatan masyarakat. Doakan agar suku Pancana mengenal Allah yang benar di dalam Kristus. Amin. Sumber: Profil Suku-Suku Yang Terabaikan-PJRN/*tnp

36

SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Teropong

POKOK DOA PELAYANAN MEDIS Pelayanan Medis Nasinal ( PMdN ) Perkantas • Bersyukur untuk pelaksanaan Kamp Medis Nasional Alumni ( KMdNA IX ) 2012 dengan Tema Find and Commit to your Calling yang telah terlaksana dengan baik pada tanggal 5 – 8 Juli 2012 perserta dapat diingatkan kembali, komit terhadap panggilannya dan setia pada panggilannya sebagai dokter , dokter gigi dan perawat dan juga peserta diberkati lewat kamp ini. • Bersyukur untuk pelaksanaan Konsultasi Nasional Pelayanan Medis pada tanggal 30 – 31 Juli 2012 yang diikuti oleh staf Medis dari setiap daerah dan juga orang kunci pelayanan di setiap kampus , telah berlangsung dengan baik , PMdN mendapatkan gambaran tentang kondisi pelayanan medis di kampus kampus dan kota kota seluruh Indonesia . • Peserta dapat belajar dari keberhasilan dan kegagalan masing masing PMK , siap menghadapi perubahan , mengetahui bagaimana seharusnya mengelola PMK • Bersyukur untuk pelaksanaan Kamp Medis Nasional Mahasiswa ( KMdN) Mahasiswa XVIII • dengan tema Christian Doctors : Devoted to doing what is good. Yang dilaksanakan pada tanggal 31 Juli – 05 Agustus 2012 telah berlansung dengan baik.Peserta di perlengkapi sebagai calon dokter & dokter gigi juga perawat untuk menjadi tenaga medis yang mengabdikan hidupnya untuk berbuat baik. • Bersyukur untuk buku Mission Possible yang telah terbit dan launching pada saat Kamp Medis Alumni , buku ini adalah satu program dari Divisi Misi PMdN yang selama 2 tahun tertunda naik cetak dan akhirnya boleh terbit pada tahun ini , Komitmen Terhadap Panggilan

berdoa kiranya buku ini dapat menginspirasi setiap pembaca bagaimana bermisi melalui dunia medis. Bersyukur untuk Follow Up Magang MMC -7 yang sudah terlaksana dengan baik, dr.Shelly Franciska tgl 12 Mei – 12 Juni 2012 di Puskesmas Christopherus Tumbang Marikoi Kalimantan Tengah , dan kemudian tgl 16 Juni – 16 Juli di RSUB Serukam Kalimantan Barat dr. Herdaru Pramudito tgl 16 Juni – 19 Agustus di Pengembangan Kesehatan Masyarakat Desa ( PKMD ) Bethesda Serukam. Mereka di pertajam dengan Misi , dan menikmati pengenalan akan Allah , belajar tentang kasih, belas kasihan, kemurahan dan kerendahan hati , bersukacita dan terus berjalan bersama Tuhan Berdoa untuk Pelayanan Misi diklinik Hohidiai desa Kusuri Halmahera oleh dr. Kristo Kurniawan kiranya pelayanaan disana sebagai dokter dapat membantu masyarakat dan juga menjadi berkat disana , ini adalah satu Program Divisi Misi PMdN yaitu Young Mission Doctor doakan kiranya setelah dr. Kristo ada yang terbeban lagi untuk mengikuti jejak dr. Kristo selama setahun lebih di Klinik Hohidiai menjadi Young Mission Doctor. Berdoa untuk pelaksanaan MMC – 8 yang akan diadakan pada tanggal 17 Februari 2013 – 28 Februari 2013 , berdoa untuk perekrutan calon calon MMC - 8 , kiranya Tuhan mempersiapkan setiap hati yang terbeban mengikuti MMC – 8 ini , dan juga berdoa untuk setiap persiapan Pembicara & Mentor baik dari luar negeri maupun dalan negeri . 37


Teropong •

Berdoa untuk Pra Raker PMdN tanggal 14 Oktober 2012 kiranya setiap program yang kan di evaluasi dilaksanakan lagi dengan lebih baik dari masing masing Divisi. Berdoa untuk Raker PMdN yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 dan 11 Nopember 2012 kiranya setiap Pengurus PMdN dapat hadir sehingga program 2013 dari setiap Divisi boleh juga dilaksanakan dengan baik .

Pokok Doa PMKK Undip Semarang •

• 38

Bersyukur untuk rapat kerja PMKK yang sudah dilaksanakan tanggal 5-6 September 2012. Berdoa untuk setiap program yang sudah direncanakan oleh BPH dan setiap departemen agar dapat dilaksanakan dengan baik dan menolong tiap pribadi keluarga PMKK untuk terus bertumbuh di dalam Tuhan dan dipersiapkan serta diperlengkapi untuk menjadi dokter yang memiliki hati untuk Tuhan. Bersyukur untuk training CPKTB (Calon Pemimpin KTB) yang diadakan tanggal 89 September 2012 di Impact Center Boja. Berdoa untuk Ine, Filia, Lala, Angel, Susan, Ika, Indri, Tita, Elsa, Dina, Alex, Alan dan Ryan yang memberi diri untuk menjadi gembala bagi 32 mahasiswa baru angkatan 2012. Berdoa agar Tuhan sendiri yang memberikan kekuatan dan pertolongan dalam membimbing adikadik dalam kelompok KTB. Berdoa untuk rangkaian acara HUT PMKK ke-32, malam amal + gathering alumni tanggal 12 oktober 2012, bakti sosial (Pengobatan masal, penyuluhan dan pasar murah) di desa Tegowanu – Mranggen, Jawa tengah tanggal 4 November 2012. Sudah kurang lebih 2 tahun ini PMKK

tidak lagi memiliki fasilitas ruang sekretariat/basecamp di kampus. Berdoa bagi kerinduan PMKK untuk memiliki basecamp “KEMAH LUKAS”, supaya ada satu tempat untuk berkoordinasi, menata inventaris pelayanan dan berharap dengan demikian PMKK dapat melayani dengan lebih maksimal. Berdoa untuk study setiap keluarga PMKK, terkhusus pengurus dan para pemimpin KTB. Berdoa untuk kesungguhan hati dalam mengikuti setiap proses pembelajaran dan berdoa agar ditengah padatnya jadwal perkuliahan dan tugas yang harus dikerjakan, dapat membagi waktu, hati dan tenaga untuk mengerjakan pelayanan di PMKK. Bersyukur untuk terbitnya PMKK Newsletter edisi ke-2, kerinduan PMKK untuk berbagi dengan alumni di seluruh Indonesia dan bersama-sama mengerjakan pelayanan ini, mempersiapkan dokter kristen yang hidup bagi kemuliaan Tuhan. Pokok Doa Pelayanan Medis Di Malang

Perintisan PMK medis di Stikes Maharani malang, menemukan partner yang punya kerinduan yang sama untuk merintis PMK medis di Stikes Maharani Malang, serta kerinduan para mahasiswa baru untuk bersekutu dan berdoa bersama di tengah padatnya jadwal kuliah. Berdoa juga untuk Pengabaran Injil untuk mahasiswa baru di PMK FK bulan Oktober ini, sehingga boleh Tuhan berkati dan sertai KTB - ktb baru yang akan terbentuk dari mahasiswa baru, supaya melalui kelompok kecil ini, Tuhan boleh ijinkan pertumbuhan rohani dari kakak pemimpin KTB, maupun adik KTB Bersyukur untuk kehadiran PMK FK di UB yang pada bulan oktober ini sudah berumur 30 tahun, kami rindu, PMK FK SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Teropong

boleh terus Tuhan bentuk sesuai dengan visinya yaitu "Menjadi tenaga medis yang misioner dan profesional" Kesatuan hati para pelayan-pelayan di PMK FK Universitas Brawijaya

Pokok Doa Medical Prayer Fellowship (MPF) Manado Bersyukur untuk anugerah Tuhan yang telah menyertai dan memberkati Pelayanan MPF (Medical Prayer Fellowship) Manado hingga memasuki tahun pelayanan yang ke-33 tahun, yang ibadah syukur perayaan ulang tahunnya telah dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus 2012. MPF Manado boleh dikata merupakan salah satu bentuk “follow up” dari Kamp Medis Nasional Perkantas ke-1, tahun 1979 di mana beberapa orang Mahasiswa FK Unsrat yang ikut pada saat itu membentuk persekutuan doa mahasiswa medis sekembalinya mereka dari KMdN tersebut. Salah satunya adalah Prof. dr. Herry Pandeleke, SpKK (K) yang hingga saat ini terus mendampingi para pengurus MPF Manado sebagai Penasehat dan Pembina. Saat ini pelayanan MPF Manado melayani mahasiswa FK dan FKM Unsrat dan juga alumni medis (dokter), dengan kegiatan pelayanan antara lain KTB, persekutuan ibadah raya, Samaritan mission, dan ibadah persekutuan alumni. Pada saat Kamp Medis Nasional Alumni Perkantas pada bulan Juli 2012 yang lalu ada beberapa alumni MPF Manado yang mengikuti sebagai peserta. Bersyukur: • Pertemuan follow up KMdN-alumni 2012 yang boleh terlaksana selama bulan Agustus-September 2012 (sebanyak 4x pertemuan). • Pelaksanaan program Samaritan Missions ke desa Serei di Kec. Likupang Kab. Minahasa Utara pada akhir bulan Agustus yang lalu, yang diikuti oleh mahasis, Ko-ass, dan alumni MPF Komitmen Terhadap Panggilan

Manado. Kesempatan share beban pelayanan misi yang boleh dilaksanakan teman-teman alumni ex-peserta KMdN-alumni 2012 dengan Penasehat dan alumni-alumni MPF Manado lainnya selama periode Agustus-September 2012. • Beberapa agenda bersama, alumni & mahasiswa MPF Manado, yang boleh disepakati dalam pertemuan 14 September 2012 lalu, antara lain pelaksanaan Gathering Misi Medis yang disatukan dengan Christmas Camp pada bulan Desember 2012, dan juga program Retret Misi Medis khusus untuk Ko-Ass. Doakan: • Pertemuan Tim Follow Up KMdNAlumni 2012 setiap hari Jumat minggu-I bulan berjalan agar Txim tetap setia dan rindu untuk bertemu dan saling menguatkan untuk mewujudkan visi bersama. • Kerinduan alumni-alumni untuk membangun kembali relasi dan fellowship dengan adik-adik mahasiswa FK yang sempat menjauh selama ini oleh karena berbagai kesibukan tugas masing-masing. • Penyusunan SOP Program Pengutusan Tenaga Medis alumni MPF Manado untuk bermisi ke daerah-daerah yang membutuhkan di Indonesia. • Kerinduan untuk semakin mengaktifkan ibadah persekutuan alumni medis MPF Manado yang dilaksanakan setiap minggu ke-4 bulan yang berjalan. • KTB-KTB Mahasiswa yang sedang berjalan agar kerinduan para pemimpin dan anggota KTB untuk belajar Firman Tuhan boleh dipelihara. • Ibadah persekutuan alumni MPF Manado yang akan dilaksanakan pada tangga 29 September 2012 bertempat di Bagian Neurologi RS. Prof. Kandou Malalayang, dengan tema “Messenger of God”

39


Antar Kita

DOKTER IDENTIK DENGAN KAYA? Thomas Nelson P.

M

elalui fesbuk, teman saya cerita. Ada dokter yang penghasilannya hanya 1 juta per bulan. Ada dokter yang kemana-mana naik angkot. Ada dokter yang resign dari RS setelah gaji yang diterima ternyata tidak sesuai dengan kontrak. “Macam buruh

pabrik saja,” pikir saya. Teman saya itu, awalnya, menceritakan adiknya yang sedang bimbang menentukan jurusan kuliah. Kedokteran merupakan salah satu jurusan kuliah yang kemungkinan akan dipilihnya. Oleh sebab itu si kakak menanyakan kepada saya, ‘gimana kuliah di kedokteran, prospek dokter, ngapain aja setelah lulus. Dengan pemahaman saya yang terbatas, dan hasil nanya-nanya dengan dokter, mulailah saya mengomentari teman saya itu. Kedokteran hingga saat ini masih menjadi salah satu jurusan favorit di negeri kita. Bahkan UI sampai membuka jalur internasional. Bagi orang tua, adalah suatu kebanggaan anaknya lulus menjadi dokter. Ada juga yang beralasan biar saat tua ada yang merawat. Bagi peminat kedokteran sendiri, kedokteran dianggap memberikan skill agar mereka bisa bekerja. 40

Meski tidak praktek di rumahsakit, klinik atau bekerja di instansi lain, bisalah untuk hidup dengan hasil dari praktek sendiri. Banyak orang menganggap, kalau jadi dokter itu enak. Mungkin yang kebayang di matanya dokter-dokter spesialis yang tampak cantik, gagah dan ‘terawat’ dan bersiliweran di rumah sakit dengan dengan jas putihnya. Apalagi menghitung-hitung penghasilan dokter spesialis yang mencapai ratusan ribu untuk 1x pemeriksaan. Memang melihat dari arah pertanyaan kawan saya, pada akhirnya sebenarnya UUD (Ujung-ujungnya Duit). Saya sih tidak alergi sama duit (amit-amit deh kalo alergi). Tapi, jangan minta langsung kaya dong. Sementara itu, teman saya yang sudah jadi dokter menceritakan pengalamannya. Ia diterima di Kedokteran Umum UI tahun 1997. Waktu itu, iuran sukarela cuma 3 juta, itu pun bias ditawar. Uang semesteran hanya 1,5 juta. Bandingkan dengan saat ini dimana uang masuk antara puluhan hingga ratusan juta. SPP per semester juga mencapai puluhan juta. Hal itu berlangsung hingga lulus, yaitu minimal 6 tahun. Bila dibandingkan dengan jurusan lain yang bisa 4 tahun, kedokteran umum makan waktu lama. Setelah lulus, berlomba-lomba mencari pekerjaan dengan melamarke RS, klinik-klinik, menjadi pengajar, menjadi PNS, ikut PTT, menjadi dokter perusahaan / pabrik, ada yang berdikari membuka usaha sendiri, ada yang bekerja paruh waktu di media cetak….(apalagiya?). Jangan dikira bekerja di situ SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Antar Kita langsung kaya ya. Apalagi di Jakarta dengan biaya hidup mahal. Kalau di daerah-daerah kaya, seperti Riau, Maluku, Batam, bolehlah bermimpi habis PTT langsung bisa nabung untuk sekolah lagi. Kalau di Jawa, kalau tidak dapat sokongan dari orang tua, mustahil sekolah lagi. Kecuali, si dokter punya bisnis yang menghasilkan. Bila seorang dokter berpraktik sendiri dengan biaya berobat yang murah ( misalnya 25 - 30 ribu / pasien + obat ), artinya dia tidak mampu membayar dokter pengganti bila dia berhalangan jaga. Karena dokter hanya mendapat 10 ribu-an per pasien. Terus gimana kalau lulus langsung sekolah lagi? Ambil spesialis? Hari gini sekolah spesialis senilai dengan harga satu rumah. Ratusan juta. Pe n g e l u a r a n terbesar bukan dari sumbangan dan SPP, justru dari pengeluaran selama sekolah. Itu juga kalau diterima. Saingan spesialis ketat dan sering berbau nepotisme. Beban makin bertambah untuk seorang ibu rumahtangga. Bakal a d a krisis hubungan suamiistri. Bagaimana tidak? Saat sekolah spesialis, paling tidak ada 8x per bulan dia tidak pulang ke rumah. Jaga malam. Bayangkan, anda - anda yang bekerja dan kuliah lagi, itu saja sudah membuat capek. Padahal masih pulang kerumah. Ini, sudah sekolah, mungkin masih harus kerja sambilan, masih harus jaga malam lagi. Akibatnya, suasana Komitmen Terhadap Panggilan

rumah tegang. Keluarga kurang diperhatikan. Bohong, bila rumahtangga dan pekerjaan berjalan seimbang. Akhirnya, ada 1 yang harus dikalahkan. Begitu keluar spesialis, tidak langsung mulus. Cari tempat praktek hingga ke pelosok pelosok yang jauh dari rumah. Sudah biasa itu rumah di Depok, praktik di Serpong, atau di Cikarang. Karena rumahsakit di kota umumnya sudah terisi. Kalau pun belum, umumnya lebih mengutamakan kawankawan, jaringan, atau kerabat. Kalau sudah jadi spesialis ngetop, pasien ngantri panjang. Belum lagi pasien rawat inap yang harus divisite. Akhirnya, pulangnya bisa jam 11 malam, bahkan dinihari. Setiap hari. Pertama-tama sih senang. Bangga punya banyak pasien. Tapi lama-lama ya enek. Dari cerita teman-teman saya itu, saya belajar, bahwa rejeki sudah ada yang mengatur. Sudah hukum alam, bahwa kesuksesan tidak mungkin diraih sekonyong-konyong tanpa usaha. Di belakang cerita sebuah kesuksesan pasti ada cerita kerja keras, disiplin, ketekunan, dan kegagalan. Saat saya bertemu dokter yang terlihat mapan, sebenarnya, di belakangnya terdapat sejuta cerita pengorbanan dan air mata yang telah dilalui. Jadi, dokter tidak identik dengan kaya.

41


Ulang Tahun Segenap Redaksi Majalah Samaritan, Pengurus dan Staf Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas mengucapkan: SELAMAT dr.Ronaningtyas Maharani (Rona) drg.Herlina Sutanto T dr.Katherine Bangun dr.Rosdiana Hernawati Silaban dr.Metha drg.Riani Suhendra dr.Alhairani K.L.M. Mesa dr.Ricky J.Pardede dr.Yuliana Siajadi dr.Dumaria R. Damayanti dr.Julia K.Kadang, SpA drg.Hotlin Judika Romana dr.Helmawati Perangin – Angin dr.Eka J. Wahjoe Pramono drg. Julvan G.M. Nainggolan dr.Samuel Halim dr.Poniman dr.Bambang Budi Siswanto, Sp.J dr.Agustina Puspitasari dr.Ronald Jonathan,MSc. dr.Ronald Jonathan,MSc. dr.Lineus Hewis, SpA dr.Sulastri C. Panjaitan dr.Sunoto Pratanu, SpJP, FIHA dr.Widodo L. Tobing drg.Lydiana dr.Kusnadi Dr.Emanuel Wantania dr.Maudy Lumenta dr.Intan Renata Silitonga dr.Cherry Chaterina Silitonga dr.Leonard A. Laisang, SpB dr.Agustina dr.Antonius S. Sandi Agus dr.Agus D N Kaunang,SpOG drg.Dewi H.Pramono,SpPros dr.Martin Rumende, SpPD dr.Ariyanti Yusnita dr.Agus Prasetyo 42

ULANG

TAHUN 01 Juli 2 Juli 4 Juli 05 Juli 07 Juli 9 Juli 9 Juli 10 Juli 11 Juli 14 Juli 17 Juli 19 Juli 20 Juli 27 Juli 27 Juli 29 Juli 1 Agustus 2 Agustus 2 Agustus 03 Agustus 03 Agustus 4 Agustus 04 Agustus 04 Agustus 06 Agustus 8 Agustus 11 Agustus 13 Agustus 15 Agustus 16 Agustus 16 Agustus 17 Agustus 18 Agustus 19 Agustus 19 Agustus 20 Agustus 24 Agustus 24 Agustus 26 Agustus SAMARITAN | Edisi 3 Tahun 2012


Ulang Tahun drg.Prisillia Paseru dr.Lydia Pratanu, MS dr.Vera Marietha M.R dr.Viviana dr.Ralf Richard Pangalila dr.Irene Hintan putung dr.Helen A. Manoe,SpM DR.dr.Dwidjo Saputra,SpKJ dr.Suga T.Anggawidjaja, Sp.PA dr.Patricsia M dr.Herdiana Elisabeth dr.Elisa (Ica Lau) drg. Dewi Ruth,SKG drg. Melki dr.Theresia Shanty Kayama dr.Etha Rambung dr.Dewi dr.Eva Karmelia dr.Risa Nurida M. Siagian drg.Nana Anggawidjaja drg.Abigail N. V. Saputri dr.Setiani Muliadikara dr.Sri Juliani Harjanto dr.Maria Simanjuntak Dr.Joviel Simatupang drg.Nadhyanto, SpPros dr.Herman Gandi,SpA dr.Sondang Whita Kristina Tambun drg. MulaB. Hutagaol dr.Pua Librana,SpOG dr.Karina Samaria drg. Arifianti Nilasari (Anis) dr.Ratih Rahayu Astuti Gunadi Prof.DR.dr.Taralan Tambunan dr.Filly.M DR.dr. Mangasa.L Tobing, SpPD dr.Franky Zepplin Pasaribu Helena Ullyartha Pangaribuan,SKM dr.Berlian Beatrix Rarome dr.Dedi Tedjakusnadi, MARS dr.Ristarin Paskarina Zaluchu dr.Rosalyn Angeline Manurung dr.Saulina Sembiring dr.Rica Bunjamin

27 Agustus 28 Agustus 28 Agustus 29 Agustus 29 Agustus 29 Agustus 01 September 04 September 06 September 06 September 06 September 06 September 07 September 08 September 11 September 12 September 15 September 16 September 16 September 17 September 19 September 20 September 21 September 27 September 28 September 1 Oktober 3 Oktober 03 Oktober 05 Oktober 05 Oktober 08 Oktober 08 Oktober 8 Oktober 10 Oktober 19 Oktober 21 Oktober 21 Oktober 21 Oktober 21 Oktober 23 Oktober 24 Oktober 28 Oktober 28 Oktober 29 Oktober

Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! [Yeremia 17:7]

Komitmen Terhadap Panggilan

43



Majalah Samaritan Edisi 2 Tahun 2012