Issuu on Google+

DUABELASPAS

TABLOID GELORA edisi: 001| Th-I | November 2008

3

Gila Bola No, Tanggungjawab Yes Pada tahun 2003, saya ditunjuk Pak Bambang DH selaku Ketua Umum Persebaya membantu menjadi manajer Persebaya. Padahal saya bukan saja orang gila bola tapi sama sekali tak tahu manajemen bola. Saya bukan pecandu.Tidak seperti orang lain yang rela begadang melihat pertandingan besar sampai pagi. Saya tetap nonton tapi kalau pas ngantuk ya tidur. Saya tidak memiliki pengetahuan tentang bola, tapi kemudian harus mengurus Persebaya. KENAPA tanpa pengalaman saya sukses pertama kali menangani Persebaya bisa langsung juara Liga Indonesia pada 2004? Bagi saya tanggungjawab atau tugas yang saya pikul diatas segala-galanya. Tanggungjawab ini yang kemudian membuat saya bisa mengambil keputusan cepat dan penting untuk membentuk tim solid dan kemudian juara. Satu contoh, waktu itu saya hanya punya waktu pendek, di bulan November 2003, saya ingat pas puasa, saya hanya punya waktu dua minggu bersaing mencari pemain. Sementara hanya ada dana Rp 200 juta.

Saya tanya teman-teman yang mengerti bola bahwa untuk membentuk tim minimal butuh Rp 10-15 miliar. Untuk belanja pemain sekitar Rp 8 miliar. Sementara saya berpikir yang namanya sepakbola adalah permainan kolektif, bukan orang per orang. Karena kolektif maka semua lininya harus sama, kalau ingin tim sedang ya semua lininya sedang saja, kalau ingin timnya bagus ya harus semua lininya bagus. Jadi kalau mau juara ya harus semua pemainnya bagus. Alhamdulillah karena tanggungjawab, berbekal Rp 200 juta, saya berhasil membeli pemain terbaik saat itu. Saya ingat dengan persiapan hanya sebulan, Persebaya jadi runner-up Turnaman Bang Yos di Jakarta, kalah dari Persija selaku tuan rumah. Tapi di Ligina 2004 kita berhasil mengalahkan Persija dan juara. Begitu juga dengan Maret 2008 lalu saat terjadi gonjang-ganjing Persebaya, dimana pak Arif Afandi diganggu oleh yang lain untuk melepas jabatannya. Saya sebenarnya tidak punya keinginan. Sudah kapok mengurus Persebaya. Pada 2005, ketika pekerjaan belum selesai, pada bulan Agustus kita dilaporkan ke kejaksaan, dituduh korupsi. Pekerjaan masih berjalan, Desember belum dilalui kita sudah harus menjalani pemeriksaan. Tekanan luar biasa yang terjadi pada waktu itu tidak hanya dialami orang-orang yang diperiksa, tapi juga pada diri saya sebagai pimp-

inan mereka. Itu yang sebenarnya membuat saya trauma mengurus Persebaya. Tapi karena tanggungjawab, menuntut saya melupakan trauma itu dan kemudian harus memikul beban besar mengurus Persebaya. Pada perjalanan waktu, sekitar akhir September 2008, saya diberitahu oleh pengurus KONI Surabaya bahwa saya harus melepas salah satu jabatan sebagai Ketua Umum KONI Surabaya dan Ketua Pengurus Cabang PSSI Surabaya/Persebaya, karena AD/ART KONI hasil Munaslub 2007, melarang rangkap jabatan. Saya akhirnya memilih melepas Ketua Umum KONI Surabaya. Banyak yang bingung dan bertanya kenapa saya memilih Persebaya dan melepas KONI. Saya merasa di KONI semua sudah berjalan. Sistem terbangun rapi, SDM-nya sudah bagus. Sedang Persebaya sedang bermasalah. Kalau mau enaknya tentu saya memilih KONI. Tapi kembali karena tanggungjawab saya memilih Persebaya. Saya tidak ingin dinilai lari dari tanggungjawab. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Misal kondisi keuangan yang memprihatinkan. Terpaksa mencari pinjaman untuk menggaji pemain. Terus terang saya rugi tetap bertahan di Persebaya. Ini akan menyusahakan saya

SEMANGAT TIADA BATAS

pada masa-masa ke depan. Tetapi mau tidak mau itulah yang harus saya pikul. Maka dengan Bismillah saya melepas jabatan di KONI dan memikul beban besar di Persebaya. Ini bukan karena saya gila bola tapi karena saya gila tanggungjawab atas beban-beban yang memang harus dipikul oleh orang-orang yang peduli terhadap kota Surabaya. Insya Allah semakin banyak tugas dan kewajiban yang dipikul seseorang maka dia akan terus belajar dan belajar untuk menyelesaikan apa yang menjadi tanggungjawabnya. Jika itu terjadi maka harkat dan martabat orang tersebut akan menjadi tinggi dimata Allah SWT. H Saleh Ismail Mukadar SH Ketua Umum Persebaya www.salehmukadar.com


6

MAN.OF.THEMATCH

TABLOID GELORA edisi: 001| Th-I | November 2008

LUCKY WAHYU

PANTANG KKN

Si Pendiam yang Garang di Lapangan

Banyak pemain muda yang coba diorbitkan Persebaya musim ini. Diantaranya, Andik Vermansyah, Arif Arianto juga Lucky Wahyu. Dari sederet nama di atas, Lucky Wahyu yang terlihat paling menonjol. LUCKY Wahyu menjelma menjadi sosok pemain muda yang cukup moncer permainannya bersama Persebaya musim ini. Bahkan mantan pemain tim internal Kelas Utama, Putra Indomaret ini bisa bersaing dengan pemain-pemain senior semacam I Putu Gede dan Facrudin. Peran pemain berusia 18 tahun bisa dikatakan sangat sentral. Bahkan ketika I Putu Gede absen dalam pertandingan melawan PSS Sleman beberapa waktu lalu, dia mampu menggantikan peran mantan pemain Arema itu. Determinasi Lucky sepanjang pertandingan membuat lini tengah Persebaya teramu apik. Salah satu kelebihan Lucky yang tidak dimiliki Putu adalah tendangan keras yang kerap ia lontarkan dari luar kotak penalti. Meski sampai saat ini belum menghasilkan gol bagi Persebaya, tapi paling tidak keberanian pemain muda seperti Lucky dalam melakukan shooting patut diacungi jempol. Karena itulah, pemain binaan klub internal Persebaya ini langsung terpanggil mengisi 23 pemain dalam skuad tim merah putih U-23. Tim ini sempat diterjunkan bersama tim senior berlaga di turnamamen piala kemerdekaan beberapa waktu lalu dan berhasil menduduki posisi ketiga. Ketika Melawan tim senior di semifinal, peran Lucky kembali terlihat. Dia berani bertarung melawan Ponaryo Astaman di lini tengah. Hasilnya, tim senior sempat keropotan menghadapi Lucky dkk. Bahkan, tim senior hanya mampu mencetak sebiji gol ke gawang timnas U-23. Sejak kecil, Lucky mengaku kecintaannya terhadap si kulit bundar seolah tidak terbendung. Bahkan, saking cintanya

dengan sepak bola, Lucky rela menghabiskan waktu hanya dengan berlatih sendiri. Bakat Lucky langsung dilihat Wahyu, ayah kandung Lucky. Sebagai pelatih Putra Indomaret, Wahyu langsung mengajak anaknya untuk gabung. Meski demikian, tidak mudah bagi Lucky untuk menghilangkan stigma

KKN itu. Banyak yang sempat meremehkan kemampuan Lucky yang dianggap hanya karena mendompleng ayahnya. Keraguaan itu langsung dijawab oleh Lucky dengan permainan apik di lapangan. Bahkan ketika bergabung dengan Indomaret dan berlaga di klub internal kelas Utama, dominasi Lucky makin jelas terlihat. Dua musim lalu, Lucky kemudian mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi di Persebaya. Keinginannya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Lucky terpilih menjadi salah satu pemain Persebaya hingga saat di latih Freddy Muli. Bahkan, pelatih Freddy Muli sempat menyanjung Lucky sebagai pemain muda yang mempunyai talenta dan potensi masa depan yang bagus. “Dua-tiga tahun lagi, Lucky akan matang dan bisa jadi menjadi pemain inti Persebaya,” ungkap Freddy. Sebab, mantan pelatih Persik ini menilai, skill dan kemampuan Lucky sebagai pemain gelandang cukup mumpuni. “Kalau terus diasah dengan baik, kemampuan Lucky akan bisa meningkat tajam. „

SEMANGAT TIADA BATAS

SOSOK sentral Lucky Wahyu tidak bisa diremehkan begitu saja. Sebab, meski pendiam di luar lapangan, Lucky berubah 180 derajat bila sudah mengenakan kostum Persebaya.“Nggak tahu ya, ketika sudah mengenakan kostum Persebaya dan masuk lapangan, seolah perasaan ini lain dan ingin bermain sebaik mungkin,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini. Karena itu, jangan heran bila Lucky bermain ngotot, ngeyel bahkan terlihat garang di lapangan. Semua itu tujuannya hanya satu, ingin bermain sebaik mungkin dan yang pasti membawa Persebaya menuai kemenangan. Sebab, Lucky mempunyai asa tinggi. Pengakuannya, dua-tiga tahun lagi Lucky ingin menembus timnas senior.“Alangkah bangga dan bahagianya orangtua saya bila saya bisa memakai kostum timnas Indonesia,” ungkap penyuka bakso ini. Untuk mewujudkan hal itu, Lucky mengaku berusaha berlatih dan bermain bersama Persebaya sebaik mungkin.“Kalau saya bermain bagus, dengan sendirinya ambisi saya untuk masuk timnas senior pasti akan terwujud.n

Nama: Lucky Wahyu Dwi Permana Ttl: Sidoarjo, 01 April 1990 Klub: Persebaya Surabaya Posisi: Gelandang Nomer Punggung: 14 Alamat: Perum Griya Kebon Agung C4/29 Orangtua: Wahyu Suhantyo/Sri Rahayu Pendidikan: Lulusan SMA Unggala, Sidoarjo Tinggi/berat 178 cm/67kg Gol darah: O. Hobby: Nonton film komedi


8

GELORAKARANGGAYAM

TABLOID GELORA edisi: 001| Th-I | November 2008

SELAKU Ketua Umum Persebaya, Rabu, 22 Oktober 2008 siang, Saleh Mukadar menerima tamu dari perwakilan dari Pemerintah Australia Barat, Mr Martin Newbery.Keduanya berdiskusi akrab soal prospek dan masa depan sepakbola di Surabaya.Mr Martin yang menjadi Regional Director Indonesia Trade Office itu banyak memberikan masukan bagaimana menjadikan Persebaya sebagai klub profesional, menjual trademark Persebaya untuk mencari sumber pendanaan dan lain sebagainya. “Persebaya nama besar, apalagi Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Ini saja sudah membuat orang tertarik dengan Persebaya. Jika Persebaya dikelola dengan baik, tentu tidak akan kesulitan mencari sponsor buat Persebaya,” kata Mr Martin yang fasih berbahasa Indonesia itu. Menurut pria yang sedah tiga tahun menetap di Jakarta ini, syarat utama agar Persebaya mudah mencari sponsor adalah sesedikit mungkin melepas keterikatannya dengan Pemerintah Kota Surabaya. Sebab sepakbola jika dikaitkan dengan pemerintah, masih ada stigma negatif bahwa klub tersebut tidak akan bisa menjadi profesional. “Kalau toh pemerintah dilibatkan, maksimal hanya 20 persen saham saja, sisanya investor. Soal klub-klub juga harus ada sahamnya meski kecil, tapi ada konpensasi yang diberikan Persebaya terhadap mereka untuk pembinaan,” tandasnya. (sak)

Martin Newbery Beri Masukan Persebaya

Pemain Polda Jatim, Heri K. (kanan) berebut bola dengan pemain Mitra, Adik Setya dalam pertandingan Kompetisi Antar Klub Kelas I di Lapangan Persebaya, kemarin (21/ 10). Pertandingan dimenangkan oleh tim Mitra dengan skor 1-0. FOTO: ANGGER BONDAN/JAWA POS

KLASEMEN AKHIR PIALA BAGPORA U-20 Grup A Klasemen Sementara 1. Putra Indomaret 2 1 1 0 2. Untag Rosita 2 1 1 0 3. Putra Mars 2 0 0 2 GRUP B Klasemen Sementara 1. PSAL 2 2 0 0 2. Nanggala 2 1 0 1 3. Ega Putra 2 0 0 2

2-0 1-0 0-3

4-0 1-1 0-4

GRUP C [ Sakti v Bina Junior 4-2 ] Klasemen Sementara 1. Sasana Bhakti 2 2 0 0 6-2 2. HBS 2 1 0 1 3-2 3. Bina Yunior 2 0 0 2 2-7

4* 4 0

6* 3 0

6* 3 0

GRUP D [ VR Anak Bangsa v Suryanaga 1-0 ] Klasemen Sementara 1. VR Anak Bangsa 2 2 0 0 5-0 6* 2. Suryanaga 2 1 0 1 2-1 3 3. Fajar 2 0 0 2 0-6 0 GRUP E Klasemen Sementara 1. Indonesia Muda 2 1 1 0 2. Angkasa 2 1 0 1 3. Putra Surabaya 2 0 1 1 ** Lolos melalui playoff

1-0 1-1 0-1

4* 3** 1

GRUP F Klasemen Sementara 1. Reedo 2 1 1 0 2. Maesa 2 1 0 1 3. Polda Jatim 2 0 1 1

3-2 3-2 1-3

4* 3 1

GRUP G Klasemen Sementara 1. Setia Naga Kuning 2 2 0 0 2. PSAD 2 0 0 2

6-0 0-6

6* 0

GRUP H [ SFC v Haggana 2-2 Klasemen Sementara 1. SFC 2 1 1 0 2. Haggana 2 1 1 0 3. Assyabaab 2 0 0 2

] 6-3 3-2 1-5

4* 4 0

GRUP I [Mitra Surabaya v TEO 3-0] Klasemen Sementara 1. Mitra Surabaya 2 2 0 0 4-0 2. Putra Sanjaya 2 0 1 1 3-4 3. TEO 2 0 1 1 3-6

6* 1 1

1. Fatahillah 2. Bintang Timur 3. Mahasiswa

GRUP J 2 1 1 0 2 0 2 0 2 0 1 1

1-0 2-2 2-3

4* 2 1

Keterangan : * Juara Grup otomatis lolos ke babak perdelapan final enam runner-up terbaik lolos ke babak 16 besar.

JADWAL BABAK PERDELAPAN FINAL 08.00 WIB: 10.00 WIB: 08.00 WIB: 10.00 WIB:

23 Oktober 08 Putra Indomaret v Haggana (Lap. Persebaya) PSAL v Untag Rosita (Lap. Persebaya) Sakti v Maesa (ITS) VR Anak Bangsa v HBS (ITS)

08.00 WIB: 10.00 WIB: 08.00 WIB: 10.00 WIB:

25 Oktober 08 IM v Suryanaga (Lap. Persebaya) Reedo v Angkasa (Lap. Persebaya) Setia NK v SFC (ITS) Mitra Surabaya v Fatahillah (ITS)

Mengucapkan Selamat atas terbitnya

tabloid GELORA SEMANGAT TIADA BATAS


INSPIRASI

TABLOID GELORA edisi: 001| Th-I | November 2008

11

Saya lahir di Aerbuaya Pulau Buru Maluku Tengah pada 25 Desember 1963, anak ke 14 dari 16 bersaudara. Ayah saya, Abah Ismail hanyalah seorang guru mengaji. Ibu saya juga hanya ibu rumah tangga biasa. Beliau tidak pernah sekolah. Bahkan tidak bisa membaca dan menulis. Keduanya mendidik anak-anaknya dengan keras.

Dari Aerbuaya ke Kota Buaya PULAU Buru adalah pulau terpencil di Maluku yang pernah menjadi tempat pembuangan tahanan politik pasca G-30-S PKI. Kampung tempat kelahiran saya ke laut dekat ke gunung pun juga dekat. Orang di sana hanya kenal dua arah, bukan timur barat utara dan selatan tapi hanya arah ke laut dan ke darat saja. Ketika umur saya sekitar 10 tahun, seperti anak-anak pada lazimnya, saya sering main ke pantai. Kerapkali menunggu saat-saat matahari terbenam. Saya selalu berangan-angan bahwa suatu saat saya bisa meninggalkan Pulau Buru, merantau dan melihat dunia yang lebih luas. Saat itu saya begitu yakin bahwa hal tersebut bakal terjadi. Ketika SMP, karena tidak ada SMP di Pulau Buru, maka saya dikirim oleh orangtua saya ke Ambon. Saya hanya bertahan 8 bulan karena rindu kampung. Alhamdulillah, tak lama setelah itu ada SMP swasta di kampung yang dibuka. Jadi saya bisa menyelesaikan SMP di tempat kelahiran. Tahun 1977 bapak dan ibu saya serta hampir sebagian besar saudara hijrah ke Jakarta. Ada masalah internal antar keluarga besar yang memaksa kami harus meninggalkan kampung. Pada 1980, saya menyusul ke Jakarta dan melanjutkan sekolah di sebuah SMA swasta di kawasan Tanjung Priok. Lulus SMA saya tak bisa meneruskan kuliah karena tidak ada biaya, saat itu orangtua sudah kembali ke kampung, saya dan beberapa saudara yang semuanya masih sekolah dibiarkan hidup di Jakarta. Kami kemudian melakukan pekerjaan apa saja asal menghasilkan uang. Kecuali menjadi preman, untuk bertahan hidup, yang sering saya lakukan adalah menjadi tukang cat rumah. Tahun 1986 saya hijrah ke Surabaya, diajak oleh teman, Tulus Rahardjo. Di Surabaya saya tinggal menumpang di rumahnya. Sambil kuliah saya juga melakukan pekerjaan macam-macam, untuk mencari uang. Melakukan penagihan rekening air ke rumah-rumah dengan berjalan kaki, menjadi loper koran, sampai menjadi wartawan sebuah surat kabar kecil dari Jakarta. Kuliah saya terpaksa putus di tengah jalan karena hasil dari pekerjaaan apa saja tersebut hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Akhir Desember 1991 menjelang pergantian tahun, saya dikenalkan dengan seorang gadis, Noermilawati. Dan dua minggu kemudian, pada 15 Januari 1992 saya menikahinya. Saya menikah dengan orang yang sama sekali belum saya kenal dekat sebelumnya. Saya berani melakukan itu karena saya yakin bahwa kalau saya baik maka akan mendapatkan istri yang baik pula. Enam bulan kemudian, 15 Juni 1992, kami melaksanakan pernikahan secara resmi (KUA) dan mengundang keluarga, tetangga dekat dan beberapa teman untuk menjadi saksi atas kebahagiaan kami. Biayanya hanya Rp 2 juta, yang saya dapatkan dari hasil penjualan sepeda motor yang laku Rp 3 juta. Sisanya untuk beli sepeda motor yang lebih butut lagi. Saya sering guyon, saya menjual sebuah kendaraan dan mendapat ganti dua, satu bisa kentut dan yang satu tidak bisa. Karena tidak ingin hidup dalam pondok mertua indah, dua bulan setelah menikah, saya nekat pindah ke

sebuah rumah kontrakan, yang sangat-sangat sempit. Istilahnya rumah kontrakan, tapi sebenarnya hanya sebuah kamar ukuran 2x3 meter. Antara tempat tidur, ruang tamu dan dapur menjadi satu. Lemari tempat menyimpan pakaian adalah sebuah kardus bekas. Saat musim hujan, pakaian yang berada di tumpukan terbawah harus dijemur karena basah kena lembab dari lantai. Jangankan televisi, tape atau radio saja tidak ada, kursi tamu apalagi. Barang berharga kami saat itu hanyalah alat rumah tangga sederhana dari kado perkawinan kami, seperti kompor dan seterikaan. Saya melakukan apa saja untuk menghidupi keluarga. Menjadi tukang kredit, menjadi wartawan, calo tiket kapal, menjadi tekong (calo Tki ilegal). Sangat susahnya hidup kami waktu itu, saya sampai-sampai tidak bisa membelikan istri saya buah segar. Saat hamil anak pertama, dia begitu nyidam akan buah. Tapi saya tak mampu membelikannya‌ Ketika akan melahirkan, saya bawa ke rumah sakit dengan hanya membawa uang dikantong Rp 20 ribu. Anak saya yang pertama sekarang sudah umur 15 tahun, seumur itu pula dia tak pernah doyan makan buah-buahan. Dalam kondisi sesulit apapun itulah saya banyak belajar bahwa ternyata kekuatan mimpi, harapan dan doa sangat sangat luar biasa. Karena hampir apa saja yang saya inginkan saat itu dan sampai sekarang pun bisa saya capai dengan cara-cara yang tidak terduga. Misal-

SEMANGAT TIADA BATAS

nya, saya membangun rumah saya hanya diawali dengan uang Rp 1,5 juta. Pada periode 1996-1999, saya tak hanya menjadi wartawan, tapi juga menjual tiket. Namun pada titik tertentu saya ditipu dan saya harus menanggung hutang sampai Rp 30 juta. Saya sempat putus asa, makan tidak enak, hidup tidak nyaman, samapi kemudian saya seolah disadarkan bahwa saya harus bangkit dan terus berjuang untuk menghidupi keluarga. Padahal seluruh penghasilan yang saya dapat seluruhnya saya pakai untuk mengangsur hutang saya. Makanan kami yang paling mewah adalah nasi goreng. Dalam sehari kami hanya makan satu kali. Itu berlangsung selama setahun. Sekalipun dalam kondisi sesulit itu, saya dan istri terkadang malah mendahulukan kepentingan orang lain. Sehingga orang di luaran tidak pernah tahu bahwa kami yang di dalam rumah dalam kondisi separah itu, termasuk keluarga sendiri. Setiap bulannya saya terpaksa menyekolahkan surat motor saya plus kalung dan gelang emas milik seorang sahabat sekedar untuk makan dan membayar hutang. Pernah, suatu ketika, ada orang datang ke rumah, mengaku dari kampung halaman. Dia bilang ke istri saya bahwa baru saja kehilangan dompet karena kecopetan padahal harus pulang ke Jakarta. Karena tidak punya ongkos ia minta bantuan uang Rp 25 ribu ke istri saya. Saat itu, istri saya hanya punya uang Rp 20 ribu di dompetnya. Uang itu pun dengan ikhlas diberikan pada orang yang tak dia kenal. Malamnya, ketika saya pulang ke rumah, saya menyerahkan uang Rp 200 ribu ke dia. Hal-hal seperti sering terjadi dalam hidup saya. Itu membuat kami menjadi sangat YAKIN bahwa mimpi, harapan, doa, kerja keras, keikhlasan / ketulusan dalam membantu orang tanpa pamrih, akan mendapatkan gantinya berlipatlipat ganda. Tahun 1996, saya kembali intensif meliput dan menulis aktifitas PDI Promeg, seperti yang pernah saya lakukan pada tahun 1993 ketika ada KLB PDI di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Saya menjadi dekat dengan Ir Sutjipto, Ketua DPD PDI Jawa Timur saat itu. Saya akhirnya terlibat aktif dalam PDI pimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri. Tak disangka pada tahun 1999, saya tiba-tiba disodori oleh Pak Tjip formulir isian untuk mendaftar menjadi calon legislatif (caleg). Alhamdulillah saya ikut terpilih menjadi anggota DPRD Jawa Timur dari PDI Perjuangan, hingga sekarang.„


News Compilation 1