Issuu on Google+

CARE Edisi

05/IV

Muharram 1 4 3 0 H Desember-Januari 2008

n e w s l e t t e r

Komplek Masjid Agung Al Azhar, Jl. Sisingamangaraja Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp. 021 7221504, Fax. 021 7265241


Assalamu’alaikum

Cak Kabul

S M. Anwar Sani

foto: jw

Direktur Eksekutif Al Azhar Peduli Ummat

ahabat saya, lelaki bersahaja namun hatinya kaya raya. Namanya juga sederhana; Kabul. Ah.., saya malu harus mengakui bahwa nama asli Direktur LAZ Yayasan Klaten Peduli Ummat (YKPU) itu saya tidak pernah tahu. Yang saya tahu, Kabul lelaki luar biasa. Saya bersua Kabul ketika Al Azhar Peduli Ummat menggelar aksi sosial di lereng Merapi pada 2006 lalu. Waktu itu, aktivitas gunung vulkanik di utara Jogjakarta itu sedang tinggitingginya. Warga di lereng-lereng Merapi sudah diungsikan walau kemudian gunung api paling aktiv sedunia itu tidak jadi meletus (malah gempa dari bibir Pantai Selatan yang kemudian meluluhlantakkan bumiMataram). Dalam status Siaga Merapi, banyak LSM dan relawan bersiaga di posko-posko pengungsian di sekitar Merapi. Mengantisipasi hal yang paling tidak diinginkan. Di antara mereka terdapat Front Ummat Islam (FUI) Klaten. Kabul adalah Koordinator Lapangan FUI. Sebagai putra asli Klaten bagian utara, ia kenal medan. Kamipun menggagas acara Dongeng Ceria yang akan dibawakan oleh Kak Bimo, pendongeng top yang kelak juga menjadi salah seorang karib saya. Dari momentum itu kebersamaan kami berlanjut, kebanyakan dalam rangka menyampaikan amanah Anda, Donatur Al Azhar Peduli Ummat. Di usianya yang sudah pantas berkeluarga, Kabul masih membujang. Kesibukannya yang luar biasa di medan dakwah dan dunia volunteer sepertinya terlalu menyita waktunya. Ya, bersama FUI ia giat mengkader dan mengorganisasi da’ida’i muda untuk diterjunkan di tengah masyarakat. Di dunia relawan, jejaknya terekam mulai dari petaka di Naggroe Aceh Darussalam 2005 dan rentetan bencana alam yang susul menyusul kemudian di hampir seluruh wilayah Nusantara. Kabul -saya selalu berdo’a untuknya-, di setiap gerak geriknya mencerminkan muslim ideal yang disabdakan Rasulullah, “Sebaik-baik manusia adalah yang kehadirannya bermanfaat untuk manusia yang lain.” Hanya sedikit waktu digunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Tempotempo ia pergi ke Jakarta, ke Tanah Abang belanja bermacam jenis pakaian yang kemudian dikirimkan kepada koleganya di Surabaya untuk dijual. Itu saja. Selebihnya Kabul lebih sering terlihat di

CARE newsletter

Edisi Muharram 1430H

H. Mursjid Mahmud M. Anwar Sani Joko Windoro Muhammad Taufik Pane Fahri Mustolih

Penanggungjawab Pemimpin Redaksi Redaktur Pelaksana Redaksi Kontributor Kontributor

Jejaring Al Azhar Peduli Ummat:

Komplek Masjid Agung Al Azhar Jl. Sisingamangaraja Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp. 021 7221504, 021 7204733 Fax. 021 7265241 Iklan: Sudayat Kosasih (0812 9083219)

posko FUI di dekat RSI Klaten, di kantor YKPU, atau di lapangan menggelar aktivitas sosial dan dakwah. Kembali ke cerita di awal pertemuan kami. Di tengah pagelaran dongeng edukatif itu, kami berkenalan dengan anak yatim bernama Marno, adiknya, dan emak mereka yang sudah lewat paroh baya. Marno bocah lugu, tidak terlalu pandai, tapi punya keberanian luar biasa. Saya tersentuh waktu menyaksikan ia dengan berani naik ke panggung dan berdialog dengan Kak Bimo. “Siapa namamu?” “Marno, Kak.” “Kelas berapa?” “Nggak sekolah, nggak punya duit.” “Lho, kok tidak sekolah? Nanti kalau besar mau jadi apa?” “Marno pengen jadi manusia!” Yang dimaksud si kecil dari lereng Merapi itu adalah frasa kias “jadi orang”, tapi karena penguasaan Bahasa Indonesianya terbatas, ia salah ucap menjadi “jadi manusia”. Terharu si emak menyaksikan keberanian ananda. Setengah berbisik ia berjanji akan menjual seekor kambing milik mereka untuk menyekolahkan Marno. Usai acara dongeng, keluarga dhuafa itupun kami giring ke sebuah toko serba ada di Jatinom, Klaten. Bahagia mereka, bahagia juga hati kami bisa sedikit berbagi rizki. Sejak itu, saya tidak pernah lagi mendengar nasib Marno. Selang dua tahun, saya kaget waktu menyaksikan sebuah acara di salah satu stasiun TV yang menampilkan sosok Kabul. Tanpa setahu saya, silaturahim antara Kabul dengan keluarga Marno ternyata tidak sesingkat yang saya kira. Dengan segala keterbatasannya, Kabul mengangkat Marno dan adiknya menjadi anak asuh; menyekolahkan dan mencukupi kebutuhan mereka. Anak-anak masa depan itupun fasih memanggil bujang nan bersahaja itu dengan sebuatan “Bapak”. Pada Muharram yang ke 1430 ini, saya merenungi betapa masih banyak anak-anak yatim seperti Marno belum tersentuh kasih sayang tulus dari sesamanya. Jumlah mereka ribuan, mungkin jutaan. Tetapi jumlah orang seperti Cak Kabul segera habis dihitung dengan jari tangan. [A]

Dewan Pertimbangan: H. Ir. Adiwarman A Karim, SE, AK, MAEP H. Drs. Rusydi Hamka; H. Mahfud Makmun; H. Nasroul Hamzah, SH Komisi Pengawas: H. Drs. Soebroto Tirtoatmodjo; H. Arlinus Sampono; Agus Heryanto, SH; Dra. Massaina Daud; Drs. H. Tulus Badan Pelaksana: H. Mursjid Mahmud; H. Chairul Anwar, SE; Hj. Aty Nurchamid Direktur: M. Anwar Sani; General Affair:Suryaningsih (GM), Saripudin, Subakti, Fahmi; Humas: Joko Windoro (GM), Tia Indrawan, M Taufik; Fundraising: Dwi Kartikaningsih, SEI (GM); Siti Syarifah; Harvina A. Program/ Pendayagunaan: Agus Budiono (GM), Iwan Rachmat, Nurli Keuangan:M. Farid (GM); Uci Percetakan: Az-Zahra (Isi di luar tanggungjawab percetakan)


Fokus

Potret Buram di Taman Pendidikan PENDIDIKAN

mestinya membebaskan manusia dari kebodohan kemelaratan penindasan dan ketakutan

K

etika melepas putra-putri pergi sekolah, pernahkah terlintas was-was di hati Anda? Seorang akuntan publik yang menjadi terwaralaba (franchiser) sebuah sekolah ternama pernah diprotes wali murid tentang biaya mahal di sekolahnya. Si pemilik sekolah dengan arif menjelaskan bahwa investasi untuk masa depan anak memang tidak mungkin murah meriah. Ia membandingkan biaya parkir yang harus dikeluarkan si wali murid untuk mobil BMWnya. “Anda membayar lebih mahal untuk menitipkan sebuah mobil dibanding menitipkan anak untuk dididik di sekolah kami. Jadi, mengapa masih protes?�

Ya, wali murid itu beruntung. Kualitas pendidikan di sekolah sang akuntan publik memang jempolan. Tapi percayalah, lebih banyak orangtua yang tidak berdaya memilihkan sekolah berkualitas bagi anak-anaknya. Nah, soal kualitas pendidikan inilah yang mestinya membuat hati Anda was-was. Bahkan fragmen-fragmen berikut meminta Anda banyak-banyak istigfar. Kualitas Jeblok Untuk meraih tiket masuk Senayan, seorang pimpinan parpol tega menggunakan ijazah palsu. Mending kalau ijazah perguruan tinggi. Lha ini cuma ijazah SMA.

1 Jalan Lingkar Masa Depan

3


Fokus masing-masing 20,3% dan 19,1%. Pekerja berpendidikan perguruan tinggi diploma hanya 2,5%, dan 3,6% universitas. Rendahnya mutu pendidikan juga tecermin pada kesulitan perusahaan mencari tenaga kerja. Betapa ironis, ketika angka pengangguran terbuka masih 9,4 juta atau 8,5% dari total angkatan kerja, di saat yang sama justru banyak perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja yang memenuhi standar kualifikasi.

2

Sementara, saudaranya yang juga seorang petinggi parpol, menolak kualifikasi sarjana sebagai syarat calon presiden. Tak heran bila kualitas DPR kita di Pusat maupun Daerah, belepotan. Banyak di antara wakil rakyat terhormat, yang “tidak bisa” membedakan maisah dan ruswah. Sehingga, jika mega-skandal suap Bank Indonesia dan Deputy Gubernurnya dituntaskan, niscaya akan sangat banyak legislator yang harus masuk bui. Sejumlah anggota DPRD di Kalimantan, ternyata sama sekali tak paham e-mail alias kotak surat elektronik. Ini terkuak saat ributribut rencana DPR Pusat memborong laptop bagi seluruh anggota dewan. Saat ditanya wartawan apakah mereka punya e-mail, ada yang menjawab, “Dulu punya, tapi sudah dijual.” Yang lain sok merakyat, mengatakan, “Mengingat masih banyak rakyat yang menderita, saya merasa belum perlu memiliki email.” Alamak, betapa ndeso-nya. Di Wonosobo, Jawa Tengah, seorang anggota dewan tak sungkan mengikuti rapat dengan hanya bersarung dan berkaus oblong. Alasannya, sumuk (gerah). Di DKI, pernah seorang anggota dewan berteriak menyela pimpinan sidang, “Interview, interview!!” katanya sambil angkat tangan. Hadirin bengong, sebelum akhirnya mesam-mesem setelah sadar bahwa yang dia maksud adalah “interupsi”.

4

Jalan Lingkar Masa Depan

Kasus-kasus di atas turut mencerminkan rapor kualitas pendidikan bangsa kita yang jeblok. Laporan United Nation Educati-

Mitos dan Formalitas Kita bangga dengan prestasi siswa Indonesia yang menjuarai olimpiade matematika dan fisika. Di ajang olimpiade biologi dan kimia pun prestasi siswa Indonesia tidak jelek. Teranyar, dua siswa SLTA di Depok berhasil meraih emas dalam olimpiade program komputer di

Penduduk buta aksara ada 15,4 juta orang. Angka partisipasi usia sekolah sampai SLTP sekitar 72%, dan SLTA hanya 55%. Sedangkan partisipasi ke perguruan tinggi cuma 16,7%. onal, Scientific, and Cultural (UNESC), November 2007, menyebutkan, peringkat Indonesia di bidang pendidikan melorot dibanding tahun 2006 dari rangking 58 ke 62 diantara 130 negara. Detilnya mengerikan. Penduduk buta aksara ada 15,4 juta orang, atau lebih dari separo penduduk Malaysia. Angka partisipasi usia sekolah sampai SLTP sekitar 72%, dan SLTA hanya 55%. Sedangkan partisipasi ke perguruan tinggi cuma 16,7%. Sekitar 5% penduduk tak bisa mengikuti pendidikan SD. Sekitar 2,75% siswa SD drop out, dan SLTP 2,4%. Ini tak lepas dari faktor ekonomi. Data Badan Pusat Statisik (BPS) menunjukkan, penduduk miskin masih 35 juta atau 15,5% dari total penduduk. Tingkat pendidikan pekerja Indonesia juga memprihatinkan. Pada 2007, sekitar 53,5 juta atau 55% pekerja paling tinggi berpendidikan SD. Sedangkan yang SLTP dan SLTA

Brasil. Mereka menciptakan program komputer yang disebut Virtual Doctor. Bahkan Malaysia yang peringkat mutu pendidikannya di atas Indonesia pun, belum pernah meraih emas olimpiade matematika dan fisika. Tapi, secara umum, kondisi pendidikan di Malaysia jauh lebih baik dibanding Indonesia. Di negeri jiran itu, warga yang mengenyam pendidikan formal lebih merata. Malaysia juga memiliki tamatan yang siap memasuki pasaran kerja, sehingga negeri itu memiliki daya saing yang lebih baik. Daya saing Indonesia, menurut World Economic Forum, 2007-2008, berada di level 54 dari 131 negara. Jauh di bawah peringkat daya saing Malaysia di urutan ke-21 dan Singapura pada urutan ke-7. Pendidikan formal penting. Tapi, jangan sampai kita terjebak ada formalitas pendidikan, yang memicu tindak curang mencontek, perjokian dalam ujian, atau pemalsuan ijazah


Fokus demi sebuah pengakuan akademik. Yang paling mengenaskan, sindroma balas dendam atas mahalnya biaya pendidikan menjadi epidemi: setelah tamat sekolah dan bekerja,

“Kampus Rakyat”. Pasalnya, PTN paling favorit ini sejak 2000 berubah statusnya menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) berdasarkan PP No. 60/1999 dan PP No. 61/1999.

Peran sekolah atau pendidikan formal lebih banyak membuat masyarakat hanya mengagumi ijazah atau sertifikat ketimbang kemampuan nyata peserta didik dalam berkarya dan meningkatkan kualitas hidupnya yang menjadi target utama adalah mengejar break event point. Ingatlah kata pakar pendidikan alternatif terkemuka seperti Ivan Illich dan Paulo Freire. Mereka menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah pembebasan manusia. Bukan saja pembebasan dari kebodohan, tapi juga pembebasan manusia dari kemiskinan dan kemelaratan, pembebasan dari penindasan dan rasa takut. Lewat bukunya, Deschooling Society, 1971, Ivan Ilich melontarkan koreksinya terhadap peran sekolah atau pendidikan formal yang dinilainya lebih banyak membuat masyarakat hanya mengagumi ijazah atau sertifikat ketimbang kemampuan nyata seseorang dalam berkarya dan meningkatkan kualitas hidupnya. Kehebatan sekolah telah menjadi mitos yang menancapkan pandangan seolah-olah semakin banyak mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, semakin pintar anak didik. Pedagog asal Austria itu mengkritik keras pendidikan formal yang dinilainya hanya menekankan pengetahuan dan keterampilan tanpa memperhatikan aspek kejiwaan dan spiritualitas. Ia mengimbau masyarakat melakukan revolusi budaya untuk mengkaji kembali mitos pendidikan formal. Seakan-akan tanpa sekolah orang tidak akan berhasil dalam hidup dan meraih prestasi tinggi di bidangnya. Komersialisasi Pendidikan Akibatnya, klaim itu menjustifikasi komersialisasi pendidikan. Sebagai contoh, UGM, UI, ITB, dan IPB, kini tidak lagi pantas disebut

3

Perubahan fundamen itu kelak akan merubah mereka menjadi perusahaan jasa pendidikan murni dengan payung Badan Hukum Pendidikan (BHP) berdasarkan UU Sisdiknas No 20/2003 pasal 53 ayat 4. Edward Sallis, dalam bukunya Total Quality Manajement in Education, membeberkan bagaimana para pengambil kebijakan dan pelaksana pendidikan komersial dipaksa menjalankan sekolah seperti menjalankan manajemen perusahaan berorientasi bisnis. Di antaranya dengan mengundang kaum kapitalis untuk merasuki kampus. Maka, lihatlah, IPB tak sungkan lagi mengubah sebagian lahannya menjadi pusat perbelanjaan Botani

Square, yang sering diplesetkan sebagai “Boker”. UGM pun mulai menerbitkan surat saham pemilikan kampus, sebagaimana Indonesia menerbitkan SUN dan ORI. Misi Pembebasan Otokritik keras juga dilontarkan Paulo Freire, pedagog asal Brasil, lewat buku Pedagogy of the Oppressed. Sama seperti Ilich, bagi Paulo Freire pendidikan harus membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan, juga dari penindasan dan rasa takut serta keterasingan spiritual. Dalam buku Pembebasan Kaum Tertindas itu Paulo Freire menawarkan gagasan conscientizacao atau consciousness raising, yakni proses penyadaran masyarakat terhadap realitas sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi. Lebih luas dari itu, conscientizacao adalah proses penyadaran setiap anak didik terhadap eksistensinya sebagai manusia, tujuan hidup, dari mana dia berasal, dan ke mana ia akan kembali. Itulah yang dalam sistem pendidikan Islam disebut ’uqdatul qubra, yakni tiga pertanyaan pokok yang akan menentukan kualitas hidup manusia di dunia dan akhirat. Islam mengajarkan sejak dini kepada para pembelajar, bahwa manusia diciptakan dari tanah lalu berbiak secara biologis. Tidaklah manusia diciptakan kecuali untuk beribadah, baik ibadah ritual maupun sosial. Dan kelak di akhirat manusia akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama di dunia. [aya hasna]

FOTO: 1. Anak-anak korban tsunami Aceh berangkat sekolah ke sekolah darurat. Foto: istimewa 2. Generasi punk. Sempitnya lapangan pekerjaan membuat banyak generasi muda memilih cara hidup seperti pemuda yang tertidur di bangku pinggir jalan di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Foto: jw. 3. Sebuah SD Negeri darurat dibuat warga sebuah desa di Jasinga, Jawa Barat. SD darurat itu kini sudah roboh dihajar angin beliung. Foto: jw. Jalan Lingkar Masa Depan

5


Intermezo

Jalan Lingkar Menuju Masa Depan Oleh: Agus Budiono*) SESEORANG menelpon saya pada suatu sore yang sibuk. Bapak di seberang tidak mau menyebutkan identitasnya, tapi pembicaraan kami memakan waktu hampir satu jam lebih. Intinya, beliau sewot setelah membaca “laporan keuangan” di newsletter kami. “Kenapa dana yang disalurkan untuk mustahik sedikit? Mengapa lebih banyak digunakan membiayai program? Programprogram itu emang asnaf-nya apaan sih?!” kecam beliau ketus. 8 Asnaf Mustahik Donatur yang dimuliakan Allah, sampai detik ini, metode penyaluran dana zakat masih debatable. Ada pihak yang menyatakan zakat harus disalurkan langsung secara terputus (karitas) kepada 8 asnaf mustahik, namun ada juga yang lebih menekankan melalui metode pemberdayaan masyarakat (empowerment/produktif). Yang umum dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat, kedua-duanya dilaksanakan. Al Azhar Peduli Ummat juga memilih jalan tengah. Melalui “Divisi Layanan Mustahik”, dana zakat disalurkan kepada delapan asnaf secara langsung. Mereka datang, menyampaikan kebutuhan, lalu kami beri dana zakat setelah dianalisis besaran kebutuhan yang diajukan. Ada fakir/miskin yang tidak mampu bayar kontrakan, bayar biaya sekolah anak, dan sebagainya. Ada juga ibnu sabil yang kecopetan datang membawa surat keterangan dari kepolisian, ada gharimin yang pasrah bongkokan tidak mampu bayar utang, dan seterusnya. Delapan asnaf mustahik terlayani di divisi ini, kecuali amilin. Yang ke dua, dana ZIS yang dipercayakan kepada kami disalurkan melalui berbagai program public service. Sasarannya sama saja (8 asnaf),

namun kemasannya yang beda. Bernaung di bawah YPI Al Azhar, lembaga kami memiliki dua kompetensi dasar untuk menjalankan program yang sesuai dengan visi dan misi YPI Al Azhar sebagai lembaga pendidikan dan dakwah. Kalau Anda cermati program-program Al Azhar Peduli Ummat, semuanya memiliki benang merah pada dua core competention itu. Nah, yang sangat menonjol dan menjadi pilihan utama metode penyaluran ZIS adalah program berbasis pendidikan. Pilihan ini tidak sembarangan. Lingkaran Setan Kemiskinan Asnaf fakir/miskin secara fiqh menempati prioritas utama mustahik (orang yang berhak menerima dana) zakat. Tidak salah memberikan dana ZIS kepada dua kelompok ini secara langsung (karitas) untuk mencukupi kebutuhan mereka. Tetapi, jumlah orang miskin di negeri kita luar biasa besar, tidak sebanding dengan dana ZIS yang dikelola Lembaga-lembaga Amil Zakat. Memberikan dana ZIS secara langsung ibarat menggarami lautan. Bayangkan, pemerintah saja yang mengalokasikan dana puluhan triliun untuk program pengentasan kemiskinan seakan tidak berdaya mengerem laju jumlah warga miskin yang tahun demi tahun terus merambat naik. Faktornya kompleks. Oleh sebab itu, jalan melingkar harus diambil oleh Lembaga Amil Zakat, termasuk Al Azhar Peduli Ummat, yakni melalui program-program pemberdayaan masyarakat. Kami menitikberatkan pada bantuan untuk dunia pendidikan melalui program semacam beasiswa, benah madrasah, dan sebagainya. Mengapa? Menurut ekonom (alm.) M. Sadli, gegap gempita pembangunan *)

selama 30 tahun di masa kepemimpinan Mantan Presiden Soeharto (alm.) telah mengubah wajah Indonesia yang melarat menjadi salah satu Macan Asia. Tetapi Indonesia tetap negara paling miskin di antara negaranegara itu (Asia) karena dasar permulaan (pembangunan) nya paling rendah. Selain starting base pembagunan yang sangat rendah, masih menurut M. Sadli, kualitas sumber daya manusia (SDM) serta tingkat pendidikan jauh terbelakang karena sejak kemerdekaan tidak banyak dikucurkan dana dan daya pada sektor yang sangat strategis ini. (Tempo, 10 Februari 2008) Kemiskinan dan kualitas pendidikan ibarat lingkaran setan. Keduanya harus diatasi secara serempak dan komprehensif. Tidak bisa parsial. Pun, dengan alokasi APBN pemerintah sekarang yang hanya 20% untuk sektor pendidikan (itupun implementasinya dicicil), sangat berat untuk meningkatkan kualitas SDM melalui sektor pendidikan. Bahkan, praktik-praktik komersialisasi pendidikan yang belakangan marak dan turut memelorotkan mutu pendidikan nasional seolah tidak bisa dicegah (baca: Potret Buram di Taman Pendidikan). Nah, dalam kondisi seperti itu, segenap elemen masyarakat memang dituntut cancut taliwondo, menyingsingkan lengan untuk berperan mendidik generasi muda bangsa. Lembaga Amil Zakat yang dewasa ini tumbuh subur dan menempati posisi strategis pengelolaan dana masyarakat (ZIS), ditakdirkan sejarah untuk mengambil peran nyata di sektor ini. Dalam konteks penyaluran zakat, ini memang jalan melingkar, tetapi ujung-ujungnya, penerima manfaat adalah delapan asnaf, terutama kaum fakir/miskin. [A]

GM Program/Pendayagunaan Al Azhar Peduli Ummat


Sketsa

Yang Merajut Mimpi di Jalan Sunyi KEPADA siapakah masa depan bangsa dititipkan? Walau tidak banyak, masih ada orang-orang yang mensedekahkan diri merajutkan masa depan mereka. Tanpa gembar-gembor, para pahlawan yang tidak menginginkan tanda jasa itu mengabdikan diri untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Al Azhar Peduli Ummat menyambungkan tali silaturahim mereka dengan Anda.

Yayasan Kebon Maen Bocah

Ustadzah Mendadak Kepala Sekolah “LAH, kok begini jadinya?”

gumam Nurbaiti Rohmah (38) suatu siang, saat berkutat dengan buku induk data murid Yayasan Kebon Maen Bocah. “Ternyata bocah kita sudah 152 orang, ya,” katanya sambil menerawang. Yayasan Kebon Maen Bocah yang menaungi kegiatan Balistung (baca-tulis-hitung) “Bocah Takwa”, TPQ “Al-Azmy”, Sanggar AnakRemaja “Rebanaku”, Majlis Taklim “Al-Azmy”, dan BMT “Kita Sodara”, dalam bahasa Nurbaiti, semula hanyalah “iseng”. Wadah pendidikan rakyat ini dirintis sejak tahun 2000 di RT 02 RW 05 Dusun Pondokmiri, Desa Rawa Kalong, Kec Gunung Sindur, Kab Bogor, Jawa Barat. Alkisah, delapan tahun silam tak lama setelah menetap di Kampung Pondokmiri, Nurbaiti mengajak 4 bocah mengaji di rumahnya. “Daripada main melulu,” katanya. Semula, teras rumah yang sempit masih cukup untuk mengaji. Tapi, seiring bertambahnya “santri”, teras tak lagi mencukupi sehingga mereka pun masuk ke ruang tamu. Belakangan, sebagian ruang kamar pun dipakai. Pada 2005, dengan dana swadaya dan bantuan Yayasan Dompet Dhuafa sebesar Rp 3,5 juta, Nurbaiti mendirikan sebuah saung terbuka ukuran 6 x 4 meter di belakang rumahnya. Waktu itu jumlah murid Balistung dan TPQ

sudah sekitar 70 anak, dengan guru 4 orang. Ketika anak-anak semakin banyak, sebagian rumah keluarga Nurbaiti kembali difungsikan jadi kelas. Hingga kemudian, pada 2007, datang bantuan senilai Rp 18 juta dari Baperohis Telkom Kandatel Jaksel melalui Al Azhar Peduli Ummat. Bantuan diwujudkan menjadi seuah lokal semipermanen untuk kelas dan ruang ruang guru, serta beberapa unit alat permainan edukatif. Kini, bocah-bocah Kebon Maen yang merupakan generasi ketiga, berjumlah 151 anak. Mereka diasuh 10 Ustadzah, yang berasal dari kampung setempat. Umumnya,

para murid dari keluarga dhuafa. Bapaknya rata-rata tukang ojek, sedang ibunya buruh nyuci di komplek Permata Pamulang Tangerang. “Saya tiba-tiba harus jadi kepala sekolah,” kata ibu tiga anak ini sambil tersenyum geli. Di bidang pendidikan, keluaran Fakultas Pertanian IPB ini mengaku otodidak, di samping mewarisi darah guru dari bapaknya yang mantan kepala sekolah dan penilik SMPSMA Jakarta Barat. Selain masih memegang kelas Balistung, Nurbaiti juga harus menjadi “ustadzah” bagi Majelis Taklim As Syafiiyah dan Al Azmy. Belasan wali santri pun belajar baca Jalan Lingkar Masa Depan

7


Sketsa Qur’an padanya. Sejumlah orang seperti kepala sekolah dan aktivis LSM pendidikan, pernah menyarankan agar Nurbaiti mengajukan bantuan ke dinas pendidikan atau agama. Tapi, Nurbaiti sejauh ini masih ogah. “Kami merasa belum pantas lah mengajukan sumbangan. Kalaupun ada sumbangan, itu juga bukan karena kami ngotot ingin mendapatkannya,” katanya merendah. Ia merasa lebih sreg dengan bantuan donatur pribadi kawan suaminya dan sumbangan PPPA Daarul Qur’an, yang relatif cukup untuk menghonori pengajar. Diakui warga, kemampuan anak-anak mereka meningkat tajam

dengan mengaji atau sekolah di Kebon Maen Bocah. “Belajar sebulan, eh bocah saya sudah bisa baca,” kata Ketua RW 05, Raman Takoi. Ibu-ibu juga bangga, anakanaknya yang alumnus KMB mencatat prestasi bagus di SD-nya. Kunci sukses mengajar, kata Nurbaiti, “harus mengajar dengan

akal dan hati,” katanya mengutip pembina Yayasan, Teguh Yuwono. Anak-anak, katanya lagi, harus dianggap dan diperlakukan nyaris seperti anak sendiri. Pendekatannya kekeluargaan, tapi dalam transformasi ilmu tetap pada acuan disipin ilmu. [pane fahri]

FOTO: 1. Nurbaiti sedang mengajar muridmuridnya di teras belakang rumah. Foto: jw. 2. Wakil Direktur PT. Telkom Kandatel Jakarta Selatan menerima karangan bunga “Ang grek Gunung Sindur” saat meninjau pembangunan kelas baru Balistung Bocah Taqwa dari dana zakat karyawan yang dihimpun Baperohis Telkom. Foto: jw.

TPA Al-Muhajirin Bantar Gebang

Mendidik

Anak-anak Sampah SENIN, 15 Desember selepas isya. Tiga orang pria terlihat duduk-duduk di teras sebuah rumah sederhana. Dua orang di antaranya sudah paruh baya. Sedang satunya masih tampak muda. Sepertinya mereka tengah memikirkan sesuatu yang amat serius. “Ada tiga warga yang kena tetanus. Mereka butuh biaya pengobatan. Kalau tidak segera diobati mereka tidak bisa bekerja,” ujar lelaki paling tua dengan nada galau. Lawan bicaranya mencoba menawarkan solusi, tetapi tampaknya tak cukup memuaskan hati majelis kecil itu. Yang sedang menjadi topik pembicaraan adalah kecelakaan kecil yang “biasa” terjadi ketika warga Kampung Ciketing Udik, Bekasi tengah bekerja. “Bisa kena beling, tersayat logam, atau benda tajam lainnya. Walau luka kecil, tetapi tetanus sangat gampang terjadi, maklum mereka bekerja di tumpukan sampah busuk,” terang Rohendi, lelaki paling muda dari ketiga orang tadi. Ya, Ciketing Udik adalah nama sebuah kampung yang dihuni 150 an KK yang berprofesi sebagai pemulung. Kampung itu berada di 8

foto: jw

Jalan Lingkar Masa Depan


Sketsa

Al Muhajirin Adalah Rohendi, pengurus mushola Al Muhajirin yang terpanggil jiwanya untuk membekali anak-anak sampah itu dengan pendidikan. Al Muhajirin adalah sebuah mushola kecil yang dibangun dengan kayu dan triplek bekas di sebuah lahan kosong milik negara. Siang hari, tempat ibadah itu senyap. Ketika malam menjelang, barulah orang berdatangan. Bukan untuk beribadah, tetapi untuk berbaring lelap setelah seharian kelelahan mengais sampah. Banyak di antara mereka

masih berusia belia. Melihat pemandangan seperti itu Rohendi yang ditugaskan sebuah yayasan merasa terpanggil. Bersama Ida Umi Kultsum, sang istri, Hendi bertekat menegakkan syiar. Hendi pun melepas pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih di yayasan dengan gaji 100 ribu perbulan. Ia membulatkan tekad mengabdikan hidup untuk mendidik anakanak Ciketing Udik. “Pertama datang ke tempat ini saya tidak bisa makan selama satu minggu karena bau sampah,” akunya. Kelahiran Rangkas Bitung, 30 Juli 1972 itu pun memulai merintis sebuah TPA di Al Muhajirin pada 1997. Usahanya nyaris siasia. Dari lima puluh rumah yang didatangi hanya tiga orang yang bersedia ikut pengajian. “Mereka lebih suka memulung agar dapat uang untuk mennyambung hidup daripada datang ke TPA,” kenang pria lulusan sebuah SMA di Rangkas Bitung ini. Bukan sekadar keengganan yang harus dihadapi. Hendi dianggap sok ikut campur urusan orang. Ketika perlahan anak-anak yang datang ke TPA mulai banyak, teror pun datang. “Tempat pengajian kadang dilempari batu,” kenang Hendi getun. Toh suami istri itu tidak kendur. Dengan kesabaran mereka tetap melanjutkan upaya mulia itu hingga sekarang telah berjalan sepuluh tahun. Kini, TPA al-Muhajirin sudah memiliki gedung sendiri. Terpisah dari mushola. Santrinya mencapai 250 orang. Materi pendidikan pun lengkap; Pendidikan Usia Dini, TK, Program Buta Aksara khusus untuk kaum ibu, Majelis Taklim, dan sebagainya. Bahkan, untuk tahun 2009 sedang dirancang program Kejar Paket A,B,C serta Panti Asuhan. Hebatnya, semua itu gratis. foto: jw

lahan liar milik Pemda Bekasi yang terserak di sela-sela gunung-gunung sampah. Tepat, Ciketing Udik memang berada di wilayah Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Di tengah udara busuk dan sergapan jutaan lalat, tumpukan limbah rumahtangga, dan segala sesuatu yang dibuang jauh-jauh dari wilayah domestik penduduk Jakarta, warga Ciketing Udik bertahan hidup. “Kalau rajin nyari, seminggu bisa dapat Rp. 150.000 sampai Rp. 200.000,” kata Rohendi. Tak perlu dikisahkan problematika hidup yang harus mereka hadapi. Di tengah masyarakat urban yang terpinggirkan, tatanan sosial yang ideal menjadi absurd. Penyakit masyarakat semacam judi dan prostitusi merajalela. Jelas, menjadi keluarga pemulung di Bantar Gebang bukanlah sebuah kehidupan yang sengaja dipilih. “Kalau bisa, anak-anak ya jangan nyari, mereka harus sekolah supaya tidak jadi pemulung seperti orangtuanya,” ujar seorang pemulung asal Pemalang dengan nada murung. Tapi himpitan hidup tak memberi keleluasaan bagi warga Ciketing Udik untuk menyekolahkan anakanak mereka. Bahkan pendidikan paling dasar sekalipun, merupakan kemewahan di sana.

Benah Madrasah Ketika merilis program Benah Rumah

Jalan Lingkar Masa Depan

9


Sketsa Ibadah dan Benah Madrasah pada 2006, Al Azhar Peduli Ummat bertemu Rohendi. Sebuah mushola kecil tapi layak segera menjadi hadiah istimewa bagi warga Ciketing Udik. Lalu, TPA Al Muhajirin pun menjadi sasaran program. “Kami hidup dari donasi. Alhamdulillah, Al Azhar Peduli Ummat menjadi satu-satunya lembaga yang secara kontinyu membantu keberlangsungan TPA,” ucap Umi Kultsum. Duabelas orang kini berada di barisan pejuang pendidikan sebagai guru TPA Al Muhajirin. “Mereka adalah warga sekitar yang mau mengajar dengan honor sekadarnya saja,” ujar Ida lirih. Dengan pola relawan, soal kualitas menjadi terkes-

Rohendi menunjukkan berkarungkarung kantung plastik hasil pulungan kelompoknya yang teronggok di sebelah instalasi pencucuian plastik. Foto: jw.

ampingkan. Keinginan untuk mendatangkan guru profesional terbentur kendala dana. “Kami tidak kuat membayar mereka. Kalau cuma digaji 70 ribu perbulan, mereka pasti tidak mau.” Unit Usaha Produktif Bergelut dengan dunia sampah, Rohendi melihat potensi ekonomi yang tidak hanya berguna bagi keberlangsungan hidup Al Muhajirin, tetapi juga membantu

warga pemulung. “Kami membuat kelompok, memulung dan mengolah sampah secara mandiri. Kalau tergantung pada boss, susah mendapat keuntungan lebih soalnya tidak bisa mengontrol harga. Tetapi permodalan dan manajemen masih menjadi kendala. Mudah-mudahan, bekerjasama dengan Al Azhar Peduli Ummat cita-cita mendirikan Unit Usaha Produktif itu segera kesampaian.” Harapan Rohendi, semoga tidak terbenam dalam gunung sampah Bantar Gebang. [must]


Dr. Arief Rahman, Praktisi Pendidikan

Harus Ada Persatauan antarstake holders DALAM budaya masyarakat

timur, khususnya Indonesia, sikap gotong royong selalu menjadi ciri yang tak bisa dihilangkan begitu saja. Fenomena seperti itu bisa kita lihat di mana-mana dalam berbagai macam kepentingan di setiap ranah kehidupan. Termasuk di dalam masyarakat yang berada di kawasan kumuh sekalipun. Selalu saja ada manusia-manusia pilihan yang tergerak untuk membebaskan orang-orang sekelilingnya dari keterpurukan dan kebodohan. Ini merupakan fakta natural yang selalu muncul di mana saja. Perjuangan orang-orang yang berada di kawasan marginal seperti kawasan pemulung di Bantar Gebang atau tempat-tempat lainnya memang patut mendapatkan apresiasi. Mereka adalah orang-orang pilihan yang jiwanya merasa terusik melihat pemandangan yang tidak sedap dipandang mata, susah tidur melihat suramnya masa depan anak bangsa... Acapkali bahkan mereka tak segan-segan mengorbankan apa saja yang dimiliki demi mewujudkan perubahan yang dicita-citakan. Umumnya memang sedikit sekali orang yang memiliki minat seperti itu. Meski demikian semangat saja tidak cukup melainkan juga harus dibarengi dengan ilmu, kerjasama, dan modal yang harus berjalan beriringan.

Di sinilah pentingnya peran serta support pelbagai stakeholders yang mesti bahu membahu mewujudkan cita-cita bersama. Orangtua, masyarakat, Pemerintah dari tingkat yang paling bawah hingga paling atas, pihak swasta mesti memiliki rasa memiliki yang sama memikul mandat sosial. Sebab masa depan bangsa ini bukan saja milik satu dua orang atau genarasi yang sekarang tengah berkecimpung tetapi akan ditentukan oleh anakanak yang masih belia. Jika tidak ada kesadaran dari kita-kita, maka ini akan menjadi dosa bersama. Akan halnya perhatian Pemerintah yang terlihat kurang memiliki peran harus dicari dulu akar permasalahannya. Mesti ada kajian secara khusus untuk menarik benag kesimpulan. Bisa saja karena banyak oknum yang bermain. Di manapun, pemerintahan tak akan tega menelantarkan generasi masa depan yang akan meneruskan estafet keberlangsungan sebuah bangsa. Pemerintah memang harus diingatkan. Kepada mereka yang memiliki kemauan keras mendidik anak bangsa, kita patut memberikan apresiasi tersendiri. Yang dilakukan mereka bukan saja mulia di hadapan manusia tetapi juga memiliki poin yang tak ternilai di hadapan Allah SWT karena menjadi kategori ibadah sosial. [A]


Sketsa

SEAKAN ingin menghapus stigma jebloknya kualitas pendidikan, sekolah-sekolah yang menerapkan standar kompetensi tinggi bermunculan bak jamur di musim hujan. Sebut saja jaringan sekolah Al Azhar yang merata di semua strata dari TK sampai Perguruan Tinggi. Juga, sekolah-sekolah full dan semi boarding yang mengasramakan anak didik dan menempa mereka dengan ketat. Standar mutunya dari unggulan, percontohan, sampai yang berstandar internasional. Tetapi gegap gempita itu nyaris tak terdengar sampai ke masyarakat bawah. Apa boleh buat, sekolah elit memang hanya untuk kalangan elit. Bidakara Informatics and Management School mematahkan kredo itu.

12

Jalan Lingkar Masa Depan

Bidakara Informatics and Management School (BIMS)

Tanggungjawab Menghapus Senjang SUKA CITA dan harapan

terbayang jelas di wajah gadis mungil berjilbab itu. Ia baru saja lulus dari SMA 3 Jakarta, cita-cita pun digantung setinggi bintang. “Aku ingin kuliah, menjadi sarjana,� bisik Siti Karima (18) dengan binar bahagia di mata. Tetapi kebahagiaan itu singgah hanya sesaat. Sang ayah, Zulmeidir, yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan di Bekasi terkena PHK. Padahal, selama ini dialah yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Zul menganggur, perekonomian mereka limbung, dan Rima harus mengandaskan mimpinya menjadi sarjana. Rima anak cerdas. Ia ingin mendalami dunia teknologi informasi (IT) sebagai bekal menata kehidupannya kelak. Selain itu, “Kalau nanti sudah berhasil, aku bisa membantu menopang kehidupan keluarga dengan cara

membantu pendidikan tiga adikku.� Sejak berhenti kerja, Zulmeidir hanya bekerja serabutan. Karomah, sang ibu, pun harus turun tangan mengerjakan apa saja demi membantu suaminya. Dengan kondisi seperti itu, kuliah adalah hal yang mustahil bagi Rima. Ia mulai berpikir mencari pekerjaan. Suatu pagi, remaja kelahiran Jakarta, 4 Pebruari 1989 ini mendatangi lapak koran yang tak jauh dari rumahnya di bilangan Jatibening, Bekasi. Sejak SMP Rima sudah getol membaca semua informasi mengenai dunia IT. Ia rajin mengikuti perkembangan informasi terkini. Ketika sedang membolakbalik harian umum Republika, matanya menumbuk sebuah berita kecil yang membuatnya berdebardebar. Rima membaca dengan teliti sebuah kolom yang memuat informasi beasiswa studi sarjana IT dari Al-Azhar Peduli Ummat bekerja sama dengan Bidakara Informatics

foto: jw


Sketsa Nanezha Putri Wardini

Marketing Coordinator BIMS

Mereka Tanggungjawab Kami

& Management School (BIMS). Rima tergopoh membawa lembaran koran itu pulang ke rumah. “Kamu coba saja, siapa tahu berhasil,” saran Karomah. Rima menghubungi Al Azhar Peduli Ummat. Mengikuti prosedur untuk mendapat beasiswa, lalu mendapat panggilan wawancara. Rima tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya manakala dirinya dinyatakan sebagai salah satu peserta yang lulus bersama dengan dua puluh orang lainnya. Ia makin surprise ketika mendapat kesempatan melihat bakal kampus tempatnya menimba ilmu. “Wah, megah sekali..,” batin Rima ketika berkunjung ke BIMS yang berada di komplek Hotel Bidakara, Jl. Gatoto Subroto. Kegembiraannya dilampiaskan melalui sujud syukur. “Orang pinggiran seperti saya tak pernah menyangka bisa kuliah di tempat mewah seperti ini. Orangtua juga ikut senang,” tandasnya dengan mata berbinar-binar. Rima satu dari duapuluh peraih beasiswa sarjana Al Azhar Peduli Ummat tahun 2008. Tahun

Selain mendalami ilmu-ilmu IT, mahasiswa BIMS dibekali berbagai macam pelatihan antara lain Bahasa Inggris, motivasi, dan training leadership yang acap dilakukan dengan metode out bond. “Beberapa hari lalu kami adakan out bond di kawasan Puncak,” kata perempuan lulusan Perth University, Australia. Walau sama sekali tidak dipungut biaya, semua fasilitas itu tidak benar-benar gratis. Bukannya harus bayar ini itu, tetapi mahasiswa yang tidak bisa mencapai indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal, tidak mendapat perpanjangan beasiswa. “Ini supaya mereka merasa selalu terpacu,” tutup Nesha. [must]

sebelumnya, 8 lulusan SLTA beroleh kesempatan serupa. “Tahun lalu BIMS memberikan beasiswa penuh, kami hanya menyaring dan memberikan rekomendasi anak-anak dhuafa yang layak mendapat beasiswa,” ujar Agus Budiono, GM Program/ Pendayagunaan Al Azhar Peduli Ummat. Agus melanjutkan, tahun ini skema berubah. BIMS memberikan paruh beasiswa, sedangkan sisa biaya ditanggung oleh Al Azhar Peduli Ummat. Agus pun langsung menawarkan kepada Donatur Al Azhar Peduli Ummat untuk berpartisipasi dalam program itu. “Alhamdulillah, banyak Donatur yang bersedia menjadi orangtua asuh. Mudah-mudahan tanggungjawab ini menjadi sarana menghilangkan kesenjangan kesempatan belajar bagi dhuafa,” pungkas Agus. [must]

foto: jw

foto: must

Sejak berdiri pada 2007, BIMS memang sudah memiliki komitmen membuat program khusus perkuliahan bagi anak-anak yang kurang mampu. Walau mensyaratkan prestasi akademis, “Kami lebih menitik beratkan pada mereka yang punya kemauan kuat meraih pendidikan tinggi,” ujar Marketing Coordinator BIMS yang akrab disapa Nesha. Visi serupa di Al-Azhar Peduli Ummat membuat kolaborasi terjadi. “Program ini rencananya berlangsung kontinyu. Karena bagi kami, program beasiswa ini merupakan implementasi Corporate Social Responcibiliy (CSR). Inilah wujud kepedulian terhadap masa depan anak bangsa,” ujar Nesha renyah.

Jalan Lingkar Masa Depan

13


Kilas Program

FIF Resmikan Mushola Al Azhar

K

inerja bisnis PT Federal International Finance (FIF) selama 19 tahun sebagai salah satu anak perusahaan Astra International, merupakan fenomena tersendiri. Hal ini diakui oleh Doni Prajudi, Corporate ESR PT Federal International Finance tidak lepas dari dukungan dan peran serta seluruh pemangku kepentingan FIF, yaitu karyawan, masyarakat, konsumen, supplier, pemerintah, lingkungan, dan pemegang saham. Kesinambungan bisnis tersebut dapat terjaga, dengan menjaga keseimbangan antara kinerja bisnis, lingkungan, dan sosial yang sejalan dengan Catur Dharma Grup Astra, yaitu “Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara�. Hal itu juga sejalan dengan misi FIF, yaitu memenuhi harapan para pemangku kepentingan , yang diimplementasikan dalam kegiatan tanggung jawab sosial, pengelolaan lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja. Di ranah sosial, FIF mengimplementasikannya dengan berbagai

program Corporate Social Responsibility (CSR) yang ditekankan pada bidang pendidikan. Wujudnya antara lain beasiswa, orang tua asuh, renovasi kelas sekolah, lokakarya guru, kongres

guru, pembentukan profesionalisme guru. CSR juga diwujudkan dalam program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Income Generating Activities), seperti pengelolaan pupuk, usaha menjahit, usaha cuci motor, usaha bakso, dan sebagainya. CSR FIF juga merambah bidang kesehatan,

dan lingkungan hidup. Tak berhenti di situ, bersinergi dengan Al-Azhar Peduli Ummat, FIF menyalurkan dana sosial FIF Syariah melalui program Benah Madrasah, Rumah Gemilang Indonesia, dan Mushola for Sale. Dengan dana Rp. 355 juta, empat madrasah di Kalimantan terenovasi dan dua mushola cantik berdiri di tengah masyarakat dhuaf di Bojonegoro, Jawa Timur dan Klaten, Jawa Tengah. Secara simbolis, program yang telah rampung dikerjakan diresmikan di Mushola Al Azhar yang dibangun dengan dana Rp. 75 juta di desa Muneng, Klaten pada 10 November 2008. Kehadiran mushola tersebut sudah ditunggu-tunggu oleh warga Muneng yang rata-rata petani miskin sebagaimana diceritakan oleh Pak RW dan Pak Lurah saat memberi sambutan seremonial dan antusiasnya masyarakat desa yang hadir dalam acara seremonial tersebut. Doni berharap, implementasi CSR FIF Syariah berguna bagi Syiar Islam. [A]


Pembaca yang dirahmati Allah, dalam rangka peningkatan kapasitas dan kualitas layanan, Al Azhar Peduli Ummat meminta kesediaan Anda mengikuti angket kecil yang tersaji melalui kuosioner berikut. Partisipasi Anda mengisi dan mem-faximile kuosioner ini ke nomor fax Divisi Humas (021 7204733) Al Azhar Peduli Ummat akan sangat membantu kami dalam meningkatkan kinerja lembaga. Jazaakumullah khairan katsira.


Laporan Aktivitas Bulanan dan Daftar Donatur ZAKAT:

Laporan Aktivitas Bulan Oktober Penerimaan ZIS No 1 2 3 4

Akad: Saldo Dana Per 30 September 2008 Zakat: a. Zakat Maal b. Zakat Fitrah Infaq: a. Infak khusus b. Infak umum Khusus: a. Bagi Hasil Bank b. Kemanusiaan c. Fidyah d. Wakaf e. Penerimaan Lain-Lain f. Penerimaan utang/pelunasan piutang g. Dana non Syar’i

Jumlah (Rp) 1.840.538.829

Total Penerimaan Okt 2008 Saldo Penerimaan ZIS per Okt 2008:

257.715.537 2.098.254.367

199.406.987 0 27.300.000 21.751.109 317.639 50.000 3.572.000 200.000 810.000 3.700.000 607.802

Pendayagunaan ZIS No 1 2 3 4

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Program: Layanan Mustahik Sahabat Mustahik Pemberdayaan: a. Pemberdayaan Pengrajin/Pdg Kecil b. Pemberdayaan Pesantren Pendidikan dan Dakwah: a. Beastudi Yatim Dhuafa Berprestasi b. Pembinaan Rohani Pasien dan LP c. Penyaluran Dakwah d. Beastudi Pendidikan e. Bantuan Umum Pendidikan & Dakwah Layanan Jenazah Gratis: a. Akomodasi Layanan dan Sosialisasi Al Azhar Peduli Kesehatan: a. Poliklinik Umum dan Gigi Gratis Rumah Gemilang Indonesia: a. Pembangunan RGI Al Azhar Peduli Muslim Nias: a. Rehabilitasi Rumah Ibadah & dakwah Penyertaan Investasi Penyaluran Akikah Penyaluran Fidyah Qurban by Request Sosialisasi ZISWAF Pelunasan Utang (untuk RGI) Sub Total Biaya Program: Operasional dan ADM Lembaga: Amil Operasional Administrasi Perbankan Penguatan Jaringan dan Manajemen Sub Total Biaya Operasional & ADM:

Jumlah (Rp) 42.886.900 2.259.000

Total Pendayagunaan Oktober 2008: Saldo Per 31 Oktober 2008

620.356.643 1.477.897.724

5.000.000 10.077.100 4.600.000 6.000.000 10.147.500 21.770.000 3.700.000 7.088.000 20.000.000 100.000.000 5.000.000 100.000.000 2.300.000 2.940.000 5.863.000 66.276.400 100.000.000 515.907.900 42.457.100 48.727.970 1.041.173 12.222.500 104.448.743

Daftar Donatur Periode Oktober 2008 ZAKAT: No. 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046

Donatur Donasi (Rp) Ika Indah L, BSM 50.000 Agus Muji, BSM 2.900 Karyawan, BSM 1.585.486 Hamba Allah, BSM 100.000 Alfie Tjahjo P, BCA 200.000 50.000 Anton Sujarwo, BCA 1.000.000 Ganefi Suherlina, BCA Rama, BCA 5.000.000 Hamba Allah, BCA 300.000 Kradita, BCA 2.500.000 3.000.000 Aris Kumara, BCA Bambang Widjanarko, BCA 1.500.000 Zainul Fuad H, BCA 1.000.000

No. 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059

Donatur Fauziyah Mansur, BCA Johan Y.N, BCA Rina Utami, BCA Kel. Sugiharjo, BCA RR Sri Widhyanti, BCA Yusran Effendi, BCA Toni Cahyono, BCA Sapto Wiryadi, BCA Alfia Ashabur R, BCA R Malihan H, BCA Achmad Subandrio, BCA Dahlila, BCA Desiree S, BCA

Donasi (Rp) 3.000.000 60.000 1.100.000 1.000.000 250.000 420.000 50.000 100.000 100.000 25.000 2.000.000 160.000 150.000

No. 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139

Donatur Donasi (Rp) 90.000 Nandian S Syarief, BCA Endang Purwanty, BCA 250.000 Donna K & Christina I, BCA 160.000 Tuti Suciati, BCA 6.500.000 Wisnu Reza, BCA 900.000 Wisma Ethika N, BCA 2.000.000 Ari Alamsyah, BCA 96.000 Marisa Christina, BCA 12.500 Marisa Christina, BCA 12.500 M. Sigit Nugraha, BCA 3.999.990 Azmunandar, BCA 250.000 Muhamad Hasan, BCA 495.150 Purwo Priatno, BCA 200.000 Yudhi Abi T, BCA 100.000 Catharina Kusumori, BCA 300.000 Erikar Lebang, BCA 100.000 Della Mia K, BCA 120.000 Dolfie T.S, BCA 200.000 El Fajri H, BCA 1.500.000 Kel. Dimas Bagus P, BCA 90.000 Tony Indarto, BCA 1.000.000 Navrina, BCA 250.000 Fransisca Dewi S, BCA 100.000 Merlin F, BCA 400.000 Irke Silvani R, BCA 150.000 Gunawan, BCA 100.000 Herlita Haryono, BCA 75.000 Nelmy Siregar, BCA 125.000 Ivonny Hawari, BCA 1.000.000 Rina Muliati, BCA 50.000 Indriati Dewi H, BCA 50.000 Widyastrini O, BCA 100.000 Widodo, BCA 250.000 Kikin Triantoro, BCA 150.000 Andri Mursyid, BCA 535.000 Alivia Niralda, BCA 100.000 Sari Wulaningsih, BCA 2.000.000 Gurmilang, BCA 1.050.000 Laksmi L dan Lastio L, BCA 900.000 Faizal Mustafa, BCA 100.000 Hamdi Syarifudin, BCA 750.000 Sri Hadriastuti, BCA 100.000 Ristiana Sari, BCA 350.000 Riska, BCA 100.000 Ida Hafnia, BCA 100.000 Nuni Sulistiyah, BCA 20.000 Jefry Agus P, BCA 70.000 Diny Linawati, BCA 100.000 Agus BS, BCA 100.000 Irawaty, BCA 100.000 Hamba Allah, BCA 116.350 Hamba Allah, BCA 10.000.000 Fajar Irawan, BCA 1.000.000 Firsyan R, BCA 450.000 Sundari, BCA 40.000 Bukhori, BCA 110.000 Yapri Rizal, BCA 30.000 Bambang Resti I, BCA 40.882 H. Kurnia Amrullah, BCA 7.025.000 Indriani P, BCA 200.000 Hamba Allah, BCA 100.000 Badril Johan S, BCA 100.000 Arbi Wibowo, BCA 1.000.000 Savitri Ristiandin, BCA 50.000 Lila Asmita, BCA 2.500.000 Siti Fajar S, BCA 150.000 Lia Kusumawati, BCA 310.000 Hamba Allah, BCA 20.000 Ida Hafnia, BCA 100.000 Laksmi, BCA 1.000.000 Dyah Retno A, BCA 100.000 Kuntjoro, BCA 125.000 Hamba Allah, BCA 3.500.000 Lintang Herawati, BCA 66.666 Anggraini Dwi S, BCA 50.000 Febri Budiyanto, BCA 450.000 Prima Haripurwanti, BCA 350.000 Wiranjani Ade S, BCA 100.000 Saipul Bahri, BCA 500.000 Hamba Allah, BCA 500.000


Daftar Donatur ZAKAT: No. 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222

Donatur Muammar Yasser, BCA Wiranjani Ade S, BCA Hestiningsih F, BCA Hamba Allah, BCA Eni Tri L, BCA Kuntjoro, BCA Afly Yunizal Zainsty, BCA Catharina Kusumori, BCA Hamba Allah, BCA Citra Ambarsari P, BCA Tini Agustini, BCA Reviyanti P, BCA Hamba Allah, BCA Noviyanti I, BCA Jefry Agus P, BCA Maryani, BCA Indriani P, BCA Widjayanthie, BCA Eman Sulaiman, BCA Setiowati, BCA Misliyantih, BCA Krishnawati S, BCA Nurullita Utami, BCA Viera Agustya, BCA Amirudin HS, BCA Pradipta I, BCA Rizen Pinudya R, BCA Hj. Barkah M, BCA M. Ridwan, BCA Siti Rokhimah, BCA Ria Widijanti, BCA Diah Rina K, BCA Aditya Pradana, BCA Purwo Priatno, BCA Merlin Fainir, BCA Susilowati, BCA Susilowati, BCA R.M Cikajang, BCA Kodrat Mahatma, BCA Suwondo, BCA Hendra Reymon F, BCA Widodo, BCA Herdiani D, BCA Indriani P, BCA Deasy Maya P, BCA Alfie Tjahjo P, BCA Tiara Kemalasari, BCA Rendhita I, BCA Mahdayanti, BCA Lokesworo, BCA Phiokesworo, BCA Elevita Yuliati, BCA Herni Yusnita, BCA Rina Suarina, BCA Kurniawati H, BCA Ismail Ibrahim, BCA Eva Yulianti, BCA Ida Hafnia, BCA Ny. Yati Sariwati, BCA Trianto Irawan, BCA Fajar Irawan, BCA Hamba Allah, BCA Misliyantih, BCA Hamba Allah, BCA Ellsa Soeyono, BCA Meiko Tourista, BCA Nyak Riga M, BCA Erlies Erviena, BCA Rina Utami, BCA Dian Hadianti, BCA Ny. Titis Poernomo, BCA Fuad Dharmawan, BCA Gelby Arafat A, BCA Fanny Angelia, BCA Sartri Dania S, BCA Cassandra Adenan, BCA Adhi dan Rini, BCA Siti Faizah, BCA Asad Abdulkadir, BCA Arief Budiman, BCA Aditya Prabawa, BCA I Made Mahendra, BCA Jefry Agus P, BCA

Donasi (Rp) 50.000 25.000 20.000 100.000 50.000 250.000 465.000 300.000 580.000 1.000.000 500.000 250.000 200.000 100.000 100.000 100.000 200.000 200.000 500.000 2.000.000 50.000 1.350.000 200.000 150.000 100.000 150.000 1.500.000 250.000 280.000 30.000 140.000 100.000 75.000 200.000 250.000 2.300.000 1.000.000 1.500.000 1.500.801 100.000 150.000 1.500.000 200.000 200.000 10.000 250.000 50.000 200.000 300.000 5.000.000 250.000 400.000 150.000 40.000 100.000 1.000.000 110.000 200.000 100.000 250.000 500.000 135.000 60.000 750.000 200.000 350.000 100.000 70.000 750.000 24.000 200.000 200.000 120.000 320.077 1.000.000 75.000 100.000 52.000 215.000 200.000 100.000 100.000 100.000

No. 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305

Donatur Donasi (Rp) Hamba Allah, BCA 70.000 Fernantomo H, BCA 50.000 Kikin Triantoro, BCA 150.000 Herlambang Sukma S, BCA 100.000 Pawit Purwito, BCA 100.000 Henry Hernawan, BCA 90.000 Muhamad Aziz, BCA 50.000 Supriyanto, BCA 1.000.000 Diwya Satwika, BCA 175.000 Sri Suwantini, BCA 2.200.000 Benny Raharjo, BCA 3.550.000 Farida, BCA 200.000 Hamba Allah, BCA 50.000 Adi & RR Endang W., BCA 50.000 Ennita Laksmi P, BCA 150.000 Hestiningsih F, BCA 116.000 Roniwati, BCA 200.000 Mudayat, BCA 85.055 Indriani P, BCA 500.000 Nadia Shinantia W, BCA 200.000 Dudy Ariwidianto, BCA 277.225 Bukhori, BCA 100.000 Farah Ziska, BCA 300.000 Kusnandar, BCA 25.000 Agustin Leoni, BCA 25.000 Ahmad Nahoi, BCA 30.000 Suprayogi, BCA 250.000 Lindawati, BCA 50.000 Prima Haripurwanti, BCA 350.000 Andri Mursyid, BCA 150.000 Aprilia P, BCA 30.000 Woro Palupi, BCA 50.000 Ida Hafnia, BCA 200.000 Sugiharto Y, BCA 175.000 Wiranjani Ade S, BCA 60.000 Wiranjani Ade S, BCA 80.000 Hamba Allah, BCA 1.000.000 Daddy Ahdiat, BCA 50.000 Lameth Dwi R, BCA 200.000 Siti Kamaria, BCA 1.775.000 Vita Rita W, BCA 37.500 Christian Laloan, BCA 187.500 Hamba Allah, BCA 250.000 Yuwanto, BCA 30.000 Juniandi, BCA 50.000 R. Vicky Hermawan, BCA 250.000 Budi Sayekti, BCA 50.000 Santy, BCA 100.000 Etna Gunawan, BCA 500.000 Noviyanti I, BCA 100.000 Kanta Wiguna, BCA 50.000 Merlin Fainir, BCA 100.000 Afly Yunizal Zainsty, BCA 460.000 Ary dan Yenny, BCA 142.500 Juli Prasetio, BCA 20.000 Arie Mustofa, BCA 50.000 Insan Pribadi W, BCA 200.000 Anggita S, Danamon Sya. 57.000 Indra Arnaz, Danamon Sya. 50.000 Ahmad Ridha, Danamon Sya. 100.000 Kusumaningrum, Danamon Sya. 300.000 Kartika U, Danamon Sya. 55.000 Dina P, Danamon Sya. 75.000 Nia L, Danamon Sya. 50.000 Neneng Desi, Danamon Sya. 150.000 Indra Arnaz, Danamon Sya. 50.000 PT Bank Commonwealth, BMI 3.660.040 Farah, BMI 25.000 YW Al-Muhajirien, BMI 754.326 M. Gilang Angga, BMI 125.000 Hamba Allah, BNI Sya. 50.000 Hamba Allah, BNI Sya. 100.000 Hamba Allah, BNI Sya. 500.000 Wuri, BNI Sya. 70.000 Ahmad, BNI Sya. 50.000 Edy, BNI Sya. 550.000 Hamba Allah, BRI Sya. 125.000 Hamba Allah, BRI Sya. 35.000 Hamba Allah, BRI Sya. 65.000 Hamba Allah, BRI Sya. 45.000 Mustofa Kamal, BSM 150.000 Hamba Allah, BSM 50.000 Hamba Allah, BSM 5.000.000

No. 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388

Donatur Donasi (Rp) PT Arshey, BSM 2.379.789 Hamba Allah, BSM 500.000 Zulkifli Zaini, BSM 300.000 Hamba Allah, BSM 500.000 Hamba Allah, BSM 100.000 Athia Akhzalini, BSM 400.000 Hamba Allah, BSM 100.000 Hamba Allah, BSM 150.000 Sudaryadi Ananto, BSM 25.000 Hamba Allah, BSM 1.000.000 Hamba Allah, BSM 500.000 Budi, BSM 30.000 Hamba Allah, BSM 600.000 Sulistyo Tri, BSM 175.000 Hamba Allah, Mandiri 400.000 Hamba Allah, Mandiri 1.800.000 Lufhi Wula N, Mandiri 300.000 Sri Hardiyani W, Mandiri 350.000 Nurrochman, Mandiri 300.000 Diana Vestari, Mandiri 50.000 Muhammad Sidik, Mandiri 150.000 Pratiwi, Mandiri 200.000 Setyo Hardiyanto, Mandiri 50.000 Eurika Putri A, Mandiri 350.000 Hadi Salim, Mandiri 500.000 Sugiyono, Mandiri 200.000 Nia Kurniati, Mandiri 160.000 Nilda Dahlan, Mandiri 1.000.000 Helmiah, Mandiri 500.000 Afiani H.M, Mandiri 1.250.000 Hamba Allah, Mandiri 500.000 Tuti Setiawati, Mandiri 2.000.000 Diding Kurdian, Mandiri 2.000.000 Dhani Sartika G, Mandiri 2.500.000 Ayu Amallia S, Mandiri 50.000 M. Sidik, Mandiri 80.000 Hamba Allah, Mandiri 520.000 Aulya Rachman, Mandiri 300.000 Arvian D, Mandiri 60.000 Ronny Surya D, Mandiri 2.500.000 Luthfi Wulan N, Mandiri 300.000 Setyo Hardiyanto, Mandiri 75.000 Yuli Nuryanti, Mandiri 500.000 Hamba Allah, Mandiri 235.000 Hamba Allah, Mandiri 50.000 Joffy A, Mandiri 1.150.000 Andy Wijaksono, Permata Sya. 25.000 Syarif Hidayat, Permata Sya. 50.000 Rastono H., Permata Sya. 125.000 Hamba Allah, Permata Sya. 50.000 Riska, Permata Sya. 150.000 Andini Dewi I, Permata Sya. 500.000 Santi Syacita K, Permata Sya. 100.000 Arif Ismail, Jakbar 60.000 Fatmayetti, Jaksel 25.000 Luciya Dewita M, Depok 500.000 Rasfadilla, Jaksel 1.000.000 Ferdiansyah, Tangerang 30.000 Hj. Nur Sanih, Tangerang 35.000 Hj. Syamsiar, 200.000 Muhammad B. Boer, Jaksel 500.000 Satin, 20.000 Supriyanto, Jaksel 200.000 Hamba Allah, Jakut 38.000 Darmawi, Jaksel 300.000 Dedi, 1.000.000 Fitri Natalia, Jaksel 3.200.000 Kel. Aliyurnil, 200.000 Laksmi, 1.000.000 Rif Abrar, Jaksel 100.000 Hana, Jaksel 1.000.000 Darmawati M, Jakarta 1.000.000 R.A Djaja Negara, 250.000 Agung Satrio, Jakbar 500.000 Teny R. & Yanuar A, Jaksel 450.000 Mersi Ayu, Bekasi 170.000 Priska Maharani, Jakarta 50.000 Riad, Jaksel 200.000 Rina 1.035.000 Fauzi Agus, Jakarta 300.000 Rif Abrar, Jaksel 150.000 Ika Nuraddini R, Depok 100.000 Rizqi Fitriyanti, Depok 100.000


Daftar Donatur ZAKAT:

INFAQ:

No. Donatur Donasi (Rp) 2389 Guru & Karyawan TKIA dan SDIA Kebayoran Lama, Jaksel 2.272.000 2390 Guru dan Karyawan TKIA dan SDIA Cibubur, Jaktim 404.400 2391 Hamba Allah, 200.000 100.000 2392 Hamba Allah, Jakarta 1.000.000 2393 Afiani H.H, Jakarta 2394 Irma Fauziah, 200.000 2395 Masniaty S, 150.000 2396 Mukhlis Ahmad, Jaktim 200.000 120.000 2397 Fauzi Agus, Jakarta 400.000 2398 Husain M. Said, Tangerang 2399 Susi R dan Puji H, Jakarta 90.000 2400 Hamba Allah, Jaksel 985.350 2401 Januar Nasution, Jaksel 300.000 1.000.000 2402 Darmawaty M, Jakarta 150.000 2403 M. Fadli, Jakarta 300.000 2404 Hamba Allah, Jakarta 2405 Ny. Rana Laksmi, Jaksel 250.000 2406 Fauzi, Jakarta 150.000 225.000 2407 Novel Salim, Tangerang 80.000 2681 Hamba Allah, BCA 250.000 2682 Iznindar, BCA 150.000 2683 Bambang Widjanarko, BCA 20.000 2684 Yusran Effendi, BCA 180.000 2685 Novi Madjedi, BCA 40.000 2686 Donna K & Christina I, BCA 1.000.000 2687 Aria Hutama P, BCA 750.000 2688 Dino Hartono, BCA 50.000 2689 Gurmilang, BCA 200.000 2690 Kel. Felia Salim, BCA 80.000 2691 Kel. Faizal Mustafa, BCA 20.000 2692 Andre Siregar, Jakarta 300.000 2693 Kel. Iwan Adriansyah, 20.000 2694 Roswany Ibnu AD Siregar, Jkt. Jumlah:

199.406.987

INFAQ: No. 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832

Donatur Donasi (Rp) Saifullah Marzuki, BCA 200.000 M. Iqbal DR, BCA 50.000 Eryadi Djamzuli DR, BCA 250.000 Dina Damayanti, BCA 150.000 Harmaini Limra, BCA 25.000 Heri Hendra, BCA 500.000 Purwo Priatno, BCA 200.000 Endang Morina I, BCA 100.000 Anggia Lisdiawati, BCA 100.000 Merlin F, BCA 400.000 Agus Piliang, BCA 1.000.000 M. Darussalam, BCA 47.500 Harun Al Rasyid, BCA 200.000 Nurdin Muhamad, BCA 17.000 Bogi Dina A, BCA 50.000 Pujiati, BCA 500.000 Indra Ari S, BCA 20.000 Elan Suherlan, BCA 25.000 Suharman Rasjid DR, BCA 50.000 Alfino Romansyah, BCA 25.000 Wahyu Satriawan, BCA 200.000 Ayu Sidhiani, BCA 100.000 Ali Amran dan Yulida, BCA 400.000 Mansha Fitria A, BCA 25.000 Lukisianti, BCA 100.000 Kamaria, BCA 50.000 Hamba Allah, BCA 200.000 RA Rosmala Dewi, BCA 500.000 Rachman Ferry D, BCA 111.111 Savitri Ristiandin, BCA 50.000 Achmad Zulfiqo, BCA 42.500 Tony K.I, BCA 150.000 Irawaty, BCA 150.000 Kuntjoro, BCA 125.000 Dewi Mirah R, BCA 200.000 Yazid Akbar P, BCA 100.000 Vonny Adriani, BCA 100.000 Zuamah Afief, BCA 250.000 Johan Yudhiasto, BCA 100.000 Hamba Allah, BCA 150.000 Desliana Suherman, BCA 30.000 Puspito Budi W, BCA 100.000 Gatot S, BCA 100.000

No. 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919

Donatur Donasi (Rp) Kamaria, BCA 50.000 Rini Yulianingsih, BCA 50.000 RA Rosmala Dewi, BCA 500.000 Susanto M, BCA 100.000 D. Habibah Akib, BCA 100.000 Danang Widayanto, BCA 100.550 Alfia Ashabur R, BCA 200.000 Viera Agustya, BCA 150.000 Amirudin HS, BCA 100.000 Angga Hidayatuamah A., BCA 25.000 Yudhistira H, BCA 10.000 Andayani S, BCA 50.000 Kois Abdurachman, BCA 50.000 Zuamah Afief, BCA 250.000 Imma Dienia E, BCA 750.000 Ali Wibowo, BCA 100.000 Ny. Ni Luh Kerti, BCA 200.000 Dewi Noviana, BCA 100.000 Hasan Ali, BCA 200.000 Masruchin, BCA 200.000 Dien Yuniarti, BCA 150.000 Budi Cahyono, BCA 800.000 Broto Hartono, BCA 300.000 Adharini, BCA 20.000 Salahuddin Syukur, BCA 200.000 Achmad Zulfiqo, BCA 20.000 Sartri Dania S, BCA 1.000.000 Edy Yuniardy, BCA 100.000 Gatot S, BCA 100.000 H. Abdul Rachim, BCA 100.000 Adhi Kurniawan, BCA 72.000 Yudhistira H, BCA 15.000 Rini Yulianingsih, BCA 100.000 Dudy Ariwidianto, BCA 82.775 Agustin Leoni, BCA 25.000 Achmad Zulfiqo, BCA 23.000 Elan Suherlan, BCA 200.000 Sidiq Suryadi, BCA 38.000 Yuni S, BCA 250.000 Hamba Allah, BCA 200.000 Achmad Firdaus, BCA 150.000 Darus Kurniadi, BCA 20.000 Fransisca M, BCA 100.000 Hamba Allah, BCA 70.000 Tartila, BCA 50.000 RA Rosmala Dewi, BCA 200.000 Ernawati Soetoyo, BCA 100.000 Harun Al Rasyid, BCA 200.000 Arie Mustofa, BCA 50.000 Diah Asih H, BCA 44.000 koreksi bunga bca 6691 22 bunga bca 6691 23.477 Indra Arnaz, Danamon Sya. 39.000 Hamba Allah, Danamon Sya. 200.000 Hamba Allah, Danamon Sya. 10.000 Ahmad Ridha, Danamon Sya. 200.000 Asih W, Danamon Sya. 500.000 Hamba Allah, Mega Sya. 75.000 Didik H, BRI Sya. 100.000 Hamba Allah, BSM 500.000 Hamba Allah, BSM 50.000 Hamba Allah, BSM 200.000 Nurhayati Djamas, BSM 200.000 Hamba Allah, BSM 100.000 Irfan Hakim, BSM 1.000.000 Kris Wisnu M, BSM 250.000 Syifa dan Sutan, BSM 200.000 Hamba Allah, Mandiri 1.000.000 Okti Widiyati I, Mandiri 100.000 E. Triwahyuningsih F, Mandiri 50.000 Nia Kurniati, Mandiri 100.000 Nur Junaidi, Mandiri 100.000 Emmylia Soesanti, Mandiri 200.000 Edityawarman, Mandiri 500.000 Sri Sulaksini, Mandiri 5.000.000 Hamba Allah, Mandiri 200.000 Rudy Setiawan, Mandiri 200.000 Akhirul Yan H, Mandiri 50.000 Aprianto, Mandiri 200.000 Nia Kurniati, Mandiri 100.000 Marina Anggraeni S, Mandiri 200.000 Agung Dwi P, Mandiri 200.000 Heri Widiastuti, Mandiri 400.000 Hamba Allah, Mandiri 100.000 Yeane Anastania, Mandiri 200.000 G. Sri Mahanani, Mandiri 200.000 Nur Jumaidi, Mandiri 100.000

No. 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984

Donatur Endang Soebandi, Mandiri Erni W, Mandiri Hamba Allah, Mandiri Dwi Hartanto, Mandiri Hamba Allah, Mandiri Rachmi M, Mandiri Santi Syacita K, Permata Sya. B. Sumantri, Permata Sya. Dyah Woro N, Permata Sya. Hamba Allah, Mandiri Siti Qomariah, Mandiri Hamidun Faiz S, Mandiri Novita Santimala, Mandiri Hamba Allah, Mandiri Hamba Allah, Mandiri Meilina, Mandiri Lusiani, Mandiri Dini Kusumah R, Mandiri Sri H, Mandiri Ajeng Oktaviani, Mandiri Hamba Allah, Mandiri Almh. Wiesna, BCA Iznindar, BCA Brahmantya Sakti, BCA Alm. Ferdy Salim, BCA Almh. Kaswen, BCA Faizal Mustafa, BCA Yayuk Yulianti, BCA Fikih Fardini, BCA Hamba Allah, BCA Amanah, Bekasi Hardiningsih, Jaktim Soekarni, Jaksel Sudarwati, Jaktim Supriyanto, Jaksel Hamba Allah, Jakarta Utara Mrs. Saud Abdul M, Jaksel Rif Abrar, Jaksel Yasin, Hilda P dan Ronni, Jakpus Eli Nurleli, Jakarta Ismail Djamil Z, Hamba Allah, Jakarta Rif Abrar, Jaksel Yasin, Isyroqi Al-Ghifari, Rizqi Fitriyanti, Depok Uswatun Hasanah, Siti Astrid, Jakarta Ade Mirzanty, Jaksel Agus Suryawan, Jakarta Kel. Mukhlis Ahmad, Jaktim Rizqi Fitriyanti, Depok Syifa, Ika Nuraddini R, Depok Pane Damar, Jaksel Susi R dan Puji H, Jakarta Rudi Wahyudi, Depok Hamba Allah, Ny. Soetartiningsih & Mita, Jaksel Siti Komariah, Jaksel M. Rayhan D, Jaksel H. Sarwono K, Jakarta Riad, Jaksel Henty Astuti, Jaksel Jumlah:

WAKAF No. Nama Donatur 24 Hamba Allah, Mandiri KEMANUSIAAN 11 Bambang Sumantri, Permata Sya.

Donasi (Rp) 200.000 200.000 100.000 50.000 200.000 300.000 100.000 50.000 200.000 300.000 75.000 170.000 50.000 75.000 300.000 300.000 750.000 150.000 185.000 100.000 50.000 4.500.000 1.000.000 200.000 500.000 500.000 20.000 500.000 56.175 3.000.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 12.000 300.000 50.000 20.000 750.000 50.000 100.000 100.000 300.000 10.000 100.000 100.000 200.000 100.000 75.000 25.000 1.000.000 25.000 50.000 25.000 100.000 10.000 100.000 350.000 1.462.000 200.000 100.000 200.000 200.000 500.000 49.051.109 Donasi (Rp) 200.000 50.000

FIDYAH 86 Dino Hartono, BCA 87 Sri Wahyuni, BCA 88 Felia Salim, BCA 89 Riska, Permata Syariah 90 Mrs. Saud Abdul M, Jaksel. 91 Fajar Sri P, Depok 92 Fitri Hidayati, Tangerang 93 Ny. Fairta, Jakarta

250.000 600.000 300.000 800.000 350.000 22.000 250.000 1.000.000

Perolehan Lain 6 Pengembalian Piutang 7 Penerimaan Lain-lain

3.700.000 810.000



majalah care