Issuu on Google+


Ayat-ayat Selat Sakat

EDITOR: MARHALIM ZAINI

1

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013


Ayat-ayat Selat Sakat (Kumpulan Puisi Riau Pos 2013) Editor: MARHALIM ZAINI Perancang Sampul: DESRIMAN Z AHMI Perancang Isi: SUPRI ISMADI Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

DITERBITKAN PERTAMA KALI OLEH: Yayasan Sagang Pekanbaru Gedung Riau Pos, Jl. Soebrantas KM 10,5 Panam, Pekanbaru, Riau Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip sebagian atau keseluruhan isi atau memperbanyak sebagian atau keseluruhan tanpa izin dari penulis. KEPUSTAKAAN NASIONAL: Katalog Daam Terbitan (KTD) Ayat-ayat Selat Sakat, Kumpulan Puisi Riau Pos 2013 Pekanbaru, Yayasan Sagang, 2013 ISBN.... Cetakan Pertama, Oktober 2013

2


SEBAGAIMANA buku-buku kumpulan puisi pilihan Riau Pos terdahulu, buku ini adalah juga berisi puisi-puisi yang telah dipilih, dari yang terpilih. Terpilih dari proses seleksi setiap minggu, untuk dimuat di halaman “Puisi�— yang sejak tengah Januari 2013, hadir satu halaman. Saya, yang dipercaya untuk menjadi redaktur tamu halaman ini, sejak saat itu, menerima ratusan puisi (bahkan mungkin ribuan) yang ditulis oleh ratusan penyair dari seluruh Indonesia, tentu termasuk Riau sendiri. Dalam satu halaman itu, saya muat dua penyair (komposisinya: Riau dan luar Riau), dengan jumlah puisi beragam, dan sebuah ruang kecil tempat saya menulis kolom ihwal puisi. Dengan begitu, bedanya dengan buku terdahulu adalah, bahwa buku kumpulan puisi kali ini tentu akan lebih tebal. Gagasan satu halaman ruang puisi ini, datang dari Bang Rida K Liamsi. Tentu, ini salah satu bukti semangat, rasa cinta, dan komitmennya untuk terus mengembangkan dunia puisi (sastra) di Indonesia, terlebih untuk Riau. Menyusul setelah sebelumnya gagasan deklarasi Hari Puisi Indonesia 2012. Selain Riau Pos, yang juga punya satu halaman puisi adalah Indopos (tiap hari Sabtu), Sutardji Calzoum Bachri redakturnya. Saya, belakangan, juga diminta oleh Bang Rida,

i

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Generasi Baru Penyair Indonesia


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

dan disetujui oleh Bang Tardji, untuk juga berbagi bahan diskusi ihwal puisi lewat kolom saya di Riau Pos, untuk juga dimuat di Indopos. Jujur, saya tentu senang. Senang diberi kepercayaan oleh dua penyair senior, senang karena tiap hari saya dapat kiriman puisi dari kawan-kawan penyair se-Indonesia, senang dapat membuat saya lebih intens dan kian tak bisa berpaling dari puisi, senang karena dapat tambahan masukan, juga terlebih senang karena puisi (masih) diberi tempat “terhormat.” Bagi saya (semoga Anda juga setuju), satu halaman puisi, di media massa umum, “mengalahkan” serbuan iklan, adalah satu hal yang luar biasa, sekaligus langka. Model komposisi pemuatan penyair Riau dan luar Riau tiap minggunya, sesungguhnya hendak memberi peluang lebih besar kepada para penyair (di) Riau, untuk bisa terus hadir tiap minggu di halaman puisi ini, untuk terus berdampingan dengan para penyair dari seluruh Indonesia. Hemat saya, kata “berdampingan” harus dilihat dari (setidaknya) dua hal—yang boleh jadi paradoks; berdampingan sebagai kawan, dan sekaligus berdampingan sebagai lawan. Sebagai kawan, halaman puisi ini bisa jadi ruang tegur-sapa, ruang berkenalan, ruang percakapan, ruang berbagi. Dan sebagai lawan, bisa menjadi ruang kompetisi, ruang untuk saling mencermati capaian-capaian estetis dan ideologis, saling “menakar” kelemahan-kelebihan, dan sekaligus bagi pembaca umum; dapat turut menilai mana yang “bagus’ mana yang “lemah,” mana yang “disukai” dan mana yang tidak. Maka, saya kira, demikian jugalah cara kita melihat puisi-puisi yang termaktub dalam buku ini. Saya berupaya menyertakan semua penyair yang pernah termuat di halaman puisi Riau Pos, dengan jumlah puisi yang beragam, demi untuk memperlihatkan sebuah lanskap perkembangan

ii


iii

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

perpuisian Indonesia mutakhir. Agaknya, bolehlah saya menyebutnya begitu. Sebab, dalam pengamatan saya, namanama penyair yang termuat di Riau Pos, adalah (sebagian besar) juga para penyair generasi “baru” yang puisi-puisinya juga termuat di media massa lain, di luar Riau. Tanpa “mengabaikan” nama-nama penyair yang lebih dulu berproses macam; Isbedy Stiawan ZS, Raudal Tanjung Banua, Agus Hernawan, Hasan Aspahani, Hang Kafrawi, dan beberapa nama lain, saya melihat kehadiran penyair generasi baru lebih mendominasi. Mereka seperti susul-menyusul, dengan semangat bergelora, hendak tampil dengan “percaya diri” sebagai penyair muda yang berbakat. Semangat ini, penting dicermati sebagai sebuah gejala “baru” dalam perkembangan sastra Indonesia—tak hanya dalam puisi tapi juga prosa. Perkembangan baru, yang bisa “menggembirakan” sekaligus bisa juga “mengkhawatirkan.” Ketika saya sedang menulis pengantar ini, seorang teman penyair menelpon. Karena sudah lama tak bertemu, ia mengajak berbincang ringan. Salah satunya, soal kekhawatiran itu. Dia menyitir dari seorang kritikus sastra, yang sempat berbincang dengannya. Sebuah pertanyaan yang menurut saya menarik adalah; “ke mana masa depan para “penyair muda” kita hari ini?” Pertanyaan itu muncul setelah ia menilai bahwa puisi-puisi penyair “generasi baru” kita seperti tak memiliki “pondasi.” Mereka seperti—meminjam kalimat kawan penyair saya itu—pemain tenis yang tidak memakai net pembatas. Maka yang saya bayangkan kemudian adalah para pemain tenis itu dapat dengan bebas memukul bola tanpa mempertimbangkan ketepatan arah dan kekuatan pukulan. Analogi lain, yang ia sitir juga adalah, “para penyair ini seperti seseorang yang bebas tanpa pernah sebelumnya mengalami penjara.” Itu kata kritikus. Tentu, tak sepenuhnya dapat diamini,


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

sebelum ada kajian-kajian yang komprehensif soal itu. Artinya, membanjirnya karya sastra kita hari ini, tidak juga baik jika sekedar dibaca sepintas lalu, tanpa melakukan pembacaan yang mendalam. Akan tetapi, di lain pihak, penting juga bagi kita (terutama para penyair generasi baru) untuk tidak mengabaikan pertanyaan dan pernyataan kritikus itu. Gaya “puisi bebas” yang terus menggejala dan menjadi kecenderungan para penyair terkini, sedikit banyak dapat memberi pembenaran bahwa ada yang seolah “lepas” dari “kampung asal” kita. Meskipun, saya selalu percaya, bahwa tiap zaman membawa perangainya sendiri—sama halnya tiap puisi yang lahir juga membawa perangainya dan nasibnya sendiri. Buku puisi ini, pun, begitu. Penjara, di zaman Rendra, atau Chairil, tentu berbeda dengan “penjara” di zaman Irham Kusuma—salah seorang penyair muda berbakat (masih duduk di bangkku SMA) yang puisi-puisinya termuat dalam buku ini. Godaangodaan untuk menjadi yang seragam, adalah penjara di zaman ini. Godaan-godaan untuk berhenti menulis puisi (dan juga menulis kritik sastra) karena tuntutan ekonomi, adalah penjara yang paling “mematikan” di zaman kini, dan saya kira juga, di masa depan.*** Marhalim Zaini

iv


DAFTAR ISI Generasi Baru Penyair Indonesia, Pengantar Editor ............................. _i Daftar Isi .................................................................................................._v Maman S. Mahayana Panmunjeom ..................................................................................... _1 Di Musium Perundingan ................................................................. _3 Pagi Ini Minus Duabelas .................................................................. _4

Lukman A Salendra partere park, in the morning .......................................................... _13 cicarita ............................................................................................._15 dua ekor kupu-kupu ........................................................................ _16 Ulfatin CH Jarak Angin ..................................................................................... _17 Pada Alamat ...................................................................................._18 Pada Hujan ......................................................................................_19 Alex R Nainggolan Lumbung ........................................................................................._21 Menyusun Puzzle ........................................................................... _22 Raudal Tanjung Banua Di Benteng Somba Opu, Makassar ................................................ _23 Ke Barat dari Lovina ...................................................................... _25 Istana Siak Sri Indrapura ..............................................................._27 Jefri al Malay Lelaki yang Menunggu Terubuk .................................................... _29 Padahal Kubang Sepatumu Sudah Berkampung .......................... _33 M Badri Mayang Mengurai ..........................................................................._37 Daging ............................................................................................. _39 Buitenzorg ...................................................................................... _40

v

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Cikie Wahab Di Balik Hujan ..................................................................................._7 Tentang Al ........................................................................................ _8 Kepada Tuan Mark .........................................................................._10 Sehelai Kartu Pos Bergambar Salju ................................................ _11


Digital Native ..................................................................................._41 Isbedy Stiawan ZS Ipoh, dari Cerita yang Tersimpan ................................................. _43 Jeti Lumut ...................................................................................... _44 Di Rahimmu yang Paling Dalam ................................................... _45 Kiki Sulistyo Enam Kwatrin Ampenan ................................................................_47 Rambut Merah Ida ......................................................................... _49 Menjadi Pohon ............................................................................... _50 Riki Utomi Tali Jangkar ....................................................................................._51 Jalan Putar Gang Pandan .............................................................. _52 Batu dalam Sampan ....................................................................... _53 Danjte S Moeis Pada Sebuah Tapak Kedudukan di Tanah Kelahiran .................... _55 Roh dari Sebuah Lukisan ................................................................_57 Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Dian Hartati Mesin Uang ..................................................................................... _59 Kayu Bertingkap .............................................................................._61 Cahaya Buah Hati Bapak .............................................................................................. _63 Percakapan Langit ......................................................................... _64 Bermain Layang ............................................................................. _65 Shohifur Ridho Ilahi serenade sepasang rel ....................................................................._67 langit-langit sebuah kamar ............................................................ _68 talkin batu-batu .............................................................................. _69 Esha Tegar Putra Orang-orang Kalumbuk .................................................................. _71 Seukuran Tungau ............................................................................_72 Air Hitam Turun Malam ................................................................._73 Alvi Puspita engkau ............................................................................................._75 di simpang jalan .............................................................................._76 Agus Hernawan Manusia Hiroshima ........................................................................_77

vi


Lonceng Liberia .............................................................................. _78 Puoerto ............................................................................................_79 Musa Ismail Sungaipakning, Pelabuhan Peluh ..................................................._81 Barelang, Tangisan Khianat yang Belum Terurai ........................ _82 Alizar Tanjung Naimah ........................................................................................... _83 Kremasi Kentang ............................................................................ _84 Lubang Jarum 1965 ....................................................................... _85

Muhammad Asqalani eNeSTe tugal ................................................................................................._91 riuh 24 rindu .................................................................................. _92 wanita sakau ................................................................................... _93 Kurnia Hidayati Tulang Rusuk Payung .................................................................... _95 Keramba Cinta ............................................................................... _96 Memamah Bintang ......................................................................... _98 Hasan Aspahani Yang Tak Diajarkan dalam Kursus Akuntansi .............................. _99 Muhammad Aswar Sita ................................................................................................._103 Via Dolorosa ................................................................................. _104 Treben ............................................................................................_105 Fatih El Mumtaz Dada, dada (1) ..............................................................................._107 Nyanyian Asma ............................................................................ _108 Menafsir Musim ........................................................................... _109 Aris Kurniawan Kejatuhan ......................................................................................._111 Pohon Kasih Sayang ...................................................................... _112 Perempuan yang Bersalah ............................................................ _113

vii

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kunni Masrohanti menyapa pergi ................................................................................ _87 teluk sunyi ...................................................................................... _88 bukan tiada ..................................................................................... _89


Anju Zasdar luka kita ......................................................................................... _115 buat nasti ....................................................................................... _117 yang disisakan jarak ...................................................................... _118 Ahmad Ijazi H Purnama di Sungai Indragiri ........................................................ _119 Selingkuh ...................................................................................... _120 Layar .............................................................................................. _121 Hidayat Jasn Kau Bayangkan .............................................................................._123 Sore Sepi ........................................................................................_124 Jufri Zaituna Sarang Burung Manyar ................................................................._125 Talpaktana ....................................................................................._126

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

May Moon Nasution Pendendang ..................................................................................._127 Penenun ........................................................................................._128 Mata Perempuan ..........................................................................._129 Irham Kusuma Topeng ........................................................................................... _131 Persalinan ......................................................................................_132 Lorong Beranak Sungai ................................................................ _133 Punarbawa ....................................................................................._134 Hang Kafrawi Meneguk Kobaran Api .................................................................. _135 Rumah Janji .................................................................................._137 Kebisuan ........................................................................................_138 Lauh Sutan Kusnandar Lelaki Sendirian ............................................................................_139 Ida ................................................................................................. _140 Iben Nureska Di Bibir Sungai .............................................................................. _141 Pesan yang Kupuisikan dari Perempuan yang Memanggil Ayah_142 Syafizal Sahrun Awal Juni ......................................................................................._143 Nyanyian Tanpa Pantang .............................................................._144 Kamar Abu ....................................................................................._145

viii


Fatih Kudus Jaelani Apologia untuk Putri ..................................................................... _147 Guru Sulis ......................................................................................_148 Langit Sudah Hitam di Mata ........................................................_149 Alya Salaisha-Shinta Menyisakan Jejak .......................................................................... _151 Tentang Pesan ..............................................................................._152 Seperti Kau Kekalkan Setiap Puisiku ........................................... _153 Selendang Sulaiman Ombak, Laut dan palung .............................................................. _155 Petang Lalu ...................................................................................._156

Delvi Yandra Ikan Gabus Pasar Pelita ................................................................ _159 Aku Hanya Ingin Mengabarkan .................................................. _160 Merantau Angin ............................................................................ _161 Kamil Dayasawa Polor ..............................................................................................._163 Ranggun ........................................................................................._165 DP Anggi Hujan ............................................................................................._167 Belantara Jiwa ..............................................................................._168 Ake Nera Atakiwang Doa Pagi ........................................................................................._169 Unggun .........................................................................................._170 Jumadi Zanu Rois Episode Mimpi .............................................................................. _171 Dongeng Laut ................................................................................ _172 Sakat .............................................................................................._173 A. Warits Rovi Hikayat Penjaga Hutan Rongkorong ........................................... _175 Vita ................................................................................................._176 Dodi Saputra Penghuni Kerang ........................................................................... _177

ix

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Jumardi Putra Dapur ............................................................................................. _157 Di Tepian Bukit Talanca ..............................................................._158


Jalan Pulang .................................................................................._178 Sobirin Zaini Improvisasi Malam Buta Tentang Cericit Kelelawar yang Sama di .. Sebuah Kampung yang Tak Pernah Dianggap Ada ..................... _179 Ratap Enam Puluh Kilo Meter Kelopak Matamu Adalah Hikayat Luka Sepanjang Masa ............................................................................ _181 Jangan Berharap Pada Nama dan Kenangan Jika Pekerjaan Belum . Selesai dan Serasa Tak Mungkin Selesai ............................................_182 Ramoun Apta Ia yang Tak Ingin Mawar di Hatinya ............................................_183 Sepotong Senyum dalam Telur Mata Sapi ..................................._184 Viddy AD Daery Di Atas Laut Banda ......................................................................._187 So Terlalu Manise ......................................................................... _188 Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Refila Yusra Semua Mendung adalah Kau ........................................................_189 Na... ............................................................................................... _190 Ghoz TE Di Tepi Kolam ................................................................................ _191 Matahari ........................................................................................_192 Bicara Tuhan bersama Ulul dan Sofyan ....................................... _193 M. Raudah Jambak Balada Si Boru Deak Parujar ........................................................_195 Mamad Hidayat Ajarkan Aku .................................................................................. _201 Memijak hitam ............................................................................. _202

x


MAMAN S MAHAYANA

Panmunjeom*

Tahun lima puluh setelah tentara Cina menyerbu lalu pulang tanpa senjata Amerika datang seolah-olah meleraikan dan pergi menyisakan gereja-gereja tiba-tiba: kesepakatan itu pecah sepihak seketika: Seoul penuh asap dan mayat-mayat menjadi kota mati dalam sekejap Kim, Park, Ahn, Yang, Roh, terbelah-terpecah sengketa dengan teriakan senjata darah dan kepedihan hanya si bongkok dan anjing kurusnya lalu datang perempuan Ahyandong dengan wangi mawar dan tanpa cinta, persetubuhan bersemi di rumah tak berpenghuni di kamar dengan tungku penghangat ranjang yang berantakan makanan penuh di lemari Si Bongkok dan perempuan Ahyandong kembali ke Panmunjeom

1

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Di sini awalnya, di sebuah desa di Panmunjeom perdu-perdu dan medan kosong ilalang liar, tanah lapang dan hamparan rumput gajah pembatas wilayah zona demarkasi


barak-barak tentara sebagian Amerika sebagian lagi wajib militer anak-anak muda dua tahun lamanya lewat museum perundingan dua Korea di depan gedung utara yang penuh senjata dua wisatawan melambaikan tangan selebihnya tegang dan mengancam

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kami berdiri di selatan memandang dendam masa silam mengakar di kepala prajurit-prajurit dua negara di Panmunjeom yang membelah dua Korea yang menyimpan panas magma perang Panmunjeom, 11 November 2011 *Panmunjeom adalah salah satu tempat yang terletak di sebuah kawasan yang berbatasan langsung dengan Korea Utara. Di kota ini pula kesepakatan gencatan senjata ditandatangani. Tempat penandatanganan itu, kini dijadikan museum. Sebagai tanda bahwa Korea Selatan dan Korea Utara tidak mau bersatu, meja tempat perundingan itu, dibelah menjadi dua bagian.

2


Di Museum Perundingan

Sebuah gubuk sebuah kamar di Panmunjeom jadi museum perundingan dua kursi berhadapan di tengah meja yang terbelah di belakangnya: mayat-mayat dan moncong senjata seperti granat waktu setiap saat siap pecah menjelma perang nuklir Panmunjeom, 11 November 2011

3

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Sebuah gubuk sebuah kamar dipelihara jadi museum seperti adanya bersih sederhana nyaman menegangkan di sini monument dipancangkan pada dua kursi berhadapan menghadap meja kayu yang terbelah selatan dan utara di meja itu: ideologi dipertahankan perjanjian ditanamkan


Pagi Ini Minus Dua Belas Lampu-lampu jalanan sudah dipadamkan jam tujuh pagi belum juga datang rembang matahari segalanya masih gulita meski suara desau mesin dan decit ban mobil tak juga henti merayap dari jalan layang menyusuri hutan kecil kumpulan pinus di bawah teras belakang

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Gedung-gedung apartemen membentuk siluet-siluet pegunungan redup dan suram seperti pilar-pilar raksasa yang bertumbuhan di lapangan terbuka Ada sirene branwir dan raung ambulans memecah keheningan klakson sekali-sekali Jam delapan rembang mulai datang perlahan dan nyalang gas pemanas di bawah lantai menggerakkan kehangatan kopi masih mengepul ketela kecil-kecil diiris tipis-tipis bergemerongseng di penggorengan

4


Setelah lewat jam setengah sembilan matahari lebih tenang dan percaya diri menerabas kaca jendela melelehkan embun sisa menciptakan lika-liku alur salju tak keruan Matahari tumpah sempurna di tempat tidur membuka selimut mencabut colokan pemanas kasur melepas rangkap tiga kaos kaki dan stoking berbulu menggantungkan switer

Hwarangdae, 19 Desember 2012

5

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Akutahu di luar sana masih minus dua belas derajat.


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

6


CIKIE WAHAB

Di Balik Hujan

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

diam kita pada kenangan/ di balik hujan biru/ orang-orang merekam bunyi/ tapak sepatu/ tap..tap..tap../ kita lupa pada hujan yang datang tiba-tiba/ lalu buruburu mengejar gemuruh/ kutanyakan di mana payungmu/ kau tunjuk kepalaku/ kita gemetar/ derasnya mengalir di kedua mataku/ /

7


Tentang Al I

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Bagaimana rupa yang kekal di ingatanku hanyalah suara dan desah manja yang orang-orang sesalkan di hatiku yang diam tiap percakapan yang menyulut angan telah suci sebelum kuikrarkan aku mengenalmu seperti ribuan tahun yang lalu saat rindu telah berkumpul dan waktu mendekatiku ada tanda yang gagal dibaca setelah Tuhan merestui kita hanya sapaan yang sia-sia di lidah kita yang kelu di hujan yang luruh di pintu yang kutinggalkan sebelum kering doa dipanjatkan kita merajut perbandingan

II Kau lupa di mana isak tangismu kudekap dan angin sepoi mematahkannya apabila kau datang dan membicarakan perihal ladang dan orangorang yang kau tahan kau telah menyeretku ke ruang yang kelam apa kita pernah bersua dan merayakan sebagaimana hari ketika kau dibesarkan aku hanya menemukanmu dalam sebuah layar yang memelukmu ketika kau tenggelam yang melupakan dendam sebab kau tak datang

8


III Maka kukirimkan puisi dengan hati-hati agar debarnya tak membuatmu pergi saat malam orang-orang tertidur dalam tahanan dan kau sia-sia mengurung kenangan di tiap sel akan luka yang menempel di mana peluru katamu yang kerap kau tembakkan di dadaku isyarat yang terlampau kuat hingga mencemburui nikmat berkali-kali kurindukan ciuman yang mampir di ingatan adakah kau pulang? Pekanbaru. 27 Agustus 2013

9

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

dalam desir angin dan langkah yang menepi kau menetapkan jejak pada tugas yang besar atau diriku yang diam setelah peluru hitam menembus dadaku yang gersang


Kepada Tuan Mark

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Hari di mana kutulis sajak ini adalah kesalahan terbesar yang kubanggakan sejak kepulanganmu. Sajak yang dihakimi ribuan kunangkunang di malam kita bersua dalam satu waktu Kau katakan aku sama seperti bohlam yang sinarnya hampir padam meski panasnya tetap membakar kebekuanmu di kota orang. Aku tak ingat, kau menyelam dan menemukan karang yang tajam Hingga aku menyebutmu pahlawan gagal berjuang Benarlah kita dijauhkan dendam Aku tak ingat akan ada perpisahan Aku tak mau ingat kita dibedakan Maka di hari yang kau janjikan, kutulis sajak ini dengan tenang Untuk kita kenang saat kau sudah menemukan rumah yang jalannya terbentang

10


Sepasang mata menangkap gelisahku Di antara tumpukan wol dan beludru Kita tidak tahan dingin, sayang Pakailah sesuatu, Aku memilih warna biru dari doa-doaku yang didengar ibu Akan ada souvenir bernama cerita Sekembali kita dari sana Adakah rindu yang bisa kita bawa, Bu Gemuruh dadaku melihat salju Dari lampu-lampu jalan dan kursi kayu Di gerai-gerai yang tawarkan minuman dengan tengkuk kemerahan Ibu memelukku agar kami bertahan Dari kota yang digambar angan-angan

11

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Sehelai Kartu Pos Bergambar Salju


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

12


LUKMAN A SALENDRA

pohon-pohon ikut menceritakan kesunyianku pada batu dan daun-daun kering yang telah lama meninggalkan kehidupan. angin tidak pernah bisu selalu mengirim masa silam tentang kompeni mempengaruhi hati ibu. ada tiang bendera yang tegar menyapa langit. di lengkung perasaanku, seekor anjing berjalan menyambut hari berdoa. batu bekas pahatan para pecinta menjadi isyarat: kedatangan dan kepergian hanya dipisahkan suara waktu yang parau yang nekat melangsungkan pernikahannya yang abadi dengan nafasku. rumah-rumah peninggalan belanda jadi hunian tuan-tuan tanah yang mencatat usia di buku harian congkak. danau kenanganku telah kehilangan nafas, hanya jejaknya yang bisu seolah memastikan betapa masa lalu itu dapat ditembus oleh hati yang terbuka meminta simpati kepada apapun yang sebagai perkara merestui musim di sini bersama orang-orang yang telaten menyapu halaman hatinya. barangkali hujan akan turun meski tak sepatutnya air mata terus-menerus menggenangi dada kaum pribumi

13

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

partere park, in the morning


angin mendesir seperti puisimu di hatiku; dahan-dahan itu lama nian menderitkan sesuatu yang layak dikenang sejarah ibu: sejarah yang maha pahlawan darahnya tak kering-kering mengalir kembali di nadiku. sampailah nafasku pada suatu pemahaman diri ini akan kubawa melintasi senja dan malam yang tercatat di kening ibu. bahwa peristiwa bulan jatuh bukan kemustahilan yang kekal nyata. di pagi yang bening dan suci, ia menyisakan erangannya

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

14


anak-anak membangun rumah belajar tertawa sambil memunguti ilmu pengetahuan yang jatuh dari langit tanah pikiran, tanah pijakan tempat kita menyusun cerita dari cinta-cinta hal-hal kecil yang kita siapkan untuk menanam kehidupan di ladang esok sebab ibu telah berangkat ke dalam selimut waktu menunggu purnama anak-anak menciptakan sekolah dari pikiran mereka yang basah hujan turun penuh renungan dan di papan tulis itu tuhan juga tersenyum sementara seorang lelaki dengan kacamata minus membikin sungai dari sisa kenangannya yang basah air mata waktu pun terus saja bercerita

15

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

cicarita


dua ekor kupu-kupu aku tersenyum melihat dua ekor kupu-kupu berpacaran mereka tak ingin berpisah. angin dan bunga menjadi saksi yang damai. bukankah aku pernah mengusir semut dari kerudungmu? angin khidmat menyapa batu-batu pahatan. awan yang tebal menghalangi tatapanku. aku kini mengkhikmati pohon palm; memahami jejak sajak aku merindukan kutuk cinta yang dapat memasrahkan perempuan itu kembali ke pangkuanku yang sakit dan berarti aku melihat orang-orang menghampiri tempat ini Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

mengulang peristiwa hujan; mendengarkan nyanyian burung di dalam hati; mempertegas jejak dzikir. mereka tak tahu ada sepasang kupu-kupu keleper-keleperan di bawah tangkal bunga mawar yang telah lama mati

16


ULFATIN CH

Berapa jarak angin yang memanjang sampai hatimu Berapa kali ia mendesah ketika menatap daun menatap bayanganmu yang tiba-tiba jatuh pada lenguh malam Berapa kali gema rindu yang menangkup pada jiwamu mengulur sampai detak jantungmu menunggu 2012

17

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Jarak Angin


Pada Alamat Kita sering lupa menutup pintu ketika pintu lain sudah terbuka Kita sering lupa mengeja nama-nama bunga yang setiap hari kita siram agar ia terus berbunga Kita sering lupa teman-teman lama baju-baju yang lama sepatu yang lama bahkan pada ibu kita Kita sering lupa mencatat alamat yang mungkin suatu saat kita bertempat tanpa menggoreskan luka 2012 Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

18


Pada Hujan Berapa kali aku bilang pada hujan, jangan turun di bulan Juni rinduku akan gugur setelah itu Sementara bunga-bunga tak kan tumbuh lagi Ia menunggu kemarau lagi hujan menunggu waktu sampai habis rasa jemu sampai hilang rasa rindu

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

2012

19


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

20


ALEX R. NAINGGOLAN

Lumbung

dan kota ini jadi kering dan asing bayangan puisi mengabur di kaca jendela mungkin ia perlu bertahan dalam pelukan seorang perempuan ketika hujan tandang 2/ di malam ini, ada isak kata menangis tersedu tak bisa ia tenangkan bahkan ketika sebuah sajak selesai ditulisnya 2012

21

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

1/ sepanjang tahun ia menabung kata di lumbung kenangan tapi kata tak gandrung cuma murung mengisapnya tak kunjung jadi kuning tua menanam benih yang tak tumbuh


Menyusun Puzzle mestinya aku mengenangmu lewat hujan tapi hanya cuaca sengat yang larat mendekat dan aku terjerat padamu segalanya membekas semacam saat menyusun puzzle kenangan yang retak membetulkan letak ingatan tentang ranum bibirmu meskipun sepanjang kota kerumun orang mengumpat hanya ada bekas tahun yang menguning seperti terkunci Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

ah, betapa sulitnya kurekatkan dirimu bertahun-tahun tak kunjung rapat 2012

22


RAUDAL TANJUNG BANUA

Di Benteng Somba Opu, Makassar : aslan, akhyar, hendragunawan

Lihatlah, batu bata perkasa itu masih menyusun dirinya dalam ukuran tak biasa, seperti badan para prajurit kinantan yang menyatu dengan tanah dan nyala api, tiang serta temali, layar pun buritan, tanpa menunggu jerit pluit dan surat jalan syahbandar. Masih menyatu tegak, meski sebagian terbenam ke kedalaman bendera dan samanera masih mengibarkan kukuk ayam jantan (tak ada tengkorak bersilang). Kapal-kapal besi pulang berbaris seperti belibis usiran, ke balik cakrawala ke senjakala peradaban (matahari yang terbenam). Tak ada jaminan mereka tak kembali, meski bukan dengan meriam ditembakkan tapi dengan kilauan, warna-warni, menyusup di cahaya fajar pagi merasuk hingga ke petang, riuh malam hari dan mimpi-mimpi Pantai Losari. Orang-orang datang, orang-orang pulang ke rumah-rumah adat yang dibuat untuk mengenang daeng dan para puang pengembang dan penisik layar pinisi

23

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Jangan katakan kita akan menonton reruntuhan Karena bagiku tak ada yang runtuh kecuali jangkar terakhir yang diangkat dan meriam penghabisan ditembakkan setelah itu diam. Bumi kembali pulih dalam semalam Semua dinding semua tiang kembali tegak di hati setiap orang di sepanjang tepian Jeneberang


di tepian Jeneberang yang kini jadi rawa-rawa mengeras sepi. O, masih ada Daeng Serrang yang bercerita dan menari di sudut hening Somba Opu, dari mana kita duduk memandang segala yang nampak dan tak nampak, segala yang bergerak dan berlalu Maka semua berlintasan dalam diam, hingga bubungan rumahrumah adat mulai timbul-tenggelam serupa kapal lepas tambatan. Orangorang bermulut gagu menampik dada dan menunjuk-nunjuk kebesaran leluhur di jendela dan pintu-pintu mereka yang tak kunjung terbuka.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kita pun bertanya: Benarkah dari jendela dan pintu-pintu rumah adat Toraja, Bone atau Selayar kebesaran itu tampak dan rindu-dendam masa silam lunas terbayar? Aku tak tahu. Tapi jika deretan rumah-rumah adat ini hendak mengabadikan reruntuhan Somba Opu dalam pesta cahaya lampu kekinianmu, maka percayalah ia telah lebih dulu runtuh, hanyut atau berlayar ke muaranya sendiri yang sempit dan mengerikan Sedang Somba Opu tak pernah runtuh kecuali oleh kekuasaanmu sendiri: berebut kantor-kantor besar di bandar Makassar! 2011

24


Ke Barat dari Lovina (bersama tsabit & ida)

Maka kami pejamkan mata sejenak mengenang panjang perjalanan. Ada yang berdentang di hati kami, ada yang pecah, retak berkeping. Tapi ada pula menyatu: segala buih, desir pasir, smaraman ombak, segala yang tak kami tahu jadi piala bening kaca selusin anak lumba-lumba meluncur di sisi perahu—di sisi mana kami berpacu Tapi tidak. Sebagai piala dari laut dan pantai kesunyian, kamilah yang meluncur—di jalan lurus memburunya ke cakrawala yang kini memerah, entah warna matahari atau merah anggur darah dari altar para dewa 2. Pucuk-pucuk lontar menggapai kami selepas tikungan Padang datar sehening batu. Dalam semak-semak seekor ular sumbing mengintai buah dan piala yang kami dekap lekat ke dada. Seekor menjangan luka menggoreskan darahnya pada tanah

25

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

1. Sulur-sulur anggur menggoda kami di jalan lurus Matahari memerah. Di antara tiang-tiang kayu junjungan, di bukit landai dan pantai yang kurus menjulur batang-batang karma merindukan api penyulingan gelas dan darah perjamuan


Kami pun khusuk berdoa, sebelum tengadah menampak garis nasib kami tergurat di daun-daun lontar yang bergerak perlahan seperti kipas di tangan penari piring: ada yang lepas, yang tidak pada tempatnya, jatuh ke padang datar Ada yang tumbuh diam-diam dari tikungan ke tikungan seperti doa-doa kami mencari alamat pengaduan. 2011

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

26


Istana Siak Sri Indrapura Sebuah istana kujumpai akhirnya dengan getar degub di dada, tepat di tepian sungai yang dalam di mana barang-barang digerek ke kapal sepanjang siang dan malam (suara rantai ngilu karatan mencambuk dadaku lebih kencang). Begitu sejak dahulu sebagaimana kuhapal dari buku-buku berdebu yang luput diajarkan bapak-ibu guru “Assalamualaikum, ya, pewaris agung Assirayatul Hasyimiah!”

Ya, kujumpai akhirnya, sebuah istana kuning kemilau di bawah matahari Riau abad 21. Matahari itu juga yang berabad lampau melintasi sibuk kotamu, dan merasuk ke bilik peraduan di mana sultan merencanakan hari depan dengan sepasang anak bakal pangeran—tapi pupus harapan Begitu takzim aku bertamu, begitu hening engkau memeluk batinku, seolah kita bersua masih di halaman-halaman buku yang gemetar tiap kubuka Bau gahru dan cendana, menyeruak bersama Beethoven dari piringan langka. Ya, gahru dan cendana, segala bau dan aroma, kutahu telah lama hanyut ke muara Selat Malaka tapi percayalah, selalu hidup dalam irama lama yang membawa kita kembali ke dermaga asal-mula. 2011

27

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

“Selamat datang, Saudara, di Siak Sri Indrapura...”


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

28


JEFRI AL MALAY

Lelaki yang Menunggangi Terubuk Dan lebih baik aku mengelilingi pulau bersama lelaki yang menunggangi terubuk, di suatu malam yang belum terlanjur dikutuk, walau tak seberapa yakin, dengan sebilah doa yang meruncing, kutinggalkan anak istri di beranda gerimis.

Hal ini kuputuskan setelah akrab meniduri sunyi dari pangkalan kota hingga sesekali aku bersembunyi di kepuraan kampung. Kau tahu? Sarang-sarang gelinjang memang kian tak kunjung hilang. Dulu, pulau ini berkuak cerita tentang putri jelita, setiap purnama ia berhias rupa, kadang jelma kupu-kupu, ramarama dan kunang-kunang bahkan sesekali turun ia bak bidadari yang menanting bulan di antara lenggoknya. Kini tinggallah kenang menggenang di setiap kelokan malam, di setiap siang yang bersimpang gamang. Tampak hodoh! karena ditinggal sayup pergi ibaratkan kekasih dibiarkan bunting tanpa adanya sayang yang tertating. Dia rajin membelai ikan, tanpa harus melempar umpan. Mungkin yang terisa, kau hanya akan saksikan gedunggedung yang berpenunggu senyap. Akhirnya menetaskan benih berahi, merecup pagut dalam kelam. Jangan kau sangka itu bayang hitam yang sedang berkelahi! Bukan! Dan di setiap tanah lapang, seakan-akan kepongahan berdiri

29

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Dia lelaki nelayan, riwayat ikan telah pun ditelan.


menukikkan ciut pada sesiapa saja yang memandangnya. Usah pula kau cari bebudak mengucah sajak di sana! Pernah sekali waktu, malam kian membatu, aku menumpahkan sajak yang kubuat setelah mengaduk risau pada wajah istriku. Kau tahu, lendir-lendir sajak itu kemudian kupercikkan pada dinding-dinding yang masih telanjang. Dalam sekejap, terukirlah sejumlah pesan tentang perempuan molek yang kini tak pandai lagi bersolek.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Aku tercengang, tiba-tiba menjadi budak jantan yang menyimpan bimbang. Ada banyak lembar kisah akhirnya tersalin. Tapi tak tahu kemana akan kuterbitkan. Maka tatkala kesia-sian ini beranak pinak aku lari ke laut. Persis waktu itulah kutangkap wajah seorang lelaki yang mengasuh terubuk. Dia lelaki yang tergenang peluh, mulutnya tak berasak keluh. Serupa sepasang kekasih, mereka bermandikan linyang air. Berenang ke sana ke mari. Lihat! Mereka menari. Dan lelaki itu menunggangi terubuk, melaju ke tengah laut ketika aku baru saja hendak memotret kasih yang berserakan diantara ombak bekejaran. Kupastikan berkali-kali, aku sedang tidak menyaksikan sinetron di televisi yang dilahap sekeluarga sambil menyantap sepiring otak yang masih utuh, disini. Lantas aku membuat sekeping perahu kertas dari baris sajak yang tersisa, kulayarkan sembari berharap gelombang surut mengantarkannya kepada lelaki dan terubuk itu di tempat berlabuh.

30


Dia lelaki yang menunggangi terubuk, bukan mengincar lekuk.

Kini giliranku menelan bual walau berkerodak ia tetap kutenggak. Setelah itu jika masih ada serabut sesal di celah bibir, kutelan. Masih terngiang kecipak kenang, kukuburkan telinga di kebisingan hari dengan batu nisan yang berukir gambar terubuk. Masih terpandang sua, kubenam kedua belah mata dengan memacaknya sepancang tiang dengan bendera berwarna kelabu seperti lelaki itu sebelum berlalu. Tetapi sajak ini tak kan sempat kuhumban. Ia menjadi tubuh berjalan dengan kehendaknya sendiri seperti lelaki dan terubuk yang kini entah kemana pergi. Pulau Rindu, Penghujung 2012

31

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kemudian di setiap kedai kopi yang selalu tumpah cerita, aku muntahkan semua kisah. Para lelaki yang lain hanya memamerkan mata berkedip ke dalam secawan kopi hitam. Kenapa mereka tidak percaya, padahal aku belum pikun? Mungkin mereka sudah lama terperam di ruang kasak-kusuk ini, tempat di mana bualan tidak lebih nikmat dari sebatang rokok.


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

32


Padahal Kubang Sepatumu Sudah Berkampung Kau lupa menyemir sepatumu. Padahal kubangnya sudah berkampung. Apaknya tercium hingga ke semerata hidung.

Atau sepulang kerja, langsung kau sembunyikan muka di antara rengek istrimu yang sedang memoleskan muka dengan krim dari Cle de Peau Beaute. Serta merta tak kau temui lengang yang beranak pinak, menetas di berbagai sudut rumah, menyelinap di kamar tidur atau bergayut diantara centong di kamar mandi. Lagi-lagi kau alpa mengelap sepatumu yang berdebu di depan pintu. Kau kira selumak kotornya tidak mempengaruhi hari-harimu yang semakin sesak? Sesak dari jeritan dan tangisan? Apakah kau sudah pekak? Atau sudah pandai nian kau bersandiwara? Senja menjelang malam. Seisi rumah sudah menyala dengan lampu tifany di setiap ruangnya. Tingkap dan pintu yang berukir mewah telah sedari tadi kau kunci. Seperti ada yang kau takutkan ketika malam menjemput. Kau katakan kepada anak dan istrimu “malam ketika gelap, ada banyak kemungkinan yang datang kepada hal yang tidak baik yatu kelam� mereka hanya menatap malu wajahmu yang berbias dari tempias cahaya. Seringkali mereka mengira kau

33

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Setiap subuh setelah terbangun dari tidur, tidak segera kau raih berus dan kiwi tetapi tetap saja selembar kertas pucat yang tergambar takdir, kau lacak tiada henti. Seolah-olah kau susun urutan nafkah yang harus dicari ataupun kau curi. Terus saja kau utak-atik hakikatya.


telah menyerupai sejundai. Tapi siapa pula yang bisa menebak pikiran dan hati perut orang. Buktinya kau terus membujuk istrimu dan anak-anak untuk belajar berkelinjang tanpa mengeluarkan suara. Pernah suatu ketika anak-anakmu menari dan mengajak anak tetangga di teras rumah, waktu itu malam barulah sepenggalah. Seketika itu jua kau murka “jangan biarkan orang tahu apa yang kita simpan di teras kehidupan ini!�

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Sebelum anak tetangga pulang, anakmu menghadiahkan sepatu kotor milikmu sebagai ungkapan kekecewaan. Tentu saja kau rampas semula karena alasanmu marah adalah ketika orang-orang melihat betapa sepatumu hodoh, apak dan bau. Anak tetangga itu pun pulang memeram kabar. Malamnya kau tidak akrab dengan kantuk. Kau ajak istrimu menenggak muak di depan home teather. Sedang istrimu sejak setahun ini telah menyimpan ngilu di hati. Ada banyak getar-getar di jiwa yang sangkut ke lain ranting. Akhirnya jadilah malam itu pergumulan di ambang kebisuan. Kau menyadari itu, ketika kursi serat kaca Lockheed Lounge yang kau duduki tertawa terbekah-bekah. Lemari yang kau beli di Galeri Seni Regional New South Wales Utara pun menyorak. Lukisan maha karya Pablo Picasso Garcon a la Pipe juga turut berdekah. Guci porselen qianlong bergoyanggoyang menahan tawa. Akhirnya di luar pun hujan turut serta. Yang tidak kau ketahui adalah sepatumu semakin berkubang di luar sana, menyerupai setumpuk lecah zaman.

34


Paginya, sisa-sisa kebuasanmu masih setia bergelayut di pelupuk hasrat. Ketika berniat menyarungkan sepatu, kau tercekat oleh sepotong kabar di koran, ada banyak orang bersorban mulia mengenakan sepatu berkubang. “Itu pasti ulah sang anak tetangga!� sakwasangkamu sembari berlalu memburu waktu.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Pulau Rindu, 2 Mei 2013

35


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

36


M BADRI

Mayang Mengurai : surat empang kuala kepada dara cik sima

Seribu jin tak cukup meredam cinta setelah jantungku tersedak gempa asmara dalam pesta di malam keramat penuh serigala dan vampir jelita yang menjelma dari sekerat jimat Cintaku menjadi sekeras batu setajam sembilu sebab telah kulihat kilau tubuhmu di ceruk lubuk raga sutra tersepuh tujuh pelangi dari tujuh lautan meluruhkan jiwa pangeran kesepian yang tersesat di hutan penuh musang dan menjangan Tak ada melodrama seperti syair-syair masa lalu yang mengalun merdu di rerimbun bakau sebab dalam setangkup kembang mayang ada melodi tembang kematian tembang panjang pengiring perang

37

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Aku ingin mencintaimu seperti burung-burung nasar memagut daging indah di semak belukar dengan hasrat seruncing busur menancap di hatimu yang kutaburi mantra-mantra


Aku kini sendirian di hutan lebam mengitari tujuh lubang selama tujuh hari tujuh malam berharap menemukan jiwamu yang tertawan oleh cintaku yang menjadi dendam hingga lupa menaburi hatimu dengan gendam 2012

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

38


Daging Segumpal daging yang tumbuh di kepalamu tiba-tiba menjadi peluru meledak di ujung malam memuntahkan tikus dan kelelawar di hotel dan penjara

Segumpal daging indah dini hari tiba-tiba menjadi beracun setelah merapat di tubuhmu yang dipenuhi tato dolar dan tumpahan bir Tak ada barbeque malam ini apalagi daging bakar bumbu kari sebab harga paha sapi terlanjut melambung tinggi setinggi rok mini 2013

39

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Tak ada asin dendeng pagi ini apalagi pedasnya rendang sebab sapi-sapi telah berkonspirasi dengan para pedagang dan politisi


Buitenzorg : Baron van Imhoff Tak ada tempat setenang ini, katamu berabad-abad lampau sebab hujan sore selalu menyisakan rindu pada kampung halaman yang terpisah lautan juga kekasih yang selalu menunggu di ladang-ladang kembang sambil memainkan komposisi empat musim

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Tak ada wanita sejelita ini, katamu tempo dulu sebab wewangi alam sudah menyatu dengan rambut dan bulu-bulu lembut karena setiap pagi dan senja tersaput kabut yang turun dari gunung-gunung dan lembah penuh aneka bunga Tapi kota tanpa kesibukan yang kau impikan mulai tergusur deretan pertokoan dan sepi yang dulu menjalar di pepohonan kini berpacu dengan deru angkutan dan riuh pekerja yang berlomba dengan roda kereta Wanita-wanita jelita itu kini menjadi manekin berjalan di taman kota dan pusat-pusat perbelanjaan sambil menebar gincu dan senyum palsu saat senja dipenuhi lelampu berwarna ungu dan merah jambu 2013

40


Digital Native Kau lahir dari gumpalan elektron dan saripati teknologi yang lihai bermain aplikasi dan memecah sandi sebab jemarimu dilengkapi syaraf-syaraf virtual terkoneksi dengan wifi dan sinyal

Setiap pagi kau menyusu pada motherboard lalu menghabiskan setangkup bandwith di ruang tamu dan selasar yang dipenuhi tablet dan telepon pintar 2013

41

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kepalamu selalu dipenuhi algoritma kombinasi angka-angka acak dan ratusan perangkat lunak yang menjelma permainan segala rupa


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

42


ISBEDY STIAWAN ZS

Ipoh, dari Cerita yang Tersimpan sejarah panjang mata sipit dari negeri bambu melubangi bumi ini, mengangkut timah merobohkan bukit kapur

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

mendindingi bukit-bukit jadi rumah istirah dijaga oleh asap dupa dan patung-patung naga serbamerah: sampai titah raja — cina kuasai pasar keling pegang bandar dan melayu ke kebun — Ipoh Malaysia, 2012

43


Jeti Lumut disambut kesunyian subuh yang lengang sepasang babi keluar dari pekat tubuhnya basah dan bau garam angin laut sauna kabut: “kami mandi sejak semalam,� lenguhnya Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

di lumut yang lengang tak sedikit pasangan babi menembus pagi berliar-liar hingga kota mendendangkan semangat british ke dalam paramata sipit hingga mengabutkan jalan pulang: indonesia kupunya darah dan tulang di situ kudapati kematian... Malaysia, 15 Desember 2012

44


Di Rahimmu Paling Dalam aku bisa datang, tapi waktuku tak panjang —katamu di ujung percakapan di hari yang hampir tumpas— lalu bersejinjing tumit kau berdiri di lobi dekat tiang sisi meja menanti kujemput

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

aku tak banyak waktu belum pula jalan akan menggunting —tapi aku digoda rindu, ingin seperti setahun silam bersama mendendang di sebuah siang berhujan— barangkali saatnya kumiliki setiap yang akan pergi untuk menyimpan kata-kata di rahimmu paling dalam kelak, barangkali, kau tak lagi mengingkari bahwa inilah anak puisi yang selalu terbawa mimpi Jakarta 7/12—Lampung 12/12/2012

45


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

46


KIKI SULISTYO

Enam Kwatrin Ampenan

2. bayangkan tubuh kita tiba-tiba mengecil stamplat ramai dengan sopir-sopir dekil ibu datang dari kelayu, mimpinya muda mendadak buta di hadapan kota tak bermata 3. kita akan singgah di bekas rumah sebentar saja agar tak buncah-gundah ada tembok tinggi dan balok kayu jati menutup mulut gang, mengatup sebagian ingatan 4. lapangan lengang di belakang perumahan hampar kenanganku sekarang manakala kutemukan serat putih-kilat pada rambutmu-rapuh tak lagi lebat 5. hampir malam di pabean, seorang perempuan berdiri dekat pintu kayu, wajahnya kuyu

47

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

1. aku pulang dengan ransel sarat kecemasan merasakanmu, amis ikan dan sisa sayuran masih ada pasar selepas perempatan kita akan bertemu disana, sebagai pecundang


potret leluhur lamur di belakang punggungnya tahun-tahun lepas seperti kulit kusen yang terkelupas 6. kita akan mengunjungi pantai lagi tiang-tiang hitam sisa pelabuhan adalah hati kita hati yang berkarat oleh sekian alamat, juga nama-nama dan cinta yang cepat menua 2012

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

48


Rambut Merah Ida paman tidak bahagia topinya dilemparkan ke meja aku mendengar hantu ladang berayun di kejauhan lalu rambutmu kucium bagai kembang jepun

potret lama di album keluarga mematangkan rahasia paman yang tidak bahagia bibi yang selamanya tak bisa bicara di antara mereka kucium sepenuh dukacita rambut merahmu, Ida Mataram, 18 Juni 2012

49

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

aku ingat sirkus perempuan kurus bercawat aku kenang pasar malam limun soda yang tak bisa kuhabiskan


Menjadi Pohon apa yang kau pandang selalu menyeberang ke kejauhan lenyap dalam gelap, jalan yang jalang mengangkang di hadapan bunyi serangga adalah petunjuk yang buruk duri tumbuh di jari, menyembul dari lubang pori daun telingamu menghijau oleh arah yang kacau kakimu mengeras dan tak bisa lagi bergegas kau menjadi bagian dari hutan, bertahan tanpa pakaian tanganmu terentang dengan tulang-tulang membangkang tumbuh sebagai cecabang yang utuh Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

kini kau meninggi, seakan hendak mencuri mata matahari supaya dapat kau pandang kelok jalan di kejauhan menanti dengan sabar, giliran datang para penebang 2013

50


RIKI UTOMI

Tali Jangkar

tali jangkar perlahan-lahan kau turunkan. diam-diam mencium laut. semakin dalam semakin dirasa menggali makna yang terpaut. ada harapan yang mungkin tersangkut. pada tubuh kekar kapal, pada kepala jangkung tiangnya atau kelasi-kelasi yang kadang tak patuh pada kode kompas. tapi tali jangkar adalah semacam arti yang dapat menguasai tentang laut. dimana ada masa yang mungkin surut. pada arus-arusnya yang datar kadang begitu deras mengajak kita untuk terpaut dari kian banyak waktu yang luput. (selatpanjang, januari 2013)

51

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

temali putih dari tumasik. menempuh jalan yang ringkih. mencari jejak dari hulu yang baik. seperti sebuah masa alunannya. yang menjuntai membawa pikir kita untuk segera mengutarakan arti-arti yang damai.


Jalan Putar Gang Pandan barangkali kau menuju ke sebuah belokan. dari setiap detik yang berlalu. dari tiap runtun waktu, dari ucap-ucap yang masih ragu, semua melantun dalam waktu rancu. jalan itu tak ada dalam pikiranmu. sebab itu dahulu, seperti masa lalu.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

adakah gaung yang kau dapatkan di jalan itu? sekadar harap atau ukir kata membuang ragu. seperti ucapmu yang runcing menusuk hati tapi dapat mengusir pilu, sanggup kembali membangun arti tiap ungkap makna melayu. ya, kau sanggup menapak kembali di tanjung harapan itu. (selatpanjang, januari 2013)

52


Batu dalam Sampan dia takkan melaju sampai waktu melepuh di ujung tanjung itu. walau tubuh ringkih ditusuk-tusuk angan tajam wajahmu tetap tegar mencari rindu. ah, kau menyebut rindu pada melayu, yang selalu jauh-jauh hari berada dalam tubuhmu.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

dia takkan melaju walau kau mendayung dengan keringat bagai hujan. sebab ada himpitan sengit musabab dari runtut masalah yang tak terunggah. kau menyebut sebagai waktu kelabu, waktu yang buntu. (selatpanjang, januari 2013)

53


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

54


DANJTE S MOEIS

Pada Sebuah Tapak Kedudukan di Tanah Kelahiran

Ia berangkat dari sakit menjulang anak Raja “Apabila segala anak tuan-tuan Melaka berjalan ke sana-sini, maka bertemu dengan lecah-lecah atau sungai, jikalau ada anak tuan-tuan Indragiri, maka dipanggilnya, disuruhnya dukung melalui lecah-lecah itu; sudah seorang-seorang.â€?* Tinggalkan lorong ambal merah di Malaka sana, ke tiada apa-apa, hanya lopak-lopak semak tak berujung, ke bakti pada negeri dan‌ ke kubur rindang menamatkan senja, sekumpulan kayat dan nandung telah dibaca, pada bait demi bait, tergambar wajahnya sesegar gerimis pagi, denting kerincing gelang kaki jadi nyanyian penyejuk setiap langkah, jiwa pergi tak sia-sia, yang pulang diintip cahaya bulan,

55

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Melalui berlaksa riak pada danau, di sekawanan semak beralas gambut aku tiba pada tanah di Gunung Indra, di mana Narasinga tiba, besar dan berkuasa desah nafasnya masih terasa


reribu tahun meratap dalam keterasingan, seakan falsetto dawai kecapi dalam lagu, kisah tragis penuh ratapan, hambus ditimbus situs tepi danau. Pekanbaru, Januari 2013 * Sejarah Melayu, WG Shellabear, 162.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

56


Roh dari Sebuah Lukisan

Rumah dan tiang pelantar terlihat masih menambatkan sampan dan harap terjadi pada tingkap dari sebuah rumah inap yang kami tumpang di balik rindang pokok mempelam samar aku melihat langit dan bintang dari jendela khayal yang terkunci Bermil-mil jauhnya kini, tanah di mana aku pertama kali menyentuh pokok mengunggis mempelam dan melihat gambar angin pada wajah kota lahir. Pekanbaru, Februari 2013

57

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Pada rentang bidang tergambar, menggeliat panjang empat sungai beribu batang jadi urat mengalirkan darah negeri ini kota-kota tepian sepanjang hari dihibur angin yang kadang terdengar seperti buak riak menerjang.


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

58


DIAN HARTATI

Mesin Uang

kau masih ingat roti gandum yang dimakan setiap hari sereal bahkan susu yang kita pesan dari petani di atas gunung itu dibayar dengan uang kau masih ingat aku harus membayar jasa penatu untuk baju-bajumu yang bau darah bau amis dan bau kencing oh, kata-kata memenuhi rumah ini ketika suara mesin tik jadi lagu hambar dan tak lagi mendamaikan hari-hari di sebuah ladang pertanian aku tetap harus berpikir tentang uang

59

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

kau bilang aku mesin uang setiap hari bekerja dan bekerja malam berubah siang dan kita tak lagi bercinta


angin tak ada udara dingin dan kering hasratmu tak puas dan selalu menyanyi tentang lagu cinta apakah kau benar-benar masih punya cinta? ingatanmu mulai pudar dan kau minta makan setiap hari Ruang Ungsi 2, 2012

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

60


Kayu Bertingkap mataku menangkap danau hijau dan burung beterbangan matahari tak muncul ikan-ikan menyembul di antara lantai kayu

malam-malam kita minum bersama menghangatkan tubuh sebab jaket tertinggal di mobil bermesin tua kita tak dapat menghidupkan api unggun jangan-jangan lantai akan habis terbakar dan kita mati tenggelam bulan malam ini serupa purnama kala itu lantai berderak dan angin dingin begitu tajam kita saling bercerita bagaimana ayahku dan ibumu bercinta kita saling mengingat bagimana adegan itu menguasai mimpi masa kanak di antara aroma kayu kita menularkan gelisah liburan ini sesuatu yang tak seharusnya terlaksana

61

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

siang berjalan datar guguran daun mengingatkan peristiwa di lantai ini


suara angin datang semakin tajam derak lantai bagai gempa mungkin ular besar itu mengincar tubuh-tubuh kita aku masih mendapati sisa kayu bertingkap tempat kita sembunyi dan saling meraba gelap kala itu matahari tak muncul mendung berkelanjutan dan ikan menyembul-nyembul di antara lantai kayu Bumiwangi, 2011

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

62


CAHAYA BUAH HATI

Bapak

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Ini waktu yang biasa untukmu Habiskanlah Angin mengenyahkan sesak Dalam lapaz Allah Jarak mendekatkanmu Sehasta Sedepa Bersedekap Kami dalam doa Dan reruntuhan-Mu

63


Percakapan Langit 1. Perih luka Terasa mengulum tak berjarak berangin di bibirmu, pulang mengepak pilu anganku. 2 Memejam gelap Merintih malammu Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

3 Menduga ombak menjeput Ternyata pecah di gelombang Pekik elang mengundang rindu sayapnya melabuh semu. 4 Perih tanpa mata beruntai-untai 5 Malam hilang.. Bulan melenyap..

64


Bermain Layangan

Mari terbanglah rindu bersama tatapan senja yang memerah disanding bayang silam yang tumbuh di mata kecil ini Dan senja begitu saja Andai dapat kuikat dan bertamu di matamu dan melekat bersama aku curiga kita tidak dapat saling melupakan Pada senja yang ini hanya layangan sungguh bergegas turun

65

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Adalah seperti yang kuduga halte bukanlah tempat bagimu untuk berhenti Angin memutar cerita baru tentang senja yang beranjak pudar Dan seperti dugaan mereka bahwa waktu condong dan meninggalkan bayangmu di sepasang kaus kaki


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

66


SHOHIFUR RIDHO ILAHI

di stasiun kekasihku, mungkin kereta hanya mengenal pergi—sementara keberangkatan dan kepulangan bukan milik kita. mungkin seorang masinis acuh dengan rindu yang memenuhi gerbong-gerbongnya: gelisah yang sewaktu-waktu berubah jadi ular dan anjing, tetapi semoga para penumpang berusaha belajar tahu bagaimana menangkap ingatan dari jendela saat kereta melesat pergi. pohon dan rumah-rumah yang seolah mundur bisa saja mencuri setitik demi setitik debu di tubuh penumpang yang sedikit menahan cemas pada stasiun-stasiun berikutnya. di stasiun kekasihku, mungkin ada ungkap yang tidak didengar oleh siapapun: “bila siang dan malam langit bisa kita padamkan tanpa matahari dan bulan,” mungkin itu katamu, mungkin juga kataku, tapi tentu bukan kata calon penumpang yang menghitung nasibnya sendiri di antrean panjang loket karcis. di stasiun, mungkin sebagian orang tidak mengenal kita, mungkin juga mereka pura-pura tidak melihat kita, atau mungkin hanya kursi panjang dan antrian panjang di loket karcis yang mereka perhatikan, mungkin mereka tidak tahu—setidaknya belum tahu—bahwa kita hanya sepasang rel yang terus memanjang ke kota mereka masing-masing. 2012

67

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

serenade sepasang rel


langit-langit sebuah kamar :di kamar hotel no. 120

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

dulu kita memang tidak sempat menggambar kota pada pelajaran kesenian di sekolah dasar, tetapi kini, kota kita gagahi seperti perempuan dan pasar malam, merebut semuanya tanpa bersisa. kamu begitu lincah merapal warna apa yang cocok buat langit-langit kamar yang sedang mendung, pasti bukan cokelat, merah juga bukan, ataupun biru, apalagi hijau, dan ungu tidak mungkin. kamu juga pernah bertanya, apakah langit-langit kamar juga menyimpan hujan dan petirnya? kujawab punya, karena semua yang bernama langit pasti ada kitab dan malaikatnya. kamu memandang lekat langit-langit kamar, tak mau lelap, entah sampai kapan. selanjutnya kamu termenung di balik gorden, kita perlu telanjang untuk mengenal tuhan, tetapi kamu bilang tuhan tidak datang saat pagi menjelang siang, “biasanya tuhan mengintip di lipatan gorden atau di atas lemari yang berdebu saat kamu merayakan ulang tahun,� kataku seusai bercinta. entah mengapa, tiba-tiba kamu bahagia dengan apa saja, termasuk membaca musim di langit-langit kamar, apalagi menggambar kota lengkap dengan langit, hujan, dan petirnya. lalu kamu selalu tersenyum, entah sampai kapan. 2012

68


kayuh sepedamu, hindun. tabrak dinding-dinding kampusmu. tiang lampu yang roboh akan memberi saksi atas langit hitam yang menguap di perempatan jalan kota kecil ini. dedaun pohon ketapang siap berjanji atas batu-batu yang dipaksa menjadi bulan, dan trotoar basah yang biasa di cumbu lagu pengamen itu menjadi tempat singgah masa lalu. kita sendiri yang memungut batu-batu dan menatanya satu persatu: membuat rumah untuk sebuah keberangkatan matahari dan kepulangan kita malam hari. mengayuh rindu sama artinya meniup warna hidup yang lanjut usia, hindun. tetapi hijau jantung yang memutik di pepucuk ingatan adalah kota yang kita cumbui setiap malam. kayuh sepedamu, hindun. tabrak kesemestian yang membunuhmu. tembus batas hijau dan batu-batu. aku selalu menemanimu dari sudut paling gelap. aku mengikutimu dari jalan-jalan yang dipenuhi teriakan para demonstran dan peluru yang bertamu tengah malam. aku mengingatmu saat-saat seperti ini, saat maut bermaksud saling mencumbui. 2012

69

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

talkin batu-batu


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

70


ESHA TEGAR PUTRA

Orang-orang Kalumbuk

Tetapi di sini orang-orang telah lebih dulu membangun rumah di antara runtuhan sarang punai. Mereka telah lebih dulu membaca kitab segala bisa sebelum amuk tak tercatat itu telah membakar segala isi dapur, mereka juga telah lebih dulu belajar memendam sekawanan induk harimau dalam perutnya. Aku membayangkan, di sini, kelak anak-anak dengan pupil mata sirah membara akan terlahir dari pusaran limbubu. Anak-anak yang pada saat lambung mereka berbunyi akan berkata: “Aku menulis sajak di karung-karung beras. Tentang iringan karavan dari darek yang terhuyung di penurunan Sitinjau!� Di hitam angin Kalumbuk aku menebak hari baru serupa daging tumbuh pada pangkal tembusumu. Sakit yang akan terus memburu. Kandangpadati, 2013

71

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Di hitam angin Kalumbuk aku menebak siapa lebih dulu akan dibuat jatuh terduduk aku, demam pada hari lalu, atau dengung pada pangkal telingamu.


Seukuran Tungau Kembali aku kenang kau, sementara udara masih mengidap tajam bau perendangan kopi sementara kota memaku peradaban pada retakan panjang dinding surau lama, derit lantai papan, dan gema lonceng bendi tertahan di sebuah minggu pagi ketika tungkai-tungkai kaki kuda dipatahkan. Aku atau kau yang kini mabuk seorang!

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Sudah patut aku kenang kau, jalur menikung di barisan pohon lambau dengan kulit hijau berlunau muara dengan air dangkal seakan terus melakukan pengingkaran bahwa bukan ombak gadang melulu bikin sampan karam, bahwa bukan salah mercu memberi tanda, dan bukankah lagu tentang tujuh malam air pasang itu telah membuat kita lupa cara berilau. Aku membayangkan kota dengan tasik, dengan temasik, dengan kulah, dan segala ulah ini adalah sisa masalalu seukuran tungau. Kandangpadati, 2013

72


Air Hitam Turun Malam Air hitam turun malam, turun dari paran rumah orang Pauh dari sanalah kami tahu kematian teramat piawai membikin rusuh teramat lihai memilih mana harus ditancapkan duri mana harus ditusukan jarum.

“Amai… bapak mabuk air tengguli, matanya sesirah tungku berapi, punggungnya tipis diketam tangan sendiri.” “Amai… bapak mabuk tengguli, mulutnya berasap bara disiram, dadanya kembang-kempis menahan tangis.” Kandangpadati, 2012/13

73

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Air hitam turun malam, turun dari paran rumah orang Pauh dari sanalah kami tahu tengguli bisa bikin mabuk sebenarnya mabuk dari sana jugalah kami tahu gulai tembusu jika dimakan serupa maut yang terburu.


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

74


ALVI PUSPITA

engkau

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

sejauh-jauh berjalan ke tubuhmu juga aku pulang sejauh-jauh pergi kepada kau juga aku kembali engkau lepas aku dalam talimu engkau tangkap aku dalam lepasmu engkau biar aku dengan dekapmu engkau dekap aku dengan biarmu ah. kekasih mengapa tak kau bunuh saja aku

75


di simpang jalan

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

di simpang jalan itu dia berdiri. sunyi biru di kiri memanggil-manggil di kanan menghentak-hentak juga merah sementara awan tersenyum di pucuk kepalanya apakah kanan harus terpisah dari kiri tak bisakah kiri juga adalah kanan dan siul angin yang mengecup debu di lengang jalan tak bercerita apa-apa di simpang jalan itu kecipak sunyi dan riuh tanya di dadanya dia diam. terbang bersama angin untuk sebuah kisah perjalanan yang belum juga bisa ia mengerti

76


AGUS HERNAWAN

manusia hiroshima noho masih berselimut, ketika kau dengan anjing lucumu membuat musim gugur di taman itu

dalam kebun bunga smith menyediakan wine untuk jumat kedua juga lukisan lukisan pastoral yang sejuk sebelum akhir musim gugur mengungsikan burung burung dari atap apartemen tuaku di eliot street ke kebun kebun gandum yang hangat di selatan seperti kau dan anjing lucumu mengungsi mencari kota yang baru aku pun sudah lama kembali. meraba denyar hidup di antara tiang tiang rumah dan tubuh perahu setiap malam aku menanak air. menyeduh kopi menulis puisi. mencari kata untuk menamai manusia di kotaku yang telah menjelma menjadi hirosihma, 2009

77

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

ini bukan kesedihan sebab serdadu serdadu yang berangkat dan tak kembali cuma suara lonceng di antara waktu perkawinan dan kematian dan namanama di bangku kayu tempat penjual pohon natal menyebut nama tuhan dan seorang istri pekerja tambang jauh di pedalaman amazon membaca novel sedih di masa perang utara-selatan


lonceng liberia jauh timur yang lembab, kebun karet orang liberia. kami membuat jalan rahasia untuk sampai ke kota, setelah membakar kota dan kebun terakhirnya ia kembali ke rumah, membuat ketuk pada pintu pada ingatan 2 anak yang sabar mati dalam lapar, tapi tidak, tanah ini tidak lagi mengenalnya, Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

dirinya adalah tiang pancung dengan peti tua di mata. sebelum lonceng makan siang ia sudah jauh ke utara. burung putih langit tenggara, liberia, selalu gemetar

78


Puerto manisku sayang. mencintaimu malam gelap dan koral terakhir, o, homeland security tubuhku dipeluk remah ingatan,

aku di sini, puerto seperti tahun lalu aku masih di sini. dengan pasir yang selalu basah, membayangkan kaki bangau putih berdansa kebebasan di antara pepohonan palm dan keheningan karibia, manisku sayang. kekuasaan berjalan selembut angin yang menidurkan puerto memasuki jendelaku, sepasang mataku, aku melihat bulan batu, dan bayanganmu di hutan pinus hayalanku,

79

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

manisku sayang. musim panas panen katun datang hanya lelarian di padang rumput yang kuimpikan. hari pun menjauh kau pun jauh dari kejaran mataku,


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

80


MUSA ISMAIL

Sungaipakning, Pelabuhan Peluh

Air selat semakin coklat, angin membuai Ngalir terpaksa dalam kabut berkepanjangan bagai peluhpeluh, asin pahit Tak sanggup menahan beban musim Barat, seberat dosa yang membesar Hanya nasib nelayan kian terpelanting ke sudut tebing, tertipu musim Dipukul gelombang siang malam, tapi kesepian Kesaksian Pulau Padang cuma menambahkan air mata ke selat itu, sedih Terubuk enggan kembali ke Puteri Puyu-Puyu, sendiri Cinta sudah terbenam dalam, tinggal kenangan Dihimpit setiap sauh hingga ke dasar laut, terhenyak Entah kapan cinta itu bisa bertunas lagi? Peluh yang ngalir semakin keruh, anyir Selat menjadi getir melewati lorong pipa yang berkarat Nyala api di pipa itu pun meredup, bukan karena hujan Tersebab cinta yang mulai mati di simpang hati, sunyi. Selat Bengkalis, 27 Januari 2013

81

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kapal-kapal besar menyayat selat di setiap musim berlabuh Tubuh jembatan yang bersandar pada bakau, bisu Selalu kokoh dan rela direngkuh tubuh-tubuh, silih berganti Dari situlah berlaksa peluh terperas ngalir, mendesir


Barelang, Tangisan Khianat yang Belum Terurai

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Pulau-pulau kecil seperti menggigil di akhir Desember Berdoa pada Tuhan untuk sederetan harapan Membentang panjang bagai jembatan Barelang Berpagarkan pepohonan pisang Tetapi, Tumasik laksana jembalang Menghantui setiap langkah Nadim untuk suatu kemajuan Batu berantai di lautan terus menangisi khianat yang belum terurai Bukan air mata penyesalan, juga bukan derita kekalahan lampau Hanya sekebat doa yang ngilu dari bilik hati yang kelu “Ya Tuhan, jangan jadikan aku terasing di tanah sendiri.� Mal-mal yang angkuh, perbukitan yang roboh, dan orang-orang yang selalu sibuk Menyesakkan lembaran doa-doa di penghujung bulan hujan “Ya Tuhan, mengapa aku begitu terasing di rumah sendiri?� Perselingkuhan kekuasaan telah melahirkan pengkhianatan Sebagai pencuri kedaulatan di tangan rakyat yang sedang berdoa Berharap Tuhan masih mendengarnya. Bengkalis, 19 Maret 2013

82


ALIZAR TANJUNG

Naimah

kata ibu ular itu kau rawat semenjak harga beras tujuh puluh rupiah, setelah karang dan sedah itu menguras pensi di danau bawah, seakan ularmu terlahir dari dasar danau yang menyimpan sedih batu cadas. ularmu semakin liar dan teramat ganas pada ibuku, sigadis kecil yang teramat pandai merawat rindu pada suamimu, ular akhirnya tak kuasa kau bendung hingga ia menyudahi dirimu dalam taring-taringnya yang amat licin ke dagingmu. (rumahkayu, 2012)

83

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

di ruang tamumu engkau melepas seekor ular menerkam ibuku setiap ibu belajar menggeliat, tapi ibu adalah si gadis yang patuh, setia membiarkan ular menerkamnya, dia bisa saja memukul ularmu dengan sapu ijuk, atau membunuhnya dengan pisau potong tomat di dapur, tapi ibu teramat pandai menjaga hati ular peliharaanmu.


Kremasi Kentang din berduka, menangis, meratap, meraung, telah meninggal kentangnya di tanah kuning, seperti telah pergi dagingnya dari tulang di samping rusuknya, kentang itu telah dikremasikan ke tubuh yang tak lagi menahan sakit ke punggung, sakit telah pindah dalam bentuk tanah yang rengkah itu, semenjak hati telah mengambil alih fungsi jantung, jantung berontak, terputus nafas kentang.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

sebagaimana rengkah-rengkah tumit din juga telah meninggal, setelah kentang itu meninggal seratus hari, dan bunga-bunga tidak lagi ditaburkan dari jemari tangan yang ikut sakit itu, jantung din ikut berhenti berdetak, jam mati di dinding, laron tumbuh di paraku rumah, begitulah din tidak lagi pernah memperingati perihal kematian kentang di komplek jantung din. (rumahkayu, 2012)

84


ceritamu masuk lubang jarum yang paling kecil, berdiam, hampir mati suri, untung saja kotak pandora dalam jantungku membuka sebelum waktunya, lalu kau menitipkan cerita itu, perihal lubang jarum yang paling besar, setelah menguak dadaku, mengeluarkan jantungku, kau sibak, kau letakkan rapat-rapat, lalu kau tutup, kau kembalikan lagi jantungku lengkap bersama detaknya. lubang itu katamu untuk kami menguburkan diri sendiri kalau tibat-tiba kami mati, sebab terlalu pandai berfikir, terlalu cepat menjadi orang cerdik, sebab itu kami disuruh menggali kubur sendiri, masuk lubang, dan mati dengan damai di moncong senapan dan celurit prajurit kita, lubang itu di dalam rumah, satu lubang satu keluarga, tak ada burung murai yang akan bersiur di balik atap tertutup rapi itu. jantungku begitu menggelegak mendengar ceritamu, darah minum di serambi kiri jantungku. beruntung katamu kami orang yang cepat tahu perihal lubang itu, tak kami buat dalam rumah, tetapi aku tahu lubang-lubang jarum itu hanya satu yang kamu pindahkan ke jantungku. pada jantungmu detak menggelegak lebih parah. unin. (rumahkayu 2012)

85

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Lubang Jarum 1965


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

86


KUNNI MASROHANTI

jika hilang pun takkan kembali adalah mati nun berderit riak sungai juga menyapa pergi pagi sepenggal hari seperti kami yang datang menyapa pergi sebuah mimpi dedaun getah kering jatuh terhempas titiskan pedih hati orang sekampung lalu lalang hilir mudik bertudung perih yang bergelayut di atas langitlangit pepohonan bukan rambai jalan tanah tawarkan senyum hambar pada kakikaki yang menapak lemas setengah menjejak ucap salam selamat jalan saat pergimu takkan pernah kembali jauh akan menyapa kita bahkan saat mata tak terjaga kita sedang menyapa pergi mati kampar, 25 november 2012

87

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

menyapa pergi


teluk sunyi

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

kita menari berayun berputar berayun berlarilari sampai ke tepi menari lagi berayun lagi berlari-lari lagi berkejaran tiada henti sungguh kita tak pernah menyerah tak mengenal lelah gemuruh riak kita di bawah kaki bakau dan ujung teluk adalah lagu rindu mendebar senyum bulan sempurna diam jadi pesona teluk ini sudah lama sunyi kita adalah penghuninya Teluk Lanus, Siak, 26 Pebruari 2013

88


bukan tiada

jangan sebut cerita ini tak berupa atau penggalan kisah tanpa makna ada sebab di antaranya selalu ada dan aku tak akan pernah melukisnya pekanbaru, 7 februari 2013

89

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

cerita ini tak pernah tiada aku tak akan melukisnya jangan sebut kisah ini gelisah aku tak pernah salah rindu ini pun tak malu-malu aku yakin ini bukan maumu kita di jalan itu jalan yang tak kita tuju bercumbu dalam gelapnya bukan tanpa sebab sesat di ujungnya benarbenar bukan niat


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

90


MUHAMMAD ASQALANI

ENESTE

tugal biji zarah hijau ayah atas tanah garba ibu menanam ruh dalam tubuh sekuatkuat tangan tuhanku

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

2013

91


riuh 24 rindu setiap aku berjalan mendekati waktu yang kudengar adalah detak jantungMu berputar searah jarum riuh 24 rindu 2012

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

92


wanita sakau siapa kau menjaring bayang di punggung kesunyian menari bahang lupakan tubuh tak berbadan anjing berkuduk remang kaubiarkan liurnya menjadi tambang selasakan erang di parumu Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

petitih lekuk tubuh piaraan kuda nafsu menginjakinjak harkatmu busukkan namamu 2012

93


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

94


KURNIA HIDAYATI

Tulang Rusuk Payung

lalu kisah, hanyalah tulang rusuk payung di mana aku selalu kau suguhi punggung yang jauh menjauh sembari merekam kecipak jejak kakimu 2013

95

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

tak pernah berbeda di tiap tangis gerimis yang gigil gemetar selalu mengajakmu pergi.


Keramba Cinta 1/ bagimu, cinta serupa bibit ikan yang dipenjara dalam keramba sabar ditunggu-tunggu hingga tiba waktu memanen dan dijual

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

kepada sesiapa yang gemar rakus melahap–seperti sesuatu yang dikudap-kudap cemil dicemil, cuil dicuil, dibagi-bagi hingga habis tiada sisa namun, sayang jiwaku kerurunan katak—telah bermetamorfosa dari telur katak di parit menjadi kecebong yang dipelihara dalam akuarium dan keramba yang kau bawa tak pernah muat untuk bersidekap dengan batas kaca di akuarium tempatku mendaras kubang airmata

96


2/ ah, cinta bagimu bagiku tak ubahnya ikan, kecebong yang mahir berenang menyusur pingir-pinggir pematang usia.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

2013

97


Memanah Bintang baiklah, laila. busur di tanganku ini telah jadi milikmu ia terbuat dari kelopak bunga tidur yang selalu kalis dikutuki sunyi

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

jadi, panahlah bintang agar nyalimu selalu kuat dan tak pernah patah ditebas pedang jikalau bintang itu terjatuh pungutlah, bacalah apa yang tertulis di sana: semacam relief-relief kehidupan setelah itu kau boleh menyimpannya di antara keping-keping koin perpanjangan usia tentu, di laci waktu 2013

98


HASAN ASPAHANI

Yang tak Diajarkan dalam Kursus Akuntansi 1. Yang Tak Terbaca dalam Laporan Akuntansi

Kita mungkin akan mengenang dia, Nabi terakhir. Di gerbang ramai sebuah pasar besar. Dengan seorang sahabat yang amat lapar. “Tunggu, di sini!” Dan ia kembali. Setelah sejumlah transaksi. Dengan segenggam dirham, laba keikhlasan yang jujur diperniagakan. “Belikanlah pada makanan. Secukupnya. Bawalah pada anak dan istrimu,” ujarnya. Ia sesungguhnya telah memberi sebuah pelajaran tentang hidup dan kehidupan, tentang tangan, yang menawarkan, yang mengantarkan, yang mengikhlaskan. Yang kiri dan kanan. Ada yang tak terbaca pada laporan akuntansi: Neraca Pahala, Saldo Dosa, Transaksi Hati

99

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

DAN kita ingat dia pernah memberi amanat: sebuah perniagaan yang tak pernah kerugian. Perdagangan dengan transaksi tak tercatat di buku laporan, tak terbaca pada jurnal harian.


2. Semacam Audit Atas Hati KITA sepasang penjual-pembeli. Bertransaksi dalam satuan mimpi-mimpi. “Berapa harga semua ini?” Kita kerap menimbang ragu, membimbang lagu. Kelak kita mungkin ingin melacak seluruh transaksi. Semacam audit atas hati. Saat itu segalanya mungkin sudah terbayar. Kita tak lagi peduli laba rugi. 3. Transaksi yang Tak Biasa Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

BEGINILAH caraku mencintai engkau: tunai segalanya kubayar, pada harga aku tak menawar. Lalu kusimpan rapi rahasia kuitansi, selembar-selembar. Semacam dokumen sah akuntansi, bila kelak ada yang menuntut bukti. Beginilah caraku mencintai engkau: mungkin kelak ada yang tak tertagih. Kau bilang, “padamu aku berutang.” Dan aku akan menutup mata rapat, menjadi pencatat yang tak cermat. Melakukan semacam penyimpangan pada pembukuan. “Sejak semula sepertama, aku tahu ini adalah transaksi yang tak biasa. Aku peniaga yang tak hirau pada peroleh laba.” 4. Kaidah Dua Pintu DUNIA ini, pasar besar ini, Menarik kerah baju dan ujung celana. Kita: para peniaga Lalu tiba-tiba saja telah ada di tengah sana kita Hingar dalam tawar-menawar yang kasar

100


Kita tak sempat bertanya Itu tadi tangan siapa Bimbang menimbang nilai Waktu Jual-beli yang senantiasa terjadi pada harga yang tak pernah bisa disepakati Kita lupa menambal lubang besar di saku Nanti, di ujung lorong, akan sampai kita pada dua pintu.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Pada pintu satu: menggerutu para peniaga yang rugi Pada pintu kedua: menuju mereka yang tahu arti kata Kecuali.

101


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

102


MUHAMMAD ASWAR

Sita jauh di kemudian hari seseorang membakar diri

dibayangkannya Rama yang sendu melepas lidahnya yang gigil menyebut namamu dan perang yang perlahan menjauh tapi kau tak di sana, Sita tubuhnya luruh seperti lilin mudah sekali ditiup duhai, tak ada kawanan kera yang menangisi ia sendiri. ia mencarimu sesaat sebelum nyawanya terlepas ia lihat gemuruh dunia yang resah serta angin yang lelah mengertilah ia pada waktu yang berdetak saja dari dulu juga diam batu-batu tapi kau tak di sana, Sita mungkin tak pernah ada 2013

103

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

ia mencarimu. rautnya rindu. matanya menelusuk menguliti tiap dinding api yang mengisahkanmu masihkah degup jantungmu merangkul gemuruh api dalam kobar yang santun. tidakkah kau takut pada raut cinta yang kadang menjelma bara atau darah apakah janji apakah setia membuatmu muda dalam sejarah


Via Dolorosa kutinggalkan perseteruan tanpa dendam dan penyesalan kini setiap darah menjadi pengorbanan suburkanlah tanah ini dengan tunas-tunas yang tumbuh di musim penghujan dan jangan halangi setiap harapan akan kurampungkan sisa perjalanan menuju mula tiada Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

2012

104


Treben tak perlu membaca madah, anakku bukalah peta, sebelum terlambat malam akan tiba, para raja menggelar pesta Treben rampung dibangun dengan tujuh gerbang pintu

berjalan memanggul tulus batu-batu dan menatanya satu-satu seperti menata nasib sendiri berjalan di belakang para raja di belakang sejarah yang tak pernah istirah memberi nama pada prasasti dan stupa yang tak punya suara tiap prasasti mencatat satu kemenangan lengkap dengan ksatria dan pengkhianatan maka tak usah membaca madah anakku, kita tak di sana kita tak pernah tua dalam sejarah 2013

105

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

kita mesti beranjak ke lain tanah melangkahkan tapak yang lelah


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

106


FATIH EL MUMTAZ

Dada, dada (1) Siang itu, kami mengantarkanmu menaiki very yang kau tumpangi menyeberangi pagar bibir kami.

Pagi itu katamu; Dada-dada kita adalah sama. Berakar elektron yang menyalakan Aura hati dada-dada kita. Namun tadi malam; Di luar pagar bibir kami, Engkau berjalan gagah Dengan membusungkan dada. Sembari melirik Dan mendada-dadai Busungan dada-dada kami Yang bersebadan dengan lapar. Al kindi, 10 April2013

107

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Sambil sumringah kau lambaikan tangan Dan mengucapkan “dada, dada.�


Nyanyian Asma Nafas ini adalah layang-layang yang dipermainkan simpang-siur angin amat berat ditarik dan diulur dan jika angin garang, ia bisa melayang ingin pulang, tak tahu jalan pulang. 29 Mei 13 (04:18)

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

108


Menafsir Musim 1) Musim semi, Saat kepompong mati Sebelum bunga menjadi 2) Musim gugur, Sepotong daun terjebur ke dalam sumur, eh ke dalam kubur

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

3) Musim panas, Daun-daun meranggas Terbakar tanpa bekas 4) Musim dingin, Menelusuk tebing;tebing Membesuk hawa hening 5) Musim hujan, Mata yang banjir bandang Menjaring ikan kesedihan 6) Musim kemarau, Saat jerebu sakau Dosa menjadi kau

109


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

110


ARIS KURNIAWAN

Kejatuhan

kebisuanmu hampir saja membunuhku membuatku buta dan terperosok dalam bergelas-gelas anggur, berlembar-lembar catatan mantra yang tak beres kupikul mungkin kau akan bertahan di sana di bawah redup lampu yang menyakitimu memelihara buku-buku yang tak bisa menyelamatkanmu aku sudah memilih hari ini sebagai waktu terakhirku mengikuti lambaian gaunmu yang terlalu riuh buat kukejar (2012)

111

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

hari ini aku ingin berjatuhan menghabiskan kesepian pada lantai yang bising, kemesraan cahaya lampu yang asing dan gelora asap yang jahat tapi memikat kumanjakan angan-angan dan mimpiku yang pendek kekasihku telah jadi patung paling anggun bagai malaikat


Pohon Kasih Sayang

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Jika aku membencimu akan kutebang pohon ini burung-burung akan pergi membawa kilau matamu yang bersih dan aku terpanggang terik matahari sendirian menyulam keterasingan di padang gurun tanpa mantra tanpa bahasa aku menghitung jejak kakimu menjauh menyerap suaramu yang jatuh kau adalah pohonku pohon segala pohon teduh yang kuperlukan untuk menawar retak bumi kita di atas kepalaku hanya awan calon hujan yang kusayang jika aku membencimu aku akan terkubur sendirian tanpa rindang yang menyelamatkanku karena pohon telah tertebang jadi tolong sayangi aku seniman kesepian yang tak pernah membencimu tapi justru mencintaimu datang padaku bersama kerumun burung-burung pada suatu senja yang ranum (2012)

112


Perempuan yang Bersalah kesalahan itu mengekal di keningmu sejak kaumakan apel ranum itu kutukan takdir yang tak pernah berakhir tubuhmu adalah siluman orang-orang terus mengejarmu untuk membinasakan mata mereka merah penuh setan lihai merangsang kejantanan

kesalahan itu mengekal di keningmu sejak taman kudus itu hilang : kau lipat di kelangkang (2010)

113

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

tapi aku tahu embun selalu menyelamatkanmu bertahun-tahun hingga millennium mengendap di dasar gurun


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

114


ANJU ZASDAR

luka kita 1. percakapan kita luka dalam kata benci menolak lupa

3. siapa sembunyi? aku hanya bersiasat dengan sepi siapa berlari? jam patah, waktu melipat lelah 4. lampu padam ingatan lebam cahaya pudar badan gemetar 5. alangkah cepat waktu begitu lama hari baru terbangun juga masa lalu tubuh sungkur di hulu rindu

115

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

2. alangkah pedihnya sakit di dada jadi manik airmata


6. O, betapa keris cinta pada waktu yang purna memintal benang asmara perasan mencatat manis luka 7. sekali lagi, percakapan kita luka dalam kata benci tak bernama

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

116


buat nasti pesta telah bubar, nasti kesepian meradang bersama lecet di tumitmu

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

mari aku antar kau pulang sebelum mabuk menyeretmu ke penanggalan luka dalam

117


yang disisakan jarak perpisahan kita lengkung resah tanda tanya aku menduga jarak biang keladi airmata kau makin jauh sebelum sempat kuajukan tanya “siapa paling kita ragukan ketika cinta sembunyi di balik nama samaran?� rindu disergap bayang-bayang dicecar segelintir pertanyaan Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

“apa yang bisa kita amankan, selain mendebat penyesalan?� gerakmu gerakku sebatas pintu langkah tak beranjak dari situ ke situ pecah tangis waktu!

118


AHMAD IJAZI H

purnama di sungai indragiri

lihatlah langit yang kini berkerudung jingga kelelawar mendesau seperti angin mengikis sendu yang semakin berlarian di denyut jantungku yang berbicara lihatlah sungai indragiri ini pesona purnama membias di gelembung air di sana wajahmu meraut serumpun kebahagiaan dalam senyum dan tangisku yang semakin mengudara pekanbaru, 2012

119

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

hamparkanlah wajahmu ke bubungan langit malam purnama sedang tersenyum menatapmu sementara aku kian menjahit rakaat sepi dalam bisu yang semakin bercabang


Selingkuh

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

kali ini kita bermain di atas tungku menanak sebongkah kecupan pada bibir api yang menggelegak mengaduk sebatang cumbu pada leher yang menyalak mencicip kuah yang kau tumpahkan pada sepasang apel merah yang kau serudukkan di hidungku peluh pun bersayap di lidah kita terbang melintasi awang-awang melahap riwayat persetubuhan paling anggur pada belahan dagu yang kita mainkan serta nafas manja yang kita embuskan di setumpuk pakaian dinasku yang menggelinjang kepanasan Pekanbaru, 2013

120


layar kubaca lagi isyarat layar di kejauhan :pilu kupandang semakin mengecil ia jauh. pergi akankah kembali lagi, atau menikung kemudi?

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

ah, layarku sendiri belum kukembangkan sementara pasang telah naik ke atas perahu, seraya membisik sesal pada senja: kekasihmu telah pergi pekanbaru 2012

121


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

122


HIDAYAT JASN

Kau Bayangkan - kepada seorang guru mengaji

Mengeja kalimat-kalimat cahaya yang abadi Berdenyaran dengan suara lantang. Mempepati Rongga pendengaranmu dengan kesejukan itu Di antara genangan cahaya lampu petromak Dan sayup nyanyian serangga malam di kejauhan Tapi antara tembok-tembok tua mengelupas catnya Rehal yang ditumpuk di sudut dan wajah-wajah Renta yang belum sirna kilauan wudlunya, hanya Kau dapati kelengangan di sini. Kau tahu, kini Kanak-kanak itu tengah khusyuk mendaras televisi Jepara, 2012

123

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kau bayangkan mushola kecil ini ramai kembali Dengan suara kanak-kanak mengaji seperti dahulu Ketika malam mulai turun dan menaburkan Hawa dinginnya yang menggigilkan ke sudut-sudut Kampungmu di kaki sebuah bukit yang sunyi


Sore Sepi Siapa mendaras sepi di sore mendung ini Ketika jalanan di seberang pagar itu menjadi Lengang? Angin menaburkan hawa basah Pada menua raut wajah kita Awal penghujan. Hari-hari jadi tampak Muram karena matahari seringkali tertabir Mendung bergumpalan. Cahaya terselip Pada rimbun angka-angka di penanggalan

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Sepi, siapakah khusyuk mendarasnya? Tersimak kelengangan yang panjang dari Jalanan. Seseorang, entah siapa, menelaah Lalu menganyamnya menjadi doa Jepara, 2012

124


JUFRI ZAITUNA

Sarang Burung Manyar

di kolammu, ikan-ikan mengitari teratai seolah membisikkan ketiandaanmu kini. setiap kali sajakku singgah di rumahmu bersama getirnya hujan, yang menyertai curahan nasib, mengantarkan diriku ke ruang sunyi semestamu; diam-diam kucuri bintang di bibir dedaunan namun tak juga berguguran seperti tangis kanak-kanak yang mengetuk pintu sejarah muasal persetubuhanku dengan buku-buku yang tak juga melahirkan benih-benih peristiwa baru. bagi bayang-banyang memba yang di ladang gersang ingatan. tempat bermula kesetian tertanam bersama terik matahari melebur lelah perjumpaan.

125

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

sampailah aku di sarangmu, yang telah lama kau tinggalkan: arsitektur dingin, buku-buku meratapi dirinya sendiri, foto-foto masa lalu, juga lukisan menggantung sendu, bangku-bangku memanah televisi, lemari bambu menjadi penghuni bagi ruang semu, ranjang-ranjang menggigil, kasur dan bantal selembut hati para penghuni.


Talpaktana pada daun-daunmu yang mendekap tanah merunduk rendah, menaungi akar serabutmu meresap tetes hujan yang jatuh membasuh debu dan batu-batu dungu. ketika kepak angsa mencatat langkah kanak-kanak berlarian sepanjang pematang dengan tubuh telanjang sambil memagut hujan di tengah halaman memeluk dingin di pancuran tawa hanyut di selokan sampai hati membekukan percakapan

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

126


MAY MOON NASUTION

Pendendang Dendang-dendangkan lagi suara gendangmu gerak-gerakkan lagi jemari lentikmu Menjadi puisi dari sejarah masa lalu yang tumbuh dari janin ibu.

Tetapi selalu saja kausiasati sebelum kematian menyambangi Kau pernah berucap padaku tentang hidup yang misteri Ia serupa suara yang dimulai dari dentang gendang dan berujung pada irama terakhir yang hilang Dendang-dendang kan lagi suara gendangmu hingga mengeluarkan irama syahdu Menjadi puisi menjelma irama dalam ingatan yang lebih merdu dari kematian. Pekanbaru, 2013

127

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kerap kudengar kau gemetar setiap malam suaramu bergegar


Penenun Setiap malam ia menenun hujan, serupa menenun kisah cintanya yang pernah basah dan tumpah di wajah Ia ingat ketika hujan belum sepenuhnya membasahinya waktu itu kerap ia menangkap isyarat hujan yang diam-diam Yang ingin sekali merasuk dalam hidupnya sebelum ia menenun hujan seperti sekarang Setiap malam ia menenun hujan, serupa menenun kisah cintanya yang pernah basah. Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Pekanbaru, 2013

128


Mata Perempuan Kau perempuan bermata coklat yang meniupkan angin lembut jadi gelombang laut Pada dadaku yang asin, datanglah masuk kau dalam tubuhku Wahai perempuan bermata bimbang bagaimana aku menimbang

Duhai perempuan bermata coklat masuk kau dalam tubuhku yang telah dikebat hasrat. Pekanbaru, 2013

129

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kau karam tenggelamkan kau benam timbulkan


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

130


IRHAM KUSUMA

Perkenalkan, kami datang bukan kembar tapi kau menyebutnya sepasang. Kami sama-sama bertelanjang dada kala berjalan. Lalu mana yang kau sebut sepasang? Bukankah kau sendiri yang mencuri pusar kami seraya meminum anggur. Kau bilang kami tak mudah dibedakan, hidung kami, mulut kami, jemari kami. Sungguh seperti pinang. Padahal kami hanya pandai menukar wajah. Tahulah kau bahwa orang pertama mencuri wajah kami, lalu ia menjadi yang kedua. Kami memang mulai menghitung kala bulan sudah samasama bertukar wajah. Ini bukan kau yang berkata, mestinya ada sedikit ruang untuk kau sedikit menutup mata. Tapi beruntunglah kami, kau memberi nama kembar. Ingin kami, kau menjadi orang ketiga. Kami akan merubah wajahmu sebelum purnama. Memang hanya ini kami berdahaga bila kau tak ingin bersetubuh. Sebab wajahmu sedikit prisma dari puisi kami. Perkenalkan, kami tiga kembar. 2013

131

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Topeng


Persalinan Terlalulah ia bila menitiku dalam kedipan kelopak sayunya. Sebab hujan pastilah tahu aku bergerak menuju lusa dan lusanya lagi (seperti menunggu kelahiran). Kemana? Dalam segelas kaca, aku sudah menunggunya agar ia pandai menuangkan birahi serigala. Dalam segelas manikam yang menerbangkan tembang-tembang jiwa. Tentu malam ini ia masih memelukku dengan lilitan ular paling merah (kadang jingga). Ia pandai menjawab segala makna yang aku hunuskan ke kulitnya. “Akan aku temui malam bergetar.”

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Atau aku akan mencari letak matahari. Seperti seorang bayi, yang lahir dari muntahku. Dari yang membuatku liar pada malam kesumat. Pastilah ia sendiri juga akan kembali, akan menanti. Sementara aku kini akan menaiki rimbun subuh mengejar ari-ari. “Lahirlah, lahirlah segala yang gelisah.” Tapi sungguh limabelas kepak camar melakukan aborsi, meski ia tidaklah mencuri. Yang jatuh di bulat rahim, sebelum ia berteriak di pangku cakrawala ini. “Selamat datang di rumah tak berpenghuni.” Di atas beranda bersalin, aku dan ia belumlah ada yang menangkis sampai ke putik samudra, hingga musim menjawab arti. Ia berteriak lagi. Maka lucutilah aku. Aku sebenarnya diam seribu bahasa bila ia lebih paham akan lautan. Lautan yang tak kunjung aku selami, antara biji dan tongkat puisi. Bukankah aku meringkik? Anggaplah ini bayibayi malaikat yang membawa panah-panah pintu. Dan bukan sebilah kunci. Lalu mengapa ia takut akan suara bulan, kekasihnya. Bukankah ia yang akan menemui malam bergetar. “Inilah puisiku, terimalah di dadamu.” Sebenarnya aku sulit memaafkannya. Sebelum aku tahu, di mana jibril berjumpa? “Kau menyembunyikannya tanpa sebuah pintu.” Maafkanlah. 2013

132


Lorong Beranak Sungai

Nisan yang terbuat dari bebatuan adalah makam bungaku, aku dan bunga itu adalah satu mata yang melihat dan menangis dalam dada seorang wanita. Apakah sebuah lorong hanya menawan kegelapan? Sepasang matalah sebagai sorot lilin keheningan, saat aku memagari masjid-masjid menghamba. Meski terkadang menipu. Karena lorong ini, tak berubin dan tak berjelangga. Ini abuabu. Sebuah misteri yang berjalan kemudian berdampingan bersama doa. Kalau masjid itu akan memanjang, sungaisungai mengalir, angin dan api bisa kutiup, harapan berbuih sabun. Licin memang, dan menggeliat atau tak mudah dipegang. Memaksa aku merubah kata-kata, agar mudah memasuki lorongku, lorongmu, dan sebuah surat cinta. Kemudian dipanggang, di galeri-galeri patung, di jalan-jalan masjid. 2013

133

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Aku pernah memasuki lorong ini, kedalam beberapa meter. Menuju ke tujuan yang membentuk tiang-tiang dalam. Menemukan beberapa mulut, juga lubang berbentuk bayangbayang tinggi. Melebihi tinggi unggun hangat dan berbatu nisan. Di setiap baris tanah yang timbul. Di bunga bersembunyi dalam tanah yang lekuk. Sajak-sajak membentuk sungai dalam lorong ini.


Punarbawa Kamu mengingat kembali wajah kemarau pada sebuah lompatan kecil dari tanah kering yang mengguyur alang-alang keritri gelisah Ibumu. Ibumu pernah mencoba melompat setinggi jakun Ayahku, naik-turun, membuat jarak kita semakin menunggu menit yang tak kunjung usai, selepas dahaga. “Ah...” Ucapmu mendesah. Apa yang kamu temukan? Ceritakan padaku, sejujurnya aku mempunyai tangga dan ranting yang berbusana sempak, sempat kutempa memajangi apartement dan gedung kesenian.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Seperti potongan misteri, butuh kehendak dan ucapan yang bertenaga malam pertama. Kamu menyuguhkan sepetak ubin putih dan aku mulai kehabisan akal untuk memperlakukan matamu, menjamu katakatamu, menjemput birahi, dan air mata. “Ah...” Tak ada yang lebih indah berawal dari Tuhan, di kepalaku mulai memikirkan apa yang kosong dan mengisi kekosongan. Kita tak melihat, tak meraba, tak mencium, namun tubuh kita tak bisa membedakan lagi dadaku dan dadamu. Kita tak perlu mengulang kejadian dan sejarah yang ditorehkan Ibumu dan Ayahku. Dari Ibumu kita sama-sama terlahir, dari Ayahku kita sama-sama kembali. Semua membisu, ketika perkotaan menikahi manusia. Kemudian melahirkan Ibumu dan Ayahku, dan kini kita melahirkan balita itu penuh suka cita. Pertama, kamu selalu menganggap bahwa aku benar-benar melupakan jejak. Kedua, aku bukanlah membulat yang bisa digelindingi “Ya” Ibumu dan “Ya” Ayahku. Semua mesti cukup dan tak membujal di dada. Sebab ada yang kamu ingat ketika itu, bahwa kita benar-benar mengingat kepura-puraan, menjajah diri sendiri dan keberadaan. 2013

134


HANG KAFRAWI

Aku ingin terbakar dalam kebisingan kota ini. Meledakkan waktu menjadi serpihan-serpihan serigala; berburu di rumah-rumah sunyi, mengoyak-koyak kebisuan agar air mata lebih bermakna. Terlalu lama aku membiarkan tubuh ini menggigil diselubung embun, membeku ditikam kemarau. Usia gelap dan kobaran api saling melompat di tempurung kepala. Harus dipecahkan peperangan; kematian dan kehidupan sebagai tanda keperkasaan. Aroma luka mengajak berdiri, membangun serdadu-serdadu bersayap untuk terbang tinggi, melepaskan dan menghempaskan gumpalangumpalan darah yang meratap diam. Aku meneguk kobaran api. Tak ingin bersekutu dengan ketakutan. Nyanyian hujan di atas perjanjian telah memperbudak ingin. Terkurung fatamorgana setiap memandang; tak menembus bayang. Aku tak ingin hilang dalam bungkusan debu. Angin dari jam dinding dingin mengirim kuburan, membuka layar kematian. Tapi persembahan dendam yang belum sempat diukir menganak pengembaraan yang tak ingin berhenti. Penghormatan kepada perih seperti burung dipatahkan sayapnya; ingin yang memasung diri hampa.

135

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Meneguk Kobaran Api


Api yang kuteguk dari tidur panjang, menjulat mimpi, membakar berhektar retorika kebisuan. Perjamuan gerhana di ruang-ruang purnama, berkisah sejarah yang terendam padam. Berputar-putar mencari akar darah, lalu berkhianat pada langkah. Kita berdiri dengan menjinjing tubuh renta dimakan keserakahan. Berpeluk, lalu menuhankan ambisi menusuk dengki ke saudara sendiri. Wajah-wajah teriris masa lalu. Aku meneguk kobaran api...

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

136


Rumah Janji

Memang, pada tiap musim, kadang kala tak mampu kita mengelak perubahan Hujan dan panas, selalu memudarkan senyum yang terhias di bibir kita Pelayaran waktu menjumpakan kita pada badai, pada topan dan juga pada hari yang cerah Kita terombang ambing di bentangan benci, rindu, kasih dan airmata Namun segalanya menuju kebahagiaan dari kerelaan yang kita punya Rumah yang kita bangun dari kasih sayang adalah nur kehidupan Semestinya serangan kegelapan tak merobohkan benteng jiwa Segala cobaan di taman hidup kita adalah kelahiran untuk mengenal diri Tersebab kita hadir dari kekurangan-kekurangan yang akan membunuh hati nurani Maka, pada perjanjian yang kita kebat, kita harus kembali

137

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Perjumpaan mengantar kita pada rumah untuk saling setia Tempat kita merenda kedukaan, memahat perih, meraut tangis, membalut luka Agar waktu-waktu tak membisu, agar hari-hari tak membatu Tersebab pertemuan kita adalah ikrar hati yang lahir dari rahim suci


Kebisuan Kau selalu ketakutan menafsirkan kemarau yang tak pernah berlalu dari hatimu, padahal matamu telah mengukir hujan di tiap detik. Kegelisahan menyulam warna keriangan, melompat dari tatapan dan jelingan, menciptakan kelopak ketulusan. Semestinya kau tak menyangsikan luka, tersebab kelukaan lahir dari keindahan. Pada relung kesunyian ingin kau bunuh matamu, membiarkan pelangi menetas diam.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

138


LAUH SUTAN KUSNANDAR

Lelaki Sendirian ia rindu pada reruntuhan dedaun yang menimpa kekupu pada belalang yang melompat ke beranda

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

biru, warna sidik jarinya yang menempel di dinding akuarium layaknya sketsa sisa usia ia rindu pada dinding yang tak mencipta gema pada gerak usia yang kuyup oleh rintik doa 01 April 2013

139


Ida Reruntuhan bunga-bunga dari tubuhmu Kutampung dalam doa-doa panjang Berkali kau beranjak ke dalam radius malam Berkali lukaku mengganda di Senggigi Dari tepi Mimpimu terlalu lugu untuk kenal duka Dari tepi Wangi tubuhmu berserakan entah ke mana

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Ketika bibir nakalmu menggejalakan birahi Ranjang api berlumuran orgasme yang hina 03 November 2012

140


IBEN NURESKA

Di Bibir Sungai Dan angin berbagi dingin, Yel. Menitip gigil pada segelas kopi dan sepiring ragi, pada gemeretak gigi. Kemana kau buang setuang bir dan kemabukan yang biasa kita curi dari gelas gelas resah. Hidupkah, Yel, yang mengantar kita ke tebing ini. Tempat puisi menyibuk diri membaca arus dan riak: ke Tuhan?

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Umamotu Batubelah

141


Pesan yang Kupuisikan dari Perempuan yang Memanggil Ayah – Yus perempuan yang memanggilmu ayah. lekang dadanya: sebatang kamboja kau tanam di sela melati yang kau tabur di hari kekasihnya datang meminang – kau hidang nubuat, telah kau sibak semak waktu yang belum tumbuh, berjalan menyusur lorong masa depan menyisir gambaran kejadian, katamu, jangan ada ikatan, perkawinan adalah api pada detik yang kami jinjit Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

perempuan yang memanggilmu ayah. bukan perempuan jeihan tapi menghitam matanya. apa kau tahu warna kesukaannya. dia banyak bercerita tentang pelangi yang membuatnya selalu menyukai hujan sedang kau sangat meyakini kemampuanmu menembus selimut waktu membaca catatan nasib yang akan ditemui hingga kau sembunyikan lukisan picaso dari tatapannya yang menghidupkanku Umamotu Batubelah

142


SYAFRIZAL SAHRUN

Awal Juni Kita berjalan-jalan senja itu Di antara kepulangan dan kedatangan Kapal melepas sauh Lambai membayang terang

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Tapi kita bagai hidup berdua Di alam raya Kepulangan dan kedatangan Seperti syair yang mengalun Kita terus berjalan-jalan di bibirnya Percut, Juni 2013

143


Nyanyian Tanpa Pantang berderai rambutmu dihembus angin pergi ke tepi tapi bukan ini jadi pinta pantang pun tak jadi halang berderak usia kau singkap daun tingkap kupak petanda masa mukamu masih yang dulu derai rambutmu jadi pelagu kau tak pinta pulang atau datang ini nyanyian tanpa pantang Percut, 14 Mei 2013 Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

144


Kamar Abu pada kamarmu yang abu aku sering masuk dan keluar tanpa mengetuk pintu lebih dulu ketika aku membawa sesuatu keluar siang hari malamnya kau bawa masuk kembali

ketika hendak beranjak tidur pada kamar yang abu ada sesuatu yang masuk dalam kuapku memberat mataku lalu pertengkaran akan kita buru seperti waktu-waktu lalu Juni 2013

145

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

kau hampir kini tua lihat uban di kepala suka menjerat waktu pada jam yang kau harap membesar dan mekar


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

146


FATIH KUDUS JAELANI

hati apakah ini, putri ia bergonti-ganti seperti musim bermacam hujan di atap surau beribu kemarau dalam pulau. tentu kau merasakan panasnya panas yang membikin rindumu mengering di batang hari tiga bulan lamanya, meski, tak ada waktu yang dapat menghitung langkah cemburu tak ada kepergian yang mampu menelan kata sayang dan kenangan mungkin hati yang tawar, putri ia menangisi gambar-gambar kita tersenyum selepas lebaran di samping pertamina haji sahlan. siapapun hati ini, putri, malam ini hujan jatuh menunggumu kembali Lombok, 2013

147

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Apologia untuk Putri


Guru Sulis guru sulis mengajarkan baca tulis tapi murid diajarkan pula menangis kepalanya terus meringis di beranda tapi gerakan matanya hampir tiada murid selalu berenang di kolam dekat surau bila hari beranjak malam airnya tak pernah dingin dan panas tak pernah keruh apalagi terkuras

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

kadang bila terlalu sering ia melarang murid akan berlibur sepanjang sungai lalu di pantai, guru sulis akan menunggu mengajarkan asinnya pecut pari hari minggu saat guru sulis meninggal dunia murid tak lagi menangis di beranda namun membaca sebuah kabar harian dan menulis di halaman belakang koran “tak ada bunga di atas makamnya!� Lombok, 2013

148


Langit Sudah Hitam di Mata Untuk Rifat Khan langit sudah hitam di mata memulangkan burung-burung bersama kemurungan lelaki yang tak pernah menjadi suami

sebaiknya kita berpisah di sini berhenti menjadi anak-anak memegang sebuah parang mengayunkannya ke batang pisang tanpa mengenal luka dan darahnya menyimpan dendam di asahan tajamnya langit sudah hitam di mata memulangkan kesabaran bersama kemurungan lelaki yang tak pernah menjadi suami sebaiknya kita berpisah di sini aku takut pada nasib yang setia memulangkan perempuan kita

Lombok, 2013

149

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

sebaiknya kita bergegas pulang ibu dan ayah sedang bertengkar halaman masa lalu, aroma bunga akan hilang dengan sekali tampar, piring melayang di atas sampar


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

150


ALYA SALAISHA-SHINTA

Menyisakan Jejak Kau menyisakan jejak di tanah basah itu Entah bulan apa, kau datang Menyambangi kebun yang gersang Kelopak mawar seketika hitam Tangisku pecah, jatuh tegak lurus Seperti jarum menghujam di rumput-rumput

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Hujan selalu datang Seperti merindukanmu : rumput pada kehijauan 19-24 Januari 2013

151


Tentang Pesan sebuah pesan meluncur bagai paku-paku dari langit lalu menetap di atap-atap — itu kaukah? — aku tak mampu menolak hingga wajahku menyatu — adakah wajahmu? — biarkan pesan meluncur sebagai paku-paku basah di wajahku Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Cikarang, 25 Februari 2013

152


Seperti Kau Kekalkan Setiap Puisiku jika kabar telah sampai daun-daun akan melambai peganglah ucapku simpan kata-kataku

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

seperti kau kekalkan setiap puisiku: anak yang lahir dari rahim bumi-langit — sepanjang percakapan, pertemuan yang diam-diam — karena hanya kau dan aku yang menyusunnya meski beberapa kali harus gagal, dan di ruang dingin itu kita akhirnya jumpa : sepotong siang Bekasi, 8 April 2013

153


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

154


SELENDANG SULAIMAN

Ombak, Laut dan Palung hanya ombak di lidah ombak lembut butiran pasir hangat menyentuh takdir

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

hanya laut di rongga laut arus bergetar lembut mendekatkan tangan maut hanya palung di lubuk palung rahasia takdir dan maut tiada aku kan takut 2012/2013

155


Petang Lalu petang lalu kau memintaku menutup pintu pintu neraka dari kamarku petang lalu jantungku retak saat jarum jatuh di jidatmu petang lalu lalu kau gali sumur di mataku kau jadian ia air matamu Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

petang ini iblis merah menghuni tubuhku meminum darah dan nafasku dengan dinginmu 2012/2013

156


JUMARDI PUTRA

Dapur Dulu, di dapur ini Api sewarna biru merata Melumuri sehimpun sumbu yang muasalnya kupintal satu persatu

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kini aku ingin menemuinya lagi Meski hanya puisi yang mahir mengukir kenangan se isi tubuhnya Empelu, 2012

157


Di Tepian Bukit Talanca Petitihmu meranggas kemarau parau yang melumut di pintupintu musim. Tak ubah jendela yang mengatup dirinya pada setiap kedatangan angin yang tak dikenal. Amat sering, mataku menampung guguran bebutiran berkilau, karena swarnaksaramu merekah di bibir danau lalu menderai senja belukar. Pada sepertiga malam akhir purnama, di tepian Bukit Talanca, diriku merebanakan rindu yang menahunadam: “Aku hanya menginginkan kau, hanya kau.� Jambi, 2012

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

158


DELVI YANDRA

Ikan Gabus Pasar Pelita tuan yang datang dari darat membawa segerobak tunda bawang merah kemiri dan lada hitam hasil panen perempuan-perempuan tebing tinggi juga seikat besar kacang panjang dalam truk-truk jantan melewati kilometer nol

dari sungai-sungai hitam berlumpur kami berenang hingga ke hilir perahu-perahu nelayan melintas melepas jala membabi buta menangkap kami tak peduli besar kecil, di pasar juga harga dibanting di pokan senayan kami dibeli dengan harga ikan busuk satu kilogram saat sore berangkat, kami tak lebih terhormat dari sebutir bawang tuan Kubu, 2013

159

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

tetapi kami hanya ikan gabus berdencus di tungku api omak digulai kami digulai, bersama senangin, toman dan senohong dibumbui dengan lada dan bawang milik tuan


Aku Hanya Ingin Mengabarkan aku hanya ingin mengabarkan bahwa ada kenangan tergolek bersama daun jatuh, dari aduan antara daya dan usia saat kangen mengaduh, daun-daun berjumpa dengan tanah tak bisa kulupakan bayang remang-remang jalan panjang aku bermimpi tentang taman zaitun dan malam-malam dingin di mata kekasih sumur-sumur kerinduan kering dalam mimpiku

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

aku hanya ingin mengabarkan bahwa tak ada lagi sepi yang gaib duka telah terpojok di tepi kali mataku bagai teka-teki saat kangen mengamuk, angin terbelah di ranting-ranting Kubu, 2013

160


Merantau Angin senja telah berangkat di beranda ini meninggalkan panas di dinding rumah waktu tak bisa dihentikan, sebab angin telah memilih laut untuk kembali ada gelombang pasang, ada pelayaran yang jauh

angin akan pulang setelah sepi tak bisa dihentikan di jermal, di jermal, kapal membongkar muatan Kubu, 2013

161

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

sepanjang malam angin berdiam dalam sepi geladak sesekali turut menyanyikan rindu pada tiang-tiang layar pada derik badan kapal yang menyimpan cinta bertubi


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

162


KAMIL DAYASAWA

Polor* kedua tangannya yang kecil membuat bola dunia dari tanah lempung lalu ditiupkannya roh iblis pemangsa sekawanan burung

bola dunia di tangannya dijemur di antara rumbai rumputan agar panas yang menyusup menambahkan tenaga api yang siap diledakkan wajahnya bercermin kepada lumpur hitam dilihatnya sepasang mata ciptaan tuhan menyerupai tanah lempung yang baru saja selesai disempurnakan hatinya bertanya, mungkinkah ia bagian dari tuhan yang bisa melahirkan banyak kemungkinan ketika hujan datang mengirim kabar badai? burung-burung terbang menjelma hantu bagi musim panen

163

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

ketapel dikalungkan di jenjang lehernya siap melemparkan polor ke tempat jauh di mana sekawanan hantu tanaman berkerumun menyusun siasat hitam pencurian diam-diam


di diam angin ia menukar biji matanya dengan bola dunia ciptaan sendiri tuhan tahu, di situ ia duduk tak henti mengucap janji pada matahari untuk setia menanti kedatangan musim kabut yang akan membuatnya lupa jalan pulang Batang-Batang, 2013 *peluru ketapel

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

164


Ranggun 1/ aku menjadi rumah segala musim pasrah dan setia menanti tahun-tahun lewat kakiku bambu kering sisa bangunan atapku daun-daun kelapa mati

2/ kalau musim padi tiba, aku berteriak gembira petani akan mendatangiku setiap hari membersihkan lumut-lumut di tubuhku sambil berteriak mengusir burung-burung yang lebih menyerupai dendang lagu lalu aku menari bersama angin menghibur tetumbuhan padi yang mulai menguning 3/ kalau musim tembakau datang, aku tetap setia menjadi rumah bagi kesepian tak ada petani menemaniku sepanjang hari ia hanya datang memercikkan harum keringatnya ke tanganku sebelum akhirnya meninggalkanku termangu meratapi usia tua yang dibenci burung-burung

165

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

aku tidak pernah mengeluh karena lumpur mengajariku ketabahan tidak takut menjadi hitam oleh matahari tidak takut rapuh lantaran hujan tiada henti


di malam hari, akulah pengusir hantu yang akan menggugurkan daun sebelum panen aku bisa menyulap wujudku jadi malaikat menakuti siapa pun yang datang mendekat 4/ sebab tuhan pernah menitipkan restu padaku untuk menjadi surga bagi setiap kesakitan dan kesedihan Batang-Batang, 2013

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

166


DP ANGGI

Hujan Aku masih menanti hujan Agar dapat berteduh di bawahnya Tanpa berdiri di lilan-lilan Lalu, menangis tanpa suara

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kubiarkan air mata Bertemu di ujung dagu Karena, sudah saatnya Air mata itu menyatu Juli 2013

167


Belantara Jiwa Perlukah engkau kusandera di dalam batin Hanya untuk menyelami relungku yang klandestin? Perlukah aku menakar rindu di secawan madu Lalu meminumnya bersama racun masa lalu? Tiadakah engkau mengerti hujung penantian seorang sahaya? Menanti habib berpayung mahabbah Menanti kecewa berimbal bahagia Menanti penawar yang meniada

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Tiadakah engkau rasa Penjara kian mengakar di belantara jiwa? Tiadakah sebentuk cahaya Yang dapat kita habisi berdua? Juli, 2013

168


AKE NERA ATAKIWANG

Doa Pagi lilin padam di altar sedang di dada Engkau menyamar api yang tak bisa padam sekali menyala gila! setiap hati terbakar jadi abu. anak-anak membakar dupa sedang di dada Engkau bergelung kabut menjadi abu-abu ai bunda! doa kita menggangguNya /2/ bunda, apakah Tuhan di surga akan mendengarkan doa kita? “diamlah nak!�Dia ada di mana-mana.

169

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

/1/


Unggun bila sajak kau bakar ia akan jadi unggun setiap nyala yang hilang membawamu pergi setiap bara yang mengabu menghanguskan namamu

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

170


JUMADI ZANU ROIS

Episode Mimpi

* Kau kah itu Pengintai yang lihai Mengendap di antara daun waktu yang jatuh Memenuhi laman yang di anggap tak bertuan Sedang kami memekik menahan lapar ** Arus biru lautku Menjadi kelam penuh cemburu Ketika para pendatang bertandang Membawa mimpi yang lain Laut kami biru Di dalamnya ada berbagai terumbu Untuk kami hidup dari waktu ke waktu Jangan tuan, jangan, Laut kami jangan diganggu Pertengahan malam, 22 Juli 2013

171

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kita menjadi pelahap waktu Menelannya dari akar hingga ke pucuk Tak terpikir oleh kita untuk menyimpan benih Lalu yang tertinggal hanya tampuk Terbenam ke tanah bersama mimpi-mimpi


Dongeng Laut Mana senja itu, tangkap dan hempaslah! Jika kau kalut, tak usah berdalih!

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Ini bukan punyaku Juga bukan tebing itu Berderai jatuh Di kaki laut Saat ombak sunyi Barangkali tuli Ketika ikan Dijemput Ajal saat awal Baru pandai berenang Sudah dipindang Laut subur Hanya dalam Kata-kata Kini Derai asin laut Hinggap di jujuran atap Mana senja itu, tangkap dan hempaslah! Jika kau kalut, tak usah berdalih! Sudut malam 06 januari 2013

172


Sakat Dalam perlayaran ini kita harus kembali sakat Di antara beting berpasir duri Menyimpan sesal tersusun rapi Dari pangkal zaman yang melapuk

Jauh di ujung suluh Dermaga kita menahan peluh Sedang ia melambai lebat Tepat di ujung pandangan mata tak tersekat Perahu kita retak bak ditetak Kau terus saja berdiri segak Seumpama tanjak Perahu ini sakat di hitungan hari seperempat Dalam perjalanan menuju niat malah jadi tabiat Jangan kau salahkan pantai yang pepat Kita sendiri salah tak bisa menempat tepat Lalu kita dikirimkan buih kata-kata Di antara air sedang menganak pasang Mengapa tak kau sulam Agar menjadi sauh untuk berlabuh?

173

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Teringat aku, Kau pernah memperam setandan pisang emas Seperti langgam lama yang selalu didendangkan emak Tapi kau lupa menaruhnya di dalam peti


Sengaja memang kita dikirimkan buih kata-kata Meski luak kau harus menyimpannya Seperti pisang emas Dalam langgam lama itu Sudut malam, 02-04 januari 2013

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

174


A. WARITS ROVI

Hikayat Penjaga Hutan Rongkorong suatu waktu ketika bulu landak menghias hutan masuklah kau dengan puisimu yang paling tajam berdiamlah sebagai batu yang teguh di segala suhu

sebab aku telah mendahului sejarah di hutan ini menjadi dewa penuh rajah bermukim di rerimbun daun dalupang beraut basah orang-orang mengingatku lewat bulan gerhana siapa yang sigap menyentuh malam dengan setabur bunga maka akan luput dari kutukku yang murka Gapura, 2013

175

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

dengan begitu kau akan bertemu denganku tanpa sepengetahuan daun-daun yang jatuh


Vita kau berdiri di muka pintu menggenapi keganjilan jam dinding yang berdetak sendirian pandanganmu menjelma gelembung sabun menelusup ke celah dadaku dan meletus di atas selumut rindu

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

kukenal wanginya seperti membentangkan taman purba berpagar bunga tempat kita berdua dahulu kala menunggu senja seraya kau tiupkan gelembung-gelembung sabun ke wajahku mengenalkan seperti apa wanginya rindu Gapura, 2013

176


DODI SAPUTRA

Penghuni Kerang Jadilah batu karang di kerak kehitaman Jadilah mutiara berlampis cangkang terdalam Sebab aku telah menegakkan panji-panji merah Saksikanlah garam-garam memakan baja tanpa resah Saksikanlah mamalia laut menatap tajam tanpa lelah

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Masuklah ke mulut tengkorak kapal selam searah Mulailah buka tudung besimu dan rasakan gelisah Tak ada langit melainkan pasir yang berdesir Tak ada tanah melainkan udara teduh semilir (Bayamas, Januari 2013)

177


Jalan Pulang “Berjalanlah di atas kepalaku, Niscaya kau temukan batang-batang kakimu� Asal kau tahu! Tapak ini tak sepanjang pohon batas layu Sebab telah dimakan rumah-rumah kayu Lumpur yang membeku terbujur kaku Tak rela dipijak raungan menderu

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Oh, bebatuan meronta setengah badan Tepian tangan terpaksa melebar ke kali Sedangkan akar-akar kecil melepas kerikil bertaji Melubangi tanah-tanah pijar dan rumput liar. (Pasaman Barat, 2013)

178


SOBIRIN ZAINI

Improvisasi Malam Buta Tentang Cericit Kelelawar yang Sama di Sebuah Kampung yang Tak Pernah Dianggap Ada Cericit kelelawar yang sama terdengar di luar kelambu ketika malam padam dan buai nyiur terkubur tak seekorpun ikan tersangkut di batang bubu tersebab siput tak hinggap di batang bakau kita pun jatuh terjerembab menahan ratap hingga terangkai cerita yang tak cukup sedepa tergagap mulutpun tak ada guna Tan…..ah..kut…a…nah…muta…nahki….ta…lu…ka! Hanya jejari malam kususunkan seperti rajut tikar pandan yang letoi burai ujungnya membuat kita tetap saja sama di mana-mana mendengar cericit kelelawar dan memendam kecemasan tak terduga hampa senja menyeringai di dengkur anak-anak kita bekukan waktu hingga tak jejakkan tanda dan makna Hu….jan….kuhu….jan….mudima… taki ….tahampa! Maka biarlah kutuntaskan cerita ini biar tak panjang pula dendam kita

179

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

: telukpambang


semayamkan hampa dalam tubuh renta kuala jadikan hikayat tak bernama tentang kampung kehilangan muka meski kita terjerat, tersedak, terbatuk setelah tak pernah mampu menjawab silang api dalam jantung kita yang kusut setelah semua pengkhianatan itu kini berpaut! Pmbgbks, Feb 2008-Okt 2011-Sept 2013

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

180


Ratap Enam Puluh Kilo Meter Kelopak Matamu Adalah Hikayat Luka Sepanjang Masa

Ini malam kesekian lagi malam, di tengah perit sunyi bulan membiarkan jejak kelam diatas langit menyepuh bau apak keringat menyeruak di sebentang terang serupa usai menyeduh mimpi padahal harap tetaplah hampa tak pernah masak ditanak berhari-hari Pmbg, Jul-Ags-Sept 2013

181

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Patah sudah ranting syahdu di matamu setelah begitu meretai butiran pahit itu seperti tak sanggup lagi hendak dikumpulkan sepanjang enam puluh kilo meter jarakmu meratap bening dari kelopak matamu benarlah luka luka yang telah menjadi hikayat sepanjang masa


Jangan Berharap Pada Nama dan Kenangan Jika Pekerjaan Belum Selesai dan Serasa Tak Mungkin Selesai Titik hujan, kabut pagi, bermacam bunyi garis tangan seseorang yang mencumbui sepi sebelum ini, bertahun-tahun sebelumnya telah menjadi hala yang tak pasti

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Jangan berharap pada nama dan kenangan lupakan siluet matahari di benakmu sebelum dia merangkak di punggungku juga lupakan hasrat duduk mesra berdua sambil bersulang segelas teh hangat jika pekerjaan belum selesai dan serasa takkan mungkin selesai Mrpynpkutlkpmbg, Sept-Okt 2011

182


RAMOUN APTA

Ia yang Tak Inginkan Mawar di Hatinya ia tahu semua mata pria padanya.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

ia pun tahu. betapa mawar yang dimilikinya akan pudar jua. sebagaimana warna yang luntur warna. ia tahu ia bukan bunga kertas yang mekar di taman atau bunga edelwis yang abadi di puncak pegunungan. ia hanya mawar. ia tahu. hanya mawar. mawar yang tumbuh di vas bunga. mawar yang merahnya kelak sirna.

183


Sepotong Senyum dalam Telur Mata Sapi seperti matahari yang selalu bangun pagi. seperti mekar bunga di punggung teh mini poci. seperti cericit kolibri saat menjatuhkan putik sari. demikian gelagat Renti dihadapan nyonya ini hari. nun jauh di kedalaman dada Renti, masa kanak-kanak kerap berganti rimbun semak yang jauh di petak petak lahan tinggal di ujung jalan memanggil Renti pulang sejenak meski hanya untuk sekali bertanak nasi. Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

tiga tahun pergi hanya sejumlah gaji yang kembali menemu ibu yang kurus menanti di layar televisi sepulang ngaji tanpa roti tanpa kopi tanpa puisi tanpa senyum dalam telur mata sapi bikinan Renti. Renti rindukan emak. emak pun rindukan Renti. masa kanak kanak berlarian di benak kedua manusia ini. tetapi nyonya baru saja kematian suami. kesedihan nyonya seperti rasa sakit di pangkal gigi. Renti mesti berpandai-pandai nyanyi. apakah nyonya akan berbaik hati membolehkan Renti pulang dan menawarkan gaji akhir bulan plus bonus tunai ke tiga belas meski ini tahun bulan ke dua belas dalam masehi belum genap menyimpulkan?

184


semoga saja. semoga matahari dan salam pagi menjernihkan mata nyonya. Renti memang terlalu dini meminta cuti sebagaimana puisi yang terbit akhir-akhir ini.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Renti akan pergi. ia siapkan sarapan pagi bersama sepotong senyum dalam telur mata sapi.

185


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

186


VIDDY AD DAERY

Di Atas Laut Banda

Aku melaju di atasnya dengan gemetar Perahu kami meloncat-loncat ganas Berlomba dengan lumba-lumba dan ikan terbang Ooo beta tamu Bobato Hugua Kami bersama Jogugu, Jojaro dan Bungare Ooo angin kawal beta rame-rame Masih jauh, masih jauh Pantai indah pulau hijau o manise Wangi-wangi, Wakatobi, 2008 - Depok, 2011.

187

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Laut menjadi misteri di kedalamannya yang biru gelap Berapa ribu peti yang dihimpun oleh pasir laut Dari kapal-kapal bajak laut Dari kole-kole dan kora-kora Dari kapal-kapal peranggi kulit putih rambut merah Dari kapal-kapal penjelajah Arab Aribah Semua diganyang dan dikubur Dikipasi arus dalam Diperam dingin garam


So Terlalu Manise Dia manis so terlalu manise Kulit hitam manis gigi putih Dia gadis tetesan darah pribumi awal Pelayar Nusantara kuno Dari zaman Rahuwana wangsa Drawida Migrasi Raksasa-Raseksi ke Lautan Teduh Dengan perahu kora bercadik ganda Tercecer di pulau-pulau kecil O manise, so terlalu manise

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Dia bernyanyi bersama angin barat Dilehernya melambai untaian kalung mutiara Perahu melaju didorong angin Angin dibujuknya dengan nyanyian dan pukulan tifa Hoouleehiii‌olehiooo Olele olle olehioooouuu Olele olle olehiooooo‌ Wangi-wangi,Wakatobi, 2008 - Depok 2011.

188


REFILA YUSRA

Semua Mendung adalah Kau

Aku melihat kunang-kunang di ketapang, di bawah daunnya sedang berteduh menunggu hujan menjadi gerimis yang berbaris pelan. mataku masih tetap liar menatapi awan, gerimis dan kunang-kunang apakah kau masih tetap di sana? Alasan apa yang merenggangkan mata kita untuk saling bersitatap, membaca dan berbicara usia hanya perkiraan awan redup-terang adalah langkah untuk kembali pada mendung yang sama yang sinarnya remang-remang kunang. Kamar Tengah, 20 agus 2013

189

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Semua mendung adalah kau, di mana jalan kala itu lembab—selembab kabut di bibir jendela pagi ini cuaca yang selalu bohong di balik awan menjadi tanda kalau kenangan mengikat di ruas jari kita kau berkata lewat nanar mata yang sinarnya remang-remang kunang saat itu kabut menutupi pandangan kita mencari bola mata yang dulu pernah berkenalan.


Na‌ Di antara keramaian yang kita punya dulu, sebelum musim mulai ranum pohon kasturi kerap mempermainkan dahannya di bayangmu Di situasi mendung berjelaga anak-anak menggontaikan kaki, membentuk jejak-jejak tawa di gigir pasir kita perlahan-lahan menjadi sepasang mata yang menangkap garis halus kenangan senja

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Barangkali kau lupa, Na ombak yang kau sangka dadaku pecah terbelah bagai kuda-kuda fir’aun yang kandas mencari pulang dosa-dosa cemas jika suatu nanti kau menemukan setangkai jingga kuburlah di kedalaman mata yang genggam seperti putih burung di angkasa yang lepas membawa sayapnya yang membadaikan hatiku, Na adalah tatap awan berkelung hitam ranting kasturi ini mengibar hujan bagai poni yang tumbuh di atas matamu—nanar 2012

190


GHOZ TE

Di kolam itu pikiran tenggelam ikan mas berenang ke tepi kedua siripnya membuat riak kecil mengenai wajahku yang ngambang samar. Aku bimbang terhadap hidup merasa sendiri dan cemas ada yang tak dapat bersembunyi di sini. Urat saraf tegang bulan memantulkan cahayanya dan suara-suara bergerak ke dalam lubang batin di kolam itu daun terapung seperti sebuah cemas bayangan-bayangan mengepung dan tubuh kumalku bergetar Yogyakarta, Maret 2013

191

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Di Tepi Kolam


Matahari Bayangan bergerak dari celah-celah dinding hari ini aku ingin jadi matahari yang memburu dan menaiki punggungmu aku memberi senja sekaligus membakar semua di jalan-jalan aku tak pernah lupa menyebut namamu, ingat langsat kulitmu, juga kenakalan-kenakalan yang pernah kita buat

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Matahari, sekeping rindu mabuk dan terbakar akhirnya menjadi apa saja aku rela maut tak selamanya mengerikan, Qie sebab mati seluruh ruh bersekutu di surga yang kuucapkan kata-kata menjelma puisi sekaligus mantera sakti menangkal cemas dan ketakutan-ketakutan yang akan datang Yogyakarta, Maret 2013

192


/a Pada suatu malam tanpa rencana kita seperti lelaki pengembara berjalan dengan keyakinan, juga pertanyaan-pertanyaan konyol tanpa alur ke benua yang barangkali tidak dikenal bicara kebenaran tuhan yang disakralkan martin luther yang dibunuh dituduh pembangkang hallaj si pemabuk dari Persia bukankah orang-orang seperti mereka akan selamnya dianggap bahaya? Kata orang, ini zaman posmo kau dan aku bebas membuat tuhan surga dan neraka imajinasi yang menyempal meyakini apa yang ada dalam kepala memberhalakan benda-benda kebenaran jadi abu-abu tak ada yang tersisa untuk kita bicara /b Jangan tanya tuhan sebab aku muak bicara banyak surga itu kotak impor kardusan kolam susu, dahan-dahan rindang

193

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Bicara Tuhan Bersama Ulul Dan Sofyan


buah mekar dada bidadari tapi tuhan tak ada dalam buku-buku panjang, ceramah-ceramah ah! jangan kutuk aku si pendosa dan juriga atas keyakinanku sebab orang-orang menghunus pedang ribut soal kepercayaan, saling ancam Aku lelaki berjalan ke utara malam bergerak matahari terbit dan tenggelam tuhan ada di mana saja, katanya Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

194


M. RAUDAH JAMBAK

Balada Si Boru Deak Parujar pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon rindang bagi penghuni banua ginjang tidaklah sesunyi porlak sisoding, taman tersembunyi yang menyimpan rahasia abadi.

pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon berdaun menyemai gugur, daun-daunnya yang menangkup ke lapis langit pertama memanjatkan do’a mengharap cinta di setiap lembarnya, melepas gairah bersama ranting-ranting patah. di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka hobarna, bermula kisah manuk hulambujati, induk tiga telur besar yang mengandung batara guru mengandung debata sori dan mangalabulan. di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka torsa, berlanjut kisah manuk hulambujati mengeramkan tiga telur lagi; mengandung siboru parmeme, siboru parorot, dan siboru panuturi. siboru deak parujar, putri bungsu batara guru dan siboru parmeme, berkali-kali pergi ke bawah rindang tumburjati, mendengar cerita manuk hulambujati yang bertengger di puncak tertinggi. ia seperti cahaya bintang-bintang

195

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon membelai seramai ranting dan daunnya. mendapat amanat sepanjang hayat, laklak segala kitab mengungkap segala wasiat


yang berkejaran. moncongnya berpalang besi, kukunya bergelang kuningan, dan sosoknya sebesar kupu-kupu raksasa nan berkilau bersahabat dengan leang-leang mandi, leang-leang nagurasta, dan untung-untung nabolon, sebagai pelayan dan penyampai pesan “Wahai, Manuk Hulambujati, untung-untung Nabolon. Mengapa engkau tak mau turun untuk bersamaku di sini? “

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

siboru deak parujar tak lagi memaksa diri. setiap kali kembali ke bawah rindang tumburjati, diam-diam mengajak siboru sorbajati. tak lupa merapikan letak hulhulan, penggulungan besar untuk benang tenunan. “Kita semua di lapis kedua kahyangan ini keturunan dewa. Siapapun yang menjadi pasanganku nanti, lebih baik daripada tidak ada. Seandainya ayah kita berkenan juga menjodohkan aku dengan Siraja Odap-odap, aku akan turut juga,� ujar siboru sorbajati, si kakak tercinta memancing cerita. keturunan laki-laki batara guru mendapat pasangan dari putri debata sori. anak laki-laki debata sori dari putri mangalabulan. anak mangalabulan mendapatkan pasangan dari putri batara guru, memilih antara siboru deak parujar dan siboru sorbajati. “Ah, berpapasan saja aku tidak akan mau dengan anak Mangalabulan itu! Lebih baik melompat dari puncak rumah

196


dan ingin menjadi batang enau daripada melihat wajah Siraja Odap-odap.” mereka pun meneruskan gulungan benang tenun sampai memulai tenunan baru. berhari-hari, berbulan-bulan. batara guru dari bagian biliknya nampak tidak sabar lagi untuk mendesak salah satu putrinya dipersunting siraja odap-odap.

siboru sorbajati akhirnya melangkah sendiri memenuhi panggilan ayah, mendengar suara-suara yang menanti di halaman rumah. benar-benar melakukan niatnya dengan melompat dari puncak rumah sambil menyumpahi diri agar menjadi batang enau saja. “Siboru Sorbajati lebih suka mengutuk dirinya daripada patuh kepada ajar. Satu lagi putri kakanda yang sangat turut pada ajar, pastilah itu Siboru Deak Parujar.” “Tidak, ayahanda. Lagi pula tenunanku belum selesai.” sampai menjelang pagi dia mengeluarkan bunyi alat tenunnya itu sambil menikmati. dan terpikir melemparkan hasoli, masih tergulung benang yang dipindah dari hulhulan. semalaman batara guru tetap berjaga agar putrinya tidak melarikan diri. bunyi alat tenun siboru deak parujar didengarnya mulai berhenti. “putriku, deak parujar!” siboru deak parujar menyahut panggilan batara guru sekali,

197

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

“Kemarilah kalian berdua,” panggil Batara Guru.


selebihnya dia sudah bergayut pada benang yang menjulur entah sampai ke mana. semakin turun, nampaknya dunia bawah tidak jelas dan sangat gelap. angin kencang dan lebih dahsyat kacaunya dari sebelum penciptaan kahyangan. “Leang-leang Mandi, Untung-untung Nabolon…! Kumohonkan agar engkau meminta sekepul tanah untuk tempatku berpijak di bawah! Aku tak mau kembali ke Banua Ginjang.”

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

sekepul tanah yang dikirimkan, ditekuk siboru deak parujar, langsung menghampar tempat berpijak menjadi awal banua tonga. naga padoha menggoyang guncangan. dari bawah tanah menyulam amarah. sebab frustrasi dengan nai rudang ulubegu. “Ompung Mulajadi Nabolon, mohon kirimkan kembali sekepul tanah lewat pesuruhmu Leang-leang Mandi, si burung layang-layang!” permohonannya sampai untuk ditekuk kembali, lengkap dengan sebilah pedang dan tutup kepala. menghindari terik delapan matahari mengeringkan banjir air di banua tonga. menghunus pedang menaklukkan naga padoha yang berang. naga padoha masih menyimpan dendam mengguncang dari banua toru, tempat segala kegelapan, kejahatan, dan kematian. “Suhul! Suhul!” mulajadi nabolon mengirimkan bibit-bibit tumbuhan

198


dan hewan, memasukkan ke dalam sebuah lodong poting, potongan batang bambu, berisi benih bercampur jasad siraja odap-odap, menghampiri siboru deak parujar di sebuah pancuran yang dihalangi rimbun tetumbuhan.

pertemuan siboru deak parujar dengan siraja odap-odap, sebagai tuan mulana di banua tonga tak bisa lagi ditolak. mulajadi nabolon memberkati mereka hingga melahirkan, raja ihat manusia dan pasangannya bernama itam manusia, manusia pertama. siboru deak parujar dan siraja odap-odap kembali ke banua ginjang, melalui seutas benang. “Kalau kalian rindu kepadaku, terawanglah purnama bulan. Di situlah aku kelihatan kembali bertenun dan menyulam.� 2013

199

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

“Boru Deak-Parujar, tenunlah sehelai ulos ragidup, kemudian lilitkan ulos itu pada lodong itu lalu bukalah tutupnya.�


Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

200


MAMAD HIDAYAT

Ajarkan Aku ajarkan aku merangkai sunyi pada mata yang tak lagi basah pada senja yang jatuh di matamu dan pada luka yang kita tertawakan

dan aku semakin gigil di sini, di diam yang tak pernah kita bicarakan di kemtian yang tak pernah kita ziarahi 090613

201

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

ajarkan aku melangkah, menjejaki setiap keriput bibirmu yang memucat mengikuti setiap alur matamu yang semakin sayup


Memijak Hitam

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

aku benar-benar jatuh. sendiri. mengalir di lorong-lorong sungai. aku benar-benar jatuh. meninggalkanmu. mengingkari bait-bait tersusun. aku tak juga menemukan laut, terperangkap dalam danau kecil dengan tulisan-tulisan yang terpenjara cinta menjelma sudut-sudut dalam lingkaran tanpa siapa-siapa janji menjadi mimpi dalam tidur kita masing-masing tak pernah menoleh ke belakang, apa bedanya kematian dengan terpenjara. tak pernah bisa menemuimu. tak pernah bisa melangkahkan kaki. berjanjilah untuk tak pernah memijak hitam, yang luas tanpa arah. 170613

202


TENTANG PENYAIR

Lukman A Salendra, tinggal di Jakarta. Lahir di Sukabumi 01 November 1976. Sebelumnya menulis puisi dan esai dengan nama Lukman A Sya. Karyanya tersebar di berbagai media massa seperti Kompas dan Republika. Namanya tercatat dalam Enskilopedi Sastra Indonesia, Buku Pintar Sastra Indonesia, dan Leksikon Susastra Indenesia. Mengikuti Kuala Lumpur International Poetry Gathering 2009, dan Jakarta International Literary Festival 2011. Kini sedang mengerjakan Majalah Internal di Sekretariat Wakil Presiden RI. Maman S Mahayana, lahir di Cirebon, 18 Agustus 1957. Dosen Universitas Indonesia ini lebih dikenal sebagai kritikus sastra. Akar Melayu: Ideologi dalam Sastra, adalah salah satu bukunya. Menerima Anugerah Sagang 2006 dan Anugerah Sastera Majelis Sastera Asia Tenggara 2007. Sejak 2009, tinggal di Seoul, mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul. Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Universitas Lampung. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku dimuat di berbagai media seperti Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jawa Pos, Berita Harian Minggu (Singapura), Sabili, dll. Termuat dalam antologi bersama, seperti Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora

203

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Cikie Wahab, lahir dan tinggal di Pekanbaru. Karyanya pernah dimuat di Riau Pos, Majalah Sagang, Padang Ekspres, Sumut Pos, Jurnal Medan, Story Magazine, Radar Banten dan Radar Seni. Cerpen dan puisinya masuk dalam sejumlah antologi bersama seperti; Fragmen Waktu (Yayasan Sagang), Robohkan Pagar Ini, Datuk (Yayasan Sagang, 2011), Bulan Majapahit Mojokerto (2010), Kopi Hujan Pagi (Paragraf, 2012). Cerpennya “Kesalahan Angin Selatan” terpilih sebagai cerpen terbaik lomba menulis “Kawabanua, Kalimantan Selatan dalam Cerita.” Buku kumpulan cerpen terbarunya adalah Gaun Sinar Bulan (2012).


RI, 2005), Akulah Musi (PPN V, Palembang 2011), dll. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012). Beberapa kali memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah. Kini ia bekerja di pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ulfatin Ch. Lahir di Pati, 31 Oktober l966. Puisi, cerpen, dan esai dimuat berbagai media, tergabung dalam antologi bersama seperti, Sembilu (1991), Kafilah Angin (1991), Risang Pawestri (1990), 32 Penyair (Pengadilan Puisi Yogya, 1990), Kemilau Musim (Pekanbaru, 2003), Festival Puisi International Winternachten Overzee (TUK, 2001), Cakrawala Sastra Indonesia (DKJ, 2004), Gelak Esai dan Sajak Ombak Anno (Kompas, 2001), Horison Sastra Indonesia (2001), Antologia de Poeticas; Antologi puisi Indonesia, Portugal, dan Malaysia (Dwi Bahasa, 2008), dll. Buku puisinya yang sudah terbit: Selembar Daun Jati (Pustaka Firdaus,1996), Konser Sunyi (1993), dan Nyanyian Alamanda (Bentang Budaya, 2002). Puisinya “Rumah Masih yang Dulu” meraih penghargaan SIH Award tahun 2001. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, 19 Januari 1975. Kini redaktur rumahlebah ruangpuisi dan ketua redaksi Jurnal Cerpen Indonesia. Memperoleh sejumlah penghargaan, di antaranya Margarana Award (1996), SIH Award dari Jurnal Puisi (2004), dan Anugerah Sastra Horison (2005). Terakhir, buku puisinya Gugusan Mata Ibu (Bentang Pustaka, 2005) memperoleh Anugerah MASTERA di Kuala Lumpur. Buku puisi terbarunya Api Bawah Tanah, dalam proses terbit. Jefri al Malay, lahir di Sungai Pakning, Bengkalis, 16 Oktober 1979. Alumnus jurusan Teater Akademi Kesenian Melayu Riau. Menulis puisi dan cerpen. Johan Penyair Panggung Se-Asia Tenggara 2011, sebuah ivent lomba baca puisi di Tanjung Pinang. Kini tercatat sebagai mahasiswa UNILAK dan menjadi tenaga pengajar di SMA Negeri 2 Bengkalis. Buku puisinya yang baru terbit adalah Kemana Nak Melenggang (2012). M Badri, lahir di Blitar, tapi sejak kecil menetap di Riau. Alumnus Universitas Islam Riau dan pascasarjana IPB ini, mengaku “dibesarkan” oleh sastra-cyber. Menulis puisi dan prosa di sejumlah media massa dan antologi bersama seperti Dian Sastro for President: End of Trilogy (AKY

204


dan INSIST Press, 2005), Loktong (CWI-Menpora, 2006), Tembang Bukit Kapur (Escaeva, 2007), dan Tamsil Syair Api (Sagang, 2008). Buku tunggalnya yang telah terbit adalah Malam Api (kumpulan cerpen, 2007) dan Grafiti Bukit Puisi (kumpulan puisi, 2012) mendapat Anugerah Sagang 2012 sebagai Buku Pilihan. Saat ini tinggal di Pekanbaru, dan di http://negeribadri.blogspot.com.

Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Bekerja sepenuhnya sebagai penulis. Selain puisi, sesekali juga menulis cerita serta aktif mengisi kolom opini di sebuah harian lokal. Sejak 2009 ia mengurusi departemen sastra pada Komunitas Akarpohon, sebagai kurator dan koordinator. Kini mukim di sebuah dusun kecil di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Riki Utomi, alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UIR. Menulis sajak, cerpen, esai, dan sesekali naskah drama. Pernah berproses menulis di FLP Riau. Sejumlah tulisan telah dimuat Lampung Post, Suara Merdeka, Padang Ekspres, Majalah Sabili, Riau Pos, Haluan Kepri, Batam Pos, Jawa Pos, Metro Riau, Haluan Riau, Koran Riau, dan terangkum dalam sejumlah antologi bersama. Diundang dalam helat baca sajak Penyair Jemputan Serumpun 2012 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Tengah menyiapkan buku cerpen Mata Empat (Seni Kata). Kini menjadi guru di Kepulauan Meranti. Tinggal dan berkarya di Selatpanjang. Danjte S Moeis, lahir di Rengat, 12 April 1952. Ia lebih dikenal sebagai perupa. Namun, ia mengaku, bakat lamanya adalah menulis. Selain puisi, ia pun menulis cerpen dan esai, terpublikasi di sejumlah media massa dan buku antologi bersama. Latar belakangnya sebagai perupa dan penulis ini, membuat ia tunak sebagai salah satu pengelola Majalah Sagang,

205

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Isbedy Stiawan ZS, lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya tersebar di berbagai media massa. Sejak 1982 sampai sekarang, 25 buku telah diterbitkan. Di antaranya Aku Tandai Tahi Lalatmu (2003), Kota Cahaya (2005), Lelaki yang Membawa Matahari (2007), dan buku puisi terbarunya Dongeng Adelia (2012). Mengikuti berbagai kegiatan sastra seperti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru dan Kedah (Malaysia), Dialog Utara di Thailand, Utan Kayu Literary Festival, dan Ubud Writers and Readers International Festival.


sebelumnya sempat bergabung di Majalah Menyimak dan Suara. Di bidang seni rupa, bersama sahabatnya, Nasrun Thaher, disebut-sebut sebagai pelopor penciptaan seni instalasi di Riau. Selain di majalah Sagang, ia kini mengajar di Sekolah Tinggi Seni Riau. Dian Hartati, lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Kumpulan puisi tunggalnya adalah Nyalindung, Cerita Tentang Daun, dan yang terbaru Kalender Lunar (2011). Tahun 2012 puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan diikutsertakan dalam acara Jemuran Puisi di depan Danau Zug, Switzerland. Mendapatkan berbagai penghargaan penulisan karya sastra, salah satunya Anugerah Sastra Jurdiksatrasia (2006). Alumni program Sastra dan Bahasa Indonesia-Universitas Pendidikan Indonesia Bandung ini sehari-hari bekerja sebagai editor lepas dan mengelola blog sudutbumi.wordpress.com. Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Cahaya Buah Hati, alumnus jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya, UNILAK. Pernah belajar di Sekolah Menulis Paragraf. Diundang membaca puisi pada beberapa event seperti Pesta Penyair di Medan (2009), Temu Taman Budaya Nasional 2010 di Anjungan Idrus Tintin (2010), Hijrah di Purnama, Event Satelit Ubud Writers and Readers Festival di Balai Bahasa Propinsi Riau (2010), Tarung Penyair se-Asia Tenggara di Anjung Cahaya Kota Tanjung Pinang (2011), Aksi Panggung Penyair Perempuan Riau (Lounching Laman Sastra For Her Pekanbaru Pos) di Laman Bujang MAT Syam Purna MTQ (2011). Sajak-sajaknya di muat di sejumlah media, dan termaktub dalam buku antologi bersama seperti Ziarah Angin (Sagang, 2009), Mengucap Sungai (Kumpulan Sajak temu Taman Budaya, 2010), Fragmen Sunyi (Sagang, 2010), Rahasia Hati (Kumpulan Sajak Penyair Muda Riau, 2011), Munajat Sesayat Doa (2011). Kini tinggal di Senapelan. Shohifur Ridho Ilahi, lahir di Pasongsongan, Sumenep, 1990. Puisi-puisinya termuat di pelbagai media massa dan termaktub dalam buku Akulah Musi (PPN V Palembang, 2011), Tuah Tara No Ate (TSI IV Ternate, 2011), Serumpun (Antologi Puisi Penyair Yogyakarta-Kuala Lumpur, 2012), Agonia (Antologi Puisi Yogya-Jember, 2012), Satu Kata Istimewa (Antologi Puisi Penyair Yogyakarta, 2012), dan Poetry

206


Poetry from 226 Indonesian Poets; Flows into the Sink into the Gutter (Shell-JT, 2012), Sauk Seloko (PPN VI Jambi, 2012) dan lain-lain. Diundang ke berbagai acara sastra, diantaranya Palembang International Poet Ghatering V 2011, Temu sastrawan Indonesia IV di Ternate 2011, Temu Penyair Yogyakarta-Kuala Lumpur 2012, Jambi International Poet Ghatering VI 2012, dll. Belajar di jurusan Teologi & Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Alvi Puspita, lahir di desa Teratak-Kampar, 3 Maret 1988. Beberapa tulisan pernah dimuat di beberapa media seperti Riau Pos, Batam Pos, Padang Ekspres, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi dan Majalah Sagang. Puisi-puisinya juga terangkum dalam sejumlah antologi bersama yang diterbitkan oleh Yayasan Sagang, seperti Tamsil Syair Api (2008), Ziarah Angin (2009), Riwayat Tanah (2011). Alvi adalah alumnus FKIP Universitas Riau, dan Pascasarjana FIB Universitas Gadjah Mada. Agus Hernawan, penyair, esais, dan peneliti kelahiran Palembang 16 Agustus 1975. Pendidikan terakhir School for International Training (SIT), Vermont, USA. Mengikuti sejumlah pelatihan tentang popular education, community development, dan advokasi di Highlander Institute, Tennessee, Spark Educational Institute, Vermont dan World Learning, Brattleboro. Pernah menjadi konsultan program condev & mondev di Lampung dan Kalimantan Timur, Pacitan, Trenggalek, Ponorogo, Magetan, Ngawi, dan Sleman. Terlibat dalam tim advokasi child labor di Liberia, Afrika. Saat ini, menjadi Pimpinan Umum REFERENSI, Jurnal Analisis Politik, diterbitkan Populis Institute, Institute for Walfare Democracy, dan Friedrich Ebert Stiftung (FES). Musa Ismail, lahir di Pulau Buru, Karimun, Kepulauan Riau. Guru SMA 3 Bengkalis ini, menulis puisi, cerpen,

207

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Esha Tegar Putra, lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Menulis puisi, cerpen dan esai, dipublikasikan di berbagai media dan antologi bersama. Diundang baca karya dalam sejumlah ivent sastra seperti Temu Penyair Empat Kota di Yogyakarta (2007), Temu Sastrawan Indonesia II di Pangkal Pinang (2009), Ubud Writers & Readers Festival di Bali (2009), dan Salihara-Utankayu Biennalle 2011. Pinangan Orang Ladang (2009) adalah buku kumpulan puisinya yang pertama. Selain menulis, ia juga mengajar di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta, Padang.


novel, dan esai. Selain dimuat di sejumlah media massa, juga terangkum dalam sejumlah antologi bersama yang diterbitkan oleh Yayasan Sagang. Buku-bukunya yang telah terbit adalah Sebuah Kesaksian, Hikayat Kampung Asap, Membela Marwah Melayu, Tangisan Batang Pudu, dan Tuan Presiden, Keranda dan Kapal Sabut. Buku yang disebut terakhir, terpilih sebagai buku terbaik Anugerah Sagang 2010. Alizar Tanjung, lahir di Solok, dusun Karang Sadah, 10 April 1987. pernah sekolah di IAIN Imam Bonjol Padang. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah media seperti Sindo, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Suara Merdeka Singgalang, Padang Ekspress, Riau Pos, dan Haluan. Termaktub dalam beberapa buku antologi bersama. Kini ia bergerak di Forum Lingkar Pena (FLP Sumbar) dan komunitas Kedaikopi.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Kunni Masrohanti, anak jati Bandar Sungai, Siak Sri Indrapura. Selain menulis puisi, ia juga aktif berteater. Setelah sebelumnya aktif berproses di Sanggar Latah Tuah, kini ia menggerakkan komunitas Rumah Sunting. Puisi-puisinya termuat di sejumlah media dan antologi bersama. Buku puisinya yang pertama berjudul Sunting, terpilih sebagai buku terbaik Anugerah Sagang 2011. Sejak sepuluh tahun terakhir, ia bekerja sebagai jurnalis. Muhammad Asqalani eNeSTe, lahir di Paringgonan, 25 Mei 1988. Puisi-puisinya termuat di sejumlah media massa seperti Suara Merdeka, Majalah Sabili, Majalah Sagang, Majalah NoorMuslima (Hongkong), Majalah Frasa, Medan Bisnis, Waspada, Riau Pos, Batam Pos, Metro Riau, Koran Riau, Koran Cyber, Haluan Riau, dll, selain termuat dalam beberapa antologi bersama. Buku puisinya yang telah terbit Tangisan Kanal Anak-Anak Nakal dan Sajak Sembilu tentang Teh Ribuan Gelas. Segera terbit buku ketiga berjudul Abusia. Kini aktif di Komunitas Alinea 3 FLP Pekanbaru. Kurnia Hidayati, lahir di Batang, Jawa Tengah, 1 Juni 1992. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi jurusan Tarbiyah di STAIN Pekalongan. Tulisannya tergabung di beberapa antologi, di antaranya Setia Tanpa Jeda, Mimpi Seribu Kemenangan, Napas Dalam Kata, dan Romansa Telaga Senja. Hasan Aspahani, lahir di Sei Raden, Kabupaten Kutai

208


Kertanegara, Kaltim, 9 Maret 1971. Penerima Anugerah Sagang 2012 kategori Seniman Serantau ini, telah menerbitkan beberapa buku, di antaranya Orgasmaya (2007), Telimpuh (2009), Luka Mata (2010), dan Menapak ke Puncak Sajak. Selain berpuisi, ia juga seorang kartunis dan jurnalis. Kini menjadi General Manager di Batam Pos.

(COMPETER).

Fatih El Mumtaz, lahir di Pariaman. Alumni S1 Pendidikan Matematikan UIN Suska Riau. Kesehariannya bekerja sebagai pendidik di SDIT Al Kindi Pekanbaru. Beberapa tulisannya dimuat di Metro Riau, Riau Pos, Kompas.com. Puisi-puisinya tergabung dalam antologi Kejora yang Setia Berpijar, dan Bukittinggi Ambo di Siko. Kini ia bergiat di FLP Pekanbaru dan Community Pena Terbang

Aris Kurniawan, lahir di Cirebon, Jawa Barat, 24 Agustus 1976. Tulisan-tulisannya berupa cerpen, resensi, sajak, dimuat di sejumlah media, antara lain Kompas, Media Indonesia, Republika, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Majalah Horison, Koran Jakarta, Suara Pembaruan, dan Seputar Indonesia. Mantan buruh pabrik ini, pernah bekerja sebagai wartawan di majalah Fashion, situs film dan hiburan, tabloid wanita, media konsultan, dan sekarang penulis advertorial di sebuah koran ibukota. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (2005). Anju Zasdar, Lahir di Pekanbaru pada tanggal 13 Mei 1983. Gemar dunia sastra, dengan terus belajar menulis, membaca buku-buku sastra, dan berdiskusi di komunitaskomunitas. Selain sastra, nonton film adalah kegemarannya yang lain. Kini sedang kuliah di jurusan Teknik Informatika, Universitas Lancang Kuning Pekanbaru. Ahmad Ijazi H, kelahiran Rengat Riau, 25 Agustus 1988. Pemenang 1 Lomba Puisi Nasional Koran Bogor Online 2012. Pemenang 1 Lomba Menulis Puisi Nasional

209

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Muhammad Aswar, lahir di Marena, sebuah kampung kecil di lembah Bambapuang, Enrekang, Sulawesi Selatan, pada 15 Mei 1991. Kini masih kuliah di jurusan Tafsir Hadis, fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Kado Untuk Guru 2011, Pemenang 1 Lomba Menulis Puisi Nasional Majalah Story Jakarta 2010, Pemenang 2 Lomba Puisi Islami tingkat Nasional RRUR 2012, dll. Puisinya termuat dalam antologi Qasidah Lintas Cahaya 2013, Kutukan Negeri Rantau 2011, Give Spirit for Indonesia 2011, Tiga Biru Segi 2010, dll. Saat ini mengajar di Ponpes Al-Uswah Pekanbaru dan bergiat di FLP Riau. Hidayat Jasn, kelahiran Jepara, 28 Agustus 1976. Senang menulis sajak sejak masih duduk di bangku SMA. Sajak-sajaknya terpublikasi di Kendari Pos, Bali Post, Surabaya Post, Solopos, Suara Merdeka, Wawasan, Padang Ekspres, Haluan Kepri, Sumut Pos, Waspada, Suara Muhammadiyah, Sabili, dll. Juga termuat dalam antologi bersama Nyanyian Fajar, Sajadah Kata, dan Peta Kepenyairan 18 Penyair Jawa Tengah, dan dibacakan di Radio Suara Jerman Deutshche Welle.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Jufri Zaituna, lahir di Bragung, Sumenep, Madura, 15 Juli 1987. Puisi-puisinya pernah dimuat di Majalah Sastra Horison, Harian Jogja, Merapi, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Merdeka, Jurna Sajak, Harian Sumut, Radar Madura, Radar Surabaya. Termuat di beberapa antologi bersama: Ya Sin (PBS, 2006), Merpati Jingga (PBS, 2007), Annuqayah dalam Puisi (BPA, 2009), Mazhab Kutub ( Pustaka Pujangga, 2010), Tiga peluru (Trataq Media, 2010), Penganten Taman Sare (Bawah Pohon, 2011), dan Antologi Puisi Suluk Mataram: 50 Penyair Membaca Yogya, (GREAT Publishing, 2012). Kini menjabat sebagai Lurah Komunitas Masyarakat Bawah Pohon, Yogyakarta.

UIR, Pekanbaru.

May Moon Nasution (Maimun), lahir 2 Maret 1988 di Singkuang, Madina, Sumatera Utara. Puisipuisinya dimuat di Kompas, Indopos, Koran Tempo, Suara Merdeka, Batam Pos, Medan Bisnis, Haluan Riau dan Antologi Puisi Bulan Purnama Majapahit (DKM, 2010). Ia bergiat di Komunitas Paragraf dan Competer, serta masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP

Irham Kusuma, lahir di Bandung, 6 Juli 1995. Siswa di salah satu sekolah menengah kejuruan di kota Bandung. Saat ini aktif dalam kegiatan kebudayaan, menulis puisi dan berkarya untuk seni rupa. Karyanya

210


dipublikasikan di berbagai media dan antologi bersama.

Lauh Sutan Kusnandar, lahir di Lombok Barat, NTB, 09 Januari 1988. Karya-karyanya telah dibukukan dalam 3 antologi bersama, antara lain Tiga Biru Segi (Desember 2010), Munajat Sesayat Doa (Januari 2011), Sketsa Angin di Atas Pasir (Maret 2011), Rumah Air (Juli 2011), Kepadamu, Pahlawanku (2011), Atas Nama Bulan yang Dicemburui Engkau (2011), dan beberapa judul lagi yang dalam proses terbit. Juga dimuat di beberapa media cetak dan online. Iben Nuriska, lahir dan tinggal di desa Batu Belah, Kec. Kampar Riau. Selain menulis, ia juga sutradara teater dan sutradara film independen. Sempat berproses dan tinggal di Yogyakarta. Puisi dan cerpennya dimuat di beberapa media dan antologi, seperti Riau Pos, Riau Mandiri, Sanggam, Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010, dan Antologi Puisi Penyair Muda Riau 2008. Syafrizal Sahrun, lahir tanggal 4 November 1986, di desa Percut. Memperoleh gelar sarjana dari UISU dan sekarang tengah mengikuti PPs di UMN. Beberapa karya puisi dan esai sastra dimuat di Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Mimbar Umum, Batak Pos, Lampung Pos, Minggu Pagi, Haluan Kepri, Haluan Padang, Majalah Frasa, Majalah Ekspresi dan Majalah Horison. Puisinya juga dimuat beberapa antologi puisi; Suara Peri dan Mimpi, Cahaya, Tarian Angin, dan Menguak Tabir. Bekerja sebagai guru di SMK Y.P. Citra Harapan, Percut. Bergiat di komunitas Home Poetry, Kaktus UISU dan Komunitas Insan Sastra Indonesia (KOMISI).

211

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Hang Kafrawi, lahir di Teluk Belitung, Bengkalis, 22 Maret 1974. Menamatkan S1 di Fakultas Sastra Unilak dan S2 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Karya-karyanya yang telah dibukukan antara lain, Membaca Riau (kumpulan puisi), Orang-orang Kalah (drama dan kumpulan cerpen), Wawancara Khayal dengan Yung Dollah (kumpulan cerita humor), Merbau Bersiram Darah (roman/cerita rakyat), dan Dedap Durhaka (kumpulan naskah drama anak-anak). Kini menjabat ketua jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning, ketua Teater MATAN, dan mengajar di Sekolah Tinggi Seni Riau.


Fatih Kudus Jaelani, lahir di Pancor, Lombok Timur 31 Agustus 1989. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP Hamzanwadi, Selong. Menulis puisi dan telah disiarkan di sejumlah media cetak seperti Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Bali Post, Radar Surabaya, Analisa, Medan Bisnis, Sagang, Pawon, Metro Riau dll. Juga terhimpun dalam buku antologi bersama seperti Lampu Sudah Padam (2010), Tuah Tara No Ate (2011), Meretas Karya Anak Bangsa (2012), Dari Takhalli Sampai Temaram (2012), Sauk Seloko (2012). Diundang menghadiri Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, Oktober 2011) dan Pertemuan Penyair Nusantara V (Jambi, Desember 2012). Aktif mengelola Komunitas Rabu Langit, sebuah komunitas nirlaba yang menggiatkan sastra di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Alya Salaisha-Sinta, adalah nama pena dari Purbarani Sinta Hardianti, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 26 Maret 1986. Menulis puisi dan mengikuti lomba baca puisi sejak di bangku kuliah di Politeknik Unila (kini Politeknik Negeri Lampung—Polinela). Sejumlah puisinya telah dimuat di beberapa media seperti Sastradigital, Lampung Post, Indopost. Selain masuk dalam antologi bersama Akulah Musi (Pertemuan Penyair Nusantara V di Palembang, Sumatera Selatan), Tuah Tara No Ate (Temu Sastrawan Indonesia 4 di Ternate, 2011), Kartini 2012: Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia Terkini (Kosakatakita, April 2012), Cinta Gugat, dan antologi puisi Negeri Abal-Abal: Dari Negeri Poci penerbit Kosakata (2013). Selendang Sulaiman, Lahir di Pajhagungan, Madura. Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puisinya dimuat di berbagai media seperti; Seputar Indonesia, Suara karya, Minggu Pagi, Metro Riau, Majalah Sagang, dll. Juga dalam beberapa antologi puisi bersam; Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012), Igau Danau (Sanggar Imaji, 2012), Dialog Tanian Lanjhang (Majelis Sastra Madura, 2012). Jumardi Putra, alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (2009). Kini Aktif sebagai penyunting Seloko: Jurnal Budaya Dewan Kesenian Jambi (2011-sekarang). Puisinya terbit di berbagai media cetak, di antaranya: Majalah Sastra

212


Sabana, Majalah Sagang, Majalah Al-Madina, Story Magazine, IndoPos, Jambi Independent, Jambi Ekspres, Haluan Kepri, Sidojiri Batam, dan tergabung ke dalam belasan antologi puisi bersama. Salah satu puisinya: “Aku, Kembarbatu, dan Telagorajo� meraih penghargaan Puisi Unggulan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Award tahun 2012 di Sicarua-Bogor.

Kamil Dayasawa, lahir di Batang-Batang, SumenepMadura, 05 Juni 1991. Alumnus Pondok Pesantren ALAMIEN Prenduan Sumenep-Madura. Puisi-puisinya dipublikasikan di sejumlah media cetak dan termaktub dalam berbagai bunga rampai: Akar Jejak (2010), Estafet (2010), Memburu Matahari (2011) dan Sauk Seloko (2012). Kini ia Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam FAIB-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. DP Anggi, lahir di Bangkinang, Riau, 17 November 1993. Mahasiswi Ilmu Pemerintahan, FISIP Universitas Riau, Pekanbaru. Bergiat di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dengan ID FAM790M Pekanbaru. Karyanya termaktub di antologi puisi bersama: Untuk Para Sahabatku (2012) dan beberapa antologi cerpen bersama: Penantian Cinta (2012), Pesona Odapus (2012), Pijar Heroik (2012). Ia aktif berkarya di kompasiana. Ake Nera Atakiwangm, kelahiran 13 September 1986, di Larantuka, Nusa Bunga-NTT. Kala kecil gemar menendang bola dan menyanyi. Kini tengah menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi di Jakarta, jurusan Hukum. Seharihari sibuk membaca dan meluangkan waktu untuk menulis puisi sebuah minat baru yang mulai ia tekuni beberapa tahun belakangan ini. Puisinya pernah di muat di Al Bratva. Jumadi Zanu Rois, adalah alumnus jurusan Seni Teater Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) yang sekarang menjadi Sekolah

213

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Delvi Yandra, bekerja sebagai karyawan bank di Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Lahir 10 Desember 1986 di Sijunjung. Sejumlah tulisannya dipublikasikan di berbagai portal dan surat kabar tanah air, di samping terhimpun dalam antologi Kembang Gean (2007), Jurnal Kreativa: Sisi Gelap Warisan Budaya (2009), Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Berjalan ke Utara (2010), Narasi Tembuni (2012), dan Akar Anak Tebu (2012).


Tinggi Seni Riau (STSR). Memainkan dan menyutradari sejumlah pertunjukan teater, dan mengikuti sejumlah festival teater di Bandung dan Yogyakarta. Kini ia mulai menekuni sastra, dengan terus belajar membaca dan menulis puisi. Tinggal di Pekanbaru.

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988, karya-karyanya dimuat di berbagai media Nasional dan lokal antara lain: Horison, Seputar Indonesia, Radar Madura, Jejak dan beberapa media on line. Kumpulan puisinya dapat dinikmati di antologi komunal seperti Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (Dewan Kesenian Mojokerto, 2010), Bulan Yang Dicemburui Engkau (Bandung, 2011). Epitaf Arau (Padang, 2012), Dialog Taneyan Lanjang (2012), dan Terpenjara Di Negeri Sendiri (2013). Puisinya yang berjudul “Perempuan Pemetik Tembakau” masuk 5 besar lomba menulis puisi “Perempuan” Yayasan Lampu. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit Pengantin Hujan (Adab Press, 2013). Kini aktif di Komunitas SEMENJAK dan membina penulisan sastra di Sanggar 7 Kejora, mengajar seni rupa di Sanggar Lukis DOA (Decoration of Al-Huda) dan guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Dodi Saputra, lahir di Mahakarya, 25 September 1990, Pasaman Barat, Sumatera Barat. Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat. Jurusan Pendidikan Biologi. Menulis cerpen, cerber, opini, puisi, esai, berita, dan resensi. Dimuat di Singgalang, Rakyat Sumbar Haluan, dan Lampung Post. Cerpennya Pudarnya Kejora tergabung dalam buku antologi bersama FAM Surabaya bertema “Jembatan Merah” (2013), Antologi 43 Surat Pilihan berjudul “Membungkus Mimpi” yang bertema, “Di Negara itu, Impianku Akan Berlabuh” (2013). Meraih penghargaan dalam Antologi surat terbuka FAM Indonesia dan tentang “Proses Kreatif, Suka Duka Menulis” di Pare, Kediri (2012). Kini ia bergiat di Forum Lingkar Pena unit STKIP PGRI Sumatera Barat dan Sekolah Menulis Rumahkayu kota Padang. Sobirin Zaini, kelahiran Teluk Pambang, Bengkalis, Riau. Peraih Anugerah Sagang Kategori Buku Pilihan 2009 (untuk buku puisinya Balada Orang-orang Senja) ini hampir menjadi “mantan” penulis setelah “ditakdirkan” menetap di kampung kelahirannya. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen dan esei tersiar di sejumlah media seperti Riau Pos, Riau Mandiri, Riau Tribune, Majalah Sagang, Majalah Berdaulat, Tabloid Remaja Retrif, AKLaMASI, Batam Pos, Sumut Pos,

214


Metro Siantar, Harian Global, Padang Ekspres. Selain juga termaktub dalam sejumlah antologi bersama seperti Magi dari Timur, Rembulan Tengah Hari, Seikat Dongeng tentang Wanita, Belantara Kata, Satu Abad Cerpen Riau, dll. Kini bersama Adrik (anaknya) dan Iyun (Istrinya) mendampingi kedua orangtuanya, menetap di kampung kelahirannya.

Viddy AD Daery, atau nama lengkapnya Ahmad Anuf Chafiddi, lahir di Lamongan, Jawa Timur 28 Desember 1961. Menulis ratusan puisi, puluhan cerpen, puluhan novel, belasan skenario drama panggung, ratusan skenario sinetron dan film dan ribuan kolom. Mantan manajer sinetron TPI ( 1990 – 2004 ) ini kini adalah konsultan media di Grup Media Pelita. Sering diundang oleh pemda-pemda Nusantara untuk memberi Pelatihan ( Workshop) pembuatan film. Refila Yusra, lahir di Tanjung Balai Karimun 2 Desember 1989. Mahasiswi tingkat akhir di UIN Suska Riau jurusan Psikologi. Aktif bergiat di Komunitas Paragraf. Beberapa puisinya terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama, seperti Kopi Hujan Pagi, Bulan Purnama, dan Rahasia Hati. Ghoz.TE, lahir di Sumenep-Madura. Mahasiswa akhir Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah nyantri di PP Al-Karimiyyah GapuraSumenep. Aktif di Teater ESKA Yogyakarta sebagai pengelola sastra bersama penyair muda lainnya. M. Raudah Jambak, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Beberapa karyanya masuk dalam beberapa antologi, seperti Tanah Pilih, Jalan Menikung ke Bukit Timah, Pulau Marwah, Akulah Musi. Selain berasatra, ia juga aktif berteater, dengan mengikuti berbagai ivent di berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, selain bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, seperti Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED, ia juga sebagai koordinator Omong-Omong Sastra Sumatera Utara dan Direktur di Komunitas Home Poetry.

215

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

Ramoun Apta, lahir di Muaro Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991. Penikmat dan penulis puisi dan cerita pendek. Bergiat dalam RKB (Ruang Kerja Budaya), kelompok apresiasi sastra, film dan budaya. Juga aktif dalam LPK (Labor Penulisan Kreatif). Masih tercatat sebagai mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang.


Mamad Hidayat, lahir di Bengkulu, 5 Maret 1990. Kini ia menetap di Simpang Minas, Riau. Menulis puisi adalah kegemarannya sejak lama, tapi jarang mempublikasikannya. Setelah ia masuk ke Sekolah Menulis Paragraf (angkatan II), semangat menulisnya semakin terpacu. Selain pernah dimuat di Riau Pos, puisinya juga termuat dalam buku kumpulan puisi Kopi Hujan Pagi (2012).

Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2013

216 216



Puisi SAGANG 2013