Page 1

2

JUMAT

Hari Kontrasepsi Dunia

Juara Korupsi JIKA di dunia olahraga berlaku kalimat; mempertahankan gelar jauh lebih sulit daripada meraih gelar maka hal ini tidak berlaku di pentas perkorupsian negeri kita. Bagaimana tidak jika Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau parlemen, kokoh sebagai juara korupsi selama lima tahun berturut-turut. Tentu saja gelar terkorup ini tidak sembarang disematkan kepada lembaga para wakil rakyat terhormat ini. Gelar yang sejatinya bukan terhormat itu dianugrahkan lembaga berkompeten yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apapun dalihnya, tentu rakyat memercayai anugrah yang disematkan KPK sebagai lembaga pemberangus korupsi paling progresif di negeri ini. Parlemen memang tidak sendirian dalam hal jagoan mempat-gulipat uang panas. Pun, survei Transparancy Internasional (TI) yang dirilis Juli lalu, menempatkan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) bersama parlemen sebagai jawara kembar lembaga terkorup di wilayah Asia Tenggara. Riset TI itu didasarkan pada pendapapat masyarakat yang menempatkan kinerja lembaga politik dan intitusi penegak hukum itu ‘tidak bersih’. Parlemen yang merupakan sekumpulan orang terhormat justru telah menggadaikan kehormatannya untuk sebuah kepentingan yang tidak memiliki kaitan langsung dengan rakyat. Kepercayaan yang diberikan oleh rakyat dianggap sebagian besar individu di parlemen seperti sebuah kuasa untuk melakukan apa saja meski harus mengenyampingkan norma-norma yang berlaku. Benarkah parlemen kita seperti yang digambarkan KPK sebagai lembaga terkotor? Kalau kita coba menapaktilas perjalanan parlemen pascareformasi, jujur harus dikatakan cukup mendekati. Tengok saja, priode parlemen 1999-2004, tidak sedikit anggotanya yang berubah status menjadi terpidana. Demikian pula parlemen priode 2004-2009 hingga priode 2014 yang masih berjalan, ada banyak politisi dikirim ke balik jeruji besi. Meski jujur harus pula diakui, terjadinya tindak pidana korupsi di parlemen tidak bisa dilepaskan dari peran pihak lain, dalam hal ini eksekutif. Luasnya kewenangan yang diberikan kepada DPR adalah salah satu faktor penyebab penyimpangan yang dilakukan anggotanya terkait anggaran. Dan, bibit kejahatan itu muncul ketika parlemen sebagai lembaga ‘pengawal’ anggaran negara harus bernegosiasi dengan pemerintah selaku pengelola anggaran. Di arena seperti inilah terbuka ruang bagi anggota DPR yang kerap gelap mata menyiasati anggaran itu menjadi bagian dari kinerja mereka. Untuk memberangus ini memang tak gampang. Bukan hanya soal pengawasan dari lembaga hukum tapi lebih kepada nawaitu para anggota DPR itu sendiri. Tentu saja peran masyarakat dalam hal ini juga ikut serta, karena saat mereka memilih wakilnya untuk duduk di DPRD setidaknya masyarakat bisa memilih wakil yang memang latar belakangnya bagus. Meski tak gampang barangkali perlu dimulai. Tolak caleg-caleg yang tidak jelas integritasnya dan kalau bisa pilihlah mereka yang bersih atau paling tidak mendekati kata bersih. Karena setidaknya sebagian caleg juga dikenal oleh para pemilihnya.***

Yung Lebay

+ Hearing DPRD-PLN tidak hasilkan keputusan berarti Yung....!

- Listrik tetap saja mati hidup Cu...

Pemimpin Umum Pemimpin Redaksi/ Penanggung Jawab Redaktur Pelaksana Koordinator Liputan Penerbit

OPINI

27 SEPTEMBER 2013  NO. 528 TAHUN III

Oleh : Sudibyo Alimoeso HAMPIR dipastikan tidak banyak orang yang tahu kalau Kamis kemarin, 26 September adalah Hari Kontrasepsi Dunia (HKD). Peringatan yang dimulai sejak 2007 oleh masyarakat Uni Eropa, dilakukan di berbagai belahan dunia dengan sebutan World Contraceptive Day (WCD) mempunyai visi kepada dunia dimana setiap kehamilan adalah diinginkan. Melalui motto "masa depanmu, pilihanmu, kontrasepsimu" HKD 2013 mempunyai fokus untuk memberdayakan remaja/pemuda (youth) berpikir ke depan dan memasukkan kontrasepsi dalam perencanaan ke depan, dalam rangka menghindari kehamilan yang tidak direncanakan atau penyakit menular seksual (PMS). Mengapa fokus pada pemuda (remaja)? Karena jumlah penduduk muda ini sangat besar. Pemuda/remaja yang didefinisikan PBB berumur 15-24 tahun ini jumlahnya sekitar 18 persen dari seluruh penduduk dunia atau sekitar 1,2 miliar remaja, 87 persen di antaranya tinggal di negara berkembang dan 62 persen remaja hidup di negara-negara Asia. Artinya, di negara berkembang remaja jumlahnya hampir separuh jumlah penduduk di negara tersebut. Remaja di negara Asia Pasifik dianggap tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi serta hak-hak reproduksi. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kasus melanda remaja seperti perkosaan, diskriminasi dan pelecehan seksual, kekerasan dan eksploitasi, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), aborsi yang tidak aman serta infeksi penyakit menular termasuk HIV/AIDS. Potret remaja di belahan dunia khususnya di Asia Selatan dan Asia Tenggara kurang mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual karena adanya anggapan bahwa belum diperlukan bahkan dianggap berbahaya kalau mereka tahu. Tidak mengherankan kalau angka kelahiran remaja masih cukup tinggi. Di Indonesia

diperkirakan kelahiran sekitar 48 per seribu penduduk remaja (2012), di bandingkan dengan Malaysia sekitar 14 per 1.000 (2009), China 6,2 per 1.000 (2009) dan Vietnam 35 per 1.000 (2009). Di Indonesia kelahiran remaja di pedesaan hampir dua kali jika dibandingkan di daerah

dan pil. Namun, ternyata pengetahuan tidak sejalan dengan praktek pemakaian kontrasepsi. Wanita kawin usia reproduksi yang aktif memakai kontrasepsi hanya 62 persen dimana 58 persen cara modern dan 4 persen cara tradisional.

dan Implant sebagai metoda alternatif menyongsong era SJSN 2014. Banyak hal yang nampaknya harus dibenahi kalau melihat potret pemakai kontrasepsi. Pertama, pola pembinaan paska pelayanan. Secara teoritis, setiap alat/obat kontrasepsi hampir 100 persen

wanita kawin usia reproduksi yang ingin ber-KB masih belum terlayani karena berbagai sebab. Pada akhirnya sebagian besar kehamilan akan berakhir dengan aborsi yang sangat membahayakan jiwa si ibu kalau dilakukan secara tidak aman. Kita harus melindungi

perkotaan yaitu 62 per 1.000 (desa) dan 35 per 1.000 (kota). Meskipun kontrasepsi diperkenalkan seumur program KB di Indonesia, namun masih banyak rumor dan kepercayaan tentang kontrasepsi termasuk soal kehamilan. Kalau minum pil, badan tambah gemuk, bulu tumbuh, menjadi mandul, atau badan berbau aneh. Bahkan tentang kehamilan sendiri banyak persepsi yang salah, seperti tidak akan hamil kalau dilakukan hubungan seksual sekali saja, atau meloncat-loncat sehabis berhubungan seksual. Mitosmitos semacam inilah akhirnya membawa dampaknya banyaknya kasus KTD. Hampir setiap wanita di Indonesia usia 15-49 tahun ber status kawin mengetahui paling sedikit satu alat metoda kontrasepsi (98 persen, SDKI 2012), sedangkan pengetahuan pria sedikit lebih rendah sekitar 94 persen. Metode yang paling banyak diketahui adalah suntik

Angka pemakaian kontrasepsi ini dapat dikatakan stagnan sejak 2002 (SDKI, 2002-03). Penggunaan metoda hormonal nampaknya paling disukai wanita kawin usia subur ini, dimana suntikan pada 1991 hanya 12 persen meningkat 32 persen 2012. Sementara metode IUD turun dari 13 persen (1991) menjadi 4 persen, sedangkan pil tetap menduduki peringkat kedua sekitar 14 persen sejak 1991 sampai sekarang. Namun sayang, tingkat putus pakai peserta KB di Indonesia masih cukup tinggi. Secara umum sebanyak 27 persen pemakai kontrasepsi berhenti memakai alat kontrasepsinya setelah satu tahun pakai. Tingkat putus pakai tertinggi adalah pil (41 persen), kondom (31 persen) dan suntik (25 persen). Inilah yang melatarbelakangi tema untuk HKD 2013 di Indonesia, adalah mengarahkan pemakaian kontrasepsi jangka panjang IUD

dikatakan efektif. Namun, perilaku pemakai dan terkadang pemberi pelayanan menyebabkan alat/obat kontrasepsi tersebut menjadi kurang efektif. Kedua, sebanyak 40 persen pemakai menyatakan tidak berniat lagi memakai kontrasepsi karena alasan fertilitas, yaitu berhubungan dengan menopause, abstinen, merasa tidak subur dan pasangan menginginkan punya anak lagi. Harus ada identifikasi sasaran harus lebih terarah dan bermakna bagi penurunan fertilitas. Ketiga, masih cukup banyak pasangan usia subur yang tidak ber-KB karena berhubungan dengan alat kontrasepsi. Sekitar 23 persen mereka menyatakan karena alasan kesehatan, efek samping, kurang akses dan biaya mahal. Keempat, tingkat kebutuhan ber-KB yang tidak terlayani masih cukup tinggi atau disebut unmet need. Diperkirakan sekitar 11 persen

mereka. Bagaimana dengan remaja? Pertanyaan ini selalu menggelitik. Perdebatan tentang remaja yang secara seksual mereka sudah aktif apakah membutuhkan pelayanan kontrasepsi. Intinya, peringatan HKD mungkin belum bisa menjawab persoalan ini. Tujuan setiap kehamilan adalah yang diinginkan masih jauh dari harapan. Mari kita sumbangkan pikiran dan tenaga menangani masalah ini, baik untuk pasangan usia subur maupun bagi para remaja. Impian kita pasti sama, setiap kehamilan adalah anugerah. Setiap kehamilan adalah harapan. Selanjutnya terserah anda!*** Penulis adalah Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN/ Sekretaris Umum, Ikatan Peminat dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI).

Perhatikan Gizi Ibu Menyusui Oleh : Sandra Fikawati SEORANG ibu di daerah marginal tampak sedang menggendong anaknya yang masih dalam usia menyusu. Ibu tersebut kemudian diwawancarai oleh wartawan mengenai asupan makanannya. Ibu itu menjawab, "... untuk bayi saya kan ada air susu ibu (ASI). Untuk saya sendiri, sih... ya makan seadanya saja. Kalau ada (makanan) ya dimakan kalau tidak ada ya tidak apa-apa, sudah biasa..." Ilustrasi tersebut terekam beberapa waktu lalu dalam tayangan stasiun televisi yang menggambarkan bagaimana seorang ibu di desa tidak mengetahui bahwa ASI yang dihasilkannya tergantung pada makanan yang diasupnya. Untuk dapat memproduksi ASI maka ibu harus makan dalam jumlah cukup karena ASI tidak dapat diciptakan begitu saja oleh tubuh ibu. Hal ini sesuai hukum kekekalan energi dari Joule (abad ke-18) yang menyatakan bahwa energi dapat berubah bentuk atau dipindahkan tetapi energi tidak dapat diciptakan. Pada akhir tahun 2012 pemerintah meluncurkan program "Gerakan Nasional Sadar Gizi" dengan fokus pada Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Saat ini fokus penanganan gizi bergeser dari masa 5 tahun pertama kehidupan menjadi masa dalam kandungan hingga 2 tahun pertama atau

: Rachmad Jevary Juniardo : Luzi Diamanda : Syafriyal : Bambang Aulia : CV. Better Grafika

1000 HPK. Dengan memperhatikan pergeseran tersebut, konsumsi gizi seluruh pihak yang terlibat dalam siklus 1000 HPK perlu mendapatkan prioritas termasuk gizi ibu menyusui. Salah satu indikator keberhasilan Gerakan 1000 HPK adalah meningkatnya persentase ibu yang memberikan ASI eksklusif 6 bulan paling kurang 50 persen pada tahun 2025. Namun, pada intervensi spesifik bersifat jangka pendek yang akan dilaksanakan untuk kelompok bayi 0-6 bulan adalah hanya promosi menyusui untuk ibu (individu dan kelompok), tidak dirinci bentuk informasi apa saja yang akan disampaikan serta tidak terlihat adanya rencana pemberian suplementasi untuk ibu menyusui yang kurang gizi atau ibu menyusui pada kelompok marginal. Tampak dengan jelas bahwa target intervensi spesifik untuk ibu menyusui tidak komprehensif dan belum memadai. Setelah hampir 10 tahun berjalan, target program pemberian ASI eksklusif masih sangat jauh dari capaian. Salah satu penjelasan mengapa status gizi ibu menyusui kurang diperhatikan adalah karena selama ini ada anggapan yang keliru bahwa semua ibu (bagaimanapun situasi status gizinya) akan mampu memberikan ASI eksklusif 6 bulan. Padahal berbagai penelitian yang dilakukan secara longitudinal di Indonesia menunjukkan

bahwa kondisi gizi ibu menyusui yang kurang menyebabkan ibu tidak mampu memberikan ASI secara optimal. Penelitian kohort 6 bulan terhadap ibu menyusui vegetarian dan nonvegetarian di Jakarta tahun 2013 menunjukkan bahwa konsumsi energi harian ibu saat menyusui memegang peranan penting dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif 6 bulan. Ibu yang konsumsi energi hariannya sekitar 2100 kalori memiliki kemungkinan 20 kali lebih besar untuk bisa memberikan ASI eksklusif 6 bulan. Pada penelitian tersebut juga ditemukan bahwa asupan zat gizi ibu saat menyusui lebih rendah dibandingkan saat hamil baik untuk energi, zat gizi makro maupun mikro. Penyebab penurunan asupan bukan karena ibu ingin mengurangi berat badan (diet) tetapi karena kurangnya pengetahuan ibu bahwa kebutuhan zat gizi saat menyusui lebih besar dibandingkan saat hamil. Angka Kecukupan Gizi (AKG) di Indonesia menetapkan kecukupan energi sekitar 2300 kalori/ hari untuk ibu hamil dan 2500 kalori/hari untuk ibu menyusui. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi energi saat hamil sudah cukup baik yaitu 2250 kalori/hari, namun saat menyusui justru turun menjadi

hanya sebesar 1960 kalori/hari. Dalam keseriusan pemerintah melaksanakan Program 1000 HPK, diharapkan agar intervensi spesifik untuk mendukung pertumbuhan bayi 0-6 bulan dapat diperbaiki dengan lebih memperhatikan status gizi ibu menyusui. Upaya preventif berbasis pendekatan populasi perlu dilakukan dan terutama ditujukan pada ibu kelompok marginal di pedesaan yang memiliki status gizi kurang dan akses makanan selama menyusui terbatas. Peningkatan program gizi bagi ibu menyusui dapat berupa program suplementasi maupun konseling menyusui, serta informasi dan edukasi tentang ASI dengan mempertimbangkan aspek-aspek geografis, sosio-kultural, dan status gizi. Perlu dilakukan peningkatan upaya promosi kepada ibu menyusui agar menjaga konsumsi energi dan zat gizinya selama menyusui minimal sama dengan saat hamil. Substansi penyuluhan agar juga menekankan aspek kuantitas (jumlah/banyak) di samping aspek kualitas (jenis) makanan yang diasup selama menyusui. Ibu kelompok marginal perlu mendapatkan perhatian khusus, suplementasi harus diberikan oleh pemerintah untuk menjamin ibu menyusui dapat mengkonsumsi energi dalam jumlah cukup untuk mendukung produksi ASI-nya

selama 6 bulan. Dalam pelaksanaannya, program dapat melibatkan berbagai unsur pemerintahan dan non-pemerintahan seperti industri. Industri yang selama ini dikuatirkan memberikan susu formula kepada bayi 0-6 bulan dapat dialihkan perhatiannya dan diminta bantuannya untuk lebih memperhatikan status gizi ibunya (bukan bayinya). Bantuan industri dalam bentuk susu untuk ibu dapat dijual dengan harga murah atau diberikan secara gratis kepada ibu menyusui. Dengan kata lain, promosi ASI eksklusif 6 bulan mutlak terus berjalan yang disertai dengan adanya upaya khusus untuk memfasilitasi ibu agar bisa menyusui enam bulan, diantaranya melalui peningkatan status gizi dan konsumsi energi ibu menyusui. Bila status gizi dan konsumsi ibu menyusui baik diharapkan terjadi peningkatan pencapaian ASI eksklusif 6 bulan yang akan berdampak pada optimalisasipertumbuhan dan kecerdasan bayi sesuai harapan Program 1000 HPK. *** Penulis adalah staf pengajar Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, FKMUI, dan Sekretaris Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Universitas Indonesia.

De wan R edaksi: Rachmad Jevary Juniardo, Luzi Diamanda, Jery Vamarta, Syafriyal, Bambang Aulia, Redaktur: M. Yasir, Masril, Witra Yeni, Winahyu Dwi Utami, Dew Redaksi: er: T.A.Devonny Ade Sinta Lena, Boy Surya Hamta, Repor eportter : Heri Antoni C, M. Syukur, Wina Choswara, Anhar, Irwansyah, Zulman Arif, Riki Rahmat. Pho Phottograf ografer: Biro: Dumai: Adek Sanjaya (Kabiro Kabiro) Duri: (Bambang), Bengkalis: Afdal Aulia (Kabiro), Meranti: Jafar Bahrum (Kabiro), C Rahmi, Karyono (Pulau Padang) Kampar Kampar: Netty Mindrayani (Kabiro), Zainuddin, Hendriyanto, Roni Edward, Wahyuni. Pelalawan Pelalawan: Mulya Panjaitan (Kabiro), Supriaidi.. Rohil: Rudi Hartono (Kabiro) tak Siak:M. Syafriadi,.. La Layy out /Prace /Pracetak tak: R ohul: Syafri IS (Kabiro). Inhil: Markoni, Inhu: Jefri Hadi (Kabiro), Ali Usman, Tri Herianto, K uansing: Said Mustafa, Siak: taris R edaksi: Ayu Viora Litta TTeknologi eknologi Inf ormatik a: Mukhlis (Koordinator), Roy, Amri, Yatno S.R, Joko Winulyo, Budi Kesuma. Design Iklan: Mahendra. Sekre Sekretaris Redaksi: Informatik ormatika: Karmani ADM KORANBETTER.COM: Suci Prihatini Keuangan: Wira, Nelwiza. Sirkulasi: Zul Iman (Koordinator), Boyke. ADM Sirkulasi: Amelia. Koordinator Iklan: , Jimmy Hendrik Marketing: M. Sy. Dt. Panji Alam, Firman. ADM Iklan: Oyonandra. Alamat Redaksi : Jl. DR. Setia Budi 124 Pekanbaru - Riau. (0761) 34381, Tarif Iklan : Ucapan Selamat/Dukacita/Sosial (BW) Rp. 4.000 per mm Kolom, (FC) Rp. 8.000 per mm kolom, Iklan Bisnis / Produk (BW) Rp. 9.000 per mm Kolom, (FC) Rp. 15.000 per mm Kolom, Iklan Baris Rp. 15.000 per baris (min 3 baris). No Rekening Bank Riaukepri A/C 1180800382 Bank BNI 46 Pekanbaru A/C 0242139312 Percetakan : CV. Better Grafika ( Isi diluar tanggung jawab percetakan)

Wartawan Berita Terkini Dilengkapi tanda pengenal. Jika ada wartawan Berita Terkini yang melanggar kode etik jurnalistik silahkan hubungi redaksi di 0761- 34381


Hal 2  
Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you