Issuu on Google+

12

JUMAT

SISWA MENULIS

27 SEPTEMBER 2013  NO. 528 TAHUN III

Cerpen

PUISI Kerinduan Ku Langit yang membentang tanpa bintang, seakan bulan begitu sendirian, tanpa hadirnya sang bintang, yang bertaburan dilangit, Kerinduanku sama hal nya, seperti bulan merindukan sang bintang, ‘tuk terangi malam dengan cahayanya yang terang, Tanpa bintang, bulan seakan sendirian, seperti diriku tanpa dirimu, hanya kerinduan yang kurasakan saat ini, padamu sang pujaan hati,

Karya: Kartia Fakhrun Nisa

Melupakan Cinta

Diantara Dua Hari Oleh: Ari Indiastuti (bagian ke-2/tamat) Aku tau itu menyebabkan luka di tubuhku. Tapi siapa peduli. Luka-luka ditubuhku lebih nyata dan akan sembuh lalu menghilang bekasnya setelah beberapa hari. Tapi luka dihatiku entah akan sembuh atau tidak aku tak tau. Seandainya 2 hari itu tak pernah ada. Tapi mana mungkin. Hari itu akan tetap ada dan tetap menciptakan luka. Harapanku sekarang hanyalah semoga ada orang yang mau menyembuhkan dan menghapuskan luka ini. Sehingga aku tak perlu lagi bertopeng seperti ini. Hari ulang tahunku yang tak jauh dengan tahun baru telah terlewatkan. Biasa saja ditagun ini,yang katanya umur 17 itu “sweet seventeen” tapi apalah, itu hanya untuk orang yang bahagia, sedang aku, gadis pendiam, lugu, tak atahu apa-apa. Pikiran itu selalu ada. “Dorrrrrr...”, suara Rinda mengagetkanku yang sedang meratapinasib gadis malang ini, ”nglamun aja non, ntar kalau ada setan lewat gimana?” Rinda itu teman baik yang lucu sekali, dia hibur kalau aku diam. “ya kalau setannya cewek aku jadikan saudaraku, kalau cowok aku jadikan,,,,, pacar,, hahhaah”, aku mencoba buat banyolan lucu. “Emang sayembara, sama setan kok mau. Udah, kantin yuk, laper,,”, aku pikir sejenak, karena malas sekali untuk jalan

kekantin ujung. ”Udah, aku traktir deh,”. Sepanjang jalan kekantin Rinda hanya berceloteh dengan rencana tahun baru yang buat aku iri, tapi aku tetap dengarkan cerita itu sih. “Ndi, ayolah ikut. Ntar aku ngomong sama orangruamu,sekali-kali kan boleh. Udah besar kita itu”, sambil ngrengek-ngrengek dia. “Ya, ayo kerumah, kamu yang ngomong ya,”, sambil aku tersentum,dan berdoa semoga dapat ijin lah. “Siap bos.”, Rinda girang banget. Aku dan Rinda coba bilang ke ibuku agar dapat ijin untuk merrayakan tahun baru bersama. “Ibu, aku diajak Rinda untuk tahun baru dirumahnya, boleh ya,” sedikit melas agar dibolehin sama ibu. “Iya tante, boleh ya. Mumpung tahun baru tante, setaun sekali lho tante,” coba meyakinkan ibuku. Raut muka ibu yang gak pasti buat ku degdegan ni. Tapi, mulut ibu mulai membuka. “baiklah, ibu ijinkan, asal satu syarat,”, belum selesai ibu ngomong aku udah nyambung. “apa aja syaratnya, Indi lakukkan ibu”. “Dengan syarat kamu gak boleh merepotkan di sana, jangan bikin malu ibu,” denagan jawaban itu aku loncat kegirangan. “Ok ibu ku manis, janji gak macem-macem,” sambil aku hormat sama ketawa. “Iya tante, Indi itu baik kok, jadi gak merepotkan,”

Rinda menimpali kalimat yang buat ibu tersenyum. Aku tiap malam udah mimpiin dan gak sabar dengan tahun baru yang akan ku alami ini. Dan yang aku tunggu datang. Aku menginap ditempat Rinda, aku sangat dekat dengan keluarga dia, begitupun sebaliknya. Aku udah tidak sabar dengan waktu yang berputar serasa lambat sekali untuk mencapai 00.00. Kami menikmati diatas sebuah gasebo yang nyaman ini. Waktu tinggal beberapa detik lagi, aku dan keluarga Rinda hitung mundur. “Kita hitung mundur yuk,” kata dari ayah Rinda yang tidak sabar dengan tahun baru ini juga. “10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1,” kitaa ucapkan bersamasama.dan tahun baru saat puku l 00.00. Suara terompet kita bersautsautan. “Selamat tahu baru”, semua berteriak. “Selamat tahun baru, Rin”, sambil memeluk aku. “Selamat thaun baru juga ya, Ndi. Semoga ditahun baru ini kita tambah baik”, aku hampir saja meneteskan air mata, baru kali ini aku merasakan tahun baru waalupun tidak dengan keluarga. Rinda dan keluarganya juga saling memeluk dan ucapkan selamat tahun baru. Aku juga ikut dipeluknya, jadi iri dengan keluarga Rinda. Tiba-tiba dari belakang, “Dor,,,”, suara kakaku yang katanya lagi sibuk studynya kok tiba-tiba ada didepanku. “Selmat ulang tahun sayangku”, ucapan manis

Cerbung

Seruling Perak Sepasang Walet (GIN TIE SUANG YEN) Bagian 199

Karya: Khulung

dari seorang wanita yang membawa kue ulang tahun yang jelas karena namaku ada disana yang ditemani oleh seorang lelaki paruh baya. Ya, dia orang tuaku yang merawatku dari lahir hingga sebesar ini. Mereka bernyanyi selamat ulang tahun untukku, ternyata keluargaku dan keluarga Rinda yang merecanakan ini semua. Aku merasakan senang sekali. Ibu meminta meniup lilin 17 ini, dan diminta aku memohon doa. Aku menutup mata ini sambil berdoa. Ya ALLAH aku minta agar dapat seperti keluarga lain yang damai, seneng. Aku juga makasih sudah diberi teman yang baik seperti Rinda, semoga umurku ini aku makin baik. Aminnnnn.. “buffff,,,bufff” aku tiup lilin itu dan mereka memberi selamt untukku dan menciumiku. “Indi, semoga kamu jadi anak yang lebih baik diumurmu yang semakin dewasa”, kata dari ibuku sambil aku dipeluknya. ”maaf, ibu baru merayakannya”. “iya bu, tak apa.” sambil mencoba mengusap air mata ibu yang jatuh. “Ndi, jadilah anak yang membanggakan untuk orangtuamu ini ya”, ayah yang tak pernah berucap begitu, aku begitu terharu. Tak lupa kakakku. “Adikku paling manis, udah gede kudu pinterpinter mana yang bener ama tidak ya, mmmmmuuuuaaaaccchh”, aku merasa terharu dengan kakak ku ini. “Indi, selamat ulang

"ENTAHLAH. Akupun tidak jelas." Apabila orang yang berkepandaian tinggi, jalan darah Khie Hai Hiatnya tertotok, sudah sulit untuk memulihkan kepandaiannya. Ciok Giok Yin juga paham akan hal tersebut. "Siapa yang menotok jalan darahmu?" tanya orang itu. "Ouw Suya perkumpulan Sang Yen Hwee." "Sungguh mengherankan! Orang itu berhati kejam. Bagaimana dia berbelas kasihan padamu? Sungguh membuat orang tidak mengerti!" "Anda kenal orang itu?" tanya Ciok Giok Yin. "Tidak kenal." "Kalau begitu, bagaimana Anda tahu dia berhati kejam?" "Ketika aku tertangkap oleh mereka, melihatnya turun tangan terhadap bawahannya tanpa memberi ampun. Boleh dikatakan dia tak berperasaan sama sekali." Ciok Giok Yin merasa dingin sekujur badannya. Tidak disangka Ouw Cih itu berhati

tahun, sweetseventeen moga dapat pacar, hhehheh”, dia mencoba bercanda. Aku dan semua hanya tartawa dengan kalimat Rinda.” Kami akhirnya menikmati malam tahun baru dan ulang tahunku yang ke 17 dengan manis. Tak pernah aku bayangkan akan seindah ini yang jauh dari pikiranku. Aku bersyukur diberikan keluarga yang sayang denganku, teman yang selalu temani aku disaat sedih dan menghibur. Ku melamun sendiri memandang mereka yang asyik menikmati malam di gasebo dekat kolam renang. Aku tersenyum sendiri, betapa beruntungnya aku ini dilahirkan, dibesarkan. Aku tak perlu menuntun apa-apa, semua ada, hanya kasih sayang kurang untukku tapi aku merasa senang. Aku tahu kedua orangtuaku bekerja untukku. Kebahagiaan memang tak pernah dapat dinilai, hanya dapat dirasakan. Karena makna kebahagiaan akan datang dengan sendirinya seperti kita memaknai hidup ini. Aku sadar 2 hari yang tak pernah aku senangi ini berbuah manis di tahun baru dan ulang tahunku ini. Aku tak akan melupakan hari ini. Karena asyik melamun aku tak tahu kalau didekatku ada Rinda yang tiba-tiba mengagetkannku. Dan aku didorong ke kolam renang. Huft,, sial,,, aku hanya tertawa dan yang lain ikut tertawa.hahahah.***

begitu kejam! Namun terhadap dirinya orang itu justru tidak berniat jahat, cuma menotok jalan darah Tung Hu Hiatnya. Kalau dia menotok jalan darah Khie Hai Hiat, habislah Ciok Giok Yin, jangan harap dapat menuntut balas semua dendam itu. Berselang sesaat, Ciok Giok Yin berkata, "Maaf, ketajaman mataku berkurang, sehingga tidak dapat melihat jelas...." Orang itu langsung memutuskan perkataan Ciok Giok Yin. "Sekarang aku akan membantumu membebaskan totokan itu agar pulih kepandaianmu, barulah kita bercakap-cakap." Dia mulai menotok beberapa jalan darah Ciok Giok Yin. "Ikuti hawa murniku untuk menerjang ke jalan darah Tung Hu Hiat!" Ciok Giok Yin mengangguk, lalu menghimpun hawa murninya untuk disatukan dengan hawa murni orang itu menerjang ke arah jalan darah Tung Hu Hiat. Berselang beberapa saat kedua

Tak Berarti..?? Yaa, mungkin saat ini aku memang sudah tak berarti dimatamu, Dan hingga saat ini, aku masih terus mencari Bagaimana cara agar aku bisa dgn mudah melupakanmu Sulit..?? Yaa, sulit bagiku melupakan kenangan yg tlah terukir dlm hati dan ingatanku begitu berartikah dirimu untukku ? mungkin iya, tapi tak lebih berarti dari kebahagiaanku sendiri Haaahhh… Sudahlah..!! Sudah terlalu banyak waktuku yg terbuang karena terus mengingat masalalu yg mngkin tak prnh kau ingat lagi Sekarang ?? aku hanya ingin bahagia dengan caraku sendiri dengan ridho orangtuaku dan ridho Allah, Kini, sekejap aku ingin melupakan Cinta…!!

Karya: Alvia Destiara

Impian, Harapan dan Kenyataan Hidup ku dialam nyata tapi mimpi ku hayal ku mereka menari terlalu indah salahkah jika aku berharap hayalku adalah nyata ku? Dan impian ku adalah kehidupan ku? Tapi aku tak berdaya tatap ku kosong ratapku hampa kadang aku bertanya benarkah kebahagiaan itu benar adanya? Atau hanya hayal pecundang belaka.. Ku sapuh perih linangan ini pedih terada bahagia tiada ada jangan biarkan aku menghilang binasa antara ada dan tiada sepertinya asaku telah pergi entah kemana ku sambut pagi bergantilah waktu perapian embun seakan tak henti mengejeku mungkin sapa hati sudah tak tentu menguji salah satu diantara yang beribu..

hawa murni itu berhasil menembus jalan darah Ciok Giok Yin tersebut. Maka kepandaian Ciok Giok Yin pun pulih seketika. Kini dia sudah dapat melihat jelas wajah orang itu, sehingga mengeluarkan suara. "Ih!" Setelah itu berkata, "Lo cianpwee, rasanya kita pernah bertemu, tapi entah dimana." Ternyata orang itu berdandan seperti sastrawan, berusia lima puluhan. "Tidak salah, kita memang pernah bertemu satu kali," sahutnya sambil tersenyum. Mendadak Ciok Giok Yin teringat. "Kita pernah bertemu di sebuah rumah makan. Ketika itu lo cianpwee bersama seorang gadis berpakaian ungu ya, kan?" Sastrawan tua itu manggutmanggut. "Tidak salah." "Bagaimana lo cianpwee ditangkap oleh mereka?" "Panjang sekali ceritanya." "Bolehkah aku tahu bagaimana ceritanya?"

Karya: Rahimatus Sania

Sepasang mata sastrawan tua menyorot tajam. Namun badannya agak gemetar, pertanda hatinya tidak tenang. Menyaksikan itu, Ciok Giok Yin segera berkata, "Kalau lo cianpwee merasa tidak leluasa, lebih baik tidak usah diceritakan." Sastrawan tua menggelenggelengkan kepala lalu berkata, "Kau jangan salah paham." Dia menatap Ciok Giok Yin. "Saudara kecil, tahukah kau siapa aku?" "Mohon lo cianpwee sudi memberitahukan!" Sastrawan tua menghela nafas panjang. "Aku adalah Seng Ciu Suseng (Sastrawan Bertangan Mujizat)," katanya dengan suara rendah. Mendengar itu, Ciok Giok Yin langsung meloncat bangun dan manatap sastrawan tua dengan penuh dendam. "Seng Ciu Suseng-Seh Ing?" bentaknya. "Tidak salah, aku adalah orang yang sedang kau cari." Bersambung


Hal 12