Issuu on Google+

Nasehat kang Mohammad Fauzil Adzhim Menempa Jiwa by Mohammad Fauzil Adhim on Monday, October 8, 2012 at 4:16pm · Oleh Mohammad Fauzil Adhim

”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sesungguhnya bersamakesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6).

Cukuplah orangtua dikatakan menyengsarakan hidup anak apabila ia membiasakan hidup mudah. Segala sesuatu yang mereka perlukan telah tersedia dengan mudah, nyaris tanpa usaha berarti. Padahal pengalaman berusaha dan menyelesaikan masalah akan meningkatkan kapasitas pribadi seseorang. Sehingga semakin banyak masalah yang mampu ia selesaikan, semakin tinggi nilai hidupnya. Allah Ta’ala membentangkan di hadapan manusia kesempatan untuk berjuang. Agar terwujud kehidupan yang baik, kita harus memiliki kesediaan untuk memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh dengan keringat dan do’a. Kesungguhan dalam berjuang itulah letak nilai seseorang. Bukan apa yang ia capai. Sungguh, adakalanya barakah perjuangan seseorang tampak nyata di muka bumi setelah kehidupan orang tersebut berlalu beberapa masa. Dan merupakan tugas orangtua untuk memberi kesempatan kepada anak latihan berjuang, dari yang kecil hingga mimpi-mimpi besar untuk sebuah visi di masa depan. Sesungguhnya orangtua yang kejam adalah mereka yang tidak memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan di usia itu. Kejamlah para ibu yang masih selalu menyuapi anaknya, setiap saat, padahal anak seharusnya sudah bisa makan sendiri. Kejamlah seorang bapak yang selalu melayani keinginan anak dan memenuhi permintaan mereka, padahal anak-anak itu kelak harus memiliki kecakapan


mentasharrufkan hartanya. Kejamlah orangtua yang hanya memberi uang dan fasilitas berlimpah kepada anaknya tanpa memberi tanggung-jawab, kewajiban dan tantangan kepada mereka. Mari kita belajar dari pohon apel. Sesungguhnya apel tidak berbuah kecuali setelah daunnya rontok. Jika ia ditanam di negeri yang tidak mengenal musim gugur, maka kitalah yang harus membantu agar apel tersebut berbuah. Kita membantu mengurangi daun-daunnya. Pelajaran apa yang bisa kita petik? Perlu tantangan sebelum berbuah. Ada tantangan yang secara alamiah dihadapi karena kondisi yang tidak terelakkan. Tetapi jika kondisi yang diperlukan tidak tersedia, maka kitalah yang harus merancang agar ada tantangan yang �menggairahkan�. Jika kita menilik sejarah, orang-orang besar adalah mereka yang memiliki catatan panjang tentang keteguhan, ketegaran, kegigihan, kejujuran, integritas yang tinggi, keberanian dan tekad yang kuat untuk menyelesaikan setiap masalah dengan cara sebaik-baiknya sesuai dengan rambu-rambu yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala dan rasulNya shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ditempa oleh tantangan yang datang berjenjang-jenjang. Awalnya ringan, lalu datang lagi tantangan berikutnya yang lebih berat. Bahkan tidak sedikit orang besar yang sejak lahir sudah dipenuhi kesulitan dan tantangan. Ia lahir dalam kesulitan, besar dalam kesulitan dan kemudian tumbuh menjadi manusia yang sanggup mengatasi berbagai kesulitan yang orang lain takut membayangkannya. Mereka banyak menghadapi kesulitan, tetapi pada saat yang sama ada kekuatan jiwa untuk menghadapinya. Terkadang kekuatan itu mengalir dari hadirnya seorang ibu yang senantiasa memberi dukungan ketika ia merasa tak sanggup lagi. Di antara orang-orang sukses, banyak yang mengawali hidupnya dengan berbagai kesulitan. Sebagian mereka bahkan pernah merasa tak sanggup menghadapinya, lalu berikrar agar anaknya tak pernah menjumpai kepahitan hidup yang serupa. Tetapi ia lupa membedakan bahwa kepahitan hidup berbeda dengan tantangan. Alih-alih tidak ingin anaknya sengsara, justru menghindarkan anak dari tantangan. Diam-diam


menjadikan anaknya tak berdaya dengan melimpahi mereka fasilitas dan kemudahan. Padahal berlimpahnya fasilitas tanpa tantangan, menjadikan anak lemah secara mental, rendah daya juangnya, mudah frustrasi karena tak terbiasa menghadapi kesulitan, dan tidak memiliki keterampilan memadai dalam menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari. Mereka inilah yang rawan terkena afflueanza. Apakah affluenza itu? O, banyak sekali definisi yang bisa kita temukan pada kata ini. Tetapi ada beberapa hal yang mempersamakan dari berbagai definisi itu, yakni bahwa affluenza merupakan kondisi ketika orang menakar keberhasilan dan kebahagiaan dari berapa banyak uang yang dimiliki, berapa mewah barang yang dikonsumsi, dan berapa lengkap perangkat yang dipunyai beserta segala kemudahan yang bisa dibeli. Mereka dimanjakan oleh uang karena orangtua sudah merdeka secara finansial, tetapi hati mereka hampa dan kebahagiaan sangat jauh dari kehidupan. Semakin mereka menganggap bisa membeli kebahagiaan dengan uang, semakin kering hidup mereka, semakin jauh pula kebahagiaan itu menghindar dari mereka. Di saat itulah mereka semakin sibuk mengejar.... dengan uang yang mereka punya!!! Padahal ini justru membuatnya semakin tidak bahagia. Tetapi tak pilihan lain buat mereka, sebab yang mereka ketahui, uang bisa membeli apa pun. Sejak kecil mereka dibesarkan dengan kemudahan dan fasilitas, sehingga mereka justru menemukan banyak kesulitan dalam hidup. Apa yang sederhana buat orang lain, bisa menjadi kesulitan besar bagi dirinya. Nah. Jadi apa yang membuat anak-anak itu lemah di masa dewasanya? Mereka tak berdaya karena otot mereka, otak mereka dan mental mereka tak pernah ditempa. Mereka lemah karena terlalu banyak dimanja oleh fasilitas berlimpah. Mereka menemui banyak kesulitan karena terbiasa hidup serba mudah. Sesungguhnya apa yang berat bisa terasa ringan apabila kita memperoleh tempaan yang cukup untuk menghadapi tantangan. Semakin banyak tantangan yang mampu kita hadapi, akan semakin kuatlah kita dengan izin Allah Ta’ala.


Perlunya memberi kesempatan pada anak untuk menghadapi tantangan bukan berarti orangtua harus membiasakan anak hidup sulit. Sangat berbeda mempersulit keadaan dengan menempa anak menghadapi kesulitan. Kita memberi kesempatan kepada anak untuk belajar dengan memberinya tanggung-jawab, memberi mereka tugas untuk menyiapkan, mengatur dan menjaga apa yang mereka perlukan dalam hidup seharihari, serta memberi mereka kesempatan bagi mereka untuk belajar mengurusi diri mereka sendiri. Jadi bukan merampas hak mereka untuk belajar mandiri. Bayi usia 1,5 tahun misalnya, secara alamiah mereka akan terdorong untuk belajar makan sendiri. Tentu saja karena belum memiliki cukup keterampilan, hasilnya bisa belepotan dan mengotori lantai. Tetapi jika atas nama kasih-sayang kita tidak memberinya kesempatan sehingga kita selalumenyuapinya, anak itu akan terhambat kemampuannya dan sulit tumbuh kemandiriannya. Di usia-usia berikutnya ketika anak sudah saatnya untuk otonom, kita perlu membimbing mereka untuk menyiapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai besok dan menyiapkan perlengkapannya. Secara perlahan kita memperkenalkan kepada mereka konsekuensi jika mengabaikan kewajiban. Pada saat yang sama kita mulai perlu memberi mereka tantangan-tantangan. Bukan membebani. Kita bisa menggugah mereka untuk memiliki tekad kuat bagi sebuah mimpi di masa yang akan datang. Misalnya, kita gugah anak-anak itu untuk berkeinginan kuat memberikan harta yang bermanfaat bagi yang memerlukan. Katakanlah sepatu untuk orang miskin, atau sebuah ensiklopedi yang perlu mereka beli atau keperluan mereka sendiri yang berharga. Kita beri mereka dorongan. Pada saat yang sama kita pacu mereka untuk bisa mewujudkan tekad itu dengan kemampuannya sendiri. Melalui tantangan yang datang secara bertahap itu, anak-anak akan belajar memecahkan kesulitan. Sesungguhnya Allah Ta’ala letakkan kemudahan itu menyertai kesulitan. Bukankah Allah Ta’alaberfirman:


”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6). Muhammad Sulaiman ’Abdullah al-Asyqar menerangkan dalam tafsirnya yang bertajuk Zubdatut Tafsiir Min Fathil Qadiir bahwa maksud ayat ini ialah, sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan lain. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu dengan status marfu’ menerangkan, ”Seandainya kesulitan itu berada di dalam batu, niscaya ia akan diikuti oleh kemudahan sehingga ia masuk ke dalamnya kemudian mengeluarkannya dari batu tersebut. Suatu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan. Sesungguhnya Allah berfirman: ”Karena sesungguhnya

sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Pelajaran apa yang bisa kita petik? Banyak hal. Selain keharusan untuk senantiasa optimis tatkala menghadapi kesulitan, kita juga perlu merenungkan kembali apa yang telah kita berikan kepada anak-anak kita. Apakah kita menyiapkan anak kita untuk menjadi pribadi yang kuat ataukah kita justru sedang mempersulit hidupnya dengan membiasakan hidup mudah? Sungguh, membiasakan anak hidup mudah dapat melemahkan mereka dalam keterampilan hidup, berpikir, dan bersikap. Bahkan bukan tidak mungkin dapat menyebabkan mereka lemah iman.Na’udzubillahi min dzaalik.


Mengungkapkan Kemarahan, Menjaga Kemesraan by Mohammad Fauzil Adhim on Tuesday, October 9, 2012 at 9:11am · Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Suatu saat seorang suami datang kepada saya. Belum saya persilakan masuk, laki‐laki muda ini segera duduk dan berbicara panjang lebar, bahkan sebelum memperkenalkan diri dan bertanya apakah saya punya waktu saat itu. Ia terus saja berbicara. Ketika hand‐phone saya berdering dan kemudian saya berbicara dengan penelpon, lelaki ini tetap saja bercerita dengan meluap‐luap. Tak terkendali ia bicara. Saya ke dapur mengambilkan minum untuknya, ia tetap berbicara sendirian. Akhirnya, saya berkesimpulan tamu saya kali ini pastilah mempunyai beban emosi yang sangat berat. Begitu beratnya sehingga ia sudah kehilangan kendali. Ia tak lagi membutuhkan pendengar yang mau mengerti perkataannya. Ia hanya butuh kesempatan untuk menumpahkan isi hati dan kekesalannya dengan tuntas. Pertemuan pertama hampir tak ada yang bisa digali, kecuali bahwa ia mempunyai konflik berat dengan istrinya. Meski waktu masih memungkinkan untuk berbincang panjang dengannya, tetapi saya melihat bukan saat yang tepat. Baru saja ia menumpahkan secara meluap‐luap beban emosinya. Ibarat komputer, sistemnya perlu direstart dulu agar bisa melihat masalah sendiri dengan baik. Kali ini, yang paling penting ia bisa menata kembali pikirannya, menyusun kembali kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan juga kerapuhan jiwanya dengan baik. Bahasa komputernya, kesempatan pertama lebih banyak saya manfaatkan untuk memberi kesempatan kepadanya melakukan defragmentasi pikiran‐pikiran dan emosinya sehingga ia bisa menempatkannya secara lebih teratur. Pertemuan berikutnya, saudara kita ini sudah bisa menceritakan secara lebih jelas masalah apa yang ia hadapi. Meski masih melompat‐lompat dan banyak yang berulang‐ulang, saya mulai bisa menangkap akar masalahnya. Pada pertemuan berikutnya lagi, mulailah kelihatan penyebab konflik rumah‐tangganya yang berlarut‐larut. Di antara penyebab utama pertikaian


yang menimbulkan kekerasan fisik satu sama lain–istrinya sering bertindak sangat kasar sampai melukai suaminya—adalah kegagalan komunikasi (communication breakdown). Kedua‐duanya keras, mudah tersinggung sekaligus mudah terbakar emosinya menjadi perilaku yang membahayakan. Sebenarnya, tidak masalah suami‐istri sama‐sama memiliki sifat mudah tersinggung, keras dan mudah marah, sejauh keduanya saling menyadari tentang sifat buruk mereka.Berawal dari saling menyadarii ni, mereka belajar untuk saling mengenali penanda‐penanda emosi dari kedua belah pihak. Istri saya misalnya, tahu saya sedang marah, bad mood (suasana hati sedang negatif) atau pikiran sedang tegang dari rambut saya. Diam‐ diam ia rupanya menandai bahwa setiap kali satu dari tiga situasi buruk itu muncul, rambut di ubun‐ubun saya berdiri. Alhasil begitu melihat penanda emosi itu muncul, istri saya segera mengambil langkah yang perlu. Misalnya bertanya apa yang sedang saya alami atau sejenak mengajak anak-anak agar tidak gaduh. Dari sejarah kita belajar, kisah romantis antara Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dengan istri beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tak lepas dari kepekaan Rasulullahsaw. Mengenal penanda suka dan marahnya hati ‘Aisyah. Diriwayatkan dari‘ Aisyah, ia berkata, “Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Sungguh aku dapat mengetahui kapan engkau sedang suka padaku dan bila engkau lagi marah.” ‘Aisyah bertanya, “Darimana engkau tahu?” Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bila engkau sedang suka padaku, engkau berkata,“Demi Tuhannya Muhammad.” Dan apabila engkau sedang marah padaku, engkau berkata,“Sungguh, demi Tuhannya Ibrahim.”’ ‘Aisyah berkata, “Demi Allah, memang benar ya Rasulallah, yang tidak kusebut hanyalah namamu.”(HR. Bukhari & Muslim).


Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Kepekaan untuk mengenali penanda emosi istri. Berpijak dari mengenali penanda ini, kita bisa menentukan sikap dengan lebih tepat dan menahan diri dari perilaku yang bisa memperkeruh. Jadi, bukan justru menyulut emosi. Inilah yang sering saya sebut sebagai kedewasaan emosi; kemampuan untuk mengenali, memahami dan menerima dengan baik. Selanjutnya, mereka bisa belajar untuk saling mengkomunikasikan emosi negatifnya dengan cara positif. Tidak saling marah, tidak saling memojokkan dan tidak saling menyakiti. Emosi negatif bisa berupa rasa kesal, marah maupun rasa tidak suka. Semuanya ini bisa mengganggu hubungan suami dan istri. Jika dibiarkan, komunikasi antar kita akan sangat rentan salah paham dan pertikaian. Tetapi emosi negatif itu bisa diungkapkan dengan cara yang nyaman. Kita mengungkapkan perasaan yang sedang kita alami. Bukan meluapkannya. Kita bisa mengatakan,“Maaf, saya lagi marah. Emosi saya lagi negatif.” Atau kita bisa berterus‐terang, “Mas, saya lagi tersinggung. Maafkan saya, ya… suasana hati saya sedang buruk.” Jika situasinya memungkinkan, suami‐istrinya bisa mengungkapkan emosi negatifnya dengan setuntas‐tuntasnya. Ia bicara secara terbuka sekaligus dengan hati‐hati apa saja yang membuat kita marah atau sakit hati. Tetapi kita harus menahan diri untuk tidak menyalahkan. Kita harus ingat bahwa semarah apapun kita, komunikasi suami‐istri bertujuan untuk mencapai titik temu terbaik; titik temu yang saling memberi kelegaan, perasaan dihargai dan didengar. Sampai di sini, kita masih perlu menahan diri untuk tidak terburu‐buru mencari jalan keluar atas masalah yang sedang menyelimuti. Ada kecenderungan, dalam situasi seperti ini kita masih belum bisa berpikir secara jernih. Sebaliknya, kita cenderung masih ingin saling memenangkan pendapat dan bahkan saling memojokkan. Kalau kita sendiri masih belum bisa berpikir jernih, sebaik apapun jalan keluar yang diajukan oleh suami


atau istri kita, tetap saja sulit kita terima apa adanya. Itu sebabnya, kita perlu menahan diri sejenak. Yang paling penting untuk kita raih bersama adalah masing‐masing pihak merasakan adanya iktikad baik, sehingga hati akan mudah menemukan kedamaian. Kalau sekiranya pasangan kita masih meluap‐luap emosinya dan bahkan cenderung memuncak, maka belajar dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam kita perlu menahan diri sejenak. Biarlah emosinya reda. Jangan menyalahkan. Jangan pula menuntut. Bahkan andaikan kesalahan itu jelas ada padanya, tahan diri sejenak. Bukankah ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sedang cemburu dan bahkan sebegitu cemburunya sampai memecahkan mangkok, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallamtidak sibuk menasehatinya? Barulah setelah tenang, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallammengingatkan untuk mengganti mangkok orang yang sudah dipecahkan. Di saat emosinya masih meluap‐luap, boleh jadi obat yang paling tepat untuk menahan emosi agar tidak semakin menghebat adalah kesediaan untuk mendengar. Kita ikhlaskan diri untuk mendengar luapan emosinya tanpa berkomentar. Kita terima apa adanya tanpa menyalahkan. Kalaupun ada yang salah, kita bisa meluruskannya. Bukan menyalahkan. Itu pun harus menunggu hingga secara emosi, keadaannya menjadi lebih baik. Kalau emosi sudah reda, masing‐masing sudah saling tahu apa yang tidak mengenakkan hati, kita bisa merencakan waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakan. Barangkali memilih waktu yang tepat sama pentingnya dengan menemukan jalan keluar yang baik. Membicarakan masalah di saat suami baru saja terjaga dari tidur misalnya, merupakan waktu yang rawan terhadap kesalahpahaman dan mudah menimbulkan letupan emosi. Bicarakanlah masalah yang ada denga nsantai. Diskusikanlah apa yang sebaiknya kita lakukan dengan tenang dan dari hati ke hati. Bukan apa yang kemarin seharusnya tidak dilakukan. Sebab ini hanya akan menambah api kemarahan.


Wallahua’lambishawab.


Berhaji tanpa Pahala by Mohammad Fauzil Adhim on Tuesday, October 2, 2012 at 9:27am · Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Seorang laki-laki mengunjungi Bisyr Ibn al-Harits untuk berpamitan haji. Ia berkata, “Aku berniat pergi haji. Adakah sesuatu yang hendak Anda perintahkan kepadaku untuk dikerjakan?” “Berapa banyak yang Anda sediakan untuk bekal?” tanya Bisyr. “Dua ribu dirham.” “Apa yang menjadi tujuan Anda berangkat haji kali ini? Apakah karena zuhud terhadap dunia, atau untuk melepas kerinduan kepada Baitullah, ataukah demi meraih keridhaan-Nya?” “Demi meraih ridha Allah,” kata laki-laki itu mantap. “Sekiranya Anda dapat meraih keridhaan Allah, sementara Anda tetap tingal di rumah Anda, dengan menginfakkan dua ribu dirham, dan Anda merasa yakin akan meraihnya, apakah Anda bersedia melakukannya?” tanya Bisyr. “Ya.” “Kalau begitu, pergilah dan berikanlah uang Anda itu untuk menolong sepuluh jiwa; seorang yang terbebani hutang, agar ia membayar hutangnya dengan harta yang engkau berikan; seorang miskin, agar ia dapat memperbaiki keadaannya; seorang kepala keluarga yang dibebani banyak anak; dan seorang pengasuh anak yatim, agar dapat menggembirakan si yatim yang diasuhnya. Sekiranya hati Anda cukup kuat untuk memberikan uang itu kepada satu orang saja di antara mereka, lakukanlah! Sungguh, perbuatan Anda mendatangkan kegembiraan di hati


seorang Muslim, menolong orang yang dalam penderitaan, membantunya keluar dari kesusahannya dan menolong orang yang lemah; semua itu jauh lebih utama daripada ibadah haji seratus kali, setelah hajjatul Islam (haji yang diwajibkan sekali seumur hidup).” Bisyr Ibn al-Harits kemudian berkata, “Kini pergilah dan infakkanlah uang bekal Anda itu, sebagaimana telah kuperintahkan kepada Anda. Atau, kalau tidak, ungkapkanlah isi hati Anda sekarang juga!” Laki-laki itu termenung sebentar, lalu berkata, “Wahai Abu Nashr (nama panggilan Bisyr Ibn al-Harits), niat kepergianku berhaji tetap lebih kuat dalam hatiku.” Mendengar jawaban itu, Bisyr (rahimahullah) tersenyum dan berkata kepadanya, “Memang, apabila harta diperoleh melalui kotoran perdagangan atau syubhat, tertariklah hati untuk memenuhi keinginan hawa nafsu, dengan menampakkan dan menonjolkan amal-amal saleh (agar dapat diketahui oleh orang banyak). Sedangkan Allah Swt telah bersumpah demi diri-Nya sendiri, bahwa Ia tidak akan menerima amalan selain amalan orang-orang yang bertakwa.” Seperti laki-laki yang datang menemui Bisyr Ibn al-Harits, banyak di antara kita yang berulang kali menunaikan ibadah haji setelah hajjatul-Islam. Mereka berangkat haji bukanlah karena mencari ridha Allah, tetapi hanya untuk mengobati jiwanya yang gersang. Mereka ingin mendapatkan pengalaman eksotis dengan menangis di tanah suci, lalu mengira bahwa yang demikian itu merupakan pencerahan ruhani. Mereka menghabiskan uang yang sangat besar jumlahnya, sementara banyak urusan kaum Muslimin yang tidak bisa berjalan karena tak ada dana yang bisa menopang. Lebih mengenaskan lagi, ada yang menunaikan hajjatul-Islam, tetapi sebenarnya mereka belum terkenai kewajiban. Mereka berangkat ke Tanah Suci, tetapi tangannya terkotori oleh harta yang sebenarnya merupakan hak dari orang-orang yang menjadi tanggungannya, misalnya orangtuanya yang miskin. Alhasil, ia berangkat ke Tanah Suci dengan airmata. Bukan


karena haru, tetapi airmata kesedihan pengantarnya karena ada yang terbengkalai, tidak terurusi. Mereka inilah yang menangis di Tanah Suci, tetapi kembali dengan jiwa yang gersang dan hati yang kosong. Saya teringat dengan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Shahabat Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini pernah berkata, “Di akhir zaman akan bertambah banyak orang yang pergi haji tanpa sebab tertentu. Perjalanan ke sana sangat dimudahkan bagi mereka, dan rezeki mereka pun dilapangkan, namun mereka pulang dari sana dalam keadaan kosong dari pahala dan terlepas dari kebaikan, dan adakalanya seorang dari mereka diperosokkan oleh ontanya di padang pasir dan belantara, sementara tetangganya sendiri dalam kesusahan, tidak diberinya pertolongan.”

***** Semoga renungan sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Kepada Allah Ta’ala saya memohon ampun. Dan kepada saudarasaudaraku seiman, saya memohon nasehat. Selebihnya, saya tetap perlu mengingatkan agar tidak mudah pula menuding mereka yang berhaji untuk kesekian kali sebagai perjalanan yang sia-sia. Andaikata ada di antara tetangga kita yang tak peduli pada urusan ummat ini, bahkan tak mau berbagi kepada tetangganya, sesungguhnya ia memiliki hak atas kita untuk kita ingatkan dan kita beri nasehat. Di luar itu, ada orang-orang yang berulang kali melakukan perjalanan ‘ibadah haji, dan ia pun banyak membelanjakan hartanya untuk menegakkan kalimat Allah Ta’ala di muka bumi, membiayai proyek-proyek amal shalih dan menyantuni fakir miskin. Maka kita do’akan ia semoga Allah Ta’ala menerima ‘ibadah dan amal shalihnya. Allahumma amin.

Wallahu a'lam bish-shawab. Wallahul musta'an.


Syirik yang Samar Berhati-hatilah dengan syirik yang samar. Ingatlah senantiasa jawaban kita tiap kali terdengar seruan "hayya 'alash-shalaah" dan "hayya 'alal-falaah". Kita mengucapkan, "Laa haula wa laa quwwata illa biLlah. Tiada daya upaya selain SEMATA karena Allah Ta'ala." Maka, adakah engkau telah ilmui apa yang Allah Ta'ala tuntunkan dalam kitabuLlah, pun melalui petunjuk dari Rasulullah s hallaLlahu 'alaihi wa sallam? Berhati-hatilah dengan syirik yang samar, yang diam-diam tanpa sadar engkau amini dan bahkan engkau yakini. Mungkin engkau memang tidak mendatangi pohon-pohon besar dan meminta kepadanya, tetapi engkau tetap meyakini bahwa alam semesta inilah yang memberi kekuatan dan yang percepat keinginan untuk menjadi kenyataan, sehingga dengan itu engkau mengira sedang berpikir positif karena ingin alam mengaminkannya, tapi tergelincir pada sikap melampaui batas dalam beriman kepada Allah 'Azza wa Jalla. Apakah ukuran positif dan negatif dalam berpikir? Apakah amarah itu keburukan? Apakah sedih itu keburukan? Marah untuk sesuatu yang tidak benar adalah keburukan. Tetapi tidak adanya wajah yang memerah marah ketika agama ini dinistakan, adalah sama dengan merelakan bencana demi bencana terjadi. Marilah kita ingat sejenak hadis riwayat Ibnu Abdil Barr. Allah mengutus dua malaikat untuk membinasakan sebuah desa dan semua isinya. Dua malaikat tersebut mendapatkan seorang yang sedang shalat di sebuah masjid. Dua malaikat itu berkata, “Wahai Tuhanku, di desa ini ada seorang hamba-Mu yang sedang shalat.� Allah Ta'ala berkata, “Hancurkan desa tersebut dan hancurkan ia bersamasama karena wajahnya tidak merah, marah karena-Ku� (HR. Ibnu Abdul Barr). Kapankah doa orang saleh tak sanggup menghindarkan sebuah negeri dari bencana yang menakutkan? Ummu Salamah bertutur:


Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Jika kemaksiatan merebak di antara umatku, maka Allah akan menimpakan azab yang mengenai siapa saja.” Shahabat bertanya, “Wahai Rasul Allah, bukankah di antara mereka ada orang yang saleh?” Beliau menjawab, “Betul.” Shahabat berkata, “Apa yang ditimpakan kepada mereka?” Beliau menjawab, “Mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh orang umumnya. Mereka mendapatkan pengampunan dan ridha Allah” (HR. Ahmad). Hari ini, ketika fitnatud dien merebak, kita perlu semakin bersungguhsungguh mempelajari agama ini, terutama pokok-pokoknya, yakni aqidah. Ini bukan berarti kita patut meninggalkan hal-hal yang terkait dengan tatanan syari'at-Nya, sebab itu merupakan konsekuensi dari meyakini bahwa Islam agama kita. Kita perlu berhati-hati dalam mengikuti kalimat-kalimat yang beredar yang seakan indah, tetapi bertentangan secara sangat fundamental dengan Islam. Di antara aqidah paganisme baru yang sekarang semakin nyaris terdengar adalah law of attraction. Terlebih ketika dibungkus -sekali lagi: dibungkusistilah Islam. Dan inilah fitnah syubhat yang amat menggelincirkan iman. ‫متنأو الإ نتومت الو هتاقت قح هللا اوقتا اونمآ نيذلا اهيأ اي‬ ‫نوملسم‬ "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran, 3: 102). Kalau kita mati besok, sudah benar-benar muslimkah kita?


Kreatif tanpa Musik by Mohammad Fauzil Adhim on Thursday, September 27, 2012 at 5:22pm · Seorang ibu bertanya tentang anaknya. Sejak kecil selalu memperoleh ranking bagus di kelasnya. Prestasi akademik selalu cemerlang. Tetapi belakangan minat belajarnya merosot drastis. Tak ada gairah belajar. Tak ada minat untuk mengerjakan PR. Ketika ibunya mengingatkan untuk belajar lebih giat agar rankingnya tidak jeblok, ia berkata, “Aku bosan sama ranking.” Pertanyaan ibu ini mengingatkan saya pada teori motivasi. Ada motivasi ekstrinsik, ada motivasi intrinsik. Anak kita menyapu lantai agar mendapat sebiji permen dari orangtua, tekun belajar agar dapat ranking satu (karena nanti kita belikan ia sebuah sepeda mungil), atau bersemangat memberesi kamar agar diajak jalan-jalan, adalah contoh motivasi ekstrinsik. Anak melakukan aktivitas apa pun, termasuk shalat dan mengaji, karena ingin mendapatkan hadiah yang dijanjikan kepadanya merupakan bentuk motivasi ekstrinsik. Kita rajin puasa Senin-Kamis karena ingin lulus ujian, bukan karena berserah diri kepada Allah Yang Maha Tinggi. Motivasi ekstrinsik cepat pudar. Anak mudah kehilangan semangat karena hadiah yang dijanjikan –termasuk hadiah berupa “ranking”—tidak lagi memiliki daya tarik. Semangatnya melemah (less zeal)karena imbalan yang diberikan meaningless (kehilangan makna), sehingga tak ada lagi alasan untuk mengejar. Seperti anak ibu tadi, mereka bisa bosan dapat ranking yang bagus. Kapan anak merasa bosan? Ketika anak merasa hadiah itu tak memberi manfaat apa-apa. Anak-anak tidak membutuhkan. Kalau dulu anak bersemangat menyapu untuk memperoleh permen, sekarang permen sudah tidak menarik lagi. Anak butuh rangsangan lebih besar untuk bertindak. Cepat lambatnya anak merasa bosan dipengaruhi sekurangnya oleh dua hal. Pertama, nilai imbalan atau hadiah yang dijanjikan kepada anak. Setiap hadiah akan mengalami penyusutan nilai bagi anak. Saat anak


belum pernah memegang, sebuah mobil mainan sangat menggiurkan bagi anak. Tetapi ketika berbagai jenis mainan sudah sering ia pegang, mobilmobilan yang bagus lengkap denganremote controlnya pun sudah tidak menarik lagi. Melemahnya daya tarik imbalan juga dipengaruhi oleh ada tidaknya aktivitas yang memberi daya tarik lebih besar. Video-game, misalnya. Semakin kuat keasyikan yang diperoleh anak saat bermainplay-station, semakin lemah daya tarik imbalan yang kita janjikan agar anak mau belajar yang rajin. Lebih-lebih jika aktivitas lain yang mengasyikkan itu pada saat yang sama juga menyerap seluruh energi psikis anak sekaligus membuat anak pasif. Berbagai jenis game –juga tayangan TV—membuat anak terpaku secara pasif. Mereka dibombardir dengan gambar-gambar kekerasan yang berganti dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga memaksa mereka untuk terus memperhatikan tanpa berkedip. Aktivitas semacam ini membuat anak mengalami kelelahan secara psikis. Ibarat truk, bebannya berlebih. Ibarat komputer, sistemnya hang. Macet. Meskipun kemampuannya sangat besar dan kecepatan prosesor sangat tinggi, tetapi tidak mampu mengerjakan tugas dengan baik. Anak-anak yang sedang hang, tidak mampu memusatkan perhatian saat belajar dan sulit mencerna buku yang ia baca. Pikirannya dipenuhi bayang-bayang permainan yang ia pelototi di video-game. Dalam bahasa komputer, anak ini mengalami registry error. Badannya ada di kelas, telinganya mendengar suara guru, tetapi pikirannya ada di play-station. Ketika anak mengalami hang, ia kehilangan rasa ingin tahu. Kreativitasnya tumpul. Ia tidak betah berpikir, mencari tahu dan menekuni kegiatan yang menuntutnya berpikir aktif. Ia kehilangan gagasan dan kecemerlangan berpikir, kecuali pikiran untuk kembali menyibukkan diri dengan videogame atau tayangan TV. Pada tingkat yang parah, anak mengalami kecanduan. Anak yang terlalu banyak memelototi video-game sampai pada tingkat yang sangat menguras energi psikis, cenderung sangat pasif atau justru sebaliknya amat agresif. Mereka bisa seperi orang linglung. Tak tahu apa


yang harus dilakukan. Bisa juga sangat ganas. Mereka berperilaku sangat agresif karena pengaruh adegan yang disaksikan. Bukan karena dorongan kecerdasan. Bisa juga terjadi anak pasif sekaligus impulsif. Secara sosial, mereka terputus dari lingkungan. Pada anak-anak yang tingkat kecanduannya sudah sangat akut, boleh dikata mereka tidak mempunyai kontak dengan orang lain, termasuk orangtua. Interaksinya cuma dengan benda bernama TV, play-station atau layar komputer yang menyajikan game. Mereka tidak betah berinteraksi dengan orang lain. Di saat yang sama, adegan kekerasan yang bertubi-tubi –khususnya dalam video-game—memberi efek desensitisasi. Perasaan mereka tumpul. Hati mereka keras. Berapa jam waktu menonton yang sehat bagi anak? Sekitar 8 sampai 10 jam seminggu. Itu pun dengan catatan tayangannya masih cukup sehat. Jika tayangannya benar-benar sangat edukatif dan merangsang daya nalar anak, mereka bisa menonton maksimal 15 jam seminggu. Lebih dari itu sudah tidak sehat. Apalagi kalau acaranya banyak menayangkan kekerasan, jam menonton harus dipersingkat. Dalam The Smart Parent’s Guide to KIDS’ TV, Milton Chen menunjukkan bahwa durasi 4 jam sehari (28 jam seminggu) sudah termasuk kategori yang sangat menakutkan. Benar-benar membahayakan mental dan kepribadian anak. Apalagi kalau tayangan itu berupa video-game yang dari detik ke detik hanya menyajikan kekerasan, keganasan dan cuma memancing reaksi impulsif anak. Alhasil, tak ada yang perlu kita salahkan kecuali diri sendiri kalau anakanak kita kehilangan motivasi belajar, sementara setiap hari mereka memelototi TV enam jam sehari! Agaknya, ada benarnya ketika Fred Rogers berkata, “Barangkali televisi adalah satu-satunya peralatan

elektronik yang lebih bermanfaat justru setelah dimatikan.”

Kedua, cepat lambatnya anak merasa bosan dipengaruhi oleh tekanan yang mereka terima. Anak yang sering dibebani untuk mendapatkan ranking, cenderung cepat kehilangan minat. Ia belajar di bawah tekanan karena tidak ingin orangtuanya cemberut. Selebihnya, tak ada alasan yang menggerakkan jiwa untuk tekun membaca.


Motivasi ekstrinsik terbagi menjadi dua, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek misalnya permen yang kita berikan begitu anak menyapu, jangka panjang misalnya iming-iming pada anak kelas 4 SD kalau lulus UASBN dengan nilai tinggi akan dibelikan laptop baru. Semakin pendek dan nyata iming-iming yang kita berikan, semakin cepat kelihatan reaksinya, sekaligus semakin mudah hilang kekuatannya. Anak-anak yang digerakkan oleh motivasi ekstrinsik jangka pendek, ibaratnya sama dengan mobil mewah tanpa bensin. Kalau lagi didorong, jalan. Tapi kalau tak ada yang mendorong, mogok. Mobil tak bisa berjalan lagi. Anak-anak yang memiliki motivasi intrinsik, sebaliknya, merasa asyik dengan apa yang dikerjakan, menemukan kegembiraan saat menghadapi tantangan, bahagia ketika mengerjakan tugas-tugas sehingga ia terlibat penuh secara emosional. Mereka berpartisipasi melakukan kegiatan karena menemukan kegembiraan, kebahagiaan, keasyikan atau makna dari apa yang dilakukannya. Bukan demi memperoleh hadiah. Dalam tindakan itu sendiri, ada yang ia dapatkan sebagaimana pendaki gunung memperoleh kepuasan. Kebahagiaannya terletak pada kemampuannya mengatasi rintangan. Bukan pada decak kagum orang yang memandang. Dalam bukunya berjudul Adolescence (2001), John W. Santrock menulis bahwa motivasi intrinsik sangat mempengaruhi kreativitas dan rasa ingin tahu anak (natural curiosity). Anak-anak yang motivasi intrinsiknya kuat cenderung lebih kreatif, kaya gagasan, senantiasa menemukan ide-ide segar –pada tahap awal adalah ide-ide permainan—serta ketertarikan yang kuat dalam melakukan berbagai aktivitas. Mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, minat yang luas dan cenderung memiliki semangat belajar mandiri yang kuat. Anak-anak yang memiliki motivasi intrinsik, betah membaca berjam-jam meskipun tidak ditunggui orangtua. Mereka merasa membaca sebagai kebutuhan. Bukan tuntutan orangtua dan sekolah. Adakalanya anak memiliki motivasi intrinsik untuk suatu bidang, tetapi tidak untuk bidang yang lain. Adakalanya anak memiliki motivasi intrinsik


untuk hampir semua bidang. Kapan saja, dimana saja dan mengerjakan apa saja, ia bersemangat. Bersungguh-sungguh ia belajar, meskipun tidak begitu menguasai. Kuatnya motivasi intrinsik mampu membuat seseorang berani menghadapi kesulitan. Kisah tentang Imam Bukhari adalah kisah tentang manusia yang memiliki motivasi intrinsik luar biasa. Ia menempuh perjalanan beratusratus kilo, memenuhi kakinya dengan kepenatan, dan membiarkan tubuhnya disengat oleh panasnya matahari demi mendapatkan sebuah hadis. Kalau ia menginginkan harta dari penguasa, tak perlu ia menghabiskan waktu hanya untuk mendapatkan sebuah hadis yang belum tentu ia ambil (karena hadis itu ternyata dha’if, misalnya). Tetapi ada kekuatan jiwa yang menggerakkannya. Ada kecintaan pada agama yang membuatnya tak pernah berhenti mencari ilmu. Kalau motivasi intrinsiknya sudah kuat, tanpa fasilitas yang memadai pun mereka bisa tumbuh menjadi manusia cerdas luar biasa. Nama-nama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad ibn Hanbal atau –apalagi—Abu Hurairah, bukanlah orang yang memiliki cukup sarana untuk belajar. Tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan jiwa menakjubkan. Dahsyatnya motivasi mereka untuk menolong agama membuat daya ingat mereka sangat hebat dan pikiran mereka amat jernih. Kisah para penemu juga merupakan kisah tentang motivasi intrinsik yang kuat. Bukan kisah tentang banyaknya fasilitas yang mereka miliki. Orangorang super kreatif bukanlah mereka yang memperoleh latihan gerak dengan iringan musik yang –kadang tanpa disadari guru—sensual. Pernah, saya merasa amat sedih ketika menghadiri acara tutup tahun sebuah lembaga pendidikan. Atas nama kreativitas, anak-anak disuruh lenggaklenggok memutar badan á la peragawati, diiringi dengan alunan musik menggoda. Seorang guru berdiri di samping, di seberang panggung, untuk mengawasi sekaligus mengarahkan dengan gerak mulut dan mata. Mereka lupa –atau tidak tahu—bahwa ketika seorang anak menggerakkan dadanya, lalu memperoleh tepuk tangan meriah, yang menari-nari di


benaknya bukanlah “isyhadu bi anna muslimun�, melainkan sensualitas. Bukan kreativitas.


PR Mencerdaskan untuk Anak Kita by Mohammad Fauzil Adhim on Sunday, September 30, 2012 at 8:06pm 路 Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Mari sejenak kita berbincang tentang pekerjaan rumah untuk anak-anak kita. Adakah manfaatnya? Pembahasan tentang PR ini saya dasarkan pada buku The Art and Science of Teaching karya Robert J. Marzano, ASCD, Alexandria, Virginia, 2007. Saya juga mendasarkan pada buku yang lebih khusus, yakni Rethinking Homework karya Cathy Vatterott, Alexandria, Virginia, 2009. Secara sederhana, tujuan pemberian PR adalah untuk mendukung pembelajaran pada salah satu dari empat cara, memberi pengalaman prabelajar. Bisa pula untuk mengecheck pemahaman, praktek atau pemrosesan.

P rabelajar. PR diberikan untuk mengenalkan siswa terhadap topik atau latar belakang tema yang akan dipelajari, sehingga anak akan lebih siap untuk mempelajari materi secara lebih mendalam. Kita dapat menugaskan siswa untuk membaca atau membuat garis besar bab. Dapat pula berupa tugas untuk menemukan apa yang telah diketahui oleh siswa tentang topik yang akan dipelajari. Dapat pula kita arahkan untuk menggali apa yang mereka ingin pelajari dari bab atau tema tersebut. Kita juga dapat memberi tugas kepada siswa untuk menulis berbagai pertanyaan mereka sendiri, misal tentang sistem pencernaan. Manfaatnya, tugas menulis pertanyaan ini dapat memancing rasa ingin tahu sekaligus menciptakan keterlibatan siswa pada tema tersebut. Pemberian PR prabelajar dapat pula diarahkan untuk merangsang ketertarikan anak terhadap konsep yang akan dipelajari.


Adapun PR untuk menakar sejauh mana siswa telah memahami apa yang dijelaskan oleh pengajar di kelas, bentuknya beragam. Umumnya guru memberikan PR untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu memahami apa yang telah dijelaskan di kelas. PR jenis ini juga dapat menjadi cara bagi guru untuk memperoleh insight (letikan ide) untuk pembelajaran siswa. Contoh PR yang semacam ini adalah menugasi siswa menyelesaikan sejumlah soal matematika dan m enerangkan cara menyelesaikan soal tersebut. Dalam hal ini, seorang guru seharusnya tidak hanya memeriksa PR siswanya. Lebih dari itu, menggali bagaimana mereka menyelesaikan soal tersebut. Guru bertanya kepada tiap-tiap siswa langkah-langkah menyelesaikan soal yang ada dalam PR tersebut sehingga dapat diketahui tingkat penguasaan materi masing-masing siswa. Berawal dari PR, guru dapat menentukan apa yang harus ia lakukan untuk meningkat mutu pembelajaran. Jadi, guru bukan hanya memeriksa hasil kerja siswa atas PR yang diberikan. Lebih penting lagi adalah mengetahui kepahaman siswa. Nah. Jika ini dilakukan oleh guru secara benar, PR dapat membantu tugas guru dalam membangun kompetensi (penguasaan yang matang) siswa pada bidang studi yang ia ampu dengan senantiasa memeriksa tingkat penguasaan materi, lalu memberi umpan-balik. Hanya memeriksa hasil kerja siswa terhadap PR yang diberikan, dapat menjadikan guru terkecoh. Mengira siswa telah memiliki kompetensi, padahal baru sebatas kemampuan mengerjakan PR saat itu saja. Padahal boleh jadi, siswa menyelesaikan PR tanpa memahami materi. Siswa mampu menyelesaikan soal karena ada orang yang mendampingi di rumah untuk menyelesaikan tugas. Bukan memahamkan. Lebih parah lagi jika yang menyelesaikan PR tersebut sebenarnya bukan siswa, melainkan ibu atau orang lain. Siswa hanya pencatat. Karena itu, pemberian PR harus disertai tindak-lanjut yang jelas serta diiringi umpan-balik yang tepat sehingga siswa lebih bergairah belajar. Bentuk lain PR untuk memeriksa tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan adalah dengan memberikan jurnal yang


meminta siswa untuk menjelaskan sekaligus menjawab mengapa. Ini misalnya PR terkait percobaan sains.

PR untuk Praktek alias Latihan Soal Selain untuk menakar tingkat pemahaman anak terhadap materi yang telah diajarkan, PR kerap diberikan agar anak praktek lebih banyak. Anak diberi latihan-latihan soal untuk dikerjakan di rumah. PR untuk memperbanyak praktek diyakini banyak guru sebagai cara yang ampuh agar anak benarbenar menguasai pelajaran. Asumsi dasarnya adalah, makin sering praktek makin makin hebat penguasaan anak terhadap pelajaran tersebut. Asumsi PR jenis ini pula yang mendasari berbagai sekolah memberi latihan soal sebanyak-banyaknya pada siswa kelas 6 untuk hadapi ujian. Meskipun sering praktek diperlukan untuk sejumlah jenis keterampilan, misal menghafal, tapi PR untuk tujuan ini kerap terjebak pada 3 kesalahan. Pertama, guru boleh jadi yakin telah memberi PR untuk melatih anak melakukan praktek. Tapi praktek itu hanyalah berlaku jika anak faham. Manakala anak sebenarnya belum faham konsep atau keterampilan tersebut di kelas, maka banyaknya PR praktek dapat menyebabkan anak frustasi. Tatkala anak tidak menguasai konsep atau keterampilan, memperbanyak praktek semisal mengerjakan soal berhitung, jadikan anak bosan. Jika tak tertangani, kebosanan akan meningkat menjadi akut, terutama jika PR tersebut hanya diperiksa dan dinilai saja. Kebosanan baru dapat menjadi tiket untuk meraih kegembiraan manakala guru memberi umpan balik yang tepat terhadap hasil pengerjaan PR siswa. Umpan balik yang baik menjadikan PR terasa bermakna buat anak, meski dia banyak melakukan kesalahan saat mengerjakan. Sebaliknya, tanpa umpan balik yang pas, PR dapat menjadikan anak merasakan kebosanan yang menyiksa, terutama jika di kelas menggunakan model pembelajaran yang berfokus pada guru (fun teaching dan sejenisnya). Bukan fokus pada penumbuhan orientasi belajar.


Meskipun menjawab salah, anak merasa memperoleh pengalaman berharga manakala guru mengajak anak “menemukan� kesalahan lalu “menemukan� jalan keluar yang benar. Ini antara lain dengan meminta siswa menerangkan caranya menemukan jawaban. Alina Tugend menunjukkan bahwa pendekatan model ini yang dikembangkan oleh para guru di Jepang. | Kawan di Jepang, benar demikian? Sampai tahun 2007, pembelajaran di Jepang berfokus pada menghafal. Sesudah itu, guru memahamkan apa yang dihafalkan tersebut. Begitu Ken Watanabe yang asli Jepang menuliskan dalam bukunya: Problem Solving. Model pembelajaran inilah yang menghasilkan Jepang sekarang. Kesempatan menemukan kesalahan sendiri saat di kelas ini mendorong anak Jepang lebih menyukai soal beresiko gagal tinggi. Lho, kok? Karena dengan itu ia dapat lebih banyak dari kesalahannya. Ia menjadi lebih baik melalui kesalahan (better by mistakes). Sikap dasar ini pula yang mendasari Kaizen, gaya manajemen Jepang yang menekankan pada perbaikan terus-menerus. Kembali ke soal PR untuk praktek. Kelemahan kedua PR jenis adalah manakala guru lalai memeriksa tingkat pemahaman siswa. Lebih parah lagi jika guru memang mengabaikan pentingnya menakar pemahaman TIAP siswa, bahkan ketika membahas PR di kelas. Ini kerap terjadi karena guru menganggap praktek lebih banyak melalui latihan soal bertumpuk menyebabkan siswa makin matang penguasaan materinya. Pengabaian memeriksa pemahaman siswa dapat berakibat fatal jika siswa melakukan kesalahan saat mengerjakan dan menginternalisasi kesalahan konsep (miskonsepsi) atau prosedur tersebut hanya karena jawaban anak kebetulan hasilnya tepat. Cocok. Padahal anak mengerjakan soal dengan cara yang salah. Ini berbeda dengan anak yang menemukan cara berbeda, tapi tetap benar caranya.

Ketiga, praktek yang merata lebih baik dibanding praktek massal. PR praktek lebih efektif jika dibagi dalam beberapa hari. Memberi PR yang bertumpuk untuk praktek matematika misalnya, dan dibebankan pada satu


waktu, dapat justru berakibat tidak baik. Terlebih jika guru tidak memberikan umpan balik memadai terhadap hasil pengerjaan soal tiap siswa. Kesalahan semakin terinternalisasi. Tidak adanya umpan balik memadai menjadikan anak yang sudah faham jadi malas mengerjakan PR. Sedang yang kurang faham bisa tertekan.

Agar Siswa Berpikir Lebih Mendalam PR jenis keempat dimaksudkan agar siswa melakukan pemrosesan materi pelajaran yang telah dipelajari secara lebih mendalam. PR jenis ini kita berikan manakala kita menginginkan siswa melakukan refleksi mendalam terhadap konsep yang telah didiskusikan di kelas. Salah salah bentuknya adalah menugasi siswa menemukan masalah dan merumuskan dalam bentuk pertanyaan. Sesungguhnya, pertanyaan yang baik adalah setengah dari ilmu. Maka, kemampuan anak bertanya secara cerdas dan berbobot akan sangat berharga. Nah, anak justru sulit menemukan pertanyaan kritis dan “baru” kecuali jika ia memahami materi dengan baik. Maka, PR jenis ini pada dasarnya merupakan strategi agar anak berpikir mendalam dan melakukan sintesis. Melalui PR jenis ini, guru merangsang kemampuan kognitif level kelima berdasarkan taksonomi kognitif dari Bloom. Dan guru tidak akan mampu memberikan PR semacam ini kecuali ia benar-benar seorang pengajar yang kompeten; baik dalam bidang studi yang ia ajarkan maupun dalam kecakapan mengajar. Ini memberi pelajaran berharga bahwa untuk mampu memberi PR berbobot yang menggairahkan, guru harus banyak belajar. Guru juga dapat memberikan PR dapat bentuk penugasan untuk menerapkan keterampilan atau pengetahuan yang telah dipelajari. Guru menyajikan berbagai informasi yang disajikan terpisah-pisah dan meminta siswa “merangkai”. Atau sebaliknya, guru menyajikan “gambar besar” tentang suatu tema atau keadaan, lalu meminta siswa menemukan unsurunsurnya.


Sebagaimana PR jenis lain, tugas ini baru akan bermakna apabila guru memberi umpan balik secara tepat. Merangkai berbagai informasi berserak memerlukan pijakan dan kemampuan alasan yang tepat. Proses penalaran sangat penting untuk PR jenis ini. PR untuk pemrosesan juga dapat diberikan dalam bentuk proyek jangka panjang yang berkesinambungan. Kita memberi tugas merangkum dan menemukan konsep utama pada tiap topik dan bab. Sesungguhnya merangkum bukan sekedar memendekkan kalimat dan membuang bagian yang dianggap tidak perlu. Kemampuan merangkum berkait erat dengan kemampuan memahami konsep. Yang mahir merangkum, akan mudah menjelaskan. Sesudah merangkum, guru dapat memberi PR untuk menjelaskan kembali atau menulis dalam bahasa sendiri apa yang telah dirangkum. Penugasan jenis ini mendorong siswa mencapai tingkat kemampuan kognitif yang tinggi. Tetapi jika salah desain, PR semacam ini akan jadi beban berat. Maka, guru hendaknya telah memastikan bahwa siswa sudah menguasai konsep dengan sangat baik sebelum memberi tugas jenis ini. Salah satu cara menakar pemahaman anak adalah dengan memberi PR jenis kedua yang telah saya bahas di bagian awal tulisan ini. Tampak sepele tapi ketika diabaikan dapat menjadikan PR jadi sia-sia adalah menggairahkan anak dengan penugasan yang diberikan. Siswa sering tidak termotivasi mengerjakan PR karena tugas tidak dirasa penting. Meski demikian, jika anak memiliki adab yang kuat terhadap guru dan ‘ilm u , ia akan senantiasa bersemangat mengerjakan PR. Ini artinya, selain soal desain PR, menanamkan adab tetap sangat penting. Pemberian tugas terlalu berat juga dapat menyebabkan anak kehilangan motivasi belajar. Bukan cuma motivasi kerjakan PR. Penugasan yang tidak tepat pun dapat menjadi dem otivator , yakni sesuatu yang merusak motivasi anak, baik untuk belajar maupun ke sekolah. Tetapi, pemberian PR yang tepat akan menjadikan siswa senantiasa menemukan tantangan dan gairah untuk belajar lebih serius. Ini berarti, untuk memberikan PR


yang tepat, guru perlu senantiasa belajar. Jika guru malas belajar, lalu bagaimana siswanya? ***** Masih banyak hal penting yang perlu kita perbincangkan seputar pekerjaan rumah untuk anak. Perbincangan kita kali ini pun baru sebatas empat jenis PR, dari yang saya harapkan dapat membahas berbagai aspek PR. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Saya berharap dapat menuliskan pembahasan aspek lain dari PR untuk anak.

Wallahul musta’an. ***


Kebijakan Panik Bidang Pendidikan by Mohammad Fauzil Adhim on Friday, September 28, 2012 at 5:22am · Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Marilah sejenak kita menundukkan kepala, menangisi ruwetnya pendidikan yang tampak semakin jelas betapa ia tak punya arah. Marilah kita ingat sejenak, apakah yang terjadi pada anak-anak kita di saat kita baru saja tiba di rumah dari mengantarkan mereka ke sekolah. Adakah sekolah menjadi tempat terbaik untuk belajar beriman dengan sepenuh yakin dan kesungguhan menjalaninya? Adakah sekolah menjadi tempat menyemai benih-benih akhlak mulia, sikap yang baik dan perilaku yang santun? Adakah sekolah menjadi tempat anak-anak kita belajar mencintai Allah Ta’ala, kebenaran, budi pekerti dan ‘ilmu? Ataukah anak-anak itu...., jangankan akhlak, adab pun mereka tak kenal. Jangankan adab, ilmu pun mereka tak menguasai. Berjalan menyusuri negeri ini, bertemu dengan para pengajar yang sering menganggap dirinya guru, semakin tersadar betapa parah kerusakan pendidikan di negeri ini. Sulit sekali menemukan guru-guru yang memiliki komitmen kuat terhadap pendidikan. Tetapi bagaimana mereka akan gelisah di tengah malam, lalu bangkit mendo’akan muridnya, jika logika yang ditegakkan oleh pemangku kebijakan hanyalah soal kesejahteraan. Berbincang dengan para pemangku kebijakan, amat sedikit.... ya, amat sangat sedikit pemangku kebijakan yang merisaukan pendidikan dan memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Nyaris tak pernah saya mendengar pemangku kebijakan berbicara tentang idealisme pendidikan. Yang lebih sering terdengar dari lisan mereka adalah kesejahteraan, kuliner atau gadget. | Maafkan saya, inilah yang saya jumpai ketika saya bertandang ke sana kemari untuk memberi seminar, workshop atau berdiskusi di sela-sela kegiatan lain.


Tengoklah hal yang paling sederhana. Betapa banyak yang kesulitan membedakan antaracompetence (kompetensi) dan ability (kemampuan). Jika yang sangat sederhana ini saja tak mampu membedakan, maka bagaimana mungkin akan mampu melakukan asesmen lalu merumuskan langkah secara serius dan terencana untuk membangun kompetensi pada diri peserta didik. Lebih sulit lagi membedakan antara peserta didik dengan murid, yakni orang/anak yang telah tumbuh dalam dirinya kehendak yang sangat kuat (iradah) terhadap ilmu, kebaikan dan kebenaran. Belum lama berselang, kita mendengar unit kerohanian Islam (rohis) di sekolah disudutkan oleh sejumlah pihak dengan tuduhan tak sedap: rohis melahirkan teroris. Tetapi qadarullah, fitnah terhadap anak-anak yang bersemangat untuk beriman segera berbalik. Kita terbelalak oleh kasus pembunuhan yang amat mengerikan. Di Purbalingga, siswa SMP membunuh temannya. Di Jakarta, pelajar SMA menghabisi nyawa rekannya. Sesudah itu, orang-orang dengan panik berkata, tambah pelajaran agama. Padahal ini tak menyelesaikan masalah jika pendidikan agama hanyalah berisi pengetahuan tentang agama. Penambahan jam untuk pelajaran agama hanya akan bermanfaat hanya jika ia menitikberatkan pada proses pendidikan agar anak-anak itu BERagama dengan baik; mengimani dengan sebenar-benar iman, menumbuhkan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan rasul-Nya serta apa-apa yang dituntunkan, beribadah hanya untuk Allah Ta’ala sesuai perintah-Nya, dan sesudah itu berakhlak sesuai tuntunan. Tak bermanfaat penambahan jam pelajaran agama, kecuali jika kita secara serius menanamkan perasaan senantiasa diawasi (muraqabah) oleh Allah ‘Azza wa Jalla; harap dan takut yang amat kuat kepada-Nya serta dorongan untuk bersungguh-sungguh mengerjakan hal-hal bermanfaat yang Allah Ta’ala ridhai. Muraqabah ini merupakan penguat untuk menumbuhkan dorongan kepada anak agar senantiasa berlari mendekat kepada Allah subhanahu wa ta’ala (taqarrub). Ini akan lebih mengena lagi pada saat siswa memasuki masa menjelang dewasa (SLTP-SLTA). Di rentang usia ini, ada 3 hal yang paling menonjol: kecenderungan menyukai lawan jenis, dorongan untuk mandiri dan menunjukkan eksistensi diri, serta


bangkitnya idealisme yang salah satu wujudnya mereka banyak mempertanyakan hal-hal mendasar.

Remaja sama sekali tak perlu mengalami krisis identitas jika pendidikan di usia sebelumnya beres. Pertanyaannya, siapakah akan menjadi guru pendidikan agama bagi anakanak kita? Teringat saya ketika suatu hari mengisi workhop untuk para guru PAI di sebuah daerah di Riau. Kesediaan mereka belajar sangat rendah ketika itu. Adab bermajelisnya sangat buruk. Mereka sibuk merokok di saat presentasi berlangsung. Tak ada yang lebih menarik perhatian mereka melebihi uang saku dari panitia, kecuali setelah saya ajak mereka untuk menghitung usia dan membayangkan takdir atas anak-anak mereka. Dan ini bukan peristiwa satu-satunya. Pertanyaannya, jika pengajarnya separah itu, apa yang dapat kita harapkan untuk kebaikan anak-anak kita? Langkah kita menyekolahkan anak termasuk kebaikan ataukah justru kecerobohan?

***** Terdiam. Merenungi sejenak tentang pendidikan di negeri kita yang semata wayang, terasa betul betapa banyak hal penting dan mendasar yang hilang. Sulit membayangkan.... Amat sangat sulit membayangkan bahwa negeri ini memiliki visi yang sangat kuat dan jelas, jauh ke depan? Adakah pendidikan di negeri ini mempersiapkan kebijakan, kurikulum dan guru untuk melahirkan lulusan yang jelas gambarannya untuk mengelola negeri ini 50 tahun yang akan datang? Sudahkah guru-guru kita terobsesi dengan output profile yang kita rumuskan, lalu kita rindukan dengan sungguh-sungguh seraya berdo’a di penghujung malam? Ataukah kegembiraan para guru sendiri justru hanya sebatas pada peningkatan pendapatan dan tunjangan? Betapa sedih mendengar bagaimana kita selalu mempersalahkan pihak luar atas terjadinya penikaman oleh pelajar kita? Ada dua pertanyaan penting


di sini. Pertama, apa yang salah sehingga pihak luar yang tidak lain adalah warga bangsa Indonesia mengompori (jika benar demikian) pelajar itu untuk melakukan kejahatan? Sudah seburuk itukah negeri ini? Sedemikian sulitkah kita mempercayai sesama kita, sebagaimana sulitnya mempercayai jam terbang berbagai maskapai? Kedua, sedemikian rapuhkah pendidikan di negeri ini sehingga anak-anak itu mudah terpengaruh, mudah terprovokasi oleh “pihak luar”? Apakah anak-anak itu tak pernah memperoleh ta’dib (proses pendidikan untuk membentuk adab) tatkala mereka berada di jenjang TK, SD, SLTP dan SLTA? Apakah guru dan sekolah tidak membangun orientasi hidup dan orientasi belajar yang kuat dan jelas semenjak mereka berada di jenjang pendidikan dasar? Padahal, seharusnya sekolah telah dan terus membentuk-membangun orientasi belajar maupun orientasi hidup ini? Dan ini bukan menjadi materi pelajaran khusus. Anak usia 10 tahun bahkan sudah dapat kita ajak untuk memikirkan akan berbuat apa mereka kelak di usia 40 tahun. Jika mereka telah memiliki arah yang jelas, dan lebih mendasar lagi missi hidup yang jelas, rasanya sulit membayangkan anak-anak itu akan banyak membuang-buang waktu untuk hal yang tercela.

Astaghfirullah... Melihat kacaunya moralitas anak-anak, negeri ini segera mencanangkan pendidikan karakter. Tetapi, lagi-lagi ini sangat terasa sebagai kebijakan panik tanpa missi yang jelas, tanpa visi yang kuat. Maka, kita melihat rumusan dan implementasi pendidikan karakter yang amat sangat mengenaskan bahkan hingga level perguruan tinggi. Bayangkan, ada perguruan tinggi yang menerapkan, jika mahasiswa tingkat kehadirannya 100% dan ia berpakain “sopan”, nilai “karakternya” A. | Ya Allah...., miris rasanya. Ini bukan karakter. Sama sekali ini bukan karakter. Tapi bagaimana bisa demikian? Tidak jawaban lain kecuali bahwa kita telah demikian malas belajar. Nah, jika pendidiknya saja malas belajar, lalu bagaimana anak didiknya?


Kita perhatikan betapa banyak yang amat sangat rancu merumuskan pendidikan, bahkan di tingkat pengambil kebijakan. Nyaris tak percaya, tapi itu yang terjadi. Bagaimana mungkin gemar membaca dianggap karakter? Ini kebiasaan (habit). Bukan karakter. Jika ta’rif (rumusan) sudah salah, pasti implementasinya juga salah. Semakin ke bawah, semakin parah. Bayangkan, pengambil kebijakan saja amat sangat banyak yang tidak dapat membedakan antara temperamen, karakter, perilaku, kebiasaan, budaya dan ciri khas (karakteristik). Apakah pendidikan kita telah sedemikian mengerikan? Ketika orang sedang mengalami kebingungan, maka kita juga dapati para trainer memanfaatkan kebodohan ini dengan membawa kebodohan yang lebih besar. Mereka menawarkan tes sidik jari dan sejenisnya yang sungguh amat sangat tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ini pseudoscience! Sidik jari hanya dapat mengungkap siapa yang mencuri jambu di belakang rumah kita. Bukan mengapa ia mencuri jambu. Tes sidik jari hanyalah contoh dari sekian banyak produk training yang merusak. Nanti kita juga akan melihat training asal-asalan tentang karakter. Ada yang menyajikan 20 Karakter Dasar, tetapi yang dimaksud bukan karakter. | Diam-diam bertanya, apakah para trainer karakter itu tak membaca literatur tentang karakter?

***** Ketika pelajar sudah melakukan kejahatan berupa pembunuhan, maka buru-buru diwacanakan penambahan jam pelajaran. Seakan jika waktu anak banyak di sekolah, mereka tak lagi punya keinginan untuk melakukan keburukan. | Sekali lagi, sangat terasa, ini wacana yang muncul begitu saja tanpa kajian mendalam. Jika diterapkan, sungguh ini akan menjadi deretan panjang kebijakan panik. Sekolah sepenuh hari (full day) sebenarnya bukan hal baru. Berbagai sekolah Islam telah melakukannya. Tapi tanpa konsep yang jelas, guru-


guru yang berdedikasi tinggi serta memiliki komitmen kuat, sekolah sepenuh hari justru hanya akan menjadikan anak-anak itu mengalami kepenatan secara mental. Jika ini terjadi, akibatnya akan jauh lebih buruk dari yang sekarang ini terjadi.... Ditambah atau dikurangi jam pelajarannya, sama sekali tidak masalah jika........kebijakan ini memiliki landasan yang kuat, tujuan yang jelas dan tidak kalah pentingnya penerapan yang tepat. Tanpa itu, kita akan menambah dan menumpuk masalah lebih ruwet lagi. Sesudah itu, ada yang mewacanakan untuk meniadakan mata pelajaran IPA dan IPS. Diganti mata pelajaran sikap, kedisiplinan dan kejujuran. Pertanyaannya, apakah ini akan bermanfaat? Anak-anak kita memang mempelajari terlalu banyak mata pelajaran. Merujuk buku Those Who Can, Teach (Mereka Yang Bisa, Mengajarlah), sekolah dengan jumlah mata pelajaran yang sangat banyak merupakan ciri pokok sekolah birokratis, yakni sekolah yang tujuan utamanya melahirkan manusia patuh birokrasi, tak mampu berpikir kritis dan miskin kreativitas. Ini biasanya berkembang di negeri-negeri terbelakang maupun negara berkembang untuk melanggengkan kekuasaan. Saya berharap, banyak pelajaran di sekolah dasar di negeri kita bukan karena alasan ini. Saya berharap bertumpuknya mata pelajaran tak berguna itu semata karena awam soal pendidikan saja. Kembali ke soal penghapusan mata pelajaran IPA dan IPS, lalu menggantinya dengan pelajaran sikap, kedisiplinan dan kejujuran. Pertanyaannya, apa manfaatnya pelajaran itu jika disajikan sebagai materi pengetahuan kognitif? Bukankah seharusnya setiap guru seharusnya memiliki kemampuan untuk membangun 3 hal tersebut? Itu pun sebenarnya tidak cukup. Sebagian di antara Anda mungkin ada yang pernah mengikuti diskusi pendidikan bersama saya. Salah satu hal yang sering saya sampaikan adalah: mencontek bukan pelanggaran. Mencontek itu kejahatan.


***** Betapa ruwet pendidikan di negeri ini. Kita patut menangis dan bersedih karenanya. Sering ketika saya datang ke berbagai daerah, guru mengeluh menghadapi muridnya yang bertingkah. Tapi langkah yang dilakukannya adalah menyerahkan kepada guru BK (Bimbingan & Konseling) alias BP (Bimbingan dan Penyuluhan). Padahal, tak sedikit tingkah tak sedap dari siswa di kelas merupakan problem yang seharusnya diselesaikan langsung oleh guru. Masalahnya, mereka tak memiliki kemampuan untuk menjadi guru yang disegani. Mereka menyerahkan ke BK yang sebenarnya bertugas membimbing siswa menemui keunggulan diri atau memberi konseling untuk problem psikis yang bersifat personal. Banyak guru tak lagi memberi sanksi karena konon dilarang. Konon itu tak sesuai dengan pendidikan modern. Tapi ketika saya tunjukkan berbagai literatur tentang pengelolaan kelas terbitan terbaru, mereka terhenyak dan bingung. Banyak guru yang pusing karena mereka dilarang untuk melarang karena tidak sesuai dengan cara kerja otak. Padahal Al-Qur’an telah menunjukkan nasehat terbaik orangtua yang justru berisi larangan. Meniadakan sanksi, sebagaimana juga memberi sanksi, maupun hal-hal lain dalam pendidikan memerlukan ilmu. Bahkan, kita perlu ilmu untuk menyampaikan ilmu. Banyak hal yang ingin saya perbincangkan. Mohon maaf jika tulisan ini tak tersusun secara rapi. Nasehati saya. Ingatkan saya. Semoga tulisan sederhana ini ada manfaatnya.

Salam saya, Mohammad Fauzil Adhim


Mantan pembantu dan tukang nimbrung di sebuah SD di Yogyakarta, mantan pengurus komite di sebuah SD lainnya di Sleman, penulis Kolom Parenting Majalah Hidayatullah Hidup Bahagia Tanpa TV by Mohammad Fauzil Adhim on Thursday, September 27, 2012 at 4:37am · Setiap anak harus mengembangkan perasaan bahwa mereka dapat “mengubah dunia” dan memiliki kekuatan dari dalam (inner strength) dan percaya bahwa mereka adalah orang yang memiliki kompetensi dan kemampuan. Secara alamiah, dorongan ini muncul pada diri anak semenjak bayi. Mereka belajar menggunakan tangis, senyum, gerakan dan suara-suara untuk memanggil orangtuanya, meminta perhatian dan “memaksa” orangtua memenuhi keinginannya. Usia dua tahun, dorongan untuk mengembangkan kemampuan “mengubah dunia” itu semakin menguat. Para ahli menyebut rentang usia dua hingga empat tahun sebagai the terrible twos atau masa-masa dua tahun yang “mengerikan”. Ungkapan ini mungkin terasa berlebihan. Tetapi pada prinsipnya, para ahli menyampaikan pesan dengan ungkapan ini bahwa anak-anak usia dua hingga empat tahun sedang mengembangkan kemampuannya mengatur, memaksa, menolak perintah dan melakukan tawar-menawar terhadap aturan orang dewasa. Lebih-lebih jika diperintah secara tiba-tiba, mereka cenderung menunjukkan perlawanannya. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa mereka tidak bisa dipaksa. Kecenderungan ini sangat alamiah. Setiap anak harus memiliki dorongan ini sebagai bekal untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Orangtua maupun guru di sekolah berkewajiban menumbuhkan sense of competence ini pada diri anak, terutama usia 4-8 tahun. Jika anak memiliki perasaan ini secara memadai pada rentang usia 4-6 tahun, mereka akan lebih siap untuk memasuki fase pendisiplinan diri pada usia 7 tahun. Pada saat yang sama, orangtua maupun guru di sekolah tetap berkewajiban


membangun sense of competence hingga usia 8 tahun sehingga mereka memiliki citra diri, harga diri serta percaya diri yang baik. Mengapa fase pendisiplinan dimulai pada usia 7 tahun? Ini berkait dengan perintah RasulullahShallallahu ’alaihi wa sallam. Beliau bersabda, ”Apabila anak telah mencapai usia tujuh tahun, perintahkanlah dia untuk melaksanakan shalat. Dan pada saat usianya mencapai sepuluh tahun, pukullah dia apabila meninggalkannya.” (HR. Abu Dawud). Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, ”Ajarkanlah anakmu tata cara shalat ketika telah berusia tujuh tahun. Dan pukullah dia pada saat berusia sepuluh tahun (apabila meninggalkannya).” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas kepada kita bahwa mendisiplinkan anak shalat dimulai pada usia tujuh tahun. Bukan usia sebelumnya. Kita perlu memberi pendidikan iman, akhlak dan ibadah sedini mungkin. Tetapi ada prinsip lain yang harus kita perhatikan: berikanlah pendidikan tepat pada waktunya. Sesungguhnya, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW dan sebaik-baik perkataan adalah firman Allah ’Azza wa Jalla, yakni kitabullah al-Qur’anul Kariim. Jadi, kalau anak yang belum berusia tujuh tahun tidak mengerjakan shalat, kita harus memaklumi dan melapangkan hati. Tugas kita adalah menumbuhkan perasaan positif terhadap kebiasaan yang ingin kita tumbuhkan, membangkitkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi) serta menjamin bahwa mereka memiliki harga diri yang tinggi. Kita memperlakukan mereka secara terhormat, tetapi bukan memanjakan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”(Thaahaa [20]: 132).


Sabar. Ah‌, rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun. Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki lima tahun. Atau‌, kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah-payah berusaha? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit. Lantas, apa hubungan dengan televisi? Mohon sabar menunggu pembahasan berikutnya.

Wallahu ’alam bishawab.


Matinya Perjuangan by Mohammad Fauzil Adhim on Friday, September 14, 2012 at 6:22pm ¡ Sejarah peradaban besar pada dasarnya adalah perjalanan hidup seorang manusia besar. Ia menciptakan perubahan bukan karena banyaknya harta yang dimiliki, atau kuatnya kekuasaan yang ia genggam. Tetapi ia menciptakan perubahan yang menggerakkan orang-orang di sekelilingnya oleh kuatnya jiwa, tajamnya pikiran, kokohnya hati, dan tingginya daya tahan berjuang dikarenakan besarnya cita-cita. Kerapkali, cita-cita besar itu bukan digerakkan oleh gemerlapnya dunia yang sekejap, tetapi oleh keyakinan yang menjadi ideologi perjuangan. Orang-orang yang merintis jalan perjuangan, adalah mereka yang merelakan kenikmatan hidup demi meraih apa yang menjadi keyakinannya. Bukan karena mereka tidak pernah berhasrat pada kenikmatan, tetapi karena kenikmatan itu menjadi kecil dan tidak ada artinya dibanding citacita besar yang terpendam dalam jiwa. Demi memperjuangkan keyakinan, mereka bersedia memilih jalan hidup yang tidak populer; mengawali perjuangan dengan menghadapi senyum sinis dan bahkan bila perlu–seperti halnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam—dianggap gila dalam arti yang sebenarnya. Sedemikian kuatnya tudingan itu, sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Nuun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." (Al-Qalam: 1-6). Orang-orang yang merintis jalan adalah mereka yang memiliki kelapangan hati untuk belajar, meski kepada yang lebih muda dan masih amat hijau. Mereka inilah yang memenuhi dadanya dengan kelapangan dan sekaligus kepedihan tatkala melihat saudaranya berkubang dalam keburukan.


Ketegaran jiwanya bertemu dengan kelembutan yang penuh kesantunan. Kematangan ilmunya bertemu dengan kehausan untuk belajar dan kesediaan untuk mendengar. Mereka ingin sekali mencicipkan kebenaran, bahkan kepada orang yang telah terjerumus dalam kesesatan. Inilah yang menggerakkan para pendurhaka mendatangi majelismajelisnya, dan bahkan mendatangi lututnya untuk bersimpuh. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang keras hati menjadi luluh dan bahkan berbalik menjadi sahabat dalam berjuang dan penderitaan. Inilah yang membangkitkan semangat untuk berbenah sesudah mereka berputus asa atas banyaknya keburukan yang telah mereka perbuat. Ini pula yang menyebabkan satu negeri, satu kawasan, atau sekurangnya satu kampung mendapat kucuran barakah dari Allah; baik yang Ia turunkan dari langit maupun yang Ia munculkan dari bumi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Al-A’raaf: 96). Maka bertebaranlah kebaikan di dalamnya. Setiap yang masuk di tempat itu akan merasakan kebaikan yang merata. Hingga zaman bertukar, masa berganti. Para perintis telah beranjak tua dan sesudah itu pergi. Sementara yang dulu menyertai perjuangan di samping kiri, kanan, atau belakang, kini telah menjadi yang dituakan. Anak-anak yang dulu bermain-main lucu, sekarang sedang menentukan warna zamannya. Atau‌, mereka ditentukan oleh semangat zaman yang melingkupinya. Inilah titik krusial yang kerapkali menjadi awal terhentinya perjuangan. Banyak jebakan pada masa ini. Peralihan dari generasi perintis kepada generasi kedua, tepatnya generasi yang menyertai pahit getirnya perintisan ketika sudah mulai berjalan, jika tidak berhati-hati bisa terjatuh pada tafrith atauifrath (kebablasan). Bisa terjebak pada tasahhul (menggampangkan) yang berlebihan atau sebaliknya tasyaddud (mempersulit) yang melampaui batas. Bisa terperangkap pada


sikap jumud yang anti perubahan dan sulit menerima masukan, atau sebaliknya berlebihan dalam menanggapi perubahan dan bahkan tercebur dalam arus perubahan itu sendiri. Sikap jumud membuat kita sulit menerima nasihat yang disampaikan dengan penuh kasih sayang sekalipun (tawashau bil-marhamah). Dalam keadaan seperti ini, amar ma’ruf nahi munkar bisa terhenti karena yang tua tidak bisa mendengar suara yang muda. Jika yang muda memiliki sikap takzim kepada yang tua, kebaikan insya Allah masih bertebaran di dalamnya. Tetapi jika tidak segera disadari, situasi seperti ini dapat menyebabkan hilangnya sikap hormat dari yang muda kepada yang tua pada generasi berikutnya, yakni kelak ketika generasi ketiga memasuki masa dewasa, sementara generasi kedua menjalankan pola yang sama seperti yang pernah mereka jumpai. Mereka menjalankan pola yang sama, tetapi dengan penghayatan yang rendah atas apa yang seharusnya menjadi ruh perjuangan. Pada titik ini, generasi ketiga bisa berbalik menjadi berlebihan dalam menerima apapun yang datang dari luar, bahkan yang nyata-nyata bertentangan dengan nash Kitabullah. Alhasil, generasi ketiga justru menjadi perusak perjuangan generasi pertama. Na’udzubillahi min dzalik. Apa yang salah sebenarnya? Banyak sebab yang bisa kita runut dan catat. Salah satunya adalah karena kita terjebak pada bentuk, lupa kepada yang prinsip. Atau sebaliknya, menyibukkan diri dengan prinsip tetapi mengabaikan bentuk. Kita tidak belajar secara utuh atas generasi terdahulu, sehingga lupa menyiapkan anak-anak memasuki masa depan. Bisa terjadi, kita bahkan tidak dapat membaca masa depan. Kita sibuk menjadi manusia masa lalu dan memaksa anak-anak untuk menjadi manusia masa lalu. Padahal ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu mengingatkan agar kita mendidik anak-anak untuk sebuah zaman yang bukan zaman kita. Kata ‘Ali, "Jangan paksakan anakmu untuk menjadi seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu." Di antara bentuk-bentuk pemaksaan adalah hilangnya kesediaan kita memahami anak-anak. Setiap kali ada masalah, kita rujukkan pada masa


lalu, "Dulu bapak begini juga bisa." Atau, "Ah, dulu orangtua kita tidak pakai macam-macam juga bisa berhasil." Kita lupa bahwa sekalipun prinsip-prinsip yang berjalan pada suatu zaman selalu sama, tetapi bentuknya bisa berubah. Kalau tidak disiapkan untuk menghadapi bentuk tantangan yang sesuai dengan zamannya, mereka bisa gagap mengantisipasi perubahan. Akibat berikutnya bisa tragis; mereka menjadi manusia kolot yang tidak memahami prinsip dengan baik dan tidak mampu memetakan bentuk persoalan yang sedang terjadi. Atau sebaliknya mereka kehilangan rasa hormat kepada yang tua sehingga berkata, "Ah, apa itu orangtua窶ヲ! Gagasan mereka semuanya usang!" Mereka tidak bisa membedakan mana yang tetap dan mana yang berubah, mana yang pasti dan mana yang praduga. Mereka memutlakkan apa yang ijtihadiyah, sehingga memunculkan generasi yang menisbikan semua perkara, bahkan yang jelas-jelas tetap dan mutlak. Dalam bentuk yang lebih ringan, pintu ijtihad dibuka lebar-lebar, meskipun terhadap orang yang tidak memiliki kualifikasi. Atau sebaliknya, melahirkan generasi yang tertutup pikirannya, kaku sikapnya, dan beku gagasannya. Seakan-akan agama ini telah menutup pintu bagi ijtihad. Di antara sebab-sebab tidak munculnya generasi yang tanggap terhadap perubahan zaman tanpa hanyut di dalamnya, adalah tidak sejalannya dakwah dan jihad dengan pendidikan dan penyiapan generasi. Dakwah berjalan tanpa perencanaan yang matang sehingga kehilangan visi dan kepekaan. Pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan "ruh" yang kuat, sehingga mudah terpengaruh oleh tepuk-tangan, pemberitaan di koran atau pujian orang-orang yang tulus maupun mereka yang menikam secara halus dengan memuji. Kita mendidik anak-anak untuk kita lihat hasilnya hari ini. Bukan untuk mempersiapkan mereka menantang masa depan seperti wasiat 窶連li. Akibatnya, gemerlapnya prestasi hari ini tidak memberi bekal apa-apa bagi mereka untuk menciptakan masa depan. Sebaliknya, mereka menjadi


orang yang hanya menyongsong masa depan atau bahkan digilas oleh masa depan. Teringatlah saya kepada ayat Allah: ‫ةفئآط مهنم ةقرف لك نم رفن الولف ةفآك اورفنيل نونمؤملا ناك امو‬ ‫نورذحي مهلعل مهيلإ اوعجر اذإ مهموق اورذنيلو نيدلا يف اوهقفتيل‬ "Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri." (AtTaubah: 122). Agar perjuangan tidak mati, atau terhenti justru oleh anak-anak kita sendiri, ada yang perlu kita renungkan dari ayat tadi.

***Sebagaimana notes Pembunuhan Karakter yang Sangat Kejam, tulisan ini juga merupakan re-post dari status saya berbulan-bulan yang lalu. Saya posting ulang dalam bentuk notes dengan alasan yang sama, yakni agar lebih mudah ditelusuri dan dicheck ketika sewaktu-waktu memerlukan untuk ditelaah, direnungi atau sekedar dibaca kembali. Semoga bermanfaat. Mohon koreksinya jika menjumpai ada yang keliru dan bathil dalam tulisan ini.


Berharap Hanya Kepada-Nya Salah satu do'a yang paling saya sukai, terlebih di saat mengawali kehidupan rumah-tangga, adalah do'a yang diajarkan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam kepada 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Inilah do'a meminta kecukupan rezeki, kesanggupan membayar hutang secara halal dan terhormat sekaligus memohon karunia-Nya agar tidak bergantung kepada siapa pun selain hanya kepada-Nya; tidak berharap selain hanya kepada Allah 'Azza wa Jalla semata. Kita memohon rezeki kepada-Nya sekaligus memohon penjagaan rezeki. Jadi, bukan sekedar meminta dilapangkan rezeki, tetapi terlepas dari barakah dan penjagaan. Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam mengajarkan do'a ini kepada 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi: ‫كاوس نمع كلضفب يننغأو كمارح نع كلالحب ينفكا مهللا‬ "Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki-Mu yang halal, (dan) jauhkanlah aku dari yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan keutamaan rezeki-Mu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan dari selain Engkau." HR. At-Tirmidzi Saya menikah saat masih kuliah. Ketika itu tak ada pekerjaan yang jelas. Tetapi saya melangkah dengan keyakinan bahwa karunia Allah Ta'ala sangat luas. Saya meniatkan diri menikah dan berusaha dengan sungguhsungguh untuk menjaga diri dari yang haram dan syubhat. Ada saat-saat ketika sekedar memenuhi keperluan hidup sehari-hari yang paling sederhana pun terasa amat berat, tetapi itu sama sekali bukanlah derita tatkala mengingat bahwa atas setiap langkah meraih kemuliaan ada ujiannya. Di saat perut melilit, tetapi kehormatan diri dan dien ini harus ditegakkan, ada muru'ah yang harus dijaga, betapa amat terasa do'a ini tak sekedar meminta kecukupan rezeki, kecuali jika kita membacanya tanpa menghayati karena yang menjadi impian kita hanya berlimpahnya harta. Saya sering sampaikan ini kepada para sahabat yang ragu untuk menikah


disebabkan rezeki yang menurutnya masih belum seberapa. Saya sampaikan ini juga karena merasa bahwa di antara sebagian orang yang merasa sempit rezekinya bukanlah karena benar-benar tak ada yang ia miliki untuk menghidupi dirinya sendiri, melainkan karena kurangnya keyakinan dan rendahnya sifat qana'ah dalam dirinya. Jika engkau telah lalui jalan sulit, maka seteguk air putih akan terasa begitu nikmat. Terlebih ketika Allah Ta'ala mampukan engkau meraih lebih dari itu. Maka, izinkan saya menuturkan do'a itu di sini. Semoga kita berharap hanya kepada-Nya. Semoga kita panjatkan do'a ini ke hadapan-Nya bukan karena hati kita telah disesaki oleh cinta dunia, tetapi yang lebih penting adalah keinginan besar untuk mencukupkan diri dengan yang halal, menjauhkan diri dari pengharapan selain kepada-Nya dan meyakini betapa pertolongan Allah Ta'ala itu sangat dekat. Berharap hanya kepada-Nya. Dan kepala ini akan tetap tegak di hadapan manusia. Lidah ini tak keluh berbicara hanya karena silau terhadap kedudukan dunianya. Tidaklah ada yang patut membuat diri kita merasa rendah di hadapan manusia kecuali karena melihat 'ilmunya, imannya dan penjagaan dirinya terhadap perintah agama. Semoga tidaklah kita mati kecuali dalam keadaan benar-benar muslim. Semoga Allah Ta'ala baguskan keturunan kita.


Ajari Mereka Belanjakan Harta by Mohammad Fauzil Adhim on Friday, September 14, 2012 at 9:36am · Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Kitalah yang bertanggung-jawab mengantarkan anak-anak agar kelak menjadi manusia yang benar-benar mampu menunaikan taklif (bebanan syari’at). Salah satu perkara yang harus kita persiapkan pada diri mereka adalah kemampuan membelanjakan harta (tasharruf) secara bertanggungjawab. Tidak terjatuh pada tabdzir, tidak pula tergelincir kepada sikap ketat berlebihan. Sesungguhnya, salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap mukallaf adalah membelanjakan harta sesuai peruntukannya. Dan ini semua memerlukan perangkat ilmu syari’at dan pembekalan berupa penempaan diri oleh orangtua dan guru. Kemampuan mengendalikan diri, menumbuhkan himmah (passion, hasrat besar) kepada akhirat dan bukannya pada dunia, serta keterampilan mengatur keuangan secara bertanggung-jawab merupakan sebagian tugas penting pendidik untuk mewujudkannya pada diri murid. Anak-anak harus mengilmui tentang perkara ini. Tetapi sekedar mendapatkan pengetahuan secara teratur, runtut dan lengkap tentang hal ini tidak menjadikan mereka mampu mengamalkannya. Harus ada pendampingan sebagai bentuk latihan dan pengawasan. Para pendidik melatih mereka bukan hanya dengan membatasi jumlah uang yang boleh mereka bawa dan miliki. Lebih dari itu, juga melatih anak agar memiliki cara pandang yang sesuai dengan tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Membatasi jumlah uang yang boleh mereka miliki memang bermanfaat untuk melatih mereka menahan diri dari hal-hal yang menggiurkan. Ini merupakan bekal penting agar anak mampu menunda keinginan. Tetapi tanpa menata hasrat mereka terhadap dunia, tanpa membangun orientasi hidup yang baik, pembatasan jumlah uang hanyalah semacam karantina yang sewaktu-waktu dilepas akan membuat mereka seperti singa lapar bertemu makanan.


Sungguh, kita mendidik mereka bukan untuk melihat hasilnya hari ini. Kita mendidik mereka untuk menyiapkan mereka menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Kita tempa anak-anak agar orientasi akhirat tumbuh dengan kuat di dada mereka. Mari kita ingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam: َ ‫ﻲ‬ َ َ‫ﻦ ﻛَﺎن‬ ‫ﻪ اﻟ ﱡ‬ َ ‫ﺟ‬ َ ‫ﻤ‬ ‫ﻏ َﻨﺎ ُﻩ‬ ‫ﻊ‬ ِ ‫ﻞ‬ ِ ‫ﱡﻪ اﻵ‬ ِ ‫ﻗ ْﻠ ِﺒ‬ َ ‫ﻌ‬ َ ‫و‬ َ ،‫ﻪ‬ َ ‫ﷲ‬ َ ‫ﺟ‬ َ ‫ﺧ َﺮ َﺓ؛‬ َ ‫ﺪ ْﻧﻴَﺎ‬ َ ،‫ﻪ‬ ُ َ ‫ﻤﻠ‬ ْ ‫ﺷ‬ ُ ‫ﻫﻤ‬ ْ ‫ﻣ‬ ُ ‫وأَﺗَ ْﺘ‬ ْ ِ‫ﻓ‬ ُ َ ‫ﻞ‬ َ ‫ﺪ ْﻧﻴَﺎ؛‬ ‫ﻪ اﻟ ﱡ‬ َ‫ﻓ ﱠﺮﻕ‬ َ ‫ﺟ‬ ‫ﻦ‬ َ ‫ﻪ‬ ِ ‫ﷲ ﻋَ ﻠَ ْﻴ‬ ِ ‫ﻲ َﺭا‬ ِ ‫و‬ َ ‫ﻓ ْﻘ َﺮ ُﻩ ﺑَ ْﻴ‬ َ ‫ﻌ‬ َ ‫و‬ َ ،‫ﻪ‬ َ ‫و‬ َ ،ٌ‫ﻤﺔ‬ َ ‫ﻏ‬ َ ُ ‫ﺿ ْﻌﻴَ َﺘ‬ ُ ‫َﺖ ﻧِﻴﱠ ُﺘ‬ ْ ‫ﻦ ﻛَﺎﻧ‬ ْ ‫ﻣ‬ َ ‫ﻫ‬ ُ ْ ‫ﻦ اﻟ ﱡ‬ ‫ﻪ‬ ِ ‫ﻪ‬ ِ ِ‫ﻢ ﻳَﺄﺗ‬ ِ ‫ﻋَ ْﻴ َﻨ ْﻴ‬ ُ ‫ﻣﺎ‬ َ ِ‫ﻛﺘ‬ َ ‫ﺪ ْﻧﻴَﺎ ﺇِﻻ ﱠ‬ َ ‫ﻣ‬ َ ،‫ﻪ‬ ُ َ‫ﺐ ﻟ‬ ْ َ ‫وﻟ‬ “Barangsiapa yang himmah (passion, hasrat kuat)nya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan menceraiberaikan urusan dunianya, dan menjadikan kefakiran di antara kedua pelupuk matanya, dan dunia tidak akan menghampirinya kecuali sebesar apa yang telah ditakdirkan baginya.” (HR Ibnu Majah, Ahmad, Al-Baihaqi, Ibn Hibban, Ad-Damiri; shahih). Pertanyaannya, kampung akhiratkah yang menjadi impian anak-anak kita di sekolah Islam? Ataukah kita lalai menumbuhkan kecintaan kepada akhirat karena hanya sibuk mengejar prestasi? Padahal, andaikata anakanak itu kuat keyakinannya kepada Allah Ta’ala dan memiliki penjagaan diri serta pengendalian diri yang baik, maka mereka akan bersungguh-sungguh terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya. Jadi, ada tiga hal penting yang mempengaruhi kemampuan anak mentasharrufkan harta sesuai tuntunan, yakni ‘ilmu, keterampilan yang didapatkan dari latihan, serta adanya orientasi yang benar terhadap harta. Selain melatih mereka untuk menahan diri –di banyak sekolah berasrama menerapkan pembatasan kepemilikan uang per hari atau per pekan— penting juga untuk sering-sering mengajak mereka berdialog sehingga mereka mampu merasakan dan menghayati prioritas belanja. Pendamping asrama perlu meluangkan waktu untuk mengajak anak berbicara tentang


barang-barang atau makanan yang mereka beli. Dengan demikian, mereka bukan hanya memiliki ilmu tentang bagaimana mentasharrufkan harta dengan benar, melainkan juga memiliki pengalaman menakar nilai penting apa yang telah mereka belanjakan dan yang akan mereka belanjakan. Dialog ini bermanfaat untuk menjadikan mereka berpikir dan merasakan apa yang mereka pikirkan. Ilmu tentang hak dan kewajiban terhadap harta akan menjadikan mereka mengerti. Tetapi sikap yang baik dan kepekaan dalam menggunakan harta secara tepat hanya akan tumbuh melalui latihan, pendampingan dan pengalaman. Sebagaimana kemampuan memimpin dan menyelesaikan masalah. Kita dapat membaca teorinya melalui berbagai buku. Tetapi untuk menghasilkan kepekaan dan kecakapan memimpin maupun menyelesaikan masalah, perlu pengalaman dan benturan-benturan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada berbagai kemudahan, kecuali jika kita tidak bersabar menghadapi, tidak pula mengilmui. Jika anak tidak disibukkan oleh urusan konsumtif, maka hatinya akan lebih tenang dalam belajar. Jika anak tidak sibuk bersaing penampilan maupun benda yang ia miliki di hadapan teman-temannya, maka perhatiannya terhadap ilmu akan tercurah lebih besar. Orientasi studi akan terjaga dan mereka tidak banyak menghabis-habiskan waktu, tenaga dan uang untuk hal yang tidak penting. Kita perlu bimbing anak-anak agar memiliki konsumerisme (kemampuan membelanjakan harta menurut pertimbangan yang sehat dan tepat). Bukan konsumtivisme, yakni kecenderungan untuk menuruti apa saja yang menjadi keinginannya. Terkait tanggung-jawab terhadap harta, para pendidik harus secara berkesinambungan mengingatkan, mengajarkan dan mengajak murid untuk menghayati sabda Nabi saw tentang empat perkara yang kelak akan ditanyakan di Yaumil-Qiyamah. Rasulullah saw. bersabda: َ ‫ﻤﺎ‬ َ ‫ل‬ َ ‫ﻓ‬ ‫و‬ ِ ‫ﻤ‬ ِ ‫ﻋ ْﻠ‬ ِ ‫ﻦ‬ ُ ‫ﻦ‬ ٍ ‫ﻣﺎ ﻋَ ْﺒ‬ َ ‫ﻞ‬ َ ‫ﻌ‬ َ ‫ﻪ ﻓِ ْﻴ‬ َ ‫ﻤﺎ أَ ْﻓ َﻨﺎ ُﻩ‬ َ ‫ﻤ ِﺮ ِﻩ ﻓِ ْﻴ‬ َ ‫ﺪ‬ َ ‫ﻗ َﺪ‬ ْ َ‫و ﻋ‬ ْ ‫ﻋ‬ ْ َ‫ل ﻋ‬ ْ ‫ﺣﺘّﻰ ُﻳ‬ ُ َ‫ﺴﺄ‬ ُ ‫ﻻ ﺗَ ُﺰ ْو‬ َ ‫ﻤﺎ أَ ْﻧ‬ ِ ‫ﻣﺎﻟ‬ ِ ‫ﻤ‬ ِ ‫ﺴ‬ ِ ‫ﻦ‬ ِ ‫ﻪ‬ ِ َ ‫ﻦ‬ َ ‫ﻪ ﻓِ ْﻴ‬ َ ‫َﻪ‬ َ ‫و ﻓِ ْﻴ‬ َ ‫ﻪ‬ َ ‫ﻦ ا ْﻛ َﺘ‬ َ ‫ﻦ أَ ْﻳ‬ ْ َ‫ﻤﺎ أَ ْﺑ َﻼ ُﻩﻋ‬ ْ ‫ﺟ‬ ْ َ‫و ﻋ‬ ُ ‫ﻔﻘ‬ ُ َ‫ﺴﺒ‬ ْ ‫ﻣ‬


”Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratal mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya darimana ia peroleh dan kemana ia habiskan, dan badannya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi dan Ad-Darimi). Khusus terkait dengan pembicaraan kita tentang sikap terhadap harta, ada satu hal yang harus senantiasa kita ingatkan agar mereka memiliki kehatihatian yang tinggi. Kita perlu terus-menerus menumbuhkan rasa takut pada diri mereka tentang Hari Akhir ketika mereka harus mampu mempertanggung-jawabkan darimana ia memperoleh harta dan kemana ia membelanjakan hartanya. Dua-duanya harus benar. Membelanjakan harta untuk perkara yang benar, tetapi mendapatkannya dari sumber yang haram, maka tak ada yang layak baginya kecuali api neraka. Begitu pun sebaliknya, meski halal sumbernya dan bersih caranya, tetapi ia tetap berkewajiban untuk membelanjakan harta di jalan yang benar, untuk tujuan yang benar. Dan ini, harus kita mulai dari sekolah, meski tentu saja orangtua tetap bertanggung-jawab penuh. Allah Ta’ala berfirman: ‫ميعنلا نع ذئموي نلأستل مث‬

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takaatsur, 102: 8).

Sepele tampaknya, tapi sering terjadi dan dianggap biasa sehingga lamalama tak merasa berdosa, salah satunya adalah ghashab (menggunakan harta orang lain tanpa hak). Jika itu banyak terjadi, maka cukuplah sebagai petunjuk bahwa murid masih belum memiliki rasa takut terhadap yang haram. Ini merupakan peringatan agar kita berusaha lebih serius menanamkan kehati-hatian pada anak terhadap perkara yang haram maupun syubhat.


Hari ini, kewajiban menanamkan kehati-hatian dalam masalah halal-haram terasa semakin mendesak. Rasanya, apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tentang keadaan manusia di akhir zaman telah nampak nyata di sekeliling kita. Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam mengingatkan kita: ‫ﻦ‬ ِ ‫م‬ ِ َ‫ أ‬،‫ل‬ ٍ ‫ﺣﻼ‬ َ ‫ﻦ‬ َ ‫ﻤﺎ‬ َ ‫ﺧ َﺬ ا ْﻟ‬ َ َ‫ﻤﺎ أ‬ َ ِ‫ﻤ ْﺮ ُء ﺑ‬ َ ‫ﻣﺎنٌ ﻻ َ ُﻳﺒَﺎﻟِﻲ ا ْﻟ‬ َ ‫ﻦ ﻋَ ﻠَﻰ اﻟ ﱠﻨﺎسِ َﺯ‬ ْ ‫ﻣ‬ ْ َ‫َل أ‬ ْ ‫ﻣ‬ ‫ﻟَﻴَ ْﺄﺗِﻴَ ﱠ‬ ‫م‬ َ ٍ ‫ﺣ َﺮا‬ ”Nanti akan datang suatu masa, di masa itu manusia tidak peduli dari mana harta itu ia peroleh, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram.” (HR Al-Bukhari). Sekarang ini, manusia memuji-muji kekayaan dan seakan-akan ia menjadi ukuran kesuksesan. Telah banyak manusia dan bahkan lembaga Islam yang tak lagi peduli. Maka kalau anak-anak itu tidak kita bekali, bagaimana mereka akan mampu menghadapi fitnah di zamannya. Padahal, bukankah fitnah bagi ummat ini adalah harta? Mari kita ingat sejenak sabda Nabi saw.: ً ‫ﺔ ﻓِ ْﺘ َﻨ‬ ‫ل‬ ُ ِ‫ﺇِنﱠ ﻟ‬ ٍ ‫ﻣ‬ َ ‫ﻣﺘِﻲ ا ْﻟ‬ َ ‫ﺔ‬ ‫وﻓِ ْﺘ َﻨﺔُ ُأ ﱠ‬ ‫ﻞ ُأ ﱠ‬ ِّ ‫ﻜ‬ ُ ‫ﻤﺎ‬ ”Bagi tiap-tiap umat itu fitnah dan sesungguhnya fitnah umatku adalah harta.” (HR At-Tirmidzi dan Hakim). Maka, mengajari mereka membelanjakan harta dengan benar sesuai haknya menurut syari’at, selain sebagai bagian penting dari proses pembentukan adab, juga merupakan bekal berharga dalam mengantarkan mereka menjadi manusia dewasa masa depan. Kemampuan mentasharrufkan harta sangat penting bagi proses ta’dib bersebab lurusnya mereka dalam urusan harta, berpengaruh pada sikap mereka terhadap ilmu dan dien.

Wallahu a’lam bish-shawab.


""Tulisan ini adalah bagian keenam seri tulisan tentang ta'dib yang dimuat di majalah Hidayatullah, dimuat di edisi bulan September 2012. InsyaAllah bulan depan saya akan membahas kelanjutan dari tulisan ini, masih tentang ta'dib. Tulisan lain terkait dengan ta'dib dapat dilihat di notes fb page ini maupun di situs Hidayatullah secara langsung.


Sudahkah Dosamu Diampuni? Termasuk yang manakah kita? Apakah kita termasuk orang-orang yang beruntung sehingga keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan diampuni dosa-dosa kita? Ataukah kita termasuk yang merugi dan bahkan mendapat do'a keburukan dari Jibril? Masih adakah bekas-bekas Ramadhan itu pada dirimu? Dan aku pun bertanya pada diriku sendiri. Ingatlah sejenak hadis ini: "Sungguh merugi s eseorang yang mendapati bulan Ramadhan, lalu ia keluar darinya sebelum ia diampuni (dosa-dosanya)." (HR. At-Tirmidzi). Sesudah itu, tundukkan kepala sejenak, tundukkan hatimu dan renungi hadis ini berikut. Semoga Allah Ta'ala berikan hidayah seraya bertanya pada diri sendiri, sudah adakah kepantasan pada diri kita untuk memperoleh ampunan-Nya yang sempurna? Sementara ibadah kita masih ala kadarnya. Sungguh, 'Idul Fithri bukan penanda terhapusnya semua dosa. Bagaimana kita akan terbebas dari dosa jika puasa kita hanya menahan diri dari lapar dan dahaga? Maka, sekali lagi, bertanyalah pada diri sendiri. Sesudah itu, sungkurkan kening dan memohon ampun kepada Allah 'Azza wa Jalla. Mari kita renungi sejenak hadis berikut ini: Dari Ka'ab bin Ujrah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah saw. bersabda: "Mendekatlah kalian ke mimbar!" Lalu kami pun mendekati mimbar itu. Ketika Rasulullah menaiki tangga mimbar yang pertama, beliau berkata, "Amin." Ketika beliau menaiki tangga yang kedua, beliau pun berkata, "Amin." Ketika beliau menaiki tangga yang ketiga, beliau pun berkata, "Amin."


Setelah Rasulullah saw. turun dari mimbar, kami pun berkata, "Ya Rasulullah, sungguh kami telah mendengar dari engkau pada hari ini, sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya." Rasulullah saw. bersabda, "Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril muncul di hadapanku dan berkata, "Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan." Maka aku berkata, "Amin" Ketika aku menaiki tangga yang kedua, Jibril berkata, "Celakalah orang yang apabila namamu disebutkan, dia tidak bersalawat ke atasmu." Aku pun berkata, "Amin." Ketika aku melangkah ke tangga ketiga, Jibril berkata, "Celakalah orang yang mendapati ibu bapaknya yang telah tua, atau salah satu dari keduanya, tetapi keduanya tidak menyebabkan orang itu masuk surga." Aku pun berkata, "Amin." (HR. Al-Hakim) **Kira-kira, termasuk yang manakah kita? Adakah kita patut berhenti memuji-Nya? Semoga tidaklah kita mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.


Masihkah Engkau Usap Anakmu? by Mohammad Fauzil Adhim on Tuesday, August 14, 2012 at 12:36am · Kalau hari ini anak-anak itu menangis, apakah yang akan mereka harapkan tatkala berlarian mendekat kepadamu? Adakah engkau tawarkan kepada mereka setangkup roti ataukah engkau bentangkan tanganmu untuk mendekapnya dengan penuh ketulusan dan kehangatan? Adakah kelapangan dadamu yang lebih mereka rasakan atau risaumu yang menepiskan mereka, meski untuk itu engkau tawarkan sekeping uang buat membeli makanan ringan? Berbincang tentang ibu, apakah yang mengantarkan orang-orang besar itu meraih kemuliaan dan kehebatannya? Apakah karena cerdasnya seorang ibu dalam mengasuh ataukah tulusnya cinta mereka sehingga bersedia berpayah-payah dan berletih-lelah mendampingi buah hatinya mempelajari kehidupan? Apakah yang dapat kita petik dari orang-orang yang namanya telah ditulis indah dalam sejarah? Karena ibu-ibu yang jeniuskah? Ataukah karena ibu yang mengikhlaskan rasa sakitnya untuk mendidik dan mengasuh anaknya? Pertanyaan yang sama juga patut kita ajukan ketika kita mendapati kisah orang-orang jenius. Darimanakah mereka berasal? Apakah dari rahim para ibu yang jenius dan mengerti betul tentang kecerdasan maupun bakat anaknya? Atau, pertanyaan itu perlu kita balik sejenak, perlukah seorang ibu mengetahui bakat dan kecerdasan anaknya agar mampu mengantarkan sang buah hati menjadi manusia jenius? Ini memang pernyataan konyol, tetapi saya serius mengajak Anda untuk menjawab secara jujur seraya merenung; sebelum ada tes bakat, sudah pernah adakah orang-orang yang dikenal luas karena kemampuannya yang cemerlang? Sebelum ada tes IQ, adakah jenius-jenius besar yang mewarnai sejarah? Kita tak dapat mengelak bahwa amat banyak, bahkan amat sangat banyak sosok cemerlang yang pemikiran, temuan dan usaha gigihnya berpengaruh besar terhadap sejarah peradaban manusia hingga hari ini. Sebaliknya, kita masih menunggu –jika benar sesuai klaim mereka—manusia-manusia jenius yang terlahir dari musik Mozart atau


pendekatan instant lainnya? Sejak tahun 1996, telah ratusan ribu kopi keping CD, kaset maupun file digital musik Mozart beredar demi memenuhi mitos bahwa musik Mozart menjadikan anak kita jenius. Tetapi sampai hari ini, tak satu pun jenius yang terlahir darinya. Hasil paling nyata dari mitos tentang musik Mozart yang didengung-dengungkan tanpa pijakan riset ilmiah memadai adalah industri musik dengan keuntungan besar tanpa perlu banyak biaya promosi. Teringatlah saya dengan pernyataan Alex Ross sebagaimana dapat kita baca pada buku Talent is Overrated karya Geoff Colvin. Ross menyatakan, “Orangtua yang ambisius dan sekarang ini sedang mempertontonkan video “Baby Mozart” kepada bayinya bisa kecewa tatkala mempelajari bahwa Mozart menjadi Mozart karena kerja keras yang luar biasa.” Sebenarnya kita tak perlu menunggu Alex Ross memperingatkan para orangtua. Cukuplah bagi kita peringatan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam untuk menampik mitos tentang musik Mozart. Cepat atau lambat, segala yang bertentangan dengan syari’at akan tampak kelemahan dan kekeliruannya. Mari sejenak kita mengingat sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, “Kelak akan ada sekelompok kaum dari umatku yang akan

menghalalkan zina, kain sutra (bagi lelaki), khamar, dan alat-alat musik.” (HR. Al-Bukhari).

Bagaimana mungkin kita akan mencetak generasi muslim yang tangguh dan jenius, sementara jalan yang kita tempuh justru bertentangan dengan agama ini? Di luar itu, buku Colvin sendiri –sebagaimana tercermin dalam judulnya– menunjukkan kepada kita betapa kita sering berlebihan menilai (overrated) bakat. Kita bersibuk mengejar, mengetahui dan meyakinkan diri tentang bakat anak kita. Sesudahnya kita bersibuk memenjarakan anak dengan hanya memberi rangsangan pada apa-apa yang kita yakini sebagai bakatnya. Padahal boleh jadi, apa yang sekarang tampaknya merupakan bakat anak kita, hanya merupakan bekal awal


untuk menuju keunggulan berikutnya yang saat ini justru menjadi titik lemahnya. Banyak dari kita yang meyakini anak memiliki kecerdasan majemuk, tetapi memperlakukannya seakan berbakat tunggal (single talent treatment), yakni hanya menempa apa yang kita anggap sebagai bakatnya berdasarkan hal tes bakat yang reliabilitas dan validitasnya amat sangat perlu dipertanyakan. Ironis. Tetapi, marilah kita kembali pada pertanyaan, perlukah kita mengetahui IQ anak? Pentingkah orangtua memahami bakat anak? Rasanya sedih ketika saya harus menyampaikan bahwa pengetahuan tentang bakat anak hampir tidak ada manfaatnya. Menelusuri hasil-hasil riset yang diungkap oleh Andrew Robinson dalam bukunya bertajuk “Sudden Genius?”, kita terhenyak bahwa pemahaman tentang bakat tak banyak berperan mengantarkan anak menjadi manusia-manusia brilian. Sebaliknya, kita mendapati betapa banyak orang-orang sukses yang justru lahir dari ibu-ibu lugu. Carl Frederich Gauss yang berjuluk “The Princes of Mathematics” lahir dari orangtua tak berpendidikan. Ibunya bahkan buta huruf. Begitu pula sejumlah jenius lain. Apakah Imam Syafi’i rahimahullah menjadi sosok yang sangat fenomenal dengan kepakaran yang nyaris tak tertandingi hingga hari ini, lahir dari ibu yang mendalami bakat anak? Tidak. Tes bakat bahkan belum ada saat itu. Apakah Imam Ahmad rahimahullah yang hafal dan faham puluhan ribu hadis lahir dari ibu yang telah belajar tentang teknik mengingat instant? Tidak. Tetapi mereka memiliki ketulusan, penerimaan tanpa syarat, citacita besar dan kesediaan untuk berpayah-payah mendampingi anaknya. Mereka tak letih memberi usapan sayang dan sentuhan penuh perhatian kepada buah hatinya. Mereka tak putus-putus mendo’akan anaknya. Yang mereka bangun bukan percaya diri anak, tetapi keyakinan yang kuat kepada Allah ‘Azza wa Jalla semenjak hari-hari awal kehidupan anak. Pertanyaan, masihkah engkau mengusap anakmu ketika mereka sedang gelisah? Masih adakah ketulusan itu di hatimu? Adakah kerelaan untuk berpayah-payah mengasuh dan mendampingi mereka? Ataukah kita cukup


mempercayakan pendidikan mereka kepada sekolah saja? Padahal kelak kitalah yang akan ditanya atas iman anak-anak kita. Ataukah untuk menyiapkan anak-anak agar menjadi pribadi yang cerdas dan cemerlang, kita cukup mengandalkan lembaga bimbingan belajar atau bisnis kecerdasan ajaib yang tak pernah melahirkan manusia jenius? Apakah yang harus engkau miliki agar anak-anak bertumbuh dengan baik? Apakah yang harus kita berikan kepada anak-anak kita agar berkembang pribadinya, rasa ingin tahunya dan kemampuannya? Bukan alat permainan edukatif yang perlu kita berikan kepada mereka. Bukan pula setumpuk kartu huruf agar mereka segera bisa membaca di usia dini. Tetapi kesediaan untuk menerima mereka secara tulus, mencintai mereka dan mendidik mereka dengan penuh kesungguhan. Menerima secara tulus bukan berarti berdiam diri atas segala hal yang perlu diluruskan, tetapi tetap bersungguh-sungguh mendampingi mereka belajar menjadi manusia yang mampu memenuhi tugas hidupnya. Menerima secara tulus berarti ridha atas apa yang dikaruniakan kepada kita melalui anak-anak kita. Maka kita bersungguh-sungguh mengasuh mereka, menyayangi mereka, memberi dukungan tatkala mereka menghadapi kesulitan dan bukannya mengambil alih kesulitan tersebut. Semoga dengan demikian anak-anak itu kelak memiliki kesanggupan menghadapi tugas-tugas berat demi memperjuangkan agamanya. Semoga kelak mata kita disejukkan oleh hadirnya anak-anak yang merelakan keringatnya, hartanya dan letih-lelahnya untuk menolong agama Allah 窶連zza wa Jalla. Mereka berpenat-penat karena amat sangat mengingini akhirat. Bukan karena terpukau gemerlap dunia. Masalahnya, dimanakah kita harus menyekolahkan anak-anak kita agar mereka memperoleh pendidikan yang menghidupkan jiwa mereka, menegakkan iman mereka dan membangkitkan tekad yang kuat untuk senantiasa memperjuangkan agamanya?


Matikan TV Anda dan Berbahagialah by Mohammad Fauzil Adhim on Thursday, September 27, 2012 at 7:41am · (Hidup Bahagia tanpa TV bagian 2).

Sabar. Ah…, rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak‐anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak‐anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun. Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak‐anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki lima tahun. Atau…, kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah‐payah berusaha? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit. Apa yang membuat para orangtua semakin menipis kesabarannya? Selain karena lemahnya tujuan dan tidak adanya visi ke depan dalam mendidik anak, banyaknya waktu menonton TV juga sangat berpengaruh. Selama menonton TV, otak kita cenderung pasif. Ron Kauffman, pendiri situs TurnOffYourTV.com, menunjukkan bahwa selama menonton TV pikiran dan badan kita bersifat pasif (berada pada kondisi alfa). Tidak siap untuk berpikir. Jika keadaan ini terus berlanjut, orangtua akan cenderung bersikap dan bertindak secara reaktif. Bukan responsif. Mereka mudah marah ketika mendapati anak melakukan apa yang dirasa mengganggu. Mereka juga mudah bertindak kasar jika anak tidak segera melakukan apa yang diinginkan orangtua. Apalagi jika sebelumnya mereka sudah memiliki kecenderungantemperamental, semakin cepatlah mereka naik darah. Di luar itu, secara alamiah kita –anak‐anak maupun dewasa—cenderung tidak siap melakukan pekerjaan lain secara tiba‐tiba jika sedang asyik melakukan yang lain. Kalau Anda sedang asyik nonton pertandingan sepak bola, telepon dari bos Anda pun bisa terasa sangat mengganggu. Apalagi kalau gangguan itu berupa permintaan istri untuk membersihkan kamar mandi, keasyikan menonton atraksi kiper menepis bola bisa membuat


emosi Anda mendidih. Apatah lagi jika gangguan itu datang dari rengekan anak Anda yang minta diantar pipis…! Jika menonton TV sudah menjadi bagian hidup orangtua yang menyita waktu berjam‐jam setiap harinya, pola perilaku yang reaktif, impulsif dan emosional itu lama‐lama menjadi karakter pengasuhan. Semakin tinggi tingkat keasyikan orangtua menonton TV, semakin tajam ”kepekaan” mereka terhadap perilaku anak yang ”mengganggu” dan ”membangkang”. Akibatnya, semakin banyak keluh‐kesah, kejengkelan dan kemarahan yang meluap kepada anak‐anak tak berdosa itu. Lebih menyedihkan lagi kalau lingkaran negatif menumbuhkan keyakinan bahwa anak‐anak (sekarang) memang susah diatur.

Matikan TV Anda dan Berbahagialah Satu lagi masalah yang sering dihadapi orangtua: merasa tidak ada waktu untuk mendampingi anak. Kesibukan selalu merupakan alasan klasik yang membenarkan hampir semua kesalahan kita. Kita tidak punya waktu untuk anak. Tetapi kita memiliki kesempatan untuk menonton TV begitu tiba di rumah, karena orang sibuk memerlukan hiburan. Sebuah alasan yang sangat masuk akal ketika istri tak lagi cukup untuk menghibur hati. Nah. Apakah tidak ada jalan untuk membalik keadaan? Matikan TV dan hidupkan hati Anda. Kalau Anda merasa benar‐benar memerlukan TV, susun jadwalnya. Pastikan Anda menonton, misalnya maksimal satu jam sehari semalam atau setengah dari itu, dan tentukan Anda hanya melihat tayangan yang benar‐benar bergizi. Bukan cerita-cerita kosong yang tidak berarti. Begitu Anda mematikan TV dan mengalihkan hiburan dalam bentuk bercanda dengan anak‐istri, insyaAllah Anda akan mendapatkan beberapa keuntungan ganda sekaligus. Anda mendapatkan waktu dan kesempatan untuk bercanda maupun bercakap-cakap –bukan sekedar berbicara dengan


orang‐orang yang Anda cintai; Anda juga menabung kesabaran; sekaligus Anda membangun kedekatan hati dengan keluarga. Ada perbedaan antara berbicara dengan bercakap‐cakap (ngobrol). Berbicara bersifat satu arah, sedangkan ngobrol bersifat mengalir dimana kita saling mengajukan pertanyaan, tapi bukan berupa tanya‐jawab. Ngobrol membuat hati semakin dekat satu sama lain. Ngobrol juga menjadikan perasaan kita lebih hidup. Tentu saja, apa yang kita obrolkan juga berpengaruh. Ya, bercakap‐cakap dengan obrolan yang baik. Inilah kenikmatan surga yang bisa kita hadirkan di rumah kita tanpa harus mati terlebih dahulu. Pada saat ngobrol, kita bisa memberi dukungan sekaligus dorongan positif bagi anak‐anak kita. Ini merupakan salah satu yang sangat mereka perlukan untuk mengembangkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Dukungan dan doronganpositif yang kita berikan di saat yang tepat, sangat berperan untuk membangun diri dan percaya diri mereka. Tetapi ini sulit sekali kita berikan kepada mereka jika kesabaran tidak ada, waktu tidak punya dan keakraban tidak terjalin. Kita berbicara kepada mereka, tetapi tidak berkomunikasi. Kita mendengar suara mereka, tetapi tidak mendengarkan perkataan dan isi hatinya. Sebabnya, otak kita sudah penat karena beban kerja dan tayangan TV yang menyita energi otak kita. Nah. Omong‐omong, kapan terakhir kali Anda ngobrol dengan anak Anda? Sudah lama..?


Mengungkapkan Kemarahan, Menjaga Kemesraan by Mohammad Fauzil Adhim on Tuesday, October 9, 2012 at 9:11am · Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Suatu saat seorang suami datang kepada saya. Belum saya persilakan masuk, laki‐laki muda ini segera duduk dan berbicara panjang lebar, bahkan sebelum memperkenalkan diri dan bertanya apakah saya punya waktu saat itu. Ia terus saja berbicara. Ketika hand‐phone saya berdering dan kemudian saya berbicara dengan penelpon, lelaki ini tetap saja bercerita dengan meluap‐luap. Tak terkendali ia bicara. Saya ke dapur mengambilkan minum untuknya, ia tetap berbicara sendirian. Akhirnya, saya berkesimpulan tamu saya kali ini pastilah mempunyai beban emosi yang sangat berat. Begitu beratnya sehingga ia sudah kehilangan kendali. Ia tak lagi membutuhkan pendengar yang mau mengerti perkataannya. Ia hanya butuh kesempatan untuk menumpahkan isi hati dan kekesalannya dengan tuntas. Pertemuan pertama hampir tak ada yang bisa digali, kecuali bahwa ia mempunyai konflik berat dengan istrinya. Meski waktu masih memungkinkan untuk berbincang panjang dengannya, tetapi saya melihat bukan saat yang tepat. Baru saja ia menumpahkan secara meluap‐luap beban emosinya. Ibarat komputer, sistemnya perlu direstart dulu agar bisa melihat masalah sendiri dengan baik. Kali ini, yang paling penting ia bisa menata kembali pikirannya, menyusun kembali kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan juga kerapuhan jiwanya dengan baik. Bahasa komputernya, kesempatan pertama lebih banyak saya manfaatkan untuk memberi kesempatan kepadanya melakukan defragmentasi pikiran‐pikiran dan emosinya sehingga ia bisa menempatkannya secara lebih teratur. Pertemuan berikutnya, saudara kita ini sudah bisa menceritakan secara lebih jelas masalah apa yang ia hadapi. Meski masih melompat‐lompat dan banyak yang berulang‐ulang, saya mulai bisa menangkap akar masalahnya. Pada pertemuan berikutnya lagi, mulailah kelihatan penyebab konflik rumah‐tangganya yang berlarut‐larut. Di antara penyebab utama pertikaian


yang menimbulkan kekerasan fisik satu sama lain–istrinya sering bertindak sangat kasar sampai melukai suaminya—adalah kegagalan komunikasi (communication breakdown). Kedua‐duanya keras, mudah tersinggung sekaligus mudah terbakar emosinya menjadi perilaku yang membahayakan. Sebenarnya, tidak masalah suami‐istri sama‐sama memiliki sifat mudah tersinggung, keras dan mudah marah, sejauh keduanya saling menyadari tentang sifat buruk mereka.Berawal dari saling menyadarii ni, mereka belajar untuk saling mengenali penanda‐penanda emosi dari kedua belah pihak. Istri saya misalnya, tahu saya sedang marah, bad mood (suasana hati sedang negatif) atau pikiran sedang tegang dari rambut saya. Diam‐ diam ia rupanya menandai bahwa setiap kali satu dari tiga situasi buruk itu muncul, rambut di ubun‐ubun saya berdiri. Alhasil begitu melihat penanda emosi itu muncul, istri saya segera mengambil langkah yang perlu. Misalnya bertanya apa yang sedang saya alami atau sejenak mengajak anak-anak agar tidak gaduh. Dari sejarah kita belajar, kisah romantis antara Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dengan istri beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tak lepas dari kepekaan Rasulullahsaw. Mengenal penanda suka dan marahnya hati ‘Aisyah. Diriwayatkan dari‘ Aisyah, ia berkata, “Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Sungguh aku dapat mengetahui kapan engkau sedang suka padaku dan bila engkau lagi marah.” ‘Aisyah bertanya, “Darimana engkau tahu?” Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bila engkau sedang suka padaku, engkau berkata,“Demi Tuhannya Muhammad.” Dan apabila engkau sedang marah padaku, engkau berkata,“Sungguh, demi Tuhannya Ibrahim.”’ ‘Aisyah berkata, “Demi Allah, memang benar ya Rasulallah, yang tidak kusebut hanyalah namamu.”(HR. Bukhari & Muslim).


Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Kepekaan untuk mengenali penanda emosi istri. Berpijak dari mengenali penanda ini, kita bisa menentukan sikap dengan lebih tepat dan menahan diri dari perilaku yang bisa memperkeruh. Jadi, bukan justru menyulut emosi. Inilah yang sering saya sebut sebagai kedewasaan emosi; kemampuan untuk mengenali, memahami dan menerima dengan baik. Selanjutnya, mereka bisa belajar untuk saling mengkomunikasikan emosi negatifnya dengan cara positif. Tidak saling marah, tidak saling memojokkan dan tidak saling menyakiti. Emosi negatif bisa berupa rasa kesal, marah maupun rasa tidak suka. Semuanya ini bisa mengganggu hubungan suami dan istri. Jika dibiarkan, komunikasi antar kita akan sangat rentan salah paham dan pertikaian. Tetapi emosi negatif itu bisa diungkapkan dengan cara yang nyaman. Kita mengungkapkan perasaan yang sedang kita alami. Bukan meluapkannya. Kita bisa mengatakan,“Maaf, saya lagi marah. Emosi saya lagi negatif.” Atau kita bisa berterus‐terang, “Mas, saya lagi tersinggung. Maafkan saya, ya… suasana hati saya sedang buruk.” Jika situasinya memungkinkan, suami‐istrinya bisa mengungkapkan emosi negatifnya dengan setuntas‐tuntasnya. Ia bicara secara terbuka sekaligus dengan hati‐hati apa saja yang membuat kita marah atau sakit hati. Tetapi kita harus menahan diri untuk tidak menyalahkan. Kita harus ingat bahwa semarah apapun kita, komunikasi suami‐istri bertujuan untuk mencapai titik temu terbaik; titik temu yang saling memberi kelegaan, perasaan dihargai dan didengar. Sampai di sini, kita masih perlu menahan diri untuk tidak terburu‐buru mencari jalan keluar atas masalah yang sedang menyelimuti. Ada kecenderungan, dalam situasi seperti ini kita masih belum bisa berpikir secara jernih. Sebaliknya, kita cenderung masih ingin saling memenangkan pendapat dan bahkan saling memojokkan. Kalau kita sendiri masih belum bisa berpikir jernih, sebaik apapun jalan keluar yang diajukan oleh suami


atau istri kita, tetap saja sulit kita terima apa adanya. Itu sebabnya, kita perlu menahan diri sejenak. Yang paling penting untuk kita raih bersama adalah masing‐masing pihak merasakan adanya iktikad baik, sehingga hati akan mudah menemukan kedamaian. Kalau sekiranya pasangan kita masih meluap‐luap emosinya dan bahkan cenderung memuncak, maka belajar dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam kita perlu menahan diri sejenak. Biarlah emosinya reda. Jangan menyalahkan. Jangan pula menuntut. Bahkan andaikan kesalahan itu jelas ada padanya, tahan diri sejenak. Bukankah ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sedang cemburu dan bahkan sebegitu cemburunya sampai memecahkan mangkok, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallamtidak sibuk menasehatinya? Barulah setelah tenang, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallammengingatkan untuk mengganti mangkok orang yang sudah dipecahkan. Di saat emosinya masih meluap‐luap, boleh jadi obat yang paling tepat untuk menahan emosi agar tidak semakin menghebat adalah kesediaan untuk mendengar. Kita ikhlaskan diri untuk mendengar luapan emosinya tanpa berkomentar. Kita terima apa adanya tanpa menyalahkan. Kalaupun ada yang salah, kita bisa meluruskannya. Bukan menyalahkan. Itu pun harus menunggu hingga secara emosi, keadaannya menjadi lebih baik. Kalau emosi sudah reda, masing‐masing sudah saling tahu apa yang tidak mengenakkan hati, kita bisa merencakan waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakan. Barangkali memilih waktu yang tepat sama pentingnya dengan menemukan jalan keluar yang baik. Membicarakan masalah di saat suami baru saja terjaga dari tidur misalnya, merupakan waktu yang rawan terhadap kesalahpahaman dan mudah menimbulkan letupan emosi. Bicarakanlah masalah yang ada denga nsantai. Diskusikanlah apa yang sebaiknya kita lakukan dengan tenang dan dari hati ke hati. Bukan apa yang kemarin seharusnya tidak dilakukan. Sebab ini hanya akan menambah api kemarahan.


Wallahua’lambishawab.


Cerdas & Terampil Belum Mencukupi Apakah anak-anak sudah cukup berharga jika mereka mencapai kemampuan kognitif yang tinggi? Cerdas saja tidak cukup. Alangkah banyak anak-anak yang cerdas tetapi miskin keterampilan. Lalu, apakah cerdas dan terampil telah cukup untuk membekali mereka meraih sukses? Bahkan kejeniusan dan bahkan bakat besar pun tak menolong mereka. Mari kita ingat sejenak salah sat u jenius besar yang pernah lahir di muka bumi. Namanya William James Sidis. Bapaknya –Profesor Boris Sidis—adalah pengagum berat William James, tokoh psikologi behaviorisme yang yakin betul bahwa pembiasaan merupakan kunci terpenting pendidikan. Sejak usia 6 bulan, ayahnya telah mengajarkan kepadanya huruf-huruf sesuai urutan abjad. Sesudah itu, ayahnya mengajarkan ilmu bumi, ilmu ukur, ilmu tubuh manusia, dan bahasa Yunani berdasarkan buku ajar yang dipakai di sekolah. Hasilnya, usia 5 tahun William James Sidis telah mampu menyusun karya ilmiah tentang anatomi. Kejeniusannya berkembang sehingga pada usia 11 tahun ia telah menjadi mahasiswa di Harvard University dan usia 14 tahun telah mampu memberi kuliah. Tetapi kecerdasan tanpa kemampuan mengelola diri, tak cukup untuk membuatnya bahagia. Ia kemudian melarikan diri dari lingkungan yang mengelu-elukannya. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran karena kecerdasan tak bisa membuatnya bahagia. Sesungguhnya ada tiga potensi manusia yang berbeda-beda tingkat kemudahannya membentuk. Yang paling sulit adalah karakter, sesudah itu motivasi dan yang paling mudah adalah kemampuan kognitif serta keterampilan. Jika seseorang memiliki karakter yang kuat, mudah baginya untuk memperoleh kemampuan kognitif maupun keterampilan yang tinggi. Dan inilah yang harus kita perhatikan saat mereka belia. Inilah yang menjadi perhatian di berbagai belahan bumi yang menghargai betul arti sumber daya insani. Tak ada artinya kecerdasan yang tinggi –bahkan kejeniusan—tanpa integritas. Sedikit sekali manfaat orang yang memiliki keterampilan tinggi, tapi miskin motivasi. Integritas adalah kesanggupan untuk setia pada nilai


yang diyakini meski harus menghadapi benturan-benturan panjang dalam hidup ini. Dan ini harus kita semai benihnya, kita pupuk tanaman yang bernama integritas itu semenjak mereka masih berlari-lari lucu di halaman rumah kita. Nah. Bagaimana dengan Anda? Padahal perbincangan kita baru soal dunia. Apalagi untuk mengantarkan anak-anak kita meraih kebahagiaan akhirat, sungguh cerdas dan terampil saja sama sekali tidak cukup. Jauh dari cukup. Mereka perlu kesungguhan meraih ridha Allah Ta’ala yang sebersihbersih ketaatan, semurni-murni niat dalam ‘ibadah serta kesungguhan beramal dengan sebaik-baik amal. Nah. Apakah yang sudah kita persiapkan? Betapa jauh perjalanan, dan betapa sedikit bekal yang kita punya....


Pembunuhan Karakter yang Sangat Kejam by Mohammad Fauzil Adhim on Thursday, September 13, 2012 at 8:07am · Mohon Maaf, tulisan berikut ini adalah re-post dari tulisan yang sudah pernah saya posting di status fb ini, hanya saja bentuknya bukan notes. Saya sengaja memposting ulang disebabkan ada sebagian yang merasa posting dalam bentuk notes lebih mudah ditelusuri dan dicheck ketika sewaktu-waktu memerlukan untuk ditelaah, direnungi atau sekedar dibaca kembali. Demikian. Semoga re-post ini bermanfaat dan Allah Ta'ala ridhai.

****** RABU, 11 Oktober tahun 2006, seorang juri yang disebut ustadz berkata kepada salah satu kontestan Pildacil yang baru saja usai memberikan “taushiyah”. Juri ini berkata, “Kamu terbaik saat ini. Ini yang diinginkan juri. Beberapa tahun ke depan, rumah dan mobil kamu akan mewah. Kamu juga akan bisa membangun masjid.” Fantastis. Sebuah “nasihat” yang membuat miris, sehingga tak cukup hanya dijawab dengan tangis. Sebuah “nasihat” yang seharusnya membuat orangtua ngeri membayangkan masa depan anak-anaknya, kecuali jika pertanyaan yang menguasai benak kita tentang anak-anak adalah apa yang akan mereka makan sesudah kita tiada. Bukan apa yang mereka sembah, sehingga apa pun yang mereka kerjakan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Bukankah Allah Ta’ala sudah berfirman? “Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertamatama menyerahkan diri (kepada Allah)".” (Al-An’aam: 162-163).


Inilah orientasi hidup yang perlu kita hunjamkan ke dada anak-anak kita. Kita hunjamkan keinginan untuk menolong agama Allah ke dalam hati mereka sekuat-kuatnya. Semoga dengan itu, ia menjadi orang yang ikhlas dalam memberikan hartanya, hidupnya, dan dirinya bagi agama ini. Sesungguhnya, amal itu bergantung pada niat. Jika anak-anak itu kelak menyembah Allah karena mengharap dunia, maka mereka tidak akan memperoleh akhirat. Sedangkan dunia belum tentu mereka dapatkan. Na’udzubillahi min dzaalik. Adapun jika mereka membaktikan shalat, ibadah, hidup dan matinya untuk Allah semata-mata, maka sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Insya Allah mereka akan mampu menggenggam dunia dengan tangan kanannya, sedangkan di akhirat menanti surga yang penuh barakah. Allahumma amin. Kuatnya orientasi hidup inilah yang harus menjadi perhatian kita; para orangtua dan pendidik di sekolah. Bahkan seandainya yang kita inginkan dari mereka adalah kesuksesan karier di dunia ini, kita harus menanamkan pada anak-anak kita orientasi hidup yang kuat dan bersifat spiritual. Dalam tulisannya yang bertajuk Educational Psychology Interactive (2000), W. Huitt menunjukkan bahwa seorang brilliant star (bintang brilian) –istilah Huitt tentang mereka yang memiliki prestasi luar biasa melebihi orangorang sukses pada umumnya—biasanya memiliki ciri spiritual yang sangat khas, yakni disciple & devout. Disciple berarti ia sangat percaya pada gagasan atau ajaran seorang pemimpin besar atau guru spiritual. Sedangkan devout menunjukkan ketaatan yang sangat kuat. Masih menurut riset W. Huitt. Seorang brilliant star juga memiliki ciri sosial yang transenden. Apapun yang ia lakukan di masyarakat adalah dalam rangka mewujudkan perintah Tuhan di muka bumi dan menjadi pelayan yang rendah hati bagi ummat manusia. Ia berbuat banyak, bahkan melampaui yang bisa dilakukan orang lain, tetapi selalu merasa belum berbuat apa-apa yang pantas bagi orang lain. Ia banyak memberi manfaat, tetapi selalu merasa apa yang dilakukan belum cukup untuk mensyukuri nikmat Allah ‘Azza wa Jalla.


Apa yang bisa kita petik dari catatan Huitt tentang brilliant star? Kunci paling pokok untuk mengantarkan anak meraih sukses adalah membentuk jiwanya, membangun motivasinya, membakar semangatnya, dan mengarahkan orientasi hidupnya semenjak dini. Kita bakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik demi sebuah idealisme yang buahnya ada di surga. Kita tumbuhkan pada dirinya orientasi hidup yang bersifat spiritual sejak usia kanak-kanak. Kita bangkitkan cita-cita untuk menjadi orang yang paling banyak memberi manfaat bagi agama ini dengan harta dan jiwanya. Ini semua merupakan akar motivasi. Di sekolah, hal-hal yang bersifat motivasional tersebut secara keseluruhan termasuk bagian dari dasar-dasar berpengetahuan (the basic of knowing); bagian penting pendidikan yang harus kita bangun pada para peserta didik di jenjang sekolah dasar, terutama kelas satu sampai tiga. Mudah-mudahan dengan itu anak kita memiliki motivasi intrinsik yang kuat. Bukan motivasi ekstrinsik, yakni tergeraknya seseorang melakukan sesuatu karena dorongan dari luar. Bukan karena merasa apa yang dilakukannya itu baik dan memang seharusnya dilakukan. Jika motivasi intrinsik memiliki akar yang kuat sehingga sulit diruntuhkan, maka motivasi ekstrinsik justru mudah patah tanpa perlu kita patahkan. Semakin intrinsik motivasi seseorang, semakin kuat daya tahannya melakukan sesuatu dengan penuh semangat. Pada masa kanak-kanak, motivasi masih dalam proses perkembangan. Fase pembentukan yang paling penting berada pada rentang usia 0-8 tahun. Selanjutnya, usia 9-12 tahun merupakan fase penguatan. Secara umum, anak-anak mencapai kemapanan motivasi pada usia dua belas tahun. Artinya, pada usia ini motivasi anak cenderung stabil, meskipun masih ada kemungkinan berubah. Jika pada usia-usia sebelumnya orangtua dan guru secara terus-menerus membangun motivasi intrinsiknya, insya-Allah pada usia ini kuatnya motivasi sudah menjadi karakter anak.


Nah, apakah yang ditawarkan di acara yang bernama Pildacil? Anak-anak dilatih menirukan ceramah –bukan mengekspresikan gagasan secara alamiah—untuk meraih mimpi-mimpi tentang uang yang berlimpah, umroh gratis dan bahkan sekaligus ambisi punya rumah mewah seperti komentar juri yang saya kutip di awal tulisan ini. Lalu, akan kita bawa ke mana anak-anak kita jika di usianya yang masih sangat belia, sudah sibuk mendakwahkan agama untuk meraih dunia? Padahal, hari ini mereka seharusnya membangun motivasi yang kuat, budaya belajar yang kokoh, integritas yang tinggi, dan visi besar yang bernilai spiritual. Wallahu a’lam bishawab. Di luar itu semua, ada beberapa hal yang memprihatinkan bagi perkembangan mereka di masa mendatang, terutama jika mengingat bahwa tidak mungkin mereka bisa tampil di Pildacil kecuali karena ada potensi besar pada diri mereka. Pertama, jika melihat cara mereka berbicara dan sorot matanya saat tampil, tampak betul bahwa mereka bukan sedang mengekspresikan gagasan. Tetapi mereka sedang belajar mengambil jalan pintas. Mereka menjadi kaset yang diputar ulang. Materi ceramah dan gaya berbicara, tidak sedikit yang menunjukkan bahwa bukan diri mereka yang tampil. Barangkali tidak disadari, cara seperti ini merupakan pembunuhan karakter positif anak. Kedua, di saat anak-anak harus belajar beramal dengan ikhlas dan gigih berusaha, mereka melihat kenyataan bahwa yang membuat mereka hebat bukan usaha keras mereka untuk berbicara dengan sebaik-baiknya, tetapi seberapa banyak SMS yang masuk untuk dia. Di banyak tempat, pembunuhan karakter berikutnya terjadi: dari orangtua, pejabat pemerintah hingga pemuka agama yang tidak visioner berlomba mengeluarkan dana sekaligus menyeru untuk berkirim SMS sebanyakbanyaknya. Sekali lagi, anak belajar praktek manipulasi. Padahal orang dewasa pun seharusnya tetap belajar untuk secara jujur mengakui keutamaan orang lain dan berusaha mengambil pelajaran dari orang lain yang lebih baik.


Dampak lebih jauh dari praktek manipulasi suara –sebagian orangtua bahkan sampai menjual harta berharga untuk mendongkrak perolehan SMS—masih sangat panjang. Tetapi belum cukup kuat hati saya untuk membahasnya saat ini. Semoga Allah berikan kepada saya kekuatan untuk menulis yang lebih tuntas di waktu mendatang. Ketiga, anak-anak yang seharusnya belajar membangun visi hidup dan orientasi spiritual, justru kehilangan elan vital (daya hidup) untuk terus mencari ilmu dengan sebaik-baiknya karena fokusnya justru bagaimana menarik perhatian publik. Bukan menyampaikan apa yang baik. Bukankah apa yang harus disampaikan sudah dilatihkan? Tiga hal ini hanyalah sebagian alasan mengapa kita harus menahan diri agar tidak menjerumuskan anak-anak kita ikut Pildacil. Terlalu kecil harga yang mereka terima untuk sebuah kehilangan yang sangat besar. Anak-anak itu sangat luar biasa potensinya. Alangkah besar manfaat yang bisa dipetik oleh agama dan ummat manusia jika kita memilih membangun kekuatan jiwa, aqidah, iman, akal budi dan kegigihannya saat ini sehingga kelak mereka bisa memberi kebaikan yang sebesar-besarnya. Betapa pun, harus kita akui dengan jujur, Pildacil sama sekali bukan untuk melakukan pembibitan generasi Islam. Pildacil adalah bisnis dan hiburan, karena hanya inilah kamus yang dikenal oleh TV!


Catatan Sederhana tentang Imam Syafi'i Membaca manaqib (biografi) Imam Syafi'i yang ditulis oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, semakin terasa betapa jauhnya sosok itu. Bertanyatanya, masih adakah orang yang benar-benar bercermin kepadanya? Kelurusan 'aqidahnya, kehati-hatiannya dan kecintaannya kepada syari'at. Semakin mempelajari manaqib (biografi) Imam Syafi'i, terasa semakin asing sikap, pend apat, teladan dan kezuhudannya di negeri ini. Andaikata pendapatpendapatnya diungkapkan, adakah muslimin di negeri ini mnghormatinya? Padahal negeri ini mayoritas mengaku Syafi'iyah. Teringat saat pulang kampung dan bertanyalah saya kepada seorang sahabat yang menyatakan dirinya 100% Syafi'iyah tulen, "Kapan terakhir nama Imam Syaf'i disebut saat berpendapat?" Sahabat ini kaget. "Apakah Ente akrab dengan pendapat dan manhajnya?" Termangu lagi. ___ Bagaimana mungkin seseorang menganggap dirinya Syafi'iyah sedangkan terhadap yang berjilbab besar, ia merasa risih dan mencurigainya? Bagaimana mungkin seorang yang merasa dirinya Syafi'iyah dapat membiarkan istrinya tidak menutup aurat dengan sempurna? Sangat bertentangan. Bagaimana mungkin seseorang merasa dirinya mengikuti pendapat Imam Syafi'i sementara kuburan ditembok tinggi dan menjadi bangunan? Kubur Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy'ari adalah contoh yang sesuai dengan sikap Imam Syafi'i. Tidak ditembok, tidak dibangun. Nyaris rata dengan tanah. (Saya tidak tahu sekarang, masih seperti itu ataukah tidak). Bagaimana mungkin seseorang merasa dirinya Syafi'iyah jika ia meninggalkan jama'ah ketika imam Subuh tidak qunut? Padahal, tatkala Imam Syafi'i mengimami shalat di masjid yang tak jauh dari makam Imam Abu Hanifah, beliau meninggalkan qunut untuk hormati Imam Abu Hanifah. Uff! Maafkan saya, pembicaraan melebar dari manaqib (biografi) kepada pendapat Imam Syafi'i. Semoga kita dapat bercermin darinya.


Sikap Imam Syafi'i sangat menarik, mengingat Imam Abu Hanifah wafat bertepatan dengan saat kelahiran Imam Syafi'i. Jadi, keduanya tak pernah bertemu. Perbincangan ini bukanlah soal pemihakan terhadap madzhab, tetapi terutama terkait dengan konsistensi bersikap dan berkeyakinan. Bahwa tidak pantas seseorang mengaku pengikut Imam Syafi'i, sementara sikap dan perilakunya justru sangat bertentangan dan bahkan bersikap sinis terhadap mereka yang melaksanakan qaul (pendapat) Imam Syafi'i sebagai usaha untuk berislam dengan lebih baik. Sama anehnya dengan seorang muslim yang dengan mantap berkata bahwa ia berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, tapi ia tak mengenal keduanya. Bagaimana kita akan hidup dengan Al-Qur'an jika bacaannya saja tidak kita kenali? Bagaimana kita akan berpegangan pada Al-Qur'an jika hati ini jauh darinya? Omong-omong, sudah baca Al-Qur'an hari ini? Allah Ta'ala berfirman, "‫مكببحي ينوعبتاف هللا نوبحت متنك نإ لق‬ ‫" "ميحر روفغ هللاو مكبونذ مكل رفغيو هللا‬Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad SAW.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." QS. 3 : 31. Jalan cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla adalah tunduk mengikuti tuntunan Rasulullah Muhammad SAW. Maka, sudahkah kita mengenalnya? Bagaimana mungkin kita akan mengikuti Nabi SAW. jika tak mengenal sunnahnya, tak mengenal tutur katanya. Maka, marilah sejenak kita bertanya, sudahkah kita membaca hadis Nabi SAW. hari ini? Dan apakah kita merenunginya? Imam Syafi'i mengingatkan, “Setiap masalah yang di sana ada khabar shahih (hadis) dari Rasulullah (SAW), menurut para ahli (hadis), dan ia bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” Ketika seseorang datang menemui Imam Syafi'i dan menanyakan tentang hadis Nabi SAW. serta pendapatnya tentang hadis tersebut, Imam Syafi'i berkata: “Langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan


kupijak kalau sampai kuriwayatkn hadis Rasulullah SAW kemudian aku berpendapat lain‌!? ***Catatan: sebagaimana status saya bertajuk Zurtum, Fitnah maupun Atas Setiap Kata, tulisan sederhana ini awalnya juga merupakan tweet saya yang dirapikan dan disusun ulang oleh saudara kita seiman R.H. Sani. Saya mengcopynya dari link yang sama dengan status saya bertajuk Zurtum, dll. Semoga bermanfaat.


Zurtum Apakah kubur merupakan tempat peristirahatan terakhir? Tidak. Sekali-kali tidak. Bahkan bagi seorang mukmin pun, sama sekali tidak. Jika engkau mengimani agama ini spenuh keyakinan, maka tidak patut menyebut, menganggap & meyakini kubur sebagai peristirahatan terakhir. Sungguh, perkataan bahwa kubur merupakan tempat peristirahatan terakhir hanya pantas diucapkn oleh orang yang tidak meyakini Hari Kemudian. Tidakkah kita ingat firman Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an surat At-Takaatsur? Allah Ta'ala katakan "Hatta zurtumul-maqabir". Kata zurtum bermakna mengunjungi, mendatangi, tapi bukan menetap dan tinggal di dalamnya. Maka, masuk kubur bermakna transit. Ada tujuan berikutnya dan kubur merupakan ruang tunggu sebelum kita berangkat ke Padang Mahsyar untuk pengadilan massal. Jika engkau merasakan kemacetan 13 atau 24 jam sebagai derita yang menyiksa, maka bayangkan sejenak betapa panjang antrian di Mahsyar. Tak ada tempat untuk istirahat kecuali bagi yang mendapat rahmat. Tak ada tempat untuk membeli minuman. Satu hari di akhirat, betapa lama. Inilah hari ketika matahari didekatkan sehingga panasnya melelehkan keringat hingga membanjir. Maka alangkah beratnya hari itu. Mari kita renungi sejenak QS. At-Takaatsur yg di dalamnya Allah Ta'ala sebut kata zurtum. Semoga dapat menjadi pengingat bagi kita. " ‫ُﻢ‬ ُ ‫أَ ْﻟ َﻬﺎﻛ‬ َ ‫ اﻟ ﱠﺘ‬. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu." QS. 102: 1. ‫ﻜﺎﺛ ُُﺮ‬ Bermegah-megahan. Ia bukan bermakna membangun rumah yang megah. Tapi ia terkait dengan mereka yang berbangga-bangga menumpuk harta. Mereka bersibuk dengan kendaraan apa yang engkau punya. Dan sesudahnya, kendaraan apa lagi. Sesudahnya, apalagi yang di atasnya. Mereka menakar kemuliaan diri dan manusia lain dari seberapa banyak aset yang ia punya. | Adakah itu kita? Mereka menenggelamkan diri dalam kesibukan yang melenakan dan


mereka berbangga-bangga dengannya. | Adakah itu kita? Apa yg melenakan kita, lalu kita bermegah-megahan dengannya, bisa saja terkait hobby. | O ya, berapa banyak perkutut yang engkau punya? Kita perlu berhati-hati, meski benda yang suka kita tumpuk-tumpuk adalah radio kuno, sebab kita dapat terkena ayat berikutnya. "‫ﻤﻘَﺎﺑِ َﺮ‬ َ ‫ﻢ ا ْﻟ‬ َ . ُ ‫ﺣ ﱠﺘﻰ ُﺯ ْر ُﺗ‬ Sampai kamu zurtum (berkunjung, masuk, datang) ke dalam kubur." QS. 102: 2. Passion yang kita turuti, hobby yang kita tekuni dapat menjadikan kita lupa usia sehingga tak ada yang menghentikannya kecuali zurtum ke kubur. َ ‫ﺳ ْﻮ‬ Allah Ta'ala peringatkan, " َ‫ﻤﻮن‬ َ ‫ َﻛﻼ‬Jangan begitu! Kelak kamu akan ُ َ‫ف ﺗ َ ْﻌﻠ‬ mengetahui (akibat perbuatanmu itu)," QS. 102: 3. Tidak cukupkah peringatan ini? Tidak cukup pulakah peringatan Nabi SAW. tentang keadaan akhir zaman ketika orang beramal akhirat untuk cari dunia? َ ‫ﺳ ْﻮ‬ Maka Allah peringatkan, " َ‫ﻤﻮن‬ َ ‫ﻢ َﻛﻼ‬ ‫ ُﺛ ﱠ‬Kemudian, jangan begitu! ُ َ‫ف ﺗ َ ْﻌﻠ‬ Kelak kamu akan mengetahui." QS. 102: 4. Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan, "Ini adalah ancaman setelah ancaman!" Sebuah peringatan yang amat ditekankan. Inilah peringatan bagi orang-orang beriman agar tak menjadikan dunia sebagai hasrat terbesarnya sehingga amal akhirat pun untuk dunia. Inilah peringatan bagi orang-orang beriman agar kecintaannya terhadap sesuatu tidak menjadikannya lalai. "‫ﻴﻦ‬ ِ َ‫ﻤﻮن‬ َ ‫ﻋ ْﻠ‬ ُ َ‫ َﻛﻼ ﻟَ ْﻮ ﺗ َ ْﻌﻠ‬Jangan begitu! Kalau saja kamu mengetahui ِ ‫ﻢ ا ْﻟﻴَ ِﻘ‬ dengan pengetahuan yang yakin." QS. 102: 5. Maka betapa pentingnya mengilmui apa yang kita imani. Sudahkah itu ada pada kita? "‫ﻴﻦ‬ ِ ‫ﺠ‬ َ ‫ﻢ ﻟَ َﺘ َﺮ ُوﻧﱠ َﻬﺎ َﻋ ْﻴ‬ َ ‫ﺤﻴ‬ َ ‫ ﻟَ َﺘ َﺮ ُونﱠ ا ْﻟ‬Niscaya kamu benar-benar akan melihat ‫ﻢ ﺛُ ﱠ‬ ِ ‫ﻦ ا ْﻟﻴَ ِﻘ‬


neraka Jahim." QS. 102: 6. "‫ﻴﻢ‬ ِ ‫ﻦ اﻟ ﱠﻨ ِﻌ‬ ْ ‫ﻢ ﻟَ ُﺘ‬ ‫ﺴ َﺄﻟ ﱠ‬ ‫ ﺛُ ﱠ‬Kemudian, kamu pasti akan ditanya atas nikmat ِ ‫ُﻦ ﻳَ ْﻮ َﻣ ِﺌ ٍﺬ َﻋ‬ yang (kamu terima)." QS.102: 7. Ingin berpanjang-panjang bahas tentang zurtum, tapi rasanya amat sedikit bekal. Semoga yang sekilas ini bermanfaat.


Hukma Shabiyya by Mohammad Fauzil Adhim on Wednesday, September 5, 2012 at 8:34am · Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Berhentilah sejenak. Tengoklah, apa yang terjadi pada anak-anak kita sekarang. Gizi semakin baik, tetapi kematangan mereka agaknya tak lebih baik dibanding beberapa generasi sebelumnya. Terlebih jika kita bercermin pada generasi awal kaum muslimin. Lihatlah, betapa beliau usia Imam Syafi’i rahimahullah ketika ia diberi kepercayaan oleh gurunya, Imam Malik rahimahullah. Imam Syafi’i telah hafal Al-Qur’an di usia 7 tahun bukan karena masuk lembaga tahfidz, tetapi karena kecintaannya yang sangat besar kepada kitabullah mendorong ia untuk bersungguh-sungguh membaca dan mengingatnya. Ada kecintaan dan ada seorang ibu yang setiap saat mengakrabkannya dengan Al-Qur’an. Dari Ma’aali at-Ta’sis fi Manaqib Ibnu Idris sebagaimana ditulis oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Idris –maksudnya Imam Syafi’i- hafal AlQur’an usia 7 tahun dan hafal Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 9 tahun. Di usia 10 tahun, Imam Syafi’i telah menguasai tafsir Al-Qur’an – sesuatu yang amat langka untuk zaman kita ini, bahkan untuk orang dewasa. Kemampuan menghafal dan memahami kitab ini selain berkait dengan kecerdasan, juga terutama berhubungan dengan telah tumbuh kuatnya kecintaan pada agama serta keyakinan kepada kitabullah sehingga ia memiliki hikmah semenjak usia kanak-kanak. Imam Syafi’i rahimahullah bukanlah satu-satunya. Jika kita menelusuri sejarah peradaban Islam, kita akan temukan betapa banyak tokoh yang menggetarkan dunia dan mereka telah menampakkan kecintaan amat besar kepada agama ini. Mereka sangat dekat hidupnya dengan Al-Qur’an, mencintainya dan meyakini isinya sehingga dengan itu mereka bersungguh-sungguh menghafalkan seraya memahami maknanya. Mereka


sangat bergairah terhadap Al-Qur’an –sesuatu yang tampaknya makin menjauh dari kita dan anak-anak kita. Mari kita ingat sejenak nasehat Jundub Ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Sahabat Nabi saw. ini mengomentari generasi tabi’in yang mendahulukan belajar Al-Qur’an dengan berkata, “Kami belajar iman sebelum belajar AlQur`an, kemudian belajar Al-Qur`an sehingga dengannya bertambahlah iman kami.” Jika generasi tabi’in yang mempelajari Al-Qur’an sebelum matang mempelajari iman saja dinasehati seperti itu oleh Jundub ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, maka apakah yang akan dikatakannya tentang anak-anak kita? Padahal tabi’in adalah sebaik-baik generasi sesudah generasi sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Sementara hari ini, di sekolah-sekolah Islam maupun di rumah-rumah kita,anak-anak bahkan belum belajar keduanya (iman dan Al-Qur’an) ketika mereka belajar gerak dan lagu. Subhanallah.... Maha Suci Allah Ta’ala. Betapa jauh bedanya.... Maka, apakah yang dapat kita harapkan dari anak-anak kita? Orangtua semacam apakah kita ini?

Astaghfirullah.... Semoga Allah Ta’ala ampuni kita. Semoga pula Allah Ta’ala karuniakan kemampuan dan kesediaan untuk memperbaiki kesalahan kita sebagai orangtua. Semoga pula Allah Ta’ala baguskan anakanak kita, betapa pun kita masih amat jauh dari layak dalam mendidik. Berbincang tentang hukma-shabiyya, teringatlah saya pada Al-Qur’an surat Maryam. Allah Ta’ala berfirman: “Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak (hukma shabiyya), dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dari dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam, 19: 12-14). Inilah ayat-ayat yang bertutur tentang Nabi Yahya ‘alaihissalaam, putera Nabi Zakariya ‘alaihissalaamyang Allah Ta’ala karuniakan tatkala usianya


telah senja dan uban memenuhi kepala. Allah Ta’ala beri keturunan yang berlimpah kesejahteraan sejak hari dilahirkan hingga kelak saat dibangkitkan di Yaumil-Qiyamah. Allah Ta’ala sendiri yang menamai Yahya. Banyak pelajaran yang patut kita renungi dari ayat-ayat ini. Pertama, betapa Allah Ta’ala senantiasa mendengarkan do’a kita. Dan Allah Ta’ala Maha Kuasa untuk mengabulkan do’a kita meski rasanya sudah tak mungkin lagi punya keturunan. Kedua, kesungguhan dalam memohon kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh pengharapan dapat menjadi sebab Allah Ta’ala karuniakan kebaikan pada anak kita. Ada pelajaran lain yang perlu kita renungkan. Keutamaan, kemuliaan dan kekhususan Nabi Yahya‘alaihissalam sungguh semata-mata dari Allah ‘Azza wa Jalla. Maha Kuasa Allah Ta’ala untuk memberikan keistimewaan dan kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya sesuai kehendak-Nya. Berkait dengan tugas kita sebagai orangtua, bagian kita adalah mengambil pelajaran tentang apa yang menjadikan Nabi Yahya ‘alaihissalam memiliki keistimewaan hukma shabiyya, yakni hikmah selagi ia masih kanak-kanak. Semoga Allah Ta’ala limpahi kita ‘ilmu dan menolong kita untuk mendidik anak-anak kita agar dapat menjadi hamba-Nya yang bersyukur dan meninggikan kalimat Allah Ta’ala di muka bumi. Di antara hal-hal yang patut kita catat untuk kemudian kita usahakan pada anak kita adalah: menumbuhkan kecintaan dan keyakinannya kepada kitabullah. Jika mereka yakin dengan Al-Qur’an, maka mereka akan menerima sepenuhnya apa yang difirmankan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka menyambutnya tanpa keraguan dan membacanya dengan penuh kecintaan. Dan lihatlah betapa tidak ada yang lebih mudah kita ingat melebihi apa yang kita cintai. Kita mudah mengingati apa yang sangat berharga –betul-betul kita rasa berharga—buat diri kita. Semakin besar kecintaan kita kepadanya, semakin besar perhatian kita kepadanya dan semakin lekat ingatan kita terhadapnya. Yang demikian ini serupa dengan perkara yang sulit kita lupakan. Sekilas mirip, tetapi sebenarnya keduanya sangat berbeda, perkara yang paling sulit kita lupakan adalah yang paling membekaskan luka atau keperihan dalam diri kita.


Pertanyaannya, apakah yang sudah kita lakukan untuk menumbuhkan kecintaan dan keyakinan kepada kitabullah dalam diri anak-anak kita? Astaghfirullah... sekali lagi kita memohon ampun kepada Allah Ta’ala atas kelalaian kita menanamkan bekal berharga ini dalam diri anak kita. Semoga kita dapat memperbaikinya. Semoga pula kita tidak lalai menanamkan kepada anak-anak kita berikutnya yang saat ini masih baru lahir. Maka, bersyukurlah jika Allah Ta’ala berikan karunia lebih dari dua anak. Jika kecintaan dan keyakinan kepada kitabullah telah tertanam dalam diri mereka, berikutnya yang perlu kita perhatikan selaku orangtua dan guru PAUD adalah menumbuhkan hasrat kuat untuk berpegang pada kitabullah dengan penuh kesungguhan. Pertanyaannya, seberapa dekat kita dengan Al-Qur’an? Adakah kita mengambil petunjuk darinya? Jika tidak, lalu adakah kepatutan dalam diri kita untuk menumbuhkan tekad menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup anak-anak kita. MasyaAllah.... betapa besar tugas kita sebagai orangtua. Dan betapa sedikit bekal yang kita miliki. Jika ini kita lakukan, diiringi do’a kita yang amat tulus –terutama do’a ibu yang melahirkannya—kita berharap anak-anak itu akan memiliki hikmah di saat usianya masih kanak-kanak atau belia. Barangkali amat jauh dibanding generasi terbaik Islam, tetapi kita sungguh berharap anak-anak itu setidaknya telah memiliki arah hidup yang jauh lebih terarah dibanding anak-anak seusianya di negeri ini. Ada fakta sederhana yang perlu kita renungkan. Para ahli psikologi perkembangan meyakini bahwa remaja merupakan masa keguncangan, masa krisis identitas yang penuh badai (storm & stress). Mereka meyakini ini sebagai hukum perkembangan yang pasti terjadi pada siapa pun. Tetapi kita dapati bahwa di berbagai belahan bumi, khususnya di Timur Tengah, para remaja tidak mengalami apa yang dulu para ahli psikologi perkembangan menganggapnya sebagai kepastian. Sejumlah remaja justru baru mengalami keguncangan ini ketika mereka tak lagi dibesarkan dengan pendidikan yang memberi arah bagi hidup mereka. Inilah yang dapat catat


dari buku 50 Mitos Keliru dalam Psikologi karya Scott O. Lilienfeld, Steven Jay Lynn, John Ruscio, Barry L. Beyerstein. Pun bukuAdolescence karya John W. Santrock, meski hanya sekilas. Apalagi yang harus kita bekalkan kepada anak-anak kita? Takwa kepada Allah Ta’ala dan berbuat kebajikan kepada kedua orangtua (birrul walidain). Kita tumbuhkan dorongan dalam diri mereka dengan sepenuh kesungguhan. Sesudahnya, kita didik mereka agar menjadi orang yang rendah hati, tidak sombong dan tidak berlaku aniaya. Kita siapkan mereka agar tak merendahkan siapa pun, tidak pula mencela apa yang mereka tidak kuasa menentukannya, yakni terkait apa yang ditakdirkan Allah Ta’ala bagi mereka. Tak ada kelebihan orang yang berkulit putih dibanding yang berkulit hitam pekat. Tidak pula yang mancung lebih utama dibanding yang hidungnya rata. Hak mereka hanyalah tidak menyukai perbuatan buruk yang dilakukan manusia seraya menunjukkan kepada anak kita hak saudaranya seiman, yakni diingatkan dalam kebenaran, kesabaran dan kasih-sayang.

Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga kelak kita dapat mempertanggung-jawabkan tugas kita sebagai orangtua. Semoga kelak anak-anak kita menjadi penyejuk mata di akhirat. Bukan sebab terjerembabnya kita ke dalam api neraka. Maafkan saya. Ingatkan saya. Nasehati saya.


Nasehat Keluarga