Page 1


Reformasi Belum Selesai!

Cuplikan pengalaman dan pemikiran aktivis-aktivis Reformasi 1998 seperti yang dituturkan kepada Teguh Esha

Penerbit APHI

(Asosiasi Penasehat Hukum Dan Hak Asasi Manusia Indonesia)


PENEGASAN SIKAP ATAS MALAPETAKA EKONOMI DAN POLITIK INDONESIA Menanggapi malapetaka yang menimpa Negara dan Bangsa Indonesia saat ini, kami Alumni ITB terpanggil untuk menyatakan kembali sikap kami atas malapetaka ini. 1. 2. 3.

4.

5.

Penyebab malapetaka ini adalah kegagalan Kepemimpinan Nasional, Penggantian Kepemimpinan Nasional adalah satu-satunya jawaban untuk keluar dari malapetaka ini, Segala bentuk kegiatan yang tidak berorientasi pada penggantian Kepemimpinan Nadional, khususnya kegiatan yang mengarah pada ISU SARA DAN IDEOLOGI, adalah �Kamuflase� penciptaan kambing hitam atas kegagalan Kepemimpinan Nasional, Kelambanan dan ketidakmampuan Kepemimpinan Nasional dalam mengatasi malapetaka ini akan berakibat pada runtuhnya Persatuan dan Kesatuan Bangsa, Mari kita kerahkan segenap daya upaya dan pemikiran kita untuk memilih Kepemimpinan Nasional Baru yang mampu menegakkan kembali Negara dan Bangsa Indonesia yang berdaulat dan bermartabat.

Maka pada hari ini kami Alumni ITB menegaskan kembali sikap, sebagaimana dinyatakan dikampus ITB 20 tahun yang lalu. TIDAK MEMPERCAYAI DAN TIDAK MENGINGINKAN SOEHARTO, KEMBALI SEBAGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Jakarta, Februari 1998 ii


No Nama Alumni Jurusan/Angkatan TandaTangan ------------------------------------------------------------------1. Ermawan W. 2. Sjaiful B.H. 3. Donald M.Manullang 4. Bakti Santoso L. 5. Batara L. 6. Meilono S. 7. Bernard THN 8. M.S. Zulkarnaen 9. Heri Akhmadi

SR 70 - 9170009 FT 72 - 7472011 EL 74 - 7374036 TI 7575061 EL 7373023 MS 7273100 SR 9173001 FT 7474096 TA 6*72032

iii


REFORMASI BELUM SELESAI Cuplikan pengalaman dan pemikiran aktivis-aktivis Reformasi 1998 seperti yang dituturkan kepada Teguh Esha Penulis: Teguh Esha Foto-foto oleh: Yitno, Kindi, Aurora C. Lumbanradja dan Muhammada Foto Batara Lumbanradja adalah koleksi keluarga Batara Lumbanradja Tata Letak oleh: Eka Cahaya Desain Sampul oleh: Aurora Corintia Lumbanradja HAKI 2011 Teguh Esha Penerbit APHI (Asosiasi Penasehat Hukum Dan Hak Asasi Manusia Indonesia)

www.aphi.or.id www.rumahreformasi.org e-mail: rumahreformasi@gmail.com Jl. Raya Pasar Minggu Km. 17,8 No,1b Jakarta 12740 Percetakan: Sinergi Printing (Isi di luar tanggung jawab percetakan) Cetakan pertama: Mei 2011 ISBN: 978-979-19612-2-6

vi


Untuk Arnold Corino Lumbanradja, Aurora Corintia Lumbanradja dan generasi muda Indonesia lainnya yang menyadari tugas dan tanggung jawab nasional mereka.

vii


Daftar Isi Penegasan Sikap IA-ITB-234 ii Penegasan Sikap IA-ITB-234 lanjutan

iii

Daftar isi vi Pengantar Penerbit ix Pengantar Penulis xii Ir.BATARA LUMBANRADJA, MSc (alm.)

19

Ir. RUTH PANDJAITAN 25 Drs. ERMAWAN WANGSAATMAJA

31

Ir. MOHAMAD S.ZULKARNAEN

37

Ir. SJAIFUL BACHRI HARAHAP

41

Drs. BERNARD TH. NAPITUPULU

47

Ir. MANAHARA POMPANG HUTAGAOL

53

Ir. BAKTI SANTOSO LUDDIN, MBA

57

Ir. DONALD M. MANULLANG, MM

61

Prof. Dr. Ir. DADAN UMAR DAIHANI, DEA

65

Drs. J. A. A. RUMESER., M. Psi.

69

HERMAWAN SULISTYO (KIKIEk)

73

LETJEN TNI-AD ( PUR.) KIKI SYAHNAKRI

79

LELA MADJIAH 85 Ir. INDRA ISKANDAR, MSi

91

Ir. OLISIAS GULTOM

95

Ir. ELI SALOMO SINAGA

99

viii


Ir. RAYMOND SIMANJORANG

103

Ir. BARITA SIANIPAR

107

NIKO ADRIAN, SH 111 DORMA H. SINAGA, SH

115

LAMBOK GULTOM, SH

119

HASUDUNGAN NAPITUPULU, SH

125

MARIOLE PASARIBU 129 SYARIFUDIN SALWANI, A.md

133

MIXILMINA MUNIR, SHi

137

ACHMAD KASINO, SSos

141

Ir. LAKSMI CAHYANIWATI 145 Ir. DJASLI DJAMARUS, MSCS, PHD.

149

Penutup 153 Lagu “Reformasi Belum Selesai” (Teguh Esha)

157

Tentang Penulis 158

ix


x


Pengantar Penerbit Cukup banyak buku tentang Reformasi 1998 yang ditulis dari berbagai sudut pandang oleh orang-orang yang terlibat langsung di dalam pergerakan tersebut dan oleh para pemerhati. Kenyataan tersebut sangat menggembirakan, karena masyarakat akan mendapat lebih banyak informasi tentang peristiwa nasional yang berujung pada surat pernyataan berhenti Presiden Soeharto yang ia bacakan pada tanggal 21 Mei 1998 di Istana Negara dan disiarkan oleh media massa ke seluruh penjuru bumi. Buku kecil ”Reformasi Belum Selesai!” yang ditulis Mas Teguh Esha berdasar wawancaranya dengan beberapa orang aktivis Reformasi 1998 yang berasal dari IA-ITB 234, Iluni UI, Forkot, tiga orang perwira tinggi TNI-AD (purnawirawan) dan eksponen lainnya, berbeda bentuk dan gaya daripada buku-buku tentang reformasi lainnya yang sudah terbit. Bentuknya buku saku, gaya penyajiannya ngacak: cuplikancuplikan pendapat dari para narasumbernya disajikan berselangseling, hingga memberi kesan ”aneh”; karena pada setiap halaman buku ini, topik cuplikan yang satu berbeda daripada cuplikan yang lainnya.. Buku kecil ini adalah bagian dari ’buku besar’, yang akan menyusul terbit, yang mengungkapkan peran para narasumber dalam gerakan Reformasi 1998 secara lebih rinci. Selamat membaca. Semoga buku kecil ini berguna bagi para pembaca. Terimakasih. Jakarta, Mei 2011 Penerbit APHI xi


Apa yang kita tahu tentang Reformasi 1998?

xii

- Teguh Esha


Pengantar Penulis Buku kecil berjudul ”Reformasi Belum Selesai!” ini berisi cuplikancuplikan wawancara saya dengan tokoh-tokoh Reformasi 1998 yang berasal dari beberapa kelompok pergerakan, yaitu IKATAN ALUMNI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 234 (IA-ITB 234), FORUM KOTA (FORKOT), dan dua orang ALUMNI UNIVERSITAS INDONESIA (UI). Selain mereka ada TIGA ORANG PURNAWIRAWAN PERWIRA TINGGI TENTARA NASIONAL ANGKATAN DARAT (TNI-AD) yang pada masa reformasi masih aktif berdinas di MARKAS BESAR TNI-AD. Dan seorang wartawati ’The Jakarta Post’ yang menjadi penghubung antara IA-ITB 234 dengan para perwira tinggi TNI-AD. Mereka adalah, sbb: IA-ITB 234: • Ir. Batara Lumbanradja alias Ucok (Fak. Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, 1973)* • Ir. Ruth Pandjaitan (Fak. Teknik Sipil & Perencanaan, Jurusan Teknik Arsitektur, 1974) • Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA ( Fak.Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri,1974) • Ir. Mohamad S. Zulkarnaen (Fak. Teknologi Industri, Jurusan Fisika Teknik,1974) • Ir. Sjaiful Bachri Harahap alias Butar (Fak. Matematika & Ilmu Pengetahuan, Jurusan Fisika Teknik, 1972) • Drs. Bernard TH Napitupulu alias Ben (Fak. Teknik Sipil & Perencanaan, Jurusan Seni Rupa, 1973) • Ir. Manahara Pompang Hutagaol (Fak. Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, 1973) • Ir. Donald M. Manullang,MM alias Opung (Fak. Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, 1974)

xiii


• •

Ir. Bakti Santoso Luddin,MBA alias Batik (Fak. Teknologi Industri, Jurusan Tehnik Elektro, 1974) Drs.Ermawan Wangsaatmaja alias Eme (Fak. Teknik Sipil & Perencanaan, Jurusan Seni Rupa, 1968)

*Dua orang anggota IA-ITB 234, yaitu Batara Lumbanradja alias Ucok dan Meilono Suwondo (Fak. Teknologi Industri, Jurusan. Teknik Mesin, 1973) telah wafat. Meilono Suwondo wafat sebelum gagasan penulisan buku ini tercetus. ALUMNI UI: • Drs. J. A. A. Rumeser, M., Psi. (Fak.Psikologi) • Hermawan Sulistyo alias Kikiek (FIS, 1976) FORKOT: • Ir. Indra Iskandar, MSi (ISTN) • Ir. Olisias Gultom (ISTN) • Ir. Raymond Simanjorang (ISTN) • Ir. Eli Salomo Sinaga (ISTN) • Ir. Barita Sianipar (ISTN) • Niko Adrian,SH (FH UKI) • Dorma H. Sinaga, SH alias Kodong (FH UKI) • Lambok Gultom,SH (FH UKI) • Hasudungan Napitupulu,SH (FH UKI) • Mariole Pasaribu (FH UKI) • Syarifudin Salwani, A.md (ABA-ABI, PMII) • Achmad Kasino, S Sos. (Forkot, Univ. Prof. DR.Moestopo/ Beragama) • Mixilmina Munir,SHi (IAIN) TNI-AD: • Letjen TNI-AD (Pur.) Kiki Syahnakri • Selain Letjen TNI-AD (Pur.) KIki Syahnakri ada dua perwira tinggi TNI-AD Purnawirawan yang saya wawancarai, yaitu Letjen TNI-AD (Pur.) Suaedy Marasabessy dan Mayjren TNI-AD (Pur.) Noor Aman. Hasil wawancara saya xiv


dengan Pak Suaedy Marasabessy tidak dimasukkan di dalam buku ini, karena sampai batas waktu yang ditentukan untuk pengoreksian naskah; yang bersangkutan tidak memberi jawaban. Sedangkan Pak Noor Aman tidak berkenan jika naskah hasil wawancara saya dengannya dipublikasikan dalam buku ini. WARTAWATI: • Lela Madjiah (The Jakarta Post) Hubungan antara IA-ITB 234 dengan para perwira tinggi TNI-AD tersebut hanya terbatas pada gagasan-gagasan dan pemikiranpemikiran di dalam diskusi-diskusi, tidak pada tahapan aksi. Walaupun demikian, mereka sudah sampai pada tahapan tercapainya kesepahaman tentang satu hal yang menjadi ’tema perjuangan’ IA-ITB 234, yaitu ”Presiden Soeharto harus berhenti”. Sementara itu, hubungan antara IA-ITB 234 dengan Forkot sampai pada tahapan aksi-aksi demonstrasi yang berpuncak pada aksi Forkot dan berbagai kelompok mahasiswa yang lainnya menduduki gedung DPR-RI/MPR-RI yang berujung pada pernyataan berhenti Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 yang lalu. Buku kecil ini adalah bagian dari ’buku besar’ tentang Reformasi 1998 yang ditulis dengan sudut pandang IA-ITB 234 khususnya, dan eksponen-eksponen alumni UI serta eksponen-eksponen Forkot yang ”berpusat” di rumah Batara Lumbanradja di Jl.Mampang Prapatan VIII, Jakarta Selatan. Serta beberapa orang purnawirawan Perwira Tinggi TNI-AD yang berhubungan dengan IA-ITB 234. Tidak ada sepotongpun klaim dari para narasumber, bahwa mereka adalah satu-satunya pelaku Reformasi 1998. Karena memang Reformasi 1998 melibatkan banyak pihak; utamanya r atusan ribu mahasiswa yang berdemonstrasi sebagai ’Aktor Utama’.Buku ini ditulis dan dipublikasikan untuk memenuhi amanat Batara Lumbanradja kepada Ruth Pandjaitan, istrinya, xv


agar Ruth melanjutkan proyek penulisan buku pengalaman perjuangan mereka yang saya usulkan ketika dia masih hidup. Amanat itu diucapkan Batara Lumbanradja menjelang beliau wafat di National University Hospital, Singapore, kepada putri yang ia sayangi, Aurora Lumbanradja yang bersama abangnya Arnold Lumbanradja; mendampingi almarhum menjelang wafat. Ruth memenuhi amanat itu. �Sekalian deh, aku pengen tahu, siapa yang akan membantah fakta yang kami ungkapkan dan kau tuliskan, Mas Teguh,� kata Ruth. �Aku tak mengatakan, bahwa hanya kami satu-satunya yang berjuang hingga akhirnya bisa mendesak Presiden Soeharto berhenti, tapi aku katakan, bahwa yang kami ungkapkan itu adalah kebenaran yang kami yakini. Orang atau kelompok lainnya silakan menuliskan peran mereka dalam Reformasi 1998, hingga kita tahu di mana mereka berada dan peran apa yang mereka mainkan pada masa itu,� Ruth menegaskan. Sebagai penggagas, pewawancara para narasumber dan penulisnya, saya bertanggung-jawab atas semua tulisan dalam buku ini. Kepada Allah Sang Pengasih yang telah mempertemukan saya dengan mendiang Batara Lumbanradja dan para tokoh reformasi 1998 yang lainnya, Ia izinkan dan menuliskan pengalaman perjuangan mereka; saya sampaikan pujian dan ucapan syukur saya yang sebesar-besarnya. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Ruth Pandjaitan yang membiayai proyek buku ini dan mengatur pertemuan saya dengan para nara sumber. Terima kasih juga saya sampaikan kepada semua sahabat IA-ITB 234, Forkot, Famred, Pak Kiki Syahnakri dan Lela Madjiah. Terima kasih juga untuk Rini Clara, Fathonie Abdul Gafur, dan pekerja-pekerja penyokong lainnya. Untuk Amrin Madjid alias Chipaps dan teman-teman 234 SC pun kusampaikan trimkokas. xvi


Untuk semua kekurangan dan kesalahan saya dalam proses penulisan buku ini, saya memohon maaf dan ampun kepada Sang Pemaaf Sang Pengampun. Saya juga minta maaf kepada Ruth Pandjaitan dan semua narasumber, serta semua orang yang menyumbangkan kebaikan moral dan material; untuk kesalahan dan kekurangan itu. Ucok Batara Lumbanradja sudah wafat. Ia sudah kerjakan tugas nasionalnya selaku patriot. Ia berikan apa yang terbaik yang ia bisa berikan kepada rakyat, bangsa dan negara yang ia cintai. Kita yang masih hidup perlu bertanya kepada diri kita masingmasing, apakah kita sudah pula memberi yang terbaik yang bisa kita berikan kepada rakyat, bangsa dan negara kita. Pertanyaan pribadi itu bagian dari kegiatan mawas diri kita masing-masing yang sangat penting bagi kehidupan bersama kita sebagai bangsa yang bernegara.. Dengan semangat mawas diri dan otokritik kita, sebagai bangsa Indonesia buku kecil ini lahir dan hadir: apakah sesama kita akan terus menerus berdebat, bersengketa dan bertarung sampai buntung; dan bangsa-bangsa lainnya yang untung; atau kita bersama-sama membangun negeri dan mengelola tanah, air dan angkasa kita yang tak ternilai harganya, untuk kebaikan kita bersama dan anak-anak serta cucu-cucu kita! Semoga apa yang terungkap di dalam buku kecil ini dapat menjadi bahan permenungan bagi siapa yang mengaku sebagai orang Indonesia yang sungguh-sungguh ber-Pancasila. Merdeka! Jakarta, Mei 2011 Teguh Esha (e-mail: universitasjalanan@yahoo.com)

xvii


Dengar aku baik-baik ya, Fraksi ABRI itu yang jadi wakilnya di DPR, paling sedikit pangkatnya Kolonel. Kalau kau lihat dia sampai jenjang Kolonel, pendidikan apa saja yang sudah dia capai sampai jadi Kolonel. Dari situ kita sudah bisa lihat dia capable. Bisalah mewakili rakyat di DPR. Tapi lihatlah anggota-anggota DPR yang berasal dari sipil, orang-orang yang asal popular tanpa kecerdasan dan pengetahuan minimal sebagai legislator membuat DPR berkualitas rendah. Di luar yang itu, banyak anggota yang pola berpikirnya level drop-out-an SMP. Karena itu, Fraksi ABRI tetap diperlukan sebagai penyeimbang sampai 2014,� begitu kata Ucok. �Kita sudah lihat, setelah Fraksi TNI dihapus, ternyata orang-orang sipil di pemerintahan, di DPR dan di lembaga judikatif sekarang banyak yang rusak. - Ir.Batara Lumbanradja, MSc. (Alm.)

18 Reformasi Belum Selesai!


Ir.Batara Lumbanradja, MSc. (7 Maret 1954-5 Desember 2009)

Reformasi Belum Selesai! 19


Ir. Ruth Pandjaitan Rasa kebangsaan dan cinta Tanah Air yang menggelora dalam jiwa-ragaku tumbuh dan bersemi karena didikan bapakku. Kemudian, setelah aku kawin dengan Ucok, nasionalisme dan patriotismeku semakin konkrit, berwujud dalam perjuangan all out dalam upaya kita membebaskan rakyat, bangsa dan negara dari penindasan dan pemerasan yang bikin mereka miskin. Kami tidak kenal kompromi untuk itu. Aku bersyukur Tuhan beri aku suami Ucok. Aku bahagia dan bangga. Semoga Arnold dan Aurora, anak-anak kami, mewarisi perjuangan kami. Ir. Mohamad S. Zulkarnaen Tanggal 20 Mei 1998 sore. Saya sedang bermain bola di lapangan Menteng dengan Bang Agum Gumelar, waktu itu Gubernur Lemhanas. Ditengah permainan saya terima panggilan telpon dari Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan RI, Jenderal TNI Wiranto. Saya diharuskan tiba di kantor Pak Wiranto dalam tempo sepuluh menit. Saya segera pergi ke rumah Ucok di Mampang yang menjadi posko IA-ITB 234, untuk mengganti pakaian dan ngomong sebentar dengan teman-teman tentang adanya panggilan dari Pak Wiranto. Lalu saya bersama Meilono Suwondo pergi ke kantor Pak Wiranto di Departemen Pertahanan dan Keamanan RI di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Di Dephankam itu, kami jumpa Pak Susilo Bambang Yudhoyono di ruang tunggu kecil di depan ruang kerja Pak Wiranto.. Pak SBY duduk bersama kami sebentar. Sekitar jam setengah tujuh malam Pak Wiranto menemui kami, “Zul, mungkin besok presiden akan mundur,� kata Pak Wiranto kepada saya.. Lalu ia bertanya: 20 Reformasi Belum Selesai!


“Penggantinya presidium atau yang menurut UndangUndang Dasar?”. “Sebaiknya Presidium, pak,” kata saya. Pak Wiranto memandangi saya sejenak, lalu ia masuk ke ruang kantornya. Saya berbisik ke Meilono, “Kalau presidium, kita jangan ada di dalamnya.” - ”Iyalah, Zul. Kita di luar saja,” kata Meilono. Ir. Manahara Pompang Hutagaol Jabatan struktural resmi terakhir Batara Lumbanradja adalah Kepala Dinas Jaringan. Pada saat itu terjadilah restrukturisasi di PLN yang meniadakan Jabatan Deputi Direktur Bidang Transmisi dan Deputi Direktur Bidang Distribusi, padahal pekerjaan di bidang tersebut sangat menentukan pelayanan PLN untuk menyalurkan tenaga listrik kepada pelanggan. Karena pemikiran-pemikiran Batara Lumbanradja sangat cemerlang untuk kepentingan bangsa dan PLN, dia diposisikan sebagai ‘Koordinator’ Bidang Transmisi di PLN Pusat. Drs. J. A. A. Rumeser, M., Psi. Dari alumni UI, semula hanya gue dan Bram Zakir dan beberapa teman lainnya yang aktif dalam pergerakan 1998. Kami aktif dalam grup diskusi di rumah Irawanto di Jalan Cipaku, Kebayoran Baru, sejak tahun 1997. Orang luar UI yang sering ikut berdiskusi adalah mendiang Djuanda, perwira menengah TNI AL. Bram yang membawa gue ke grup IA-ITB 234 yang berposko di rumah Ucok dan Ruth di Mampang, Warung Buncit. Akhirnya gue gabung dengan temen-temen ITB itu. Kikiek (Hermawan Sulistyo -pen.) yang juga alumni UI bergabung juga dengan IA-ITB 234.

Reformasi Belum Selesai! 21


Lela Madjiah Batara Lumbanradja tipe pemikir pejuang nasionalis kerakyatan. Dia menguasai betul perlistrikan sampai ke üdetailnya, dan dia tahu bahaya yang mengancam Indonesia jika energi listrik jatuh ke tangan asing. Dia all out berjuang agar perlistrikan dikuasai negara - dalam hal ini PLN - untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat Indonesia. Dia pertaruhkan jabatannya yang tinggi dan fasilitas serta kenyamanan hidup yang dinikmatinya demi kesejahteraan rakyat. Ir. Indra Iskandar, MSi Setahu saya, salah seorang yang rajin bergerak dari kampus ke kampus dan punya keyakinan pada perubahan‌ adalah Hermawan Sulistiyo alias Mas Kikiek. Dia mau datang pada setiap acara pelatihan apapun, walau tanpa kami beri honor. Dia rajin ceramah dari kampus ke kampus. Dia tak punya kendala berhadapan dengan mahasiswa, karena dia ngajar di Universitas Nasional. Mas Kikiek-lah yang kemudian menjerumuskan saya dan teman-teman Forkot ISTN bertemu dengan gerombolan Bang Ucok Batara Lumbanradja dan abangabang IA-ITB 234 lainnya. Sinergi Forkot dengan grup IA-ITB 234 plus Mas Kikiek dan Bang Jo Rumeser menjadi suatu kekuatan dahsyat dalam gerakan reformasi 1998. Syarifudin Salwani, A.md Buat saya Bang Ucok itu inspirator yang ideal. Dia berada dalam kekuasaan, tapi dia juga berjuang menentang dan melawan penguasa yang zholim dan korup. Dan dia mau mengeluarkan rizqinya untuk perjuangan. Apa yang dia ucapkan dan apa yang dia kerjakan seiring-sejalan. Dia orang konsisten!

22 Reformasi Belum Selesai!


Reformasi Belum Selesai! 23


Di posko Buncit ini, Ucok dan teman-teman yang merumuskan enam Tuntutan Reformasi. Isinya adalah sbb.: 1. Turunkan harga 2. Adili Soeharto dan kroni-kroninya 3. Tangkap dan adili para pelanggar HAM 4. Cabut dwi fungsi ABRI 5. Pemberantasan KKN 6. Pembatasan masa jabatan Presiden.

- Ir. Ruth Pandjaitan

24 Reformasi Belum Selesai!


Ir. Ruth Pandjaitan ruth.pandjaitan@gmail.com

Reformasi Belum Selesai! 25


Ir. Ruth Pandjaitan Ucok memang bilang waktu itu, suka nggak suka, institusi militer adalah institusi yang paling well-organized di satu Negara, sehancur apapun tatanan Negara itu. Ucok waktu itu sempat berharap agar tetap dipertahankan wakil militer di DPR sampai 2014. Waktu aku tanya sama Ucok : ”Kenapa kau berpikir begitu?”. - “Dengar aku baik-baik ya, Fraksi ABRI itu yang jadi wakilnya di DPR, paling sedikit pangkatnya Kolonel. Kalau kau lihat dia sampai jenjang Kolonel, pendidikan apa saja yang sudah dia capai sampai jadi Kolonel. Dari situ kita sudah bisa lihat dia capable. Bisalah mewakili rakyat di DPR. Tapi lihatlah anggotaanggota DPR yang berasal dari sipil, orang-orang yang asal popular tanpa kecerdasan dan pengetahuan minimal sebagai legislator membuat DPR berkualitas rendah. Di luar yang itu, banyak anggota yang pola berpikirnya level drop-out-an SMP. Karena itu, Fraksi ABRI tetap diperlukan sebagai penyeimbang sampai 2014,” begitu kata Ucok. ”Kita sudah lihat, setelah Fraksi TNI dihapus, ternyata orang-orang sipil di pemerintahan, di DPR dan di lembaga judikatif sekarang banyak yang rusak,” lanjut Ucok. Ir. Bakti Santoso Luddin, MBA Bulan Februari 1998, sembilan orang yang menamai diri sebagai IA-ITB 234 membuat surat penegasan yang intinya adalah, bahwa kami tidak mempercayai dan tidak menginginkan Suharto menjadi Presiden Republik Indonesia lagi. Pernyataan itu merupakan ulangan pernyataan Keluarga Mahasiswa ITB di tahun 1978. Kami buat surat penegasan itu di ruko Ruth Pandjaitan di Pasar Minggu. Teman-teman yang merumuskan kalimatnya dan saya yang mengetik 26 Reformasi Belum Selesai!


naskahnya. Setelah kami sepakat, kami tandatangani surat pernyataan itu dan kemudian dibacakan secara terbuka di depan para wartawan di Taman Ismail Marzuki oleh Zulkarnaen. Kemudian blanko surat pernyataan itu disebarkan ke kalangan alumni ITB, tapi hanya sedikit yang mau ikut menandatangani. Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA Tanggal 12 Mei 1998 tengah malam, saya ikut rapat dengan pimpinan Universitas Trisakti tentang jenazah Elang dan kawan-kawan. yang jadi korban penembakan di kampus Universitas Trisakti. ”Tolong putuskan, jenazah-jenazah para mahasiswa kita mau dikemanakan? Sekarang, masih di rumah sakit, nggak ada yang mengurus,” kata saya. ”Oh, biarin mereka diambil orang tua masing-masing,” kata seorang pimpinan rektorat. Saya gebrak meja. ”Gila! Kalau begitu, berarti kita nggak punya tangggung jawab!” kata saya. ”Pak Dadan, kalau jenazah mereka dibawa ke sini, kampus kita bisa diserang dan dibakar orang,”katanya. ”Kalau jenazah mereka tidak disemayamkan di kampus ini, saya yang akan membakar kampus ini,” kata saya. Akhirnya usul saya diterima. Jenazah-jenazah itu disemayamkan di kampus dan kemudian dikubur di pekuburan yang ditentukan keluarga masing-masing. Drs. J. A. A. Rumeser, M., Psi. Menurut gue, kalau kita bermain politik, itu artinya kita bertarung merebut kekuasaan, dan begitu kita mendapat kekuasaan itu, kita berkata, ”Nah.... ini saatnya gue mengimplementasikan ide dan program gue, untuk memperbaiki keadaan, sebagaimana yang selama ini gue perjuangkan!” Reformasi Belum Selesai! 27


Letjen TNI-AD (Purn) Kiki Syahnakri Mengapa UU No.25 Tahun 2007 tentang penanaman modal asing yang memberikan karpet merah kepada perusahaan asing mengeruk sumber daya alam selama 195 tahun dengan modal 95% bisa keluar dari DPRRI? Itu adalah pengkhianatan! Ir. Indra Iskandar, MSi Proses neoliberalisme itu sedang berlangsung di semua bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ini akan sangat berbahaya karena ideologi pembangunan kembali pada developmentalisme yang dikemas dengan agenda reformasi. Ir. Olisias Gultom Beberapa tahun terakhir ini saya malas baca surat kabar, karena kebanyakan isinya bikin saya marah! Orang-orang media massa dan parpol-parpol termasuk pihak-pihak yang menikmati porsi besar kebebasan pasca reformasi.

28 Reformasi Belum Selesai!


the rest of this book is available only in hardcopy version, buy One NOW!


Reformasi Belum Selesai!  

Cuplikan pengalaman dan pemikiran aktivis-aktivis Reformasi 1998 seperti yang dituturkan kepada Teguh Esha.

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you