Page 1

setahun koin keadilan sebuah kenangan dan penghargaan untuk semua orang yang berkehendak baik


setahun koin keadilan sebuah kenangan dan penghargaan untuk semua orang yang berkehendak baik


Setahun Koin Keadilan: Sebuah Kenangan dan Penghargaan untuk Orang-orang yang Berkehendak Baik Editor Ventura Elisawati Penerbit Rumah Langsat Perancang Visual Wongso Barjo Rénésubur Pelaksana Visual Antemono Barjibarbèh © Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Anda diperbolehkan mencetak, menggandakan, mengutip, dan menyebarkan sebagian maupun keseluruhan isi buku ini asalkan menyebutkan sumbernya dan bukan untuk kepentingan komersial.

Jalan Langsat 1/3A Kramat Pela Kebayoran Baru Jakarta 12130 rumah@langsat.net rumah.langsat.net Jakarta, Desember 2010 Tim penyusun dan penerbit berterima kasih sekaligus memohon maaf jika pemuatan tulisan maupun gambar dalam penerbitan nonkomersial ini hanya menyebutkan sumber tanpa meminta izin terlebih dahulu.


setahun koin keadilan

ba n demp o s u tr i ma n

sebuah kenangan dan penghargaan untuk semua orang yang berkehendak baik

JAKARTA DESEMBER 2010


Daftar Isi Beranda

vii

Pengantar “Koin Protes” untuk “Keadilan Recehan” • Imam B. Prasodjo

xi

Bab 1 Keadilan yang Terlukai Mereka Diikat oleh Satu Hal: Solidaritas • Cindy Silviana

3

Bab 2 Melawan dengan Kepatuhan Prita I, Prita II, dan Jejaring Langsat • Enda Nasution Sebuah Ringkasan Komikal tentang Prita • Cah Ndableg

13 19

Bab 3 Langsat, Sebuah Tempat Kebun Binatang Bernama Langsat • Antyo Rentjoko Pemulung Cilik dan Kejujuran • Muhammad Zamroni Sana-sini Kompilasi Catatan • Muhammad Zamroni

29 33 37

Bab 4 Koin, Media Sosial, dan Masyarakat Dari Dunia Maya ke Dunia Nyata • Ventura Elisawati Recehan • Goenawan Mohamad Koin Prita • Putu Setia Koin Pecas Ndahé • Ndoro Kakung Rp 15 Juta dari Konser untuk Prita • detik.com

49 53 57 61 63

Bab 5 Penutup dan Hikmah Menangani Komunikasi • Ventura Elisawati Mau, Dapat Penghargaan sebagai Pemecah Rekor? • Yusro M. Santoso Pengumpulan Koin: Membantu Prita, Menolong Bank Sentral • Yusro M. Santoso

67 71 77

Setahun Koin Keadilan

v


Beranda

M

embuat buku tentang Koin Keadilan telah menjadi mimpi kami sejak aktivitas koin masih berlangsung. Tujuannya agar kegiatan yang telah melibatkan lintas komunitas dan profesi ini bisa terdokumentasi dengan baik. Pun peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat. Dan yang lebih penting, melalui buku ini kami bisa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam kegiatan koin keadilan. Sederhana, dan kami pikir mudah mengeksekusinya.

Setahun Koin Keadilan

vii


[...] namun sepertinya antrean di percetakan begitu panjang, sehingga kami tidak tahu kapan buku ini akan naik cetak. Akhirnya kami memutuskan untuk menerbitkannya dalam bentuk e-book.

viii

Membuat buku, notebene adalah menulis. Dan menulis adalah hobi kami. Dari sekedar nulis komen di blog teman, nulis status di Facebook atau Twitter, atau menyiapkan artikel di blog kami. Atas dasar hobi itulah kami kemudian memutuskan untuk membukukan kisah Koin Keadilan. Sepertinya mudah dan akan bisa selesai cepat. Ternyata tidak. Bahan-bahan baik yang berupa cerita, rekaman video, dokumentasi foto maupun kliping ada setumpuk. Gampangnya, tinggal dipilih. Ternyata menyortir semua bahan itu juga tidak gampang. Apalagi itu harus dilakukan di sela-sela kesibukan rutin kami. Untungnya sejumlah relawan eks-Koin Keadilan (yang juga aktif saat pengumpulan koin), masih bersedia membantu menyeleksi bahan-bahan yang ada. Bahkan seperti Cindy Silviana Sukma pun tak cuma menyeleksi, tapi juga melakukan wawancara serta menuliskannya. Seperti halnya pengumpulan koin, buku inipun bisa terwujud berkat kerjasama para relawan. Anandita Puspitasari dan Ndaru Victor yang menyeleksi setumpuk dokumentasi, menyeken, dan memilih materi yang layak. Cindy melakukan wawancara sejumlah relawan dan menuliskannya. Ada Yusro M. Santoso, Wicaksono (alias Ndoro Kakung), Enda Nasution, Muhammad Zamroni, Antyo Rentjoko, dan Ventura Elisawati yang turut menyumbangkan tulisan di buku ini. Juga Mas Imam Prasojo yang “ditodongĂŚ untuk memberikan kata pengantar. Ada pula tulisan Goenawan Mohamad yang dikutip di sini. Semula buku ini akan kami cetak, namun sepertinya antrean di percetakan begitu panjang, sehingga kami tidak tahu kapan buku ini akan naik cetak. Akhirnya kami memutuskan untuk

Setahun Koin Keadilan

menerbitkannya dalam bentuk e-book. Buku ini didesain dengan penuh dedikasi oleh Antyo Rentjoko. Sesepuh Langsat ini pula yang menciptakan logo Koin Untuk Prita, serta badge Bebaskan Prita yang beredar di penjuru dunia maya. Melalui buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua relawan penghitung koin, yang tak mungkin kami sebut satu persatu yang datang silih berganti siang dan malam. Apresiasi yang tinggi kepada masyarakat luas yang telah merelakan keping rupiahnya dan mengantarkannya ke Langsat, Markas Koin. Jabat tangan erat juga kami sampaikan kepada rekan-rekan Milis Sehat yang sejak awal bahu membahu mengumpulkan koin. Kepada detik.com, Kaskus.us, Hukum-online. com, Virtual Consulting, Tiki JNE, dan pihak-pihak yang tidak bisa kami sebut semuanya, terimakasih dukungan dan suplai amunisi makanan untuk para relawan. Untuk rekan-rekan MyIndo, RumahWeb dan Inmark Communications, terima kasih karena telah merelakan halaman kantornya menjadi berisik kurang lebih tiga pekan, selama penghimpunan koin berlangsung. Juga kepada penghuni Langsat: Didi Nugrahadi, Happy Hanantoputro, Susie Rahayu, Untung Hartono dan Eki Priyana yang setia menerima kiriman koin dari subuh sampai dini hari. Penghargaan juga kami sampaikan kepada seluruh media baik mainstream maupun alternatif, khususnya kepada TV One, Metro TV dan SCTV yang melakukan liputan live. Tanpa penyeberan informasi dari media, inisiatif Koin Keadilan pasti tidak akan menjadi sebuah �gerakan� masyarakat. Terimakasih juga kami sampaikan kepada


n dar u

MEMILAH. Tahap pertama penghitungan koin adalah memilah berdasarkan jenis dan denominasi. Kalau sudah terkelompokkan maka penghitungan receh ini lebih mudah.

Bank Indonesia dan Bank Mandiri. Dari mengangkut satu mobil kontainer koin, sampai tujuh hari kerja plus lembur untuk menghitung ulang jumlah koin, bukanlah pekerjaan kecil. Keduanya telah menuntaskan amanat Koin Keadilan untuk menyampaikan seluruh rupiah yang terkumpul kepada yang berhak: Prita Mulyasari. Mudah-mudahan buku ini bisa bermanfaat, memberikan inspirasi tentang keadilan,kebersamaan, berbagi, saling menolong serta kekuatan cinta dan kepedulian masyarakat. Melakukan apa yang bisa diperbuat, tentu lebih bermanfaat ketimbang sekadar meneriakkan protes ketidaksetujuan. Selamat membaca. Ventura Elisawati Editor

Setahun Koin Keadilan

ix


n dar u

CLEANING SERVICE. Apa bedanya mobilisasi dan partisipasi? Koin Keadilan menjawabnya: pada penyampaian pesan terjadi mobilisasi ajakan oleh sesama warga, kemudian yang hatinya terketuk ikut terlibat – termasuk dari gedunggedung perkantoran tapi tak dianggap sebagai orang kantoran.

x

Setahun Koin Keadilan


Pengantar “Koin Protes” untuk “Pengadilan Recehan” Imam B. Prasodjo

Sosiolog dari Universitas Indonesia, aktif di pelbagai kegiatan sosial. Ketua Yayasan Nurani Dunia.

B

icara gerakan pengumpulan “koin keadilan” bagi Prita Mulyasari, mau tak mau kita harus melihat makna simbolik di baliknya. Kekuatan koin yang dikumpulkan rakyat sebagai media ekspresi untuk mendukung Prita, tidak terletak pada berapa besar nilai rupiah yang terhimpun, namun terletak pada tajamnya satir yang terkandung di dalamnya. Tentu saja, seberapa efektif ketajaman koin sebagai senjata simbolik untuk menohok pihak-pihak yang menjadi sasaran, sangat tergantung pada kepekaan hati dan kecerdasan orang-orang yang terkena tohokan itu. Setahun Koin Keadilan

xi


Munculnya kasus bertubi-tubi semacam ini tentu membantu ingatan kolektif rakyat tentang begitu banyaknya peristiwa ketidakadilan hukum yang pernah menimpa orang kecil.

Untuk memahami betapa kuatnya peran simbol dalam membangun imaji sosial, apapun makna yang dibangun di dalamnya, kita dapat merujuk pada salah satu peristiwa sejarah agama. Ambil saja contoh ritual dalam ibadah haji. Saat para jamaah memasuki kota Mina, ada ritual wajib yang harus dilakukan, yaitu melempar tujuh butir batu kerikil ke arah jumroh, sebuah bangunan berbentuk tembok panjang. Saat pelemparan dilakukan, tentu makna pokoknya bukan ekspresi kebencian terhadap jumroh yang hanya berupa bangunan mati itu. Namun, ini merupakan simbol penolakan tegas orang beriman terhadap segala bentuk sifat satanik. Ritual ini diambil dari peristiwa sejarah Nabi Ibrahim saat ia mengusir setan yang datang mengganggunya dengan melempari batu kerikil. Peristiwa yang terjadi sekitar 2000 SM ini, kini terus diperagakan sebagai simbol penolakan pada kesesatan. Pada setiap musim haji, tak kurang dari 2,5 juta jamaah dari berbagai bangsa di dunia hadir di kota Mina, “berdemonstrasi� melempar jumroh. Ini tidak saja dimaknai sebagai penolakan pada godaan setan, tetapi lebih dari itu, penolakan terhadap segala bentuk perilaku satanik. Kembali ke soal koin. Apa yang harus

n dar u

ALAMAT TUJUAN? Boks ini berisi koin untuk Prita, dialamatkan ke RS Omni, tapi oleh sang pembawa dibawa ke Langsat.

xii

Setahun Koin Keadilan

dilakukan rakyat Indonesia di saat mereka secara kasat mata melihat proses pengadilan yang dianggapnya berjalan mengikuti jalur-jalur “satanik�? Apakah rakyat harus mengumpulkan kerikil dan melemparkannya ke lokasi proses pengadilan satanik yang tengah berlangsung atau langsung saja para aktor yang memerankannya? Bukankah para penegak hukum yang telah beku nuraninya, sulit berempati pada nasib Prita Mulyasari, seorang ibu yang perutnya berat karena tengah hamil, yang digelandang ke kursi pengadilan hanya gara-gara berkeluh-kesah via e-mail atas perlakuan semenamena RS Omni Internasional Alam Sutra? Alih-alih keluhannya didengar, yang terjadi malah ia dituduh mencemarkan nama baik. Polisi, Jaksa, dan hakim tampak bersekutu, memainkan pasal-pasal hukum formal, dan tak peka lagi pada rasa keadilan (sense of justice). Tak heran bila publik melihat kasus ini sebagai peragaan kedunguan dan kecongkakan. Akibatnya, hukum di Indonesia menjadi tampak begitu timpang. Apalagi, pada saat hampir bersamaan, rakyat Indonesia juga dipertontonkan kasus Nenek Minah dari Banyumas yang divonis 1,5 bulan kurungan dengan masa percobaan tiga bulan hanya karena tuduhan mencuri tiga buah kakao dari kebun milikPT. RSA 4. Belum lagi kasus pengadilan Aguswandi Tanjung yang tengah berlangsung, yang memperagakan absurditas pengadilan dimana seseorang hanya karena tuduhan mencuri stroom listrik saat ia men-charge HP di koridor apartemen Roxy Mas, tempat ia tinggal. Sungguh sepele. Namun publik juga tahu, di balik alasan formal sepele ini, pasti terjadi proses hukum yang tengah bekerja menindas Agusandi Tanjung yang lemah itu, dan sebaliknya akan condong berpihak pada orangorang berduit yang rajin mengeruk keuntungan di atas penderitaan orang lain.


Munculnya kasus bertubi-tubi semacam ini tentu membantu ingatan kolektif rakyat tentang begitu banyaknya peristiwa ketidak-adilan hukum yang pernah menimpa orang kecil. Kita pun teringat kasus Sengkon dan Karta 23 tahun lalu yang secara salah telah divonis masingmasing 12 tahun dan 7 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi Jawa Barat karena tuduhan pembunuhan. Kita pun bertanya, adakah perubahan berarti dalam sistem peradilan kita sejak dua n dar u dasawarsa lalu?Berapa banyak sebenarnya orangorang tak bersalah harus menjalani hukuman di negeri ini hanya karena tembok pengadilan yang selalu berpihak pada orang-orang atau pihak-pihak berduit? Tampaknya publik melihat kasus Prita bukan sekedar gambaran kesesatan kasuistik yang terjadi sporadis tanpa sengaja. Publik telah memahami bahwa kesesatan ini terjadi secara integratif dalam keseluruhan sistem peradilan yang berlaku di negeri ini. Ketidak-adilan yang dirasakan Prita, juga dirasakan banyak orang di kalangan rakyat banyak. Derita Prita bukan karena sekedar ulah “oknum tertentu” yang berkolusi dengan “oknum polisi”, “oknum jaksa” atau pun “oknum hakim,” namun akibat

kebobrokan sistemik lembaga pengadilan secara keseluruhan. Penjelasannya sederhana. Kalau ini akibat ulah oknum, tentu kasus semacam ini tidak sering terjadi. Karena itu, tak mengherankan bila gerakan pengumpulan koin, dengan mudah mengundang partisipasi berbagai kalangan,dari kalangan profesional, ibu rumah tangga, tukang becak, pedagang kaki lima, hingga pemulung sampah. Mereka semua menghendaki perubahan total dalam peradilan di negeri ini. Gerakan Koin Keadilan jelas merupakan simbol luapan kekesalan publik sekaligus ekspresi dambaan akan perubahan substansial. Tidakkah para penegak hukum melihat kegeraman luar biasa di kalangan rakyat? Namun, rakyat Indonesia rupanya masih cukup sopan. Saat meluapkan protes dan rasa geram, mereka terlihat masih enggan mengumpulkan batu kerikil untuk dilemparkan pada para pelaku yang dianggap sebagai biang keladi kesesatan. Mungkin, rakyat tidak ingin serta merta menyamakan semua Polisi, Jaksa dan Hakim sebagai setansetan yang pantas dilempari kerikil sebagaimana dulu Nabi Ibrahim melakukannya terhadap setan. Rakyat menyadari, masih cukup banyak polisi, jaksa dan hakim yang berpotensi baik, dan bersedia

Setahun Koin Keadilan

Namun, rakyat Indonesia rupanya masih cukup sopan. [...] mereka terlihat masih enggan mengumpulkan batu kerikil untuk dilemparkan pada para pelaku yang dianggap sebagai biang keladi kesesatan.

xiii


Ya, mungkin nurani jaksa yang menangani kasus ini memang perlu dicuci. Namun apa bisa? Janganjangan seluruh indra mereka memang telah telanjur mati.

xiv

melakukan perubahan. Karena itu, saat Prita didenda Pengadilan Tinggi Banten sebesar Rp. 204.286.360, protes rakyat cukup diekspresikan dengan sopan, walau pun tentu sangat menusuk bagi yang memahaminya, yaitu dengan mengumpulkan koin untuk membantu putusan tidak adil terhadap Prita Mulyasari. Bila saja rakyat diberi kesempatan berbicara, tentu mereka akan berkata: “walaupun kami hanya memiliki uang recehan, namun kami akan kumpulkan untuk menebus denda Rp. 204 juta yang dikenakan pada Prita.” Mengikuti ceritera ini, harusnya para penegak hukum yang waras di negari ini, merasa terpukul. Gerakan ”koin keadilan” telah menempatkan posisi penegak hukum yang harusnya dihormati rakyat, kini justru dilecehkan dan tidak dihormati. Apa artinya menjadi penegak hukum bila keputusan-keputusan yang dihasilkan bertentangan dengan hati rakyat? Ini sudah ”lampu merah”. Sudah sepantasnyalah para penegak hukum bebenah diri. Tidak ada kata lain kecuali reformasi total pada lembaga peradilan. Bila tidak, jangan menyesal bila kelak, ibu-ibu di saat menjelang tidur menasihati anak-anaknya: ”Bila kelak engkau sudah besar, janganlah engkau bekerja sebagai polisi, jaksa atau hakim. Mereka adalah musuh rakyat.” Wah amit-amit, semoga tidak terjadi! Di tengah rasa pesimis ini,tiba-tiba ada setitik harapan muncul dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang yang diketuai Arthur Hangewa. Pada sidangSelasa 29 Desember 2009, Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan bahwa Prita bebas dari tuntutan hukum. Padahal sebelumnya, Jaksa Riyadi dan Rahmawati Utami menuntut Pritad dengan hukuman enam bulan penjara. Rakyat pun menyambut lega. Para tetangga Pritapun mengadakan acara dang-dutan bersama sebagai

Setahun Koin Keadilan

tanda kegembiraan. Sayang, berita baik ini kembali terkubur oleh langkah pengajuan kasasi yang dilakukan pihak kejaksaan pada 11 Januari 2010. Rupanya pihak kejaksaan belum rela atas putusan bebas murni yang dijatuhkan. Akibatnya, jalan panjang proses pengadilan Prita tanpaknya belum juga berakhir tuntas. Kita pun perlu mengingat ucapan Syamsu Anwar, kuasa hukum PritaMulyasari: ”Kalau Jaksa [berani] melakukan kasasi atas keputusan sidang ini, berarti nurani jaksa tersebut perlu dicuci.” (Kabar Nusantara, 29 Desember 2009). Ya, mungkin nurani jaksa yang menangani kasus ini memang perlu dicuci. Namun apa bisa? Jangan-jangan seluruh indra mereka memang telah terlanjur mati. Saya jaditeringat sebuah ayat Qur’an: Summumbukmun ’umyunfahum la_ yarji’un. Artinya, ”merekatuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (kejalan yang benar)” (Al Baqarah, 18). Wah, mudah-mudahan tidak demikian! Buku kecil ini diterbitkan, tak lain sekadar untuk terus mengingatkan tentang pentingnya mendengarkan suara hati rakyat dan selalu menetapi rasa keadilan. Peristiwa Prita Mulyasari dan gerakan”koinkeadilan” harus menjadi pelajaran kita semua yang mendambakan terwujudnya sistem pengadilan yang baik. Semoga batu kerikil Nabi Ibrahim tidak pernah dilemparkan di Indonesia. Dan semoga tidak ada setan yang mengusai lembaga peradilan di negeri kita.


Bab 1: Keadilan yang Terlukai

“Ini kesempatan dan momen yang tepat bagaimana cara menolong orang-orang yang ingin menegakkan keadilan. Tak hanya untuk Prita, tapi untuk membangkitkan semua orang.� Oma Erna Octobaran Musu (67), seorang relawati yang aktif

Setahun Koin Keadilan

1


n dar u

PENGHITUNGAN KOIN DIMULAI. Tanpa upacara khusus, tiada pidato sambutan, koin dibawa ke tengah karpet lantas dikerumuni, dibuka, dihitung, dikelompokkan, dicatat.

2

Setahun Koin Keadilan


Mereka Diikat oleh Satu Hal: Solidaritas

Cindy Silviana facebook.com/profile.php?id=692124934 Twitter : @cindysilviana

P

rita Mulyasari mungkin tak menduga jika email yang ia kirim ke beberapa temannya menyebar dan berbuntut panjang menghantarnya ke meja hijau. Email itu berisi komentar dan pengalaman buruknya saat mendapat pelayanan dari, RS Omni Internasional. Pihak RS menggugat Prita dengan 2 perkara. Pertama tindak pidana pencemaran nama baik terhadap RS dan para dokternya. Dan gugatan perdata karena dianggap merugikan secara moral dan material RS tersebut. Nilai gugatan perdatanya tak tanggungtanggung, Rp 500 juta. Setahun Koin Keadilan

3


Sederhana tapi Fenomenal! Mampukah mengumpulkan koin hingga tercapai nominal Rp. 204 juta? Kenyataannya, lebih dari angka itu.

4

Kasus ini mengundang perhatian publik, karena Kejaksaan Tengerang, menetapkan Prita sebagai tahanan ketika kasusnya masih dalam penyidikan. Ibu dua anak yang masih menyusui ketika itu, sempat ditahan selama 21 hari. Inilah yang menggores rasa keadilan publik. Jeratan pasal 27 UU ITE yang dikenakan oleh jaksa, menyamakan Prita sebagai seorang kriminal yang mesti ditahan dan harus berisah dengan anak yang masih disusuinya. Perdebatan panjang tentang pengenaan UU ITE mengundang dukungan pengguna internet seperti blogger, facebooker, tweeps dan komunitas online lainnya untuk membantu Prita. Sosok Ibu muda yang mesti dipisahkan dengan bayinya juga mengundang empati kalangan ibu. Di sisi yang lain, layanan kesehatan yang belum sepenuhnya bisa memuaskan pengguna jasa, juga memunculkan kesamaan rasa di masyarakat untuk ingin mengawal perbaikan pelayanan kesehatan. Karenanya, Prita menjadi sosok yang lengkap mewakili aneka interes. Dalam kasus pidana, Pengadilan Negeri Tangerang sudah membebaskan Prita dari segala tuduhan. Meski begitu, keputusan tersebut belum final karena jaksa melakukan upaya banding. Sedang dalam kasus perdata, Prita masih harus menunggu keputusan kasasi. Sebab Pengadilan Tinggi Banten menyatakan Prita kalah dan harus mengganti kerugian RS Omni sebesar Rp 204 juta. Tergerak melihat perjuangan seorang ibu dua anak melawan ketidakadilan itu, maka sejumlah komunitas blogger pun bertindak. Gerakan mengumpulkan koin sampai Rp 204 juta menjadi sebuah gagasan yang menarik dan disambut banyak pihak. Meski bukan suatu hal yang baru, gerakan ini menjadi fenomenal, saat seluruh rakyat berbondong-bondong ikut membantu, mulai dari

Setahun Koin Keadilan

kelas atas hingga kelas bawah, dari Jakarta hingga ke berbagai pelosok daerah, dari generasi muda hingga tua, berbagai profesi baik karyawan, guru, siswa,pedagang, politikus, bahkan pemulung ikut meyumbangkan dana. Diantara mereka, banyak yang merasa senasib bahwa keadilan belum ditegakkan sepenuhnya. Gerakan ini menjadi momen yang penting untuk menggebrak dan membuktikan kekuatan masyarakat melawan ketidak adilan. “Jangan sampai ada Prita yang lain. Cukup satu Prita saja�. Dua Ratus Empat Juta Rupiah Uang ratusan juta itu harus ditanggung seorang Prita Mulyasari akibat tuntutan pihak RS Omni Internasional atas gugatan perdata pencemaran nama baik melalui surat elektronik (e-mail) yang ia kirimkan ke teman-temannya. Namun, tak ada yang menduga jika gugatan perdata tersebut mendapat reaksi yang luar biasa dari masyarakat hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Sederhana tapi Fenomenal! Mampukah mengumpulkan koin hingga tercapai nominal Rp. 204 juta? Kenyataannya,lebih dari angka itu. Bantuan datang dari berbagai pihak. Mulai dari komunitas blogger, kaum ibu, para pelajar, politikus, bahkan pemulung pun turut merogoh koceknya untuk Prita. Motivasi para relawan bermacammacam, ada yang iba, pernah mengalami kasus yang serupa, namun satu tujuan, melawan ketidakadilan dengan gerakan kepatuhan. Ya. Patuh, karena tidak destruktif, tidak ada pembangkangan. Bahkan mematuhi putusan denda yang ditetapkan hukum, yang “dianggap� tidak adil dengan membayar secara patungan. Gerakan ini secara positif, dapat menyadarkan betapa kuatnya solidaritas masyarakat Indonesia


f o t o - f o t o : n dar u

untuk saling membantu melawan ketidakadilan itu. Dan koin menjadi sebuah simbol, dia adalah uang receh yang tak dianggap perlu. Dia sering tercecer di lantai, di sudut ruang, bahkan di tempat yang tak diingat oleh pemiliknya. Satu keping mungkin nilainya tak berarti, namun saat koin dikumpulkan, arti nilai itu tak hanya dapat melunasi tuntutan, tetapi juga menggerakan aspirasi dan simbol kekuatan rakyat. Gerakan ini juga mengajarkan bahwa dengan hal yang sederhana dan dapat dilakukan semua orang, dan memberi efek yang besar bagi beberapa pihak. Dimana keadilan direcehkan. Di Jakarta dan sekitarnya, pengumpulan koin tak hanya dilakukan di Langsat dan Kantor Milis Sehat saja. Ada puluhan posko yang melakukan pengumpulan secara bersamaan. Di Tebet, Dicky Darwis, seorang blogger, mendirikan posko. Di Bintaro, Meruya, Pramuka, kantor-kantor pemerintah, swasta, bahkan pangkalan ojek dan pasar tradisional. Di Bekasi, Tangerang, Depok sampai Cilegon. Posko-posko tersebut akhirnya mengirim hasil pengumpulan koinnya ke Langsat. Pengumpulan koin tak hanya terjadi di Jakarta saja, teman-teman dari luar daerah ikut membantu berjalannya gerakan ini secara sukarela. Masingmasing memiliki cerita seru yang mungkin belum banyak diketahui dan terekspos media massa. Di sini, kami paparkan beberapa bagian menarik yang terjadi di beberapa posko di beberapa daerah. Mulai dari pengumpulannya hingga beberapa kesulitan pengiriman koin ke Jakarta. Memanfaatkan momen penting tampaknya cukup efektif untuk mengumpulkan koin, apalagi bagi Komunitas blogger Bali Orange Communication, Sloko Institute, Manikaya Kauci, dan lainnya yang berada di Pulau Dewata. Kotak koin diedarkan saat diskusi

hari peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional di Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) pada 10 Desember 2009. Adapun yang mengamen dan mengumpulkan koin di kantornya. Hampir sama dengan teman-teman di Bali, mereka yang berada di Medan juga mengumpulkan koin saat berlangsung dengan aksi AntiKorupsi sedunia pada 9 Desember di Medan. Ratusan massa dari elemen buruh, organisasi kemahasiswaan, hingga pengamen jalanan turun ke jalan untuk memperingati hari Anti Korupsi. Dalam aksinya massa juga mengumpulkan koin untuk Prita Mulyasari. Kotak putih bertuliskan “Kotak Koin Prita� dibawa pengamen jalanan. Kotak dijalankan diiringi lagu yang dibawakan lima pengamen dengan alat musik gitar dan gendang. Salah seorang pengamen, mengakui, pengumpulan Koin Prita, sebagai bentuk pembelaan terhadap proses hukum yang dijalani Prita (Tempointeraktif.com,

Setahun Koin Keadilan

BOCAH PUN TERLIBAT. Tak sedikit anak-anak yang ikut membantu, sebagai relawan penghitung koin, dengan setahu dan bahkan diajak orangtuanya.

5


f o t o - f o t o : n dar u

DATANG, BERGABUNG, MENGHITUNG. Para relawan bekerja bergantian, tanpa jadwal gilir, sejauh badan mendukung dan agenda pribadi menenggang. Dari pagi hingga pagi.

6

Rabu, 09 Desember 2009, 13:12 WIB) Tak kalah dengan beberapa kota besar lainnya, gerakan pengumpulan koin juga berlangsung di Palu, Sulawesi Tengah. Gerakan ini dipelopori oleh Dian Candra Anggraeni (38), seorang guru Information and Communication Technology (ICT) yang mengajar di sebuah sekolah berbasis ICT. Kala itu, Dian tengah mengajarkan cara menyampaikan aspirasi dan pendapat melalui email, blog, dan chatting kepada murid-murid SMP. Terlintas di benaknya, kasus Prita yang berawal dari email. Para murid pun tampak antusias dan mengirim dukungannya kepada Prita lewat internet. Kabar mengenai gerakan pengumpulan koin mulai terngiang di telinga Dian, terlintas dalam pikirannya untuk melakukan hal yang sama di Palu. Sambutan hangat pun muncul dari berbagai pihak, seperti para guru, murid bahkan orangtua murid. Hingga akhirnya, SMP Negeri Model Terpadu Madani menjadi tempat pengumpulan

Setahun Koin Keadilan

koin keadilan Prita di Sulawesi Tengah. Ketika koin terkumpul dan siap dikirim, temanteman dari Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri menemui kendala saat akan mengirimkan ke Jakarta. Berbekal dengan nomor rekening Bank Mandiri yang telah diinformasikan, Ira dan Ntan pergi ke Bank Mandiri terdekat untuk menyetor. Teller-nya sempat terbelalak kaget karena yang disetor semuanya koin. Namun, giliran mereka yang terkejut karena untuk mentransfer koin harus memenuhi regulasi khusus BI yang sangat tidak mungkin dilakukan, melihat suasana antrian yang begitu panjang. Namun beruntunglah sebuah perusahaan jasa pengiriman, Tiki JNE, bersedia mengirimkan semua koin yang terkumpul dari seluruh penjuru negeri ini menuju Langsat, tanpa sepeser biaya pun. JNE tanpa pamrih mendukung gerakan ini. “Itulah yang kami bisa untuk mendukung gerakan pengumpulan koin untuk keadilan,� ujar Sylvia, PR Manager JNE.


Sylvia sangat tergerak ketika menyimak pemberitaan seputar pengumpulan koin. Secara sepontan dia mengirimkan surat kepada koinkeadilan.com, untuk ikut membantu gerakan ini. Berikut adalah surat Sylvia. Pejuang Koin

Senang sekali bila JNE dapat ikut berperan untuk pengumpulan Koin Keadilan. Sebagaimana yang kami sampaikan bahwa teknis pelaksanaan yang dapat kami lakukan adalah sebagai berikut: 1. JNE Jakarta akan meinformasikan kepada semua cabang JNE di seluruh Indonesia bahwa akan ada penyerahan Sejumlah Koin oleh personil yang identitasnya akan kami sampaikan kemudian. Sosialisasi akan kami lakukan bilamana kami telah mendapatkan data berikut nominal yang akan diserahkan. 2. Melalui pimpinan cabang JNE di masingmasing daerah koin akan ditukar dan Dana akan ditransfer ke rekening yang juga akan kami informasikan kemudian. 3. Bila dilakukan serentak, JNE JKT membutuhkan waktu 2 (dua) hari setelah masa serah terima koin kepada JNE di daerah untuk diserahkan kepada POSKO di Jakarta. Demikian yang dapat kami sampaikan. Mohon konfirmasi secepatnya beserta data lengkap seperti nama contact person disetiap daerah, no contact dan nominalnya. Terima kasih, Sylvia Public Relations Manager JNE www.jne.co.id

Andaikata mereka tak ada Seorang ibu ‘kan jatuh dalam keputusasaan menghadapi ketidakadilan Andaikata mereka tak bersatu padu Solidaritas rakyat kecil mungkin tak ‘kan terasa Andaikata mereka tak punya ketekad’an hati Ketidakadilan makin merajalela Hati yang tulus, jiwa yang berani, kebersamaan yang tinggi Pejuang tanpa tanda jasa Merekalah... sang pejuang koin... Sepenggal puisi diatas merupakan cerminan bagi para pejuang koin yang telah mengorbankan waktu, materi, tenaga, dan pikiran sehingga terbentuk dan berjalannya gerakan koin keadilan Prita ini. Sebenarnya semua relawan yang turut berpartisipasi dalam menyumbang maupun menghitung koin merupakan para pejuang koin. Tak ada status atau perbedaan kelas disini. Mulai dari pemulung, tukang sapu, mahasiswa, guru, publik figur, dan blogger turut berpartisipasi dan menjadi pejuang koin. Beberapa di bawah ini menjadi kisah pejuang koin yang mewakili pejuang koin lainnya. Opa Koin Selama 3 hari penghitungan koin, selalu nampak hadir lelaki tua tetapi masih sangat bersemangat. Dia adalah Yos Sudarso, 71 tahun. Dia tergerak untuk membantu penghitungan koin setelah melihat berita di TV. “Saya ingin membalas budi dengan bantuan yang sudah saya terima,” katanya. Siapa yang membantu? Dia lalu berkisah, di masa lalu ia pernah mengalami perlakuan hukum yang dirasanya tidak adil. Ketika itu dia masih menjadi karyawan sebuah

“Bantuan dari masyarakat saat saya membutuhkan itu, tidak pernah akan saya lupakan,” ujarnya. [...] dengan suka rela membantu penghitungan koin sampai dini hari, selam 3 hari berturutturut.

Setahun Koin Keadilan

7


n dar u

n dar u

OPA DAN OMA KOIN. Yos Sudarso (71) dan Erna Octobaran Musu (68), dua relawan yang selalu bersemangat. Usia bukan masalah. Malah mereka menyemangati yang muda-muda.

perusahaan farmasi. Yos, memprotes penyediaan rumah untuk karyawan yang dirasa tidak sesuai dengan bestek. Protes Yos dilakukan mengirimkan surat kepada direksi. Hasilnya, protes tak digubris, malah dia dipecat. Dia lalu menceritakan pengalamannya di surat pembaca sebuah media. Dukungan dan rasa empati, mengalir padanya, termasuk Pemerintah Jerman yang memberikan pekerjaan pada Opa Yos – begitu para relawan memanggil – hingga usia pensiun. “Bantuan dari masyarakat saat saya membutuhkan itu, tidak pernah akan saya lupakan,� ujarnya. Karenanya dia dengan suka rela membantu penghitungan koin sampai dini hari, selam 3 hari berturut-turut. Opa Yos termasuk salah satu relawan yang rajin dan tak pernah absen menghitung ribuan

8

Setahun Koin Keadilan

bahkan jutaan keping koin keadilan. Dari pagi hingga malam. Terkadang sambil diselingi canda dan cerita masa lalunya kepada relawan lain. Banyak para relawan yang membantu karena memiliki pengalaman yang sama seperti apa yang Prita alami. Dan ini menjadi salah satu motivasi mereka untuk menolong Prita. Bukan karena hanya rasa kasihan, mereka tak tahan dengan ketidakadilan sehingga melalui gerakan ini, mereka bersatu padu menggalang kekuatan melawan ketidakadilan dengan koin. Oma Koin Ada opa, ada juga Oma Koin. Sejak hari pertama hingga hari terakhir, Oma yang satu ini selalu meluangkan waktunya menghitung koin bersama para relawan lainnya. Ditemani sang cucu Azzahara, Oma termasuk pejuang koin yang


Figur Publik Artis dan publik figur identik dengan kehidupan mewah dan serba sibuk. Namun, hal ini tampaknya berbeda bagi Indah Sita Nursanti, atau yang dikenal dengan Sita RSD. Melalui media massa, Sita sering mengikuti kasus Prita dan melihat betapa besar solidaritas masyarakat Indonesia . Ditengah kesibukannya sebagai penyanyi dan penyiar radio, Sita menyempatkan diri datang dan membantu menghitung koin bersama relawan lainnya. Senin siang (14/12/2009), sekitar pukul 14.00 WIB, Sita yang baru selesai bekerja di salah satu radio yang berlokasi di Jalan Thamrin, pergi

n dar u

selalu memberi motivasi dan semangat kepada relawan lainnya. Oma mendengar kasus Prita dan pengumpulan koin melalui media massa. Bagi Oma Erna Octobaran Musu (67) ini adalah momen yang tetap untuk berpartisipasi dan membantu orang lain. “Ini kesempatan dan momen yang tepat bagaimana cara menolong orang-orang yang ingin menegakkan keadilan. Tak hanya untuk Prita, tapi untuk membangkitkan semua orang,” ujarnya. Menurutnya, sangat mudah mempersatukan rasa solidaritas masyarakat Indonesia ketika ada kemauan dan keikhlasan dalam diri kita untuk membantu. Bagi Oma, gerakan ini selain menumbuhkan rasa persatuan, juga sarana mendapat beberapa teman baru, seperti Tante Pretty dan Tante Frida yang mempunyai satu motivasi yang sama. Bersama kawan-kawan “seperjuangan”, suasana penghitungan koin menjadi ceria dan hidup. Kadang-kadang jika koin yang dihitung telah habis, mereka meneriakkan “Koin! Koin! Koin!” , tak sabar menunggu menghitung kepingan koin selanjutnya.

menuju ke Jalan Langsat, markas koin berada. “Waktu itu saya tak bisa bantu banyak di hari pertama penghitungan koin. Datang pun tak membawa koin, tapi saya ingin ikut serta. Senang aja gitu ada kepedulian sangat besar,” ujarnya yang mengaku belum pernah bertemu Prita secara langsung. “Senang sekali rasanya jika bisa bertemu dengan Prita,” lanjutnya. Meski belum pernah mengalami kejadian seperti Prita, namun ia mengaku merasakan banyak orang yang mempunyai cerita yang serupa, kecewa terhadap pelayanan institusi. Dari gerakan ini, ia melihat ketika kekuatan rakyat bersatu padu, efeknya sangat luar biasa dan perlu dijadikan gerakan yang kontinu. “Yang harus dilanjutkan adalah bagaimana kita menjadi peka terhadap apa yang terjadi di sekitar kita,” tambahnya. Mungkin selain Sita, masih banyak artis atau publik figur yang turut berpartisipasi menyumbangkan materi, tenaga, dan waktu

Setahun Koin Keadilan

PULANG SEKOLAH. Dua siswi SMA Tarakanita I, Jakarta Selatan, mendaftarkan diri sebagai relawan dan langsung bekerja bersama temantemannya.

9


Komunitas Koin (Komunitas Orang Indonesia), begitu mereka menyebut, didirikan tanpa ketua, wakil mapun pengurus lainnya. Dasarnya adalah setelah mengalami kerja bareng...

10

luangnya di tengah kesibukan mereka sebagai publik figur, seperti para penyanyi yang sukarela memberi suaranya dalam konser Koin Keadilan Untuk Prita yang menjadi ajang solidaritas para musisi melawan ketidakadilan. Kaum Pelajar Saat di markas koin, para kaum muda yang terdiri dari mahasiswa perguruan tinggi dan dosen datang untuk ikut menghitung koin. Di antaranya berasal dari Universitas Dokter Moestopo (Beragama), STIKOM The London School of Public Relations Jakarta, dan beberapa perguruan tinggi dan SMA lain. Sekitar 20 mahasiswa dari Universitas Moestopo dari fakultas Ilmu Komunikasi datang bersama dengan sang dosen, Ajeng (29), yang mengajak para mahasiswanya untuk dapat membantu menghitung koin. “Seenggaknya gak memberi materi, tapi bisa bantu dari tenaga,� ujar Akbar Garis, salah satu mahasiswa Moestopo yang datang dengan bus bersama teman-temannya. Saat itu, mereka sebenarnya bolos pelajaran yang dibimbing oleh sang dosen itu sendiri. Tak jauh berbeda, rombongan mahasiswa dari STIKOM LSPR juga datang untuk ikut membantu menghitung. Mereka menceritakan, salah satu dosennya, Silih Agung Wasesa, mengatakan bahwa di markas koin yang berjalan di Jalan Langsat membutuhkan banyak tenaga untuk menghitung koin. Mendengar itu, hati mereka tergerak dan berupaya membantu setelah selesai jam kuliah. Di saat mereka sebenarnya mempunyai waktu bersenang-senang pergi ke mal dan jalan-jalan, mereka meluangkan waktu untuk membantu sesama.

Setahun Koin Keadilan

Komunitas Koin Di Langsat, lebih 350 orang relawan penghitung koin dipertemukan. Mereka semula tak saling kenal. Namun kerja sosial selama 4 hari telah memunculkan hasrat kebersamaan yang begitu kuat. Mereka tak ingin kebersamaan itu berakhir ketika gerakan pengumpulan koin ini usai. Komunitas Koin (Komunitas Orang Indonesia), begitu mereka menyebut, didirikan tanpa ketua, wakil mapun pengurus lainnya. Dasarnya adalah setelah mengalami kerja bareng, mereka merasa cocok, mereka secara intensif melkukan komunikasi melalui telepon dan jejaring sosial. Anggota mereka sangat beragam dalam usia. Ada Oma Erna yang sudah sepuh, Tante Pretty dan Frida yang tengah baya, mahasiswa seperti Cindy, pelajar SMA seperti She, sampai anggota Iwan Fals Fan Club. Komunitas ini setelah usainya gerakan pengumpulan koin, sudah dua kali berkumpul. Oma Erna dan Tante Frida adalah figur yang bisa menyatukan mereka. Dalam setiap pertemuan keduanya rajin menanyakan anggota yang tidak datang melalui telepon genggamnya. Memang belum ada rencana komunitas ini akan bergerak di bidang apa. Yang pasti, “Kalau ada gerakan seperti Koinkeadilan, kami akan siap membantu. Kami akan memberikan apa yang kami bisa untuk kegitan sosial, membantu sesama yang membutuhkan,� ujar Tante Frida.


Bab 2: Melawan dengan Kepatuhan “Koin Prita membuktikan satu hal: rakyat dapat melawan kesewenangan dengan cara damai. Nggak pake huru-hara. Kehidupan nafkah khalayak nggak keganggu. Para tuan besar pun terusik.� Seorang relawan dalam sebuah percakapan di Wetiga, Desember 2009

Setahun Koin Keadilan

11


F O T O : ba n demp o

DUKUNGAN SAAT BERDISKUSI. Obrolan Langsat 9 September 2009, tiga bulan sebelum gerakan pengumpulan koin, menampilkan Prita sebagai narasumber. Para pengguna Twitter, baik yang hadir maupun memonitor dari tempat lain, membulatkan dukungannya untuk Prita. Semua kicauan disiarkan secara langsung melalui proyektor. Dunia nyata dan maya pun bersua dan menyatu.

12

Setahun Koin Keadilan


Prita I, Prita II, Koin Keadilan, dan Jejaring Langsat Enda Nasution enda.goblogmedia.com Facebook: enda.nasution Twitter : @enda

T

idak akan lengkap uraian dan catatan ini tanpa menceritakan sedikit tentang apa itu Jejaring Langsat, yang berasal dari nama jalan tempat dagdigdug.com, sebuah penyedia layanan blog, berkantor. Layanan yang lahir setelah Pesta Blogger 2007 itu memiliki alamat lengkap di Jalan Langsat 1 no 3A. Di kantor inilah kegiatan-kegiatan yang diberi nama sebagai kegiatan Jejaring Langsat berlangsung. Kini DDD, begitu dagdigdug biasa disebut, adalah juga rumah bagi sekumpulan situs participatory lainnya seperti Politikana.com dan Ngerumpi.com. Setahun Koin Keadilan

13


STANDING BANNER. Penanda acara diskusi bersama Prita, 9 September 2009, tiga bulan sebelum gerakan koin. Karena pembuatan materi terburu-buru, maka logo Obrolan Langsat menggunakan versi yang tidak resmi. :)

14

Bagian yang tidak dapat dilepaskan dari tempat ini adalah juga keberadaan warung angkringan selepas waktu kantor yang berada di pelataran parkir kantor mungil tersebut. Warung Angkringan dengan nama Wetiga (wetiga.com), yang merupakan singkatan dari Warung Wedangan Wi-Fi ini, memberi ruang fisik bagi keberadaan temanteman penggiat dunia maya untuk bertemu muka secara langsung, anjangsana, kangen-kangenan dan bertemu orang-orang baru. Sebuah kualitas pertemuan dengan intensitas yang, hingga sekarang pun, tetap tidak bisa digantikan oleh hubungan yang terjadi di dunia maya. Dari kantor dan kemudian pelataran parkir itulah, melalui jaringan pertemanan yang kebanyakan adalah teman-teman yang berkecimpung di dunia online, dan niatan, ujung-ujungnya, tentu ingin melihat negri yang lebih baik, teman-teman saling berkiprah dengan aktifitasnya masing-masing, dengan Langsat sebagai salah satu wahana yang dapat dimanfaatkan. Tidak ada organisasi yang formal, apalagi ketua umum di Jejaring Langsat. Yang ada adalah, meminjam judul buku karangan David Weinberger, Small Pieces Loosely Joined (smallpieces.com), sebuah jejaring yang merupakan refleksi dari dunia maya, tanpa sebuah otoritas sentral, yang terkait satu sama lain, menganut nilai-nilai yang sama, bekerja tanpa sadar bersama. Siapapun dapat hadir, dan dinanti kedatangannya. Setelah berdiskusi, berdebat ramai di milis, blog, Facebook, maupun Twitter, peserta perdebatan dapat berkumpul bersama, melihat mata masingmasing dan tersenyum sambil menikmat hidangan teh wedang ditemani dengan sego kucing.

Setahun Koin Keadilan

Obrolan Pertama itu Dalam beberapa kesempatan obrolan di Wetiga, markas Jejaring Langsat seringkali dijadikan tempat untuk melakukan kegiatan offline, baik sosialisasi sebuah program, meetup komunitas online, event promosi, baik yang resmi maupun tidak resmi. Salah satu kegiatan offline juga, yang diinisiasi oleh penghuni Jejaring Langsat sendiri adalah yang diberi nama Obrolan Langsat (www.facebook. com/obrolanlangsat dan obrolanlangsat.com). Obrolan Langsat adalah sebuah forum offline yang ”agak” berformat, di mana diskusi dilakukan dengan agak rapih mengingat waktu yang terbatas. Dalam diskusi-diskusi Obrolan Langsat, biasanya dihadirkan narasumber dan dipandu oleh seorang moderator. Pak Boediono, Wakil Presiden RI, sebelum menjadi Wapres pernah hadir di sebagai salah satu narasumber Obrolan Langsat dengan tema ”Budiono Menjawab” pada tanggal 26 Mei 2009. Begitu juga dengan Pak Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Wakil Ketua KPK yang hadir di Obrolan Langsat dengan tema ”Bubarkan KPK?” di tanggal 28 Juli 2009. Prita Mulyasari sendiri pernah hadir sebagai narasumber di Obrolan Langsat 4, di tanggal bulan puasa, 9 September 2009, sebelum gerakan Koin Keadilan lahir dalam episode bertema “Menjaga Kebebasan Berekspresi (Belajar dari Kasus Prita)”. Tapi Obrolan Langsat yang bersejarah adalah Obrolan Langsat pertama tanggal 25 Mei, yang diadakan di Es Teler 77, Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, yang mengambil tema UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik, lihat di http://bit.ly/aNJ9L0) dimana kita pertama kali mendengar tentang kasus Prita Mulyasari. Narasumber dalam episode perdana saat itu


menghadirkan Anggara Suwahju (anggara. org), Ari Juliano Gema (arijuliano.blogspot. com) yang masing-masing adalah blogger yang berkiprah di dunia legal dan juga Edy Cahyono (caplang.net) sebagai salah seorang blogger yang mengajukan Pengujian UU ITE ke Mahkamah Konstitusi Dalam diskusi yang tengah berlangsung itulah, muncul informasi pertama tentang Prita Mulyasari, seorang ibu yang saat ini dalam kondisi sebagai tahanan pengadilan dengan tuduhan melanggar UU ITE, walaupun sebenarnya Tempo sudah menurunkan berita tentang Prita ini sejak Oktober 2008 (http://bit.ly/dvmdaz). Mulai informasi ini dimulai maka teman-teman mulai menyuarakan gerakan untuk membebaskan Prita Mulyasari dari tahanan dan menggugurkan tuduhan terhadap Prita. Gerakan ini dikoordinasi dari blog ibuprita. suatuhari.com (saat ini sudah tidak ada lagi, domainnya berganti pemilik, isinya berbeda) yang menyediakan informasi terkini, banner untuk dipasang di blog masing-masing dan mengkoordinasi gerakan pembebasan Prita Gerakan pembebasan lainnya juga terbentuk di Cause Facebook �Dukungan bagi Prita Mulyasari� (http://apps.facebook.com/causes/290597) yang mengumpulkan dukungan dengan sangat cepat, saat ini tercatat ada 388.531 pendukung, seratus ribu orang terkumpul dalam waktu kurang dalam satu minggu. Sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di ajang Facebook Indonesia saat itu. Sebuah media komunikasi lain juga terbentuk seperti Milis Keadilan untuk Prita (http://groups. google.com/group/keadilan-untuk-prita)

Gerakan online di tahap ini selain dengan meningkatkan kesadaran akan masalah Prita Mulyasari melalui kanal-kanal social media seperti milis, forum, facebook, twitter dan juga memasang banner dukungan. Para pendukung juga dalam sebuah gerakan mengirikan email keberatan bersama di tanggal 2 Juni, bersama-sama membanjiri akun email RS Omni dan pengacara dari RS Omni sebagai sebuah bentuk protes Dibantu dengan bantuan liputan media yang gencar, termasuk di koran, radio dan stasiunstasiun TV, serta suasana politik pada saat itu menjelang pemilu, dimana masing-masing kandidat menunjukkan juga simpatinya pada Prita membuat dalam waktu 9 hari sejak Obrolan Langsat dan gerakan dimulai Prita sudah dibebaskan dari tahanan pada tanggal 3 Juni dan memperoleh status tahanan rumah.

PENGGALANGAN. Aslinya poster ini berukuran 30 x 40 cm, dibuat oleh seorang blogger. Versi untuk web disebar, termasuk via Facebook. Dibuat pada 3 Juni 2009, saat sidang berlangsung di Pengadilan Negeri Tangerang, enam bulan sebelum gerakan koin.

Kasus Belum Selesai Kebebasan terbatas yang dimiliki Prita sejak tanggal 3 Juni, disadari betul sebagai sebuah kondisi sementara, karena kasus penuntutan Prita masih menggantung di Pengadilan Negeri Tengerang. Kekhawatiran yang dirasakan adalah ketika tekanan publik dan media tertutupi oleh isu lain yang berakibat pada diputuskannya Prita bersalah atas tuduhan yang dilemparkan. Untuk tetap mengingatkan publik pada kasus Prita, maka Obrolan Langsat IV, mengundang Prita untuk hadir di Langsat di bulan September 2009 untuk membahas dan berbagi tentang kemajuan dari kasus yang sedang berjalan tersebut. Prita II dan Koin Keadilan Sambil persidangan yang terus berjalan, baik di pengadilan pidana maupun perdatanya, di tanggal 2

Setahun Koin Keadilan

15


Dana dalam bentuk koin yang akhirnya terkumpul adalah sejumlah Rp 650 juta rupiah, ditambah dengan bentuk dukungan lain menjadi Rp 815 juta rupiah yang diserahkan pada Prita Mulyasari.

16

Desember 2009, kita mendengar kabar bahwa Prita Mulyasari ditemukan bersalah dalam kasus perdata oleh PN Tangerang dan diharuskan membayar denda Rp 204 juta. Keputusan dan denda yang belum memiliki kekuatan hukum penuh inilah (karena masih dapat naik banding lagi) yang mengingatkan dan membuat masyarakat bereaksi keras terhadap permasalahan kasus Prita Mulyasari kembali. Dari ide yang berkembang dan lahir dari percakapan di Milis Sehat (http://health.groups. yahoo.com/group/sehat/) timbul gagasan untuk mengumpulkan uang receh (koin) dari masyarakat untuk membayar denda Rp 204 juta tersebut. Ide yang bergulir ini juga ditangkap oleh Jejaring Langsat dengan membuat situs dukungan dengan nama gerakan Prita II ini yaitu Koin Keadilan yang beralamat di http://koinkeadilan.com yang lahir di hari Jumat tanggal 5 Desember, tiga hari setelah dijatuhkannya keputusan bersalah dan denda Rp 204 juta. Situs koinkeadilan.com dimaksudkan untuk mengkoordinasi informasi tentang gerakan Koin Keadilan dari semua elemen masyarakat yang hendak membantu, termasuk juga mengkoordinasikan informasi tentang Posko-Posko koin yang bermunculan di puluhan kota di Indonesia. Dengan memilih semboyan �ketika keadilan direcehkan, kita pun mengumpulkan receh�, aksi pengumpulan koin bermunculan di banyak tempat, kota, kantor maupun sekolah. Dukungan teman-teman media tidak kalah hebatnya, TV One bahkan merelakan studionya di Wisma Nusantara untuk menjadi salah satu posko pengumpulan koin. Teman-teman media lain juga menurunkan liputan yang tidak kalah gencarnya. Tokoh-tokoh publik dari berbagai kalangan juga

Setahun Koin Keadilan

hadir mengumpulkan koin dan dalam kapasitas mereka masing-masing. Penghitungan koin kemudian dilakukan di pelataran parkir Jejaring Langsat dengan meminta bantuan dari para relawan dari tanggal 14-17 Desember 2009 yang total menghadirkan sekitar 300 relawan koin dari orang tua, kakek-nenek, komunitas Iwan Fals hingga mahasiswa. Semua bahu membahu, dengan dukungan logistik, makanan dan minuman yang juga hasil sumbangan, menghitung koin tanpa lelah dari pagi hingga dini hari. Komunitas musisi, dikoordinir oleh Adib Hidayat dari majalah Rolling Stones Indonesia dan Andre Opa dari Trax mengadakan Konser Koin Keadilan di tanggal 20 Desember dengan dukungan puluhan artis dan musisi terkenal, dimana ajang musik tersebut juga menjadi tempat untuk mengumpulkan dana yang kemudian disumbangkan ke gerakan Koin Keadilan. Koin sudah menggunung di Langsat dan akhirnya di tanggal 23 Desember, gunungan koin tersebut diangkut ke BI, dengan dukungan dari Bank Mandiri juga, untuk dimasukkan dan diserahkan ke Prita secara langsung. Dana dalam bentuk koin yang akhirnya terkumpul adalah sejumlah Rp 650 juta rupiah, ditambah dengan bentuk dukungan lain menjadi Rp 815 juta rupiah yang diserahkan pada Prita Mulyasari Gerakan Koin Keadilan, selain sebuah gerakan pengumpulan dana juga berupa gerakan protes dari publik terhadap jalannya proses hukum di Indonesia ini juga, perjuangan mempertahankan kebebasan berekspresi sebagai sebuah individu dan juga sebagai konsumen. Mereka yang hadir dan mendukung gerakan Koin Keadilan, gemas dan gatal untuk melakukan sesuatu agar Indonesia jadi lebih baik. Gemas dan


f o t o - f o t o : r . m . a n tem o n o

gatal ingin memperjuangkan dan melihat kebenaran akan hadir di bumi pertiwi. Sambil gerakan Koin Keadilan berjalan, dengan respon yang luar biasa dari publik, RS Omni akhirnya menyadari mereka berada di sisi yang tidak mungkin menang di hati masyarakat dan menyatakan untuk mencabut gugatan perdata mereka. Pada tanggal 29 Desember 2009, para penggiat Koin Keadilan, hadir bersama-sama relawan koin di Persidangan Pidana Prita di PN Tangerang untuk mendengarkan keputusan majelis hakim atas kasus pidana yang dituduhkan pada Prita Mulyasari. Majelis Hakim menyatakan bahwa Prita tidak bersalah dan dinyatakan bebas demi hukum! Perjuangan belum selesai. UU-ITE akar masalah dari kasus ini belum tersentuh, dan dukungan publik tidak bisa terus menerus diharapkan untuk semua kasus. Tapi minimal, di kesempatan ini, dalam kasus ini, kebenaran sudah menemukan jawabannya.

NYATA, MAYA, NYATA. Sebetulnya pengertian "dunia maya" dalam beberapa kasus itu perlu dipertanyakan. Diskusi dengan Prita 9 September 2009, dua bulan sebelum Koin Keadilan, itu nyata tapi digemakan di media sosial. Demikian pula poster dukungan untuk Prita saat itu, yang dicetak terbatas tapi disdebarkan di media sosial sehingga sempat menjadi avatar banyak orang.

Setahun Koin Keadilan

17


n dar u

ANAK-ANAK . Bisa saja muncul pertanyaan layakkah melibatkan anak-anak, atau membiarkan anak-anak terlibat, dalam gerakan sosial dan terlebih politik? Kasus Prita bisa kita timbang, dan sejauh ini masyarakat punya kearifan mana yang layak dan mana yang tidak. Karena paparan media, banyak anak menyerahkan celengannya, dan tak sedikit yang mengantarkan sendiri koinnya dengan diantar orangtua masing-masing.

18

Setahun Koin Keadilan


Sebuah Ringkasan Komikal tentang Prita

Cah Ndableg politikana.com/profil/ndableg.html ndableg.com Twitter : @cah_ndableg

M

ari mencoba mempersegar ingatan melalui komik ringkas, untuk memahami apa yang sebetulnya terjadi. Bahkan hanya dengan menyimak komik ini Anda langsung mengenali pokok masalahnya. Mari...

Setahun Koin Keadilan

19


RANJAU PENGANCAM. Kasus Prita mengingatkan banyak orang tentang ranjau bernama UndangUndang Informasi dan Transaksi Elektronik, terutama pasak 27 ayat 3. Pasal itu melawan prinsip kebebasan menyatakan pendapat. dan bisa menjerat seseorang dengan tuduhan penghinaan.

20

Setahun Koin Keadilan


•

Setahun Koin Keadilan

21


••

22

Setahun Koin Keadilan


•••

Setahun Koin Keadilan

23


••••

24

Setahun Koin Keadilan


•••••

Setahun Koin Keadilan

25


••••••

26

Setahun Koin Keadilan


Bab 3: Langsat, Sebuah Tempat “Ini posko satgas partai apa sih? Kok nggak ada yang pake seragam? Kalo ini rumah, kok kayak kantor? Tapi... kok santai banget malah ada yang bercelana pendek?� Seorang relawan yang baru datang bertanya kepada seorang warga Rumah Langsat, pada hari kedua penghitungan koin.

Setahun Koin Keadilan

27


f o t o - f o t o : n dar u

DARI JAUH. Dari segala penjuru koin berdatangan ke Rumah Langsat. Tentu selain Langsat ada juga pos-pos lain yang di luar Jakarta. Para pemberi yakin bahwa bantuan akan disalurkan.

28

Setahun Koin Keadilan


Kebun Binatang Bernama Langsat

Antyo Rentjoko antyo.rentjoko.net Facebook: antyo.rentjoko Twitter : @pamantyo

“M

au dibawa ke mana, sih?” tanya juragan teh botolan di Gandaria, Jakarta Selatan, itu sambil mendorong troli pemuat tumpukan krat ke mobil pengangkut. “Ke Langsat,” jawab saya. “Oh, itu tempat koin Prita ya?” “Kok tahu?” “Iya, di TV kan nongol terus. Tempat ngumpulin koin dibilang di Langsat. Rumah siapa itu?”

Setahun Koin Keadilan

29


Maka hasilnya, sosok Langsat menjadi tidak penting – seperti yang kami inginkan. Bahkan relawan yang berasal dari kalangan nononline pun tak peduli itu rumah apa dan siapa.

30

Sebagai orang Gandaria dia sudah lama tahu ada jalan bernama Langsat, dekat Lab School Kebayoran Baru. Tapi orang Jakarta lainnya, bahkan di Selatan, belum tentu tahu karena Jalan Langsat itu kecil. Malah banyak orang lebih tahu Jalan Radio Dalam ketimbang Jalan Ahmad Dahlan, padahal kedua jalan itu satu poros. Rumah siapa di Langsat? Tentu bukan rumah saya. Itu rumah pemilik yang dikontrak oleh teman-teman saya. Kemudian beberapa teman dari teman-teman itu hanya menyebutnya Langsat, karena beralamat di Jalan Langsat, Kramat Pela, Kebayoran Baru. Siapa saja di rumah Jalan Langsat 1/3A itu? Sejumlah orang yang bekerja untuk dan bersama Inmark Communications dan Inmark:Digital. Yang pertama adalah perusahaan jasa komunikasi pemasaran. Yang kedua juga mirip, tapi lebih ke layanan internet. Begitulah, Rumah Langsat adalah kantor. Aha, mulai teraba sosok kebun binatang itu meski isinya bukan satwa. Lantas apa pula itu Wetiga Langsat, seperti kerap disebut oleh media? Kata "we-ti-ga" ini bukan hasil branding secara terencana. Wetiga adalah nama angkringan, yang mulanya disingkat WWW. Itu singkatan Warung Wedangan Wi-Fi. Untuk mudahnya maka disebut Wetiga -- pelafalan dari "W3". Warung itu beroperasi malam hari di pelataran rumah samping Inmark di Jalan Langsat. Maka dari hari ke hari orang menyebutnya Wetiga Langsat. Ketika warga rumah Langsat 1/3A dan teman-teman yang sering bertandang ingin menemani Pos Jatipadang (Milis Sehat) dalam mengumpulkan koin untuk Prita, maka dipilihlah sebuah collecting point bernama Wetiga Langsat.

Setahun Koin Keadilan

Pengandaian kami waktu itu, sebagian teman dari kalangan pengguna internet sudah tahu tempat itu. Setidaknya pernah mendengar. Kalaupun belum, mereka bisa menanya temannya. Ketika di benak sebagian orang Langsat menjadi identifikasi nama rumah untuk kantor, mungkin itu dinilai berlebihan. Kenapa? Di Langsat ada banyak rumah. Sebetulnya ini wajar. Ini seperti kita menyebut rumah nenek sebagai "Sawo Matang" karena beralamatkan di Jalan Sawo Matang. Kita juga sadar bahwa di sana ada puluhan rumah. Tapi untuk kepentingan internal keluarga kita, Sawo Matang adalah rumah nenek. Sama seperti kita menyebut "Semarang" yang dalam konteks tertentu berarti rumah paman tertua, dan "keluarga Makassar" berarti keluarga besan. Ya, ya, ya. Jelas. Tapi kenapa selama dan hingga pengumpulan koin usai tak pernah dinyatakan bahwa Langsat adalah markasnya dagdigdug. com (layanan blog host gratis), politikana. com (media diskusi politik), ngerumpi.com (media diskusi perempuan), dan seterusnya? Sejak awal keterlibatan dalam Koin Keadilan kami tak ingin menumpang nama. Koin adalah koin, untuk Prita, untuk keadilan, untuk kebersamaan, bukan untuk promosi pihak tertentu terutama kami. Maka hasilnya, sosok Langsat menjadi tidak penting –– seperti yang kami inginkan. Bahkan


pikiran kami. Kami seperti mengatakan kepada diri sendiri bahwa apa yang kami lakukan saat itu bukanlah pekerjaan sebuah public relations agency maupun event organizer. Naif? Mungkin. Konon kehendak baik orang biasa punya stiker atribut bernama kenaifan. Tulisan ini dibuat karena tak sedikit yang bertanya apa itu Langsat. :) Antyo Rentjoko, publisher dan co-founder dagdigdug.com dan turut menggagas sejumlah wadah online dari Rumah Langsat

F O T O - F O T O : P A I D J O K A M P I y UN sakdja n é

relawan yang berasal dari kalangan non-online pun tak peduli itu rumah apa dan siapa. Masalah lain muncul ketika harus ada dari kami yang menjadi juru bicara. Maka harus ada yang ditunjuk. Dalam candaan kami, harus ada yang dikorbankan untuk berhubungan dengan media. Misalnya Yusro M. Santoso, Ndaru Victor, dan Enda Nasution. Koin Keadilan bukanlan gerakan setengah bawah tanah yang diincar aparat keamanan. Tak perlu menetapkan juru bicara secara bergiliran seperti gerakan mahasiswa (tertentu) ketika memperjuangkan reformasi pada 1997-1998 dulu. Maka ditunjuklah orang tertentu – atau secara alami kami biarkan terjebak dalam peran – sebagai juru bicara. Menjadi juru bicara bukan supaya tenar, tetapi itu tak terhindarkan. Sebuah keapabolehbuatan. Mereka yang menjadi juru bicara mau tak mau harus selalu terbarui oleh perkembangan terbaru, termasuk hasil penghitungan koin terakhir. Mulanya bikin kikuk tapi ya harus dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat, terutama para penyumbang koin. Teman-teman dari Milis Sehat pun mengalami kekikukan itu. Wajar, karena yang terpikir sejak awal mengumpulkan koin. Bagaimana eskalasi tuntutan informasi dari media kurang begitu terpikirkan sejak awal. Tepatnya: terpikir tapi tak masuk dalam prioritas utama karena lebih penting menangani koin dan kemudian relawan penghitung. Lebih konyol lagi, sebagian warga Rumah Langsat, sebagai pelaku bisnis komunikasi pemasaran, bahkan dari mereka pernah menjadi orang media, juga berpikir serupa. “Entar aja sambil jalan,” kira-kira begitulah

RUMAH GAGASAN. Di Jalan Langsat 1/3A inilah bermacam gagasan untuk melakukan banyak hal bisa mencuat dikarenakan obrolan selama silaturahmi. Mirip sanggar.

Setahun Koin Keadilan

31


n dar u

KOIN DI MANA-MANA. Selama kegiatan Koin Keadilan, rumah kecil di Langsat itu penuh koin, sampai meja untuk bekerja pun sesak jadinya.

32

Setahun Koin Keadilan


Pemulung Cilik dan Kejujuran

Muhammad Zamroni matriphe.com | jengjeng,matriphe.com Facebook: matriphe Twitter : @matriphe

P

emulung cilik itu menunggu cukup lama sebelum mendekati tempat sampah di Langsat yang penuh dengan tumpukan kardus, kaleng, dan bekas celengan. Rupanya dia menunggu kumpulan gelas plastik minuman kemasan yang tercecer untuk diletakkan di tempat sampah itu. Begitu kardus berisi gelas-gelas plastik itu diletakkan di dekat tempat sampah (karena tempat sampah sudah tidak muat), pemulung cilik itu dengan cekatan segera menyortir dan mengumpulkan bendabenda yang sekiranya bisa dia ambil dan dijual kembali, ke dalam karung palstik besar berwarna putih kusam yang ia bawa. Setahun Koin Keadilan

33


NDARU

JUJUR DAN TAHU DIRI. Bocah pemulung yang tak diketahui namanya rajin mengambili barang bekas selama pengumpulan koin. Dia tahu mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Masih ada kejujuran dan ketahudirian di negeri ini, bahkan di kalangan kaum marginal yang sering kita sepelekan.

34

Setahun Koin Keadilan


Kardus, kaleng-kaleng, dan bekas celengan plastik yang telah disobek untuk dikeluarkan isinya, berkeping-keping uang logam untuk dihitung di Posko Langsat, menjadi sasaran utamanya. Selain gelas-gelas plastik bekas air minum dalam kemasan yang sepertinya sudah diincarnya sejak tadi tentunya. Posko Koin Keadilan rupanya juga membawa berkah bagi orang lain. Contoh nyatanya adalah si pemulung cilik yang diceritakan di atas. Terjadi sebuah simbiosis mutualisme. Tumpukan sampah yang menggunung, rupanya bisa menjadi ladang rezeki bagi orang lain. Tempat sampah Langsat pun kembali kosong dan siap menampung sampah-sampah berikutnya. Tiba-tiba terdengar bunyi gemerincing. Koinkoin yang tercecer dan masih berada di dalam kaleng, terselip di sela-sela lipatan kardus, atau di dalam celengan yang mungkin lupa terambil oleh relawan, kembali dilemparkan si pemulung cilik ke atas karpet tempat penghitungan koin. Kami yang melihatnya langsung terdiam, sementara si pemulung cilik seakan tidak mengetahui kami yang memperhatikan gerak-geriknya, masih sibuk mengorek-korek sampah. Tidak satu-dua kali aksinya melempar kembali koin yang ditemukannya di tempat sampah kembali ke posko penghitungan. Bisa saja si pemulung cilik mengambil dan menyimpan koin-koin yang tercecer itu. Bila dikumpulkan pun, hasilnya cukup lumayan, walau toh tak seberapa bila dibandingkan dengan jumlah yang terkumpul yang saat itu hingga mencapai sekitar 280 juta. Namun ini tidak dilakukannya. Si pemulung seolah bisa mengerti, mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan haknya. Sampah adalah miliknya, namun koin itu bukan, koin itu milik Prita.

Perilaku jujurnya ini juga ditunjukkan sejak awal. Dia memilih menunggu hingga gelas-gelas plastik yang memang tercecer di seputaran posko, ditaruh dahulu di tempat sampah, meski jika dia mengambil ceceran gelas plastik itu secara langsung pun tidak akan dianggap sebagai masalah. Seolah-olah ia ingin memastikan, bahwa gelas-gelas platik itu benarbenar menjadi haknya, berada di tempat sampah. Kami yang melihatnya pun tergerak. Bantuan logistik untuk para relawan penghitung koin berupa makanan dan minuman begitu melimpah di Langsat. Seseorang di antara kami menawarkan si pemulung cilik untuk mengambil nasi kotak. Si pemulung menolak, dengan alasan dia sudah mengambil jatah dari sisa-sisa nasi kotak. Sontak kami yang mendengarnya langsung terdiam. Hampir tengah malam, ketika si pemulung cilik itu kembali ke Langsat untuk meneruskan pengumpulan sampahnya, kami akhirnya harus sedikit memaksa si pemulung cilik untuk tidak menolak pemberian nasi kotak. Kami memaksanya untuk membawa beberapa nasi kotak, untuk dibawanya pulang, untuk disantapnya bersama keluarganya.

Si pemulung seolah bisa mengerti, mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan haknya. Sampah adalah miliknya, namun koin itu bukan, koin itu milik Prita.

Setahun Koin Keadilan

35


BANDUNG. Salah satu kotak koin di luar Jakarta, dipasang di Tobucil (Toko Buku Kecil), Bandung.

atm o n ad i dj o n i g u del

TO B U C I L

KALENG PERTAMA. Bekas wadah Marie Regal menjadi kaleng pertama penampung koin, di Wetiga Langsat.

36

Setahun Koin Keadilan


Sana-Sini: Kompilasi Catatan

Muhammad Zamroni matriphe.com | jengjeng,matriphe.com Facebook: matriphe Twitter : @matriphe

S

eorang ibu mengendarai motor bebek sejauh 60 km untuk menyerahkan koin. Dan 54 karung koin yang dikirim dari posko Milis Sehat Jatipadang tak cukup diangkut dengan truk pasir. Koin-koin juga dikirim oleh dermawan dalam wadah cantik, sejak celengan sampai stoples sehingga barang-barang itu menjadi kegemaran pemulung.

Setahun Koin Keadilan

37


NDARU

KOIN DAN PUISI. Dia datang antarkan koin lalu membacakan puisi tentang raibnya rasa keadilan.

38

ZAMAN EDAN Seorang lelaki mengeluarkan sekantong koin dari balik jaketnya. Dia mengaku tak tahu jumlahnya berapa. Yang penting dia merasa gembira bisa menyumbang koin di markas koinkeadilan.com, langsat. Lelaki itu adalah Ketut, seorang guru sebuah Sekolah Menengah. Ia bercerita, sebenarnya sudah sejak dua hari sebelumnya dia ingin menyumbangkan koinnya. Namun dia tak mau menyumbang sendiri, ia ingin melibatkan anak didiknya untuk ikut mendonasi. Tapi, malang. “Saya tak bisa meyakinkan teman-teman sejawat, bahwa kegiatan ini, benarbenar kegiatan sosial yang penting bagi anak didik,” katanya. Koleganya malah memperingatkan, jangan libatkan murid, karena kegiatan pengumpulan koin itu ada aspek politiknya. “Ya sudah, saya jalan sendiri saja,” ujarnya datar. Kenapa ketut begitu bersemangat? Rupanya itu berhubungan dengan masa lalunya. Dia mengaku hidup di Jakarta sebatang kara. Dia

Setahun Koin Keadilan

pernah jadi anak jalanan, ngamen dan memintaminta di seputar Monas dan Stasiun Gambir. Suatu hari dia bertemu dengan seseorang yang bersedia menampungnya. “Saya bilang, saya mau kerja apa saja, asal saya bisa sekolah. Dan sejak saat itu, saya merasa benar-benar hidup,” ujar lelaki yang baru saja menamatkan pendidikan S2 itu. Dengan menyumbang koin, ia merasa bisa membalas budi terhadap orang-orang yang pernah membantunya. Ia sangat yakin, masih banyak masyarakat yang bersedia berbagi membantu sesama. Namun dia juga tak menutup mata dengan ketidakadilan, karena dia berkali-kali merasakannya, ketika hidup di jalanan. Ketut sangat peka melihat ketidakadilan dalam kehidupan saat ini. Di hadapan para relawan koin keadilan, ia tumpahkan semua kesaksiannya tentang ketidakadilan itu. Dia membenarkan ramalan Jaya Baya, bahwa zaman ini adalah zaman edan. Lalu dia bacakan puisi karangannya tentang zaman edan yang begitu panjang. Setelah itu, ia pamit sambil tersenyum. Ia nampak lega setelah mengeluarkan pergolakan hatinya.

Koin dalam Berbagai Mata Uang Selain dalam mata uang rupiah, banyak pula koin-koin yang dikirim dalam mata uang asing. Mulai dari mata uang negara Malaysia, Jepang, Hongkong, Korea, Inggris, RRC, USA, Thailand, Arab Saudi, dan sebagainya. Nilainya pun bermacam-macam, mulai 1 sen hingga 10 dolar. Koin-koin ini juga ditemukan dan disisihkan dari kumpulan koin yang dihitung oleh para relawan. Ukuran, bentuk, dan warna ini beraneka warna, cukup menambah wawasan saya yang belum


Game COINS: Tanda Hukum Bisa Dimainkan? Masih soal kiriman koin yang lucu dan unikunik di Langsat. Kali ini koin-koin yang tidak bisa diuangkan dan hanya berlaku untuk menjalankan mesin-mesin video game ini dikirimkan ke Langsat. Bentuk, ukuran, dan tulisan yang ada di koinkoin tersebut pun bermacam-macam. Ada dari Timezone, gamezone Cineplex 21, Fantasia, Super Game, Mars Game Center, Fun World, Mega Dunia, Game Master, Happy Day, bahkan koin untuk loker bandara. Koin-koin ini ditemukan dan disisihkan dari kumpulan koin-koin yang tengah dihitung oleh para relawan. Jumlahnya mencapai sepertiga volume kaleng biskuit berdiameter sekitar 20 cm. Cukup banyak juga. Inikah wujud ekspresi bahwa hukum dan keadilan yang bisa dimainkan? Terima kasih atas kiriman koinnya!

Sorakan Semangat “Horeeee!!!”, teriak para relawan yang menghitung koin di posko Langsat setiap kali ada relawan datang, koin kiriman dari posko lain, atau datang kiriman logistik berupa makanan. Sorakan ini memang bisa menambah akrab dan hangat suasana di posko. Relawan datang dari berbagai daerah dan latar belakang. Ada mahasiswa, pekerja kantoran, wartawan, hingga ibu rumah tangga. Semuanya asyik pada tugasnya masing-masing, berkonsentrasi pada koin-koin yang tersebar di depannya. Untuk menghilangkan kejenuhan, berteriak dan bersorak merupakan salah satu cara. Suasana pun bertambah akrab dan hangat karena sorakan semangat ini. Jika penasaran dan ingin merasakan kehangatan dan keakraban di posko, silakan datang ke posko. Namun bersiaplah untuk mendapat sorakan khas dari posko Langsat. Apa lagi ketika relawan yang datang adalah serombongan mahasiswi. Dua kampus yang mengerahkan mahasiswanya adalah London School of Public Relations dan Universitas Moestopo Beragama, keduanya di Jakarta. “Horeeeeee…..!!!” Koin Keadilan Membawa Berkah Rame-rame di Posko Keadilan di Langsat rupanya membawa berkah tersendiri bagi sebagian orang. Contohnya adalah seorang bocah pemulung yang memanen banyak kardus, kaleng minuman, dan berbagai benda yang bisa diambilnya dari tempat sampah. Kardus, kaleng, celengan, botol minuman, merupakan benda-benda yang dicari oleh para

Setahun Koin Keadilan

CELENGAN EMPAT TAHUN. Koin datang dalam pelbagai kemasan, termasuk celengan ini. Akhirnya wadah-wadah itu dimanfaatkan oleh pemulung.

PA I M O S U R OTO

NDARU

pernah melihat koin mata uang ini sebelumnya. Jumlahnya mencapai sekaleng penuh biskuit Khong Guan ukuran besar. Sekali lagi, terima kasih atas kiriman koinnya!

39


ba n g saad n dar u

STOPLES. Wadah beling macam ini banyak, setelah koin dituang pasti jadi favorit pemulung.

pemulung. Di tempat sampah posko, benda-benda itu teronggok sangat banyak. Simbiosis mutalisme pun terjadi, bocah pemulung mendapat rezeki, tempat sampah Langsat pun kosong dan kembali bersih. Ketika menemukan koin-koin yang mungkin tercecer di dalam kaleng atau celengan, si bocah pemulung pun melemparkan koin itu kembali ke area perhitungan. Tidak ada maksud untuk mengambilnya, meski si bocah berkesempatan. Terima kasih, nak! Beberapa kali anak itu menolak dikasih mealbox, dengan alasan sudah mendapatkan dari kaisan (boks yang masih ada sisa isi). Akhirnya ketika dini hari dia kembali, dia “dipaksa” untuk membawa pulang lebih dari satu kotak santapan, untuk keluarganya. Bila kita menanam kebaikan, maka yang akan dipetik pun adalah kebaikan. Salam koin!

Koin Jumbo dan Koin “untuk Anggodo” Berbagai wujud dukungan masyarakat dikirimkan melalui posko Koin Keadilan di Langsat. Cukup banyak yang lucu dan unik, yang merupakan wujud dari kreativitas masyarakat. Tentu saja,

40

Setahun Koin Keadilan

benda-benda yang dikirimkan memiliki pesan moral tertentu. Koin jumbo dengan nilai nominal 500 rupiah ini dikirimkan ke Langsat dengan maksud untuk diserahkan kepada ibu Prita dan disimpan sebagai kenang-kenangan. Diameternya sekitar 10 cm dan terbuat dari bahan tembaga-kuningan. Entah bagaimana buatnya tapi koin jumbo ini sangat keren! Mirip dengan koin asli, hanya ukurannya yang jumbo. Selain koin jumbo, Posko Langsat juga menerima koin dengan pesan kepada Anggodo. Koin disusun sedemikian rupa hingga berbentuk timbangan, di mana timbangan bertulis “awam, jujur, tanpa sogokan” kalah berat dengan timbangan berisi “uang sogokan”. Sebuah sindiran akan timpangnya hukum negeri ini. Koin ini bertuliskan pesan “Dukung Anggodo. Capres 2014 Orang Terkuat Di Republik Saat Ini.” sebagai wujud kekesalan. Koin ini dikirimkan oleh “fans Prita”. Tak ayal, timbangan ini pun sempat jadi sasaran favorit kamera wartawan. Teknik Hitung Dengan Pralon Menghitung koin yang jumlahnya luar biasa ini dibutuhkan ketelitian tinggi. Setelah selama dua hari para relawan memilah, menumpuk, dan menghitung satu per satu koin-koin tersebut, seorang relawan berhasil menemukan metode untuk mempercepat penghitungan koin. Caranya, dengan sebuah pralon berdiameter koin Rp 500,- putih, dengan tinggi sekitar 25 cm, akan bernilai setara dengan tumpukan koin Rp 500,- sejumlah Rp 50.000,-. Jadi, relawan hanya cukup memasukkan koin gopekan ke dalam pralon ini hingga sampai batas atas, maka otomatis tumpukan koin ini nilainya Rp 50.000,-.


NDARU

BARU SETENGAHNYA. Sekitar separo dari 54 karung(total Rp 154 juta) yang dikirim dari pos Milis Sehat di Jatipadang ke Langsat. Saru truk tidak cukup sehingga harus dibantu satu mobil boks.

Koin Rp 195 juta Diangkut Truk Pasir Tak gampang ternyata untuk menghitung dan memindahkan koin, apalagi kalau jumlahnya banyak. Itulah yang terjadi di Posko Koin Peduli Prita, di Kompleks PWR, Â Jalan Taman Margasatwa 60, Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dalam seminggu pengumpulan koin, jumlah yang didapat adalah sekitar Rp 195.000.000. Setelah dilakukan pembicaraan dengan koinkeadilan.com, akhirnya koin tersebut dikirim ke Langsat. Untuk membawanya semula diperkirakan cukup dengan sebuah truk pasir. Kenyataannya, baru setengah dari 54 karung dinaikkan ke truk, mobil itu tak mampu, karena tonasenya yang begitu berat. Baru bisa terangkut semua setelah ditambah

NDARU

Sebelumnya memang dilakukan riset, tumpukan koin dimasukkan ke dalam pralon, dan benar, setelah dihitung memang jumlahnya Rp 50.000,-. Jadilah dengan menerapkan metode ini, penghitungan menjadi lebih cepat.

sebuah mobil box. Koin diantarkan oleh Samsul Nur Abidin dan Dokter Ade Novita, Minggu siang 13 Desember. Pos di Jatipadang dikoordinasikan oleh Milis Sehat. Koin Kembalian Belanja Kaca meja penerima tamu di Langsat itu terlalu tinggi bagi Rere, bocah perempuan kelas dua SD Gunung 3 Pagi  Jakarta Selatan, untuk menuliskan nama. Untunglah masih ada sisa alas tulis di tempat yang lebih rendah. Dia datang membawa koin yang terbungkus serbet dapur. “Ini uang kembalian

Setahun Koin Keadilan

41


Lagu: Maju Terus Mbak Prita Adalah sebuah lagu spontanitas yang diciptakan oleh Arfi dan dinyanyikan oleh istrinya sendiri Ita. Semata-mata diciptakan untuk memberikan semangat untuk perjuangan Prita Mulyasari dan teman-teman di seluruh Indonesia yang mengumpulkan Koin Keadilan Prita Inilah syair lagu “Maju Terus Mbak Prita”

n dar u

RERE. Seusai sekolah, Rere, kelas 2 SD Gunung, Jakarta Selatan, minta opanya untuk mengatar ke Langsat dan menyerahkan koin..

belanja di rumah,” katanya. Dia datang sepulang sekolah, diantar opanya. “Itu serbetnya diminta lagi,” kata sang opa mengingatkan. Sang opa bercerita, Rere begitu ngotot untuk menyumbang setelah ia menontot tayangan TV. Sudah 2 hari opanya bingung mencari alamat markas koinkeadilan.com di Jalan Langsat. Ketika ketemu Rere menjadi sangat gembira. Terima kasih, Rere. TIGA PENDUKUNG. Pasangan Arfi dan Ita (pencipta dan pembawa lagu) bersama Dokter Wati dari Milis Sehat, saat kunjungan Prita ke Langsat.

42

Setahun Koin Keadilan

Kami yang di sini Berkumpul mendukungmu Kami yang di sini Bersatu, bersamamu Untuk maju, untuk maju Maju terus mbak Prita huuuu Kami akan selalu ada di sampingmu Maju terus mbak Prita huuuu Berjuang demi keadilan semua Lewat milis, facebook, twitter, kami berpadu Berdoa bersatu menyatukan dana 204 juta yang kau butuhkan Kami kan sediakan Kami kan usahakan Maju terus mbak Prita huuuu Kami akan selalu ada di bersamamu Maju terus mbak Prita huuuu Berjuang demi keadilan semua Kami akan selalu ada di bersamamu Maju terus mbak Prita huuuu Berjuang demi keadilan semua


n dar u

p é y a n g pe n dj o l

Ibu yang Naik Motor Bebek 60 km Hujan sudah usai, Mentari sudah bersinar lagi, tapi basah tanah masih tersisa di Langsat ketika ibu dari Islamic Village, Tangerang, itu tiba sekitar pukul 15.40. Setelah turun dari motornya dia lipat rapi jaketnya. “Saya mau nyerahin koin,” katanya. Dia mengikuti kasus Prita sejak awal. Dan baru siang ini dia berkesempatan menitipkan koinnya. “Nggak banyak sih,” katanya. Jarak rumahnya ke Langsat, Jakarta Selatan, sekitar 30 km. Bolak-balik sekitar 60 km. Terima kasih, Bu.

Yenni Wahid dan Suami Ikut Nyumbang Siapa tak kenal Yenni Wahid. Dia adalah Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, putri kedua KH Abdurrahman Wahid, yang belum lama menikah. Bersama suaminya, Dhohir Farisi, mendatangi markas koinkeadilan.com, di jalan Langsat, pada 8 Desember 2009;. Dia menyumbangkan sebanyak Rp 5 juta rupiah, dalam sebuah peti kayu, semuanya koin. Untuk mendapatkan koin, pasangan politisi rela mengantri setengah hari di Bank Indonesia, menukarkan uang uang kertas ke koin. “Koin Keadilan untuk Prita` adalah simbol protes masyarakat, karena tak ada saluran bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Koin ini simbol protes bagi ketidakadilan terhadap pelayanan publik dan kepedulian kita semua terhadap rakyat,” katnya.

Setahun Koin Keadilan

43


f o t o - f o t o : n dar u

TERGERAK, TERLIBAT. Apapun layar belakangnya, tak pandang seleb atau orang biasa, tak soal pengguna media sosial atau bukan onliners, semua bahu membahu. Searah jarum jam dari kiri atas: Sekeluarga menyerahkan koin • Sekarung koin harus diangkut relawan karena beratnya • Pensiunan dan anak muda menjadi relawan • Ada pula relawan suami-istri yang membawa anak • Oppie Andaresta dan anaknya menyerahkan koin ke Langsat.

44

Setahun Koin Keadilan


omuniuum

LAYAK TERAP. Logo Koin Keadilan dan pengolahannya di tempat lain. Misalnya di distro Omuniuum, Bandung.

wah y u ad i t y a kdr i

P A N T I A K ON S E R

Cerita Tentang Logo Semuanya serbamendadak. Niatnya hanya menyebarkan pesan, dan menggerakkan sebanyak mungkin orang. Maka logo Koin untuk Keadilan (kemudian orang menyebutnya Koin Keadilan) pun dibuat secara kilat bersamaan dengan pemesanan domain dan pembuatan blog koinkeadilan.com. Dalam pembuatan logo ini berlaku tiga prinsip sederhana. Pertama: melambangkan gerakan pengumpulan koin. Kedua: warnanya mudah dikenali, sosoknya takkan berubah karena pengecilan dan pembesaran untuk web (termasuk avatar). Ketiga: mudah ditiru untuk dicetak dengan inkjet printer manapun di seluruh Indonesia. Kalaupun kuningnya agak berbeda, karena tinta menipis, itu bukan soal. Siapa perancang logo ini tidak penting, dia hanyalah seorang blogger yang menyukai dunia visual (foto dan desain grafis). Memang sih logo ini sempat mengundang ledekan karena memberi kesan ada hubungan dengan Partai Keadilan. Apa boleh buat, di negeri yang menjadikan warna sebagai simbol aliran politik ini warna pilihan kita bisa ditafsirkan macam-macam. Tentu gerakan pengumpulan koin tak mengenal monopoli. Makin banyak yang tergerak makin bagus. Itu sebabnya Langsat girang ketika pengumpulan koin sudah berlanngsung kemudian Wahyu Aditya alias Mas Gembol KDRI juga membuat ikon prangko keren lagi meledek, yang kemudian dipakai untuk konser. Warnya merah. Apakah bisa dihubungkan dengan PDIP? Tentu tidak perlu dan tak usah. Tak ada yang bisa memonopoli warna di negeri ini.

PESAN VISUAL. Ada lebih dari dua desain visual di luar contoh ini. Itu bukti bahwa masyarakat tergerak dan merasa memiliki. Bahkan masyarakat pula yang akhirnya menemukan nama yang lebih ringkas “koin keadilan� yang kemudian menjadi nama domain koinkeadilan.com.

Setahun Koin Keadilan

45


n dar u

KAYA DAN MISKIN? Di sebuah negeri yang kepastian hukum hanya teka-teki maka dengan mudah rakyat yakin bahwa keadilan bisa dibeli. Persepsi ini hanya akan menipis jika banyak hal terus diperbaiki.

46

Setahun Koin Keadilan


Bab 4: Koin, Media Sosial, dan Masyarakat Dengarkan tetangga saya ketika mencemplungkan dua recehan koin: “Pak Hakim dan Pak Dokter, makan ini uang, tak bosannya menyiksa rakyat.� Putu Setia, dalam "Koin Prita, rubrik Cari Angin, di Koran Tempo, Minggu 13 Desember 2009

Setahun Koin Keadilan

47


f o t o - f o t o : n dar u

PELBAGAI WADAH. Koin berdatangan dalam bermacam kemasan, dari kantong kertas, kantong plastik, kaleng biskuit, sampai stoples plastil maupun kaca. Penuangan koin untuk dihitung adalah proses yang cukup melelahkan.

48

Setahun Koin Keadilan


Solidaritas Koin: Dari Dunia Maya ke Dunia Nyata

Ventura Eliswati vlisa.com Facebook: vlisa Twitter : @venturaE

P

engumpulan koin logam untuk Prita Mulyasari, sungguh menjadi gerakan yang sangat fenomenal. Dalam waktu 10 hari, tanpa ada komando, masyarakat berhasil mengumpulkan uang koin lebih dari Rp 615 juta. Ternyata, paduan rasa ketidak adilan, koin sebagai simbol rakyat terbawah, dan gerak cepat social media yang kemudian didukung mainstream media, telah melahirkan solidaritas masyarakat yang luar biasa.

Setahun Koin Keadilan

49


Alat bukti “Tindak Pidana” yang dituduhkan kepada Prita adalah e-mail. Padahal saat ini bisa dipastikan lebih dari 30 juta pengguna internet di Indonesia menggunakan e-mail di dalam kegiatannya sehari-hari. Itu artinya, begitu banyak orang yang berpotensi “dipritakan”. Prita juga menjadi simbol ketidak berdayaan, masyarakat kecil melawan kekuatan pemilik modal dalam mencari keadilan. Dia juga merepresentasikan “ketegaan” aparat menggunakan alat bernama hukum untuk memenjarakan seorang ibu yang memiliki anak balita, dan harus berpisah dengan anaknya selama 20 hari. Prita juga perwujudan posisi yang lemah dari seorang konsumen. Pembeli jasa yang sudah membayar mahal, tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya, malah harus membayar denda yang begitu mahal.

NDARU

PRESENSI. Relawan datang dan disambut sesama relawan untuk didata. Orang tak saling kenal tapi diikat oleh satu kepentingan bernama kepedulian akan keadilan.

...para pelaku social media telah mampu mengkonvergensikan kekuatan dunia maya ini dengan dunia nyata, dan bukan sekedar kopdar (kopi darat).

50

Prita memang bukan siapa-siapa. Tapi dia telah menjadi simbol yang lengkap dari sekeping uang logam yang bisa dilihat dari berbagai sisi. “Kejahatan” dituduhkan kepadanya ketika ia mengungkapkan ketidaknyamanan atas sebuah pelayanan publik yang ia terima dengan bayaran yang tidak kecil. Ini bisa diartikan ancaman terhadap kebebasan mengemukakan pendapat. Apakah kelak, orang lain juga akan dipenjarakan ketika ia mengingatkan temannya untuk tidak berbelanja di super market “A” karena dia punya pengalaman berbelanja di supermarket tersebut mendapatkan barang yang sudah kadaluarsa?

Setahun Koin Keadilan

Kenapa koin? Gerakan sosial pengumpulan koin, adalah sangat tepat menyimbolkan kekuatan rakyat kecil yang selama ini tak pernah dihitung oleh penguasa. Koin adalah uang pecahan terkecil yang sah di negeri ini. Namun eksistensinya seperti sudah diabaikan. Lihat saja, berapa banyak supermarket yang menyediakan uang kembalian belanja dalam bentuk koin untuk sebuah pecahan kecil? Mereka lebih suka mengganti koin dengan permen. Di rumah-rumah koin juga sudah termarjinalkan. Dia tidak pernah di hitung, dikeluarkan dari dompet dan saku, lalu ditaruh dalam sebuah kaleng. Saat pengemis datang koin itulah yang diberikan. Yang pasti, koin pasti bisa dimiliki oleh semua orang. Karenanya gerakan pengumpulan koin ini berpotensi untuk didukung semua orang di negeri ini.


f o t o - f o t o : n dar u

Media Sosial Sepertinya penggagas dan pelaku gerakan pengumpulan koin sudah belajar dari pengalaman pemanfaatan social media pada peristiwa sebelumnya. Saat kasus Prita muncul pertama kali, dibuatlah blog ibuprita.suatuhari.com, lalu ada halaman dukungan di facebook. Pendukungnya mencapai hampir 300 ribu. Ketika kasus ledakan bom Mega kuningan terjadi, hal serupa dilakukan penggiat social media, Indonesiaunite didukung lebih dari 400 ribu facebookers. Dalam kasus Bibit – Chandra, dukungan facebookers meningkat sangat signifikan, mencapai 1.300.000. Tapi keriuhan itu cuma terasa di dunia

MANUAL. Penghitungan secara manual menuntut mobilisasi manusia. Media sosial dan media “lama� (organisasi pemberitaan) saling dukung dalam menggelindingkan isu agar masyarakat tergerak.

maya, meskipun, mainstream media juga memberitakan keriuhan di internet tersebut. Namun, di dunia nyata gaung kegiatan itu kurang begitu berasa. Social media dalam kasus pengumpulan koin ini, seperti virus yang menyebar begitu cepat tanpa batas ruang dan waktu, melalui koinkeadilan.com sebagai pusat informasi. Yang menjadi nilai tambah, media sosial kali ini, tak cuma bergerak di ranah maya, para pelaku social media telah mampu mengkonvergensikan kekuatan dunia maya ini dengan dunia nyata, dan bukan sekedar kopdar (kopi darat). Koinlah instrumen yang menjembatani aktivitas sosial ini. Masyarakat pemilik koin secara nyata bersatu dalam ikatan emosi dan hakiki kultural khas Indonesia: bergotong royong. Semua lapisan

Setahun Koin Keadilan

51


n dar u

HASIL KONVERGENSI. Banyak kaum sepuh, yang bukan pengguna media sosial, datang menjadi relawan. Mereka digerakkan oleh TV, radio, dan koran, media yang mendapatkan umpan dari media sosial lalu menggemakannya.

masyarakat ikut terlibat, dari seorang tukang sapu yang menyumbang Rp 250 sampai politisi yang menyumbang Rp 5 juta, semua dengan koin. Masyarakat ternyata tak punya sekat sosial dalam pengumpulan koin untuk keadilan ini. Semua memiliki ketulusan dan keinginan yang sama, yaitu melakukan gerakan sosial yang tidak destruktif, untuk membuka mata para penguasa bahwa rakyat di bawah begitu kuat ketika bersatu. Bahkan tanpa ada yang memimpin. Peningkatan pemanfaatan medium internet dan maraknya pengguna jejaring sosial memang tidak serta merta membuat pelbagai insiatif ’pengerahan’ massa akan mengangguk dukungan. Secara spesifik kegiatan itu akan mendapat simpati luas dari

52

Setahun Koin Keadilan

pengguna internet dan masyarakat jika itu terkai dengan hal-hal yang mjenyangkut hal-hal ketidak adilan, sesuatu yang bisa membahayakan publik, Dan memang inilah ciri masyarakat Socialnomics, seperti yang dipaparkan Erik Qualman dalam bukunya bertajuk, �Socialnomics�. Bahwa saat ini kita berada di awal sebuah revolusi, yang dipicu dan didorong oleh social media. Dimana ada kemudahan dan kecepatan informasi yang menjangkau pelbagai lapisan sosial masyarakat. Kita sedang memasuki peradaban baru, sebuah dunia baru, dan ini dunia socialnomics. Dimana ada sebuah perubahan sosial-ekonomi besar-besaran. Sadar atau tidak kita sudah memulainya.


Recehan

Goenawan Mohamad goenawanmohamad.com Facebook: profile.php?id=526197285 Twitter : @gm_gm

D

i Jakarta yang macet, jalan menampik alasannya sendiri. Sejak Daendels membentangkan 1400 km “La Grande Routeâ€? di Jawa di abad ke-18, sampai dengan ketika dinas pekerjaan umum Republik Indonesia membuka jalur-jalur baru di abad ke-21, jalan diasumsikan sebagai ruang untuk mobilitas, peringkas waktu tempuh. Ia bagian dari arah dan gerak, dari dunia modern yang dinamis dan tak tergantung langsung pada alam. Tapi apa yang kita alami kini? Dengan lekas bisa anda jawab: di Jakarta, jalan sama dengan kelambatan dan hambatan; jalan adalah Âť Setahun Koin Keadilan

53


Kongesti mendorong orang untuk melihat orang lain yang di sebelah, di depan, dan mungkin juga di belakangnya sebagai pihak yang tak diinginkan.

n dar u

adalah bagian kota yang rentan pada gangguan alam. Jalan adalah lahan banjir. Ada lagi yang menampik alasannya sendiri: mobil. Kendaraan ini berkembang biak dengan cepat. Dan dengan cepat pula mobil, sebuah tanda modernitas yang lain – teknologi dengan dinamika tinggi -- telah terbalik posisinya: ia malah jadi simptom kesumpekan. Kita bisa hitung berapa meter persegi wilayah jalan yang diambil oleh satu mobil, dan berapa jadinya jika ada 500.000 buah jenis kendaraan itu, dibandingkan dengan betapa kecilnya bagian kota yang tersedia untuk penghuni baru itu. Saya gemar mengutip Hirsch di dalam soal ini: inilah kongesti, inilah “batas sosial dari pertumbuhan (ekonomi)”. Mungkin menarik untuk meneliti atau memperkirakan dengan rada persis bagaimana akibat kongesti ini bagi hidup kejiwaan. Berapa banyak orang makin naik tekanan darahnya jika tiap hari mereka terjebak macet dan harus menempuh jarak lima kilometer dalam satu jam, terutama sekitar pukul tujuh malam hari? Atau jangan-jangan telah berkembang sikap sabar yang tak terhingga? Bagi saya, macet memang memberi kesempatan tidur lelap di jok mobil. Atau menulis sajak. Tapi saya tak tahu bagaimana orang lain meman-

54

Setahun Koin Keadilan

faatkan kemacetan itu -- yang mengambil kira-kira tiga jam dalam hidupnya sehari, atau sekitar 18 jam seminggu, atau sekitar tiga hari kerja dalam sebulan. Yang agaknya jelas adalah implikasinya bagi kehidupan bersama. Kongesti itu – berjubelnya mobil di jalan-jalan Jakarta tiap hari itu – adalah sebuah gejala perpecahan sosial. Kongesti mendorong orang untuk melihat orang lain yang di sebelah, di depan, dan mungkin juga di belakangnya sebagai pihak yang tak diinginkan. Kompetisi, bahkan antagonisme, berlangsung diam-diam (kadang-kadang dengan teriak: pakai mulut atau klakson). Menutup mata tidur juga bisa jadi sikap tak mengacuhkan orang yang di luar sana. Kemacetan lalu lintas lantaran mobil juga akibat dari yang disebut Hirsch, dalam The Social Limits to Growth, sebagai ”the tyranny of small decisions”: keputusan individual yang tak bertautan satu sama lain dalam mengadakan transaksi di pasar. Jika saya membeli mobil, saya tak memikirkan apa dampaknya bagi kelancaran lalu lintas atau bagi bersihnya cuaca — hal-hal yang merupakan bagian kebersamaan. Itu sebabnya, di jalan-jalan, masyarakat – yang biasa dibayangkan sebagai sebuah bangunan utuh -- tak hadir. Polisi lalu lintas – jika pun ada – memperkuat raibnya keutuhan sosial itu, ketika ia menggunakan kekuasaannya untuk menarik uang sogok. Sebagaimana banyak orang menghayati mobil dan ruas jalan sebagai milik privat,polisi itu juga memberlakukan otoritasnya sebagai kekuasaan privat. Saya selalu mengatakan, korupsi adalah privatisasi kekuasaan yang didapat dari orang banyak. Kita akhirnya melalaikan bahwa manusia selalu perlu barang dan jasa masyarakat yang, dalam katakata Marx, “dikomunikasikan, tapi tak pernah diper-


Ketika zaman neoliberal kini ditinggalkan, ketika “kompromi Keynesian” diangkat untuk dijadikan kebijakan lagi, timbul lagi keyakinan bahwa perilaku pasar tak bisa dijadikan tauladan bagi seluruh perilaku sosial. Ada pengakuan bahwa kekuatan yang bukan-pasar (Negara dan para teknokratnya) harus – dan bisa -- memiliki ketahanan untuk mengembangkan nilai yang berbeda, khususnya nilai yang tak membenarkan manusia memaksimalkan kepentingan diri. Tapi benarkah asumsi yang tersirat dalam “kompromi Keynesian” itu, bahwa para para pejabat Negara yang jadi pengelola sistem sosial-politik dan ekonomi niscaya punya nilai tersendiri? Kenyataannya di Indonesia, institusi yang ber-

“Kompromi Keynesian” mengakui bahwa tak semua bisa diserahkan kepada pasar. Diakui bahwa public spirit selamanya perlu.

n dar u

tukarkan; diberikan, tapi tak pernah dijual; didapat, tapi tak pernah dibeli.” Di kemacetan jalan Jakarta, kita tak lagi bertanya, tak lagi peduli, di mana gerangan hukum, kelancaran, dan udara bersih. Berangsur-angsur, tiap orang pun merasa bisa mengabaikan public spirit, moralitas dan semangat untuk kepentingan publik. Ada ikhtiar untuk menangkal kecenderungan itu dengan mengendalikan kapitalisme dari bahaya “tirani keputusan-keputusan kecil”. Itulah inti dari “kompromi Keynesian”, cara Keynes untuk menyelamatkan kapitalisme dari fragmentasi yang berkelanjutan. “Kompromi Keynesian” mengakui bahwa tak semua bisa diserahkan kepada pasar. Diakui bahwa public spirit selamanya perlu.

Setahun Koin Keadilan

55


kuasa tak dengan sendirinya bebas dari “tirani keputusan-keputusan kecil”. Di atas saya telah sebutkan korupsi sebagai privatisasi kekuasaan. Maka kita pun bertanya dengan murung: masih adakah tempat bekerjanya apa “yang-sosial”, apa yang menampik nafsi-nafsi? Mungkin jawabnya bukan di kantor pemerintah dan pos polisi di pojok perempatan. Mungkin jawabnya bukan di jalan-jalan yang macet di mana orang saling hendak menyisihkan. Jawabnya ada di dekat kita sendiri. Ketika Prita didenda Hakim – yakni petugas Negara yang tak adil – kita secara spontan berduyun-duyun datang untuk bersama perempuan yang dizalimi itu. Kita datang dengan uang recehan – fragmen dari sebuah kesatuan yang tak nampak -- yang justru menunjukkan sesuatu yang mengagumkan: kita belum menyerah kepada “tirani keputusan-keputusan kecil”. Kita adalah bebrayan: sesama yang bisa punya saat bersama. Setidaknya sampai hari ini.

n dar u

RUMAH SAKIT. Yang namanya masyarakat itu luas, termasuk sekelompok orang yang kebetulan berstatus karyawan rumah sakit. Mereka menyumbangkan koin untuk seorang Prita yang sedang bersengketa dengan rumah sakit lain.

56

* Dimuat di Tempo, 14 Desember 2009

Setahun Koin Keadilan


Koin Prita

Putu Setia jerosetia.blogspot.com Ida Bhawati Putu Setia, pensiunan wartawanTempo yang menjadi brahmana, dan tentu saja tetap menulis.

K

onon, manusia dari sononya sudah dibekali dua pikiran yang berseberangan. Ada pikiran buruk, ada pikiran baik. Saat ini, pikiran buruk saya meminta Prita Mulyasari menolak tawaran berdamai dengan manajemen Rumah Sakit Omni. Bahkan Prita saya sarankan tidak naik banding atas putusan Pengadilan Tinggi Banten, yang mengharuskannya membayar Rp 204 juta.

Setahun Koin Keadilan

57


Ya, itu pikiran buruk saya, berharap ada “tsunami koin� yang menggerujuki Rumah Sakit Omni. Lalu pikiran yang baik seperti apa?

n dar u

PADA SUATU DINI HARI. Penghitungan masih berlangsung, koin terus berdatangan dan menggunung, tapi apa daya raga tak lagi mendukung, maka kantuk pun tak terbendung.

Jika saran saya itu diikutinya, ada kesempatan lahir sebuah drama yang mungkin sangat unik. Saya membayangkan diri saya ikut dalam rombongan orang-orang yang mengantar koin senilai Rp 204 juta ke RS Omni, bersama tukang becak, pemulung, anak-anak sekolah, entah siapa lagi. Saya sudah mengirim koin dalam kaleng bekas roti ke Jakarta, yang nilainya terus terang lebih rendah ketimbang ongkos kirimnya. Koin berasal dari anak-anak dan tetangga sekitar, persis yang dilakukan sejumlah anak di berbagai daerah. Membayar denda dengan koin adalah ide cemerlang dari sang penggagas. Hormat saya tak kurang kepada mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, yang menyumbang separuh denda yang harus

58

Setahun Koin Keadilan

dibayar Prita, juga kepada anggota Dewan Perwakilan Daerah. Namun saya mengusulkan, uang itu disimpan. Prioritaskan koin yang dikumpulkan sopir angkot, murid taman kanak-kanak, pengamen, orang-orang desa dari berbagai penjuru. Beri mereka kesempatan menunjukkan perlawanan kepada kekuasaan, khususnya melawan kebobrokan hukum di Nusantara ini. Perlawanan yang sangat sederhana, lewat koin. Mereka mungkin tak bisa berteriak di jalanan melakukan aksi unjuk rasa, perlu biaya untuk transportasi dan membuat poster. Pengumpul koin mungkin pula tak bisa berteriak lewat Facebook, perlu keterampilan khusus dan alat yang mahal. Tetapi mereka ingin berteriak tentang ketidakadilan


n dar u n dar u

dan, alhamdulillah, saluran itu terbuka lewat koin. Dengarkan tetangga saya ketika mencemplungkan dua recehan koin: “Pak Hakim dan Pak Dokter, makan ini uang, tak bosannya menyiksa rakyat.” Hakim dan lembaga peradilan menjadi “musuh bersama” sebagian besar rakyat saat ini. Nenek pencuri tiga buah cokelat diproses ke pengadilan, Anggodo, yang diduga makelar kasus, gentayangan bebas--dan kini berangsur-angsur dilupakan media massa gara-gara ada berita Century yang lebih “seksi”. Seorang sopir membawa satu ekstasi dihukum berat, jaksa menjual ratusan ekstasi bisa bebas. Mata kuliah apa yang diajarkan di fakultas hukum untuk menjelaskan kasus ini? Jangkankan rakyat yang awam, yang tak awam pun--tapi bukan sarjana hukum--bisa bingung. Lalu kenapa dokter ikut dimaki tetangga saya? Ya, tentu saja karena Prita, yang dia bela, ”bermusuhan” dengan dokter, khususnya dokter RS Omni yang mengadukan hal itu. Bagi rakyat desa, dokter

itu orang kaya (”Cuma pegang-pegang saja minta bayaran Rp 50 ribu”) dan tak pantas menuntut ganti rugi demikian besar. Inilah pikiran yang sederhana. Di balik kesederhanaan itu, kini tersimpan magma perlawanan yang gigih dan solidaritas sosial yang demikian tinggi melewati batas wilayah dan sekat-sekat primordial. Ya, itu pikiran buruk saya, berharap ada ”tsunami koin” yang menggerujuki Rumah Sakit Omni. Lalu pikiran yang baik seperti apa? Tentu saja perdamaian antara Prita dan Omni terwujud. Tak ada bayar-membayar ganti rugi, tak ada pula yang masuk penjara. Hikmah perdamaian lalu dijadikan introspeksi kedua belah pihak, tanpa ada yang merasa malu dan dipermalukan--kecuali pihak ketiga, yakni hakim. Kasus ini memberi pelajaran yang berharga buat negeri ini: berhentilah melecehkan rakyat kecil. Dimuat di Koran Tempo Minggu 13 Desember 2009

Setahun Koin Keadilan

59


n dar u

HITUNG, HITUNG, DAN HITUNG. Konsekuensi sumbangan dalam bentuk koin adalah meminta tolong banyak orang untuk menghitungnya. Semua penghitung mengalami jemari tangannya menghitam karena bergesekan dengan ratusan bahkan ribuan koin. Tapi kebanyakan relawan tak mau mengenakan sarung tangan plastik.

60

Setahun Koin Keadilan


Koin Pecas NdahĂŠ

Ndoro Kakung ndorokakung.com Facebook: ndorokakung Twitter : @ndorokakung

Ketika keadilan direcehkan, kita pun mengumpulkan receh.

K

alimat itu tertulis di blog Koin Keadilan yang terbit sejak Jumat malam pekan lalu. Blog ini adalah salah satu simpul informasi dukungan terhadap Prita Mulyasari, ibu rumah tangga yang oleh Pengadilan Tinggi Banten diputuskan bersalah dan harus membayar denda Rp 204 juta kepada RS Omni Internasional Alam Sutera yang menggugatnya secara perdata. Setahun Koin Keadilan

61


62

Setahun Koin Keadilan

sung datang ke mini studio TV One untuk menyerahkan koin lengkap dengan celengannya. Juga ada beberapa penelepon dari luar kota yang memberikan dukungan dan menanyakan cara pengiriman koin. Betapa mengharukan. Sebuah niat dan perbuatan baik sudah dimulai. Sampean boleh memilih untuk mendukung, mencibir, atau mengabaikannya. Hidup adalah pilihan bukan? Tapi pilihan akan menunjukkan siapa sampean sesungguhnya. *) Dimuat di blog ndorokakung.com, 7 Desember 2009

n dar u

n dar u

SEBELUM DIPECAH. Banyak yang mengirimkan koin berserta celengannya. Mau tak mau celengan itu harus dibedah, jika berbahan tembikar harus dipecah.

Sebagai salah satu simpul, blog ini tak diniatkan sebagai pusat atau sejenisnya, sehingga pengelola menyambut baik uluran kerja sama dan kemunculan inisiatif serupa dari siapa pun. Semuanya demi Prita dan kebebasan menyatakan pendapat. Tentu saja ada kekurangan, persoalan, dan kerumitan, di sana-sini. Namanya juga gerakan spontan, tanpa hierarki, dan tanpa banyak rapat. Misalnya? Bagaimanakah cara melaporkan perolehan koin secara periodik, baik per titik pengumpulan maupun keseluruhan? Jika ada pendukung yang berhalangan datang ke tempat pengumpulan koin, lalu ingin mentransfer, harus ke rekening siapa? Untuk donatur di luar negeri, apakah dimungkinkan menyampaikan sumbangan melalui PayPal? Sejauh ini pengelola masih berupaya terus mencari solusi untuk ketiga pertanyaan tersebut. Sampean juga boleh menyumbangkan saran maupun gagasan. Salah satu sumbangan yang bisa sampean berikan, misalnya, menyebarkan kabar tentang gerakan ini. Seperti yang sudah dilakukan beberapa media mulai Jumat pekan lalu. Begitu gerakan koin kepedulian untuk Prita ini digemakan melalui media-media sosial seperti Twitter, para jurnalis pun bergerak cepat. Mereka mewawancarai dan menuliskan gerakan tersebut. Hasilnya, berita tentang gerakan sosial ini tersebar di situs media-media daring (online) maupun cetak. TV One tadi pagi bahkan mewawancarai Prita Mulyasari bersama mantan menteri tenaga kerja Fahmi Idris, Wakil Ketua DPD La Ode Ida, dan Ade Novita, salah satu aktivis pengumpul koin. Dan, respons pun berdatangan. Saya melihat ada tiga bapak-bapak yang lang-


Rp 15 Juta dari Konser untuk Prita

Laporan detik.com, Minggu 20 Desember 2009 (http://bit.ly/konserkoin)

P

undi-pundi koin sumbangan bagi Prita Mulyasari terus bertambah. Konser Koin untuk Keadilan yang di gelar di Hard Rock Cafe berhasil mengumpulkan Rp 15 juta lebih untuk

Prita. “Sampai jam 8 malam ini telah terkumpul Rp 15.800.000 ditambah sumbangan dari penjualan kaos Rp 2.880.000,� ujar Master Of Ceremony (MC) acara tersebut ketika memandu acara Konser Koin untuk Keadilan di Hard Rock Cafe, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (20/12/2009) malam. Setahun Koin Keadilan

63


n dar u

KONSER. Giring Nidji di atas pentas Hard Rock Cafe Jakarta (kanan atas). Didampingi Adib Hidayat dari Rolling Stone Indonesia, Prita bersama wakil relawan, menerima sumbangan dari musisi, antara lain Abdee Negara Slank.

64

Setahun Koin Keadilan

a n tara

Dalam acara tersebut Prita juga datang. Wanita berkerudung ini pun menjadi 'bintang' dalam konser amal yang diselenggarakan untuk mendukungnya. Acara yang dimulai sejak pukul 15.00 WIB tersebut tampak diserbu pengunjung yang ingin memberikan bantuan kepada Prita. Acara amal tersebut semakin meriah dengan kehadiran band-band dan artis papan atas Indonesia, seperti Slank, Gigi, Sheila on Seven, Sherina, Ari Lasso dan TT DJ. Rencananya Prita yang tengah hamil dua bulan ini akan menggelar jumpa pers terkait dengan dukungan kepada dirinya di cafe tersebut.


Bab 5: Penutup dan Hikmah Kegiatan ad-hock pun perlu komunikasi yang tepat. Setelah uang terkumpul ada saja yang mendekati, dari pencari utang sampai orang partai. Bank Sentral sangat terbantu, karena koin yang kembali ke BI itu sedikit padahal saban hari BI mengeluarkan koin baru.

Setahun Koin Keadilan

65


n dar u

MENANGIS. Prita menangis ketika pentas dadakan di Langsat menampilkan pasangan Arfi dan Ita menyanyikan “Maju Terus Mbak Prita� di depan para relawan. Klip mereka sudah lebih dulu tertayang di YouTube.

66

Setahun Koin Keadilan


Menangani Komunikasi

Ventura Elisawati vlisa.com Facebook: vlisa Twitter : @venturaE

A

ktivitas pengumpulan koin keadilan untuk Prita terlahir karena sebuah spontanitas milis sehat dan komunitas Langsat. Dalam hitungan hari telah menjadi isu terhangat di media mainstream. Dimana semua media saling berlomba menampilkan berita tentang koin keadilan dari pelbagai sudut pandang.

Setahun Koin Keadilan

67


n dar u

DALAM SOROTAN. Dirubung awak media, apalagi TV , bisa membuat kikuk.

Ini tentu bukan hal yang mudah untuk dihadapi para relawan koin. Karena seperti diketahui, aktifitas ini hadir begitu saja, tanpa ada yang memimpin, tak ada organisasi formal yang menaunginya. Yang terlibat di sini hanya para relawan yang peduli kepada nasib Prita. Ketika tiba-tiba para aktifitas milis sehat dan komunitas Langsat menjadi kejaran wartawan, merekapun kebingungan. Bahkan di saat awal, para ibu anggota milis sehat di Pejaten ini, sempat kucing-kucingan dengan wartawan yang ingin mewawancarai mereka seputar inisitif pengumpulan koin ini. Dikejar-kejar wartawan pagi, siang dan malam. Situasi ini tentu saja sebuah hal yang baru bagi para sebagian relawan di milis sehat. Dan merekapun merasa tidak nyaman dan sempat memilih ”tutup” pintu. Peran media tentu saja cukup besar dalam penyebaran info tentang koin untuk Prita ini. Tentu saja situasi ”boom” ini tak bisa dihindari begitu saja, tapi justru harus dihadapi dan dikelola dengan baik. Mengingat situasi yang serba mendadak, sumber

68

Setahun Koin Keadilan

daya yang terbatas, maka para inisitor koinpun segera mengambil sikap terutama untuk penanganan media. Karena disadari jika ini tak dikelola baik dari sisi konten (apa yang disampaikan) dan konteks (siapa yang menyampaikan) dikhawatirkan aktifitas ini bisa dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan yang lain, seperti politik. Maka, milis sehat dan komunitas Langsat sepakat menunjuk key spokespersons (juru bicara), yang bertugas melayani para wartawan yang ingin tahu perkembangan kegiatan koin keadilan. Mereka adalah: Enda Nasution,Yusro M. Santoso, dan Ndaru Victor. Selain menyepakati jurubicara, kedua belah pihak juga membuat arahan pesan-pesan yang bisa disampaikan, yakni seputar perkembangan pengumpulan koin. Kemudian sebagai pendukung, informasi penting seputar koin juga diunggah melalui situs resmi kegiatan koin untuk Prita di koinkeadilan.com. Keberadaan situs ini – yang terus diperbaharui dengan pelbagai perkembangan terkini – cukup vital. Tak cuma info positif saja tapi juga untuk mengklarifikasi sejumlah informasi yang tidak benar. Seperti ketika muncul rumor bahwa biaya operasional perhitungan koin selama 4 hari dibiayai dari perolehan koin. Boleh dibilang selama dua minggu ketiga juru bicara ini mendadak menjadi selebritis. Hampir setiap saat muncul di pemberitaan media, baik cetak maupun elektronik. Sebagai gambaran selain media nasional, ada 4 TV asing yang meliput aktifitas koin ini. Dan yang pasti ada 3 TV nasional : TVone, MetroTV dan SCTV yang melakukan tayangan langsung dari Langsat. Tak heran jika jalanan sempit itu disesaki dengan combivan TV-TV itu, yang sudah stand by sejak pagi hari. Tak cuma melayani liputan media di markas koin, tapi juga harus siap hadir di studio TV untuk


hitungan koin sampai penyerahan koin tersebut ke rekening yang dituju. Kemudian BI lah yang menghubungi Bank Mandiri, dimana Prita punya rekening di bank tersebut. Pada dasarnya penyebaran informasi – apapun keperluannya – mesti dikelola dengan baik. Mulai dari perumusan pesan, manajemen penyampaian pesan: pemilihan juru bicara, kanal pendukung sampai evaluasi dari pemberitaan yang muncul. Karena sejatinya media adalah mitra yang tak sekadar untuk penyebaran informasi, tapi juga sebagai alat untuk mengukur respon. Sehingga bisa disimpulkan bahwa keberhasilan aksi koin keadilan ini juga ditopang oleh kepiawaian mengelola aspek komunikasinya.

PRITA DAN KOIN. Akhirnya Prita datang ke Langsat, dengan agak kikuk karena sambutan relawan dan reporter. Di salah satu ruang penyimpanan koin Prita sedang mendengarkan penjelasan dari Yusro M.S., salah satu warga Rumah Langsat. Mikrofon dipakai supaya khalayak di luar rumah bisa menyimak.

SETELAH KOIN APA? Sebuah kaos sablonan bikinan sendiri yang dikirim oleh seorang penyumbang koin. Pertanyaan itu ditujukan kepada kita semua.

n dar u

n dar u

sebuah wawancara langsung, misalnya di acara Apa Kabar Indonesia. Mau tak mau para relawan yang dalam kesehariannya biasa tampil kasual dengan t-shirt, harus tampil berbatik. Dan ini kerap jadi bahan selorohan para awak Langsat lainnya, ketika misalnya suatu pagi melihat Yusro sudah rapi dengan batiknya, �Kalau pakai batik berarti mau siaran tivi.� Peran media begitu besar dalam hal ini. Ia tak cuma mem-blow-up kegiatan koin tapi media juga menjembatani beberapa kepentingan aksi tersebut. Seperti ketika Langsat menghadapi masalah, kemana koin yang sudah menggunung ini harus dibawa? Ketika pesan ini ditulis di Kompas, dalam hitungan jam, Bank Indonesia merespon melalui telepon. Intinya bank sentral sanggup memfasilitasi peng-

Setahun Koin Keadilan

69


f o t o - f o t o : n dar u

UANG DAN UANG. Rumah L:angsat penuh duit, tapi bukan milik sendiri. Foto kiri: Feby, Susie, dan Eki, ketiganya anggota staf, selalu membagi waktu antara urusan dinas dan urusan koin. Foto kanan: salah satu sudut favorit yang sering dipakai sebagian blogger untuk berpose seolah merasakan sensasi Paman Gober.

70

Setahun Koin Keadilan


Mau, Dapat Penghargaan sebagai Pemecah Rekor?

Yusro M. Santoso politikana.com/profil/yusro Twitter : @orsuy

Ingin menggenapi pembayaran ganti rugi Rp 204 juta dengan koin? Bukan mencari sensasi apalagi berniat memecahkan rekor. Ini adalah cara kita menyampaikan pesan tentang rasa keadilan yang terlukai.

T

ulisan itu terpajang di halaman depan situs koinkeadilan.com. Meski begitu, sebuah lembaga rekor di Indonesia menghubungi kami melalui telepon. Lembaga ini akan memberikan piagam penghargaan, kepada Âť Setahun Koin Keadilan

71


inisiator gerakan koin ini. Mereka memberikan berbagai alasan, bahwa gerakan ini sangat pantas dicatat sebagai sebuah rekor. Bukan saja hasil koin yang dikumpulkan, tapi juga kemampuan gerakan ini mendapat dukungan masyarakat, liputan media yang begitu masiv yang mampu menyeruak di tengah isu terpanas Pansus Century di DPR. Panjang lebar kami menjelaskan bahwa

f o t o - f o t o : n dar u

DIANGKUT KE BANK SENTRAL. Penghitungan koin dinyatakan selesai, lantas keping-keping uang itu dibawa ke Bank Indonesia dalam mobil lapis baja tersegel, untuk dihitung ulang dan ditukar dengan uang kertas yang mkemudian menjadi uang giral.

72

Setahun Koin Keadilan

gerakan pengumpulan koin adalah, hasil inisiasi kolektif. Semua orang boleh menjalankan gerakan ini. Tak harus dikumpulkan melalui koinkeadilan. com. Silakan kumpulkan koin dan boleh langsung disumbangkan kepada Prita. Terus terang, selain merasa tidak sepantasnya kami menerima piagam penghargaan sebagai pemegang rekor pengumpul koin, sejak awal gerakan ini memang tidak diniatkan untuk memecahkan rekor. Tapi lembaga ini tak puas dengan penjelasan kami. Melalui e-mail, sekali lagi mereka menanyakan: Kebersediaan menerima piagam rekor, dan nama lembaga atau pribadi yang mesti ditulis di piagam tersebut. Kami sangat menghormati lembaga pencatat rekor tersebut, dan kami tidak melarang mereka mencatat rekor pengumpulan koin. Tapi sekali lagi, koinkeadilan.com dan atau pribadi-pribadi yang berkecimpung di situ, merasa tidak berhak namanya tercantum dalam piagam itu. Kalau mau memberikan piagam rekor pengumpulan koin, berikan piagam itu kepada semua penyumbang koin, dan relawan yang mengumpulkan serta menghitungnya, yang sudah barang tentu kami tidak tahu berapa jumlahnya dan siapa saja mereka. Itulah jawaban kami. Disaat konser koin untuk keadilan digelar, datang seorang dari lembaga pencatat rekor yang lain. Pencatat rekor yang kabarnya terafiliasi dengan lembaga pencatat rekor dunia ini, malah sudah membawa draft, piagam rekor. Dua nama pribadi relawan koin sudah dimasukkan sebagai pencetak rekor pengumpulan koin, keduanya Yusro M. Santoso dan Ade Novita. Lembaga ini akan mencetak piagam tersebut setelah hasil akhir penghitungan koin ditetapkan. Sekali lagi, kami sampaikan, silakan catat rekor


Bikin monumen keadilan “Saya Rahmat Shah, dari Medan,� begitu seseorang memperkenalkan diri di ujung telepon. Dia lalu menuturkan ingin membeli sebagaian atau semua koin yang terkumpul di koinkeadilan.com, untuk dibuat sebuah monumen keadilan di Medan. Rahmat Shah yang ternyata seorang anggota DPD, sangat bernafsu untuk membuat sebuah monumen keadilan karena, dia sudah merasakan betapa susah dan mahalnya mendapatkan keadilan di Indonesia. “Kalau saya yang wakil rakyat dan punya akses ke pejabat tinggi negara pun bisa dipermainkan oleh penegak hukum. Maka jangan tanya, masyarakat bawah, yang tak punya kedudukan dan akses,� katanya. Dia sangat yakin gerakan pengumpulan koin, dengan label koinkeadilan ini akan membuka mata dan pikiran para penegak hukum dan masyarakat. Karenanya dia memandang membuatnya dalam sebuah monumen menjadi sangat penting. Tanpa mengurangi rasa hormat, kami sampaikan bahwa koinkeadilan.com, tidak dalam posisi bisa berhak menjual (menukar) koin yang terkumpul. Nawaitunya sejak awal cuma mengumpulkan koin untuk diserahkan kepada Prita Mulyasari, agar bisa memenuhi kewajiban hukum, membayar ganti rugi terhadap dokter dan RS Omni Internasional yang

telah menggugatnya. Kami tak bisa memenuhi permintaan Rahmat Shah, untuk menukarkan sebagai atau semua koin dengan rekening dengan nilai yang sama atau pun lebih. Meskipun kami sangat menghormati niat mulia Rahmat Shah membuat monumen keadilan. Langkah kami ini rupanya dibenarkan oleh Bank Indonesia. Dalam sebuah pertemuan antara BI (Adnan, Deputi Direktur BI), Rahmad Shah, dan koinkeadilan (Yusro M. Santoso). BI menjelaskan bahwa pemanfaatan koin rupiah untuk sebuah monumen, dengan cara membuat sebuah patung yang dipastikan merusak dan menghilangkan fungsi uang sebagai alat tukar, adalah melanggar hukum. BI menyarankan agar inisiatif membuat monumen koin keadilan, dikomunikasikan secara resmi ke Bank Sentral. Dengan begitu Bank Indonesia bisa membuatkan replikasi uang (yang tentu saja tidak punya nilai tukar) untuk pembuatan monumen tersebut.

WESEL POS. Namanya memang Koin untuk Keadilan, tetapi sumbangan melalui paypel, transfer antarbank, dan wesel pos juga diterima.

n dar u

pengumpulan kin ini untuk seluruh relawan yang telah menyumbang, mengumpulkan dan mengitung koin untuk Prita tersebut. Karena semua ini terjadi, karena keberadaan mereka. Sejak awal gerakan ini memang tidak diniatkan untuk mencatatkan sebuah rekor, dalam pengumpulan koin, misalnya, pelibatan masyarakat, liputan media, bahkan juga mencatatkan rekor sebagi penolak piagam rekor dari 2 lembaga.

Setahun Koin Keadilan

73


f oto - f oto : s u s i e r i z a

PENGERAHAN. Menjelang tutup tahun, tepatnya dua hari sebelum Natal, Bank Indonesia mengerahkan awak di bagian yang menangani uang lama logam untuk bekerja. Alat mereka memadai.

KENAPA TAK SEJAK AWAL? Begitu tanya bernada canda seseorang kepada Langsat, kenapa tak sejak hari pertama menggunakan mesin penghitung koin. Kalau pakai mesin, relawan yang kadung datang bagaimana? :)

Tak jelas benar sampai di mana inisiatif pembuatan monumen ini. Yang pasti, gerakan koin ini telah menjadi monumen dalam ingatan banyak orang, sebagai sebuah gerakan yang menyadarkan bahwa masyarakat Indonesia masih sangat lekat dengan ikatan kultural, gotong royong, peduli dan berbagi. Buatlah kegiatan sejenis sampai 2014 “Kami sangat mengapresiasi kegiatan pengumpulan koin yang dilakukan teman-teman Langsat,� begitu seorang aktifis partai yang cukup

74

Setahun Koin Keadilan


Dari pengobatan sampai modal usaha Selain menerima relawan penyumbang koin, penerima koin dan penghitung koin, markas koinkeadilan di Langsat juga menerima cukup banyak tamu yang ingin dibantu. Mereka umumnya mengungkapkan rasa empatinya terhadap persoalan yang dihadapi Prita. Mereka juga memuji gerakan pengumpulan koin untuk membantunya. “Saya yakin yang maha kuasa akan membantu Ibu Prita,” kata seorang Ibu. Dia menceritakan bahwa dirinya mengikuti perkembangan kasus Prita melalui pemberitaan TV. Akhirnya dia juga berkisah bahwa keluarganya juga sedang menderita. Anaknya sakit berkepanjangan dan dia tak mampu membawa ke rumah sakit untuk berobat. “Kalau boleh saya meminta sebagian koin yang terkumpul untuk pengobatan anak saya,” ucap ibu itu memelas. Hari yang lain datang seorang wanita dewasa.

n dar u

dikenal publik, memberikan komentar. Dia cukup rajin menghubungi per telepon, meminta update jumlah pengumpulan koin. Akhirnya, dia bilang. Silakan Langsat dan temanteman koinkeadilan, membuat inisiatif aktivitas sejenis, yang bisa tersebar ke seluruh nusantara. Tak perlu memikirkan biaya operasional kegiatan tersebut, bahkan koordinatorat kalau perlu diberikan honor. “Kami siapkan budget-nya,” begitu aktivis partai ini berjanji. Dia juga berpesan, kegiatan tersebut tak perlu membawa bendera partai pada awalnya. Yang penting kegiatan ini terus berkesinambungan sampai tahun 2014 mendatang. “Partai baru akan muncul pada satu tahun terakhir kegiatan sosial yang kalian lakukan,” begitu katanya. Untuk ajakan ini, kami tegas menolaknya.

Dia terkesan sangat mengikuti perkembangan kasus Prita di Pengadilan maupun pengumpulan koin ini. “Begini, koin yang terkumpul kan jumlahnya sudah melebihi nilai denda yang ditetapkan pengadilan. Prita sendiri di media bilang tidak akan menggunakan uang sumbangan koin untuk kepentingan pribadinya. Jadi bisakah saya mendapatkan sebagian dari koin yang terkumpul ini untuk modal usaha,” ucapnya tegas. Dia lalu menceritakan derita yang dialami keluarganya. Orang tuanya tertipu teman usahanya. Padahal modal usaha patungan dengan temannya itu berasal dari pinjaman rentenir. Hari teraakhir penghitungan koin, datang sorang tamu, wanita separuh baya. Dia mengaku pengusaha. Tanpa babibu, pengusaha yang mengaku dari Jakarta Pusat ini, bilang ingin memutarkan hasil pengumpulan koin, untuk mendapatkan hasil yang lebih besar. “Saya baca di media jumlah koin yang terkumpul sudah lebih dari 500 juta. Dan kasus Prita kan masih

Setahun Koin Keadilan

PRITA KE BANK INDONESIA. Didampingi wakil relawan, antara lain pasangan Ari Juliano dan Ade Novita, Prita Mulyasari disambut dua pejabat BI untuk menyaksikan penyerahan koin.

75


kasasi, biasanya makan waktu tahunan untuk dapat putusan. Jadi uang yang terkumpul ketimbang tidak berkembang, saya putar saja. Kebetulan saya punya proposal bisnis yang menguntungkan,” ujar Ibu ini. Dia lalu mengeluarkan dokumen surat perintah kerja, dari sebuah instansi pemerintah, dengan nilai Rp 750 juta. “Uang koin itu bisa untuk mendanai proyek ini. Dalam setahun, setidaknya saya bisa beri untung 15%,” ujarnya. Untuk lebih meyakinkan, pengusaha ini mengeluarkan sertifikat deposito atas nama dirinya senilai Rp 800 juta yang jatuh tempo pada bulan Maret 2010. “Deposito ini bisa dijadikan jaminan. Saya tidak akan menipu,” katanya. Terhadap semua tamu yang menginginkan sesuatu dari koin yang terkumpul, kami tegas

menjawabnya. Kami tak punya hak untuk meminjamkan, membagikan ataupun membisniskan koin yang terkumpul ini. Tujuan kami uma satu menyerahkan seluruh uang yang terkumpul kepada Prita. Selanjtnya terserah kepada Prita, mau menggunakan untuk apa.

n dar u

TERIMA KASIH. Berlatarkan tempelan catatan penghitungan koin, Prita yang canggung karena diperlakukan bak seleb, hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada relawan dan penyumbang, serta berharap kasusnya tak akan menimpa siapa pun.

76

Setahun Koin Keadilan


Pengumpulan Koin: Membantu Prita, Menolong Bank Sentral

Yusro M. Santoso politikana.com/profil/yusro Twitter : @orsuy

T

ernyata tak cuma Prita Mulyasari yang senang dengan aksi pengumpulan koin yang dilakukan oleh koinkeadilan.com, Koin Peduli Prita, dan yang lain itu. Bank Indonesia pun menyambut germbira gerakan itu. BI tak cuma senang, tapi juga berterimakasih. “Bank Sentarl sangat terbantu dengan gerakan ini,� ujar Budi Rochadi, Deputi Gubernur BI.

Setahun Koin Keadilan

77


... penghitungan ulang di BI, dengan mengerahkan 70 orang karyawan BI dan Bank Mandiri, lengkap dengan 12 mesin hitung koin. Selama seminggu, kasir BI dan Bank Madiri menghitung koin tersebut.

78

Uang logam ini menurut Budi, adalah mata uang paling unik. Dia alat bayar yang perputaran balik ke Bank Sentral kecil sekali. Mekipun kebutuhannya tidak tinggi, BI setiap hari mesti mengeluarkan uang logam baru. Lain dengan uang kertas, setiap hari balik ke BI. Dari sekitar Rp 3,7 trilyun uang koin yang beredar, perputaran balik ke BI bisa dibilang tidak ada. Penggantian uang logam yang rusak juga sangat kecil. Peredaran uang logam ini ternyata banyak yang mandek di celengan anak-anak di rumah, bahkan diperkirakan tidak sedikit orang yang melebur uang logam jenis tertentu, maklum harga intrinsik uang logam itu lebih tinggi dibanding nilai mata uangnya. BI bahkan pernah melakukan studi banding ke Filipina tentang perputaran uang koin ini. Di Filipina pernah dilakukan program agar uang koin itu berputar. Caranya Bank Sentral di sana memberikan insentif kepada masyarakat agar perputaran uang logam kembali ke Bank Sentral bisa normal terjadi. Tapi program ini urung diadopsi, karena: ternyata program yang secara konsep sangat menarik, dalam praktiknya tak berjalan sebagaimana mestinya. Insentif jatuhnya lebih banyak ke oknum-oknum bank operasional. Nah BI khawatir mental pelaksana unit perbankan di sini tak jauh beda dengan di Filipina. Koin yang terkumpul dari gerakan masyarakat selama sepuluh hari yang akhirnya di-pool di Langsat, yang menjadi markas koinkeadilan.com. Penghitungan koin yang dilakukan di Langsat oleh lebih dari 350 relawan selama 4 hari, jumlahnya sekitar Rp 605 juta. Julah tersebut berasal dari penghimpunan koin yang dilakukan di Langsat Rp 335 juta, dan Rp 270 juta berasal dari koordinatorat lain seperti Koin Peduli Prita oleh Milis Sehat, Pemirsa TV One dan sebagainya. Disadari sejak awal, penghitungan oleh rela-

Setahun Koin Keadilan

wan ini tingkat akurasinya pasti tidak maksimal. Sebabnya, relawan tak memiliki keahlian dalam menghitung koin. Waktu penghitungan dari jam 10 – jam 02, juga bukan waktu manusia dalam kondisi prima. Selain itu, koin yang berasal dari koordinatorat lain sebanyak Rp 270 juta, juga tidak dilakukan penghitungan ulang, karena jumlah tersebut sudah dilengkapi dengan berita acara penghitungan. Koin yang 396 plastik dan 65 karung tersebut, dilakukan penghitungan ulang di BI, dengan mengerahkan 70 orang karayawan BI dan Bank Mandiri lengkap dengan 12 mesin hitung koin. Selama seminggu, kasir BI dan Bank Madiri menghitung koin tersebut. Memang membutuhkan waktu lebih lama, dibanding relawan di Langsat. Lamanya penghitungan koin di BI, karena BI tak cuma memperhatikan hasil akhir. Tapi dilakukan seleksi terlebih dahulu, mulai dari jenis uang logam. Dari jenisnya ada 4, putih, kuning, perak, dan campuran perak dan kuning. Setelah itu dipisahkan berdasarkan nilai dan tahun emisi. Selain itu juga dipisahkan berdasarkan kondisi fisik uang. Yang masih layak edar akan diedarkan kembali, sedang yang jelek akan dilebur. Hasil akhir penghitungan koin di BI menemukan jumlah uang logam yang terkumpul sebanyak Rp 615.562.043. Lebih besar Rp10 juta, dari penghitungan yang dilakukan relawan di Langsat. Sedang, uang kertas yang disumbangkan masyarakat bebarengan dengan pengumpulan koin, dalam perhitungan relawan hanya sebesar Rp 83.088.000. Namun dalam perhitungan kasir bank, jumlahnya meningkat menjadi Rp 92.353.475. Bisa jadi penyebab terjadinya perbedaan perhitungan ini karea para relawan tidak menghitung uang yang rusak dan sudah dinyatakan tidak berlaku. Namun, kasir bank punya pertimbangan lain.


tetap bekerja, selain itu jam kerjanya diperpanjang sampai jam 20.00. Meski begitu BI, sangat berterimakasih dengan gerakan pengumpulan koin ini. “Secara cukup signifikan kami bisa menarik uang-uang logam yang sudah tidak layak edar, untuk menggantinya dengan yang baru. Ini tidak pernah terjadi selama ini. Gerakan penghimpunan koin ini sangat membantu Bank Sentral,� kata Budi Rochadi. BI tak cuma berterimakasih dengan program pengumpulan koin ini, tapi dia juga menantang agar program serupa ini dilakukan berkala. �BI bersedia dilibatkan sejak awal, sehingga bisa bisa berperan dalam urusan teknis penghitungannya,� ucap Budi Rochadi. Nah siapa sanggup menjawab tantangan BI? 396 KANTONG PLASTIK, 65 KARUNG. Seluruh koin di Langsat diangkut dengan mobil berlapis baja ke Bank Indonesia. Penghitungan di sana mencatat Rp 615.562.043 koin, Rp 10 juta lebih banyak dari penghitungan di Langsat.

n dar u

Sepanjang kerusakan uang masih sepertiga bagian, uang masih bisa ditukarkan. Demikian juga dengan uang emisi lama, yang dalam pemahaman umum sebagai uang tidak laku, ternyata oleh kasir bank tetap dihitung, karena uang emisi lama bisa ditukar dengan uang emisi baru di BI. Total koin dan uang kertas setelah dilakukan verifikasi oleh BI dan Bank Mandiri jumlahnya mencapai Rp 707.915.518. Jumlah sebanyak itu lah yang pada tanggal 30 Desember bisa disetorkan ke rekening tabungan Prita Mulyasari di Bank Mandiri. BI memang cukup repot dalam melakukan penghitungan koin, karena selain mesti menyiapkan tenaga khusus yang jumlahnya tidak kecil, para kasir tersebut juga mesti kerja lembur. Hari sabtu pun

Setahun Koin Keadilan

79


n dar u

HARI-HARI AKHIR. Ketika sisa koin yang harus dihitung kian menipis, dan loncatan angka perolehan terasa lamban, sejumlah relawan masih bertahan. Mereka punya gurauan tentang “sakauw koin�: bingung ketika tak ada gerojogan koin sehingga berulah aneh-aneh dan mengundang tawa. Padahal sebelumnya mereka tak saling kenal. Mereka dipertemukan oleh koin, dan jadi akrab.

80

Setahun Koin Keadilan


Rp 615.562.043

UANG LOGAM

B

ermula dari e-mail berujung ke kurungan dan denda Rp 204 juta untuk Prita Mulyasari. Dia didakwa dan digugat karena mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit. Masyarakat marah, tak terima. Lalu mereka mengumpulkan koin, receh demi receh, untuk membayarkan denda, pada Desember 2009.

Jalan Langsat 1/3A Kramat Pela Kebayoran Baru Jakarta 12130 rumah@langsat.net rumah.langsat.net

Buku ini mencatat gagasan yang berbiak, tindakan yang beranak pinak, dan terkumpullah bertruk-truk koin. Terima kasih untuk Anda yang membantu dan bersimpati.

Setahun Koin Keadilan  

Tulisan dan foto-foto tentang gerakan Koin untuk Keadilan, gerakan pengumpulan Koin untuk Prita Mulyasari, Desember 2009. Saat itu Anda terl...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you