Page 39

INOVASI & TEKNOLOGI diujikan pada kedelai, padi, dan holtikultura. Kebutuhan kedelai nasional yang dipenuhi dari dalam negeri baru 40%, sisanya dipenuhi dari impor. Akibat keracunan AL dan H+ serta karat hara makro, produksi kedelai ditanah masam umumnya kurang dari 1 ton per hektar. Oleh sebab itu, BB-Biogen mencari solusi alternative dengan mengembangkan kedelai toleran Al. Keragaman pada kedelai dibentuk dengan meradiasi massa sel embriotik kedelai varietas Sindoro dengan sinar gamma, dilanjutkan dengan seleksi in vitro dengan Al sebagai komponen seleksi. Dengan teknologi ini didapat galur baru yang toleran terhadap Al dengan daya hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas yang telah dilepas dilahan masam. Tanaman yang diperoleh diperbanyak secara generatf dan ditanam pada lahan masam. Hasil pengujian itu menunjukan kualitas yang lebih baik varietas sindoro. Pada tanaman padi, teknik seleksi in vitro telah menghasilkan nomor-nomor harapan padi yang toleran terhadap lahan masam dan pH rendah. Selain itu, teknik ini juga telah menemunkan padi toleran kekeringan. Terjadi peningkatan toleransi terhadap beberapa somaklon asal padi varietas gajah mungkur, IR64, dan Towuti. “Padi toleran kekeringan ini, merupakan penemuan yang menggembirakan,” ujar Haryono, Kepala Badan Litbang Pertanian Haryono usai diskusi

tentang penerapan bioteknologi di Hotel Sahid, Jakarta. Pada tanaman holtikultura, teknik in vitro berhasil diterapkan pada tanaman panili, pisang (Ambon Hijon, Ambon Kuning, dan Rajabulu), dan abaka untuk peningkatan ketahanan terhadap penyakit layu fusarium dengan menggunakan agen seleksi fusarat dan filtrat.

Hasilnya, didapat tanaman abaka dengan tingkat multiplikasi tunas yang tinggidan dengan kandungan serat yang lebih baik dari tanaman asalnya. Untuk pisang, diperoleh nomor-nomor harapan pisang yang mempunyai sifat ketahanan terhdap layu fusarium dilahan endemik.

Bioteknologi, Upaya Meningkatkan Produktivitas Pangan

U

paya meningkatkan produktivitas pangan terus dilakukan pemerintah. Salah satu caranya adalah mengembangkan bioteknologi. Bioteknologi merupakan rekayasa genetika agar tercipta suatu verietas unggul baru. Beberapa hasil biotekologi yang ada di Indonesia contohnya seperti, kentang tahan busuk, padi toleran kekeringan, papaya penudaaan kemasakan. Kerja bioteknologi dengan menemukan satu gen, kemudian digabungkan dengan varietas yang diinginkan. Namun, dalam teknik rekayasa genetika penembakan sel, belum dapat menciptakan satu varietas baru dengan beberapa keunggulan. Contohnya belum ada verietas padi yang unggul yang tahan penyakit, pestisida dan mampu produktivitas tanam sekaligus. Kepala Badan Litbang Pertanian Haryono mengatakan walau tidak berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas, peran bioteknologi tetap dibutuhkan. “Untuk langsung meningkatkan produktivitas pertanian melalui bioteknologi masih sulit. Ini membutuhkan waktu lama,” tegas Haryono. Menurutnya, menjaga ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produktivitas tanaman, tetapi juga luas areal lahan.“Bila berbicara kemandiran pangan tidak hanya bergantung kepada produktivitas, semata tetapi juga luas areal panen,” ujar Haryono. Belum lagi ditambah faktor kualitas bibit, kondisi lahan budidaya, pupuk, proses pasca panen, dan masalah perubahan iklim. Sejauh ini, perkembangan bioteknologi di dunia cukup menggembirakan. Fadilla Dewi Rakhmawaty, perwakilan kompartemen bioteknologi di CropLife Indonesia, mengungkapkan pada 2010 pengembangan tanaman produk rekayasa genetika di seluruh dunia telah mencapai satu miliar hektare (ha). “Pengembangan bioteknologi di negara-negara maju sudah beberapa tahun sebelum kita,” ujarnya. Penggunaan tanaman bioteknologi meningkat dari 25 negara menjadi 29 negara. Delapan negara berkembang masuk peringkat10 negara penanam terbesar (lebih dari satu juta ha). Petani yang membudidayakan tanaman bioteknologi di seluruh dunia mencapai 15,4 juta orang yang mana 14,4 juta di antaranya petani kecil dan miskin. Keuntungan ekonomi yang diperoleh petani mencapai USD10,8 miliar pada 2009, yang sebanyak 53 persennya petani di negara berkembang. Sedangkan di Indonesia, tanggal 17 November 2011, baru saja menyidangkan di rapat pleno KKH (Komisi Keamanan Hayati) tiga tanaman hasil biotek. Tebu toleran kekeringan, ISP (ice strukture protein) sebagai bahan baku membuat es krim, dan jagung yang telah dimodifikasi kandungan amilase untuk peningkatan produksi etanol. Ketiganya berstatus aman pangan.

Komoditas Indonesia - Edisi I - Tahun I - Februari 2012

39

majalah komoditas  

majalah komoditas rumahgatris

majalah komoditas  

majalah komoditas rumahgatris

Advertisement