Page 1

JURNAL RSA

Media Komunikasi dan Informasi Road Safety Association

JURNAL RSA

Edisi 001 - Maret 2012

Berjalan di tempat, adalah pernyataan yang lebih halus dari kata mundur, tertinggal atau bahkan tidak ada kemajuan. Gambaran seperti itu yang terjadi dalam gerakan keselamatan jalan (road safety) di Indonesia sepanjang tahun 2011. Kita harus mengakui dan menerima kenyataan bahwa negara ini masih terus menghadapi masalah serius dalam hal keselamatan jalan. Fakta, sebanyak 86 orang tewas setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Jelas sekali terlihat betapa pemerintah kita tertatih-tatih menghadapi persoalan keselamatan jalan dengan sejumlah akibatnya. Indikator utama adalah masih tingginya kecelakaan lalu lintas dijalan raya. Masih tingginya angka kecelakaan di jalan raya, yang mengakibatkan kematian dan luka berat, jelas sekali menggambarkan betapa terbuangnya sumber daya manusia (SDM) secara sia-sia. Di sisi lain, menjadi penyebab penderitaan dan duka yang mendalam bagi keluarga dan teman yang ditinggalkan.

Content

01

Syamsul Maarif

Berjalan di Tempat

03

Rio Octaviano

RSA, Berjuang Demi Keselamatan Jalan

04

Edo Rusyanto

Berbuat Dengan Nurani

06

Benny Novianugroho

ATPM dan Road Safety

08

Rio Octaviano

Melebarkan Sayap Ke Washington

10

Ardy Purnawan Sani

Butuh Lebih Dari Sekedar Kata Aksi

BERJALAN

DI TEMPAT

Oleh : Syamsul Maarif

Media Komunikasi dan Informasi Road Safety Association

Bagi Road Safety Association (RSA), pada 2011, masih banyak hambatan dalam penerapan keselamatan jalan. Pertama, hambatan di dalam pembagian tanggung jawab untuk masalah keselamatan, kami biasa menyebutnya hal ini dengan istilah ego sektoral. Kemudian informasi yang tidak akurat mengenai keselamatan jalan, hal ini akan membutakan para pihak yang berniat membantu penerapan keselamatan jalan. Dan yang terpenting adalah belum cukupnya tindakan yang memadai untuk mengkoordinasikan dan mengimplementasikan penanganan keselamatan di semua sektor yang memerlukan perbaikan. Setidaknya menurut Road Safety Guidelines, ada 14 sektor yang dapat diintervensi untuk penerapan dan perbaikan keselamatan jalan, yaitu koordinasi dan manajemen keselamatan jalan, sistem data kecelakaan lalu lintas, pendanaan keselamatan jalan dan peranan jasa asuransi, serta perencanaan dan desain keselamatan jalan. Lalu, perbaikan dan lokasi lokasi berbahaya, pendidikan keselamatan jalan, pelatihan dan pengujian pengemudi, serta kampanye dan sosilaisasi keselamatan jalan. Selain itu, standard keselamatan jalan, peraturan lalu lintas polisi lalu lintas dan penegakan hukum, pertolongan pertama bagi korban kecelakaan lalu lintas, riset keselamatan jalan, dan terakhir biaya kecelakaan lalu lintas. [Lanjut >>]


Jurnal - Road Safety Association

RSA, Berjuang Demi Keselamatan Jalan

BEHIND THE DESK Penanggung Jawab Rio Octaviano Pemimpin Redaksi Edo Rusyanto Redaktur Pelaksana Ardy Purnawan Sani Sekretaris Melini Diati Sidang Redaksi Rio Octaviano Eko Cahyo Wibowo Syamsul Maarif Edo Rusyanto Benny Novianugroho Ardy Purnawan Sani Mukhammad Azdi Photographer Lucky Junan Subiakto Moh. Igfar Pramarizki Disain Grafis & Digital Imaging Moh. Igfar Pramarizki Alamat Redaksi Jl. Inteendans H-36 KPAD Jatiwaringin Jakarta Timur 17411 Indonesia Phone +62 811 891 892 Email redaksi@rsa.or.id Website http://rsa.or.id

Karut marutnya kondisi penerapan keselamatan jalan, diperparah dengan semakin memburuknya kondisi transporasi darat, seperti di kota Jakarta dan umumnya di seluruh kota besar di Indonesia. Jakarta sebagai Ibu kota Indonesia dapat dijadikan barometer bagaimana negara ini mengatur masalah transportasi darat, masalah yang sangat berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Ada segudang persoalan. Mulai dari pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi yang tidak seimbang dengan pertumbuhan jalan, jauhnya capaian keberhasilan pembangunan sistem transportasi publik yang mumpuni, serta tata ruang kota Jakarta yang bertumpuk dan berusaha mengakomodasi segala kebutuhan. Selain itu, para produsen kendaraan bermotor yang terus memanfaatkan kondisi lalu lintas di Jakarta, hingga rendahnya partisipasi dan kesadaran masyarakat untuk turut serta displin dan tertib berlalu lintas. Kesemua itu baru gambaran kecil dari berbagai persoalan kusutnya masalah lalu lintas di Jakarta. Tidak ada kemajuan yang berarti dalam penanganan masalah lalu lintas di Jakarta, usaha yang dilakukan banyak yang bersifat sporadis, tambal sulam, dan hilang tidak ada kesan. Selanjutnya apa ? Apakah kita akan terus mengalami situasi ini dan semakin memburuk? Apakah harus ditunggu jumlah kecelakaan lalu lintas terus meningkat sehingga menjadi hal yang biasa, dan hanya sekedar angka pada grafik ? Persoalan keselamatan jalan, persoalan lalu lintas saat ini sudah menjadi benang kusut yang saling mengikat, dan hanya satu cara penyelesaian. Sebuah tindakan politik yang tegas, berani, massif dan berkelanjutan, akan memberikan hasil yang nyata terhadap masalah keselamatan jalan dan lalu lintas. Dibutuhkan keberanian untuk melakukan negosiasi dengan para agen tunggal pemegang merek (ATPM) otomotif yang telah sekian lama menjajah kita dengan kapitalnya. Tentu juga, dibutuhkan kerja keras untuk meredam liarnya ego sektoral, dan dibutuhkan komimen untuk bias menganggarkan dana yang lebih bagi penerapan keselamatan jalan. Masalahnya sekarang, kapan pemerintah dan wakil rakyat di DPR berani mengambil tindakan politik seperti itu ? Apakah harus menunggu suatu kondisi dimana rakyat akhirnya muak dengan kondisi ini dan kemudian menuntut tanggung jawab pemerintah. ? Selamat memasuki tahun 2012, semoga pemerintah kita sadar bahwa rakyatnya selalu mempertaruhkan nyawanya dijalan pada setiap aktifitas yang dilaksankannya. (*)

BERANGKAT dari komunitas pengguna otomotif, para penggiat keselamatan jalan membentuk Road Safety Association (RSA) di Jakarta pada 15 Desember 2007. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ini menjadi wadah kegelisahan warga atas membludaknya angka kecelakaan lalu lintas jalan. RSA berjuang meningkatkan kesadaran berkendara yang aman dan selamat.

Oleh : Rio Octaviano

RSA memandang pentingnya pemahaman dan implementasi peraturan dalam berkendara di jalan. Selain itu, menekankan etika berkendara yang tidak mengundang risiko tinggi. Kedua aspek tersebut tentu saja dilengkapi dengan keterampilan berkendara yang memadai. Pada 2007, RSA menyuarakan soal tak bermaknanya revisi UU No.14/1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), bila tidak dibarengi sosialisasi yang tepat,kepada para petinggi negeri kita tercinta. Maklum, versi revisi yang tertuang dalam UU No 22/2009 tentang LLAJ, butuh sinergi yang kuat di kalangan para pemangku kepentingan (stakeholder) keselamatan jalan. Sebagai gerakan yang berbasis di akar rumput, RSA turun langsung ke masyarakat pengguna jalan. Misi utama adalah sosialisasi peraturan dan etika dalam berkendara, serta keterampilan berkendara yang mumpuni. Resistensi demi resistensi kami hadapi, dari yang keras sampai yang bersifat politis. Namun, tekad kami sudah bulat, untuk terus menyuarakan keselamatan jalan dari tiga aspek tadi, yakni, rules, skill, dan attitude. Komunikasi dan aksi konkret juga terus digulirkan. Mulai dari edukasi hingga advokasi seputar keselamatan jalan. Bahkan, dalam membangun jaringan, tak semata di dalam negeri, tetapi juga meluas ke manca negara sebagai sebuah sinergi. Posisi RSA menjembatani masyarakat dengan pemerintah. Menyuarakan aspirasi rakyat dan menyeimbangakan informasi apa yang telah dilakukan pemerintah. Tentu saja dengan tetap kritis dan obyektif. Kami butuh pemerintah yang menghapus ego sektoral untuk mewujudkan program keselamatan jalan yang tepat bagi masyarakat. Bukan pemerintah yang pamer segudang ide tanpa aksi nyata yang berkesinambungan. Kami berjanji akan terus berjuang untuk keselamatan jalan, dan menggerus ego sekoral dalam pemerintahan. Satu tujuan kami, agar kita semua bisa hidup tenang dan jauh lebih bisa berkarya di masa hidupnya, tanpa harus takut ketika berada di jalan. (*)


BERBUAT DENGAN NURANI Oleh : Edo Rusyanto

TAHUN 2011 menjadi tonggak penting bagi penggiat keselamatan jalan. Kemauan politik pemerintah guna menekan fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan akhirnya dituangkan dalam sebuah dokumen kerja super serius. Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan. Wakil Presiden Boediono yang mencanangkan RUNK Jalan, di Istana Wakil Presiden, di Jakarta, pada 21 Juni 2011, pasti hafal betul penyakit negeri ini. Banyak rencana bagus tapi tak sedikit yang berhenti sebatas wacana. Miskin aksi konkret. Harapan menurunkan fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan sebesar 85% pada 2035 mestinya tidak mustahil. Basis penghitungan yang dipakai adalah kasus kecelakaan tahun 2010 yang menelan 31.234 jiwa. Setara dengan sekitar 86 korban tewas setiap hari. Bila terwujud, pada 2035 korban tewas sebanyak 13 jiwa per hari. Masih memilukan. Road Safety Association (RSA) sebagai lembaga nirlaba mencoba aktif mereduksi fatalitas kecelakaan lewat gerakan di akar rumput. Membangun kesadaran berlalu lintas jalan yang saling peduli dan men-

taati aturan jalan. Bukan pekerjaan mudah. Secara rutin RSA menggelar kopi darat keliling (kopdarling). Ajang tersebut dimanfaatkan untuk saling berbagi mengenai keselamatan jalan. Pendekatan yang digunakan melalui pengubahan perilaku berkendara yang aman dan selamat. Lalu, ketaatan pada aturan lalu lintas jalan, serta keterampilan berkendara. Pada 2011, RSA menyambangi sejumlah komunitas pengguna kendaraan dan komunitas masyarakat lainnya, seperti Majelis Rasulullah. Bentuk penyebaran semangat berkendara yang aman dan selamat juga dituangkan dalam berbagai aktifitas. Mulai dari pelatihan, seminar, hingga aksi turun ke jalan. Bahkan, dalam rangka meningkatkan jejaring, RSA memenuhi undangan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam pertemuan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Washington DC, Amerika Serikat. Penetrasi kepada stake holder keselamatan jalan juga ditempuh. RSA menghadiri forum-forum keselamatan jalan yang digelar kementerian perhubungan

dan kementerian kesehatan. Termasuk juga aktifitas yang melibatkan Kepolisian Republik Indonesia (RI) dan Istana Wakil Presiden. Semuanya dengan satu tujuan, mendorong agar para stake holder kian serius dan bersinergi dalam menggulirkan program keselamatan jalan. Bukan mengedepankan ego sektoral. Lima Fokus Gerakan moral yang mengerucut pada lima aspek.

dilakukan

RSA

Pertama, mendorong perubahan perilaku berkendara menjadi lebih aman dan selamat. Kita tahu, faktor perilaku menjadi pemicu utama kecelakaan lalu lintas jalan. Karena itu, lewat pengubahan perilaku, diharapkan potensi kecelakaan kian sempit.

para penegak hukum sendiri yang berujar bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan lalu lintas jalan? Ketiga, percepatan transportasi publik yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau. Keempat, sinergi diantara stake holder terus diperkuat. Kelima, mendorong peningkatan peran masyarakat, termasuk dunia usaha.

Bagi RSA, kelima aspek tadi kait mengkait. Satu saja tak terwujud, karut marut lalu lintas jalan tak pernah henti. Buntutnya, kecelakaan lalu lintas jalan juga terus membubung. Gerakan moral di kalangan akar rumput tak boleh surut. RSA terus bergerak dari hati ke hati. Sebuah upaya menyentuh Kedua, mengajak para penegak hukum lebih tegas kesadaran para pengguna jalan. Berjuang dengan dan konsisten. Penegak hukum yang bersih dan nurani. Tentu saja dengan akal budi. (*) mampu menjadi panutan masyarakat. Bukankah


ATPM dan Road Safety

MENUNTUT TINDAKAN NYATA PRODUSEN KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP KESELAMATAN BERKENDARA

Sumber Foto : Istimewa

Oleh : Benny Novianugroho

Perbandingan ruang yang dibutuhkan untuk berbagai jenis kendaraan

Penjualan otomotif, baik roda dua maupun roda empat, menorehkan rekor baru pada 2011. Untuk sepeda motor, menembus angka 8 juta unit, sedangkan penjualan mobil mencapai 893 ribu unit. Rekor sepanjang sejarah otomotif Indonesia. Para produsen otomotif menuai keuntungan dari kondisi masih lemahnya transportasi publik dalam menyokong mobilitas penduduk. Negara belum sanggup memfasilitas penduduknya secara maksimal. Hal ini berbuntut kepada pencaharian solusi instan, yakni memakai kendaraan pribadi. Tak heran jika volume penjualan otomotif terus meningkat dan populasi kendaraan praktis terdongkrak. Pada 2011, total kendaraan yang ada di Indonesia mencapai sekitar 83,4 juta unit. Dari jumlah tersebut, sekitar 69 juta unit adalah sepeda motor, selebihnya mobil.

Di sisi lain, Indonesia disodori fakta tingginya angka kecelakaan lalu lintas jalan. Pada 2011, Setiap hari 85 penduduk tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan atau setara dengan 31.185 jiwa. Data tersebut masih sementara. Pada 2010, korban tewas sebanyak 31.234 jiwa. Melongok data sementara milik Korps Lantas Polri terlihat bahwa korban tewas pada 2011 merupakan 17,64% dari total korban kecelakaan yang sebanyak 176.763 orang. Mayoritas korban kecelakaan menderita luka ringan, yakni sekitar 61,56%. Sedangkan korban luka berat sekitar 20.80%. Pada 2011, di seluruh Indonesia, keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan mencapai sekitar 70%, sedangkan mobil pribadi dan mobil barang masing-masing sekitar 12%. Selebihnya melibatkan bus (3%), kendaraan khusus (1%), dan kendaraan non-motor (2%). Para produsen otomotif sudah sewajarnya ikut ber-

Sumber : Polda Metro Jaya tanggungjawab mengkampanyekan keselamatan jalan. Bisa saja program tersebut dituangkan dalam corporate social responsibility (CSR) mereka. Program kampanye keselamatan jalan yang sudah ada terasa masih kurang. Memang sudah ada program pelatihan keselamatan jalan hingga mudik bersama, tapi terasa belum maksimal. Porsi edukasi kepada masyarakat terasa lebih minim ketimbang aspek promosi dan pemasaran para produsen. Di sisi lain, materi dalam pelatihan keselamatan jalan, baik itu untuk pemobil dan pemotor, aspek keterampilan (skill) masih dominan. Aspek perilaku berkendara (attitude) dan ketaatan hukum (rules) masih minim. Padahal, kita tahu semua bahwa pemicu utama kecelakaan lalu lintas jalan adalah faktor manusia, alias perilaku berkendara. Dua aspek utama di faktor manusia adalah kelengahan saat berkendara dan berkendara tidak tertib. Road Safety Association (RSA) menekankan lima point untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas jalan, yakni: 1. Sinergipara stakeholder keselamatan jalan 2. Mengubah perilaku berkendara 3. Mewujudkan transportasi publik yang aman, nyaman, tepat waktu dan terjangkau secara akses dan finansial 4. Penegakan hukum yang tegas dan konsisten 5. Meningkatkan kepedulian dan peran masyarakat Dari kelima point penting tersebut, RSA memandang bahwa poin 1, 2, dan 5 sudah sepantasnya menjadi tanggungjawab produsen kendaraan bermotor. Produsen dapat berkontribusi terhadap keamanan berkendara dimulai dengan menyematkan fasilitas keamanan pada produknya. Sebut saja misalnya, fitur Automatic Headlamp On (AHO) di sepeda motor atau fasilitas rem ABS dan air bag di mobil. Para penjual kendaraan semestinya bisa ikut berpartisipasi dalam meningkatkan kesadaran kepemilikan

surat izin mengemudi (SIM). Selektif dalam menjual kepada konsumen yang sudah memiliki SIM. Berjualanlah dengan penuh etika. Tidak mengedepankan uang muka ringan dengan tenor panjang. Edukasi kepada konsumen secara rutin dan berkesinambungan. Selain menggelar edukasi sendiri, bisa juga bersinergi dengan organisasi yang peduli keselamatan jalan atau stakeholder keselamatan jalan. Di sisi lain, para produsen dan pedagang juga diharapkan peduli dengan perwujudan transportasi publik yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau. Tak perlu terjadi stigma bahwa kendaraan menjadi mesin pembunuh di jalan. Karena itu, segeralah bertindak, mulai sekarang. (*)

wa time s I : to er Fo b m Su


Road Safety Association

MELEBARKAN SAYAP

KE WASHINGTON Oleh : Rio Octaviano

Road Safety Association (RSA) Indonesia melebarkan jejaring dengan menghadiri pertemuan global Second Global Meeting of NonGovernmental Organizations Advocating for Road Safety and Road Victims di Pan American Health Organization Headquarters Washington DC, USA, 14-15 Maret 2011. Ajang yang digelar World Health Organization (WHO) itu, membuka wawasan dan jejaring RSA ditingkat global. Selain untuk memperkuat jejaring, forum tersebut membahas pengalaman dan pengetahuan dalam memberikan advokasi dibidang keselamatan jalan dan korban kecelakaan lalu lintas. Penguatan jejaring dilakukan dengan pembentukan sebuah aliansi global seluruh lembaga swadaya masyarakat (LSM) dibidang keselamatan jalan dan korban laka lantas serta bagaimana berkolaborasi dengan media. Pertemuan global tersebut juga membahas upaya mendukung dan memfasilitasi LSM disetiap negara untuk berkontribusi dalam peluncuran kampanye keselamatan jalan yakni Decade of Action for Road Safety 2011 – 2020. RSA Indonesia mengutus Rio Ocatviano, ketua umum RSA untuk menghadiri pertemuan dengan perwakilan dari negara-negara lain antara lain Inggris, Amerika Serikat, Trinidad & Tobago, Philipina, Ukraina, Oman, Yunani, Cina, Kolombia, Brazil, Libanon, Mexico, Argentina, Belgia, Tanzania, Belanda, Turki, Afrika Selatan, Polandia, Canada, Uruguay, Paraguay, India, Irlandia, Italia. Ekuador, El Salvador, Luxemburg, Kamerun, Kenya, Costarica, Jepang, Spanyol, Nigeria, Swiss. Senegal, Venezuela, Israel, Mesir, Thailand, dan Slovenia. (*)


Isu keselamatan jalan sudah mendunia. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO) menempatkannya sebagai isu trategis di tingkat global, regional, dan nasional.

BUTUH LEBIH DARI

SEKADAR KATA

aksi Oleh : Ardy Purnawan Sani

Situation and trends - Road traffic injuries remain an important public health problem at global, regional and national levels. Over 1.2 million people die each year on the world’s roads, and between 20 and 50 million suffer non-fatal injuries. In most regions of the world this epidemic of road traffic injuries is still increasing. Low-income and middle-income countries have the highest burden and road traffic death rates. Almost all data sources show that about three-quarters of road traffic deaths are among men and that the highest impact is in the economically active age ranges. In many high-income countries death rates have been declining over the last four to five decades. Even in these countries, road traffic injuries remain an important cause of death, injury and disability. It has been estimated that, unless immediate action is taken, road deaths will rise to the fifth leading cause of death by 2030, resulting in an estimated 2.4 million fatalities per year. (sumber : WHO) WHO menyebutkan, kecelakaan jalan menewaskan lebih dari 1,2 juta orang setiap tahun di seluruh dunia. Selain itu, berkisar 20–50 juta orang menderita cedera serius. WHO juga menyebutkan bahwa sekitar tiga-perempat kematian lalu lintas jalan di antaranya adalah laki-laki, dan korban tertinggi terjadi pada rentang usia produktif secara ekonomi. Dibanyak negara berpendapatan tinggi angka kematian telah menurun selama 4–5 dekade terakhir. Di negara kita, kematian akibat kecelakaan lalu lintas jalan menjadi salah satu penyebab kematian utama, selain menyebabkan cedera fatal dan cacat. WHO memprediksi, jika tidak diambil tindakan secara konkret dan meyeluruh, kematian di jalan yang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab utama kematian ke-5 pada 2030, yaitu sekitar 2,4 juta kematian dalam setiap tahunnya. (Grafik : Trend Korban Kecelakaan yang Naik Drastis – Sumber : Indonesian Road Safety Report by WHO) Terkait Indonesia, WHO menyebutkan, kecelakaan yang disebabkan oleh pengendara bermotor roda dua masih sangat dominan, yaitu sebesar 61 %, sedangkan yang menaiki kendaraan roda empat sebesar 4% untuk penumpang, dan 4% untuk pengemudi. Yang menyedihkan adalah korban kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki disebutkan sebesar 15% dan pengguna sepeda sebesar 13%. Potret Jakarta Di Jakarta dan sekitarnya pada 2011, tiap hari ada 22 kasus kecelakaan. Sebanyak 10.140 orang menjadi korban atau sekitar 28 orang per hari. Tahun 2011, dari korban sebanyak itu, hampir 10% atau sekitar 1.008 jiwa, harus menemui ajal di jalan raya. Ironisnya, hampir sekitar 79,36% adalah para pemotor. Barangkali karena mayoritas pengguna jalan adalah para pemotor. Maklum, hampir 10 juta sepeda motor yang beredar di Jakarta dan hanya sekitar dua juta unit kendaraan roda empat. Mayoritas korban kecelakaan di wilayah Polda Metro Jaya menderita luka ringan, yakni sekitar 62,25%. Sedangkan korban yang menderita luka berat sekitar 27,81%. Dari jumlah kasus kecelakaan terjadi penurunan tipis, yakni sekitar 1%. Jika pada 2010 ada 8.235 kasus kecelakaan, pada 2011 sekitar 8.079 kasus. Bahkan, fatalitas korban menyusut 3%. Kecuali korban luka ringan yang melonjak sekitar 18%. [Lanjut >>]


Data dan fakta telah terpampang jelas dihadapan kita, ancaman bahaya kematian karena kecelakaan lalu lintas cukup membuat dahi kita berkerut. Aksi keselamatan jalan haruslah digagas dan digarap secara serius, bahkan seharusnya jauh lebih serius atau minimal setara dengan penuntasan kasus terorisme di Indonesia. Saatnya Bertindak!

I call on Member States, international agencies, civil society organizations, businesses and community leaders to ensure that the Decade leads to real improvements. As a step in this direction, governments should release their national plans for the Decade when it is launched globally on 11 May 2011. Mr Ban Ki-moon, UN Secretary-General Setelah PBB melalui Sekretaris Jendral Ban Ki Moon mencetuskan “Decade of Action for Road Safety” Pemerintah Indonesia menyambut hal tersebut dengan melaksanakan kegiatan “Pencanangan Aksi Keselamatan Jalan Indonesia” disambung dengan pengesahan “Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas Angkutan Jalan” oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 11 Mei 2011. Tanggal tersebut menjadi tanda diawalinya Aksi Keselamatan Jalan di Indonesia 2011 – 2020, dengan pencanangan target menurunnya tingkat kecelakaan disetiap negara (Resolusi PBB No. 64/255 butir 7). Ada lima Pilar Pendekatan di dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan, yakni: 1. Manajemen Kesehatan Jalan. 2. Jalan yang lebih berkeselamatan. 3. Kendaraan yang lebih berkeselamatan. 4. Pemakai jalan yang lebih berkeselamatan, dan 5. Penanggulangan sesudah terjadinya kecelakaan. Sedangkan untuk menjawab pencanangan target penurunan tingkat kecelakaan di Indonesia sesuai dengan Resolusi PBB No. 64/255 butir 7, Aksi Keselamatan Jalan Indonesia 2011-2020 menetapkan target penurunan tingkat kecelakaan sebesar 50% pada 2020, dihitung dari tingkat kecelakaan tahun 2010. Sudah saatnya bagi kita semua untuk turut aktif dalam proses penyadaran akan pentingnya keselamatan jalan kepada seluruh lapisan masyarakat, baik itu di keluarga, kantor, komunitas, sekolah, dan lingkungan rumah. Apa yang dapat kita lakukan? Kata kuncinya adalah “Saatnya Bertindak” Ya, kini saatnya bertindak bukan sekadar bicara, apalagi hanya berwacana. Tak perlu mencari ‘kambing hitam’ bernama ego sektoral dan pusing atas pilihan mana yang lebih utama dibandingkan kepentingan antar daerah, data dan fakta telah banyak berbicara. Korban telah banyak berjatuhan, darah pemuda-pemudi yang sudah terlanjur tumpah dijalan-jalan beraspal. Tidak perlu menunggu anggota keluarga kita atau tokoh publik yang jadi korban baru bertindak. Mau berapa banyak korban yang jatuh agar mata kita terbuka lebar bahwa tingginya angka kematian di jalan bukan sekadar mimpi yang bisa hilang saat terbangun. Ia adalah ancaman serius bagi generasi penerus bangsa. Hanya ada satu cara untuk memulainya dan tidak ada waktu lagi untuk menunggu. Sekarang! (*)

Jurnal RSA Indonesia  

Jurnal Road Safety Association Indonesia Edisi 1

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you