Page 1


Pemimpin Umum Panji Wicaksono Pemimpin Redaksi Devy Nandya Staf Redaksi Dini Ayudia Erwin Erika Hafsah Halidah Hanna Rengganis Megariza Mirrah Almira M. Yunus Karim Novita Dwi Putri Oktavina Qurrota Ayun Rio Aurachman Ririn Restu Adiati Senni Muthia Tika Ayu Nastiti Redaktur Artistik Shinta Dwi Wahyuni

Revisi Boulevard 62 edisi November 2008: Rubrik Kilas dengan judul ‘Ketika ITB Bernyanyi’ tertulis: ‘Entah karena kekurangan penonton atau untuk mendukung kegiatan satu sama lain, KPA dan ISO bahu membahu menjual tiket acara keduanya. Bahkan dijual tiket terusan untuk menonton kedua konser tersebut.’ Yang benar, tiket terjual habis sebelum hari-H dan tidak ada tiket terusan. Rubrik Mahasiswa dengan judul ‘Kongres KM: Butuh Insentif?’ tertulis Ilmah Nahlani sebagai senator dari IMA-G pada tabel daftar senator yang tidak hadir LPJ. Seharusnya Ilmah Nahlani adalah senator dari HMP Sedangkan senator IMA-G, Indra Ganesha, hadir pada ketiga sidang LPJ tengah tahun Kabinet. Boulevard meminta maaf atas kekeliruan tersebut.

2

Staf Artistik Ardya Dipta Nandaviri Devi Candraditya Faisal Dwiyana P Giovani Haryadi Halida Astatin Nurul Hikmah Regnauld Ethan Fane Buntario Rifqi Syahrial Sausan Atika Maesara Shauma Hayyu Syakura Yudhi Octivan Aldha Pemimpin Perusahaan Hasan Ramdan Staf Perusahaan Windy Iriana Dila Puspita Roos Haikal R Stella Nike Wardhany Niki Tsuraya Yaumi Alamat Surat Gedung Eks UPT Olahraga Lt. 2 Jalan Ganeca 10 Bandung 40132 Website http://www.boulevard.org e-mail boulevarditb@yahoo.com ISSN

boulevard 63


Daftar Isi

boulevard 63

3


Daftar Isi

gelitik

4

boulevard 63


Visi

“Tidak ada orang yang lebih sering melakukan kesalahan daripada mereka yang tidak mau mengakui dirinya salah.” Demikian Francois De La Rochefoucauld, seorang penulis asal Perancis, pernah berkata. Orang yang tidak pernah mengakui dengan besar hati bahwa dirinya salah tidak akan pernah mendapat pelajaran dari kesalahannya. Tidak akan pernah ada evaluasi. Apa yang perlu dievaluasi jika orang tersebut memang melakukan sesuatu yang benar? Malah pihak lain yang keberatan dengan perilakunya itulah yang patut dipertanyakan idealismenya. Perasaan ‘benar’ atau pembenaran sering datang di saat terdesak. Otak bisa dengan cepat menyusun kata-kata dan seribu alasan untuk memperkuat posisinya. Alasannya bisa berupa idealisme, eksistensi, maupun solidaritas. Bisa juga didasarkan pada sehelai kertas bermaterai. Tanggal 8 Februari 2009, seorang mahasiswa meninggal saat kaderisasi. Gerbang Ganesha sempat penuh dengan karangan bunga bertuliskan ‘turut berduka cita’. Konferensi pers digelar, berbagai rapat dilakukan. Namun pihak terkait saling lempar tanggung jawab. Ada yang mempersalahkan orang tua yang telah mempercayakan anak mereka sepenuhnya pada institusi pendidikan yang katanya terbaik di Indonesia. Ada juga yang datang melayat menunjukkan ‘solidaritas semu’, solidaritas yang baru ada saat seseorang sudah terbaring kaku di liang lahat. Suatu kejadian tidak akan menjadi pelajaran apabila hanya dipandang sebagai kesialan. Namun dibutuhkan sikap ksatria untuk mampu mengakui kesalahan. Sikap yang hanya bisa ditunjukkan oleh mereka yang masih punya nurani. Seorang mahasiswa kini telah wafat. Apakah harus jatuh korban lain untuk menunjukkan ini bukan sekedar ‘apes’?

Devy Nandya Pemimpin Redaksi

boulevard 63

5


Kilas

lapangan Campus Center

Rangkaian a c a r a Olimpiade V ITB 2009 yang diadakan oleh Kabinet KM ITB telah ditutup oleh Closing Ceremony. Acara ini dilaksanakan pada 13 Februari 2009, di (CC).

Acara dimulai dengan pemutaran video pertama, Ball Boy. Dilanjutkan dengan penampilan Hijack, Erotical Instrument, These R Fake, Sheina, yang berkolaborasi bersama Shana Fatina (TI’04), Presiden Kabinet, dan OSD (Orkes Seni Dangdut). Setelah penampilan band selesai, pembacaan Best Suporter untuk himpunan. Juara pertama diraih oleh Himpunan Mahasiswa Elektro (HME). Disusul Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI), dan Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) pada posisi kedua dan ketiga. MC melanjutkan dengan pengumuman juara klasemen yang diraih MTI. Menjelang akhir acara, Mahatronic membawakan jingle Olimpiade V ITB 2009, yakni lagu Bengawan Solo yang telah diaransemen ulang. Kemudian performance art dari FSRD yang mengiringi pematian obor. Sekitar pukul 22.30, acara ditutup oleh M. Adityo K. (MG ’06) selaku Ketua Olimpiade V ITB 2009, dilanjutkan dengan pesta kembang api.(swsn)

Tiga belas mahasiswa ITB bertolak ke Boston Park Plaza Hotel untuk mengikuti Harvard National Models United Nation (HNMUN) pada tanggal 12-15 Februari 2009. Tiga belas orang tersebut adalah Misykat Fahada M. Nur (SBM’07), Nabilla Ayumi (SBM’07), Krista Daisy Iskandar (SBM’08), Friska Anggryari Ruslim (SBM’06), Ayunda Ariani Soemali (SBM’06), Dian C. Anggara (SBM’06), Hussein Haikal (PL’05), Tizar Muhammad Kautsar Bijaksana (PL’07), Zahratu Shabrina (PL’07), Amalia Dwi Putri (TI’07), Ravina R. Bind (TL’06), Achmad Zaky Syaifudin (IF’04), dan Julian Sukmana Putra (IF’05). Namun, karena masalah administrasi, Misykat batal ikut dalam rombongan. HNMUN merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Harvard University bekerja sama dengan PBB. Kegiatan ini meliputi simulasi dari sidang PBB dan study tour ke Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Tujuan dari diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk mengumpulkan ide-ide mahasiswa di seluruh dunia dalam memecahkan berbagai masalah di dunia.(nrl)

Dalam rangka Dies Emas ITB, Departemen Seni Budaya Kabinet KM ITB akan mengadakan sebuah rangkaian acara musik, Ganesha Harmonic. Menurut Rian Ardiansyah (SR’05), producer acara, Ganesha Harmonic akan dilaksanakan pada tanggal 23-28 Maret 2009. Semua rangkaian acara ini terbuka bagi seluruh mahasiswa ITB. Rangkaian acara dimulai dari Musikamera, lomba fotografi yang bertemakan “musisi jalanan”. Kemudian ada Musikreasi, lomba cipta dan aransemen lagu kampus. Pendaftaran Musikreasi dimulai pada bulan Februari. Lalu ada lagi talkshow dengan tema seputar musik, fashion, dan kebudayaan yang bernama Musikologi. Puncak Ganesha Harmonic adalah Musikonser yang akan diadakan pada tanggal 28 Maret 2009. Panitia menjanjikan penampilan yang tak biasa, misalnya kolaborasi band metal dengan alunan puisi sosial, angklung berhiaskan tari kolosal teatrikal, atau solo pianis diatas panggung bunga. Satu acara yang akan melengkapi pelaksanaan konser adalah Musiklopedia, pameran digital berformat multimedia yang menyuguhkan informasi seputar musik.(swsn)

6

boulevard 63


Kilas

ITB bekerja sama dengan Ikatan Alumni ITB, akan mengadakan sebuah pagelaran seni dan budaya sebagai kegiatan penutup dari rangkaian acara Dies Emas ITB yang bernama Opera Ganesha. Pentas ini akan diadakan pada tanggal 8 Maret 2009 pukul 19.00 – 21.00 di Sasana Budaya Ganesha. Purwacaraka, yang merupakan salah satu alumni, berperan sebagai music director. Acara ini diikuti seluruh unit kesenian mahasiswa di ITB dan organisasi mahasiswa internasional, ISF. Rudy Hermawan, selaku koordinator acara mengatakan bahwa masih ada rencana untuk mengundang mahasiswa dari luar unit kesenian, misalnya unit bela diri, agar menambah semarak acara. Menurut Rudi, yang membedakan pentas ini dengan yang lain adalah formatnya yang bersifat non-konvensional. Acara ini merupakan kolaborasi total membentuk sejarah perjalanan ITB sejak pertama berdiri hingga keinginan akan menjadi seperti apa ITB di masa depan nanti. Acara ini juga terbuka untuk umum dan gratis. Oleh karena itu, akan diadakan pembatasan penonton di lokasi yang kapasitasnya hanya sekitar tiga ribu kursi.(swsn)

Pada tanggal 15 Februari 2009 Kongres KM ITB menginisiasikan Forum Rembug untuk membahas kembali konsepsi kemahasiswaan terpusat. Acara ini dihadiri oleh perwakilan tiap himpunan dan rumpun unit kegiatan mahasiswa se-ITB. Menurut Arya Adi Wibawa (EL’06), selama ini mahasiswa ITB menganggap KM adalah kabinet. Padahal KM sendiri sebetulnya adalah seluruh mahasiswa ITB. Akibatnya, mereka selalu tidak peduli di awal dan mengkritik di akhir tanpa menyadari bahwa itu adalah kesalahan mereka juga. “Pandangan - pandangan tersebut yang harus diluruskan,” kata senator dari Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) ini. Acara sempat terlambat selama kurang lebih satu jam. Hal ini karena tempat pindah dari Gedung Serba Guna (GSG) ke Campus Center (CC) dan sulit menertibkan peserta rembug yang datang. Selain itu, forum juga harus menunggu kedatangan perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Geologi GEA. Di samping masih banyak pro dan kontra, dalam forum rembug tersebut, semua lembaga setuju bahwa kemahasiswaan terpusat memang diperlukan. Selain itu, seluruh lembaga, kecuali Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) dan Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) memastikan pengiriman senator yang lebih representatif bagi Kongres baru yang akan dibentuk tahun ini. (fsl)

Tanggal 14 Februari 2009 Ganesha Hijau KM-ITB, Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HIMATEK), Himpunan Mahasiswa SITH Nymphaea, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) dan U-Green mengadakan acara bersama berjudul Garbage Fun Day. Acara ini bertempat di Ruang Multimedia Gedung Kuliah Umum (GKU) Timur. Garbage Fun Day terdiri dari Talkshow Edukasi Lingkungan, Diskusi Lingkar Lingkungan, dan Games Edukasi Lingkungan. Menurut Ivan Hadinata Rimbualam (TK’07), tujuan acara ini adalah membuka wawasan dan pemikiran mahasiswa ITB tentang lingkungan, terutama mengenai peran mahasiswa dalam menyikapi perubahan iklim.[dvy]

boulevard 63

7


Laporan Utama

Oleh Devy Nandya

8

boulevard 63


Laporan Utama

H

awa Bekasi malam itu sangat gerah. Daryanto duduk di ruang tamu, sambil sesekali mengelap keringat yang mengalir membasahi wajah dan lehernya. “Semua tidak akan terjadi kalau anak ITB punya nurani,” sesalnya, berkali-kali.

Rumah di Taman Galaksi itu kini hanya ditempati Daryanto bersama istrinya, Dewi Fatimah, dan kedua anaknya, Widya Wulandari dan Anto Triwibowo. Anak keduanya, Dwiyanto Wisnugroho (GD’07), baru saja dimakamkan pada 8 Februari kemarin. Wisnu, begitu dia biasa disapa, meninggal ketika sedang mengikuti Program Penerimaan Mahasiswa Baru Ikatan Mahasiswa Geodesi (PPAB-IMG) di Desa Pagerwangi, Gunung Batu, Kecamatan Lembang. Sehari sebelum Wisnu mengikuti acara dari IMG, Daryanto sempat datang mengunjungi putranya tersebut. Kebetulan pejabat Pemda Bekasi ini sedang ada rapat di Bandung. “Saya tadinya mau ngajak Wisnu pulang, soalnya ada acara keluarga hari Minggu. Tapi Wisnu nggak mau, dia bilang ada Ospek IMG.” papar Daryanto. Dewi yang duduk di sebelah suaminya menambahkan bahwa Wisnu biasanya pulang ke rumahnya setiap Minggu. “Anak saya ngajar Pencak Silat di SMA 71. Sudah ban hitam dia,” ujar Dewi. Namun, sudah tiga minggu sebelum kematiannya, Wisnu tidak pulang karena alasan kaderisasi. Akhirnya keluarga yang bergantian menjenguk Wisnu di Bandung. “Terakhir saya ketemu Wisnu waktu ada libur Imlek,” cerita Wulan, kakak Wisnu. Wulan ketika itu menginap di kosan Wisnu dan sempat mengobrol tentang kaderisasi yang sedang dijalani adiknya. “Dia bilang, dia ikut karena semua temennya ikut. Nanti kalau nggak ikut, nggak diakuin sama Geodesi.” Minggu pagi, sekitar pukul 05.30, Wulan menerima telepon dari Gunawan Raditya (GD’05), Ketua IMG, melalui telepon genggamnya. Dia langsung memanggil ayahnya saat itu. Daryanto pun menjerit begitu mendengar kabar dari Gunawan. Dewi yang sedang shalat Subuh langsung lari dan menemukan suaminya berteriak panik di telepon. Wisnu meninggal.[]

boulevard 63

9


Laporan Utama

Oleh Devy Nandya dan Oktavina Qurrota Ayyun

Minggu, 8 Februari 2008, Dwiyanto Wisnugroho meninggal saat mengikuti Program Penerimaan Anggota Baru Ikatan Mahasiswa Geodesi (PPAB IMG). Penyebab Wisnu meninggal masih menjadi tanda tanya karena keluarga almarhum menolak otopsi. Namun bagaimana dia meninggal, Boulevard melakukan penelusuran.

S

abtu pagi, 7 Februari 2009, Wisnu berangkat dari tempat kosnya di Jalan Sangkuriang untuk mengikuti acara terakhir rangkaian kaderisasi IMG. Sampai pengkondisian awal pada pukul 09.00, Wisnu masih terlihat sehat. Saat itu tidak terlintas pikiran buruk apapun di benak Dilvo (GD’05), koordinator Komandan Lapangan (Danlap) PPAB-IMG. Semua tampak sudah dipersiapkan dengan matang. Sehari sebelumnya, tim Atlas Medical Pioneer (AMP) dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran telah melakukan medical check up terhadap seluruh peserta, termasuk Wisnu. Dalam pemeriksaan tersebut, Wisnu dinyatakan sehat dan layak untuk ikut acara pelantikan di Lembang. Menggunakan angkot carteran, panitia dan peserta PPAB IMG berangkat dari Babakan Siliwangi menuju tempat pelantikan. Rombongan ini sampai di Pagerwangi pada tengah hari. Peserta kemudian dibariskan di SD Mekar Wangi untuk melanjutkan perjalanan ke Lapangan 2 yang berjarak sekitar 1,2 km dari sana. Pada jarak 400 m, Wisnu tumbang. Menurut keterangan juru bicara IMG Crisis Center, Yudhistira Helviantoro Tardan (GD’05), pemuda bertubuh gempal tersebut sempat diperiksa oleh tim medis

10

dari IMG dan dinyatakan sehat. “Panitia menanyakan pada almarhum, apa dia masih sanggup berjalan. Almarhum bilang, masih,” papar Dilvo. “Kalau memang dia tidak sanggup, sesuai prosedur, peserta akan dibawa di dalam mobil panitia. Tetapi karena dia masih merasa sanggup, kami izinkan dia untuk terus berjalan.” Sesampainya di Lapangan 2, dilakukan pengkondisian awal. Wisnu yang berjalan terpisah bersama panitia datang beberapa menit lebih lama dibanding teman-temannya. Pada saat dia sampai, nafasnya tersengal-sengal dan bajunya basah oleh keringat. Peserta diberi istirahat shalat dan makan siang pada pukul 14.25. Namun kemudian hujan turun di Gunung Batu sekitar pukul tiga sore itu. Seluruh peserta disuruh untuk memakai ponco masingmasing. Hujan lalu berhenti ketika peserta hendak dimobilisasi ke basecamp panitia di SMA Mekar Wangi. “Tapi karena udah terlanjur, ya kita tetap ke basecamp,” ujar Dilvo. Di basecamp, peserta dibagi menjadi enam kelompok dan disebar ke enam pos yang berbeda. Seperti layaknya kegiatan outbond, kelompokkelompok ini berjalan memutar dari satu pos ke pos lainnya. Hingga akhirnya seluruh kelompok kebagian jatah melakukan simulasi di setiap pos.

boulevard 63


Laporan Utama “Di pos-pos ini, kami mendapat pelatihan tentang kepemimpinan, kerja sama, dan arti persaudaraan melalui games dan simulasi. Lalu mendapat orasi dari alumni angkatan atas. Tapi sama sekali tidak ada kegiatan fisik, push up pun tidak ada,� papar Ngakan Gede Agung Prayudy Agatha (GD’07), salah seorang peserta PPAB IMG. Wisnu dan teman-teman kelompoknya kemudian berjalan ke pos satu. Saat itu Wisnu masih bisa berjalan sendiri, walaupun dengan agak kesulitan. Di pos tersebut, dia sempat mengikuti sebagian games. Namun kemudian berhenti karena punggungnya masih sakit. Akhirnya, Wisnu hanya duduk dan diberi koyo oleh panitia. Kemudian peserta shalat Ashar di Lapangan 2. Wisnu hanya bisa shalat sambil duduk. Sebelumnya pun, dia harus dibantu temannya dalam membuka sepatu dan mengambil air wudhu. Di pos dua, Wisnu tidak ikut games sama sekali. Ia hanya duduk dan diberi balsam oleh panitia. Sampai pada mobilisasi ke pos enam, Wisnu dibopong. Pada jarak sekitar tiga meter sebelum pos enam, jalanan licin dan menurun. Wisnu harus meluncur dengan pantat. Di pos enam, Wisnu duduk bersandar di tebing dengan kaki diluruskan. Panitia mengizinkan untuk minum. Wisnu bilang keadaannya sudah lebih baik, tetapi wajahnya meringis. Sekitar pukul 18.40, Wisnu berpisah dari kelompoknya dan langsung menuju pos AMP dengan dipapah seniornya. Tim AMP, yang terdiri dari dua dokter koas, memiliki posnya sendiri di dekat pos enam dan tidak diikutsertakan langsung dalam kegiatan di lapangan. Di pos AMP, Wisnu duduk dengan kaki diluruskan, dia mengeluh sakit pinggang sebelah kiri. AMP pun memeriksa Wisnu dengan menekuk kaki kirinya dan mengetuk pinggang kiri. Wisnu bilang dia tidak merasa sakit. AMP menyimpulkan Wisnu tidak encok dan memperbolehkannya mobilisasi ke basecamp karena tidak berbahaya. Sebelum mobilisasi, Wisnu sempat mengganti bajunya yang basah oleh keringat. Kemudian dia shalat dan bisa mengambil wudhu sendiri. Pada pukul 19.15, Wisnu berjalan dari pos AMP ke basecamp dengan dipapah. Dia sempat beristirahat selama 5 menit karena mengeluh pinggangnya lebih sakit dari sebelumnya. Sesampainya di basecamp, Wisnu mulai tidak bisa jalan. Kaki kirinya kesemutan dan kaki kanannya

boulevard 63

11


Laporan Utama kram. Pukul 19.40 Wisnu pingsan. Anggota AMP dipanggil ke basecamp untuk memeriksa Wisnu. Saat itu, AMP memeriksa nadi, nafas, mata, dan kaki Wisnu. Mata Wisnu masih merespon cahaya. “Kata AMP, dengan kondisi seperti itu, harusnya dia (Wisnu, red.) nggak pingsan,” ujar Yudhi. Pada pukul 20.30 sampai 21.15, kondisi Wisnu normal. Dia menghabiskan makan malamnya sambil duduk dengan kaki diluruskan.

“Waktu itu saya bilang, ‘Kamu nggak lihat itu tampang anak saya? Kalau sudah nggak bisa jalan begitu pasti pucat mukanya, udah keluar keringat dingin begitu. Masih juga kamu bilang anak saya pura-pura pingsan?’” papar Dewi dengan nada agak tinggi. Dewi menyesalkan panitia yang tidak langsung menelepon keluarga saat Wisnu mengeluh sakit. “Saya yang akan tanggung biayanya. Asal dikabari, pihak keluarga pasti akan datang. Mereka nggak perlu keluar uang sepeser pun.”

Pukul 21.15, dilakukan pengkondisian untuk kembali ke Lapangan, melanjutkan acara pelantikan. Karena Wisnu tidak sanggup berdiri maupun berjalan, dia ditinggal di basecamp dengan ditemani senior. Para senior tersebut, panitia dan non-panitia, memotivasinya dengan menyuruh

Pukul 00.00, dilakukan pengecekan lagi oleh AMP dan kondisi vital Wisnu dinyatakan normal. Kemudian alumni masuk kembali dan Wisnu meminta dipanggilkan dua orang temannya, Billy (GD’07) dan Ngakan.

Wisnu menyebutkan nama teman-temannya dan menyanyikan lagu-lagu himpunan.

“Sekitar pukul setengah dua pagi ketika kami sedang diberi pelatihan baris berbaris dan pelatihan kesigapan, tiba-tiba saya dan Billy dipanggil oleh seorang senior. Saya lupa namanya, tapi dia bertanya, ‘Kalian mau ketemu wisnu nggak?’ Karena yang saya tahu Wisnu dari siang sudah tidak terlihat bersama kami, saya bilang mau ketemu Wisnu.”

Menurut Dilvo adanya stressing mental kepada Wisnu dilakukan untuk menaikkan motivasi dan fokus Wisnu yang mulai turun. Wisnu sempat ditanya, “Mau pulang?” Wisnu menjawab, “Mau.” Kemudian seniornya bertanya lagi, “Mau ikut acara?” Wisnu menjawab, “Mau.” Dari keterangan Yudhi dalam Rapat Pimpinan (Rapim) 12 Februari 2009 lalu, di basecamp ini Wisnu mengaku sebelumnya dia hanya berpurapura pingsan. “Karena almarhum malas berjalan dan melakukan mobilisasi,” ia memberi alasan.

Ngakan pun dibawa ke ruang kelas tempat Wisnu berada. Di sana dia menemukan Wisnu yang sedang merenung, duduk bersandar di tembok. “Saya hampiri Wisnu dan saya ajak ngobrol sebentar, memberi dia motivasi dan meyakinkan Wisnu bahwa kami semua, ke-81 orang temannya akan selalu ada buat dia untuk membantu dia,” cerita Ngakan.

Setelah Wisnu meninggal, IMG sempat datang ke rumah Wisnu dan bertemu dengan keluarganya.

Ngakan memaparkan waktu itu sempat ada alumni yang masuk dan bertanya pada Wisnu. “Alumni

12

boulevard 63


Laporan Utama nanya, ‘Ada masalah?’ Wisnu jawab, ‘Iya’. ‘Masalah keluarga?’ Wisnu jawab lagi, ‘Iya’,” papar Ngakan. Menurut Ngakan, Wisnu adalah orang yang sangat pendiam. Dia jarang menceritakan masalahnya pada teman-temannya. “Makanya, saya juga nggak tahu sebelumnya kalau dia punya masalah keluarga,” kata Ngakan lagi.

Tak sampai satu menit, lampu kembali dinyalakan. Senior kembali menanyakan apa keputusan Wisnu dan dia menyatakan bahwa dia ingin pulang saja. Pernyataan Wisnu ini dikatakan secara sadar. Seorang senior yang menjabat tangan Wisnu mengaku bahwa saat itu jabatan tangan Wisnu masih cukup erat.

Sementara Daryanto membantah adanya masalah dalam keluarganya. “Nggak ada masalah apa-apa,” tandasmya.

Yudi mengatakan, keputusan memulangkan Wisnu itu didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, jawaban almarhum dinilai tidak konsisten. Sebelumnya dia meminta untuk kembali ke lapangan tetapi kemudian dia meminta untuk pulang. Kedua, panitia mengkhawatirkan kondisi kaki Wisnu yang sudah kram lebih dari lima jam. Panitia memutuskan untuk membawa Wisnu ke rumah sakit untuk memulihkan kondisi mental dan fisiknya.

Ketika berdua dengan Ngakan di dalam ruang kelas, Wisnu sempat meminta minum kepada temannya itu. “Dia meminta minum dua kali. Kali pertama saya berikan botol yang berisi 600 ml, dia minumnya sedikit. Nah, yang kedua dia minum agak banyak, karena dia memaksa minta yang 1,5 liter. Saya berikan dan dia minum cukup banyak, tapi hanya sekitar sepertiga botol dia minum,” papar Ngakan. Setelah dimotivasi oleh Ngakan, Wisnu setuju untuk kembali ke lapangan untuk bergabung bersama teman-temannya yang lain. Ngakan pun membantu Wisnu berdiri, tetapi mengalami kesulitan karena postur tubuh Wisnu cukup besar. Billy kemudian masuk dan ikut memotivasi Wisnu. Seorang senior yang masuk bersama dengan Billy menanyakan kembali pada Wisnu, apa dia benarbenar mau kembali mengikuti acara atau pulang. Wisnu menjawab, dia mau mengikuti acara. Ngakan dan Billy pun membantu Wisnu berdiri. Kali ini Wisnu berhasil berdiri dengan menopang badannya dengan bersandar di palang jendela. Namun baru satu langkah Wisnu berjalan, tubuh gempal itu terduduk lagi. Kawan-kawannya pun memotivasi lagi. Saat itu, Udin, Adi, dan Fajar dihadirkan untuk membantu memotivasi dan memapah Wisnu. Namun masih juga Wisnu kesulitan berjalan. Teman-temannya itu pun berusaha membantu dengan mengurut kaki Wisnu yang kram. Sayangnya kram di kaki Wisnu tak juga berangsur membaik, sehingga mereka terpaksa mendudukkan Wisnu kembali. Akhirnya panitia memanggil kelima temannya itu untuk bergabung dengan rekan-rekannya di lapangan. Tanpa sepengetahuan mereka, panitia telah memutuskan akan membawa Wisnu ke rumah sakit. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul dua pagi. Setelah kelima temannya pergi, Wisnu diberi kesempatan untuk merenung oleh para seniornya. Lampu dimatikan, agar Wisnu dapat berpikir dengan tenang tanpa terganggu kehadiran senior.

boulevard 63

Wisnu pun dibopong oleh beberapa panitia ke tepi jalan untuk menunggu mobil yang akan membawa Wisnu kembali ke kota. Pada saat dibopong inilah Wisnu mulai menunjukkan gejala-gejala yang tidak normal. Wisnu tidak dapat merespons dengan baik panitia yang mengajaknya berbicara, dari mulutnya juga keluar air liur, dan pupil matanya tidak lagi merespons cahaya. Panitia mengecek dengan menekan jari kaki Wisnu, namun tidak ada respon. Mereka pun segera menghubungi tim medik AMP yang bersiaga di pos. Setelah itu Wisnu dipapah kembali ke atas. Di mana Wisnu diajak mengobrol untuk menjaga kesadarannya sambil menunggu tim medis (AMP) dan mobil datang. Wisnu saat itu sudah tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Dia pun mulai mengeluarkan air liur dan sudah tidak lagi respon cahaya. Tim AMP yang baru datang segera melakukan CPR (Cardiopulmonary resuscitation) dan nafas buatan. Ketika mobil Nissan X-Trail yang seharusnya membawa Wisnu pulang tiba, panitia kesulitan memasukkan Wisnu ke dalam mobil karena tubuhnya yang besar. Sementara kondisi tubuh Wisnu pun makin kritis. Dia buang air besar di celana, mulut berbusa, dan tidak terlihat tandatanda pernapasan. Ketika tim AMP tiba di lokasi dan memeriksa keadaan Wisnu, mereka menemukan bahwa di tubuh almarhum sudah tidak terdapat denyut nadi serta dari mata dan mulut Wisnu keluar cairan. Tim AMP memeriksa keadaan Wisnu sambil menelepon dokter supervisor mereka via telepon. Akhirnya diputuskan bahwa Wisnu akan dibawa ke rumah sakit Boromeus dengan diangkut oleh mobil pick up didampingi panitia dan tim AMP. Keputusan tersebut didasarkan pada kondisi tubuh

13


Laporan Utama

almarhum yang kian kritis dan mempertimbangkan kelengkapan fasilitas medis di rumah sakit Boromeus. Namun, saat tiba di Boromeus pukul 03.15, Wisnu dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit. “Saya nggak habis pikir,” kata Wulan. “Katanya anak ITB pinter-pinter semua. Masak ke dalam X-Trail nggak muat? Kalau nggak muat lewat pintu tengah, buka pintu belakang, kursi tengah dan belakang dilipet. Masak nggak muat? Kalau mau bikin alasan, yang logis dikit.” Dewi menambahkan, dia dan suaminya sempat napak tilas ke lokasi pelantikan anggota baru IMG di Pagerwangi. “Pada jarak 200 meter tuh ada KSAU. Fasilitasnya lengkap. Ada ICU, ada dokter jaga 24 jam.”

***

Sekitar pukul 09.00, panitia PPAB IMG dan anggota IMG 2007 yang baru dilantik berkumpul di depan sekretariat himpunan jaket jingga ini. Wajah-wajah yang tadinya sumringah habis pelantikan pagi itu langsung berubah kelam. “Gue langsung lari waktu 2007 dikasih tahu kabar itu,” kata Dilvo. Dia merasakan ironi dan rasa bersalah karena sebelumnya baru saja tertawa

14

dan bercanda bersama adik-adik kelasnya itu. Lalu seketika pula angkatan termuda IMG itu harus menerima kabar bahwa seorang kawan seangkatan mereka telah wafat. Ngakan sebagai salah satu orang yang paling terakhir melihat almarhum merasa sangat terpukul mendengar berita tersebut. Apalagi, dia menilai Wisnu bukanlah orang yang lemah mental maupun fisiknya. Apalagi Wisnu juga seorang ‘jagoan’ Pencak Silat. “Beberapa hari sebelumnya, saya dan Wisnu sempat bercanda. Bahwa pada saat pelantikan nanti, kami akan membuat Danlap tidak bisa bergerak dengan ilmu tenaga dalam yang dikuasai Wisnu.” Siapa sangka, malam itu malah Wisnu yang harus pulang dalam keadaan terbujur kaku tak bergerak? Fajar juga sempat merasa tak percaya dan sedih telah kehilangan rekan seperjuangannya itu. “Wisnu itu orangnya baik. Kalau ada PR, gue suka minta bantuan dia,” kenang Fajar. Dia tak pernah mengira, bahwa malam Minggu itu adalah malam terakhir dia bertemu dengan temannya yang pendiam. Yang paling diingat Fajar adalah katakata terakhir Wisnu, sebelum pintu ditutup malam itu, “Sampaikan maaf saya pada saudara-saudara di atas... Maaf karena nggak bisa ikut sampai akhir…”[]

boulevard 63


Laporan Utama

oleh Panji Wicaksono

Dua tahun yang beku itu telah berlalu. Kegiatan – kegiatan atas nama Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG), satu persatu mulai diadakan kembali. Di awal tahun 2009 ini, IMG mengadakan kaderisasi yang dinamai PPAB (Proses Penerimaan Anggota Baru). Namun sayang, di penghujung kegiatan inilah Dwiyanto Wisnugroho, yang akrab dipanggil Wisnu, menghembusakan nafasnya yang terakhir.

K

aderisasi tampaknya kembali menjadi “peti es” bagi IMG. Setelah sebelumnya sempat dibekukan pada Oktober 2005 hingga OKtober 2007, kini IMG kembali dibekukan oleh kasus yang sama, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. ITB juga telah memberhentikan sementara Kaprodi Teknik Geodesi dan Geomatika, Wedyanto Kuntjoro. Wedyanto sendiri dianggap ITB lalai, karena tidak mengawasi jalannya pelantikan anggota, yang telah disetujuinya dalam bentuk memberikan tandatangan. “Akan ada sanksi bagi yang bertanggungjawab dan terlibat dalam OS ilegal tersebut, namun sanksinya akan disesuaikan dengan sejauh mana keterlibatannya. Ini akan diputuskan komisi (disiplin, red),” papar Widyo Nugroho Sulasdi, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni

boulevard 63

(WRMA), saat jumpa pers di Gedung Rektorat ITB, 10 Februari 2009. Sampai saat ini, rektorat telah memilih tiga mahasiswa, yang dianggap bertanggung jawab atas kejadian ini. Mereka adalah Ketua IMG Gunawan Raditya, Ketua Pelaksana Program Pelantikan Anggota Baru (PPAB) IMG I Putu Priadharma, dan Koordinator Lapangan PPAB Syaril. Sanksi ITB terberat yang akan mereka terima adalah Drop Out. 52 alumni pun turut terkena getahnya. Beberapa alumi tersebut ada yang tidak bisa melegalisasi ijazahnya karena nama mereka yang tercatat dalam buku hitam ITB. IMG tidak tinggal diam terhadap ancaman ini. Dibantu pihak alumni, terbentuklah Tim Advokasi yang

15


Laporan Utama dipublikasikan pada tanggal 14 Februari 2009, di Hotel Mitra Bandung. Ali Nurdin (PL’92), juru bicara tim advokasi IMG saat itu, mengungkapkan bahwa timnya terlibat bukan karena semata-mata membela kesalahan. “Kalau ada kesalahan silahkan dihukum, tetapi hukum secara proporsional dan kesalahan itu pun harus dibuktikan terlebih dahulu,” jelasnya. Menurutnya, ITB sendiri tengah berusaha untuk cuci tangan akan masalah ini. Tindakan yang diambil pihak ITB juga dinilainya telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), yakni langsung memvonis mahasiswa bersalah, tanpa melihat konteks permasalahan dan tanpa terlebih dahulu melakukan penyelidikan untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya. Tidak dilayaninya 52 alumni yang hendak melegalisasi ijazah, menurutnya juga adalah salah satu bentuk pencabutan hak hidup manusia, karena dapat menghambat kegiatan orang tersebut dalam mencari nafkah. Sebelum didampingi tim tersebut, IMG sebenarnya telah didampingi oleh tim advokasi dari kabinet KM ITB. Karena kurangnya sumber daya pada Badan Advokasi dan Pelayanan Mahasiswa, KM pun tak ragu-ragu merekrut anggota non-kabinet dalam membentuk tim tersebut. Tim ini pun mulai meneliti kasus Himafi 10 tahun yang lalu, meminta saran dari berbagai pihak dan meneliti kembali SK rektor yang digunakan sebagai dasar pemberian hukuman kepada IMG. Noviana (TI ‘05), salah satu anggota tim, menampik bahwa tim ini akan membela penuh IMG. “Disini bukan membela (IMG.red), tapi berusaha mencari kebenaran dan keadilan,” jelasnya. Sejalan dengan tim advokasi IMG, tim ini juga berpendapat bahwa sanksi DO tidak sesuai karena tuduhan kelalaian belum terbukti. ITB sendiri dinyatakan bersalah oleh tim ini, karena tidak menggunakan kekuatannya sebagai institusi, untuk menghentikan OS yang ilegal tersebut. Dilvo (GD’05), Koordinator Komandan Lapangan, tentu saja sangat tidak setuju dengan sanksi DO tersebut. Menurutnya, tidaklah pantas sebuah legalitas diganjar dengan hukuman DO. “Apa gak

16

ada sanksi yang lebih mendidik? Temen-temen gua belajar apa dari sana?” kecamnya. “Apa yang pantas gue terima, gue siap menerima itu, cuman apakah DO? Sanksi yang lebih mendidiklah, inikan ITB,” ujarnya lagi. Dilvo sendiri mengaku tidak tahu adanya ancaman DO dari ITB, bagi mahasiswa yang melanggar larangan melakukan OS ilegal. “Bingung dengan peraturan-peraturan di ITB,” keluhnya. *** Lambok Hutasoit, Dekan FITB, menyayangkan kegiatan OS yang selama ini dipenuhi dengan ketidakjujuran. Proposal kegiatan yang diajukan ke pihak ITB, biasanya berbeda dengan realita di lapangannya. “Kita coba bikin jujur dan segala macam, tapi keliatannya pengaruh luarnya jauh melebihi apa yang kita lakukan di kampus,” sesalnya. Lambok sendiri heran dengan masih disalahkannya pihak ITB. Padahal seharusnya pihak ITB secara legalnya aman karena sudah melarang segala bentuk kegiatan OS. Emosi pun turut mewarnai kantor WRMA. “Di kalangan mahasiswa itu aneh, tidak membahas bagaimana IMG itu harus bertanggung jawab, tapi ini malah rame-rame minta keringanan hukuman mahasiswa (IMG.red). Ini saya tidak mengerti ini. Fenomenanya, fenomena apa ini?” tanya Widyo gerah. “Siapa pun juga yang melanggar peraturan ITB ada sanksinya, jelas itu!” imbuhnya lagi. Menurutnya, komunitas mahasiswa ITB seharusnya lebih mendorong mahasiswa IMG, yang telah melakukan kegiatan ilegal, untuk lebih bertanggungjawab dan lebih mempermudah penyelidikan yang dilakukan. “Jadi solidaritas kemahasiswaan bukan berarti mahasiswa yang salah itu tetap dibela. Dimana letak keimanannya kalau kita berbicara agama?!” tambahnya. Tanggungjawab. Itulah yang ditunggu-tunggu Widyo dari IMG selama ini. “Kenapa menuntut ITB bijak dan lain sebagainya, tapi justru pelakunya yang menyebabkan kematian sese orang itu tidak diminta

boulevard 63


Laporan Utama bertanggungjawab? Mindset apa ini?!” hardiknya keheranan. Masih adanya kejadian kosong pada kronologis pukul 00.00 sampai 02.25, dianggapnya sebagai bentuk tidak bertanggungjawab. Demikian pula pihak alumni, yang menurutnya telah menghilang tanpa membuat surat pernyataan tidak bersalah. Akibatnya, berlakulah sanksi buku hitam tersebut. “Kalo IMG bertanggung jawab, IMG harus mengklarifikasi ke publik, kalo dia melakukan OS ilegal sampai ini meninggal! Hayo, siapa yang bisa begitu?!” tantangnya pada IMG. Menurutnya, tanggungjawab itulah yang nantinya akan dapat meringankan sanksi yang jatuh pada IMG. “Marilah kita menegakkan kemartabatan ITB, bahwa orang-orang ITB itu bertanggungjawab, dalam ranah masing-masing fungsi dan tugasnya,” pesan Widyo. “Sekarang saya dihadapkan kepada fenomena karakter dan fenomena budaya,” jelasnya lagi. ITB yang multikultur, menurut Widyo, juga memiliki andil dalam kejadian ini. Mahasiswa pun dibaginya menjadi dua, mahasiswa destruktif dan konstruktif. Widyo pun berambisi untuk memperbaiki sistem psikotes penerimaan mahasiswa baru, sehingga

boulevard 63

ITB hanya memiliki mahasiswa dengan sifat dasar konstruktif. Menurutnya, orangtua juga seharusnya bertanggungjawab, karena pembentukan karakter seorang mahasiswa sebelum di ITB, berasal dari keluarga. Shana Fatina Sukarsono (TI’04), Presiden KM ITB, turut memberikan pendapatnya. Menurutnya, pembentukan karakter para anggota suatu komunitas adalah dengan komunikasi dan interaksi. “Sayang, orang-orang ITB (rektorat.red) sendiri lebih suka mendengarkan orang lain, tapi dia gak percaya dengan apa-apa yang ada di dalamnya dia (mahasiswa.red),” ungkapnya. Mahasiswa sendiri dinilainya terlalu autis dan tidak percaya dengan sikap ITB-nya sendiri, sehingga kebanyakan aspirasi mereka tidak terssampaikan karena takut akan adanya hukuman dari ITB. “Nah itulah fungsi KM ITB, istilahnya mah tengah-tengahnya, dia bisa ngejembatanin keduanya ini (ITB dan mahasiswa. red) dapat informasi yang sama dan menciptakan persepsi untuk saling percaya,” jelasnya. Kabinet sendiri telah berusaha membangun agar kaderisasi dapat dilegalkan. Namun sayang, usaha ini tidak didukung penuh oleh massa kampus, sehingga belum ada pembicaraan kaderisasi secara utuh dengan pihak rektorat. ***

17


Laporan Utama

Daryanto, ayahanda Wisnu, tidak pernah menyangka sebelumnya akan kehilangan buah hatinya di lingkungan ITB, yang menurutnya terdiri dari anakanak pilihan berintelektual dan berbudi tinggi. Daryanto sendiri menilai kejadian ini disebabkan pula oleh adanya balas dendam secara turun-menurun dan akibat dari pertemuan antar kebudayaan mahasiswa yang berbeda-beda. Ditambah lagi kekerasan dalam bentuk psikologis yang dilakukan senior kepada juniornya selama kegiatan kaderisasi berlangsung. Daryanto menganggap bahwa malam 1000 lilin sebagai malam kebersamaan yang sifatnya semu. “Anaknya sudah meninggal, solidaritas sejati itu harusnya ketika di lapangan,” komentarnya. Sama seperti halnya rektorat, Ibunda Wisnu, Dewi Fatimah, sampai saat ini merasa belum mendapat tanggung jawab yang tegas dari pihak IMG. Dewi sendiri tidak akan menuntut secara hokum karena tidak bersedia anaknya diautopsi. ”Anak saya udah tenang,” ungkapnya. DO terhadap panitia yang masih di lingkungan ITB sendiri menurutnya sudah hal yang paling bagus, mengingat pihak keluarga tidak menuntut secara hukum teradap panitia.

18

Pihak keluarga sendiri menyayangkan ITB yang seperti bertindak setengah-setengah dan berusaha untuk lepas tangan dari kasus ini. “Ketika tidak ada masalah diakui sebagai Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB. Kalau ada masalah, masak ikatan geodesi apa? Lembang? Masak jadi Ikatan Geodesi Liar?” komentarnya tak habis pikir. Surat perjanjian ‘tidak akan mengikuti OS-ilegal’ pun tak akan ada artinya tanpa pengawasan dari pihak ITB, karena pelakunya adalah mahasiswa ITB itu sendiri. Menurutnya, orangtua hanya menitipkan anaknya sementara. Seharusnya tanggungjawab tetap ada pada lembaga ITB. SK Rektor pun penegakannya harus menyeluruh dan dalam pengawasan yang ketat. Jangan sampi SK hanya dijadikan tameng perlindungan ITB, agar jangan sampai lembaga ITB yang disalahkan. Usaha apa saja yang sudah dilakukan pihak keluarga terhadap kasus ini? Dewi sendiri mengaku bahwa dia sudah menyerahkan segala sesuatunya kepada pihak ITB. “Terserah mau ditindaklanjuti bagaimana, terserah rektornya, ” tambahnya. Daryanto pun demikian, ”Kalau saya udah pasrah, toh tidak akan bisa mengembalikan apapun.”[]

boulevard 63


Laporan Utama

oleh Giovani Haryadi Waktu awal tahun 1970-an, namanya plonco. Di akhir tahun 1970-an sampai 1980-an namanya Orientasi Studi Pengenalan Kampus (OSPEK). Di tahun 1990-an berubah sedikit menjadi Orientasi Studi (OS). Sekarang lebih dikenal dengan istilah ‘kaderisasi’. Namun, konon intinya tetap sama.

M

enurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kaderisasi berarti proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Kader berarti orang yang diharapkan akan memegang peranan penting di dalam pemerintahan, partai, dan sebagainya. Dalam kehidupan berhimpunan, kaderisasi ini dimaksudkan untuk membentuk kader yang bisa menggerakan organisasi himpunan, sehingga himpunan tersebut dapat terus berkembang. Menurut anggota Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK), Hanief Adrian (PL’03), pada awalnya kaderisasi himpunan dilakukan untuk membentuk persepsi mahasiswa terhadap kondisi politik di awal tahun 1980-an. Pada saat itu terjadi peristiwa Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) dimana militer Orde Baru menduduki kampus disusul dengan dibubarkannya Dewan Mahasiswa (DM) ITB. Sebagai alternatif, pemerintah Orde Baru membuat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai wadah organisasi mahasiswa. Namun mahasiswa ITB menolak didirikannya badan ini karena menganggap BEM berada dalam kendali rektorat, sedangkan rektorat berada dalam kendali Soeharto. Untuk menyiasati hal tersebut, pergerakan mahasiswa kemudian diturunkan kepada Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Pada waktu kaderisasi di himpunan, kepada mahasiswa baru ditanamkan nilai-nilai kebangsaan

boulevard 63

yang sesuai dengan cita-cita pergerakan mahasiswa saat itu. Mengingat situasinya yang represif, proses pengkaderan dilakukan dengan doktrinasi. Semua anggota himpunan harus mempunyai pandangan yang sama bahwa kondisi negara sedang tidak benar dan pemerintah yang berkuasa tidak benar. “Istilah kerennya ‘brainwash’,” kata Hanief. “Untuk brainwash itu nggak cukup seminggu-dua-minggu. Butuh satu semester, setahun…” Seiring dengan jatuhnya Orde Baru, berubah pula sistem kaderisasi yang dianut himpunan. Caranya sudah tidak sekeras dulu dan penekanannya lebih kepada nilai-nilai keprofesian. Walaupun cobaannya tidak bisa dibilang gampang, seperti sulitnya perizinan dari Kepala Program Studi (Ka-Prodi) maupun dekan masing-masing, sejak dulu sampai sekarang kaderisasi terbukti bertahan. Tak peduli seberapa sering namanya diganti. Jika himpunan bersikeras dengan kaderisasinya, sebagian petinggi ITB pun tetap pada pendiriannya menentang acara tersebut. Seperti Lambok Hutasoit. Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ini menyatakan tidak pernah bersedia ambil resiko dalam menyetujui kegiatan kaderisasi himpunan dari Prodi bawahannya. Menurut Lambok, apa yang disampaikan mahasiswa di atas kertas dan pelaksanaannya nanti bisa jadi sangat berbeda. Kejujuran, menurutnya lagi, merupakan hal yang langka di dalam lingkungan kampus ITB. “Buaya kalian kadalin, saya dulu wakil ketua (himpunan,

19


Laporan Utama red.)!” selorohnya sambil tertawa. Dimas Maulana (TM’05) menilai kaderisasi dilarang karena rektorat terpengaruh kaderisasi ‘zaman dulu’, terutama kaderisasi yang bersifat latihan fisik. Menteri Pengembangan Sumber Daya Anggota Kabinet-KM ITB ini menilai walaupun ada beberapa hal yang sama, ada perubahan mendasar pada bentuk kaderisasi di ITB. Contoh gamblangnya adalah tidak ada lagi

kebutuhan yang diperlukan untuk membuat sebuah kaderisasi, apakah ada unsur fisik atau tidak. Tiap zaman pasti berbeda-beda kaderisasinya. Ideal jika kaderisasi tepat guna. “Kita mengkader, artinya gak monoton, gak melulu dengan hal-hal yang sama, harus sesuai dengan zamannya. Kondisinya pasti berubah terus. Artinya sesuai dengan analisis mengenai kondisi dan kebutuhan dari organisasi pada saat itu.”

‘siksaan fisik’ yang dijatuhkan pada calon anggota atau anggota muda himpunan. “Tetapi rektorat tidak melihat perubahan itu,” sesalnya. Senada dengan Dimas, Ketua Himpunan Sipil, Muhammad Rilly A. Yogi, berpendapat kaderisasi sudah dianggap negatif duluan oleh pihak rektorat. “Frame yang berbicara di sini (himpunan dan rektorat, red.) berbeda. Sehingga agak menutup kemungkinan untuk bisa membuka forum,” ujar Yogi. Jangankan antara rektorat dan mahasiswa, komunikasi antara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Widyo Nugroho, dan jajaran dekan saja, menurut Dimas, tidak berjalan baik. Hal ini terlihat dari sikap dekan yang tidak sama dalam menyikapi SK Rektorat mengenai kaderisasi. “Ada yang melarang total, ada juga yang tidak.” Yogi berpendapat organisasi harus menganalisis tepat guna untuk bisa mengetahui sejauh mana

20

Untuk zaman sekarang, Dimas menilai kebutuhan kaderisasi lebih kepada pengembangan intelektual. Masih adanya orientasi fisik dalam pengkaderan di ITB karena kultur yang sudah ada dan desakan dari swasta (mahasiswa tingkat akhir, red.). Bentuk kaderisasi juga harus memperhatikan output serta input dari mahasiswa. “Mahasiswa sekarang lebih manja dari sisi fisik, beda sama dulu.”[]

boulevard 63


turut berduka cita atas meninggalnya Dwiyanto Wisnugroho


Kampus

Oleh Niki Tsuraya Yaumi dan Senni Muthia

D

i tengah derasnya hujan sore itu, Taufan Irnandi (TI ’07) tetap datang untuk memenuhi janji dengan Boulevard. Ditemani dengan alunan musik dari pengeras suara di Kantin Barat Laut, kami mengobrol tentang Pemilu yang akan datang.

peran sertanya dalam menghadapi Pemilu 2009 ini. Dengan santai Taufan pun menjawab, “Pendapat gue pribadi, gue mau golput atau nyoblos itu gak ada gunanya. Biarpun gue nyoblos, kehidupan gue gak akan berubah, gak akan menjadi lebih baik. Buat apa gue nyoblos?”

Taufan, demikian ia biasa disapa, mengatakan bahwa selama ini Indonesia telah melaksanakan beberapa kali pemilu dan pergantian presiden, namun belum ada perubahan yang terlalu besar dalam hidupnya. Lalu bertanyalah Boulevard mengenai

Menurutnya, dengan melihat iklan-iklan partai di televisi sudah cukup membuatnya yakin kalau janjijanji yang dutarakan partai hanya ngecap semata. Seperti janji tentang pendidikan gratis yang menurutnya hampir tidak mungkin. “Dan sampai

22

boulevard 63


Kampus sekarang gw masih heran, kenapa orang mau milih. Gue sampai seapatis itu.” Taufan menambahkan, kalaupun ada calon yang memang baik dan jujur, dia tidak yakin si calon tersebut bisa mempertahankan idealismenya saat telah terpilih nanti.

calon legislatif. Sebagai warga Negara, harus cari informasi mengenai calon yang akan dipilih. Bukan persoalan suka atau tidak,” kata Ronny. “Hati-hati memilih calon yang mencalonkan diri hanya sekedar iseng-iseng berhadiah.”

Meski menyatakan dirinya apatis, Taufan tidak menggembor-gemborkan kepada orang lain untuk golput. Ia berperan netral saja dan menghargai perbedaan pendapat. Namun jika disuruh untuk memilih, ia enggan melakukannya, ”Jangan maksa, kalau maksa ada alasan yang tepat dan memang bisa membuat itu merubah pikiran gue, silahkan.”

Selain itu, golput harusnya menjadi pilihan yang paling akhir. Jika semua usaha telah dilakukan dan masih tidak ada calon yang layak untuk dipilih. “Kalau kita melihat harga yang dibayar terlalu mahal untuk golput, jadi sayang kan ya, kan orang sudah mengeluarkan uang. Kalau nanti golput, kemudian gak ada calon yang terpilih, malah dimasukkan orang yang tidak jelas.”

*** Dalam rangka menyambut Pemilu, Kabinet Keluarga Mahasiswa (KM) membentuk suatu segmen publik netral. Satgas (Satuan Petugas) Pemilu, demikian namanya. Lalu untuk tujuan apa Satgas ini dibentuk? Menurut Ketua Satgas Pemilu, Martua Hasiholan Bancin (PL ’06), Satgas hadir untuk mencerdaskan. Dalam artian, agar mahasiswa, khususnya mahasiswa ITB, tahu bahwa Pemilu ini merupakan awal untuk perubahan bangsa Indonesia ke depan. Bukan berarti akan ada perubahan besar setelah Pemilu, hanya awal dari perubahan yang cepat atau lambat akan terjadi. “Kita mau mahasiswa ITB tu udah tau lah. Jangan hanya egois. Jangan berpikir bahwa pemimpin Indonesialah yang akan menentukan Indonesia ke depan. Salah besar di situ. Teman-teman yang akan jadi pengontrol orang-orang yang akan di atas sana. Jelas kedaulatan kita (Indonesia, red.) kan ada di tangan rakyat. Kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, seharusnya seperti itu (menentukan nasib Indonesia, red.), dikembalikan kepada rakyat,” papar mahasiswa yang akrab dipanggil Holan ini panjang lebar.

Dengan memilih, artinya kita telah mewujudkan demokrasi. “Demokrasi itu merupakan tradisi untuk memilih pemimpin dan menggeser kekuasaan secara santun,” sambung Ronny. Senada dengan Ronny, Ketua Himpunan Teknik Fisika, Afief Helmi Baasir (FT ‘06), mengatakan bahwa sumbangan minimal sebagai warga negara adalah dengan memilih. “Kalau golput tuh kita bener-bener gak ngasih jawaban, lepas tangan gitu.” Ia pun menyarankan, untuk menggali lebih mendalam mengenai calon yang akan dipilih, alangkah baiknya jika kita banyak mendengar dan membaca berita. Apa Anda mahasiswa yang termasuk ke dalam agent of change? Jawabannya ada di tangan Anda.[]

Menurut Ronny Hendrawan, dosen Pendidikan Kewarganegaraan, salah satu cara lain untuk mengidentifikasi calon presiden atau calon legislatif ialah dengan mengunjungi partai dan menanyakan visi, misi, beserta agenda perjuangan partai. Calon legislatif memang banyak sekali jumlahnya, namun kita harus memiliki sebuah inisiatif untuk bisa lebih mengenali calon legislatif. Permasalahannya kini ialah kemauan masing-masing dari kita untuk bisa lebih dekat dengan calon legislatif. “Kita tidak pernah berkomunikasi dengan salah satu partai. Bagaimana Anda bisa memilih kalau Anda tidak pernah berkomunikasi? Kenalilah

boulevard 63

foto oleh : Giovani Haryadi

23


Kampus

Oleh Erika dan Hafsah Halidah

B

agi sebagian orang, pemilu adalah sarana. Baik sarana berpendapat, sarana hak dan kewajiban dalam berpolitik, maupun sarana berkampanye. Namun, sejatinya pemilu adalah sebuah pesta besar. Pesta yang menghubungkan pemimpin dengan rakyatnya, karena seringkali rakyat hanya didengar saat pemilu. Boulevard telah memilih secara acak 149 responden mahasiswa dari berbagai jurusan dan angkatan. Kabar baiknya, mahasiswa yang berniat memilih sebesar 63%. Namun, hanya 26% yang mencari tahu mengenai latar belakang parpol maupun calon yang diusungnya.[] Apakah Anda berencana untuk menggunakan hak pilih dalam Pemilu caleg nanti?

Mengapa Anda tidak memilih?

Lain-lain Domisili tidak sesuai dengan KTP Tidak ambil pusing dengan pemilu Tidak tahu visi dan misi parpol

Apakah Anda mencoba mencari tahu siapa saja caleg yang akan ikut Pemilu dan apa visi, misi caleg tersebut?

Mengapa Anda tidak mencari tahu?

Tidak menjawab lain-lain Calon terlalu banyak Tidak berencana menggunakan hak pilih Tidak peduli

Sibuk Tidak ada caleg yang memenuhi kualifikasi Tidak percaya pada parpol

Malas

Tidak percaya pada sistem Pemilu Terlalu banyak calon Berbelit-belit

24

boulevard 63


Kencan

Oleh: Mirrah Almira, Novya Kusuma Dewi

S

usasana di Aula Barat ITB sudah mulai sepi. Himpunan Mahasiswa Matematika baru saja selesai menggelar acara Dies Natalis 6 Windu Himatika ITB. Panitia sibuk lalu lalang membereskan ruangan, diiringi lagu yang masih mengalun dari speaker di kanan-kiri panggung. Sedangkan pembicara dalam acara bertajuk “The Power of Mathematic Intuition” ini bergegas menuju sebuah ruangan kecil di pojok belakang Aula Barat. Penampilannya sederhana. Kemeja batik dipadukan dengan jaket jins dan sarung. Rambut panjangnya diikat. Tak ketinggalan sebuah peci menghiasi kepalanya. Dia adalah Agus Hadi Sujiwo, atau yang lebih dikenal dengan Sujiwo Tejo. Seniman yang sempat mengecap pendidikan di jurusan Matematika dan Teknik Sipil ITB. Dalam ‘kencan’ kali ini, Tejo bercerita tentang cita-cita keseniannya dan harapannya untuk ITB.

boulevard 63

25


Kencan

Apa saja kegiatan Anda sekarang ini? Dari bidang film, sekarang aku sedang menggarap sebuah film bertemakan kampus yang mungkin akan beredar pada pertengahan tahun ini. Judulnya belum bisa aku beritahukan. Kemudian, pada bulan Mei mendatang, aku akan membuat sebuah drama musikal kontemporer yang berjudul “Pengakuan Rahwana”. Rencananya, di dalam drama tersebut aku akan menggabungkan dua unsur, etnik dan modern. Aku juga berencana mengadakan pameran lukisan karyaku sendiri. Jumlah lukisannya sekitar 50-an. Sebagai seorang seniman, nilai-nilai apa yang Anda tanamkan pada karya seni Anda? Kira-kira inti dari seluruh kesenianku adalah mengajak teman-teman sesama orang Indonesia, kembali bangga menjadi orang Indonesia. Salah satu keprihatinanku sekarang adalah segala sesuatu yang masuk dari asing—entah itu film, musik, ataupun seni rupa—dicerna oleh orang Indonesia. Namun, ketika ditampilkan untuk konsumsi lokal bentuknya tetap. Padahal, nenek moyang kita mengajarkan agar tidak menolak setiap kebudayaan yang masuk, tetapi sebaiknya dikeluarkan lagi menurut daya cerna masingmasing. Seperti apa contohnya? Misalnya, musik Portugis menjadi keroncong. Di daerah Betawi, alat musik trombon dan terompet diadaptasi menjadi tanjidor. Kemudian, kesenian Liong dari Cina kita sulap menjadi sisingaan. Lain lagi dengan alas kaki. Sepatu dimodifikasi menjadi selop agar mudah dilepas di pendapa. Kalau untuk pakaian, orang Jawa mengubah jas menjadi beskap supaya ada tempat untuk menyimpan keris. Berkaca pada semua contoh tadi, aku menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang adaptif dan

26

aku ingin agar kita semua menyadarinya. Itulah pesan yang ingin aku sampaikan melalui karya seniku. Jadi bangsa Indonesia adalah bangsa yang adaptif… Pada dasarnya ya. Tapi sekarang tidak. Kalau kamu perhatikan ada musik rap masuk ke sini, terus dibawakan lagi seperti itu. Aku sedih banget. Kok kita jadi penurut begini ya? Dulu,di Padang ada suatu kesenian musik yang bernama Kaba. Kaba itu bermain biola sambil bersila. Posisi biolanya tegak seperti bermain rebab. Kalau orang Italia datang kesini pasti bingung. Kemudian dari Cina. Ada pola-pola warna merah dan kuning yag banyak dipakai oleh orang Jawa dalam wayang. Tapi tidak dikeluarkan lagi dalam bentuk Opera Cina. Nah, sekarang kita miskin kreativitas itu. Aku sadar ini susah, mungkin bukan di jalan jaman hidupku tapi aku pingin banget. Apa yang Anda harapkan dari yang orang menikmati karya seni Anda? Seperti yang aku katakan tadi, aku ingin masyarakat kembali mengadaptifkan berbagai kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia saat ini sehingga kita tidak menjadi bangsa yang miskin kreativitas. Aku sadar itu tidak mudah, tetapi aku ingin sekali mewujudkannya.

Apakah keinginan mengadaptifkan tersebut sudah muncul sejak kuliah? Ya, persisnya di sini (Aula Barat, red). Dulu tempat ini merupakan ruangan PSTK, Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan PSTK dibandingkan kuliah. Tempat ini sangat bersejarah buat aku. Lalu bagaimana cara ITB menanggapi seni? Dibandingkan dengan kampus-kampus lain, ITB cukup peduli dengan seni, terutama seni pentas. Kalau seni yang lain, yah masih kurang. Meskipun di mataku

boulevard 63


Kencan

para alumninya tidak terlalu menghargai kesenian. Bagaimana dengan Anda sendiri? Adakah kontribusi yang Anda berikan kepada ITB, khususnya dalam bidang seni? Sekarang aku sedang menyelesaikan sembilan lukisan. Semuanya tentang Ganesha. Contohnya, lukisan Ganesha bercaping (caping adalah topi petani, red.) yang berhadapan dengan Dewi Sri, dewi padi. Maksudnya adalah agar ITB mulai memerhatikan pertanian. Selain itu ada juga lukisan anak gembala sedang mencari sekolah. Dia menaiki gajah yang gadingnya retak. Di belakang anak tersebut, terdapat bangunan ITB. Judul lukisannya, “Take it Easy, Sekolah Makin Mahal, Kuliahlah di Punggungku Saja.� Pokoknya kesembilan lukisan tersebut mengenai Ganesha. Nantinya, lukisan-lukisan itu akan aku lelang untuk acara Dies Emas ITB. Apakah harapan Anda untuk ITB, mengingat usianya yang sudah kepala lima ini? Aku ingin ITB lebih banyak mengajarkan local wisdom atau kearifan lokal yang terdapat di berbagai suku di tanah air, baik dari segi teknik maupun humanioranya, Kalau ITB bisa menggali hal itu, bisa mengilmiahkan segala kearifan lokal tersebut menjadi (sesuatu) hal yang bisa diajarkan, alangkah bagusnya!

Kearifan lokal seperti apa? Dari dulu orang selalu bilang kalau ada burung elang terbang dari selatan ke arah utara, berarti akan ada orang meninggal di desa yang dilewatinya. Siapa tahu bisa diteliti, ada sonar apa sih pada burung elang? Kenapa dia bisa tahu? Lalu mengapa orang Kalimantan hanya boleh menebang bambu pada hari Selasa, di atas jam 1 siang? Siapa tahu, air tanah terpengaruh oleh gaya sentripetal dan sentrifugal yang disebabkan oleh rotasi bumi. Siapa tahu pada hari Selasa kadar air tanah sedang rendah sehingga ketika pohon ini dicabut, tidak terlalu banyak air tanah yang terserap. Nah, kita langsung mengklaim itu klenik. Jangan dong! Enggak! Buat apa ada doktor dan profesor kalau mereka ikut-ikutan mengklaim itu klenik? Teliti dong! Pasti ada sesuatunya. Jika sesuatu itu bisa ditemukan, kan bisa diajarkan dalam kurikulum. Jadinya lulusan ITB itu asyik. Filosofi hidup apa yang Anda pegang dan seharusnya dipegang juga oleh generasi muda? Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling berguna untuk sesama. Bila kamu lebih mementingkan kehidupan bersama melalui jalur profesimu masing-masing, kamu akan dicukupi

“Aku ingin masyarakat kembali mengadaptifkan berbagai kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia saat ini sehingga kita tidak menjadi bangsa yang miskin kreativitas. Aku sadar itu tidak mudah, tetapi aku ingin sekali mewujudkannya.� Sujiwo Tejo

boulevard 63

27


Gelitik

Ornamen Besi Cokelat Bergaris-garis Besi-besi ini dipasang untuk mempermudah pengecatan dan pembersihan kaca.

Ada 4 tangga utama pada 4 arah berbeda. Desain ini bertujuan untuk mempermudah mahasiswa yang datang dari berbagai arah. Susunan tangga mengikuti bentuk kelas yang menyerupai tribun stadion.

GKU Barat dibangun pada tahun 1984, oleh tim konsultan perusahaan APARC yang terdiri dari Harisanto, Aristiana (AR’62), Kusumastuti (AR’72), Supriyadi (SI’76), S.A. Gunawan (TL’74), Susmojo (SI Unpar).

27

boulevard 63


Gelitik

Oleh Ririn Restu Adiyati dan Tika Ayu Nastiti

R

asanya, hampir seluruh mahasiswa ITB pernah merasakan kuliah di Gedung Kuliah Umum Barat (GKU-Barat). Sehingga pasti sudah akrab dengan tangganya yang melingkar-lingkar dan naik turun. Menurut Kusumastuti, sang arsitek, gedung ini memang mengedepankan efisiensi di atas segalanya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang hanya merupakan ‘hiasan’ pada GKU Barat.

Ruang yang terselip Selain 4 tangga utama, terdapat 4 tangga dalam menuju ruang 911X. Ruangan-ruangan ini berukuran jauh lebih kecil daripada ruang kelas lainnya dan berfungsi sebagai ruang diskusi mahasiswa S2.

WC WC hanya terdapat di dekat tangga sisi tenggara dan barat laut, yaitu di lantai ½, 2 ½, dan 3 ½.

Area Terbuka di Tengah Area ini tadinya akan digunakan sebagai kantin. Namun gagal dilaksanakan karena ketidakcukupan dana dari pemerintah. Selain itu, dikhawatirkan akan menimbulkan keberisikan sehingga mengganggu kelas. Sempat ada rencana pemerintah untuk memindahkan kebun binatang ke Jatinangor dan memberikan area kebun binatang sebagai tempat penelitian S2 ITB. Ketika itu, ITB berniat membangun jembatan penghubung antara GKU Barat dan area penelitian tersebut. Namun rencana ini gagal seiring dengan ditolaknya pemindahan kebun binatang oleh masyarakat.

foto oleh Ardya Dipta Nandaviri

Gedung GKU Barat menempati lahan yang tersisa dari master plan wilayah kampus yang didesain oleh Prof. Slamet Wirasonjaya, mantan Guru Besar Arsitektur. Tadinya hanya berupa segi empat biasa. Namun untuk mengejar efisiensi, tangga-tangganya dibangun sedemikian rupa sehingga bentuknya menjadi segi delapan seperti sekarang ini.

boulevard 63

28


Kampus

Oleh Windy Iriana

Foto oleh Shinta Dwi Wahyuni

S

ekitar setahun yang lalu, apabila Anda sedang berada di kawasan kampus Institut Teknologi Bandung dan merasa kehausan, Anda tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli sebotol air mineral. Lihatlah ke sekeliling Anda. Jika Anda menemukan sebentuk tiang pendek hitam dengan tombol di atasnya, cukup dengan menekan tombol tersebut rasa haus Anda akan terobati. Tiang tersebut biasa disebut water tap. Di kampus gajah ini, terdapat 70 buah water tap yang tersebar di berbagai titik strategis. Jumlah ini melambangkan angkatan penyumbangnya, yaitu alumni ITB angkatan 70. Sebagai mahasiswa ITB, Anda boleh merasa bangga karena ITB adalah satusatunya kampus di Indonesia yang memiliki fasilitas

30

ini. Keberadaan water tap di kampus ITB memang belum lama, sekitar tiga tahun. Walaupun demikian, water tap yang ada sudah tidak lagi berfungsi dengan baik. “Dulu sering minum dari water tap, sekarang kan udah mati semua,� ujar Prisanto (MS’05). Menurut Pris, sayang sekali fasilitas yang ada tidak dimanfaatkan. *** Adalah Djoko Rismianto (alm.), alumni Geologi angkatan 70, yang menjadi penggagas sekaligus ketua proyek angkatan ini. Pengalaman sekolah ke luar negeri dan kesadaran akan mahalnya air bersih menjadi inspirasi dalam pembangunan water tap. Djoko kemudian mengumpulkan angkatan 70 dari

boulevard 63


Kampus

latar belakang keahlian yang berbeda-beda dan mengajak bekerjasama menyempurnakan sistem awal water tap. “Kita (alumni ITB angkatan 70,Red.) ingin memberikan sesuatu dalam bentuk yang nyata, yang bisa dirasakan langsung oleh civitas akademika ,“ ujar Robby Rompis (TK’70). Sejak diresmikan pada tanggal 5 Maret 2005, pihak alumni tersebut berharap dapat menyerahkan pengelolaan water tap kepada pihak ITB. Namun, ternyata proses penyerahan tidak dapat berlangsung dengan mudah. Pihak ITB pada saat itu belum mempunyai anggaran untuk pengelolaan water tap. “ITB perlu waktu untuk penganggaran dana,” jelas Robby. Akhirnya, pihak angkatan 70 memutuskan untuk mengurus dan membiayai perawatan water tap. Meskipun demikian, bukan berarti ITB sepenuhnya lepas tangan. Biro Sarana dan Prasarana senantiasa berkoordinasi dengan pihak angkatan 70. Sayang niat baik para alumni tidak dapat terlaksanakan sesuai dengan rencana. Kini water

tap malah tidak berfungsi sama sekali. “Debitnya rendah sekali sekarang, makannya dia nggak bisa suplai (air minum, red.),” jelas Endang. Pada awal pembangunan, untuk mengolah air menjadi layak minum, instalasi pengolahan air water tap masih mempergunakan bahan kimia. Sekitar satu tahun yang lalu, angkatan 70 menunjuk Robby untuk memperbaiki sistem yang ada. “Sekarang kita mengolah dengan menggunakan Reverse Osmosis (RO), RO ini teknologinya baru dan relatif mahal,” jelas Robby. RO adalah sistem pemurnian air dengan menggunakan filter. Air dialirkan melalui filter-filter yang mempunyai porositas kecil, sehingga kotorankotoran yang ada di dalam air tertahan pada filter dan air termurnikan. Proses ini memerlukan tekanan yang tinggi. Setelah sistem water tap diperbaharui menjadi RO, angkatan 70 menyewa jasa pihak ketiga untuk mengelolanya. Namun pengolahan air dengan sistem RO ini ternyata menimbulkan permasalahan baru. “Ini agak tersendat-sendat, karena setelah dihitung-hitung lagi ada filter-filter yang kurang,” ujar Endang Yuliastuti, Kepala Biro Sarana Prasarana. Selain kekurangan filter, sempat terjadi kerusakan pada pompa yang digunakan dalam sistem ini. Robby menjelaskan ketika awal konstruksi karena pembelian suku cadang tidak diawasi dengan ketat pompa yang dibeli tidak sesuai dengan desain awal. Namun, pompa tersebut tetap digunakan meski pada akhirnya terjadi penurunan kapasitas pompa. Penurunan kapasitas pompa ini menyebabkan debit air turun. Di penghujung tahun 2008 yang lalu, kontrak yang dilakukan oleh angkatan 70 dengan pihak ketiga telah habis. Pada tahun 2009 ini perawatan water tap akan diambil alih oleh pihak ITB. Untuk mengantisipasi hal ini, tahun lalu Endang menuturkan dirinya sempat membuka recruitment untuk mencari orang yang mampu menangani water tap secara khusus. Namun, rekruitmennya saat itu gagal karena Endang merasa para pelamar saat itu belum memenuhi kriteria.

ilustrasi oleh Devi Chandra Ditya

boulevard 63

Tahun ini, Biro Sarana dan Prasarana serta angkatan 70 akan bekerjasama dengan pihak Teknik Lingkungan agar water tap dapat kembali berfungsi. “Dijadikan laboraturiumnya Teknik Lingkungan pun saya tidak keberatan,” ucap Endang.[]

31


1925


Selidik

oleh Hasan Ramdan

Mahasiswa ITB selama ini terkenal dengan predikat 'anak pintar'-nya. Namun, ternyata banyak juga di antara mereka yang akrab dengan dunia malam.

K

ilau lampu disko aneka warna menyapu hiruk pikuk lantai dansa. Kepulan asap rokok dan canda tawa menyatu dalam hingar bingar musik disc jockey (DJ). Seiring dengan larutnya malam, pesta semakin meriah. Saat clubbing, bagi sebagian orang, merupakan saat yang tepat untuk bersenang-senang. Dari sekedar berkumpul bersama teman-teman dan menikmati musik sampai mencari ‘jajanan’. Bandung sepertinya tidak mau kalah dengan Jakarta, yang sudah lebih dulu terkenal akan gemerlap dunia malamya. Lihat saja berdiriya Mansion di Paris Van Java atau Embassy di Ciwalk, yang menandakan telah dimulainya penjamuran tempat hiburan malam di kota kembang ini. Jarak antara Jakarta dan Bandung, yang kini dapat ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam, juga memudahkan terjadinya “pertukaran pelajar” antar kelab malam kedua daerah tersebut. Gaya hidup itu ternyata mampu menyerap kalangan mahasiswa juga, termasuk mahasiswa ITB yang dikenal dengan orientasi belajarnya. Sebut saja Toni dan Lala. Kedua penggila dugem ini mengaku jarang dugem di Bandung dan lebih memilih klubklub Jakarta sebagai tempat favorit. Salah satu alasannya adalah aturan yang kurang ketat, yang diterapkan di kelab-kelab di Bandung. Seperti membiarkan masuk tamu pria dengan kaos dan tamu wanita yang tidak mengenakan high-heels. “Kalau di Jakarta sih, get out aja,” ujar Lala.

34

boulevard 63


Selidik

Jimbi (bukan nama sebenarnya, red.), mahasiswa angkatan 2007, mempunyai selera yang berbeda. Ia merasa cukup nyaman dengan tempat hiburan yang ada di Bandung. Tak heran, hampir seluruh kelab di Bandung pernah disambanginya. Sering ia bertemu dengan teman-teman satu almamater saat dugem. “Biasanya Mansion malah isinya anak ITB semua,” tambah Jimbi. Lala mendeskripsikan orang-orang yang hobi dugem sebagai: “kumpulan anak gaul yang menghabiskan uangnya demi mendapat kesenangan.” Meskipun begitu, Lala sendiri mengaku bahwa dia terbiasa menjadi ‘benalu’ dari kumpulan anak gaul tersebut. “Gue sih dapet gratisan aja..” katanya sambil tertawa. Kedekatan Lala dengan beberapa orang yang bekerja sebagai party organizer di kelab-kelab malam membuatnya sering mendapatkan jamuan gratis. Para party organizer sering dipercaya membuat guest list suatu pesta. Mereka yang tercantum pada guest list ini berhak masuk secara gratis. “Temanteman gue juga ada yang DJ, jadi suka pada open table,” tambahnya. Open table adalah istilah yang digunakan untuk tamu klub yang memesan meja khusus untuk minum-minum. Quinn mempunyai pendapat lain tentang hal ini, “Kalo GL (guest list, red.) malah gak enak soalnya gak dapat first drink.” Bagi Quinn, minum-minum merupakan salah satu kegiatan utama yang ia lakukan pada saat berpesta. “Selesai ujian, ditolak

boulevard 63

cewek, dan setelah keluar nilai.. harus mabok!” canda mahasiswa yang menyukai jenis minuman Baccardi Lemon ini. Bukan hanya mabuk-mabukan yang melengkapi kemeriahan berpesta, tetapi juga one night stand (OnS). Seperti Toni yang mengaku tak jarang melakukannya. “Tapi kalau yang pertama kenal langsung ‘gituan’ sih nggak,” jelasnya. “Biasanya udah kenal duluan.” Toni dan Lala merasa tidak mempunyai masalah akademik akibat hobinya yang satu ini. Indeks Prestasi kedua mahasiswa ini masih berada diatas 3.0. Hal ini juga menjadi alasan orang tua mereka untuk memberikan izin untuk clubbing. Di sisi lain, Jimbi dan Quinn mengaku mempunyai masalah akademik di beberapa mata kuliah. “Tapi bukan karena clubbing-nya, itu karena gue-nya aja males belajar,” jelas Quinn. Toni berpendapat bahwa semua anak ITB diharapkan dapat mengenal dunia gemerlap. “Untuk selanjutnya sih terserah pribadi mereka aja,menurut gue sih coba aja untuk membuktikan bahwa dugem tidak se-negatif yang orang-orang pikir,” ujar Toni. Jimbi dan Quinn punya pendapat lain. Menurut Jimbi, dengan datang ke tempat yang menjual minuman dengan cap haram saja sebetulnya sudah salah. “Lagian di sana (kelab, red.) perbandingan orang yang ‘bener’ dan yang nggak, lebih banyak yang nggak benernya.”[]

35


Pria itu berkulit sawo matang dan menggunakan kacamata. Terkesan serius. Namun saat berjabat tangan, di wajahnya tersungging senyum lebar. Dia adalah Antonius Dian Adhy Feryanto, salah satu pemenang Business Start-Up Award (BSA) 2008. Sebuah kompetisi yang diselenggarakan PT Shell Indonesia bagi pengusahapengusaha muda Indonesia yang baru memulai bisnis sendiri. Berawal dari masa kuliah di tingkat tiga, Fery, demikian ia biasa disapa, sering diajak dosennya ke hutan. Ia kemudian mulai tertarik pada bidang penyulingan atsiri, minyak esensial bahan baku utama industri parfum yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Saat itu tak ada satu pun perusahaan Indonesia yang bergerak dalam penyulingan atsiri. Padahal, atsiri memiliki nilai jual yang tinggi. Setelah lulus dari ITB, bersama seorang rekannya, alumni Teknik Kimia ’97 ini pun mendirikan PT Pavettia Atsiri Indonesia pada tahun 2003. Awalnya, Fery tidak berniat untuk mengikuti program BSA. “Tapi dipaksa pacar…” katanya sambil nyengir. Namun toh akhirnya Fery tidak mengikuti kompetisi ini dengan setengah-setengah. Buktinya pria yang kini juga menjadi staf pengajar di Institut Teknologi Nasional ini mampu melaju hingga final. Sebagai peserta BSA, Fery berkesempatan untuk mempromosikan perusahaannya. Selain itu, ada pula bisnis coaching setiap enam bulan sekali bagi para finalis dan, tentu saja, hadiah uang tunai Rp 20 juta. Menurut Fery, hadiah yang ia dapatkan termasuk kecil dibandingkan dengan omset tiap transaksi bisnisnya. Namun, kepercayaan publik setelah ia mengikuti BSA-lah yang besar manfaatnya. Selain Ferry, ada pula Bustanul Mulyawan, lulusan Teknik Industri ’01. Bustanul berhasil menjadi salah satu pemenang dalam kompetisi yang diikuti oleh ratusan young entrepreneurs se-Jawa ini. Agribisnis Ganesha (ABG), demikian nama perusahaannya, bergerak dalam bidang pertanian organik. Berbeda dengan perusahaan sejenis, ABG menerapkan teknik System of Rice Intensification (SRI). Sistem ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi produksi tanaman, tanpa menggunakan zat kimia sama sekali. Sehingga biaya produksi bisa lebih murah ketimbang sistem tani konvensional. Bustanul segera mendaftar saat diberitahu temannya bahwa PT Shell Indonesia akan mengadakan kompetisi BSA 2008. Saat itu, ia tertarik dengan hadiah Rp 20 juta, publikasi di media dan jaringan yang bisa diperolehnya. “Semua peserta lomba adalah pengusaha. Juri pun berasal dari kalangan pengusaha, perbankan, profesional, dan akademis. Begitu pula dengan para mentor bisnis yang diperbantukan bagi para pemenang,” kata Bustanul. Manfaat langsung yang dialami Bustanul adalah peningkatan omset. Terhitung pada periode Juli-Agustus tahun lalu, perusahaannya berhasil meningkatkan profit sampai 50%. Fery dan Bustanul telah berani mencoba untuk ikut serta dalam Business Start-Up Award 2008 dan akhirnya muncul sebagai pemenang. Kini mereka telah merasakan manfaat lomba tersebut bagi perkembangan bisnis masingmasing. Seperti pesan Bustanul, “Kuncinya adalah jangan pernah putus asa atau puas diri karena akan membatasi diri kita untuk berkembang.”[]

Dengan Kerja Keras Tidak Ada Yang Tidak Mungkin


Resensi

oleh Halida Astatin Judul Film Sutradara Durasi Pemain

: : : :

My Blueberry Nights (2007) Kar Wai Wong 93 menit Norah Jones, Jude Law, David Strathairn, Natalie Portman

Dikhianati kekasihnya membuat Elizabeth (Norah Jones) marah dan patah hati. Pertemuannya dengan Jeremy (Jude Law), sang pemilik café, memberinya sepotong pai blueberry dan sedikit titik cerah. Ia pun memutuskan untuk berkelana ke berbagai kota di Amerika Serikat. Di Memphis, dengan nama Lizzie, ia bertemu Arnie (David Strathairn), seorang polisi pemabuk yang tidak bisa melupakan mantan istrinya. Ia pergi ke Nevada, kali ini namanya Beth, lalu bertemu Leslie (Natalie Portman), seorang penjudi yang kesepian, yang menolak untuk disayangi ayahnya. Selama perjalanannya, Elizabeth tetap mengirim surat pada Jeremy. Jeremy yang tidak tahu dimana Elizabeth hanya bisa mencari dan mencari, tanpa bisa menemukannya.

oleh Sausan Atika Maesara

Judul Film Sutradara Durasi Pemain

: : : :

“My Blueberry Nights” dipenuhi efek warna dan tone gambar, sudut pengambilan gambar yang tidak lazim, dan permainan kecepatan video di berbagai adegan. Alur cerita yang terasa begitu cepat dan to-the-point di awal film, menjadi agak lambat di beberapa bagian. Sayangnya, cerita tentang Arnie dan Leslie kurang menyatu dengan cerita Elizabeth sendiri; seperti tiga cerita berbeda yang memiliki satu kesamaan saja, yaitu adanya Elizabeth dalam cerita tersebut. Ketiga cerita itu lebih dapat dipahami ketika berdiri sendiri-sendiri, namun kurang terjalin maknanya ketika disatukan sebagai “My Blueberry Nights”.[]

Slumdog Millionaire (2009) Danny Boyle 116 menit Dev Patel, Anil Kapoor, Saurabh

Jamal Malik (Dev Patel) adalah seorang pemuda yatim piatu yang memutuskan mengikuti acara kuis Who Wants To Be Millionaire, acara yang terkenal di pelosok dunia, termasuk India. Jamal bermodalkan pengalaman yang dialaminya sejak masih tinggal di daerah kumuh di Mumbai, menjadi anak jalanan, hingga dikhianati oleh saudara sendiri. Namun, keyakinan pada Latika (Shaurabh Shukla), cinta pertamanya, yang mengantar Jamal pada nominal 20 juta rupee, hadiah terbesar yang dapat diraih dalam acara tersebut. Seorang anjing kumuh (slumdog) ternyata tidak perlu menjadi jenius agar dapat menjadi jutawan. Danny Boyle memainkan alur seperti layaknya maestro, di mana alur disesuaikan dengan pertanyaan yang dilontarkan seiring bertambahnya jumlah nominal hadiah dalam kuis. Aura eksotis dan

boulevard 63

‘Manusia seringkali tidak tahu apa yang dia inginkan’ adalah salah satu yang dapat dipetik dari cerita ini. Entah apa yang dicari dan apa yang ditemukan Elizabeth. Namun berbagai pengalaman dan pendapatnya disampaikan dengan cantik lewat kata-kata dalam suratnya untuk Jeremy.

gelap dari negeri Taj Mahal tergambar dengan baik. Bisa dikatakan Bollywood berfigurakan Hollywood. Film ini tidak menyajikan aksi tari-tarian seperti kebanyakan film India lain yang menjadi ciri khas film Bollywood, bukan pula berlatar kisah cinta dan amarah semata. Klimaksnya menjanjikan ketegangan yang berbuah kepuasan. “Slumdog Millionaire” merupakan sebuah karya persembahan yang indah, maka pantaslah jika film ini mendapat empat penghargaan Golden Globe— termasuk film terbaik—dan sepuluh nominasi Oscar tahun ini.[]

37


Resensi

oleh Rifqi Syahrial Maria adalah gadis lugu yang sejak kecil memiliki impian tentang cinta sejati dan pangeran berkuda. Sampai ketika Maria pergi ke Swiss, tempat di mana dia dijanjikan akan menjadi aktris terkenal oleh seorang pria. Namun ternyata Maria hanya dipekerjakan sebagai penari di suatu klub malam. Yang pada akhirnya menjerumuskan Maria dalam dunia pelacuran. Impiannya pun hancur. Maria lalu harus menerima kenyataan bahwa cinta hanya membawa penderitaan baginya. Suatu ketika Maria bertemu dengan seorang pelukis yang mengatakan bahwa di dalam jiwa Maria terdapat ‘cahaya’. Maria tertarik pada pelukis itu karena si pelukis—menurut dia—memiliki sosok yang unik. Lama kelamaan Maria jatuh cinta pada sang pelukis. Ia mulai merasakan kerinduan pada sosok pria itu dan menyimpulkan bahwa cintalah yang menyatukan dua jiwa yang terpisah. Maria kini berada dalam keadaan yang dilematis. Apakah ia akan membiarkan belenggu hatinya terlepas atau mempertahankan keteguhan hatinya dan melanjutkan kehidupan lamanya? Dalam “Eleven Minutes”, Paolo Coelho menabrakkan realita dan khayalan. Penyampaian yang sederhana dan dekat serta gaya penulisan yang mengalir mengajak pembaca untuk terus mengikuti alur cerita hingga usai. Namun usaha penulis untuk dalam mengangkat realita hidup masih kurang, unsur tragis dalam dunia nyata tidak ia bawa. Mungkin memang sudah menjadi ciri khas Coelho untuk membawa pembaca yakin, bahwa impian manusia pasti akan tercapai.[]

Judul Buku: Eleven Minutes Pengarang: Paolo Coelho Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2008 Jumlah Halaman: 360 halaman

oleh Dini Ayudia Erwin

Pacha dan Yauri, duo asal Peru, Amerika Selatan, mungkin belum terlalu akrab terdengar oleh para pecinta musik di Indonesia. Namun, mereka punya taktik tersendiri. Dengarkan saja lagu-lagu yang mereka bawakan sudah tak asing di telinga kita. Contohnya saja soundtrack film Titanic, My Heart Will Go On. Aransemennya dibuat lembut dan menghanyutkan jiwa.

Judul Album Artis Label Tahun

: Romantic Song : Chalwanka : Tifa Record : 2008

Suara gitar klasik yang manis membuka album ini lewat lagu Don’t Cry for Me Argentina. Selanjutnya lagu yang pernah dipopulerkan Westlife, I Will Be There, dibawakan dengan menggunakan zamponas, zankas, bass guitar, dan beberapa alat musik lain. Ada pula Everything I Do I Do It For You, didominasi suara zamponas yang merdu, mengingatkan kita akan musik-musik melayu.

Semangat nasionalisme ala Amerika Selatan mereka tunjukkan dengan menggunakan alat musik tradisional khas latin. Mereka pun cenderung berani dalam bereksperimen, namun tetap berada dalam nuansa easy listening. Bosan dengan rutinitas kuliah, tugas bertumpuk yang tak pernah usai, atau ingin memejamkan mata sejenak? Tidak ada salahnya untuk mendengarkan mereka.[]

38

boulevard 63


SIAP CETAK ISI  

Pemimpin Perusahaan Hasan Ramdan Pemimpin Redaksi Devy Nandya Staf Perusahaan Windy Iriana Dila Puspita Roos Haikal R Stella Nike Wardhany N...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you