Page 1


Terbit pertama kali dalam bahasa Spanyol dengan judul La composición (2000) oleh Ediciones Ekaré, Caracas, Venezuela Naskah © 1998 oleh Antonio Skármeta Ilustrasi © 2000 oleh Alfonso Ruano

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus

2013 – SASTRA ALIBI

Buku elektronik ini dirilis oleh sastraalibi.blogspot.com untuk kepentingan literasi dan bukan komersil


Karangan Antonio Skรกrmeta gambar oleh Alfonso

Ruano

sastraalibi.blogspot.com


P

kecewa. Ayah ibunya memang memberi bola sebagai hadiah ulang tahunnya, tetapi yang ia inginkan bola kulit putih hitam seperti yang dipakai pemain bola sungguhan, bukan bola plastik bertotol-totol biru begini. “Kalau aku sundul, bola ini melenting tak karuan. Kayak burung, enteng sekali!” ia memprotes. “Lebih bagus begitu,” jawab ayahnya. “Kepalamu jadi tidak luka dan tidak pusing.” Ia lalu menyuruh Pedro diam dengan gerakan tangannya karena ingin mendengarkan radio. Selama sebulan terakhir, jalan-jalan penuh dengan tentara. Sekarang Pedro memperhatikan bahwa tiap malam ayahnya akan duduk di lokasi kesukaannya di sofa. Lalu ia dan ibu akan menyetel-nyetel antena di radio dan menyimak lekatlekat. Kadang datang kawan yang ikut bergabung. Mereka duduk di lantai, merokok seperti cerobong asap, dengan kepala menempel ke kotak hijau itu. “Mengapa ayah ibu selalu mendengarkan radio berisik itu?” tanya Pedro pada ibunya. “Karena menarik,” jawab ibunya. “Apa yang dibicarakannya?” “Macam-macam tentang kita, tentang negara kita.” “Macam-macam apa?” Pedro bertanya lagi. “Macam-macam yang sedang terjadi.” “Lalu mengapa susah didengar?” desaknya. “Suara-suara itu jauh sekali,” jawab ibunya. Pedro memandang ngantuk keluar jendela, mencoba menebak-nebak dari bukit manakah di kejauhan suara-suara itu berasal. EDRO


Pada bulan Oktober Pedro menjadi bintang bola di kampungnya. Kadang ia bermain bersama kawan-kawannya di jalan yang rindang. Sejuknya seperti berenang di sungai saat musim panas. Pedro merasa seolah-olah berada di stadion yang diatapi oleh daun-daun yang bergemerisik, seperti bertepuk tangan saat ia menerima operan dari kawannya, Daniel, yang ayahnya, Don Daniel, mempunyai toko sembako di wilayah itu. Bak Pele, Pedro menyusup melewati barisan pertahanan dan menendang lurus melewati tiang-tiang. “Berhasil,� pekik Pedro sambil berlari memeluk kawan-kawan setimnya. Mereka membopongnya di pundak, sebab sekali pun sudah beranjak sembilan tahun, tubuhnya kecil dan ringan.


“Kau kecil banget sih,” mereka menggodanya. “Soalnya ayahku kecil dan ibuku juga kecil,” kata Pedro. “Barangkali kakek dan nenekmu juga, karena kau kecil sekali.” “Kecil-kecil cabe rawit. Pintar dan cepat. Kalian memang besar, tapi yang besar cuma mulutnya,” Pedro membalas.


Suatu hari, saat anak-anak sedang bermain di jalanan, Pedro menggiring bola. Ia lari ke Daniel yang menjadi kiper. Pedro berpura-pura menendang, dan sewaktu Daniel meloncat ke depan untuk menghalau bola, Pedro dengan kalem menendang bola itu melewati dua batu yang dipasang sebagai penanda gawang. “Goool!� teriak Pedro. Ia menunggu tepuk tangan kawan-kawannya. Namun tak ada lagi yang memperhatikannya. Semua orang menatap ke arah toko sembako Don Daniel.


Di sepanjang jalan jendela-jendela terbuka. Orang-orang berkerumun di pojok-pojok buat melihat. Sebagian pintu-pintu dihempas menutup. Lantas Pedro melihat apa yang sedang disaksikan oleh semua orang. Ayah Daniel digeret ke jalanan oleh dua orang pria. Sekelompok tentara menodongkan senapan mesin ke arahnya. Saat Daniel berusaha mendekati ayahnya, seorang prajurit mendorongnya. “Tenang,” kata prajurit itu. Don Daniel memandangi anaknya. “Jaga toko ya gantikan ayah,” ucapnya. Saat ia didorong masuk ke sebuah jip, tangan Don Daniel mencoba meraih sesuatu di sakunya. Sekonyong-konyong seorang prajurit mengangkat senapan mesinnya. “Berhenti!” bentaknya. “Aku cuma ingin memberi anakku kunci toko,” kata Don Daniel. Seorang prajurit merenggut lengannya. “Biar aku saja,” serunya kasar.


Prajurit itu merabai saku Don Daniel. Saat mendengar bunyi kerincing, ia tarik keluar kunci itu dan melemparnya. Daniel buru-buru menangkapnya. Jip itu pergi, dan ibu-ibu yang berdiri di depan pintu-pintu mereka terbirit-birit berlarian, sambil merenggut kerah baju anak-anak mereka dan menariknya masuk ke dalam rumah. Pedro berdiri di samping Daniel dalam hembusan debu yang ditimbulkan jip itu sewaktu melaju pergi. “Mengapa mereka membawa ayahmu?” tanya Pedro. Daniel memasukkan tangan ke dalam saku dan menjejalkan kuncinya. “Ayahku anti kediktatoran,” ucapnya. Pedro pernah mendengar kata-kata ini sebelumnya di radio saat malam. Tapi ia tidak benar-benar memahami maksudnya. “Apa artinya?” tanyanya. Daniel memandangi jalanan yang kosong dan berbisik, “Mereka ingin negeri ini bebas. Agar tentara tidak memerintah.” “Mereka menangkap orang karena itu?” tanya Pedro. “Kurasa ya.” “Kau mau apa sekarang?” “Entahlah,” jawab Daniel. Seorang tetangga datang mendekat dan mengusapkan tangannya ke rambut Daniel. “Ayo, aku tolong kamu menutup toko,” katanya.


Pedro berlalu sambil memantul-mantulkan bolanya. Karena tak ada lagi orang yang bisa diajak bermain, ia lari menyeberang jalan menunggu bus yang akan membawa ayahnya pulang kerja. Saat ayahnya tiba, Pedro memeluknya. Ayahnya membungkuk dan mengecupnya. “Ibumu belum pulang?” tanyanya. “Belum,” jawab Pedro. “Kau main terus ya?” “Cuma sebentar kok,” kata Pedro. Ayahnya mendekap kepala Pedro rapat-rapat ke dadanya. “Tentara datang dan membawa pergi ayah Daniel,” Pedro bercerita. “Ayah tahu.” “Kok bisa?” tanya Pedro. “Orang-orang menelepon dan mengabari ayah.” “Daniel yang punya toko sekarang,” kata Pedro. “Mungkin ia mau memberiku permen lebih banyak.” “Rasanya kok tidak,” kata ayahnya. “Mereka membawa pergi Don Daniel dengan jip seperti yang ada di film-film,” kata Pedro lagi. Ayahnya tak berucap apa-apa. Ia menghela nafas dalam-dalam dan menatap sedih ke jalanan. Kendati hari masih terang, orang-orang yang ada di luar hanyalah bapak-bapak yang perlahan-lahan pulang kerja.


“Menurut ayah bakal masuk TV tidak?” tanya Pedro. “Apanya”? ayahnya bertanya balik. “Don Daniel.” “Tidak.” Malam itu Pedro duduk makan malam bersama ayah dan ibunya. Meskipun tidak ada yang menyuruhnya diam, Pedro tidak berucap sepatah kata pun. Orang tuanya juga makan tanpa berbicara. Tiba-tiba saja ibunya mulai terisak pelan-pelan. “Kenapa ibu menangis?” tanya Pedro. Ayahnya terlebih dulu menatap Pedro lalu memandang ke ibu Pedro, tapi tak berkomentar apa-apa. “Ibu tidak menangis,” jawab ibunya. “Ada orang yang berbuat sesuatu pada ibu?” tanya Pedro. “Tidak, nak,” jawabnya. Mereka rampungkan makan malam mereka berdiam-diaman dan sesudahnya Pedro mengganti bajunya dengan piyama tidur. Saat ia kembali ke ruang keluarga, ia lihat kedua orang tuanya saling berpelukan di sofa. Kepala mereka menunduk dekat radio, yang sedang mengeluarkan suara-suara tak jelas. Sulit untuk mendengar apa yang diucapkan karena volumenya dikecilkan pelan sekali. “Yah, apa ayah anti kediktatoran?” tanya Pedro tiba-tiba. Si ayah menatap anaknya, lantas menoleh ke istrinya, lalu mereka berdua memandangi Pedro. Ayahnya mengangguk perlahan.


“Ayah akan dibawa ke penjara juga?” tanya Pedro. “Tidak,” jawab ayahnya. “Kok ayah tahu?” tanya Pedro. “Karena kau membawa untung,” ayahnya tersenyum. Pedro menyender ke kusen pintu, merasa senang ia tidak disuruh tidur seperti biasanya. Ia ikut menyimak radio, mencoba memahaminya. Saat radio itu menyebutkan “kediktatoran militer,” Pedro merasa seolah-olah semua kepingan teka-teki yang bertebaran liar di kepalanya mulai berbentuk jadi satu.


“Yah,” katanya, “apakah aku anti kediktatoran?” Ayahnya melihat ke ibu Pedro seolah-olah jawaban atas pertanyaan itu tertulis di mata si ibu. Ibunya menggaruk-garuk pipi dengan tampang lucu dan berkata, “Sulit dibilang.” “Kenapa begitu?” tanya Pedro. “Anak-anak ya tidak anti ini anti itu,” jawab ibunya. “Anak-anak ya anak-anak. Mereka harus pergi ke sekolah, belajar giat, bermain-main, dan bersikap baik pada orang tuanya.” Biasanya kalau Pedro mendengar kalimat panjang macam itu ia akan diam saja. Tapi kali ini, dengan mata masih terpaku pada radio, ia berkata, “Oke, tapi kalau ayah Daniel dipenjara, Daniel tidak akan bisa pergi ke sekolah.” “Tidurlah, nak,” kata ayahnya.


Esok harinya, Pedro menyarap dua lembar roti tawar dengan selai, mencuci muka lalu berlari ke sekolah secepat mungkin agar tidak terlambat. Di tengah jalan, ia melihat layang-layang biru menyangsang di pohon, tapi setinggi apapun ia melompat, ia belum bisa menjangkaunya. Bel masih berbunyi saat bu guru berjalan masuk ke kelas. Jalannya kaku. Seorang pria berseragam tentara berjalan di belakang bu guru. Orang itu memakai medali di dadanya, kumisnya kelabu dan kacamatanya gelap, lebih pekat dari lumpur di lutut Pedro sesudah main bola. “Berdiri yang tegak, anak-anak,” perintah bu guru. Murid-murid pun berdiri. Pak tentara tersenyum dengan kumisnya yang mirip sikat gigi dan kacamata gelapnya. “Selamat pagi, adik-adik,” ia menyapa. “Nama saya Kapten Romo dan saya datang ke sini atas nama pemerintah, yang artinya, Jenderal Perdomo, untuk meng ajak murid-murid sekolah ini menulis karangan. Murid yang karangannya paling bagus akan menerima medali emas dan selempang sewarna bendera kita yang akan diserahkan langsung oleh Jenderal Perdomo sendiri. Yang menang juga akan membawa bendera pada parade Minggu Pahlawan.” Kapten Romo menaruh tangan di belakang punggungnya, berjinjit sesaat lalu meluruskan punggung sambil sedikit mengangkat dagu. “Perhatian! Duduk grak!”


Anak-anak menurut. “Baik,” kata kapten. “Keluarkan buku tulis. Buku siap? Keluarkan pensil. Pensil siap? Ayo tulis! Judul karangan? Apa yang dilakukan keluargaku waktu malam. Paham? Artinya, apa yang kamu dan orang tuamu lakukan dari sejak kalian pulang ke rumah dari sekolah dan kerja. Siapa saja tamu yang datang, apa yang mereka obrolkan, apa yang mereka katakan tentang acara teve yang mereka tonton. Apa saja yang terpikir olehmu, tuliskan saja. Kalian bebas menulis yang kalian mau. Nah, tu wa ga... mulai!” “Boleh dihapus?” tanya seorang anak laki-laki. “Ya,” jawab kapten. “Boleh ditulis dengan bolpoin?” tanya yang lain. “Tentu saja, dik.” “Boleh saya pakai kertas kotak-kotak kecil?” tanya seorang anak perempuan. “Silakan,” jawab kapten. “Pak, berapa banyak yang harus ditulis?” tanya anak laki-laki lain lagi. “Dua sampai tiga halaman.” “Dua sampai tiga halaman!” anak-anak mengaduh. “Baiklah,” balas kapten. “Satu sampai dua halaman saja kalau begitu. Nah, sekarang ayo tulis!” serunya.


Anak-anak menggigit-gigit pensilnya dan melirik ke langit-langit kelas siapa tahu ada ide yang turun ke kepala mereka. Pedro juga menggigit-gigit pensilnya, tapi tak ada satu kata pun yang terpikir olehnya. Ia mengorek hidung. Tak sengaja secuil upil kecil tertarik keluar dan ia oleskan ke bawah meja. Di meja sebelah, Juan sedang menggigiti kukunya satu per satu. “Itu kau makan?” tanya Pedro. “Apaan?” kata Juan. “Kukumu.” “Nggak. Aku potong dengan gigi lalu kuludahkan keluar. Begini nih. Lihat?”


Kapten berjalan berkeliling di antara deretan meja-meja siswa, dan Pedro bisa melihat gesper ikat pinggangnya yang keras mengkilap keemasan. “Kalian berdua! Kok tidak mengerjakan?” tanyanya. “Ya, Pak,” kata Juan, dan ia pun mengernyitkan alis, menjulurkan lidah dan menulis “A” besar untuk memulai karangannya. Saat kapten berjalan balik ke arah papan tulis untuk bicara dengan guru, Pedro melongok ke kertas Juan. “Kau mau menulis apa?” tanyanya. “Apa sajalah,” kata Juan. “Kau apa?” “Belum tahu,” jawab Pedro. “Apa yang dilakukan orang tuamu kemarin?” tanya Juan. “Sama seperti biasa. Pulang, makan, mendengarkan radio, pergi tidur.” “Sama seperti ibuku.” “Ibuku mulai menangis,” kata Pedro. “Ibu-ibu selalu menangis,” Juan menimpali. “Aku jarang menangis,” Pedro membalas. “Sudah setahun ini aku tidak menangis.” “Bagaimana kalau aku pukul kamu dan matamu benjol. Menangis tidak kamu?” tanya Juan. “Buat apa kau melakukan itu kalau kau temanku?” “Benar. Aku takkan begitu,” Juan menjawab.


Anak-anak itu menaruh pensil di mulut lagi dan memandangi bola lampu yang putus serta bayang-bayang di tembok. Pedro merasa otaknya sekosong celengan yang tidak ada uangnya. Ia mencondongkan badan lagi ke Juan dan berbisik di telinganya, “Apakah kau anti kediktatoran?” Juan mendongak untuk melihat di mana kapten berada lalu condong ke arah Pedro, “Tentu saja, bego.” Pedro bergeser sambil mengedipkan mata dan tersenyum. Lalu sambil purapura menulis ia bertanya, “Tapi kau kan anak-anak.” “Apa masalahnya?” tanya Juan. “Kata ibuku anak-anak itu...” “Mereka semua bilang begitu,” Juan menukas. “Mereka bawa ayahku jauh ke utara.” “Sama seperti Daniel,” kata Pedro. “Ya, sama seperti Daniel.” Pedro menunduk melihat apa yang sudah ia tuliskan di kertas: Apa yang Dilakukan Keluargaku Waktu Malam, oleh Pedro Malbrán, Sekolah Siria, Kelas Tiga A. “Juan, kalau aku memenangkan medali ini, akan kujual untuk membeli bola kaki ukuran lima dari kulit dengan kotak-kotak hitam,” katanya. Lantas ia membasahi ujung pensilnya dengan sedikit jilatan ludah, menarik nafas dalam-dalam dan menulis: Waktu ayah pulang kerja...


Seminggu berlalu. Sebatang pohon di alun-alun roboh saking tuanya. Truk sampah sudah lima hari tidak datang dan lalat-lalat berdengung sampai ke muka orang-orang. Gustavo Martínez, yang tinggal di seberang jalan, menikah dan para tetangga ikut menikmati kue pernikahannya. Jip itu kembali dan membawa pergi pak guru Manuel Pedraza ke penjara. Pastor tidak mau mengadakan misa Minggu. Di dinding sekolah muncul kata “Resistencia” (Perlawanan). Daniel main bola lagi dan menyarangkan dua gol. Harga es krim contong naik, dan Matilde Schepp, yang memasuki usia sembilan tahun, meminta Pedro menciumnya di mulut. “Kau gila!” Pedro memekik. Setelah seminggu itu berlalu, berlalu pulalah seminggu lagi, dan pada suatu hari sang kapten datang kembali ke kelas. Ia membawa banyak lembaran kertas dan kalender bergambar Jenderal Perdomo. Sakunya menggembung berjejal permen. “Adik-adik yang manis,” katanya, “karangan kalian semuanya bagus-bagus dan membuat kami para tentara ini gembira sekali. Atas nama rekan-rekan saya dan Jenderal Perdomo, saya ingin menyampaikan ucapan selamat yang tulus. Medali emas tidak dimenangkan oleh kelas kalian, tapi kelas yang lain. Tapi buat hadiah karangan kalian yang bagus-bagus itu, saya akan membagi permen serta mengembalikan karangan kalian dengan komentar. Kalender bergambar junjungan kita bersama ini buat dipasang di kelas.”


Pedro memakan permennya dalam perjalanan pulang. Saat makan malam ia bercerita ke ayahnya, “Di sekolah kami disuruh menulis karangan.” “Hmmm. Tentang apa?” tanya ayahnya sambil menyeruput sup. “Apa yang dilakukan keluarga kita waktu malam,” Pedro menjawab. Sendok ayah jatuh ke piring dan memuncratkan sedikit sup ke taplak meja. Ia menatap ibu Pedro. “Dan apa yang kau tulis, nak?” tanya ibunya. Pedro beringsut dari meja dan pergi mencari lembaran kertasnya. “Mau kubacakan? Pak kapten memberiku selamat lho.” Ia tunjukkan pada mereka tulisan sang kapten yang memakai pena, “Bravo! Selamat ya.” “Kapten! Kapten apa?” seru ayahnya. “Orang yang menyuruh kami menulis karangan,” Pedro menjelaskan. Orang tuanya saling berpandangan lagi dan Pedro mulai membaca, “Sekolah Siria, Kelas Tiga A —” “Bacakan saja isinya, oke?” ayahnya memotong. Dan sembari kedua orang tuanya menyimak baik-baik, Pedro membaca.


Waktu ayah pulang kerja, aku menunggunya di halte bus. Kadang ibuku sudah berada di rumah, dan ketika ayah masuk ibu bilang, Bagaimana hari ini? Baik, kata ayah, dan kau sendiri bagaimana? Lalu aku keluar main bola. Aku suka mengegolkan dengan sundulan kepala. Lalu ibu datang dan bilang, Pedrito masuk dan makan dan kami duduk di meja dan aku makan semuanya kecuali sup sebab aku tidak doyan. Sesudah makan malam ayah dan ibu duduk di sofa bermain catur dan aku mengerjakan PR. Dan mereka terus main catur sampai sudah waktunya tidur. Sesudah itu aku tidak tahu sebab aku sudah tidur. Tertanda — Pedro Malbrán. Catatan: Bila aku menang hadiah untuk karangan ini aku harap hadiahnya bola sungguhan dan bukan bola plastik. Pedro mendongak dan melihat orang tuanya tersenyum. “Nah,” kata ayahnya, “kalau begitu kita perlu beli papan catur.”


Kediktatoran Di beberapa negara dunia, orang hidup dalam kediktatoran. Yang memegang kuasa dalam kediktatoran hanyalah satu orang atau sekelompok kecil orang saja. Mereka mengelola negara semau-mau mereka, tanpa mempertimbangkan keinginan orang banyak. Dalam kediktatoran, orang banyak tidak dimungkinkan untuk memengaruhi tindakan pemerintah atau bahkan mengubahnya. Pengadilan, pemilihan umum, dewan legislatif (seperti Kongres atau Parlemen) serta partai-partai politik tidak ada atau tidak memegang kekuatan riil. Dalam kediktatoran tidak ada kebebasan berpendapat atau kebebasan pers. Orang yang berdemonstrasi menentang kediktatoran bisa ditangkap hanya karena mereka tidak sependapat dengan pemerintah. Kediktatoran mempertahankan kekuasaannya dengan mengenyahkan atau mengendalikan orang-orang yang menentangnya. Untuk bisa berbuat demikian, mereka harus menemukan siapa saja persisnya orang yang menentang mereka. Jadi mereka mendorong atau menghadiahi orang agar melaporan apa yang diperbuat keluarga atau tetangganya. Kadang mereka bahkan menyuruh anak-anak melaporkan orang tuanya sendiri, seperti yang terjadi pada Pedro dalam cerita Karangan ini. Kediktatoran membuat takut orang agar mematuhi mereka melalui penggunaan kekerasan, penjara, bahkan membunuh lawan-lawan mereka. Mereka biasanya punya satuan kepolisian yang sangat besar dan mengandalkan tentara untuk memaksakan aturan. Para diktator sendiri kerap berasal dari tentara. Terlepas dari kekuasaan para diktator ini, rakyat berjuang melawan mereka. Orangorang bisa mengadakan gerakan perlawanan secara diam-diam, bahkan dengan menghadapi mara bahaya. Mereka juga bisa mencari bantuan dari negara lain atau dari organisasiorganisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan ada kalanya mereka bisa mengalahkan sang diktator dan memulihkan demokrasi kembali di negara mereka.

Karangan  

Buku anak bergambar karya Antonio Skármeta dan Alfonso Ruano

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you