Page 1


Naskah David Jhonny

2

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

Megah dan artistik ! Itulah kesan pertama tatkala pandangan kita tertuju kepada satu bangunan besar dan megah, bercat kuning berbentuk kopiah raksasa di lereng bukit, ketika kapal penyeberangan MerakBakauheni mengambil ancang-ancang merapat ke dermaga Bakauheni, Lampung. yang seakan menyapa kita dan mengucapkan SELAMAT DATANG di Provinsi Lampung, Pulau Sumatera.


M

egah dan artistik ! Itulah kesan pertama tatkala pandangan kita tertuju kepada satu bangunan besar dan megah, bercat kuning berbentuk kopiah raksasa di lereng bukit, ketika kapal penyeberangan Merak-Bakauheni mengambil ancang-ancang merapat ke dermaga Bakauheni, Lampung. yang seakan menyapa kita dan mengucapkan SELAMAT DATANG di Provinsi Lampung, Pulau Sumatera. Itulah MENARA SIGER. Bangunan megah ini digagas dan diresmikan Gubernur Lampung Sjachroedin Zainal Abidin Pagaralam tanggal 30 April 2008 lalu. Warna keemasan (kuning) yang memba-

lut dinding-dinding kopiah raksasa itu seakan memancarkan sinar keagungan dan sekaligus menunjukkan budaya Lampung yang luhur dan bernilai tinggi. Bangunan Menara Siger berlantai tiga ini dibangun dengan biaya Rp12,5 miliar terletak di lereng bukit tidak jauh dari Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni di pinggir jalan lintas sumatera. Dari lereng pebukitannya dan dari atas menaranya kita disuguhi panorama alam Selat Sunda dan keramaian kapal yang hilir mudik diperairan Selat Sunda dan pelabuhan Bahauheni. Jika anda mendarat di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni menjelang pagi, saat-saat sang fajar menyembul di ufuk timur (sun rise)

ataupun saat sang matahari masuk ke peraduannya di sore hari (sun set) jangan lewatkan untuk singgah di Menara ini karena saat-saat itulah kesempatan anda mereguk panorama alam yang sangat indah dan mengingatkan anda akan kebesaran Sang Maha Pencipta. Menara Siger memang melambangkan kekuatan dan sekaligus juga kelembutan. Menara Siger melambangkan semangat persahabatan dari masyarakat Lampung baik dengan Sang Pencipta maupun dengan sesama manusia. Kini, Menara Siger (Siger) telah menjadi ikon Lampung dan salah satu objek wisata andalan di provinsi ini. Lampung memang kaya, anggun dan juga kuat.

MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

3


Menguak Pariwisata Pesisir Barat

Membelah Ombak Di Ujung Karang

Naskah M. Hasim

4

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

Menyaksikan para peselancar membelah dan mencabik-cabik ombak adalah sebuah keasikan tersendiri, sama seperti melihat gambar-gambar peselancar pro yang sedang beraksi di majalah-majalah selancar, menakjubkan dan spektakuler.


MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

5


DESTINASI

PARA PESELANCAR yang mampu menaklukkan ombak-ombak besar adalah sebuah sensasi, sebuah pemandangan yang membuat gregetan siapapun yang melihatnya, yang bisa mengundang siapa saja untuk ikut terjun ke laut dan mencoba. Dan apabila yang kita saksikan adalah para peselancar profesional yang setiap manuver-nya hampir sempurna tidak pernah jatuh lincah di ombak besar, maka kesenangan kita jadi berlipat, waktu seperti berjalan begitu cepat, tak terasa, sudah berjam-jam kita duduk terpaku. Meliuk-liuk dan menari di atas ombak tentu butuh keahlian, sesuatu yang sulit dilakukan oleh orang yang tidak terlatih. Bukan hanya keberanian menghadapi ombak yang dibutuhkan, tetapi juga kenekadan, karena ombak yang bagus biasanya terdapat di surf yang berkarang, salah-salah bisa celaka. Tidak jarang para peselancar cedera akibat terjatuh membentur karang. Namun, tidak semua surf terdapat di karang, ada juga surf yang terdapat di pasir yang relatif lebih aman, ini yang oleh peselancar mancanegara disebut beach breaks. Akan tetapi, beach breaks ini umumnya tidak bagus– ombaknya kurang berkualitas. Di samping itu, tidak seperti ombak karang yang kebanyakan menetap di tempat yang sama, beach breaks

6

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

kebanyakan berpindah-pindah sehingga menyulitkan para peselancar, terutama peselancar pemula. Di Krui, Lampung Barat, ada banyak tempat berselancar, yang umumnya adalah ombak karang. Hanya ada dua beach breaks di Krui, yaitu di pantai Mandiri dan di pantai Kebuaiyan (peselancar mancanegara menyebutnya LA) namun kedua spot ini kurang populer, dibandingkan dengan spot-spot lain yang berombak karang. Di antara spot ombak karang itu, yang paling populer adalah Karang Nyimbor, atau di kalangan peselancar mancanegara sering disebut Ujung Bocor. “Karang Nyimbor” adalah nama nasional dan internasionalnya, sedangkan masyarakat setempat menyebutnya Kaghang Nyimbogh.

Dari tahun ke tahun, peselancar yang datang ke Krui selalu bertambah. Mereka umumnya mengetahui tempat ini dari cerita teman-teman mereka yang pernah berkunjung ke sini

Kaghang artinya “karang”, sedangkan nyimbogh berarti “menciprat”. Artinya kira-kira, kalau Anda berdiri di karang, Anda akan kecipratan air. Karang Nyimbor nyaris sudah terkenal di seluruh jagad Perselancaran di bumi ini. Spot ini, juga beberapa spot lain di Krui, seperti Pugung Penengahan (Jimmy’s), Pugung Tampak (Jenny’s), Honey Smack dan Labuhan Jukung (Krui Left), pernah beberapa kali diliput majalah selancar luar negeri. Nama-nama spot tersebut, yang menggunakan bahasa Inggris, memang diberikan sendiri oleh para peselancar mancanegara. Di samping sopt-spot di atas, sekurangnya terdapat lima spot lain yang bisa dipilih di Krui seperti Krui Right, The Peak, The Leftover, Bali


DESTINASI

Village, Walur, Way Jambu, dll. “Di sini banyak fun waves. Ada banyak pilihan ombak, baik bagi yang sudah mahir, maupun bagi pemula. Di samping itu, air lautnya bersih dan hangat, dan tidak terlalu banyak peselancar di sini”, kata Lyon peselancar dari Australia, ketika saya tanya apa perbedaan surf di Krui dengan di

tempat lain yang pernah dia kunjungi. Dari tahun ke tahun, peselancar yang datang ke Krui selalu bertambah. Mereka umumnya mengetahui tempat ini dari cerita teman-teman mereka yang pernah berkunjung ke sini. Cerita dari mulut ke mulut ini terus berkembang, mengalahkan promosi lewat media cetak dan internet.

Popularitas Krui ini tentu tak luput dari kualitas ombaknya yang disebutsebut berkelas dunia, suasana lingkungan yang nyaman dan kondusif, serta dukungan dan partisipasi masyarakat setempat dalam perkembangan pariwisata di daerahnya, dan tentu saja, manajemen dan promosi wisata yang memadai. Di antara spot-spot selancar di Krui tersebut Karang Nyimbor adalah yang paling banyak diliput media, baik nasional maupun internasional, baik cetak maupun elektronik. Akan tetapi ternyata liputan media masih kalah dibandingkan dengan cerita dari mulut ke mulut. Umumnya, peselancar mancanegara yang datang ke Karang Nyimbor, mengetahui tempat ini dari cerita mulut ke mulut. “Saya tahu tempat ini dari teman saya yang pernah ke sini tahun lalu”, kata Martin peselancar dari Australia yang baru pertama kali ke Karang Nyimbor. “Tadi pagi ombaknya bagus. Biasanya menjelang petang akan lebih bagus lagi”, katanya. Ombak yang cocok untuk berselancar umumnya ada tiga tipe, yang pecah di kiri, yang pecah di kanan, dan yang pecah di tengah. MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

7


DESTINASI Ombak pecah di tengah, jarang terdapat. Di Krui hanya ada satu, yaitu di Way Redak. Peselancar menyebut spot ini The Peak, karena bentuknya seperti puncak gunung. The Peak ini sangat pendek dan singkat, saking pendek dan singkatnya, mereka menyebutnya four seconds, karena durasinya cuma beberapa detik.Tidak banyak yang menyukai ombak ini. Spot ini umumnya lebih cocok untuk body boarding (berselancar menggunakan papan pendek dengan posisi tidur, tidak berdiri). Yang pecah di kiri disebut left hander dalam istilah selancar, sedangkan yang pecah di kanan disebut right hander. Di Krui, ombak left hander lebih banyak dibandingkan right hander. Krui Left, Way Jambu, The Leftover, dan Karang Nyimbor semuanya left hander. Sedangkan spot yang tergolong right hander adalah Krui Right dan Jimmy’s dan Jjenny’s. Baik Krui Righ, Jenny’s maupun Jimmy’s semuanya kurang konsisten dalam hal kemunculannya. Ombak di Karang Nyimbor muncul dengan berbagai ukuran, mulai dari yang kecil, sekitar 6 feet (1,8 m), sampai yang terbesar sekitar 14 feet (4,2 m). Bagi peselancar pemula, ombak seukuran 6 feet atau kurang, sangat cocok untuk berlatih. Sedangkan bagi peselancar pro, lebih cocok ukuran 8 feet ke atas. Namun, kadang-kadang, ombak di Karang Nyimbor ini meradang, mencapai lebih dari 14 feet. Kalau sudah demikian, kebanyakan peselancar pergi mencari tempat lain yang ukuran ombaknya lebih kecil. Labuhan Jukung (Krui Left) adalah tujuan utama para peselancar, ketika ombak di Karang Nyimbor terlalu besar. Perkembangan wisata selancar dewasa ini di Karang Nyimbor khususnya, dan di Krui umumnya, cukup menggembirakan. Setiap tahunnya, ribuan peselancar dan wisatawan mancanegara berkunjung ke tempat ini, jumlahnya, dari tahun ke tahun, terus bertambah. Hal ini diiringi dengan pertumbuhan jumlah penginapan yang semakin hari semakin banyak. Kalau dulu, awal tahun 2000an, baru ada dua penginapan, sekarang sudah terdapat sekitar 20 penginapan di tempat ini. Penginapan yang oleh peselancar disebut surf camp ini terletak di

8

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

pinggir pantai, sehingga memudahkan para peselancar mencek ombak di pagi hari. Para peselancar umumnya memang menyenangi tempat menginap yang terletak di pinggir pantai, karena, dengan demikian, mereka tidak perlu repot-repot setiap kali ingin mencek ombak. Di samping itu, jika tidak sedang berselancar, mereka bisa duduk santai di atas panggung, membaca buku atau menyaksikan teman mereka berselancar. Surf camps di Karang Nyimbor umumnya menyediakan panggung atau platform untuk para tamunya menyaksikan orang berselancar. Surf camps di Karang Nyimbor terdiri dari berbagai tipe, mulai dari yang sederhana, berdinding papan, sampai yang lumayan, berdinding tembok permanen. Di tengah rimbun daun dan pepohonan hijau, surf camps ini berudara sejuk. Tak perlu AC karena AC alam sudah cukup untuk menyejukkan udara ruangan, di tengah hari bolong sekalipun. Desainnya yang unik, dan lokasinya yang asri, menimbulkan sensasi kenikmatan, sehingga pengunjung betah berlamalama. Tidak heran, turis mancanegara

betah berlama-lama di sini. Bukan hanya seminggu dua minggu, bahkan ada yang tinggal di sini selama berbulan-bulan. Surf camps ini menawarkan tarif yang berbeda-beda, sesuai dengan kelas dan fasilitasnya, mulai dari 250.000 rupiah per hari, sampai 300.000 rupiah per hari, termasuk 3 kali makan. Surf camps dengan tarif 300.000-an menyediakan fasilitas yang lumayan bagus seperti TV, meja biliar, dan sarana olahraga. Surf camps yang dikelola oleh orang lokal, umumnya bertarif rendah, bahkan bisa turun sampai 150.000 rupiah per hari, termasuk makan 3 kali, jika sedang musim sepi, namun fasilitasnya minim, dan berjarak relatif jauh dari ombak. Semua surf camps di Karang Nyimbor ini menyediakan warung yang menjual kebutuhan konsumsi seperti minuman, rokok, dan makanan ringan. Di area sekitar surf camps ini, sudah cukup tersedia segala kebutuhan harian seperti makan dan minum, sehingga Anda tidak perlu repot-repot pergi ke pasar untuk belanja. Lokasi surf camps ini cukup terisolasi dari perkampungan penduduk, sehingga


suasananya nyaman dan tidak bising, jauh dari polusi lalu lintas. Namun, jika Anda perlu berjalan-jalan, atau pergi ke tempat berselancar yang lain, Anda bisa menyewa sepeda motor, dengan tarif 50.000 rupiah per hari. Berpergian dengan kendaraan umum, jarang dilakukan turis, karena tidak nyaman, dan banyak makan waktu. Jika tidak sedang musim selancar, bulan November hingga Maret, surf camps tersebut juga menerima wisatawan lokal, tapi jika sedang musim selancar mereka hanya menerima turis mancanegara. Jika Anda berminat, Anda bisa berkunjung ke sini untuk mengisi liburan Anda. Jarak Krui dengan Bandarlampung sekitar 260 km, sekitar 6-7 jam perlajanan, bisa ditempuh lewat dua jalur, lewat Liwa atau lewat Kota Agung. Jika Anda menempuh perjalanan lewat Kota Agung, Anda bisa menghemat waktu sekitar setengah jam dibandingkan dengan lewat Liwa, dan dengan pemandangan yang lebih menarik di sepanjang jalan. Awal tahun 2013, akan ada peberbangan perintis dengan rute Bandar Lampung-Krui-Bengkulu.

MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

9


AYO Ke Gunung Anak Krakatau SALAH SA TU OBJEK WISA TA yang SATU WISAT patut anda nikmati jika berkunjung ke Provinsi Lampung adalah Gunung Anak Krakatau (GAK). Gunung api aktif ini terletak di perairan Selat Sunda dengan posisi geografis 6-9 derajat Lintang Selatan dan 105 derajat Bujur Timur. Secara administrative merupakan bagian wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Keistimewaan gunung ini, bukan saja karena masih aktif sebagai gunung api yang muncul dari dalam laut, tetapi juga karena berada di tempat ini secara langsung segera menyadarkan anda akan kebesaran dan keagungan Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Kuasa. Mengapa? GAK yang ada sekarang ini adalah generasi penerus dari Gunung Krakatau Tua yang meletus dahsyat pada tanggal 27 Agustus 1883.

10

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

Gemuruh letusannya terdengar sampai Australia Selatan, Srilangka dan Filipina. Ledakan gunung api itu menerbangkan material batuan dan debu sebanyak 18-21 km3. Abunya melayang setinggi 80 kilometer dan mengelilingi bumi untuk beberapa lama, sehingga matahari kelihatan biru dan bulan kekuningan. Pemandangan yang menakjubkan itu sampai ke Benua Eropa dan Amerika Utara. Letusan Gunung Karakatau diikuti pula dengan gempa bumi hebat yang menyebabkan terjadinya gelombang pasang (tsunami) yang sangat besar Gelombang besar inilah yang kemudian menyapu habis kawasan pantai Teluk Lampung dan pantai barat Provinsi


MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

11


DESTINASI

Naskah Rimson Simanjorang

12

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

Gelombang besar inilah yang kemudian menyapu habis kawasan pantai Teluk Lampung dan pantai barat Provinsi Banten

Banten. Ratusan desa, kapal, perahu yang sedang berlayar di Selat Sunda ataupun sedang berlabuh dihempaskan gelombang pasang jauh ke daratan. Tercatat korban jiwa lebih 36.000 orang. Setelah semuanya berakhir, alampun sepi senyap dan semuanya telah lenyap ditelan perairan Selat Sunda, termasuk Gunung Krakatau tua. Keadaan ini berlangsung sampai tahun 1928 ketika secara mengejutkan dari bekas letusan muncul gunung api baru. Gunung api inilah yang kini disebut Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi saksi peristiwa besar tersebut. Dari waktu ke waktu, gunung api kecil ini terus membesar dan meninggi. Kini tingginya sudah mencapai sekitar 500 meter dari permukaan laut (dpl). Simon Winchester, ahli geologi dari Universitas Oxford, Inggris yang juga penulis National Geographic menulis bahwa letusan Gunung Krakatau adalah peristiwa vulkanik yang paling besar dalam sejarah manusia modern. Kekuatan ledakannya setara dengan


DESTINASI

13.000 kali kekuatan bom atom Hirosima dan Nagasaki. Suara letusannya menggema di radius 4.600 kilometer per segi dan didengar oleh seperdelapan penduduk bumi saat itu. Kemunculan ‘Gunung Anak Krakatau’ merupakan keajaiban alam yang menarik sehingga ditetapkan sebagai salah satu Cagar Alam. Para Ilmuwan dari berbagai negara menjadikan pulau GAK ini sebagai laboratorium konservasi alam, geologi dan biologi. Di pulau gunung api ini memang tak banyak lagi yang ditemukan. Selain bebatuan hitam kecoklatan buangan letusan, juga mulai tumbuh beberapa jenis tumbuhan seperti cemara, waru, ketapang dan kangkung laut Untuk faunanya, terdapat ular dahan, biawak, dan tikus dan juga kupu-kupu. Bila kondisi normal, wisatawan diperkenankan menikmati ledakan dari kawah (kaldera) yang menyemburkan bebatuan, pasir, debu dan lava panas layaknya seperti pesta kembang api. Setelah puas menikmati pesona daratan Gunung Anak Krakatau, anda

tentu saja dapat pula ‘menyapa’ kelembutan perairan laut jernih di sekitar gugusan pulau-pulau kecil di sini yaitu Pulau Sertung, Pulau Panjang, Pulau Rakata dan Pulau GAK sendiri. Di perairan sekitar pulau-pulau itu anda dapat menyelam (snorkeling) untuk melihat biota bawah lautnya yang kaya terumbu karang dan aneka jenis ikan. Andapun dapat pula memancing sambil menunggu mentari terbenam (sunset). Dari punggung gunung anda dapat menikmati keindahan panorama perairan Selat Sunda, Teluk Lampung dan Pantai Barat Banten diselingi lampu-lampu bagan nelayan yang mulai berkelipkelip. AYO KE KRAKATAU Saat ini mencapai Gunung Anak Krakatau tidaklah sulit. Bagi wisatawan yang memulai dari Jakarta (Pulau Jawa) bisa memilih apakah akan naik pesawat atau jalan darat. Jika anda naik pesawat, anda dapat memulainya dari Bandara Suta, Jakarta ke Bandara

Radin Inten II Branti, Lampung Selatan. Kini tersedia 15 kali penerbangan setiap hari. Dari Bandara anda dengan mudah dapat menuju tempat menginap baik di hotel bintang maupun non bintang yang cukup banyak di Kota Bandarlampung. Dari Kota Bandarlampung anda melanjut ke desa Canti didekat Kalianda 60 kilomter dengan waktu perjalanan kurang lebih 1 jam. Kemudian, jika anda melalui jalan darat, dari Jakarta menuju Pelabuhan Merak. Di pelabuhan ini tersedia feri penyeberangan 24 jam. Pelayaran di Selat Sunda menuju Pelabuhan Bakauheni memakan waktu selama 2,5 – 3 jam pelayaran. Seterusnya, dari Pelabuhan Bakauheni, setelah istirahat sebentar di Menara Siger, perjalanan dilanjutkan selama 45 menit (30 kilometer) ke Desa Canti. Di pelabuhan kecil inilah anda menyewa perahu atau kapal motor dari penduduk setempat untuk menuju GAK selama kurang lebih 2 jam pelayaran. Selamat menikmati MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

13


ORANG LAMPUNG Naskah Santi Hastarini

Hal ini antara lain ditandai dengan adanya bahasa dan tulisan Lampung serta falsafah hidup bermasyarakat yang disebut Piil Pasenggiri. Sikap Piil Pasenggiri dan unsur-unsur pendukungnya (sakai sambayan, nemui nyimah, nengah nyapur, bejuluk beadek, merupakan nilai-nilai luhur yang ditunjukkan dengan adanya sikap toleransi, gotong royong, sikap persatuan dan persaudaraan, sikap musyawarah mufakat dan sikap patriotisme. Orang Lampung, konon berasal dari Skala Brak, yaitu suatu tempat di daerah Kabupaten Lampung Barat. Dari sinilah mereka menyebar ke hampir seluruh daerah di Lampung. Proses penyebaran ini antara lain ditandai oleh adanya nama-nama tempat atau kampung yang sama di berbagai kawasan Lampung, misalnya, Kuripan, Negeri Sakti, Kuta Karang dan lain-lain. Asal kata Lampung sendiri konon dari kata “terapung” yang terkait dengan turunnya seorang tokoh dari langit bernama “Si Lampung Ratu Bulan”. Pendapat lain menghubungkan kata itu dengan ucapan to-lang p’o whang yang ada dalam catatan China pada abat ke-7 untuk menyatakan Kerajaan Tulang Bawang. Akhirnya, ucapan to-lang p;o whang itu berubah menjadi Lampung. Sementara pihak membedakan suku bangsa Lampung menjadi dua sub suku bangsa yaitu Orang Lampung yang menganut adat Pepadun (Lampung Pepadun), dan orang Lampung yang menganut adat Saibatin atau Peminggir (Lampung Peminggir). Perkembangan jumlah penduduk asli Lampung dapat dikatakan lambat jika dibandingkan dengan penduduk pendatang, bukan karena kesehatan yang kurang baik, tetapi karena jumlah angka kelahiran yang relatif rendah dan perkawinan. Pada umumnya, orang-orang Lampung asli tidak suka mengawinkan anak-anak mereka pada umur yang masih muda. Wanita baru diijinkan kawin setelah berusia lebih 18 tahun, dan laki-laki

14

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

JAUH sebelum masuknya pendatang, daerah ini telah dihuni suku bangsa yang hidup dalam suatu kebudayaan yang tinggi.

berumur di atas 21 tahun. Perkawinan pada usia muda boleh dilakukan karena kepentingan adat yang mendesak, misalnya yang berhubungan dengan system pewarisan. Misalnya, ada seseorang yang hampir meninggal baru dapat mewariskan hartanya kepada anaknya yang sudah menikah. Demikian pula kawin muda dapar dilakukan karena suatu keluarga takut kehilangan penyimbang (sebatin) atau penerus generasi. Selain masalah perkawinan yang dilakukan setelah berumur dewasa, jarang pula terjadi perceraian atau perkawinan dengan janda. Di lingkungan masyarakat beradat pepadun, perceraian merupakan perbuatan yang dilarang oleh hukum adat. Perkawinan lebih dari satu istri atau poligami juga jarang terjadi, kecuali dilingkungan oaring-orang berada atau pemuka-pemuka adat saja. Hubungan Lampung dengan dunia luar sudah terjadi sejak abad pertama Masehi ketika agama Hindu masuk ke daerah ini. Hubungan dengan luar itu semakin meningkat dengan masuknya pedagang-pedagang Islam pada sekitar abad ke-15. yang kemudian telah memberikan warna yang dominan pada setiap sisi budaya dan adat istiadat Lampung seperti yang terlihat sekarang ini. Pada awal abad ke-20 pemerintah kolonial Belanda menjadikan daerah Lampung sebagai lokasi pemindahan penduduk dari Pulau Jawa yang disebut kolonisasi.Pada tahun 1905 sejumlah penduduk Bagelen (Jawa Tengah) dipindahkan Belanda ke daerah Gedong Tataan (Pesawaran). Program kolonisasi pada berlangsung sampai kedatangan Jepang tahun 1942. Selama itu, telah dimukimkan penduduk asal Jawa sebanyak 51 ribu KK atau sekitar 211.720 jiwa di beberapa lokasi kolonisasi seperti Gedong Tataan (1905), Karang Anyar (1907), Tegalsari (1910), Wonokrio (1912), Tambakrejo (1913), Wonosobo (1922), Sekampung (1932) dan sesudah itu daerah lainnya seperti Metro dan Purbolinggo


(1936). Selain itu ada pula penempatan penduduk Indo-Eropa di daerah Gisting (Tanggamus). Setelah Indonesia merdeka program pemindahan penduduk dar Jawa, Bali dan Lombok ke Lampung ini diteruskan pemerintah dengan program transmigrasi. Penduduk baru ini pun membawa pula budaya baru dan agama baru yang dipeluknya seperti agama Kristen, Hindu dan kongfucu. Dalam perjalanan sejarahnya, keragaman budaya dan agama tersebut sama sekali tidak menimbulkan permasalahan sosial. Nilai-nilai budaya Lampung dengan falsafah Piil Pesenggiri yang meskipun dalam perjalanannya telah banyak mendapat tantangan dan pengaruh dari luar, tetapi dengan segala keluwesannya telah mampu bertahan dan bahkan mengikat keragaman tersebut. Dalam budaya Piil Pesenggiri keragaman yang ada ditempatkan dalam konteks keragaman dalam kesatuan, seperti yang tertulis dalam sesanti Pancasila, Bhineka Tunggal Ika. Dengan demikian, maka meskipun masyarakat Lampung terdiri dari berbagai suku bangsa, namun dalam kehidupan kemasyarakatannya mengindentifikasikan dirinya sebagai ORANG LAMPUNG.

MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

15


KOPI LIAR DARI TNBBS Sampai saat ini, persoalan besar yang dihadapi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNNBS) adalah banyakmya perambahan (perladangan liar) yang merusak kawasan itu dan belum sepenuhnya dapat dikendalikan.

S

tudi yang pernah dilakukan World Wide Fund for Nature (WWF) sebuah LSM Internasional tahun 2003 menyebutkan bahwa kondisi kawasan konservasi itu sudah mengalami kerusakan parah. Disebutkan sekitar 28% dari 324.000 hektare luas TNBBS atau sekitar 99.904 hektare sudah rusak karena dirambah. Dari luasan yang rusak itu sekitar 60% atau sekitar 59.942 hektar digunakan untuk berladang, dan selebihnya ditumbuhi semak-semak dan alang-alang. Kemudian 73% dari kawasan yang diperladangi tersebut atau sekitar 45.657 hektare berisi tanaman kopi dengan produksi sekitar 19.600 ton per tahun, atau rata-rata produktivitasnya 400 kilogram per hectare. LSM ini juga melengkapi lapo-

16

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

rannya dengan liku-liku perdagangan kopi dari kawasan TNBBS sampai kemudian bijibiji kopi itu dinikmati masyarakat dunia. Pada 16 Januari 2007, LSM WWF dengan gencar kembali menggaungkan masalah ini. Mereka mengadakan seminar internasional tentang kelestarian TNBBS di Bandarlampung dengan tajuk “Gone in an instant: Bagaimana perdagangan kopi ilegal memicu rusaknya habitat badak, gajah, dan harimau sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Sumatera Indonesia. Seminar berhasil menerbitkan tujuh butir deklarasi. Namun deklarasi itu lebih mempermasalahkan adanya tanaman kopi sebagai biang perusakan kawasan. Banyak yang menilai seminar itu sangat kurang lengkap karena lebih focus dengan

habitan satwa liar tersebut dan kurang membahas masalah kehidupan warga di sekitar kawasan hutan.. David LA dari LSM Wildlife Concervation Society (WCS) dalam paparannya mengatakan warga memang sudah menanam kopi di beberapa bagian TNBBS sejak tahun 1972, sepuluh tahun sebelum pemerintah menetapkan kawasan itu menjadi Taman Nasional. KOPI ILEGAL Rekomendasi WWF yang sangat mengganggu perkopian di Lampung sampai saat ini adalah penyebutan biji-biji kopi hasil perkebunan di kawasan TNBBS itu sebagai kopi ilegal. WWF meminta agar pedagang kopi lokal dan ekspotir melakukan kontrol ketat dalam pembelian biji kopi petani agar tidak terkontaminasi “kopi ilegal� tersebut. Sementara untuk pembeli internasional WWF menyarankan mengontrol ketat mitra dagangnya di Lampung agar betul-betul menjalankan saran WWF ter-


disebutkan dengan kopi ilegal. Berita seputar biji kopi illegal itu membuat AEKI (Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia) yang kala itu dipimpin Dr Nuril Hakim Yohansyah “kalang kabut” untuk menetralisir dampaknya di pasar dunia, karena berpotensi kepada pemberlakuan sanksi ecolabelling (embargo) terhadap kopi Indonesia. Bagi Lampung sendiri, kopi merupakan komoditas dagang yang sangat penting. Hampir 60 persen ekspor kopi Indonesia dialirkan dari Lampung. Bahkan pemerintah RI telah menetapkan Lampung sebagai etalase kopi Indonesia. Ekspor kopi dari Lampung bukanlah produksi daerah Lampung sendiri. Sebagian besar biji-biji kopi itu didatangkan para pedagang dari daerah sekitar di Propinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu

sebut. Menurut WWF, semua itu mereka lakukan untuk membantu upaya pelestarian TNBBS yang telah ditetapkan Unesco sebagai Situs Warisan Dunia (Tropical Rainforest Herritage of Sumatera) tahun 2004. Meskipun WWF menyatakan itu dengan santun tetapi ternyata ekspose mereka cukup menggigit. The Washington Post, surat kabar terkemuka di Amerika Serikat itu dalam edisi 17/ 1-2007, segera memberitakan itu, sehingga berdampak luar biasa. Rahasia rumah tangga Indonesia khususnya Lampung yang selama ini dibungkus rapat segera diketahui buyer (importir) di manca negara. Penyebutan kopi ilegal sendiri mendapat kritikan keras dari Executif Director ICO- International Coffe Organization- yang meminta semua pihak melihat persoalan secara jernih dan membedakan antara “kopi ilegal” dengan “kebon kopi ilegal”. ICO menegaskan tidak tepat biji kopi yang dihasilkan dari TNBBS

yang kemudian dilayarkan ke pasar global melalui Pelabuhan Panjang. DAVE

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan UNESCO yang mengurusi masalah pendidikan dan kebudayaan menetapkan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNNBS) sebagai Cluster Natural World Heritage Site atau Tapak Warisan Alam Dunia (Tropical Rainforest Heritage of Sumatera) bulan Juli 2004. TNNBS merupakan taman nasional terbesar ketiga di Pulau Sumatera. Kawasan seluas 378.400 hektare ini membentang dari ujung utara Provinsi Lampung hingga Provinsi Bengkulu bagian selatan. Kawasan ini menjadi salah satu paru-paru dunia yang dijaga kelestariannya. Tiga species utama hidup di sini, yaitu gajah sumatera (Elephas maximus), harimau sumatera (Panthera tigris Sumatrae), badak sumatera (Dicerorthinus sumatrensis). Selain itu terdapat juga kerbau hutan, aneka jenis burung dan keragaman flora dan fauna. LEGAL STATUS (1) Ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa Sumatera Selatan I (SMSS I) tahun 1935, dengan Besluit van der Gouverneur General van Nederlands Indie No.48 stbl.1935, (2) Ditetapkan sebagai kawasan pelestarian alam, 1 April 1979, (3) Ditetapkan sebagai Taman Nasional melalui Surat Pernyataan Menteri Pertanian No.736/ Mentan/X/1982 tanggal 14-10-1982 dengan luas 356.800 hektare, (4) Cagar Alam Laut-Bukit Barisan Selatan (CAL-BBS) seluas 21.600 hektare ditetapkan Menteri Kehutanan dengan Keputusan Menhut No.71/ Kpts-II/1990 masuk dalam pengelolaan TNNBS, (5) Ditetapkan sebagai Tropical Rainforest Heritage of Sumatera oleh Unesco Juli 2004 (6) Melalui SK Dirjen PHKA No.69/IVSet.HO/2006 ditetapkan sebagai Taman Nasional Model, (7) Tanggal 1 Februari 2007 berdasarkan Permenhut No.P03/Menhut-II/2007 dietapkan sebagai Balai Besar TNNBS. (8) Lokasi Provinsi Lampung 270.800 hektare (Kabupaten Tanggamus 10.500 hektare dan Kabupaten Lampung Barat 260.300 hektare|), serta Provinsi Bengkulu (Kabupaten Kaur) 66.000 hektare dan CAL-BBS seluas 21.600 hektare (TOTAL 378.400 hektare) DIHIMPUN DARI BERBAGAI SUMBER MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

17


Budaya Piil Pesenggiri Naskah : Raymond KEBUD AYAAN Lampung KEBUDA yang tergolong lama dan asli sangat beraneka ragam, baik unsur maupun wujudnya dan hampir menyangkut pada semua aspek kehidupan masyarakat pendukungnya.

18

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

S

uku bangsa Lampung memiliki bahasa daerah, tulisan, system kekerabatan, system ekonomi, kesenian, budaya hasil karya dan lain-lain yang merupakan wujud dari budaya cita, budaya prilaku dan budaya hasil karya. Bahasa Lampung termasuk dalam rumpun bahasa Astronesia dan dikelompokkan ke dalam bahasa Melayu. Di dalam peta bahasa daerah di Indonesia, bahasa Lampung merupakan merupakan kelompok dialek Rejang Bengkulu. Berdasarkan asal usul sebagai kelompok bahasa Melayu, bahasa Lampung mempunyai banyak persamaan dengan bahasa Melayu, baik perbendaharaan kata, maupun dialek yang padanannya sama. Sementara tulisan Lampung atau dinamakan Surat Lampung memiliki tulisan dan atau aksara yang termasuk rumpun tulisan Kaganga, seperti halnya tulisan Makassar, Bugis, Rejang, Bengkulu dan Pasemah. Tulisan Lampung termasuk unsur kebudayaan lama dan asli yang masih banyak ditemukan pa-

da naskah-naskah kuno. Dari aspek system kemasyarakatan atau organisasi social, Lampung mengenal system kekerabatan, sistim kesatuan hidup setempat, kepemimpinan, upacara tradisional dan sebagainya yang kesemuanya diperlukan untuk menciptakan keteraturan social. Dalam system kekerabatan adat Lampung menganut hubungan kekerabatan secara patrilinial, walaupun di daerah tertentu seperti di Krui dan Pulau Pisang sebagian kecil menganut system matrilineal. Kelompok kekerabatan Lampung dapat dibedakan menjadi; keluarga inti mencakup ayah, ibu dan anak yang membentuk satu rumah tangga yang disebut menyanak, senuwo, sengalamban = serumah; keluarga luas yang mencakup, ayah, ibu dan anak baik yang sudah berkeluarga atau belum menempati sebuah rumah besar yang disebut nuwo balak. Keluarga luas juga memiliki anggota keluarga yang lebih besar atau satu kakek/buyut yang masih terikat pada suatu rumah asal yang disebut


BUDAYA

MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

19


BUDAYA

sejurai. Kemudian, klen kecil atau klen besar yang disebut buay atau buay asal. Hubungan kekerabatan ditandai dengan cara menyapa atau memanggil, yang dapat menunjukkan status antar anggota kerabat. Demikian pula mengenai system kesatuan hidup, Lampung mengenal kesatuan wilayah yang disebut megou atau marga, tiyuh/pekon/anek atau kampung, dan umbul atau umo. Marga merupakan kesatuan wilayah yang terdiri dari beberapa kampung, sedang kampung wilayah yang terdiri dari beberapa umbul. Dalam hubungan ini dkenal system kepemimpinan tradisional yang dibedakan menjadi dua macam yaitu kepemimpinan dalam kekerabatan dan kepemimpinan dalam pemerintahan territorial. Pemimpin ini disebut penyimbang. Pada tingkat marga disebut penyim-

20

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

bang marga, pada tingkat tiyuh disebut penyimbang tiyuh dan pada tingkat suku atau umbul disebut penyimbang suku. Kesenian Lampung yang pada umumnya adalah seni rupa, seni tari, seni suara, dan seni sastra. Seni rupa dalam bentuk arsitektur, ukiran, lukisan, banyak diwujudkan dalam bentuk bangunan rumah, peralatan upacara adat, dan sebagainya, Seni tari seperti tarian adat yang biasa digelar dihadapan pemimpin adat. Demikian pula dalam hal seni suara dan musik serta cerita rakyat, banyak yang menonjol, misalnya dikenal istilah pantun bersahut yang sering dimainkan dalam upacara adat. Dalam budaya hasil kreasi, Lampung memiliki berbagai jenis kerajinan yang tergolong tua, antara lain, kain pakaian, kain nampan, pelepai dan tapis. Ketiga jenis kain

ini dibuat dengan teknik tenun tradisional. Khusus kain tapis, setelah ditenun dimotifkan dengan system sulam. Motif-motif dan pewarnaan memiliki nilai seni yang tinggi dan nilai simbolis sesuai dengan fungsinya dalam kehidupan masyarakat Lampung. Motif dan ragam hiasnya umumnya bercirikan flora dalam bentuk geometris, fauna, manusia, dan perlengkapan manusia seperti kapal. Bagi masyarakat Lampung unsur-unsur kebudayaan yang lama dan asli tersebut selain merupakan cerminan kepribadian, juga merupakan nilai-nilai, norma-norma ataupun kaidah-kaidah yang digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan sosialnya. Salah satu kebudayaan lama dan asli yang merupakan kekayaan budaya bangsa yang sangat potensial terhadap pengembangan kebudayaan nasional, dan mencerminkan nilai dan jiwa Pancasila serta memiliki sifat khas dan mutu yang tinggi adalah PIIL PESENGGIRI. Budaya Piil Pesenggiri merupakan suatu pandangan hidup yang mempertahankan harga diri. Budaya harga diri merupakan budaya malu yang dalam wujudnya ditunjang oleh unsureunsur berupa cita hidup, dengan bernama baik dan bergelar terhormat (bejuluk beadek), yang selanjutnya didukung oleh sikap prilaku suka bertamu dan memberi (nemui nyimah), suka bergaul dan bersahabat (nengah nyapur), serta suka tolong menolong dan bergotong royong (sakai sambaian). Pandangan hidup budaya mempertahankan harga diri, menunjukkan adanya sikap menghindar dari perbuatan tercela baik dirinya, keluarganya maupun kelompoknya. Demikian pula untuk mempertahankan harga diri seseorang dapat mempertaruhkan apa saja, baik daya, dana dan bahkan nyawa sekalipun. Dalam kaitannya dengan budaya harga diri dan budaya malu ini masyarakat Lampung mengenal pepatah â€œâ€Ś..dari pada hidup berputih mata, lebih baik mati berkalang tanah‌â€? Falsafah Piil Pesenggiri, merupakan hasil karya dari proses perjalanan hidup masyarakat tradisional Lampung yang tumbuh dan berkembang dalam sejarah, serta berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Secara harafiah Piil Pesenggiti berarti perbuatan atau perangai manusia yang agung dan luhur di dalam nilai dan maknanya, dan oleh karena itu patut diteladani dan pantang untuk diingkari. Sedangkan dalam dokumen literature resmi Piil Pesenggiri diartikan sebagai segala sesuatu yang menyangkut harga diri, prilaku dan sikap hidup yng harus menjaga dan menegakkan nama baik, martabat secara pribadi maupun secara kelompok. Sebagai prinsip-prinsip hidup bermasyarakat baik masyarakat


BUDAYA dang perwatin yang dihadiri oleh pemimpin adat. Sidang diselenggarapan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat (demokrasi).

Lampung Piil Pesenggiri didukung dan ditunjang oleh empat unsur yaitu : Sakai sambaian : Sakai (sesakai) artinya tolong menolong. Sambaian (sesambai) bermakna bergotong royong dalam mengerjakan sesuatu yang berat dan besar. Prilaku tolong menolong bagi masyarakat Lampung dilaksanakan atas azas kekeluargaan berdasarkan kekerabatan dan ketetanggaan. Diwujudkan dalam bentuk kegiatan meringankan beban orang lain yang sedang mengalami penderitaan atau musibah, dan meringankan pekerjaan berat baik yang bersifat kepentingan pribadi maupun kelompok. Contohnya, yaitu jika anggota keluarga, kerabat maupun tetangga mengalami kemalangan, maka masyarakat tidak segansegan memberikan pertolongan baik dana, tenaga, dan pemikiran. Demikian pula pada suatu pekerjaan berat baik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok, seperti mendirikan rumah, membuka lading, membuat jalan dan sebagainya, dilaksanakan secara bergotong royong tanpa menuntut imbalan atau jasa. Dalam kehidupan berbangsa sikap kerja sama ini perlu terus dikembangkan tanpa memandang derajat maupun latar belakang social. Sikap kesetiakawanan berlandaskan gotong royong demikian tercermin dalam sila kelima Pancasila yaitu keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Nemui Nyimah: Nyimah Nemui artinya membuka diri untuk menerima tamu, sedangkan nyimah artinya keinginan untuk memberikan sesuatu dengan ikhlas kepada seseorang atau kelompok sebagai tanda

ingat dan tanda akrab. Jadi, nemui nyimah mencakup pengertian bermurah hati dan ramah tamah terhadap semua pihak. Prilaku ini merupakan sikap toleransi yang tinggi terhadap sesama walaupun di latarbelakangi oleh perbedaan prinsip tertentu. Contoh, adanya keterbukaan masyarakat Lampung. Jika ada pendatang yang menyerahkan diri dan ingin menumpang di daerah ini dengan baik-baik, maka keluarga yang didatangi itu tidak segan-segan menanggung hidupnya dengan cara memberi sebidang tanah. Bahkan jika perlu diangkat menjadi keluarga melalui adat ‘mewari’ sebagai adik, kakak, maupun anak. Contoh lain yaitu keberhasilan program transmigrasi di Lampung didukung oleh sikap penduduk asli yang terbuka menerima pendatang. Nengah Nyapur Nyapur: Nengah artinya suka berkenalan dengan siapapun. Nyapur artinya bersahabat karena pandai bergaul dalam masyarakat. Sikap prilaku suka bergaul, berkumpul dan bermusyawarah bagi masyarakat Lampung merupakan suatu keharusan dimanapun berada. Bergaul dan berkumpul baik dalam kelompok kekerabatan maupun ketetanggaan merupakan perwujudan sikap keperduliaan terhadap lingkungan sosialnya. Demikian pula menentukan sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama secara musyawarah/mufakat. Contohnya, musyawarah untuk menyelesaikan suatu konflik antar warga, melaksanakan upacara adat (gawei adat), menyelesaikan kasus pelarian gadis dan sebagainya, diselesaikan dalam perundingan adat yang disebut si-

Bejuluk Beadek Beadek: Bejuluk (juluk) diartikan sebagai sikap prilaku bernama atau bergelar yang ditandai dengan pemberian gelar kehormatan (bejuluk beadek) melalui upacara adat besar dengan naik tahta adar (begawei balak cakak pepadun). Seseorang yang menyandang gelar adat merupakan suatu kehormatan bagi dirinya dan keluarganya. Untuk mempertahankan kehormatan itu maka secara moral dia dituntut sebagai panutan dan tuntutan bagi masyarakat sekitarnya. Dari uraian tentang pengertian Piil Pesenggiri dan keempat unsure pendukungnya, tergambarlah bahwa budaya Piil Pesenggiri merupakan suatu pandangan hidup yang lebih bersifat mempertahankan harga diri. Budaya harga diri ini merupakan budaya malu dalam wujud yang bergelar terhormat (bejuluk beadek), yang selanjutnya didukung oleh sikap prilaku suka bertamu dan memberi (nemui nyimah), suka bergaul dan berkumpul (nengah nyapur), serta suka tolong menolong dan bergotong royong (sakai sambaian). Sikap Piil Pesenggiri dan unsur-unsur pendukungnya yang merupakan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan Pancasila sebagai falsafah Negara Republik Indonesia, yang menunjuk adanya sikap bergotong royong, persatuan dan persaudaraan, musyawarah mufakat, bahkan dalam banyak hal menunjukkan adanya toleransi tinggi. Di samping itu Piil Pesenggiri berkedudukan sebagai kepribadian, karena mengandung norma-norma sebagai pedoman bersikap dan bertingkah laku yang bercorak khas bagi masyarakat Lampung. Sedangkan sebagai kontrol social, Piil Pesenggiri mengandung norma-norma yang mengatur warga masyarakat bersikap dan bertingkah laku demi tercapainya kehidupan masyarakat yang adil dan makmur. Dengan demikian maka Piil Pesenggiri sebagai prinsip yang digunakan dalam kehidupan social bagi masyarakat Lampung merupakan satu totalitas dari bentuk kehidupan, perasaan, pengalaman dan kehendak yang berujud menjadi satu karakter. Prinsip ini merupakan kesadaran social yang bertujuan untuk mencapai kebahagiaan hidup manusia, bila dapat mengembangkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan dalam hidup sebagai pribadi, dan dalam hubungannya dengan masyarakat untuk mengejar kemajuan lahiriah dan rohaniah bersama. REDAKSI OPINI INDO MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

21


EDITOR NOTE’S

Bagimu Lampungku Managing Director David Jhonny Simanjorang Editor in Chief David Jhonny Simanjorang Board Advisor Rimson Simanjorang Taren Sembiring Meliala Contributors David Jhonny M. Hasim Rimson Simanjorang Santi Hastarini Dave Raymond Publisher Yayasan Media Wasantara Anggota SPS No. 358/1986/03/2002 Founder Rimson Simanjorang Bank Bank Lampung No. Rek. 380.03.01.90051.7 a/n. David Jhonny Simanjorang Alamat Redaksi Jl. Pagar Alam Gg. Cendana No. 28 Kedaton Bandar Lampung Telp. 0721 701704 Hp. 0816 406304 08127953816 Website opini-indonesia.com Email opini.indonesia@yahoo.com Percetakan PT. Lampung Visitama Ganda ( DavPrinting ) (Isi diluar tanggungjawab percetakan) Tarif Iklan 1 Halaman Berwarna Halaman Dalam Rp. 3.000.000,Halaman Belakang Rp. 7.000.000,-

Wartawan majalah THE POINT INDONESIA dalam menjalankan tugas dilengkapi kartu identitas. Narasumber, klien iklan dan relasibisnis diharap tidak melayani siapapun yang mengaku wartawan THE POINT INDONESIA tanpa identitas resmi

22

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

DAVID JHONNY SIMANJORANG Managing Director/ Editor in Chief

PERTAMA-TAMA kami pengelola penerbitan ini mempersembahkan rasa syukur dan puji ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan keteguhan hati kepada kami untuk mewujudkan cita-cita memberi sumbangsih bagi Bumi Lampung tercinta. Rasa terima kasih kami sampaikan juga kepada pihak-pihak yang peduli dan mencintai Lampung yang telah memberikan sumbangan moril berupa pemikiran dan dorongan serta bantuan materil untuk mewujudkan penerbitan informasi tentang kekayaan alam bumi Lampung, terutama di bidang kepariwisataan dan ekonomi kreatif serta budayanya yang luhur dan bernilai tinggi. Lampung, adalah daerah besar dan kaya. Lampung dengan komposisi kependudukannya yang majemuk serta dengan akulturasi budaya yang bernilai tinggi serta objek-objek wisatanya yang indah pastilah dapat menjadi magnit untuk membangunkan Lampung. Kita sebutkan membangunkan, karena semestinya dengan posisi geografisnya yang strategis dan mudah dicapai baik melalui jalan darat maupun udara itu bumi Lampung bisa menjadi daerah tujuan wisata andalan di belahan barat Indonesia. Kekhasan Lampung itu tersebar di 15 daerah kabupaten/kota, yaitu Kota Bandarlampung dan Kota Metro serta Kabupaten- Kabupaten: Lampung Selatan, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Utara, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Mesjui, Way Kanan, Lampung Barat dan Pesisir Barat. Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatf Dr Sapta Nirwandar mengatakan, secara geografis posisi Lampung amatlah strategis. Karena itulah, sejak masa lalu kawasan di selatan Pulau Sumatera ini telah terkenal sebagai silk road (jalan sutera) atau jalur lintas perdagangan yang sibuk di dunia. Para saudagar, baik dari Benua Eropa dan Benua Asia yang selalu melintasi Selat Malaka selalu singgah ke Lampung untuk berbagai keperluan seperti berniaga hasil bumi lada, kopi, merica dan lain-lain ataupun untuk mengisi perbekalan (logistik) mereka. Kini, seiring dengan kemajuan pembangunan, posisi Lampung bahkan menjadi lebih strategis lagi dan menjadi ‘muara’ atau pintu gerbang dari seluruh arus transportasi/mobilitas baik orang maupun barang dari seluruh wilayah di Pulau Sumatera ke Pulau Jawa atau sebaliknya. Menurut perkiraan, tidak kurang dari 15 juta orang dan lebih dari 1,3 juta kenderaan per tahun, yang melintasi ruas-ruas jalan di provinsi ini menuju Pulau Jawa dan sebaliknya. Karena itulah, The Point Indonesia– beautiful Lampung – secara bertahap dalam setiap edisinya akan memberikan anda destinasi wisata dan penunjangnya seperti jarak tempuh, hotel, restoran, rumah sakit, dan lainnya. Kami berharap informasi inipun bisa sebagai panduan awal bagi para investor untuk ikut serta membangun Lampung. Semoga penerbitan ini ikut menggugah kita sebagai bangsa besar untuk lebih mencintai keindahan alam yang dianugrahkan Sang Maha Pencipta kepada Lampung tercinta. Tentu saja untuk mewujudkan harapan besar ini, kamipun mengharapkan saran, kritikan dan juga sumbangan pemikiran. Semua itu dapat anda kirimkan melalui email kami: Kemajuan Lampung adalah kemajuan Indonesia. Terima kasih.


PROVINSI LAMPUNG memiliki potensi wisata yang cukup banyak, seperti Gunung Anak Krakatau. Namun sampai saat ini potensi tersebut belum dikembangkan menjadi objek wisata yang layak jual.

MEI 2013 I THE POINT INDONESIA

23


24

THE POINT INDONESIA I MEI 2013

TP Edisi 01 - The Point Indonesia  

The Point Indonesia akan memberikan anda destinasi wisata dan penunjangnya seperti jarak tempuh, hotel, restoran, rumah sakit, dan lainnya d...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you