Issuu on Google+

Edisi XVI/November 2011 - Diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa INSTITUT UIN Jakarta - www.lpminstitut.com

•Laporan Utama

•Laporan Khusus

Penelitian: Belum Menjadi Hal yang Bisa Diunggulkan

Dugaan Penyelewengan Dana Beasiswa Belum Terselesaikan

Halaman

2

Halaman

6

•Pustaka Jelajah Dunia Filsafat dengan Novel Halaman

7

•Sosok Firman Faturohman Telusuri Sejarah Lambang Negara

Halaman

12

ILUSTRASI: TRISNA WULANDARI

Editorial

Dana Bukan Alasan

Dana Penelitian UIN Minim Trisna Wulandari “Dana penelitian kurang, jelas, dibandingkan dengan universitas-universitas lain. Animo (dosen, red) tinggi, sayang dananya terbatas, sehingga kita tidak bisa menyediakannya untuk semua dosen.” Hal tersebut diungkapkan Jajad Burhanuddin, Kepala Lembaga Penelitian (Lemlit) UIN Jakarta (17/11). Menurutnya, dana ideal untuk penelitian berjumlah lima persen dari total dana keseluruhan. Faktanya, dana yang diterima dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk penelitian tahun ini berjumlah Rp1,056 miliar, ditambah dana dari APBN-Perubahan (APBN-P) sejumlah Rp750 juta, dan dari Badan Layanan

Umum (BLU) sejumlah Rp1,6 miliar. Kepala Bagian Perencanaan Sadeli mengatakan (16/11), dana dari APBNP tersebut dialokasikan untuk penelitian institusional. Sementara itu, dana penelitian dari BLU dikuotakan untuk sepuluh penelitian individual, sepuluh penelitian kolektif, sepuluh penelitian kompetitif, dan delapan penelitian institusional. Penetapan alokasi tersebut, lanjut Sadeli, dirancang saat Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) dari perencanaan awal yang diajukan dan ditetapkan oleh rektor. Namun, perencanaan tersebut pada akhirnya disesuaikan lagi dengan dana yang ada. Untuk setiap kategori penelitian, Jajad menjelaskan, dana yang diturunkan ber-

jumlah lima juta rupiah untuk kategori individu, dua puluh juta rupiah untuk kategori kolektif, lima puluh juta rupiah untuk kategori kompetitif, dan seratus juta rupiah untuk kategori institusional. Ia mengakui, UIN Jakarta masih belum mendapatkan sumber pendanaan lain dari departemen, swasta, dan sebagainya. Sementara itu, Universitas Indonesia (UI), yang diarahkan sebagai universitas riset, mendapatkan dana eksternal dari kerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), perusahaan-perusahaan, DIKTI, dan internasional. Bersambung ke Halaman 15 kol. 2

Tak bisa disangkal, kampus kita memang kurang dalam menghasilkan penelitian. Banyak terjal untuk menuju universitas riset. Sebagaimana pencanangan universitas riset yang telah muncul 2002 silam, UIN Jakarta akan melewati batu terjal, dan sudah seharusnya dipikirkan sejak awal tentang misi-misi yang diemban. Secara umum, yang harus dimulai adalah menjadikan penelitian sebuah kebudayaan. Dengan begitu, akan terbangun sebuah nuansa penelitian dalam kampus. Tapi tentu hal ini mesti disokong oleh para elit kampus. Memang tak mudah. Tentu ada tahapan untuk bisa menyokongnya. Pelan tapi pasti. Untuk mengembangkan penelitian, dana menjadi faktor yang amat krusial. Bahkan, faktor itu kini dijadikan alasan kurang berkembangnya penelitian. Amat disayangkan pula bila pihak kampus pasrah terhadap keadaan ini. Minimnya dana penelitian tak bisa selalu dijadikan kambing hitam. Pihak kampus mesti melebarkan sayapnya agar sumber dana tidak terpaku pada sebuah instansi, baik pemerintah maupun swasta. Dari fakultas pun tak mungkin hanya menunggu kerja sama yang diusahakan oleh pihak rektorat. Pihak fakultas, dengan segala jurusan yang dimilikinya, mesti memiliki jaringanjaringan khusus yang sesuai dengan bidangnya. Tentu saja dana itu harus dicari, tanpa bisa menunggu dengan mencoba eksis. Seharusnya tak hanya bekerja sama dengan American Corner, yang jarang dijamah oleh mahasiswa. Namun, jika melihat kondisi kampus saat ini, rasanya perwujudan universitas riset hanya menjadi angan-angan semata. Koleksi pustaka di perpustakaan utama pun masih kurang lengkap. Setidaknya, bila tidak bisa mewujudkan salah satu kriteria universitas riset, yakni perpustakaan yang berbasis internasional, koleksi pustaka di sana bisa memenuhi kebutuhan para mahasiswa dalam mencari referensi. Kriteria yang lain adalah fasilitas teknologi informasi di lingkup kampus. Realitanya, sivitas akademika UIN Jakarta masih kesulitan mengakses internet. Jika terus begini, mana bisa jadi world class university? Nuansa meneliti harus dibangun sejak awal terhadap dosen-dosen. 2002 lalu, saat berubahnya IAIN menjadi UIN, kampus ini telah mencanangkan dirinya sebagai universitas riset. Namun memang, penetapannya jatuh pada tahun 2007. Untuk mencapainya, sebuah universitas mesti memiliki kekuatan internal dalam hal apapun, terutama pustaka yang lengkap. Bicara banyak tak diperlukan. Yang terpenting adalah tindakan. Kini memang sudah terlihat jaringan-jaringan yang sudah bermunculan, seperti American corner salah satunya yang berada di Perpustakaan Utama. Perpustakaan utama pun, kelengkapannya tak bisa diyakini lagi. karena jika kita memasukinya, masih banyak buku-buku di bidang manapun yang tidak memiliki kampus ini. Bagaimana mungkin mencapai universitas riset jika kelengkapan pustaka masih harus dipertanyakan? Akankah kebudayaan meneliti ini dapat tergerus? Tentu bisa. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi UIN Jakarta jika pengembangan untuk penelitian terhambat. Banyak hambatan yang untuk mengembangkannya. Selain itu, dana yang minim ini pun mesti dimanfaatkan benar-benar agar teralokasikan dengan baik. Fokus pihak kampus harus tertuju pada pembentukan dana adalah poin terpenting untuk mendukung penelitian. Karena meski semangat dosen besar, tapi dana tidak mendukung, penelitian pun tidak berjalan dengan lancar.


LAPORAN UTAMA

2

Penelitian: Belum Menjadi Hal yang Bisa Diunggulkan

Edisi XVI/November 2011

Diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa INSTITUT UIN Jakarta SK. Rektor No.23 Th. 1984 Terbit Pertama Kali 1 Desember 2006 Pemimpin Umum: Khalisotussurur | Sekretaris: Egi Fajar Nur Ali | Bendahara Umum: Rina Dwihana Fitriani | Pemimpin Redaksi:

Ema Fitriyani

Muhammad Fanshoby | Redaktur Pelaksana: Umar Mukhtar | Artistik : Dika Irawan | PemFOTO:EMA/INSTITUT

mungkin dikarenakan IPB merupakan universitas pertanian di mana banyak penelitian yang nilai aplikatifnya tinggi. “Jika dilihat usianya pun, LPPM IPB memang sudah lebih dahulu ada,” jelasnya (15/10). Perihal minimnya jumlah dosen peneliti di UIN Jakarta, Jajad Burhanuddin, Ketua Lemlit yang baru dilantik pada Mei lalu, melihat itu sebagai kurang baiknya kualitas dosen dalam proposal yang diajukan. “Masih banyak (dosen, red) yang belum punya skill yang bagus, begitupun dalam penulisannya,” tandasnya. Selain dana yang disediakan untuk penelitian UIN terbatas, Jajad menganggap kegiatan penelitian memang belum bisa menjadi sesuatu yang diunggulkan. “Penelitian di sini masih marjinalitatif,” akunya pada Rabu, (9/10). Sementara itu, Iwan Purwanto, Sekretaris Jurusan Pendidikan Ilmu Penge-tahuan Sosial (Sekjur IPS) yang tahun ini proposal penelitiannya diterima oleh lemlit, mengatakan ada banyak hal mengapa kesadaran penelitan dan keberadaan peneliti kurang. Semisal, demi karir si dosen. “Itu menjadi suatu kebutuhan karena menyangkut jabatan dosen. Kalau dia tidak mau meneliti, ya tidak akan naik pengkatnya dan bisa juga untuk sertifikasi,” ucapnya. Tapi, terpenting itu, penelitian ini sebagai realisasi dari Tri Darma, juga sebagai pengalaman. Peran mahasiswa dalam penelitian

Agus Salim, peneliti nasional sekaligus Pudek III FST (16/11)

Bukan berita baru kalau UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bertekad menjadi universitas kelas dunia atau World Class University. Keinginan mulia ini memerlukan usaha yang keras mengingat capaian untuk menjadi universitas kelas dunia itu tidaklah mudah. Paling tidak bisa menyejajarkan dirinya dengan Universitas Indonesia. Salah satu program untuk mencapai cita-cita mulia itu adalah dengan memberikan nilai A untuk penelitian yang dilakukan sivitas akemika UIN. Pertanyaannya adalah, apakah kampus yang terletak di pinggir kota Jakarta ini sudah bagus dalam hal penelitian? Apakah sudah banyak yang dilakukan Lembaga Penelitian (Lemlit) UIN? Bagaimana dengan jumlah dosen dan mahasiswa yang meneliti? Benarkah minim jumlahnya? Berdasarkan data yang diterima dari staf Lemlit pada Jum’at, 11 November, jumlah dosen yang proposal penelitiannya disetujui oleh lemlit beserta penguji pada tahun ini sekitar 92 penelitian. Jumlah itu sudah termasuk ke dalam empat golongan peneli-

tian, yakni penelitian institusional, penelitian kompetitif, penelitian kolektif, dan penelitian individual. Pun dengan jumlah penelitian pada tahun 2010, lemlit hanya menerima 88 penelitian yang diajukan para dosen. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penelitian dan judul yang disampaikan oleh Abbas Ghazali dalam wawancara Hamzah Farihin dari Berita UIN (4/2) , Ketua Lemlit tahun lalu, yakni 63 judul. Jumlah ini jelas timpang dengan jumlah penelitian yang diadakan oleh universitas lainnya, semisal Universitas Indonesia (UI) yang mencapai 900 penelitian dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurut Wakil Ketua Lembaga Peneltian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB, Rony Rachman Noor, terjadinya perbedaan jumlah penelitian yang timpang itu dikarenakan atmosfer universitas atau lembaga penelitian itu sendiri yang memang berbeda. Misalnya saja, menurut Rony, IPB lebih banyak jumlahnya

Keberadaan mahasiswa sebagai bagian dari sivitas akademika, sudah sepatutnya dilibatkan dalam penelitian yang dilakukan oleh dosen. Menurut Agus Salim, Pembantu Dekan III Bid. Akademik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yang juga peneliti UIN, meski pelibatan mahasiswa tidak ada dalam SK Rektor, pengakreditasian terhadap penelitian oleh Pendidikan Nasional (Diknas) akan bagus jika melibatkan mahasiswa di dalamnya. “Idealnya memang se-perti itu,” tandasnya. Lalu bagaimana pelibatan mahasiswa di UIN dalam penelitian? Ketika ditanya perihal bagaimana penelitiannya di Fakultas Tarbiyah, Iwan mengatakan pelibatan mahasiswa dalam penelitian yang diadakan dosen memang tidak sepenuhnya meneliti. Keberadaan mahasiswa di tengah penelitian yang dilakukan dosen masih sebagai pengkoleksi bahan dan data yang diteliti. “Pelibatan mahasiswa dalam penelitian saya tahun ini memang untuk mengumpulkan data. Hal itu juga terjadi karena objek penelitian saya pun melibatkan para mahasiswa saya,” terangnya (17/11).

impin Perusahaan: Noor Rahma Yulia | Iklan & Sirkulasi: Ibnu Affan | Marketing & Promosi: Fajar Ismail | Pemimpin Litbang: Hilman Fauzi | Penelitian & Riset: Abdul Kharis | Pengembangan SDM: Iswahyudi.

Salam Redaksi Assalamualaikum Wr. Wb Salam INSTITUT Salam sejahtera untuk kita semua. Semoga kehadirat Tuhan Yang Maha Esa selalu tercurah ke dalam hati kita. Kembali kami hadir di hadapan Anda untuk memberikan seputar permasalahan kampus tercinta. Kali ini, dengan berjibaku dengan kawan-kawan internal, akhirnya kami memutuskan isu sentral berupa masalah penelitian di UIN Jakarta yang masih minim. Katanya, alasannya karena urusan dana. Apakah dana bisa mengurangi intensitas penelitian di kampus ini? Lalu apakah dana penelitian itu hanya bersumber dari kampus? Seperti diketahui sebelumnya, UIN Jakarta sudah lama dicanangkan sebagai universitas riset, yaitu dari tahun 2002. Namun, baru ditetapkannya pada tahun 2007. Tapi kenapa penelitiannya jadi minim ya? Untuk selanjutnya baca saja Headlinenya. Pada laporan utama, kami menghadirkan berita turunan dari HL. Yaitu mengenai keunggulan penelitian UIN Jakarta yang belum bisa ditonjolkan, publikasi, dan selainnya. Dari situ memunculkan kembali pertanyaan tentang kenapa penelitian di kampus ini sulit berkembang. Semua itu tersuguhkan dalam laporan utama. Pada “laporan khusus”, kami menghadirkan tentang perjalanan draf SG yang kini direspon oleh pihak Kemenag. Rektor pun pada akhirnya mengeluarkan surat keputusan sementara tentang pemberlakuan POK. Apakah benar begitu? Untuk lebih mengetahui secara mendalam, bacalah dengan seksama tapi santai tabloid INSTITUT edisi 16 ini. Untuk Anda pembaca setia kami, kami menerima kritik dan sarannya. Bagi yang belum kebagian, dapat langsung mendatangi sekretariat kami di gedung Student Center untuk mengambilnya. Akhir kata, selamat membaca... Wassalamualaikum Wr. Wb Koordinatur Liputan: Jaffry Prabu Reporter: Aam Mariyamah, Aditia Purnomo, Aditya Widya Putri, Aprilia Hariani, Ema Fitriyani, Jaffry Prabu Prakoso, Kiky Achmad Rizqi, Makhruzi Rahman, Muhammad Umar, Muji Hastuti, Rahayu Oktaviani, Rahmat Kamaruddin, Rifki Sulviar, Trisna Wulandari Fotografer: INSTITUTERS Desain Visual & Tata Letak: Dika, Rizqi, Jaff, Ulan Editor: Oby, Umar, Lilis, Hilman, Haris , Egi, Fajar, Rina Ilustrator: Omen, Ulan Alamat Redaksi: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gedung Student Center Lt. III Ruang 307, Jln. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat Jakarta Selatan 15419. Telp: 085-697-091-557 Web: www.lpminstitut.com Email: lpminstitut@yahoo.com.

Setiap reporter INSTITUT dibekali Tanda Pengenal serta tidak dibenarkan memberikan Insentif dalam bentuk apapun kepada wartawan INSTITUT yang sedang bertugas.


Edisi XVI/November 2011

LAPORAN UTAMA

3

Publikasi Hasil Penelitian Lemlit Perlu Perbaikan Rahayu Oktaviani

Slogan di atas bisa dijadikan pacuan bagi para peneliti untuk lebih mempublikasi hasil penelitiannya, tak terkecuali Lembaga Penelitian (Lemlit) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurut Jajad Burhanuddin, Ketua Lemlit, mempublikasikan hasil penelitian memang masih kurang. Publikasi yang diselenggarakan lemlit hanya didistribusikan ke Perpustakaan Utama UIN Jakarta dan Perpustakaan Fakultas. Selebihnya lemlit hanya mendorong para peneliti untuk mempublikasikan hasil penelitiannya secara pribadi. “Peneliti wajib mempublikasi, karena

hasil penelitiannya milik dia (peneliti, red),” ucapnya (7/11). “Sayangnya Perpustakaan Utama tidak memberikan perlakuan khusus untuk laporan hasil penelitian oleh lemlit,” ungkap Siti Maryam, Pelaksana Teknis Perpustakaan Utama UIN Jakarta. Menurutnya, terakhir kali lemlit menyerahkan hasil penelitian pada tahun 2007 dalam bentuk laporan murni belum dijadikan buku. Sedangkan pada tahun berikutnya, lemlit hanya menyerahkan buku ajar atau buku yang dibuat oleh dosen sebagai bahan ajar yang diterbitkan oleh lemlit, dan itu bukan laporan penelitian. Tidak hanya Lemlit, beberapa peneliti pun masih kurang maksimal dalam melakukan publikasi. Salah satunya Suhilman, peneliti sekaligus dosen di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), yang kurang memperhatikan publikasi hasil penelitiannya. Menurutnya jika penelitian sudah dilaksanakan, selanjutnya laporan hasil penelitian diserahkan ke Lemlit termasuk publikasinya. “Kalau secara khusus mempublikasi hasil penelitian kami (Suhilman dan

rekan-rekan penelitiannya, red) tidak pernah dilakukan,” ujarnya (16/11). Digitalisasi Dalam Bentuk Online Pendigitalisasian hasil penelitian bisa menjadi jalan keluar untuk melakukan publikasi. selain untuk mempermudah akses publikasi, digitalisasi online juga dapat meminimalisir plagiarisme. Seperti yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurut Ronny Rachman (15/11), Wakil Ketua Bidang Penelitian LPPM IPB, semua hasil penelitian yang sudah dipatenkan akan dimuat dalam website LPPM IPB, se-hingga dapat dipublikasikan secara langsung. Senada dengan LPPM IPB, Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Indonesia (UI), juga melakukan digitalisasi online bahkan mulai dari penyerahan proposal penelitian. Menurut Rr. Tutik Sri Hariyati, Staf Ahli sub Direktorat Riset dan Inkubator Industri, semua hasil riset dimuat di online, namun

sumber lppm.ipb.ac.id

Publish or perish, slogan yang terkenal dikalangan akademisi Amerika Serikat belakangan ini. Slogan dimaksud untuk hasil penelitian agar memperhatikan juga publikasinya. Tidak hanya publish or perish, Murtadla Muthahhari, ilmuwan Islam mengatakan: tinta ulama’ sama dengan darah syuhada’. Dua slogan ini bertujuan hampir sama, untuk memberikan semangat bahkan merubah pemikiran penulis dan juga memikirkan publikasi penelitiannya agar lebih bermanfaat.

Fasilitas online LPPM untuk mempublikasi hasil penelitian IPB

laporan tersebut belum dianjurkan menjadi sebuah referensi bagi mahasiswa UI dalam mengerjakan tugas kuliahnya. “Jika hasil riset belum dimuat dalam jurnal internasional, maka laporan penelitian tersebut dianggap belum menyelesaikan proses penelitian yang sudah menjadi standar di UI,” ungkapnya. Tutik menambahkan, laporan hasil penelitian memang beberapa dicetak, namun fungsi dari laporan tercetak tersebut, hanya untuk keperluan kearsipan bukan

dipublikasi. Jumlah laporan yang dicetak pun hanya tiga eksemplar. “Laporan hasil riset itu digunakan untuk pencairan dana di bagian keuangan, satu eksemplar untuk arsip dan satunya lagi untuk perpustakaan,” tambahnya. Pendigitalisasian secara online hasil penelitian memang baru menjadi rancangan kerja di Lemlit UIN Jakarta. Jajad menambahkan, pendigitalisasian ini dapat memperluas publikasi hasil penelitian yang selama ini masih kurang dilakukan Lemlit.

Kompetensi Reviewer UIN Jakarta, Tertinggalkah? Aditya Putri Masyarakat, Tutik Sri Hariyati, Universitas Indonesia (UI) mengaku malah lebih menggunakan reviewer eksternal untuk menguji proposal penelitian mereka. “Reviewer kita nggak hanya dari UI tapi juga dari luar negeri. Selain itu semua sistem dikerjakan secara online. Mulai dari pengumuman, masukin proposal, sampai review online. Baru ketika presentasi proposal dilakukan secara langsung,” kata Tutik (9/11). Menurutnya, hal itu dilakukan agar memudahkan mobilisasi para peneliti dan juga reviewer, “Jadi ketika ada yang di luar negeri tetap bisa menguji secara tepat waktu. Karena semuanya sudah dikerjakan secara online.” Ketika disinggung mengenai kompetensi reviewer, wanita yang menjabat sebagai Staf Ahli Sub Direktorat dan Inkubator Industri ini menjelaskan bahwa seorang reviewer minimal harus mengenyam pendidikan hingga S3, tidak sedang meneliti dan merupakan reviewer eksternal. Ketika UI dan IPB telah memasuki taraf university of research, UIN Jakarta sebagai universitas perintis tentu tidak mau ketinggalan kompetensinya. Elpawati, Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) FST UIN Jakarta mengaku mempunyai standar ketika akan meluluskan sebuah proposal penelitian.

“Kita nggak main-main, sebuah proposal penelitian harus sebuah ilmu baru dan terbarukan, original, sesuai format dan memang penting untuk diteliti. Untuk apa meneliti sebuah penelitian yang sudah pernah diteliti sebelumnya,” ungkapnya tegas. (17/11) Namun, walau sudah memiliki standar dalam kualifikasi penilaian, SOP reviewer UIN Jakarta

terkesan kurang jelas dan tidak nyata, “SOP-nya ada, tapi ya tidak berbentuk SOP sih. SOP itu kan hanya mengacu pada pemilihan orang-orang berkompeten di bidangnya,” tutur Jajad Burhanuddin, Ketua Lembaga Penelitian (Lemlit) UIN Jakarta. (17/11) Di sela-sela kesibukannya, ia menuturkan bahwa rata-rata reviewer adalah seorang guru besar,

tapi tidak menutup kemungkinan untuk orang-orang yang dianggap berkualifikasi disertakan untuk menguji proposal. UIN Jakarta sendiri tidak menyertakan reviewer eksternal dalam pengujian penelitiannya, “Kita sendiri sudah menjadi reviewer nasional kok, jadi berdayakan yang sudah ada saja,” jelas Elpa menutup pembicaraan.

FOTO: TYA/INSTITUT

Kompetensi seorang reviewer atau penguji proposal penelitian, menjadi penting ketika sebuah proposal penelitian ingin berlanjut menjadi riset penelitian yang disahkan. Karena para reviewer inilah yang berperan untuk mensahkan proposal tersebut. “Kompetensi para reviewer kita jelas. Standar Operasional Prosedur (SOP)-nya ada, minimal dia (reviewer, red) harus doktor dan 95% reviewer yang kita punya sudah professor,” tutur Rony R. Noor, Wakil Kepala Bidang Penelitian di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB (15/11). Ia menjelaskan, bahwa para reviewer IPB pun diharuskan mempunyai kompetensi yang baik sesuai bidang yang akan diujikan. Wakil ketua LPPM ini mengaku bahwa kualitas para reviewer IPB sudah tidak diragukan lagi, “Kita juga melihat track record orang yang akan menjadi reviewer. Biasanya dia sudah sering melakukan penelitian bertaraf nasional maupun internasional,” tukasnya. Lanjutnya, IPB juga tidak mengambil reviewer eksternal karena kualitas dan kuantitas reviewer yang dimiliki sudah sangat mencukupi, “Kami punya sekitar 30 sampai 40 reviewer, untuk satu proposal saja diuji oleh dua reviewer.” Berbeda dengan university of research lainnya, melalui Direktorat Riset dan Pengabdian kepada

Setiap reviewer menguji 10-15 proposal yang masuk ke LEMLIT UIN Jakarta, (17/11).


Edisi XVI/November 2011

LAPORAN KHUSUS

4

Surat Peringatan Rektorat untuk Demonstran Rifki Sulviar FOTO: APRIL/INSTITUT

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) diharapkan bertanggung jawab dan segera memberikan penjelasan resmi tertulis terkait dengan pencemaran nama baik rektor dan seruan membakar rektorat.

Hal tersebut tertulis dalam surat bernomor Un.01/R/ OT.00.4/1627/2011 yang ditujukan oleh rektorat kepada Ketua Umum PMII Cabang Ciputat. Dalam surat yang bertanda tangan Sudarnoto Abdul Hakim, Pembantu Rektor (Purek) III, berisi tiga catatan penting rektorat mengenai demonstrasi yang dilakukan PMII, satu minggu setelah Orientasi Akademik dan Kebangsaan (OAK). Tiga catatan tersebut diantaranya, pertama, adanya fitnah dan pencemaran nama baik rektor dengan menuliskan “Rektor = Koruptor” pada salah satu pamflet. Kedua, adanya orator yang memprovokasi massa untuk melakukan tindakan kriminal dengan meneriakkan “Bakar rektorat”. Ketiga, pencemaran nama baik dan memprovokasi massa untuk melakukan tindakan kriminal jelas tidak sekedar tindakan yang tidak terhormat tapi juga bertenSurat rektorat Un.01/R/OT.00.4/1627/2011, hal demonstrasi PMII, yang dianggap tangan dengan ajaran Islam. Menanggapi surat yang ditujuhanya sekedar surat biasa saja oleh PMII. kan pada Budi Purnomo, Ketua

PMII Cabang Ciputat, mengatakan, surat tersebut hanyalah sebuah “surat cinta” yang diberikan kepadanya dari rektorat. Hal tersebut dikarenakan, menurut Budi, di dalam surat tersebut hanya menjelaskan seperti apa maksud PMII dalam demonstrasi yang dilakukan di areal kampus. Tak jauh berbeda dengan Budi, Herman Saputra, Sekretaris Umum PMII Cabang Ciputat, mengungkapkan, surat tersebut hanyalah surat biasa, bukan suatu ancaman. Namun, meskipun surat tersebut dianggap biasa baginya, Herman mengatakan, PMII diminta memberikan data terkait demonstrasi yang dilakukan dan jika tidak maka akan dilaporkan ke polisi. Kemudian Herman menambahkan, dia telah mengantongi sejumlah data yang diminta rektorat. “Saya punya buktinya tapi belum 100%, baru sekitar 30%,” tandasnya, (11/12). Akan tetapi, Budi menegaskan, “Tidak ada perintah untuk memberikan data.” Menurutnya, hal tersebut hanyalah isu yang beredar di publik. Budi menuturkan bahwa di hari setelah demonstrasi, diadakan mediasi dengan pihak rektorat. “Saat mediasi, Sudarnoto hanya menanyakan apa yang menjadi tuntutan kami (mahasiswa, red)

dan surat tersebut keluar setelah mediasi,” jelasnya. Ketika Budi ditanya terkait tindakan selanjutnya setelah mendapat surat tersebut, dia menjawab bahwa pihaknya ingin menemui Sudarnoto. Namun, ketika surat tersebut sampai padanya, Sudarnoto sudah berangkat ibadah haji, lalu dia menemui Moh. Matsna yang menjadi Penanggung Jawab Sementara (PJS) Purek III. “Surat tersebut baru saya terima tiga hari setelah surat dikeluarkan,” tambah Budi. Dalam penjelasannya, Budi menuturkan, masalah ini sudah menjadi biasa dan mungkin tidak akan ditindaklanjuti (16/11). Sedangkan Herman mengatakan, pihaknya akan mempertanggungjawabkan data yang ada kepada Sudarnoto ketika dia kembali bekerja. Herman menambahkan, hal tersebut karena dia menganggap PJS Purek III tidak memiliki kapasitas apapun untuk memediasi masalah yang terjadi. Ketika berita ini diturunkan, Sudarnoto tidak bisa ditemui, kemudian INSTITUT menemui Matsna untuk meminta tanggapan dari pihak rektorat terkait masalah tersebut (17/11). Dia mengatakan, “Masalah ini disudahi sajalah, tak usah diperpanjang lagi.”

Kemenag Merespon Draf SG Jaffry Prabu Prakoso tersebut. Draf yang dikirimkan berupa print out. Setelah itu sivitas UIN Jakarta hanya menunggu panggilan dari Kemenag mengenai draf tersebut. Amel menunjukkan kepada INSTITUT bukti serah terima bahwa draf SG telah diberikan kepada pihak Kemenag. Awal November, akhirnya Kemenag memberikan jawaban. Mereka mengundang pihak rektorat untuk membahas draf tersebut. “Undangannya sampai di UIN tanggal 9 November lewat faksimile,” tukas Amel. 11 November, rektorat pergi ke Kemenag tanpa mahasiswa, sesuai dengan isi surat balasan dari Kemenag. Setelah pertemuan itu, mahasiswa juga mendapat surat undangan dari Kemenag. Kemudian, perwakilan mahasiswa yang terdiri dari 12 orang, mendatangi pihak Kemenag, untuk mempresentasikan draf SG. Safriansyah selaku Kepala Seksi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), membuka pertemuan tersebut dengan

memberikan alasan kenapa memanggil mahasiswa ke Kemenag. Menurutnya, yang mengetahui isi draf SG adalah mahasiswa. Karenanya, mahasiswa sendiri yang harus datang menjelaskan isi draf tersebut. Saat pertemuan dengan rektorat kemarin, pihaknya pun masih belum paham dengan isi draf itu. Dalam presentasinya, mahasiswa jelas menentang Pedoman Organisasi Kemahasiswaan (POK). Mereka menjelaskan dengan menganalisis Strenght, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT), dari sistem SG yang telah diusung mahasiswa selama satu dekade. Setelah pembicaraan yang amat panjang, ditemukanlah titik tengah dari masalah POK. Safri menjanjikan akan menyampaikan keluh kesah ini kepada rektorat di pertemuan selanjutnya. “Jika rektorat menyetujui apa yang dipermasalahkan mahasiswa, maka masalah selesai. Tapi jika rektorat tidak menyetujui masalah (keluh kesah, red) kalian, maka akan kita pertemukan

dari kedua belah pihak,” janjinya kepada mahasiswa yang hadir di pertemuan tersebut. Tapi, pertemuan itu masih belum ditentukan waktunya. Moh. Matsna selaku Pembantu Rektor (Purek) 1 Bagian Akademik yang menggantikan tugas sementara Sudarnoto Abdul Hakim, sebagai Purek 2 Bagian Kemahasiswaan, menuturkan bahwa

pertemuan selanjutnya masih menunggu panggilan dari Kemenag lagi. Di pertemuan selanjutnya yang akan bertemu dengan Kemenag adalah Sudarnoto. “Karena saat ini pak Noto masih belum pulang dari melaksanakan ibadah haji. Kalau pak Noto sudah pulang, ia yang akan mengurus itu semua,” papar Matsna (17/11)

FOTO: JAFFRY/INSTITUT

Pembuatan draf Student Goverment (SG) sudah diselesaikan mahasiswa. Draf tersebut diberikan mahasiswa kepada rektorat tanggal 15 Agustus lalu. Rektorat mengirim draf tersebut seminggu setelah mahasiswa mengirimkan ke rektorat. Draf SG dibuat oleh mahasiswa dari enam fraksi. lima fraksi partai, yaitu partai Boenga, Partai Persatuan Mahasiswa (PPM), Partai Reformasi Mahasiswa (Parma), Pantai Intelektual Muslim (PIM), Partai Progressif dan satu fraksi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Mengenai proses pengiriman dari rektorat ke Kementerian Agama (Kemenag) yang memakan waktu seminggu, itu dikarenakan harus mendapat tanda tangan dari berbagai pihak rektorat. Hal itu disampaikan Amellya Hidayat selaku staf kemahasiswaan saat diwawancarai di ruangannya. ”Salah satu kelemahan birokrasi itu lambat,” tegas Amel (16/11). Setelah mendapat tanda tangan, Amel bergegas ke Kemenag untuk menyerahkan draf

Safriansyah (depan kiri) beserta dengan para mahasiswa menyaksikan persentasi dari Iman Lesmana (depan laptop), mengenai analisis SWOT SG yang ada diUIN JAkarta di kantor Kemenag (15/11).


Edisi XVI/November 2011

LAPORAN KHUSUS

5

Dari, oleh Rektorat dan untuk Kepentingan Mahasiswa? FOTO: DOK. PRIBADI

Muhammad Umar

Iman Lesmana, Ketua tim perumus yang menolak SK sementara

Mahasiswa yang diwakilkan oleh 11 Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF), 15 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan 4 Partai Politik (Parpol) menolak adanya Keputusan Rektor UIN Jakarta no: Un.01/R/159/20011 tentang pemberlakuan Surat Keputusan (SK) Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI No: Dj.1/253/2007 mengenai Pedoman Umum Organisasi

Kemahasiswaan (POK) Perguruan Tinggi Agama Islam. Hal itu diutarakan oleh Iman Lesmana selaku ketua tim perumus draf Student Government (SG) (17/8). Penolakan terhadap SK itu pun mendapat tanggapan dari Kepala Bagian (Kabag) Bidang Kemahasiswaan, Ja’far Sanusi yang ditemui di ruangannya, menurutnya itu hak mahasiswa untuk menolak

SK tersebut (14/11). Salah satu pihak yang menolak SK tersebut berasal Partai Persatuan Mahasiswa (PPM). Tim perumus dari fraksi PPM, Muhamad Syukron berpendapat, SK ini tidak mencerminkan prinsip dasar lembaga kemahasiswaan yaitu dari, oleh, dan untuk mahasiswa. Tetapi dari, oleh rektorat, dan untuk mahasiswa karena SK ini dibuat sepihak. “Artinya tidak ada keterlibatan mahasiswa,” ucapnya saat diwawancarai INSTITUT (18/11). Berkaitan dengan keterlibatan mahasiswa dalam SK rektor itu, Pembantu Rektor (Purek) Bidang Akademik, Moh. Matsna yang mewakili Pembantu Rektor (Purek) Bidang kemahasiswaan berkomentar, memang tidak melibatkan mahasiswa UIN dalam pengambilan keputusan. ”Ngapain mahasiswa diajak. Orang yang punya ini, pimpinan UIN kok, Rektor. Mahasiswa kan hanya num pang sebentar, paling empat tahun. Dosen kan seumur hidup,” jelasnya (17/11). “Lembaga ini bukan hanya milik mahasiswa loh. Sivitas akade-

mik, ada unsur pimpinan, ada unsur dosen, unsur tenaga pendidik, maka jangan hanya mahasiswanya saja yang ngotot maunya ini, harusnya kan ada pilihan-pilihan, ada tawaran-tawaran. Yang penting lembaga kemahasiswaan jalan, organisasi kemahasiswaan tidak dibubarkan hanya karena masalah teknis pemilihan,” lanjutnya. Agar tidak terjadi kevakuman terhadap lembaga kemahasiswaan maka SK ini dibuat oleh rektorat. “Kalau mahasiswa menolak, ya sudah, vakum,” tutur Matsna. Mahasiswa juga harus menunggu sampai adanya keputusan dari Kementerian Agama (Kemenag). SK ini juga dibuat atas dasar desakan mahasiswa. Pihak rektorat pun memenuhinya dengan mengeluarkan SK tersebut (4/11). Matsna menuturkan, rektorat tidak mempunyai landasan sehingga SK Dirjen yang dijadikan landasan dan SK itu sifatnya sementara. SK itu diberlakukan sampai keputusan dari Kemenag turun. Namun, Pantden Mohammad Noor, Ketua Kongres Mahasiswa

Universitas (KMU) menilai, SK ini turun karena adanya desakan mahasiswa yang menuntut agar Undang-Undang KBM dibuatkan SK-nya, tetapi yang terjadi adalah pembuatan SK mengenai pengesahan SK POK. “Ini bukti kesombongan rektorat,” tuturnya saat ditemui di gedung Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) (17/11). Sedangkan Widian Vebriyanto, salah satu tim perumus dari fraksi Progresiv ketika diwawancarai INSTITUT mengatakan, dengan adanya reorganisasi seperti yang tercantum di SK itu berarti akan dibuat kelembagaan baru. Akibatnya akan menghabiskan waktu yang lebih lama dibandingkan memperbaiki kelembagaan mahasiswa yang sudah ada. Hal itu malah mengganggu sivitas akademik. Tidak sebanding dengan apa yang sering disebut rektor yaitu kampus ini sebagai sivitas akademika bukan sivitas politika.

Dua Fakultas Belum Menyerahkan LPJ OAK Aprilia Hariani sebenarnya sudah diserahkan ke akademik, itu juga belum selesai karena BEM,’’ ungkapnya. Akan tetapi, menurut Heru Setiawan, Ketua Pelaksana OAK FEB menuturkan, terhambatnya penyelesaian LPJ OAK karena berbeda dengan LPJ pada waktu Pengenalan Progam Study dan Almamater Propesa (Propesa). “Kami dari BEMF sudah menyetorkan LPJ, tapi salah terus. Alasannya setiap transaksi, selain harus ada bon, juga harus ada kwitansi bercap. Itu sulit banget untuk mengumpulkannya, nggak mungkin transaksi Rp1000 harus ada bon dan kwitansi juga,” tuturnya. Berbeda dengan Heru, menurut Diding Mahfudin, Ketua BEMF FITK, pihaknya sudah selesai menggarap LPJ OAK, akan tetapi keterhambatan penyelesaian ada pada beberapa BEM Jurusan. “Prosesnya itu setiap BEMJ langsung menyetor ke fakultas, se hingga permasalahan untuk keterlambatan ada pada BEMJ sendiri. Jadi BEMF sudah tidak bertang-

gung jawab,” jelasnya. Ketika ditanyakan mengenai hal tersebut, Vega Fachrudin, Dewan Kehormatan Kemahasiswaan BEMJ Menejemen Pendidikan, keterlambatan penyerahan LPJ bukan karena kesulitan dalam mengumpulkan bukti-bukti, tapi karena dari awal pembagian dana OAK tidak transparan. “BEMJ akan menyerahkan LPJ OAK minggu ini. Alasan BEMJ mengundur-undur ialah kembali pada masalah ketidaktransparanan pembagian dana tersebut,” tambahnya. Subarja, Kepala Bagian Keuangan merasa kecewa atas keterlambatan penyerahan LPJ OAK FITK dan FEB. “Memang sih, LPJ disahkan oleh kita paling lambat Bulan Desember. Tapi untuk penyerahan LPJ OAK per fakultas, kami tetapkan batas waktu paling lambat sebulan setelah acara, yaitu Bulan November,” jelasnya, (18/11). Selama ini pihak rektorat sudah memperingatkan ke semua fakultas terkait LPJ OAK. Tapi kenda-

lanya memang tidak sepenuhnya berasal dari pihak fakultas, melainkan terletak pada BEM. “Saya juga bingung dengan FITK, seharusnya BEM tidak ikut campur sama sekali dalam pembuatan LPJ. Tapi ada beberapa item yang saya cek, ya memang

kendalanya pada mahasiswanya, dalam hal ini BEM. Kami pun mentolerir masalah ini dengan memberi batas waktu hingga awal Bulan Desember untuk penyelesaian LPJ OAK,” tambahnya.

FOTO:APRIL/INSTITUT

Penyerahan Lembar Pertanggung Jawaban (LPJ) kegiatan Orientasi Akademik dan Kebangsaan (OAK) setiap fakultas yang dilaksanakan pada tanggal 9-11 September, semestinya sudah diserahkan sebulan setelah acara dilaksanakan. Namun, hanya Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang belum menyerahkan LPJ OAK tersebut. Menurut Nia Sumianingnsih, Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) FEB, keterlambatan Penyerahkan LPJ OAK dikarenakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) belum melengkapi bukti-bukti transaksi. “Kita sih sudah dua kali merekap ulang LPJ, tapi kwitansi, nota dan faktur dari BEMF sendiri belum ada semua, jadi kita susah buat cepat menyerahkannya,” tuturnya ketika ditemui INSTITUT di ruangannya (16/11). Hal senada diungkapkan BPP FITK, Yeni, keterlambatan Fakultas Tarbiyah juga dikarenakan BEM belum selesai membuat LPJ tersebut. “Di FITK sendiri

Subarja, Kepala Bagian Keuangan ketika ditemui INSTITUT (18/11), ia menanggapi keterlambatan penyerahan LPJ OAK


Edisi XVI/November 2011

LAPORAN KHUSUS

6

Dugaan Penyelewengan Dana Beasiswa Belum Terselesaikan Kiky Achmad Rizqi Dugaan adanya penyelewengan dana beasiswa Kementerian Agama (Kemenag) yang diberikan khusus kepada mahasiswa berprestasi lulusan Madrasah Aliyah (MA) masih menjadi persoalan. Permasalahan yang melibatkan mantan Subag Kesejahteraan Mahasiswa yang berinisial HS dan TP ini sebelumnya pernah dimuat di Tabloid INSTITUT edisi XIV dan masih belum jelas penyelesaiannya. Dalam proses penyelesaian permasalahan tersebut, pihak rektorat sudah mengimbau agar penerima beasiswa itu memberikan bukti dan menulis surat pernyataan. Namun, penerima beasiswa yang seharusnya memberikan bukti dan surat penyataan kepada rektorat hingga kamis (17/11) belum ada satu pun yang memberikannya. Saat ditemui INSTITUT di ruangannya, Ja’far Sanusi, Ketua Bagian Kemahasiswaan mengatakan, “Sudah dipanggil semua pihak yang bersangkutan tentang dugaan penyelewengan dana beasiswa tersebut, hanya saja mahasiswanya malah tidak datang,” tegasnya.

FOTO:DOK. PRIBADI

Doni Purwanto, penerima beasiswa berprestasi yang masih berusaha untuk menyelesaikan kasus dugaan penyelewengan beasiswa

Penegasan Ja’far tersebut sekaligus mengimbau kepada mahasiswa agar memberikan bukti dan pernyataan secara tertulis, namun sampai saat ini penerima beasiswa tidak ada yang memberikan laporan kepada rektorat. Lambannya penyelesaian kasus yang sudah terjadi setahun yang lalu, membuat sebagian dari pe-

nerima beasiswa menganggap permasalahan itu sudah selesai. Bahkan beberapa dari mereka sudah jarang ke kampus serta ada yang telah lulus. Hal itu diungkapkan Gandhi Angelino, lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) kelas ekstensi. Gandhi merasa permasalahan sudah selesai dan tidak memer-

dulikan hal itu. “Saya bingung mau memerjuangkan apa, karena saya sendiri sudah lulus dan sibuk dengan pekerjaan saya sendiri,” jelasnya (17/11). Senada dengan Gandhi, Rody Hariska, mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) semester IX yang diwawancarai via telepon mengatakan, “Anggap saja masalah itu sudah selesai, karena mau bagaimana lagi, kan saya sendiri sudah jarang ke kampus dan lagi fokus sama skripsi,” tuturnya. Berbeda dengan Ghandi dan Rody, Fitri Silviyah, mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester III. Fitri yang juga sebagai penerima beasiswa, masih ingin memperjuangkan beasiswanya itu. “Saya pribadi masih ingin memperjuangkan beasiswa tersebut dan saya ingin teman-teman yang mendapat beasiswa tersebut ikut berjuang bareng karena tindakan yang dilakukan HS dan TP merupakan tindakan yang menyimpang,” tandasnya (17/11).

Sependapat dengan Fitri, Doni Purwanto, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Jurusan Akuntansi semester IX merasa permasalahan itu harus terus diperjuangkan. “Saya masih ingin memperjuangkan beasiswa tersebut dan secepatnya akan mengumpulkan teman-teman,” tegasnya (18/11). “Kalau masalah duitnya, saya nggak masalah. Yang jadi permasalahan, kalau HS dan TP masih dibiarkan begitu saja, akan banyak orang seperti mereka yang terus berkeliaran di UIN,” tambahnya. Ja’far pun menambahkan, “Seandainya mahasiswa tidak menunjukkan bukti-bukti, ya susah, karena untuk menyelesaikan kasus itu harus ada bukti yang jelas, apalagi masalah ini bukan masalah sepele, ” tukasnya. Ia juga siap menyelesaikan masalah tersebut jika penerima beasiswa menunjukan bukti-bukti dan memberikan pernyataan tertulis supaya tidak menjadi beban moral.

akademik memiliki beberapa masalah. AIS dan keterbatasan fasilitas. Dia menjelaskan sampai saat ini akademik belum bisa membuka AIS, karena tidak ada password yang diberikan kepada mereka. Begitu juga dengan fasilitas penunjang seperti printer yang

masih menggunakan model lama. “Tapi dengan keterbatasan yang ada di sini kita bisa menyelesaikan masalah, banyak yang sudah lulus, selain protes yang banyak, kadang ada juga yang mengucapkan terima kasih atas kerja kita,” ujarnya mengenang.

Kampusiana...

Transkrip Nilai Telat Keluar Makhruzi Rahman nilainya mulai berantakan,” ujar Muslim ketika ditemui INSTITUT di gedung akademik pusat (7/11). Dia menjelaskan bagaimana akhirnya nilai dikirim ke akademik. Mulai dari sidang skripsi, kemudian fakultas mengeluarkan lampiran dan akhirnya dikirim ke akademik. “Nilai di fakultas saja berantakan, apa mungkin bisa sampai ke akademik?” Dia menambahkan, sumber nilai berada di fakultas dan seharusnya fakultas juga yang bertanggung jawab. Muslim menjelaskan beberapa masalah yang membuat transkrip nilai akhirnya terlambat. Salah satunya, overlap. Program yang tersedia hanya sampai 50 mata kuliah, ketika mata kuliah itu dimasukkan 52 mata kuliah, programnya tidak terbaca sehingga transkrip tidak bisa dicetak. Dia juga mengatakan, “Di sini kita bukan teknisi, kita hanya pelaksana, tahunya cuma memasukkan data dan nge-print. Kalau itu terjadi kita kelabakan,” ungkapnya . Di sisi lain, mahasiswa ingin secepatnya nilai keluar. Itu yang menyebabkan akhirnya pekerjaan

di akademik banyak yang terbengkalai, karena keterbatasan yang dimiliki oleh akademik pusat. Hal yang sama juga terjadi pada Tyo, alumni FEB, Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP), angkatan 2007. Dia mengatakan, “Harusnya komitmen sama jadwal yang sudah ada, kalau di jadwal tertera pengambilan ijazah seminggu sesudah wisuda ya seminggu, kan itu hak mahasiswa,” katanya. Dia juga menambahkan, “Kadang mahasiswa nggak habis pikir sama orang-orang akademik, kelihatannya kerja mereka pada santai banget,” tambahnya. Dia menyatakan, masalah bukan hanya saat pengambilan ijazah saja. Masalah juga terjadi pada beasiswa DIPA, “Saya dan teman-teman pernah diusir tiga kali sama orang akademik, mereka bilang sibuk,” tegasnya.

FOTO:RAHMAN/INSTITUT

UIN, INSTITUT. “Seharusnya beberapa minggu sesudah wisuda, transkrip nilai sudah bisa diambil, tapi kenapa transkrip nilainya baru keluar sekarang?” ujar Indah, alumni Fakultas Sains dan Teknologi (FST), jurusan Teknik Informatika (TI) ,angkatan 2006, ketika ditemui INSTITUT di kosannya di Semanggi (6/11). Gadis asal Ponorogo ini mengeluh karena transkrip nilainya yang baru keluar setelah beberapa bulan dia melaksanakan wisuda. ”Jauhjauh dari Ponorogo mau ngambil ijazah dan transkrip nilai, eh transkripnya belum keluar,” ujarnya. Dia juga ingin melanjutkan pendidikan S2-nya di Surabaya. Karena transkrip nilai yang tak kunjung keluar, dia harus menahan niatnya itu sampai transkrip nilainya keluar. Menanggapi hal itu, Muslim Wiyono, staf akademik pusat, mengatakan kesalahan itu disebabkan karena data nilai angkatan tahun 2006 tercecer. ”Dulu itu ada koordiantor ekstensi di fakultas untuk masalah ekstensi, setelah itu ditarik oleh reguler, dari situlah

Keterbatasan Fasilitas Muslim mengatakan banyak protes yang datang ke akademik. Tapi mahasiswa tidak tahu bahwa

Pegawai akademik pusat sedang menjalankan tugasnya dengan program komputer lama dan printer model lama


Edisi XVI/November 2011

RESENSI

7

Jelajah Dunia Filsafat dengan Novel Rahmat Kamaruddin

S

etelah Sophie menutup pintu gerbang, dia buru-buru membuka amplop itu. Di dalamnya hanya ada secarik kertas yang tidak lebih besar daripada amplopnya sendiri. Bunyinya, siapakah kamu? Paragraf di atas merupakan sebuah kutipan novel filsafat ini, protagonis Sophie Amundsend, gadis berusia 14 tahun, mulai mengarungi hidupnya secara ‘sadar ‘. Sebuah pertanyaan singkat yang melahirkan serangkaian pertanyaan radikal sebagai upayanya memahami realitas kehidupan (lebenswelt) pada umumnya, dan membuat Sophie sesekali secara subjektif memiliki pandangan tentang kehidupan itu sendiri (erlebnisse). Jostein Gaarder, penulis novel, secara cermat membedah dan menguak kompleksitas serangkaian teori para filsuf dengan menggunakan pisau keluguan serangkaian pertanyaan Sophie. Pertanyaan-pertanyaan yang selalu bersanding jawaban yang sederhana, memikat dan dengan tetap tidak kehilangan subtansi, apalagi

Judul Buku Teks Asli Penerjemah Penulis Penerbit Cetakan Tebal ISBN

berapologi, mengingat objeknya yang dituturi (mukhatab) adalah Sophie. Inilah yang kemudian secara eksplisit ditawarkan dalam novel ini, yaitu menegasikan kesan kompleksitas filsafat untuk dipahami. Karena secara garis besar novel ini bercerita tentang sejarah perkembangan filsafat, pula pola penulisan berbentuk sebuah novel, maka dua hal tersebut semakin membuat subjektifitas pengarang cukup dominan. Dalam beberapa

: Dunia Sophie, Sebuah Novel Filsafat : Sophie’s Verden (Norwegia), Sophie’s World (Inggris) : Rahmani Astuti : Joestin Gaarder : Penerbit Mizan : Edisi Gold, Cetakan III, Mei 2011 : 800 halaman : 978-979-433-574-1

hal, penulis memiliki kesamaan pandangan dengan penulis Barat pada umumnya dalam menarasikan sejarah perkembangan filsafat. Penulis melewatkan potret periode Abad Pertengahan, di mana kontribusi filosof dan Ilmuwan muslim betapa telah berjasa besar mengantarkan bangsa Eropa keluar dari zaman kegelapan. Meski begitu, hal tersebut tidaklah menjadikan novel ini bukan ‘barang hilang’ guna diraih dan dimiliki agar memperkaya khazanah keil-

muan dari mana saja ia ditemukan. Dunia Sophie dicetak pertama kali pada tahun 1991 dalam bahasa Norwegia dengan judul Sofie’s Verden, meski begitu novel ini tetap terasa segar untuk dibaca. Hingga kini, novel tersebut telah diterbitkan ke dalam lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia. Penyajian menu filsafat dalam bentuk novel merupakan cara yang unik, tidak seperti umumnya buku-buku filsafat yang berbentuk

buku modul. Memudahkan memahami sejarah filsafat berdasarkan urutan zaman para tokoh filsuf di dunia, mulai dari awal perkembangan sejarah filsafat, tokoh, dan paham filsafat sejak dari zaman Yunani hingga abad dua puluh. Filsafat, di samping sebagai cikal-bakal dari ilmu pengetahuan, juga merupakan metode berpikir (method of thought). Karena inti dari filsafat adalah berpikir, yakni berpikir yang kritis, rasional, analitis, sistematis dan radikal. Maka banyak hal yang dijumpai dan dihadapi semua manusia yang perlu ditanyakan, diragukan, dan kemudian dipikirkan. Di tengah arus kehidupan kini yang bergenre konsumeris, pragmatis, dan materialistis, Dunia Sophie ini bagus dibaca siapa saja sebagai alternatif memaknai kehidupan, laiknya yang dilakukan Sophie . Novel ini baik pula menjadi buku pengantar bagi yang ingin mendalami disiplin keilmuan seperti: psikologi, bahasa, sastra, seni, budaya, sejarah, filsafat dan lainnya.

Pengabdian Sang Penari Aditia Purnomo

B

erawal dari tragedi keracunan massal tempe bongkrek, Desa Dukuh Paruk kehilangan gairahnya akibat kematian sang ronggeng, Surti (Happy Salma). Srintil (Prisia Nasution), merasa bertanggung jawab karena perbuatan orang tuanya yang menyebabkan tragedi tersebut. Ia yang sejak kecil gemar menari, juga diyakini memiliki roh indang sebutan warga desa untuk menyebut roh ronggeng. Hal tersebut membuat Srintil bertekad untuk menjadi ronggeng guna menghidupkan kembali kebudayaan Dukuh Paruk dan mengembalikan nama baik orang tuanya. Selain itu, menjadi ronggeng adalah wujud darma baktinya untuk Dukuh Paruk yang dilindungi oleh arwah Ki Secamenggala. Meski begitu, Rasus (Nyoman Oka Antara) teman sepermainan Srintil yang sudah lama mencintainya, tak ingin Srintil menjadi Ronggeng. Karena dengan menjadi ronggeng, ia tak hanya dituntut untuk menari, tapi juga diharuskan melayani lelaki desa. Selain itu, kepercayaan warga Dukuh Paruk juga mempersulit impiannya. Warga desa memiliki

kepercayaan yang kuat bahwa seorang penari ronggeng sejati bukanlah hasil dari pengajaran belaka, melainkan juga mendapat wangsit yang berasal dari Ki Secamenggala. Meskipun akhirnya takdir lebih berkuasa menjadikan Srintil sebagai ronggeng. Pada waktu yang telah ditentukan, digelarlah upacara penobatan Srintil sebagai ronggeng. Selain harus menari, dalam upacara itu dia juga harus melewati ritual “buka klambu”. Dalam ritual ini keperawanan Srintil dilelang dan akan diserahkan kepada penawar tertinggi. Rasus yang tidak kuat menahan rasa cemburu akibat hal tersebut akhirnya memilih pegi dari desa dan menjadi tentara. Menampilkan kisah cinta antara Rasus dan Srintil sebagai sentral cerita, sutradara Ifa Isfansyah berhasil menginterpretasikan filmnya dengan baik. Tidak terjerumus dalam adegan-adegan seks yang murahan seperti yang pernah diinterpretasikan film Darah dan Mahkota Ronggeng karya Yazman Yazid pada tahun 1983 yang juga diadaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Ifa juga berhasil menampilkan suasana politik tahun 1965 dengan baik. Ia menampilkan kehadiran PKI di Dukuh Paruk lewat sosok Bakar (Lukman Sardi), seorang anggota PKI, dan warna merah pada beberapa properti (caping, selendang, ikat kepala, spanduk). Namun, tidak sekali pun kata “PKI” terucap, bahkan oleh para tentara yang melakukan “pembersihan” di Dukuh Paruk itu. Begitu juga dengan propaganda yang dilakukan sesuai dengan pola yang biasa dilakukan partai “merah” tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan lewat adegan dimana warga Dukuh Paruk yang tidak memahami alasan mereka ditahan sebagaimana dampak dari tragedi pada tahun 1965. Selain itu sinematografi, properti, naskah dan chemistry antar pemain membuat film ini layak untuk diapresiasi. Secara keseluruhan, film produksi Salto Film Company ini mampu memberikan suguhan yang berbeda lewat nilai-nilai kebudayaan yang begitu melekat dan membawa suasana baru di perfilman Indonesia yang mulai terbiasa dengan filmfilm berbau seks belaka.

SUMBER:BOLEH.COM

Judul Sutradara Skenario Produksi Durasi Pemain

: Sang Penari : Ifa Isfansyah : Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty H. : Salto Films : 111 Menit : Oka Antara, Prisia Nasution, Landung Simatupang, Slamet Rahardjo, dll.


Edisi XVI/November 2011

KOLOM

8

Kepahlawanan Bagi Kita

M

UMPUNG belum jauh dengan momen Hari Pahlawan. Kita kembali diingatkan tentang aktor beserta aksi heroiknya, dalam merebut kemerdekan Indonesia. Mereka pun belum tentu membayangkan bagaimana dirinya begitu dikenang saat ini. Yang mereka lakukan hanyalah sebuah perbuatan perubahan, dari yang terkukung menjadi terbebas, dari yang terinjak-injak menjadi terdongak. Tak ada rasa jumawa, mereka hanya ingin memberikan yang terbaik bagi dirinya, keluarga, dan bangsa. Bagi mahasiswa, aksi heroik pun tak kalah bingarnya. Banyak perjuangan yang dilakukan mahasiswa menuju kebebasan, yang hampir sama persis dengan pahlawan kemerdekaan. Mereka cuma ingin kesejahteraan. Puncaknya, mahasiswa berhasil menggulingkan Presiden. Mahasiswa suka cita bukan main. Namun setelah itu, apa yang terjadi? Sampai sekarang kesejahteraan masih jauh panggang dari api. Kepahlawanan itu hingga kini

semangat melakukan perubahan yang setengah-setengah. Kalau saja, para pahlawan tahu kita punya semangat setengah-setengah, cacian hina pun bisa dilontarkan. Keluhan-keluhan itupun seringnya berorientasi terhadap hasil semata. Jika berbicara hasil, apakah proses menuju hasilnya itu sudah benar? Semangat dalam melakukan prosesnya saja masih melempem, untuk apa berbicara hasil? Berbicara prestasi? Pada akhirnya, kita menjadi omong kosong.

masih terus dibanggakan. Romantisme heroik kadang menjadi stimulus untuk menggelar aksi turun ke jalan. Menyulut semangat. Tapi apakah kegiatan kepahlawanan itu punya dampak perubahan yang baik? Kadang pula memang, melakukan aksi turun ke jalan itu perlu. Barangkali konteks sekarang lebih berat. Tidak sekedar turun ke jalan. Ada bukti konkret yang telah dilakukan, berupa prestasi, sembari menunjukan,�Hai para orang tua! Kami punya prestasi! Kami Bisa!� Miliki Semangat Seperti kata-kata yang sering dikutip dari Soekarno, “Berikan aku seribu orang tua, niscaya aku cabut Semeru dari akarnya, berikan aku seorang pemuda, niscaya aku guncang dunia�. Kutipan yang kelihatan luar biasa. Namun sebenarnya apa yang ingin disampaikan olehnya? Barangkali, pemuda punya semangat yang lebih hebat ketimbang orang tua. Ketika kita tidak punya semangat, pupus sudah harapan melakukan perubahan.

Karena, kala semangat mengalahkan rasa malas, kala semangat menjatuhkan mental lawan, dan kala semangat ingin memberikan yang terbaik, tidak setengahsetengah. Kutipan Soekarno di atas menjadi niscaya. Kita benarbenar mengguncang dunia. Harusnya juga kita melihat, kawan mahasiswa di Amerika, Jepang, Cina, bahkan tetangga kita, Malaysia. Sedang berlombalomba membuahkan prestasi. Tapi kita, melulu mengeluh, malas berbuat sesuatu. Yang ada malah

Makna kepahlawanan Bagi kita, kepahlawanan harusnya bukan sekedar melakukan perubahan. Itu masih sangat sederhana. Dan sekarang lebih komplesks. Rumitnya adalah bagaimana kepahlawanan dimaknai sebagai perubahan yang memiliki relevansi jaman, bukan latah atau ikut-ikutan. Artinya perubahan yang punya kaitan dengan apa yang kita butuhkan di jaman sekarang, bisa terus konsisten, bahkan terus membaik. Dan juga, bagaimana perubahan itu melalui

proses selangkah demi selangkah. Dengan langkahan yang cepat. Tidak instan. Apa pun itu, instan tak pernah bertahan lama. Dengan memaknai seperti itu, adalah salah satu upaya untuk membuahkan prestasi. Yang jelas kita belajar dari pengalaman dahulu, ketika perubahan sekedar latah. Kita menjadi bingung sesudahnya. Layaknya pula, perjuangan kepahlawanan dari nenek moyang kita ini dilanjutkan. Karena masing-masing generasi memiliki tanggung jawab perubahan. Jika para pahlawan dahulu melakukan perubahan dari penjajahan menjadi kemerdekaan, para mahasiswa dahulu melakukan perubahan dari keoteriteran menjadi kebebasan. Sekarang, kita melakukan perubahan dari keterpurukan menjadi kesejahteraan. Dengan begitu, kita akan menjadi pahlawan bagi anak cucu kita. *Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) INSTITUT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kedaulatan Negara Pudar Akibat MNCs di Dunia Rina Dwihana Fitriani*

K

ata globalisasi, acapkali terdengar secara tertulis maupun dibahas secara lisan pasca krisis ekonomi tahun 1997-1998 yang memukul Asia, terutama Indonesia. Ketika arus globalisasi melanda masyarakat dunia, maka timbullah peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, dan bentuk interaksi lainnya hanya melalui perangkat elektronik. Oleh karena itu, dunia adalah datar (World is Flat), yang juga merupakan judul dalam buku karya Thomas L. Friedman. Kekuatan globalisasi patut diperhitungkan karena membuat batasbatas antar negara menjadi bias. Dalam konteks negara, ketergantungan dilakukan oleh pemerintah terhadap lembaga atau institusi internasional seperti yang diungkapkan oleh Jill Steans & Lloyd Pettiford dalam bukunya berjudul Hubungan Internasional, Perspektif dan Tema 2009, mengatakan bahwa teoritisi kaum neoliberal berusaha mempelajari kerjasama di satu wilayah dangan membuka transaksi antar wilayah. Munculnya aktor-aktor non ne-

gara yang mempunyai kekuatan modal yang sangat kuat, seperti Multinational Coorporation (MNCs) mampu memaksa negara, terutama negara berkembang dalam pengambilan kebijakan yang menguntungkan lembaga internasional tersebut. Maka kerjasama antara aktor non-negara dengan negara akan selalu bertambah seiring terbukanya pintu kerjasama mayarakat dunia dengan institusi internasional tersebut. Padahal teoritisi integrasi wilayah terdahulu hanya mempelajari bagaimana aktivitas-aktivitas fungsional lintas batas tertentu (perdagangan, investasi, dll) menawarkan kerjasama jangka panjang yang saling menguntungkan. MNCs pada awalnya bertugas hanya mencari keuntungan kemudian bergerak hingga melewati lintas batas negara. Namun dalam perjalanannya, MNCs berusaha mempengaruhi tindakan dan kebijakan aktor negara tempat berinvestasi agar menerapkan sistem perdagangan liberal dan kebijakan investasi sehingga memberikan keuntungan kepada MNCs itu sendiri. MNCs tidak dianggap sebagai aktor independen atau

otonom dalam perekonomian internasional, tetapi lebih dilihat sebagai perpanjangan tangan negara atau alat kebijakan luar negeri. Keberadaan MNCs kemudian tidak menjadi kekuatan yang signifikan secara ekonomi dan politik menurut hak diri mereka sendiri tetapi sebagai ukuran dan refleksi dari kekuasaan dari negara-negara tertentu yang memegang permodalan MNCs. Malcolm N. Shaw menganalisa bahwa dalam pengaruhnya terhadap kedaulatan suatu negara, MNCs berusaha menimbulkan citra positif terhadap negara yang diinvestasikan seperti membuka lapangan pekerjaan dan memberikan skill para pekerja MNCs di suatu negara serta bantuan kepada negara dunia, seperti tertulis dalam bukunya berjudul International Law, Sixth edition di tahun 2008. MNCs dengan menggunakan kesepakatan World Trade Organisation (WTO) serta difasilitasi oleh lembaga keuangan global seperti International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia mampu mengeluarkan pinjaman kepada negara yang membutuhkan dengan menawarkan bunga yang telah disepa-

kati. Analisis ini terlihat dari negara maju yang melatarbelakangi pembentukan MNCs semakin memperkokoh hegemoni mereka di suatu negara untuk mengatur dan mengontrol resources (sumber daya alam) di dunia. Lewat tangan WTO, mereka mengatur kebijakan perdagangan dunia serta keuangan multilateral dengan menentukan negara-negara dan siapa saja yang dapat menikmati kucuran uang lembaga keuangan itu. Melalui aturan IMF, mereka dapat menekan negara-negara untuk mengikuti kebijakan negara maju seperti adanya deregulasi, privatisasi, dan liberalisasi. Pada prinsipnya ketiga konsep ini mengurangi peran Negara dalam menjalankan kekuasaannya sebagai suatu badan yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas wilayah negaranya. Dari kegiatan MNC itu sendiri dapat dicatat bahwa dari 50 MNCs terkenal, 21 diantaranya berbasis di Amerika Serikat yang menguasai 54% dari total penjualan dunia. Disusul dengan Jerman 10 %, Inggris 9%, Jepang 7%, Perancis 6% dan Belanda 5%. Sepertiga dari perdagangan dunia didominasi oleh MNCs, yang ternyata me-

lakukan perdagangan di antara mereka sendiri. PBB memperkirakan 50% dari ekspor AS terjadi di antara MNC mereka sendiri, sementara Inggris mencapai 30%nya. Dari bukti inilah yang menggambarkan besarnya pengaruh MNCs dalam perdagangan dunia. Kegiatan perusahaan multinasional inilah sebagai bukti ketidakmampuan negara berkembang saat ini untuk mengendalikan dan mengatur secara efektif kegiatan ekonomi dalam sektor swasta. Pengaruh MNCs dari tingkat regional dan negara semakin mengakar tanpa ada peraturan negara yang menghalangi. Jika demikian, kedaulatan negara untuk mengatur kondisi masyarakat menjadi terhambat dengan monopoli dari investor MNCs yang tidak dapat ditolak oleh negara berkembang yang ingin meningkatkan perekonomiannya. *Bendahara Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) INSTITUT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Edisi XVI/November 2011

OPINI

9

Bang Peka.. Di Perpustakaan Utama..

Jadi Pahlawan, Mau?

H

arus diakui, kemerdekaan Bangsa Indonesia tak luput dari jasa para pahlawan nasional. Mulai dari Bung Tomo, sosok pemberani yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya di radio. Hingga Pangeran Diponegoro yang berani mengangkat senjata terhadap Belanda. Terlepas dari itu, ternyata prasyarat menyandang gelar pahlawan begitu mudahnya didapat di zaman dulu. Cukup dengan keberanian melawan ketidakadilan, walau pun masih dilatarbelakangi oleh problem personal. Dalam Nation and Civilization in Asia (2002), sejarawan Wang Gung Wu (2002) menyatakan, di Asia Tenggara, hanya Vietnam dan Indonesia yang memiliki catatan kepahlawanan saat meraih kemerdekaannya. Hal ini menandakan, begitu suburnya pahlawan di zaman kemerdekaan Indonesia. Lantas pertanyaannya, benarkah kuantitas pahlawan diperlukan, guna memperbaiki citra bangsa? Jikalau benar, berarti Indonesia

Shodiq Adi Winarko*

tidak mementingkan kualitas diri para pahlawannya? Kesimpulan seperti itu tentu sangat gegabah. Sebab, kini peraturan telah berbeda. Tidak sembarang orang yang dapat disebut pahlawan. Untuk menjadi seorang pahlawan, seseorang harus mampu memenuhi segala persyaratan yang telah diatur pemerintah, kesemuanya itu tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres). Bahkan ternyata, proses keluarnya Keppres pun sekarang sangatlah sulit. Dimulai dari adanya usulan masyarakat, diteruskan dengan pemeriksaan dan penelitian Badan Pembina Pahlawan Daerah (BPPD), barulah ke Gubernur (pemerintah daerah). Lalu dilanjutkan ke Badan Pembina Pahlawan Nasional yang ada di Departemen Sosial (Depsos). Terakhir barulah diserahkan kepada Presiden yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres). Pahlawan Pamrih Yang menjadi soal kemudian adalah, apakah Keppres itu mem-

beratkan rakyat? Jika benar, lalu bagaimanakah cara masyarakat meraih predikat “pahlawan” tanpa menuruti peraturan Keppres? Ada dua kemungkinan yang akan muncul, perihal menjembatani aturan Keppres di atas, diantaranya yaitu; Pertama, dengan jalan menulis otobiografi. Sekarang, banyak sekali para tokoh politik yang memanfaatkan kesempatan untuk menulis otobiografi. Tapi apakah langkah mereka itu benar? Meminjam istilah B. Oetomo, kita tidak dapat berharap penulisannya digerakkan untuk pencarian kebenaran. Sebab, bisa saja karena pertimbangan politik, ia dapat dijadikan lahan subur untuk membenarkan ungkapan “sejarah ditulis oleh para pemenang” atau ungkapan lain “pahlawan hari ini merupakan bandit di masa depan”. Jika hal ini berkelanjutan, maka sungguh dapat menjadi manipulasi para pelaku politik terhadap nilai-nilai kepahlawanan. Lantas, sadarkah mereka terhadap perbuatannya? Apakah mereka tidak me-

mahami ungkapan B. Oetomo? Dalam “Some Remarks on Modern Historiography” dalam buku yang diedit Immanuel Wallerstein, Social Change The Colonial Situation, (1966), tradisi penulisan sejarah pahlawan di Indonesia bersifat amat fungsional, yaitu untuk membentuk identitas kebangsaan. Maka benar-benar tidak selaras jika disandingkan dengan niat para penulis otobiografi saat ini. Namun, semoga dengan meneladani ungkapan tadi, para pelaku politik di negeri ini dapat lebih menyadari akan perbuatan-perbuatannya. Kedua, lebih bangga mendapat pengakuan pahlawan dari masyarakat. Mendapat pengakuan pahlawan dari masyarakat, dirasa lebih baik daripada sekedar memenuhi Keppres, namun esensi kepahlawanannya pun cepat pudar. Terkadang, penilaian objektif masyarakat seringkali tidak mendapatkan respon positif dari pemerintah. Sebaliknya, masyarakat seringkali dipaksa untuk menerima penilaian sub-

jektif pemerintah. Meminjam istilah Deddy Mizwar, alangkah lucunya negeri ini. Seakan hak pilih masyarakat terkooptasi oleh keputusan pemerintah. Walhasil, hampir di setiap daerah berlomba-lomba mencari sosok pahlawan mereka. Maka dicarilah jejak jasa para tokoh daerah yang memang memenuhi kriteria. Adapun berdasarkan Surat Edaran Dirjen Pemberdayaan Sosial Departemen Sosial (Depsos) No.281/PS/X/2006, beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk bisa ditahbiskan sebagai pahlawan nasional, di antaranya: perjuangannya konsisten, mempunyai semangat nasionalisme dan cinta tanah air yang tinggi. Berskala nasional, sepanjang hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan sang tokoh sudah meninggal. Jika telah ditemukan, barulah proses pengangkatan menjadi pahlawan dilakukan.

apalagi helm? Saya sempat cek-cok berargumentasi dengan salah seorang petugas parkir. Dengan sedikit tegas saya katakan salah satu dari mereka pada saat sedang berada di depan Bank Mandiri; “Bang,” kata saya dengan sedikit ritme tegas, “Kenapa sih pengamanan di kampus UIN ini masih belum terjaga. Untuk kasus helm hilang apa tidak bisa di setiap kavling parkir di sediakan pos pengamanan parkir khusus misalnya? Kita kan butuh kesejahteraan. Setiap hari saya dan juga mahasiswa lain yang bersepeda motor membayar uang lima ratus rupiah untuk masuk ke parkiran UIN. Itu kewajiban saya. Tapi bagaimana dengan hak saya? Apakah jutaan, bahkan puluhan juta rupiah yang masuk setiap hari tidak cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas keamanan parkir di sini?” Ia hanya menjawab, “Wah bang, kalau masalah itumah mendingan abang lapor sama Pak Rahmat

saja deh di rektorat. Kitamah cuma petugas. Kita gak bisa berbuat apa-apa.”. Celoteh Twitter Karena saya sering berbagi di twitter, lewat akun twitter @fikrihabibullah yang saya miliki, saya mencurahkan apa yang saya alami lewat kultwit ke akun @komar_hidayat milik rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Malangnya, curhatan saya tidak dibalas dengan satu patah kata apapun via akun twitter beliau. Padahal hampir setiap hari beliau “ceramah” di twitter. Curhatan tentang pencurian di UIN Jakarta ini saya tidak lupa CC ke sebuah akun bernama@ deritauin yang tidak saya tahu siapa adminnya. Dia merespon dan me-retwit kepada followenya. Hasilnya? Banyak twips dari mahasiswa UIN yang mengaku kecewa dengan sistem parkir di UIN Jakarta.

*Penulis adalah Mahasiswa Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

Surat Pembaca...

Masih Kecewa dengan UIN Parking Kamis itu 3 November 2011, pukul 07.30 saya terpaksa meletakkan helm KYT saya di spion motor lantaran telat kuliah, sehingga tidak sempat menitipkan helm ke tempat penitipan. KYT Hitam itu baru saya beli enam hari lalu seharga Rp. 320.000 di sebuah toko helm. Sesudah membeli helm itu, sahabat saya bernama Faisal Husaini dari FITK sempat berpesan agar hati-hati dalam menjaga helmnya. Jangan ditinggal sembarangan. Dia memiliki pengalaman dari kawannya yang baru tiga hari beli helm KYT ternyata dicuri di tempat parkiran. Faisal berpesan kepada saya, setidaknya helm itu dititipkan di tempat penitipan helm yang dapat dipercaya. Nasehat darinya saya laksanakan selama enam hari ,terhitung sejak saya memiliki helm itu. KYT hitam tersebut selalu saya titipkan di tempat penitipan helm UIN Parking atau KOPMA. Bahkan seringkali saya ajak masuk ikut kuliah ke dalam kelas. Teman-teman satu

kelas saya sudah bersahabat sekali dengan helm yang baru saya beli itu. Singkat cerita, ketika saya kembali ke tempat penitipan motor untuk pulang ke asrama saya di Darussunnah, ternyata helm yang sebelumnya saya sangkutkan di spion motor sudah tidak ada lagi. Saya langsung was-was. Motor Mega Pro yang di spionnya saya sangkutkan helm KYT itu saya parkirkan di depan fakultas Dakwah dan Komunikasi. Dua belas shaf motor ke kiri dan kanan saya telusuri. Siapa tahu ada. Ternyata juga tidak ada. Seketika itu saya langsung sadar bahwa helm saya telah dicuri. Lekas-lekas saya bergegas ke salah seorang petugas UIN Parking untuk mengambil tindakan utama; melapor. “Wah bang, helmnya merek apa?” Kata seorang petugas kepada saya. “KYT warna hitam yang ada kacamata dalamnya bang. Baru bangat helmnya.”

“Waduh, kalau KYT mah udah susah dah. Sama abang berarti udah lima helm hari ini yang hilang. Kemarin juga sempat ada yang laporan. Ya kita juga gimana kalau udah hilang mah kan susah nyarinya. Kita Cuma bisa nerima laporan. Emang helmnya abang taro di mana?” “Di spion motor bang.” “Oh ya jelas kalau itumah pasti dicuri. Tadi juga ada jok motor matic sama CBR yang robek, helmnya di ambil. Sama punya abang berarti empat helm KYT dan satu NHK yang hari ini hilang. Kemarin juga sempat ada laporan helm hilang. Ya gimana lagi atuh?” Saya tidak tahu antara menyalahkan diri saya atau petugas parkir yang belum mampu memberikan pengamanan maksimal bagi mahasiswanya. Apalagi beberapa waktu silam saya sempat dikejutkan dengan hilangnya dua buah sepeda motor salah seorang mahasiswa. Ya. Itu sepeda motor,

Fikri Habibullah M, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, Semester III


Cerpen...

Edisi XVI/November 2011

SASTRA

10

Kutemukan Engkau di Kampus UIN Harsono*

Vin, ada bahasa yang tak pernah ku ungkapkan dalam hati baik pada siapapun. Bahkan pada Tuhan Itupun belum gagal ku jadikan bahasa di ujung lidah Serupa kalimat, mengikuti jalan takdirnya sendiri Jika kelembutan hatimu Adalah kenikmatan yang pernah ku lihat Perlihatkanlah... Baik dalam mimpi. Bahkan sampai kematianku Kata-kata Jhon, dalam catatan buku hariannya. Ditulis untuk Evin perempuan Tasik. yang baru dia kenal 3 hari yang lalu dalam lomba kepenulisan opini yang diadakan LPM Pagi meluruh riuh. Lelaki bermata hiu, bertubuh tegak, seperti kampus UIN yang kokoh, masih berdiri semampai di samping Evin. Matanya terus menatap ke wajah wanita Tasik itu yang baru saja dia kenal. Terasa tak ada sedikit keberanian dalam jiwanya. Untuk menyapa wanita yang lama duduk di kursi itu, hatinya bergetar penuh gemuruh. Mulutnya terasa kaku untuk menguraikan bahasa. Hening sejenak diselaputi bias pagi menyeluruh ke tembok-tembok kampus. Angin dingin mendesir pelan. Evin hanya diam, dan fokus pada buku yang di bacanya di atas kursi lobi. Jhon, terus melepaskan pandangannya pada wanita yang di kagumi. Matanya tanpa sedikit berkedip. Terasa ada kedamaian yang terlihat dalam dirinya. Tapi dia merasa bingung untuk memulai bertanya. Karena dia hanya kenal tiga hari yang lalu. semenjak ikut lomba kepenulisan opini yang diadakan LPM. Di situlah dia, pertama kali mengenalnya dan di situ pula dia menaruh hati dengan keyakinan yang dimiliki. Walau dia sama-sama jurusan filsafat. Tapi mereka jarang bertemu. Akibat beda kelas, sedangkan Evin kls A, dan Jhon kls B. Pulang pun tidak sama. Apalagi dengan kesibukan tugas masingmasing yang diberikan dosen disetiap mata kuliah. *** Hari semakin lengang, sedangkan kampus UIN semakin ramai de ngan datang perginya mahasiswa. tapi tak ada sedikit rasa lelah dan bosan dalam dirinya, baginya, Evin semakin lama semakin indah di pandang. Seperti bunga Rusia. Seketika senyum tipis terlihat di bibir Evin yang manis. Di sertai ledak tawa kecil dari buku yang mulai tadi dia baca dengan nikmat. Detik ini dia harus punya keberanian untuk menyapa bunga Tasik itu. “Bolehkah aku duduk di sebelahmu?” tanya Jhon sambil meme gang kursi yang kosong

“Duduk saja,” jawab dia singkat Lalu dia duduk. Kehalusan jawabannya mendatangkan seiris kebahagian menyelusup ke ruas tubuhnya. Baginya pertemuan itu bukan hal kebetulan. Tapi ditakdirkan oleh Tuhan. Dan tak dapat dibandingkan dengan apapun. Dua kali dia duduk bersama. Pertama waktu samasama ikut lomba opini di LPM. Sekarang dia duduk berduaan tak ada siapapun di kursi itu. lainya mereka berdua. “Serius bacanya. Masih ingatkah sama Aku?’’ lanjut Jhon, diiringi liris senyum tipis. Lalu Evin mengangkat kepala dan menatap pelan ke wajah Jhon. Tiba-tiba perasaan terkejut meningkahi ketenangan hatinya. Lelaki yang berada di samping nya, yang tak biasanya di situ. Apalagi dia ingat dengan puisi Jhon yang dikirimkan melalui temannya minggu yang lalu sebagai luapan hatinya. Sampai sekarang dia masih belum menjawab. Hati nya sedikit resah.... dan gelisah. “Jhon?” ucapnya gelisah “Iya, kenapa terkejut? Maaf, jika sekiranya aku menggaggu kamu,” lirisnya sambil merendah “Sedikitpun tidak. Oya, kamu tahu kapan informasi lomba?” “Lomba apa?” Jhon pura-pura lupa “Lomba opini yang diadakan LPM. Masa lupa?” “Oww, katanya satu minggu lagi” “Semoga kita juara” “ Amin!!!” Mendengar kehalusan tuturnya. Rasa dalam dirinya semakin kuat. Tuhan, juarakan dia dalam lomba ini. Aku melihat kebahagian dalam dirinya. Tuhan pintaku. Gumam Jhon sembari meminta dalam hatinya. Lalu dia membalikkan mukanya dan memandang lepas ke wajah wanita itu. Dia semakin tidak kuat dengan getaran hatinya. Tapi bukan waktu yang tepat aku utarakan perasaan ini. Kami dekat cuma tiga hari. Tapi yang aku tahu kata Gibran penyair Timur Tengah. Cinta bukan karena kedekatan dan berapa lama kenal. Tapi cinta adalah kecocokan jiwa. Dan akupun tidak terbiasa mengulur waktu. Apa lagi mengkhianati hati sendiri. Hati bagiku adalah kepercayaan. ... Kepercayaan Jhon dalam dirinya menguak. Karena dalam hidupnya dia selalu bermeditasi mengenali dirinya. Apalagi dia seorang sastrawan dengan satu karyanya mampu menaklukkan hati wanita Tasik itu. tapi sekarang dia merasa bingung. Sebab Evin bukan wanita yang gampang ditaklukkan. Sungguh....! seperti sebilah pedang yang terus mengiris hatinya. Dia semakin tidak mampu dengan permataan hatinya.

“Vin, ada satu hal yang ingin aku katakan sama kamu,” Jhon, mulai mengutarakan isi hatinya “Sesuatu apa?” tanya dia yang sudah mengerti tentang yang akan diungkapkannya “Tapi aku tidak salah kan ungkap kan ini? Ketimbang aku mengkhianati hati sendiri. Dan itulah yang salah menurutku.” “Ya, ungkapkan saja?” Sedikit Evin mengerti apa yang ingin diungkapkan Jhon. Tapi dia dengan tenang menjawab. Agar kegelisahannya tak terlihat. Sedikit wajahnya merunduk sambil melihat halaman buku. Se dangkan Jhon terus menatap. Dia ingin ucapannya meyakinkan. Dan mengungkapkan tanpa terlihat keraguan dalam dirinya. Tapi lidahnya sedikit kelu. Tubuhnya semakin bergetar seperti daun diterpa angin. “Aku......” Evin memotong kalimatnya “Ungkapkanlah... kita harus terbuka.” Rasa kagumnya tiada henti atas keberanian Evin, dalam menguraikan ucapan yang begitu singkat. Sikap yang sulit dimilki wanita lainya. “Aku menyayangimu” ungkap nya penuh serius “Apa yang kamu suka dariku?” tanya ketus “Aku mencintaimu, bukan kecantikan, bukan tubuhmu. Tapi aku mencintai kelembutan Tuhan hatimu yang kulihat” Jhon, terus meyakinkan Evin dengan ucapannya yang enak didengar. Tapi dia tidak tahu tentang jawaban yang akan diterimanya. Dia hanya pasrah menanti jawaban yang akan diterimanya. Walau akhirnya... “Masih banyak wanita yang lebih dari diriku,” lanjut Evin sedikit kasihan “Bidadari surga sekalipun turun ke negeri ini. Cintaku bukan ucapan. Tapi ini pemilihan hati,” Teguh Jhon. “Aku tak ingin dengan jawabanku membuatmu menderita,” “Tak ada penderitan, jika itu jujur. Aku harap kau menjawab nya” “Ya, aku akan menjawab sekarang. Aku juga tidak terbiasa mengulur waktu dengan jawaban. Yang sekiranya jawaban itu tidak berubah,” kemudian Evin menarik nafas dalam-dalam lalu melanjutkan ucapannya “Jhon, sebelumnya maaf. Bukan niat menyakiti hatimu. Tapi aku sudah punya suami. Waktu liburan kemarin nikah siri. Dan itupun tidak ada yang tahu. Cuma kamu saat ini. Sekali maaf.” “Terima kasih atas kejujuranmu. Aku bangga,” Jhon, dengan bangga menerimanya walau hatinya dipenuhi rasa sedih Rasa kasihan yang terlihat di wajah Evin terhadap Jhon, tak

dapat ditabiri dari kebohongan. Tapi apa boleh buat jika telah tejadi. Sedangkan dalam hatinya bagai digores sebilah pedang begitu sakit. Dan pedih, disaat keyakinan hatinya ada dalam takdir yang selalu sangsi atas pengetahuannya keinginanya. Dia hanya terdiam dengan mata yang sedikit ke bawah. Tak ada pilihan lain baginya . melainkan sabar dan mengikhlaskan semuanya... *Tuhan, aku bangga dan ba-

Puisi...

hagia dengan semua keterbaikan yang kau berikan padaku saat ini. tapi apakah aku selamanya digariskan pada takdir yang hanya bisa melihat? Dan akhir tidak bisa memiliki? tanya Jhon, pada Tuhan diakhir cerita. Jakarta, 2011 *Mahasiswa semester III Jurusan Aqidah Filsafat. Aktif di Poros Senja kala, (Pemuda Sastra Kampus Uin) sekaligus aktivis PIUS.

Surat Untuk Presiden Afrian Rahardyan*

Presiden yang seksi dan baik hati. Aku hendak mengatakan sesuatu. Cukuplah kita berdua yang tahu. Semoga engkau mendengar semua kata-kataku. Meski akhirnya harus kura-kura dalam perahu. Jadi begini lho pak enam puluh enam tahun negeri ini merdeka tapi kenapa kok wujudnya begini-begini saja? Serasa badan tak punya nyawa. Semakin hari, semakin mati gaya. Presiden yang seksi dan baik hati. Aku hendak menceritakan sesuatu. Tapi kuyakin orang-orang juga akan tahu kalau negeri ini dilanda kisah sedih di hari Minggu. Aku yakin engkau pun mendadak jadi gagu. Kenapa kok bisa begitu ? Entahlah. Semua orang pun langsung membatu. Hingga sekarang masih tetap tidak menentu. Mungkin karena banyak orang yang belagu. Serta hidupnya selalu diperbudak hawa nafsu. Jadi akhirnya malah tak maju-maju. Presiden yang seksi dan baik hati. Sulit negeri ini melakukan revolusi. Dalihnya bernaung dalam demokrasi. Tapi omongannya tak jauh dari rentetan basa-basi. Nyerempet-nyerempet malah jadi bahan kontroversi. Ujung-ujungnya cuma sekedar mencari sensasi. Ah, ini sama saja kayak beruang di sangkar besi. Hidup terkurung tanpa inovasi. Presiden yang seksi dan baik hati. Suaraku sudah cukup serak. Setiap hari diriku selalu berteriak. Tentang negeri yang hampir berkerak. Katanya kaya, tapi kemiskinannya yang semarak. Mungkin ini bukanlah alunan suara harpa. Atau petuah bijak dari para pertapa. Namun pastinya, diriku janganlah dipenjara. Jangan didenda atau hukuman lainnya. Sebab aku hanya rakyat jelata yang cuma punya pertolongan Allah semata dan segalon linangan air mata. *Penulis adalah Mahasiswa FIDKOM, semester III


Edisi XVI/November 2011

SENI BUDAYA

11

Karna dalam Monolog Rahmat Kamaruddin “…Ada yang tak dapat disingkirkan dari tangis setiap anak , juga dari seorang bayi yang tak diakui… dengan suara bergetar aku katakan kepadanya apa yang aku duga…” Kunthi, ibu kandung Karna, dalam monolognya, batinnya pilu menghikayatkan perjumpaannya dengan sang buah hati yang dahulu ia buang ke sungai. Kunthi melakukan itu demi menutupi buah perselingkuhannya dengan salah seorang pangeran sebelum dinikahi ayah para pangeran Pandawa. Karna diasuh oleh Radha, istri seorang kusir yang menjadi ibu angkatnya, hingga tumbuh besar. Ia menjadi seorang kesatria tangguh setelah belajar dari Parasurama. Kemudian Karna menjadi Adipati orang-orang Kurawa. Dalam lakon yang ditulis oleh Goenawan Mohamad ini, Karna adalah tokoh yang disisihkan dari kasta-kasta yang ada. Meskipun dalam wayang kulit, ia berperang di pihak Kurawa, sebenarnya Karna adalah anak Kunthi, permaisuri dan ibu dari kelima pangeran Pandawa. Penampilan teater ini menampilkan monolog empat orang terdekat Karna yang dikiriminya surat sebelum ia tewas dalam pertempuran. Mereka adalah Sitok Srengenge (Karna), Niniek L. Karim (Kunthi), Sita Nursanti (Radha), Whani Darmawan (Parasurama), dan Putri Ayudya (Surtikanti, istri Karna). Teater Monolog Karna

yang berdurasi sekitar dua jam ini dibawakan melalui perspektif keempat tokoh itu atas ingatan mereka pada Karna. Parasurama, guru Karna, tersentak atas kedatangan surat Karna tersebut. Ia larut bermonolog dalam nostalgia mengenang sosok muridnya itu yang dahulu ia usir. Karna menyerap semua ilmu Parasurama kecuali satu mantera ajaib. Parasurama adalah guru yang senantiasa mempertanyakan tingkatan status kelahiran dan kasta orang yang ingin belajar padanya. Ia mengusir Karna sebab dia menganggap Karna telah membohongi dirinya berkasta Brahma. “Guru, terus terang hamba memang berdusta, tapi hanya dalam satu perkara dan bukan perkara lain. Dusta demi kebenaran. Tapi hamba tidak mengerti, kebenaran apa yang hamba tutupi jika tuan mengatakan hamba seorang kesatria. Hamba bukan kesatria, tahukah tuan dari mana hamba lahir? Tuan tidak tahu. Hamba juga. Kelahiran adalah pengalaman yang sendiri. Tapi tuan dan masyarakat tuan menetapkan bahwa tidak ada yang sendiri,” Parasurama dalam monolognya mengutip perkataan Karna beberapa saat sebelum ia mengusirnya. Pada saat berusia delapan tahun, dalam monolog Radha ibu angkatnya, Karna telah pandai

FOTO:WITJAK/SALIHARA

Surtikanti (depan) bermonolog meratap sembari membaca surat terakhir dari suaminya, Adipati Kurawa Karna (belakang). Pada pementasan teater ‘Karna’ di gedung teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (18/11).

membuat busur panah. Ia memiliki keberanian melampaui anak seusianya. Ia tak pernah gentar menghadapi siapapun yang menentangnya bahkan terhadap orang yang lebih besar darinya. Meski demikian ia juga anak yang tekun dalam belajar aksara dari kakek tua yang tinggal di ujung desa. Darinya, Karna banyak mendengar cerita-cerita para kesatria . “Para ksatria itu, Bu,” ujarnya kepadaku, “adalah makhluk sempurna,” Radha berli-

nang dalam monolognya. Bagian yang menceritakan keberanian Karna dalam monolog Kunthi yaitu pada saat menghadapi para pangeran Pandawa dalam sebuah pertandingan, “Tuan-tuan melindungi diri dengan kasta dan kemahiran. Tuantuan punya dua perisai, sedangkan saya hanya satu. Hanya kemahiran saya. Sekarang tuan-tuan bisa menilai sendiri siapa diantara kita yang berani bertanding.” Monolog ini adalah sebuah

lakon yang menafsirkan dan menciptakan kembali satu bagian tragis dari Bharatayudha, perang saudara antara para Kurawa dan Pandawa. Karna sendiri adalah seorang yang selamanya “lain”, yang menemukan harkatnya dari perang dan kematian. Ibarat “nol”, Karna bukanlah apa-apa, sehingga ia bisa menjadi apa saja. Karna adalah kisah tentang identitas seseorang atau ketiadaan identitas itu sendiri.

(Komus) melakukan kerja bakti, seperti menyapu, mengepel, mencuci mukena, hingga menggalang dana untuk pembelian fasilitas musala. Kegiatan- kegiatan itu dikerjakan tanpa pamrih. Lebih dari itu, Komus secara berkesinambungan mengadakan bakti sosial untuk orang- orang yang kekurangan secara finansial. “Senang bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain,”kata Fiqi, Ketua Komus sambil tersenyum (8/10). Tak seperti kebanyakan organisasi lain, Komus kurang diminati mahasiswa. Kerjanya yang dianggap ringan hanya diapresiasi seadanya. Regenerasi pun tersendat. “Mind set mahasiswa harusnya dirubah. Fasilitas kampus ini kan milik kita (mahasiswa, red) bersama. Jadi mahasiswa juga yang harus merawatnya. Apalagi

berhubungan dengan tempat ibadah. Jangan mentang-mentang ada petugas kebersihan, lantas cuek,” tutur Fiqi lagi. Muhammad SPS, mahasiswa Akuntansi semester V sekaligus angggota Komus bertutur, “Saya nggak mau Komus vakum. Tetap akan dijalankan, membangun memang susah, untuk meneruskan juga lebih susah, mudahmudahan masih ada yang mau bergabung dengan kita, untuk menciptakan tempat ibadah yang layak.” Apresiasi pun dilontarkan oleh Herni Ali, pudek kemahasiswaan. “Kita (pihak fakultas, red) sebagai penasihat sangat mendukung kreatifitas mahasiswa yang tidak hanya mengejar keduniaan dan kita memberikan support secara spiritual,” katanya sambil menyunggingkan senyuman (17/8).

Komunitas...

Jejak Para Pencinta Musala Aam Mariyamah

Komus, Komunitas mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap kebersihan musala

Berangkat dari rasa prihatin melihat kondisi tempat ibadah yang terbengkalai, Fiqi Fatullah dan tiga rekannya membentuk komunitas yang

kini akrab dipanggil Komus (Komunitas Mahasiswa untuk Musala). Jejak Komus merupakan sebuah gebrakan bagi mahasiswa UIN Jakarta agar

lebih mencintai tempat ibadah. Ketiga rekan lainnya adalah Geralz Abadi Putra, Yudi Pariyanto, dan Maharya Adhilaiksa. Mereka merupakan mahasiswa nonreguler Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang samasama mempunyai impian serupa, yaitu membangun musala yang mandiri. Mimpi pun terwujud, sejak 2009 silam, musala yang terletak di basement gedung FEB sedikit demi sedikit mulai dibenahi. Berbagai fasilitas seperti karpet, sajadah, kipas angin, hijab, dan alat solat lainnya telah disediakan dan yang paling penting adalah musala itu kini bersih dan layak digunakan. Semua itu terwujud dari kerja keras mahasiswa-mahasiswa tersebut dengan dibantu tujuh mahasiswa sukarelawan lainnya. Setiap Sabtu dan Minggu mereka


Edisi XVI/November 2011

SOSOK

12 l

Telusuri Sejarah Lambang Negara FOTO:DOK. PRIBADI

Rahmat Kamaruddin

Firman Faturohman (kanan) bersama Max Yusuf Al Kadrie asisten pribadi Almarhum Sultan Hamid II Al Kadrie, saat melakukan wawancara di kediamannya di jalan Jeruk Purut, Jakarta Selatan (4/6)

Tak banyak orang tahu siapa pembuat lambang Negara Republik Indonesia. Berbeda dengan simbol Negara lainnya, seperti bendera Merah Putih, lagu Indonesia Raya, orang Indonesia telah banyak tahu sejarah dan pembuatnya. Berangkat dari rasa penasaran siapa sang pembuat lambang Negara Indonesia, Firman Faturohman terinspirasi melaku-

kan penelitian tentang lambang Burung Garuda Pancasila tersebut. Banyaknya orang yang tak tahu tentang sejarah lambang Negara ini menurutnya adalah sebuah ironi. Dengan mengusung karya tulis berjudul “Sultan Hamid II Al Kadrie, Pembuat Lambang Pemersatu Bangsa”, Mahasiswa kelahiran Majalengka, 9

Agustus 1992 tersebut pada September lalu berhasil mengibarkan bendera UIN di kancah nasional sebagai kategori karya terbaik 10 besar pada Lomba Karya Tulis Sejarah (LKTS) tingkat mahasiswa. “Hal ini jarang diketahui oleh orang ba-nyak, bahkan kadang terlupakan oleh para akademisi dan pemerhati sejarah,” tutur mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora, Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri Jakarta ini. Lomba tersebut diselenggarakan tiga instansi pemerintah yakni Direktorat Nilai Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, di Sulawesi Tengah, Palu, 9-15 September 2011. Kegiatan ini berlangsung dalam rangka Pekan Nasional Cinta Sejarah (PENTAS). “Alhamdulillah, ada sekitar 137 peserta dari berbagai universitas di Indonesia, aku nggak nyangka masuk 10 besar, rasa syukur juga bisa ke Palu, Sulawesi Tengah, atas undangan Kemenbudpar mengikuti dialog interaktif kesejarahan beserta para mahasiwa pemenang lainnya ,” tutur salah satu anggota volly unit kegiatan mahasiswa Forsa (Federasi Olahraga Mahasiswa) tersebut . Meski dalam proses membuat karya tersebut dirinya menghadapi berbagai kendala, berkat usaha keras dan dorongan orang-orang terdekat ia berhasil menye-

lesaikan karya ilmiahnya dalam satu bulan. “Pas ngebuatnya bertepatan UAS, mana di Forsa juga lagi sibuk, terus orang tua waktu itu lagi sakit, mau dioperasi,” tuturnya. Ketika berkumpul dengan mahasiswa lainnya di Palu, ia mengaku sempat grogi. Setelah beberapa waktu akhirnya ia bisa akrab dan beradaptasi. “Maklum, saat itu aku masih semester dua, yang lainnya udah pada semester akhir,” ujarnya. CINTA SEJARAH Sejak kecil Firman mencintai pelajaran sejarah. Meski saat SMA berada di jurusan IPA, tapi pada saat mendaftar kuliah ia meneruskan minatnya di bidang sejarah. Padahal ia pernah menjadi finalis terbaik ke enam saat mewakili Propinsi Banten pada perlombaan pelajaran IPA tingkat propinsi di Jakarta. “Guru SMA saya banyak yang nyayangin masuk jurusan sejarah, ” kenang mahasiswa semester tiga ini. Baginya, ilmu sejarah sangatlah penting. Selain memperkaya wawasan, mempelajari sejarah dapat mempersatukan sebuah bangsa . “Sejarah itu sangat penting bagi kehidupan, salah satu faktor pentingnya sejarah adalah bisa mempersatukan bangsa,” ujar pengagum Presiden Soekarno ini. Dia mengatakan, sejarah juga bisa menjadi sumber motivasi. Kelak, ia ingin menjadi peneliti sejarah.


WAWANCARA

Edisi XVI/November 2011

Muji Hastuti

U

IN Syarif Hidayatullah setiap tahunnya selalu mendapatkan dana penelitian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Badan Layanan Umum (BLU). Namun, nyatanya berdasarkan data yang didapat dari Lembaga Penelitian (lemlit), anggaran DIPA APBN hanya cukup mendanai 48 dosen untuk melakukan penelitian. Berapakah alokasi dana yang dikeluarkan untuk setiap penelitian? Apa upaya lemlit untuk menutupi kekurangan dana? Berikut petikan wawancara Muji Hastuti, reporter INSTITUT (9/11) dengan Jajad Burhanuddin, Ketua Lemlit UIN di ruangannya. Dari mana sumber dana penelitian? Sumber dana penelitian itu ada dua. Pertama dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yaitu sumber dana dari pemerintah. Kemudian, yang kedua dari Badan Layanan Umum (BLU) yang bersumber dari masyarakat atau mahasiswa.

“Beda dengan UI dan IPB, mereka memiliki dana yang lebih dari UIN. Itu karena mereka memiliki banyak sumber dana, sedangkan kita kekurangan sumber�

FOTO: MUJI/INSTITUT

Anggaran Dana Penelitian Perlu Ditingkatkan

13

Jajad Burhanuddin, Ketua Lembaga Penelitian

sumber dana, sedangkan kita kekurangan sumber.

55,5 juta per judul. Berapa anggaran dana penelitian? Bervariasi, kalau dari APBN ada yang dua miliar atau dua setengah miliar. Kalau dari BLU tergantung jumlah mahasiswanya. Tapi untuk tahun ini masing-masing dari APBN dan BLU mendapatkan satu miliar, jadi jumlah secara keseluruhan dua miliar. Bagaimana proses pembagian dana penelitian? Sebenarnya untuk dana penelitian itu terbagi empat. Yang pertama penelitian individu. Penelitian yang berdasarkan perorangan itu mendapat 10 juta per judul. Kedua, untuk penelitian kolektif, peneliti yang jumlahnya lebih dari satu orang itu mendapat 25 juta per judul. Ketiga, penelitian kompetitif, sifatnya lebih banyak untuk penguatan keilmuan, itu sebesar 75 juta per judul. Dan keempat, untuk penelitian institusional. Penelitian itu dirancang untuk memperdayakan sejumlah institusi yang ada di UIN sebesar

Apakah empat jenis penelitian itu sudah berjalan? Ya, itu sudah berjalan lama. Dan saya yang merumuskan itu. Tinggal bagaimana semua itu bisa menghasilkan penelitianpenelitian yang lebih berkualitas. Kemana alokasi dana penelitian? Alokasinya hanya untuk dosen-dosen yang meneliti saja. Jadi, dosen yang mengajukan proposal kita seleksi, kemudian yang terpilih itulah yang akan kita danai. Apakah dana penelitian kurang? Iya, idealnya dana penelitian itu lima persen dari dana UIN secara keseluruhan, jadi jika dana UIN mendapat 500 juta, maka idealnya dana penelitian mendapatkan lima persen dari 500 juta itu. Beda dengan UI dan IPB, mereka memiliki dana yang lebih dari UIN. Itu karena mereka memiliki banyak

Kalau dana penelitian kurang, apakah penelitian tetap berjalan? Masih tetap berjalan, hanya saja belum bisa memberikan dana untuk semua dosen dalam penelitian. Padahal idealnya semua dosen harus melakukan penelitian. Itu kinerja mereka sebagai dosen, tapi selama ini karena dana kita terbatas, jadi kita tidak bisa memberikan dana yang sesuai. Bagaimana cara menanggulangi kekurangan dana? Mungkin dengan memperbanyak risetriset yang lain atau sumber pendanaan yang lain. Selain itu, memaksimalkan saja apa yang ada, agar kualitas penelitiannya bisa lebih baik. Karena kalau baik pasti akan menghasilkan sesuatu untuk lembaga lemlit. Jadi, kita beranjak dari situ saja. Link juga diusahakan dan semoga saja berhasil.

Baca!

Cp: 087884907104


Edisi XVI/November 2011

KESEHATAN

14

Trend Kawat Gigi untuk ‘Fashion’ FOTO: KASKUS.US

Gustaaf Kusno*

Ada masa di waktu lampau di mana mengenakan kawat gigi dianggap sebagai ‘bencana’ atau ‘stigma’ yang membuat rasa minder para remaja. Mereka menjadi sasaran ejekan temantemannya dengan sebutan ‘mulut besi’ (metal mouth) atau ’senyum kaleng’ (tin grin). Tapi itu dulu. Dewasa ini khususnya di kawasan negara-negara Asia (Thailand,

China dan juga Indonesia) behel atau kawat gigi dianggap sebagai bagian dari fashion yang trendy. Remaja-remaja dengan bangganya memamerkan senyumnya yang bertaburan kawat warna-warni (seperti pelangi) yang bahkan bisa diganti-ganti supaya matching dengan warna busana yang dikenakannya. Inilah yang dinamakan dengan fashion braces (kawat gigi

untuk gaya) yang merebak tanpa kontrol di antara kawula muda. Sejatinya kita mengenakan dental braces atau alat orthodonsi, kalau memang ada indikasi untuk tindakan itu, misalnya adanya susunan gigi yang tidak rata dan bertumpuk (crowded) dan pengerjaan kawat gigi ini juga hanya boleh dilakukan oleh dokter gigi yang berkompetensi. Namun yang terjadi karena lemahnya kontrol dari departemen kesehatan, kini bahkan salon-salon kecantikan tanpa rikuh dengan iklan besar menawarkan pemasangan kawat gigi ini. Tarif yang ditarik tentunya jauh lebih murah dibandingkan kalau dilakukan di ruang praktek dokter gigi. Bahkan di Thailand juga sudah dipasarkan kawat gigi yang bisa dipasang sendiri dan bisa dikirim lewat paket (mail delivery). Amankah fashion braces ini? Kalau kita menelaah mekanisme kerja kawat gigi di mana dilakukan tarikan pada gigi-geligi secara berkelanjutan, maka pertamatama efek negatif dari pemakai yang susunan giginya tidak bermasalah adalah pergeseran gigi yang tidak terkontrol. Kedua,

tenaga tarikan ‘behel’ ini sebetulnya menyebabkan rasa sakit yang cukup menyiksa, sehingga saya cukup heran banyak remaja yang rela menahan sakit demi untuk tampil gaya atau nampak cool. Efek negatif lainnya karena pemasangan kawat gigi dilakukan oleh tenaga yang tidak berkompeten, maka sejumlah gangguan kesehatan dapat mendera si pemakainya. Di Thailand tahun yang lalu, dua orang remaja wanita meninggal dunia karena mengenakan fashion braces ini. Kawat yang dipasang secara ilegal ini menyebabkan infeksi thyroid dan berlanjut dengan serangan jantung. Pihak departemen kesehatan Thailand sebetulnya sudah memberikan peringatan akan bahaya pemakaian fashion braces ini seperti sariawan, luka pada bibir dalam, keracunan timbal (dari bahan kawat) dan gangguan syaraf dan tertelannya bagian kawat gigi yang tidak dipasang secara profesional. Namun peringatan yang sudah dilansir lima tahun berselang nampaknya tidak menyurutkan semangat remaja ABG untuk memasang kawat gigi untuk gaya ini.

We just think they’re cute. Nice and cute, kata seorang remaja wanita Thailand. Kegandrungan fashion braces ini selain dipengaruhi oleh para selebriti yang ramai-ramai memamerkan ‘senyum kawat gigi’, juga karena gencarnya pemasaran ‘behel’ tiruan yang bisa dipesan melalui pos dengan harga yang cukup murah. Untuk behel tiruan satu sisi rahang dipatok 24 dollar sedangkan untuk rahang atas dan bawah dibandrol 45 dollar. Ini tentunya jauh dari ‘tarif ’ perawatan ortodonsi dari dokter gigi yang berkisar sekitar 1.200 dollar di Thailand. Terlepas dari kecenderungan mode remaja memakai fashion braces pemerintah kiranya perlu mengambil tindakan dan penertiban dari alat kesehatan ini, karena bagaimana pun kesehatan tidak boleh dicampur adukkan dengan fashion. *Penulis adalah penggiat Blog kompasiana

Kata Ahli... Kata Ahli...

Konsultasi Kecantikan Dokter Angel dr Angela W, Dipl. CIBTAC (Cosmetologist)

Rubrik ini bekerjasama dengan klinik Angel Rubrik ini bekerjasama dengan klinik Angel

Surat Pembaca Rubrik konsultasi Dok, perawatan apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan lemak dibagian perut, paha dan tangan saya. Padahal sebenarnya saya tidak gemuk, karena bagian perut, paha dan tangan saya penuh lemak sehingga bentuk badan saya tidak proporsional dan terlihat aneh. Bagaimana cara menghilngkan lemak di bagian-bagian tertentu dok, agar badan kita jadi bagus? Terimakasih (Rafika, Tarbiyah) Dear Rafika, Penumpukan lemak dapat terjadi karena kurang olah raga atau kurangnya gerakan di bagian tubuh tertentu, biasanya pada daerah perut, pinggang, lengan atas dan paha. Untuk mengatasinya dapat di-

lakukan dengan cara alamiah atau dengan obat/tindakan penghancuran lemak. Cara alamiah yaitu dengan aktivitas yang cukup untuk membakar lemak pada daerah tersebut, misalnya dengan olahraga aerobik, jogging, bersepeda, berenang, maupun angkat beban. Terdapat pula berbagai obatobatan yang diketahui berperan dalam membantu pembakaran lemak tubuh, serta tindakan penghancuran lemak di bagian tubuh yang diinginkan yaitu dengan mesotherapy, liposuction, dan lain-lain, yang tentunya mesti dikonsultasikan terlebih dahulu dan dilakukan oleh dokter yang kompeten di bidang tersebut. Dok, saya punya problem dengan jerawat. Terkadang kulit saya bisa sangat bersih, tetapi juga bisa berjera-

wat ,sampai ada jerawa batunya. Dan bekasnya itu sulit sekali dihilangkan, bahkan bagian kulit saya terlihat bopeng, sehingga warna kulit muka saya tidak merata karena ada bekas noda jerawat. Ada apa dengan kulit sayadok? Bagaimana cara mengatasinya? Terimakasih (Rosiana, FISIP) Dear Rosiana, Penyebab timbulnya jerawat bersifat multifaktorial. Sehingga kita mesti melakukan berbagai pendekatan untuk mengatasi dan mencari penyebabnya. Mulai dari faktor genetik, hormonal, lifestyle, obat-obatan, kosmetik, dan psikis. Biasanya penyebab tersering adalah lifestyle yang kurang sehat seperti kurang istirahat, kurang menjaga kebersihan kulit, ataupun mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Di samping menghindari kebi-

asaan yang dapat mencetuskan munculnya jerawat, perlu dilakukan perawatan seperti facial khusus untuk jerawat, dan penggunaan obat-obatan yang dapat menekan timbulnya jerawat serta mengatasi peradangan. Setelah masalah jerawat teratasi barulah dilakukan perawatan untuk mengatasi bekas yang ditinggalkan. Perawatan dapat sederhana seperti menggunakan krim untuk menghilangkan pigmentasi pasca peradangan/acne. Dapat pula berupa perawatan lanjutan untuk mengoreksi luka parut bekas jerawat yang dapat dilakukan dengan dermabrasi, dermaroller, mesotherapy, dan lain-lain. Untuk memilih jenis perawatan yang tepat sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter Anda.


Edisi XVI/November 2011

Pahlawan

16

TUSTEL Foto Oleh:

M. Iqbal Ichsan Kalacitra Karnaval dalam memperingati hari kemerdekaan tahun ini, di Kecamatan Poncokusumo Malang Jawa Timur

Kirim foto Anda ke lpm.institut@yahoo. com untuk dipamerkan di rubrik Tustel, foto dalam format JPEG beserta narasinya. Tema tustel untuk tabloid selanjutnya adalah ‘Galau’.


Tabloid INSTITUT Edisi 16