Issuu on Google+

Edisi VII/ Januari/ 2012-Terbit Dwi Mingguan

1. LAKONIK redaksi_lakonik@yahoo.com

LAKONIK

TRIBUT

J A N G A N

C U K U P

H A N Y A

M E M B A C A !

PERAYAAN Esai ini sebagai kado awal tahun untuk orang yang selalu membaca Tepat jam 12 malam, petasan dan kembang api tak henti dinyalakan. Suara ledakan menyatu dengan tawa dan omongan orang-orang. Percikan api dengan warna yang tak serupa menyala di langit malam. Gemuruh manusia melepas tahun yang lalu, dan menyambut tahun baru. Ini merupakan salah satu gambaran yang jamak kita temukan di belahan dunia manapun, tanpa terkecuali Indonesia. Di Indonesia, Bukan hanya hari ini, tanggal 1 januari, akan tetapi di hari-hari lain yang memiliki arti penting, seperti Idul Fitri, Natal, Hari Pahlwan, Hari Sumpah Pemuda, dan hari kemerdekaan. Tetapi itu semua hanya sekedar perayaan; saat kita bersorak gembira dan bangga, tetapi kita melupakan resolusi ke depan tentang apa yang memang seharusnya kita lakukan. Pada 17 Agustus, kita bersama memperingati perayaan yang sakral bagi Indonesia, dimana kita hanyut menuju masa lalu. Menengok kembali perjuangan yang tak henti di kobarkan para pahlawan kita menuju kemerdekaan. Seolah kita berada di sana, saat Bung Karno membacakan teks proklamasi Indonesia. Seolah kita melihat ribuan tangis rakyat Indonesia saat bendera merah putih dikibarkan. Kita mungkin menangis di sana bersama orang-orang yeng berdiri tegak menatap bendera merah putih. Tapi sete-

lah itu, setelah hari berganti, apa yang seharusnya kita lakukan sebagai penerus perjuangan bangsa Indonesia seolah terlupakan. Perjuangan telah terputus dan rakyat tetap menderita. Lilin perjuangan menyala pada waktu itu, tetapi mati ketika berjumpa hari berikutnya. Mungkin sekadar merayakan sudah sangat cukup sehingga kita membiarkan hari-hari selanjutnya berjalan biasa saja. Mungkin kita terjebak pada kata perayaan sehingga kita lupa apa yang harus kita jalani setelahnya. Sekarang, apakah mungkin tahun baru ini akan seperti perayaan yang lainnya? Tanpa menafikan bahwa sesekali kita harus mengingat titah Nabi Muhammad, "Barang siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung." Setelah dibuai oleh gempita perayaan tahun baru, mungkin sekarang sudah saatnya kita memikirkan langkah apa yang harus kita jalani untuk setahun ke depan. Kita perlu diam sejenak dan berpikir, yang kita perlukan adalah resolusi. Mungkin untuk saat ini jeda adalah jalan yang tepat sembari mengingat apa saja yang kurang dari tahun lalu dan memikirkan serta merencanakan langkah ke depan untuk kebaikan esok. Redaktur LAKONIK

LAKONIK digital dan artikel lengkap dari Komunitas Warta UIN Jakarta dapat dilihat dan diunduh di:

JANGAN CUKUP HANYA MEMBACA!


Edisi VII/ Januari/ 2012-Terbit Dwi Mingguan

2.

LAKONIK

Esai Yang Marginal dalam Sastra Marginal atau pinggiran adalah kata yang selalu diperbandingkan dengan suatu posisi yang lain. Apabila marginal berarti “pinggir” maka ia dapat diperbandingkan dengan “tengah”. “Pinggir” adalah posisi tersisih dari pusat yang berada di “tengah”. Dalam konteks kesusastraan, “tengah” dapat dilihat sebagai karya yang menjadi pusat kajian atau bahkan kritik—kita sebut saja seperti itu, dan “pinggir” berarti karya yang dianggap tidak menjadi bahan kajian dan kritik karena alasan-alasan tertentu. Namun, bukan berarti yang “pinggir” tersebut tidak layak untuk dijadikan bahan kajian atau kritik, setidaknya kita bisa mengetahui mengapa karya tersebut bisa terpinggrikan. Sastra marginal dapat dilihat setidaknya dari dua tataran; tataran sosiologis dan tataran ide. Pada tataran sosiologis, sebuah karya atau kegiatan bersastra berada pada posisi yang terpinggirkan secara sosiologis dan politis dalam peta kesusastraan dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan pada tataran ide, sebuah karya dapat terpinggirkan karena posisi pemikiran atau wawasan yang ada dalam karya tersebut mengkritisi pemikiran yang dominan atau berada pada posisi “tengah”. Dari dua tataran tersebut kita dapat melihat sebuah karya menempati posisi “pinggir” dan tidak diperhitungkan sebab karya tersebut dianggap tidak memiliki mutu yang baik, tidak mengikuti tradisi kesusastraan yang berlaku, melanggar tabu sosial, dan ideologi yang mendasari karya tidak sesuai dengan ideologi dominan yang berlaku. Sifat marginalitas dalam kesusastraan tidak bersifat mutlak, melainkan lebih bersifat temporal atau historikal. Suatu karya sastra dapat dianggap marginal pada satu waktu dan dapat menempati posisi “tengah” di waktu yang lain. Hal ini antara lain ditentukan oleh faktor apresiasi dan kritik yang banyak dilakukan oleh para akademisi— sehingga para akademisi sering dianggap sebagai hakim kebudayaan. Salah satu contoh, dalam kesusastraan Amerika nama penyair Emily Dickinson dan karyanya tidak banyak mendapatkan kritik dan diperbincangkan oleh para pengamat dan kritikus sastra saat dia masih hidup, tetapi karya-karyanya banyak mendapatkan perhatian dari para kritikus setelah dia meninggal. Hal ini menandakan bahwa ternyata sifat marginalitas dalam sastra bersifat temporal. Di suatu masa ia dianggap “pinggiran” karena dianggap tidak sesuai dengan konvensi yang berlaku di masa itu, namun di masa yang lain ia mempunyai posisi di “tengah”. Begitu pula sebaliknya, pertukaran posisi “pinggir” dan “tengah” dapat juga ditentukan oleh para akademisi. Karya sastra yang telah dikaji dan dikritisi di ruang kuliah seolah telah mendapat label sastra kanon, sehingga karya yang tidak mempunyai kesempatan untuk dikaji di ruang kuliah seolah mendapatkan label sastra pop. Berkembangnya ilmu kajian dan kritik sastra di dunia akademis berkontribusi dalam pertukaran posisi ini. Karya sastra pop yang dahulu tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk dikaji sekarang

mulai diperbincangkan di dalam ruang kelas. Hal ini terjadi karena adanya paradigma bahwa setiap karya sastra selalu mengandung ideologi di dalamnya, dan ini tidak terkecuali pada karya sastra pop. Faktor lembaga kesusastraan atau kebudayaan yang dapat mengukuhkan sebuah “nilai” kesusastraan merupakan faktor lain yang memegang peranan penting dalam penentuan posisi ini. Selain itu, faktor ideologi yang ada dalam lembaga kesusastraan dapat juga dilihat sebagai faktor lain yang mempengaruhi posisi sebuah karya. Dalam konteks kesusastraan Indonesia kita dapat melihat lembaga-lembaga yang pernah berseteru dalam ranah kebudayaan pernah berposisi di “tengah” di suatu masa, dan berposisi di “pinggir” dimasa yang lain. Karya sastra yang pernah mendapatkan penilaian dari lembaga-lembaga ini ikut bertukar posisi seperti lembaga-lembaga itu sendiri. Pada masa Orde Baru karya-karya sastra yang dihasilkan oleh para penulis yang terhimpun dalam LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) harus rela termarginalkan karena dianggap mengandung ideologi yang tidak sejalan dengan ideologi dominan pada saat itu. Bukan hanya tidak mendapatkan apresiasi, bahkan tidak diizinkan untuk terbit dan dibaca oleh khalayak. Sastra marginal yang di Indonesia pernah menjadi perbincangan hangat di tahun 1994 cukup membuat kita bertanya tentang apa atau bagaimana sastra marginal itu. Terbitnya Revitalisasi Sastra Pedalaman adalah salah satu tonggak dari mencuatnya isu ini. Tidak kurang dari Nirwan Dewanto dan Radhar Panca Dahana turut serta meramaikan perdebatan ini lewat tulisan-tulisan mereka diberbagai media. Ini menandakan wacana sastra marginal benar-benar hadir dan mendapat respon dari para pengamat sastra. Faktor sosiologis dan ide cukup membuat sebuah karya diposisikan pada tempat yang diuntungkan atau dirugikan. Kenyataan seperti ini membuat kita sadar bahwa keadaan atau kondisi di luar karya dapat mempengaruhi pemosisian sebuah karya dalam dunia kesusastraan. Namun, karena wacana marginalitas dalam dunia kesusastraan bersifat temporal maka selalu ada peluang bagi setiap karya sastra yang lahir untuk menempati posisi di “pinggir” atau di “tengah”.

Akhmad Zakky

Penggiat Majelis Kantiniyah

JANGAN CUKUP HANYA MEMBACA!


Edisi VII/ Januari/ 2012-Terbit Dwi Mingguan

3.

LAKONIK

Esai Makna atau Kata? Unik memang jika kita membayangkan sebuah kata yang harus dipisahkan dari maknanya. Mendengar pernyatan Sutardji Calzoum Bachri dalam Kredo Puisinya bahwa “kata harus dibebaskan dari beban makna” membuat kita akan berfikir cukup keras bagaimana sebuah kata hidup layaknya yatim piatu. Namun pernyataan ini merupakan sebuah inovasi cerdas bagi sejarah sastra Indonesia sekaligus solusi yang apik bagi keadaan politik di zaman itu. Bagaimana pada tahun 1960-an kata dibuat tergopohgopoh di tengah panasnya aspal politik. Sebuah kata mejadi “boneka” para politikus untuk membuat slogan-slogan politik. Menjadikan kata seperti bantal-bantal mimpi Amerika. Atas kejenuhan tersebut, Sutardji Calzoum Bachri hadir dengan “kapak” katanya. Kata adalah pengertian itu sendiri, bukan sebuah pengertian yang dipasak oleh keadaan. Kita tidak harus menggunakan kursi sebagai tempat duduk, namun kita merdekakan kursi dengan menggunakannya sebagai alat pijakan, sebagai pembatas jalan dan bisa pula alat untuk melempar anjing.

Namun tidak semua orang berpendapat sama dalam menanggapi Kredo Puisi Sutarji. Pada hakikatnya semua itu sulit untuk diterima masyarakat, Kekhawatiran para kaum intelektual akan terjadinya pergeseran dalam tata baku bahasa Indonesia karena pandangan kemestian makna pada sebuah kata. Selain itu, secara logika; ketika kata sudah dilepasbebaskan dari makna, ketika kamus tak lagi diperlukan dan justru dianggap belenggu, lalu untuk apa lagi ada pelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum pendidikan. Tanggapan “mereka” yang menuduh Kredo Puisi Sutardji berpotensi membunuh bahasa hanya karena makna, itu hal yang berlebihan. Penyempitan pengertian makna yang dilakukan “mereka” membuat mereka terjebak dalam satu pengertian. Semua hanya dilihat melalui konstruksi denotatif, sehingga mengesampingkan konstruksi konotatifnya. Sutardji menciptakan diksi dari pemikiran yang mendalam sehingga kata-kata yang lahir menjadi begitu padat, kata tidak hanya berpegang pada makna tekstual belaka, melainkan juga den-

gan sisi-sisi lain seperti bunyi, tipografi, pilihan kata dan sebagainya. Puisi-puisi Sutardji lebih diidentikan dengan puisi bunyi, pelepasan morfem yang membuat kata-kata begitu rumit dipahami dan menawarkan berbagai potensi. Sehingga menimbulkan begitu banyak kemungkinan. Seperti gumpalan tanah liat yang siap dibentuk menjadi berbagai bentuk. Akibatnya alih-alih meninggalkan makna, Sutardji justru melimpahi sebuah kata bukan hanya dengan kemungkinan tekstual, melainkan juga makna tersirat. Bukan itu saja yang membuat Sutardji menjadi sebuah polemik, pernyataan lainya dalam Kredo Puisi yang menyatakan “…Mengembalikan kata ke mantra” lebih sulit lagi untuk diterima. Mereka yang menentang pendapat Sutardji beranggapan, mantra itu sendiri merupakan susunan kata-kata, jadi bagaimana mungkin awal kata adalah mantra? Karena seorang anak tidak mungkin melahirkan orang tuanya. Dengan pembebasan kata dari beban makna dan pengembalian kata ke mantra, Sutardji bisa menjadi dukun gadungan, yang hanya membuat mantra cacat yang lahir tanpa makna. Pada puisinya, Sutardji tidak lebih hanya mengambil semangat mantra. Ia lebih tertarik bermain dalam tipografi khas sastra Prancis, tepatnya gaya penyair besar Guillaume Apollinaire. Puisinya tidak semistik pola pikir abu-abu yang dipaparkan mereka yang berprasangka dan antusias secara berlebihan. Sajaknya merupakan kata-kata sederhana, yang bermain dengan bentuk, bernyanyi dengan rima, dan polos tanpa tanda baca, sehingga membebaskan kita untuk merawat kata-kata yang dilahirkannya. Terlepas dari kontroversi akan kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri, baik dari Kredo Puisi yang ia ciptakan, Aksi Panggungnya yang maraung, menerjang, dan memabukan. Pelepasan kata dari makna. Pengembalian kata menjadi mantra yang ia gencarkan. Sutardji merupakan salah satu penyair besar yang pernah dimiliki Indonesia. Kecermatannya memanfaatkan media puisi modern, yang bukan hanya didengar, melainkan dilihat, dan, dibacakan menambahkan bentuk baru dalam kesusastraan Indonesia, khususnya puisi. Fajar Setio Utomo Penggiat Majelis Kantiniyah

JANGAN CUKUP HANYA MEMBACA!


Edisi VII/ Januari/ 2012-Terbit Dwi Mingguan

4.

LAKONIK

Fiksi Mini 1.Penghargaan

nya dan menghabiskan sisa malam menuju rumah.

Presiden menyematkan penghargaan pada seorang seniman di istana negara. Setelah keluar istana, seniman tersebut menuju orang tua yang sedang istirah di samping gerobak sampah. Ia memberikan piagam penghargaan itu kepadanya.

5.Pembunuh

“Hanya ini yang bisa kuberikan untuk orang lain” ungkap seniman itu. “Orang ini pantas mendapatnya”.

Pada leher mayat seorang wanita terlihat bekas memar di leher. Polisi menduga wanita itu dibunuh. Dengan ijin keluarganya, polisi menyelidiki kasus kematian wanita itu. Dari petunjuk yang didapat, pembunuhnya adalah penghuni rumah sakait jiwa.

“Terima kasih, Bang” kata tukang sampah itu. “Mungkin ini laku dijual”.

“Apa Bapak sudah mendapatkan pembunuhnya?” tanya ibu si korban. “Seingat saya” terang polisi tersebut, “anak ibu tidak saya jerat pakai tali, tapi saya cekik”.

2.Seraut Pajak Mereka membabat hutan untuk pemukiman. Program pemerintah dilaksanakan secara serius. Pajak selalu dipungut tanpa ada pertimbangan. Mereka lantas bakar perumahan itu agar pajak dihentikan.

Pasang-pasang mata keluarga saling bertempur, bingung, tak tahu apa yang harus diperbuat.

6.Nama 3Gigil Pedang Aku bermimpi menebas leher seorang nenek. Ia tertawa membahana ketika kepalanya terlontar ke tanah. Ia bergumam tentang masa depanku.

Seorang lelaki istirahat setelah Thawaf tujuh kali. Ia mencari isterinya yang lebih dulu selesai Thawaf. Tetapi tak ditemukan. Ia bertanya pada bagian pusat informasi dan menyebutkan nama isterinya saja . Petugas itu mengantarkan lelaki itu ke makam yang telah berlumut. Terlihat di nisan nama isterinya.

“Lehermu akan terpotong dalam perang” katanya. Aku tertegun merasakan gigil pedang yang kupegang.

4.Malam Seorang lelaki muda hidup menjadi bagian malam. Sebagian besar malamnya dihabiskan dalam club malam. Ia mendambakan seorang wanita yang jujur sebagai pendamping hidupnya. Sering kali cercaan dan olok-olok keluar dari mulut rekan-rekan sekantornya.

7.Muntah Berkali-kali aku muntah. sahabat-sahabatku ketularan. Kami tak tahu apa penyebabnya. Beramai-ramai kami periksa ke dokter, tetapi ia juga ikut muntah-muntah. Kami semua masuk rumah sakit. Seluruh orang di rumah sakit tertular. Aku dipenjara dengan tuduhan penyebar virus. Selama di penjara, muntahmuntah mulai hilang. Setelah mendengar kabar itu, orang-orang bergegas ingin masuk penjara.

“Gila kau” maki seorang rekan kerjanya di samping seorang wanita yang duduk sendirian, “menganggap tempat hiburan malam adalah lingkungan yang jujur”. “Orang mabuk selalu bicara jujur” kata lelaki itu. “Apa kau berani menyebut orang-orang yang sering menyeru kebaikan adalah orang jujur?” Tiba-tiba wanita di meja sebelah menghampiri mereka dan mengungkapkan kata cinta pada lelaki itu. Lelaki itupun menerima-

Irvan “ipank” Nawawi

JANGAN CUKUP HANYA MEMBACA!


Edisi VII/ Januari/ 2012-Terbit Dwi Mingguan

5.

Puisi

LAKONIK

UNDANGAN DISKUSI MINGGUAN

Dedaun Kecil Kepada Nurma ada kegelisahan pada dedaun kecil

Sesepi Malam

MAJELIS KANTINIYAH

Kasihku! Tidurlah Waktu:

Pejamkan matamu pada tiap jelang paginya sampai bening embun yang menggumpal menempel dihatinya yang begitu mungil

Selasa Jam: 16:00 WIB

Adakala Tuhan memberimu sebuah malam Tempat:

Secara cuma-cuma

Kursi lingkar

Adakala malam memberimu impian

Depan teater FITK Lantai 1

Secara cuma-cuma.

Sesepi malam keterburuan waktu yang singgah

KARYA BERUPA

Sesepi sunyi adalah pengaduan rindu yang tak kunjung usai

siang akan tiba

Esai

Bekasi,

Artikel

Desember 2011

Cerpen

ada panas kecemburuan yang

Puisi

menikam-nikam Dapat dikirmkan Ke e-mail

sore pula akan menjejakan kaki diatas dedaunan yang kering Rizky Kamil ada hati yang sepi teratap-ratapi tapi besok pagi pasti kembali

redaksi_lakonik@yahoo.com Maksimal 4200 karakter (dengan spasi)

“JANGAN CUKUP HANYA MEMBACA!�

Penggiat Teater Syahid

Penanggung Jawab: Rosida Erowati M.Hum. Pimpinan Redaksi: Irsyad Zulfahmi. Redaktur: Aeni Nur Syamsiyah, Syarif Hidayatullah, Ema Fitriyani, Adinda Putri Nur Syarifah. Desain Tata Letak: Fajar S. U Editor: Irvan Nawawi. Alamat Redaksi: Kursi lingkar depan teater FITK lantai 1. e-mail: redaksi_lakonik@yahoo.com Humas: 081513237016/085716738038. Buletin LAKONIK diterbitkan oleh komunitas sastra

MAJELIS KANTINIYAH JANGAN CUKUP HANYA MEMBACA!


Edisi VII/ Januari/ 2012-Terbit Dwi Mingguan

6. LAKONIK

Cerpen VETERAN Tubuh kering dimakan usia, rambut memutih dan hilang sebagian dari kepala, gigi tanggal semua dengan mata tak lagi secalang muda, tidak kulihat sedikitpun semangat redup darinya. Di depan anak-anak dan keponakan-keponakanku dia tetap seperti kesatria yang bertempur melawan Belanda. Mengisahkan bagaimana dirinya berjalan dalam pekat malam, bekubang di dalam lumpur, mengendap-endap tanpa diketahui penjaga. Walau hanya ada satu nyawa yang dia punya, tetapi semangat kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia telah bersemayam dalam dirinya. Masa depan rakyat Indonesia lebih berharga ketimbang nyawa. Setelah ada aba-aba dari pemimpin pasukan, dia dan pasukan lainnya menembaki penjaga yang sedang terjaga dan para penjajah lain yang baru saja siaga. Tembakan terakhir yang dilepaskannya menandai kemenangan Indonesia. Dia adalah seorang veteran, pasukan yang tersisa setelah perjalanan panjang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Seorang saksi hidup sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Mungkin ketika umurnya tak ada sisa, dia akan mati bahagia karena anak-anaknya, cucu-cucunya dan piut-piutnya selalu setia mendengarkan sejarah panjang hidupnya, Perjuangannya. “Yang membuatku bahagia ketika melihat senyum kalian semua.” “Kenapa, kek?” tanyaku “karena aku tidak melihat air mata yang dulu selalu mengalir disetiap mata orang indoneisa.” Senyumnya mengembang di depan cucu-cucunya yang sedari tadi mendengar ceritanya. kami tersenyum iba. Mata kami berbinar. Jiwa kami terbakar haru. Di dalam hati kami bejanji, kelak jika besar kami akan menjadi abdi bangsa yang setiap saat rela mengorbankan tiap tetes darah untuk ibu pertiwi. Aku terhenyak dalam lamunku. Aku teringat kisah lama yang kini telah usang ketika kulihat anak-anak dan keponakankeponakanku duduk bersama mendengar kisah lamanya. Keempat kakakku kini telah menjadi seorang tentara yang gagah, yang selalu siap membela negara jika ada tangan asing berusaha membuat luka di tanah pertiwi. Badan mereka yang gagah akan menjadi tameng baja. Mereka tidak akan pernah mundur selangkahpun, sampai ibu pertiwi tak lagi dirundung duka. Tapi darahku tidak akan sejernih dan seharum darah mereka. Kalau saja aku tumbuh menjadi orang berbadan tegap mungkin aku akan sebahagia mereka.

Aku yang tumbuh dengan badan yang layu sebelum masanya, ditambah dengan sakit yang selalu mendera menghalangi langkahku menjadi seorang tentara. Akhirnya kini aku hanya bisa menjadi seorang guru matematika di sekolah dasar dan menengah. Walau aku tak bisa membakar jiwaku di medan perang, tapi aku selalu mengobarkannya di sekolah. Semangat juang yang aku tanam sekian lama aku tumpahkan di meja-meja kelas. Aku tanam dalam otak mereka angka satu yang sangat agung. Seperti keagungan Tuhan dengan esa-Nya. Aku tanamkan angka sembilan sebagai angka desimal tertinggi yang tidak bisa ditandingi. “lalu empat dan lima yang berarti sehat dan sempurna.” “Hahaha… bapak terlalu memaksakan,” murid- muridku tertawa girang. “Ya memang seperti itu bukan. Empat sehat lima sempurna,” aku juga ikut tertawa bersama mereka. ******************** Keempat kakakku telah gugur di medan perang, di tanah pekuburan yang selama ini mereka idamkan. Begitu juga dengan kakekku, sang veteran. Jasadnya tertanam di tanah yang pernah ia perjuangkan. Dengan kenangan indah mereka meninggalkanku dan menitipkan semangat tak kenal mati. “Muridku telah menjadi orang besar. Banyak dari mereka yang telah memenangkan lomba olimpiade matematika. Mereka berbicara kepada seluruh orang Indonesia bahwa akulah pahlawan mereka, walau tanpa sebuah tanda jasa.” “aku bangga melihat mereka sukses. Aku bangga melihat mereka berhasil memenangkan olimpiade matematika. Tapi aku bukan siapa-siapa. Aku hanya orang yang berajasa. Aku bukan seorang pahlawan. Kalianlah pahlawan sesungguhnya” Badanku tegap berdiri. Mata binarku menatap foto mereka yang terpampang di dinding. Jariku tegap merapat tertempel di alis. Hormatku untuk kalian semua, pahlawan.

Syarif Hidatatullah

Mahasisawa Dirasat Islamiyah Semester III

JANGAN CUKUP HANYA MEMBACA!


Edisi VII/ Januari/ 2012-Terbit Dwi Mingguan

7.

LAKONIK

TOKOH

Binhad Nurrohmat Label Dua hari menjelang akhir tahun 2011 media online Tribun News.com melansir tahun 2012 sebagai Tahun Naga Air. Berita ini berdasarkan ramalan Ki Kusumo, peramal kondang yang kerap dimintai keterangannya membaca masa akan datang oleh sejumlah wartawan gosip. Pun dengan ramalan ketika akhir 2010 menjelang 2011, penyebutan atau pelabelan tahun kerap menghiasi media informasi. Palabelan itu pun tak sekadar label. Ada arti dan makna di di dalamnya. Dan kita tahu 2011 ditandai dengan Tahun kelinci Logam. Begitu juga dengan kemunculan pelabelan atau penandaan di dunia sastra. Tahun 2000an muncul karya-karya sastra yang ditulis oleh para selebritis dengan konten karya yang terkesan vulgar, bahkan meng-ia-kan vulgar meski dengan dalih seni untuk seni : inilah seni, dengan segala hal yang tak terduga untuk diciptakan. Misalnya, ketika Djenar Maesa Ayu yang membuat Mereka Bilang Saya Monyet, atau ketika dia menulis cerpen sederhana berjudul SMS. Pelabelan sebagai sastrawan dengan karya-karya berbau seksualitas dan banalitas pun lekat padanya. Kemudian, ada laki-laki berambut panjang kelahiran 1 Januari 1976 menulis kumpulan puisi pertamanya berjudul Kuda Ranjang tahun 2004 yang menimbulkan polemik di kalangan tidak hanya sastrawan tapi juga lapisan masyarakat lain. Semisal ketika ia menulis puisi Berak-nya. “Anusmu yang bagus saban pagi mengangkangi mulut kakus yang tak bosan menunggu tahimu. Zakarmu sekuyu gelambir jompo bungkuk dan malu-malu mengintip puing tahi terjepit bongkah coklat bokongmu. Kau merasa masuk ank semalam seperti pagi ini seusai ada yang berjatuhan dari anusmu.” Tidak cukup Berak, pria kelahiran Lampung ini pun menulis puisi-puisi yang mengeksplorasi lain dari onggokan raga yang selalu dibawa manusia: tubuh. Tubuh, menurutnya menjadi hal yang intim. Pada Majalah Hayamwuruk edisi No.1/Th. XVIII/2008 pria 36 tahun itu menyebutkan “… terdapat tubuh fisikal-biologis, tubuh sosiologis, dan tubuh spiritual-teologis. Trilogi tubuh inilah yang mendasari kelahiran puisi-puisi saya. Tubuh dalam kenyataannya menjalani peran biologis (bekerja atau bercinta), peran sosiologis (tubuh boleh telanjang di kamar mandi, tapi mesti berbaju saat berada di pasar), dan peran spiritual-teologis (tanpa tubuh manusia tak bisa menjalankan naluri spiritual atau teologisnya, misalnya sholat atau berderma).”

Dalam masa produktifnya, pria itu menulis sejumlah puisi lagi. Di tahun 2007 Bau Betina keluar dari tubuhnya. Polemik terus bergulir. Seorang sastrawan dari Sunda Usep Romli HM mengatakan pada esainya bahwa pada pria yang sedang kita bicarakan adalah pria yang konon hafal di luar kepala tentang hadis-hadis Muhammad Saw dari Kutubbus Shittah malah menulis sajak-sajak liar. Perlu diketahui juga, bahwa pria ini besar di pesantren di Krapyak Yogyakarta, lalu melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara bersama Chavchay Syaifullah yang juga penyair yang kerap menulis status vulgar-cerdas di laman facebook-nya. Latar belakang pendidikan pesantren yang dikecapnya membuat karya-karyanya dengan cepat dihinggapi sebutan sebagai karya perusak moral. Oleh sebab karyanya, Saut Situmorang sebagai pengabdi Bumiputra menganugrahi Bau Betina sebagai karya sastra terburuk tahun 2007. Pada akhirnya, apa yang dicapai pada pria yang kita bicarakan di awal adalah sebuah tanda, sebuah pelabelan untuk menyebutkan dan mengklasifikasikan apa yang melekat padanya. Apa yang dilahirkannya. Label atau penandaan seyogyanya disikapi dengan bijak. Seperti halnya cerpen Ki Panji Kusmin Langit Makin Mendung yang dihujat habishabisan tapi hingga sekarang masih hangat diperbincangkan. Maka, agar perbincangan ini berlanjut, sekiranya kita sepakati dulu bahwa pria yang sejak awal kita bicarakan kita labeli dengan nama Binhad Nurrohmat.

Ema Fitriyani Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Semester III

JANGAN CUKUP HANYA MEMBACA!


Edisi VII/ Januari/ 2012-Terbit Dwi Mingguan

8.

LAKONIK

Resensi Buku Kritik Sastra Feminis

I

Judul Buku

: Kritik Sastra Feminis

Penulis

: Soenarjati Djajanegara

Penerbit

:

Tahun

: 2000

Tebal

: 180x240x0 mm

ISBN

: 9789796555987

Halaman

: 64

: Gramedia Pustaka Utama

Kemunculan kritik sastra feminis tentu saja dipengaruhi oleh pergerakan kaum feminis yang beberapa ratus tahun yang lalu. Aspek politik, agama, dan sosial dianggap penyebab munculnya gerakan ini karena mereka merasa bagian dari kaum proletar. Begitu pula ketika kritik sastra feminis menyeruak. Para penulis perempuan di Amerika merasa tidak dianggap keeksistesiannya karena tidak ada satu orang penulis perempuan pun yang disebutkan dalam sejarah sastra. Sejak saat itu (baca: tahun 60-an) kritik sastra feminis terus berkembang sampai saat ini. Tidak dipungkiri lagi bahwa kritik sastra feminis menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan di dunia akademis kekinian. Termasuk Indonesia di dalamnya. Banyaknya karya sastra yang mengangkat tema keperempuanan merupakan alas an kenapa kritik sastra ini tumbuh pesat di Indonesia. Apalagi Indonesia adalah negara yang kedudukan perempuannya masih samar-samar karena terbentur banyak hal. Sayangnya, maraknya pengkajian kritik sastra feminis ini tidak diimbangi dengan bahan referensi yang cukup dari dalam negeri sendiri. Referensi yang digunakan masih berasal dari luar, dan kadang para akademisi merasa kesulitan dalam menyatukannya dengan konteks keindonesiaan. Buku ini merupakan buku pertama yang membahas mengenai kritik sastra feminis dalam bahasa Indonesia dan ditulis oleh orang Indonesia. Buku ini merupakan pegangan yang tepat bagi akademisi yang ingin memperlajari kritik sastra feminis tanpa menemui hambatan kebahasaan. Meski penjelasan tentang seluk-beluk kritik sastra feminis masih mengacu dari negara lain, namun penulis mengemasnya dengan singkat dan padat agar memudahkan kita untuk mengaplikasikannya dalam mengkaji karya sastra Indonesia bertema keperempuanan.

Adinda Putri Nursyarifah

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester V

JANGAN CUKUP HANYA MEMBACA!


Buletin Lakonik