Page 1

31/5/2014

[127] Paradoks Pendidikan Perempuan

[127] Paradoks Pendidikan Perempuan Saturday, 24 May 2014 22:37 Ilmunya hanya untuk mengejar karier di dunia sampai-sampai lupa melaksanakan kewajib annya yang lain. Hari-hari belakangan ini dunia pendidikan sibuk dengan hajatan besarnya, Ujian Nasional (UN). Bersamaan dengan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, tepat kiranya momentum ini untuk ajang refleksi. Tapi kali ini bukan mengritik hiruk pikuk UN yang dari tahun ke tahun menyisakan deretan masalah, melainkan lebih menyorot pendidikan dalam dimensi kaum perempuan. Ya, pendidikan sebagai pondasi pembentukan manusia yang cerdas, berbudi luhur dan berkepribadian sangat penting bagi setiap individu. Termasuk para perempuan yang konon di dunia pendidikan pun masih merasakan diskriminasi. Faktanya, belum semua lapisan masyarakat memprioritaskan perempuan untuk mengakses pendidikan setinggitingginya. Memang ada yang mengenyam pendidikan hingga doktor atau profesor, bahkan menggeluti berbagai bidang keilmuan sulit yang selama ini identik dengan dunia pria. Meski begitu, jumlahnya masih minim dibanding populasi perempuan itu sendiri. Sebagai contoh, di daerah-daerah kantong tenaga kerja wanita (TKW) misalnya, sudah telanjur tertanam pemahaman bahwa perempuan tak perlu berpendidikan tinggi. Toh, akhirnya hanya akan menjadi TKW atau ibu rumah tangga. Bahkan, di kalangan masyarakat masih tertanam kuat pemikiran bahwa perempuan itu yang penting cantik, sehingga kelak bisa mendapatkan suami yang cakep dan kaya. Akhirnya, kecantikan lebih diprioritaskan dibanding pendidikan. Buktinya, belanja untuk kecantikan sangat royal, tapi jika untuk pendidikan pelit setengah mati. Apalagi, di era sekulerisme saat ini, kecantikan lebih mendapat tempat dibanding kecerdasan. Kecantikan lebih dipuja dibanding kepintaran. Perempuan lebih bangga dan percaya diri dengan kecantikannya dibanding kepintarannya. Dunia telah menempatkan perempuan cantik sebagai pelaku utama. Perempuan cerdas pun dibuat minder jika kebetulan tidak (merasa) cantik. Lihat saja di dunia kerja, kebanyakan lebih memprioritaskan yang cantik daripada yang pintar. Kalau ada dua perempuan melamar kerja sama-sama pintar, tapi yang satu cantik dan yang satu biasa saja, pasti yang cantik yang diterima. Apalagi dunia kerja tertentu, syarat cantik justru prioritas. Makanya kecantikan akhirnya lebih diutamakan. Kontradiktif Kondisi di atas tentu kontradiktif dengan upaya mencerdaskan kaum perempuan. Sejatinya semua menyadari, perempuan memiliki peran sangat strategis dalam melahirkan dan mendidik generasi-generasi penerus yang berkualitas. Bukankah selalu disebutkan bahwa pendidik utama dan pertama setiap anak adalah ibunya? Profesi pendidik pun kerap diidentikkan dengan sosok perempuan. Sebab, guru atau pendidik itu memang profesi yang sifatnya ngemong (mengasuh) anak-anak didik, layaknya ibu mengasuh anaknya. Dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, ketelitian dan kelembutan. Karakter itu sangat cocok bagi kaum Hawa. Karena itu jika disurvei, lebih banyak mana guru laki-laki atau perempuan, pasti jawabnya lebih banyak perempuan. Guru PAUD, perempuan. Guru TK, perempuan. Guru taman pendidikan Alquran, perempuan. Guru les, mayoritas juga perempuan. Dengan demikian, jika tanggung jawab pendidikan ini ditahbiskan di pundak kaum perempuan, niscaya perempuan harus dicerdaskan. Negara wajib menyediakan sarana-prasarana dan segala fasilitas terbaiknya untuk membuka akses pendidikan bagi kaum perempuan. Perempuan-perempuan harus dibuat bangga dengan kecerdasannya. Berikan penghargaan dan apresiasi tinggi terhadap para perempuan cerdas ini. Cerdas, bukan dimaknai sebagai perempuan yang mengantongi ijazah dari bangku kuliah atau gelar profesor saja, tapi memiliki pola pikir yang mampu melihat persoalan dari akarnya dan memiliki solusi komprehensif untuk menyelesaikannya. Itulah kecerdasan yang harusnya dibanggakan. Dan kondisi itu akan lahir dari negara yang mengutamakan masalah pendidikan, yakni negara Islam. Bekal Tepat Pendidikan untuk kaum perempuan dimaksudkan membekali perempuan dengan kemampuan, pemahaman dan ketrampilan yang berguna untuk menjalankan kodratnya sebagai pendidik. Ilmu yang diperoleh atau gelar akademik, semata-mata bukan untuk eksistensi diri. Bukan semata-mata menjadi tolok ukur kebangkitan dan kemajuan kaum perempuan. Tapi, bagaimana bisa mengaplikasikan ilmunya untuk mendukung fitrahnya sebagai ibu atau pun pendidik bagi yang berprofesi sebagai guru. Juga, untuk mengamalkan ilmu yang diperolehnya demi kemaslahatan umat. http://mediaumat.com/muslimah/5570-127-paradoks-pendidikan-perempuan.html

1/2


31/5/2014

[127] Paradoks Pendidikan Perempuan

Untuk itu, arah pendidikan perempuan harus tepat. Perempuan sebagai peletak dasar agama anak-anaknya, berarti harus belajar agama dengan sungguh-sungguh dan serius. Perempuan harus didorong untuk mempelajari ilmu-ilmu pendidikan, ilmu parenting, ilmu gizi, ilmu kesehatan keluarga serta ketrampilan-ketrampilan lainnya yang biasa dibutuhkan untuk mendukung tugas-tugas perempuan. Ilmu-ilmu tersebut lebih efektif jika disediakan oleh negara melalui lembaga pendidikannya. Namun jangan lupa, ilmu berserakan di mana-mana. Mewujudkan perempuan cerdas bukan semata tugas lembaga pendidikan formal, karena ada banyak wadah menuntut ilmu yang bisa diserap kaum perempuan. Seperti melalui kajian-kajian Islam yang diselenggarakan berbagai pihak, membaca referensi-referensi terpercaya, mendatangi guru-guru les/ngaji/keterampilan, berdiskusi dengan berbagai lapisan masyarakat, dll. Satu lagi, jangan sampai pendidikan yang telah direngkuh perempuan justru menjauhkannya dari tugasnya sebagai pendidik. Misal ilmunya hanya untuk mengejar karier di dunia sampai-sampai lupa melaksanakan kewajibannya yang lain. Inilah paradoksal itu. Di satu sisi perempuan diharuskan cerdas dan berpendidikan, tapi setelah mengenyam pendidikan malah melupakan tugasnya sebagai perempuan. Di tempat lain, tak sedikit ibu-ibu yang lebih pintar berdandan dibanding mengajarkan Alquran pada anak-anaknya. Mereka lebih sibuk memikirkan life style-nya dan menyerahkan pendidikan putra-putrinya ke lembaga pendidikan. Na’uzdub illahi minzalik. Tentu ini bukanlah sosok Muslimah sejati yang memiliki karakter cerdas, takwa, tawadu’ dan shalihah. Sosok yang bisa kita teladani dalam diri para shabiyah atau tokoh-tokoh Muslimah di zaman keemasan Islam dulu. Zaman di mana kultur keilmuwan sangat kental sehingga mendorong individu-individu merasa rugi jika tidak mengantongi ilmu. Maka lahirlah sosok-sosok agamawan yang juga ilmuwan. Duhai kapankah zaman keemasan itu hadir kembali? [] kholda

http://mediaumat.com/muslimah/5570-127-paradoks-pendidikan-perempuan.html

2/2

Paradoks pendidikan perempuan  
Advertisement