Page 1

12/3/2014

Detik Islam » Kekalahan Partai Politik Menarik Nurani Rakyat

Kekalahan Partai Politik Menarik Nurani Rakyat ■ Berita ■ Cakrawala ■ Headline ■ Nasional ■ Share ■ Opini Anda ■ Politik by Rizqi Awal - Mar 11, 2014

0

212

Jelang pemilu 2014, ramai hasil survey dikeluarkan. Paling menarik disimak adalah perang tokoh publik menjadi Presiden atau Wakil Presiden. Bahkan antar lembaga survey mengklaim hasilnya mendekati kebenaran. Tak sedikit pula, dari lembaga survey yang ada demi mengokohkan identitas partai atau kepentingan tokoh tertentu. Meskipun demikian, angka golput pada Pemilu 2014 ini dinilai sangat besar. Kenapa bias demikian? Ini terjadi karena adanya kejumudan masyarakat pada tingkah politik baik individu maupun partai. Apalagi semenjak 2009, berlalu 15 tahun lamanya, pasca pemilu pertama kejatuhan rezim orde baru tak ada kabar gembira bagi masyarakat.

Pemilu 2014, Masikah b erharap?

Tingkat kepercayaan publik makin berkurang, pasca calon-calon legislatif yang ditawarkan ternyata bermuka lama, penuh masalah atau memang tak memiliki kapabilitas dalam jabatan. Hal ini membuat ketertarikan masyarakat terlibat aktif dalam pemilihan umum semakin berkurang. Tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 1999 mencapai 93,33%, Pemilu 2004 turun menjadi 84,9%, dan Pemilu 2009 turun lagi menjadi 70,99%. Pemilu 2014, diprediksi hanya tinggal 54%, namun prediksi optimis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) masih pada angka 60%. (hariandialog.com) http://detikislam.com/berita/nasional/kekalahan-partai-politik-menarik-nurani-rakyat/ Tak bisa dipungkiri, permasalahan internal partai politik

1/3 juga memberikan guncangan besar bagi masyarakat.


12/3/2014

Detik Islam Âť Kekalahan Partai Politik Menarik Nurani Rakyat

PKB yang dahulu berada lingkaran gusdur sentris, kini justru tak memliki tokoh besar lagi. Mengingat dukungan keluarga gusdur telah beralih kepada PPP. Sementara itu, Partai Demokrat berusaha agar kembali menaikkan diri sebagai partai bersih. Mengingat sejumlah kasus yang mendera kader parpol. Golkar berkutat kepada masa lalu kelam orde baru yang masih dikaitkan, serta masalah pada proyek Lumpur Lapindo yang berimbas pada ketua umum partai. PAN yang dahulu menjadi media aspirasi warga Muhammadiyah kini mulai ditinggalkan. Ketokohan Amien Rais, tak menjamin keberlangsungan partai ini. Pada akhirnya partai banyak menarik produk popular yang jadi semisal banyaknya artis yang bergabung ke partai ini. PKS juga demikian, kekuatan figur tokoh yang belum kental dan masalah korupsi yang pernah mendera kader mereka membuat elektabilitas partai menurun. Masalah serupa juga banyak terjadi pada partai lainnya. Memanfaatkan Fatwa Golput Demi Suara Pada pemilu 2009 lalu, Parpol mendesak MUI memberikan fatwa keharaman Golput. Meskipun fatwa ini dinilai pro dan kontra sejumlah pihak, terbukti kali ini fatwa ini tidak memiliki kekuatan yang mampu menaikkan tingkat kepercayaan publik pada partai politik. Fatwa ini pun kembali disuarakan kembali. Ditambah dengan sejumlah ucapan para tokoh yang dinilai islami. Salah satunya Hidayat Nur Wahid, menyatakan bahwa Perbuatan tidak memilih itu adalah perbuatan setan. Justru fatwa-fatwa seperti ini tidak mempan lagi di masyarakat. Hal ini menambah tren negatif masyarakat terhadap politik di negeri ini. Fatwa ini dinilai wujud upaya politikus mempengaruhi para ulama. Juga membuktikan bahwa betapa khawatirnya partai politik terhadap partisipasi masyarakat di pemilu kelak. Jika ini terjadi, legitimasi sistem dan parlemen kita semakin berkurang. Bahkan fakta Golput adalah pemenangnya akan terjadi kembali. Hal senada tentang bagaimana ketidak-percayaan terhadap partai politik ini juga dapat terlihat dari hasil survey yang ada. hasil survei Political Communication Institute (Polcomm Institute) mayoritas publik tidak mempercayai partai politik (parpol). Publik yang tidak percaya parpol yaitu sebesar 58,2 persen. Kemudian yang menyatakan percaya 26,3 persen, dan menyatakan tidak tahu sebesar 15,5 persen. Fatwa ini sekali digunakan parpol agar publik tertarik untuk menggunakan hak pilihnya. Alhasil tentu kita tahu, bahwa saat ini masyarakat mulai sadar betapa meningkatnya kesadaran masyarakat. Masyarakat Tak Butuh Janji dan Sekedar Kerja Nyata Untuk menarik simpati masyarakat, Partai Politik dan Calon Legislatif juga melakukan aktivitas sosial. Seperti membagikan sembako gratis, Pengobatan gratis dan aktivitas social kemasyarakatan lainnya. Ternyata cara ini menurut sejumlah parpol masih terbilang efektif. Padahal cara lama ini, sudah basi dan hanya menaikkan berapa persen saja tingkat kepercayaan publik pada partai politik. Politik Demokrasi hari ini, telah benar-benar membuat rakyat semakin jenuh. Apalagi demokrasi di Indonesia, hanya sekedar cap kekuasaan untuk menipu masyarakat. Rakyat hanya jadi korban kepentingan. Janji dan kerja nyata yang dijual oleh para caleg dan parpol hanya mampu membuat masyarakat semakin apatis terhadap politik dan situasi hari ini. Sudah barang tentu, masyarakat ingin keluar dari keluar dari permasalahan yang terus menggerogoti di negeri 2/3 ini. Kepedulian mereka kepada politik praktis yang berkurang, sementara itu kondisi masyarakat dan sosial

http://detikislam.com/berita/nasional/kekalahan-partai-politik-menarik-nurani-rakyat/


12/3/2014

Detik Islam Âť Kekalahan Partai Politik Menarik Nurani Rakyat

semakin timpang. Masyarakat hari ini sangat butuh kepedulian individu penguasa, pengayom masyarakat serta sistem pemerintahan yang menyejahterakan. Pertanyaannya, masihkah kita meminta harap pada sistem demokrasi yang terus memberikan janji tapi tak memberikan waktu? Jawabannya adalah mencari sistem yang dapat memberikan solusi pada hari ini. Tidak mungkin kita menerapkan sosialisme, atau bertahan pada jenis kapitalisme lainnya. Yang ada adalah menjadikan islam sebagai jalan dan arus perjuangan hari ini.

Oleh: Rizqi Awal El-Palembani ( Pengamat Politik pada Lembaga Analisis Politik Indonesia)

http://detikislam.com/berita/nasional/kekalahan-partai-politik-menarik-nurani-rakyat/

3/3


Kekalahan partai politik menarik nurani rakyat  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you