Page 1


2 Tabloid General. Penerbit FDIK. Penanggungjawab: M. Badri Pendiri:Fitri Pemimpin Umum: Fitria Pemimpin Redaksi: Fitria Sekretaris Redaksi: Lestari Bendahara Umum: Bagomk Redaktur Pelaksana: ApoyFotograger: DugenkStaff Redaksi: Gangnam Layouter: Bareman Alamat Redaksi: Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau.

DIBALIK TUMPUKAN SAMPAH TERDAPAT SESUATU YANG BERNILAI

Pada hari selasa sekitar tiga minggu yang lalu, dengan cuaca yang begitu cerah dan terik matahari yang sangat menyengat, kami pun pergi ke TPA muara fajar untuk melakukan suatu penelitian yang di berikan oleh dosen pembimbing dalam rangka praktikum yaitu bagaiman tata cara pengolahan sampah yang baik. Sesampainya disana kami pun disambut dengan suatu pemandangan yang sangat menakjubkan terlihat suatu tumpukan sampah yang telah membentuk pegunungan, dengan hamparan sampah yang sudah menjelma menjadi lautan sampah dengan aroma yang sangat menyengat hidung sehingga membuat pernafasan kami sedikit terganggu. Pada saat penelitian ini kami juga melihat payung-payung di hamparan sampah tersebut yang dijadikan pondokan atau tempat berteduh bagi para pemulung tersebut, bukan hanya itu saja kami juga mendengar suara-suara truk yang berlalu lalang mengangkut

sampah-sampah. Sampah disini merupakan sisa atau buangan dari suatu usaha atau kegiatan manusia. Hampir semua kegiatan manusia menghasilkan sampah, sampah tersebut sering kali dibuang oleh manusia ke lingkungan, sementara jumlah sampah terus meningkat seiring dengan pertambahan pendudukdan kemajuan teknologi serta perekonomian yang akhirnya yag bisa meimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar itu sendiri. Dari hamparan sampah yang ada di TPA muara fajar juga terdapat beberapa jenis sampah yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik merupakan segala sampah yang mengandung unsur karbon (c), sehingga meliputi sampah dari makhluk hidup (misalnya kotoran hewan dan manusia, sisa makanan dan sisa tumbuhan mati) sedangkan sampah anorganik merupakan sampah yang tidak dapat sulit diurai atau busuk secara alami

oleh microoganisme pengurai, misalnya plastik, kertas dan karet. Dari beberap sampah diatas akan diproses dengan cara memilah-milah sampah tersebut saat dibuang, misalnya saja sampah anorganik seperti alumunium, plastik, dan kertas dapat dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. Sampah anorganik dapat di daur ulang menjadi produkproduk kerajinan tangan yang dapat digunakan kembali oleh manusia lalu di pasarkan ke para konsumen, seperti kaleng alumunium bekas di daur ulang menjadi kaleng alumunium kembali atau kertas di daur ulang menjadi kertas yang siap pakai lagi. Sedangkan sampah organik seperti sisa-sisa sayuran dari sampah rumah tangga lalu dimanfaatkan segai makanan ternak mereka.Pengolahan sampah di TPA muara fajar sudah mulai efesien tetapi dari pihak pemerintah sendiri kurang memperhatikan dari tahap pengolahan sampah yang ada di TPA muara fajar tersebut, ujar petugas TPA muara fajar dan para pemulung. S.Aritonang dan p.simanjuak (40th) yang beragama nasrani ini yang mempunyai 3(tiga) orang anak, mereka memulung untk memenuhi kebutuhan hidup mereka seharihari, Mereka rela melakukan pekerjaan ini setelah di PHK dari pekerjaan sebelumnya yaitu sebagai karyawan di sebuah pabrik RGM di daerah aceh sekiar 7 (tujuh) tahun yang lalu, oleh sebab itu mereka melakukan pekerjaan ini dengan penghasilan yang mereka peroleh antara 2030 ribu perharinya, jika banyak yang mereka dapatkan bisa


3 mencapai 100ribu. Penghasilan inilah yang mereka gunakan untuk menyambung hidup mereka seharihari dengan menghidupi 3 orng anak yang kedua anak nya masih bersekolah disekolah lanjut tingkat pertama (SLTP) anak pertama, sedangkan anak yang kedua masih duduk disekolah dasar (SD), sedangkan anak mereka yang ketiga masih kecil dan belum masuk sekolah. Disini yang menjadi daya tarik pemulung itu sendiri yaiu yang ada di TPA muara fajar bahwa pemulung-pemulung nya tersebut sudah tahan dengan bau sampah yang sangat menyengat yang mereka anggap sudah biasa. Adapun beberapa masalah yang sering di hadapi oleh para pemulung yang ada TPA muara fajar ini bahwasannya meeka sering dimarahi oleh dinaskebesihan ,kepanasan, bauk, diusir oleh pihak keamanan TPA, bahkan apabila turun hujan mereka tidak dapat bekerja atau memulung. Bukan hanya keluarga S aritonang saja yang bekerja sebagai pemulung sebut saja nama nya ibu Epi (44th) yang beragama nasrani, ibu epi sendiri bekerja ssebagai pemulung agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan membiayai ke4 orang anaknya yang masih bersekolah dan 1 belum sekolah, dari keempat anak nya 2 masih duduk di sekolah lanjut tingkat pertama(SLTP) sedangkkan yang 2 nya lagi masih duduk di sekolah dasar (SD) . Dari pendidikan terakhirnya yaitu hanya lulusan SMP hanya bisa mengantar ibu Epi menjadi seorang pemulung dan pekejaan lain tidak bisa ia lakukan ujarnya. Suami ibu Epi sendiri yang bekerja sebagai kuli bangunan merupakan salah satu ketua RT 04 jalan gurita kelurahan muara fajar,rumbai. Nasib ibu Epi sendiri hampir sama dengan keluarga dari pasangan suami isteri S aritonang dan P simanjutak, yaitu memulung barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan lalu dijual kembali. Dan mencari sisa-sisa sayuran dari sampah industri rumah tangga untuk ternak babi nya.penghasilan yang bisa ibu Epi dapat sekitar 20-25ribu perhari nya. Masalah yang dialami saat di TPA muara fajar pun serupa dengan pemulung-pemulung lainnya, dan aneh nya lagi masalah pada kesehatan ibu Epi sendiri tidak ada masalah karena sudah kebal akan

bau dan penyakit yang disebabkan oleh sampah itu sendiri. Sebelum mereka melakukan pekerjaan ini mereka sempat bekerja di salah satu pabrik RGM menjadi karyawan, setelah mereka beberapa tahun bekerja di pabrik tersebut. Dan pada akhirnya Pabrik tersebut mengalami mengalami gulung tikar atau kebangkrutan dan sebagai akibatnya pabrik tersebut melakukan PHK secara besar-besaran. Dan mau tidak mau mereka harus menjadi pindah mencari pekerjaan lain dan mereka pun sudah mencoba melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan tetapi mereka tidak diterima karena faktor pendidikan mereka yang rendah, mereka bukan tidak mau mencari pekerjaan lain tetapi mereka mengaku kalah bersaing dengan orang-orang yang tamatan nya lebih tinggi dan lebih muda dari mereka. Dan pada akhirnya mereka sampai tiba di desa muara fajar, Rumbai dan menjadi seorang pemulung yang penting halal bagi mereka, ujar para pemulung. Para pemulung mulai beraktivitas diTPA muara fajar setelah selesai pekerjaan dirumah yaitu mengurus anak dan sumaminya,memasak sarapan dll. Tiba di TPA muaa fajar tekadang mulai jam 07.00 atau 09.00 di pagi harinya sampai selesai memulung mereka pulang sekitar jam 17.00 sore. Pada waktu itu antara jam 07.00-09.00 sampah sudah mulai dibuang di TPA muara fajar menggunakan pengangkut sampah, sampai sore hari mobil pengangkut sampah silih berganti untuk membuang sampah tersebut. Setelah sampah diturunkan dari mobil pengangkut sampah maka para pemulung pun berdatangan untuk mengambil sampahsampah dan memilah-milah sampah yang masih bisa di mannfaatkan lalu mereka jual ke pengepul barang-barang bekas dan hasilnya mereka bawa pulang. Setelah selesai memilah-milah barulah sampah

sampah tersebut dikelola oleh petugas yang bekerja di TPA muara fajar tersebut. TPA muara fajar ini terletak dikelurahan muara fajar,Rumbai sedangkan tempat tinggal atau pemukiman para pemulung itu sendiri tidak jauh dari TPA ini begitu juga dengan pemukiman para warga tidak terlalu jauh dari TPA muara fajar ini. Yang aneh nya lagi walaupun pemukiman para pemulung dan warga sangat dekat dengan TPA muara fajar mereka tidak pernah terserang penyakit yang membahayakan bagi kesehatan mereka bahkan mereka sudah kebal terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh pembusukan sampah yang ada di TPA muara fajar ini.Dan pada saat pemulung melakukan pekerjaannya mereka tidak menggunakan sefty atau pengaman seperti masker(penutup mulut), para pemulung hanya hanya menggunakan sarung tangan itu pun dari kain dan membawa sebuah pisau yang digunakan untuk memotong sisa-sisa industtri rumah tangga seperti sayuran. Dalam hal ini seharusnya dari pihak masing-masing keluarga agar bisa membuang sampah tidak sembarangan, misalnya sampah anorganik bisa dibakar setelah mempergunakannya dan membiasakan gaya hidup sehat tanpa adanya sampah disekeliling lingkungan. Dari situlah akan tertanam kesadaran betapa penting nya hidup sehat tanpa adanya tumpukan sampah. Mungkin sampah merupakan hal yang terpenting bagi pemulung, karena mereka memcukupi hidupnya dari hasil mulung, tapi tidak dengan kita. Mulai dari sekarang dan seterusnya kita belajar untuk menjaga kebersiahn lingkungan, atau bisa juga kita memanfaatkan sampah-sampah yang masih bisa kita gunakan untuk kerajianan tangan, misalnya plastik bekas kopi sachet untuk membuat tas dan apabila dipasarkan mempunyai nilai jual yang tinggi, karena dilihat dari bahan dasar yang digunakan.menciptakn inovasiinovasi kita juga sudah membantu untuk memerangi sampah-sampah yang menjadi keluhan bagi masyarakat. Lingkungan yang asri adalah lingkungan yang tidak ada tumpukan sampah, dan pepohonan yang menghiasi jalan-jalan. Dan seharusnya dari pihak pemerintah setempat bisa memperhatikan hal itu. Kesadaran akan kebersihan lingkungan ditananmkan sejak dini bagi anak-anak dan selalu disosialisasikan kepada para masyarakat. Dinas kebersiahn lingkungan lebih mempunyai peran penting bagi lingkungan akan kebersiahan.


Iklan

Pdf Rio