Page 1

1

A. Pendahuluan Kegiatan pratikum Diagnosis kesulitan belajar merupakan proses belajar dalam menerapkan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap melalui berbagai kegiatan pelayanan profesi konseling yang disesuaikan dengan tuntutan perkembangan dan permasalahan siswa dalam

kehidupan sekolah/ madrasah

(SLTP/MTSN atau SLTA/MA). Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa memperoleh pengalaman nyata penyelenggaraan kegiatan diagnosis kesulitan belajar , khususnya kegiatan layanan konseling pendidikan sesuai dengan prospek karir para mahasiswa Bimbingan dan Konseling setelah menyelesaikan studi nantinya. Tujuan umum penyelenggaraan praktek adalah agar mahasiswa dapat menerapkan dan mengembangkan kompetensi diagnostik kesulitan belajar secara penuh melalui pengalaman nyata dalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling disekolah dengan tepat. Tujuan khusus diagnostik kesulitan belajar bimbingan dan konseling agar mahasiswa terampil dalam: 1. Mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar 2. Melokalisasikan letak kesulitan yang dihadapi siswa 3. Menentukan faktor-faktor penyebab siswa mengalami kesulitan belajar. 4. Memperkirakan kemungkinan bantuan yang akan diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. 5. Menetapkan kemungkinan cara mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa. 6. Menindak lanjuti siswa yang menjadi fokus diagnosis. Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Juga mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara

menetapkan dan

kemungkinan

mengatasinya,

baik

secara kuratif

(penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan


2

informasi yang seobyektif mungkin. Tujuan umum penyelenggaraan pratikum diagnosis kesulitan belajar adalah agar mahasiswa dapat menerapkan dan mengembangkan kompetensi diagnostik kesulitan belajar secara penuh melalui pengalaman nyata dalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling disekolah dengan tepat. Berkait

dengan

kegiatan

diagnosis,

secara

garis

besar

dapat

diklasifikasikan ragam diagnosis ada dua macam, yaitu diagnosis untuk mengerti masalah dan diagnosis yang mengklasifikasi masalah. Diagnosa untuk mengerti masalah merupakan usaha untuk dapat lebih banyak mengerti masalah secara menyeluruh. Sedangkan diagnosis yang mengklasifikasi masalah merupakan pengelompokan masalah sesuai ragam dan sifatnya. Ada masalah yang digolongkan kedalam masalah yang bersifat vokasional, pendidikan, keuangan, kesehatan, keluarga dan kepribadian. Kesulitan belajar merupakan problem yang nyaris dialami oleh semua siswa. Sehubungan dengan itu, sangat penting bagi penulis untuk melaksanaka pratikum diagnosis kesulitan belajar yang telah dilaksanakan di SMK Kansai Pekanbaru. B. Landasan Teori 1. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar Diagnosis merupakan istilah yang diadopsi dari bidang medis. Menurut Thorndike dan Hagen (Abin S.M., 2002 : 307), diagnosis dapat diartikan sebagai : a. Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symtoms); b. Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial; c. Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta-fakta tentang suatu hal. Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implisit telah tercakup pula konsep prognosisnya. Dengan


3

demikian dalam proses diagnosis bukan hanya sekadar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya. Bila kegiatan diagnosis diarahkan pada masalah yang terjadi pada belajar, maka disebut sebagai diagnosis kesulitan belajar. Melalui diagnosis kesulitan belajar gejala-gejala yang menunjukkan adanya kesulitan dalam belajar diidentifikasi, dicari faktor-faktor yang menyebabkannya, dan diupayakan jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut. Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu : (a) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (b) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. 2. Karakteristik Peserta Didik Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa peserta didik adalah individu yang unik, yang punya kesiapan dan kemampuan fisik, psikis serta intelektual yang berbeda satu sama lain. demikian pula halnya dalam hal belajar, setiap peserta didik mempunyai karakteristik yang berbeda. adapun karakteristik peserta didik dalam belajar di sekolah adalah sebagai berikut: a. Peserta didik yang cepat dalam belajar, pada umumnya adalah para siswa yang dapat menyelesaikan proses belajar dalam waktu yang lebih cepat dari pada yang diperkirakan semula. mereka dengan mudah dapat menerima materi


4

pelajaran yang disajikan, dan mereka juga tidak memerlukan waktu yang lama untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. b. Peserta didik yang lamban dalam belajar, merupakan kebalikan daripada siswa yang cepat dalam belajar, dimana peserta didik yang lambat dalam belajar memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang diperkirakan cukup untuk kondisi siswa yang normal. hal ini menyebabkan mereka sering merasa tertinggal dalam proses belajarnya, sehingga mereka menemukan kesulitan belajar. c. Peserta didik yang kreatif, adalah peserta didik yang menunjukkan kreatifitas yang tinggi dalam kegiatan-kegiatan tertentu, seperti dalam melukis, menggambar, olah raga, kesenian, organisasi dan kegiatan kurikuler lainnya. pada umumnya siswa yang kreatif ini terdiri dari peserta didik yang cepat dalam belajar, disamping siswa yang normal. peserta didik yang kreatif ini dalam proses belajarnya lebih mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi, mereka lebih senang bekerja sendiri, percaya diri sendiri, dan berani menanggung resiko yang sulit sekalipun, bahkan kadang-kadang bersifat distruktif. Untuk mengembangkan kreativitas para peserta didik ini, sekolah diharap dapat memberikaan kesempatan yang seluas-luasnya. d. Peserta didik yang drop out, adalah mereka yang tidak berhasil atau gagal dalam kegiatan belajarnya. Adapun penyebab drop out itu banyak sekali, barangkali disebabkan oleh faktor yang ada di dalam pribadi peserta didik sendiri, seperti kurang minat, malas dan sekolah tidak sesuai dengan cita-cita dan lain sebagainya. Mungkin pula disebabkan oleh faktor eksternal, seperti kurikulum, metode mengajar yang

digunakan oleh guru, lingkungan

masyarakat yang tidak mendukung atau keluarga broken home dan lain-lain. e. Peserta

didik

yang

underachiever,

adalah

siswa

yang

memiliki

taraf inteligensi yang tergolong tinggi, akan tetapi mereka memperoleh prestasi belajar yang tergolong rendah. Peserta didik ini dikatakan underachiever karena secara potensial, peserta didik yang memiliki taraf


5

intelegensi yang tinggi mempunyai kemungkinan yang cukup besar untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi, akan tetapi dalam hal ini siswa tersebut mempunyai prestasi belajar dibawah kemampuan potensial. 3. Pengertian Kesulitan Belajar Kesulitan belajar adalah hambatan/ gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf inteligensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Kesulitan belajar merupakan masalah yang cukup kompleks dan sering membuat orangtua bingung mencari penyelesaiannya. Kesulitan belajar banyak ditemukan pada anak usia sekolah. Pola belajar anak, memang dibentuk saat di sekolah dasar. Sesuai dengan masanya ia mengalami perkembangan mental dan pembentukan karakternya. Di masa kini anak tidak hanya belajar menghitung, membaca, atau menghafal pengetahuan umum, tapi juga belajar tentang tanggung jawab, skala nilai moral, skala nilai prioritas dalam kegiatannya. Masalah disiplin juga tidak kalah pentingnya. Anak-anak sejak kecil sudah

harus

ditanamkan

disiplin.

Jika,

tidak

sangat

menentukan

perkembangan karakter anak tersebut. Di dalam kebudayaan Bugis-Makassar ada istilah macanga-canga atau memandang enteng persoalan. Sering menunda-nunda jadwal belajar. Dalam menghadapi perilaku anak seperti ini, dalalm artikel Ibu Anak disebutkan setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan. Namun, sebelum memperhatikan hal tersebut, orangtua hendaknya tidak mudah jatuh iba sehingga mengambil alih tugas anak. Tentu dengan tujuan meringankan agar mereka bisa mengerjakan pekerjaan rumah misalnya. Sekali lagi orangtua tidak dianjurkan membantu anak dengan cara mengambil alih, tapi bagaimana menuntun anak agar pekerjaan rumah dikerjakan sendiri dalam situasi menyenangkan.


6

4. Gejala kesulitan Belajar Kesulitan atau masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Menurut Warkitri dkk. (1990 : 8.5 – 8.6), individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut. a. Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelompoknya. b. Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya. c. Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. d. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar. e. Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst. f. Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst. g. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dst. 5. Prosedur dan teknik Diagnosis Kesulitan Belajar a. Mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar b. Melokalisasikan letak kesulitan yang dihadapi siswa c. Menentukan faktor-faktor penyebab siswa mengalami kesulitan belajar. d. Memperkirakan kemungkinan bantuan yang akan diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. e. Menetapkan kemungkinan cara mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa. f. Menindak lanjuti siswa yang menjadi fokus diagnosis.


7

C. Hasil Kegiatan Diagnosis 1. Langkah Diagnosis a. Mengidentifikasi Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar Melalui Wawancara Guru Pembimbing Akademis Subjek : Semua siswa Kelas XII Elektronika Waktu

: 30 Desember 2012

Tempat : Ruang Guru Tujuan : Untuk mengenali siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar Hasil

: Dalam satu semester ini ditemukan 11 siswa peringkat bawa yang mengalami kesulitan belajar. Peneliti memilih satu siswa peringkat paling bawah pada semester ini

yang dijadikan subjek penelitian. Siswa tersebut bernama Rifki Fahmi b. Analisa Prestasi Belajar Untuk mengetahui peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, peneliti menghimpun dan menganalisis hasil belajar serta menafsirkannya. Dalam menentukan baik buruknya hasil belajar adalah dengan melihat Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) dengan nilai yang diperoleh siswa. Berikut tabel hasil belajar siswa kelas XII Elektronika SMK Kansai Pekanbaru. c. Melokalisasikan faktor-faktor penyebab siswa mengalami kesulitan belajar. Setelah bebagai teknik dilakukan oleh peneliti, baik itu secara observasi, informasi yang berkaitan dan wawancara terhadap guru pmbimbing yang ada di SMK Kansai Pekanbaru, maka penulis menyimpulkan masalah yang dialami oleh siswa tersebut adalah kurang nya perhatian siswa yang bersangkutan dalam mengikuti mata pelajaran yang dilakukan oleh guru dan Rifki mengakui bahwa dirinya kurang meminati mata pelajaran mata pelajaran fisika. Terdapat kendala bagi beliau dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru.


8

d. Memperkirakan kemungkinan bantuan yang akan diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Melihat penyebab kesulitan belajar yang terjadi pada Rifki, maka kemungkinan Rifki masih dapat ditolong. Jika Rifki mau berusaha untuk berubah, pasti akan ada jalan, akan ada perubahan walaupun sedikit demi sedikit. Dikarenakan disekolahan ini tidak ada guru Bimbingan dan Konseling, maka bantuan ini dapat diberikan diruangan Guru Pembimbing Akademis. Lama waktu yang dibutuhkan dalam menangani masalah Rifki ini tidak bisa dipastikan karena berbicara mengenai motivasi diri,

penguasaan materi

pelajaran dan keterampilan tentu membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan artian membutuhkan dukungan moral dan latihan terus-menerus untuk menyelesaikan masalah ini. Hal ini perlu dilakukan dalam mencapai keberhasilan. Jika hal ini dibiarkan akan berdampak dalam pencapaian tujuan pembelajaran baik untuk Rifki bahkan sekolah. e. Menetapkan kemungkinan cara mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa. Ada beberapa upaya bantuan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan belajar Rifki, diantaranya adalah: 1) Perbaikan pengajaran Ini adalah bentuk dari perbaikan system belajar yang selama ini pengajaran yang dilaksanakan oleh guru belum bisa memberikan pemahaman yang baik kepada siswa. Dengan adanya perbaikan dalam system pengajaran ini mungkin bisa membantu siswa dalam memperbaiki cara belajar dan mendapatkan nilai yang lebih baik lagi. 2) Memulai Segala Sesuatu dengan Niat “Segala amal tergantung niat� kata-kata dari Nabi Muhammad saw tersebut sebenarnya mengajak agar kita harus mengawali sesuatu dengan niat yang baik, niat bisa diartikan tujuan.. Karena apa saja yang dimulai dengan


9

niat yang baik pasti hasilnya akan baik seperti yang diharapkan di bandingkan dengan memulainya tanpa niat atau dengan tergesa-gesa. Belajar bukanlah persoalan menjadi terkenal karena dianggap ‘jago’ atau untuk mengharapkan nilai yang tinggi. Hendaknya seorang pelajar meyakini secara sadar bahwa belajar itu terjadi secara sadar, dan ia muncul dari dalam diri sendiri, bukan karena orang lain. 3) Berusaha untuk mencintai guru Cara efektif dan tepat agar bisa mencintai suatu pelajaran paling utama setelah niat yang luurs adalah dengan menyukai guru mata pelajaran yang bersangkutan. Karena apabila kita telah menyukai guru tersebut maka secara tidak langsung pelajaran yang di ajarkan guru tersebut juga akan di sukai. Tapi bagaimana jika sulit sekali menyukainya? Tentu saja jalan keluarnya dengan menghilangkan prasangka buruk kepada guru tersebut. Berusaha menemukan hal-hal yang menyenangkan atau sisi positif dari guru tersebut, berusaha mendengarkan guru saat sedang berbicara, menghindari sikap merendahkan guru apabila tidak bisa menerangkan pelajaran seperti yang di inginkan serta berusaha mendekatinya dan menemukan waktu yang tepat untuk memahami dirinya dan pelajaran yang diajarkannya. Bila belum juga manjur juga, kembalilah pada hatimu, dengan mempercayai bahwa setiap guru itu tidak pernah bermaksud buruk kepada muridnya, sama halnya dengan orang tua. Karena seorang guru memiliki hati yang mulia, hal itu bisa di buktikan dengan pengorbanan yang mereka lakukan lakukan setiap saat, bahkan tanpa kita sadari. 4) Selalu mempersiapkan segala sesuatu sebelum belajar Jika semua persiapan telah lengkap pasti akan mendorong keinginan untuk belajar, perlengkapan tidak lengkap menjadi pemicu seseorang bisa tidak menyukai suatu pelajaran dan juga menjadi alasan untuk tidak belajar.


10

Bila segala perlengkapan telah lengkap maka hal itu akan membuat seseorang terdorong untuk menjawab segala macam soal yang diberikan oleh seorang guru. Guru pun akan menjadi lebih bersemangat untuk menerangkan pelajaran jika siswanya telah siap untuk belajar. 5) Katakan bahwa ‘saya akan menyenangi mata pelajaran ini’ Tak kenal maka tak cinta, pepatah lama yang bernilai ini mengajarkan kita untuk memngenali kemudian akan timbul rasa cinta, hal ini berlaku pula bagi mata pelajaran bahkan juga guru yang mengajarkannya. Apabila seseorang telah menyenangi pelajaran itu hal itu akan memudahkan untuk keluarnya suatu ide. Cara mengenalnya tentu saja terlabih dahulu mengetahui manfaatnya, tentu saja Albert Einstein mengetahui kegunaan matematika dasar untuk menemukan rumus E=MC², atau kita juga akan mengetahui kegunaan rumus kecepatan adalah jarak dibagi waktu, jika kita tidak mencoba memperkirakan berapa jarak antara kota Padang dan Bukittinggi? Nah, dengan demikian kita tetap berfikiran terpelajar dengan menghargai bahwa semua ilmu itu berguna. 6) Tingkatkan rasa keingintahuan Jika ingin memahami sesuatu tentu saja rsa ingin tahu (curiosity) yang dimiliki harus ditingkatkan levelnya. Rasa penasaran dan mencoba mencari tantangan untuk mengetahuinya adalah hal yang sangat penting. Seperti menginginkan sesuatu dan segera ingin memilikinya. 7) Mengulang pelajaran Dengan cara mengulang pelajaran kembali dirumah pasti pada saat guru menerangankan akan tersimpan dipikiran. Dan akan membuat lebih mudah pada saat di beri ulangan harian. Dan dengan cara itu semua pasti hasilnya akan lebih baik dan bisa menjadi kunci kesuksesan. Temukan teman yang mengajakmu lebih mengenai mata pelajaran yang tidak disukai. Karena jika memaksakan diri menemukan solusi dengan


11

keterbatsan kemampuan akan beresiko salah pemahaman atau semakin memunculkan rasa tidak suka. Maka temukan dan dekati mereka yang mahir dengan pelajaran tersebut, termasuk guru kamu. 8) Menindak lanjuti siswa yang menjadi fokus diagnosa. Karena keterbatasan waktu, maka peneliti tidak melakukan tindak lanjut terhadap masalah yang dihadapi Rifki Fahmi D. Kesimpulan dan Saran Dari hasil diagnosis yang peneliti lakukan, bahwasanya dari 28 siswa kelas XII elektronika yang teridentifikasi 11 orang mengalami kesulitan belajar. Pengidentifikasian dilakukan melalui analisa hasil belajar. Diagnosis kali ini peneliti mengambil satu orang yang menjadi subjek fokus diagnosis. Peneliti memilih siswa bernama Rifki Fahmi. Menurut hasil wawancara dengan guru pembimbing akademis dan wawancara dengan Rifki Fahmi, diketahui bahwa penyebab terjadinya kesulitan belajar ini adalah dikarenakan faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi minat dan motivasi yang rendah dari diri siswa itu sendiri terhadap mata pelajaran tersebut. sedangkan faktor eksternal meliputi cara mengajar guru dan perhatian dari keluarga. Adapun saran yang dapat saya utarakan adalah : 1. Diharapkan kepada pihak sekolah menyediakan guru pembimbing agar siswasiswa yang mengalami kesulitan belajar dapat ditangani dengan optimal. 2. Untuk pihak jurusan agar dapat memberikan dorongan atau sokongan terhadap kesuksesan dalam melaksanakan praktikum-praktikum yang ada pada semester berikutnya. 3. Untuk dosen pembimbingan agar kiranya memaklumi hasil diagnosis ini karena terhalang oleh waktu sehingga hasil pendiagnosisan kurang maksimal.

Diagnosis kesulitan belajar