Page 1

R Dari iau, S

a

un i nD a atk m a el

Riau Pos AHAD 27 FEBRUARI 2011

33

MENUJU LAUT: Penyu hijau hasil penangkaran bersiap menuju ke laut lepas.

SAID MUFTI/RIAU POS

AMRIYADI BAHAR/RPG

Mengunjungi Penangkaran Penyu Hijau di Pulau Jemur

Bila Lapar, Teman Sendiri Dimakan Jika petugas di penangkaran penyu hijau (Chelonia mydas) lalai memberi makan, tukik (anak penyu) tak segan untuk memakan temannya sendiri. Laporan ANDI NOVIRIYANTI, Pulau Jemur andinoviriyanti@riaupos.com

HARI baru saja pukul 11.00 WIB. Langit yang tadi cerah, tiba-tiba mendadak menghitam. Angin kencang dan hujan lebat membuyarkan lamunan kami yang telah lelah melihat ombak dan lautan luas menuju Gugusan Pulau Arwah (Aruah) di Selat Melaka. Gerakan beberapa awak speedboat yang kami tumpangi bergegas menutup jendela speedboat membuat kami dalam posisi waspada. Apalagi bulan Februari ini dalam laporan Badan Metereologi dan Geofisisika (BMG) dalam status waspada untuk melaut. Bupati Rokan Hilir Annas Maamum sebelum berangkat juga mengingatkan kami untuk mengurungkan niat melihat penangkaran penyu di sekitar Pulau Jemur bila melihat tanda-tanda cuaca buruk. Namun untunglah, hujan lebat di Jumat (18/2) siang itu tak berlangsung lama. Speedboat kami yang berkekuatan 75 PK tetap melaju di antara rinai hujan. Langit juga kembali cerah saat kami memasuki

kawasan Gugusan Pulau Aruah yang berbatu karang. Gugusan Pulau Aruah merupakan gugusan pulau-pulau terluar Indonesia yang berada di Selat Melaka dan berbatasan langsung dengan Malaysia. Gusuan pulau ini terdiri dari sembilan pulau utama, yakni Tukongperak, Labuhanbilik, Tukongmas, Tukongsimbang, Batuberlayar, Sarangalang, Jemur, Batuadang, dan Batumandi. Gugusan pulau yang kerap tak terlihat di peta ini, berjarak sekitar 45-50 mill dari Kota Bagansiapi-api, Ibu Kota Kabupaten Rokan Hilir. Berjarak sekitar 328 km dari Kota Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau. Sementara itu, dari Malaysia tepatnya Port Klang, gugusan pulau itu hanya berjarak 45 mill. “Ke mana kita mendarat? Ke pangkalan Angkatan Laut atau Pangkalan Perikanan?” ujar nahkoda speedboat. Salah satu dari kami berujar, “Ke Pangkalan Perikanan”. Speedboatpun melaju ke arah salah satu pulau. Yang belakangan kami ketahui bernama Labuhanbilik. Bisanya menjadi pulau tempat berlindung nelayan dari hantaman badai, karena bentuknya yang serupa bilik (kamar) luas berbatu karang. Setelah mendekati pulau tempat pangkalan perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir ternyat kami tidak bisa

merapat ke daratan. “Kita harus menunggu air pasang,” terang sang nahkoda kapal. Speedboat kamipun terpaksa dirapatkan ke kapal-kapal nelayan yang berkumpul dan saling bergandengan tak jauh dari pulau. Agar speedboat kami tak terbawa gelombang. Sesampai di dekat kapal itu, kami pun melihat aktivitas para nelayan ikan dan juga para pengumpul ikan. Ternyata di tengah laut itulah, transaksi jual beli ikan dilakukan. Dari kapal nelayan ke kapal pengumpul ikan yang ukurannya sekitar tiga kali lipat lebih besar dari kapal nelayan. Rata-rata para nelayan itu berasal dari Sumatera Utara, sementara kapal pengumpul ikannya berasal dari Tanjung Balai Asahan. “Mungkin sekitar pukul 12 atau jam 1 nanti air pasang,” ujar Thalib (54), seorang nelayan di kapal nelayan tempat kami bertambat memberi keterangan. Kami pun menunggu air pasang. Namun ketika waktu sudah merangkak satu jam ke depan kami dilanda bosan. Kami telah puas mondar-mandir dari kapal nelayan satu ke nelayan berikut. Melihat aktivitas jual beli ikan hingga ikut menyicipi ikan goreng yang baru dimasak para nelayan. Air laut memang sudah terlihat naik. Tapi belum cukup juga untuk membuat speedboat kami bisa bersandar. Melihat kami yang telah gelisah,

seseorang dari kapal pengumpul ikan, menawarkan kami untuk naik sekoci ke pulau tersebut. Melihat sekoci kecil, berukuran sekitar 2,5 meter dan lebar 75 cm itu, gamang juga perasaan kami. Beberapa orang tampak menurunkan benda-benda di atas sekoci agar bisa kami pakai. Melihat ada beberapa benda berat yang hendak diturunkan dan perasaan kami ragu-ragu untuk naik sekoci, akhirnya naik sekoci diurungkan. Namun setelah menunggu seperempat jam kemudian dan kembali dilanda gelisah karena melihat air pasang begitu lambat, akhirnya kamipun bertekat naik sekoci. Beberapa orang dari kami masuk sekoci. Sekoci itu terombang-ambing. Tapi menurut para nelayan tidak apaapa. Akhirnya, satu persatu kamipun masuk. Sampai jumlahnya tujuh orang. Kamipun harus duduk melantai dan menjaga keseimbangan. Takut sekoci itu terbalik. Apalagi yang kami khawatirkan adalah peralatan elektronik yang ada di tas kami. Dengan perasaan was-was itu, sekoci kamipun tetap dikayuh ke arah pulau. Ternyata sekoci kami tidak diarahkan ke pantai berpasir di hadapan kami. Tetapi ke arah samping, tempat pantai berbatu karang yang berada di sampingnya. Mungkin untuk mengikuti arus, agar gampang mengayuhnya. Gesekan sokoci dan batu karang yang

kami lalui, membuat perasaan kami kembali berdebar. Apalagi, saat hendak turun menginjakkan kaki ke batu karang pulau itu. Seseorang dari kami, Amri, yang duluan pernah ke pulau itu mengatakan ada ular batu berbisa yang sangat berbahaya yang bisa tiba-tiba muncul karang-karang itu. Itu sebabnya, kami harus melihat ke bawah dengan hati-hati saat melangkahkan kaki. Untuk sampai ke pangkalan perikanan, kami harus berjalan memutari pulau. Di tempat itu kami melihat beberapa rumah. Semacam rumah RSS, namun terlihat tanpa penghuni. Di sebuah rumah agak di bagian depan pulau, belakangan kami ketahui menjadi markas bagi petugas dari Dinas Perikanan. Di tempat itu kami disambut Andi Suriyadi (33) dan kawan-kawan. Meskipun tanpa mengabari mereka sebelumnya. Karena memang tidak ada cara untuk mengabari mereka. Disitu tidak ada sinyal handphone. “Walaupun tanpa kabar, tetap kami sambut,” ujar Andi kepada kami. Setelah berbincang sejenak, Andi dan beberapa rekannya membawa kami ke sebuah bangunan sederhana tepat berada belakang rumah mereka. Tempat itu, merupakan tempat penangkaran penyu. Ada beberapa bak fiber berwarna biru yang kami temukan di tempat itu dengan

Ancaman Pemburu Liar Kisah Ndit (burung Serindit , maskot fauna Riau) dan Tambun (anak gajah Sumatera)

berbagai model. Ada yang bulat dan ada yang persegi panjang. Dari beberapa bak fiber itu terlihat hanya tiga yang berisi tukik. Masing-masing bak sepertinya memuat ratusan tukik yang berbeda ukuran. Menurut Andi, tukik itu ada yang berumur beberapa minggu hingga dua bulan. Tukik-tukik itu, tambahnya, sengaja dipisahkan sesuai umur tukik. Terkadang juga dipisahkan berdasarkan ukuran badan. Pasalnya jika yang besar dan kecil digabung, yang besar bisa memakan tukik yang lebih kecil. Berbincang dengan Andi tentang pemeliharaan tukik-tukik tersebut, ternyata bukan persoalan mudah. Petugas yang merawatnya harus memiliki tingkat ketelatenan yang cukup tinggi. Setiap dua hari sekali mereka harus mengambil air laut untuk mengisi bak. Air bak harus selalu jernih. Jika tidak, tukik tersebut akan mati. Selain itu, mereka juga harus telaten memberi makan. Makan tukik diberikan pada pagi dan sore hari. Pakannya berupa pelet ataupun ikan. Namun ikan yang diberikan bukanlah ikan hidup. Tetapi sudah berupa potongan kecil-kecil daging ikan. Potongan ikan itu juga harus dipastikan bebas dari tulang ikan. “Jika kami lalai memberikan makan untuk tukik-tukik itu, „ Baca Bila Halaman 34


un i nD ka at am el

a

AHAD R Dari iau, S

27 FEBRUARI 2010

SAVE THE EARTH Menyelamatkan Lingkungan demi Masa Depan

GAC ala Mapala Polipera UPP

Inf Info Green

INTERNET

Lidah Buaya Minuman Raja dan Ratu MANFAAT lidah buaya sudah dibuktikan sejak empat ribu tahun lampau. Konon, Ratu Cleopatra dan Raja Aleksander Agung pun sering mengonsumsi minuman lidah buaya. Menurut Dra Erlin Nurtiyani MSi, peneliti dan dosen dari FMIPA Universitas Indonesia, minuman lidah buaya merupakan minuman eksklusif ratu dan raja. Begitu hebatnya khasiat lidah buaya, sehingga tumbuhan yang tepian daunnya berduri serta berdaging lembut itu sering disebut ‘Tanaman Ajaib yang Serba Guna’. Lidah Buaya (Aloe vera L) merupakan tanaman asli Afrika, tepatnya dari Ethiopia. Tanaman lidah buaya merupakan tanaman yang fungsional karena semua bagian dari tanaman dapat dimanfaatkan, baik untuk perawatan tubuh, mengobati berbagai penyakit maupun untuk makanan dan minuman. Berdasarkan hasil penelitian, lidah buaya dapat berfungsi sebagai anti-bakteri, anti-jamur, dan regenerasi sel. Di samping itu, lidah buaya bermanfaat untuk menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderia diabetes, mengontrol tekanan darah, menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat digunakan sebagai nutrisi pendukung bagi penderita HIV. Penggunaannya dapat berupa gel, dalam bentuk segar atau dalam bentuk bahan jadi (kapsul, jus, pasta, atau makanan dan minuman kesehatan). (int/tya)

INTERNET

SARANG: Laba-laba ternyata memiliki keistimewaan lain. Sarang telurnya bisa dijadikan sebagai pengganti plester dan terbukti lebih efektif.

Sarang Laba-laba Pengganti Plester TERNYATA ada cara yang lebih efektif untuk menutup luka sebagai pengganti plester. Cara tersebut adalah cara tradisional dengan mengggunaan sarang telur laba-laba. Sarang telur laba-laba ini sangat baik untuk menutup luka. Sebab mengandung bahan anti mikroba. Sehingga bisa mencegah infeksi. Uniknya penemuan secara ilmiah bahwa sarang telur laba-laba ini bisa menjadi penutup luka yang efektif ditemukan oleh Rezza Putri Mahartika, Fauzizah Fatma Ningrum dan Erissa Hanifah, siswi-siswi MTs Negeri Kediri II Jawa Timur, salah satu finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja Ke-42 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mereka menjadikan mencit (tikus putih) sebagai media percobaannya. Pada hari kelima luka pada mencit sudah mengering jika ditutupi dengan sarang telur laba-laba. Sementara pada hari yang sama luka masih basah jika menggunakan plester. Luka yang telah mengering dan menutup bisa dilihat dari tumbuhnya jaringan di permukaan kulit yang disebut epidermis. Sarang telur laba-laba mengadung polimer berupa protein berbentuk kristal yang bisa berinteraksi dengan darah untuk mendukung proses pembekuan. Sementara itu, bahan protein yang terkandung dalam sarang laba-laba memiliki peran untuk membantu proses pembekuan darah. (int/ tya-gsj/new)

INTERNET

PENYU: Seekor penyu belimbing yang masuk kategori sangat terancam punah menampakkan diri di pantai Sumatera.

Penyu Langka Menampakkan Diri PENYU belimbing (Dermochelys coriacea) merupakan penyu yang sangat langka dan tergolong paling terancam punah. Penyu belimbing adalah spesies yang telah mengembara lautan selama 100 juta tahun. Namun, kini jumlah penyu belimbing hanya sekitar 30.000 ekor. Namun, tiba-tiba penyu tersebut menampakkan diri di salah satu pantai Sumatera. Penyu yang berukuran 3 meter itu muncul untuk bertelur. (int/tya-gsj/new)

GREENING and Adventure Competition (GAC) merupakan kegiatan Mapala Polipera Rokan Hulu yang diperuntukkan bagi siswa SMA. Yaitu kegiatan pembinaan kepada generasi muda yang masih duduk dibangku sekolah tentang pemahaman lingkungan. Kegiatan ini telah dilaksanakan dua kali. Dan, aksi kedua kompetisi pelajar SMA se-Rokan Hulu tahun ini bekerja sama dengan Dishut, Disbudpar Rokan Hulu, dan Rokan Lepidoptera, dibantu Sispala Silvagreen SMA 1 Tambusai tahun ini sangat meriah dan tepat sasaran. Acara dilaksanakan akhir pekan Jumat, Sabtu dan Ahad, Tanggal 18-20 Februari 2011 di Objek Wisata Hapanasan. Pembukaan dilakukan oleh perwakilan dari Rektor Universitas Pasir Pengaraian (UPP), Bapak Mahrijal ST, Purek I UPP. Tujuan dilaksanakan kegiatan Greening and Adventur Competition II (GAC II) ini untuk memupuk rasa cinta akan alam dan wisata Rokan Hulu, membina ketangguhan, sportivitas dan kreativitas, membangun jiwa sosial dan hidup sederhana, memberi pendidikan dan pemahaman pentingnya hutan. Sukses kegiatan pertama pada Desember 2009 di Objek Wisata Suaman tahun lalu. GAC kedua tahun ini memberi dampak peningkatan peserta dan kualitas kegiatan walau dilaksanakan selama tiga hari.

Peserta terdiri dari 156 siswa SMA sederajat se Rokan Hulu. Utusan dari berbagai kecamatan se-Rokan Hulu yakni Kecamatan Rambah, Rambah Hilir, Tambusai, Tambusaiutara, Kepenuhan, Ujung Batudan Rokan IV Koto. Tim itu kemudian dibagi dalam 13 tim putra dan 13 tim putri. Tiap tim terdiri enam orang. Ada tiga kategori lomba yang diikuti peserta, yaitu lomba adventure competition, outbond, pentas seni dan hastakarya. Selain lomba juga dilaksanakan kegiatan, penanaman, temu bicara, diskusi, anjang sana dan malam api unggun. Kegiatan lain yang tidak kalah menariknya adalah pengetahuan tentang lingkungan. Berupa pengenalan kupukupu yang dibimbing oleh Yusri Syam, seorang peneliti Serangga Kupu-kupu di Gedung Pusat Informasi Kupu-kupu Sumatera, Objek Wisata Hapanasan Rokan Hulu. Saat dilakukan diskursus singkat, peserta dengan antusias banyak menanyakan tentang berbagai hal terkait dengan kupu-kupu. Ini menunjukkan bahwa keingintahuan tentang kupu-kupu sebagai tolok ukur tanaman sangat tinggi. Kemudian 165 peserta bersama dengan 40 panitia mengunjungi Gedung Pusat Informasi Kupu-kupu Sumatera dan penangkarannya. Di sini peserta sekali lagi dijelaskan tentang metamorfosis kupukupu serta ditunjukkan langsung jenis pakan tanaman ulatnya.

Riau Pos HALAMAN 34

Green Community Dengan 500 kata ceritakan aktifitas lingkungan komunitasmu plus foto terbaru kegiatanmu. Lengkapi dengan foto copy kartu identitasmu langsung ke Riau Pos atau Email ke greenstudentriau@gmail.com

GAC FOR RIAU POS

FOTO BERSAMA: Peserta dan Panitia GAC foto bersama pada kegiatan GAC ke dua di Rokan Hulu.

Setelah itu Yusri mengajak seluruh peserta dan panitia menanam beberapa tanaman pakan kupu-kupu di depan gedung dan penangkaran secara simbolis. Kegiatan itu diwakilkan oleh beberapa orang yaitu dekan UPP, Dishutan, Disbudpar, Gempala, Panitia yang diketuai oleh Ihyaul Abdul Kohar dan Peserta GAC. II sebagai kenang-kenangan. Selanjutnya penanaman 500 bibit tanaman dari Dishutan Rohul di sekitar objek wisata Hapanasan. Akhirnya pukul 17.00 WIB Dekan Agro Kultur UPP, Ihsan Gunawan, menutup kegiatan ini dengan pengumuman hasil kompetisi, yaitu juara

umum jatuh kepada SMA 1 Tambusai, Kategori Adventure competition. Juara I putra (pa) SMA 2 Rambah Hilir, Juara I putri (pi) SMA 1 Tambusai. Kategori Outbond, Juara I pa SMA 1 Tambusai, Juara I pi SMA 2 Rambah Hilir, Kategori Pentas Seni dan Hasta Karya Juara I pa SMA 1 Rokan IV Koto, Juara I pi SMA 2 Rambah Hilir. Selamat untuk yang juara.*** Anang Susanto Ketua Mapala Polipera Universitas Pasirpengaraian (UPP)

Bila Sambungan Halaman 33 maka mereka akan saling bunuh. Mereka makhluk kanibal dan bisa saling makan. Itu sebabnya sekarang yang bertugas memelihara tukik diseleksi. Tidak bisa asal-asalan,” ujar Andi yang ikut menjadi tim penyeleksi mengingat beberapa waktu sebelumnya kerap tukik ditemukan mati karena terlambat diberi makan. Untuk pemenuhan ikan bagi pakan tukik tersebut, menurut Andi, kerap disumbangkan oleh para nelayan. Biasanya dua hari sekali, para nelayan mengantarkan ikan. Di pulau yang belum berpenduduk itu, Andi dan teman-temannya di Dinas Perikanan bergantian untuk memelihara tukik tersebut. Setiap dua pekan sekali, mereka ganti shift. Satu shift terdiri dari lima orang. Beberapa bertugas mengawas untuk urusan kelautan dan perikanan sementara sisanya mengurus penangkaran. “Biasanya kami merawat tukik-tukik ini hingga umur 4-5 bulan. Kalau sudah selebar mangkok bakso, baru dilepas,” ujarnya sembari menyebutkan bulan Mei lalu mereka telah melepas sekitar 500-an anak penyu. Untuk menangkarkan penyu tersebut, menurut Andi, tidak dilakukan terus menerus. Ada masa off-nya, karena mengikuti penanggaran di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). “Kalau anggaran sudah ketuk palu, barulah program ini di jalankan kembali. Jadi tidak setiap saat penangkaran ini ada,” ujarnya. Andi juga menyebutkan bahwa mereka tidak melakukan proses penangkaran sendiri. Namun bekerja sama dengan petugas di Pos Pangkalan TNI AL dan Navigasi yang berada di Pulau Jemur. “Penetasan telur penyu memerlukan perlakuan tersendiri dan hanya bisa ditetaskan dengan pasir di tempat penyu bertelur. Jadi kami di sini, hanya membesarkan tukik dari hasil penetasan dari petugas TNI AL dan Navigasi,” cerita Andi. Usai melihat penangkaran penyu di Pulau Labuhanbilik tersebut, perjalanan kami pun di lanjutkan ke Pulau Jemur, tempat Pangkalan TNI AL dan Navigasi. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke pulau tersebut dengan speedboat. Sayangnya saat kami berkunjung belum ada telur yang dalam proses pengeraman. “Ini belum musimnya penyu bertelur. Dalam beberapa hari, mungkin hanya satu penyu yang mendarat untuk bertelur,” ungkap Muslik, petugas dari TNI AL yang kami temui di pangkalan TNI AL. Muslik kemudian memberikan informasi bahwa penyu kerap bertelur bukan di pulau tempat mereka itu. Tetapi pulau yang berada di depan mereka. Pulau kecil berpasir tanpa penduduk ataupun petugas. “Penyu tidak akan bertelur di pulau yang ada suara manusia ataupun cahaya,” ujarnya. Dia kemudian menunjukkan sebuah bak batu besar yang bisa ditemui sebelum naik ke pos mereka yang berada di atas bukit. “Bak ini dulu, yang kita jadikan tempat penangkaran,” ujarnya. *** BILA melihat upaya penangkaran penyu hijau di pulau terluar Indonesia itu, orang mungkin tidak akan lupa dengan Sopyan Hadi. Pria yang pernah mendapatkan penghargaan Setia Lestari Bumi dan Kehati Award itu, adalah per-

RPG

SANTAI: Penyu, salah satu satwa yang dilindungi, nampak sedang santai.

intis kegiatan konservasi penyu hijau di pulau tersebut. Upaya konservasi di tempat itu, di awali dari perjalanannya ke Pulau Jemur sekitar tahun 2001 untuk melihat induk penyu hijau yang bertelur. Untuk sampai ke pulau itu, pria kelahiran Pekanbaru, 30 Agustus 1975 itu menumpang perahu nelayan dengan waktu tempuh sekitar enam jam perjalan dari Kota Bagansiapi-api. Dari situlah Sopyan jatuh prihatin dengan nasib penyu hijau yang terus diburu. Terutama telur-telurnya. “Telur penyu di Pulau Jemur telah lama dieksploitasi. Bahkan sejak zaman kerajaan dulu. Telur-telur penyu kerap dijadikan upeti bagi sang raja. Sementara saat ini banyak diperjual belikan untuk konsumsi manusia. Telur penyu ini punya nilai ekonomis cukup tinggi. Harga persatuannya berkisar Rp2.500,” paparnya, Rabu (23/2) lalu. Padahal untuk dapat bertelur, umur penyu sudah harus diatas delapan sampai sepuluh tahun. Ditambah lagi persoalan telur-telur yang masih tersisa belum tentu bisa menetas. Dari ratusan telur yang dihasilkan penyu sekali bertelur, namun paling-paling yang bisa menetas hanya beberapa ekor. Setelah menetas menjadi tukik pun, tambahnya, belum tentu juga dapat hidup. Mengingat saat menuju laut ataupun sampai di luat mereka kerap menjadi buruan predatornya. Seperti burung camar, gagak, elang sampai ikan moray, belut dan kerapu. Kondisi itulah yang kemudian mendorong Sopyan untuk melakukan penangkaran. Meskipun menurutnya itu tidak mudah dijalankan. Iapun harus mendekati nelayan dan juga petugas yang kerap mengambil dan menjual telur-telur itu untuk tidak mengeksploitasi semua telur penyu. “Kalau yang sudah penyek ataupun terkena air tawar (hujan) kemungkinan tidak akan berhasil jadi tukik. Nah, kalau itu bisa dimanfaatkan. Jadi tidak bisa mereka disuruh serta merta berhenti. Tetapi

harus dipilah-pilah,” jelasnya. Selanjutnya, Sopyan menuturkan upaya konservasi ditempat itu dimulai dengan membantu pengeraman telur agar bisa menetas lebih banyak. Kalau ayam bisa ditetaskan dengan bantuan lampu, maka dia pun berpikir untuk melakukan hal serupa. Namun karena keterbatasan listrik di tempat itu, membuat dia berpikir lagi mencari cara yang lebih efektif. Terpikirlah untuk memanaskan telur-telur itu dengan pasir. Pasir it digongseng, lalu dimasukkan ke dalam bak fiber. Lalu telur-telur dimasukkan dengan menyusunnya seperti obat nyamuk. Barulah pasir tadi dimasukkan lagi. Disimpan di gudang minyak TNI AL. Ternyata upayanya itu berhasil. Hampir 85 persen telur yang dieramkan dengan cara itu menetas. Puluhan bahkan ribuan tukik pun berhasil lahir. Sopyan- pun memaparkan keberhasilan itu ke almamaternya. Unri kemudian membantu penyedian bak fiber tambahan. Seiring dengan itu, dia pun berhasil lulus sebagai pegawai negeri sipil di Rokan Hilir dan sempat menjadi ajudan bupati. Hal itu membuatnya mendapatkan kesempatan untuk menceritakan tentang aktivitasnya dan tukik-tukik yang siap berenang di laut itu. Akhirnya, perjauangannya yang dimulai tahun 2002 tersebut disambut oleh Pemerintah Daerah Rokan Hilir. Menurut Wan Rusli, Kadis Perikanan dan Kelautan Rokan Hilir, Rabu (32/2), Pemda khususnya instansi yang dipimpinnya telah memulai program penangkaran penyu itu sejak tahun 2006 lalu. Setiap tahun mereka menargetkan 5-10 ribu tukik yang bisa ditangkarkan dan akhirnya bisa dilepas ke laut. “Setiap tahun itu dianggarkan di APBD. Nilainya sekitar 40 juta,” ungkap Wan kepada Riau Pos. Untuk penangkaran tukik-tukik tersebut, instansinya memanfaatkan pegawai Dinas Perikanan, baik pe-

gawai negeri maupun tenaga honor. “Ada sekitar 20 orang yang kami tugaskan di Pulau Jemur. Selain mengawasi perikanan dan kelautan di Pulau Jemur, beberapa di antara mereka ditugaskan untuk penangkaran penyu,” ujarnya. Petugas yang 20 orang itu, menurutnya terbagi dalam empat kelompok. Satu kelompok terdiri dari lima orang. Mereka bergantian menjaga dalam periode dua minggu sekali. “Sebelum berangkat mereka sudah dibekali kebutuhan bahan makanan dan setiap bulan mendapat intensif Rp500 ribu,” ujarnya. Dia juga memuji pegawainya, yang sejauh ini belum ada yang mundur saat ditugaskan ke pulau tanpa penduduk dan sinyal handphone tersebut. Meskipun mereka terkurung selama dua minggu di pulau tersebut, namun mereka tetap serius melakukan upaya konservasi penyu hijau tersebut. Menurutnya penyu hijau dan habitatnya berupa gugusan pulau dan lautan lepas di tempat itu merupakan harta karun bagi Kabupaten Rokan Hilir. Mahkluk penyeimbang ekosistem yang masuk daftar merah sebagai spesies terancam punah menurut the International Union for Conservation of Nature (IUCN) tersebut patut dilestarikan. Apalagi menurut IUCN, binatang laut ini tercatat terancam punah sejak tahun 1982. Untuk itu Wan menghimbau agar masyarakat Kabupaten Rokan Hilir ataupun nelayan di perairan itu dapat menjaga keberlangsungan penyu hijau. “Kalau ada yang terjaring di jaring nelayan, saya himbau untuk dilepas kembali. Mahluk ini sangat penting bagi penyimbang ekosistem. Ia juga menjadi daya tarik wisata bahari yang kini tengah dirintis oleh Pemda,” imbuhnya. Semoga penyu hijau tidak punah dan pulau jemur tetap menjadi rumah yang nyaman bagi penyu hijau untuk singgah bertelur.***


un i nD ka at m a el

a

AHAD R Dari iau, S

27 FEBRUARI 2011

GREEN HOLIC

Riau Pos HALAMAN 35

Eksotika Pulau Terluar dan Penyu Hijau JAUH disana, 50 mil dari Kota Bagansiapiapi, gugusan Pulau Arwah (Aruah) tampak eksotis dengan gugusan pulau berbatu karangnya. Di gugusan pulau ini membentang beberapa pulau, yakni Tukongperak, Labuhanbilik, Tukongmas, Tukongsimbang, Batuberlayar, Sarangalang, Jemur, Batuadang, dan Batumandi. Batumandi menjadi Pulau paling luar dan Pulau Jemur merupakan pulau terluas. Di gugusan pulau inilah, penyu hijau (Chelonia mydas) kerap sing-

gah untuk bertelur. Di situ pulalah, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hulu bersama Pos Angkatan Laut dan Navigasi di pulau itu melakukan upaya konservasi penyu hijau. Mengingat makluk bertempurung ini kerap diburu telurnya, tukik (anak penyu)– nya dimakan pemangsa, sementara induknya disantap manusia. Upaya penangkaran penyu hijau di pulau ini telah dirintis sejak tahun 2002 lalu. Kini sudah ada ribuan anak penyu yang dilepas kelautan.(ndi) FOTO-FOTO: AMRIYADI BAHAR/RPG

Batu karang nan eksotik di pulau terluar.

Ratusan tukik memenuhi bak fiber penangkaran penyu di Pulau Labuhanbilik.

Bibir pantai Pulau Jemur.

Penyu hijau yang telah siap dilepas ke lautan luas.

Sang tukik.

Andi Suriyadi, petugas penangkaran Penyu Hijau dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir berpose bersama tukik peliaraannya.

Eksotika pulau terluar. Tampak Pulau Tukongmas dari kejauhan.

Combat Climate Change (3C) Ungkapkan opinimu dengan 500 kata tentang melawan perubahan iklim. Tulisan terbaik akan

mendapatkan souvenir cantik setelah evaluasi per tiga bulan. Lengkapi dengan biodata singkat dan foto close up dirimu. (Mahasiswa/Umum). Langsung ke Riau Pos atau Email ke greenstudentriau@gmail.com

Kampanyekan Kantong Kertas SAMPAH plastik sudah umum ditemukan di mana-mana. Sampah yang awet dan tidak (mudah) teruraikan ini sangat lazim digunakan oleh sebagian besar penduduk di dunia. Disamping mudah penggunaannya, juga praktis dan tahan lama untuk sarana penyimpanan. Tapi ternyata keamanan itu tidak diimbangi dengan kemampuan penguraian yang memadai. Bakteri tak cukup berminat untuk membusukkannnya karena plastik sangat susah diuraikan oleh mikroorganisme (dan sebagian bakteri dan rakyat mikroorganisme mengatakan bahwa rasa plastik itu tak enak, tak selezat daun kering atau bangkai binatang). Solusi yang bisa digunakan masyarakat adalah dengan membakarnya. Tapi tak habis di situ, karbon hasil pembakaran plastik secara tidak sempurna akan mengotori udara dan mengikis lapizan ozon di atmosfir. Selain itu, sisa palstik yang terbakar dapat meracuni tanah. Sampah plastik dapat merusak unsur hara tanah dan mencemari PH air. Tanah hanya mampu menguraikan bahan-bahan yang bersifat organik, sedangkan plastik adalah bahan anorganik sintesis yang sengaja dibuat oleh manusia. Di beberapa negara maju, isu plastik ini sungguh sangat menyita perhatian pemerintah setempat. Seperti Irlandia yang telah mengganti kantong plastik dengan produk campuran plastik dan kertas (90 persen kertas) untuk berbagai keperluan. Denmark yang memberlakukan pajak tinggi untuk

Adi Saputra Jurusan Akuntansi Universitas Andalas Padang

penggunaan plastik dan kertas. Lalu DPR-nya Perancis yang melarang penggunaan tas-tas plastik yang tak bisa terurai. Terakhir, Italia yang juga memberlakukan pelarangan serupa pada tahun 2010. Mereka sudah menggunakan kantong kertas sebagai pengganti plastik dalam setiap kegiatan jual beli. Indonesia yang juga merupakan konsumen plastik terbesar tak cukup menyadari bahwa sampah dan limbah plastik tak dapat terurai lingkungan. Bahkan bisa awet bertahun-tahun meskipun ditimbun di dalam tanah. Padahal setiap kali kita berbelanja (apapun itu) akan menggunakan plastik sebagai pembungkusnya. Tapi, tak banyak yang menyadari bahaya dan kerugian yang ditimbulkan sampah plastik. Namun, ada pula sebagian sudah ada yang coba menguranginya dengan mendaur ulang plastik bekas dan menggunakannya kembali untuk kegiatan sehari-hari. Perhatian pemerintah pun belum sedemikian penuh. Hanya semacam wacana tanpa ada realisasi. Padahal sampah plastik sudah menggunung. Menteri Lingkungan Hidup juga tak

mampu berbuat apa-apa. Seandainya saja ada tindakan tegas dari pemerintah, maka akan ada sedikit solusi atas permasalahan plastik ini. Mungkin semacam himbauan bagi produsen plastik untuk tidak menggunakan bahan plastik sepenuhnya, atau larangan penggunaan kantong berbahan plastik. Kita, sebagai salah satu konsumen dan pengguna produk berbahan plastik, mungkin bisa sedikit membantu memberikan andil dalam menjaga lingkungan kita (bagi yang berselera tinggi). Dengan membiasakan hal baik, maka hal itu akan sedikit demi sedikit mampu teratasi. Misalnya saja, membawa plastik sendiri ketika berbelanja, memberikan sampah plastik kepada pemulung untuk di daur ulang, menggunakan botol air minum yang memang diperuntukkan untuk menyimpan air minum dan dapat digunakan berkali-kali (Jangan menggunakan botol air mineral untuk keperluan menyimpan air minum lebih dari dua kali karena penggunaan berkali-kali akan mengikis zat karsinogen yang dapat menyenyebab kanker jika ikut terkonsumsi bersama air) dan jangan membuang sampah plastik di sembarang tempat. Buanglah di tempat sampah khusus untuk bahan sampah anorganik agar bisa dimanfaatkan (daur ulang) kembali. So, langkah kecil apapun yang kita lakukan akan sangat berarti bagi masa depan bumi. Rise your hand to join us, Combat the Climate Change.***

Green School Kirimkan 500 kata Tulisanmu tentang kegiatan lingkungan yang ada disekolahmu. Tulisan terbaik akan

mendapatkan souvenir cantik setelah evaluasi per tiga bulan. Lengkapi dengan biodata singkat dan foto close up dirimu. (Pelajar SMP/Sederajat dan SMA/Sederajat). Langsung ke Riau Pos atau Email ke greenstudentriau@gmail.com

GSJ dan Penil Bersatu SAYA Muhammad Fuad Raeka. Saat ini saya merupakan Ketua Umum Green Student Journalists (GSJ) Siak. Saya juga seorang pelajar yang tengah menimba ilmu di bangku kelas XII SMAN 1 Siak. Tapi tulisan ini bukan tentang saya. Tulisan ini merupakan cara saya dan teman-teman di SMAN 1 Siak, berbagi pengalaman kepada teman-teman di seluruh Provinsi Riau, khususnya dan Indonesia umumnya tentang kegiatan yang diinisiasi oleh siswa-siswi di sekolah kami. Secara spesifik sekolah kami belumlah memiliki kegiatan lingkungan yang mengkhususkannya menjadi kurikulum sekolah. Namun sebagai generasi yang aktif kami memiliki kegiatan sendiri dan tentu saja ini di support secara penuh oleh sekolah. Saat ini kami siswa-siswi SMAN 1 Siak dari kelas X sampai XII aktif diberbagai kegiatan lingkungan internal dan eksternal sekolah. Pada 16 Februari 2011 lalu. Kami bersama lima sekolah lainnya di Siak telah mengadakan pelatihan jurnalistik lingkungan. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan lingkungan dengan menumbuhkan sifatsifat cinta lingkungan dari para pelajar. Sebagai siswa yang tergabung dalam komunitas lingkungan seperti GSJ, kami juga telah mengadakan berbagai kegiatan di sekolah kami. Seperti kegiatan penanam pohon buah-buahan di sekolah. Kemudian kami juga mengada-

Muhammad Fuad Raeka SMAN 1 Siak

kan kegiatan gotong royong membersihkan sampah-sampah plastik di sekitar sungai Siak pada tahun 2010 lalu. Meskipun kegiatan ini dilakukan di luar sekolah. Namun sekolah kami sangat mendukung setiap aktivitas hijau yang kami laksanakan. Hal tersebut diaplikasikan oleh sekolah melalui izin-izin kegiatan yang bisa kami dapatkan. Sebab kami berharap melalui berbagai kegiatan lingkungan yang diselenggarakan oleh GSJ Siak di SMAN 1 Siak, sekolah kami ini bisa menjadi sekolah adiwiyata. Insya Allah. Selain tergabung dalam GSJ, kami siswa-siswi SMAN 1 Siak juga memiliki komunitas lingkungan lainnya seperti Pramuka. Kegiatan Pramuka lebih memusatkan kegiatan pada aktivitas ekstrakurikuler seperti kemah dan pelestarian lingkungan lainnya. Kemudian, kami juga memiliki komunitas yang dinamakan dengan Penil, yaitu singkatan dari Pena ilmu SMAN 1 Siak. Meskipun bergerak pada aktivitas menulis umum. Seperti cerpen, dan berita casual lainnya. Namun saat ini GSJ Siak dan Penil telah bekerja sama mem-

bentuk sebuah aktivitas bersama dengan langkah awal penggabungan kesekretariatan. GSJ Siak dan Penil SMAN 1 Siak melakukan kerja sama dalam bidang jurnalistik. Hal tersebut telah dibahas sebelumnya oleh Ketua Umum GSJ Siak dan Ketua Penil. Sehingga kegiatan lingkungan dan kegiatan umum lainnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebab sebagai siswa yang masih belajar kami sangat menyadari bahwa penting untuk mempelajari banyak bidang. Lagi pula aktivitas atau kegiatan apapun di sekolah seharusnya bisa menempatkan lingkungan sebagai hal yang harus dijaga. Untuk tahun ini, GSJ SMAN 1 Siak telah mengagendakan berbagai kegiatan. Di antaranya adalah melakukan penanam seribu pohon. Kegiatan ini akan dipusatkan di Kabupaten Siak. Dan tentu saja di sekolah kami dulu. Untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah kami juga telah merencanakan kegiatan bersih-bersih setiap harinya. Kegiatan tersebut hanya aktivitas simple berupa pemungutan sampah bagi siapapun yang melihatnya. Sekalipun itu hanya bungkus permen. Tidak sampai di sana saja. Kami juga selalu mengajak sekolahsekolah lain untuk aktif dalam kegiatan GSJ. Sehingga untuk saat ini sudah ada lima sekolah yang memiliki koordinator GSJ sendiri. Kami berharap melalui aktivitas kami di sekolah ini dapat memberikan inspirasi kepada anakanak lainnya untuk selalu memiliki semangat cinta lingkungan.***


JOURNEY

Riau Pos un i nD ka at am el

R Dari iau, S

a

HALAMAN 36

AHAD 27 FEBRUARI 2011

The Young Hero

Ceritakan dengan 100 kata tentang kegiatanmu sehari-hari dalam menjaga lingkungan. Tulisan terbaik akan mendapatkan souvenir cantik setelah evaluasi per tiga bulan. Lengkapi dengan biodata singkat dan foto close up dirimu. (Sekolah Dasar). Langsung ke Riau Pos atau Email ke greenstudentriau@gmail.com

Y

o

u

n

G

Melukis Alam

Senang Bersepeda HALLO temanteman, kenalkan saya Ilham Rasaki P O. Saya merupakan siswa kelas V Sekolah Dasar Bintang Cendikia. Saya berumur sebelas tahun. Di rumah saya menghabiskan lham Rasaki P O waktu dengan bermain sepeda. Kegiatan ini merupakan hobi saya. Namun selain itu, kata ibu guru, bersepeda itu baik untuk kesehatan dan lingkungan. Sebab dengan bermain sepeda kita sekaligus bisa berolahraga. Lagipula sepeda tidak menggunakan bahan bakar apapun, dan tidak mengeluarkan asap. Sehingga tidak mencemari udara. Jadi hal tersebut membuat saya semakin senang bersepeda. Namun teman-teman harus ingat, jangan lupa pakai perlengkapan safety ketika bermain sepeda seperti helm, pelindung siku dan lutut. Apalagi ketika bersepeda ke sekolah.***

KOMPAK: Siswa SMAN 1 Pangkalankerinci terlihat kompak menghancurkan kertas untuk dibuat bubur sebagai pengganti lahan tanam.

ISTIMEWA

NAMA saya Ardia Sanaf Hana. Saat ini saya duduk di kelas VI Al-Azhar. Saya merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Meskipun sudah kelas VI SD dan sebentar lagi akan lulus sekolah, namun ARDIA SANAF saya masih aktif HANA dikegiatan ekstrakurikuler melukis. Saya menyukai kegiatan ini, sebab kami kerap menulis tetang lingkungan. Misalnya pemandangan alam. Melukis pemandangan alam membuat saya senang. Sebab untuk bisa melukis dengan baik, maka kita harus melihat dahulu alam yang indah itu seperti apa. Nah, agar alam selalu indah dan bisa dilukis dengan baik maka kita harus menjaganya. Begitulah cara saya menjaga alam dan lingkungan saya agar tetap indah.***

Di Atas Kertas pun Tumbuh Bunga SMAN 1 Pangkalankerinci yang mengikuti eskul peternakan lebah (BeeSA) semakin inovatif. Mereka melakukan uji coba menggunakan kertas bekas sebagai media pengganti tanah. Percobaan baru dan belum pernah dilakukan sekolah lainnya dilaksanakan, Jumat (18/2) lalu berhasil. Di atas kertas tumbuh bunga Kegiatan ini sudah dilakukan untuk yang keduakalinya, pekan sebelumnya kegiatan ini sudah dilaksanakan dan hasilnya cukup memuaskan. Karena ingin memperbanyak dan menambah percobaan

pemanfaatan bubur kertas sebagai media pengganti tanah maka kegiatan tersebut dilakukan kembali. Menurut Ari dari GSJ Pelalawan sekaligus anggota BeeSA, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi lingkungan dan manusia, pasalnya sampah kertas yang bertebaran di sekitar sekolah dan merusak pemandangan dapat dimanfaatkan kembali. “Karena itu dilakukan upaya pelestarian lingkungan dengan mengolah sampah kertas tanpa harus membuangnya atau membakar,” ungkap Ari yang aktif dalam

uji coba tersebut. Kegiatan ini awalnya timbul dari ide pembina BeeSA, Salmiyati. Beliau berpendapat kertas merupakan bahan yang terbuat dari bahan kayu yang diolah melalui tahap proses pembuburan dengan menggunakan bahan kimia, sehingga kertas tersebut bisa digunakan lagi sebagai lahan hidup bagi tumbuhan. “Untuk menghilangkan kandungan kimia, kertas harus direndam dalam air, hingga mengeluarkan bau yang bertanda bahwa dalam rendaman kertas terebut te-

lah hidup organisme lain berupa bakteri pembusuk dan kandungan kima dalam kertas juga berkurang, setelah itu kertas bisa dimanfaatkan sebagai media pengganti tanah,” ungkap Cik Salmi panggilan akrabnya. Untuk saat ini baru bunga jenis keladi yang telah ditanam, dan hingga saat ini bunga tersebut tumbuh dan berkembang cukup subur, hal itu menandakan tidak ada sampah yang sia-sia jika manusia kreatif memanfaatkannya.(agus yogi-gsj/new)

Ada Robot Daur Ulang di BBC

LISMAR SUMIRAT/RIAU POS

LOMBA: Siswa TK Bintang Cendekia tengah mengikuti lomba membuat robot daur ulang.

SETIAP tahun Bintang Cendekia mengadakan Cendekia Challenge (BBC) sebagai ajang silaturahmi wali murid sekaligus promosi sekolah. Acara yang dilaksanakan Sabtu (26/2), dilaksanakan berbagai kegiatan seperti pentas seni dan bermacam lomba. Diantarnya, lomba pembuatan robot dari barang-barang bekas. Lomba tersebut diikuti oleh berbagai siswa dari TK Bintang Cendekia. Lomba yang diadakan di ruang kelas 3 SD Bintang Cendekia tersebut diikuti oleh lima tim. Masing-masing tim berjumlah lima orang, mereka adalah siswa-siswa TK Bintang Cendekia. “Lomba robot daur ulang ini memang

hanya untuk TK saja, jadi pesertanya juga hanya anak-anak TK,” ungkap Lisnawati, koordinator lomba. Untuk mengantisipasi hal-hal yang membahayakan bagi peserta lomba panitia telah mempersiapkan alat-alat yang digunakan untuk mengikuti perlombaan, seperti lem dan gunting kecil dan tidak menggunakan pisau cutter. Pada saat perlombaan orang tua atau guru pembimbing tidak boleh ikut masuk ke dalam ruangan. Lebih lanjut menurut Lisnawati, lomba daur ulang yang diadakan di Jalan Lobak ini dapat merangsang kreativitas siswa sekaligus dapat memanfaatkan barang yang sudah

tidak terpakai untuk dimanfaatkan kembali. “Sengaja dipilih temanya adalah robot, karena menurut penelitian selama di kelas anak-anak menyukai tokoh-tokoh hero, dengan begitu tema ini lebih dekat dengan anak,” tambah Lisna yang sehari-hari adalah guru di TK Bintang Cendekia. “Seru…” kata Mahira, salah satu siswa yang ikut dalam lomba tersebut. Siswa TK B yang berumur enam tahun itu juga menceritakan bahwa ini bukan pertamakalinya dia ikut lomba daur ulang barang bekas. Tahun lalu ia sudah pernah ikut, meskipun tidak menang namun dia tetap bersemangat untuk ikut kembali tahun ini.(asrul-gsj/new)

Pengusir Panas UDARA panas bisa menjadi sumber ketidaknyamanan terutama di siang hari. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengusir rasa ketidaknyamanan terhadap udara panas tersebut. Misalnya dengan memakai kipas angin di dalam ruangan. Tapi walaupun begitu tetap harus jeli dalam memilih kipas angin. Harus dilihat bagaimana cara kipas angin itu bekerja dalam menyejukkan udara. Jangan sampai, alih-alih ingin mendinginkan diri sendiri malah menyebabkan global warming. Untuk menanggulangi hal tersebut Agustisnus Widodo, konsultan IT PT

Taram menyarankan kepada para pengguna kipas angin untuk memanfaatkan kipas angin exhaust fan. Sebab kipas angin jenis tersebut, walaupun menggunakan daya listrik sama dengan kipas angin lainnya yaitu 40 watt. Namun manfaatnya lebih efisien, sejuk dan menghasilkan udara bersih. Selain itu exhaust fan juga bisa mengatur volume udara yang akan disirkulasikan pada ruang. Cara kerjanya adalah dengan mengeluarkan udara panas dari dalam ruangan dan dengan waktu yang bersamaan membawa udara sejuk ke dalam ruangan. Bisa dikatakan bahwa exhaust fan

menyedot udara kotor dan menghembuskan udara bersih. Tetap saja ada sisi lain dari sebuah green teknologi yaitu pemasangan exhuast fan yang ribet. Yaitu dengan membobol tembok dan memasangnya secara permanen. So, jika Anda ingin menggunakan kipas angin ini, sebaiknya direncanakan sebelum membangun tembok atau rumah.(int/afragsj/new)

EXHUAST FAN: teknologi kipas angin yang bisa menyedot dan menghebuskan udara ke dalam ruangan.

Green Techno INTERNET

GSA Campaign

Green Blitz

Jika kamu anggota Green Student (GSJ/GSA). Silahkan kirim foto-foto dengan tema lingkungan dan wajib hasil karyamu sendiri (Min. 5 foto). Foto terbaik akan ditampilkan, plus mendapatkan souvenir cantik dari green student setelah evaluasi tiga bulan. Email ke greenstudentriau@gmail.com dan untuk info menjadi anggota call : 085265667775/085265837109.

Tanpa Plastik SETIAP kali mengadakan kegiatan di kampus, sekolah ataupun instansi-instansi lainnya. Kita selalu menggunakan steoroform sebagai tempat makanan massal dan minuman mineral kemasan dari gelas atau botol plastik. Sadar atau tidak sadar, kegiatan kita tersebut telah menjadi bagian dari aksi penumpukan massal sampah plastik dan steoroform. So, what should we do? Gampang jawabannya. Untuk makan siang peserta, jika di ruangan, usahakan selalu prasmanan dan minuman dari gelas yang bisa dipakai ulang. Kemudian jika kegiatan outdoor mintalah kepada peserta untuk selalu membawa kotak nasi dan tabung minuman kosong dari rumah. Untuk nanti diisi ketika di lokasi acara. Yah, lelah, mungkin. Bikin pekerjaan lebih repot juga. Tapi apakah kita ingin terus memupuk bumi ini dengan sampah plastik jika itu saja sudah dianggap merepotkan?*** DEVI HERLIN

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Riau

MENYAPU: Ibu-ibu cleaning service tengah menyapu halaman di sebuah kampus di Pekanbaru.

Bersih-Bersih TERKADANG kegiatan bersih-bersih dianggap tidak penting. Namun, bagaimanapun juga, membersihkan halaman dan selokan di sekitar rumah bisa menunjukkan kepedulian orang terhadap lingkungan. Dan, rumah merupakan tempat pertama tumbuhnya kepedulian itu. Sampah, bermula dari hasil produksi rumah tangga. Dengan melakukan kegiatan bersih-bersih dua tau tiga kali dalam sepekan, akan menjadikan lingkungan disekitar kita bersih dan indah.***

Foto: Azwarly Teks: tya-gsj Lokasi: Halaman rumah dan kampus di Pekanbaru

SELOKAN: Biar tidak mampet ketika hujan, bersihkan selokan.

TONG: Eits, jangan lupa, buang sampah pada tempatnya.

Riau Pos For Us  

Erdeka.com Riau Pos For Us adalah bentuk kepedulian Riau Pos Group terhadap lingkungan.

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you