Page 1

PELESIR JUNI/2014

Kesederhanaan dari Alam

BONUS: PETA INDONESIA


POJOKREDAKSI

DAFTARISI

Memaknai Perjalan dengan Sederhana dan Apa Adanya Pada edisi kali ini, Pelesir tidak membahas mengenai perjalan istimewa yang mewah dengan fasilitas bintang lima. Tapi, mewah dalam arti apa yang bisa kita dapatkan saat melakukan perjalanan. Alam salah satunya. Keindahan luar biasa yang dapat kita nikmati saat melihat panorama alam adalah satu kemewahan dan menjadi memori abadi yang bisa disimpan sampai kapan pun. Dari alam kita bisa mendapatkan pembelajaran mengenai makna kesederhanaan. Alam selalu menyuguhkan keindahan yang luar biasa dengan ke-apa adaannya yang secara lugu diperlihatkan kepada kita. Bukan alam yang sudah dihiasi gedung-gedung bertingkat dan bukan alam yang sudah dilumuri sisa-sisa pembuangan limbah. Namun alam yang masih hijau dan tumbuh sebagaimana mestinya tanpa perubahan yang timbul karena teknologi dan kemajuan dunia. Itulah sebuah kesederhanaan sesungguhnya.

01 POJOK REDAKSI 01 DAFTAR ISI 02 JEJAK PANORAMA

04 PERJALANAN SINGKAT

Kekayaan alam itulah yang pada edisi Pelesir kali ini ingin ditonjolkan kepada pembaca. Banyak kekayaan alam yang bahkan masih jarang disentuh oleh manusia, mulai dari keindahan yang didapatkan di puncak gunung, di lembah, di pesisir pantai, hingga di dalam gua, masing-masing menyuguhkan kepuasan yang berbeda.

09 SOSOK

Selamat menjelajah! Redaksi Pelesir

10 KULINER

12 ULASAN 13 TIPS

STRUKTURREDAKSI Pelindung Pemimpin Redaksi Redaktur Pelaksana Penyunting Reporter

: Samiaji Bintang Nusantara : Deonisia Arlinta : Intan Aprilia : Intan Aprilia, Deonisia Arlinta : Rima Wahyuningrum, Fransiska Melinda,

Fotografer

: Rima Wahyuningrum, Fransiska Melinda,

Penata Letak

: Rima Wahyuningrum

Deonisia Arlinta, Intan Aprilia

Deonisia Arlinta, Intan Aprilia

PELESIR // 01


JEJAKPANORAMA GUA Gua Pindul Lokasi: Desa Bejiharjo, Kecamatan Karang Mojo, Gunung Kidul. Gua Pindul memiliki karakteristik yang berbeda dengan gua lainnya. Untuk menyusuri gua ini, kita harus memakai alat bantu berupa ban karena penyusuran dilakukan melalui jalur sungai. Nama Pindul berasal dari kata “pipi kesendulâ€? dalam bahasa jawa berarti pipi kesenggol. Penyusuran gua ini membutuhkan waktu Âą 40 menit melewati zona terang, zona remang, dan zona gelap. Selain gua pindul, di lokasi yang sama, terdapat caving gua Gelatik (tanpa melewati sungai) dan river tubing sungai Oyo (body rafting). Biaya: Caving gua Pindul Rp 35.000, caving gua Gelatik Rp 30.000, dan river tubing sungai Oyo Rp 45.000. Semua sudah termasuk peralatan, asuransi, jasa pemandu, transportasi dari basecamp hingga lokasi penyusuran gua.

Tips: Sebaiknya tidak terlalu siang saat sampai di lokasi. Selain menghindari teriknya matahari saat berjalan menuju mulut gua, datang terlalu siang dapat menyebabkan Anda harus mengantri untuk menikmati indahnya gua Pindul, khususnya di musim liburan.

Jam buka: Setiap hari pukul 06.30-17.00 WIB

GUNUNG Gunung Sindoro Gunung Sindoro termasuk gunung berapi aktif di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Gunung Sindoro sering disebut sebagai kembaran Gunung Sumbing karena letaknya yang berdekatan. Gunung Sindoro yang memiliki ketinggian 3150 Mdpl ini merupakan salah satu gunung favorit pendaki yang berada di Jawa Tengah. Terutama bagi yang mencari triple S (Slamet, Sindoro, Sumbing). Untuk mencapai gunung ini tidak terlalu sulit karena berada di jalur utama Wonosobo-Magelang. Umumnya jalur yang paling ramai dilewati adalah jalur Kledung, Temanggung. Selain itu ada pula jalur lain yang cukup bagus yaitu jalur Sigedang.

PELESIR // 02

Ketika cuaca cerah, dari sini akan terlihat jelas Gunung Sumbing, Merbabu, Slamet dan kawasan Dataran Tinggi Dieng. Usahakan sebelum matahari terbit kita sudah berada di puncak, karena matahari terbit dari puncak Gunung Sumbing sangat indah. Info: Hati-hati saat menuju puncak Gunung Sindoro ini, Pelesir membuat istilah puncak Sindoro sebagai puncak PHP alias Pemberi Harapan Palsu, karena banyak sekali lekukan yang membuat dataran diatasnya tidak terlihat, sehingga pendaki tertipu dengan puncak yang sebenarnya. Penulis & Foto: Deonisia Arlinta Penyunting: Intan Aprilia


PANTAI Pulau Umang Lokasi: Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. Pulau Umang sangat cocok untuk melepaskan penat dengan suasananya yang indah. Pantai berpasir putih dengan air laut biru jernih serta ombak yang kecil membuat liburan menjadi sangat menyenangkan. Cottage di pulau ini semuanya menghadap ke laut, seakan laut dan hamparan pasirnya adalah halaman rumah kamu. Terdapat banyak aktivitas seru yang dapat dinikmati selama berlibur di Pulau Umang, seperti snorkeling, banana boat, jetski, flying fish, bahkan memancing! Snorkeling wajib dilakukan di sini, pemandangan bawah laut yang sangat indah sayang sekali untuk dilewatkan. Biaya: Rp1.500.000/orang termasuk makan tiga kali sehari. Tips: Jangan lupa memakai sun screen karena sengatan matahari akan langsung menusuk kulit. Sebaiknya membawa bekal makanan selama perjalanan menuju Pulau Umang karena waktu yang ditempuh untuk sampai ke sana kurang lebih tujuh jam lamanya dan jarang terdapat restoran atau warung makan di sepanjang jalan.

LEMBAH Ngarai Sianok Lokasi: Di pusat Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ngarai Sianok merupakan lembah curam dengan kedalaman 100 m dengan panjang kurang lebih 15 km dan lebar 200 m. Lembah ini adalah pemisah pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang yang disebut Patahan Semangko.

Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang sangat indah, kamu dapat memanjakan mata dengan lembah yang hijau dan subur. Sungai kecil yang mengalir di bawah juga menambah kecantikan lembah ini. Dari Padang, bisa menggunakan angkutan umum atau kendaraan berupa delman yang bisa ditemui di terminal pasar Bukittinggi langsung ke Ngarai Sianok. Selain menggunakan angkutan umum, disarankan menggunakan mobil sewaan atau mobil pribadi agar tidak repot. Biaya: Rp5.000/orang

Tips: Disarankan untuk berkunjung pada siang hari karena pemandangan terlihat paling indah saat siang. Sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan selama berada di Bukittinggi karena kendaraan umum akan sangat sulit ditemui pada sore hari sehabis magrib (sekitar pukul 18.00 WIB).

Penulis & Foto: Intan Aprilia Penyunting: Deonisia Arlinta

PELESIR // 03


PERJALANANSINGKAT

DIENG

Eksotika Tersembunyi, Tempat Para Dewa Bersemayam Pantas jika dataran tinggi yang dikelilingi gunung-gunung hijau ini disebut degan ‘Surga Jawa’ yang tersembunyi. Namanya pun sudah semakin bergema ke negeri seberang. Surga tersembunyi ini menyajikan keindahan alam dengan banyak pilihan obyek wisata yang menarik. Kita yang berada di dalamnya dibuaikan dengan sentuhan alam yang semakin mendekatkan kita pada keagungan Tuhan. Dataran Tinggi Dieng memiliki suhu relatif antara 8°C hingga 22°C. Sedangkan di musim kemarau, suhu bisa menuruh drastis hingga 0°C di pagi hari. Rendahnya suhu ini menyebabkan munculnya bun upas atau embun beku. Bun upas memang tidak berbahaya bagi manusia namun bisa menyebakan kerusakan pada tanaman pertanian. Pada musim inilah kebanyakan petani mengalami gagal panen. Bukan hanya kaya akan keindahan alamnya, tanah Dieng pun menyimpan mitos yang unik. Dari namanya saja bisa menimbulkan persepsi tersendiri. Dieng berasal dari kata “Di” yang berarti tempat dan “Hyang” yang berarti Dewa. Oleh karena itu, Dieng dipercayai merupakan tempat bagi para Dewa dan Dewi bersemayam. Namun mitos tersebut sebenarnya timbul karena keindahan yang diciptakan di tanah Dieng, menjadi satu alasan mengapa tempat ini dianggap pantas sebagai tempat bagi Dewa dan Dewi.

Sunset di Desa Sembungan Dieng PELESIR // 04


Telaga Warna, Dieng

Nama Dieng diambil dari bahasa Sunda karena diperkirakan pada masa pra-Medang sekitar tahun 600 Masehi, daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh (Sunda). ‘Surga Dieng’ yang pada masa kerajaan Chandra Gupta Sidhapala, oleh umat Hindu, diyakini sebagai poros dunia. Ketika itu, Sang Hyang Jagadnata memindahkan ‘gunung kosmik’ Meru dari India ke Gunung Dieng. Sebagai ibukota kerajaan, ketika itu, Dieng (surga para hyang) tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tapi juga pusat spiritualitas dan peradaban. Diperkirakan, dulu terdapat lebih dari 150 candi di sekitaran Dieng. Namun karena faktor alam, baik itu bencana alam serta proses abrasi bebatuan, kini hanya tinggal delapan candi yang tersisa. Candi-candi ini didirikan oleh Kerajaan Kalingga dari dinasti Sanjaya. Dalam kitab Raja Sanjaya disebutkan kata ‘Dieng’ merupakan tempat paling baik untuk memuja Dewa Siwa. Sehingga candi-candi ini dibuat khusus untuk memuja Dewa Siwa. Siwa merupakan dewa perusak. Dia dipuja agar ia tidak merusak kehidupan manusia. Ditengah-tengah dataran tinggi Dieng dahulu terdapat tempat pemujaan dan Pusat ajaran Hindu tertua di Indonesia. Bangunan suci tersebut sampai sekarang dapat kita saksikan dengan adanya candi beserta puing-puing bekas Vihara.

Pemandangan sepajangan jalan di Tanah Dieng

Vita, anak Gimbal Tanah Dieng, di depan megahnya Telaga Warna, Dieng

PELESIR // 05


PERJALANANSINGKAT Asal Muasal Dieng Dieng merupakan kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Nama Dieng diambil bahasa Kawi, yaitu “Di” yang berarti “gunung” dan “Hyang” yang berarti “Dewa”. Oleh karena itu, Dieng sering disebut sebagai daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.

Kontur Dieng Lokasi yang merupakan kawah dengan gunung-gunung disekitarnya ini memiliki ketinggian 2.000 mdpl. Geliatnya sering menyebabkan gempa tektonik dan erupsi sejak tahun 1375. Tercatat sudah 20 kali Dieng meletus. Hal inilah yang menyebabkan munculnya kawah telaga dan sumur yang kering serta dataran luas yang subur. Kesuburan tanah yang dimiliki Dieng menjadikan wilayah ini sebagai pemasok sayuran di Jawa Tengah.

Keunggulan dari hasil tanah di sini adalah kentang. Kentang Dieng memang sudah lama menjadi primadona, selain rasanya yang memang lebih tawar, teksturnya pun lebih pulen dibanding kentang pada umumnya.

Info Kentang Dieng mempunyai warna kulit merah dan berbentuk agak lonjong. Keunikan kentang Dieng bisa di bedakan dari tekturnya yang lebih basah.

Aktivitas petani kentang Dieng saat panen

Petani Dieng

Kentang kini menjadi hasil pertanian utama dari kawasan Dieng. Selain nilai ekonimisnya yang tinggi, kentang Dieng sudah dikenal hingga luar negeri. Data yang diperoleh dari laporan kajian pertanian konservasi di Dieng, pendapatan petani kentang per hektarnya bisa mencapai lebih dari Rp 15 juta untuk sekali panen. Padahal dalam setahun petani kentang di Dieng bisa melakukan dua hingga tiga kali panen. Melihat besarnya pendapatan yang dihasilkan inilah, hampir seluruh petani di Dieng beralih menanam kentang untuk lahan pertaniannya.

PELESIR // 06


APA SAJA YANG DAPAT DITEMUI DI DIENG? Banyak lokasi wisata yang bisa dinikmati keindahannya di tanah Dieng ini, dari keindahan alam hingga budaya dan kuliner. Semua lokasi mudah diakses. Bagi yang senang dengan kegiatan petualangan, terdapat pula medan yang harus dilalui dengan kendaran 4WD.

DIENG PLATEAU THEATRE Tempat ini akan memutar film mengenai terbentuknya Dataran Tinggi Dieng dan obyek wisata budayanya dengan durasi 25 menit. Ukuran layar yang digunakan adalah 2x3 meter dengan kapasitas 60 orang. Bagi pengunjung yang memang senang dengan sejarah atau ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Dieng, sangat disarankan untuk mendatangi lokasi ini terlebih dahulu sebelum berkunjung ke lokasi-lokasi lain.

Telaga Pengilon, bersebelahan dengan Telaga Warna PELESIR // 07


PERJALANANSINGKAT Matahari terbit dari Desa Sembungan Dieng, dengan pemandangan Gunung Sindoro yang berselimutkan awan

GUNUNG SIKUNIR “Tidak ada kata-kata yang lebih berpengharapan, dibandingkan matahari terbit. Tidak ada yang lebih pasti di dunia ini daripada kehadiran matahari menyapa bumi di pagi hari.� - Anonim Disapa oleh hangatnya sinar mentari pagi? Semua pasti mendambakannya. Apalagi berada di ketinggian tertentu dengan udara yang masih sangat sejuk. Bila ingin merasakan sensasi tersebut, Sikunir menjadi tempat yang sangat tepat! Jika ingin ke sini, dari penginapan di daerah Dieng, sejak pukul tiga subuh kita sudah harus siap untuk memulai perjalanan. Lain halnya kalau kita menginap di daerah Wonosobo, jelas harus berangkat lebih awal lagi. Ditambah jalanan yang dilalui tidak begitu bagus, sehingga akan memperlambat perjalanan.

Sikunir memiliki tiga zona yang dibedakan dari ketinggiaannya. Zona pertama yang paling dekat berjarak sekitar 400 meter dari lokasi parkir. Sedangkan zona dua berlokasi lebih tinggi lagi dan ketika sampai di zona ketiga berarti kita sudah sampai ke puncak Sikunir. Sebagian jalanannya masih tertutup oleh rerumputan dan gerombolan pohon. Sangat disarankan untuk berjalan bersama seorang pemandu. Pendakian hingga ke puncak kira-kira membuthkan waktu 40 menit.

Ketika sampai di puncak keadaan langit masih gelap, namun samar-samar terang lampu pedesaan menjadi pemandangan yang indah untuk menunggu datangnya matahari terbit. Jika ke Sikunir, datanglah pada bulan Juni hingga Agustus, karena pada bulan ini merupakan cuaca yang paling cerah. Pemandangan Gunung Sindoro-Sumbing, juga Gunung Merapi bisa dilihat sangat jelas dari ketiga zona. Namun, udara di bulan-bulan tersebut sedang berada pada puncak dinginnya, bahkan salju pernah turun di sana.

Penulis & Foto: Deonisia Arlinta Penyunting: Intan Aprilia

PELESIR // 08


SOSOK Windy Ariestanty, Berjalan Tanpa Akhir “Traveling bukan soal pergi ke mana, melainkan apa yang didapat setelah melakukan perjalanan.” Kalimat itu diutarakan Windy Ariestanty ketika ditanya mengenai berapa banyak tempat yang sudah pernah dikunjungi sejak ia mulai melakukan traveling. Penulis buku Life Traveler ini mulai traveling sejak kecil karena terbiasa ikut orang tuanya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain akibat pekerjaan mereka. Saat ini Windy sedang menulis buku terbarunya mengenai memoar Robin Lim, CNN Hero 2011 dan masih aktif menulis di blog-nya windy-ariestanty. tumblr.com “Buat saya semua orang adalah pejalan. Manusia punya kaki, fungsi kaki adalah untuk berjalan. Itu kenapa hal pertama yang dipelajari manusia adalah bergerak, belajar berjalan. Saya tidak menganggap traveling adalah hobi saya karena traveling adalah DNA kita sebagai manusia,” tukasnya. Windy mengaku perjalanan yang membuatnya kecanduan adalah ketika pertama kali ia seorang diri ke luar negeri yaitu ke Amerika Serikat pada tahun 2003. Ia melakukan perjalanan ke Amerika Serikat selama setahun dan memilih tinggal di kota kecil yang menjadi daerah reservasi untuk suku Indian Cherokee. Wanita berzodiak Aries ini menganggap bahwa perjalanan tersebut mengajarkan banyak hal kepadanya, seperti menantang kemampuannya berkomunikasi, belajar lebih mandiri, serta membuatnya mendefinisikan kembali konsep berhubungan dengan orang lain. Perjalanan tersebut juga membuka pandangannya bahwa pulang tidak harus berarti kembali ke tanah asal, kita bisa merasa pulang ke tempat yang bahkan baru pertama kali kita datangi. Windy mendapatkan banyak pelajaran seperti itu berkat orang-orang di sekitarnya selama ia berada di Amerika Serikat. Penyuka warna hitam ini sama-sama menyukai traveling baik sendirian maupun bersama teman. Ia menganggap bahwa kedua hal tersebut memiliki karakter yang berbeda dan sama-sama menyenangkan. Ketika traveling sendirian, ia merasa keluar dari zona nyaman dan menantang kemampuannya untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan banyak orang, karena pada dasarnya Windy adalah orang yang tertutup. Traveling seorang diri membuatnya bisa pergi ke mana pun dan melakukan apa pun yang ia mau tanpa harus memikirkan rekan perjalanannya. “Nggak enaknya traveling sendirian adalah semua biaya ditanggung sendiri. Hehehe. Terus nggak ada teman diskusi untuk dimintai pertimbangan di jalan,” ujarnya. Sedangkan traveling bersama teman menjadikan perjalanan Windy tidak sepi karena ia memiliki teman mengobrol dan bertukar pikiran. Biaya juga bisa dibagi sehingga pengeluaran bisa lebih ditekan. “Namun, jalan beramai-ramai biasanya membuat interaksi dengan orang baru di sepanjang jalan berkurang. Tapi saya suka dua-duanya! Keduanya merupakan hal yang menarik,” tukas wanita yang sudah mengunjungi kurang lebih 25 negara ini. Hal yang paling Windy sukai selama traveling adalah belajar dan menemui banyak hal baru. Ia juga merasa tidak pernah menemui hambatan selama traveling karena ia melihat sebuah hambatan sebagai suatu tantangan yang membuat perjalananya menjadi lebih berwarna. Wanita yang menyukai angka 13 ini memunyai beberapa tempat yang belum terwujudkan untuk dikunjungi, yaitu Bhutan, Tibet, dan Armenia-Georgia-Nagorno Karabakh. “Kalau perjalanan ibarat cinta, pada akhirnya adalah karena perjalanan itu adalah sebuah kondisi di atas kesadaran kita, di mana kita memperoleh pemikiran baru, menerima, tidak terkaburkan oleh kebiasaan, dan siap untuk diubah. Ini sebabnya kenapa perjalanan terbaik—seperti halnya kisah cinta terbaik—tidak pernah benar-benar berakhir,” ujarnya. (Penulis Intan Aprilia Foto Pribadi Penyunting Deonisia Arlinta)

PELESIR // 09


KULINER Angkringan “Ingat Jogja” “Terhanyut aku akan nostalgia, saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama suasana Jogja. Di persimpangan langkahku terhenti, ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila...” Saat mendengar lirik lagu Yogyakarta dari KLa Project bagian tersebut, tempat apa yang bisa langsung tergambarkan dipikiran kita? Ya! Apalagi kalau bukan angkringan, tempat di Yogyakarta yang berada di pinggiran jalan dan biasanya pembelinya duduk-duduk bersila sambil mengobrol hingga lupa waktu. Angkringan sendiri diambil dari kata “Nangkring” dalam bahasa jawa berarti duduk santai. Tempat ini merupakan sebuah gerobak dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Yogyakarta. Dengan hanya mengandalkan penerangan tradisional yaitu lampu minyak dan cahaya lampu jalan, suasana menjadi hangat dan terasa lebih intim. Nah, bagi kamu yang belum pernah singgah di angkringan pasti ingin tahu dan ingin merasakan kehangatannya. Namun, jika untuk merasakan angkringan saja harus pergi ke Kota Pelajar tersebut jelas butuh biaya yang tidak sedikit. Tapi jika kita bisa menemui angkringan di sekitaran Jakarta ini? Tentu menjadi pilihan yang sangat tepat bukan?

“Ingat Jogja” merupakan nama salah satu angkringan yang menarik perhatian di daerah Kelapa Dua, Tangerang. Tempat ini strategis dan mudah di temukan karena berada di pinggir jalan. Selain tempat yang strategis tempat ini juga bersih dan nyaman. Gerobak dan tempat duduk lesehan persis angkringan asli di Jogja bisa kita temui di sini. Wondo membuat angkringan ini terinspirasi dari angkringan di Jogja. Ia membuat angkringan ini karena disekitarnya banyak orang jawa yang merindukan makanan aslinya, ia juga ingin membuat mereka tidak lupa dengan suasana Jogja. “Saya membuat angkringan ini dengan nama ‘Ingat Jogja’ agar pengunjung bisa ingat suasana di Jogja apalagi dengan karyawan saya yang memakai seragam batik ini,” kata Wondo.

Angkringan ini buka setiap hari pada pukul 17.00 hingga pukul 04.00 WIB. Mereka menyediakan makanan dengan harga terjangkau, mulai dari dari Rp2.000 sampai Rp15.000. Kita bisa menikmati makanan sambil duduk di kursi atau juga lesehan. Makanan yang dijual pun sama dengan angkringan pada umumnya, seperti tahu dan tempe bacem, sate usus, sate telur puyuh, sate ati ampela, ayam, juga terdapat menu tambahan yaitu soto ayam dan bakmi Jogja.

PELESIR // 10


Tempat yang baru berdiri di tahun 2014 ini selalu ramai oleh pengunjung terutama pada malam minggu. Pengunjung yang datang kebanyakan anak-anak muda. Jelas, karena tempat ini nyaman untuk bersantai dengan harga dari makanan yang ramah di kantong. Reni adalah salah satu pengunjung tetap angkringan “Ingat Jogja”. Ia sering menikmati makanan di sini setelah pulang kerja. Menurutnya, makanan di tempat ini enak dan murah. Selain itu tempatnya pun bersih dan nyaman beda dengan angkringan lainnya.

“Aku sering pesan sate–satean, kayak sate usus, sate ati ampela, dan yang jelas harus pake nasi kucing,” ujar Reni, pelanggan tetap angkringan “Ingat Jogja”.

Penulis & Foto: Fransiska Melinda Penyunting: Deonisia Arlinta

PELESIR // 11


ULASAN

Berjalan dan Berhenti Sejenak Judul

: The Journeys 3: Yang Melangkah dan Menemukan

Penulis

: Alexander Thian, Alfred Pasifico, Alitt Susanto, Ariev Rahman, Dina DuaRansel, Farid Gaban, Hanny Kusumawati, Husni M. Zainal, JFlow, Lucia Nancy, Valiant Budi, Ve Handjojo, Windy Ariestanty

Tahun Terbit

: 2013

Penerbit

: Gagas Media

Tebal

: 377 Halaman

The Journeys 3, buku ini berisi kisah dari beberapa penulis yang

melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Sebelumnya, telah terbit buku The Journeys (2011) dan The Journeys 2 (2012) yang sukses membuat pembaca terpesona dengan kisah-kisah di dalamnya.

dok. Goodreads.com

The Journeys 3 kali ini mengangkat tema perjalanan ziarah. Ziarah ke makam? Bukan. Ziarah yang dimaksud adalah melakukan perjalanan bermakna untuk menemukan jati diri. Alasan pemilihan tema ini adalah karena di dalam perjalanan ke mana pun kita pergi, akan membuat kita kembali lagi kepada yang paling dekat yaitu, diri sendiri.

Ziarah yang dilakukan para traveler di dalam buku ini beragam. Ada Farid Gaban yang menyelam bersama ikan-ikan di berbagai lautan Indonesia, Alexander Thian yang mengunjungi sang ibu di Hongkong, Valiant Budi yang berkunjung ke Vatikan, Windy Ariestanty yang melakukan perjalanan mencari makna ‘cukup’ ke Ubud, juga Hanny Kusumawati yang melakukan perjalanan dengan bertemu orang-orang ramah di Santorini dan banyak kisah perjalanan menarik lainnya.

Berhenti Sejenak. Perjalanan ‘ramah’ dari Hanny Kusu-

mawati selama lima hari di Santorini, Yunani. Di sana Hanny bertemu dengan Vagelis yang menilai dirinya pada pertemuan pertama dengan mengucapakan “Kamu orang baik” hanya karena Hanny meluangkan waktu untuk berhenti sejenak membalas sapaan dan melakukan obrolan singkat dengannya.

“Ketika kita berhenti sejenak, waktu seakan berlalu lebih lambat. Momen tidak hanya sekadar lewat, tetapi meninggalkan jejak. Wajah-wajah meninggalkan nama. Kata-kata meninggalkan makna. Setiap interaksi meninggalkan koneksi. Setiap kesan meninggalkan kenangan yang selalu bisa diputar ulang. Dan kita, tersimpan dalam banyak ingatan,” – Berhenti Sejenak, hal. 279.

Pertemuan lain di Santorini adalah saat ia bertemu dengan Adriano, penyewa skuter dan ATV ride yang kembali menyapanya saat sebelumnya diabaikan. Adriano kemudian menjadi teman mengobrol Hanny setiap pagi selama berada di Santorini sebelum ia berjalan menuju terminal bus.

Masih banyak kisah inspiratif dari perjalanan 12 penulis di dalam The Journeys 3 ini. Kamu akan diajak ikut berjalan-jalan dan berziarah bersama mereka. Mungkin dengan membaca buku ini, kamu juga bisa ikut menemukan dirimu.

Pengalaman Hanny tersebut menyadarkan bahwa berhenti sejenak untuk membalas sapaan orang dan berbincang bisa membuat hidup menjadi lebih bermakna, baik hidup kita mau pun lawan bicara kita. Zaman yang serba cepat ini membuat kita menjadi jarang meluangkan waktu untuk hal-hal kecil di sekitar, padahal hanya dengan meluangkan waktu sebentar untuk mengobrol dengan orang lain kita sudah dapat memberi kenangan untuk selalu diingat.

Penulis: Rima Wahyuningrum Penyunting: Intan Aprilia

PELESIR // 12


TIPS

BACKPACKER

dok Indah Lestari

Memilih berpergian dengan cara backpacking membuat Indah Lestari mendapatkan esensi bertualang tersendiri. Gadis mungil ini berpendapat bahwa dengan backpacking kita dapat menjadi lebih mandiri dan hemat dalam berpergian. Yuk, intip tips menarik a la backpacker dari Indah!

Indah (kanan) dalam perjalanan menuju puncak Mahameru, Gunung Semeru, 20-28 Agustus 2012

Buku jurnal & pena

Perhiasan berlebihan

Pakaian secukupnya

Peralatan make up

Peralatan mandi

Pakaian dengan jumlah berlebihan

Peralatan menginap

Barang boros tempat

Uang tunai

Gadget berlebihan

Ponsel dan charger Makanan siap saji Kamera

PENTING! Jangan malu bertanya kepada orang sekitar. Seperti kata pepatah, malu bertanya, sesat di jalan!

Penulis: Rima Wahyuningrum Penyunting: Intan Aprilia

PELESIR // 13


rebloggy.com

PELESIR  

Pelesir adalah majalah perjalanan yang menyuguhkan informasi lengkap mengenai berbagai lokasi menarik yang patut dikunjungi. Pada edisi Juni...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you