Page 38

z www.xpresiripos.com z info.xpresiriaupos@gmail.com z Basecamp xpresi: Riau Pos, Graha Pena Riau Lt. 3

38

Riau Pos AHAD, 13 DESEMBER 2015

Pemimpin yang Dicintai Rakyat

Forum Guru

tidak terpuji, memaki-maki karena terlalu lama menunggu hidangan. Di antara teman anak raja itu, ada seorang yang bernama Alim. Dia anak seorang menteri. La Maddusila Karaeng Tanete melihat, sepertinya Alim anak yang baik hati dan setia. Maka, dia ingin mengujinya. Diundanglah Alim untuk makan pagi. Alim memang lebih sabar dibandingkan anak-anak sebelumnya. dia menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, La Maddusila Karaeng Tanete mengeluarkan sebuah piring besar berisi tiga telur rebus. Melihat itu, Alim berkata keras, “Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!” Alim tidak pernah menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meninggalkan La Maddusila Karaeng Tanete sendirian. La Maddusila Karaeng Tanete diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Alim karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa Alim tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejatinya. Hari berikutnya, dia mengundang anak seorang saudagar terkaya. Tentu saja, anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi dari anak raja. Malam harinya, sengaja dia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan, makanan anak raja pasti enak dan lezat. Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui La Maddusila Karaeng Tanete. Seperti anak-anak sebelumnya, dia harus menunggu waktu yang lama sampai makanan keluar. Akhirnya, La Maddusila Karaeng Tanete membawa piring dengan tiga telur rebus di atasnya. Ini makanannya, saya ke dalam dulu mengambil air minum.” kata La Maddusila Karaeng Tanete seraya meletakkan piring itu di atas meja. Lalu, La Maddusila Karaeng Tanete masuk ke dalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung melahap satu per satu telur itu. Tidak lama kemudian, La Maddusila Karaeng Tanete keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke meja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Dia kaget. “Mana telurnya?” tanya La Maddusila Karaeng Tanete pada anak saudagar. “Telah aku makan.”Sahut anak orang kaya itu sembari sendawa. “Semuanya?”La Maddusila Karaeng Tanete mengerutkan kening dan menelan ludahnya. “Ya, habis aku lapar sekali.”Katanya lagi sambil mengelus-elus perutnya. Melihat hal itu La Maddusila Karaeng Tanete langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak setia. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, La Maddusila Karaeng Tanete juga belum makan apa-apa. La Maddusila Karaeng Tanete merasa jengkel kepada anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Mereka tidak pantas dijadikan teman sejati. *** Akhirnya, La Maddusila Karaeng Tanete berfikir untuk

Oleh Khairul Azzam El Maliky

mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah La Maddusila Karaeng Tanete berpetualang melewati hutan, ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik. Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana. Anak itu sedang memanggul kayu bakar. La Maddusila Karaeng Tanete mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di gubuknya. Rumah dan pakaian anak itu menunjukkan bahwa dia sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu, lalu shalat dua rakaat. La Maddusila Karaeng Tanete memerhatikannya dari balik rumpun pepohonan. Selesai shalat, La Maddusila Karaeng Tanete datang dan menyapa, “Kawan, kenalkan namaku La Maddusila Karaeng Tanete. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Kau tadi shalat apa?” “Namaku Opu Daeng Kemboja. Tadi itu shalat dhuha.” Lalu, La Maddusila Karaeng Tanete meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya. Namun, Opu Daeng Kemboja menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak seorang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.” La Maddusila Karaeng Tanete menyahut,“tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah hamba Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku? Mengapa tidak kita coba beberapa waktu dulu? Kau nanti bisa menilai, apakah aku cocok atau tidak menjadi temanmu.” “Baiklah kalau begitu, kita berteman. Akan tetapi, dengan syarat, hak dan kewajiban kita sama, sebagai teman yang seiyasekata,” La Maddusila Karaeng Tanete menyepakati syarat yang diajukan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama, pergi ke hutan bersama, memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. La Maddusila Karaeng Tanete sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada,dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira. Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubuknya. Dalam hati, La Maddusila Karaeng Tanete merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan. Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya. Sepotong roti, garam, dan air

putih. Namun, La Maddusila Karaeng Tanete makan dengan sangat lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Oleh katena itu, La Maddusila Karaeng Tanete merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya. Selesai makan, La Maddusila Karaeng Tanete mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. La Maddusila Karaeng Tanete banyak menemukan hal-hal baru di hutan, yang tidak dia dapatkan di dalam istana. Oleh temannya itu, dia diajari untuk mengenali dan membedakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan, antara daun dan buah yang bisa dijadikan obat, serta yang beracun. “Dengan mengenal jenis buah dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat. Persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu. Seketika itu, La Maddusila Karaeng Tanete tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti yang ada di ibukota kerajaan, Ilmu ada di mana-mana. Bahkan, di hutan sekalipun. Hari itu, La Maddusila Karaeng Tanete banyak mendapatkan pengalaman berharga. Ketika matahari sudah condong ke Barat, La Maddusila Karaeng Tanete berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, La Maddusila Karaeng Tanete mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya itu. “Pergilah ke ibukota, berikan kertas ini kepada tentara yang kau temui di sana. Dia akan mengantarkanmu ke rumahku.” kata La Maddusila Karaeng Tanete sambil tersenyum. “Insya Allah aku akan datang.” jawab anak pencari kayu itu. Pagi harinya, anak pencari kayu itu sampai juga ke istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau La Maddusila Karaeng Tanete adalah anak raja. Mulanya, dia ragu untuk masuk ke istana. Akan tetapi, jika mengingat kebaikan dan kerendahan hati La Maddusila Karaeng Tanete selama ini, dia berani masuk juga. La Maddusila Karaeng Tanete menyambutnya dengan hangat dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang makan itu, La Maddusila Karaeng Tanete pun menguji temannya ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu bakar itu sudah terbiasa lapar. Bahkan, dia pernah tidak makan selama tiga hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja. Selama menunggu, dia tidak pernah memikirkan makanan sama sekali. Dia hanya berpikir, seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tenteram. Selama ini, dia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang anak raja yang santun dan shalih. Akhirnya, tiga butir telur masak pun dihidangkan. La Maddusila Karaeng Tanete mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu bakar itu mengambil satu. Lalu, dia

mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara itu, La Maddusila Karaeng Tanete mengupasnya dengan cepat, dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. La Maddusila Karaeng Tanete ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebutir telur itu, apakah akan dimakannya sendiri atau tidak…? Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu, dia membelah telur itu jadi dua; yang satu dia pegang, dan yang satunya lagi, dia berikan kepada La Maddusila Karaeng Tanete. Tak ayal lagi, La Maddusila Karaeng Tanete menangis terharu. Lalu, La Maddusila Karaeng Tanete pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata, “Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.” Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan mereka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Allah

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

D

i tanah Bugis, ada seorang raja yang adil dan shalih, Wetenrileleang. Dia memiliki putra, seorang anak lakilaki yang tampan, cerdas, dan pemberani. Saat-saat yang paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika dia mengajari anaknya itu membaca al-Quran. Sang raja juga menceritakan kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama La Maddusila Karaeng Tanete itu sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya. Si kecil La Maddusila Karaeng Tanete akan merasa jengkel jika di tengah-tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada orang yang memutuskannya. Terkadang ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya tiba-tiba pengawal masuk dan memberitahukan bahwa ada tamu penting yang harus ditemui oleh raja. Sang raja tahu apa yang dirasakan anaknya. Maka, dia memberi nasihat kepada anaknya, “La Maddusila Karaeng Tanete, Anakku, sudah saatnya kau mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.” La Maddusila Karaeng Tanete tersentak mendengar perkataan ayahnya. “Apa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanya La Maddusila Karaeng Tanete dengan nada penasaran. “Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tetapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu karena Allah. Dengan dasar itu, kau pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan; karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan dasyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juta akan bersinar membawa kalian masuk surga.” “Bagaimana cara mencari teman seperti itu, Ayah?” tanya La Maddusila Karaeng Tanete dengan penuh rasa ingin tahu. Sang raja menjawab dengan bijak, “Kamu harus menguji orang yang hendak kamu jadikan teman. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapapun yang kamu anggap cocok, untuk menjadi temanmu saat makan pagi disini, di rumah kita. Jika sudah sampai di sini, ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar. Lihatlah apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syukur, jika kau bisa mengetahui perilakuknya lebih dari itu.” La Maddusila Karaeng Tanete sangat gembira mendengar nasihat ayahnya. Dia pun mempraktikkan cara mencari teman sejati yang cukup aneh itu. Mula-mula, dia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu persatu. Sebagian besar dari mereka marah-marah karena hidangannya tidak keluarkeluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang memukul-mukul meja, ada yang melontarkan kata-kata

SWT. Karena kekuatan cinta itu, mereka bahkan sempat bertahuntahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama yang tersebar di Turki, Syiria, Irak, Mesir, dan Yaman. Setelah berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang Alim; ayah La Maddusila Karaeng Tanete meninggal dunia. Akhirnya, La Maddusila Karaeng Tanete diangkat menjadi raja untuk menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Opu Daeng Kemboja, anak pencari kayu itu. Opu Daeng Kemboja pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya. Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering melakukan shalat tahajud dan membaca Al Qur’an bersama. Kecerdasan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur dan jaya.Hingga menjadi sebuah kerajaan yang besar dan sentosa. Dan keduanya dicintai oleh rakyatnya.

Pilkada Waktu perburuan mulai tiba Umbaran janji sudah terasa Janji sejuta ditabur semai Tak tahu siapa hendak menuai Pilkada didepan mata memilih pemimpin untuk rakyat jelata Diberi amanah bukannya Fatonah Mengumbar janji penghilang latah Pemilu, Semua orang pasti lah tahu Berulang selalu Berjuta janji jatuh dari mulutmu

Kau Laksana Bulan

Wahai bulan ..betapa indah cahaya mu Wahai intan.. betapa aku merindukan mu Aku tahu engkau lelaki,,, Tapi siapa kah engkau??? Wahai bulan.. betapa megahnya cahaya mu Wahai intan,, betapa aku mengagumi mu Aku tahu engkau lelaki Tapi siapakah engkau?? Siapakah engkau?? Aku pun tak tahu Tetapi hati ini berkata Engkaulah segalanya

Masih adakah rindu?? Sejenak aku terdiam Dikesunyian malam Bertemankan sepi Bertemukan rindu Menyatu dalam sukma Menusuk sanubari

MAILANDER AYU PRATIWI Fakultas llmu Pemerintahan Uni versitas Riau

Bertahta dalam hati Menyatu dalam rasa Untuk mengatakan “aku merindukan mu”

KOLOM ini disediakan untuk para guru yang memiliki tulisan bebas seputar dunia pendidikan dan sekolah. Kirim tulisannya ke info.xpresiriaupos@gmail.com. Untuk tulisan maksimal 1,5 halaman kwarto dengan spasi 1,5. Sertakan foto dan identitasnya. Kami tunggu kiriman dari seluruh guru di Riau.

Ujian Nasional dan Spesialisasi Murid Penentu Kelulusan

BERMANHOT SIMBOLON

MASIH banyak masalah-masalah yang belum terselesaikan di negara kita ini, ada yang pernah di coba di selesaikan tetapi muncul masalah baru, ada yang sudah terselesaikan, dan ada juga yang belum pernah di selesaikan, berikut ini dari sekian banyak masalah-masalah seputar pendidikan. Akhir-akhir ini Menteri Pendidikan menyatakan bahwa, Ujian Nasional tidak lagi menentukan kelulusan, tetapi tidak di jelaskan „ REDAKTUR: MARRIO KISAZ

apa yang menentukan kelulusan siswa/i yang sudah di akhir perjuangan. Apakah ini hanya bahasa politik atau bahasa psikologis, kita tidak tahu. Apakah tujuan Pak menteri hanya mengurangi beban pikiran siswa/i, apakah tujuan Pak menteri hanya menyenangkan hati dan pikiran siswa/ i, kita tidak tahu ? Karena Pak menteri sadar Ujian Nasional yang di ujiankan secara online membuat semua peserta ujian nasional tidak tenang, gelisah sepanjang hari, dan kadang bengong karena terus perpikir, yang intinya sangat tertekan. Masalah UN Selama ini kita tahu banyak orang yang pro dan kontra mengenai pengadaan Ujian Nasional, ada sebagian orang mengatakan UN itu bagus, akan membuat siswa/i belajar dan belajar sehingga akan ada bekal ilmu pengetahuannya di kemudian hari jika dia di dunia kerja, akan membuat siswa/i ter-

biasa menghadapi tekanan hidup, tekanan ini nanti akan di alami di saat dia bekerja. Ada sebagian orang mengatakan agar pendidikan kita dapat bersaing di dunia, karena pendidikan kita masih rendah di bandingkan negaranegara lain. Tetapi sebagain orang tidak setuju diadakan Ujian Nasional ini, alasan mereka sebagian mengatakan, pengadaan Ujian Nasional yang di lakukan selama ini tidak terbukti ada peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, tidak ada peningkatan dalam hitung-hitungan statistik. Sebagian mekatakan pengadaan ujian nasional ini akan membunuh psikologis dan karakter siswa, siswa akan sangat tertekan dan stres yang sangat tinggi jika menjelang Ujian Nasional, jika tidak lulus, ini akan membunuh karakter si anak, dia akan selalu terbayang ke UN setiap langkahnya dan tidak akan terlupakan oleh-

nya. Menurut penulis, Ujian Nasional tidak menentukan kesuksesan seseorang, nilai ujian nasional yang tinggi tidak menentukan keberhasilan seseorang, nilai matematika nya misalnya tinggi, ini tidak menentukan masa depannya cerah. Bukan berarti jika nilai fisikanya rendah dia bodoh atau tidak mampu, tetapi setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Di dalam diri manusia ada 4 (empat) tipe kecerdasan sejak lahir yang mungkin akan tumbuh, ada IQ, ada SQ, ada EQ, dan ada PQ. Ada orang hanya ada satu kecerdasan yang menonjol, ada 2 ( dua), dan ada orang sampai remaja tidak ada yang menonjol di dalam dirinya, ini karena tidak pernah di gali oleh dirinya sendiri maupun di gali oleh orang lain. Ada orang tidak bisa mengusai pelajaran berhitung tetapi bisa men-

gusai pelajaran yang menghafal, ada orang tidak bisa menguasai pelajaran tetapi jago dalam bermain musik, ada orang tidak bisa bernyanyi tetapi jago dalam olahraga karate. Jangan kita memaksakan harus bisa bahasa ingris pada hal dia suka IPA. Nah... disini kita akan membantu dan mendongkrak kelebihan si anak, agar ada bekal hidupnya di kemudian hari, agar dia suskses, jika dia sukses maka Indonesia akan maju, yang sukses itu akan menambah pendapatan di Indonesia, akan menambah APBN di Indonesia, APBN ini akan membangun pendidikan Indoensia jika tidak di korupsikan. Penulis berpendapat, UN Tetap di laksanakan, tetapi di kurangi bebannya seperti mengurangi nilai ketuntasan UN, tidak menakut-nakuti murid (takut tidak lulus). Dan dengan cara menguji/ menilai spesialisasi murid, hobi atau kesukaan murid

yang dapat menambah nilai UN, misalnya anak itu suka olahraga karate, maka dia akan di berikan ujian praktek olahraga karate, bisa juga murid suka mata pelajaran Fisika, maka dia akan di berikan ujian fisika yang telah di bakukan oleh pemerintah, bisa di buat berupa UU bisa berupa peratutan, bisa berupa buku yang di terbitkan menteri pendidikan, menteri kebudayaan, dan menteri olahraga, maka spesialisasi-spesialisasi murid ini akan terbina, bisa di sekolah bisa juga di tempat-tempat klub olahraga, di sanggar musik dan tari, atau klub bidang lainnya. Murid-murid akan mencari kelebihannya dan mencari tempat berlatih, misalnya dia suka komputer maka dia akan mencari tempat bimbingan komputer maka akan ada nanti di indonesia di kemudian hari ahli komputer yang bisa membaggakan Indonesia kita ini.*** „ TATA LETAK: YAYA

Riau Pos  

Edisi 13 Desember 2015

Riau Pos  

Edisi 13 Desember 2015

Advertisement