Page 1

1

KAJIAN ATAS PEMBAHARUAN PEMIKIRAN QASIM AMIN A. Pendahuluan Pada penghujung abad ke-19 muncul gerakan emansipasi wanita mesir, mengikuti gerakan nasionalis Mesir. Kedua gerakan ini lahir akibat kontak dan konfrontasi dengan peradaban modern dari Barat. Kehadiran orang Eropa di Mesir sewaktu ekspedisi Napoleon dan pendudukan Inggris serta lemahnya sebahagian adatistiadat di Mesir menyebabkan lahirnya kesadaran bangsa Mesir untuk memperbaiki posisi dan jati dirinya dalam berhubungan dengan Barat. Tampaknya kemerdekaan nasional adalah jawaban bagi dominasi Barat. Namun untuk mencapai tujuan ini, perlu perbaikan dan pembaharuan masyarakat. Perbaikan kedudukan wanita adalah bahagian dari pembaharuan. Perbaikan kedudukan wanita dimaksudkan untuk membebaskan dari belenggu adat-istiadat yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Beberapa kalangan terpelajar Mesir merasa terpanggil untuk merubah sebahagian adat-istiadat yang merendahkan martabat wanita. Diantara mereka adalah Qasim Amin, seorang pengikut Muhammad Abduh yang menyadari perlunya perbaikan kedudukan wanita dengan membebaskannya dari belenggu adat-istiadat yang bertentangan dengan ajaran asli dari al-Quran dan Sunnah Nabi. Ia menegaskan bahwa perbaikan keadaan suatu bangsa tak mungkin terwujud tanpa memperbaiki kedudukan wanita. 1 Pada tahun 1899, ia menerbitkan buku yang berjudul Tahrir al-Mar’ah2 untuk menuntut penghapusan adat hijab yang berbeda dengan hakikat hijab dalam islam. Ia pun menuntut agar kaum wanita mendapat pendidikan dan pengajaran yang layak sejajar 1

Qasim Amin, 1970: 137 Tahrir al-Mar’ah itu adalah buku tentang Emansipasi wanita. Tahrir almar'a (Pembebasan Perempuan) - Tidak puas dengan bantahan itu, Amin menyerukan pendidikan perempuan hanya untuk tingkat SD. Dia mempertahankan keyakinannya di dominasi patriarkal atas perempuan belum menganjurkan memodifikasi undang-undang yang mempengaruhi perceraian, poligami dan abolution tabir. Buku itu ditulis bersama Muhammad Abduh dan Ahmad Lufti alSayid. Buku ini menggunakan ayat-ayat Alquran banyak untuk mendukung keyakinannya. 2


2

dengan yang diperolh kaum pria, supaya mereka dapat dengan baik membina masyarakat dan keluarganya. Selain itu, ia juga menuntut perubahan dalam praktik poligami dan perceraian yang dianggapnya merugikan kaum wanita. Tidaklah mengherankan bila anjuran emansipasi wanita dari Qasim Amin ini mendapat kecaman dan serangan dari kalangan ulama dan beberpa tokoh nasional Mesir, di samping pihak yang yang mendukung dan menyetujui anjurannya itu, Qasim Amin menjawab kecaman dan kritikan itu dengan menulis buku al-Mar’at al-Jiddah.3 B. Riwayat Hidup Qasim Amin Qasim Amin lahir di negeri Thurah di pinggiran kota kairo pada tahun 1277 H/1861 M (Umar Farukh, 1969: 20). Ayahnya bernama Muhammad Bek Amin, keturunan Turki, bekerja sebagai tentara yang didatangkan dari Iraq ke Mesir. Ibunya wanita Mesir dari al-Sha’id. Qasim Amin menempuh pendidikan dasar di madrasah ‘’ra’s al-tin’’4 di Iskandariyah, setelah itu ia masuk sekolah menegah madarsah al-Tajhiziyun di Kairo. Tamat dari sini, ia melanjutkan studi di sekolah tinggi hukum ) madarsah al-huquq), dn memperoleh ijazah lesance pada tahun 1298 H/1881 M. setelah itu ia bekerja di kantor pengacara Mustafa Fahmi di Kairo, dan kemudian berangkat ke Perancis untuk mendalami ilmu hukum di Universitas Montpellier (Qasim Amin, 1970: 1-3). Selama di Perancis ia tetap mengikuti perkembangan situasi Mesir sehubungan dengan usaha kaum nasionalis Mesir untuk mengambil alih pemerintahan dari kekuasaan asing. Kaum nasionalis yang digerakkan oleh Urabi Pasya berhasil menguasai pemerintahan dari tanga Turki. Tetapi Inggris yang merasa kepentingannya di Mesir terancam, segera menyerbu Mesir dan 3

Dalam bukunya yang kedua ini di kemukakan contoh-contoh perbandingan antara wanita Mesir Muslim dan wanita Eropa dan Amerika. alMar'a al-jadida (Wanita Baru) dalam bukunya, Amin membayangkan 'wanita baru' muncul di Mesir yang perilaku dan tindakan yang dimodelkan dari wanita Barat. Buku ini dianggap lebih liberal di alam, tetapi digunakan Darwinis sosial sebagai argumennya. Dalam bukunya ia menyatakan "Seorang wanita dapat dikawinkan dengan pria dia tidak tahu siapa yang melarang dirinya hak untuk meninggalkan dia dan memaksanya untuk ini atau itu dan kemudian melemparkan keluar sesuai keinginannya: ini adalah perbudakan memang." 4 ’ra’s al-tin itu tempat pendidikan Qasim Amin yang berada di Iskandariyah.


3

mengalahkan gerakan Urabi Pasya, kemudian menduduki Mesir. Beberapa pimpinan revolusi Urabi Pasya, seperti Muhammad Abduh ditangkap dan diasingkan ke Paris. Qasim Amin membantu Muhammad Abduh mempelajari bahasa Perancis.5 Selain berkawan dengan Muhammad Abduh, Qasim Amin juga berkenalan dengan Jamaluddin al-Afghani yang diusir oleh Khedewi Taufiq dari Mesir atas tekanan Inggris. Karena itu, ia juga membantu penerbitan majalah. Qasim Amin kembali ke Mesir pada tahun 1302 H/1885 M. ia diangkat menjadi hakim pada alMahkamah al-Mukhwalathah (tribunal mixte). Pekerjaannya sebagai hakim tidak menghalangi untuk tetap memperhatikan urusan masyarakat umum. Pada tahun 1900 M, ia mendirikan organisasi sosial Islam. Kemudian pada tahun 1906 M, bersama Sa’d Zaglul, Ahmad Ramzi, dan lain-lain, ia mendirikan Universitas Mesir. Qasim Amin adalah seotang pemikir yang tenang, seorang patriot dan nasionalis yang berpaham islam. Selain sebagai hakim yang ulung, ia jga seorang sastrawan yang menghayati makna keindahan dalam alam, music dan berbagai kesenian. 6 Setelah menamatkan Sekolah Dasar di Alexandria, keluarganya hijrah ke Kairo. Pada tahun 1881, ia mencapai gelar licance dari Fakultas Hukum dan Administrasi dari sebuah akademi. Pada waktu itu, Qasim Amin masih berumur 20 tahun. Semasa kuliah ia sudah berkenalan dengan seorang tokoh pembaru Muslim, Jamaluddin Al-Afghani, dan aliran-aliran pemikirannya yang memang berkembang di Mesir pada saat itu. Dengan bekal gelar licance-nya ia bekerja sebagai pengacara pada sebuah kantor milik Musthafa Fahmi Basya, seorang pengacara besar pada saat itu yang memang sudah memiliki hubungan baik dengan orang tua Qasim. Melalu perantara kantornya, Qasim berkesempatan untuk melanjutkan studi di Perancis atas sponsor dari 5

Harun Nasution, 1990: 61 Ia mengarang buku dalam bahasa Arab dan bahasa Perancis. Dalam bahasa Arab ada tiga buku yang di tulisnya yaitu: Tahrir al-Mar’ah, yang membuat namanya populer, al-Mar’at al-Jiddah, yang membahas secara luas tentang kebebasan wanita di Eropa dan Amerika, dan Asbab wa Nataij wa Akhlaq wa Mawaizh yang berasal dari kumpulan artikel yang ditulisnya di beberapa surat kabar. 6


4

Musthafa Fahmi Basya. Dalam masa perantauannya di Paris, di Mesir sendiri pada saat itu terjadi Revolusi Arab yang dipimpin murid-murid Jamaluddin al-Afghani. Revolusi ini berakhir dengan penjajahan Mesir oleh tentara Inggris dan tokoh tokoh revolusi tersebut dihadapkan ke Meja Hijau. Jamaluddin al-Afghani dan muridnya, Muhammad Abduh diasingkan dari Mesir, dan pada akhirnya keduanya menetap di Paris. Di sinilah Qasim kembali menjalin hubungan dengan Al-Afghani dan juga menjadi penerjemah pribadi bagi Muhammad Abduh. Selayaknya orang asing di kota Paris, ia berusaha untuk bisa berinteraksi dan beradaptasi dengan masyarakat Perancis. Namun karena beliau memiliki kepribadiannya yang mencirikan kepribadian bangsa Timur; pemalu dan tertutup, dan terdapat perbedaan yang sangat jauh antara budaya Perancis dan budaya Mesir, maka ia tidak bisa bergaul dan berinteraksi dengan bebas dan luas. Namun, sebagaimana lazimnya kehidupan mahasiswa dan mahasiswi di kampus, Qasim Amin juga memiliki teman perempuan yang istimewa. Dari kebersamaannya dengan gadis Perancis tadi, disinyalir mulai tumbuh benih-benih kepeduliannya terhadap kaum hawa, yang nantinya membidani perjuangannya di Mesir yang penuh dengan bentuk interaksi sosial yang diskriminatif. Kekasihnya menjadi sumber inspirasi dan penggugah kesadaran bahwa kaum perempuan sebetulnya memiliki kemampuan yang selama ini “tidak pernah difungsikan”. Sekembalinya dari Paris pada tahun 1885, ia diangkat menjadi hakim. Kariernya sebagai seorang hakim semakin meningkat sehingga pada tahun 1889, ia diangkat menjadi walikota di Bani Suef, sebuah propinsi di Mesir. Dari daerah ini ia memulai pergerakannnya dalam mengadakan perbaikan-perbaikan di segala bidang sosial (ishlâh ijtimâ’î). Jasa-jasanya yang patut diacungi jempol pada saat itu, ia berupaya keras membebaskan para narapida politik. Tahun 1894, Qasim Amin menikah dengan seorang gadis pilihannya yang masih memiliki darah keturunan Turki, Zaenab Amin Taufiq. Dan pada tahun yang sama ia mulai aktif dalam kegiatan tulis menulis, karya pertamanya lahir, “Al-Mashriyyûn” (Les Egyptiens) dengan menggunakan bahasa Perancis. Buku ini


5

adalah counter terhadap tulisan seorang tokoh Perancis, Duc D’harcouri, yang mengecam realitas sosio-kultural masyarakat Mesir. Karya perdana ini rupayanya bisa menggenjot kreatifitas Qasim Amin dalam dunia tulis-menulis. Selanjutnya lahir karyakarya Qasim Amin yang menjadi magnum opus-nya, yaitu, “Tahrîr al-Mar’ah’’7 (Pembebasan Perempuan) terbit pada tahun 1899 dan “Al-Mar’ah Al-Jadîdah” (Perempuan Modern) yang terbit tahun 1900. C. Ide Pembaharuan Qasim Amin Ide pembaharuan yang menonjol pada Qasim Amin adalah hasratnya untuk meningkatkan harkat dan martabat wanita Mesir setara dengan kaum pria. Ia melihat bahwa wanita Barat di Eropa dan Amerika telah menikmati pendidikan dan kedudukan yang baik karena kebebasan yang diberikan masyarakat Barat kepadanya tanpa mengungkungnya dalam rumah. Wanita di Eropa dan Amerika sudah lebih maju dari pada wanita Arab Mesir, bahkan secara umum masyarakat Barat sudah lebih maju dalam ilmu dan teknologi di banding masyarakat Mesir dan umat Islam. Untuk mencapai kemajuan seperti yang terdapat di Barat, Mesir dan juga umat islam harus memperbaiki kehidupannya, meningkatkan pendidikan dan pengajaran baik bagi kaum pria maupun kaum wanita, dan menghapus adat-istiadat yang mengekang kemajuan. Sebagai seorang Mesir yang beragama Islam, hati Qasim Amin tersentuh dan merasa prihatin menyaksikan kebodohan dan keterbelakangan kaum wanita mesir yang terbelenggu dalam adatistiadat yang tidak sejalan dengan ajaran islam yang benar. Ketika seorang Perancis bernama Le Duc d’harcourt menulis buku8 untuk 7

Qasim sangat dipengaruhi oleh karya-karya Darwin, Herbert Spencer dan John Stuart Mill. [ Dan ia berteman dengan Mohammad Abduh dan Saad Zaghlul. Amin mungkin paling terkenal sebagai seorang advokat awal hak-hak perempuan di Mesir masyarakat. 1.899 bukunya The Pembebasan Perempuan (Tahrir al mara'a) dan 1900 sekuel The Woman Baru (al mara'a al jadida) meneliti pertanyaan mengapa Mesir telah jatuh di bawah kekuasaan Eropa, meskipun abad pembelajaran Mesir dan peradaban, dan menyimpulkan bahwa penjelasan adalah status sosial dan pendidikan yang rendah dari perempuan Mesir. Amin menunjukkan penderitaan aristokrat wanita Mesir yang bisa disimpan sebagai "tahanan di rumahnya sendiri dan lebih buruk dari seorang budak". 8 Le Duc d’harcourt menulis buku yang berjudul L’Egypte et les Egyptiens


6

memburuk-burukan Mesir dan Islam, Qasim Amin membantahnya dengan menulis buku Les Egyptiens Response am Le Duc d’harcourt.9 Keprihatinan itu mendorong Qasim Amin untuk memperbaiki kehidupan rakyat Mesir pada khususnya dan Arab Islam pada umumnya, pengalaman tinggal di Perancis dan Negara Barat yang lain, membuatnya menyadari adanya kesenjangan yang amat besar pada beberapa sektor kehidupan, terutama pada kehidupan sehari-hari kaum wanita. Titik perhatiannya ditujukan pada emansipasi wanita Mesir agar dapat menikmati kehidupan yang layak dengan sebaik-baiknya. Untuk itu kaum wanita harus mendapat pendidikan dan dibebaskan dari belenggu adat-istiadat yang salah yang terdapat dalam praktek perkawinan, poligami, dan talak dilihat dari sudut kemasyarakatan dan syariat Islam. 1. Pendidikan dan Pengajaran10 Menurut Qasim Amin, pendidikan bagi wanita penting sekali karena wanita juga manusia yang sama dengan lelaki dalam anggota, tugas, perasaan, dan pikiran, hanya berbeda dalam jenis kelamin. Lelaki melebihi wanita dalam kekuatan badan dan mental karena lelaki diberikan kesempatan bekerja dan berpikir sejak waktu lampau, sedang wanita dilarang menggunakan dayanya untuk bekerja dan berpikir. Sebahagian besar masyarakat Mesir

9

Didalam bantahannya ini, ia mengemukakan pembelaannya terhadap Islam yang dicap oleh d’harcourt sebagai penyebab kemunduran dan keterbelakangan bangsa Mesir. Les Egyptiens. Respone a M. le duc D'Hartcourt ditulis sebagai respon terhadap kritik gigih Duke Hartcourt tentang kehidupan Mesir dan wanita. Amin tidak membela wanita Mesir di sanggahan, tapi tidak membela perlakuan Islam terhadap perempuan. 10 Dalam hal pendidikan, Qasim mengklasifikasikan jenis pendidikan menjadi tiga tingkatan secara berurutan. Pertama adalah pendidikan yang wajib bagi setiap orang demi menjaga kehidupannya sendiri dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadinya (kebutuhan primer setiap individu). Kedua adalah pendidikan yang bermanfaat bagi keluarganya Ketiga pendidikan yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekelilingnya.Selain itu, pendidikan yang bersifat fisik juga penting: perempuan seperti laki-laki, membutuhkan kesehatan yang baik. Oleh karena itu, perlu didorong untuk melatih badan secara tetap, seperti yang dilakukan perempuan Barat yang sering mengikuti kegiatan keperempuanan dalam bidang kesehatan seperti olah raga.


7

berpendapat bahwa pendidikan dan pengajaran bagi kaum wanita tidak kewajiban.11 Selanjutnya ditegaskan oleh Qasim Amin bahwa menelantarkan pendidikan bagi kaum wanita sama halnya membiarkan seperdua jumlah penduduk tinggal dalam kegelapan dan kebodohan, sebab jumlah kaum wanita diperkirakan sekitar setengah dari jumlah penduduk suatu negeri. Kebodohan dan tertutupnya lapangan pendidikan menyebabkan wanita Mesir tidak dapat menggeluti berbagai aktifitas seperti yang dilakukan wanita Barat dalam bidang ilmu pengetahuan, kesusasteraan, kesenian, perdagangan dan perindustrian. Sekiranya wanita Mesir dituntun dengan pendidikan yang baik, niscaya hal itu member faedah yang besar bagi kemajuan bangsa. Dengan bekal pengetahuan intelektual dan rohanian yang cukup, wanita Mesir akan dapat mengatur rumah tangga dengan baik, dapat memilih dengan baik, serta membuang takhayul dan kepercayaan yang salah yang banyak melanda kaum wanita yang tidak berpendidikan. Beralih pada pendidikan moral, hal ini juga penting karena alam telah memilih perempuan untuk menjadi pelindung standar moral umat manusia.jadi perempuanlah yang bertanggungjawab pada pembentukan pikiran anak pada waktu mereka masih kanakkanak, saat mereka tidak berdosa dan masih polos. Selanjutnya, pendidikan intelektual, yaitu study tentang ilmu pengetahuan dan seni.objektivitas ini adalah untuk menjamin seseorang agar terbiasa dengan esensi kehidupan dan tempat didalamnya agar ia bias menunjukkan tingkah lakunya terhadap segala sesuatu yang bermanfaat, menikmati faedah dari ilmu pengetahuan dan hidup dengan bahagia. Kebodohan wanita Mesir termasuk para isteri sudah sedemikian parah, Qasim Amin (1970: 54) menggambarkannya sebagai berikut:12 ‌Bahkan urusan yang termasuk pekerjaannya dan wanita diciptakan untuk itu, sang suami tidak melihat pada isterinya 11

Bahkan mereka mempertanyakan, apakah pelajaran baca-tulis itu di bolehkan oleh syariat atau diharamkan sama sekali (Qasim Amin, 1970: 43-68) 12 Qasim Amin (1970: 54)


8

hal yang menarik hatinya. Kebanyakan isteri tidak terbiasa menyisir rambutnya setiap hari, mandi tidak lebih dari satu kali setiap seminggu, tidak mempergunakan sikat gigi, tidak memperhatikan keindahan dan kebersihan pakaiannya yang berpengaruh besar dalam menggairahkan suami. Dan tidak tahu bagaimana menumbuhkan keinginan pada suami, bagaimana memeliharanya dan bagaimana memenuhinya. Itu disebabkan wanita yang bodoh tidak mengetahui gerakan gerakan batin dalam jiwa. Apabila ingin menggairahkan suami, biasanya ia berbuat kebalikkannya.13 Mengenal jenis dan jenjang pendidikan dan pengajaran yang mesti diberikan pada kaum wanita, Qasim Amin merasa cukup kalau wanita sekurang-kurangnya mendapat pendidikan dasar (ibtida’i) seperti yang diberikan pada anak lelaki. Pendidikan yang diberikan jangan dibatasi pada pengetahuan kerumahtanggaan semata, seperti menjahit, memasak, dan menyetrika. Pendidikan bagi kaum wanita mesti mencakup pendidikan jasmani, pendidikan moral, dan pendidikan intelektual. Pendidikan jasmani perlu karena wanita pun perlu sehat seperti kaum pria. Wanita mesti diberi kebebasan berolahraga seperti yang dilakukan wanita Barat. Tanpa olahraga wanita menjadi kurang sehat dan mudah diserang penyakit. Wanita dalam fungsinya sebagai ibu perlu sehat jasmaninya agar dapat memikul beban penderitaan sewaktu hamil dan melahirkan. Apabila wanita dikungkung dalam rumah seperti yang dialami umumnya wanita Mesir dari kalangan menengah ke atas di kotakota, kondisi fisiknya lemah Karena tidak pernah berolahraga., tidak kena cahaya matahari dan tidak meghirup udara segar, sehinnga ketika bersalin untuk pertama kali banyak yang jatuh sakit, bahkan tidak sedikit yang meninggal dunia. Kesehatan jasmani selain perlu bagi ibu juga perlu untuk menjaga kesehatan putra-putrinya dan menghindarkannya dari penyakit. Sebab bila ibu menderita sesuatu penyakit, maka penyakit itu dapat menjangkit pada anak-anaknya. 14

Pendidikan formal perlu diajarkan pada kaum wanita karena sebagai ibu berperan besar dalam membentuk moral dan akhlak putra-putrinya. Apabila ibu tidak mengetahui akhlak yang baik dan 13

IIahi Kurnial, Perkembangan Modern dalam Islam, (Pekanbaru: yayasan pusaka Riau), hal 248. 14 Iilahi Kurnial, Perkembangan Modern dalam Islam, hal 247.


9

kebiasaan yang benar, niscaya anak-anaknya juga mengikutinya dalam kejahilan. Dengan mengetahui akhlak yang baik, sang ibu dapat menjadi wanita yang saleh yang pandai menanamkan budi pekerti dan kebiasaan yang benar pada putra-putrinya .15 Kemudian mengenai pendidikan intelektual, menurut Qasim Amin adalah pendidikan dan pengajaran ilmu pengetahuan dan kesenian agar manusia mengetahui alam sekitarnya termasuk dirinya. Dengan mengetahui hakikat sesuatu ia dapat mengarahkan pekerjaanya kepada yang bermanfaat bagi dirinya, dan menikmati pengetahuan itu sehingga hidupnya berbahagia. Keinginan ingin menikmati pengetahuan itu sama dimiliki pria dan wanita, samasama ingin mengamati keajaiban dan rahasia alam, mempelajari pengetahuan alam, kemasyarakatan dan sejarah. Namun yang terpenting dalam pendidikan intelektual ini adalah memotivasi wanita untuk mencari kebenaran bukan dengan menjajali otaknya dengan materi pengetahuan semata., sehingga bila tamat belajar ia tetap rindu pada kebenaran dan bergerak mencarinya. Pendidikan semacam ini juga membekali wanita dengan pengetahuan yang berguna dalam rumah tangga, seperti pengetahuan mengatur belanja rumah tangga sesuai dengan pendapatan, dan bagaimana membuat suasana dalam rumah tangga disukai oleh suami karena dapat bersantai, makan, minum, dan tidur dengan anak. Kemudia untuk memperhalus perasaan perlu pula dianjurkan pendidikan kesenian bagi remaja putrid, seperti musik dan melukis. Seni musik dan seni lukis tidak kurang faedahnya dari ilmu pengetahuan. 16 Ilmu pengetahuan mengajarkan hakikat, sedang kesenian membuat kita menyenangi hakikat itu karena tampak dalam bentuk yang sempurna seperti yang digambarkan dalam lukisan. Seni music merupakan bahasa terfasih yang mengungkapkan isi hati kita, dan sesuatu yang terindah yang masuk ke pendengaran kita.

15

Qasim Amin, tt: 157-159 Yusuf Al-Qardlawry berpandangan bahwa estetika (seni) islami merupakan kebutuhan rasa yng dapat meningkatkan derajat manusia dan kemuliaan manusia, bukan seni yang dapat menjerumuskan manusia dalam kehinaan. Oleh karena itu, karya seni yang berbasis estetika islami mestinya berpegang teguh pada koridor syariat islam. Keindahahan yang diungkapkan bukanlah kesenangan yang dapat merusakkepribadian manusia, tetapi merupakan keindahan yang disandarkan kedalam bentuk ungkapan kesenangan demi kebaikan. 16


10

Qasim Amin menyebutkan adanya kendala bagi pendidikan wanita yaitu kekhawatiran sebagian masyarakat Mesir bahwa pendidikan dapat merusak akhlak wanita. Qasim Amin membantah dengan keras persoalan ini, sebab pendidikan dan pengajaran nila disertai pendidikan akhlak akan mengangkat derajat wanitja dan martabatnya, menyempurnakan akalnya, membuatnya berpikir, mengamati dan berhati-hati dalam pekerjaannya. Perempuan yang baik akan bertambah kebaikan, kesalehan dan ketakwaannya dengan ilmu pengetahuan. Perempuan terpelajar lebih berhati-hati dalam melakukan suatu pekerjaan dari pada wanita yang bodoh.17 2. Hijab Pengertian hijab di sini adalah pakaian yang membungkus seluruh tubuh wanita dari ujung rambut sampai tapak kaki, dan pengekangan kebebasan wanita sehingga hidup terpenjara dalam rumah atau dari balik tirai kereta, dan tidak dapat berjalan ke luar rumah untuk menuntut ilmu atau mencari pengalaman, kecuali bila sudah menjadi mayat terbungkus kain kafan dan di bawa dalam keranda mayat.18 Hijab dalam pengertian di atas berlaku di Mesir pada masa itu dan di sebagian negeri Islam. Karena itu umumnya wanita Mesir dari golongan menengah ke atas diharuskan memakai pakaian yang menutup seluruh tubuhnya termasuk wajahnya, tinggal terpingit dalam rumah, dan tidak boleh keluar rumah untuk belajar dan mengurus kepentingan diri dan masyarakatnya.19 Jelaslah bahwa Qasim Amin tidak menuntut agar kaum wanita meniru cara berpakaian wanita Barat seratus persen, sebab wanita Barat dalam berpakaian banyak yang di luar batas kesopanan. Ia hanya menuntut agar cadar yang menutup wajah dihilangkan, dan wanita diberi kebebasan untuk keluar rumah, baik untuk menikmati

17

Qasim Amin, 1970: 73 Iilahi Kurnial, Perkembangan Modern dalam Islam, hal 251. 19 Adat Hijab seperti inilah yang ditentang habis-habisan oleh Qasim Amin, sebab tidak sesuai dengan ajaran Islam yang membolehkan wanita membuka wajahnya dan kedua telapak tangannya, dan hanya melarang wanita berduaan dengan pria asing baginya di tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan (Qasim Amin, 1970:84). 18


11

pendidikan maupun bekerja dan berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat bersama dengan kaum pria. 20 Selanjutnya mengenai hijab yang berarti mengungkung wanita dalam rumah dan melarangnya berinteraksi dengan kaum lelaki, dibaginya kepada dalam dua bahagian. Pertama, hijab yang khusus diperuntukkan pada isteri-isteri Nabi. Kedua, bagi isteriisteri kaum muslimin selain isteri Nabi. Hijab pada isteri-isteri Nabi telah disepakati oleh kitab-kitab fikih dari semua mazhab, dan kitabkitab tafsir bahwa itu di khususkan pada isteri-isteri Nabi, karena mereka tidak sama dengan perempuan muslim lain. Oleh karena sebab turunnya ayat al-Quran al-Ahzab ayat 5321 tentang hijab khusus pada isteri-isteri Nabi hijab tidak merupakn fardhu dan kewajiban. Dari sudut kemasyarakatan, menurut Qasim Amin kebiasaan mengukung wanita sejak kecil adalah adat yang diwarisi turun temurun dan diikuti secara naluri tanpa pertimbangan rasional. Kebiasaan memingit anak perempuan semenjak umur 12-14 tahun tidak dapat dibenarkan, karena dalam usia seperti itu berada pada tahap transisi dan perlu pada pengetahuan dan pengalaman hidup. 22 Mereka mulai mengenali bangsa, agama, tanah air, dan pemerintahannya.dalam usia seperti itu tampak aktivitas dan kreatifitasnya, sehingga bila dikekang akan menyebabkan mundur dan kehilangan masa depan. Kaum wanita harus dilepaskan dari kungkungan dan dibenarkan berinteraksi dengan kaum lelaki. Pegungkungan kaum wanita kendatipun dengan alas an mencintainya, merusak kesehatannya karena tidak mendapat udara segar dan cahaya matahari (Qasim Amin, 1970: 92-93). Qasim Amin menentang pendapat yang mengatakan bahwa wanita yang aktif berhubungan dengan kaum lelaki mempunyai pikiran-pikiran rendah yang menjurus kepada moral yang bejat. 20

Ia berpendapat bahwa adat Hijab dimana wanita menutup wajahnya dengan burqu atau dengan niqab adalah adat-istiadat lama yang sudah ada sebelum Islam dan dilanjutkan setelah Islam, karena adat seperti ini tidak dikenal selain di negeri Islam dari bangsa-bangsa Timur yang memeluk Islam. Untukj membenarkan pendapatnya ia mengemukakan bahwa dalam mazhab syafi’I, maliki dan hanbali, wajah dan dua telapak tangan wanita tidak termasuk aurat. 21 22


12

Bahkan sebaliknya, perempuan yang biasa bekerja dan belajar ditengah kaum pria lebih terhindar dari pikiran-pikiran jelek daripada perempuan yang dipingit. Sebab, menurut Qasim Amin, wanita yang merdeka terbiasa melihat lelaki dan mendengar bicaranya, sehingga bial melihat seorang lelaki betapa pun gagahnya tidaklah bergerak nafsu syahwatnya. Sedang perempuan yang terkurung, dengan memandang seorang lelaki akan tergerak pikirannya pada perbedaan seks tanpa di sadarinya. Selanjutnya dengan mengukung kaum wanita sama artinya kita tidak menaruh kepercayaan kepada mereka. Kita tidak percaya bahwa ibu kita, putrid kita, dan isteri kita tidak tahu menjaga kehormatan dirinya. Apakan kita pantas tidak menaruh kepercayaan kepada wanitawanita yang kita cintai yang dapat menjaga kehormatan dirinya, dan menaruh kecurigaan besar kepada mereka? Kehormatan wanita tidak terletak pada pakaian yang membungkus badan, 23 Pembebasan adalah merupakan agenda terdepan sebelum pemberdayaan. Maka dalam hal ini Qasim Amin melakukan reinterpretasi pada teks spesikasinya tentang cadar (hijab) dan poligami dengan melihat segi kontekstualnya teks tersebut. Sebelum terlalu jauh membicarakan masalah hijab, mungkin ada baiknya jikakita mencoba mengetahui terlebih dahulu pemahaman Qasim tentang makna hijab ini. Menurut Qasim Amin hijab mempunyai dua makna. Pertama, hijab secara makna hakiki, berfungsi menutup aurat perempuan hingga wajah dan telapak tangan (penutup wajah disebut niqâb [cadar])24. Bagi masyarakat Mesir pada waktuitu, hijab dalam makna di atas dianggap sebagai syariat Islam. Kedua, adalah hijab dalam makn majazi, yaitu “penjaraâ€? kaum perempuan dalam rumahnya sendiri. 23

Tetapi terletak pada kesanggupan mengekang diri. Ini yang mesti ditanamkan sejak ini pada kaum wanita dengan membiasakannya berhubungan dengan kaum lelaki baik dari kerabatnya maupun bukan, dengan tetap memelihara batas-batas syariat dan adab kesopanan dibawah bimbingan orang tua atau walinya. 24 Cadar yang semula dimaksudkan hanya untuk isteri, akhirnya diberiakn pada anak perempuan, saudara perempuan, dan diharuskan pada semua perempuan, karena setiap perempuan adalah isteri yang telah menjadi isteri atau yang akan menjadi isteri. Memakai cadar adalah symbol kepemilikan masa lampau, dan salah satu sisa tingkah laku jahiliyah yang memberi karakter pada generasi selanjutnya. Dan itu telah ada sebelum disadari bahwa seseorang seharusnnya tidak menjadi harta milik dengan cara yang simple sebab ia adalah perempuan, seperti orang-orang kulit hitam yang seharusnya tidak menjadi budak orang kulit putih.


13

Selain memaparkan makna hijab sesuai dengan “idelogi” masyarakat Mesir di atas, Qasim juga mencoba membuat analisa dan studi kritik tentang hijab inidari dua sudut pandang; agama dan sosial. Dalam perjalanan sejarah masyarakat Timur, hijab bagi kaum perempuan sangat memainkan peranan penting dalam membentuk sistem sosial yang ada. Bahkan sebenarnya hijab bukan saja merupakan ciri khas masyarakat Timur saja. Sejarah telah mencatat, kaum perempuan pada masyarakat Yunani waktu itu juga memakai busana tersebut jika keluar dari rumahnya. Adat ini berlanjut sampai pada abad pertengahan, khususnya abad ke-IX, dan sampai pada abad ke-XIII. Namun, karena keadaan sosiologis yang terus berubah menuju kemajuan dan kemodernan maka adat ini-pun di daerah Yunani dan wilayah Barat lainnya menjadi punah. Menurut Qasim Amin masyarakat Arab mempunyai pandangan yang “salah kaprah” terhadap hijab ini, sehingga mereka bersikeras mempertahankan tradisi ini. 25 Hijab hanya dianggap sebagai pesan syariat agama. Sehingga agama dijadikan legitimasi atas kewajiban memakai hijab. Padahal, menurut Qasim tidak ada satupun nash-nash sharîh yang mewajibkan pemakaian hijab ini. Menurut Qasim, justru hijab dalam makna masyarakat Mesir di atas lengkap dengan antribut cadarnya yang berpotensi menimbulkan fitnah, sebab, seorang yang memakai hijab cenderung lebih bebas untuk bertindak melanggar sosial tanpa ada rasa khawatir untuk diketahui oleh khalayak ramai. Berbeda dengan seorang perempuan yang tidak menutupi wajahnya, ia akan cenderung menjaga kehormatan pribadi dan keluarganya sehingga lebih berhati-hati dalam bertindak. Jadi, etika dan perilaku sosial yang terpuji tidak ada hubungannya dengan pemakaian hijab, karena yang lebih menentukan baik atau tidaknya moral seseorang adalah dari nurani dan hatinya, bukanlah dari penampilan lahiriyah. 26 Pada sisi sosial, Qasim melihat bahwa hijab dalam beberapa hal justru menjadi kendala bagi pemakainya untuk bisa berinteraksi dengan masyarakat luas. Misalnya, dalam hal kriminalitas dan kesaksian dalam pengadilan, kemungkinan untuk melakukan bentuk-bentuk 25 26

Iilahi Kurnial, Perkembangan Modern dalam Islam, hal 253. Iilahi Kurnial, Perkembangan Modern dalam Islam, hal 254.


14

manipulasi terbuka lebar. Akhirnya akan merugikan salah satu pihak dari kedua puhak yang beselisih. Begitu juga dalam bentuk interaksi sosial lainnya, seperti perdagangan dan pertanian. Masyarakatpertanian di pedesaan di mana kaum perempuan sedikit banyak ikut berperan dalam cocok tanam, akan lebih banyak menemukan kesulitan dari pada perempuan yang tidak berhijab. Bahkan secara lebih radikal lagi, Qasim menyatakan bahwa kaum perempuan yang berhijab akan lebih terisolir dari pada kaum perempuan yang menanggalkan hijabnya. 3. Perkawinan dan Thalak27 Qasim Amin melihat ditengah masyarakat Mesir di masanya ada unsur penghinaan dan perendahan martabat wanita dalam masalah perkawinan dan thalak. Wanita diperlakukan sebagai makhluk hidup yang tidak punya kehendak bebas dalam memilih calon jodohnya, dan dengan sewenang-wenang dapat diceraikan dengan suaminya melalui thalak. Wanita dipandang sebagai pemuas nafsu seks semata dalam perkawinan, dimana perkawinan didefinisikan dalam buku-buku fikih dengan satu akad yang menyebabkan seorang lelaki menguasai kehormatan wanita. Definisi ini dinilainya tidak memperlihatkan adanya kewajiban kedua belah pihak, dan tidak sesuai engan penegasan al-Quran yang memandang 27

�Talak (yang dapat di rujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan orang yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.� (AlBaqarah:229). Apabila seorang laki-laki mentalak isterinya, talak pertama atau talak kedua, maka ia tidak berhak baginya untuk mengusir isterinya dari rumahnya sebelum berakhir masa idahnya, bahkan sang isteri tidak boleh keluar dari rumah tanpa izin dari suaminya. Hal itu disebabkan Islam sangat menginginkan segera hilangnya amarah yang menyulut api perceraian. Kemudian Islam menganjurkan agar kehidupan harmonis rumah tangga, bisa segera pulih kembali seperti semula, dan inilah yang disebutkan Rabb kita dalam firman-Nya, �Hai Nabi jika kamu menceraikan isteri-isterimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali kalau melakukan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barang kali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.� (Ath-Thalaq: 1)


15

perkawinan untuk sakinah, cinta dan kasih sayang. Perkawinan yang ditetapkan Allah sebagai tempat mawaddah (cinta), rahmah (kasih sayang) telah diubah oleh para fukaha sebagai alat bersenang-senang di tangan pria. 28 Oleh karena itu, untuk terjalinnya mawaddah, pria dan wanita yang akan melakukan akad nikah dibenarkan untuk saling mengenal calonnya. Tampak dengan jelas betapa Qasim Amin ingin mengangkat derajat kaum wanita dari sekedar obyek menjadi setingkat dengan kaum pria sebagai subyek. Ia tidak dapat menerima perkawinan yang dilaksanakan tanpa proses perkenalan lebih dahulu walau dalam waktu singkat. Ia membuat perbandingan, bila seseorang ingin membeli domba atau kambing tentu ingin melihat keadaan binatang tersebut supaya terhindar dari membeli binatang yang ada cacatnya. Karena itu sulit bagi seorang lelaki dan pria yang sehat akalnya dapat hidup bersama dan bergaul dengan baik, bila tidak saling mengenal sebelumnya. Kaum pria sekarang juga tidak mau kawin dengan wanita yang tidak pernah dilihatnya. Mereka ingi isteri yang mencintai dan dicintainya. Bukan wanita yang dipergunakan untuk melayani semua kebutuhannya. Mengenai poligami29, Qasim Amin juga menanggapinya dengan serius. Ia menganggap poligami berasal dari adat-istiadat kuno yang terbesar di masa lahirnya islam dari berbagai penjuru dunia sewaktu kaum wanita dianggap sebagai makhluk antara manusia dan binatang. Poligami merupakan bentuk penghinaan besar terhadap wanita karena tidak seorang pun wanita rela dimadu sebagaimana tidak seorang pun lelaki rela dimadu. Bagaimana pun juga keadaannya seorang wanita yang menghormati dirinya akan merasa pedih bila melihat suaminya kawin dengan perempuan lain, apakah karena ia betul-betul mencintai suaminya sehingga timbul rasa cemburu dan kepedihan hati atau kalaui ia tidak mencintai suaminya sepenuh hati, tapi rela hidup bersamanya karena sesuatu 28

Qasim Amin, 1970: 139-153 Poligami dalam islam merupakan praktik yang diperbolehkan. Islam memperbolehkan seorang pria beristri hingga empat orang isteri dengan syarat sang suami harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya Surat an-Nisa ayat 3. “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.� 29


16

alas an, sehingga ia punya posisi tersendiri dalam rumah tangga. Ia merasa pedih karena tempatnya yang masih tersisa telah runtuh dan tidak ada harapan baginya untuk menegakkan kembali kedudukan yang terhormat. Qasim Amin menginginkan adanya pembatasan yang ketat dalam poligami, dimana hanya dibolehkan pada hal-hal yang mendesak, seperti isteri yang sakit berkepanjangan sehingga tidak dapat melayani kebutuhan biologis suami, atau bila isteri mandul karena kebanyakan suami ingin punya keturunan. Tapi sekalipun demikian, Qasim Amin tidak senang bila seorang suami kawin lagi dengan perempuan lain karena bukan kesalahan isteri. Sepatutnya suami turut merasakan penderitaan dan kesedihan isterinya. Dalam masalah poligami, Qasim bisa digolongkan ke dalam kelompok yang paling menentang adanya poligami dengan alasan etika kemanusiaan. Poligami menurut Qasim adalah bentuk penghinaan bagi kaum perempuan. Sudah menjadi tabiat asli manusia, seorang perempuan tidak akan pernah rela jika suaminya membagi cinta kepada perempuan lain, demikian halnya sang suami, tidak akan rela jika ada lelaki lain yang ikut mendapatkan bagian cinta istrinya. 30 Sisi negatif yang disorot Qasim akibat dari poligami ini adalah permusuhan batin antara istri yang satu dengan yang lain, sehingga tidak jarang permusuhan antara mereka diwariskan kepada anak-anak mereka. Karena bisa jadi seorang ibu secara tidak sadar menyulut api permusuhan dan kedengkian antara anakanak dan keluarganya kepada keluarga dari istri yang lain. Seorang istri yang dimadu dan tidak rela, namun ia berusaha untuk memendam perasaannya akan mengakibatkan akumulasi kekecewaan di bawah alam sadar, dan sewaktu-waktu bisa meledak dan menyulut konflik besar. Persaingan yang terjadi antara mereka adalah persaingan yang tidak sportif, nilai-nilai persaudaraan dan etika kemanusiaan yang seharusnya dipupuk antara sesama manusia, karena poligami ini akan cenderung dikalahkan oleh api kedengkian dan permusuhan.

30

Iilahi Kurnial, Perkembangan Modern dalam Islam, hal 256.


17

Walaupun secara radikal Qasim menentang praktek poligami, namun ia masih memberikan “pengecualian”. enurutnya, poligami “diperbolehkan” untuk beberapa kasus, misalnya seorang istri tidak bisa memberikan keturunan kepada sang suami. Namun, menurut Qasim dalam kondisi seperti ini, suami harus bersabar, karena istrinya tiada bersalah dan berdosa, jika suami tetap bersikeras untuk menihak lagi, maka harus sepengetahuan istrinya, jika istri minta cerai, maka suami harus menceraikannya. Selain tujuan-tujuan di atas, poligami adalah bentuk dari pemuasan hawa nafsu dan tanda-tanda dari dekadensi moral. Hanya dua alasan itu yang dibenarkan Qasim Amin untuk berpoligami, selain itu merupakan hilah syar’iyah untuk memenuhi syahwat kebinatangan. Tentang ayat al-Quran yang membolehkan berpoligami, menurut Qasim Amin, mengandung kebolehan dan larangan. Dibolehkan apabila sanggup berlaku adil dan tidak berlaku aniaya. Dilarang berpoligami jika tidak sanggup berlaku adil. Kemudian mengenai thalak, Qasim Amin menuntut adanya pembatasan yang ketat sesuai dengan ketentuan agama yang hanya membolehkan thalak bila sudah tidak mungkin lagi hidup bersama antara suami-isteri. Ia mengecam kebiasaan menthalak isteri secara sewenang-wenang dari suami tanpa suatu alasan yang dibenarkan agama. Ia merasa prihatin akan banyaknya perceraian yang terjadi di Mesir., seperti pada tahun 1898 dimana dari 12.000 perkawinan terjadi 3.000 perceraian. Ia meminta agar perceraian diputuskan melalui proses pengadilan, tidak cukup dengan ucapan thalak dari suami yang kadangkala diucapkan tanpa pertimbangan. Bahkan ia ingin isteri juga mendapat hak cerai bila merasa dizalimi dan dikasari oleh suaminya. Emansipasi wanita yang dicanangkan Qasim Amin, bagi sebahagian pihak dianggap ide yang berbahaya, dapat melemahkan bangsa Mesir dan menyebarkan kemerosotan akhlak ditengah masyarakat. Tantangan bagi ide ini misalnya dating dari Tal’at Harb, seorang tokoh nasionalis Mesir, dan dari Mustafa Kamil pemimpin nasionalis Mesir. Qasim Amin dituduh sebagai agen imperialis Eropa yang ingin merusak persatuan nasional dengan alas an ia bukan orang Mesir asli.


18

Sekalipun demikian, ide emansipasi wanita terus berjalan karena dukungan dari Muhammad Rasyid Ridha31, murid Muhammad Abduh dan dari kalangan wanita terpelajar, serta dari sastrawan seperti penyair Syauqi Bek. 32 Ide ini disambut dengan gegap gempita karena sejalan dengan ajaran islam yang memuliakan wanita dan menyamakan kedudukannya dengan kaum pria.33 Pengaruh dari ide emansipasi wanita kelihatan dengan dicampakkannya cadar sejak tahun 1922, padahal sebelum itu wanita yang berjalan tanpa cadar diejek orang banyak. Kemudian lahirnya organisasi wanita Mesir, ‘’Jam’iyat al-Ittihajd al-Nisai al Misri’’ pada tahun 1923, dipimpin oleh Huda Syahrawi, dan dibukanya sekolah menengah untuk anak-anak wanita sejak tahun 1925, dan terus berkembang sampai ke tingkat perguruan tinggi Pada 1899 M, salah satu dari pengikutnya yang orang Mesir, Qasim Amin (1865-1908), menerbitkan sebuah buku kecil mengenai emansipasi perempuan. Sebagai seorang keturunan kurdi dan berpendidikan Eropa, Qasim Amin berhasil memperoleh kehormatan sebagai hakim dan penulis khusus mengenai masalahmasalah sosial, tetapi buku ini membuatnya sangat ternama, bahkan dengan nama yang buruk. Titik-tolaknya adalah persoalan yang sudah lazim dikenal, kemerosotan islam ditinjau dari perspektif Darwinisme. Komunitas Islam tengah mengalami kemerosotan terlalu untuk menghadapi tekanan dari segala sisi, an jika lemah, Islam tidak dapat bertahan hidup di sebuah dunia yang diatur oleh hukum-hukum seleksi alam. 34 Kemerosotan bukan disebabkan oleh lingkungan alam, karena telah ada zaman-zaman kemajuan peradaban di Negara-negara yang sama ini. Penyebab yang sebenarnya dari kemerosotan itu adalah lenyapnya kebajikan sosial. 31

Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha'uddin AlQalmuni Al-Husaini (dikenal sebagai Rasyid Ridha; 1865-1935) adalah seorang intelektual muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan-kelemahan masyarakat muslim saat itu, dibandingkan masyarakat kolonialis Barat, dan menyimpulkan bahwa kelemahan tersebut antara lain kecenderungan umat untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid). 32 Syauqi Bek, penyair Mesir mengungkapkan; "Ibu ibarat sebuah madrasah, apabila engkau persiapkan madrasah yang berkualitas, maka seolah engkau telah mempersiapkan sebuah bangsa unggulan. 33 Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, hal 227-229. 34 Amin, Tahrir Al-Mar’ah, h. 116


19

Kekuatan moral, dan penyebab dari hal itu adalah kebodohan, kebodohan tentang ilmu-ilmu yang sejati, yang dari ilmu itu sendiri dapat diturunkan hukum-hukum kebahagiaan manusia. Kebodohan ini berawal dari keluarga. Hubungan antara laki-laki dan perempuan, ibu dan anak, adalah dasar dari masyarakat, kebajikan-kebajikan yang ada dikeluarga akan menjadi kebajikan ditengah bangsa. Kegiatan kaum perempuan masyarakat adalah untuk membentuk moral bangsa.35Tetapi di Negara-negara Muslim, baik kaum lakilaki maupun perempuan tidak mendapatkan pendidikan yang tepat untuk membentuk kehidupan keluarga yang sejati,36 dan perempuan tidak memiliki kebebasan atau kedudukan yang penting supaya ia bisa memainkan peranannya. Amin menolak anggapan itu. Sebaliknya, ia menyatakan, syariah adalah hukum pertama untuk memberikan persamaan antara laki-laki dan perempuan (kecuali dalam hal poligami, dan terdapat alasan-alasan yang kuat untuk ketidaksamaan dalam hal ini)37. Inti dari masalah sosial dengan demikian adalah kedudukan perempuan, dan hal ini hanya bisa diperbaiki dengan pendidikan. Amin tidak mendorong perempuan harus mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki, karena dalam hal ini, sebagaimana dalam hal-hal lain, saran-sarannya sangat rendah hati dan agaknya ada rasa takut. Tetapi paling tidak kaum perempuan harus mendapatkan pendidikan dasar supaya mereka mampu mengelola rumah tangga mereka dengan benar dan turut ambil bagian dalam kegiatan di masyarakat. Pendidikan ini harus mencakup pelajaran membaca dan menulis, pengetahuan secukupnya dalam ilmu-ilmu alam dan moral, sejarah dan geografi, ilmu kesehatan dan fisiologi, serta pendidikan agama, olahraga, dan pelatihan cita rasa seni. 38 Pendidikan tidak semestinya diarahkan hanya pada manajemen rumah tangga yang benar, tetapi harus memiliki tujuan lain yang lebih penting, yaitu mempersiapkan kaum perempuan supaya mampu mencari nafkah mereka sendiri. Inilah satu-satunya jaminan yang nyata terhadap hak-hak perempuan. Kecuali mampu menafkahi diri sendiri, perempuan akan selalu bergantung pada 35

Amin,Al-Mar’ah Al-Jadidah, h.124 Tahrir, hh.116-131 37 Hourani, Albert, Pemikiran Liberal di Dunia Arab, hal 265. 38 Hourani, Albert, Pemikiran Liberal di Dunia Arab, hal 266. 36


20

belas kasih tirani laki-laki, apa pun hak yang diberikan oleh hukum kepada mereka, sehingga ia harus memiliki kekuatan untuk melindungi diri sendiri dengan sarana tidak langsung. Pendidikan akan mengakhiri tirani, dan dengan demikian, juga akan mengakhiri cadar dan pingitan terhadap perempuan. Namun Amin mendekati pokok pembicaraan ini dengan hatihati. Ia mengatakan bahwa ia tidak bermaksud untuk menghapuskan pingitan itu sendiri, karena dalam bentuk tertentu hal ini penting untuk memelihara kebajikan, tujuannya lebih untuk menegaskan kembali apa yang telah di tetapkan oleh syariah.39 Pertama-tama harus menilik apa yang sesungguhnya dikatakan oleh al-Quran dan syariah mengenai pokok bahasan ini. Amin berpendapat bahwa tidak terdapat larangan yang umum dan tegas mengenai kaum perempuan yang membuka wajah mereka. Ini adalah perkara yang diserahkan pada kenyamanan dan kebiasaan, dan jelas bahwa tidak nyaman bagi perempuan untuk memelihara hak-hak mereka dan menjalankan peran mereka di masyarakat dari balik cadar. Sebagai contoh, bagaimana mereka dapat membuat perjanjian dan melaksanakan urusan hukum? Perempuan yang memakai cadar tidak dengan sendirinya memelihara kebajikan, sebaliknya beberapa jenis cadar membangkitkan hasrat birahi. Juga tidak ada sama sekali dalam alQuran mengenai pingitan, kecuali bagi isteri-isteri Muhammad. Dengan kata lain, tidak terdapat ayat yang jelas mengenai masalah tersebut. Tak diragukan lagi bahwa pingitan itu berbahaya secara sosial, pingitan menghalangi perempuan untuk menjadi ‘’makhluk sempurna’’, karena seorang perempuan hanya sempurna ‘’jika ia mengatur dirinya sendiri dan menikmati kebebasan yang dijamin oleh syariah dan juga oleh alam, dan jika potensi-potensinya dikembangkan sampai tingkat tertinggi’’. Dengan demikian, pingitan tidak hanya berbahaya secara sosial, tetapi juga karena pada dasarnya buruk. Pingitan berasal dari kurangnya kepercayaan. Laki-laki tidak menghormati perempuan. Mereka mengurung perempuan karena mereka tidak memandang perempuan sebagai manusia yang utuh: ‘’laki-laki telah melucuti perempuan dari kualitas-kualitas manusiawinya dan membatasinya pada satu fungsi saja dimana laki-

39

Tahrir, hh.27 dst. & 83.


21

laki dapat menikmati tubuhnya. 40 Sikap merendahkan perempuan juga mendorong terjadinya praktik poligami. Tak seorang perempuan pun yang rela berbagi suami dengan perempuan lain, dan jika seorang laki-laki mengambil isteri kedua, itu bisa terjadi dengan mengabaikan keinginan dan perasaan istri pertama.41 Pada beberapa keadaan, poligami diperbolehkan. Tentu saja tidak bisa diingkari bahwa al-Quran secara khusus memperbolehkan poligami, tetapi meskipun demikian juga member peringatan akan bahayanya.42 Ayat al-Quran mengatakan, ‘’kawinilah perempuan-perempuan yang baik menurutmu, dua, tiga, atau empat; tetapi jika engkau takut tak akan mampu berbuat adil, maka satu saja,’’. Bila mana perempuan bebas, warga Negara pun menjadi bebas, dan argument-argumen yang digunakan untuk melawan kebebasan perempuan sama persis dengan yang digunakan untuk melawan kebebasan mana pun. 43 Lihatlah negara-negara Timur; kita akan mendapati bahwa perempuan menjadi budak laki-laki dan laki-laki menjadi budak penguasa. Laki-laki adalah penindas di rumah tangganya, menindas lantas cepat-cepat meninggalkannya. Kemudian, lihatlah negara-negara Eropa; pemerintahan mereka didasarkan pada kebebasan dan penghormatan terhadap hak-hak pribadi, dan kedudukan kaum perempuan terangkat ketingkat yang tinggi dengan penghormatan terhadap hak-hak pribadi, dan kedudukan kaum wanita terangkat ke tingkat yang tinggi dengan penghormatan serta kebebasan berpikir dan bertindak. Pada buku kedua ini pmikirannya dikemukakan secara terbuka, berbeda dengan pada buku pertama yang dikemukakan secara tidak langsung, dan tidaklah sulit untuk memahami mengapa kedua buku itu diterima dengan sikap permusuhan yang sengit. Apa yang hendak dikatakan oleh Qasim Amin sesungguhnya adalah bahwa agama tdak dengan sendirinya menciptakan negara, masyarakat, atau peradaban. Pertumbuhan peradaban harus dijelaskan dengan banyak faktor di mana agama hanya merupakan salah satu faktor. 40

Al-Mar’ah, h.47 Tahrir, h. 152 42 Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, hal 229. 43 Hourani, Albert, Pemikiran Liberal di Dunia Arab, hal 270. 41


22

Wanita-wanita muslim semestinya mengambil bagian dalam kehidupan komunal islam, sebagaimana mereka lakukakn pada zaman keemasan islam. Keimanan mereka sama besarnya dengan kaum lelaki, demikian pula kewajiban-kewajiban keagamaan mereka, serta tugas-tugas sosial mereka sejauh hal itu bertolak dari prinsip-prinsip agama. Oleh karena itu, ada suatu kesamaan hak, tetapi ada pula suatu ketidaksamaan factual, Karena laki-laki lebih kuat, lebih berakal, lebih tangkas untuk belajar dan hampir pada semua bentuk aktifitas. Misalnya, al-Quran menyebutkan: ‘’Mereka mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban secara patut, akan tetapi kaum pria mempunyai satu tingkat lebih tinggi dari kaum perempuan’’44. Jadi, mereka memiliki suatu keunggulan dari pada wanita. Namun, sebagaimana halnya pemerintah negara, ini pun seharusnya tidak diterapkan secara despotic, tetapi dengan musyawarah. Dalam hal ini, mereka seharusnya belajar dari teladan Nabi, yang memperlakukan isteri-isterinya sebagai seorang lelaki yang sempurna. Poligaminya bersifat adil lantaran didasarkan pada kepentingan komunitas, sesungguhnya poligami senantiasa dibenarkan selama tidak berlawanan dengan prinsip keadilan dan ada manfaat yang dapat ditarik darinya. Pembatasan tidak selamanya bertentangan dengan keadilan. Ia melindungi wanita dan memberikan Pembatasan tidak selamanya bertentangan dengan keadilan. Ia melindungi wanita dan memberikan mereka peluang untuk membesarkan anak-anak. Prinsip hukum islam, sejauh berkaitan dengan wanita, adalah: Bahwa setiap wanita semestinya memiliki seorang pengawal resmi,untuk memberikan kepadanya semua yang ia butuhkan sebagai seorang gadis terhormat, seorang isteri yang baik, seorang ibu yang teliti, dan seorang nenek yang dihormati, ini tidak berarti bahwa mereka yang terhalang untuk menjadi isteri atau ibu akan terhalang pula untuk mendapat perlindungan dan kehormatan.45 Salah satu masalah yang ditekankan dalam kebangkitan kembali Islam ialah bahwa wanita muslim hendaknya memakai pakaian Barat di muka umum, namun tetap menurut aturan-aturan islam mengenai ‘’gaya berpakaian yang legal’’. Di Iran, hal ini 44 45

Firman Allah (Al-Quran, al-Baqarah [2]: 228): Ridha, Nida ila Al Al-Lathif, h. 121.


23

diinterpretasikan dengan cadar, sedangkan di Mesir, diartikan dengan pakaian dengan tangan dan muka saja yang terbuka, namun beberapa orang yang antusias terhadap kebangkitan mereka mengenakan penutup wajah dan sarung tangan. Selain masalah kesederhanaan dalam berpakaian wanita, terdapat pula masalah mengenai hak-hak umum kaum wanita. Orang-orang Islam yang paling konservatif, sekalipun mengakui bahwa dalam Islam kaum wanita dan pria itu sama., tidak rela kalau kaum wanita terlibat dalam urusan selain kewajiban-kewajiban domestik. Deklarasi yang di keluarkan Dewan Islam Eropa tidak menyebutkan hak-hak kaum wanita. Yang ada hanya hak-hak isteri dan hak-hak ini termasuk hak yang didukung oleh suami. Jadi, dalam pandangan dunia tradisional, seperti lazim dipahami, kaum wanita hanya terbatas pada domestisitas. Keberatan terhadap bentuk-bentuk pakaian wanita ala Barat dan posisi terhadap pergaulan bebas ada pria dan wanita di tempat bekerja dan tempat lainnya barangkali memang tak mengherankan bila kita memperhatikan pergolakan dalam masyarakat islam yang disebabkan adanya dampak dari Barat.46 Bagi orang-orang yang tak pernah melihat kaum wanita tak berjilbab, kecuali di dalam keluarga mereka sendiri penampilan rok mini di jalan-jalan raya mungkin akan menjadi pengalaman traumatic, bahkan membahayakan. Telah dikemukakan di beberapa bagian bahwa dalam pandangan pria Muslim tradisional, secara seksual kaum wanita adalah lebih aktif dan bahwa segregasi dan pemakaian jilbab sangat diperlukan untuk melindungi timbulnya niat jahat kaum pria. Di samping itu, peralihan dari bentuk-bentuk kehidupan sosial warga kota Islam tradisional ke pola kehidupan Barat pertengahan abad ke-20 pada mulanya mungkin saja sangat menggelisahkan kaum pria dan juga wanita. Guncangan itu lebih sekadar gangguan psikologis. Seorang penulis Mesir berpandangan berikut: ‘’Muhammad Al-Bahi sangat mengkhawatirkan adanya akibat-akibat dari kemandirian kaum wanita secara ekonomis. Mereka akan melepaskan ikatan keluarga dan mereka akan memutuskan sendiri siapa mereka itu atau apakah mereka akan 46

Lihat Valerie J. Hoffman-Ladd, ‘’Polemics on the Modesty and Segregation of women in Contemporary Egypt’’. dalam International Journal of Middle East Studies, xix (1987), h 23-50.


24

menikah atau tidak, di mana mereka akan tinggal, dan apakah mereka akan memiliki anak atau tidak. Al-Bahi menduga bahwa bila kaum pria tidak diwajibkan mengurusi kaum wanita, kaum wanita akan kehilangan pandangannya mengenai segala nilai kemanusiaan dan keluarga akan mengalami disintegrasi.’’ Beberapa penulis malah menuduh feminism e dunia sebagai bagian dari rencana maker imperialis untuk menghancurkan masyarakat Islam. 47 Dan hal ini mengakibatkan mereka sangat mementingkan sentralitas kaum wanita dalam melestarikan karakter moral bangsa. Sulit bagi pengamat luar untuk tak berkesimpulan bahwa antusiasme terhadap pakaian Islam dan segregasi kaum wanita banyak disebabkan oleh kekhawatiran ulama dan kaum pria lainnya jangan-jangan hak-hak istimewa kaum pria tradisional yang mereka miliki akan hilang. Ada pula kaum wanita Muslim yang menyetujui sepenuhnya, tetapi ini bukan alas an penting bagi mengapa kaum wanita mengenakan pakaian islami. Di berbagai kota, ternyata kaum wanita mengenakan pakaian Barat diganggu dijalan-jalan maka sebagian wanita mengenakan pakaian Islami untuk mendapatkan perlindungan, dan sebagian wanita Muslim mungkin merasa bahwa mereka tidak bersedia untuk mengenakan pakaian terbuka seperti yang menjadi cirri khas masyarakat Barat. Penting ditegaskan bahwa di masa silam masalah cocok tidaknya pakaian bagi kaum wanita itu terdapat banyak variasi. Ada jutaan wanita petani Muslim yang bekerja di lading-ladang dan tak pernah mengenakan penutup wajah. Di Yerusalem pada tahun 1940an, kaum wanita Muslim mengenakan pakaian serbahitam dengan penutup wajah hitam pula, sedangkan kaum wanita di sekitar Hebron mengenakan pakaian biru dan di kepalanya memakai selendang biru panjang sebagai pengganti penutup muka dari kain kasa yang berbunga-bunga yang membuat mereka kelihatan seperti skeleton. Pada masa itu, kebanyakan kaum wanita kelas menengah di Kairo sudah melepaskan kain penutup itu, namun kaum wanita miskin masih tetap mengenakan semacam penutup wajahdengan mata terbuka. Orang barat banyak yang akan mengakui bahwa dalam gaya pakaian yang dibolehkan untuk kaum wanita tidak 47

Montogomery Watt, William, Fundamentalis dan Modernitas dalam Islam, hal 145.


25

dikehendaki adanya perubahan-perubahan pesat. Dengan demikian, di negara-negara Islam diadakan batasan-batasan tertentu yang berguna sebagai langkah sementara. Akan tetapi, dalam jangka lama, persoalan mengenai cara mempertahankan kesederhanaan pakaian wanita, di bicarakan lebih lanjut. Namun demikian, masalah yang lebih serius adalah apakah kaum wanita mesti dibatasi pada domestisitas saja dan disegregasi atau apakah mereka boleh bekerja diluar rumah dan bergaul bersama kaum pria. 48 Kembali pada disegregasi, tak peduli betapa banyak kaum konservatif akan membantahnya, tampaknya tidak mungkin. Di Mesi, Syiria, Turki, dan negara-negara lainnya, banyak kaum wanita terdidik yang menduduki posisi-posisi penting di universitas, dalam kesusastraan, dunia music dan hiburan, dan bidang-bidang lainnya. Di Iran, sekalipun segera telah revolusi ada batasan-batasan bagi pekerjaan kaum wanita, sebagian negarawan kini mengatakan bahwa tenaga wanita akan dibutuhkan untuk membantu membangun negara setelah perang usai. Jika kaum konservatif di negara-negara seperti itu tidak lebih kuat daripada keadaan sekarang, tidak mungkin ada langkah-langkah retrogresif yang ekstensif. 49 Dalam satu hal, kontribusi kaum wanita bagi berfungsinya negara-negara ini sebagai negara-negara modern kini memang sedemikian besar sehingga kedudukan kaum wanita akan sangat sulit digantikan. Namun demikian, di negara-negara lainny, posisi kaum wanita masih lebih terbelakang. Di Saudi Arabia, akihirnya satu-satunya bidang yng berada diluar rumah dan terbuka bagi kaum wanita adalah bidang pendidikan untuk kaum wanita. Mereka pun bahkan tidak dibolehkan mengemudi mobil. Diduga bahwa kekayaan minyak Saudi Arabia membuat negara ini relative murah untuk mengurung kaum wanita di rumah, namun diragukan apakah tingkat segregasi sekarang dapat dipertahankan dalam jangka waktu tak terbatas. Kaum wanita Saudi yang kaya hampir tidak dapat menghindari belajar tentang kehidupan di Barat dari film-film dan televise serta kemudian mereka ingin andil didalamnya, khususnya bila mereka pun sudah bertamasya di Barat, seperti telah dilakukan

48

http://wordpress.com/2012/10/02/pemikiran-liberal/ Diakses tanggal 6 Desember 2012. 49 Montogomery Watt, William, Fundamentalis dan Modernitas dalam Islam, hal 146.


26

banyak kaum wanita, dan bila mereka mengetahui prestasi-prestasi kaum wanita negara-negara islam lainnya. Qasim Amin adalah ahli hukum yang belajar di Perancis dan mempunyai hubungan persahabatan yng erat dengan Muhammad Abduh. 50 Menurut guru wanita dalam Islam sebenarnya mempunyai kedudukan yang tinggi, tetapi adat istiadat yang berasal dari luar islam mengubah hal itu sehingga wanita Islam akhirnya mempinyai kedudukan rendah dalam masyarakat. Menurut pendapatnya umat Islam mundur karena kaum wanita, yang di Mesir merupakan setengah dari penduduk, tidak pernah memperoleh pendidikan sekolah. Pendidikan wanita perlu bukan hanya agar mereka dapat mengatur rumah tangga dengan baik, tetapi lebih dari itu untuk dapat memberikan didikan dasar bagi anak-anak. Ia menentang pilihan sepihak, yaitu dari pihak pria dalam soal perkawinan. Menurut pendapatnya, wanita harus di beri hak yang sama dengan pria dalam memilih jodoh. Oleh karena itu ia menuntut supaya isteri diberi hak cerai. Sungguhpun poligami disebut dalam al-Quran, ia berpendapat bahwa islam pada hakikatnya menganjurkan monogami. Ide Qasim Amin yang banyak menimbulkan reaksi di zamannya ialah pendapat bahwa penutupan wajah bukanlah ajaran Islam. 51 Tidak terdapat di dalam al-Quran dan Hadis ajaran yang mengatakan bahwa wajah wanita merupakan aurat dan oleh Karena itu harus ditutup. Penutupan wajah adalah kebiasaan yang kemudian dianggap merupakan ajaran Islam. Demikian juga soal pemisahahn wanita didalam pergaulan, tidak terdapat didalam al-Quran dan Hadis. Penutupan wajah dan pemisahahan wanita membawa kepada kedudukan rendah dan menghambat kebebasan dan pengembangan daya-daya mereka untuk mencapai kesempurnaan. Dan berbagai pihak berdatangan kritik dan protes terhadap ide-ide yang dikemukakan Qasim Amin itu sehingga ia melihat perlu memberi jawaban. Kebebasan wanita tidak dapat dipisahkan dari kebebasan anggota masyarakat lainnya. Masyarakat terus 50

Harun Nasution, pembaharuan dalam islam sejarah pemikiran modern didunia Islam, hal 70. 51 Harun Nasution, pembaharuan dalam islam sejarah pemikiran modern didunia Islam, hal 71.


27

berkembang dan kedudukan serta hak-hak wanita52 harus turut berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat, wanita telah memperoleh kebebasan dan penghargaan yang tinggi. Barat memang telah mencapai peradaban yng tinggi, dan ini didasarkan atas kemajuan ilmu pengetahuan. Peradaban yang didirikan umat islam di zaman klasik tidak didasarkan atas ilmu pengetahuan yang modern yang belum lahir di waktu itu. Peradaban Islam yang lampau itu tidak dapat lagi dipakai sebagai model. Untuk kemajuan, umat islam seharusnya jangan lagi menoleh kebelakang, tetapi ke depan dengan menempuh jalan yang telah ditempuh Barat yaitu ilmu pengetahuan modern.53 Disini terdapat perbedaan antara guru dan murid. Guru masih terikat pada masa lampau dan memandang peradaban Islam di zaman klasik sebagai contoh yang harus ditiru. Murid telah mulai melepaskan diri dari ikatan masa lampau dan lebih banyak menoleh ke masa depan. Di sanalah terletak peradaban Islam baru yang dasarnya berbeda dengan dasar peradaban Islam klasik. Rasyid Rida tidak seliberal guru, Qasim Amin sebaliknya melampaui guru dalam keliberalan. 4. Persoalan dan Kegelisahan Akademik Perempuan adalah merupakan bagian dari perkembangan peradaban. Akan tetapi, kaum perempuan selalu diterbelakangkan dalam bidang apapun. Seperti halnya, dengan kekuatan ke pendetaan,54 hak istimewa para bangsawan dan konstitusi para monarkhi (raja) dalam penguasaan. Hal ini dapat memberikan implikasi bahwa perempuan tidak sederajat dengan laki-laki. Yang 52

Amin menyalahkan Islam tradisional untuk penindasan perempuan Mesir yang mengatakan bahwa Quran tidak mengajarkan penaklukan, tetapi hakhak perempuan lebih didukung itu. Keyakinannya sering didukung oleh ayat-ayat Alquran. 53 Harun Nasution, pembaharuan dalam islam sejarah pemikiran modern didunia Islam, hal 71-72. 54 Hak perempuan adalah hak dan hak diklaim untuk perempuan dan anak perempuan dari banyak masyarakat di seluruh dunia. Di beberapa tempat hak-hak tersebut dilembagakan atau didukung oleh hukum, adat setempat, dan perilaku, sementara di lain mereka dapat diabaikan atau ditekan. Mereka berbeda dari pengertian yang lebih luas dari hak asasi manusia melalui klaim bias sejarah dan tradisional yang melekat terhadap pelaksanaan hak-hak perempuan dan anak perempuan mendukung laki-laki dan anak laki-laki.


28

mana diasumsikan bahwa perempuan memiliki defisiensi mental, status rendah dalam agama, dan hanya diperankan sebagai penggoda dan pusat hawa nafsu syetan. Secara ringkasnya, mereka adalah orang “panjang rambutnya, tapi pendek pikirannya� yang diciptakan seperti tanpa alasan lain hanyalah untuk melayani laki-laki saja. Kaum perempuan telah hidup dengan bebas pada periode-periode pertama dalam sejarah, saat huumanitas masih dalam masa perkembangannya. Dengan adanya formasi institusi keluarga, perempuan jatuh pada perbudakan yang nyata. Ketika humanitas memulai perjalanannya menuju jalan peradaban, perempuan mulai mendapatkan haknya. Walaupun begitu, masih menjadi subjek tirani laki-laki, sebab laki-laki masih menghendaki perempuan, hanya bias menikmati haknya jika laki-laki member ijin padanya untuk mendapatkan hak tersebut.55 Secara ringkas, persoalan-persoalan dan kegelisahan yang dilakukan oleh Qasim Amin dapat terfokuskan dalam tiga hal, yaitu : Kebebasan perempuan, Responsibilitas perempuan terhadap dirinya sendiri, Responsibilitas terhadap keluarganya 5. Metodologi penelitian Qasim Amin dalam melakukan penelitiannya yaitu dengan menggunakan berbagai pendekatan, diantaranya melalui analisa social, melaui kritik teks yaitu dengan cara reinterpretasi teks dan melalui pemberdayan pendidikan. 56 1) Dari Analisa Sosial Menuju Pembebasan dan Pemberdayaan Perempuan Dalam menyusun tesa-tesa pemikirannya hingga sampai pada suatu hipotesa yang siap disuguhkan, Qasim Amin lebih cenderung menyimpulkan suatu permasalahan menggunakan pirantipiranti analisa sosial dan data empirik dari interaksinya dengan masyarakat luas yang akhirnya teori dan hipotesanya disajikannya diatas meja kehakiman. Sebagaimana kutipan yang dilakukan Qasim 55

perempuan Mesir saat ini (masa Qasim Amin) berada dalam tahap ketiga, yaitu pembangunan yang berhubungan dengan sejarah. Perempuan mesir dalam pandangan Syari`ah dianggap sebagai free person dengan hak resposibilitas yang spesifik. Meskipun begitu, ia bukanlah perempuan yang bebas di mata kepala keluarganya yang bersikukuh mencabut legalitas haknya. Situasi ini merupakan konsekuensi despotisme politik (semena-mena) pada masa itu. 56 Hourani, Albert, Pemikiran Liberal di Dunia Arab, hal 264-266


29

Amin dari Jonh Lynchman seorang hakim di Amerika seperti yang diberitakan tahun 1882 disebuah surat kabar Eropa : Sebelum perempuan berpartisipasi dalam publik, jarang ditemukan beberapa pertemuan dalam forum tanpa revolver yang tersembunyi. Yang demikian ini bilamana ada perselisihan sepele terjadi, terkadang terselesaikan dengan kematian atau terlukanya orang-orang yang hadir. Dan lagi anggota juri (hakim) dalam banyak kasus memberikan keputusan tidak bersalah atas orang yang telah melakukan kejahatan. Partisipasi perempuan dalam kewajiban seorang juri (hakim) memberikan hukuman terhadap kesalahan yang dilakukan seseorang. Situasipun berubah berkenaan dengan adanya hukuman bagi orang yang bermabuk-mabukan, berjudi yang melanggar peraturan lain. Salah satu konsekuensi kehadiran perempuan pada pertemuan ini adalah tentang permintaan yang dominant, kepantasan dan martabat dalam kerja. Partisipasi perempuan dalam politik bukan menyebabkan mereka mengabaikan tanggungjawab rumah tangga mereka. Realitanya saya tidak menyadari ada salah seorang suami yang mengeluhkan keasyikan isterinya dengan permasalahan-permasalah publik dari pada urusan rumah tangganya. Sayapun menyaksikan beberapa pertentangan publik antara suami dan isteri yang disebakan perbedaan politik, meskipun saya tahu ada beberapa keluarga dimana suami mendukung satu partai politik saat isterinya mendukungnya pula. Disaat Qasim sebagai hakim dan tokoh masyarakat pada waktu itu nampaknya lebih memberikan kesempatan baginya untuk mengadakan pembaruan di bidang social kemasyarakatan. Qasim juga merupakan salah seorang yang memberikan kontribusi besar terhadap teori-teori sosial. Namun, syarat utama suatu teori sosial, adalah, teori tersebut harus sesuai dengan kemaslahatan umat manusia. Artinya, teori-teori sosial tersebut harus fleksibel, elastis, dan nisbi.Dengan kata lain, teori sosial-sosial tersebut termasuk di dalamnya norma-norma agama tidak boleh absolut, statis dan “otoriter�.


30

D. Kesimpulan Secara tegas Islam mengatur hubungan seksual, masalah tutup kepala, kedudukan wanita sebagai seorang isteri, tanggungjawab wanita mendidik anak dan mengatur urusan-ursan rumah tangga. Suami sebagai pemimpin rumah tangga, pencari nafkah, mempunyai hak mencerai dan berpoligami. Ketentuanketentuan ini diterima tanpa banyak dipersoalkan sebagai asas masyarakat Islam oleh Nabi kita, para sahabatnya, para iman, tradisionalis, ahli hukum, ahli ilmu kalam dan ulama’ dari semua madzhab dalam islam lebih dari 13 abad dengan suara bulat. Ketika penjajahan eropa berakhir dan memberikan kemerdekaan dunia Islam, tak seorang Islam memberontak terhadap nilai-nilai yang telah dipegang secara universal, seperti kedudukan wanita dalam Islam sebagaimana diajarkan oleh Kitab Suci Al-Quran dan Sunnah Nabi.


31

DAFTAR PUSTAKA Hourani, Albert, Pemikiran Liberal di Dunia Arab. Bandung: PT. Mizan Pustaka: 2004. Jameelah Maryam, Islam dan Modernisme. Surabaya: Usaha Nasional: 1996. IIahi Kurnial, Perkembangan Modern dalam Islam. Pekanbaru: yayasan pusaka Riau. Nasution Harun, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: PT Bulan Bintang: 2003. Montogomery Watt, William, Fundamentalis dan Modernitas dalam Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia: 2003.

Ratna