Page 1

Sastra

DIARI (180˚ KEBALIKAN)

10

By: Devi Malika Azzahra

Aku melirik jam ditangan kananku untuk kesekian kalinya sejak 20 menit yang lalu dengan penuh gelisah dan wajah kesal bukan main. Seharusnya dia sudah datang 20 menit yang lalu, seharusnya kami sudah memulai pembicaraan itu bahkan mungkin sudah hampir menemukan solusinya, tapi hingga menit ke 20 48 detik dari waktu yang kami sepakati dia belum juga menampakan wujudnya. “Menyebalkan!” dengusku menahan kegelisahan. \Aku mulai tertunduk lesu, mengingat hal ini sudah sering terjadi padaku, mereka selalu memperlakukanku seperti ini, seolah menganggapku tak berarti, seenak mereka membuat janji namun pada akhirnya membiarkanku menunggu, meremehkanku. Aku, mahasiswi psikologi semester 3, tak terlalu pintar, 3 semester ini kulewati dengan IP seadanya, tak lebih dari 2,3, memang kurang memuaskan, sangat jauh, tapi mau apa lagi? Toh sudah terjalani dan itu yang ku dapat. Aku sudah mencoba terus memahami apa yang ku pelajari, aku sudah mencoba menghafal semua teori yang dosen berikan. Tapi pada kenyataannya aku hanya mengerti apa yang ku hafal, aku tak bisa mengaplikasikannya dikehidupan nyata. Aku suka menulis diari, tapi bukan berarti aku pandai menulis, merangkai kata-kata. Aku suka mengkhayal, sayang khayalanku sering tak selesai, jadi sulit untuk menuangkan menjadi sebuah buku. Dengan jarak kos yang hanya sekitar 3,5 kilo meter dari kampus, aku menikmati setiap hari yang membosankan, melewati jalan yang sama, rumah-rumah yang sama, pemandangan yang sama, suasana yang sama, setiap hari. Sampai di kampus, kuliah di ruangan yang sama, tempat duduk yang sama, teman yang sama, cerita tak bermutu, menertawakan cerita-cerita konyol yang sebenarnya tidak terlalu konyol. Kecuali hari dan tanggal, selebihnya sama. Untuk mahasiswa introvert seperti aku, mungkin salah mengambil jurusan psikologi, aku tak bisa berinteraksi dengan orang banyak, tapi seandainya di fakultas eksak, hanya akan menambah beban, karena aku buta samasekali dengan fisika dan matematika, kuliah di kedokteran hanya akan menambah gila dengan hafalan yang menggunung. Kuliah di filsafat, aku terkadang justru tak terlalu memusingkan masalah hidup, para filsuf itu hanya manusia-manusia kurang kerjaan. Masuk institut seni, aku tak pandai berakting dan berekspresi, hanya membuatku semakin mender. Tak kuliah juga bukan piihan yang baik, justru malah menumbulkan masalah. Tes SNMPTN kebetulan aku lulus di Psikologi, kata orang-orang jurusan ini keren, punya prospek bagus, ya sudah, fikirku. Hidup yang datar memang membosankan, tapi terkadang aku juga berfikir banyak orang yeng melewati hidupnya dengan tragedi dan nasib yang silih berganti dan menyengsarakan, mereka berlomba-lomba mencari ketenangan. Namun aku tak perduli dengan semua itu, apa yang mereka alami. Manusia memang selalu merasa tidak puas. Dan bagiku, untuk menyadari kepuasan dan rasa syukur itu sulit, aku masih muda, imanku belum sekuat baja. Dengan segalasesuatu yang kumiliki, aku bukanlah apa-apa, berparas biasa, hanya tampang standar wanita Indonesia, kulit sawo matang, hidung pesek, tinggi 153 cm. Aku tak memiliki sahabat, hanya beberapa teman kuliah, aku bukan mahasisa populer dikampus, seandainya aku menghilangpun tak akan ada yang menyadarinya, tak akan ada yang merasa kehilangan, tak akan ada yan merasa membutuhkanku, ada ataupun tidak ada aku di kelas, sama saja. Aku bukan koti atau mahasiswa yang rajin bertanya pada dosen saat perkuliahan berlangsung, bisa mendengarkan dengan tekun dan mengerti apa yang dijelaskan, bagiku sudah amat membanggakan, selebihnya kegiatan diluar kampus, aku tak punya. Namun... Semua mimpi buruk berkepanjangan itu akhirnya berlalu, saat aku mulai mengenalnya, wanita berhati lembut dengan senyum teduh. Jilbab dan kerudung lebar yang selalu melindungi kehormatannya. Mempekenalkanku pada Islam, seolah menjadi energi luar biasa untuk merubah segalanya, mengajarkanku tentang orientasi hidup. Aku terus memperbaiki sikapku, pakaianku, cara berfikirku, dan mimpi-mipiku yang selama ini terpenjara dalam pragmatisme kehidupan, yang entah kusadari atau tidak. ooOoo “Waw... 180o kebalikan,” gumamku, “Subhanallah... saat ini bahkan umi sudah menerbitkan 36 buku dengan 7 buku best seller. Aku harus bisa seperti ummi, harus!” tekanku penuh keyakinan dengan kepalan tangan. “Zaara...” “Ja, mam...” “Kom op, we zijn bijna te laat...” seru umi dengan suara terkendali. Aku segera menutup Word Dokumen dan men Shut Down laptop dihadapanku, sebenarnya masih banyak catatan-catatan umi yang masih belum ku baca, tapi aku harus segera beranjak dari dudukku dan segera menganakan baju musim dingin lengkap dengan kaos tangan tebal, iya, di Wageningen sedang musim salju, dan ini musim dingin ke 2 sejak kami pindah ke Belanda untuk S3 umi. Hari ini aku harus menemani umi mengisi halqoh...[TAMAT]

BUKAMATA

3

INDONESIA GAWAT DARURAT! Muhammad Rubiyannor (Aktivis Dakwah Kampus Unlam Banjarbaru) Berbicara bangsa Indonesia pada saat ini, tentunya kita sepakat bahwa bangsa ini sudah berada dalam keadaan sakit keras yang harus diberikan pertolongan agar tidak menimbulkan semakin menyebarnya penyakit yang telah lama bersarang dalam tubuh bangsa ini. Dilihat dari permasalahan dan penyakitnya bangsa ini mengidap penyakit yang sangat kompleks. Banyak cara yang sudah dilakukan untuk menyembuhkan bangsa ini, namun kenyataanya belum ada obat bahkan para ahli yang dapat menyembuhkannya, apa sebenarnya yang terjadi pada Negara ini, apa yang sedang dialami dan apa yang sebenarnya penyakit yang diidapnya? Apakah bisa disembuhkan, atau Negara ini bersiap untuk menemui ajalnya dan berpasrah diri? Problematika bangsa ini tersebar menyeluruh keberbagai aspek dan saling terkait antara satu dengan lainnya. Problematika yang sangat merusak sendi-sendi bangsa adalah permasalahan ekonomi yang kian hari kian pelik. Hal ini disebabkan kebijakan ekonomi yang semakin menyengsarakan rakyat, yang fenomenal tidak akan pudar dari ingatan kita adalah naiknya harga BBM yang juga mengakibatkan naiknya segala kebutuhan rakyat. Lalu diberikanlah solusi berupa BLSM yang bersifat sementara, padahal kenaikan BBM tidak bersifat sementara, dan dampaknya juga tidak sementara. Kemudian sebuah forum, FITRA mengungkapkan utang Indonesia berdasarkan data Kementrian Keuangan per bulan Mei 2013 sudah mencapai Rp. 2.036 triliun. Jadi jika penduduk Indonesia saat ini mencapai 250 juta jiwa, maka setiap satu orang yang hidup di Indonesia, bahkan bayi yang baru lahir pun akan menanggung utang kira-kira sebanyak 8 juta rupiah. Apa yang sebenarnya terjadi pada Negara ini, tidak bisa kah melunasi utang luar negeri tersebut? Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa, tanah yang subur terhampar luas dari Sabang sampai Merauke, lautan dengan sumberdaya lautnya yang melimpah, sumber daya energinya yang sungguh luar biasa, di laut ada pertambangan minyak lepas pantai, di darat kaya dengan batubara yang ada di Sumatera dan Kalimantan, serta kandungan gas alam yang melimpah, di udara sinar matahari yang hampir sepanjang tahun menyinari yang dapat dikonversi menjadi energi. Kita mempunyai tambang emas dan tembaga di Papua, dengan kualitas terbaik di dunia, hutan tropis dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, lalu apa yang menjadi alasan kita tidak bisa membayar utang luar negeri tersebut? Salah satu alasan utama mengapa kita tidak bisa membayar utang tersebut adalah, kebanyakan SDA yang kita miliki telah dikuasai oleh pihak asing. Permasalahan yang kedua, jika kita mempunyai uang untuk membayar utang dan menyejahterakan rakyat, uang itu malah masuk kepada kantongkantong orang yang tidak bertanggung jawab. Jika suatu pemerintahan dikatakan baik maka seharusnya indikasiindikasi negatif seperti korupsi harus lebih berkurang, atau bahkan tidak ada sama sekali, namun kenyataannya berbeda, mungkin tidak terhitung lagi berapa uang rakyat yang dipakai oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Jika dijelaskan panjang lebar tentang permasalahan serta problematika Negara ini mungkin tidak cukup, terlalu banyak permasalahan yang terjadi, mungkin tidak akan selesai, mengapa? karena ketika satu permasalahan selesai, maka akan datang lagi permasalahan yang menimpa negara ini. Tentu setiap masalah pasti ada solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahan yang terjadi. Ternyata akar permasalahan yang terjadi pada Negara ini adalah sebuah sistem yang mengakar dan sangat menancap, sebuah inang penyakit yang jika tidak dibasmi maka akan terus menyebarkan penyakit keseluruh tubuh. Permasalahan yang terjadi adalah Indonesia masih menerapkan sistem Demokrasi, sistem yang gagal memecahkan dan mencari solusi untuk problematika permasalahan Negara ini, Sistem yang membedakan dan memisahkan antara perkara agama dengan perkara lainnya (sekularisme), sistem yang menganut sistem ekonominya hanya membuat sebagian orang saja yang kaya (kapitalisme). Solusi yang tepat saat ini adalah, tinggalkan sistem demokrasi, dan kembali terapkan sistem syariat islam dengan khilafah sebagai pelindungnya. Sistem ini akan mampu memecahkan segala persoalan Bangsa dan Negara ini, akan kembali mensejahterakan yang tidak hanya umat Islam tapi umat agama lainnya. Ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-A’raf:98 “Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” Sekarang pilihan ada ditangan kita, apakah kita akan tetap kokoh pada sistem demokrasi yang menjadi akar dari permasalahan yang terjadi di Negara ini, atau kita menggantinya dengan sistem berdasar wahyu illahi. Masih ada kesempatan untuk merubahnya menjadi lebih baik.[]

Hal3 10  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you