Page 28

LAMPUNG RAYA RABU, 2 SEPTEMBER 2009

29

Lambar-Lampura-Waykanan-tuba

JEMBATAN WAYSIDO

Aleg Lambar Gajian Perdana Laporan Wartawan RNN Editor: Adi Pranoto

FOTO YUSUF A.S.

BUPATI Tulangbawang Dr. Hi. Abdurachman Sarbini kemarin meninjau jembatan Waysido yang hampir selesai dibangun dari Anggaran 2009.

KASUS CURANMOR

Montir Motor Ditangkap POLSEK Abung Timur, Lampung Utara (Lampura), mengamankan seorang pelaku pencurian motor di Kecamatan Abung Surakarta. Sahril (30), warga Desa Dayamurni, Kecamatan Tulangbawang Udik, Tuba, ini ditangkap polisi saat berada di rumahnya sekitar setengah jam usai melakukan pencurian. Pelaku diamankan pada Senin (31/8) sekitar pukul 18.00 karena bersama rekannya yang kini buron, telah mencuri motor Suzuki Spin BE 5494 SK milik Sahrudin (22), warga Desa Bandarsakti, Kecamatan Abung, Surakarta, Lampura, yang saat itu sedang diparkirkan di samping rumah sekitar pukul 17.30. Kini pelaku berikut barang bukti diamankan di Mapolsek Abung Timur guna pemeriksaan lebih lanjut. Kapolsek Abung Timur AKP Dalham mewakili Kapolres Lampura AKBP Budi Wibowo ketika ditemui kemarin (1/9) membenarkan penangkapan tersebut. Dia mengatakan, penangkapan dilakukan setelah polisi mendapatkan laporan dari korban. Selanjutnya polisi bersama beberapa warga melakukan pengejaran hingga sampai kerumah pelaku. ’’Setelah mendapatkan laporan korban, kami langsung melakukan pengejaran, dan akhirnya pelaku berhasil ditangkap di rumahnya,” kata Dalham. Dia juga menambahkan, dalam rangka memberantas aksi 3 C (curas,curat, dan curanmor) anggota selalu melakukan patroli ke daerah-daerah rawan kejahatan di wilayah hukum Polsek Abung Timur. Sementara itu, di hadapan petugas Sahril yang kesehariannya bekerja sebagai montir motor di bengkel samping rumah korban itu mengakui segala perbuatannya. Ia yang telah mengenal korban terpaksa melakukan hal tersebut karena tidak memiliki uang untuk kebutuhan menjelang Lebaran. ’’Saya terpaksa ngelakuin itu karena buntu gak ada duit. Apalagi sebentar lagi Lebaran,” kata Sahril. (rnn/adi pranoto)

DANA PPK

Kejati Diminta Turun TIM Penyelamat Aset Negara (Topan RI) wilayah Tulangbawang meminta agar Kejati Lampung turun langsung memeriksa Sekretaris KPU Tuba Syarkoti Thoha, S.E. Itu terkait penempatan uang gaji dan operasional panitia pemilihan kecamatan di rekening pribadinya. Hal ini dikatakan Hartawan Nur sebagai pimpinan daerah Topan RI Tuba kepada Radar Lampung melalui ponselnya kemarin. Alasan Hartawan, tim penyidik tindak pidana korupsi dari Polda Lampung tidak menemukan adanya pelanggaran atau kesalahan dalam penempatan uang tersebut. Karena itulah, pihaknya meminta tim dari kejati yang datang mengonfirmasi hal tersebut. Menurutnya, hal itu tidak sulit karena hanya sekadar ingin mengetahui bagaimana proses, penyebab, dan tindak lanjutnya seperti apa. Bagaimanapun, tutur Hartawan, uang tersebut berasal dari pusat yang juga harus diketahui masyarakat. ’’Jika memungkinkan, pencarian informasi dari bawah. Karena dengan cara itu, fakta yang sebenarnya akan terungkap,” urainya kemarin. Penempatan uang itu, lanjutnya, sangat mengejutkan pihaknya. Karena jumlah yang cukup besar yakni Rp1,56 miliar. Yang menjadi pertanyaan, mengapa ini terjadi dan tidak dititipkan ke kas daerah atau cara lain selain memasukkan uangnya ke rekening pribadi. (yusuf a.s./adi p.)

BALIKBUKIT - Angka 13 yang selama ini bagi sejumlah orang diidentikkan sebagai angka kurang beruntung, ternyata membawa keberkahan tersendiri bagi 40 Aleg Lampung Barat periode 2009–2014. Meski baru mengucapkan sumpah janji 13 hari yang lalu (tepatnya, Selasa (18/8)), kemarin ke-40 wakil rakyat itu telah mulai menikmati gaji perdana sebesar Rp10,815 juta per anggota. Berdasarkan hasil pantauan di Sekretariat DPRD Lambar kemarin, sejumlah anggota dewan baru

yang belum banyak melakukan dan mengetahui tugas serta fungsi sebagai wakil rakyat itu silih berganti mencairkan honorer bulan pertama di bagian keuangan Sekretariat Dewan setempat. Rata-rata, aleg yang terlihat terburu-buru mencairkan gaji perdana itu sebagian besar adalah anggota dewan baru terpilih dan kali pertama duduk di lembaga terhormat tersebut sebagai wakil rakyat dari lima daerah pemilihan yang ada di Lambar. bahkan, sangat terlihat kesan kegembiraan wakil rakyat itu saat menerima gaji pertama tersebut. Kabag Keuangan Sekretariat DPRD Lambar Nelson Sirait, S.E.

dikonfirmasi Radar Lambar kemarin membenarkan ke-40 anggota dewan baru itu telah menerima gaji pertama pada September 2009 setelah resmi mengucapkan sumpah janji sebagai wakil rakyat Selasa (18/8) lalu. ’’Benar, saya sudah check dengan bendahara, ke-40 anggota dewan baru ini sudah gajian mulai tadi pagi (kemarin, Red),” kata dia. Sayangnya, ketika ditanya nominal gaji per anggota dewan itu, Nelson hanya mengatakan berkisar sekitar Rp10 jutaan tanpa merinci item nilai honorer wakil rakyat tersebut. namun demikian, Nelson mengaku ke-40 anggota dewan itu masih menerima gaji dengan be-

saran yang sama. ’’Sebelum ada pimpinan definitif gaji, mereka semua masih sama besarnya, karena SK jabatan itu akan dilampirkan untuk dasar pembayaran tunjangan jabatan,” imbuhnya. Ketika disinggung kemungkinan dari ke-40 anggota dewan itu menggadaikan gajinya ke bank yang ada di Lambar, Nelson menegaskan bahwa sampai dengan kemarin pihaknya belum menerima usulan aleg yang mengajukan pinjaman ke bank. Tapi, kemungkinan itu tetap ada setelah pimpinan definitif terpilih dilantik. ’’Berkas pinjaman itu harus disetujui pimpinan dewan, jadi ketua definitif saja sampai seka-

rang belum ada,” tegasnya. Sekadar mengingatkan, selama 13 hari setelah mengucapkan sumpah janji sebagai wakil rakyat, ke40 anggota dewan setempat baru menyelesaikan pembentukan lima fraksi. Yakni Fraksi PDIP, Demokrat, PAN, Karya Baru Indonesia Raya, dan Lambar Bersatu. Sementara Alat kelengkapan dewan lainnya, Badan Kehormatan (BK), Badan Legislasi, Badan Musyawarah (Banmus), dan Badan Anggaran hingga kini belum terbentuk, termasuk pimpinan definitif di DPRD setempat pun belum dilakukan pemilihan. Alasannya, PP yang mengatur susduk alat kelengkapan dewan tu belum jelas. (*)

Lagi, Kejari Periksa Panang Laporan Yusuf A.S. Editor Adi Pranoto

FOTO RNN

DIDUGA STRES: Jasad Dewi Sartika, warga Pemangku Jatiwangi Talangkemis, Pekon Waypetai, Kecamatan Sumberjaya, dibawa ke puskesmas setempat untuk menjalani otopsi kemarin.

Penganiaya Anak Kandung Tewas Laporan Wartawan RNN Editor: Purna Wirawan

SUMBERJAYA – Masih ingat kasus Dewi Sartika (25), warga Pemangku Jatiwangi Talangkemis, Pekon Waypetai, Kecamatan Sumberjaya, Lampung Barat, yang tega menganiaya Septi (2), anak kandungnya, pada pertengahan Juli 2009 lalu? Ternyata Ibu yang diduga menderita stres itu ditemukan meninggal di aliran sungai Besai, kecamatan setempat, kemarin (1/9). Kapolres Lambar AKBP Muham-

mad Muslim Siregar, S.I.K. melalui Kapolsek Sumberjaya AKP Hendri, S.H. mengatakan, Ibu rumah tangga ini kali pertama ditemukan Candra (12), pelajar SMP Negeri 1 Sumberjaya ketika sedang memancing di sungai sekitar pukul 15.30 WIB. Candra, warga Pemangku 3, Pekon Waypetai, yang saat itu hanya seorang diri baru akan melempar umpan pancingnya ke tengah sungai. Namun, tiba-tiba dia dikagetkan adanya sesosok tubuh manusia mengambang dan sudah dalam kondisi membusuk. Saat itu juga, Candra langsung

putar haluan dan menyampaikan temuannya kepada keluarganya serta Pemangku 3, Pekon Waypetai, Basargani. ’’Basargani yang diberitahu bersama warga langsung ke lokasi. Setelah memastikan bahwa yang mengambang itu benar mayat manusia, warga langsung melapor ke mapolsek,” jelasnya. Setelah petugas turun, warga menyusuk ke sungai untuk mengevakuasinya dan membawa mayat tersebut ke puskesmas setempat. Hasil pemeriksaan dan berdasarkan ciri serta identitas ditemukan mayat tersebut bernama Dewi Sar-

tika, ibu kandung Septi yang dianiayanya pada Juli 2009 lalu. ’’IRT itu diperkirakan sudah meninggal sejak tiga hari lalu. Sebab, selain kondisi tubuhnya sudah membusuk beberapa bagian kulitnya sudah mengelupas,” papar Hendri. Seteleh menjalani otopsi mayat, langsung dibawa ke rumah duka dan dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Waypetai. Namun, apa penyebab kematian korban pihak kepolisian sendiri belum mengetahui. Sebab, ditubuh korban tidak ada luka akibat kekerasan. (*)

Perambah Liar Picu Sengketa Laporan Hermansyah Editor: Adi Pranoto

BLAMBANGANUMPU - Pemkab Waykanan menyatakan, kerap terjadinya perselisihan di perbatasan Waykanan dengan Tulangbawang sebenarnya bukan disebabkan oleh tapal batas wilayah kedua kabupaten. Tetapi, lebih disebabkan oleh perambah liar yang mendiami lahan Register 44 milik negara tersebut. Menurut Kabag Pemerintahan dan Pertanahan Sekdakab Waykanan Hi. M.A. Mulyono, dari awal

tidak ingin berpolemik dengan Tuba, karena Tim Penyelesaian batas wilayah Provinsi Lampung telah menentukan titik koordinatnya, dan Pemkab Waykanan sendiri telah menyiapkan dana sesuai keputusan rapat di Pemprov Lampung. Di mana titik koordinat itu berada di dalam Register 44 yang merupakan tanah atau hutan milik negara yang tidak berhak dimiliki secara perseorangan atau kelompok. ’’Sebenarnya, konflik tersebut tidak perlu terjadi karena lahan yang dipersengketakan itu masuk dalam kawasan Hutan Negara Register 44,” katanya. (*)

FOTO IST

SELAMAT BERTUGAS: Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri menyematkan tanda jabatan peratin Pekon Penengahan Karyapenggawa kemarin.

MENGGALA - Kejaksaan Negeri Menggala terus melakukan penyelidikan intensif atas dugaan menguapnya dana Rp1,452 Miliar. Setelah lima orang panitia anggaran (panang)masing-masing Mirza Halim, A. Safawi Sulaiman, Arya S. Ademansyah, dan Marwan yang merupakan anggota panang, kemarin Tim penyidik kembali memeriksa empat saksi lainnya yang juga anggota panang. Pantauan Radar Lampung di Kejari Menggala, kemarin pemeriksaan dilakukan sejak pukul 09.00 WIB di masing-masing ruangan jaksa. Pertama, para saksi yang kesemuanya ini berasal dari eksekutif tersebut disumpah di ruang Kasi Intel Heru Widjatmiko. Kemudian tim langsung melakukan pemeriksaan terhadap masingmasing saksi yang berjumlah empat orang tersebut. Mereka adalah Nimbang Marga, Kabag di Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah (DP2KD), diperiksa langsung Kasi Datun Ristu, SH.; Rubi, bendahara di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, diperiksa Andre; Kasubsi Sospol Sigit Trenggono, M.H., mantan Asisten II Pemkab Tuba yang kini menjabat Plt. Sekkab Tuba, diperiksa Heru Widjatmiko; dan Andi Wijaya salah satu staf Ademansyah diperiksa Sima Simon, S.H. Kepala Seksi Intel Kejari Menggala Heru Widjatmiko, S.H. kemarin membenarkan bahwa pihaknya melakukan pemanggilan terhadap lima orang saksi. Namun, kemarin hanya empat yang datang karena sehari sebelumnya satu orang telah lebih dahulu memberikan keterangan. ’’Total yang telah kami periksa ada sepuluh orang. Namun, ini baru pemeriksaan saksi,” tutur mantan salah satu Kasi di Kejari Bengkulu ini. (*)

RADAR LAMPUNG | Rabu, 2 September 2009  

ePaper RadarLampung

RADAR LAMPUNG | Rabu, 2 September 2009  

ePaper RadarLampung

Advertisement