Page 25

LAMPUNG RAYA

SENIN, 2 MARET 2009

PEMERINTAHAN

Bakal Bentuk 3 Lembaga PEMKAB Lampung Selatan rencananya membentuk tiga lembaga baru. Yakni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Narkotika Kabupaten (BNK), dan Sekretariatan Korpri. Kepala Bagian Organisasi Pemkab Lamsel Sugiarto, S.H. mengatakan, pembentukan merujuk Permendagri No. 46/2008. Sementara, pembentukan BNK mengacu pada Perpres No. 83/ 2007 tentang Pembentukan BNK dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 13/ 2008 sebagai acuan pembentukan Sekretariatan Korpri. ’’Pembentukan ini secara konsep telah kami siapkan. Tinggal memasuki tahap pembahasan sebelum diajukan ke bupati untuk dibuatkan perbup,” katanya kemarin. Ia juga menjelaskan alasan lain dibentuknya tiga lembaga ini. Yakni letak geografis Lamsel yang berada di kawasan pesisir laut sehingga rawan bencana sehingga perlu dibentuk BPBD. (rnn)

PRASARANA

Bendungan Kurang Berfungsi KURANG optimalnya fungsi bendungan yang berada di Desa Purworejo, Kecamatan Negerikaton, Pesawaran, diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir di desa setempat. Kepala Desa Purworejo Zainal mengungkapkan, kurang optimalnya fungsi bendungan karena salah satu talut yang berada di salah satu sisi bendungan sudah satu tahun terakhir ambrol. Hal ini menyebabkan bendungan tidak mampu lagi menahan air. ’’Dari awal didirikan, bendungan ini memang belum pernah diperbaiki,” katanya kemarin sambil menegaskan, bendungan itu dibangun lebih dari 10 tahun lalu. Ia mengatakan, masyarakat setempat telah berupaya memperbaiki talut yang ambrol tersebut dengan memasang tumpukan karung. Namun, tetap sia-sia karena fungsinya untuk menahan air tetap tidak optimal. (agus s.)

Dewan Desak Relokasi Gajah Laporan Edi Herliansyah Editor: Abdurrahman TANGGAMUS – Belum adanya langkah konkret dari Pemkab Tanggamus untuk merelokasi satu ekor gajah yang kerap meresahkan warga Kecamatan Ulubelu, akhirnya membuat DPRD setempat angkat bicara. Kalangan anggota legislatif ini mendesak Pemkab Tanggamus dan pihak terkait lainnya segera melaksanakannya. ’’Gajah itu telah merusak tanam tumbuh milik warga, seperti padi, pisang, kelapa, dan lainnya. Keberadaan hewan berbelalai panjang yang hilirmudik di seputaran wilayah Pekon Karangrejo dan Pagaralam, Kecamatan Ulubelu, itu juga telah mengganggu aktivitas masyarakat setempat,” kata anggota DPRD Tanggamus Ibnu Nizar kemarin. Dengan keberadaan gajah yang kerap masuk ke perkampungan warga itu, lanjut Ibnu, petani banyak yang takut jika ingin pergi ke kebun atau ke sawah. ’’Ini jelas sangat meresahkan masyarakat,” ujarnya. Hal senada dikatakan anggota dewan lainnya, Hi. M. Rizal, A.Md. Menurutnya, langkah relokasi merupakan cara yang tepat dalam mengatasi keberadaan hewan berbelalai itu. Karena itu, lembaga terkait diharapkan bisa duduk satu meja untuk membahas permasalahan ini. ’’Sebelum terjadi halhal yang tak diiinginkan, harus ada langkah konkret untuk menanganinya,” imbuh Rizal. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tanggamus Ir. Rizal mengatakan, pihaknya akan melibatkan pihak Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), BKSDA, dan Dinas Kehutanan Lampung untuk merelokasinya. Sebab, keberadaan gajah itu bukan saja tanggung jawab Pemkab Tanggamus. ’’Relokasi akan dilakukan setelah dilakukan pembahasan secara bersamasama,” tukasnya. (*)

25

Lamsel-Tanggamus-Pesawaran

Tujuh Pekon Belum Miliki Bidan Desa Laporan Edi H./RNN - Editor: Abdurrahman KOTAAGUNG – Dinas Kesehatan (Diskes) Tanggamus, tampaknya, masih harus memperhatikan masalah pemerataan tenaga kesehatan. Sebab, setidaknya ada tujuh pekon di Kecamatan Pematangsawa yang belum memiliki bidan desa. Tujuh pekon itu adalah Karangberak, Tirom, Tampangmuda, Tampangtua, Telukberak, Wayasahan, dan Kaurgading. Pekon-pekon itu termasuk di daerah terpencil karena letak geografisnya yang sulit dijangkau akibat belum adanya jalur transportasi darat. Untuk menuju ke sana hanya dapat menggunakan sarana transportasi laut berupa kapal motor dari Kotaagung dengan waktu sekitar tiga jam. Menurut Kepala Pekon Karangberak Mawardi, masyarakat di tujuh pekon tersebut sejak lama mendambakan keberadaan bidan desa yang dapat memberi pelayanan kesehatan kepada warga. Apalagi wilayah-wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai daerah endemis penyakit malaria. Sehingga, kebutuhan fasilitas tersebut dirasakan kian mendesak.’’Selama ini warga hanya mengandalkan obat-obatan yang ada di warung dan obat-obatan tradisional. Yang susah jika ada warga yang akan melahirkan. Kami hanya mengandalkan dukun bayi,” tutur Mawardi, kemarin. Sayang,hingga berita ini diturunkan, pihak Diskes Tanggamus belum dapat dikonfirmasi. Ketika Radar berusaha menghubungi, meski ponsel Kadiskes Tanggamus dr. Nur Indrati maupun sekretarisnya, Sukisno, M.Kes., dalam keadaan aktif tidak dijawab. (*)

FOTO RNN

TRANSPORTASI: Warga Desa Cintamulya, Kecamatan Candipuro, Lamsel masih menggunakan getek sebagai alat transportasi untuk menyeberangi sungai.

Duel, Pelajar SMA Tewas Laporan Widisandika/Agus S Editor: Abdurrahman KALIANDA – Ali Sofyan (17), pelajar kelas 3 SMAN 1 Kalianda, Lampung Selatan, tewas dengan tiga luka tusukan sekitar pukul 11.30 WIB, Sabtu (28/2) lalu. Warga Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lamsel, ini meregang nyawa setelah terlibat perkelahian satu lawan satu atau duel dengan Ap (17), tetangganya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, perkelahian itu diduga terjadi karena korban tidak terima dengan perbuatan tersangka. Rabu (25/2) lalu, korban kecipratan air hujan yang

menggenangi jalan ketika sepeda motor yang dikendarai tersangka melintasi jalan itu. Akibatnya, pakaian dan tubuh korban kotor akibat terkena air yang menggenangi jalan. ’’Saya mengira sudah tidak ada persoalan lagi. Namun, tiba-tiba korban menghampiri saya membawa pisau,” aku tersangka ketika ditemui Radar Lampung kemarin. Setelah keduanya bertemu, cekcok mulut pun tak dapat dihindari. Korban mengeluarkan sebilah badik dan berusaha menyerang tersangka hingga perkelahian pun tak dapat dihindari. Ap berhasil merebut badik itu dari tangan korban dan menghujamkannya di bagian dada sebelah kiri dan perut

korban hingga korban terkapar bersimbah darah. Melihat korbannya terkapar, tersangka yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek itu langsung melarikan diri dengan membawa badik yang digunakan untuk membunuh korban. Pelajar SMAN 1 Kalianda itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kalianda) untuk diberikan pertolongan. Sebelum tiba di rumah sakit, korban mengembuskan napas terakhirnya. Sementara, tersangka akhirnya berhasil dibekuk polisi satu jam setelah kejadian sekitar pukul 12.30 WIB di kediamannya. Tersangka sama sekali tidak berkutik saat digelandang

Unit Reskrim Polsek Kalianda ke mapolsek. Dari tangan tersangka, polisi menyita badik yang digunakan tersangka untuk menghabisi nyawa korban. Turut juga disita baju dan celana milik korban yang bersimbah darah. ’’Kasus ini masih terus kami kembangkan untuk mengetahui secara pasti motif pembunuhan itu,” kata Kapolsek Kalianda AKP Atang Syamsuri mendampingi Kapolres Lamsel AKBP Umar Dhani. Di tempat terpisah, setelah sempat dirawat selama 10 hari, Jahri (48), warga Kalibata Atas, Pekon Sukamara, Kecamatan Sumberagung, Lampung Barat, yang menjadi korban se-

rangan harimau, akhirnya sekitar pukul 12.00 WIB kemarin meninggal dunia. Korban memang mengalami luka robek di bagian kepala dan leher karena diserang harimau ketika di kebun yang tidak jauah dari rumahnya, Jumat (20/ 2) lalu. Sejak waktu itu, korban menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hi. Abdul Moeloek Bandarlampung. Namun, setelah dirawat satu pekan, oleh keluarganya pada Jumat (27/2) lalu dipindah ke Rumah Sakit Umum Pringsewu untuk menjalani perawatan di sana. ’’Sebelum meninggal, badan suami saya sangat panas meski sudah dikompres,” kata Samini (45), istrinya. (*)

Warga Kesulitan Air Bersih Satu Pekan tak Dialiri Air PDAM

TERSESA TERSESATT Aril Wijaya (7) (kiri) dan Hamzah (7) (kanan) ketika berada di Polsek Pringsewu. Kedua siswa SDN Pringsewu Selatan ini sempat tersesat di Pasar Pringsewu sebelum akhirnya diamankan polisi.

Laporan Wartawan RNN Editor: Abdurrahman KALIANDA – Pelayanan PDAM Tirta Jasa Lampung Selatan kembali dikeluhkan. Sudah satu pekan terakhir warga LingWarga Kesulitan Air Bersih kungan III, Kelurahan Kalianda, Kecamatan Kalianda, Lamsel, tidak dapat menikmati distribusi air bersih dari perusahaan daerah itu. Sebab, PDAM mengalami gangguan pada pendistribusian sehingga tidak dapat mengaliri air bersih kepada konsumen. Akibat macetnya distribusi air bersih itu, tidak kurang dari 50-an konsumen PDAM terpaksa harus membeli air bersih kepada pedagang air keliling untuk memenuhi kebutuhannya. Tati (35), warga Veteran, Kalianda, mengaku tidak mendapat pemberi-

FOTO AGUS S.

PERUMAHAN

BERINGIN RAYA LANGKAPURA Hunian Nyaman di Alam Bebas Banjir TERSEDIA TYPE RUMAH MULAI DARI T.36 - T.45 - T48-T55 - T70 & RUKO

KAMI HADIR JUGA DI PERUMAHAN

“SUKARAJA INDAH” LANTAI KERAMIK T.36/LT.100 M2 FASILITAS  Lokasi terjangkau angkutan umum  Sarana dan Prasarana lengkap.  Sarana Pendidikan TK-SD-SLTP-SLTA  Lokasi Pasar  Sarana pemakaman umum  Dll.

Kec. Gd.Tataan Lampung Selatan

Khusus PNS Uang Muka CUKUP BAPERTARUM Syarat dan Ketentuan Berlaku

Hanya Menyiapkan Biaya Proses Bank Saja

PT. SINAR WALUYO Perwakilan Lampung Jl. Jend. Sudirman No. 94 Telp. 253800 - Rawa Laut Bandar Lampung

tahuan dari PDAM soal macetnya distribusi air bersih itu. ’’Ada apa ini? Padahal, baru saja PDAM menaikan harga tarifnya. Kenapa kok sudah macet lagi?” keluhnya kepada Radar Lamsel (grup Radar Lampung) kemarin. Ia mengatakan, akibat tidak lancarnya distribusi air bersih selama satu pekan ini, dirinya kesulitan mendapatkan air bersih. Sebab, mereka selama ini menggunakan air PDAM untuk memenuhi kebutuhan hidup. ’’Kami bisa maklum jika hanya satu hari tersendat. Tapi, ini sampai satu pekan sehingga menghambat aktivitas kami,” ujarnya. Senada dikatakan Iin (30), ibu rumah tangga yang tinggal di samping Kantor Pos Kalianda ini terpaksa meminta air kepada tetangganya sejak lima hari terakhir. Terpisah, Direktur PDAM Tirta Jasa Lamsel Ir. M. Azwar mengaku baru mengetahui air PDAM tidak mengalir sejak sepekan lalu. ’’Saya sudah suruh petugas untuk mengeceknya langsung ke lokasi,” singkatnya. (*)

RADAR LAMPUNG | Senin, 2 Maret 2009  

ePaper RadarLampung

RADAR LAMPUNG | Senin, 2 Maret 2009  

ePaper RadarLampung

Advertisement