Page 1


MARINE FIELD NOTES

DIVISI KEILMUAN DAN KEPROFESIAN HIMITEKA-IPB 2013

HIMPUNAN MAHASISWA ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013


PRAKATA Marine Field Notes merupakan program kerja Divisi Keilmuan dan Keprofesian, Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan (HIMITEKA), Institut Pertanian Bogor yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang kegiatan yang dilakukan mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan dalam Praktek Kerja Lapang di berbagai daerah dalam bentuk buku kepada seluruh kalangan baik bidang terkait maupun masyarakat awam. Diharapkan pembaca dapat mengetahui bagaimana kegiatan mahasiswa anggota HIMITEKA-IPB saat Praktek Kerja Lapang di daerah Cirebon, Wakatobi, Pekalongan, Lombok, dan Muncar. Kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa diharapkan memiliki kontribusi dalam pembangunan pada daerah tersebut. Sangat besar harapan kami buku Marine Field Notes ini menjadi salah satu media HIMITEKA-IPB untuk turut berpartisipasi dalam isu-isu kelautan nasional. Sehingga Bangsa Bahari Indonesia yang merupakan cita-cita Indonesia sebagai negara maritim segera tercipta demi kemakmuran bangsa. HIMITEKA-IPB sangat menerima kritik dan saran dari pihak manapun sebagai koreksi dan pengetahuan baru bagi kami demi hasil yang lebih baik kedepannya.

Bogor, 30 Desember 2013 Ketua Divisi Keilmuan dan Keprofesian

Q Muhammad Royhan


DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi

1. 2. 3. 4. 5.

Marine Field Notes Cirebon

Marine Field Notes Lombok

Marine Field Notes Pekalongan

Marine Field Notes Muncar

Marine Field Notes Wakatobi

i ii


1. MARINE FIELD NOTES CIREBON Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan merupakan pelabuhan perikanan yang berada di Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Secara geografis, PPN Kejawanan sangat strategis karena terletak di Jawa Barat bagian Timur yang menghubungkan daerah pemasaran potensial yaitu Bandung dan Jakarta. Luas wilayah PPN Kejawanan sebesar 19,02 Ha yang mana dapat dikatakan sangat luas namun masih sedikit lahan yang digunakan dari seluruh luasan yang ada. Lahan yang belum terpakai umumnya ditempati berbagai vegetasi dan mangrove, sehingga potensi pengembangan dalam pemanfaatan wilayah secara maksimal sangat tinggi. PPN Kejawanan memiliki tugas pokok dan berbagai fungsi. Tugas pokok PPN Kejawanan diantaranya adalah melaksanakan fasilitasi produksi dan pemasaran hasil perikanan di wilayahnya, pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan untuk kelestariannya, pengawasan kelancaran kegiatan kapal perikanan, dan pelayanan kesyahbandaran di pelabuhan perikanan. Adapun berbagai fungsi dari PPN Kejawanan yaitu pelayanan tambat labuh kapal perikanan, pelayanan bongkar muat, pelayanan pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan, pemasaran dan distribusi ikan, pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan, tempat pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan, pelaksanaan kegiatan operasional kapal perikanan, tempat pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sumberdaya ikan, pelaksanaan kesyahbandaran, tempat pelaksanaan fungsi karantina ikan, publikasi hasil pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas kapal perikanan, tempat hasil riset kelautan dan perikanan, pemantauan wilayah pesisir, dan pengendalian lingkungan. Kegiatan operasional pelabuhan yang terdapat di PPN Kejawanan diantaranya adalah kegiatan domisili kapal, kunjungan kapal dari berbagai daerah untuk melakukan bongkar muat ataupun bersandar, produksi ikan hasil tangkapan para nelayan, perbekalan bahan bakar bagi kapal yang akan melaut, perbekalan es bagi pengawetan ikan saat dikapal, perbekalan air bersih untuk melaut, kegiatan investasi oleh investor dari berbagai bidang, dan tenaga kerja yang bekerja di sektor perikanan maupun non-perikanan. PPN Kejawanan ini dijadikan tempat bersandar dan berlabuh bagi kapal-kapal perikanan yang berukuran 20 GT hingga 50 GT. Aktifitas kapal perikanan yang berada di


PPN Kejawanan ini cukup beragam seperti bongkar muat hasil tangkapan, perbaikan kapal yang rusak, mengisi perbekalan bahan bakar dan makanan,dan bersandar selagi menunggu melaut. Di PPN Kejawanan terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang bagus dan cukup besar, namun tidak digunakan. Pada awalnya TPI digunakan dalam aktifitas jual-beli hasil tangkapan, namun setelah beberapa tahun kebelakang TPI sudah tidak digunakan lagi. Hal ini terjadi karena setiap hasil tangkapan dari masing-masing kapal perikanan langsung diangkut oleh perusahaan-perusahaan yang membiayai kegiatan melaut kapal perikanan tersebut. Hal ini juga yang menyebabkan aktifitas jual-beli hasil tangkapan di PPN Kejawanan terlihat sepi, namun ternyata aktifitas tersebut dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang ada di PPN Kejawanan secara tertutup. Produksi ikan yang dominan di PPN Kejawanan diantaranya ikan cucut, pari, kakap, kerapu, kaci, cumi, dan tenggiri. Diluar jenis ikan yang dominan tersebut masih terdapat jenis ikan lain dari hasil tangkapan sampingan. Hasil tangkapan diolah oleh perusahaan masing-masing dan didistribusikan di dalam negeri maupun ekspor ke berbagai negara seperti Eropa, Cina, Vietnam, dan Hongkong. Kapal-kapal perikanan yang beroperasi sebagian besar merupakan kapal cumi (bouke ami), kapal gill net, dan kapal bubu. Daerah penangkapan yang dituju oleh kapal perikanan pada umumnya di perairan Laut Jawa, baik di Utara pulau Jawa, di Timur pulau Sumatera, dan Laut Natuna. PPN Kejawanan memiliki wilayah yang cukup luas, namun masih sedikit lahan yang dimanfaatkan secara penuh. Area PPN Kejawanan digunakan untuk fasilitas, perkantoran, kolam pelabuhan, dan tempat perusahaan. Hingga saat ini PPN Kejawanan telah memiliki fasilitas pokok, fasilitas fungsional, dan fasilitas penunjang. Fasilitas pokok yang ada di PPN Kejawanan antara lain adalah breakwater atau pemecah gelombang, kolam pelabuhan, alur pelayaran, dermaga, jalan masuk, dan drainase atau pengairan. Fasilitas fungsional yang ada di PPN Kejawanan antara lain adalah kantor administrasi, TPI 2 lantai, area parkir TPI, reservoir air, jaringan air bersih, sumur artesis, instalasi listrik, gedung genset, pengelolaan limbah, rambu navigasi, pagar kawasan, menara air, workshop atau bengkel, dan gedung pelayanan satu atap atau syahbandar. Fasilitas penunjang yang ada di PPN Kejawanan antara lain adalah balai pertemuan nelayan, pos penjagaan, warung serba ada, rumah dinas, masjid, dan MCK. Fasilitas-fasilitas tersebut adalah fasilitas yang ada hingga saat ini dan masih layak dan berfungsi dengan baik. Dalam rangka pengembangan pelabuhan, akan dikembangkan pula beberapa fasilitas tambahan dalam beberapa tahun yang akan datang seperti rumah nelayan, perluasan kolam pelabuhan, perbaikan wisata bahari, dan lain-lain. PPN Kejawanan tidak hanya diperuntukkan bagi nelayan, pengusaha perikanan, maupun staff pelabuhan saja melainkan masyarakat Kota Cirebon dan sekitarnya. PPN


Kejawanan memiliki fasilitas wisata pantai yang dikenal sebagai wisata terapi. Pantai yang terdapat di PPN Kejawanan disebut wisata terapi karena diyakini oleh masyarakat sekitar bahwa air laut di daerah pantai tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit, meskipun belum ada penelitian ataupun penjelasan secara ilmiah mengenai hal tersebut. Masyarakat umumnya berkunjung untuk menikmati wisata pantai tersebut sekitar sore hari dan lebih ramai dari biasanya saat hari libut tiba. Pantai yang dijadikan wisata pantai oleh PPN Kejawanan memiliki topografi yang landai dan gelombang yang tenang sehingga pantai tersebut aman untuk tempat rekreasi masyarakat. Selain wisata pantai, masyarakat sering melakukan aktifitas memancing di sekitar kolam pelabuhan dan breakwater. Oleh karena itu PPN Kejawanan dapat memberikan manfaat bagi semua kalangan, baik terkait kegiatan perikanan maupun non-perikanan.


2. MARINE FIELD NOTES LOMBOK Lokasi Lembaga Unit Pelaksana Teknis (UPT) Loka Pengembangan Bio Industri LautPusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berada di jalan Senggigi dusun Teluk Kodek yang termasuk dalam kawasan wilayah Desa Melaka Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Jarak antara LIPI dengan Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (Mataram) adalah 50 km. Lokasi LIPI memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut : 1. Sebelah timur berbatasan dengan Pusuk 2. Sebelah barat berbatasan dengan 3 gili, yaitu Gili Terawangan, Gili Meno dan Gili Air 3. Sebelah utara berbatasan dengan Tanjung 4. Sebelah selatan berbatasan dengan Senggigi Perairan pantainya cukup jernih sebab daerah tersebut merupakan daerah pariwisata dan daerah budidaya sehingga kebersihan pantainya selalu dijaga, memiliki padang lamun, terumbu karang, dasar substrat pantai karang berpasir, di samping itu ketersediaan pakan alami sangat melimpah dan juga berarus tenang sehingga sangat mendukung pengembangan kegiatan penelitian dengan kisaran suhu perairan 260C -300C dengan salinitas berkisar 31ppt – 35 ppt. Sesuai dengan surat keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia No. 1013/M/2002. UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut P2O LIPI yang berlokasi di Dusun Teluk Kodek Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara adalah unit eselon IV yang berada di bawahdantanggungjawablangsungkepadaKepalaPusatPenelitianOseanografi LIPI. Berdasarkan tipe pembagian organisasi, maka UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut P2O – LIPI Mataram termasuk organisasi fungsional karena hanya terdiri dari seorang Kepala dan kelompok jabatan fungsional.

Untuk menunjang semua kegiatan di UPT-LIPI Pemenang dapat berjalan lancar, maka haruslah tersedia sarana dan prasarana yang memadai. Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh UPT-LIPI Pemenang adalah: 1. Ruangan produksi


Ruangan produksi terbagi menjadi dua yaitu ruangan produksi I dan ruangan produksi II. Bangunan produksi I adalah tempat pembenihan abalon dan teripang sebelum pemeliharaan yang dilakukan di luar ruangan. Hatchery teripang di dalamnya terdiri dari berbagai perlengkapan pembenihan teripang, seperti bak pemeliharaan, bak pemijahan induk, dan lainlain. Ruang produksi II dikenal dengan ruang hatchery tiram mutiara yang berfungsi sebagai tempat kegiatan pembenihan tiram mutiara (Pinctada maxima). Bangunan ini terbagi menjadi 1 ruangan yaitu untuk pembenihan tiram mutiara sebelum dilakukan pemeliharaan lanjutan baik skala laboratorium maupun skala lapangan (KJA). 2. Ruangan Kultur pakan alami Ruangan kultur pakan alami terletak di dalam ruangan produksi 2. Ruangan produksi pakan alami berfungsi untuk mengkultur pakan alami untuk kegiatan pembenihan tiram, abalon dan teripang. 3. Bak outdoor Bak outdoor terdiri dari wadah pemeliharaan larva maupun juvenil abalon serta wadah pembesaran untuk anakan teripang. Wadah pemeliharan larva abalon berupa bak beton dan bak fiber glass. Sedangkan wadah pembesaran anakan teripang berupa bak beton berukuran 6 Ă— 2 m. 4. Kantor Bangunan kantor UPT-LIPI Pemenang merupakan pusat kegiatan balai yang bersifat administrasi. Gedung ini memiliki beberapa ruangan diantaranya, ruang kepala balai, tata usaha, pelayanan teknis, jabatan fungsional, divisi finfish, divisi non finfish dan sebuah aula serta beberapa kamar mandi. 5. Sumber Energi Untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam kegiatan budidaya di LIPI, maka pasokan listirk disuplai dari dua sumber, yaitu suplai listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan sumber listrik dari Generator Set (Genset). Suplai listrik dari PLN memiliki daya 15000 KVA sedangkan suplai listrik dari genset digunakan sebagai cadangan saat listrik padam. Genset yang digunakan ada 1 buah yaitu genset besar berkekuatan 240 KVA. 6. Gudang Bangunan ini digunakan sebagai tempat menyimpan alat-alat budidaya seperti jaring, poket, keranjang tento dan alat-alat yang mendukung kegiatan budidaya lainnya khususnya alat- alat yang berhubungan dengan pemeliharan tiram mutiara dalam skala lapangan.


7. Rumah Pompa Rumah pompa terdapat pada 2 tempat, yaitu di daerah pembenihan abalon dan teripang dan pompa berada dibawah bangunan musholla dengan tujuan agar terhindar dari hujan dan sengatan matahari. Pada daerah pembenihan abalon memilki 1 mesin pompa sedangkan daerah budidaya LIPI terdapat 3 mesin pompa terdiri dari 2 mesin pompa merek Hayward dan 1 pompa merek alkon yang memliki fungsi yang sama yaitu untuk menyedot air laut secara langsung ke bak penampung dan dilanjutkan ke bak induk, dari bak induk tersebut yang akan mengalirkan air ke laboratorium. 8. Rumah Jaga Rumah jaga merupakan salah satu sarana pendukung sistem keamanan LIPI, dimana Rumah jaga terletak di 2 tempat yaitu di kantor atas dan di Laboratorium. 9. Perumahan Karyawan Perumahan karyawan terletak 3 tempat yaitu 3 rumah yang berada dekat dengan kantor atas, 4 rumah berada di depan laboratorium serta 4 rumah berada di samping laboratorium.

Pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapang (PKL) di UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut (LPBIL) LIPI Mataram adalah kegiatan budidaya biota laut mulai dari siput mata bulan, siput mata tujuh, teripang dan kerang mutiara. Kegiatan budidaya sendiri secara keseluruhan sama untuk masing-masing biota, hanya saja tergantung kebutuhan dan kondisi dari biotanya tersebut. Salah satu kegiatan dalam budidaya siput mata bulan adalah pencarian induk Turbo chrysostomus. Induk langsung diambil dari alam yaitu dengan mencari induk di perairan Teluk Kodek pada saat air surut yang diambil di celah karang dasar perairan. Kemudian di simpan dalam waring dan dicuci bersih dari hewan dan tumbuhan penempel serta kotoran lain dengan cara menyikat, selanjutnya dilakukan rangsangan pemijahan dengan menggunakan aerasi. Selain pencarian induk, dilakukan pula pembersihan kolam pemeliharaan Turbo chrysostomus yang dilakukan setiap dua kali seminggu disertai dengan penggantian air dan memberian pakan. Pakan yang diberikan untuk larva berupa plankton sedangkan untuk juvenil dan induk diberi pakan berupa makroalga (Gracilaria sp.). Kegiatan selanjutnya adalah pemijahan, dimana dilakukan pada kondisi gelap biasanya pada malam hari setelah pencarian induk. Setelah proses pemijahan selesai dengan melakukan beberapa tahapan lainnya, dilakukan pula proses perhitungan kepadatan jumlah telur. Telur diambil sebanyak 1 liter menggunakan pipet ukur dari stok kemudian diambil 1 ml dan ditaruh di sandwige rafter lalu dihitung kepadatannya di bawah mikroskop. Kegiatan budidaya teripang pasir (Holothuria scabra Jaeger) terdiri atas pemeliharaan juvenil dan induk. Kegiatan


dilakukan di 2 tempat yaitu laboratorium lama dan laboratorium baru. Laboratorium lama berisi bak beton tempat pemeliharaan induk, akuarium tempat pemeliharaan anak dan laboratorium tertutup untuk tempat kultur pakan. Laboratorium baru terdiri dari akuarium tempat pemeliharaan anak, bak fiber tempat pemeliharaan anak , dan 3 bak kerucut yang terdiri dari bak pemeliharaan juvenil, anak, dan induk. Kegiatan budidaya kerang mutiara yaitu penggantian air dan pemberian pakan. Penggan

dilakukan sebelum dan sesudah penggantian air. Pengukuran kualitas air hanya dilakukan pada kerang yang diberi perlakuan. Pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari. Pakan yang diberikan berupa campuran dari beberapa mikroalga, seperti Chaetoceros calcitrans, Isocrysis galbana, Tetraselmis sp., Nanochloropsis sp.,dan Pavlova lutheri. Selain pemberian pakan, kegiatan isolasi mikroalga dan kultur juga dilakukan, agar stok pakan kerang mutiara tersedia. Pengukuran kualitas air adalah kegiatan yang rutin dilakukan karena merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena perubahan kualitas air sangat mempengaruhi kehidupan larva, juvenil maupun induk yang dipelihara. Adapun pengukuran kualitas air ini dilakukan setiap hari yaitu satu kali sehari pada pagi hari pukul 08.00 WITA. Keempat biota tersebut dibudidaya karena memiliki potensi untuk mendukung perekonomian terutama dalam bidang budidaya kelautan dan mencegahnya penangkapan berlebih yang menyebabkan berkurangnya suatu individu. Lombok terkenal dengan keindahan Gili (Pulau Kecil). Gili yang terkenal, salah satunya adalah Gili Matra. Gugus dari Gili Matra ini adalah Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Gili trawangan merupakan daerah yang paling banyak dikunjungi oleh turis mancanegara dan tempat pertama yang kita kunjungi. Tempat ini juga memiliki banyak penginapan, mulai dari resort dengan harga menengah keatas dan penginapan dengan harga murah untuk para backpacker atau mahasiswa yang akan berlibur menikmati pasir putih di Gili Trawangan. Selain penginapan, tempat ini didukung oleh banyak BAR untuk para turis mancanegara yang ingin menikmati malam di Gili Trawangan. Selain BAR yang aktif mulai pada malam hari, terdapat juga jajanan-jajanan khas Indonesia, harga yang ditawarkan juga tidak membuat uang mahasiswa cepat habis. Selain mengelilingi pulau, kami melakukan snorkling yang tidak jauh dari pantai. Pemandangan yang terlihat hanya pasir putih dan beberapa karang yang masih banyak dihuni oleh ikan-ikan, seperti Ikan Kakatua, Ikan Ekor Kuning, Ikan Kupu-kupu, dan lain-lainnya. Saat snorkling, diharapkan bisa membawa roti karena ikan-ikan


di daerah pantai Gili Trawangan sangat menyukainya. Akses ke Gili trawangan dengan menggunakan kapal. Kapal bisa dinaikki di Pelabuhan Bangsal dan langsung menuju ke Gili Trawangan. Setelah ke Gili Trawangan, dilanjutkan perjalanan ke daerah Mataram melewati Malimbu dan Pantai Sengigih. Sebelum ke Malimbu, saat diperjalanan pasti akan banyak tempat jualan ikan segar dengan harga yang murah dan enak serta sambal yang pedas. Malimbu merupakan spot berfoto yang bagus dan juga banyak terdapat monyet. Dikatakan tempat spot berfoto yang bagus karena pemandangan yang ditawarkan berupa gunung, jurang dan laut. Setelah melewati Malimbu, dilanjutkan dengan perjalanan menuju Sengigih. Daerah Sengigih sama dengan Gili Trawangan, aktif kegiatan dimalam hari karena banyak BAR dan pantai ini juga memiliki pasir putih. Setelah senggigih dilewati, kami memasuki Mataram, pusat kegiatan dari orang-orang Lombok. Didaerah Mataram, biarpun kota tapi tidak sama seperti kota bogor atau kota-kota lainnya. Mataram ini hanya memiliki satu MALL di Pulau Lombok. Pada bulan Agustus, Solaria dan Hypermart baru memasuki Kota Mataram, hal ini dikarenakan pendapatan di Pulau Lombok ini tidak besar. Disini akan banyak menemukan tempat ole-ole, jajanan ringan dan makanan khas Lombok, Ayam Taliwang yang super pedas. Perjalanan selanjutnya adalah Pantai Mendana. Pantai Mendana ini terkenal dengan pantai yang dimiliki oleh sebuah hotel dan kami lupa nama hotelnya. Keunggulan pantai ini, yaitu lamun yang ada didaerah ini sangat besar dan banyak dengan didominasi oleh Enhalus dan Syringodium. Banyak juga biota yang hidup didaerah ini, seperti bulu babi dengan macam warna, bintang laut, ular laut, teripang dan banyak juvenil ikan yang hidup disekitaran lamun. Terkahir adalah pantai Teluk Kodek, merupakan pantai tempat kegiatan praktek kerja lapang sekaligus bermain saat pekerjaan selesai. Disini bisa ditemukan bintang laut biru, ikan lepu batu, berbagai Nematoda, ikan buntal, dan lainlainnya. Bintang tersebut bisa ditemukan pada saat surut, terutama surut terendah. Pada saat pasang, daerah kolom perairan tak terlihat karena banyaknya sedimentasi didaerah Teluk Kodek ini.


3. MARINE FIELD NOTES PEKALONGAN Kegiatan PKL dilaksanakan selama tiga puluh hari yang dimulai pada tanggal 1 Juli sampai 30 Juli 2013. Kegiatan PKL dimulai dengan melakukan perizinan pada pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara(PPN) Pekalongan bahwa kami mahasiswa dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor akan melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapang selama tiga puluh hari. Kegiatan selanjutnya berkunjung ke Pekalongan Mangrove Park(PMP) untuk mengamati secara langsung ekosistem mangrove yang akan dijadikan bahan pengamatan dalam kegiatan PKL di kota Pekalongan oleh saudari YuliYana Mubarokah dengan judul upaya konservasi ekosistem mangrove di Kelurahan Kandang Panjang, Pekalongan, Jawa Tengah yang merupakan langkah awal program ekowisata. Pekalongan Mangrove Park adalah salah satu program kerja Dinas Pertanian, Perternakan, dan Kelautan Pekalongan(DPPK) dalam mengelola sumberdaya pesisir dan laut terpadu kota pekalongan. PMP ini merupakan lokasi tambak masyarakat yang sudah tidak produktif dan dialih fungsikan sebagai tempat konservasi mangrove yang memiliki fungsi sebagai lokasi ekowisata dan penjaga kestabilan kondisi pesisir laut pekalongan serta mengurangi dampak dari banjir rob. Kegiatan yang dilakukan selanjutnya adalah mengunjungi dan mengamati kegiatan yang dilakukan di PPN Pekalongan dan Tempat Pelelangan Ikan(TPI), baik proses pendaratan ikan proses pengemasan ikan yang akan didistribusikan kekota lain, dan proses pendataan ikan yang dilakukan petugas PPN pekalongan. Semua kegiatan dan data mengenai sumberdaya perikan di kota Pekalongan di kelola oleh PPN pekalongan. Mahasiswa yang melakukan pengamatan mengenai kegiatan penangkapan dan data produktivitas penakapan ikan dari berbagai lokasi dan alat tangkap yang berbeda, yaitu: Rani Utari Ayuningtyas, Gulamfit fahane, Galang laila mubaraq, dan M. Rifqie Mardiansyah Purmadi. Kegiatan wawancara pun dilakukan untuk melengkapi data sekunder yang didapatkan dari Dinas Pertanian Perternakan dan Kelautan Pekalongan. Pada saat pelaksanaan kegiatan PKL mengalami kendala dalam menuju lokasi pengamatan, hal ini dikarenakan dipesisir Pekalongan sedang mengalami bencana rob, dengan adanya fenomena tersebut saudari Silmina Sabila menjadikannya fenomena tersebut


sebagai topik pengamatannya dengan judul banjir Rob dan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat pesisisr disekitar PPN Pekalongan. Kegiatan wawancara pun dilakukan untuk melengkapi data sekunder yang didapatkan dari DPPK, TPI, dan PPN Pekalongan. Wawancara ditujukan kepada ketua konservasi ekosistem mangrove, pemilik tanah, masyarakat disekitar ekosistem tersebut, serta staf Dinas Pertanian Perternakan dan Kelautan Pekalongan yang menangani progam konservasi ekosistem mangrove yang akan dijadikan objek ekowisata, selain itu wawancra pun dilakukan kepada staf PPN dan TPI Pekalongan untuk mengetahui data hasil tangkapan, serta mewawancarai penduduk sekitar PPN pekalongan yang terkena bencana banjir rob. Dilakukan juga kunjungan ke SMAN 2 Pekalongan dalam kegiatan Marine Goes to School (MGS) yang merupakan salah satu program kerja Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan. Pada kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Bapak Beginer Subhan dan Bapak I Nyoman Natih yang kebetulan sedang melakukan kunjungan ke Pekalongan untuk mengetahui perkembangan kegiatan PKL dan pemaparan dari mahasiswa tentang apa saja yang telah dan akan dilaksanakan selanjutnya. Pada hari terakhir kegiatan PKL para mahasiswa pun mengadakan kegiatan sosial berupa pemberian tempat sampah kepada ketua TPI pekalongan yang nantinya akan didiletakan di TPI Pekalongan yang bermaksud untuk membantu petugas TPI dalam menangulangi sampah.


4. MARINE FIELD NOTES MUNCAR Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar terletak di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Kecamatan Muncar terletak di tepi pantai perairan Selat Bali pada posisi 08⁰ 10’ – 08⁰ 50’ L 115⁰ 15’ B j

T

S

114⁰ 15’ –

yang memiliki teluk bernama Teluk Pangpang, serta mempunyai

panjang pantai yang mencapai 13 km dengan pendaratan ikan sepanjang 5,5 km (UPPPP Muncar 2013). Secara geografis berbatasan langsung : (1) sebelah utara

: Kabupaten Situbondo dan Bondowoso

(2) sebelah timur

: Selat Bali

(3) sebelah selatan

: Samudera Hindia

(4) sebelah barat

: Kabupaten Jember dan Bondowoso

Jarak PPP Muncar dengan pusat Kecamatan Muncar sekitar 2 km atau dapat ditempuh dalam waktu 10 menit, dengan kota kabupaten Banyuwangi sejauh 37 km dengan lama perjalanan sekitar 1,5-2 jam, serta dengan ibukota propinsi adalah 332 km yang dapat ditempuh antara 8-9 jam. Kecamatan Muncar mempunyai penduduk sebanyak 128.271 jiwa dan masyarakatnya terutama dari segi struktur budaya nelayan terdiri dari suku Jawa, Madura, Osing, dan Bugis (UPPPP Muncar 2013). Dari total penduduk di Muncar hanya 13.143 atau  10%

yang bermata pencaharian sebagai nelayan, selebihnya penduduk

Kecamatan Muncar bekerja di sektor industri, perdagangan, pertanian, dan lain sebagainya (UPPPP Muncar 2013) . Terdapat empat tempat pendaratan ikan (TPI) di PPP Muncar untuk membantu mendaratkan ikan dan pemasarannya, yaitu TPI Kalimoro, TPI Sampangan, TPI Tratas, dan TPI Pelabuhan. Namun TPI yang masih beroperasi hingga saat ini hanya TPI Pelabuhan dan TPI Kalimoro. Tempat pelelangan ikan yang dijadikan sebagai lokasi penelitian adalah TPI Pelabuhan. Saat ini Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar Banyuwangi sedang dilakukan perenovasiaan dan perluasan wilayah Pelabuhan. Perluasan ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas perikanan dan kelautan. Selain itu dengan perluasan tersebut akan memacu kondisi sektor transportasi kelautan baik transportasi bahan bakar, pertambangan, dan perdagangan. Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar merupakan tempat aktivitas pendaratan hasil penangkapan di perairan Selat Bali. Selat Bali merupakan selat yang berada diantara Pulau Jawa dan Pulau Bali. Selat Bali adalah salah satu perairan di Indonesia yang memiliki potensi


perikanan tangkap yang cukup tinggi. Perairan ini memiliki potensi lestari untuk ikan pelagis yang dominan, yaitu lemuru (Sardinella lemuru) sebesar 46.400 ton per tahun. Produksi perikanan di perairan Selat Bali sangat berfluktuasi secara temporal, dimana pada saat tertentu terjadi produksi yang cukup rendah tetapi pada saat yang lain terjadi produksi yang cukup tinggi. Potensi perikanan tangkap yang tinggi ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa Selat Bali memiliki produktivitas perairan yang tinggi akibat adanya fenomena upwelling yang terjadi secara musiman di perairan selatan Jawa yang berhubungan dengan Samudera Hindia (Nababan 2009). Potensi PPP Muncar adalah produksi hasil tangkapan ikan lemuru dan industri pengalelangan terbesar di Indonesia. Selain ikan lemuru, potensi produksi tangkapan antara lain ikan layang, ikan tongkol, ikan kembung, ikan tuna, cumi-cumi, ikan pari dan ikan cucut (UPPPP Muncar 2013). Tingkat pengusahaan sumberdaya perikanan dan kelautan di Selat Bali sudah dilakukan secara intensif sehingga dinyatakan padat tangkap. Dalam pengembangan produksi penangkapan ikan di laut, bagi daerah-daerah perairan pantai yang telah padat tangkap atau krisis sumberdaya diupayakan untuk tidak ada penambahan usaha baru. Penangkapan dan pengolahan yang intensif menyebabkan terjadinya eksploitasi yang berlebihan sehingga jumlah hasil tangkapan semakin menurun dari tahun ke tahun. Aktivitas di PPP Muncar mengalami penurunan dan limbah hasil pengolahan ikan semakin mencemari perairan Selat Bali. Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar merupakan salah satu pelabuhan perikanan yang mendaratkan hasil tangkapan berbagai jenis hiu. Pendaratan ikan hiu di pelabuhan perikanan merupakan hasil tangkapan sampingan para nelayan, namun para nelayan masih memanfaatkan untuk diperdagangkan karena sirip hiu, hati, dan daging memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Kenyataan di lapangan ada beberapa kapal yang diinvestasi oleh penampung tangkapan ikan hiu untuk melakukan penangkapan hiu sebagai target utama tangkapannya. Biaya yang diinvestasikan oleh para pengusaha pedagang hiu berupa biaya akomodasi kapal, baik bahan bakar, maupun perbekalan. Kapal yang telah menerima investasi wajib menjual hasil tangkapannya ke investor tersebut. Nelayan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan bobot ikan hiu termasuk sirip hiu tersebut. Nelayan menjual ikan hiu kepada para investor seharga Rp. 15.000 per Kg tanpa membedakan daging dan siripnya. Pihak investor akan menangani ikan hiu tersebut dengan memisahkan antara sirip dan daging. Daging hiu akan dijual kembali kepada pengolah daging hiu dengan harga Rp. 13.000 per Kg, sedangkan sirip hiu dijual kepada penampung sirip hiu. Berdasarkan hasil wawancara pihak investor tidak bersedia menyebutkan besar harga sirip hiu. Informasi dari


UPPPP Muncar satu sirip hiu dapat mencapai harga Rp 100.000. Dari harga tersebut bahwa hiu sangat bernilai ekonomis tinggi sehingga nelayan lebih tertarik dengan penangkapan hiu. Investasi secara besar-besaran akan berdampak penangkapan ikan hiu secara besar-besaran sehingga menyebabkan beberapa spesies hiu mengalami penurunan jumlah populasi bahkan kepunahan sehingga dapat berpengaruh pada sistem ekologi terutama rantai makanan. Sirip dan daging hiu ini biasanya dimanfaatkan untuk konsumsi. Selain daging dan sirip yang sering dimanfaatkan bagian organ hati yang diambil minyaknya untuk bahan baku obat. Alat tangkap yang biasa digunakan untuk memperoleh ikan hiu baik hasil sampingan maupun utama oleh nelayan Muncar antara lain adalah jaring insang , pancing rawai, dan jaring hiu. Alat tangkap cenderung berbeda-beda berdasarkan karakteristik perairannya. Nelayan Muncar biasa menggunakan pancing rawai ataupun jaring insang. Jangkauan nelayan hiu mencakup wilayah Selat Bali, Laut Jawa, Kalimantan, maupun Sulawesi. Periode penangkapan di laut dapat berlangsung selama 12-21 hari tergantung ketersediaan perbekalan yang telah disiapkan dan kapasitas palka yang tersedia. Aktivitas kapal tidak hanya menangkap ikan hiu akan tetapi kapal juga menampung tangkapan ikan hiu dari kapal lain yang beroperasi. Banyak kapal di perairan laut yang menjual hasil tangkapan sampingan berupa hiu kepada kapal-kapal penangkap hiu. Aktivitas ini sangat membahayakan keberlangsungan dan keanekaragaman spesies hiu. Berdasarkan informasi dari pihak pelabuhan penurunan tersebut kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor cuaca yang tidak mendukung aktivitas penangkapan ikan, menurunnya populasi hiu di alam, masalah teknis kapal yang dapat mempengaruhi pendaratan ikan hiu yang didaratkan di pelabuhan perikanan lain seperti Pelabuhan Perikanan Pengambengan Bali, dan perpindahan persebaran hiu akibat terjadinya perubahan suhu permukaan laut dunia atau fenomena global warming. Produksi penangkapan hiu yang besar tersebut haruslah diiringi dengan peraturan mengenai spesies dan kuota penangkapan. Data diatas hanya berupa jumlah produksi secara keseluruhan tanpa adanya data mengenai spesifikasi jenis hiu yang tertangkap. Kurangnya pengetahuan nelayan Muncar mengenai spesies hiu menjadi kendala dalam proses pengelolaan hiu. Di lain pihak, sedikitnya publikasi mengenai identifikasi hiu juga menyulitkan nelayan maupun praktisi perikanan dalam mengenali spesies yang langka dan dilindungi. Data mengenai spesifikasi spesies hiu di PPP Muncar belum tersedia, dan belum ada kegiatan publikasi mengenai spesies-spesies ikan hiu yang langka dan dilindungi sehingga para nelayan masih menganggap penangkapan hiu tidak menimbulkan masalah.


5. MARINE FIELD NOTES WAKATOBI Wakatobi merupakan wilayah yang memiliki keanekaragaman hayati laut yang lengkap di dunia. Secara geografis Wakatobi terletak pada bagian selatan khatulistiwa yaitu pada koordinat 5o12’ LS

6o10’LS

123o20’ BT hingga124o39’ BT. Wakatobi terdapat

pusat segitiga karang dunia (Coral Tri-angle Center) yang memiliki jumlah keanekaragaman hayati kelautan tertinggi di dunia yakni sebesar 750 spesies karang dari 850 karang dunia, 900 jenis ikan dunia dengan 46 divecites teridentifikasi, 942 spesies ikan, dan 90.000 Ha terumbu karang, karang atol Kaledupa dengan 48 Km yang merupakan karang atol terpanjang di dunia (Operation Wallacea 2005). Pulau Hoga secara administrasi termasuk kelurahan Ambeua yang terletak di timur laut pulau Kaledupa, Taman Nasional Wakatobi provinsi Sulawesi Tenggara. Pulau Hoga memiliki luas + 3,42 km2 selain itu pulau ini terdapat ekosistem lamun dan terumbu karang sehingga sering dijadikan penelitian ( ’Y

2006) Selain ekosistem tersebut Pulau Hoga

juga memiliki Hutan hujan tropis yang masih alami sehingga cocok untuk dijadikan tracking area selain itu di ekosistem Hutan hutan tropis juga terdapat flora seperti pohon cemara, pohon akasia, pohon kelapa, jambu mete dan lain-lain selain itu ada juga fauna seperti kadal, burung Madu Sriganti, burung Cangak Merah, burung Kuntul besar, burung kuntul kecil, burung Wili-wili besar, burung Cekakak sungai, dan lain-lain. Selain ekosistem tersebut masih terdapat juga ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang. Pada ekosistem mangrove jenis yang dapat dilihat yaitu tipe akar ayam, tipe tongkat. Sedangkan pada ekosistem lamun dimana hampir menutupi daerah pesisir pulau Hoga. Lamun yang bisa dilihat berjenis Cymodocea serullata, Cymodocea rotundata, Enhalus Acroides, Halodule uninervis, Thalasia hemprichii. Pada ekosistem terumbu karang terdapat berbagai jenis karang yang dapat dilihat. Pada area Ambeua raya yang mencakup Pulau Hoga memiliki Reef Flat + 200 m dengan kondisi dasar landai dan hampir berbentuk lingkaran. Reef slope pada kemiringan 50o-70o dimana biota karang yang mendominasi adalah Acropora dan Soft Coral. Pada kedalaman 30 meter kondisi pertumbuhan karang mulai menurun dan mulai didominasi oleh pertumbuhan karang Encrusting dan Sub Massive dengan visibility perairan + 25 meter (WWF dan NTC 2003). Wisata Pulau Hoga merupakan wisata musiman yang mana wisatawan dapat berkunjung ke Pulau Hoga pada bulan Maret, April, Juni, Juli, dan Agustus, selain dari bulan tersebut Pulau Hoga sepi pengunjung. Hal ini terjadi karena wisata Pulau Hoga di dominasi


oleh wisatawan mancanegara yang sedang berlibur maupun penelitian. Wisatawan yang berkunjung ke Pulau Hoga didominasi oleh negara Ingris, Amerika, Prancis, dan negaranegara Asia lainnya. Secara geografis Pulau Hoga termasuk kedalam kecamatan Kaledupa bersama dengan Pulau Kaledupa dan Pulau Lintea. Adapun batas wilayah Pulau Hoga adalah sebagai berikut : 1. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Banda 2. Sebelah barat berbatasan dengan Selat Hoga 3. Sebelah selatan berbatasan dengan Pulau Kaledupa 4. Sebelah timur berbatasan dengan Laut Banda Pulau Hoga memiliki luas sebesar + 3,42 km2 yang berada di utara Pulau Kaledupa salah satu kawasan Taman Nasional Wakatobi yang dikenal dengan kegiatan wisata baharinya baik untuk pariwisata maupun penelitian. Secara Administrasi Pulau Hoga masuk kedalam wilayah Ambeua yang merupakan ibukota kecamatan Kaledupa. Keunggulan Pulau Hoga adalah kepada daya tarik wisata baharinya yaitu ekosistem terumbu karang, panorama rekreasi bahari berupa menyelam dan snorkeling. Bagian selatan perairan Pulau Hoga ditetapkan sebagai daerah perlindungan kecil (no fishing zone) oleh masyarakat suku bajo. Biota laut di Pulau ini sangat beragam, namun menurut pemerintah setempat kondisi terumbu karang Pulau Hoga sudah banyak dieksploitasi dan banyak kegiatan penangkapan ikan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan. Secara umum jenis tanah yang terdapat di Pulau Hoga relatif sama dengan Kabupaten Wakatobi pada umumnya yaitu litosol dan meditean. Berdasarkan peta Geologi lembar Kepulauan Wakatobi pada skala 1:25.000 tahun 1994 menunjukkan bahwa formasi geologi Wakatobi dikelompokan kedalam formasi Geologi Qpl dengan jenis bahan induk yaitu batu gamping coral. Kondisi tersebut membuat beberapa vegetasi seperti jambu mete, kelapa, ubi kayu, dan jagung dapat tumbuh, namun untuk lahan pertanian seperti sayur-sayuran relatif kurang subur.


Marine Field Note  

Sebuah tulisan tentang kegiatan mahasiswa ilmu dan teknologi kelautan dalam praktek kerja lapang di berbagai tempat di Indonesia. Karya dari...

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you