Issuu on Google+

the_ics : Message: Organisasi Informasi bukan INTI Kepustakawanan - M...

1 of 4

Hi, Ahmad

Sign Out

Help

http://groups.yahoo.com/group/the_ics/message/25013

Mail

Preview Mail w/ Y! Toolbar

Search

My Y!

Yahoo!

Search Web

Start a Group | My Groups

lempoxe — lempoxe@yahoo.com | Group Moderator - Edit Membership

the_ics — Indonesian CyberLibrary Society Messages

Home Messages

Message #

Messages Help

Go Search:

Search

Start Topic

Advanced

Pending Spam?

[Delete]

Post

Organisasi Informasi bukan INTI Kepustakawanan - Mengapa? Reply | Delete

Message List Message #25013 of 25013 < Prev | Next >

Files Photos

Rekan-rekan,

Links Database Polls Members Pending Calendar Invite

Saya ingin melanjutkan penjelasan tentang Ilmu Perpustakaan sebagai bagian dari komentar tentang isu penelitian maupun pendidikan di bidang kita. Penjelasan ini sama sekali tak dimaksudkan untuk dijadikan kebenaran atau pembenar; melainkan semata-mata sebagai respon terhadap beberapa upaya berbagai pihak di Indonesia dalam merumuskan Ilmu Perpustakaan maupun Kepustakawanan. Semua pihak, tentu saja, punya hak untuk menjelaskan posisinya masing-masing. Saya semata-mata menggunakan hak saya untuk menjelaskan di forum ini, sebab pihak-pihak lain (khususnya para penyelenggara pendidikan dan jurusan ilmu perpustakaan) sudah menggunakan saluran yang mereka kuasai untuk menjelaskan pandangan mereka.

Sat May 5, 2012 4:54 pm Show Message Option

"Putu Pendit" <putu_pendit@yahoo.com> putu_pendit Offline Send Email Remove Author | Ban Author

Management Groups Labs (Beta) Applications

Info

Settings

Group Information Members: 709 Category: Teaching and Research Founded: Oct 5, 1999 Language: English

Yahoo! Groups Tips Did you know... Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Di posting ini saya ingin menjelaskan pengertian "organisasi informasi" (information organization) yang oleh sebagian (besar) pengelola Jurusan Ilmu Perpustakaan di Indonesia dianggap sebagai INTI Kepustakawanan, dan karena itu dianggap pula sebagai inti Ilmu Perpustakaan. Pandangan ini khususnya dianut pula oleh mereka yang menganggap bahwa pekerjaan UTAMA dari seorang Pustakawan adalah mengorganisasi informasi. Pandangan ini juga dianut oleh mereka yang selama ini telah berhasil mereduksi nilai profesi pustakawan menjadi kegiatan-kegiatan teknis mengatalog, mengklasifikasi, dan menentukan tajuk subjek. Pihak inilah yang telah berhasil membangun sebuah Rezim Kepustakawanan yang mekanistik, prosedural, dan rapi secara administratif. Keberhasilan ini harus diakui, tetapi tak dapat dijadikan ukuran keberhasilan Kepustakawanan Indonesia. Bahkan saya pribadi berpendapat, keberhasilan Rezim Mekanistik-Administratif ini justru tak banyak menyumbang pada kemajuan Kepustakawanan Indonesia. Mereka justru ikut membuat Kepustakawanan Indonesia semakin suram. Saya akan menjelaskan hal ini lebih lanjut di bagian akhir posting nanti. Sebelum melanjutkan penjelasan, tentu kita semua harus sepakat bahwa kata KEPUSTAKAWANAN (terjemahan dari 'librarianships') berisi kata 'pustakawan', BUKAN 'perpustakaan'. Artinya, jika kita membahas Kepustakawanan Indonesia maka itu artinya kita membahas manusia-manusia yang bergelar atau berprofesi pustakawan, bukan membahas gedung perpustakaan dan benda-benda yang terdapat di dalamnya. Dari pengertian ini saja saya sudah dapat memulai penjelasan tentang makna 'organisasi informasi' sebagai bagian dari persoalan MANUSIA PUSTAKAWAN, dan bukan sebagai bagian dari gedung atau benda-benda di perpustakaan. Izinkan saya merinci maksud alinea di atas. Organisasi informasi, atau mungkin lebih tepatnya pengorganisasian informasi oleh pustakawan, adalah kegiatan mengenakan struktur (organisasi) terhadap sekumpulan informasi yang ada di sebuah tempat. Pengertian informasi di sini tentunya adalah segala isi (kandungan) yang ada di perpustakaan. Lebih jauh tentang hal ini sudah saya bahas di posting sebelumnya (lihat http://groups.yahoo.com/group/the_ics/message/24989). Kegiatan mengorganisasikan informasi (oleh pustakawan) juga adalah kegiatan menerapkan tata-cara dan prosedur dalam menyimpan dan menyediakan informasi di perpustakaan. Untuk melakukan hal ini, pustakawan SELALU menggunakan panduan dan standar yang sudah ditetapkan sebelumnya, baik oleh pengelola perpustakaan itu sendiri, maupun oleh pihak lain yang memiliki wewenang untuk itu. Beberapa rincian tentang penggunaan panduan ini sudah saya jelaskan pula di posting sebelumnya (lihat http://groups.yahoo.com/group/the_ics/message/25010). Dari penjelasan-penjelasan di atas, dan penjelasan-penjelasan di posting yang saya rujuk tersebut, terdapat kepastian bahwa kegiatan pengorganisasian

5/6/2012 9:43 PM


the_ics : Message: Organisasi Informasi bukan INTI Kepustakawanan - M...

2 of 4

http://groups.yahoo.com/group/the_ics/message/25013

informasi dengan menggunakan standar tertentu adalah KEGIATAN PENTING, dan kenyataan ini tentu saja tak dapat dibantah. Oleh beberapa pihak yang menganggungkan (atau bahkan memuja!) Organisasi Informasi, kenyataan penting ini sering dijadikan argumen untuk menyimpulkan bahwa Organisasi Informasi adalah Inti Kepustakawanan. Hal inilah yang -menurut hemat saya- perlu diberi kontra-argumen. Untuk kontra-argumen ini marilah kita kembali ke asumsi tentang PUSTAKAWAN sebagai manusia. Mari kita sedikit perluas posisinya dengan melihat MANUSIA LAIN yang berada dalam konteks profesinya. Hal ini penting untuk sedikit demi sedikit menyadarkan kita bahwa -sebagai manusia- pustakawan berurusan dengan manusia lain, termasuk ketika pustakawan tersebut sedang melakukan kegiatan PENTING berupa pengorganisasian informasi. Sewaktu mengorganisasi informasi (atau boleh juga disebut 'mengelola informasi') seorang Pustakawan mengenakan struktur berdasarkan standar tertentu. Dari satu sisi, kegiatan ini sebenarnya adalah kegiatan otoritatif (berwenang) dan bersifat memaksa (imperatif). Artinya, Pustakawan sudah memaksa orang lain menggunakan sebuah struktur (tata, aturan, makna) tertentu jika orang tersebut ingin menggunakan perpustakaan. Contoh kongkritnya, semua orang yang masuk ke perpustakaan dan memerlukan sebuah buku HARUS mencarinya dengan tata-aturan tertentu. Buku yang bersangkutan HARUS ditemukan di sebuah lokasi tertentu yang sudah ditetapkan sebelumnya. Di sisi lain, orang-orang lain itu (non-pustakawan, pengguna, anggota masyarakat) sebenarnya punya struktur sendiri hasil dari perkembangan diri mereka sepanjang hidup. Seorang mahasiswa yang menjadi anggota Perpustakaan Universitas Antahberantah pastilah punya struktur diri yang sudah ia kembangkan sejak lahir dan sekolah. Jika kita pakai asumsi di alinea sebelumnya tentang otoritas Pustakawan, maka sewaktu mahasiswa itu masuk ke Perpustakaan Universitas Antarberantah, ia akan DIPAKSA untuk menggunakan struktur-nya Pustakawan. Betulkah ada PEMAKSAAN? -itu harus kita periksa lebih lanjut. Pada kenyataannya, seringkali yang terjadi adalah NEGOSIASI atau PERSUASI baik secara formal maupun informal. Misalnya, yang terjadi adalah kegiatan 'pendidikan pemakai' (user education -istilah lama yang amat otoritatif) atau yang sekarang menjelma menjadi 'literasi informasi' (walaupun maknanya lebih luas dari sekadar 'membujuk' atau 'mendidik' mahasiswa agar menggunakan perpustakaan secara teratur/terstruktur). Itu berarti, seberapa pun baik-dan-benar sebuah pengorganisasian informasi dilakukan, seberapa pun yakin Pustakawan tentang pentingnya organisasi informasi tersebut dilakukan, perlu ada kegiatan LEBIH PENTING lainnya, yaitu literasi informasi untuk negosiasi dengan pihak lain (manusia lain). Tanpa negosiasi dan persuasi ini, organisasi informasi yang seolah-olah paling penting itu tak ada gunanya sama sekali. Jika kesimpulan di atas diperluas, maka mudah-mudahan Rekan-rekan semakin dapat melihat bahwa organisasi informasi memang BUKAN INTI Kepustakawanan. Mari kita lakukan pemeriksaan lebih jauh. Standar dan aturan yang digunakan oleh Pustakawan (silakan sebut sendiri nama standar-standar tersebut) pada umumnya, kalau tak dapat dikatakan seluruhnya, SUDAH JADI jauh sebelum seorang Pustakawan bekerja di sebuah perpustakaan. Silakan Anda periksa perangkat kerja pengorganisasian informasi di tempat kerja Anda sendiri. Apakah perangkat kerja itu Anda yang buat? Pasti hampir semua dari Anda akan menjawab TIDAK. Mengapa sebagian besar Pustakawan di Indonesia menggunakan Anglo-American Cataloging Rules sebagai salah satu alat mengorganisasikan informasi di perpustakaan tempat mereka bekerja? Siapa yang dulu memutuskan untuk menggunakannya di Indonesia? Apa pertimbangan pengambilan keputusan itu? Jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut -jika Anda bersedia mencari jawabannya- niscaya akan membawa Anda, dan kita semua, ke sebuah wacana tentang hubungan kekuasaan, BUKAN tentang organisasi informasi. Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan itu akan membawa kita kepada kajian sejarah, budaya, sosial, dan mungkin juga politik. Jawaban-jawaban itu juga akan semakin menegaskan bahwa organisasi informasi sama sekali bukan hal TERPENTING dalam Kepustakawanan Indonesia. Kepustakawanan Indonesia justru mengandung beberapa hal penting lainnya, yaitu nilai budaya tentang pengetahuan dan tata cara pengaturan pengetahuan di sebuah masyarakat, hubungan kekuasaan antar negara (atau antar budaya) yang berkaitan dengan pengetahuan, dan politik kebudayaan sebuah bangsa. Hal-hal ini, walaupun abstrak dan TIDAK PRAKTIS, amat-sangat-penting sebab justru amat menentukan mengapa standar yang digunakan di Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, juga digunakan di Pekalongan dekat Semarang itu. Seberapa pun baik dan benarnya seorang Pustakawan mengorganisasikan informasi berdasarkan tuntunan sebuah buku panduan tertentu, ia tak ubahnya seorang pelaksana peraturan jika ia tidak pernah tahu (apalagi paham!) mengapa buku panduan itu ia gunakan! Itu artinya, dari sisi si Pustakawan ada hal yang LEBIH PENTING daripada sekadar mengorganisasi informasi. Tentu saja adalah penting bagi Pustakawan tersebut untuk mampu menggunakan sebuah buku panduan (misalnya AACR2), tetapi JAUH LEBIH PENTING baginya untuk paham tentang latar belakang

5/6/2012 9:43 PM


the_ics : Message: Organisasi Informasi bukan INTI Kepustakawanan - M...

3 of 4

http://groups.yahoo.com/group/the_ics/message/25013

budaya dari buku yang ia gunakan dengan patuh tersebut! Dengan kata lain pula, jika memang Kepustakawanan berintikan manusia-manusia Pustakawan, maka pemahaman budaya Pustakawan tentang kegiatan mengorganisasikan informasi adalah LEBIH PENTING daripada organisasi informasinya itu sendiri. Mudah-mudahan hal ini jelas dan masuk akal. Dari uraian di atas, maka kita sudah punya dua bukti yang amat logis untuk memberikan kontra-argumen bagi pihak-pihak yang selama ini menganggap bahwa Organisasi Informasi adalah inti Kepustakawanan Indonesia, yaitu: (1) Interaksi yang baik dengan manusia lain (pengguna) adalah lebih penting daripada organisasi informasi, seberapa pun bagus dan benarnya organisasi informasi itu. (2) Pemahaman tentang budaya pengetahuan sebuah masyarakat adalah lebih penting daripada organisasi informasi, apa pun buku panduan dan standar yang akhirnya digunakan untuk melakukan organisasi informasi itu sendiri. Kedua bukti logis di atas juga dapat diperluas dan dipertegas dengan merujuk ke bukti nyata (empirik) dalam bentuk fenomena yang baru-baru ini terjadi di Indonesia, yaitu penempatan seorang guru yang bermasalah di perpustakaan sekolah sebagai bentuk hukuman terhadapnya. Peristiwa itu menjadi bukti nyata yang amat gamblang untuk menyatakan bahwa seberapa pun bagus dan benarnya Kepustakawanan Indonesia selama ini mengurus dan mengelola informasi, dengan atau tanpa menggunakan standar-standar internasional, pada akhirnya tak banyak berarti ketika sebuah keputusan non-kepustakawanan mementahkan segala yang telah dikembangkan secara teknis. Pihak-pihak yang selama ini telah berhasil membangun sebuah Rezim Kepustakawanan Mekanistik Prosedural; yang telah berhasil membangun Kepustakawanan yang rapi secara administratif, tak berdaya sama sekali ketika ada pihak lain di luar Kepustakawanan Indonesia membuat keputusan untuk menafikan semua keberhasilan itu dengan menempatkan sembarang orang sebagai Pustakawan. Pada kenyataannya, orang yang ditempatkan di perpustakaan di Indonesia, bahkan sebagai Kepala, tak pernah dan tak perlu tahu tentang organisasi informasi. Bagi orang ini, organisasi informasi itu TIDAK PENTING, seberapa pun kerasnya Rezim Kepustakawanan Mekanistik Prosedural sudah bekerja untuk membangun Kepustakawanan Indonesia. Itulah sebabnya, untuk menutup posting ini, saya kembali menyatakan: Rezim Mekanistik-Administratif ini justru tak banyak menyumbang pada kemajuan Kepustakawanan Indonesia. Kekeras-kepalaan mereka untuk memeluk erat-erat prinsip bahwa 'organisasi informasi adalah bagian terpenting dari Kepustakawanan' justru menyebabkan Kepustakawanan Indonesia tak ada maknanya di negeri ini. Cheers, Putu Laxman Pendit

Reply

Delete

Message #25013 of 25013 < Prev | Next >

Expand Messages

Organisasi Informasi bukan INTI Kepustakawanan - Mengapa? Rekan-rekan, Saya ingin melanjutkan penjelasan tentang Ilmu Perpustakaan sebagai bagian dari komentar tentang isu penelitian maupun pendidikan di bidang kita....

Author

Sort by Date

Putu Pendit putu_pendit

4:54 pm

< Prev Topic | Next Topic > Message #

Go Search:

Search

Advanced

Start Topic

SPONSOR RESULTS

Web Based Library System www.libraryworld.com - Full featured service allows you to automate for about $1 a day.

Library Automation www.surpasssoftware.com - Affordable and powerful automation for single or multi-site libraries

Build High-demand Skills EducationDegreeSource.com/Free_Info - 100% Online Career-focused Bachelor Degree in Business Administration!

5/6/2012 9:43 PM


the_ics : Message: Organisasi Informasi bukan INTI Kepustakawanan - M...

4 of 4

http://groups.yahoo.com/group/the_ics/message/25013

Copyright Š 2012 Yahoo! Inc. All rights reserved. Privacy Policy - Terms of Service - Copyright Policy - Guidelines NEW - Help

5/6/2012 9:43 PM


Organisasi Informasi bukan INTI Kepustakawanan - Mengapa?