Issuu on Google+

MEMBACA PUTU LAXMAN PENDIT: Perihal Ilmu Perpustakaan & Informasi & Pustakawan

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah cerita seorang teman yang juga seorang pustakawan, namanya Hendro Wicaksono. Mas Hendro bercerita bahwa pada mulanya ia bingung ketika menjadi mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan (JIP) di Univesitas Indonesia, karena ketika di SMA dia berlatar belakang bidang eksakta yang kemudian masuk Fakultas Sastra. Hampir selama tiga semester dia merasa nggak nyambung dengan apa yang dia pelajari di JIP UI. Pada suatu hari ia membaca artikel dalam sebuah terbitan berkala untuk kalangan pustakawan yang ditulis oleh Putu Laxman Pendit (PLP). Ibarat Archimedes yang berteriak “Eureka!”, Hendro Wicaksono mengaku jadi paham perihal apa sebenarnya Ilmu Perpustakaan dan Informasi (IP&I) gara-gara membaca artikel PLP tersebut. Setelah itulah ia jadi bersemangat mempelajari IP&I. Cerita di atas saya jadikan titik masuk dalam membahas PLP karena fokus tulisan saya ini adalah mengenai bagaimana PLP melalui tulisan-tulisannya telah membangun landasan pemahaman mengenai IP&I bagi kalangan pustakawan Indonesia serta membangun wacana tentang jati diri pustakawan. Nama PLP pertama kali saya kenal lewat tulisan berjudul “Makna informasi: lanjutan dari sebuah perdebatan” dalam buku “Kepustakawanan Indonesia: Potensi dan Tantangan”. Saya baca pada tahun 2000. Dalam tulisan tersebut PLP mendiskusikan tentang perbedaan antara data-informasi-pengetahuan, dengan memberikan batasan-batasan konseptualnya. Apabila saya periksa lagi tulisan-tulisan tentang data-informasi-pengetahuan dalam kepustakawanan, PLP adalah orang pertama dari kalangan akademisi IP&I di Indonesia yang meletakkan landasan pemahaman terhadap tiga konsep utama tersebut. Diskusi mengenai tiga kata kunci tersebut PLP lanjutkan dalam tulisan “Knowledge Management: Sisi Pandang Kepustakawanan” yang ia tulis ketika wacana tentang manajemen pengetahuan mulai populer. Ada dua topik bahasan dalam tulisan ini, yakni perihal kontribusi PLP dalam meletakkan fondasi pemahaman atas keilmuan IP&I dan wacana perihal jatidiri Pustakawan.

1


PLP & IP&I Tentu saja orang pertama di Indonesia yang memperkenalkan IP&I secara sistematis adalah Prof. Sulistyo-Basuki (SB) melalui buku berjudul Pengantar Ilmu Perpustakaan (PIP) yang terbit perdana pada tahun 1991. Dari 400an halaman buku PIP, SB menulis tidak lebih dari 18 halaman yang membahas IP&I dari aspek keilmuan. Dalam buku ini, SB memperkenalkan IP&I melalui dua pendekatan, yakni dari sisi definisi dan sisi objek kajian. SB menulis definisi ilmu perpustakaan sebagai pengetahuan yang tersusun rapi yang menyangkut tujuan, objek, fungsi perpustakaan, serta fungsi metode, penyusunan, teknik, dan teori yang digunakan dalam pemberian jasa perpustakaan (Sulstyo-Basuki, 1991: hal. 5). Setelah buku tersebut, berdasarkan penelusuran saya yang terbatas, SB belum pernah membuat tulisan –yang kemudian dipublikasikan– perihal aspek keilmuan IP&I. Kalaupun ada kaitannya, hal itu adalah sebuah artikel tentang pengaruh perubahan politik (reformasi 1998) terhadap pendidikan IP&I di Indonesia yang dimuat dalam E-LIS1. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pembaharuan dalam buku PIP. Padahal sebagaimana kita ketahui, seharusnya buku-buku semacam itu, atau dalam istilahnya Machasin disebut “Buku Daras”2, perlu terus mengalami pembaharuan sesuai dengan perubahan. Buku daras IP&I yang terbaru adalah buku berjudul “Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi” yang ditulis oleh Jonner Hasugian, diterbitkan oleh USU Press pada tahun 2009. Buku ini menarik karena memuat satu bab khusus seputar landasan filosofis IP&I sebanyak 28 halaman. PLP membangun fondasi pemahaman perihal aspek kelimuan IP&I dengan menggunakan pendekatan filsafat ilmu. PLP secara luas mengurainya dalam buku setebal 300an halaman dengan judul “Penelitian IP&I: Sebuah Pengantar Diskusi Epistemologi & Metodologi”.

1 Artikel tersebut merupakan makalah Sulistyo Basuki dalam “The Asia-Pacific Conference on Library & Information Education & Practice (A-LIEP) pada tahun 2006. E-LIS merupakan kependekan dari “E-prints in Library and Information Science”, yakni sebuah media penyimpanan dan penyebarluasan tulisan-tulisan di bidang IP&I dengan cakupan internasional. Situs repository yang mengusung semangat “open access” ini berdiri pada tahun 2003. E-LIS dikelola oleh para sukarelawan yang berasal lebih dari 40 negara dan memuat tulisan-tulisan dalam 22 bahasa nasional. Para “national editor” asal Indonesia yang aktif di E-LIS antara lain adalah Suryadi Liawatimena, Imam Budi P., Joko Santoso, dan Nuning Kurniasih. Situs ini dapat diakses di http://eprints.rclis.org 2 Kata pengantar oleh M. Machasin (Dekan Fakultas Adab) dalam buku “Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi” yang diterbitkan oleh Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga.

2


Selain PLP, ada seorang tokoh dari kalangan pustakawan Indonesia yang mendekati kepustakawanan secara filosofis, yakni Blasius Sudarsono (BS). Perbedaan antara keduanya, PLP menggunakan pendekatan filsafat ilmu, sedangkan BS mendekati kepustakawanan dari perspektif filsafat manusia yang merujuk ke Driyarkara. PLP banyak menulis tentang IP&I, mulai dari buku, artikel ilmiah, hingga postingposting dalam forum diskusi maya bagi kalangan pustakawan. PLP juga secara intensif mempromosikan paradigma interpretif/konstruktivis beserta pendekatan kualitatif bagi IP&I. Berbarengan dengan sikap tersebut, PLP bersikap kritis terhadap paradigma positivisme. Hal ini nampak dalam diskusi di forum milis ICS serta tulisan PLP dalam buku “Merajut Makna”, serta komentar-komentarnya terhadap hasil-hasil penelitian mengenai “Minat Baca” yang menggunakan pendekatan positivistik-kuantitatif. *** Benarkah “Ilmu Perpustakaan dan Informasi” adalah ilmu? Bagaimana batas-batas persinggungan antara “Ilmu Perpustakaan dan Informasi” dengan disiplin ilmu lainnya? Wilayah-wilayah apa saja yang menjadi kajian penelitian “Ilmu Perpustakaan dan Informasi”? Adalah topik-topik yang dibawa oleh PLP ke berbagai forum diskusi ilmiah IP&I di berbagai kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Semarang, dll. PLP selalu mengampanyekan IP&I sebagai ILMU, melalui berbagai media, salah satu media yang paling penting adalah blog Ilmu perpustakaan dan informasi yang memuat kajian-kajian serta landasan teori-teorinya. Blog inilah yang secara gamblang menampilkan PLP sebagai peletak dasar pemahaman atas IP&I sebagai ilmu.3 PLP & Identitas Pustakawan PLP kerap menulis tentang isu pendidikan IP&I, identitas pustakawan, serta organisasi profesi pustakawan. Berbagai ulasan kritis PLP mengenai identitas pustakawan lebih banyak terdapat dalam forum diskusi antarpustakawan di internet.4

3

Blog ini dapat diakses di http://iperpin.wordpress.com Mailinglist untuk kalangan IP&I yang terbesar adalah “The Indonesian CyberLibrary Society (ICS)”. Didirikan pada 5 Oktober 1999. Hingga 6 Desember 2011, mailinglist ini beranggotakan 1027 orang. Mailinglist ini dapat diakses di http://groups.yahoo.com/group/the_ics 4

Suryadiputra Liawatimena pernah menulis artikel tentang the_ics, tulisan yang merupakan makalah dalam “Workshop Pengembangan Jaringan Informasi Bisnis Untuk Usaha Kecil Menengah dan Koperasi” itu dapat diakses di http://eprints.rclis.org/handle/10760/7668

3


Gambaran sosok ideal pustakawan Indonesia dalam pandangan PLP, salah satunya termuat dalam pernyataan berikut ini: “Hal pertama yang perlu dilakukan Kepustakawanan Indonesia untuk dapat menjadikan profesi ini lebih berperan adalah mengubah orientasi pendidikannya ini, dari yang sebelumnya berpusat pada pengembangan keterampilan teknis penyediaan perangkat informasi, menjadi pengembangan keterampilan sosio-teknis. Pustakawan dan profesi informasi lainnya yang bekerja di badan-badan publik dan akan menjadi tulang punggung dari UU-KMIP harus dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan sosial; mereka akan lebih banyak bersikap sebagai aktivis sosial-budaya daripada ahli-ahli teknis.”5 Catatan Penutup PLP mendiskusikan banyak hal seputar kepustakawanan: pembiayaan perpustakaan umum, RDA, organisasi profesi dan otonomi pustakawan, kebebasan informasi, dll. Blog Iperpin merupakan cermin perihal luas/umumnya perhatian PLP terhadap IP&I. Luasnya perhatian PLP terhadap isu-isu dalam kepustakawanan Indonesia inilah yang membedakan PLP dengan praktisi serta akademisi IP&I di Indonesia. Kalaupun dapat disebut kekurangan, luasnya perhatian PLP tersebut menimbulkan kesan PLP tidak menjadi spesialis atas suatu topik kajian. Atau jangan-jangan kelebihan sekaligus kekurangan semacam itulah yang dibutuhkan bagi Kepustakawan Indonesia yang masih dalam tahap membangun fondasi keilmuan dan jatidiri.

5

Makalah dalam Seminar “Libraries and Freedom” yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Universitas Kristen Petra bekerjasama dengan Goethe – Institut Indonesien, Petra Toga Mas, dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), pada 8 Desember 2009, di Petra Toga Mas, Surabaya. Makalah ini dapat diunduh melalui http://www3.petra.ac.id/library/news.php?nid=86

4


Membaca Putu Laxman Pendit