FRI VOL XXI/01 2026

Page 1


FOODREVIEW INDONESIA

TANTANGAN 2026:

Meluruskan Miskonsepsi UPF

untuk Transformasi

Sistem Pangan Indonesia

PENDEKATAN

HALAL-TAYIB

PADA MINUMAN

RENDAH GULA:

Dari Klaim Menyehatkan

Menuju Peluang Pasar 2026

TANTANGAN

DAN INOVASI

TEKNOLOGI MINUMAN

PROTEIN NABATI

TANTANGAN PANGAN 2026:

https://linktr.ee/foodreview.co.id

TANTANGAN PANGAN 2026: Reorientasi dan (Re)formulasi Berbasis Sains

Isu pangan Indonesia yang berkembang pada awal tahun 2026 menunjukkan tantangan yang semakin kompleks. Perdebatan mengenai pangan olahan—terutama penggunaan istilah ultra-processed foods (UPF)—terus mengemuka di ruang publik, terlebih ketika dikaitkan dengan implementasi program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada saat yang sama, industri pangan dituntut menghadirkan inovasi produk yang aman, lebih menyehatkan, tidak mudah rusak, serta sesuai dengan ekspektasi sosial, ekonomi, budaya, dan agama masyarakat. Hal ini menandai pentingnya upaya penataan sistem pangan nasional untuk memenuhi kebutuhan populasi yang jumlahnya kian bertambah. Perkembangan regional dan global yang berjalan paralel turut memberi konteks penting bagi arah kebijakan pangan Indonesia.

Perkembangan global tersebut salah satunya tercermin dari terbitnya Dietary Guidelines for Americans (DGA) 2025–2030. Sesuai mandatnya, DGA disusun untuk masyarakat Amerika Serikat sehingga tidak dapat diadopsi secara langsung lintas negara. Kerangka pedoman pangan dan gizi harus disesuaikan dengan bukti ilmiah lokal/nasional, pola pangan masyarakat, budaya dan agama, ketersediaan pangan, serta kapasitas produksi nasional. Pedoman pangan dan gizi juga perlu disesuaikan dengan realitas konsumsi harian, biaya pangan, serta kemampuan sistem pangan dalam menyediakan makanan yang aman, bergizi, dan terjangkau.

Bagi Indonesia, pemetaan pola konsumsi masyarakat— baik dari masakan rumah tangga maupun tingginya konsumsi pangan siap saji di luar rumah—menjadi fondasi penting bagi keberhasilan kebijakan pangan. Kebutuhan untuk mengaitkan pedoman gizi dengan kondisi sistem pangan nasional menjadi semakin mendesak dengan hadirnya program MBG. Kebijakan pangan untuk MBG tidak cukup hanya ideal secara konsep, tetapi harus dapat diterapkan secara konsisten di lapangan— mulai dari kota besar hingga wilayah terpencil, dari satu pulau ke pulau lain—dengan kondisi sumber daya alam dan infrastruktur pangan yang sangat beragam. Dalam konteks ini, pedoman gizi dan kebijakan pangan nasional harus selaras dengan kapasitas pasokan, kapasitas logistik, serta keamanan dan stabilitas mutu produk pangan yang akan disajikan setiap hari kepada jutaan penerima manfaat. Dalam bingkai tersebut, DGA tetap menarik untuk disimak—terutama untuk dipahami pendekatan penilaiannya terhadap pangan. Meskipun mengangkat kembali istilah “real food” (tanpa definisi operasional yang jelas), DGA tidak mengadopsi istilah UPF. Sebagai gantinya, DGA menggunakan istilah “highly processed foods” dengan penjelasan lebih spesifik: “foods laden with refined carbohydrates, added sugars, excess sodium, unhealthy fats, and chemical additives.”

Pendekatan ini menunjukkan bahwa penilaian pangan yang lebih akurat seharusnya bertumpu pada komposisi pangan—baik gizi maupun non-gizi—termasuk kandungan bahaya (hazards) yang oleh DGA diidentifikasi sebagai refined

carbohydrates, added sugars, excess sodium, unhealthy fats, dan chemical additives, serta kontribusinya terhadap pola konsumsi secara keseluruhan. Penilaian demikian jauh lebih tepat dibandingkan pelabelan kategori yang terlalu umum. Pemahaman ini sangat relevan bagi Indonesia, khususnya untuk menghadapi kebutuhan reformulasi produk serta penataan ulang kebijakan pangan dalam rangka memperkuat sistem pangan nasional—termasuk mendukung keberhasilan program MBG.

Jika pendekatan tersebut diterjemahkan ke dalam konteks industri pangan Indonesia, muncul sejumlah implikasi yang tidak kalah penting. (Re)formulasi menjadi tantangan nyata. Reformulasi produk—seperti minuman rendah gula atau pangan tinggi protein—harus tetap menjamin keamanan, memberikan mutu sensori yang baik, serta memenuhi prinsip halal–tayib secara menyeluruh. Sementara itu, reorientasi diperlukan untuk meninjau kembali pendekatan terhadap pangan dan peran teknologi pangan, khususnya pengolahan. Penyederhanaan berlebihan—misalnya dikotomi antara pangan olahan versus pangan segar—tidak sejalan dengan bukti ilmiah. Penilaian seharusnya dilakukan berdasarkan kriteria keamanan, mutu, nilai gizi, dan potensi dampaknya terhadap kesehatan.

Dikotomi demikian, terutama stigmatisasi terhadap pangan olahan, dapat menghilangkan potensi pemanfaatan pangan olahan yang sebenarnya aman dan bernilai gizi, serta berpotensi menghambat inovasi yang justru dibutuhkan untuk menjawab tantangan gizi dan ketahanan pangan. Pangan olahan hadir dalam spektrum yang luas: sebagian memang perlu dibatasi (dan karena itu membutuhkan reformulasi), tetapi sebagian lain berperan penting dalam menjamin keamanan pangan, akses gizi, dan stabilitas pasokan antarwilayah— termasuk dalam penanganan bencana—yang seluruhnya sangat relevan bagi keberhasilan MBG.

FoodReview Indonesia edisi awal 2026 ini mendorong pemangku kepentingan pangan untuk menilai tantangan pangan secara lebih objektif. Tidak berhenti pada pelabelan yang simplistis, tetapi mempertimbangkan keamanan, komposisi gizi maupun non-gizi, dan berpijak pada ilmu pangan dan gizi beserta realitas sistem pangan nasional.

Semoga semangat reorientasi dan (re)formulasi ini dapat menjadi pemicu peningkatan daya saing produk, industri, dan sistem pangan Indonesia—menuju sistem pangan yang lebih aman, menyehatkan, tangguh, dan berkelanjutan.

Selamat memasuki 2026.

Purwiyatno Hariyadi https://phariyadi.foodreview.co.id/

daftar isi

PERSPEKTIF

Tantangan 2026:

Meluruskan

22

Miskonsepsi UPF

untuk Transformasi

Sistem Pangan

Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ultra-processed foods (UPF) semakin sering digunakan dalam perdebatan publik, kajian akademik, dan advokasi kebijakan pangan.

VOL. XXI No. 1 Januari 2026

OVERVIEW

Pendekatan Halal-Tayib

pada Minuman Rendah

30

Gula: Dari Klaim

Menyehatkan Menuju

Peluang Pasar 2026

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap dampak konsumsi gula berlebih dan naiknya prevalensi penyakit tidak menular menempatkan industri minuman pada tantangan baru sekaligus peluang strategis.

ASOSIASI

GAPMMI Karya Pangan

Gelar Pelatihan

38

Registrasi Pangan

Olahan Tingkat

Kesulitan I

Pemimpin Umum: Suseno Hadi Purnomo | Pemimpin Redaksi: Purwiyatno Hariyadi | Wakil Pemimpin Redaksi: Nuri Andarwulan Redaktur Pelaksana: Himma Ellisa | Pemimpin Perusahaan: Pratomodjati | Wakil Pemimpin Perusahaan: Hindah Muaris

Staf Redaksi: Fitria Bunga Yunita | Sales, Advertising & Activities: Tissa Eritha

Digital Marketing: Fetty Fatimah | Business Development: Andang Setiadi | Desain & layout: Yanu Indaryanto

IT dan Website: Gugun Hendi Gunawan | Keuangan: Kartini, Padmawati Zainab

Penerbit: PT Media Pangan Indonesia

Alamat PT Media Pangan Indonesia: Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 Telepon: (0251) 8372333, (0251) 8322732 | +62 811 1190 039 | Fax: (0251) 8375754

Website: www.foodreview.co.id | E-mail: redaksi@foodreview.co.id, marketing@foodreview.co.id ISSN: 1907-1280

INGRIDIEN

40 Tantangan dan Inovasi

Teknologi Minuman Protein Nabati

Memasuki 2026, inovasi pangan fungsional semakin dituntut untuk menjawab kebutuhan kesehatan, keberlanjutan, dan preferensi konsumen. Protein nabati muncul sebagai salah satu kandidat utama, khususnya dalam bentuk minuman siap konsumsi, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas protein, sifat fisikokimia, stabilitas zat gizi, serta rekayasa proses yang tepat.

PACKAGING

46

Front-of Pack Nutrition Labelling : Pembelajaran dari Implementasi di Berbagai Negara

Memasuki 2026, kebutuhan akan informasi gizi yang lebih jelas dan mudah dipahami menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tantangan kesehatan masyarakat. Front-of-Pack Nutrition Labelling (FOPNL) menawarkan peluang strategis untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Redaksi menerima tulisan atau berita seputar

Agenda Kegiatan FoodReview Indonesia 2026

Dear FoodReview Indonesia, Mohon informasinya, di mana saya dapat mengakses info terkait kegiatan FoodReview baik webinar, workshop, dan seminar yang akan diadakan? Terima kasih.

Fahmi Jakarta

Jawab:

Untuk agenda kegiatan secara berkala, Anda dapat mengakses situs resmi kami di www.foodreview. co.id. Selain itu, kami mengundang Anda untuk mendaftarkan alamat surel guna bergabung dalam milis (mailing list) resmi kami, sehingga Anda akan selalu mendapatkan informasi terkini terkait kegiatan yang kami selenggarakan. Pastikan juga Anda mengikuti akun media sosial FoodReview Indonesia untuk mendapatkan kabar terbaru serta konten menarik lainnya seputar industri pangan

Q&A

Format Artikel FoodReview Indonesia

Kepada FoodReview Indonesia

Mohon informasinya, bagaimana cara berkontribusi artikel untuk majalah FoodReview Indonesia dan apa saja syarat dan ketentuannya. Terima kasih.

Lala

Riau

Jawab:

Kami menerima artikel dalam lingkup ilmu dan teknologi pangan dengan panjang artikel dibatasi maksimum 4 halaman (12,000 karakter), dengan Cambria 12 spasi 1. Untuk keperluan tata letak dan penyuntingan, kami akan melakukan perubahan tanpa mengubah makna dan isi. Artikel yang ditulis kami harapkan disertai dengan nama penulis, lengkap dengan lembaga/perusahaan/asosiasi tempat penulis beraktivitas. Jika dipandang perlu, artikel bisa juga diberi tambahan daftar referensi -maksimal 5 sumber pustaka. Tulisan yang dimuat akan mendapat imbalan menarik.

FoodReview Indonesia Print on Demand

Kepada FoodReview Indonesia

Mohon info, apakah majalah FoodReview

Indonesia untuk tersedia dalam bentuk fisik?

Saya lebih nyaman membaca versi cetak dan ingin berlangganan. Terima kasih.

Hendra Medan

Jawab:

Terima kasih atas minat Anda. Mulai tahun 2026, kami menghadirkan layanan FoodReview Indonesia Print on Demand yang diterbitkan setiap dua bulan sekali (gabungan dua edisi dalam satu bundle fisik).

Layanan ini tersedia dalam tiga pilihan paket (harga belum termasuk ongkos kirim):

1. Paket 3: Rp600.000 (untuk 3 kali pengiriman bundle)

2. Paket 6: Rp1.000.000 (untuk 6 kali pengiriman bundle)

3. Satuan: Rp250.000 (per satu kali pengiriman bundle)

Menariknya, seluruh pelanggan versi cetak akan mendapatkan akses gratis edisi digital di Pustaka Pangan. Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran langganan, silakan hubungi tim sirkulasi kami melalui nomor kontak: 0811-1190-039

KIRIMKAN KOMENTAR atau pertanyaan Anda ke Forum FOODREVIEW INDONESIA Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 atau melalui whatsapp: +62 811-1190-039, email redaksi@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat dan nomor telepon Anda. Semua surat yang masuk akan diedit terlebih dulu dengan tanpa mengubah maknanya.

Majalah cetak edisi 2016-2020 masih bisa diperoleh melalui loka pasar kami seperti Shopee (Media Pangan Indonesia) & Tokopedia (Toko Kulinologi). Silakan ketik ‘Majalah FoodReview’ pada kolom pencarian. Sedangkan untuk ketersediaan edisi-edisi tertentu silakan menghubungi 0811 1190 039.

OUR SERVICES 2026

Tren Formulasi Three-in-One: Sinergi Pre, Pro, dan Postbiotik

di Pasar Asia Tenggara

Industri kesehatan di Asia

Tenggara tengah mengalami pergeseran menuju pendekatan “three-in-one” dalam suplementasi kesehatan pencernaan. Inovasi ini mengintegrasikan prebiotik, probiotik, dan postbiotik dalam satu formulasi tunggal untuk menjaga keseimbangan mikrobioma secara komprehensif. Salah satu pionir yang membawa teknologi ini ke pasar regional adalah seri Life-Space TrioBiotic, yang menandai transisi dari produk probiotik konvensional ke solusi multi-biotic yang lebih canggih.

Langkah ini merespons proyeksi pasar probiotik global yang diperkirakan mencapai 140,34 miliar (USD) pada 2031. Pertumbuhan ini didorong oleh kebutuhan konsumen akan solusi

CEGAH ANEMIA UNTUK

terhadap disbiosis akibat gaya hidup modern. Dalam sistem ini, probiotik bekerja sebagai mikroorganisme esensial, prebiotik sebagai sumber energi, dan postbiotik sebagai metabolit bermanfaat yang mendukung fungsi imun serta metabolisme.

Selain kecanggihan teknologi formulasi, tren ini kini mulai mengadopsi solusi tersegmentasi berbasis gender. Melalui produk seperti Life-Space, industri mulai menawarkan dukungan spesifik seperti kesehatan urogenital untuk wanita serta energi dan kesehatan reproduksi untuk pria. Perkembangan ini mempertegas dominasi produk fungsional holistik

GENERASI SEHAT & CERDAS

» Anemia di Indonesia

» Anemia Defisiensi Besi: Masalah Gizi Global yang Masih Terabaikan

» Pola Makan Gizi Seimbang: Kunci Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

» Intervensi Gizi & Gaya Hidup

» Resep Olahan Bahan Pangan Zat Besi

pt media pangan indonesia

SOLUTIONS FOR SUGAR REDUCTION

Pendahuluan

Beberapa tahun terakhir, kebutuhan untuk mengurangi konsumsi gula semakin meningkat secara global. Dengan meningkatnya penyakit akibat gaya hidup seperti obesitas dan diabetes, serta adanya dorongan dari pemerintah di berbagai negara terkait kebijakan untuk mengurangi konsumsi gula. WHO merekomendasikan batasan konsumsi

gula bebas (free sugar) kurang dari 10% dari total kebutuhan energi harian, dan dianjurkan untuk menurunkannya hingga di bawah 5% guna memperoleh manfaat kesehatan tambahan. Banyak negara telah menerapkan langkahlangkah seperti pengenaan pajak dan kewajiban pelabelan. Terutama di negara-negara Barat, pajak gula telah diterapkan, dan produsen minuman ringan mempercepat pengembangan

produk rendah gula (Low-sugar) dan bebas gula (Sugar-Free). Barubaru ini di pasar Asia, tren kesadaran kesehatan yang semakin meningkat telah menyebabkan perluasan produk rendah gula dan penggunaan pemanis berintensitas tinggi (high-intensity sweetener).

Pada saat yang sama, konsumen mencari keseimbangan antara “rasa” dan “kesehatan”, dan bukan hanya sekedar mengurangi gula, tetapi juga mengutamakan pada “kemanisan alami yang memuaskan” melalui pemanfaatan desain rasa dan teknologi perisa (flavor). Maka dari itu, OGAWA berfokus pada sweet aroma yang terkandung dalam buah-buahan, dan telah mengembangkan perisa (flavor) yang dapat memberikan kemanisan alami untuk produk rendah gula.

Aroma manis

Honey-filled apple

Honey-filled apple adalah jenis apel yang pada bagian tengah daging buahnya terdapat bagian transparan dan banyak mengandung gula, disebut “honey”. Di Jepang, apel ini dianggap manis dan lezat, serta dikenal sebagai buah dengan tingkat kesukaan yang sangat tinggi. Dengan berfokus pada

Honey-filled apple, OGAWA melakukan evaluasi sensorik untuk mengklarifikasi faktor-faktor di balik

kemanisannya. Kami membandingkan

Honey-filled apple dan Non- Honey-filled apple dari produsen yang sama, tanpa adanya perbedaan kandungan gula.

Hasil evaluasi sensorik menunjukkan Honey-filled apple dirasakan lebih manis. Namun, ketika panelis mengenakan penjepit hidung (nose clip) untuk menghalangi persepsi aroma, tidak ada perbedaan dalam persepsi rasa manis antara kedua jenis apel tersebut. Hal ini menegaskan bahwa intensitas rasa manis pada Honey-filled apple dipengaruhi oleh aroma.

Kemudian, Honey-filled apple dan Non-Honey-filled apple dianalisis menggunakan GC (gas chromatography). Hasil perbandingannya menunjukkan bahwa Honey-filled apple mengandung lebih banyak senyawa Ethyl esters.

Senyawa Ethyl esters ini memiliki aroma fruity dan sweet, menunjukkan bahwa

Ethyl esters ini juga berkontribusi terhadap persepsi rasa manis pada

Honey-filled apple. Lebih lanjut, apabila perisa model yang mengandung Ethyl esters ini ditambahkan pada jus dari

Non-Honey-filled apple, hasilnya mampu meningkatkan rasa manis dan cita rasa jus.

Solusi untuk pengurangan gula

Pada umumnya, hilangnya intensitas kemanisan ketika gula dikurangi akan disuplementasi oleh pemanis berintensitas tinggi (high-intensity sweetener) seperti sucralose dan stevia. Namun, masalah lain yang muncul adalah intensitas kemanisan dan kualitasnya berbeda dengan gula, serta aftertaste yang buruk dari pemanis berintensitas tinggi (highintensity sweetener). Oleh karena itu, OGAWA memberikan solusi dengan memanfaatkan komponen aroma yang berkontribusi meningkatkan rasa manis menggunakan SWEET FLAVOR, kemudian dapat memperbaiki aftertaste dari pemanis berintensitas tinggi (highintensity sweetener) dengan SWEET TASTE IMPROVER, yang keduanya dibuat dari bahan alami khas OGAWA. Hasilnya, walaupun pada minuman rendah gula dan menggunakan pemanis berintensitas tinggi (high-intensity sweetener), dapat dicapai rasa manis alami mirip dengan gula biasa.

Efek pada minuman rendah gula

Efek penggunaan SWEET TASTE

IMPROVER (disingkat: STI) dan SWEET FLAVOR (disingkat: STF) pada minuman rendah gula ditunjukkan pada gambar di bawah ini. STI mampu secara signifikan memperbaiki unpleasant lingering sweetness yang muncul dari pemanis berintensitas tinggi (bar berwarna biru pada gambar). Selanjutnya, dengan menambahkan STF pada base minuman yang kualitas kemanisannya telah diperbaiki oleh STI, profil manis yang mirip serupa gula dapat meningkat (bar oranye pada gambar atas serta gambar bawah).

Kesimpulan

Penelitian ini mendemonstrasikan bahwa dengan memanfaatkan turunan komponen aromatik dari buah, memungkinkan untuk mencapai rasa manis alami dan memuaskan bahkan pada minuman rendah gula. Kedepannya, OGAWA akan terus melanjutkan pengembangan produk yang dapat menyeimbangkan antara kesehatan dan cita rasa.

Jika Anda tertarik terhadap produk ini, silahkan menghubungi marketing representative kami untuk informasi lebih lanjut.

PTOgawaIndonesia

Kawasan Industri KIIC, Lot A-8A Jl. Tol Jakarta-Cikampek KM. 47, Desa/Kelurahan Wadas, Kec. Teluk Jambe Timur, Kab. Karawang, Provinsi Jawa Barat, Kode Pos: 41361

Contact person : Ms. Ade Auliya (Sales Manager PT Ogawa Indonesia)

Email : ade.auliya@ogawa-ogi.net

Phone : +62 811-1977-846

Website : https://www.ogawa.net/en/

Kombinasi Sitrus & Rempah-Rempah dalam Inovasi Produk Pangan

Sinergi profil rasa sitrus dan rempah-rempah yang secara tradisional berakar pada kuliner kaki lima (street food) serta hidangan rumahan, kini telah bertransformasi menjadi elemen dominan pada menu restoran cepat saji dan sektor industri minuman. Pergeseran ini dipicu oleh meningkatnya permintaan konsumen terhadap pengalaman sensoris yang berani (bold) namun tetap harmonis secara organoleptik. Fenomena tersebut kini menjadi pilar strategis dalam kampanye inovasi rasa terbaru yang diusung oleh Kerry Food Service. Data Mintel GNPD (2023–2025) mencatat pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 42% untuk kombinasi rasa pedas-sitrus di Asia Tenggara, melampaui berbagai tren rasa lainnya. Secara global, peluncuran produk baru dengan profil pedas tumbuh 22%, di mana paduan cabai dan jeruk nipis (chili-lime) menjadi primadona di kategori camilan, saus, hingga produk siap saji. Secara nilai pasar, potensi

ini sangat masif; pasar ghost pepper salsa di Asia-Pasifik diprediksi tumbuh konsisten, sementara produk yang memadukan jalapeño dengan jeruk nipis diproyeksikan mencapai nilai USD 2,13 miliar pada tahun 2033. Menurut Angeline Ho dari Kerry Group, data ini menunjukkan bahwa konsumen mencari sensasi baru yang bersih namun tetap akrab di lidah. Perpaduan sitrus dan rempah berhasil karena menawarkan kontras: kesegaran sitrus mampu menyeimbangkan kekayaan rasa makanan berlemak, sementara rasa pedas memberikan energi tanpa mendominasi.

Akar dari tren ini tertanam kuat dalam tradisi kuliner Asia Tenggara. Contohnya, Tom Yum di Thailand yang menyeimbangkan jeruk nipis dan cabai, atau Indonesia yang memadukan jeruk nipis dengan cengkeh, jahe, dan cabai untuk profil aroma yang kaya. Di Singapura dan Malaysia, reinterpretasi sambal dengan sentuhan modern seperti gula melaka dan garam jeruk hitam semakin mempertegas perpaduan tradisi dan modernitas. Chef dan pemilik restoran pemenang penghargaan asal Malaysia, Yenni Law menambahkan bahwa sitrus dan rempah membawa harmoni dan keutuhan pada sebuah hidangan, menjadikannya bahasa universal yang menyatukan budaya Asia. Fri-35

Perkuat Pasar Ingridien Fungsional, Suchang Bawa Chenpi Jeju ke Indonesia

Produsen bahan baku asal Jeju, Suchang, secara resmi memperkuat penetrasi pasokannya ke pasar Indonesia dengan memperkenalkan chenpi atau kulit jeruk mandarin Jeju sebagai ingridien fungsional. Chenpi sendiri merupakan kulit jeruk mandarin yang dikeringkan secara tradisional dan telah lama digunakan dalam pengobatan herbal karena kemampuannya dalam mendukung sistem pencernaan, aktivitas antioksidan, serta kesehatan pembuluh darah. Langkah strategis ini sejalan dengan tren konsumen di Indonesia yang kian melirik produk plant-based dan suplemen kesehatan berbahan alami, sehingga menarik minat besar dari produsen Original Equipment Manufacturer (OEM) maupun produsen bahan tambahan pangan.

Potensi aplikasinya sangat luas, mulai dari pengembangan minuman kesehatan (wellbeing beverages), produk teh tradisional, hingga minuman fungsional berbasis ekstrak alami. Secara teknis, kulit jeruk kering ini kaya akan senyawa bioaktif seperti hesperidin dan flavonoid yang berperan penting dalam memperkuat sistem imun dan membantu proses pencernaan. Kehadiran chenpi dianggap sangat relevan dengan prinsip clean-label yang kini menjadi standar baru di industri pangan, di mana Suchang berkomitmen untuk membangun sistem pasokan jangka panjang guna mendukung diversifikasi produk fungsional di pasar internasional. Fri-35

Sinergi Kemenperin dan HIPPINDO: Akselerasi IKM Pangan Masuk Rantai Pasok Ritel Modern

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat ekosistem Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui kolaborasi strategis dengan berbagai pemangku kepentingan. Upaya terbaru diwujudkan melalui agenda business matching antara IKM sektor pangan dan barang gunaan dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO). Langkah ini merupakan bagian dari gerakan besar untuk memastikan produk dalam negeri mendapatkan kepastian pasar yang berkelanjutan.

Menteri Perindustrian, Agus

Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa kemitraan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing IKM agar mampu “naik kelas”. Mengingat industri pangan merupakan kontributor terbesar dalam industri pengolahan non-migas—menyumbang 37,87% nilai tambah atau 7,08% dari total PDB nasional pada triwulan III-2025— dukungan terhadap 2,07 juta unit usaha IKM pangan menjadi sangat strategis dan padat karya.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, mengungkapkan bahwa kolaborasi tahun lalu telah mencatatkan potensi transaksi lebih dari Rp40 miliar. Hal ini membuktikan tingginya permintaan ritel modern terhadap produk lokal berkualitas. Meski demikian,

Kemenperin mengidentifikasi beberapa tantangan krusial yang masih dihadapi IKM, antara lain:

z Kendala Administratif: Pemenuhan legalitas dan dokumen usaha.

z Struktur Harga: Penyesuaian margin dengan skema pembelian ritel.

z Standar Produk: Penyesuaian kemasan agar sesuai dengan standar rak ritel dan kebutuhan private label.

Sebagai solusi, Ditjen IKMA berkomitmen meningkatkan pendampingan teknis, perbaikan manajemen produksi, hingga proses kurasi yang lebih presisi bersama HIPPINDO. Langkah ini didukung oleh regulasi pemerintah melalui PP No. 29 Tahun 2021, yang mewajibkan pusat perbelanjaan menyediakan setidaknya 30% area usaha untuk produk dalam negeri.

Optimisme ini juga diperkuat oleh

Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia per September 2025, yang mencatat pertumbuhan Indeks Penjualan Riil sebesar 5,8% (yoy), didominasi oleh kategori makanan dan minuman. Pola konsumsi generasi milenial dan Gen Z yang semakin memprioritaskan produk lokal menjadi momentum emas bagi peritel untuk memenuhi komitmen perdagangan minimal 80% produk dalam negeri melalui kemitraan yang sehat dan berkelanjutan. Fri-35

Standar Internasional Jadi Kunci KKP Perkuat Daya Saing Produk Perikanan

Mengawali tahun 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatatkan pencapaian strategis dengan meraih sertifikasi ISO 9001:2015 untuk lingkup penjaminan mutu dan layanan laboratorium penguji hasil perikanan. Sertifikasi internasional ini diterbitkan oleh lembaga independen dunia, Quality Assurance International (QAI), sebagai pengakuan atas standar manajemen mutu yang diterapkan KKP.

Kepala Badan Pengendalian dan

Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP), Ishartini, menyatakan bahwa per 1 Januari 2026, sebanyak 46 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh provinsi Indonesia telah tersertifikasi. Langkah ini memastikan kesiapan KKP dalam melayani sertifikasi mutu ekspor serta pengujian produk sebagai jaminan keamanan bagi konsumen global.

Pencapaian ini menjadi modal kuat KKP dalam mengawal tren positif ekspor perikanan. Pada tahun 2025,

jangkauan pasar produk perikanan nasional meningkat menjadi 147 negara. Sertifikasi ISO 9001:2015 ini mencakup prosedur vital dalam rantai pasok, antara lain:

z Penerbitan Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) sebagai prasyarat ekspor.

z Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP).

z Penerapan sistem Hazard Analytical and Critical Control Point (HACCP).

z Layanan pengujian mutu produk perikanan yang akurat.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, sebelumnya menegaskan bahwa penguatan quality assurance dari hulu hingga hilir adalah kunci utama. Standar ini tidak hanya menjamin keamanan produk, tetapi juga krusial dalam meningkatkan daya saing dan keberterimaan komoditas perikanan Indonesia agar mampu menjadi pemimpin di pasar global. Fri-35

MICA Advance: Inovasi Strategis Menuju

Masa Depan Mikrobiologi Digital

Pengujian mikrobiologi merupakan instrumen krusial dalam menjaga standar keamanan dan kualitas produk, terutama untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi serta perlindungan konsumen. Namun, efisiensi operasional sering kali terhambat oleh metode kultur konvensional yang memerlukan waktu inkubasi lama. Menjawab kebutuhan industri akan kecepatan dan akurasi, PT Prolabios Mitra Analitika resmi memperkenalkan MICA Advance dari Diamidex, sebuah teknologi pionir yang merevolusi pengujian mikrobiologi melalui digitalisasi metode kultur.

MICA Advance dirancang untuk mendeteksi dan menghitung mikroorganisme secara otomatis pada tahap mikrokoloni. Dengan menggabungkan teknologi optik tingkat lanjut dan algoritma kecerdasan buatan, perangkat ini mampu memberikan hasil jauh lebih cepat tanpa meninggalkan prinsip dasar mikrobiologi yang menjadi standar regulasi. Teknologi ini bekerja

dengan memindai unit pembentuk koloni (CFU) jauh sebelum dapat dilihat oleh mata telanjang, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan strategis dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.

Product Manager PT Prolabios Mitra Analitika, Iqrar Hanif Abdillah menegaskan nilai strategis dari teknologi ini bagi laboratorium modern. “MICA Advance bukanlah sekadar rapid test biasa, melainkan metode berbasis kultur yang lebih cepat dengan performa setara standar regulasi. Platform ini tetap mempertahankan prinsip mikrobiologi konvensional namun memberikan hasil yang relevan terhadap CFU secara simultan dan otomatis,” katanya.

Keunggulan utama MICA Advance terletak pada efisiensi waktu pengujian yang signifikan untuk berbagai parameter kritis. Pengujian Legionella pneumophila yang secara tradisional memakan waktu 10 hari kini dapat diselesaikan hanya dalam 48 jam (reduksi waktu 80%). Untuk industri

minuman, deteksi Alicyclobacillus dipangkas dari 9 hari menjadi hanya 24 jam, sementara hasil uji E. coli dapat diperoleh hanya dalam 6 jam. Kecepatan ini sangat vital bagi industri untuk

segera merespons potensi kontaminasi dan meminimalisir risiko kerugian produksi.

Sebagai satu platform tunggal yang serbaguna, MICA Advance dapat diaplikasikan di berbagai sektor industri, mulai dari pengolahan air hingga laboratorium pangan. Perangkat ini tidak hanya mengotomatisasi interpretasi data untuk meminimalisir kesalahan manusia, tetapi juga menyajikan laporan digital secara instan. Melalui MICA Advance, PT Prolabios Mitra Analitika menawarkan solusi bagi industri untuk meningkatkan produktivitas dan standar keamanan produk melalui teknologi mikrobiologi yang lebih cerdas dan cepat. Fri-35

INFO GAPMMI

Economic Outlook 2026 bersama Menkeu Purbaya, Nyalakan Mesin Pertumbuhan Baru | KOMPAS BISNIS sumber gambar: https://www.youtube.com/watch?v=kRLzk8CwX8k

z Wakil Sekjen GAPMMI, Ribut Purwanti hadir memberikan sambutan pada Pembukaan Bimbingan Teknis Permen LH No.75/2019 di hotel Grand Cemara.

z Pengurus GAPMMI (Ibu Jenny Widjaja dan Bapak Ridwan) menghadiri acara Business Matching Produk Dalam Negeri yang diadakan oleh Kemenperin.

z Pengurus GAPMMI bidang Kebijakan Publik, Khrisma hadir sebagai narasumber dalam FGD dengan tema Peluang Peningkatan Nilai Tambah pada Industri Daur Ulang Plastik dan Bioplastik, oleh Direktorat Industri Kimia Hilir, Kementerian Perindustrian RI.

z Ketua Bidang Pembinaan & Pengembangan UMKM GAPMMI, Irwan S. Widjaja, menerima kunjungan delegasi bisnis dari Tiongkok dan mendiskusikan peluang usaha serta potensi kerjasama di kantor Sekretariat GAPMMI.

z Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, menghadiri acara Economic Outlook 2026 yang diadakan oleh Kompas TV dan berkesempatan untuk berdialog langsung dengan Menteri Keuangan RI, Purbaya sekaligus menyampaikan keluh kesah industri serta menyampaikan beberapa masukan penting kepada beliau. https://www.youtube.com/live/ kRLzk8CwX8k?si=3TcYw2HjlxVXm5eh

Lunch Business Kemlu - Ibu Riris, Direktur kawasan Amerika Latin & Carribia dgn GAPMMIPengurus dan Anggota di Seribu Rasa - Jakarta, bahas rencana penetrasi pasar INA-LAC 2026.

Indonesia Market Behaviour Outlook 2026Power, Priorities & Purchase" by PERPI.

z Ketua Umum GAPMMI, Adhi

S. Lukman, menjadi salah satu

narasumber pada acara Diseminasi

Kajian Akademis: Penguatan Skema

Tanggung Jawab Produsen yang

Diperluas / Extended Producer

Responsibility (EPR dengan Perluasan Pemangku Kepentingan) yang

diselenggarakan oleh IPRO.

z Ketua Bidang Pembinaan & Pengembangan UMKM GAPMMI, Irwan S. Widjaja, menjadi

Menerima kunjungan delegasi bisnis dari Tiongkok, di kantor GAPMMI 16 Desember 2025

narasumber pada acara “Indonesia

Market Behaviour Outlook 2026 –Power, Prioritis & Purchase”, yang diadakan oleh PERPI. Selanjutnya, beliau bersama Ketua Bidang

Kerjasama Luar Negeri GAPMMI, Handito Joewono menghadiri acara

Lunch Business yang diadakan

oleh Kementerian Luar Negeri RI, membahas rencana penetrasi pasar INA-LAC 2026. Fri-27

TANTANGAN 2026: Meluruskan Miskonsepsi UPF untuk Transformasi Sistem Pangan Indonesia

Purwiyatno Hariyadi

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ultra-processed foods (UPF) semakin sering digunakan dalam perdebatan publik, kajian akademik, dan advokasi kebijakan pangan. UPF kerap diposisikan sebagai penjelasan tunggal atas berbagai persoalan kesehatan masyarakat, mulai dari obesitas hingga penyakit tidak menular. Pendekatan ini, meskipun tampak sederhana dan komunikatif, menyimpan persoalan konseptual yang serius. Penggunaan istilah UPF sebagai kategori normatif berisiko menyederhanakan hubungan yang kompleks antara pangan, proses pengolahan, komposisi gizi, pola konsumsi, dan dampak kesehatan.

Dalam konteks Indonesia, penyederhanaan tersebut semakin problematik ketika istilah UPF mulai diperlakukan sebagai rujukan langsung dalam perdebatan kebijakan pangan. Sebagaimana telah ditekankan dalam

FoodReview Indonesia sebelumnya

(Hariyadi, 2024; 2025), penulis menegaskan bahwa transformasi sistem pangan Indonesia harus berpijak pada landasan sains dan teknologi pangan, penilaian risiko yang proporsional, serta pemahaman utuh terhadap peran pengolahan pangan dalam menjamin keamanan, stabilitas pasokan, dan akses gizi. Dalam konteks ini, industri pangan olahan—baik skala besar, menengah, kecil, hingga mikro—memiliki peranan yang sangat penting, terutama sebagai jembatan antara produksi dan konsumsi, serta dalam memastikan ketersediaan pangan yang aman, bergizi, cukup, dan sesuai dengan preferensi, sosial budaya, serta kepercayaan konsumen.

Artikel ini melanjutkan dan memperdalam kerangka pemikiran tersebut, dengan menyoroti secara kritis bagaimana penggunaan istilah UPF berdasarkan sistem klasifikasi NOVA berpotensi mengaburkan tujuan transformasi sistem pangan yang

rasional dan berbasis bukti. Pendekatan klasifikasi yang simplistis oleh NOVA berisiko menimbulkan miskonsepsi, stigmatisasi pangan olahan, serta kebijakan yang tidak sejalan dengan kebutuhan nyata sistem pangan Indonesia. Terlepas dari pro dan kontra, terbitnya Dietary Guidelines for Americans (DGA) 2025–2030 pada tanggal 7 Januari 2026 yang lalu, memberikan alasan kuat untuk meluruskan berbagai miskonsepsi mengenai klasifikasi NOVA, terutama penggunaan istilah UPF.

DGA secara eksplisit menghindari penggunaan istilah “UPF”, dan lebih menekankan penilaian pangan

berdasarkan komposisi, profil zat gizi, serta karakteristik pangan yang relevan dengan pola konsumsi. Istilah yang digunakan -secara tepat- adalah “highly processed foods laden with refined carbohydrates, added sugars, excess sodium, unhealthy fats, and chemical additives” (USDA & USHHS, 2026; hal.

2). Dalam hal ini penulis memaknai bahwa DGA tidak menempatkan kategori UPF (versi NOVA) sebagai dasar ilmiah kebijakan resmi federal, melainkan menilai pangan berdasarkan komposisi. Karena itulah, terbitnya DGA 2025–2030 ini juga digunakan sebagai momentum untuk mengkritisi miskonsepsi tentang UPF.

Sistem klasifikasi NOVA dan akar kontroversinya

Sistem klasifikasi NOVA, yang diperkenalkan oleh Monteiro dan koleganya pada 2009, mengelompokkan pangan ke dalam empat kategori berdasarkan tingkat dan tujuan pengolahan, yaitu NOVA I (pangan segar atau pangan diolah minimal), NOVA II (bahan kuliner olahan), NOVA III (pangan olahan), dan NOVA IV (pangan ultra-olahan atau UPF). Dari keempat kelompok tersebut, kategori keempat— UPF—menjadi pusat kontroversi.

Kontroversi ini muncul bukan semata karena keberadaan kategori UPF, melainkan karena cara kategori tersebut didefinisikan dan digunakan. Definisi UPF dalam kerangka NOVA bersifat deskriptif dan interpretatif, serta tidak dilengkapi parameter kuantitatif atau kriteria operasional yang jelas. Monteiro et al. (2019) mendefinisikan UPF sebagai formulasi berbagai bahan, sebagian besar untuk penggunaan industri, yang dihasilkan melalui serangkaian proses industri, dan karenanya disebut “ultra-processed”. Definisi ini tidak menjelaskan secara tegas ambang batas, tingkat intensitas proses, atau parameter kuantitatif lain yang memungkinkan evaluasi yang konsisten dan dapat direplikasi. Akibatnya, klasifikasi ini membuka ruang subjektivitas yang luas dalam penilaian dan interpretasi.

Dalam praktiknya, identifikasi suatu produk apakah masuk dalam kategori NOVA IV (UPF) bertumpu pada daftar ciri atau penanda (marker),

seperti penggunaan bahan yang jarang digunakan di dapur rumah tangga, keberadaan bahan tambahan tertentu, teknik pengolahan, tujuan komersial, serta strategi pemasaran. Pendekatan berbasis penanda yang beragam—mulai dari aspek teknis hingga pemasaran— bersifat interpretatif dan sangat bergantung pada penilaian subjektif, sehingga rawan menghasilkan klasifikasi yang tidak konsisten. Terlepas dari potensi subjektivitas ini, klasifikasi NOVA menyatakan bahwa ketika pangan menunjukkan ciri-ciri UPF, pangan tersebut dinyatakan sebagai intrinsically unhealthy. Klaim ini seolah menyiratkan bahwa sifat tidak menyehatkan melekat secara inheren pada produk berlabel UPF, terlepas dari variasi komposisi gizi, mutu proses, tingkat konsumsi, maupun konteks diet.

Klaim tersebut secara fundamental bertentangan dengan prinsip dasar analisis risiko yang menjadi fondasi ilmu toksikologi, ilmu pangan, kesehatan masyarakat, dan regulatory science. Prinsip Paracelsus—“the dose makes the poison”—menegaskan bahwa tidak ada bahan atau produk yang secara inheren menimbulkan risiko kesehatan tanpa mempertimbangkan dosis, tingkat paparan, dan konteks penggunaannya. Risiko selalu merupakan hasil interaksi antara bahaya (hazard) dan tingkat paparan (exposure), bukan semata-mata berdasarkan ciri atau penanda deskriptif tertentu.

Dalam kerangka penilaian risiko yang baku, klaim mengenai dampak kesehatan seharusnya didasarkan

pada rangkaian evaluasi yang mencakup identifikasi bahaya (hazard identification), karakterisasi bahaya, penilaian paparan (exposure assessment), serta karakterisasi risiko. Penggolongan produk pangan dan pelabelannya sebagai UPF yang kemudian serta-merta dianggap sebagai intrinsically unhealthy pada dasarnya melompati hampir seluruh tahapan kajian risiko secara ilmiah. Pada titik inilah pendekatan DGA berbeda: yang dianggap tidak menyehatkan adalah “highly processed foods laden with refined carbohydrates, added sugars, excess sodium, unhealthy fats, and chemical additives.”

Bukti empiris: kelompok UPF

tidak homogen

Dari berbagai kajian epidemiologis, jika kelompok NOVA IV (UPF) ditelaah lebih rinci pada tingkat subkelompok, gambaran yang muncul terlihat jauh lebih kompleks dan beragam. Studi Framingham Offspring yang dianalisis oleh Juul et al. (2021) menunjukkan bahwa tidak semua subkelompok pangan yang diklasifikasikan sebagai NOVA IV (UPF) berasosiasi dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Beberapa subkelompok, seperti sereal sarapan tertentu, justru menunjukkan asosiasi dengan penurunan risiko kejadian kardiovaskular secara keseluruhan.

Temuan serupa terlihat pada studi prospektif besar mengenai diabetes tipe 2. Chen et al. (2023) melaporkan bahwa risiko diabetes tipe 2 sangat bervariasi antarsubkelompok NOVA IV (berlabel

UPF). Produk berbasis biji-bijian tertentu menunjukkan asosiasi risiko yang lebih rendah, sementara minuman berpemanis dan produk hewani olahan menunjukkan asosiasi risiko yang lebih tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor komposisi gizi, kepadatan energi, dan karakteristik produk jauh lebih menentukan dibandingkan pelabelan sebagai UPF hanya karena kesesuaian dengan ciri tertentu.

Meta-analisis dan tinjauan sistematis terbaru memperkuat temuan ini. Mendoza et al. (2024) menunjukkan bahwa konsumsi jenis pangan dalam kelompok NOVA IV (UPF) berkorelasi secara divergen dengan luaran kardiovaskular. Produk seperti roti dan sereal tertentu menunjukkan asosiasi netral atau protektif, sementara minuman berpemanis dan daging olahan menunjukkan asosiasi risiko

yang konsisten lebih tinggi. Bukti-bukti ini menegaskan bahwa kelompok UPF bukanlah entitas yang homogen dari sudut pandang kesehatan.

Pandangan ini dirangkum secara eksplisit dalam tinjauan kritis oleh

Vadiveloo dan Gardner (2023) serta Louie (2025), yang menegaskan bahwa not all ultra-processed foods are created equal. Keduanya menyoroti kegagalan NOVA dalam membedakan pangan nutrient-poor dan nutrient-dense yang sama-sama dilabeli sebagai UPF.

Kelemahan konseptual NOVA semakin nyata melalui apa yang dapat disebut sebagai paradoks kualitas diet. Sebuah kajian menunjukkan bahwa pola pangan menyehatkan selama tujuh hari dapat disusun dengan dominasi pangan yang menurut definisi NOVA dikategorikan sebagai UPF, namun tetap menghasilkan skor Healthy Eating Index (HEI) yang

tinggi dan memenuhi hampir seluruh rekomendasi makro- dan mikronutrien (Hess et al., 2023). Hal ini menunjukkan bahwa klasifikasi NOVA gagal membedakan mutu gizi antarproduk yang sama-sama dilabeli sebagai UPF, serta memperlihatkan bahwa klaim simplistis intrinsically unhealthy tidak dapat dipertahankan secara ilmiah.

Implikasi bagi kebijakan sistem pangan

Miskonsepsi mengenai UPF tidak hanya berdampak pada perdebatan akademik, tetapi juga membentuk arah kebijakan dan inovasi sistem pangan. Ketika isu UPF direduksi menjadi narasi tunggal “UPF = berbahaya”, yang tidak sesuai dengan data ilmiah yang ada. Pendekatan semacam ini berpotensi menimbulkan beberapa konsekuensi merugikan. Pertama, pendekatan ini dapat menghambat inovasi pangan yang justru dibutuhkan untuk meningkatkan mutu gizi, keamanan, dan keberlanjutan, termasuk produk fortifikasi, pangan khusus, dan pangan berbasis kebutuhan populasi rentan. Kedua, penyederhanaan ini dapat menghambat pembahasan ilmiah yang objektif berdasarkan data dan kondisi riil di lapangan.

Ketiga, kebijakan yang dibangun terutama untuk merespons tekanan media dan opini publik berisiko mengabaikan prinsip-prinsip ilmiah dan analisis risiko yang sistematis. Dalam situasi seperti ini, pangan olahan sering ditempatkan sebagai penyebab utama masalah, meskipun penilaian tersebut tidak selalu didukung oleh bukti ilmiah

dan kerap mengabaikan kompleksitas sistem pangan serta pola konsumsi masyarakat.

Bagi Indonesia, implikasi ini sangat signifikan. Sistem pangan nasional membutuhkan ekosistem inovasi untuk menjawab tantangan gizi triple burden, ketahanan pangan, keterjangkauan pangan, dan bahkan tanggap darurat bencana. Stigmatisasi pangan olahan secara serta-merta berpotensi melemahkan peran strategis industri pengolahan pangan (baik mikro, kecil, menegah atau pun besar) yang bertanggung jawab, serta mengalihkan perhatian dari faktor yang lebih menentukan kesehatan populasi.

Penutup: perlu definisi dan klasifikasi yang lebih ilmiah

Berbagai kalangan ilmiah internasional telah menyerukan perlunya kerangka klasifikasi pangan yang lebih komprehensif, kuantitatif, dan selaras dengan prinsip penilaian risiko (Gibney, 2017; Petrus et al., 2021; Knorr & Augustin, 2021; Roos, 2025). Editorial di jurnal Nature bahkan secara eksplisit menyatakan perlunya perbaikan definisi UPF untuk menghindari dampak tidak diinginkan dari penggunaan istilah yang kabur dan normatif (Nature Editorial, 2025).

Pendekatan alternatif yang memisahkan secara jelas dampak formulasi dan proses pengolahan, serta mempertimbangkan konteks konsumsi dan manfaat gizi, menawarkan landasan yang lebih kuat bagi kebijakan

pangan yang adil dan berbasis sains. Itulah esensi meluruskan miskonsepsi mengenai UPF dan klasifikasi NOVA, sehingga transformasi sistem pangan berjalan di jalur yang benar—berbasis sains, analisis risiko, dan pemahaman sistemik. Sistem pangan yang tangguh memerlukan pengolahan pangan yang aman, inovatif, dan bertanggung jawab, didukung oleh kebijakan yang tepat dan proporsional sesuai dengan kondisi sumber daya alam dan kearifan lokal, termasuk aspek sosial budaya serta kepercayaan masyarakat.

Memasuki 2026, menguatnya isu UPF dapat dipandang sebagai sinyal awal untuk memperdalam analisis ilmiah menuju perumusan kebijakan publik yang semakin berbasis sains dan bukti.

Transformasi sistem pangan Indonesia hanya akan berhasil bila didorong oleh pengetahuan ilmiah yang matang, kehati-hatian dalam menafsirkan bukti, serta komitmen kolektif untuk menempatkan kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan keberlanjutan sebagai tujuan bersama.

Referensi:

Chen, Z., et al. (2023). Ultra-processed food consumption and risk of type 2 diabetes: Three large prospective U.S. cohort studies. Diabetes Care, 46(7), 1335–1344. https://doi.org/10.2337/dc22-1993

Gibney, M. J. (2017). Ultra-processed foods: Definitions and policy issues. Current Developments in Nutrition, 1(7), e000273. DOI: 10.1093/cdn/nzy077

Hariyadi, P. (2024). Tantangan 2024: Urgensi transformasi sistem pangan Indonesia. FoodReview Indonesia, Januari 2024.

Hariyadi, P. (2025). Transformasi sistem pangan: Refleksi akhir 2025. FoodReview Indonesia, Desember 2025.

Hess, J. M., et al. (2023). Dietary Guidelines meet NOVA: Developing a menu for a healthy dietary pattern using ultra-processed foods. The Journal of Nutrition, 153(8), 2472–2481. https://doi.org/10.1016/j. tjnut.2023.06.028

Juul, F., et al. (2021). Ultra-processed foods and incident cardiovascular disease in the Framingham Offspring Study. Journal of the American College of Cardiology, 77(12), 1520–1531. https://doi.org/10.1016/j. jacc.2021.01.047

Knorr, D., & Augustin, M. A. (2021). Food processing needs, advantages and misconceptions. Trends in Food Science & Technology, 108, 103–110. https:// doi.org/10.1016/j.tifs.2021.01.015

Louie, J. C. Y. (2025). Are all ultra-processed foods bad? A critical review of the NOVA classification system. Proceedings of the Nutrition Society. https://doi. org/10.1017/S0029665125100645

Mendoza, K., et al. (2024). Ultra-processed foods and cardiovascular disease: Analysis of three large U.S. prospective cohorts and a systematic review and metaanalysis. The Lancet Regional Health – Americas, 37, 100859. https://doi.org/10.1016/j.lana.2024.100859

Monteiro, C. A., et al. (2009). A new classification of foods based on the extent and purpose of their processing. Public Health Nutrition, 12(5), 729–731. DOI: 10.1590/ s0102-311x2010001100005

Monteiro, C. A., et al. (2019). Ultra-processed foods: What they are and how to identify them. Public Health Nutrition, 22(5), 936–941. https://doi.org/10.1017/ S1368980018003762

Nature Editorial. (2025). Ultra-processed foods – It’s time for an improved definition. Nature 645, 7 (2025) doi: https://doi.org/10.1038/d41586-025-02750-0

Petrus, R. R., et al. (2021). An integrated framework for the assessment of processed foods. Food Research International, 142, 110199. https://doi.org/10.1016/j. foodres.2021.110199

Roos, Y. H. (2025). Food processing levels and processed food intake classification. Future Foods

Volume 12, December 2025, 100751 https://doi. org/10.1016/j.fufo.2025.100751

U.S. Department of Agriculture & U.S. Department of Health and Human Services. (2026). Dietary Guidelines for Americans, 2025–2030. Washington, DC. https:// www.dietaryguidelines.gov/

Vadiveloo, M., & Gardner, C. D. (2023). Not all ultraprocessed foods are created equal: A case for advancing research and policy that balances health and nutrition security. Diabetes Care, 46(7), 1327–1329. https://doi.org/10.2337/dci23-0018

PENDEKATAN HALAL-TAYIB PADA MINUMAN RENDAH GULA:

Dari Klaim Menyehatkan Menuju

Peluang Pasar 2026

oleh Vritta Amroini Wahyudi Dosen Teknologi Pangan, Universitas Muhammadiyah Malang PhD Candidate in Biotechnology, Chulalongkorn University

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap dampak konsumsi gula berlebih dan naiknya prevalensi penyakit tidak menular menempatkan industri minuman pada tantangan baru sekaligus peluang strategis. Memasuki tahun 2026, kebutuhan akan produk yang lebih menyehatkan dan transparan membuka peluang bagi pengembangan minuman rendah gula yang mengintegrasikan prinsip halal dan tayib sebagai standar integritas pangan.

Minuman menjadi salah satu

kontributor utama asupan gula harian konsumen. Oleh karena itu, isu pengurangan gula dalam produk minuman tidak lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi kebutuhan kesehatan masyarakat.

Kondisi ini mendorong industri pangan dan minuman untuk melakukan riset dan pengembangan produk reduced-sugar beverages (minuman rendah gula) sebagai respons terhadap tuntutan konsumen akan gaya hidup sehat (healthy lifestyle). Inovasi pada minuman rendah gula tidak hanya

berfokus pada penurunan kadar gula, tetapi juga pada upaya mempertahankan mutu sensori, stabilitas produk, serta penerimaan konsumen.

Dalam konteks pemasaran, produk minuman rendah gula memerlukan jenama yang kuat dan kredibel untuk mengkomunikasikan inovasi teknologi yang digunakan serta manfaat kesehatannya. Klaim “sehat” dan “aman” akan semakin bernilai apabila diperkuat dengan perspektif halal dan tayib. Konsep tayib yang bermakna baik, aman, dan berkualitas, sejatinya sejalan dengan prinsip keamanan dan

mutu pangan. Berbagai diskursus ilmiah internasional menempatkan halal dan tayib sebagai bagian dari ekonomi hijau berkelanjutan (sustainable green economy) dalam hilirisasi industri pangan, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, minuman rendah gula berpotensi dikembangkan tidak hanya sebagai produk menyehatkan, tetapi juga sebagai produk halal dan tayib dengan nilai tambah ilmiah, etis, dan ekonomi.

Tren pasar dan inovasi teknologi minuman rendah gula

Tren pasar minuman rendah gula berkembang pesat dengan berbagai klaim kesehatan, seperti low sugar (rendah gula), no added sugar (tanpa penambahan gula), serta reduced calorie (pengurangan kalori). Klaim-klaim ini mencerminkan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kandungan gizi dan dampak kesehatan jangka panjang dari produk yang dikonsumsi. Seiring dengan tren tersebut, inovasi teknologi dalam pengembangan minuman rendah gula juga semakin beragam, antara lain:

z Penggunaan pemanis alternatif Industri beralih dari sukrosa ke pemanis rendah kalori atau nonkalori, baik pemanis alami (seperti stevia, monk fruit, dan tagatose) maupun pemanis intensif lainnya, dengan tantangan utama pada profil rasa, aftertaste, dan stabilitas produk.

z Reformulasi produk Reformulasi produk melalui

kombinasi pemanis, pengatur rasa, dan bulking agents untuk menurunkan kadar gula tanpa menurunkan penerimaan konsumen secara signifikan.

z Pendekatan berbasis proses Pendekatan berbasis proses, seperti modifikasi matriks pangan, enkapsulasi pemanis, dan controlled sweetness release.

z Integrasi komponen fungsional Integrasi komponen fungsional, seperti prebiotik, probiotik, atau senyawa bioaktif, untuk memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa minuman rendah gula memiliki

kompleksitas formulasi dan proses yang tinggi, sehingga membuka ruang diskusi mengenai aspek kehalalan dan titik kritis halal dalam pengembangannya.

Titik kritis halal dalam pengembangan minuman rendah gula

Di balik klaim menyehatkan dan inovasi teknologi yang menyertai minuman rendah gula, terdapat sejumlah titik kritis halal yang perlu mendapat perhatian serius.

Kompleksitas formulasi dan proses produksi menjadikan minuman rendah gula sebagai produk dengan risiko halal yang tidak selalu terlihat secara kasat mata. Oleh karena itu, pendekatan halal

pada produk ini tidak cukup hanya berhenti pada bahan utama, tetapi harus mencakup keseluruhan rantai produksi (halal supply chain).

1. Titik Kritis pada Bahan Pemanis

Penggunaan pemanis alternatif merupakan strategi utama dalam pengembangan minuman rendah gula. Namun, pemanis ini justru menjadi salah satu sumber titik kritis halal yang signifikan. Pemanis alami hasil ekstraksi (misalnya stevia atau monk fruit) berpotensi menjadi titik kritis pada pelarut ekstraksi (misalnya etanol), bahan pembantu proses (processing aids), serta tahapan pemurnian dan pengeringan. Pemanis hasil bioteknologi atau fermentasi

(seperti tagatose atau pemanis berbasis mikroba) memiliki titik kritis pada sumber substrat fermentasi, media pertumbuhan mikroorganisme, serta penggunaan enzim yang mungkin berasal dari sumber non-halal. Meskipun secara kimia “sederhana”, proses produksinya sering panjang dan melibatkan bahan tambahan yang tidak tercantum pada label akhir.

2. Titik Kritis pada Bahan Tambahan Pangan (BTP)

Untuk mempertahankan karakteristik sensori dan stabilitas produk, minuman rendah gula umumnya

menggunakan berbagai BTP, seperti penstabil, pengental, pengemulsi, pengatur keasaman, serta perisa. Beberapa titik kritis halal yang perlu diperhatikan meliputi asal bahan baku BTP (nabati, hewani, atau sintetik), sumber enzim atau katalis dalam proses produksinya, serta kemungkinan kontaminasi silang selama produksi massal. Bahan perisa, khususnya, sering menjadi titik kritis tersembunyi karena dapat melibatkan pelarut alkohol atau senyawa turunan yang tidak selalu jelas status kehalalannya.

3. Titik Kritis pada Proses Produksi dan Teknologi

Inovasi teknologi dalam minuman rendah gula, seperti enkapsulasi pemanis, modifikasi matriks pangan, atau penggunaan controlled release system, juga membuka potensi titik kritis halal pada aspek proses, antara lain penggunaan bahan penyalut (coating materials) dalam enkapsulasi, bahan pembantu pada proses pemanasan, pengeringan, atau filtrasi, serta penggunaan fasilitas produksi bersama (shared facilities) dengan produk non-halal. Pada tahap ini, isu halal tidak hanya berkaitan

dengan “apa bahannya”, tetapi juga bagaimana dan di mana bahan tersebut diproses.

4. Titik Kritis pada Klaim dan Konsep Tayib

Selain halal, tayib menekankan aspek keamanan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Titik kritis tayib dapat muncul apabila penggunaan pemanis intensif menimbulkan efek kesehatan jangka panjang yang masih diperdebatkan, klaim sehat tidak didukung oleh data ilmiah yang memadai, atau produk mengandung bahan tambahan berlebihan meskipun rendah gula. Dengan

demikian, klaim menyehatkan pada minuman rendah gula perlu dikaji secara ilmiah agar sejalan dengan prinsip halal dan tayib.

5. Implikasi terhadap Pengawasan dan Inovasi Halal

Identifikasi titik kritis halal pada minuman rendah gula menunjukkan bahwa pendekatan halal konvensional berbasis dokumen saja tidak selalu memadai. Kompleksitas bahan dan proses menuntut sistem pengawasan yang lebih berbasis sains, metode analisis yang cepat dan akurat, serta integrasi teknologi dalam audit dan autentikasi halal (laboratorium forensik). Kondisi ini membuka peluang besar bagi pengembangan halal science and technology, khususnya pada industri minuman rendah gula yang terus berkembang di pasar global.

Halal dan tayib sebagai strategi minuman rendah gula

Di pasar domestik Indonesia, industri minuman rendah gula yang mengintegrasikan klaim menyehatkan dengan jaminan halal dan tayib memiliki daya saing tinggi. Meningkatnya literasi konsumen mendorong kebutuhan akan produk yang transparan asal bahannya, aman prosesnya, serta bertanggung jawab secara ilmiah dan etis. Dalam konteks ini, halal dan tayib berfungsi sebagai trust marker yang memperkuat jenama dan loyalitas konsumen.

Peluang ekspor minuman rendah gula berbasis halal dan tayib juga terbuka lebar, khususnya ke negaranegara OKI (Organisasi Kerja Sama Islam), serta pasar global yang semakin sensitif terhadap isu clean label, ethical production, dan sistem pangan berkelanjutan. Pada tingkat internasional, halal tidak lagi dipahami

semata sebagai atribut religius, melainkan sebagai standar kualitas dan keamanan pangan lintas budaya. Ketika dipadukan dengan konsep tayib, produk minuman rendah gula berpotensi masuk ke segmen pasar bernilai tambah dan premium.

Namun, peluang pasar tersebut tidak dapat dicapai melalui strategi komunikasi dan labelisasi semata. Diperlukan riset dan pengembangan yang terintegrasi antara inovasi teknologi pangan dan prinsip halal–tayib sejak tahap desain produk. Pengembangan pemanis alternatif, reformulasi, hingga penerapan teknologi proses lanjut harus mempertimbangkan titik kritis halal serta implikasi tayib secara ilmiah. Pada tahap ini, halal forensic science berperan strategis dalam verifikasi bahan, proses produksi, serta autentikasi klaim halal berbasis data.

Integrasi antara R&D produk, halal forensik, dan sistem jaminan halal memungkinkan industri bergerak menuju pendekatan halal by design dan tayib by science. Dengan demikian, minuman rendah gula tidak hanya menjadi solusi kesehatan, tetapi juga representasi arah baru industri pangan halal yang berdaya saing, berkelanjutan, dan relevan bagi pasar nasional maupun ekspor.

Referensi:

Zhang, G., Zhang, L., Ahmad, I., Zhang, J., Zhang, A., Tang, W., & Lyu, F. (2024). Recent advance in technological innovations of sugar-reduced products. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 64(15), 5128-5142.

Showole, R., Jaiyeoba, H. B., Jamaludin, M. A., Busari, S. A., & Hazahari, N. Y. (2024). Public health policy, noncommunicable diseases (NCDs) and food or substance control: A Halalan-Tayyiban perspective. Journal of Halal Industry & Services, 7(1).

Gabungan Produsen

Makanan Minuman Indonesia

GAPMMI Karya Pangan Gelar Pelatihan Registrasi Pangan Olahan Tingkat Kesulitan I

PT GAPMMI Karya Pangan

menyelenggarakan Pelatihan

Registrasi Pangan Olahan Tingkat

Kesulitan I (RO Junior) – Batch 1, yang diikuti oleh 37 calon registration officer mulai skala UMKM hingga perusahaan besar.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai regulasi registrasi pangan olahan, melatih peserta dalam penyusunan, verifikasi, dan input dokumen registrasi produk serta mendorong kepatuhan industri terhadap standar keamanan pangan, label gizi, serta penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP).

Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman dalam sambutannya,

menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar forum pembelajaran teknis, melainkan bagian dari komitmen organisasi untuk memastikan industri pangan olahan Indonesia mampu memenuhi standar regulasi dengan baik. Ia menekankan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah membekali para pelaku usaha dengan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam proses registrasi, sehingga produk pangan olahan yang dihasilkan tidak hanya patuh terhadap ketentuan hukum, tetapi juga memberikan jaminan keamanan, mutu, dan kepercayaan bagi konsumen dan masyarakat luas.

Selama tiga hari, para peserta dibimbing oleh para narasumber dari Direktorat Pengawasan Produksi

Foto bersama peserta pelatihan

Pangan Olahan, Direktorat Standardisasi

Pangan Olahan dan Direktorat Registrasi

Pangan Olahan BPOM RI. Peserta mengikuti e-learning mandiri mengenai peraturan registrasi pangan olahan. Di hari berikutnya adalah pre-test, serta pemaparan regulasi terkait CPPOB, PMR, kategori pangan, cemaran, BTP, dan label gizi. Di hari ke-2, dilakukan praktik registrasi akun perusahaan dan produk pangan olahan (baru maupun variasi) dengan pendampingan Dit. RPO dan di hari terakhir, diadakan fun game, praktik input data, post-test, verifikasi label pangan, serta penutupan dengan pengumuman peserta terbaik.

Dengan total 25 Jam Pelajaran (JP), pelatihan ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana peningkatan pengetahuan, tetapi juga memberikan manfaat yang komprehensif bagi seluruh peserta. Melalui rangkaian materi yang terstruktur, peserta diharapkan memperoleh keterampilan teknis yang lebih mendalam dalam proses registrasi pangan olahan, mulai dari pemahaman regulasi, tata cara pengajuan, hingga praktik terbaik dalam penyusunan dokumen pendukung. Selain itu, pelatihan ini juga menghadirkan simulasi nyata yang memungkinkan peserta untuk berlatih secara langsung dalam melakukan input data, melakukan verifikasi dokumen, serta menyusun label pangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga mereka dapat merasakan pengalaman praktis yang mendekati kondisi lapangan. Pelatihan ini juga diharapkan dapat menjadi wadah interaktif untuk membangun

jejaring antara pelaku usaha dan regulator, sehingga tercipta komunikasi yang lebih efektif, kolaborasi yang berkelanjutan, serta penguatan ekosistem pangan olahan yang aman, berkualitas, dan berdaya saing tinggi di pasar domestik maupun internasional. Dengan demikian, pelatihan ini bukan hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada pengembangan kapasitas, peningkatan kepercayaan diri, serta pembentukan sinergi yang akan mendukung keberlanjutan industri pangan olahan di Indonesia. Melalui pelatihan ini, PT GAPMMI

Karya Pangan menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung kepatuhan regulasi dan peningkatan daya saing industri pangan olahan Indonesia. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, diharapkan peserta mampu mengimplementasikan standar registrasi pangan olahan secara konsisten, sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya memenuhi ketentuan hukum, tetapi juga memberikan jaminan keamanan dan kualitas bagi masyarakat. Fri-27

Sekretariat GAPMMI

ITS Office Tower Lt. 8 Unit 16, Nifarro Park

Jl. Raya Pasar Minggu KM. 18, Jakarta Selatan 12510 Telp/Fax. (021) 29517511; Mobile. 08119322626/27 Hp. 08156720614

Email: gapmmi@cbn.net.id Website: www.gapmmi.id

Tantangan dan Inovasi Teknologi Minuman Protein Nabati

PT Teknologi Nutrimen Sehat (Arummi Foods)

Memasuki 2026, inovasi pangan fungsional semakin dituntut untuk menjawab kebutuhan kesehatan, keberlanjutan, dan preferensi konsumen. Protein nabati muncul sebagai salah satu kandidat utama, khususnya dalam bentuk minuman siap konsumsi, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas protein, sifat fisikokimia, stabilitas zat gizi, serta rekayasa proses yang tepat. Dalam konteks tersebut, pengembangan minuman protein nabati memerlukan pendekatan ilmiah yang terpadu antara gizi, teknologi proses, dan karakteristik unik bahan baku lokal.

Produk tinggi protein juga dapat memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga mencegah konsumsi makanan berlebihan dan membantu penurunan berat badan. Produk dengan jenis protein keratin dan kolagen mendukung kesehatan rambut dan kulit.

Protein whey yang merupakan protein hewani telah banyak digunakan sebagai bahan baku minuman tinggi protein. Seiring berkembangnya tren dan kebutuhan produk vegan, protein nabati juga mulai dikembangkan. Salah satu tantangan protein nabati adalah kualitas protein. Berdasarkan parameter

Digestible Indispensable Amino Acid Score (DIAAS) yang menggambarkan kualitas protein, protein kedelai dianggap paling mendekati dengan protein hewani (Herreman et al., 2020), sehingga secara global pengembangan produk dan teknologi prosesnya terbilang sudah lebih matang. Hal ini tidak membatasi penggunaan protein nabati dari sumber lain, namun justru memberi peluang untuk mengombinasikan lebih dari satu sumber protein yang dapat saling melengkapi. Sebagai contoh, protein

kacang polong tinggi akan asam amino lisin, tapi kekurangan asam amino metionin+sistein, sedangkan protein gandum sebaliknya. Protein kacang polong dan protein gandum masingmasing memiliki DIAAS 70 dan 48. Ketika protein kacang polong dan protein gandum dicampur dengan rasio 60:40, parameter DIAAS campurannya adalah 85. Artinya, kualitas protein campuran lebih tinggi dari masingmasing protein penyusunnya (Herreman et al., 2020).

Bergantung pada sumber bahan baku dan teknologi prosesnya, minuman berbasis protein nabati mengandung serat, lemak tak jenuh, mikronutrien, dan/atau komponen bioaktif. Xing et al. (2020) melakukan studi fraksinasi protein dari kacang polong dan lentil dengan metode air classification yang menghasilkan fraksi dengan sekitar 50% protein dan sekitar 20% serat. Dengan metode yang sama diterapkan pada chickpea, fraksi yang dihasilkan mengandung sekitar 30% protein

dan 10% lemak, yang sebagian besar merupakan lemak tak jenuh. Isolat protein kedelai pada studi Shao et al. (2009) mengandung isoflavon sebanyak 9.113 – 17.918 nmol/gram, yang menunjukkan 67% perolehan dari total isoflavon yang terkandung pada tepung kedelai sebelum proses ekstraksi protein.

Dalam pengolahan produk ready to drink (RTD), proses termal diterapkan untuk memastikan produk stabil selama masa penyimpanan. Karena itu, ketahanan kandungan nutrien atau komponen bioaktif dari bahan baku terhadap panas perlu dievaluasi. Sebagai contoh, pada kacang, mineral tembaga dan magnesium lebih tahan terhadap temperatur tinggi dibandingkan vitamin K. Data dan studi mengenai stabilitas zat gizi dan interaksinya dengan bahan baku lain berperan penting dalam pengembangan konsep dan formulasi agar manfaat produk minuman fungsional dapat dikomunikasikan kepada konsumen secara tepat sasaran.

Potensi sumber protein nabati lokal

Sumber protein nabati yang banyak digunakan dalam industri minuman saat ini sebagian besar berasal dari bahan baku impor seperti kedelai, kacang polong, lentil, dan faba bean. Studi mengenai ekstraksi, fungsionalitas, dan manfaat kesehatannya pun telah banyak dilakukan. Namun, kondisi ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan sumber protein lokal. Pengembangan

bahan baku lokal tidak hanya mendukung kemandirian pangan, tetapi juga memberdayakan komunitas lokal, memperkaya diversifikasi sumber protein, serta memberikan nilai tambah ekonomi.

Kacang mede atau kacang hijau adalah contoh di antara bahan baku yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku minuman fungsional. Kacang mede mengandung 18-20% protein, lemak tak jenuh yang didominasi oleh asam oleat, serta mineral-mineral penting, seperti tembaga, magnesium, dan zat besi. Sementara itu, kacang hijau mengandung 20-30% protein, sekitar 10% serat, dan kaya akan folat dan polifenol.

Berdasarkan data dari Kementerian

Pertanian, Indonesia menghasilkan

156.000 ton kacang mede per tahun yang sebagian besar diperuntukkan untuk ekspor. Sementara itu, produksi kacang hijau rata-rata sebesar 189.000 ton. Inovasi pengolahan pada sektor hilir—misalnya pengembangan minuman siap minum berbasis protein nabati—dapat mendorong pemanfaatan domestik dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Karakteristik minuman protein nabati

Penyusun utama struktur protein adalah rantai asam amino. Perbedaan sumber protein dan kondisi pemrosesan memengaruhi konformasi struktur tiga

dimensi protein sehingga menghasilkan karakteristik dan fungsi protein tertentu. Produk susu sapi merupakan matriks emulsi yang stabil dan homogen karena struktur protein kasein yang berupa misel dapat mencegah pemisahan fasa antara lemak dan air. Sementara itu, protein nabati umumnya berbentuk globular sehingga membutuhkan tambahan bahan atau perlakuan proses untuk mencapai stabilitas emulsi dan tekstur yang diinginkan. Dalam pembuatan produk siap minum, bahan hidrokoloid umum digunakan. Hidrokoloid adalah bahan tambahan pangan yang aman digunakan yang memiliki berbagai fungsi, seperti meningkatkan viskositas, meningkatkan formasi gel, dan memodifikasi mouthfeel. Pendekatan teknologi proses juga dapat dilakukan untuk memodifikasi karakteristik protein nabati agar sesuai untuk produk minuman. Boye et al. (2009) menunjukkan kelarutan konsentrat protein lentil lebih tinggi ketika diekstraksi dengan metode ultrafiltrasi dibandingkan dengan pengendapan isoelektrik. Berdasarkan studi oleh Zhao et al. (2023), protein kacang polong memiliki tingkat kelarutan dan kemampuan emulsifikasi lebih rendah dari isolat protein whey. Namun, fungsionalitas protein kacang polong meningkat setelah diberi perlakukan proses tambahan, seperti perubahan pH dan ultrasound, yang dapat memodifikasi ikatan kovalen dan non-kovalen antar protein serta memengaruhi adsorpsi protein pada antarmuka lemak dan air.

Salah satu tantangan pengembangan minuman protein nabati di Indonesia adalah mendapatkan profil sensori yang sesuai. Protein dari kedelai atau kacang polong umumnya memiliki rasa langu yang kurang bisa diterima oleh konsumen. Hal ini semakin memperkuat dibutuhkannya protein nabati dari sumber lokal yang diproses dengan optimal untuk menghasilkan produk minuman protein yang sesuai dengan preferensi sensori dan kultur masyarakat Indonesia.

Referensi:

Boye, J.I., Aksay, S., Roufik, S., Ribéreau, S., Mondor, M., Farnworth, E. and Rajamohamed, S.H., 2010. Comparison of the functional properties of pea, chickpea and lentil protein concentrates processed using ultrafiltration and isoelectric precipitation techniques. Food Research International, 43 (2), pp.537-546.

Herreman, L., Nommensen, P., Pennings, B. and Laus, M.C., 2020. Comprehensive overview of the quality of plant-And animal-sourced proteins based on the digestible indispensable amino acid score. Food science & nutrition, 8 (10), pp.5379-5391.

Shao, S., Duncan, A.M., Yang, R., Marcone, M.F., Rajcan, I. and Tsao, R., 2009. Tracking isoflavones: From soybean to soy flour, soy protein isolates to functional soy bread. Journal of functional foods , 1(1), pp.119127.

Xing, Q., Utami, D.P., Demattey, M.B., Kyriakopoulou, K., de Wit, M., Boom, R.M. and Schutyser, M.A., 2020. A two-step air classification and electrostatic separation process for protein enrichment of starchcontaining legumes. Innovative Food Science & Emerging Technologies , 66, p.102480.

Zhao, R., Fu, W., Li, D., Dong, C., Bao, Z. and Wang, C., 2024. Structure and functionality of whey protein, pea protein, and mixed whey and pea proteins treated by pH shift or high-intensity ultrasound. J ournal of Dairy Science , 107(2), pp.726-741.

https://perkebunan.bsip.pertanian.go.id/berita/kacangmete-komoditas-potensial-di-lahan-marginal https://satudata.pertanian.go.id/assets/docs/publikasi/ NL_MEI_2024_(1).pdf

FRONT-OF PACK NUTRITION LABELLING: Pembelajaran dari Implementasi di Berbagai Negara

Oleh Angeline Arifin

MSc student University of Melbourne & Cynthia Andriani

PhD Cand. University of Auckland

Memasuki 2026, kebutuhan akan informasi gizi yang lebih jelas dan mudah dipahami menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tantangan kesehatan masyarakat. Front-of-Pack Nutrition Labelling (FOPNL) menawarkan peluang strategis untuk menjawab kebutuhan tersebut. Dengan menyajikan informasi gizi secara ringkas di bagian depan kemasan, FOPNL membantu konsumen membandingkan produk dengan cepat dan membuat pilihan yang lebih menyehatkan.

Ada berbagai jenis

sistem FOPNL

yang digunakan di seluruh dunia, di antaranya sistem penilaian

seperti Health Star Rating di Australia dan Selandia Baru

serta Nutri-Score di Eropa, label berwarna seperti Traffic Light

System di Inggris, label peringatan

seperti label tinggi gula atau natrium di Chile dan Meksiko, serta logo Healthier Choice Symbol di Singapura.

Implementasi FOPNL ini memiliki peranan penting dalam mengatasi permasalahan gizi dengan membantu konsumen mengidentifikasi produk sesuai dengan kebutuhannya. Dengan penyajian informasi yang mudah dibaca di bagian depan kemasan, konsumen dapat membuat pilihan yang lebih baik, sehingga dapat mengurangi risiko obesitas dan penyakit terkait pola konsumsi yang buruk. Selain itu, sistem FOPNL ini juga mendorong reformulasi

produk pangan, meningkatkan kualitas gizi produk agar memenuhi batasan profil gizi yang lebih menyehatkan. Berbagai negara telah mengembangkan dan menerapkan sistem Front-of-Pack Nutrition Labelling (FOPNL) dengan pendekatan yang berbeda-beda sesuai konteks regulasi, karakteristik konsumsi, serta tujuan kesehatan masyarakat masing-masing. Dengan meninjau penerapan FOPNL di berbagai negara (Tabel), dapat diperoleh referensi yang bermanfaat bagi upaya pengembangan sistem pelabelan gizi di Indonesia.

Sistem FOPNL di berbagai negara

Singapura

Elemen utama dari sistem pelabelan pangan di Singapura mencakup: label Nutri Grade, Healthy Choice Symbol (HCS), informasi nilai gizi, klaim kesehatan dan gizi, dan informasi alergen. Di antara kelima elemen tersebut, HCS merupakan sistem FOPNL sukarela atau voluntary di bawah otoritas Health Promotion Board (HPB). Logo HCS diberikan pada produk yang dinilai lebih menyehatkan dibandingkan pilihan lainnya, mencakup: tinggi

Tabel. Implementasi FOPNL di berbagai negara

Sumber: www.hpb.gov.sg, www.healthhub.sg (Singapura), www.food.gov.uk (Inggris), www.foodstandards.gov.au (AUS-NZ)

gandum utuh, bebas lemak trans, rendah lemak jenuh, tinggi kalsium, rendah gula, rendah garam, dan tanpa gula atau garam tambahan. Logo HCS telah diterapkan pada lebih dari 100 kategori pangan. Healthy Dining (HD) adalah ekspansi sistem HCS terhadap sektor jasa boga seperti restoran dan kedai makanan.

FOPNL yang bersifat wajib di Singapura yaitu sistem Nutri Grade yang

berlaku sejak akhir tahun 2022 dan difokuskan terhadap produk minuman. Sistem ini ditujukan supaya konsumen dapat mengidentifikasi mutu gizi produk berdasarkan kandungan gula dan lemak jenuh. Produk minuman tersebut mencakup minuman kemasan siap minum (ready-to-drink), minuman bubuk atau konsentrat, minuman dari dispenser, dan minuman yang disiapkan di tempat. Terdapat lima kategorisasi

produk berdasarkan sistem Nutri Grade (A-D), di mana grade A merupakan produk minuman dengan kandungan gula dan lemak jenuh yang paling rendah. Produk dengan grade A dan B memenuhi syarat untuk mendapatkan logo HCS, sementara produk grade C dan D wajib untuk mencantumkan label nilai Nutri Grade.

Sistem FOPNL Healthier Choice Symbol (HCS) dan Nutri Grade di Singapura ini secara sinergis dapat mempromosikan pilihan produk pangan yang lebih menyehatkan. HCS membantu konsumen mengidentifikasi berbagai kategori produk pangan olahan termasuk food service yang lebih menyehatkan, sementara Nutri Grade berfokus pada minuman khususnya kandungan gula dan lemak jenuh. Kedua sistem FOPNL ini mempengaruhi perilaku konsumen untuk membuat pilihan yang lebih menyehatkan melalui indikator kualitas gizi yang jelas. Selain itu, sistem pelabelan ini mendukung terciptanya lingkungan yang sadar kesehatan, mendorong perubahan dalam industri, dan mempromosikan peningkatan kesehatan masyarakat jangka panjang di Singapura.

Jepang

Hingga saat ini, inisiasi penerapan FOPNL di Jepang masih dalam pertimbangan oleh Consumer Affairs Agency (CAA). Sementara itu, sistem pelabelan pangan yang berlaku di Jepang mencakup elemen utama berikut: label informasi zat gizi, informasi alergen, klaim nilai fungsional (Food with

Functional Claims/FCC), klaim manfaat kesehatan produk (Food for Specified Health Uses/ FOSHU), informasi asal usul ingridien, serta tanggal kedaluwarsa. Baik FCC dan FOSHU, keduanya memerlukan bukti pendukung ilmiah dan persetujuan berdasarkan evaluasi oleh CAA Jepang. Menariknya, elemen-

elemen substansial tersebut umumnya diletakkan pada bagian belakang kemasan sehingga tidak mudah untuk dilihat oleh konsumen. Sebuah studi konsumen di Jepang oleh Wakui et al. (2023) melaporkan bahwa model pelabelan pangan yang berlaku saat ini menyebabkan banyak konsumen

di Jepang sulit membuat keputusan berdasarkan kandungan gizi produk pangan.

Beberapa alternatif strategi penerapan sistem FOPNL di Jepang yaitu dengan menampilkan informasi nilai gizi produk makan pada bagian depan kemasan pangan serta penerapan

sistem pelabelan Traffic Light Front (TLF). Hal ini didukung oleh data studi konsumen di Jepang yang menunjukkan preferensi responden terhadap sistem TLF atau pelabelan gizi berwarna pada kemasan. Sistem TLF sendiri telah diterapkan di Inggris yaitu dengan menggunakan warna indikator merah, kuning, dan hijau untuk menunjukkan kandungan lemak, lemak jenuh, gula, dan garam dalam produk. Warna hijau menunjukkan kandungan rendah, sedangkan kuning dan merah menunjukkan kandungan sedang dan tinggi. Penggunaan label TLF sebagai alat evaluasi produk ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran konsumen terhadap komponen gizi serta mendorong pola makan yang lebih menyehatkan.

Australia dan Selandia Baru

Health Star Rating (HSR), informasi nilai gizi dan alergen, klaim kesehatan dan gizi, informasi asal usul ingridien, dan tanggal kedaluwarsa merupakan elemen utama dari sistem pelabelan pangan yang berlaku di Australia dan Selandia Baru. HSR merupakan sistem FOPNL yang bersifat sukarela dan dikelola oleh Food Standards Australia dan New Zealand (FSANZ) sejak tahun 2014 berdasarkan evaluasi profil gizi produk pangan olahan. Produk pangan yang tinggi energi, lemak jenuh, gula, dan natrium mendapatkan skor lebih rendah, sedangkan produk yang kaya protein, serat, buah, sayur, dan kacangkacangan mendapat skor lebih tinggi. Hasil akhir dari evaluasi profil gizi

tersebut akan dikonversi menjadi peringkat bintang (0,5 - 5 bintang) untuk menunjukkan seberapa sehat suatu produk. Kalkulator HSR dan panduan industri dapat diakses melalui situs resmi Health Star Rating System. Hingga saat ini, penerapan sistem HSR masih belum merata. Produk yang memiliki peringkat lebih tinggi cenderung menampilkan HSR dibandingkan dengan produk berperingkat rendah dengan tingkat adopsi HSR masing-masing 90% dan 5% (Keaney et al., 2024). Hal ini menunjukkan adanya ketidakinginan produsen untuk mencantumkan peringkat HSR jika produknya memiliki peringkat rendah. Dampak dari selektivitas sistem HSR oleh produsen yaitu menurunnya efektivitas HSR sebagai acuan objektif masyarakat dalam mengenali pilihan produk yang lebih menyehatkan. Selain itu, HSR bisa mengalami malfungsi sebagai alat pemasaran saja jika hanya produk sehat saja yang berani menunjukkan peringkat, sementara produk kurang menyehatkan lebih sulit teridentifikasi.

Beberapa industri juga menilai regulasi ini masih kurang jelas dan memerlukan sosialisasi lebih lanjut. Meski demikian, upaya perbaikan terus dilakukan, termasuk wacana penerapan Nutri-Level Traffic Light System Labelling untuk pangan olahan guna meningkatkan efektivitas FOPNL. Hampir mirip dengan sistem Nutri Grade di Singapura, Nutri-level ini terdiri dari level A (hijau tua), B (hijau muda), C (kuning), dan D (merah) yang

merepresentasikan tinggi rendahnya kandungan sodium, lemak, dan gula dalam produk olahan pangan. Implementasi Nutri-level ini direncanakan untuk dilakukan secara bertahap dimulai dari kategori minuman dalam kemasan, serta beriringan dengan kedua program FOPNL yang sudah ada.

Penutup

Perbandingan sistem FOPNL menunjukkan bahwa sistem seperti label Traffic Light, Star Rating, atau Nutri-Score memiliki efektivitas yang bervariasi dalam mempengaruhi pilihan konsumen. Format yang jelas, sederhana, dan menggunakan kode warna cenderung lebih efektif dalam memandu konsumen untuk memilih produk yang lebih menyehatkan. Sistem yang diwajibkan oleh pemerintah memastikan konsistensi dan penerapan yang lebih luas, sementara partisipasi sukarela (opsional) seringkali menghasilkan implementasi yang tidak merata, yang dapat mengurangi dampak keseluruhan. Selain itu, penting untuk meningkatkan edukasi konsumen dalam memahami cara membaca label dengan benar, sehingga informasi gizi yang disajikan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Tren masa depan FOPNL juga mengarah pada pemanfaatan inovasi digital, seperti penggunaan kode QR yang menghubungkan konsumen dengan informasi gizi yang lebih rinci, transparan, dan mudah diperbarui. Di samping itu, diperlukan kebijakan yang lebih ketat terhadap klaim kesehatan yang menyesatkan, agar konsumen memperoleh informasi yang akurat dan dapat dipercaya.

Pada akhirnya, akses dan penerapan FOPNL yang lebih jelas, konsisten, dan mudah dipahami akan mendorong konsumen membuat keputusan yang lebih bijak sesuai dengan kebutuhan kesehatannya.

Referensi:

Wakui, et al. (2023). Effectiveness of Displaying Traffic Light Food Labels on the Front of Food Packages in Japanese University Students: A Randomized Controlled Trial. International journal of environmental research and public health, 20(3), 1806. Keaney, et al. (2024). Selective industry adoption of a voluntary front-of-pack nutrition label results in low and skewed uptake: 10-year results for the Health Star Rating. Eur J Clin Nutr 78, 916–918.

MINI DIREKTORI

PT REL-ION STERILIZATION SERVICES

Eliminasi Bakteri Patogen, Sterilisasi, Polimerisasi

021-88363728, 021-8836 3729 021-88321246

yayuk@rel-ion.co.id www.rel-ion.com

GNT Group B.V.

EXBERRY® is the leading brand of Coloring Foods for the food and beverage industry. Coloring Foods are made from fruits, vegetables, and edible plants using a physical manufacturing process processed with water.

+65 6659 4180

info-singapore@gnt-group.com www.exberry.com

PTOgawaIndonesia

Ogawa & Co., Ltd. utilizes Japanese natural materials creating flavors and fragrances

021-8904218-19 / +62-811-1977-846

ade.auliya@ogawa-ogi.net

https://www.ogawa.net/en/

PT. Mitra Kualitas Abadi (Catalyst Consulting) Training, Consulting, Assesment/audit, Mystery Shopping Provider 021-3952 4220 +62 813-8250-7245

info@catalystconsulting.id www.catalystconsulting.id Catalyst Consulting consulting.catalyst Catalyst Consulting

LabIndonesia

The Only Platform for Future Lab Technology & Chemicals for Medical, Pharma, Education & Scientific Research in Indonesia

+ 62 21 2525 320 www.lab-indo.com

IG lab_indonesia Lab Indonesia

BENEO Asia Pacific Pte. Ltd.

+65-6778-8300

contact@beneo.com

10 Science Park Road #03-21 / 22 / 23 / 24 117684 Singapore

PT KH ROBERTS INDONESIA

At KH Roberts, we leverage our deep expertise in flavour science and strong understanding of consumers’ needs to craft future flavours that deliver delight to consumers around the world.

021 87900778 / 021 89700723

info.id@kh-roberts.com

www.kh-roberts.com

https://www.linkedin.com/company/kh-roberts/

PT. Brenntag

We are your food and nutrition partner for innovative and sustainable solutions

Graha Pratama Building, 17th Floor, Jl. M.T. Haryono Kav. 15 12810 Jakarta Selatan Indonesia

brenntag.com

Eriez Australia

Established in 1942, Eriez is a global leader in separation technologies. Our commitment to innovation has positioned us as a driving market force in several key technology areas, including magnetic separation, metal detection and material handling equipment.

+613 8401 7400

www.eriez.com

Balancing Safety, Nutrition and Health: Free Nutritious Meal Program

Industri pangan nasional kini menghadapi momentum transformatif seiring dengan implementasi kebijakan strategis Program Makan Bergizi Gratis. Di tengah ambisi besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tantangan teknis dalam operasionalisasi program ini menempatkan para pelaku industri pada posisi yang krusial. Dalam skala produksi massal, inovasi teknologi pangan dituntut untuk mampu menjawab kompleksitas logistik dan retensi zat gizi. Fokus utama kini bergeser pada bagaimana formulasi makanan dapat tetap padat gizi, rendah kontaminan, namun tetap memiliki palatabilitas yang tinggi bagi target sasaran. Kebutuhan akan bahan baku berkualitas, sistem pengemasan yang mampu memperpanjang masa simpan tanpa bahan pengawet berlebih, serta fortifikasi mikronutrien yang stabil terhadap proses pengolahan menjadi prioritas utama bagi inovator ingridien. Tantangan operasional yang dihadapi sangat beragam, mulai dari mitigasi risiko mikrobiologi dalam rantai pasok yang panjang, standarisasi kandungan kalori dan protein, hingga pengelolaan biaya produksi agar tetap kompetitif namun berkualitas unggul. Pemahaman mendalam mengenai manajemen keamanan pangan berbasis risiko, kepatuhan terhadap regulasi gizi terbaru, serta strategi efisiensi rantai pasok sangatlah krusial. FoodReview Indonesia edisi mendatang akan membahas topik ini secara komprehensif, memberikan panduan strategis bagi pelaku industri untuk berperan aktif sekaligus mengambil peluang dalam inisiatif besar yang akan membentuk masa depan kesehatan nasional ini.

Pemasangan iklan, pengiriman tulisan atau berita seputar teknologi dan industri pangan, silakan hubungi:

FOODREVIEW INDONESIA

telepon (0251) 8372333 | +62 811 1190 039

email: redaksi@foodreview.co.id & marketing@foodreview.co.id

Cantumkan nama lengkap, alamat, email dan nomor telepon Anda.

To

To advertise & be a webinar sponsor, contact us and book your schedule: Ms. Tissa Eritha - tissa@foodreview.co.id

Setiadi - andang@foodreview.co.id

-

SIGN UP TODAY TO RECEIVE YOUR FREE SUBSCRIPTION

If you have a friend or colleague who would be interested in receiving FoodReview Indonesia, please feel free to share the latest issue, and our special digital subscription offer with them today. SIGN UP

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook