__MAIN_TEXT__

Page 1

FOODREVIEW

VOL. XVI

I

No. 1

N

JANUARI 2021

D

O

N

E

S

PROSPEK INDUSTRI PANGAN 2021 KECERDASAN BUATAN UNTUK INDUSTRI PANGAN 2021 RANTAI PENDINGIN INDUSTRI PANGAN 2021 KONDISI & STRATEGI UMKM PANGAN 2021

MENEROPONG Industri Pangan 2021

I

A


Season’s Greetings

Wishing you everlasting happiness, good health, success and joy. Happy New Year!


MENEROPONG INDUSTRI PANGAN 2021 Pangan adalah kebutuhan dasar manusia. Industri pangan -mencakup aktivitas produksi (oleh petani, peternak, pekebun, nelayan), pemanenan, pengolahan, pengemasan, pengangkutan, distribusi, konsumsi, dan akhirnya sampai ke pembuangannya- adalah industri dasar dan esensial bagi setiap bangsa. Industri pangan memainkan peran penting dalam kesehatan masyarakat, guna menunjang ketahanan pangan dan gizi bangsa. Secara global, tahun 2020 merupakan tahun yang penuh dengan peristiwa dan perubahan tak terduga. Industri pangan, secara khusus, harus mengatasi gangguan rantai pasok karena kebijakan pembatasan sosial di mana-mana, mengatasi kekurangan berbagai produk dan ingridien pangan, mengadopsi protokol kesehatan dalam proses produksinya, serta menyesuaikan dengan kebiasaan baru konsumennya. Pendek kata, pandemi COVID-19 telah mengubah banyak norma dan tradisi, dan bahkan memunculkan normal baru, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun harus dicatat, bahwa kondisi ini juga memaksa industri pangan untuk mempercepat berbagai inovasi dan aplikasi teknologi yang memungkinkan industri terus bisa beradaptasi dan berproduksi. Bagaimana Industri pangan 2021? Mengambil pelajaran dari pandemi COVID-19, industri pangan harus menyadari bahwa produk yang dihasilkan (produk pangan) bukan sekadar komoditas perdagangan saja, namun produk yang dikonsumsi masyarakat luas, sebagai penyedia gizi dan komponen lain yang esensial bagi kesehatan. Karena itu, industri pangan perlu secara proaktif berinvestasi pada upaya penyediaan pangan untuk kesehatan dan kebugaran yang lebih baik. Pangan (makanan dan minuman) untuk mendukung sistem kekebalan tubuh, mengurangi stres (meningkatkan suasana hati senang), dan

mempertahankan energi – misalnya- merupakan peluang baru yang menarik. Pandemi COVID-19 juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya keberlanjutan (sustainability). Industri pangan perlu berinovasi supaya proses produksi dan produk yang dihasilkannya memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Penurunan karbon, perbaikan siklus air, pengurangan sampah plastik, penggunaan kemasan ramah lingkungan, merupakan prakarsa yang perlu digalakkan. Lebih dari itu, konsumen sekarang mengharapkan transparansi yang lebih baik. Pada label, konsumen menuntut kejelasan informasi tentang asal bahan/ingridien pangan, karena konsumen menginginkan produk bersumber lokal, yang lebih berkelanjutan. Selain itu, secara operasional, industri pangan perlu mengantisipasi kebiasaan baru konsumen yang telah terbentuk selama 2020 yang akan tetap berlangsung – atau bahkan menguat pada tahun 2021. Antara lain, industri pangan perlu melengkapi diri dengan fasilitas yang memungkinkan untuk mengurangi interaksi manusia, pembelian/pemesanan daring, dengan tetap menjamin keamanan, gizi dan mutu pangan. Aneka gambaran industri pangan 2021 inilah yang diteropong Foodreview Indonesia dan disajikan pada edisi digital, edisi pertama, tahun 2021 ini. Semoga sajian edisi ini bisa bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Pemimpin Umum: Suseno Hadi Purnomo | Pemimpin Redaksi: Purwiyatno Hariyadi | Wakil Pemimpin Redaksi: Nuri Andarwulan Redaktur Pelaksana: Himma Ellisa | Pemimpin Perusahaan: Pratomodjati | Wakil Pemimpin Perusahaan: Hindah Muaris Pembaca Ahli: Desty Gitapratiwi | Staf Redaksi: Fitria Bunga Yunita, Fyantina Eka P. Sales, Advertising & Activities: Tissa Eritha | Business Development: Andang Setiadi | Desain & layout: Yanu Indaryanto IT dan Website: Gugun Hendi Gunawan | Keuangan: Kartini, Rafidatul Al Amani Penerbit: PT Media Pangan Indonesia Alamat PT Media Pangan Indonesia: Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 Telepon: (0251) 8372333, (0251) 8322732 | Fax: (0251) 8375754 Website: www.foodreview.co.id | E-mail: redaksi@foodreview.co.id, marketing@foodreview.co.id ISSN : 1907-1280 Redaksi menerima tulisan atau berita seputar teknologi dan industri pangan. Artikel sebaiknya disertai dengan foto pendukungnya dikirim via email redaksi atau pos. Redaksi berhak menyunting naskah sejauh tidak mengubah isinya. Tulisan yang dimuat akan mendapat imbalan.


daftar isi VOL. XVI

No. 1 Januari 2021

Kuis Foodreview Indonesia Digital #01 Halaman

69

6 FORUM 8 FOOD INFO

OVERVIEW 24

Meneropong Industri Pangan 2021 Pandemi virus korona di tahun 2020 telah menyebabkan perubahan di berbagai lini kehidupan seperti cara berbelanja, bersosialisasi, belajar hingga hiburan dan lainnya.

26

Prospek Industri Pangan 2021

32

Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan 2021

42

Industri Pangan Halal: Harapan Ekonomi Indonesia


APA & SIAPA Agroindustri............................12 Ajinomoto scholarship..............9 Beras.......................................55 Buffer stock.............................39

48 52

58

Kondisi & Strategi UMKM Pangan 2021 Tantangan Perbaikan Pangan & Gizi di Indonesia Penganekaragaman Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal: Tantangan 2021

ASOSIASI 56

Proyeksi Tantangan Industri Pangan 2021

TEKNOLOGI 64

Teknologi pangan lokal Siap Saji Untuk Penganekaragaman Pangan

COVID-19...............................10 Diversifikasi.............................55 Ekspor.....................................10 Food adulteration.....................8 Food counterfeiting..................8 Food fraud................................8 Gandum..................................13 GMTI.......................................43 Halal........................................50 IFI............................................20 IMF..........................................56 INDEF......................................26 Instan.......................................64 Jagung....................................68 Kacang hijau...........................66 Kecerdasan buatan.................33 Krista exhibition......................10 LPPOM....................................13 Milet........................................61 MUI.........................................16 Nasi instan..............................68 Pangan fungsional..................17 Pangan lokal...........................65 Plant-based meat....................18 Rantai pendingin.....................39 Recall.......................................14 SDGs.......................................53 Siap saji...................................49 Sorgum...................................67 Stunting..................................53 TEI..........................................21 UKM........................................48 Wasting...................................52


FO RU M

Topik Foodreview Indonesia 2021

Format Artikel Foodreview Indonesia

Dear Foodreview Indonesia, Saya adalah seorang pengajar di bidang ilmu dan teknologi pangan. Saya juga pembaca aktif Foodreview Indonesia. Saya berencana untuk ikut berkontribusi menulis di majalah Foodreview Indonesia, apakah bisa dibagikan topik di tahun 2021? Terima kasih.

Kepada Foodreview Indonesia Saya memiliki beberapa topik tulisan terkait dengan ilmu dan teknologi pangan. Saya ingin bertanya terkait apa saja syarat dan ketentuan (format) untuk dapat memublikasikan tulisan saya di Foodreview Indonesia? Terima kasih.

Bayu Jakarta

Jawab: Terima kasih atas ketertarikannya menulis di majalah kami. Untuk tahun 2021, topik tiga bulan ke depan adalah (i) trends and technology of beverages, (ii) functional food/functional ingredient, dan (iii) food flavors and colorants. Untuk topik selengkapnya, silakan kirim surel ke redaksi@foodreview.co.id

Sari Yogyakarta

Jawab Terima kasih atas ketertarikannya mengirim tulisan untuk media kami. Foodreview Indonesia menerima artikel bertema ilmu dan teknologi pangan dengan panjang artikel dibatasi maksimum 4 halaman (12,000 karakter), dengan font Times New Roman 12 spasi 1. Untuk keperluan tata letak dan editing, kami akan melakukan perubahan tanpa mengubah makna dan isi. Artikel yang ditulis kami harapkan disertai dengan nama penulis, lengkap dengan lembaga/perusahaan/ asosiasi tempat penulis berprofesi. Jika dipandang perlu, artikel bisa juga diberi tambahan daftar referensi – masksimal lima buah.

Q&A

Akses Gratis Baca Foodreview Indonesia Dear Foodreview Indonesia, Saya ingin mengonfirmasi terkait akses gratis baca majalah Foodreview Indonesia. Di mana saya dapat mengakses dan bagaimana caranya? Terima kasih. Evelyn Jakarta

Mulai edisi Januari 2021, majalah Foodreview Indonesia akan dapat diakses FREE, dibaca daring dan dapat diunduh, tanpa edisi cetak. Untuk dapat mengakses fitur ini, silakan isi data diri Anda di tautan berikut: https://bit.ly/FRIDIGITAL

KIRIMKAN KOMENTAR atau pertanyaan Anda ke Forum FOODREVIEW INDONESIA Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 atau melalui whatsapp: +62 811-1190-039, email redaksi@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat dan nomor telepon Anda. Semua surat yang masuk akan diedit terlebih dulu dengan tanpa mengubah maknanya.

6

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

7


FOOD INFO | Lintas Pangan

Tantangan Autentikasi Pangan

M

eningkatnya kesenjangan antara penawaran dan permintaan terhadap produk pangan telah memicu peningkatan kasus pemalsuan pangan secara global. Pemalsuan pangan mencakup upaya sengaja mengganti, menambah, mengubah atau merepresentasikan secara keliru suatu bahan dan/atau produk pangan, kemasan pangan, serta memberikan informasi tidak benar pada label demi keuntungan ekonomi. “Pemalsuan pangan telah menjadi perhatian produsen pangan, badan pengatur, serta organisasi ilmiah sejak lama. Pemalsuan pangan atau food fraud, food adulteration, dan food counterfeiting tidak hanya berkaitan dengan masalah ekonomi, tetapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemalsuan pangan sering menggunakan bahan-bahan yang tidak aman,” tutur Pengawas Farmasi dan Makanan Badan POM RI, Dr. Riswahyuli, S.Si.,M.P dalam Webinar Focus on Authenticity Testing yang diselenggarakan oleh PT Berca Niaga Medika - Instrument Solution Group (ISG) pada 8 Desember 2020 lalu. Bertambahnya laporan pemalsuan pangan akhir-akhir ini merupakan tantangan besar bagi produsen pangan. Karena beberapa bahan yang dipalsukan sulit diidentifikasi, industri pangan membutuhkan metode yang juga dapat menyaring kontaminan non-target untuk mengetahui asal bahan dan mencegah pencampuran yang disengaja maupun tidak disengaja ke dalam sampel produk pangan. Di lain sisi, pengujian autentikasi produk pangan merupakan salah satu pengujian yang relatif kompleks dan masih dalam tahap pengembangan di seluruh dunia. 8

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

“Relatif kompleks ini artinya dalam beberapa hal perlu dipertimbangkan dan sering kali menjadi tantangan sendiri dalam tahap pengujian. Hal tersebut di antaranya yakni kompetensi penguji, jejaring laboratorium, dan fasilitas laboratorium,” jelas Riswahyuli. Pengujian autentikasi, tambah Riswahyuli, merupakan uji multidisiplin, kolaborasi antara teknik, ilmu analitik, dan ilmu komputer yang harus dipahami secara holistik. Diperlukan pelatihan-pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi para analis. “Kita perlu transfer ilmu dan pembaharuan informasi terkait identifikasi senyawasenyawa baru hingga metode termutakhir. Namun yang tidak kalah penting, fasilitas laboratorium harus memadai, khususnya terkait instrumen dan perangkat lunak yang akan digunakan dalam uji. Karena berhubungan data yang cukup banyak, maka diperlukan instrumen dengan spesifikasi yang relatif tinggi,” pungkas Riswahyuli. Fri-37


FOOD INFO | Lintas Pangan

A

Ajinomoto Scholarship 2022

jinomoto Indonesia melalui Ajinomoto Foundation tahun 2022 ini kembali memberikan beasiswa program pascasarjana kepada mahasiswa/i Indonesia untuk melanjutkan studi di 7 Universitas pilihan yang ada di Jepang. Universitas yang bisa dipilih yaitu Tokyo University, Kyoto University, Ochanomizu University, Kagawa Nutrition University, Nagoya

University, Waseda University, & Tokyo Institute of Technology. Tawaran menarik dari perusahaan Jepang yang memproduksi bumbu masak, dan produk makanan, ini berupa beasiswa Program Master (S2) untuk bidang Ilmu Gizi & Teknologi Pangan. Informasi lebih lengkap dapat mengakses tautan berikut: https://www.ajinomoto.co.id/id/beasiswa

Video: Testimoni Ajinomoto Scholarship

VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

9


FOOD INFO | Lintas Pangan

Krista Exhibition Virtual Expo 2020: Ajang Promosi Global

K

rista Exhibition Virtual Expo 2020 resmi digelar pada 8-13 Desember 2020 lalu. Mengusung total lima sektor industri yaitu Eastfood Indonesia Virtual Expo, Virtual Jamu Herbal Expo, Virtual Seafood Show, Virtual Refritech Expo, dan Indo Licensing Virtual Expo 2020, keseluruhan dapat diakses secara virtual. “Pameran produk secara virtual ini adalah solusi pemasaran di masa pandemi dan membuka peluang ke mancanegara tanpa batas. Para pelaku usaha yang memamerkan produknya berkesempatan untuk dilihat secara global,” terang Chief Executive Officer PT Kristamedia, Daud D. Salim, dalam sambutan upacara pembukaan 8 Desember lalu. Daud menuturkan, adanya pameran secara virtual tersebut dapat menjadi jawaban atas kebutuhan promosi di era pandemi. Dengan kehadiran pameran virtual, peserta pameran dan pengunjung dapat memanfaatkan beragam fitur yang mempermudah komunikasi bisnis tanpa 10

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

terkendala waktu dan jarak. Dalam kesempatan yang sama, Menteri perdagangan RI, Agus Suparmanto juga menuturkan akibat adanya pandemi COVID-19 ini terjadi perlambatan ekonomi dan perdagangan global. Dengan adanya inovasi dan teknologi informasi yang berkembang saat ini, semua dapat bergerak ke dunia digital atau virtual, bertransformasi dari luring ke daring sehingga tetap kembali terhubung untuk menunjukkan eksistensi, mempromosikan, dan memasarkan seluruh keunggulan produk potensial Indonesia dengan tetap memperhatikan kebijakan protokol kesehatan. “Kegiatan ini merupakan terobosan untuk mendorong keberlanjutan dan peningkatan promosi produk Indonesia ke pasar global di masa pandemi. Semoga dengan adanya pameran semacam ini menjadi momentum bangkitnya geliat promosi dan ekspor produk dalam negeri,” tambah Agus. Secara khusus, Kepala Badan POM RI, Dr. Ir. Penny Lukito, juga menyatakan dukungannya


FOOD INFO | Lintas Pangan terhadap penyelenggaraan Virtual Jamu Herbal Expo 2020 sebagai ajang strategis untuk memfasilitasi, komunikasi, ekspolari, serta kolaborasi antar pelaku usaha, regulator atau pemerintah, peneliti, dan masyarakat dalam melestarikan produk-produk lokal Indonesia khususnya jamu dan herbal. “Badan POM berkomitmen untuk menerapkan keberpihakan khususnya pada UMKM dengan tentunya tetap mengutamakan aspek keamanan, mutu dan khasiat dari obat (herbal dan tradisional) dan makanan untuk perlindungan kesehatan masyarakat juga mendorong ekonomi nasional. UMKM yang lentur terhadap krisis terhadap pemulihan ekonomi nasional,” jelas Penny. Dukungan Badan POM terkait kemudahan berusaha antara lain berupa percepatan timeline perizinan, penyerderhanaan prosedur dan persyaratan, serta w w w. f o o d r e v i e w. c o . i d

pendampingan secara intensif untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing produk UMKM. Badan POM juga memberikan bimbingan teknis secara bertahap sehingga mendukung percepatan penerbitan nomor izin produk dan keringanan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) bagi para pelaku UMKM. Pameran virtual ini diikuti lebih dari 200 peserta, baik dari lokal maupun internasional dengan lebih dari 30 pelaku UMKM yang ikut berpartisipasi. Dari pameran semacam ini diharapkan dapat membentuk jaringan pemasaran yang lebih luas dan mendorong pelaku usaha untuk menghasilkan produkproduk berkualitas dan berkompeten, sehingga mampu bersaing secara global untuk memajukan perekonomian negara dengan teknologi digital. Fri-37

Go Digital • Sent to Your Mailbox Every Month • Unlimited Distribution and Sharing

To download Your personal free copy FOODREVIEW INDONESIA start on January 2021

https://bit.ly/FRIDIGITAL

• Click on Advertisements

click here

• Direct Contact to Your Vendors • Interactive Videos and Links • Pop Up Advertisement

and its FREE VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

11


FOOD INFO | Lintas Pangan

I

Agroindustri: Sinergi Industri dan Pertanian

ndustri agro, atau agroindustri, merupakan subsektor industri pengolahan nonmigas yang memiliki peranan penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Untuk itu, pemerintah terus berupaya mengoptimalkan hasil pertanian dalam negeri agar memiliki nilai tambah serta mampu menjadi penopang industri nasional. Melihat hal tersebut, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian melakukan tanda tangan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk melakukan sinergi guna mendorong upaya optimalisasi tersebut. “Tujuan ditandatanganinya nota kesepahaman ini untuk menyinergikan tugas dan fungsi kedua lembaga dalam mendukung pembangunan serta pengembangan agroindustri,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim, dalam siaran pers Kementerian Perindustrian, 12 Desember lalu. Lebih lanjut, Rochim mengatakan bahwa ruang lingkup 12

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

kesepakatan bersama meliputi peningkatan produksi, peningkatan mutu, nilai tambah, dan daya saing produk pertanian sebagai bahan baku industri, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), peningkatan jejaring kemitraan usaha pertanian dengan industri, pertukaran data dan informasi, sinergi regulasi dan standar dalam pengembangan, serta pembangunan agribisnis dan agroindustri. Bila dilihat dari kontribusi ekspor, industri agro mempunyai peranan yang penting dalam nilai pengapalan industri pengolahan nonmigas. “Meskipun dalam kondisi pandemi COVID-19, pada periode Januari-Agustus 2020, total nilai ekspor industri agro mencapai USD29,27 miliar atau 35,36% terhadap ekspor industri pengolahan nonmigas sebesar USD82,76 miliar,” ujarnya. Sedangkan nilai impor pada periode tersebut mencapai USD9,87 miliar atau 13% terhadap impor industri pengolahan nonmigas (USD75,97 miliar). “Dari nilai tersebut, lebih


FOOD INFO | Lintas Pangan dari 70% merupakan impor bahan baku dan bahan penolong untuk memenuhi kebutuhan produksi industri agro dalam negeri,” sebut Rochim. Ia mencontohkan, kebutuhan bahan baku industri susu yang setara susu segar jumlahnya sekitar 4 juta ton. Kebutuhan tersebut baru dapat dapat dipenuhi oleh bahan baku dalam negeri sebesar 20% atau 0,9 juta ton. Sisanya sebanyak 3,1 juta ton atau 80% dalam bentuk skim milk powder, whole milk powder, anhydrous milk fat, butter milk powder, dan whey masih diperoleh melalui impor. Kemudian, kebutuhan gula berbasis tebu baik untuk konsumsi maupun industri sekitar 6 juta ton per tahun. Adapun kemampuan produksi industri gula dalam negeri 2,2 juta ton per tahun yang umumnya digunakan sebagai gula konsumsi. Sehingga, kebutuhan gula industri, baik sebagai bahan baku gula rafinasi maupun industri, sebesar

3,25 juta ton masih diimpor dalam bentuk raw sugar. Selanjutnya, jenis-jenis industri agro yang masih bergantung pada bahan baku impor antara lain biji kakao mencapai 235 ribu ton/ tahun, tembakau jenis Virginia, Oriental, dan Burley sebesar 131 ribu ton/tahun, gandum mencapai 12,3 juta ton/tahun, teh hitam 10,9 ribu ton/tahun, daging hingga 166 ribu ton/tahun, serta buah-buahan dan sayuran mencapai 40,9 ribu ton/tahun. “Bisa dilihat, masih banyak bahan baku dan bahan penolong industri agro yang diimpor. Sehingga, harapannya kerja sama strategis antara Kemenperin dengan Kementan mampu meningkatkan pemenuhan bahan baku industri, peningkatan nilai tambah di dalam negeri, dan peningkatan daya saing industri DNA BARCODING SERVICES nasional, khususnya dalam memasuki pasar ekspor,” imbuhnya. Fri-35 What is DNA Barcoding?

DNA barcoding is a method of species identification using a short section of DNA from a specific gene or genes.

How Does It Work?

Differentiated innovation Flavour expertise Future-ready creations

We are ready to

Bacteria

innovate.

Genomic DNA Extraction

Direct Traffic | Brand Awareness | Targeted Readers

PCR Amplification

Are you?

Reasons to Advertise

in FOODREVIEW Mini Direktori :

Fungi

For more than 50 years, we design aromas, we craft experiences, we build trust. Bidirectional PCR Purification of Product Sequencing PCR Products Together with food and beverage innovators, we collaborate to deliver the finest aromas and tastes, and to create the best memories and experiences. KH Roberts.

What Will You Get From Genetika Lab?

Crafting Future Flavours. We bring colour into view!

Gel Photo of PCR Product Sequence Assembly Contact us 10 Hit BLAST Results against NCBI Database Compact pressure sensors and switchesTop with Singapore & Int’l +65 6265 0410 / China +86 20 3919 9791 /sequence) (excluding uncultured sample 360° custom-colour status display Indonesia +62 21 8790 0778 / Malaysia +60 3 7885 0688/9788 / Genomic DNA Concentration Measurement Thailand +66 2 862 3055-58 Phylogenetic Tree Construction (NCBI BLAST Tree Method) kh-roberts.com / info@kh-roberts.com Turnaround Time: 14 days.

MINI DIREKTORI Give green light to better food choices. Build consumer trust with BENEO’s ingredients.

Crafting Future Flavours Where consumers in general aim for a healthy lifestyle with Copyright © KH Roberts Pte. Ltd. All rights reserved.PT. Genetika Science Indonesia matching nutritional habits, now more than ever, they look for PT REL-ION STERILIZATION SERVICES Eliminasi Bakteri Patogen, Sterilisasi, Polimerisasi

Rukan Great Wall Blok C No. 19-21, Green Lake City,

Genetika balance andINDONESIA moderation. Kel. When in the past aScience “diet” label the PT KH ROBERTS Petir, Kec. Cipondoh, Kota on Tangerang, Banten 15147. Life science research distributor and FOOD FLAVOUR & FOOD COLOUR Front-Of-Pack would be enough, today’s buyer takes2034 a more Tel. 021 5433 / 5433 2425 service provider

Fax.look 021 for 5433 2701 of health and wellness.021 People simple 5433 2934 / 5433 2425 256 colours solutions and focus on familiar ingredientsinfo@ptgenetika.com and inherent 021 5433 2701 selectable: Individually 021 89700723 www.ptgenetika.com goodness. Brands can gain consumers’ loyalty by being open linkedin.com/company/genetikascience Measurement in progress info@ptgenetika.com info@kh-roberts.com about their ingredients. Improve your product’s nutritional @genetikascience Sensor switching content with the naturally sourced, functional ingredients Process malfunction www.ptgenetika.com www.kh-roberts.com from BENEO.

holistic approach 021 87900778

021-88363728, 021-8836 3729 021-88321246 yayuk@rel-ion.co.id, yayuk@rel-ion.com

www.rel-ion.com Compact design

Increased Visibility | Improve Link Popularity | Static Cost

15 cm

Visited by F&B Companies | The only F&B Industry B2B Website

PT. Tsamarot Indonesia

Food Processing Specialized in Puree, Chunk, Slicing, Frozen Food and others Yoni Gustiawan 0852 1303 4807 / 021 2274 1587 Adjustment via Fitria Yogi / 087775696660 smartphone tsamarotindonesia@gmail.com / marketing_tsamarot@yahoo.com/ mngr.marketing@gmail.com

Placed on Website and Digital Magazine

Follow us on: www.beneo.com

Hygienic adapter system

www.tsamarot.com

IDR 5.738 All prices are (x)IDR 1.000

Evergreen International Corporation Integrated marketing

BENEO GmbH Food Ingredients Manufacturer

886-2-25001201 886-25001598

+49-621-421-150

jakarta@taitra.org.tw

contact@beneo.com

https://www.halalexpo.com.tw/

www.beneo.com

VEGABAR 39 Clamp 1"

www.vega.com/vegabar

go to page Mini Direktori

ADM Asia Pacific Trading Pte Ltd Wild Flavors & Specialty Ingredients

Capture the taste advantage

SARASWANTI INDO GENETECH Laboratorium Uji Pangan

+6221-570-4087 +65 6704 1887

Want to see Your Company in this section? Send us an email : tissa@foodreview.co.id andang@foodreview.co.id

Sarah.Lim@adm.com Consumers crave authentic tasting products. Our avor https://www.adm.com experts are ready to work with you to make food and beverages come to life and elevate the taste experience. We translate nature into avor that gives your brands an edge.

0251 7532348

PT. VEGA INSTRUMENTS INDONESIA Level and Pressure Instrumentation for the Process Industry 021 2907 6596 021 2608 0104

marketing-sig@saraswanti.com www.siglaboratory.com

sales.id@vega.com www.vega.com

By capturing the essence of nature, ADM is your essential partner in taste, delivering tailored, authentic avors consumers love.

VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

13


FOOD INFO | Lintas Pangan

Video: Enterprise Resource Planning for the Food and Beverage Industry

P

Sistem Ketertelusuran untuk Mengurangi Penarikan Produk

enarikan produk atau recall memberikan dampak yang tidak baik, tidak hanya bagi konsumen, namun juga produsen. Penarikan produk yang terjadi biasanya didasari oleh beberapa hal seperti kaitannya dengan kesehatan, memberi informasi terkait potensi bahaya pada produk, dan lain sebagainya. Meski terlihat sederhana, proses recall ini tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. "Ada 7 prosedur yang perlu diterapkan dalam melakukan penarikan produk," jelas Presales Consultant - SYSPRO Indonesia, Yuda Prihagunawan dalam Foodreview Indonesia Webinar dengan tema Update on Traceability

14

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

and Authenticity to Ensure Food Safety pada 12 November 2020 lalu, melalui sebuah aplikasi daring. Ketujuh prosedur tersebut adalah mengembangkan kebijakan penarikan produk, mengembangkan rencana penarikan produk, menguji rencana penarikan produk, peringatan dan inisiasi penarikan produk, manajemen penarikan produk, penutupan penarikan produk, dan ulasan penarikan produk serta perubahan rencana penarikan produk. Informasi lebih lanjut mengenai sistem ketertelusuran dapat dilihat pada video tentang Enterprise Resource Planning for the Food and Beverage Industry. Fri-35


freepik

FOOD INFO | Lintas Pangan

M

Ekspor Perdana Tandai Peningkatan Daya Saing UKM di Pasar Global

eski pandemi, ketujuh perusahaan skala kecil dan menengah (UKM) ini menunjukkan semangat yang luar biasa dalam menjawab tantangan daya saing dan persaingan pasar global. Dilepas oleh Presiden RI Joko Widodo secara virtual pada 12 Desember lalu, kegiatan ‘Pelepasan Ekspor ke Pasar Global’ berhasil melakukan ekspor perdana oleh UKM. Ketujuh UKM ini adalah PT Lestari Jaya Bangsa (Jawa Tengah, produk emping belinjo), UD Sinar Mulyo (Jawa Tengah, produk kapuk fiber), CV Yukari Cahaya Abadi (Jawa Timur, produk tempat tidur sapi), PT Rimbun Alam Dewata (Bali, produk bawang merah), CV Aromata Anugrah Sultan (Sulawesi Selatan, produk kemiri olahan), PT Syam Surya Mandiri (Kalimantan Timur, produk udang beku), dan CV Masagenah (Kalimantan Timur, produk lidi nipah). Sedangkan, negara tujuan ekspornya adalah Arab Saudi, India, Jepang, Singapura, dan Hongkong. Kegiatan ini juga dilakukan serentak di Lamongan, Jawa Timur; Boyolali, Jawa Tengah; Sunter, DKI Jakarta, dan sejumlah kota lain yang tersebar di 16 provinsi di Indonesia. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyampaikan, total 54 UKM yang mengikuti kegiatan ini adalah bukti bahwa masa

pandemi tidak menyurutkan geliat ekspor ke pasar global. Di samping itu, Mendag juga mengapresiasi ketujuh pelaku UKM yang melakukan ekspor perdana di tengah pandemi ini. “Ketujuh pelaku UKM tersebut tentunya diharapkan dapat memotivasi dan menjadi contoh bagi pelaku UKM yang lain untuk terus mengembangkan produknya dan memperluas pasar. Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan kemampuan UKM dalam meningkatkan daya saing produk dan memanfaatkan peluang pasar global. Dengan keuletan, kegigihan, dan semangat, saya yakin para pelaku UKM dapat menembus pasar ekspor,” ujar Mendag dalam siaran pers Kementerian Perdagangan RI. Mendag juga mendorong pelaku UKM untuk terus berinovasi dan mengembangkan produk-produknya agar semakin banyak produk-produk UKM yang menembus pasar internasional. “Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk terus hadir bagi para pelaku usaha UKM agar dapat meningkatkan daya saingnya sehingga semakin kompetitif di pasar global. Selain itu, perwakilan perdagangan di luar negeri juga siap membantu para pelaku UKM berorientasi ekspor dalam memasarkan produkproduknya ke mancanegara,” pungkas Mendag. Fri-35 VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

15


FOOD INFO | Lintas Pangan

Perkembangan Regulasi Jaminan Halal di Indonesia

S

ertifikasi halal telah menjadi hal yang wajib dilakukan oleh pelaku industri pangan, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 4 Undang-Undang no. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal bahwa setiap produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di Indonesia wajib

Oktober 2019 sampai dengan 17 Oktober 2024 dilakukan penerapan sertifikasi halal secara bertahap untuk produk pangan; produk yang kewajiban kehalalannya sudah ditetapkan dalam peraturan perundangundangan; produk yang sudah bersertifikat halal sebelum UU JPH berlaku; serta produk

bersertifikat halal. “Kategori produk untuk sertifikasi dibagi dalam dua macam, yaitu barang dan jasa. Untuk kategori barang misalnya makanan dan minuman, obat, produk kimiawi, biologi dan rekayasa genetika, serta barang gunaan yang dipakai atau dimanfaatkan oleh masyarakat,� jelas Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Dr. H. Mastuki HS. M.Ag. pada Webinar Paham Regulasi Baru Sertifikasi Halal Sukses Berkah Bisnis Halalku yang diselenggarakan oleh Halal Corner pada 15 Desember 2020 lalu. Adapun untuk produk kategori jasa meliputi jasa penyembelihan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan, dan penyajian. Terkait produk wajib bersertifikasi halal, Mastuki menerangkan bahwa mulai 17

jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, dan kosmetik. Selain produk pangan, yaitu produk obat, kosmetik, produk kimiawi, biologi dan rekayasa genetika, serta barang gunaan diberlakukan wajib sertifikasi halal mulai 17 Oktober 2021 dengan masa tenggang (grace period) 5 tahun, 10 tahun dan 15 tahun. Adapun sertifikasi halal untuk industri kecil menengah, Penasehat Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI, Lia Amalia, S.T., S.S., M.T. menambahkan bahwa LPPOM sebagai lembaga pemeriksa halal telah menyediakan manual yang sederhana sehingga lebih memudahkan untuk pelaku usaha. Manual tersebut ditujukan sebagai sistem jaminan halal yang diaplikasikan oleh industri kecil menengah. Fri-29

16

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


FOOD INFO | Lintas Pangan

Upaya Penurunan Angka Balita Stunting dengan Pangan Fungsional

S

tunting merupakan salah satu masalah gizi di dunia yang juga dialami Indonesia. “Di Indonesia tidak hanya double burden (gizi kurang dan gizi lebih), tapi kita juga dihadapkan pada hidden hunger atau kekurangan zat mikro,” tutur Peneliti Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna LIPI, Dr. Ade Candra Iwansyah, M.Sc dalam Webinar Inovasi Pangan Fungsional untuk Pencegahan Stunting di Masa Pandemi yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) LIPI pada 8 Desember 2020. Ia menjelaskan bahwa stunting ditandai dengan kurangnya tinggi badan anak berdasarkan tinggi badan per umur (TB/U). Balita pendek ini diakibatkan oleh keadaan yang berlangsung lama dan disebabkan oleh masalah gizi yang kronis. Adapun salah satu intervensi yang paling efektif dalam aksi penurunan stunting adalah dengan meningkatkan kualitas makan anak selama masa pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI). Peneliti BPTBA LIPI, Dr.rer.nat. Andri Frediansyah, M.Sc menjelaskan bahwa terdapat perbedaan profil mikrobia pencernaan antara balita normal dan balita stunting, misalnya terkait keberadaan bakteri penghasil asam lemak rantai pendek (SCFA) yang mempunyai fungsi baik bagi tubuh. Pengembangan human milk oligosaccharides (HMO) pada susu formula menjadi salah satu produk yang diharapkan dapat membantu memperbaiki profil mikrobia pencernaan. Andri menuturkan bahwa HMO mempunyai beberapa fungsi seperti sebagai antiinfeksi yang mengurangi pelekatan patogen

pada usus, sebagai immunomodulator dan membangun kerja otak. Produksi HMO dilakukan di Korea Selatan dengan menggunakan bakteri Saccharomyces cerevisiae. Dosen Departemen Ilmu Pangan dan Gizi Indonesia International Institute for Life Sciences (I3L), Agus Budiawan Naro Putra Ph.D. menambahkan salah satu contoh produk lokal Indonesia sebagai pangan fungsional untuk fungsi imunitas tubuh, yaitu tempoyak yang merupakan fermentasi dari durian. Dari penelitian diperoleh bahwa bakteri asam laktat yang diproduksi oleh tempoyak dalam saluran pencernaan mempunyai kemampuan untuk menghambat E. coli, S. aureus dan L. monocytogenes. “Dua fungsi temponyak pada peningkatan sistem dan sebagai antibakteri memberikan gambaran potensi tempoyak dalam meningkatkan imunitas pada anak-anak, terutama terkait stunting,” jelas Agus. Fri-29 VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

17


FOOD INFO | Lintas Pangan

Pangsa Pasar Plant-based Meat di Asia Pasifik

A

sia Pasifik adalah rumah bagi 4,3 juta orang yang meliputi hampir 60% populasi di dunia. Dari angka tersebut, sebanyak 36% konsumen Asia Pasifik telah menerapkan pola konsumsi rendah dan tanpa mengonsumsi daging. Pada tahun 2020, tercatat nilai permintaan akan plant-based meat meningkat 7,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini tidak lain dikarenakan pergeseran priotitas konsumen yang lebih banyak mengarah pada aspek kesehatan dan keberlanjutan. Diperkirakan tren ini juga akan terus meningkat dan berlanjut. Regional Marketing Leader, APAC, DuPOnt Nutrition & Biosciences, Michelle Lee dalam rilis pers 16 Desember 2020 lalu menuturkan bahwa perlu kombinasi yang terintegrasi antara kebutuhan ingridien yang digunakan, ekspertis, serta seluruh paket yang akan berkontribusi secara nyata dalam pertumbuhan pasar ini. “Kita melihat permintaan yang dramatis akan alternatif plant-based meat. Untuk itu, sudah saatnya pelaku bisnis dapat memanfaatkan hal ini dan mempersiapkannya,� tuturnya. Di Tiongkok dan Thailand, permintaan akan plant-based meat ini diperkirakan akan meningkat hingga 200% dalam jangka waktu

18

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

lima tahun ke depan. Dalam studi ini, juga didapatkan beberapa pandangan seperti (i) 75% konsumen Asia Pasifik bersedia membayar harga yang sama dengan produk daging untuk produk alternatif plant-based meat; (ii) sebanyak 83% menilai bahwa protein adalah ingridien yang penting; (iii) 78% percaya bahwa plant-based meat akan terus ada dan semakin meningkat ke depannya; (iv) di Tiongkok, permintaan akan plant-based meat dihubungkan dengan pengaruh iklan berbayar yang dilakukan oleh sejumlah selebritas dan relasinya dengan kesehatan dan keberlanjutan; (v) konsumen Thailand mencari produk plant-based meat yang dapat memenuhi kebutuhan akan rasa yang optimum, gizi, dan juga kenyamanan dalam preparasi; (vi) pada wilayah Vietnam, masih diperlukan edukasi yang lebih terkait kesadaran akan manfaat dan kemudahan dalam mendapatkan alternatif dari produk daging. Hasil studi ini menjadikan alternatif plantbased meat sebagai salah satu lahan bisnis yang menjanjikan dengan tidak mengabaikan aspek kesehatan serta keberlanjutan yang menjadi fokus konsumen saat ini. Fri-35


FOOD INFO | Lintas Pangan

Digitalisasi untuk Industri Pangan dan UMKM

S

aat ini, teknologi digital maju berkembang dengan sangat pesat dan digunakan secara masif di berbagai bidang kehidupan seperti bisnis, industri, pertanian, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, militer hingga kepolisian. Proses perubahan dari konvensional ke digital ini biasa disebut dengan transformasi digital. Pemerintah Indonesia juga telah membuat program Making Indonesia 4.0 untuk melakukan transformasi digital yang dimulai dari bidang industri dan bisnis. Dalam hal ini, industri pangan menjadi industri prioritas. “Agar tetap kompetitif, indutri pangan perlu mengadopsi teknologi digital maju seperti AI, blockchain, Internet of things, dan lain sebagainya. Terutama saat COVID-19 seperti saat ini, dapat mendorong otomatisasi dan digitalisasi melalui less contact economy,� terang Guru Besar Teknologi Industri Pertanian, IPB University, Prof. Dr. Ir. Yandra Arkeman, M.Eng. dalam Foodreview Indonesia Workshop on Web: Transformasi Digital Industri Pangan dan Strategi untuk UMKM yang diselenggarakan pada 10 Desember 2020 lalu secara virtual.

Yandra melanjutkan, ada beberapa contoh industri pangan yang saat ini telah menerapkan teknologi maju. Salah satunya adalah Kewpie Company (Jepang) yang menggunakan AI untuk melakukan pensortiran potongan kentang pada produknya. Contoh lain seperti Netsle yang berkolaborasi dengan platform blockchain melakukan penelusuran susu dari New Zealand ke pabrik hingga gudang di Timur Tengah. “Contoh lain yang tidak kalah menarik adalah perkebunan pisang di Filipina yang mendeteksi kematangan pada pisang dengan deep learning,� tambah Yandra. Ke depan, penerapan teknologi digital maju ini akan semakin meluas meliputi beberapa hal seperti dapat digunakan untuk mengidentifikasi kandungan zat dalam produk pangan hanya melalui foto atau citra produk tersebut (deep learning), pemetaan tingkat konsumsi pangan, penelusuran rantai pasok produk termasuk penelusuran kehalalan, pengembangan produk seperti identifikasi material yang paling cocok dengan produk yang dibuat serta analisa perilaku konsumen. Fri-35 VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

19


FOOD INFO | Lintas Pangan

INFO GAPMMI

IFI, program akselerasi bisnis yang ditujukan bagi IKM

»» Indonesia Food Innovation (IFI) Kementerian Perindustrian menginisiasi program Indonesia Food Innovation (IFI) bagi industri kecil dan menengah (IKM) pangan dengan melibatkan akademisi, praktisi, dan industri pangan. Melalui pembinaan dan pendampingan intensif di sisi teknis dan bisnis oleh para pakar profesional, para peserta program IFI 2020 diharapkan bisa meningkatkan kapabilitasnya dalam mengembangkan industrinya. IFI merupakan program akselerasi bisnis yang ditujukan bagi industri kecil menengah (IKM) pangan yang mempunyai inovasi produk dan/ atau proses, serta menggunakan sumber daya lokal sebagai bahan baku utamanya. Dari total 2.048 pendaftar, terpilih 40 IKM pangan yang terdiri dari 10 kategori produk antara dan 30 kategori produk jadi. Sebanyak 40 IKM ini telah mengikuti food camp pada bulan 20

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

November, dan mengikuti beberapa tahapan penilaian lainnya selama food camp tersebut. Selanjutnya, dilakukan beberapa tahap penilaian hingga menjadi 20 IKM terpilih dan dikerucutkan menjadi 3 IKM terbaik di masing-masing kategori. Kemudian, peserta melanjutkan presentasi tentang rencana akselerasi bisnis yang dinilai oleh para pakar profesional di bidang pangan. ”Ketiga IKM tersebut mendapat hadiah berupa uang pembinaan dan food business scale up yang meliputi pelatihan, pengawasan, dan fasilitasi pada tiga aspek yaitu manajemen, legal dan berjejaring. Pelatihan lanjutan tidak hanya diberikan kepada tiga IKM terbaik, tetapi juga diberikan kepada 20 IKM terbaik yang mendapatkan berbagai prioritas untuk mengikuti akselerasi lanjutan pengembangan bisnis melalui pelatihan dan pengawasan 


FOOD INFO | Lintas Pangan eksklusif scaling up usaha. Selanjutnya, mereka memperoleh fasilitasi sertifikasi HACCP atau sertifikat lain yang dibutuhkan dalam peningkatan daya saing serta mengikuti berbagai macam acara pameran, investor matchmaking, dan fasilitasi keanggotaan perdagangan niaga global. Kemenperin mencatat, jumlah IKM pangan saat ini mencapai 1,86 juta unit usaha atau 43,41% dari total unit usaha IKM di Indonesia. produk IKM pangan Indonesia terbuka luas untuk dapat memenuhi pasar dalam negeri dan juga untuk masuk ke pasar ekspor. Oleh karenanya, IKM pangan diharapkan telah memiliki kesiapan dan strategi yang tepat dalam meningkatkan kualitas, membangun branding, melakukan adaptasi, memperkuat inovasi, serta mampu dalam membaca tren dan kebutuhan pasar saat ini. Acara pemberian penghargaan IFI 2020 ini juga diisi dengan talkshow yang membahas tentang investasi dan juga sesi motivasi yang memberikan pengetahuan tambahan kepada para peserta dalam melakukan scaling-up industri mereka. Narasumber talkshow yang hadir yaitu Direktur PT Lima Ventura, Yan Rezky Fahza dan CEO Bizhare, Heinrich Vincent selaku investor serta elaku pengusaha pangan olahan yang berkembang melalui investasi dari crowdfunding platform Bizhare. Selain itu, hadir pula Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman yang berbagi pengalaman dan motivasi membesarkan bisnis di bidang industri pangan. »» Trade Expo Indonesia Virtual Exhibition Trade Expo Indonesia ke-35 Virtual Exhibition (TEI-VE) 2020 telah sukses dilangsungkan sebagai pemeran dagang virtual terbesar di Indonesia di tengah

pandemi COVID-19. TEI-VE 2020 yang berlangsung selama 10-16 November 2020 dan berakhir masa penayangan virtual showcase-nya kemarin (10/12), sukses membukukan total nilai transaksi prospektif sebesar USD 1,2 miliar. Total tersebut merupakan capaian yang tercatat per 10 Desember 2020 pukul 13.25 WIB dan telah melampaui target yang ditetapkan sebesar USD 1 miliar. selama penyelenggaraannya, TEI ke-35 sukses menghadirkan 690 exhibitors atau pelaku usaha sukses dan sebanyak 7.459 buyers. Para buyers tersebut meliputi 3.352 buyers dari 127 negara mitra dagang dan 4.107 buyers lokal. 15 produk ekspor yang mencatat transaksi terbesar selama TEI ke-35, adalah produk palm oil USD 362,95 juta (33,23 persen); kertas dan produk kertas USD 244 juta (22,34 persen); makanan minuman dalam kemasan USD 157,55 juta (14,42 persen); produk kopi USD 78,14 juta (7,15 persen); kendaraan dan suku cadangnya USD 52,36 juta (4,79 persen); industri strategis USD 50,01 juta (4,58 persen); bumbu masak dan rempah USD 25,25 juta (2,31 persen); produk kayu ringan USD 11,47 juta (1,05 persen); furnitur kayu USD 9,97 juta (0,91 persen); produk perikanan USD 9,24 juta (0,85 persen); furnitur rumah tangga USD 9,22 juta (0,84 persen); rempah-rempah USD 9 juta (0,82 persen); furnitur rotan USD 8,22 juta (0,75 persen); alas kaki USD 7 juta (0,64 persen); serta kerajinan kayu dan batu USD 6 juta (0,55 persen). »» IK-CEPA Indonesia telah menandatangani perjanjian kerjasama Indonesia-Korea Comprehensif Economic Partnership Agreement. Setelah menandatangani perjanjian tersebut bersama Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi (MOTIE) Korea Selatan Sung Yun-mo, Mendag Agus menyampaikan bahwa VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

21


FOOD INFO | Lintas Pangan

Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman berpartisipasi aktif memberikan pembekalan untuk para calon Atase Perdagangan

perjanjian IK-CEPA hari ini merupakan tonggak penting dalam hubungan ekonomi bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan mengingat Korea Selatan semakin tertarik untuk menjadikan Indonesia sebagai produk baru di ASEAN. Penandatanganan ini menambah panjang daftar capaian Kementerian Perdagangan tahun ini di bidang kerja sama perdagangan internasional, dari dimulainya implementasi Indonesia– Australia CEPA; ASEAN–Hong Kong, China Free Trade Agreement (AHKFTA); serta ASEAN–Hong Kong, China Investment Agreement (AHKIA); kemudian ditandatanganinya Perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP); lalu ditetapkannya oleh Komisi VI DPR RI agar Indonesia– Mozambique PTA dan Protocol to Amend ASEAN–Japan EPA diratifikasi dengan Peraturan Presiden; kemudian Trade Policy Review ke-7 di World Trade Organization (WTO); dan kini penandatanganan IK-CEPA. »» Webinar BPOM- KPK Pengurus GAPMMI menghadiri Webinar yang diadakan oleh BPOM dan KPK dengan tema “Memperkuat Sinergi dan Penggalangan Komitmen Antara Badan POM, KPK dan Pelaku Usaha Melalui Pencantuman Pesan Anti Korupsi Pada Label Obat dan Makanan Untuk Indonesia Sehat dan Unggul”. Pada kesempatan tersebut, Handito Hadi Joewono yang hadir mewakili GAPMMI juga turut 22

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

Webinar BPOM- KPK

Narasumber dalam Rakor Kerjasama Internasional Industri Minuman,

menandatangani bersama komitmen anti korupsi. »» GAPMMI- Calon Atase Perdagangan Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman dan 2 Pengurus GAPMMI turut berpartisipasi aktif memberikan pembekalan untuk para calon Atase Perdagangan yang akan bertugas di luar negeri. Turut hadir mendampingi Ketua Umum di Kementerian Perdagangan RI adalah Ketua Bidang Kerjasama Luar Negeri GAPMMI, Johan Muliawan dan juga tim Komite Program Keberlanjutan dan Dampak/ Kontribusi Sosial GAPMMI, Christianta Sitepu. »» Rapat Koordinasi Kemenperin Wakil Ketua Bidang Kerjasama Luar Negeri GAPMMI, Lena Prawira, menjadi narasumber dalam Rakor Kerjasama Internasional Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Kementerian Perindustrian RI yang diadakan di Hotel Aston Kuta, Bali. Fri-27


FOODREVIEW I

N

D

O

N

E

S

I

A

SIGN UP TODAY TO RECEIVE YOUR FREE MAGAZINE IN YOUR EMAIL EVERY MONTH

If you have a friend or colleague who would be interested in receiving Foodreview Indonesia, please feel free to share the latest issue, and our special digital subscription offer with them today.

YES, SIGN ME UP https://bit.ly/FRIDIGITAL VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

23


Meneropong Industri Pangan 2021 P

andemi virus korona di tahun 2020 telah menyebabkan perubahan di berbagai lini kehidupan, seperti cara berbelanja, bersosialisasi, belajar hingga hiburan dan lainnya. Industri pangan misalnya, harus segera menyesuaikan dengan kondisi yang tidak menentu untuk tetap dapat menyediakan kebutuhan pangan bagi konsumennya (yang lebih memilih dan sadar mencari produk-produk untuk kesehatan dan kebugaran). Untuk itu, tahun 2021 akan menjadi tahun yang menantang sekaligus penuh dengan kesempatan. Menantang karena pandemi membuat sebagian besar industri harus lebih mengencangkan sabuknya dan penuh kesempatan karena lahir peluang-peluang baru yang dapat dioptimalkan potensinya. Untuk itu, kali ini secara spesial, Foodreview Indonesia menyajikan beberapa tulisan dari para ahli untuk meneropong bagaimana industri pangan pada tahun 2021 nanti, mulai dari aspek ekonomi, teknologi, logistik rantai pendingin, hingga regulasi jaminan halal. Tak lupa ulasan terkait Unit Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) pangan juga kami sajikan, terutama dengan mempertimbangkan ketangguhannya selama pandemi berlangsung.

24

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

25


PROSPEK INDUSTRI

PANGAN

2021 Oleh Prof. Dr. Bustanul Arifin Guru Besar Universitas Lampung dan Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Sepanjang tahun 2020, industri pangan mengalami perjalanan yang tidak mudah, karena pandemi COVID-19 telah membuat kontraksi perekonomian nasional dan mengurangi daya beli masyarakat. Untungnya, harga pangan pokok beras relatif stabil, karena produksi tahun 2020 sedikit lebih tinggi dari tahun 2019.

C

adangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog sampai Desember 2020 tercatat 1,1 juta ton, sebagian besar berasal dari pengadaan dalam negeri. Akan tetapi, sepanjang harga pangan strategis lain sangat fluktuatif, terutama pangan asal impor. Harga gula sempat sangat tinggi pada April-Mei, karena proses administrasi impor

26

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


bermasalah, sehingga mengganggu perjalanan dan daya saing industri pangan. Kinerja industri manufaktur pada 2020 mengalami kontraksi cukup dalam, yaitu minus 6,19% dan minus 4,31% (y-on-y) pada Q2 dan Q3-2020. Subsektor industri pangan masih tumbuh positif walau sangat rendah, yaitu 0,66% dan 0,22% pada Q2 dan Q32020. Kinerja rendah seperti itu amat kontras dengan tingkat pertumbuhan 8,33% pada Q3-2019. Kontraksi yang dialami subsektor pengolahan tembakau sangat dalam, yaitu minus 5,19 dan minus 10,84% pada Q2 dan Q3-2020. Hal yang cukup menarik adalah bahwa subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional mencatat pertumbuhan sangat tinggi, yaitu 14,96% dan 8,65% pada Q2 dan Q3-2020. Permintaan tinggi karena semakin banyak yang terinfeksi pandemi COVID-19 menjadi faktor utama dari melonjaknya kinerja industri kimia, farmasi, dan obat tradisional. Artikel ini menganalisis prospek industri pangan tahun 2021, yang masih akan menghadapi tantangan yang tidak mudah, terutama jika pandemi COVID-19 sebagai prima causa resesi ekonomi sekarang masih cukup sulit ditanggulangi. Para analis yang paling optimis pun memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia baru mulai bergerak agak normal pada semester 2 tahun 2021. Jika demikian, maka industri pangan pun diperkirakan akan mulai agak pulih pada paruh kedua tahun depan. Beberapa strategi yang perlu diambil akan menutup artikel ini.

Sisi pengeluaran: pola konsumsi masa pandemi

Sepanjang tahun 2020, komponen sisi pengeluaran seluruhnya mengalamai kontraksi, kecuali pengeluaran pemerintah yang mengalami pertumbuhan 9,76% (y-o-y) pada Q3-2020. Pertumbuhan pengeluaran VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

27


konsumsi rumah tangga tangga Indonesia Subsektor industri masih terkontraksi minus banyak untuk hobi, 4,04%, pengeluaran konsumsi seperti bersepeda pangan masih LNPRT (Lembaga non-profit dan olahraga lain, tumbuh positif walau yang melayani rumah tangga) yang sebenarnya sangat rendah, yaitu juga minus 2,12%, investasi tidak jauh berbeda atau pembentukan modal dari pengeluaran 0,66% & 0,22% tetap bruto (PMTB) negatif rumah tangga di pada Q2 dan 6,48%, ekspor negatif 10,82%, negara-negara lain. Q3-2020. dan impor lebih parah sampai Dengan kata lain, pola minus 21,86%. permintaan untuk Walaupun pada Q4-2020 konsumsi produk tanda-tanda peningkatan industri pangan pengeluaran masyarakat sudah mulai cenderung lebih rendah dari kondisi normal, terlihat, tapi kondisi tersebut masih jauh kecuali untuk pangan pokok atau yang dari kondisi sebelum masa pandemi. Survei memiliki elastisitas rendah. yang dilakukan oleh Bank Mandiri Research Institute (BMRI) menunjukkan kunjungan ke Sisi suplai: kinerja pangan strategis supermarket dan ritel sudah kembali normal, Dari sisi suplai, sektor pertanian kunjungan ke department store dan restoran mencatat pertumbuhan positif dan menjadi masih jauh di bawah kondisi normal. Pada bantalan (cushion) di tengah resesi ekonomi bulan Oktober 2020, kunjungan ke restoran di Indonesia. Sektor pertanian tumbuh 2,19 Surabaya mencapai 52% dari normal, disusul dan 2,15% (y-on-y) dan pada Q2 dan Q3Bogor dan Tangerang 51%, Bekasi 51% dan 2020. Kinerja pertumbuhan positif ini tentu Medan 49%. Sementara di Makassar, Jakarta amat kontras dengan pertumbuhan ekonomi dan Denpasar, kunjungan ke restoran hanya Indonesia yang terkontraksi minus 5,32 tercatat masing-masing 47, 44 dan 44% dari dan minus 3,49% pada Q2 dan Q2-2020. normal. Menariknya, kunjungan ke restoran Selain pertanian, sektor perekonomian pada Agustus dan September 2020 sempat lain yang tumbuh positif pada Q3-2020 cukup tinggi, walau pun kemudian menurun adalah informasi dan komunikasi (10,83%), lagi, seiring dengan ledakan kasus infeksi pengadaan air (6,04%), real estate (2.30%) COVID-19 di kota-kota besar di Indonesia. dan jasa keuangan (1,05%). Sebagai bahan Secara umum, pada akhir Oktober baku utama dari industri pangan, kinerja 2020 pengeluaran masyarakat dari positif sektor pertanian perlu dipertahankan, kelompok berpenghasilan rendah berada bahkan ditingkatkan produksi dan sekitar 79,3% dari kondisi normal sebelum produktivitasnya melalui intervensi dan pandemi. Pengeluaran kelompok penghasilan kebijakan yang mampu memberikan insentif menengah tercatat 86,2% dan penghasilan dan memberdayakan petani dan pelaku usaha atas tercatat 89,8%. Pengeluaran untuk hobi kecil dan menengah (UKM). dan olahraga pernah mencapai 140 dan 120% Di dalam sektor pertanian, subsektor atau 40 dan 20% lebih tinggi dari kondisi tanaman pangan dan hortikultura mencatat normal pada Agustus 2020, walaupun kini kinerja pertumbuhan paling tinggi, yaitu telah berada pada kondisi normal. Selama masing-masing 7,14% dan 5,60% pada pandemi COVID-19, pengeluaran rumah Q3-2020. Subsektor perkebunan mencatat 28

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


pertumbuhan rendah 0,17% dan 0,67% pada Q2 dan Q3-2020, karena harga jual karet, sawit, kopi dan lain-lain cukup rendah. Subsektor peternakan selama dua kuartal terus mengalami pertumbuhan negatif (-1,83% dan -0,16%) karena daging ayam dan telur di tingkat peternak sangat rendah, bahkan sejak Ramadhan dan Idulfitri 2020. Demikian pula, untuk subsektor perikanan, yang masih tertatih-tatih untuk dapat tumbuh, karena persoalan logistik yang sempat tersendat sejak awal pandemi di bulan Maret 2020. Dalam hal pangan pokok, kinerja produksi beras cukup aman sampai musim panen pada Maret-April 2021. Pada 2020, luas panen padi meningkat menjadi 55,56 juta hektare naik 1,04% dibandingkan 54,59

juta hektare pada 2019. Produksi beras naik menjadi 31,63 juta ton (naik 1,09%) dari 31,29 juta ton pada 2019. Produktivitas padi tidak mengalami kenaikan atau konstan pada 5,11 ton/ha, karena nyaris tidak terjadi perubahan teknologi yang signfikan. Secara umum, kinerja produksi padi pada 2020 lebih baik dibandingkan kinerja pada 2019. Musim kemarau 2019 ternyata amat dahsyat dampaknya, yaitu menurunkan luas panen padi sampai 6,14%, dan menurunkan produksi sampai 7,76%. Akibatnya, produktivitas padi juga turun 1,72%, dari 5,20 ton/ha pada tahun 2018 menjadi 5,11 ton/ha pada 2019. Kinerja produksi gula tahun 2020 tidak terlalu baik, karena beberapa kebijakan yang membuat masa giling tebu yang berlangsung terlalu singkat. Pertama, kinerja usaha tani tebu tidak terlalu spektakuler, sehingga produksi gula diperkirakan sekitar 2,1 juta ton atau jauh di bawah target 2,5 juta ton. Konsumsi gula 2020 konstan pada 6 juta ton, karena daya beli menurun sebagai dampak dari pandemi COVID-19. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa data konsumsi 6 juta ton tersebut sangat mungkin terlalu tinggi, karena produk industri pangan yang dieskpor tidak diperhitungkan sebagai pengurang total konsumsi gula Indonesia. Harga eceran gula yang sempat mencapai rekor tertinggi Rp 18.000/ kg pada April-Mei atau pada Ramadhan dan Idulfitri 2020 kini telah mulai menurun secara signifikan sejak Juli-Agustus 2020. Gula mentah asal impor mulai VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

29


masuk, digiling oleh industri gula rafinasi, dan bahkan diizinkan beredar di pasar modern dan pasar tradisional. Harga eceran gula turun sampai Rp 15.000/kilogram setelah Juli dan mulai stabil pada Iduladha, hingga Agustus 2020. Pada akhir Oktober 2020, harga eceran gula dalam negeri telah berada di bawah Rp 14.000/kilogram, sudah mulai mendekati harga patokan Rp 12.500/ kilogram. Harga gula mentah di pasar global pada tengah Oktober 2020 adalah 14 sen dollar per pound free on board (FOB) atau US$ 309 per ton. Jika ongkos angkut, asuransi dan pengolahan (CIF) gula impor sekitar US$ 200/ton, maka harga gula rafinasi di pabrik US$ 509/ton. Pada kurs Rp 14.800 per US$, maka harga gula rafinasi di pabrik hanya Rp 7.530 per kilogram. Dengan harga eceran Rp 12.500/kg, marjin harga gula rafinasi mencapai Rp 5.000/kg. Renten ekonomi gula rafinasi akan lebih besar jika harga eceran gula Rp 18.000/kg. Maknanya, industri gula domestik harus mampu bersaing dengan industri rafinasi berbasis gula mentah impor. Industri pangan berbasis kelapa sawit juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Benar, bahwa luas areal kelapa sawit bertambah terus hingga mencapai 16,4 juta hektare pada 2020 dan produksi minyak sawit mentah (CPO) mencapai 47,6 juta ton. Kelapa sawit telah mampu menghasilkan volume minyak nabati yang dinilai paling efisien dibandingkan minyak nabati lain: minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak rapa (canola) dan lainlain. Oleh karena itu, industri kelapa sawit berkelanjutan adalah keniscayaan, bukan karena tekanan negara-negara industri, tapi karena kebutuhan untuk masa depan anakcucu atau generasi mendatang. Indonesia telah mengadopsi sertifikasi berkelanjutan tingkat global (Roundtable Sustainable Palm 30

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

Oil/RSPO) yang bersifat sukarela. Indonesia juga telah memberlakukan sertifikasi berkelanjutan tingkat nasional (Indonesia Sustainable Palm Oil/ISPO) yang bersifat wajib, sesuai dengan peraturan-perundangundangan yang berlaku. Tujuan implementasi sertifikasi ISPO adalah untuk membangun keunggulan keberlanjutan atau daya saing industri yang juga bervisi pembangunan berkelanujutan. Indonesia juga sedang mempertimbangkan untuk mengadopsi atau comply pada sertifikasi baru bernama International Sustainability and Carbon Certificate (ISCC), yang juga diinisiasi oleh Uni Eropa. Pada masa pandemi COVID-19, harga CPO global turun signifikan, karena permintaan turun dan sistem logistik global juga sedang menghadapi masalah. Indonesia memilih kebijakan untuk menggenjot target program produksi biofuel 30% atau B-30. Pada bulan April 2020, harga CPO Indonesia tercatat jatuh sampai US$ 435.2/ton, suatu kondisi yang dikhawatirkan akan menurunkan harga tandan buah segar (TBS) dan kesejahteraan petani kelapa sawit. Hal yang menarik adalah bahwa setelah produksi B-30 digenjot, dengan alokasi CPO untuk pabrik biofuel ditingkatkan, harga CPO Indonesia naik amat signifikan. Pada akhir Oktober 2020, harga CPO Indonesia mencapai US$ 680,7/ ton, atau 56 persen lebih tinggi dari harga CPO Malaysia di MPOB yang masih berada di bawa US$ 500/ton. Pada 2021, harga CPO Indonesia mungkin saja dapat menjadi price leader di pasar global, atau pasar CPO di kawasan. Akan tetapi, pada 2021 kredibilitas pasar CPO Indonesia mungkin tidak mampu dipertahankan, jika tidak disertasi konsistensi kebijakan yang memadai. Program B-30 memiliki konsekuensi anggaran negara, karena disparitas harga minyak bumi dengan harga CPO tingkat global masih cukup lebar.


Perubahan Kebijakan ke depan »» Pertama, kebijakan yang mampu memfasiltiasi terobosan dalam perubahan teknologi, baik di hulu usaha tani, maupun di hilir agro-industri sangat dibutuhkan. Misalnya, peningkatan kualitas benih dan input pertanian lain akan berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan positif sektor pertanian. Intervensi kebijakan dalam menggerakkan sumber-sumber pertumbuhan sektor pertanian akan mampu meredam dampak krisis ekonomi karena pandemi yang lebih buruk lagi. »» Kedua, pembangunan industri pangan memerlukan perubahan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi industri pada jangka pendek dan melonjakkan produktivitas pada angka menengah-panjang. Strategi memerlukan perbaikan kinerja badan penelitian dan pengembangan (Litbang atau R&D) kementerian relevan, penyempurnaan ekosistem inovasi yang melibatkan ABGC secara sinergis (academics, business, government and civil society). »» Ketiga, strategi kebijakan yang mampu mendorong daerah-daerah yang menjadi andalan atau penopang sektor pertanian dan industri pangan secara spesifik, terutama di Jawa dan Sumatera. Strategi ini perlu juga diimbangi dengan pengembangan dan pemberdayaan daerah-daerah di luar Jawa yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber pertumbuhan di masa depan. Pembangunan infrastruktur dan akumulasi kapital, yang mendukung pertanian presisi, pertanian berteknologi

tinggi dan bahkan dengan dukungan teknologi mekanisasi yang efisien akan mampu berkontribusi pada pembangunan industri pangan masa depan. »» Keempat, perhatian khusus perlu diberikan pada industri berbasis perikanan, yang terdampak relatif besar selama pandemi, terutama dalam perbaikan rantai nilai dan sistem logistik kelautan dan perikanan. Misalnya, rendahnya nilai tambah subsektor perikanan selama ini karena industri perikanan mengalami banyak kendala rendahnya bahan baku pasokan ikan. Langkah terobosan masih amat diperlukan, misalnya perbaikan dan reorientasi kebijakan tol-laut, pembenahan insentif sistem muatan arus balik (dari luar Jawa), serta peningkatan ekspor langsung (direct call) menggunakan kargo udara yang jauh lebih efisien. »» Kelima, pengembangan sumberdaya manusia (SDM) pangan dan pertanian yang mampu kompatibel dengan perubahan teknologi digital dan revolusi industri 4.0 lainnya. Kebijakan yang perlu segera disempurnakan adalah: pemberdayaan dan pendampingan kepada petani, peternak, nelayan dan UKM pangan, perkembangan jaringan kerja industri pangan, melibatkan perguruan tinggi dan lembaga akademik lain, penyempurnaan dukungan pembiayaan, dan peningkatan akses keuangan, terutama dalam meningkatkan inklusivitas keuangan dan perbankan. VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

31


Kecerdasan Buatan

untuk Industri Pangan 2021 32

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


Digitalisasi industri pangan harus terus digalakkan di tahun 2021. Bagaimana tidak? Walaupun vaksin COVID-19 sudah ditemukan, namun pandemi berkepanjangan belum bisa juga diramalkan kapan akan berakhir. Jika pandemi ini sudah mulai bisa ditanganipun, kita akan hidup dalam tata dunia baru yang berbeda dengan sebelum pandemi dulu.

S Oleh Prof. Dr. Ir. Yandra Arkeman, M.Eng. Guru Besar Teknologi Industri Pertanian dan Peneliti Blockchain, Robotics and Artificial Intelligence Networks (BRAIN) IPB University & Hendri Wijaya STP, M.Si Dosen Program Studi Manajemen Industri, Sekolah Vokasi, IPB University

alah satunya adalah kebiasaan menjaga jarak akan membuat kita terbiasa pada less contact economy. Hal ini semakin mendorong proses otomatisasi dan digitalisasi industri yang sejalan dengan konsep industri 4.0. Digitalisasi ini akan semakin masif diterapkan di berbagai bidang kehidupan untuk memastikan bahwa tidak terjadi penularan penyakit di perkantoran dan industri. Selain itu, digitalisasi ini juga akan meningkatkan efisiensi bisnis dan industri. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robot mampu melaksanakan berbagai tugas lebih cepat dan lebih baik (presisi) dari pada manusia. Walaupun atmosfir digitalisasi di industri pangan sudah terasa sejak dicanangkannya program “Making Indonesia 4.0� beberapa tahun lalu, namun penerapannya masih belum memuaskan. Diperkirakan baru sekitar 5-10% industri pangan yang sudah melaksanakan program digitalisasi. Selebihnya baru pada tahap pengenalan (familiarisasi) atau bahkan belum mengenal digitalisasi sama sekali. Padahal kalau kita VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

33


bandingkan dengan luar negeri, negara kita masih jauh tertinggal dalam proses digitalisasi. Hal ini tentunya bukanlah hal yang menggembirakan, karena industri pangan adalah roda penggerak ekonomi nasional. Jika industri pangan tidak kompetitif akibat lamban dalam mengadopsi teknologi digital, maka kelangsungan pasokan (supply) pangan akan terganggu yang dalam keadaan terburuk bisa menyebabkan krisis pangan. Selain itu pertumbuhan ekonomi nasional akan juga terganggu. Padahal kita diramalkan akan keluar dari resesi awal tahun 2021. Tentu saja hal ini sulit terwujud jika industri pangan kita tidak bisa tumbuh dengan baik karena masih banyak yang beroperasi dengan mode konvensional.

Inovasi AI untuk industri pangan

Berbagai inovasi penggunaan AI untuk pangan telah dilakukan di berbagai negara maju. Sebagai contoh, Majalah Forbes (April 2020) menyajikan artikel yang berjudul “This AI Camera Can Help Restaurants Show that Their Food is Safe from Coronavirus�. Penemuan mutakhir ini merupakan terobosan yang cukup nyata dalam industri pangan. Alat ini mampu memastikan bahwa makanan yang dihidangkan terbebas dari virus korona karena telah dipersiapkan dengan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini dimungkinkan karena pembuatan makanan dipantau lewat kamera yang menggunakan algoritma cerdas dan teknik image recognition. Berdasarkan penemuan ini kita juga bisa membuat kamera cerdas untuk memastikan bahwa proses produksi dalam industri pangan juga sudah sesuai dengan protokol kesehatan yang diharuskan pemerintah. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan mutu dan keamanan dari produk-produk pangan yang akan didistribusikan ke konsumen. Proses pengawasan secara manual yang memerlukan 34

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

banyak tenaga kerja dan produk pangan mempunyai risiko tinggi untuk terpapar virus korona atau kontaminan lainnya tentu saja tidak diperlukan lagi. Aplikasi AI lainnya adalah di bidang sortasi produk. Krista Garver dalam artikelnya yang berjudul “6 Examples of Artificial Intelligence in the Food Industry� menjelaskan bagaimana proses sortasi kentang dapat dilakukan dengan lebih efisien. Sistem ini menggunakan kamera dan near-infrared sensor yang dihubungkan dengan teknik machine learning sehingga dapat secara otomatis memisahkan kentang untuk French fries, potato chips atau hashbrown. Keunggulan teknologi cerdas ini adalah produktivitas proses lebih tinggi (hasilnya lebih banyak), waktu sortasi jauh lebih cepat, mutu produk lebih baik dan sampah (waste) yang dihasilkan lebih sedikit. AI bisa juga digunakan untuk pengendalian proses (process control) di industri pangan atau agroindustri lainnya. Sebagai contoh dalam produksi Crude Palm Oil (CPO) perlu dilakukan perebusan dengan suhu dan tekanan tertentu untuk mengekstrak minyak dari tandan buah segar sawit. Selama ini, proses perebusan dilakukan dengan parameter yang sama, tanpa memerhatikan keberagaman karakteristik bahan baku. Proses ini ternyata belum bisa menghasilkan rendemen sesuai dengan yang diharapkan (masih di bawah target) karena berbagai inefisiensi. Proses ini bisa dibuat lebih efisien dan optimal dengan menggunakan teknologi AI yang disebut Fuzzy Logic


Controller (FLC). Dengan menggunakan FLC ini maka suhu dan tekanan diatur sendiri secara otomatis oleh algoritma fuzzy logic berdasarkan karakteristik bahan baku yang direbus. Jadi kalau tandan buah segar sawit banyak yang masih muda, maka suhu dan tekanannya akan berbeda kalau bahan bakunya banyak yang sudah tua. Dengan cara ini proses akan lebih optimal dan hasil (rendemen) yang didapatkan juga akan lebih banyak sesuai dengan target dari perhitungan teoritis. Hal ini bisa terjadi karena dengan menggunakan FLC kehilangan minyak selama perebusan dapat ditekan. Kehilangan minyak ini terjadi akibat suhu dan tekanan yang tidak sesuai dengan derajat kematangan (degree of ripeness) buah sawit, yang bisa menyebabkan minyak tidak bisa diekstraksi atau sebaliknya minyak yang sudah diektraksi akan menguap. Proses FLC ini sama seperti yang diterapkan pada mesin cuci cerdas yang putaran mesin dan jumlah deterjen yang digunakan akan diatur secara otomatis berdasarkan derajat kekotoran (degree of dirtyness) dari baju yang dicuci. Dengan cara ini maka energi listrik yang digunakan akan lebih hemat dan hasil cucian lebih bersih. Jadi, tanpa AI mesin akan bekerja dengan parameter yang sama pada semua proses sehingga tidak efisien. FLC ini tentu saja bisa juga digunakan untuk berbagai proses lainnya di industri pangan seperti bioreaktor, pemasakan,

sterilisasi, pemurnian, pembuatan adonan dan lain-lain. Untuk lebih meningkatkan kemampuannya, FLC bisa digabungkan dengan teknologi AI lainnya yaitu deep learning. Bidang lain yang memerlukan AI adalah untuk memprediksi permintaan serta menganalisa suara konsumen (voice of customer). Industri pangan harus bisa memprediksi jumlah, jenis dan mutu produk yang diinginkan konsumen secara akurat (presisi tinggi). Kita tidak bisa lagi memproduksi dan mendistribusikan produk pangan hanya berdasarkan data historis saja, karena permintaan konsumen sangat mudah berubah (volatile) dan penuh ketidakpastian (uncertainty). Untuk itu perlu digunakan VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

35


sistem prediksi yang lebih cerdas dengan menggunakan algoritma AI seperti Natural Language Processing (NLP), sentiment analysis, opinion mining dan deep learning. Dengan menggunakan teknologi cerdas ini, maka industri pangan kita akan lebih adaptif terhadap perubahan sehingga bisa tetap mempunyai daya saing yang tinggi di tahun 2021 yang penuh tantangan.

Strategi percepatan penerapan AI

Penerapan dan adopsi teknologi digital maju seperti AI di industri pangan masih belum sesuai harapan. Banyak industri pangan saat ini berada pada posisi wait and see. Jika pesaingnya menerapkan AI, barulah dia juga akan menerapkan AI. Mereka tidak mau menjadi technology leader, karena takut menanggung risiko. Penyebab lain adalah kurangnya kemampuan teknologi, terbatasnya kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kurangnya modal. Kita tentu saja tidak ingin hal ini berlangsung terus. Untuk itu tahun 2021 haruslah menjadi tahun di mana kita bisa melakukan percepatan (akselerasi) penggunaan Artificial Intelligence dan teknologi digital maju lainnya di industri pangan. Dalam rangka akselerasi digitalisasi industri pangan di Indonesia, maka perlu dijalankan lima strategi berikut ini. Strategi yang pertama adalah pembentukan pola pikir (mindset) tentang pentingnya penggunaan AI dan teknologi digital maju lainnya di industri pangan. Penyampaian fakta prestasi perusahaan yang telah menerapkan AI menjadi penting untuk memicu implementasi digitalisasi. Pemikiran bahwa digitalisasi adalah sesuatu yang sulit dilakukan, memakan biaya dan waktu harus segera diubah. Pendapat bahwa tanpa digitalisasi bisnis juga sudah berjalan lancar dan perusahaan sudah untung adalah keliru. Ingat bahwa kita akan 36

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

menghadapi masa depan yang terus berubah dan semakin tidak pasti. Oleh sebab itu kita perlu menghadapinya dengan menggunakan teknologi digital cerdas dan adaptif seperti AI. Strategi yang kedua adalah peningkatan kemampuan SDM perusahaan agar bisa mengadopsi dan menggunakan AI dan teknologi digital maju lainnya, seperti blockchain dan Internet of Things (IoT), dengan baik. Selain itu, masyarakat termasuk industri kadang menolak teknologi digital dengan alasan akan menyingkirkan tenaga kerja manusia. Digitalisasi akan mengancam program padat karya sehingga juga mengancam sumber pendapatan masyarakat. Untuk mengatasi ini maka sudah saatnya tenaga kerja ditingkatkan kemampuannya (capacity building) sehingga bisa menguasai


pekerjaan yang kedap AI (AI-proof) atau kedap robot (robot proof). Dengan cara ini kita akan merasa aman dan dapat bekerja sama dengan AI dan robot cerdas tanpa takut tersingkir. Strategi ketiga adalah implementasi digitalisasi dalam suatu industri harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari bagian yang paling prioritas terlebih dulu. Digitalisasi sering dianggap membutuhkan biaya yang tinggi sehingga mengancam tingkat keuntungan industri. Ini adalah keliru, karena sesungguhnya digitalisasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan finansial industri pangan. Setelah berhasil pada bagian atau tahapan tertentu, baru kemudian dilanjutkan dibagian lain yang dianggap prioritas setelahnya. Biaya

yang muncul dari implementasi digitalisasi sesungguhnya merupakan investasi yang suatu saat nanti justru akan meningkatkan produktivitas dan keuntungan perusahaan. Strategi keempat adalah program digitalisasi industri harus dibangun dan dibuat dengan memanfaatkan SDM dari dalam negeri sendiri. Digitalisasi bukanlah sesuatu yang sangat sulit dan rumit sehingga harus dibuat dengan menggunakan tenaga ahli luar negeri. Saat ini di dalam negeri, telah tersedia juga ahli-ahli AI yang dapat ditemukan di berbagai perguruan tinggi maupun lembaga penelitian dan konsultan swasta. Pemanfaaatan SDM yang kompeten dari dalam negeri akan menjadikan biaya pembangunan digital menjadi lebih murah dan lebih terjangkau. Selain itu pemberian kepercayaan (trust) kepada ahli dari dalam negeri akan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan semangat nasionalisme para ahli AI kita. Strategi kelima adalah komitmen pemerintah untuk terus berperan aktif dalam mendukung program digitalisasi industri pangan melalui pembuatan berbagai kebijakan positif seperti pembinaan, pemberian kemudahan atau pembukaan akses pasar domestik dan ekspor, pemberian insentif untuk digitalisasi, keterlibatan dalam pembangunan SDM, insentif riset digitalisasi, perlindungan atau kepastian hukum, menjamin keamanan cyber serta pembangunan infrastruktur digital. Harus diakui bahwa sarana dan prasarana internet yang menjadi penunjang proses digitalisasi masih terbatas dan tidak merata di Indonesia. Hal tersebut sering menjadi kendala khususnya untuk integrasi data dan informasi sampai tingkat hulu industri pangan yaitu petani sebagai pemasok bahan baku. Peran pemerintah sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini. VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

37


RANTAI PENDINGIN INDUSTRI PANGAN 2021

38

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


oleh Hasanuddin Yasni Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia

Salah satu tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang diharapkan tercapai di tahun 2030 adalah mencapai kondisi tanpa kelaparan (zero hunger). Namun, kondisi saat ini 1 dari 9 penduduk dunia masih mengalami kekurangan gizi, yang mengindikasikan ketahanan pangan yang masih rentan.

K

etahanan pangan erat kaitannya dengan seberapa efisien suatu negara dapat memfasilitasi penyimpanan pangannya sebagai buffer stock (tersedia kontinu sepanjang tahun) sehingga dapat meminimalkan disparitas dan fluktuasi harga pangan nasional dan ketersediaan fasilitas armada pengirimannya mengikuti gaya hidup dan pola menu sehat masyarakat kekinian. Manajemen rantai pendingin harus dapat menjawab tantangan ini ke depan (2021).

Hulu ke hilir

Biaya logistik nasional untuk produk barang konsumen dan pangan masih terbilang tinggi, rerata 26% dari PDB nasional. Hal ini memerlukan pengelolaan platform dari hulu ke hilir atau dari first mile ke last mile, yang lebih lanjut dapat disebut sebagai Cold Chain Logistics Platform. Sebelum membuat implementasi platform cold chain logistics tersebut yang diperkuat dengan prosedur standar operasi, perlu didefinisikan secara rinci masing-masing poin kritis rantai dinginnya dari hulu ke hilir dengan dukungan konektivitas tiap kargo VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

39


40 35 30

PRODUCTION

25

HANDLING & STORAGE

20

PROCESSING

15 10

DISTRIBUTION & MARKET

5

CONSUMPTION

0 PERCENTAGE

Gambar 1. Persentase susut pangan di rantai dingin pangan

tersebut agar tidak terputus, baik secara digitalisasi dan e-commerce. Tidak mudah membuat definisi masingmasing poin kritis tersebut, karena dari hasil survei tentang kehilangan pangan dan limbah pangan (food loss & waste) di industri pangan dunia masih cukup tinggi, rerata 35% (dari 20% sampai dengan 60%) dan Indonesia rerata ada di angka 45% (variatif tergantung jenis produk). Dari hasil survei, nilai susut pangan masih cukup tinggi dan diperlukan pembenahan yang lebih baik dengan pengadaan sarana dan prasarana yang sesuai. Di dalam diagram (Gambar 1), terlihat persentase susut pangan di poin-poin kritis rantai dingin pangan.

Perubahan pasar basah pangan

Pandemi COVID-19 di tahun 2020 ini menjadikan situasi bisnis menurun signifikan karena beberapa pelabuhan ekspor-impor harus buka-tutup dalam jangka waktu tertentu. Demikian pula dengan pasar basah dan restoran tempat berkumpulnya masyarakat karena harus menerapkan prokes 3M (protokol kesehatan; menggunakan 40

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Platform digitalisasi memiliki peran dalam transaksi pangan serta pengiriman. Dari model pasar basah (market-channel) berkembang menjadi pasar daring mandiri (cross-channel) dan ke depannya di tahun 2021 model perdagangan niaga (omnichannel) akan banyak digunakan. Biaya logistik rantai dingin diprediksi menurun. Pada market channel, pelanggan melihat beberapa titik kontak dan bertindak secara independen. Pengecer menyalurkan info pengetahuan dan operasional yang ada dalam prosedur secara silo. Sedangkan pada cross channel, pelanggan melihat beberapa titik sebagai bagian dari merek yang sama, dan pengecer memiliki pandangan terbatas tentang pelanggan tetapi beroperasi dalam satu prosedur secara silo. Pada omni channel, merupakan pengalaman pelanggan tentang satu merek, bukan hanya konektivitasnya, dan pengecer memanfaatkan pengalaman pelanggan dalam pandangan yang terkoordinasi dan strategis. Situasi pandemi juga telah menyadarkan sebagian besar masyarakat sebagai konsumen


Tabel 1. Jumlah gerai ritel 2019 Jenis ritel

Pasar ritel besar (supermarket) Mini market Frozen food mini store

Jumlah gerai 605 32.000 735

akan pentingnya menyediakan pangan segar dalam bentuk pangan beku untuk disimpan beberapa hari ke depan di dalam refrigerator. Dengan keterbatasan ruang gerak berbelanja luring, cara daring menjadi pilihan sekaligus dapat memangkas pengeluaran rumah tangga dalam hal transportasi. Pasar ritel di kota besar melayani sistem belanja daring. Sedangkan mini market yang kebanyakan hanya menjual bahan konsumen menurun jumlah pengunjungnya, dan telah direncanakan ke depan akan menambah penjualan bahan pangan beku di 2021. Untuk gerai yang berdekatan, sebagian akan dialihfungsikan sebagai hub cold storage atau mini store frozen food sebagaimana yang telah dilakukan oleh 2 (dua) pelaku bisnis besar di olahan hasil pertanian. Kondisi jumlah gerai industri ritel di tahun 2019, dan pada kondisi pandemi 2020, tingkat okupansi minimarket menurun dan beberapa gerai pasar ritel besar ditutup hingga 15%. Sedangkan mini store frozen food terus bertambah 15%. Penjualan daring pangan pun meningkat, persentase permintaan daring saat ini berkontribusi terhadap penjualan sebesar 17% dan di tahun 2021 diprediksi meningkat menjadi 37%. Fluktuasi harga pangan segar (yang memerlukan kontrol temperatur) masih kerap terjadi sesuai dengan musim panen masing-masing produk. Hal ini akan terjawab jika masing-masing kota provinsi dapat menyediakan big storage yang berfungsi sebagai buffer stock dan dilengkapi dengan layanan distribusinya, dengan kata lain sudah diperlukan pusat distribusi yang terintegrasi

dalam menjaga ketahanan pangan kota. Sudah beberapa investor besar yang berminat menyediakannya, terutama di 3 (tiga) provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat. Kemungkinan besar, tahun 2021 mulai dilakukan instalasi untuk penyimpanan beku tersebut. Moda transportasi untuk pengiriman, akan diperkaya dengan moda kereta api logistik yang dilengkapi dengan platform cold chain logistic. Jasa penyedia pengiriman pangan beku dengan jarak tempuh yang jauh, juga sedang mempersiapkan sarana dan prasarananya seperti cool box, pendingin tambahan (ice pack, ice gel, dan lainnya), sistem pengawasan suhu dan pergerakan produk serta trace-track dokumen. SNI untuk pengiriman parsel dingin (cool parcel delivery) juga tengah dipersiapkan oleh beberapa komite teknis yang berkolaborasi antara BSN, ARPI, kementerian-kementerian terkait, dan asosiasi pengguna. Walau secara year on year bisnis rantai dingin rerata turun 18% (dari turun 48% sampai dengan ada yang naik 15% seperti industri 3 PL dan sistem pengawasan) pada tahun 2020 ini, di tahun 2021 akan jadi tahun “frozen food storage and delivery� di mana industri logistik rantai pendingin akan menggeliat lebih agresif dan dapat tumbuh dua digit (10-12%) dan rerata CAGR 8,7%). VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

41


INDUSTRI PANGAN HALAL:

HARAPAN EKONOMI INDONESIA Oleh Dr. Lukmanul Hakim, M.Si Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI)

42

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Pada tahun 2010 jumlah muslim di Indonesia mencapai 209,1 juta penduduk (globalreligiusfuture, 2018).

B

esarnya jumlah penduduk muslim di Indonesia menjadi potensi besar akan kebutuhan produk halal. Berdasarkan hasil Susenas September 2019, persentase rata-rata pengeluaran masyarakat per bulan sebesar 49,21% untuk keperluan pangan. Tentunya hal tersebut mengindikasikan besarnya peluang pasar kebutuhan pangan di Indonesia. Kebutuhan pangan yang cukup besar di Indonesia dan mayoritas penduduk muslimnya, menjadikan peluang pasar pangan halal sangat besar di Indonesia. Dengan adanya kebutuhan pangan halal yang cukup besar, maka Indonesia perlu memiliki pasokan bahan mentah yang cukup besar dan rantai pasok pangan halal yang cukup memadai. Hal inilah yang menjadi penting penjaminan kehalalan produk tidak hanya sebatas finished good-nya namun juga rantai pasoknya. Dengan demikian peluang industri halal di Indonesia tidak hanya sebatas finished good namun juga rantai pasok pangan halal. Selain itu, saat ini halal tidak hanya menjadi sesuatu yang terpusat pada sektor pangan, namun juga sudah menjadi lifestyle. Maka tidak heran, industri halal pun berkembang mencakup pariwisata dan fashion. Berdasarkan data Global Muslim Travel Indhex (GMTI) di tahun 2000, jumlah wisatawan muslim seluruh dunia mencapai 25 juta wisatawan dan di tahun 2017 menjadi 131 juta wisatawan. Indonesia menjadi negara tujuan wisatawan muslim ke enam di dalam GMTI. Ini menjadi bukti sektor halal semakin luas diminati tidak hanya di Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim tapi juga mancanegara. Melek informasi dan teknologi menjadi salah satu faktor masyarakat Indonesia sudah mampu memilih produk mana yang akan dikonsumsinya. Sehingga pada saat akan membeli suatu produk konsumsi, masyarakat Indonesia sudah memiliki kecenderungan VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

43


mencari informasi dan memastikan kualitas serta kehalalan produk yang akan dibeli. Maka tidak heran industri-industri pangan di Indonesia berlomba-lomba untuk menghasilkan produk-produk pangan yang memenuhi kriteria pasar Indonesia yaitu halal, berkualitas, dan harganya terjangkau. Masyarakat Indonesia saat ini pun sudah mulai kritis dalam mengidentifikasi informasi bahan pada kemasan produk-produk. Hal ini juga dikarenakan adanya regulasi yang mengatur hak masyarakat Indonesia terkait produk yang dikonsumsinya. Hakhak masyarakat Indonesia terkait informasi pangan yang dikonsumsi telah ada sejak

44

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

tahun 1976 dengan adanya Peraturan Menteri Kesehatan RI 280/Menkes/Per/XI/76 hingga yang terbaru sangat spesifik yaitu regulasi mengenai jaminan produk halal pada UU No. 33 Tahun 2014. Hal ini menunjukkan upaya pemerintah dalam mengembangkan industri halal di Indonesia. UU No. 33 tahun 2014 mengenai jaminan produk halal dapat dijadikan regulasi pendukung untuk menguatkan upaya penyediaan rantai pasok halal yang selama 32 tahun diemban oleh pelaku usaha, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika (LPPOM MUI). Kewajiban sertifikasi halal


diharapkan akan terus membangkitkan semangat dunia industri untuk memproduksi produk halal di Indonesia. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi tuan rumah industri halal di negeri sendiri dan turut bersumbangsih untuk dunia internasional. Selama ini MUI dan LPPOM MUI mengupayakan jaminan rantai pasok halal dengan mewajibkan penerapan sistem jaminan halal oleh pelaku usaha yang produknya disertifikasi halal. Lalu apakah sistem jaminan halal tersebut. Sistem Jaminan Halal adalah sistem manajemen yang terintegrasi yang mengatur tidak hanya bahan, proses produksi, sumber daya manusia tetapi juga prosedur-prosedur pendukung untuk menjamin kekonsitenan produksi produk halal.

Tantangan industri halal

Tantangan saat ini yang dihadapi oleh industri halal memang terkait dengan rantai pasokan bahan halal. Hasil pertanian merupakan salah satu hal terpenting dalam

rantai pasok pangan. Dengan adanya pasokan hasil pertanian yang memadai dan stabil, maka akan terjadi kestabilan harga pasokan hasil pertanian. Kestabilan harga pasokan hasil pertanian, tentunya dapat merangsang pertumbuhan industri-industri bahan baku pangan di Indonesia. Namun yang disayangkan, saat ini pasokan bahan mentah kurang memadai. Negara-negara dengan penduduk minoritas muslim tentunya tidak terlalu memperhatikan asal usul sumber bahan yang digunakan untuk memproduksi produk pangannya karena penduduk tersebut tidak membutuhkan hal tersebut. Namun lain halnya dengan penduduk di Indonesia yang memerlukan produk-produk halal untuk dikonsumsi karena mayoritas penduduknya yang muslim. Seiring dengan perkembangan jaman, masyarakat Indonesia semakin memperhatikan produk yang dikonsumsinya terutama terkait dengan kehalalannya. Sebelumnya pemahaman masyarakat di Indonesia produk yang halal yaitu produk yang bukan berasal dari babi dan minuman keras (miras). Sekarang pemahaman masyarakat di Indonesia sudah lebih meningkat yang mana mereka memahami sumber bahan utama bukan merupakan salah satu penentu kehalalan suatu produk melainkan juga dalam proses pembuatannya, bahan-bahan tambahan dan bahan penolong yang digunakan dapat menjadikan status suatu produk abu-abu kehalalannya (syubhat). Pertumbuhan industri-industri pangan halal yang dapat menghasilkan produk halal berkualitas dan terjangkau harganya, dapat terjadi apabila ketersediaan pasokan bahanbahan halal pun terpenuhi baik bahan mentah maupun bahan antara. Namun ternyata kestabilan pasokan bahan-bahan tersebut tidak dapat didukung oleh kemampuan penyediaan bahan di Indonesia. Hal ini dapat VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

45


terlihat dari trend kenaikan impor yang dilakukan oleh Indonesia untuk pangan (bahan mentah, belum diolah) sebesar 8,15% dari tahun 2015-2019, untuk pangan olahan industri sebesar 3,04% dari tahun 20152019 (Portal Statistik Perdagangan). Inilah tantangan bagi Indonesia untuk berdaya dalam menghasilkan pasokan bahan-bahan halal yang berkualitas sehingga dapat menggantikan bahan-bahan impor. Indonesia perlu melakukan analisa mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan pasar halal di Indonesia mulai dari berapa harga produk halal yang 46

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

mampu dibeli oleh masyarakat. Jika sudah mendapatkan analisa tersebut, maka akan diketahui berapa harga bahan baku yang mampu dibeli oleh industri produk jadi di Indonesia agar dapat menghasilkan produk jadi yang kompetitif. Harga bahan baku tentunya akan dipengaruhi oleh ketersediaan bahan mentah dan produktifitasnya. Produktifitas sendiri didefinisikan sebagai hubungan antara input dan output suatu sistem produksi. Hubungan ini sering lebih umum dinyatakan sebagai rasio output dibagi input. Produktifitas yang tinggi dapat didukung dengan teknologi yang efisien


atau proses yang efisien sehingga input yang sedikit akan menghasilkan output yang besar. Harga bahan baku yang kompetitif tentunya sangat dipengaruhi oleh banyaknya ketersediaan bahan mentah. Semakin banyak ketersediaan bahan mentah, maka akan semakin murah harga bahan baku yang dihasilkan. Selain itu dengan adanya modifikasi proses atau penggunaan bahan penolong dalam industri bahan baku tentunya sangat berperan dalam menghasilkan yield bahan baku. Modifikasi proses dan penggunaan bahan penolong dalam proses industri bahan baku ini juga merupakan salah satu potensi sumber perubahan status kehalalan suatu bahan mentah menjadi bahan baku. Contoh modifikasi proses ekstraksi tanaman dengan uap tentunya tidak akan memengaruhi kehalalan ekstrak tanaman

yang dihasilkan karena pada dasarnya status kehalalan bahan mentah tanaman adalah halal. Namun apabila modifikasi proses ekstraksi tanaman untuk meningkatkan yield-nya dilakukan dengan mengganti sistem uap dengan sistem pelarut seperti etanol atau asam lemak. Tentunya ini akan mempengaruhi status kehalalan ekstrak tanaman yang dihasilkan walaupun sumber bahan mentahnya jelas kehalalannya. Apabila Indonesia dapat membenahi rantai pasok pangan halalnya maka akan menurunkan ketergantungan terhadap impor. Dukungan pemerintah pun sangat diharapkan dalam hal fasilitasi, pemasaran rantai pasok halal di Indonesia. Dengan dukungan penuh terhadap industri halal, maka akan menggairahkan pengusaha-pengusaha pribumi untuk menjadi pemain di negeri sendiri. Selain itu, Langkah-langkah yang ditempuh dapat dimulai dengan meningkatkan ketersediaan bahan mentah dan bahan baku yang halal sangat perlu dilakukan. Dalam hal ini pemerintah perlu membuat peta rantai pasok pangan yang memang sangat krusial dan potensi besar untuk mendukung tersedianya pasokan bahan mentah dan bahan baku yang halal. Jika rantai pasok bahan mentah dan bahan baku halal telah terpenuhi di Indonesia, maka industri-industri pangan pun akan cenderung memilih untuk menggunakan bahan mentah dan bahan baku lokal daripada impor. Hal ini tentunya karena harga yang diperoleh akan lebih kompetitif dan mengurangi beban biaya impor. Referensi:

Buku HAS 23000 Persyaratan Sertifikasi Halal LPPOM MUI, tahun 2012.

VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

47


Oleh Betsy Monoarfa Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan UKM Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia

KONDISI & STRATEGI UMKM PANGAN 2021 48

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


Krisis ekonomi dan kesehatan akibat COVID-19 sejak awal 2020 menimpa hampir seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

C

OVID-19 mengakibatkan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi ekonomi sejak triwulan ke-2 tahun 2020, dalam tahap ini industri pengolahan masih bertahan tumbuh meski hanya 0,2% dan perlahan membaik pada triwulan ke-3 tahun 2020 dengan tumbuh + 0,6%. Kondisi ini tidak hanya menimpa perusahaan besar tetapi juga terhadap sektor Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM). UMKM di bidang kuliner yang mempunyai warung, cafĂŠ, terutama yang berada di area perbelanjaan modern mengalami penurunan yang sangat drastis, termasuk bidang travel.

Pola belanja konsumen juga turut berubah seperti lebih memilih produk yang dapat memberikan rasa aman. Selain itu, memprioritaskan produk dengan dampak positif pada kesehatan juga menjadi salah satu pola konsumsi konsumen saat ini yang berdampak pada UMKM pangan. Untuk itu, UMKM produsen pangan minuman herbal, pangan siap saji, pangan yang relatif mempunyai masa simpan lebih lama, mendapat keuntungan dari kondisi COVID-19 ini, dengan omzet yang cenderung meningkat.

Tabel 1. Profil industri pangan di Indonesia

Industri Makanan Minuman di Indonesia

Jumlah Pelaku Usaha Category

2015

2016

2017

2018*

Medium-Large

Small & Micro

Medium-Large

Small & Micro

Medium-Large

Small & Micro

Medium-Large

Small & Micro

6,453

1,567,019

7,708

-

7,508

1,538,117

6,749

1,741,779

422

47,130

696

-

650

134,266

572

114,01

Total

6,875

1,614,149

8,404

-

8,158

1,672,383

1,321

1,855,79

%

0.42

99.58

0.48

99.52

0.39

99.61

Food Beverages

Jumlah Tenaga Kerja Category

2015

2016

2017

2018*

Medium-Large

Small & Micro

Medium-Large

Small & Micro

Medium-Large

Small & Micro

Medium-Large

Small & Micro

Food

858,170

3,664,208

1,119,579

-

1,042,966

3,390,002

937,599

3,612,059

Beverages

59,973

85,167

97,428

-

94,127

265,520

82,896

225,743

Total

918,143

3,749,375

1,271,007

-

1,137,093

3,655,522

1,020,495

3,837,801

19.6

80.33

31.11

68.89

26.59

73.41

%

Nilai Output (Milyar Rupiah) Category Food Beverages Total %

2015

2016

2017

2018*

Medium-Large

Small & Micro

Medium-Large

Small & Micro

Medium-Large

Small & Micro

Medium-Large

Small & Micro

1,021,526

248,410

1,368,014

-

1,604,933

187,495

1,665,030

213,717

40,693

3,589

49,167

-

50,787

8,847

59,474

7,922

1,062,219

251,999

1,417,181

-

1,655,720

196,342

1,724,504

221,639

80.83

19.17

88.14

11.86

87,15

12.85

Source: Statistic BPS 2020 *Prognosa

VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

49


Strategi UMKM 2021

Pandemi COVID-19 tahun 2020 masih belum berakhir, dan mungkin masih akan berlanjut di tahun 2021. Untuk dapat mempertahankan bahkan mengambil peluang untuk berkembang di tahun 2021, maka UMKM perlu dan layak untuk melakukan beberapa hal seperti: 1. Berkolaborasi Bukan saatnya UMKM untuk bekerja secara sendiri-sendiri. Berkolaborasi adalah solusi yang terbaik. Ikut dalam berbagai komunitas akan memberi banyak manfaat, antara lain (1) mendapat peluang akses pasar; (2) peluang untuk berbagi pengalaman dan solusi masalah; (3) peluang berbagi pengetahuan/ teknologi atau informasi. 2. Melek teknologi pengolahan Bagi UMKM pangan olahan, keamanan Meningkat >30%

Meningkat 0-30%

1.6%

2.2%

Menurun 0-30%

31.7%

Menurun >30%

Tidak berubah

pangan produk yang dibuat UMKM adalah syarat mutlak. Era pandemi mengubah pola konsumsi konsumen untuk mulai memilih dalam mengonsumsi pangan. Mereka mencari produk yang bergizi, menyehatkan, aman, halal, dan legal. Terjadi perubahan pola belanja di mana konsumen merasa aman jika mempunyai cukup stok bahan pangan. Hal ini harus disikapi oleh produsen pangan UMKM untuk lebih memperhatikan sanitasi, dan higiene, cara berproduksi yang baik agar produknya dapat mempunyai batas kedaluwarsa yang lebih lama dengan tetap terjaga keamanan pangannya. Untuk mencapai hal-hal tersebut UMKM pangan harus melek teknologi antara lain melek pengetahuan bahan baku, cara proses, kemasan dan cara penyimpanan.

63.9%

Pandemi ini bahkan menyebabkan 63,9% dari UMKM yang terdampak mengalami penurunan omzet lebih dari 30%. Hanya 3,8%UMKM yang mengalami peningkatan omzet.

0.6%

Gambar 2. Hasil survei UMKM di tengah pandemi Sumber: Katadata (2020)

50

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


Gambar 3. Hasil survei UMKM di tengah pandemi Sumber: Katadata (2020)

3. Digitalisasi Pola bekerja dari rumah, tetap berdiam di rumah, dan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang masih akan berlangsung sampai 2021 membuat banyak keterbatasan-keterbatasan antara lain pada penjualan luring, belanja bahan baku, dan mengikuti pelatihanpelatihan secara langsung/tatap muka. Untuk dapat tetap menjalankan kegiatankegiatan rutin seperti biasa perlu suatu perubahan yang masif. Digitalisasi adalah solusi. Pengetahuan tentang digitalisasi dan penggunaan internet akan sangat bermanfaat terutama untuk informasi ketersediaan bahan baku, pelatihan melalui webinar dan peningkatan omzet penjualan melalui pemasaran digital, penjualan niaga elektronik, dan penggunaan media sosial seperti Instagram, Facebook dan website. 4. Tetap kreatif dan inovatif Dunia bisnis terus berubah dengan sangat cepat, dinamis dan drastis. Termasuk perubahan teknologi dan perilaku

konsumen. Perubahan tersebut hanya dapat disikapi dengan tetap berkreasi dan membuat inovasi untuk dapat menghadapi dan mengadopsi perubahan yang terjadi. 5. Aktif mencari informasi Adanya beberapa kali krisis ekonomi seperti 1998, 2008, dan era COVID-19 terbukti bahwa UMKM (terutama bidang pangan) mempunyai daya tahan yang cukup tinggi. Diprediksi jika keadaan membaik, UMKM pangan yang akan paling dahulu dapat melewati krisis ini. UMKM termasuk UMKM Pangan akan tetap menjadi tumpuan yang bisa membangkitkan ekonomi. Untuk itu pemerintah banyak menggagas dan membuat program-program untuk mempercepat pemulihan ekonomi termasuk untuk UMKM. Untuk mendapatkan akses bantuan tersebut, UMKM harus lebih aktif menjemput bola dengan mencari sebanyak-banyaknya informasi. VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

51


OVERVIEW

Tantangan Perbaikan

Pangan & Gizi di Indonesia Malagizi, baik gizi kurang maupun gizi lebih, masih menjadi permasalahan utama negaranegara berkembang, termasuk Indonesia, di samping tantangan kecukupan dan keamanan pangan. Jutaan anak-anak dan remaja Indonesia tetap terancam dengan tingginya angka anak yang bertubuh pendek (stunting) dan kurus (wasting). Namun di sisi lain, beberapa daerah atau sekelompok masyarakat Indonesia yang lain terutama di kota-kota besar, masalah kesehatan utama masyarakatnya justru dipicu dengan adanya kelebihan gizi.

52

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


B

ahkan dalam laporan Global Nutrition Report tahun 2020 menunjukkan Indonesia mengalami triple burden malnutrition, yaitu gizi lebih seperti kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas, defisiensi zat gizi mikro seperti anemia gizi besi, serta masalah gizi kurang seperti stunting. Penanganan triple burden ini tidak hanya menjadi komitmen nasional tetapi juga komitmen dunia internasional yang tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Berdasarkan pidato sambutan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP, yang diwakilkan oleh Deputi Menko PMK, Prof. Dr. R. Agus Sartono, MBK dalam Webinar VII AIPG-AIPI dengan tema “Pembangunan Pangan dan Gizi untuk Kesejahteraan Bangsa� pada 5 Desember 2020 lalu menyatakan bahwa saat ini Indonesia memiliki berbagai tantangan terkait pangan dan gizi, antara lain i) peningkatan produksi pangan belum dapat mengimbangi kenaikan konsumsi dan kebutuhan akan komoditas, ii) prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan menurun, namun sekitar 21 juta orang di Indonesia asupan kalori masih di bawah kebutuhan pangan minimum, iii) pola konsumsi masyarakat Indonesia masih kurang ideal, dan iv) permasalahan gizi balita menurun, namun gizi lebih justru meningkat di kalangan anak 6-12 tahun, remaja, dan orang dewasa. Pembangunan bangsa Indonesia ke depan, lanjut Agus, utamanya ditujukan pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul untuk mengakulturasi pertumbuhan ekonomi, sebagai aspek yang dibutuhkan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Pengembangan SDM menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah. Dalam upaya mewujudkan SDM yang unggul, berkualitas, dan berdaya saing, VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

53


maka salah satu aspek yang harus terpenuhi yaitu terkait dengan memastikan masyarakat mendapatkan pangan dan gizi yang baik,” tutur Agus. Secara nasional, konsumsi kalori masyarakat Indonesia sebesar 2.112,06 kkal/ kapita, angka ini di atas rekomendasi AKG yakni sebesar 2.100 kkal/kapita. Kelompok pangan penyumbang kalori terbesar penduduk Indonesia berasal dari padi-padian dan pangan jadi (olahan). Sedangkan untuk konsumsi protein 61,98 gram/kapita, yakni berada di atas anjuran AKP 57 gram/kapita (BPS, 2020). Data dari Riskesdas 2013-2018 juga menunjukkan bahwa penduduk usia lebih dari lima tahun sebanyak 93,5% (2013) dan 95,5% (2018). “Dari data-data tersebut menunjukkan bahwa konsumsi pangan masyarakat Indonesia tidak beragam. Konsumsi terbesar masih didominasi oleh pangan tinggi kalori namun tidak diiringi dengan konsumsi buah dan sayur yang sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, pangan sumber protein masih terpusat pada komunitas tertentu yakni kacang-kacangan. Konsumsi ikan (13,6 gram/ kapita) dan telur (5,6 gram/kapita) masih cukup rendah,” jelas Agus. Agus menuturkan, salah satu permasalahan gizi di Indonesia saat ini adalah masalah stunting, meskipun angka stunting 54

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

selama 10 tahun terakhir telah menunjukkan penurunan yang cukup signifikan, yakni 37,2% di tahun 2013 (Riset Kesehatan Dasar, Riskesdas, 2013) menjadi 27,7% di tahun 2019 (Survei Status Gizi Balita Indonesia, SSGBI, 2019). Pemerintah menargetkan angka stunting turun hingga di angka 14,0% di tahun 2024. “Persoalan stunting pada anak menjadi fokus perhatian pemerintah karena stunting akan menimbulkan biaya sosial yang sangat tinggi. Berbicara tentang siklus pengembangan sumber daya manusia, maka usahanya dimulai dari tahap prenatal. Fokus utama pemerintah saat ini adalah bagaimana memastikan bayi dalam kandungan mendapatkan asupan gizi yang cukup sehingga angka stunting dapat ditekan. Apabila permasalahan prenatal ini dapat diatasi, di masa usia dini hingga seterusnya akan lebih mudah,” tutur Agus. Pembangunan pangan dan gizi tentu harus dilaksanakan melalui berbagai upaya. Agus memaparkan, percepatan perbaikan gizi menjadi salah satu upaya yang harus diwujudkan dalam Gerakan Mayarakat Hidup Sehat (GERMAS) sesuai dengan Amanat Inpres No. 1 Tahun 2017 dan merupakan kegiatan prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024. Gerakan


ini merupakan suatu tindakan yang sistematis dan terencana, serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan. Strategi utama yang dilakukan pemerintah dalam mencapai target pembangunan pangan dan gizi dalam RPJMN 2020-2024 antara lain meningkatkan keterjangkauan pangan yang bergizi serta memperkuat fungsi komunikasi untuk memicu perubahan pola konsumsi masyarakat. Untuk mencapai asupan pangan yang beragam di tingkat keluarga, semua pihak harus mampu mendukung pelaksanaan diversifikasi pangan dari hulu hingga hilir. “Potensi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang besar sangat memerlukan IPTEK untuk pengelolaan, pengingkatan nilai tambah, serta pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat,” kata Agus.

Perbaikan pangan dan gizi

Pembangunan ketahanan pangan telah berhasil meningkatkan ketahanan pangan Indonesia. Pada tahun 2019, Indonesia berada pada urutan ke-62 dari 113 negara dengan skor 62,6 berdasarkan Global Food Security Index yang diukur dari ketersediaan pangan, keterjangkauan, keamanan dan kualitas pangan (EIU 2019). Terjadi perbaikan peringkat dibandingkan tahun 2014 dengan

indeks 46,5 dan menduduki peringkat ke-72 dunia, dan tahun 2018 di mana Indonesia menduduki peringkat 65 dengan skor 54,8. Ini tentu dapat dianggap prestasi, namun, Indonesia belum layak berpuas diri. Sebab, meskipun peringkat telah naik, ketahanan pangan nasional masih menghadapi berbagai tantangan. “Kebijakan Nasional Perbaikan Gizi sudah kuat dan komprehensif, pemetaan tepat sasaran, panduan lengkap, dan mengikuti siklus kehidupan. Akan tetapi hasil belum sesuai harapan. Masalah dan tantangan yang dihadapi masih banyak,” demikian penjelasan Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, Prof. Dr. Hardinsyah, MS. Hardin melanjutkan, masalah dan tantangan tersebut di antaranya cakupan tidak banyak berubah, efektivitas rendah, minimal upaya perubahan gizi, masih banyak masalah jumlah dan mutu gizi konsumsi pangan yang rendah, lemah implementasi lima pilar dan delapan aksi di tingkat bawah (kepemimpinan, edukasi dan konseling, konvergensi dan koordinasi, ketahanan pangan dan gizi, monitoring dan evaluasi), serta pemantauan tidak dalam suatu sistem surveilan (time lag, yang seharusnya dipantau untuk perbaikan). Selain permasalahan gizi, terdapat isu lain yang tidak kalah mengkhawatirkan dan berkaitan dengan keamanan pangan yakni tentang isu paparan timbal dan arsenik dalam pangan khususnya beras. “Telah banyak ditemukan paparan arsenik dengan kandungan tinggi pada beras yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Untuk menanggulangi permasalahan keamanan pangan tersebut perlu ada kebijakan dan pengawasan pangan yang aman dari timbal dan arsenik khususnya pada beras, sekaligus edukasi yang massif terkait keamanan pangan kepada masyarakat,” pungkas Hardin. Fri-37 VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

55


ASOSIASI Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia

Adhi S. Lukman memberikan sambutan dalam dialog virtual GAPMMI Tax Talk bersama Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan RI, dan APINDO.

T

Proyeksi Tantangan Industri Pangan 2021

ahun 2020 merupakan tahun yang cukup berat dan penuh tantangan bagi industri pangan olahan, terutama karena pandemi COVID-19 yang melanda. Meskipun demikian, para pelaku usaha tetap optimis bahwa industri ini akan tetap tumbuh. Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman mengatakan, pertumbuhan industri pangan olahan pada tahun 2021 diperkirakan bisa tumbuh antara 5-7%. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan tumbuh mencapai hingga 6%, merujuk kepada proyeksi International Monetary Fund (IMF). Selain itu, optimisme GAPMMI juga berdasar pada tren penjualan ekspor pangan yang cukup baik di masa pandemi.  Adhi Lukman menilai, kondisi belum akan normal seperti sebelum pandemi COVID-19

56

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

menyerang. “Tahun depan belum normal sekali, kami melihat mungkin baru 2022. Tahun depan kami masih realistis karena ada ekspor yang masih bertumbuh,” ungkapnya dalam MarkPlus Conference 2021, akhir tahun lalu. Meski begitu, kinerja industri pangan pada tahun depan bukannya tanpa tantangan. Pertumbuhan industri pangan olahan juga akan bergantung pada konsumsi kelas menengah dan atas. Berdasarkan catatannya, kontribusi kedua segmen tersebut mencapai 82% dalam konsumsi pangan olahan nasional. Pada kuartal II dan kuartal III lalu, konsumsi pangan olahan kedua segmen ini masih rendah sehingga sektor ini hanya tumbuh tipis pada saat itu. Dugaan Ketua Umum GAPMMI, mungkin ini dikarenakan ketakutan kelas menengah dan atas untuk berbelanja di masa pandemi COVID-19.


Di sisi lain, terdapat pula tantangan daya beli pada segmen masyarakat menengah bawah. Oleh karenanya, GAPMMI berharap pemerintah bisa terus konsisten merealisasikan program-program insentif untuk mengdongkrak daya beli masyarakat menengah bawah. Adapun tantangan lain yang harus dihadapi adalah kelangkaan bahan baku. Salah satunya adalah stok gula rafinasi yang diperkirakan hanya cukup hingga akhir Januari 2021 dan harus segera dilakukan impor untuk memenuhi kebutuhan industri. Menanggapi hal ini, pemerintah telah mewacanakan untuk mengimpor 1,2 juta gula rafinasi guna memenuhi kebutuhan tersebut. Wacana ini disebut dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) sejumlah kementerian dan lembaga. Pernyataan pemerintah tersebut

sekaligus menjadi jawaban atas stok gula yang kian menipis di kalangan pengusaha serta kekhawatiran dari petani tebu lokal. Pernyataan pemerintah ini disampaikan Juru Bicara Kementerian Perdagangan, Fithra Faisal Hastiadi. Ia menyebut, ada wacana untuk mengimpor 1,2 juta ton gula bahan baku untuk industri yang muncul dalam rakortas sejumlah kementerian dan lembaga (K/L), di antaranya: Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Bulog, dan Satgas Pangan. Menurut Fithra, perkiraan 1,2 juta ton itu muncul karena melihat kebutuhan gula bahan baku pada tahun ini yang ditaksir sebesar Rp2,7 juta ton. Sementara, produksi gula dalam negeri pada tahun depan ditargetkan mencapai 2,5 juta ton. Fri-27

INFO GAPMMI

»» GAPMMI Tax Talk “Kebijakan Pajak dalam Menunjang Pemulihan Ekonomi Nasional” Menjelang akhir tahun 2020 lalu, GAPMMI bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan RI dan APINDO mengadakan dialog virtual yang bertajuk Tax Talk “Kebijakan Pajak dalam Menunjang Pemulihan Ekonomi Nasional”, dengan subtema “Pajak untuk Kemajuan Ekonomi Indonesia dan Manfaat bagi Pelaku Usaha, Industri dan Retail”. Mengawali acara, Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman memberikan sambutan singkat dan dilanjutkan oleh Wakil Ketua Umum APINDO, Suryadi Sasmita. Setelah itu, Direktur Jenderal Pajak, Suryo Utomo didampingi oleh Direktur Peraturan Pajak I, Arif Yanuar dan Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas, Hestu Yoga Saksama, memberikan sambutan kunci

dan memberikan penjelasan terkait Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, klaster kemudahan berusaha, di bidang perpajakan. Selain itu, beliau memaparkan juga rencana strategis DJP 2020- 2024 serta mengajak para pelaku usaha untuk bersama-sama memperkuat perekonomian Indonesia melalui perpajakan. Fri-27 Sekretariat GAPMMI ITS Office Tower Lt. 8 Unit 16, Nifarro Park Jl. Raya Pasar Minggu KM. 18, Jakarta Selatan 12510 Telp/Fax. (021) 29517511; Mobile. 08119322626/27 Hp. 08156720614 Email: gapmmi@cbn.net.id Website: www.gapmmi.or.id VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

57


OVERVIEW

Penganekaragaman Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal: Tantangan 2021 Oleh Purwiyatno Hariyadi

Tahun 2020 merupakan tahun yang penuh ujian. Dengan berbagai daya upaya, akhirnya tahun 2020 telah berhasil dilalui dan memasuki tahun baru 2021. Artinya banyak pelajaran penting dari tahun 2020 yang perlu diserap dan betul-betul dimanfaatkan untuk upaya perbaikan. 58

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


B

agi dunia pangan, pelajaran pertama dan utama diberikan oleh pandemi COVID-19 tentang pentingnya memperkokoh sistem pangan. Sistem pangan yang ada sekarang ini ternyata cukup rentan terhadap gangguan COVID-19. Pandemi COVID-19 dan kebijakan penanganannya, yang umumnya melibatkan pembatasan pergerakan manusia, ternyata memberikan cekaman yang dirasakan pada rantai nilai pangan, baik secara nasional maupun global. Organisasi Pangan dan Pertanian dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) mengidentifikasi ada empat (4) kemungkinan gangguan yang disebabkan oleh kondisi ini (Gambar 1), yaitu: i. Menurunnya ketersediaan tenaga kerja di sektor produksi yang dapat menurunkan kapasitas sistem pangan

untuk memproduksi, mengolah dan mendistribusikan pangan. ii. Menurunnya akses pasar bagi produsen (petani) karena gangguan pada sistem logistik, yang pada kondisi ekstremnya menyebabkan peningkatan pangan terbuang sebagai limbah pangan (food waste), iii. Pembatasan transportasi juga menghambat logistik pangan secara umum, menyebabkan gangguan pengiriman pangan, penundaan dan/atau bahkan pembatalan pesanan, sehingga mengganggu pasokan produk pangan ke pasar untuk menjangkau konsumen. iv. Secara khusus, menurunnya pasokan komoditas yang mudah busuk (perishable) seperti produk pangan segar (buah sayuran, daging, ikan dan lain-lain).

Gambar 1. Kemungkinan gangguan COVID-19 pada rantai pasok pangan (FAO, 2020, http://www.fao.org/2019-ncov/resources/multimedia/en/) VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

59


Jadi secara umum, kondisi pandemi ini sangat menganggu rantai pasok pangan yang bisa menyebabkan terganggunnya akses pangan bagi masyarakat. Karena alasan itu, FAO pernah mengingatkan seluruh negara di dunia bahwa penanganan pandemi COVID-19 ini perlu dilakukan secara serius dan terpadu, karena mengancam ketahanan pangan, dan berpotensi memunculkan krisis pangan baru. Dalam hal ini, FAO menyatakan bahwa penguatan sistem produksi pangan lokal merupakan suatu tindakan utama untuk mengurangi dampak negatif pandemi COVID-19 pada ketahanan pangan ini (FAO, 2020; http://www.fao.org/documents/card/ en/c/cb1020en/).

Kondisi ketahanan pangan global saat ini

Peringatan FAO ini antara lain tercermin dalam publikasi yang berjudul The State of Food Security and Nutrition in the World 2020, yang merupakan laporan utama tahunan yang disusun bersama oleh FAO, the International Fund for Agricultural Development (IFAD), the United Nations Children’s Fund (UNICEF), the World Food Programme (WFP) dan the World Health Organization (WHO). Publikasi tahunan ini bertujuan untuk menginformasikan kemajuan dunia dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG no 2, yaitu untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi. Laporan ini, antara lain, menyajikan data jumlah orang kekurangan gizi secara global (Gambar 2). Terlihat dari Gambar 2 bahwa angka kelaparan -yang diukur dengan prevalensi kurang gizi- menunjukkan tren menurun hanya sampai pada tahun 2014. Sejak tahun 2014 angka prevalensi kurang gizi ini tidak lagi menurun hingga tahun 2018. Bahkan, pada tahun 2019 mulai 60

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

terlihat kecenderungan meningkatnya jumlah kekurangan gizi. Pada tahun 2019 tercatat hampir 690 juta orang di dunia (atau 8,9% dari populasi dunia) diperkirakan mengalami kekurangan gizi. Angka ini meningkat sekitar 10 juta orang dibandingkan dengan angka pada tahun 2018. Jadi, laporan tersebut menunjukkan bahwa, bahkan pada era sebelum pandemi COVID-19, dunia sudah tidak berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target SDG untuk menghilangkan kelaparan pada tahun 2030. Pandemi kemungkinan besar akan meningkatkan jumlah orang kurang gizi. FAO memperkirakan bahwa pandemi COVID-19 ini dapat menambah sekitar 83 dan 132 juta orang lagi masuk dalam kategori kekurangan gizi di dunia pada tahun 2020. Jadi data yang ada menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 memberikan cekaman yang berat pada ketahanan pangan. Lalu bagaimana strategi menjaga ketahanan pangan? Pada jangka pendek, pemerintah perlu menjaga dan memastikan bahwa rantai pasok pangan -from farm to fork- terus berfungsi baik, sehingga akses pangan tetap dapat dipertahankan, disertai dengan upaya penguatan sistem produksi pangan lokal.

Tantangan industri pangan

Lebih dari itu, pemerintah, dan semua pemangku kepentingan pangan nasional, tidak hanya perlu memastikan bahwa rantai pasokan pangan terus berfungsi baik, tetapi yang lebih penting adalah menjawab pertanyaan mendasar tentang keberlanjutan sistem pangan. Khususnya bagi sistem pangan nasional, perlu mulai bergerak dan berinvestasi dalam tujuan jangka panjang membangun sistem pangan yang tangguh, produktif, dan berkelanjutan. Sistem pangan berkelanjutan, oleh the High-Level Panel of Experts on Food Security and Nutrition (HLPE) of the UN Committee


Gambar 2. Jumlah orang kurang gizi di dunia menunjukkan tren meningkat pada tahun 2019 (FAO, IFAD, UNICEF, WFP dan WHO, 2020, http://www.fao.org/3/ca9692en/online/ca9692en.html).

on World Food Security (CFS), didefinisikan sebagai “Sistem pangan yang memberikan ketahanan pangan dan gizi untuk semua sedemikian rupa sehingga basis ekonomi, sosial dan lingkungan untuk menghasilkan ketahanan pangan dan gizi bagi generasi mendatang tidak terganggu�. Kritik utama terhadap sistem pangan saat ini adalah karena terlalu berfokus pada keterjangkauan, sehingga selalu berusaha untuk menghasilkan pangan dengan kuantitas tinggi & harga murah. Fokus ini telah mendorong tumbuhnya praktik pertanian intensif dan skala besar, menggunakan varietas unggul dan input tinggi. Tetapi, seperti yang ditunjukkan sebelumnya (Gambar 2), sistem ini tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Investasi penganekaragaman pangan

Salah satu bentuk investasi jangka panjang membangun sistem pangan ini adalah dengan melakukan penganekaragaman (atau diversifikasi) pangan, memanfaatkan ragam sumber daya pangan lokal. Sejauh ini, menurut FAO, sekitar 250.000

spesies tumbuhan tingkat tinggi telah diidentifikasi, dan sekitar 30.000 spesies tumbuhan tersebut dapat dimakan manusia. Namun, hanya 30 saja (artinya hanya 0,1% dari jumlah spesies tanaman yang dapat dimakan) yang saat ini dikembangkan dan digunakan sebagai penyedia pangan dunia. Ketergantungan itu lebih nyata lagi pada 5 tanaman serealia saja, yaitu beras, gandum, jagung, milet (millet) dan sorghum, yang mendominasi pangan pokok dunia, yaitu memasok 60% dari asupan energi populasi dunia. Kasus Indonesia juga mengkhawatirkan, di mana sekitar 62,1% (tahun 2017) dan bahkan meningkat menjadi 65,7% (tahun 2018) asupan energi penduduk Indonesia ini hanya bersumber dari 3 padi-padian (serealia) saja, yaitu beras, gandum dan jagung. Di antara ketiganya, beras bahkan sangat mendominasi (berkontribusi sekitar 83-86%) dengan tingkat konsumsi mencapai 95,4 kg/kapita/tahun (tahun 2017) dan 97,1 kg/kapita/tahun (tahun 2018). Asupan kalori yang terlalu tinggi dari padi-padian ini juga menyebabkan asupan gizi yang tidak VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

61


Gambar 3. Capaian pemenuhan pangan 2015-2018 (Kementerian Pertanian, 2019;

http://bkp.pertanian.go.id/storage/app/uploads/public/5dd/e32/b3d/5dde32b3de73b155711409.pdf).

seimbang (Gambar 3) dan dapat menyebakan aneka gangguan gizi dan kesehatan lain yang tidak diinginkan. Selain itu, angka-angka ini mengindikasikan sistem pangan yang rapuh, karena hanya bergantung pada sedikit, tiga komoditas pangan yaitu beras, gandum, dan jagung, atau bahkan satu komoditas pangan saja, yaitu beras. Gambar 3 di atas juga secara jelas menunjukkan betapa pentingnya melakukan upaya penganekaragaman secara serius untuk (i) mengurangi konsumsi padipadian, minyak dan lemak, serta gula, dan (ii) menambah konsumsi umbi-umbian, buah/biji berminyak, kacang-kacangan, serta sayur dan buah. Data di atas hendaknya memunculkan kesadaran tentang kebutuhan untuk menganekaragamkan basis pangan nasional, menuju sistem pangan masa depan yang lebih baik. Apalagi jika dikaitkan dengan fakta bahwa wilayah Indonesia kaya akan sumber pangan, yang hingga saat ini masih 62

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

kurang dimanfaatkan, masih banyak yang tersembunyi dan terkadang bahkan terabaikan.

Pengembangan pangan lokal

Investasi mendasar jangka panjang ini dapat dimulai dengan upaya eksplorasi untuk menggali dan mengembangkan potensi unik yang bisa menjadi daya saing pangan lokal. Pemerintah perlu mengembangkan skema insentif bagi industri pangan (khususnya industri mikro/kecil dan menengah) dalam mengembangkan pangan lokal atau ingridien lokal untuk masyarakat. Upaya pendidikan kepada masyarakat supaya mendukung program penganekaragam pangan ini perlu pula dilakukan. Jika hal ini dilakukan, maka akan menyebabkan terjadinya transformasi industri pangan,


yang akhirnya akan bermuara pada peningkatan kualitas pola makan dan diet masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, penganekaragaman pangan sangat diperlukan untuk memperbaiki pola pangan, meningkatkan kualitas konsumsi: khususnya menekan asupan pangan berasal dari padipadian, minyak & lemak, dan gula, serta meningkatkan asupan umbi-umbian, buah/ biji berminyak, kacang-kacangan, serta sayur dan buah. Dengan kata lain, penganeragaman pangan akan mendorong transformasi dari “diet cukup energi” menjadi “diet cukup gizi” dan terakhir menjadi “diet menyehatkan” akan terjadi. Lebih lanjut, penganekaragaman

pangan ini juga mempunyai nilai strategis; terutama dalam rangka memperkuat kedaulatan pangan, karena berpotensi untuk mengembangkan produk yang memang sesuai dengan preferensi konsumen (sesuai dengan budaya pangan), berpotensi untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi lokal (temasuk teknologi dan budaya pangan lokal), dan bisa dikembangkan menjadi ciri khas daerah lokal, dan umumnya berpotensi melibatkan lebih banyak industri kecil. Kondisi demikian akan mengokohkan sistem pangan yang lebih berkelanjutan, mampu menyediakan pangan yang terjangkau, lebih tahan terhadap cekaman (cekaman pandemi -misalnya), membantu memelihara keanekaragaman konsumsi pangan, meningkatkan status gizi dan kesehatan masyarakat, serta meningkatkan inklusifitas dan daya saing. Untuk itu, semua perlu serius mengambil pelajaran dari pandemi COVID-19 ini. Semua perlu serius menggali dan mengembangkan sumber daya pangan lokal. Langkah ini tidak hanya penting sebagai respon antisipasi krisis pangan akibat pandemi, tetapi juga sebagai upaya memberikan jaminan pasokan maupun akses pangan bagi bangsa di masa depan. Diperlukan pendekatan yang holistik, serta dukungan dan sinergi semua pemangku kepentingan pangan nasional, untuk serius membenahi sistem pangan mulai produksi pangan, pengolahan pangan, baik di industri besar maupun kecil hingga akses masyarakat akan pangan tersebut. VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

63


TEKNOLOGI

Teknologi pangan lokal Siap Saji Untuk penganekaragaman Pangan Oleh Prof. Dr. Sri Widowati, MAppSc Balai Besar Pascapanen-Balitbangtan Kementerian Pertanian

Pangan lokal didefinisikan sebagai makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal.

64

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021


P

ada umumnya produk pangan lokal merupakan hasil olahan turun-temurun, dengan teknologi warisan keluarga atau masyarakat setempat yang dipertahankan. Hal ini menjadi salah satu faktor produk pangan lokal sering dipandang sebelah mata alias inferior karena tidak mengikuti perkembangan jaman. Oleh karena itu, perlu sentuhan teknologi agar produk pangan lokal tetap diminati oleh masyarakat, termasuk kaum milenial. Pandemi COVID-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia, berdampak pada sistem pangan dari hulu hingga hilir. Masyarakat semakin kritis dalam memilih produk pangan, lebih mengutamakan pangan menyehatkan yang memiliki kandungan gizi cukup dan keunggulan fungsional. Bahan pangan cepat saji baik dalam hidangan ataupun dalam pengolahan untuk dikonsumsi, praktis, serta

tahan lama menjadi poin penting preferensi konsumen. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penerapan teknologi siap saji untuk pangan lokal menjadi pilihan yang tepat.

Teknologi pangan siap saji

Pangan siap saji (instan) adalah jenis makanan dengan waktu preparasi/ pemasakan yang singkat. Waktu yang dibutuhkan mulai dari preparasi hingga pangan siap dikonsumsi sekitar 5-10 menit. Perkembangan produk instan semakin meningkat seiring dengan gaya hidup masyarakat modern yang ingin serba praktis. Mi instan merupakan produk pangan siap saji pertama yang dikembangkan di Jepang. Saat ini berbagai produk instan telah tersedia di pasar dan sangat diminati konsumen. Di masa pandemi, permintaan terhadap produk siap saji meningkat. Pada produk instan, VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

65


sifat porositas bahan berpengaruh terhadap karakteristik produk yang dihasilkan. Variasi porositas dan ukuran rata-rata pori-pori memiliki efek yang signifikan pada tekstur dan karakteristik kualitas bahan kering. Oleh karena itu, dalam pembuatan produk instan diperlukan metode yang dapat meningkatkan porositas bahan. Salah satu metode peningkatan porositas adalah merendam bahan menggunakan bahan perendam dalam suhu dan waktu tertentu, serta tahap pembekuan.

Kacang hijau instan

Kacang hijau merupakan salah satu aneka kacang yang populer di Indonesia, setelah kedelai. Kacang hijau diolah menjadi aneka produk, antara lain bubur kacang hijau, rempeyek, tepung, pati, pasta, minuman, kue dan lain-lain. Permasalahan dalam pengolahan kacang hijau yaitu membutuhkan waktu pemasakan yang lama. Hal ini disebabkan tekstur biji yang keras, sehingga untuk mendapatkan tekstur yang lunak diperlukan waktu relatif lama. Sebagai contoh, jika akan membuat bubur kacang hijau, umumnya biji kacang hijau direndam dulu semalam diikuti dengan perebusan konvensional selama 40-50 menit. Jika tidak

Gambar 1. Bubur kacang hijau instan dalam kemasan

66

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

direndam semalam, perlu waktu perebusan beberapa jam. Demikian juga bila akan membuat rempeyek kacang hijau, perlu waktu relatif lama untuk mengondisikan biji agar sesuai diolah menjadi rempeyek. Pengolahan kacang hijau instan dimaksudkan untuk menghasilkan produk yang mudah disajikan atau diolah menjadi produk siap santap dalam waktu singkat. Proses instan mempunyai prinsip teknik yaitu pemasakan sebagian (partially cooking) hingga bahan pangan mulai melunak namun tidak sampai matang menyeluruh. Proses ini menghasilkan produk jadi aneka kacang yang waktu rehidrasinya pendek atau cepat dibandingkan aneka kacang mentah (kacang ose kering, tanpa proses). Proses produk instan meliputi proses perendaman, pemasakan, pendinginan dan pembekuan. Balitbangtan telah mengembangkan teknologi kacang hijau instan, prinsip prosesnya sebagai berikut: biji kacang hijau direndam dalam sodium sitrat 5%, kemudian dilakukn pencucian, pemasakan dalam panci bertekanan selama beberapa menit hingga terjadi gelatinisasi irreversible. Selanjutnya proses pembekuan selama semalam dan diakhiri dengan proses pengeringan pada suhu 50OC selama 6-8 jam hingga kadar air

Gambar 2. Komponen bubur kacang hijau instan

Gambar 3. Bubur kacang hijau instan setelah diseduh


Gambar 4. Nasi sorgum instan kering

Gambar 5. Nasi sorgum instan setelah diseduh 5 menit

maksimal 10%. Kacang hijau instan siap dikonsumsi setelah diseduh dengan air mendidih.

Produk sorgum instan

Sorgum merupakan serealia sumber karbohidrat lokal yang prospektif sebagai pangan pokok. Sorgum mengandung protein (8-12%) setara dengan terigu atau lebih tinggi dibandingkan dengan beras (6-10%), dan kandungan lemaknya (2-6%) lebih tinggi dibandingkan dengan beras (0,5-1,5%). Biji sorgum mengandung tanin cukup tinggi, terutama pada bagian testa atau kulit biji yang berwarna gelap (cokelat atau merah tua), sehingga rasanya cenderung sepat. Untuk meminimalkan kandungan tanin,

Gambar 6. Nasi sorgum instan goreng

biji sorgum disosoh hinga 95-100% testa tersosoh. Biji sorgum yang telah disosoh bersih ini dikenal dengan berasan sorgum, memiliki tekstur lebih keras dibandingkan dengan serealia lain (beras, gandum), sehingga perlu waktu cukup lama untuk menanak berasan sorgum menjadi nasi sorgum. Untuk memperpendek waktu tanak, cara tradisional dengan merendam berasan sorgum selama satu malam. Diversifikasi produk sorgum dengan menerapkan teknologi siap saji (instanisasi) diharapkan dapat meningkatkan preferensi masyarakat, praktis dan dapat diolah lebih lanjut menjadi nasi sorgum kuning maupun nasi sorgum goreng. Prinsip proses pembuatan nasi sorgum

Seduh 5 menit

Nasi instan kering

Nasi instan matang

Gambar 7. Produk pengembangan nasi instan oleh Balitbangtan VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

67


instan yaitu: biji sorgum disosoh 95-100%, lalu direndam dalam larutan garam (Na2HPO4 0,2%) selama 2 jam, dicuci, ditiriskan lalu ditanak menggunakan rice cooker hingga matang sempurna. Selanjutnya nasi sorgum dibekukan (suhu -4°C, 24 jam), dithawing dan dikeringkan hingga kadar air maksimal 10%. Nasi sorgum instan ini mengandung energi sekitar 400 kkal/100 g. Nasi sorgum instan dapat disajikan dengan cara diseduh dengan air mendidih dalam tempat tertutup selama kurang lebih 5 menit, siap disantap. Nasi sorgum yang telah diseduh tersebut bisa dibuat nasi sorgum goreng atau nasi kuning dan nasi uduk. Proses siap saji (instan) pada sorgum juga dapat diterapkan untuk serealia lainnya, seperti beras, jagung dan lain-lain. Balitbangtan juga telah mengembangkan produk nasi instan, nasi kuning instan dan nasi uduk instan. Harapan ke depan ada berbagai produk pangan pokok sumber 68

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

karbohidrat instan, selain bentuk pasta (mi, bihun), dan bantuan saat ada bencana, ada aneka produk pangan pokok yang dapat didistribusikan. Dampak pandemi Covid-19, berpotensi terjadi krisis pangan dunia. Jika hal ini menjadi kenyataan maka negara eksportir bahan pangan akan memprioritaskan pangan bagi rakyatnya. Antisipasi kondisi tersebut, maka saat ini merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan produksi, mengolah dan mengonsumsi pangan lokal. Agar pangan lokal diminati oleh seluruh kalangan, terutama kalangan muda, maka pemilihan jenis produk olahan menjadi sangat penting, praktis menarik dan kekinian, namun tetap tidak meninggalkan kearifan lokal. Kemasan dan pelabelan juga harus atraktif. Serealia dan aneka kacang merupakan komoditas pertanian yang rentan terhadap serangan hama gudang. Penerapan teknologi instanisasi, selain menghasilkan produk yang praktis, siap saji dalam waktu singkat, juga mempermudah distribusi dan memperpanjang umur simpan. Produk pangan lokal instan cocok untuk logistik disaat kondisi darurat, terjadi bencana, atau sebagai bekal saat bepergian. Referensi:

Sasmitaloka KS, Widowati S, Sukasih E. 2020. Karakterisasi Sifat Fisikokimia, Sensori, dan Fungsional Nasi Instan dari Beras Amilosa Rendah. J. Penelitian Pascapanen Pertanian 17(1): 1-14 Sukasih E, Sasamitaloka KS, Widowati S. 2020. Karakteristik Fisikokimia dan Organoleptik Kacang Hijau Instan dengan Teknologi Pembekuan J. Penelitian Pascapanen Pertanian. Vol 17 (1): 37-47 Widowati, S. 2010. Karakteristik Mutu Gizi dan Diversifikasi Pangan Berbasis Sorgum (Sorghum vulgare). Pangan Bulog 19 (4): 373382. Widowati S, Herawati H, Juniawati. 2020. Peran dan Ketersediaan Teknologi Pengolahan Pangan Berbasis Aneka Kacang di Era Pandemi Covid 19 dalam Buku Dampak Pandemi Covid-19: Perspektif Adaptasi dan Resiliensi Sosial Ekonomi Pertanian. Jakarta: IAARD Press. hlm 277-298. Widowati S, Asni N, Nuraeni F. 2020. Formulasi, Karakterisasi, dan Optimasi Waktu Rehidrasi Produk Nasi Kuning Instan. J. Penelitian Pascapanen Pertanian. 17(2): 95 - 107


Kuis Foodreview Indonesia Digital #01 Foodreview Indonesia menyediakan hadiah berupa voucher OVO/Gopay senilai masing-masing Rp150.000/2 orang dan Rp50.000/14 orang pemenang beruntung. Caranya mudah, cukup jawab pertanyaan pada barcode/tautan di bawah ini.

http://bit.ly/KUISFRIDIGITAL01

klik di sini

VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

69


design aromas, we craft experiences, we build tru Together with food and beverage innovators, we collaborate to deliver finest aromas and tastes, and to create the best me and experiences.

MINI DIREKTORI PT REL-ION STERILIZATION SERVICES Eliminasi Bakteri Patogen, Sterilisasi, Polimerisasi 021-88363728, 021-8836 3729 021-88321246

PT. Mitra Kualitas Abadi (Catalyst Consulting) Training, Consulting, Assesment/audit, Mystery Shopping Provider

yayuk@rel-ion.co.id, yayuk@rel-ion.com

www.rel-ion.com

KH Roberts.

SARASWANTI INDO GENETECH Crafting Future Laboratorium Uji Pangan

Flavours.

0251 7532348 Contact us

Singapore & Int’l +65 6265 0410 / China +86 20

089-9999-7867

marketing-sig@saraswanti.com Indonesia +62 21 8790 0778 / Malaysia +60 3 78

info@catalystconsulting.id

www.siglaboratory.com

Thailand +66 2 862 3055-58

kh-roberts.com / info@kh-roberts.co

www.catalystconsulting.id Catalyst Consulting consulting.catalyst

Crafting Fu

Copyright Š KH Roberts Pte. Ltd. All rights reserved.

PT. Tsamarot Indonesia Food Processing Specialized in Puree, Chunk, Slicing, Frozen Food and others Yoni Gustiawan 0852 1303 4807 / 021 2274 1587 Fitria Yogi / 087775696660 tsamarotindonesia@gmail.com / marketing_tsamarot@yahoo.com/ mngr.marketing@gmail.com

PT KH ROBERTS INDONESIA FOOD FLAVOUR & FOOD COLOUR 021 87900778

Ajinomoto Indonesia Untuk menciptakan bumbu yang enak dan terjangkau, dan mengubah makanan sederhana dan bergizi menjadi makanan lezat

www.tsamarot.com

021 6530 4455/ 0800-1-886688

021 651 7282 custcare@ajinomoto.co.id http://www.ajinomoto.co.id/

021 89700723 info@kh-roberts.com www.kh-roberts.com

Want to see Your Company in this section? Send us an email : tissa@foodreview.co.id andang@foodreview.co.id

Pemenuhan Persyaratan Label Produk Pangan yang Dijual Secara Online terhadap Peraturan Label Pangan Karakteristik Pati Sagu (Metroxylon sp.) Hasil Modifikasi Ikat Silang Karakteristik Fisikokimia dan Sensori Mayonnaise pada Berbagai Komposisi Asam Lemak dari Penggunaan Minyak Nabati Berbeda

Info & Pemesanan langganan@foodreview.co.id (0251) 8372333, 8322732

70

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

Rp. 75.000

Jurnal

Mutu Pangan

(Indonesian Journal of Food Quality)


Edisi Mendatang |

Vol. XVI | Edisi 2, Februari 2021

Technology Trends in Beverage Industry

S

etelah 2020, konsumen masif mengubah cara hingga pandangan hidup. mengutamakan kesehatan serta kebugaran tubuh. Perilaku ini kemudian berdampak pula pada pemilihan produk pangan yang akan dikonsumsi. Dengan perpindahan ini, banyak industri pangan, pada khususnya industri minuman yang berinovasi dengan ingridien baru untuk menghasilkan produk yang dapat memberikan manfaat fungsional. Studi KMPG Insights, menunjukkan bahwa ukuran pasar minuman fungsional global diperkirakan akan meningkat menjadi $208,13 miliar pada tahun 2024 dengan CAGR sebesar 8,66% pada periode 2019-2024. Secara teknis, ingridien penting yang akan banyak digunakan adalah bahan-bahan seperti vitamin, probiotik, serta zat gizi mikro yang memiliki profil dapat meningkatkan kesehatan pencernaan, pengurang stres, membantu kinerja dalam berolahraga serta penguat suasana hati. Untuk itu, edisi mendatang Foodreview Indonesia akan mengulas beberapa hal terkait tren serta teknologi yang diperlukan untuk memenuhi pasar tersebut, sehingga menjadi potensi untuk meningkatkan daya saing industri pangan di Indonesia.

Pemasangan iklan, pengiriman tulisan atau berita seputar teknologi dan industri pangan, silakan hubungi: FOODREVIEW INDONESIA telepon (0251) 8372333 & faks (0251) 8375754, email: redaksi@foodreview.co.id & marketing@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat, email dan nomor telepon Anda.

VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021 | FOODREVIEW INDONESIA

71


We hope you enjoyed the issue! SIGN UP TODAY TO RECEIVE YOUR FREE SUBSCRIPTION

If you have a friend or colleague who would be interested in receiving Foodreview Indonesia, please feel free to share the latest issue, and our special digital subscription offer with them today.

SIGN UP https://bit.ly/FRIDIGITAL

72

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XVI / NO. 1 / Januari 2021

Profile for FOODREVIEW Indonesia

Vol XVI No. 1 2021  

Pangan adalah kebutuhan dasar manusia. Industri pangan -mencakup aktivitas produksi (oleh petani, peternak, pekebun, nelayan), pemanenan, pe...

Vol XVI No. 1 2021  

Pangan adalah kebutuhan dasar manusia. Industri pangan -mencakup aktivitas produksi (oleh petani, peternak, pekebun, nelayan), pemanenan, pe...