Issuu on Google+

MENTAWAINEWS

HUNTARA MULAI DIBONGKAR MENTAWAINEWS

6

8

EKOKER

Tabloid Alternatif Dwimingguan

18

Puailiggoubat Untuk Kebangkitan Masyarakat Mentawai

30 HEKTAR SAWAH DIREHABILITASI DI SAIBI DAN SIBERUT UTARA 15

No

-3 T . 2 7 1 ah Ok un 4 to X be I r2 01 3

HARGA ECERAN RP 3000

SIBERUT UTARA DAPAT RP 3 MILIAR UNTUK 71 OMS


Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Uggla Kateteret tat amoi paroman, maigi sia siorak tsunami ka silelepak sikuddu ka KM 10 Pagi Utara pangurep gettek, bagok samba coklat masiurau gougou samba sakkokok bulek rapurimanua. Tapoi sabagei, mukuddu sia boikik ka pulaggajat siburuk masipasikeli mone sikadiuakenenda—3

Telu traktro mugalai masipalinak 11 kudduat sikuddu ka 11 dusun ka Pagai Utara teret kapplut Oktober 2013. Iginia bulagat masipalinak nenda Rp23 miliar. Tapoi bulagat sibelaakenenda Rp5 miliar peilek nekte pasilinakat pulaggajat ka Pagai Utara peilek — 5 Samberi OMS magigalai enungan sipatuppai dusun samba enungan sikoilip pulaggajat — 6 Tai makolou nia polak kudduat sikolah sibaliu masipauju pasigalaiat sikolah ka kudduat sibau — 18 Katukauat pukaiyoat laggai kapurimanuaiyat buitak simakolou samba tak makatai bagei — 21 COVER DEPAN: 1 FOTO: RUS 1 DESAIN: SYAFRIL TABLOID ALTERNATIF DWIMINGGUAN

Puailiggoubat Terbit setiap tanggal 1 dan 15

ISSN: 1412-9140 PENERBIT: Yayasan Citra Mandiri PEMIMPIN UMUM: Roberta Sarogdok PEMIMPIN USAHA: Pinda Tangkas Simanjuntak PEMIMPIN REDAKSI: Yuafriza DEWAN REDAKSI: Roberta Sarogdog Rus Akbar Saleleubaja REDAKTUR: Rus Akbar Syafril Adriansyah Gerson Merari Saleleubaja WARTAWAN DAERAH: Bambang Sagurung (Sikabaluan) Rapot Pardomuan (Sipora) Irman Jhon (Tuapeijat) Rinto Robertus (Saibi) Ferdinan Salamanang (Sikakap) Horas Marohatta Tasilipet (Sikakap) Patrisius Sanene’ (Padang) Daud Siribere (Siberut Barat) Legend Satoinong (Siberut Selatan) Dominikus Sabulat (Siberut Barat Daya) DISTRIBUTOR DAERAH: Arsenius Samaloisa (Sioban) Vincensius Ndraha (Siberut Selatan) Bambang (Siberut Utara) Juanda (Siberut Barat) ALAMAT REDAKSI DAN USAHA: Jl. Kampung Nias 1 No. 21, Padang. Telp (0751) 7877373 - Fax. (0751) 35528 REKENING: Bank Nagari Cabang Pembantu Niaga, Padang No.2105.0210.0207-1 PENCETAK: Padang Graindo, Padang (Isi di luar Tanggung Jawab Percetakan) Wartawan Puailiggoubat selalu dilengkapi Kartu Pers dan (sesuai Kode Etik Jurnalistik) tidak dibenarkan menerima suap (‘amplop’) dari narasumber.

www.puailiggoubat.com

2

Dari Redaksi

Tiga Tahun Tsunami Mentawai dan Hari Pangan Sedunia 5 Oktober 2010 hari tak terlupakan bagi sebagian besar

2

masyarakat Mentawai terutama para korban tsunami di Pagai Utara, Pagai Selatan, Sikakap dan Sipora Selatan. Oktober tahun ini, genap tiga tahun peristiwa penuh traumatis ini terjadi. Memperingati tiga tahun bencana tsunami Mentawai, Puailiggoubat membuat liputan khusus dengan menurunkan dua redakturnya ke lokasi hunian sementara di KM 10, Pagai Utara yakni Rus Akbar Saleleubaja dan Syafril Adriansyah. Keterbatasan waktu membuat kami tidak bisa mengunjungi semua lokasi bencana guna merekam jejak traumatis tsunami serta memotret kehidupan pengungsi saat ini. Janji pemerintah untuk menuntaskan pembangunan hunian tetap bagi 2.072 korban akhir tahun ini tentu menjadi janji yang kita tunggu. Semoga janji itu tidak tertunda lagi. 16 Oktober 2013 ini juga diperingati sebagai Hari Pangan

Huntap Salah Sasaran Yth Bupati Mentawai Saya sangat menyesal dan kasihan terhadap persoalan huntap Mentawai, sekaligus bertanya kenapa huntap ini diberikan kepada orang yang tidak mengalami bencana terutama di Talok Pulei kecamatan Pagai Selatan. (081275894884: Andi Ruzal Mantius)

Minta Petugas Medis di Abanbaga Yth Bupati Mentawai Hampit setahun petugas kesehatan di Dusun Abanbaga Desa Sinaka Kecamatan Pagai Selatan sering tidak ditempat sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan. Tidak perlu layanan ekstra buat kami, dapat saja obat

Sedunia. Dengan jumlah penduduk bumi 7 miliar saat ini, persoalan kecukupan pangan menjadi persoalan krusial bagi negara-negara berpenduduk banyak seperti Indonesia yang sebagian besar pangan rakyatnya diimpor mulai dari beras, sapi, kedelai hingga bawang putih. Menghidupkan pangan lokal harus menjadi isu penting daerah dalam rangka menjaga ketahanan pangan daerah. Seperti Mentawai, membudi dayakan tanaman keladi, pisang dan sagu yang menjadi pangan pokok masyarakat bertahun-tahun mestinya menjadi program pokok pemerintah. Lihat saja saat ini, ditengah mahalnya harga beras dan kesulitan ekonomi, para korban tsunami yang tinggal di huntara di KM 10 Pagai Utara makan keladi dan pisang sehari-hari, diselingi ikan sebagai protein. Redaksi

atau keterangan sakit yang kami derita sudah syukur kami sampaikan. (081266621385: M. Samaloisa)

Penegak Hukum Korup dan Pemeras Yth Bupati Mentawai Kami masyarakat Desa Simatalu sangat kesal dengan penegak hukum yang korup dan pemeras. Salah satu contoh dana 1 Agustus 2013 habis begitu saja, ADD banyak digunakan untuk keperluan pribadi, OMS di Simatalu tahun 2011 dari 8 paket yang sampai hanya 4 paket. untuk menyelesaikan projek 8 OMS tersebut, setiap ketua OMS dibebani 200 meter agar sesuai dengan. Mohon ini ditindak Pak Bupati

(082383646861: Kristofer) Yth Bupati Mentawai Sejak Plt. Pintor Sababalat menjadi Kades Makalo dan Sekdes Melki Saogo, program pembangunan tak terlaksana. Hampir mencapai 2 periode pembangunan masih 0%. ADD sekarang ini tidak jelas program pembangunannya baik di desa maupun di dusun. Bahkan kantor Desa Makalo bertempat di Dusun Mampoupou. (081365450423)

Tenda Kapal Nade Tidak Nyaman Yth Kadis Perhubungan Mohon diperbaiki tenda kapal Nade untuk kapal antar pulau. Kondisi tenda sekarang sudah tidak nyaman lagi digunakan para penumpang, sura’. (082381352188/ Hendri)

Benahi Pelayanan RSUD Tuapeijat Yth Bupati Mentawai Kami sangat mengharapkan pelayanan Rumah Sakit Tuapeijat dibenahi, khususnya

air yang sering kosong membuat WC kotor dan berbau, kemudian pasien yang datang berobat kalau bisa obatnya dibeli langsung di rumah sakit, jangan disuruh keluar cari obat. Sura’ 082169631996

Informasi Calon Mahasiswa UKI Yth Bupati Mentawai Pak Bupati, tolong kasih informasi secepatnya tentang hasil kelulusan calon mahasiswa Fakultas Fisioterafi di UKI, kami jadi bingung tentang kelulusan ini. Sura’ (082387968711)

Polsek, BTS dan Internet di Saumanganyak Yth Wakil Bupati Mentawai Dengan segala hormat kami memohon untuk segera mendirikan kantor Polsek di Kecamatan Pagai Utara, serta perbaikan Tower Telkomsel, dan memberikan Tower internet KPU USO yang sudah ditargetkan untuk kecamatan Saumanganyak sesuai dengan spanduk yang ditempelkan. Sura’ (085356969528)


3

Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013 FOTO:RUS/PUAILIGGOUBAT

Saat bantuan tidak lagi datang, sebagian pengungsi korban tsunami Mentawai di KM 10 Pagai Utara memberdayakan hidupnya dengan bertanam keladi, pisang dan coklat serta beternak ayam dan babi. Namun sebagian lainnya, tinggal sementara di kampung lama untuk mengurus ladang yang dulu ditinggalkan. Rus Akbar Syafril Adriansyah

abtu siang, 5 Oktober, beberapa blok hunian sementara yang berjejer rapi di Dusun Barubaru Desa Betumonga di KM 10, Pagai Utara, sepi. Hanya terlihat beberapa anak kecil dan ibu-ibu di lokasi pengungsian itu. Seorang bapak yang kami temui sedang membersihkan rumput di bawah pohon coklatnya yang tengah berbuah. Disebelahnya ada pohon pisang dan keladi. Tak jauh dari pohon coklat, ada dua ekor babi di kandang. 25 Oktober 2013, tepat tiga tahun tsunami terjadi di Mentawai. Empat kecamatan dengan hampir 500 jiwa habis tersapu. Selama tiga tahun ini, 2.072 keluarga korban tsunami tinggal di hunian sementara termasuk warga Dusun Barubaru. Huntara yang nantinya akan menjadi pemukiman tetap mereka berada sekitar dua jam dari kampung lama. Saat disambangi Puailiggoubat , hampir semua huntara yang berada di KM 10 Pagai Utara, dindingnya sudah terkelupas, bahkan sudah ada yang hancur, selain itu kalau masuk ke dalam rumah lantai telah menggelembung. Maklum, hampir semua material dinding dan lantai dari tripleks. Didera hujan dan panas selama tiga tahun, tentu bangunan huntara menjadi rusak. Menurut Kepala Dusun Barubaru, Serim Sale-

S

JEMUR KAKAO - Korban tsunami menjemur kakao di lingkungan hunian sementara KM 10, Sikakap

TIGA TAHUN SETELAH TSUNAMI

KETIKA BANTUAN TAK LAGI DATANG leubaja, para pengungsi korban tsunami dipindahkan ke KM 10 sejak Februari 2011. Pemindahan itu dilakukan pemerintah, karena kampung mereka luluh lantak oleh tsunami, Awal tinggal di huntara, bantuan mengalir deras. “Saat itu pemerintah memberikan bantuan lima kilogram beras setiap kepala keluarga, untuk 23 KK di dusun saya, selain itu pemerintah juga memberikan kasur, bantal, periuk dan panci,” kata Serim kepada Puailiggoubat di KM 10, 5 Oktober lalu. Selain beras, para penghuni huntara juga mendapat kasur bantuan dari pemerintah, masing-masing KK mendapatkan tiga kasur. “Namun kasur bantuan yang diberikan itu tidak cukup maka saya mengambil inisiatif mengurangi jatah tiga kasur per kepala

keluarga menjadi dua kasur saja. Jadi warga yang tidak mendapatkan bantuan itu kita bagi-bagi,” katanya. Selain itu NGO International Organization of Migration (IOM) membantu satu unit ember, sedangkan dari Dinas Pertanian Mentawai membantu alat-alat pertanian, seperti parang, cangkul, sekop dan peralatan lainnya. “Dinas Sosial juga pernah memberikan bantuan uang sebanyak Rp150 ribu pada tahun 2012, katanya untuk jaminan hidup. Sebelumnya pada tahun 2011, pemerintah juga memberikan bantuan Rp1 juta per kepala keluarga untuk uang Natal, saat diberikan kami masih di tenda darurat,” ujarnya. Bantuan lain, lanjut Serim, ada juga dari Mercy Corp berupa bak penampungan air, sementara Food and Agriculture Organization (FAO)

United Nations menyerahkan dua ekor sapi untuk tiga dusun (Barubaru, Muntei dan Sabeuguggung). Ada lagi UNDP yang memberi bibit kakao. Ada lagi CFK yang membantu pembangunan jembatan dengan dana Rp10 juta. Namun lambat laun saat masa tanggap darurat berakhir, bantuan mulai berkurang, dari pemerintah maupun NGO hingga akhirnya habis sama sekali. Untung saja Serim sudah mengajak warganya bertanam di belakang huntara mereka. Ada pisang, keladi singkong dan coklat. “Selama tiga tahun ini, pisang kita sudah berbuah, keladi sudah siap di panen, kami tidak lagi mengharapkan bantuan beras, dengan ini kami cukup untuk hidup,” ulasnya. Dengan itulah para penghuni huntara di Dusun Barubaru makan ketika bantuan beras

tidak ada lagi. Namun karena butuh lauk untuk protein, akhirnya pengungsi turun ke kampung lama untuk menjala ikan di laut. “Sebab di kampung lama lebih lengkap, ada kebun coklat, kelapa, pisang, keladi dan bisa juga menjaring ikan dan udang lobster, hasilnya nanti kita jual ke Sikakap, untuk kebutuhan hidup cukuplah. Nah untuk ke kampung lama, kita hanya jalan kaki, itu pun jalannya setapak, tidak ada semen,” ujarnya. Waktu yang dibutuhkan penghuni huntara ke kampung lama menurut Serim, sekitar dua jam. “Kita akan tinggal di kampung empat hari, kemudian balik lagi ke rumah di sini (huntara), pada hari Sabtu sore dan kadang Minggu pagi, setelah itu mungkin pada hari Senin atau Selasa kita kembali ke kampung lama untuk cari biaya lagi,” ujarnya. Bagi Serim, bermukim kembali ke kampung lama sudah tidak mungkin lagi karena semua fasilitas sudah dipindahkan ke huntara yang akan menjadi pemukiman baru termasuk sekolah. “Kalau anak-anak ingin bodoh ya kembali ke kampung lama saja, tapi kitakan tidak mau, kita ingin anak kita pintar sebab mereka lagi yang akan hidup,” ujarnya. Berbeda dengan warga Barubaru, pengungsi dusun sebelahnya, Sabeugunggung dan Muntei justru tidak bisa bercocok tanam di sekitar huntara mereka. Beberapa warga yang mencoba mengikuti jejak warga Barubaru justru ditodong popor senjata. Tardianus, warga Sabeugunggung menceritakan, mereka pernah membuka lahan baru di dekat lokasi huntara, tapi sekitar lima orang polisi hutan mendatangi mereka dan mengancam dengan cara menembakan senjata laras panjang ke udara. “Kami sempat tanya, katanya itu hutan lindung, tapi kenapa pakai senjata, kami kan tidak menganggu keamanan,” kata Tardianus. Kini, ditengah keterbatasan ekonomi selama mengungsi di huntara, tiada yang lain harapan masyarakat selain pembangunan huntap secepatnya selesai dan adanya kepastian lahan garapan sehingga mereka bisa segera membangun ekonomi secara aman tanpa todongan senjata. (o)

FOTO:RUS/PUAILIGGOUBAT


SAJIANUTAMA

Puailiggoubat

Para korban tsunami mengalami kejadian traumatis hingga harus kehilangan sanak keluarga dan harta benda namun mereka punya cara tersendiri bangkit dari traumanya dan berjuang melanjutkan hidup

S

iang itu, Sabtu 5 Oktober, seorang bocah berbaju kaos kuning berlari lincah di sekitar huntara Dusun Muntei, Desa Betumonga, Pagai Utara. Dia adalah Imanuel Josafat Tegar (3). Saat tsunami terjadi, usianya baru dua minggu. Namun dia selamat dari ganasnya ombak tsunami meski kedua orangtuanya meninggal. Karena itulah dia diberi nama Tegar. Kini Tegar diangkat anak oleh Serim Saleleubaja, Kepala Dusun Barubaru, Desa Betumonga. Kisah penyelamatan Tegar tak kalah dramatisnya. Seorang guru kontrak yang mengajar di SD 33 Betumonga-lah yang menyelamatkan Tegar, namanya Jeman

Jeman Saleleubaja

NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

4

TIGA TAHUN SETELAH TSUNAMI

MEREKA YANG SELAMAT

Saleleubaja. Menurut Jeman kepada Puailiggoubat, ia menyaksikan gelombang dahsyat yang menghancurkan rumahnya dan membunuh warga setempat, “Tegar saya temukan di dalam bandar yang sudah kering dari tsunami, sedang ayahnya Jeconiah dan ibunya Murni meninggal dunia,” kata Jeman. Jeman selamat karena sesaat usai gempa, dia langsung lari bukit sambil membawa dua keponakannya. Sambil berlari terdengar suara ombak besar yang terus dari belakang. “Saya tidak tahu mungkin ada sekitar 10 meter jarak ombak itu dibelakang saya,” ceritanya. Dari atas bukit itu, Jeman melihat gelombang tsunami pertama yang airnya berwarna merah dan gelombang kedua

berwarna hitam serta mengeluarkan bau lumpur yang sangat busuk. Sesudah gelombang surut, Jeman turun bukit mencari ibunya, namun ia mendengar suara bayi yang menangis di sebuah bandar. “Saya langsung angkat dia, kondisinya sedang telantang dan tidak punya baju, baju saya yang kering di badan saya langsung saya buka untuk membungkus Tegar kemudian saya bawa ke pengungsian di pondok ladang masyarakat,” ujarnya. Jeman bersama warga saat itu mengevakuasi para korban. “Yang masih hidup dan luka-luka dibawa ke pondok, yang sudah meninggal kami kumpulkan di jalan P2D yang menuju ke perbukitan dengan ditutup tikar, kain dan tenda. ,” ujarnya. Ketika langit sudah terang, barulah tim dari Gereja Kristen Protestan (GKPM) Nemnemleleu di Sikakap datang bersama Ephorus datang, mereka membagikan makanan, selimut, tenda serta membantu mengevakuasi korban dan menguburkannya, kata Jeman. Saat itu, warga yang bertahan hidup mengumpulkan roti-roti warung yang hanyut karena tsunami. “Pisang ada untuk dimakan tapi parang untuk mengambil pisang itu tidak ada,” ujarnya. Kisah Tardianus Samaloisa (23), warga Sabeugunggung ini tak kalah mengharukan. Saat gelombang tsunami datang, Tardianus tidak bisa lagi lari ke bukit karena air sudah masuk kampung. Dalam kondisi genting itu, ia memutuskan memanjat pohon kelapa.”Anak saya Oscar Saputra (4) saya letakkan diatas kepala sambil saya dorong keatas, istri saya Nefrida (23) memegang kaki saya di bawah, air laut terus naik, istriku tenggelam dan saya juga ikut tenggelam, hanya anak saya kakinya yang tenggelam sementara kepalanya masih muncul di permukaan air,” katanya kepada Puailiggoubat di rumah pengungsiannya di KM 10. Karena kuatnya gelombang, pegangan Nefrida terlepas dan terseret gelombang. “Saya tetap bertahan di batang kelapa sambil menahan anak saya, dada ini lecet akibat memeluk batang kelapa. Saat itu juga ada beberapa kayu menghantam tubuh saya tapi saya memegang erat batang kelapa,” ujarnya. Setelah gelombang habis dan saat air surut, Tardianus mendengar suara istrinya memanggil. “Setelah istri saya lepas, ternyata dia tersangkut di pohon yang tak jauh dari kelapa yang kami panjat,” tuturnya. Dengan kondisi lemah, mereka bertiga berjalan ke pengungsian. “Saat itu saya sangat ketakutan, untuk mengevakuasi korban saja saya tidak ikut, saya sangat trauma,” katanya pada Puailiggoubat. PRL I RUS l O

Imanuel Josafat Tegar FOTO:RUS/PUAILIGGOUBAT


5 Puailiggoubat

SAJIANUTAMA

NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Tiga unit alat berat tengah bekerja untuk membersihkan sedikitnya 11 titik lahan pada 11 dusun di Pagai Utara hingga akhir Oktober 2013. Total anggaran selama masa land clearing Rp 23 miliar. Namun dana yang baru dialokasikan Rp 5 miliar sehingga land clearing baru bisa dilakukan di Pagai Utara.

TIGA TAHUN SETELAH TSUNAMI

TIGA TAHUN MENUNGGU HUNTAP FOTO:APRIL/PUAILIGGOUBAT

Rus Akbar Syafril Adriansyah

atu unit escavator sedang bekerja saat Puailiggoubat mengunjungi lokasi hunian sementara korban tsunami Mentawai di KM 6 dan KM 8, Pagai Utara, 5 Oktober lalu. Sebagian kawasan yang digarap merupakan kawasan hutan yang belum diolah dan perladangan masyarakat. Hunian sementara yang saat ini ditempati para korban tsunami dari Dusun Muntei, Kecamatan Pagai Utara, harus dipindahkan selama proses land clearing berlangsung. Pengerjaan land clearing ini memang dikebut untuk menyelesaikan target penyelesaian pembangunan huntap 2.072 korban tsunami selesai akhir tahun ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah mewanti-wanti agar proses huntap ini dipercepat karena sudah tiga tahun korban tsunami tinggal di huntara. BNPB bekerjasama dengan Primkopad untuk menyelesaikan land clearing. Komandan Koramil 04 Pagai Utara Selatan, Kapten Infantri Pardani, yang mengawasi pengerjaan land clearing mengungkapkan, sedikitnya 11 titik lahan pada 11 dusun di Pagai Utara akan diratakan hingga akhir Oktober 2013. Selama proses itu, 3 unit alat berat dan 8 operator serta 9 personel anggota TNI untuk pengamanan diterjunkan untuk percepatan pembangunan huntap. “Kalau cuaca mendukung, land clearing akan dilakukan setiap hari. Namun sejauh ini cuaca masih sering hujan sehingga pengerukan tanah terkadang terhenti untuk menghindari terbentuknya lumpur,” katanya. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mentawai, Elisa Siriparang, 4 Oktober lalu mengungkapkan, total anggaran selama masa land clearing ini adalah sebesar Rp 23 miliar. Saat ini dana yang sudah dialokasikan baru Rp 5 miliar sehingga land clearing baru bisa dilakukan di Pagai utara. “Land clearing akan dilanjutkan ke Pagai Selatan dan Sipora Selatan bulan depan menunggu sisa Rp 18 miliar lagi

S

LAND CLEARING - Komandan Koramil 04 Pagai Utara Selatan, Kapten Infantri Pardanimengawasi proses land clearing di KM 8 Sikakap anggaran dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” katanya. Instruksi Kepala BNPB Syamsul Maarif agar pembangunan huntap rampung akhir tahun ini masih belum bisa dipastikan tercapai. Soalnya kebijakan pembangunan huntap masih berada di tangan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berdasarkan Peraturan Kepala (Perka) BNPB Nomor 9 Tahun 2012. Menurut Elisa, saat ini BPBD Mentawai masih mengelola anggaran pemulihan infrastruktur di lokasi huntap seperti pembangunan gereja, masjid, puskesmas pembantu, pertanian, perkebunan dan kolam. Dana yang dianggarkan sebesar Rp 206 miliar. Dari dana tersebut, sebesar Rp 7 miliar diantaranya sudah dicairkan untuk perencanaan, perjalanan dinas dan honor. “Sebenarnya ini yang kita kelola, sementara untuk huntap berada di tangan BPBD Sumbar, sedangkan Perka BNPB tersebut masih dalam pembahasan di DPR RI dan rencananya akan direvisi,” katanya. Terkait dana yang ditarik Kementerian keuangan Rp184 miliar dari Rp280 miliar yang sudah dicairkan untuk BPBD Sumbar dan Rp198 miliar dari Rp206 miliar yang dicairkan kepada BPBD Mentawai, Elisa menyatakan akan kembali dicairkan. “Kabarnya akan

segera cair ke daerah, tapi ini yang kita belum tahu, apakah dana itu nantinya akan dikembalikan seluruhnya untuk kita, atau seperti biasa, setengah untuk kita dan setengah lagi ke BPBD Sumbar,” katanya. Secara terpisah, Ketua Sekretariat Bersama (Sekber) Percepatan Huntap Mentawai, Rijel Samaloisa menegaskan kompleksnya lika-liku pembangunan huntap ini bukan hanya menyangkut soal anggaran. “Kalau semuanya urusan kabupaten bisa selesai, ini kan juga melibatkan provinsi, pusat, seperti BNPB, kementerian keuangan, dan kementerian kehutanan. Sekber akan mengoordinasikan semua elemen supaya satu tujuan. Kalau bisa diselesaikan di sini, untuk apa harus menunggu provinsi,” katanya. Ia menilai, keberadaan Sekber yang dibentuk BNPB beberapa waktu lalu dimaksudkan untuk menyatukan seluruh komponen dalam pembangunan huntap yang diinstruksikan harus selesai akhir Desember 2013. Sekber terdiri atas beberapa elemen seperti BPBD provinsi, BPBD kabupaten, Bank Dunia, BNPB, dan NGO. “Kalau pun huntap tidak selesai akhir tahun 2013 ini, minimal ada progres yang kita lakukan,” katanya dan mengamini bahwa progres yang dimaksud adalah sudah ada huntap yang selesai dibangun.

Pendamping Lokal Percepatan pembangunan huntap di Mentawai juga diikuti dengan direkrutnya 95 tenaga fasilitator dan pendamping pokmas untuk bidang teknik, pemberdayaan sosial budaya, dan bidang ekonomi. Tiga komponen ini direkrut Bank Dunia bukan hanya untuk realisasi huntap, melainkan juga untuk perencanaan pemulihan perekonomian bagi 2.072 korban tsunami. Pendamping bidang teknik akan berperan dalam pembuatan desain rumah, bahan baku. Bidang sosial budaya untuk pemberdayaan masyarakat dan bidang ekonomi diharapkan dapat pemulihan ekonomi masyrakat dan pembuatan laporan keuagan pembangunan huntap. Konsultan Bank Dunia, Stephen Ray Leon Mathias, mengatakan, hingga kini pihaknya masih kekurangan tenaga bidang teknik dengan kualifikasi S1 teknik sipil, D3 teknik sipil, minimal STM bangunan. Dari 29 orang yang dibutuhkan baru terekrut 10 orang. “Cukup sedikit peminatnya, apalagi sempat ada dua orang tenaga calon teknis dari Padang yang mengundurkan diri,” katanya. Menurut Ray, Nantinya satu orang tenaga pendamping lokal akan mendapingi 22 KK (kepala keluarga) penerima huntap. Mereka juga diwajibkan harus tinggal di lokasi

pembangunan huntap dan kehadiran mereka akan didata oleh kepala dusun. “Mereka tidak boleh keluar lokasi kecuali ada pemanggilan resmi,” katanya. Akan tetapi, saat ini belum ada penentuan waktu kapan mereka akan ditempatkan di lokasi huntap untuk mendampingi pokmas. Akan tetapi mereka akan segera ditempatkan di sejumlah titik sebelum proses pembangunan huntap berlangsung. Titik yang akan segera ditempati pendamping lokal ini adalah Dusun Mabulabuggei, Pasapuat dan Mapinang, Desa Saumangaya, Dusun Sabiret, Eruk Paraboat, Muntei Besar, Muntei Kecil, KM 27 Pagai Selatan, dan Desa Beriulou dan sebagian Masokut di Sipora Selatan. Di kawasan yang masih dalam tahap land celaring, Bank Dunia hanya menurunkan tim pengawas harian untuk melakukan pemantauan dan penelitian kembali lokasi. “Tim pengawas dibutuhkan karena lokasi land clearing tidak seperti gambaran rencana peletakan huntap yang disosialisasikan dinas kehutanan berada di sisi kanan dan kiri jalan,” ujar Ray. Menurutnya, ada kawasan seluas 1,4 hektar yang sedang dibersihkan. Kemudian, warga yang memperoleh huntap di lokasi itu akan menetap dan menjadi satu komunal. Yang perlu diselidiki, apakah benar jika pengungsi telah tinggal di lokasi itu mereka akan aman dalam arti si pemlik lahan sudah membolehkan mereka di lokasi tersebut. “Jangan sampai nantinya ada tanah akan dipermasalahkan seperti yang pernah terjadi di Taikako,” katanya. Sejauh ini, para pendamping pokmas dianjurkan untuk menyusun rencana anggaran biaya . Setelah itu, Pokmas akan difasilitasi dengan pasokan bahan dan jika dana sudah cair, baru pembangunan huntap dilakukan. Menurut Ray, material pembangunan huntap yang sudah tersedia baru berupa pasir, batu, dan kayu. Bahan baku itu akan digunakan untuk membangun rumah ala Mentawai masa kini dengan ukuran 6x6 Meter dan diupayakan meminimalisir bahan yang parikasi. Untuk pembangunan 2.072 unit huntap tipe 36, Ray memperhitungkan akan menghabiskan sekitar 36 ribu kubik kayu. Sementara jumlah persediaan kayu mencapai 360 ribu kubik. “Kami sedang mengusulkan untuk pembangunan rumah 6x9 meter, dengan minim bahan pabrikasi. Kalau rumah tipe 36, dana yang ada akan masih banyak tersisa dan harus dikembalikan kepada negara,” katanya. (o)


Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Seluruh OMS ini mengerjakan jalan lintas antar dusun dan jalan lingkar

Bambang Sagurung

Siberut Utara Dapat Dana Rp3 Miliar untuk 71 OMS FOTO:BAMBANG/PUAILIGGOUBAT

embangunan jalan P2D Mandiri di Kecamatan Siberut Utara di Kecamatan Siberut Utara sudah berjalan dengan lancar. Demikian dikatakan anggota DPRD Mentawai Melki Sapolenggu usai melakukan monitoring. “Untuk P2D Mandiri tahap pertama yang kita lihat hasilnya cukup bagus. Ada pembangunan lingkar dusun, pembangunan jalan antar desa dan dusun,” katanya, Sabtu 12 Oktober Untuk tahun ini, Kecamatan Siberut Utara mendapat Rp3 miliar kucuran dana P2D Mandiri untuk membangun jalan desa dan dusun. Masing-masing desa mendapat 11 paket OMS mulai dari Bojakan berupa pembangunan jalan lingkar desa sebanyak 11 OMS. Desa Malancan sebanyak 11 OMS berupa pembangunan jalan desa dan jalan lingkar dusun. Di Sirilogui sebanyak 11 OMS untuk membangun jalan. Desa Sikabaluan sebanyak 5 OMS. Di Desa Monganpoula sebanyak 11 OMS, dan

6

P

MEMBAHAYAKAN - Jembatan di Sigapokna Kecamatan Siberut Barat yang membahayakan pengguna di Desa Sotboyak 11 OMS. Untuk di Desa Sikabaluan dan Desa

Kades di Siberut Tengah Pertanyakan Dana Goro Tak Masuk Anggaran ADD SAIBI SAMUKOP-Kegiatan gotong royong yang dilaksanakan di desa di Kecamatan Siberut Tengah ternyata tidak dianggarkan dalam Alokasi Dana Desa (ADD), hal ini dipertanyakan kepala desa dalam rapat Forum Komunikasi Kepala Desa di aula kantor camat, 2 Oktober lalu. Rapat tersebut dihadiri kepala desa, camat Siberut Tengah beserta staf, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), LPM, kepala dusun, perwakilan puskesmas, cabang dinas pendidikan dan PKK seKecamatan Siberut Tengah. Kepala Desa Saibi Samukop Masimo Satokonyo mengatakan, kegiatan gotong royong selalu berjalan di setiap dusun akan tetapi anggaran makan minum goro ini tidak dimasukan dalam anggaran di ADD. “Sebenarnya kami sudah memasukkan dalam ADD tapi itu dicoret BPD,” katanya. Kepala Desa Cimpungan Yustinus Rencek juga Ketua Forum Komunikasi Kepala Desa mengatakan, kegiatan gotong royong juga selalu berjalan di setiap dusun tapi makan minum goro ini tidak dianggarkan di ADD. “Kita memang tidak menganggarkan di ADD karena kita juga belum tahu soal ini,” katanya. Menyoal adanya kegiatan gotong royong yang berjalan di setiap dusun maupun di desa, Sekretaris Camat Siberut Tengah Jasti Onarelius Saguruk menilai sepertinya tidak berjalan karena selalu terlihat pekarangan yang berumput. “Beberapa kunjungan saya ke dusundusun terlihat pekarangan dan lingkungan banyak semak,” katanya. Namun meski begitu, Sekcam berharap kegiatan gotong royong di dusun maupun di desa tetap berjalan. “Untuk tahun depan kalau bisa kegiatan gotong royong ini makan minumnya harus di anggarkan dalam ADD tiap desa,” kata Jasti. Dalam rapat Forum Komunikasi Kepala Desa, di sepakatilah secara bersama di Desa Saibi Samukop sebagai pusat kecamatan lokasi gotong royong mulai di jalan SMP, SMA dan jalan melingkar. di Desa Saliguma berlokasi di jalan Dusun Silabok Abak-GulugulukGotap dan Desa Cimpungan berlokasi di Dusun Subelen dan Simaingak Bebegen. (rr/r)

Monganpoula dilakukan untuk menyambung pelebaran jalan SikabaluanMonganpoula. OMS telah melakukan pekerjaan tahap pertama. Di Desa Sirilogui, untuk pembangunan jalan

evakuasi ke pengungsian. “Arah pengungsian ini sudah ada rumah-rumah masyarakat. Kita arahkan ke sana,” kata kepala Desa Sirilogui, Muhammad Abetnego.

Untuk Desa Malancan, ada yang digunakan untuk pembangunan jalan lingkar Dusun Terekan Hulu dan ada yang digunakan untuk pelebaran dan perbaikan jalan untuk menyambung jalan yang dibangun PU dari PokaiSirilanggai. “Kalau tidak diganggu PU pada tahun lalu, sebenarnya ini sudah dikerjakan P2D Mandiri, tapi gagal,” kata Barnabas, Kepala Desa Malancan. Jalan Pokai-Sikabaluan Sementara jalan Pokai-Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara yang merupakan jalan utama kecamatan Siberut Utara dipastikan rampung tahun ini. “Tahun ini jalannya akan rampung. Karena material semuanya sudah ada dan pekerjaan hanya terkendala cuaca,” kata Melki kepada Puailiggoubat, Sabtu, 12 Oktober lalu. Pada tahun lalu, pembangunan jalan Sikabaluan-Pokai dikerjakan PT.Nabil Surya Persada dengan nilai kontrak Rp4,9 miliar namun pembangunannya tidak berhasil rampung. Tahun ini, kelanjutan pembangunannya dilanjutkan PT. Ekindo Putera Andalas, dengan nilai kontrak Rp3,683 Miliar. (bs/r)

Timbunan Proyek Pasar Gunakan Pasir Pantai SIKABALUAN-Pembangunan pasar Sikabaluan dengan anggaran Rp1,6 miliar menggunakan pasir pantai untuk timbunan proyek. Berdasarkan pantauan Puailiggoubat di lapangan, pasir pantai yang dibeli kontraktor kepada masyarakat dengan harga Rp50-65 ribu per kubik digunakan untuk dasar timbunan, setelah itu baru ditutup menggunakan pasir sungai. Awalnya masyarakat yang mengambil timbunan pasar tersebut mengeruk pasir pantai di bawah pohon cemara yang ditanam pada 2007 lalu melalui program reboisasi. Zebua, pelaksana proyek CV Kurnia selaku kontraktor yang memegang tender pembangunan pasar Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, mengatakan bahan yang digunakan ialah bahan lokal. “Itu yang ada di lokal. Siapa yang mau mengadakan pasir. Untuk timbunan bagian atas kita menggunakan koral sungai karena itu yang ada di lokal,” katanya. Ketika ditanya berapa kubik pasir pantai yang orderkan pada masyarakat untuk timbunan pasar, Zebua mengaku berapa yang tertampung hingga penimbunan selesai. “Kita

tidak bisa pastikan,” katanya singkat. Anggota DPRD Mentawai, Melki Sapolenggu yang melakukan monitoring pembangunan di Siberut Utara dan Siberut Barat ketika ditanya Puailiggoubat terkait dengan penggunaan pasir pantai mengatakan belum dapat memberikan komentar karena harus melihat bestek proyek ke Dinas Perindagkop sebagai pemilik program. “Kita belum bisa bicara karena harus lihat besteknya dulu. Berdasarkan laporan dari masyarakat,

untuk timbunan dasar menggunakan pasir pantai antara 70-100 kubik,” kata Melki Sapolenggu anggota DPRD Mentawai pada Puailiggouat, Sabtu 12 Oktober lalu. Lebih lanjut dikatakan Melki, pembangunan yang dilakukan tidak boleh merusak program atau lingkungan yang ada. “Kalau timbunan sudah mengambil pasir pantai dan juga diambil di bawah pohon cemara itu sudah menjadi masalah baru. Itukan program pemerintah,” katanya. (bs/r) FOTO:BAMBANG/PUAILIGGOUBAT

TERGENANG - Lubang hasil galian timbunan pasar tergenang air di Sikabaluan


7 Puailiggoubat

MENTAWAINEWS

NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Kondisi jalan sudah rusak parah, jalannya berlubang-lubang baik saat tanjakan maupun penurunan

Jalan Saibi-Subelen Rusak Parah FOTO:APRIL/PUAILIGGOUBAT FOTO:CHRIS/PUAILIGGOUBAT

Rinto Robertius Sanene’

J

alan utama yang menghubungkan Desa Saibi SamukopCimpungan Kecamatan Sibe-

rut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai sudah rusak parah, pengendara yang melewati Saibi, Simoilalak, Subelen dan Cimpungan ini perlu hatihati, terperosok sedikit saja nyawa akan melayang. Jartias Sabeilai (34) seorang pengguna motor warga Dusun Simoilaklak mengatakan kondisi jalannya sudah parah dan untuk melewatinya harus waspada. “Jalannya benar-benar hancur dan yang makin berbahaya tiap tanjakan dan turunan jalannya dipenuhi lubang,” katanya pada Puailigoubat, saat datang ke Saibi mengantar makanan anak sekolah, 1 Oktober lalu . Tak ada jalan alternatif lain selain jalan di sana. Jartias mengakui dengan kondisi jalan tersebut ia sudah tiga kali terjatuh dari atas motor. “Kaki dan tangan saya luka, jika ada orang baru yang melewati jalan kita ini harus hati-hati, soalnya mau sehebat apapun naik motor pasti akan jatuh,” ujarnya. Karena makin rusak parah, ada sebagian warga maupun guru-guru yang sering melintasi jalan itu berkorban untuk menambal sebagian badan jalan

JALAN BERLUMPUR - Pengendara melintasi jalan di KM 6-10 Sikakap yang berlumpur dan membahayakan keselamatan yang rusak namun masih tetap banyak yang rusak parah dan berbahaya karena penambalan itu dilakukan sesuai kemampuan mereka. ‘’Kita berharap jangan ditambal sebagian saja, kalau ada program pemerintah untuk pembangunan jalan lagi harus semuanya mulai dari kecamatan dan ke Dusun Simoilalak yang rusak itu dibuat jalan baru agar

Sibudda Oinan Dapat Pustu Senilai Rp284 juta SAIBI SAMUKOP-Pembangunan Puskemas Pembantu (Pustu) di Dusun Sibudda Oinan, Desa Saibi Samukop, Siberut Tengah telah rampung 80 persen. Bangunan dengan ukuran 11 x 8 meter tersebut menyerap dana senilai Rp284 juta. Kepala Dusun Sibudda Oinan, Linus Sanenek mengatakan, pekerjaan pembangunan pustu berjalan dengan baik, saat ini telah mencapai 80 persen. “Tinggal pemasangan loteng dan keramik dan diperkirakan bisa selesai sesuai target kontrak,” katanya pada Puailiggoubat, 12 Oktober lalu. Kontraktor yang mengerjakan Pustu tersebut adalah CV. Fajar, dan dikerjakan sejak Juli sampai tanggal 15 November mendatang. “Kita berharap, kalau sudah siap semuanya secepatnya dihuni tenaga medisnya, agar mempermudah warga kita berobat. Percuma ada bangunannya tapi tak ada medisnya,” katanya. Sementara di pustu yang berlokasi antara SikabaluanMonganpoula, Siberut Utara yang putus kontrak pada tahun 2012 masih sedang mengejar target. Anggota DPRD Mentawai Melki Sapolenggu mengatakan bangunan tersebut akan selesai tahun ini. ”Untuk tahun ini bangunan pustu akan selesai, kendati waktunya akan sedikit molor. Tapi pantauan kita di lapangan pihak pemborong sedang berupaya bagaimana ini bisa selesai tepat waktu,” katanya, Sabtu, 12 Oktober lalu. Pada tahun 2012 lalu, pembangunan puskesmas relokasi ini dikerjakan CV. Mentawai Pembangunan dengan nilai kontrak Rp1,3 miliar lebih. Namun pembangunan Pustu tersebut putus kontrak. Saat terbengkalai kondisi pustu tersebut belum terpasang atap, lantai keramik, pintu, jendela, loteng dan dinding. Tahun ini, pemenang tender baru melaksanakan pekerjaan pada awal Oktober. (rr/bs/r)

kita nyaman melintasinya,” ujar Jartias. Jalan menghubungkan Desa Saibi Samukop-Dusun Simoilalak ini dibangun tahun 2010 melalui P2D Mandiri yang sudah berusia empat tahun. Jalan ini merupakan jalan utama. Sementara jalan penghubung Dusun Simoilalak dan Dusun Sirisurak menuju Dusun Subelen juga sudah rusak parah. Kepala Desa Cimpungan Yustinus

Rencek mengatakan penyebab rusaknya jalan sepanjang tiga kilometer yang di bangun lewat P2D Mandiri tahun 2010, pengerjaannya sembarangan. ‘’OMS yang mengerjakannya saat itu asal beton saja tidak mementingkan kualitas jalan, padahal sering kita ingatkan mereka supaya membuat jalan harus bagus, padahal juga yang mengerjakan orang-orang kita dan

mereka tidak berpikir jalan itu akan cepat rusak,” kata Yustinus, 2 Oktober lalu. Untuk perbaikan jalan itu, kata Rencek, belum diketahui program yang akan mendanainya, untuk jembatannya mungkin lewat PNPM, tapi kalau jalan belum bisa dilakukan. “Bisa mungkin lewat perubahan Alokasi Dana Desa (ADD), tapi saya pikir kalau lewat ADD dana itu mungkin tidak sanggup merealisasi, tapi kita coba kordinasikan dulu dengan kecamatan,” katanya. Sekretaris Kecamatan Siberut Tengah, Jasti Onarelius Saguruk ketika dikonfirmasi Puailiggoubat 12 Oktober membenarkan adanya dana pemeliharaan jalan tersebut. Ia menyebutkan dana pemeliharaan jalan sudah ada anggarannya senilai Rp500 juta untuk 10 OMS, tinggal pekerjaannya saja. ‘’Dananya sudah ada dan OMS juga sudah diseleksi dan tinggal menunggu camat dulu baru ini berjalan,” ujarnya. Jasti mengatakan dalam perencanaan pekerjaannya, jalan menuju Saibi Samukop-Simoilaklak 6 OMS dan Dusun Subelen 4 OMS. ‘’Jalan menuju Simoilaklak yang diperbaiki, jalannya sudah rusak parah, serta di Dusun Subelen ada dua unit jembatan saja, memang perbaikan jalan dan jembatan ini tidak seluruhnya di perbaiki dan di setiap tahun itu dikecamatan ada dana pemeliharaan tentunya tahun besok lagi dialihkan di desa, ini dilakukan secara bergiliran,” katanya. (rr/r)

Maling Curi Uang Pastoran Rp50 juta SIKABALUAN-L (16) warga Dusun Muara Simalegi dan TS (22) warga Dusun Simalegi Tengah Desa Simalegi Kecamatan Siberut Barat, pelaku pencurian uang di Pastoran Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara senilai Rp50 juta berhasil dibekuk anggota Polsek Sikabaluan. Kanit Reskrim Polsek Sikabaluan, Brigadir Joni Ferwira mengatakan, pencurian di salah satu ruang Pastoran Sikabaluan, dilakukan dua kali. Total uang yang dicuri Rp50 juta. “Pertama pelaku berinisial L melakukan aksinya sendiri, setelah itu, ia membawa temannya untuk melanjutkan aksinya,” jelasnya pada Puailiggoubat, Sabtu 12 Oktober lalu. Aksi pertama dilakukan pada Jumat, 10 Agustus lalu sekitar pukul 02.00 WIB. Pelaku naik ke lantai dua menggunakan tangga samping dan membuka ventilasi pintu dan jendela. Setelah berhasil masuk pelaku mengambil uang di dalam laci meja ruang kerja yang kebetulan kuncinya

tertinggal. Uang di dalam laci tersebut merupakan honor guru-guru filial SD Fransiskus Sikabaluan dan uang pembangunan. “Pada aksi pertama pelaku hanya mengambil uang Rp5 juta di dalam laci. Ia juga membawa kunci laci, kunci pintu luar lantai bawah dan kunci pintu yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua,” jelasnya. Keesokan harinya, pelaku kembali melakukan aksinya dengan membawa teman yang bernama TS. Pada aksi kedua ini pelaku tidak lagi kesulitan masuk karena sudah ada kunci pintu yang sebelumnya diambil oleh pelaku pertama. Pada aksi kedua ini pelaku mengambil sisa uang yang ada didalam laci sebanyak Rp45 juta dan membaginya sama rata. Hasil uang curian itu ada yang dipinjamkan kepada temannya, diantaranya ada yang Rp300 ribu hingga Rp1,5 juta. “Mereka juga menggunakan uang itu bersama temantemannya untuk membeli minuman

keras dan rokok. Beli handphone berbagai merek yang jumlahnya mencapai puluhan hingga membeli tas kecil seharga Rp600 ribu. Tas, telepon selular dan uang sisa belanjaan Rp400 ribu sudah kita amankan untuk menjadi barang bukti,” katanya. Pelaku pencurian di Pastoran Sikabaluan dikenakan pasal 363 KUHP yaitu pencurian pada malam hari di sebuah tempat tertutup secara bersama-sama dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. “Salah seorang pelaku pernah dekat dan tinggal di lingkungan Pastoran. Dikeluarkan Pastor karena mencuri di pastoran,” kata Kanit Reskrim. Pada saat kejadian, Pastor di Sikabaluan sedang tidak berada ditempat karena mengikuti kegiatan di Padang. Pelaku yang menggondol uang di Pastoran kini meringkuk di LP Muara Padang setelah dibawa anggota Polsek Sikabaluan dengan KM. Gambolo pada Sabtu, 12 Oktober lalu. (bs/r)


MENTAWAINEWS Warga untuk sementara dipindahkan ke lokasi yang tidak masuk areal land clearing

Puailiggoubat

FOTO:APRIL/PUAILIGGOUBAT

ejumlah hunian sementara yang berada di sepanjang KM 6 hingga KM 8, di Kecamatan

Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, mulai dibongkar penghuninya sejak akhir September lalu. Pembongkaran terkait pelaksanaan land clearing di kawasan tersebut. Para penghuni sementara waktu menumpang di huntara lain yang tidak dibongkar atau membuat pondok darurat. Demikian pantauan Puailiggoubat saat menuju ke KM 10 Taikako, 5 Oktober lalu. Ketua Pokmas Dusun Sabeuguggung, Desa Betumonga, Kecamatan Pagai Utara, Tardianus mengatakan, huntara yang masuk lokasi untuk pembangunan huntap ini memang dibongkar, sebab di lokasi tersebut akan dibangun rumah yang lebih bagus. “Ini sudah dibongkar seminggu yang lalu, soalnya alat berat akan mendatarkan

8

Huntara Mulai Dibongkar

Rus Akbar

S

NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

BONGKAR HUNTARA Sejumlah warga membongkar hunian sementara di KM 6 Sikakap

pemukiman yang baru,” ujarnya. Huntara di Dusun Sabeugunggung di KM 10 menurut Tardianus juga akan

dibongkar karena menurut rencana, warganya akan dipindah ke KM 14. Di KM 10 memang terdapat tiga dusun

yang saling bersebelahan yakni Sabeugunggung, Muntei dan Barubaru. Huntara ini sangat padat. “Nanti warga

dari Dusun Sabeuguggung ini akan direlokasi ke KM 14, huntara disini akan dibongkar untuk dijadikan pemukiman dusun lain,” katanya. Dari data rencana kerja pokmas dan huntap, KM 7 Desa Taikako Dusun Rua Monga akan dihuni 16 Kepala Keluarga. KM 8 akan menjadi lokasi relokasi warga Dusun Bulakmonga sebanyak 60 KK. Di KM 10 Desa Betumonga, akan tinggal warga dari Dusun Muntei sebanyak 65 KK dan Dusun Baru-Baru 23 KK. Sedang di KM 14 akan ditempati warga Sabeuguggung sebanyak 53 KK. Serta KM 17 dan Silabu warganya akan dipindahkan di belakang pemukiman lama. Saat Puailiggoubat melintasi KM 6 sampai KM 10 yang menjadi lokasi huntara, ada dua unit alat berat yang sedang bekerja. Di KM 6, alat berat mendatarkan lahan agar bisa dibangun perumahan. Di KM 8, satu unit ekskavator sedang membuka lahan baru untuk pemukiman baru, pekerjaan alat berat itu dikawal beberapa anggota TNI bersama Koramil Sikakap. (o)

Mentawai Tampil di Festival Media AJI Indonesia YOGYAKARTA-Beragam foto bertema Mentawai dipajang dalam Festival Media yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKHH) Kampus Universitas Gajah Mada, Yogyakarta 28-29 September 2013. Selain foto-foto Mentawai terkait bencana dan budaya, pendidikan sekolah hutan, juga dipajang Tabloid Puailiggoubat beberapa edisi, dan buku-buku terbitan Yayasan Citra Mandiri Mentawai. Partisipasi YCMM dan Puailiggoubat dalam Festival Media tersebut

merupakan kerjasama dengan AJI Padang. Ketua AJI Padang, Hendra Makmur, mengatakan pemilihan YCMM untuk ditampilkan dalam Festival Media AJI Indonesia ini, karena YCMM dinilai fokus melakukan advokasi kepada masyarakat dan pemerintah, salah satunya melalui media alternatif. “Peran YCMM dan Puailiggoubat sangat besar untuk Mentawai, tapi hanya segelintir orang yang mengetahui hal itu, kami ingin memunculkan media-media alternatif ini ketimbang media main stream (media arus utama),” tambahnya, 28 September.

Sinyal Telkomsel Tak Lancar, Pulsapun Disedot SAIBISAMUKOP-Meski tower Telkomsel di Desa Saibi Samukop, Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai sudah aktif, tapi belum memberikan pelayanan komunikasi yang signifikan kepada masyarakat. Awalnya warga gembira dengan adanya sinyal Telkomsel tersebut, namun tak lama sinyalnyapun berulah, kadang mati kadang hidup. Bahkan kalau menelpon pulsapun disedotnya hanya beberapa menit, pulsa 10 ribu habis, padahal pelanggan sudah mengaktifkan berbagai fitur bonus yang ditawarkan. Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Mentawai Hendri Dori Satoko, mengatakan keluhan warga ini sudah diterimanya, ia juga tidak tahu penyebab sehingga jaringan sering hilang dan rusak. “Masalah ini tidak hanya di Siberut Tengah saja, tapi di kecamatan lainnya, mungkin ada masalah sama providernya,” katanya, 27 September lalu. Lanjut Hendri, persoalan ini nanti akan disampaikan kepada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Mentawai. “Persoalan ini segera akan ditindaklanjuti,” tambahnya. (rr/r)

AJI Padang menilai perlunya memperkenalkan media-media alternatif seperti Puailiggoubat dan YCMM ke ajang nasional sehingga bisa diketahui komonitas pers secara keseluruhan, jelas Hendra. Ia berharap, pembangunan untuk Mentawai bisa lebih tinggi lagi dibanding sekarang, tentu juga diiringi pengawasan bersama untuk Mentawai. “Kondisi Mentawai yang berada di seberang laut, tentu menjadi masalah tersendiri soal transportasi, ditambah lagi daerahnya merupakan kawasan bencana, ini sangat membutuhkan perhatian yang lebih untuk Mentawai,” ujarnya. Selain itu, yang perlu juga diperhatikan soal kesejahteraan, banyak keluarga miskin di daerah yang luput dari perhatian pemerintah bahkan kadang-kadang terlupakan oleh pemerintah. “Tugas pers adalah mengingatkan pemerintah bahwa Mentawai itu merupakan bagian dari Indonesia, bagian dari kita,” ujarnya. Ketua AJI Indonesia, Eko Maryadi dalam pembukaan Festival Media 2013, mengatakan festival bertema “Mencari Kebenaran dalam Era Banjir Informasi” ini mengundang berbagai perusahaan media lokal, nasional, dan asing berpartisipasi. “Festival pertama di Bandung dan kali ini di Yogyakarta, kami ingin iklim media lokal makin hidup,” katanya. Menurut Eko, acara ini mendapatkan apresiasi dari Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X. “Sultan

FOTO:RUS/PUAILIGGOUBAT

FESTIVAL MEDIA - Anggota AJI Padang, Joni Aswira (kanan) memandu pengunjung di stand pameran AJI Padang dalam Festival Media di Yogyakarta mendukung dan menyatakan Pemprov DIY ikut berpartisipasi memamerkan sejumlah foto dokumentasi mengenai aktivitas pers di masa awal perkembangannya di Yogyakarta,” ujar dia. Eko menjelaskan, festival ini juga akan mempertemukan secara langsung publik dengan pelaku industri media. Sejumlah perusahaan media lokal, nasional, dan asing membuka stan dan menyediakan berbagai informasi berkaitan dengan aktivitas jurnalistiknya. “Konsepnya bazar, semua pengunjung bisa bertanya apa pun tentang media ke setiap outlet,” kata dia. Sejumlah workshop dan diskusi juga digelar di sela festival. Temanya bera-

gam, mulai dari perkembangan industri media, fotografi, media internet, televisi, jurnalisme warga, hingga isu-isu kebebasan pers. “Wacana penting yang kami usung di festival ini adalah independensi media di tengah tahun politik,” ujar dia. Selama dua hari festival, stan AJI Padang yang menampilkan beragam foto bertemakan Mentawai cukup menarik pengunjung terutama kalangan mahasiswa, komunitas jurnalis dan jurnalis. Festival ini diikuti 20 AJI kota yang ada di seluruh Indonesia serta sejumlah media yang ada di Indonesia seperti Kompas, LKBN Antara, VOA, Watchdog, Tempo. (rus)


9

Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Jumlah DPT ini bertambah dibanding daftar pemilih tetap untuk Pilkada kota Padang yang hanya 560.732 pemilih. Penambahan ini berasal dari para mahasiswa yang sebelumnya belum terdaftar.

Syafril Adriansyah

K

omisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Padang menetapkan jumlah pemilih untuk

Pemilu Legislatif 2014 sebanyak 633.238 dalam rapat pleno terbuka Minggu, 13 Oktober. Pemilih tersebut terdiri atas 317.622 pemilih laki-laki dan 315.616 perempuan Ketua KPU Kota Padang, Alison mengatakan mereka nantinya akan menyuarakan hak pilih pada 1.791 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di 104 kelurahan pada 10 April 2014. “Terjadi penurunan dari data awal pada 13 September yang jumlahnya mencapai 642 ribu jiwa,” katanya. Menurutnya, terjadinya penurunan jumlah itu disebabkan adanya masyarakat yang meninggal, pindah, dan adanya data ganda. Hal itu dketahui selama masa perbaikan yang berlangsung selama 30 hari. Sementara, jumlah DPT ini bertam-

Pemilih Pemilu 2014 di Padang 633.238 Jiwa bah dibanding daftar pemilih tetap untuk Pilkada kota Padang yang hanya 560.732 pemilih. “Terdapat penambahan 72.506 pemilih. Umumnya dari kalangan mahasiswa yang akan menggunakan hak pilih mereka di Padang dan ini memang dibolehkan,” katanya. Selain itu, KPU Padang juga telah menetapkan pembagian Daerah Pemilih (Dapil) Pemilu 2014 di mana terdapat perubahan. Pada Pemilu 2009 Kecamatan Koto Tangah digabung dengan Kecamatan Nanggalo dalam satu Dapil. Saat ini kecamatan Koto Tangah diubah menjadi satu Dapil Kelima Dapil di Padang untuk Pemilu 2014 yang ditetapkan itu adalah, Dapil Padang I Kecamatan Koto Tangah, Dapil Padang II (Kecamatan Pauh dan Kecamatan Kuranji), Dapil Padang III (Kecamatan Bungus Telukkabung, Kecamatan Lubuk Begalung, dan Kecamatan Lubuk Kilangan). Kemudian, Dapil Padang-IV (Kecamatan Padang Selatan dan Kecamatan Padang Timur) dan Dapil Padang V (Kecamatan Padang Barat, Kecamatan Padang Utara, dan Kecamatan Nanggalo). Meski adanya perubahan Dapil tidak ada penambahan kursi legislatif

FOTO:APRIL/PUAILIGGOUBAT

BALIHO CALEG - Sejumlah warga melintasi baliho salah satu Caleg di Sikakap DPRD Padang yang diperebutkan pada Pemilu 2014, yakni tetap 45 kursi terdiri atas di Dapil Padang I sebanyak sembilan kursi, dapil Padang II sembilan kursi, Padang III 10 kursi, Padang IV delapan kursi, dan Padang V sembilan kursi. Jumlah kursi legislatif di DPRD

Padang tidak berubah karena jumlah penduduk Padang berdasarkan Data Agregat Kependudukan per Kecamatan (DAK2) tidak bertambah melebihi satu juta jiwa. Berdasarkan DAK2 yang diterima KPU dari Pemerintah Kota Padang jumlah penduduk Padang per 6 Desem-

ber 2012 sebanyak 871.534 jiwa. “UU Nomor 8 Tahun 2012, Pasal 26 ayat 2 huruf f mengatur bahwa untuk kabupaten/kota dengan jumlah penduduk lebih dari 500.000 sampai dengan 1.000.000 maka jumlah kursi untuk DPRD sebanyak 45 kursi,” kata Alison. (prl)

LBH Pers Padang Adukan Pasangan Cawako Padang ke Panwaslu PADANG - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Padang mengadukan Calon Walikota dan Wakil Walikota Padang, Muhammad Ichlas El Qudsi dan Januardi Sumka (Michel Jadi), ke Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Padang, Selasa, 8 Oktober 2013. Pengaduan tersebut terkait temuan LBH Pers Padang soal dugaan kampanye diluar jadwal yang dilakukan pasangan calon wako dari Partai Demokrat dan PAN ini diluar jadwal yang ditetapkan KPU. Dalam Keputusan KPU Padang No. 61 Tahun 2013, jadwal kampanye Pemilukada Padang, 13 sampai 26 Oktober 2013. Direktur LBH Pers Padang, Roni Saputra, menyampaikan beberapa bukti kepada KPU, seperti liflet, buletin, stiker dan 14 kliping koran media massa cetak lokal tentang foto dan berita Michel Jadi. “Bukti-bukti yang diserahkan telah memenuhi kriteria sebagai media kampanye sebagaimana yang dimaksud pasal 11 Peraturan KPU No 69 tahun 2009 tentang Pedoman Teknis

Kampanye Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, yang memuat visi misi dan program Terlapor,” kata Roni. Hal ini, lanjut Roni, jelas telah melanggar Pasal 116 Ayat 1 UU No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, yang berbunyi “setiap orang yang dengan sengaja melakukan kam-

panye diluar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh KPUD untuk masingmasing pasangan calon sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 75 ayat (2) diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lama 3 (tiga) bulan/atau denda paling sedikit Rp 100.000,00 (seratus ribu) atau paling banyak Rp

1.000.00,00 (satu juta rupiah)”. Berdasasarkan hal diatas, LBH Pers Padang meminta agar Panwaslu menindaklanjuti dugaan pelanggaran tersebut dan berkoordinasi dengan KPU dan aparat penegak hukum terkait dugaan pelanggaran pemilu dan/atau tindak pidana Pemilu. “Kami juga mengimbau para

pasangan calon walikota lainnya agar mematuhi dan mempedomani peraturan perundang-undangan dalam berkampanye,” kata Roni. Ia juga mengajak masyarakat mengawal proses pesta demokrasi di kota Padang, dan melaporkan segala bentuk dugaan pelanggaran Pemilukada ke Panwaslu. (rus)

Kerjasama dengan Lemsaneg, KPU Jamin Independen JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum menjamin independensinya meski menjalin kerjasama dengan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) dalam mengelola pengamanan sistem dan jaringan teknologi informasi Pe-milu 2014. Hal itu ditegaskan Anggota KPU, Ferry Kurnia Rizkiyansyah saat berdialog dengan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Gedung KPU, Jum’at 11 Oktober. “Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Sejak awal, tidak ada niat

sedikit pun untuk menggadaikan independensi KPU yang free and fair election,” tegas Ferry. Ferry menambahkan, KPU sangat terbuka dalam menjalin kerja sama dengan semua pihak yang ingin ikut menyukseskan Pemilu 2014. Penegasan Ferry dikuatkan Anggota KPU, Arief Budiman. Menurut Arief, nota kesepahaman antara KPU dengan Lemsaneg baru sebatas penandatanganan MoU saja, belum masuk ke dalam perjanjian kerja sama. Sementara itu, Koordinator Forum

Masyarakat Peduli Pemilu Indonesia (Formappi), Sebastian Salang, menilai, jika KPU tetap melanjutkan kerja sama dengan Lemsaneg, hal itu akan menguatkan kecurigaan masyarakat. “Kerja sama itu akan sangat berbahaya bagi kredibilitas pemilu. Gejolak penolakannya akan semakin tinggi. Sebaiknya KPU jangan membuat kecurigaan yang makin besar di masyarakat,” ungkap Sebastian. Selain Sebastian, beberapa pemerhati pemilu, seperti Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI Indo-

nesia) Jeirry Sumampow, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane, Andar Nubuwo dari Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti juga turut memberikan masukan terkait kerja sama itu. Masukan-masukan dari tokohtokoh LSM itu ditanggapi dengan positif oleh anggota KPU, Sigit Pamungkas. Jika memang diperlukan, kata Sigit, KPU bersedia mengkaji ulang kerja sama itu.(humas kpu)


MENTAWAINEWS Menghadapi potensi terjadinya gempa megathrust yang berpusat di Siberut dan berpeluang tsunami, antisipasi sejak dini pun terus dilakukan

Puailiggoubat

Warga Diimbau Tetap Waspada FOTO:BAMBANG/PUAILIGGOUBAT

W

RAWAN TSUNAMI - Sejumlah kapal bersandar di pelabuhan Tuapeijat yang berpotensi terkena tsunami langsung sigap mencari tempat yang aman terlebih dahulu ketika gempa

terjadi. Warga tidak dianjurkan untuk melihat surutnya air laut usai terjadinya

Kecamatan Sikakap Targetkan Cetak 200 Hektar Sawah Baru SIKAKAP – Pemerintah Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai menargetkan akan mencetak sawah baru hingga 200 hektar untuk meningkatkan produksi padi di daerah tersebut. Program pencetakan sawah baru ini akan dipusatkan pada tiga desa yakni Matobek, Sikakap, dan Taikako. Pelaksana Tugas (Plt) Camat Sikakap, Happy Nurdiana , Senin, 7 Oktober lalu mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah menyosialisasikan kepada para pemilik lahan untuk

10

Potensi Gempa Megathrust

Syafril Adriansyah

akil Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai, Rijel Samaloisa mengimbau warga agar tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa megathrust di daerah itu yang tidak bisa diprediksi. “Warga jangan terlena dengan keadaan yang aman sekarang dan harus menyadari bahwa kita bersama-sama menempatkan diri di lokasi yang rawan gempa megathrust dan rawan terhadap bencana,” kata Rijel Samaloisa yang juga Ketua Sekretariat Bersama RR Percepatan Pembangunan Huntap Pascabencana Gempa Bumi dan Tsunami Mentawai 2010, di kantor Bupati Mentawai, KM 4, Tuapeijat, Kamis, 3 Oktober lalu. Ia juga mengimbau agar masyarakat khususnya yang berada di tepi pantai

NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

menambah lahan mereka sehingga produksi padi menjadi lebih tinggi. “Para pemilik sawah cukup terbuka dan menerima program ini, namun ada juga warga yang menolak untuk membuka sawah baru karena lebih memilih komoditas lain seperti mangga, dan tanaman selain padi,” katanya. Saat ini sejumlah sawah sudah ada di Dusun Mabolak hingga Polaga. Selama ini produksi padi dari sawah di dusun tersebut juga digunakan untuk memenuhi kebutungan pangan FOTO:BAMBANG/PUAILIGGOUBAT

JEMUR KERING - Nelayan Dusun Nangnang Desa Sikabaluan yang sedang membuat ikan kering

12 ribu jiwa penduduk di Sikakap. “Sebagian ada juga yang kita datangkan dari Padang, karena produksi yang ada sekarang masih cukup minim,” tambahnya. Sejalan program tersebut, lanjutnya, fasilitas pertanian seperti pupuk dan pestisida juga dipasok sehingga memudahkan para petani dalam menggarap sawah mereka. Tahun ini, pihaknya akan mengadakan heler atau alat penumbuk padi sebab masih banyak petani yang menggiling hasil sawah mereka dengan peralatan manual. “Nantinya heler ini akan ditempatkan di Matobek, Sikakap, dan Taikako sehingga para petani dengan mudah menggiling padi untuk segera didistribsikan kepada konsumen,” katanya. Wanita kelahiran Nemnem Leleu, 20 Juli 1974 itu menilai bahwa beras produksi Sikakap cukup lezat. Satu Kilogram beras dijual petani dengan harga Rp 12-15 ribu tergantung kualitasnya. “Banyak staf di kecamatan membeli beras dari petani di Sikakap sampai 30 kilogram per orang. Ini dimaksudkan agar petani juga terbantu,” ujarnya. (prl)

gempa. “Setiap gempa terjadi, warga harus

langsung mencari tempat yang aman, jangan menunggu gempa yang kuat dulu baru pergi menyelamatkan diri,” katanya. Menghadapi potensi terjadinya gempa megathrust yang berpusat di Siberut yang berpeluang terjadinya tsunami, antisipasi sejak dini pun terus dilakukan. Selain sosialisasi, pembangunan jalur evakuasi, pembangunan shelter, simulasi bencana, Pemkab juga tengah berupaya untuk merelokasi warga yang berada di kawasan pantai. Saat ini pihaknya tengah mengupayakan kepada DPR RI dan Kementerian Perumahan Rakyat untuk program pembangunan rumah bagi masyarakat sehingga penduduk yang berada di garis pantai dipindahkan ke tempat yang lebih aman. “Ada ribuan rumah yang akan diusulkan bersama dinas PU,” katanya. Ia juga mengajak tokoh masyarkat, tokoh agama, dan seluruh pihak agar tidak bosan menyosialisasikan pentingnya kewaspadaan kepada warga dalam petemuan yang diadakan di gereja, masjid, atau dalam acara lainnya. (o)

Pembangunan Jalan Trans Mentawai Tunggu RTRW TUAPEIJAT- Rencana pembangunan jalan trans Mentawai untuk memudahkan akses ke empat pulau di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat masih menunggu penyelesaian rencana tata ruang wilayah (RTRW). “Dokumen tata ruang diupayakan tuntas pada tahun ini dan mulai 2014 pemerintah Mentawai akan membuat rencana induk, kajian lahan, dan amdal,” ujar Wakil Bupati Kepulauan Mentawai, Rijel Samalosa di kantor Bupati Mentawai, KM 4, Tuapeijat, Kamis, 3 Oktober lalu. Menurut Rijel, RTRW menjadi tonggak pembukaan jalan trans Mentawai. Sebab, 80 persen wilayah Mentawai merupakan kawasan hutan produksi yang merupakan milik negara, sedangkan ruang yang sudah dibangun baru 18 persen. Pembangunan jalan tersebut diperkirakan akan menggunakan kawasan yang masuk taman nasional dan lahan milik masyarakat. “Ini yang sedang kita formulasikan untuk pembebasannya . Jika ini sudah matang, akan kita ajukan ke Kementerian terkait,” ujarnya. Sebelumnya, pihaknya juga telah mengusulkan pembangunan jalan trans Mentawai sepanjang 300 kilometer di Pulau Sipora, Siberut, Pagai Utara, dan Pagai Selatan kepada Kementerian PU. Di samping itu juga dibahas persolan lahan, dan anggaran yang dibutuhkan. “Jika kita sudah dapat izin pembebasan dan sudah bisa kita bangun, maka jalan trans mentawai akan langsung direalisasikan,” sebutnya. Pada tahun 2014, pemerintah pusat sudah menganggarkan Rp 78 miliar untuk peningkatan jalan di Dusun Rokot, yang terletak di antara Tuapeijat – Sioban. “Setelah itu akan dilanjutkan dari Sioban menuju Bosua dan Kemudian ke Siberut, Pagai Selatan, Sikakap dan Pagai Utara,” tambah Rijel. (prl)


Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2012

11

Menangani Anak Remaja

S

ifat remaja memang dipengaruhi oleh banyak hal, terutama oleh orangorang yang ia kenal. Berikut ini adalah beberapa tips, khususnya bagi orang tua, untuk menjaga agar anak remaja mereka tidak terjebak pada hal yang negatif. Usia remaja memang usia yang mudah dipengaruhi, orang tua sebaiknya memahami hal ini. Tanamkan pendidikan moral sejak dini, pengaruhi mereka dengan hal-hal positif, sehingga ketika mereka menemukan sesuatu yang buruk, mereka sedikit bisa mengendalikan diri dan menolak hal buruk tersebut. Selalu jalinlah komunikasi dengan anak yang sedang menginjak usia remaja. Anak remaja adalah anak yang sangat membutuhkan perhatian. Berbeda dengan anak kecil, bila remaja tidak dipedulikan sedikit saja, mereka bisa tersinggung, merasa dikucilkan, atau malah menjadi marah. Selain memahami sifat remaja, orang tua juga harus memahami kemampuan anak mereka. Misalnya, belajar terus-menerus memang sangat bagus bagi pendidikan, namun kadang anak remaja cepat sekali merasa jenuh. Orang tua harus memahami hal ini dan jangan terlalu memaksa apabila anak sudah merasa tidak mampu. Selingi mereka dengan hiburan, misalnya menonton televisi atau diajak berjalan-jalan ke suatu tempat. Tidak semua keinginan anak harus dipenuhi, terapkan pengertian ini pada anak remaja sehingga mereka tidak menjadi manja. Bila mereka meminta sesuatu yang tidak penting atau bisa berakibat buruk, beri pengertian pada mereka bahwa itu merupakan hal yang tidak baik. Sebisa mungkin katakan dengan sangat halus, jangan menolak dan melarang dengan kata kasar atau bernada bicara tinggi. Selalu awasi pergaulan anak. Mengawasi bukan berarti harus mengikuti ke manapun anak pergi. Namun orang tua berhak tahu siapa saja teman anak, ke mana mereka biasa pergi bermain, dan lain-lain.

S

emua orang dewasa pasti pernah mengalami masa remaja, namun bukan berarti mereka lantas paham betul dengan berbagai sifat remaja yang kebanyakan cenderung labil. Kurangnya pengetahuan atau tidak ada pemahaman akan sifat remaja inilah yang kerap menimbulkan dam-pak buruk dalam suatu keluarga. Tidak sedikit anak remaja yang kemudian memberontak atau melakukan hal-hal buruk hanya karena para orang tua tidak memahami karakter dan sifat anak remaja mereka. Terkadang banyak pula yang tidak tahu bagaimana cara menangani sifat remaja yang cenderung berubah-ubah, labil, dan kadang tidak tertebak. Mengenal Remaja Remaja ini bisa di pahami dari Istilah yang berbeda, di Indonesia sendiri bisa saja mereka di sebut sebagai anak tanggung, anak kencur, dsb. Dalam bahasa pengajaran psikologi, adolescence atau remaja berasal dari kata latin. Adoiescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Artinya masa remaja berada dalam periode transisi, yakni periode di mana tidak bisa kembali ke titik awal, remaja secara fisik akan semakin matang, sesuai dengan penambahan volume otak, dan pertumbuhan lainnya. Pertumbuhan itu terkadang di remehkan oleh orang dewasa yang sok sibuk, dan melupakan bahwa mereka memiliki remaja untuk bisa di bimbing dan di kembangkan, di mana itu bukan tugas sekolah atau orang tua, melainkanpula masyarakat umum, karena yang bisa di permasalah-

kan di sini adalah perkembangan sifat remaja sendiri secara psikologis. Menurut Plaget, secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak integritas dengan masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek afektif, kurang lebih berhubungan dengan masalah puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkannnya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan cirri khas yang umum dari periode perkembangan ini ( Elizabeth. H, 1991 : 206). Masa remaja merupakan periode penting karena terjadi perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian. Tingkat perubahan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik yang terjadi dengan pesat, perubahan perilaku juga berlangsung dengan pesat. Salah satu tugas perkembangan remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial atau berinteraksi. Remaja harus melakukan penyesuaian sosial dengan orang lain di luar

lingkungan rumah , baik itu di sekolah maupun di masyarakat. Havighurst ( Hurlock , 1991 : 209 ) mengemukakan beberapa tugas perkembangan sosial yang harus dicapai pada masa remaja , yaitu : 1. Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman – teman sebaya ( sejenis maupun lawan jenis ) 2. Dapat menjalankan peran sosial menurut jenis kelamin masing- masing, artinya dapat menerima peran masing-masing sesuai dengan ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat. 3. Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat dipertanggungjawabkan, artinya turut serta dalam kegiatan – kegiatan sosial sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab, menghormati serta menghayati nilai sosial yang berlaku dalam lingkungan. Batasan Usia Remaja Lazimnya masa remaja dianggap mulai pada saat anak secara seksual mejadi matang dan berakhir saat ia mencapai kematangan usia secara hukum. Secara umum masa remaja dibagi menjadi 2 tahap, yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir. Masa remaja awal berlangsung kira - kira dari usia 13 tahun sampai dengan 16 -17 tahun. Sedangkan masa remaja akhir bermula dari usia 16 tahun atau 17 tahun sampai dengan usia 18 tahun yaitu usia matang secara hukum ( Hurlock , 1991 : 206)

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak- kanak ke masa dewaasa, bukan hanya dalam artian psikologis tapi juga fisik. Bahkan dalam perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja, sedangkan perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan-perubahan fisik itu. ( Sarwono, 2000: 51 ) Namun ada pula yang bependapat bahwa remaja adalah anak dengan usia sekitar 12 tahun hingga 20 tahun, namun batasan umur ini bisa bermacam-macam menurut beberapa psikolog remaja. Di usia-usia seperti itu, anak kerap mencari identitas diri. Tak jarang mereka sengaja membentuk karakter dan sifat remaja dengan cara meniru orang lain. Keluarga, teman, atau tokohtokoh tertentu adalah beberapa contoh orang yang biasanya menjadi panutan para remaja untuk membentuk suatu kepribadian. Hal inilah yang kadang kerap menjadi masalah, di mana mereka terkadang belum bisa memahami perbedaan hal positif dan negatif. Bayangkan bila mereka mencontoh figur yang salah, figur yang memiliki banyak sifat buruk dan negatif, hal ini tentu berakibat buruk pula bagi para remaja. Sayangnya, terkadang hal-hal negatif tersebut memang terlihat menyenangkan bagi para remaja sehingga mereka mencontohnya. Misalnya saja mengebut dengan motor, merokok, sering bermain saat belajar, dan lain-lain. (int/p)


Sosok

B

adan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginstruksikan agar pembangunan hunian tetap (huntap) bagi 2.072 korban gempa dan tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai harus tuntas akhir Desember 2013. Selama masa percepatan huntap tersebut, Kepala BNPB, Syamsul Maarif membentuk Sekretariat Bersama (Sekber) untuk menyatukan seluruh komponen dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami Mentawai. Hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan ke depan huntap harus selesai. Sementara, para korban tsunami masih menanti untuk kejalasan tempat tinggal mereka. Apa saja upaya Sekber untuk mewujudkan huntap bisa selesai tahun ini? Berikut wawancara Puailiggoubat bersama Ketua Sekber Rehabilitasi dan Rekonstruksi Percepatan Pembangunan Huntap Pascabencana Gempa Bumi dan Tsunami Mentawai 2010, Rijel Samaloisa, Kamis, 3 Oktober lalu. Bagaimana pekembangan pembangunan huntap sejauh ini? Saat ini, yang tengah dilakukan di Sekber adalah perekrutan pendamping lokal. Bersama Kodim kita juga tengah melakukan land clearing. Kita berupaya bagaimana huntap bisa selesai akhir tahun 2013 ini. Namun, banyak faktor yang membuat kondisi menjadi seperti

Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

ini, Tidak hanya menyangkut anggaran, namun juga menyangkut semua elemen yang berhubungan dengan huntap di Mentawai. Kalau pun huntap tidak selesai tahun 2013 ini, tapi minimal ada progress yang sudah kita lakukan. Saya mengharapkan banyak masukan di Sekber ini, dan saya tidak mau nantinya banyak persoalan. Pendamping lokal apa yang Anda maksud? Pendamping lokal ini ada tiga komponen, yaitu, teknik, menyangkut soal bangunan dan soal pengerjaan, ekonomi menyangkut soal keuangan, pembuatan pertanggungjawaban, dan pemberdayaan masyarakat. Tiga komponen ini yang akan mendampingi pokmas (kelompok masyarakat) yang sekarang ada di kecamatan. Mereka yang direkut adalah orang yang memiliki hubungan emosional dengan Mentawai. Artinya orang yang mengetahui kondisi di Mentawai. Mereka menjalani pembekalan selama lima hari sebelum diterjunkan. Seharusnya paling tidak harus selama dua minggu. Namun Karena kita dikejar waktu, mau tidak mau kita mencoba persingkat dan mudah-mudahan materi yang disampaikan bisa maksimal. Berapa orang pendamping lokal yang disiapkan? Untuk perekrutan dilakukan

Bank Dunia. Namun kami mencoba mengimbangi kebutuhan tenaga siapa tahu di tengah waktu berjalan ada yang mengundurkan diri. Kalau ada yang mengundurkan diri sudah ada yang disiapkan sebagai penggantinya. Anda mengatakan, kalau huntap tidak selesai tahun 2013 ini, minimal ada progress yang sudah dilakukan. Apakah Anda pesimis huntap tidak bisa selesai akhir tahun ini? Saya tidak pesimis. Maksudnya begini. Saya tidak mau mengumbar janji di media. Ini adalah silent operation (operasi senyap). Tidak perlu disampaikan. Tetapi kami akan bekerja dengan semangat kami yang ada sekarang untuk kita bersamasama. Kita upayakan, bagaimana huntap bisa tuntas sesuai instruksi Kepala BNPB. Sekali lagi, kalaupun tidak tuntas, sudah ada perkembangannya. Jangan mulai jalan dari langkah pertama, hingga Desember masih langkah pertama juga. Itu tidak ada progresnya. Jadi itu bukan pesimis. Artinya, jika itu tidak selesai secara keseluruhan, paling tidak ada yang sudah selesai terlebih dahulu? Itu yang saya maksud. Sekarang kita sudah mulai di Taikako. Tidak semua lokasi pembangunan huntap dilakukan land clearing. Sejauh ini

yang kami amati, belum ada kendala dan sekali lagi akan kita upayakan bisa rampung akhir Desember. Pembangunan huntap sudah masuk tahap land clearing. Bagaimana proses tersebut? Ada lokasi yang tidak perlu land clearing. Sudah lebih kurang tiga tahun, sebagian besar masyarakat sudah menempati lokasi itu. Jika sudah ada yang ditempati huntara, maka itu tidak perlu di land clearing. Bagi kita, yang menentukannya adalah masyarakat. Jika itu lokasi hutan yang perlu digarap, maka akan dilakukan land clearing dan lahan itu sudah dibebaskan sebelumnya oleh Kementrian Kehutanan. Akan tetapi, sebagian besar adalah perladangan masyarakat yang selama ini dijadikan lahan untuk tempat mereka tinggal di huntara. Apa kendala pembangunan huntap ini? Kalau semua urusan pembangunan huntap berada di tangan kabupaten, bisa selesai kita lakukan. Tetapi ini juga melibatkan provinsi dan pusat. Di Jakarta tidak hanya satu lembaga yakni BNPB, tetapi ada lembaga lain seperti Kementerian Keuangan yang menyangkut anggaran, dan Kementerian Kehutanan untuk izin penggunaan hutan. Jadi, hadirnya Sekber ini akan mengkoordinasikan semua elemen sapaya satu tujuan. Kalau bisa

12

diselesaikan di sini untuk apa harus menunggu provinsi. Inilah forum kita untuk bisa mendiskusikan persoalan. Jadi sama-sama kita arahkan fokus kebijakan untuk menyelesaikan huntap ini yang menyangkut izin, lokasi, fasilitator. Kalau tidak bisa selesai di sini, kita akan suarakan ke tingkatan yang lebih tinggi melalui forum ini. Di Sekber ini ada BNPB, BPBD provinsi, BPBD kabupaten, Bank Dunia, NGO, yang selama ini terpisah, atau berjalan sendirisendiri, kita satukan dalam Sekber ini dalam rangka mempercepat. Tidak ada kata terlambat, lebih baik kita memulai meski banyak tantangan, saya yakin semuanya bisa selesai. (april)

BIODATA Nama : Rijel Samaloisa Pendidikan: S2 Ilmu Politik UGM Yogyakarta Alamat : Tuapeijat Jabatan: Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai Ketua Sekretariat Bersama Rehabilitasi dan Rekonstruksi Percepataan Pembangunan Huntap Pascabencana Gempa Bumi dan Tsunami Mentawai 2010


Sisi Lain

P

riyanti Sonari Saogo (15) siswi kelas satu SMAN 1 Pagai Utara Selatan harus tinggaldi bekas base camp karyawan perusahaan Minas Pagai Lumber di Dusun Seay Baru, Desa Sikakap dengan kondisi bangunan kayu yang sudah reot dan berlubang demi sekolah. Sonari terpaksa tinggal di base camp itu karena dekat dengan sekolahnya. Tinggal disanapun gratis. Ia sendiri berasal dari Dusun Belekraksok, Desa Malakopa, Kecamatan Pagai Selatan. Baru enam bulan Sonaari tinggal di sana demi bisa tetap sekolah. Sonari termasuk seorang anak korban tsunami Mentawai tiga tahun lalu. ibunda tercinta Sorta Salamanang (48) dan adiknya Novita Irwani ikut menjadi korban ganasnya tsunami. Bangunan base camp yang dia tempati berbentuk memanjang sekitar 50 meter, masingmasing memiliki sekat kayu, bahkan sebagian pintu ruang masuk ke dalam base camp tersebut sudah berlubang, lapuk dan bahkan sudah ada yang rusak akibat dimakan usia. Di sana Sonari dan dua orang sepupunya tinggal di bagian ujung sebelah barat bangunan tersebut, dimana ruangan itu memiliki tiga kamar, satu kamar sepupunya, satu lagi kamarnya dan sebelahnya kamar pengawas base camp tersebut. “Kebetulan saat ini hari Minggu jadi yang tinggal disini ada yang pulang, ada juga yang sedang ke gereja,” katanya pada Puailiggoubat, Minggu, 6 Oktober lalu. Khusus ruang Sonari, terdapat ruang tamu terbuka, dapur serta kamar mandi yang ditutupi pakai plastik warna biru, lengkap dengan drum plastik sebagai bak sekaligus penampung air hujan untuk mandi dan minum. Sementara kamarnya berukuran 3 x 4 meter, pintunya dari triplek dan disilang bambu agar tidak rusak, lengkap dengan gantungan kunci globe. Di dapurnya terlihat periuk kecil dan kuali yang sudah hitam dipenuhi arang, diatas dapur ada beberapa kayu kering yang digunakan untuk memasak. “Kalau buang air besar kami menumpang di rumah pak Marbun, beliau dan istrinya juga sebagai pejaga kami,” tuturnya. Sonari anak pertama dari Nahason Saogo (59) dan almarhumah Sorta, harus bersabar tinggal di daerah yang serba minim ini. “Bapak biasanya datang kesini sekali sebulan, biasanya dia memberi saya uang Rp20 ribu sampai Rp25 ribu sebulan, cukup atau tidak cukup itulah kita harus tahan,” katanya. “Selain itu bapak juga membawa pisang dan beras untuk makanan saya selama sebulan, itupun kadang kalau pisang direbus lalu dimakan, tanpa diolah seperti membuat subbet, kadang hanya digandengkan sayur pucuk ubi yang juga direbus, tanpa lauk pauk. Itulah yang bisa saya lakukan,” ujarnya. Sebagai penerangan kalau waktu malam,

Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Sonari hanya memakai lampu minyak yang kecil, biasanya itu untuk lampu tidur. “Disini tidak ada listrik, jadi saya hanya memakai lampu minyak tanah saja, sekaligus untuk belajar,” katanya. Ada cara yang dilakukan Sonari agar pelajaran di sekolah selalu diingat, biasanya kalau pulang sekolah ia terlebih dahulu istirahat, setelah itu barulah belajar, nanti pada malam hari lagi ia juga belajar lagi. Selain Sonari yang kini SMA, adiknya juga sekolah di SMP Nemnemleleu, namanya Rina Saogo. “Biasanya bapak datang lewat jalan darat, dia kemudian singgah di tempat saya, lalu dia menuju tempat adik saya, disitulah bapak meninggalkan uang belanja untuk kami berdua,” ujarnya. Waktu ibu dan adiknya meninggal, Sonari masih sekolah di SMP Malakkopa. Saat kejadian gempa dan tsunami itu, dia tinggal di Malakkopa bersama sepupunya Brusli Saogo yang menjadi guru di sekolah tersebut. “Jadi saat kejadian saya tidak sama orang tua, tapi saya berada di Malakopa, jarak tempat kami tinggal dengan bibir pantai itu 1 kilometer, kami tinggal di pemukiman baru,” tuturnya. Ia tahu setelah kepala dusun Malakkopa memberitahukan bahwa gempa tersebut telah menimbulkan tsunami. “Saat itu kami lari ke tempat yang lebih tinggi, kami juga dilarang turun ke bawah, ada sekitar sebulan lamanya kami tidak turun-turun, bahkan saya saja tidak bertemu dengan almarhum ibu, hanya kuburan ibu dan mendiang adik saya yang ditemukan, mereka dikuburkan di Malakopa,” katanya. Kata Sonari, dari keterangan bapaknya, ibunya ditemukan keesokan harinya setelah tsunami bersama adiknya di sungai kecil Beleraksok. “Bapak yang menemukan jenasah mereka berdua, kata bapak, posisi ibu saat itu sedang memeluk adiknya,” ujarnya. Kini sudah tiga tahun berlalu, bapak Sonari sudah menikah lagi dan memiliki satu orang anak yang menjadi adik tiri Sonari. Kini orang tua Sonari tinggal di hunian sementara KM 23 Pagai Selatan. “Kalau waktu SMP saya biasanya juara 1 sampai juara tiga, saya belum tahu di sini apakah nanti saya juara atau tidak, saya baru kelas satu belum ujian, saat ini kami sedang bersiap ujian mid semester,” katanya. Selain sonari yang tinggal di petak ujung, ada juga beberapa orang yang tinggal di petak lain di base camp tersebut, umumnya yang tinggal siswa SMA 1 Pagai Utara Selatan. Lokasi sekolah mereka dari tempat tinggalnya sekitar satu kilometer. (Rus Akbar)

13


Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Korban terakhir ditemukan 9 hari setelah kejadian di Jembatan nanggalo, Siteba dengan posisi telungkup dan tertimbun pasir.

Enam Anggota Mapala Unand Hanyut Saat Survei Lokasi Diksar FOTO:RUS/PUAILIGGOUBAT

Andri El Faruqi

A

nggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Andalas, Aidil Akbar (19 tahun), yang

hanyut di Sungai Padang Janiah Batang Kuranji Batu Busuak, Limau Manih Kota Padang, pada Sabtu pekan lalu, ditemukan warga di sekitar Jembatan Siteba, Senin 7 Oktober 2013 pukul 12.15 WIB. Aidil merupakan korban terakhir yang ditemukan dari enam anggota Mapala Unand Padang yang hanyut saat melakukan survey sebelum pendidikan dasar anggota Mapala, sabtu, 28 September lalu. Kepala Sie Operasi Basarnas Kota Padang Juanda mengatakan, korban ditemukan warga yang melintasi kawasan itu dengan posisi telungkup dan sebagian tubuhnya tertimbun pasir. Warga tersebut melaporkan ke anggota tim SAR yang sedang melakukan pencarian dekat dari lokasi ditemukannya korban. “Sesuai dengan informasi, identitas korban dikenali dari pakaian dan jam tangan yang digunakannya. Saat ditemukan jam tangan dengan merek casio itu masih melekat di tangan korban,” ujarnya. Menurut Juanda, korban dibawa ke

SOAL CPNS - Penjual soal ujian CPNS di kantor Pos Padang, penerimaan PNS tahun ini semuanya harus tamat S1 Rumah Sakit Umum M Djamil Padang. Sebelum dibawa keluarga, korban akan disemayamkan di Mapala Unand. Selain Aidil, korban lainnya yang sudah ditemukan adalah Artika Cas-

pella, 20 tahun, mahasiswa Fakultas Kedokteran Psikologi, dan Elin Florita, 19 tahun, mahasiswa Fakultas Pertanian, ditemukan Sabtu 28 September 2013 sekitar pukul 21.00 WIB di sekitar

Tiga Santri TPA Tergulung Ombak Pantai Padang PADANG- Tiga santri Taman Pendidikan Al-Quran Masjid Nailus Sa’idah Alang Laweh Padang, tergulung ombak Pantai Padang di Jalan Samudra Kota Padang, Minggu 6 Oktober 2013. Dua santri diantaranya meninggal dan satu lainnya selamat meski harus dirawat di Rumah Sakit Umum M. Djamil Padang. Dua santri meninggal yakni Rofiq (7 tahun) dan Irfania Aqiqah (10 tahun), sedang korban selamat Yudi (9 tahun). Rofiq dengan Yudi merupakan dua kakak beradik. Kepala Bidang BPBD dan Damkar Kota Padang Eddy Asri, kakak beradik Rofiq dan Yudi ditemukan warga di sekitar batu bronjong penahan abrasi di tepi Pantai Padang pukul 07.15 WIB. “Yudi saat ini masih dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Umum M Djamil Padang,” ujarnya. Sementara, Irfania ditemukan

14

nelayan di depan perairan Pulau Sikuai sekitar pukul 16.15 WIB. Siswa Sekolah Dasar (SD) Alang Laweh ini tersangkut di profeler perahu nelayan. Lalu, korban dievakuasi nelayan ke Dermaga Satuan Keamanan Laut (Kamla) Lantamal II Padang di Muaro Padang. “Korban tersangkut di profeler perahu. Setelah dicek nelayan kiranya sosok mayat. Lalu nelayan itu membawa korban ke dermaga kami,” ujar Komandan Kamla Lantamal II Padang Mayor Laut R Wahyudi. Kata Wahyudi, saat kejadian air laut pasang, arus menuju arah barat. Sehingga korban terseret ke arah barat. “Sekitar 1 mill. Pergerakan tak jauh dari lokasi,” ujarnya. Kejadian ini berawal saat 16 santri bersama satu orang gurunya jalan-jalan ke Pantai Padang setelah kegiatan pendidikan subuh di masjid, sekitar pukul 06.10. Mereka bermain di tepi

pantai. “Namun tiba-tiba ombak pasang. Tiga orang terseret,” ujar Abay salah seorang saksi mata. Kata Abbay, saat kejadian ada tiga teman korban yang mencoba untuk menyelamatkan, tapi karena derasnya ombak mereka tak mampu. “Saya sudah melarang mereka mendekati bibir pantai. Sebab, saat itu air laut pasang,” ujarnya. Proses pencarian dilakukan sejak pagi tadi oleh 50 orang Tim SAR dari Basarnas, BPBD KOta Padang, Polisi Airud dan Sat Kamla Kota Padang. “Akhirnya korban terakhir bisa ditemukan oleh nelayan,” ujar Eddy Asri. Paman Yudi, Kodin mengatakan, Yudi sudah melewati masih kritisnya Minggu siang sekitar pukul 14.00 WIB. “Ia sudah sadar. Tadi pasir-pasir laut masuk dalam tubuhnya. Namun sudah ditangani pihak rumah sakit,” ujarya di RSU M Djamil Padang. (andri/o)

lokasi. Lalu, Deni Linardo, 22 tahun, mahasiswa Fakultas Pertanian, dan Veglan Rizki Ananda, 19 tahun, mahasiswa Fakultas Ekonomi, ditemukan

Minggu, 29 September 2013 pada pukul 06.00 WIB, di sekitar Muaro Pantai Padang sekitar kawasan Kampus Bung Hatta. Rizki Tega, 23 tahun, mahasiswa Fakultas Ekonomi, ditemukan di sekitar lokasi kejadian sekitar pukul 08.30 WIB. Pencarian korban dilakukan sejak peristiwa ini terjadi, Sabtu pekan lalu. “Ini hari ke-10 kita melakukan pencarian,” ujar Juanda. Menurut Juanda, proses pencarian sebenarnya telah berakhir sejak Jumat 4 Oktobe 2013. Namun, keluarga dan keluarga besar Mapala Unand meminta penambahan waktu untuk pencarian. “Sesuai dengan intruksi Direktur Operasi Basarnas, proses pencarian ditambah tiga hari dan berakhir hari ini (Senin),” ujarnya. Selama 10 hari pencarian, kata Juanda, melibatkan sekitar 200 personel Tim SAR dari Basarnas Kota Padang, BPBD Kota Padang, Mapala Unand, Pol Airut, BPBD Padang Panjang, anggota pramuka dan sejumlah mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Sumatera Barat. “Tiga hari terakhir ini, pencarian difokuskan ke semua titik. Darat dan laut,” ujarnya. Kata Juanda, pencarian menggunakan kapal RB 213 SAR Padang, siredes, LCR Basarna dan BPBD Kota Padang, serta beberapa perahut karet dari Basarnas, BPBD, Mapala dan TNI AL. (o)

Gunung Marapi Semburkan Abu Vulkanik PADANG - Gunung Marapi di Sumatra Barat menyemburkan abu vulkanik sebanyak tiga kali, Sabtu 12 Oktober 2013. Petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bukittinggi Warseno mengungkapkan, Sabtu 12 Oktober 2013 Gunung Marapi menyemburkan abu vulkanik sebanyak tiga kali. “Terakhir letusannya sekitar pukul 12.36 WIB,” kata Petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bukittinggi Warseno, Sabtu 12 Oktober 2013 pukul 16.00 WIB. PVMBG mencatat, semburan terjadi pada pukul 08.58 WIB, 09.34 WIB dan 12.36 WIB, dengan ketinggian 300 hingga 400 meter. “Warnanya kelabu,” ujarnya. Kata Warseno, sejak 1 Oktober, Gunung Marapi sudah melepaskan semburan magmatik sebanyak 45 kali. Semburannya berbeda besarnya. Asap paling tinggi terpantau berkisar 600 meteri. Warseno mengatakan, status aktivitas Gunung Marapi yang dipatok waspada atau level II sejak 3 Agustus 2011, belum diturunkan. Sebab, aktivitas gunung tertinggi di Sumatera Barat ini masih meningkat.(andri/o)


15

Puailiggoubat

SEPUTARSUMBAR

NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Para tahanan keracunan usai menyantap nasi bungkus dengan menu ikan tongkol yang diduga berjamur. Rus Akbar

17 Tahanan Mapolresta Padang Keracunan

ebanyak 17 tahanan di sel Polresta Padang keracunan usai menyantap nasi bungkus dengan menu ikan tongkol yang disediakan petugas tahanan, Jumat 11 Oktober 2013 lalu. “Ada tiga orang dirawat di Rumah

Sakit Bhayangkara Polda Sumbar, tapi sudah dikembalikan lagi ke sel, mereka sudah mendapatkan perawatan intensif,” kata Kapolresta Padang, AKBP Wisnu Andayana pada wartawan, jalan M. Yamin, usai kejadian. Insiden itu kata Wisnu terjadi pada

S

pukul 13.30 WIB. Para tahanan diduga menyantap ikan tongkol yang sudah berjamur. “Para tahanan ada yang dirawat di sel ada juga yang dibawa ke rumah sakit,” ujarnya. Kini penyidik tengah meminta keterangan sejumlah saksi yang menyediakan nasi bungkus tersebut.

“Keterangan beberapa saksi di tahanan, keracunan tersebut terjadi usai makan siang yang diberikan oleh pengoder makanan. Kini pengoder makanan masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik Reskrim Polresta Padang,” ujarnya. Wisnu menambahkan peristiwa keracunan ini tidak memakan korban

jiwa. “Diduga ikan tongkol tersebut telah berjamur, dan telah lama disimpan,” ujarnya. Akibat insiden itu, sejumlah keluarga tahanan yang ingin membezuk tidak diperbolehkan. Keluarga tahanan bisa kembali membezuk pada Selasa depan. (r)

FOTO:FIELD BUMI CERIA

Puluhan Warga Terjebak Banjir Sedalam Satu Meter Lebih

EVAKUASI BANJIR Evakuasi korban banjir di Korong Kasai, Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padangpariaman

PADANG - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat membuat rumah warga di Korong Kasai, Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai terendam banjir, Jumat 11 Oktober. Kasi Operasi Basarnas Padang, Juanda Sodo mengatakan, ada puluhan orang yang terjebak banjir. “Saat ini sudah 20 orang yang dievakuasi dengan mengerahkan dua perahu karet Basarnas, 13 orang dari Basarnas, dibantu BPBD Padangpariaman dan warga,” ujarnya, 11 Oktober lalu. Menurut Juanda, kedalaman air yang menggenangi perumahan tersebut sekitar 1,5 meter. “Warga yang kita evakuasi ini mereka yang terjebak di rumah,” ujarnya. Sementara Heri Ale dari Perkumpulan Pemandu Masyarakat Tangguh Bencana dan Perubahan Iklim (P3MBTI) mengatakan, bencana ini merendam sekitar 400 rumah di Perumahan Bumi Kasai. “Ini akibat pembuangan air yang kecil membuat hujan lebat saja merendam perumahan tersebut,” katanya. (rus)

Diving Proklamator: Anggota Baru Harus Lahirkan Penyelam Berkualitas PADANG-Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Diving Proklamator Universitas Bung Hatta mengadakan kegiatan pelantikan bagi 4 anggota barunya yaitu Ade Nirwansyah, Nofri Hayadi, Zulhadi Sitorus dan Febrian yang merupakan mahasiswa jurusan Pemanfaat Sumberdaya Perikanan (PSP) Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat. Menurut Ketua UKM Diving Proklamator, David Hidayat, kegiatan pelantikan ini sebagai upaya melakukan regenerasi keanggotaan dan organisasi. Dari sekian banyak yang daftar dan telah melakukan berbagai macam diklat baik di kampus maupun di lapangan hanya tertinggal empat anggota yang bertahan. “Namanya sebuah organisasi pasti seleksi alam itu akan ada. Dari awal, anggotanya banyak lambat laun tersisa lah yang memang benar-benar mau mengabdi dan menunjukan prestasinya untuk organisasinya,” ujarnya, Jumat 11 Oktober lalu. Umumnya pelantikan sebuah organsiasi dilakukan secara resmi dir uangan. Lain halnya dengan UKM Diving Proklamator, prosesi pelantikannya dilakukan di dalam air. Para anggota yang akan dilantik ini harus menyelam di dalam kolam yang kedalamannya lima

meter untuk mengambil baju keanggotaan yang telah terpasang nama dan nomor register. Baju tersebut dibenamkan hingga dasar kolam. “Prosesi ini sangat sakral bagi kami. Sebab disinilah semangat perjuangan, kerjasama, kekompakan dan kemampuan para anggota di bisa ditunjukan,” ujar David. Selama berjam-jam para anggota ini

berusaha untuk mengambil bajunya hingga akhirnya satu persatu dari mereka berhasil mendapatkan baju dan langsung dikenakan pakaian tersebut di dalam air. Ketika muncul kepermukaan mereka telah mengenakan baju kebesaran UKM Diving Proklamator. Sementara itu, Mabruri Tanjung, senior UKM Diving Proklamator mengatakan sebagai satu unit kegiatan

mahasiswa yang bergerak di bidang penyelaman harus terus konsisten melakukan kegiatan konservasi di bawah air dan juga melibatkan pelajar dan masyarakat untuk lebih peduli lagi dengan lingkungan di bawah air. Sebagai club penyelam tertua di Sumatra Barat, tentunya UKM Diving Proklamator tidak hanya melakukan penyelaman untuk olahraga dan rekreasi

tapi akan fokus juga untuk penyelaman riset dan konservasi. “Kita telah mengarah ke penyelaman riset dan konservasi di bawah laut seperti kegiatan trasnplantasi terumbu karang hingga rehabilitasi hutan bakau di beberapa kawasan di Sumatra Barat,” katanya. Pelatikan tersebut dilaksanakan di Kolam Renang Dalam Teratai Kawasan Gor H Agus Salim Padang, 10 Oktober lalu. (rus)

minimal 400 dari PPBA UBH. Peraturan ini menimbulkan pro dan kontra bahkan demontrasi dari calon wisudawan yang diwisuda pada bulan Oktober ini. ”Kami telah mengambil langkah, dengan melaksanakan prosesi wisuda dua kali, yakni 12 Oktober dan 16 November, dan bagi yang belum lulus tes TOEFL diadakan Preparation TOEFL sebelum kembali mengikuti tes TOEFL, dan dibiayai oleh universitas,” kata Niki. Disebutkan juga bahwa, ujian TOEFL bagi mahasiswa yang telah mengikuti preparation, ujian telah dilaksanakan Kamis,10 Oktober , lebih dari 90 persen telah lulus dan siap untuk di wisuda pada periode

ke-60 pada tanggal 16 November nanti. Dijelaskan juga, prosesi wisuda tetap seperti pelaksanaan sebelum sebelumnya, karena prosesi wisuda merupakan rapat senat terbuka universitas. Pada wisuda 12 Oktober tersebut akan dilantik sebanyak 288 wisudawan yang berasal dari Fakultas Ekonomi 36 orang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 203 orang, Fakultas Ilmu Budaya 20 orang, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan 15 orang, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan 12 orang dan Program Pascasarjana 2 orang. (rus)

Lulusan UBH Dibekali Sertifikat TOEFL PADANG-Sebanyak 288 lulusan Universitas Bung Hatta, di Kota Padang, Sumatra Barat periode 59 wajib mengantongi sertifikat Test of English as Foreign Language (TOEFL). Persyaratan ini juga berlaku bagi lulusan UBH periode berikutnya. Rektor Universitas Bung Hatta Niki Lukviarman, menyebutkan, mulai periode ke-59 seluruh calon wisudawan harus memiliki sertifikat TOEFL dengan skor minimal 400. “Sertifikat itu sebagai salah satu syarat kelulusan yang harus dipenuhi calon lulusan Universitas Bung Hatta, dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan,” katanya, Jumat 11

Oktober 2013. Menurut Niki, persyaratan ini sesuai dengan peraturan akademik yang berlaku sejak tahun 2004 yang dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan Bahasa Asing (PBA) UBH. “Keputusan ini dibuat berdasarkan pengalaman sebelumnya, dikarenakan banyaknya mahasiswa yang memberikan sertifikat TOEFL dari institusi yang fiktif dan sertifikat yang tidak dapat dipertanggung jawabkan,” tegas Niki. Ia mengatakan, kebijakan itu sesuai dengan Surat Edaran (SE) Rektor Nomor: 4938/UM-1/KP/VII2013 tentang Syarat Wisuda yang berbunyi menyerahkan fotokopi sertifikat lulus TOEFL (TOEFL like)


Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

8

Suara Puailiggoubat Tiga Tahun Setelah Tsunami

O

ktober tahun ini tepat tiga tahun tsunami Mentawai terjadi. Bencana ini membawa sejumlah pesan penting bagi masyarakat Mentawai bahwa daerah yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia ini sangat dekat dengan bencana. Bahwa gempa yang ternyata tidak terlalu kuat telah mengelabui masyarakat dan menelan korban jiwa hampir 500 orang. Dekatnya Mentawai dengan bencana mendorong pentingnya upaya-upaya mitigasi dan pengurangan resiko bencana yang harus dilakukan pemerintah daerah agar ke depan, korban jiwa dan kerugian materi bisa ditekan akibat terjadinya bencana. Namun upaya mitigasi ini belum terlihat jelas dalam program pemerintah. Lambannya penyelesaian rehabilitasi dan rekonstruksi bencana tsunami Mentawai yang hingga kini belum juga selesai seharusnya menjadi pelajaran penting tentang pengelolaan pascabencana. Seharusnya ke depan, Pemerintah Mentawai lebih membuka diri. Pemerintah Sumatra Barat juga harus lebih memberi kepercayaan kepada Pemerintah Mentawai agar persoalan komunikasi dan koordinasi yang selama ini seringkali menghambat bisa mencair. Semangat dan daya juang para korban tsunami untuk bertahan hidup selama tiga tahun di pengungsian sesungguhnya mencerminkan karakter masyarakat Mentawai yang pantang menyerah. Ini mestinya menjadi modal untuk membangun Mentawai, namun apa daya, banyak sekali ketimpangan dan penyimpangan dalam pembangunan membuat Mentawai lamban maju. Infrastruktur yang apa adanya, jalan jelek, pelayanan kesehatan tidak maksimal, transportasi terbatas. Peringatan tiga tahun peristiwa tsunami ini mestinya menjadi momentum Pemerintah Mentawai untuk meningkat lebih jauh membawa Mentawai menuju kesejahteraan. Langkah pertama tentu dengan menepati janji untuk merealisasikan pembangunan pemukiman (hunian tetap) akhir tahun ini. Langkah kedua, memberdayakan kehidupan ekonomi para korban tsunami agar segera hidup normal bahkan lebih sejahtera dari sebelumnya. Sudah saatnya Pemerintah Mentawai membuktikan kepada rakyatnya bahwa mereka ada untuk melayani rakyat.

16

Misteri Pembunuhan Udin Sebagai Sebuah Utang

M

asih banyak pertanyaan menggantung di negeri ini . Salah satunya adalah kematian wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin yang terjadi 17 tahun silam yang hingga kini masih merupakan misteri. Pembunuhnya belum kunjung terungkap padahal Kapolda DIY Yogyakarta telah berganti 16 kali. Apakah Kasus Udin ini akan menjadi bagian dari banyak kasus yang menjadi dark number di negeri ini? Ataukah akan hilang atau kedaluwarsa ditelan perjalanan waktu? Udin yang kelahiran Bantul, Yogyakarta, 18 Februari 1964. Pada Selasa malam, pukul 23.30 WIB 13 Agustus 1996, Udin dianiaya pria tak dikenal di depan rumah kontrakannya, di dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis Km 13 Yogyakarta. Sejak malam penganiayaan itu, terus berada dalam keadaannya koma dan dirawat di RS Bethesda, Yogyakarta. Esok paginya, Udin menjalani operasi otak di rumah sakit tersebut. Namun, dikarenakan akibat pukulan batang besi di bagian kepala itu, akhirnya Udin meninggal dunia pada Jumat, 16 Agustus 1996, pukul 16.50 WIB pada usia 32 tahun. Ia mati tepat 10 tahun setelah bergabung dengan Bernas, tepatnya sejak 1986. Polisi Disorot Saat itu muncul sorotan terhadap kinerja polisi yang melakukan penyelidikan dan penyidikan, dimana kepolisian masih menjadi bagian dari ABRI. Semestinya polisi dalam melakukan proses penyidikan harus berbasis pada hasil olah TKP dan bukti-bukti forensik, tapi malah yang terjadi sebaliknya.Kanit Reserse Kriminal Umum Polres Bantul yang berpangkat Serka (kalau sekarang: brigadir polisi) saat itu justru melakukan hal yang berbau klenik dan bukannya memraktekkan metoda scientific investigation. Sampel darah Udin yang harusnya disimpan sebagai barang bukti justru dilarung ke Laut Kidul dengan alasan untuk membuang sial. Awalnya si Kanit menyatakan sampel darah tersebut akan dipakai untuk kepentingan pengusutan dengan cara supranatural dengan dilarung ke Laut Selatan. Bukan hanya itu, buku catatan Udin juga diambil dan kemudian tidak jelas ada di

oleh:

pejabat pemerintahan meminta agar kasus Udin diusut tuntas dan siapapun yang terlibat dalam kasus tersebut harus diproses secara hukum. Bahkan Kassospol ABRI saat itu, Letjen TNI Syarwan Hamid menegaskan bahwa oknum ABRI yang terlibat dalam kasus Udin akan ditindak tegas. Di tengah berbagai tekanan publik, saat itu Kapolda Jateng-DIY Mayjen Pol Harimas AS menyatakan bahwa pihak kepolisian sudah memiliki identitas lengkap pelaku kasus pembunuhan Udin.

sedap aroma perselingkuhan politik. Iwik yang tak terbukti melakukan pembunuhan akhirnya ditangguhkan penahananannya dan kemudian divonis bebas. Pakar pidana dari Universitas Airlangga Prof Dr JE Sahettapy SH menilai pengusutan kasus Udin banyak direkayasa. Ia juga menilai motif yang selama ini diyakini polisi yaitu motif perselingkuhan terlalu dicari-cari. Tujuh belas tahun semua hingar-bingar itu sepertinya telah berlalu. Tapi masyarakat dan para wartawan di Indonesia tetap melihat pentingnya kasus pembunuhan Udin untuk dapat diungkap kepada publik. Udin dianugerahi penghargaan Suardi Tasrif Award oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) atas perjuangannya bagi kebebasan pers pada 22 Juni 1997. AJI juga menggunakan nama Udin untuk memberikan penghargaan kepada jurnalis atau sekelompok jurnalis yang menjadi korban kekerasan karena komitmen dan konsistensinya dalam menegakan pers demi kebenaran dan keadilan. Akankah kasus Udin kadaluwarsa sesuai ketentuan hukum? Semestinya tidak, karena untuk membuktikan bahwa penyidikan lama yang penuh rekayasa sangat mudah dengan memeriksa ulang seluruh nama yang pernah jadi korban perekayasaan. Hal ini sekaligus bisa menjadi bukti baru (novum). Yang dibutuhkan polisi hanyalah kemauan dan tekad untuk mengungkap kebenaran. Sebuah kejahatan tak akan selamanya dapat ditutupi. Suatu saat akan terbongkar. Dan ingat, sebuah tindak kejahatan selalu meninggalkan jejak. Jejak-jejak yang jelas ini tinggal dirunut kembali. Kasus Udin adalah utang bagi bangsa ini untuk segera bisa diungkap. Masyarakat, aktivis, pemerhati hukum, dan para wartawan kini menagih utang ini pada aparat penegak hukum. Kematian Udin 17 tahun lalu memang telah mengubur jasadnya, tapi sebagai sebuah kasus ia tidak pernah mati. Matinya wartawan Udin bukan matinya sebuah kebenaran. Kini saatnya kita semua membantu polisi melunasi utangnya pada bangsa ini. Hal ini penting agar bangsa ini bisa bergerak melaju ke depan, dan tidak menyandera bangsa ini untuk selalu menoleh ke belakang.

Sebuah Utang Upaya pengungkapan pembunuhan Udin melalui jalur pengadilan juga tampaknya buntu dan berbau tak

(Tulisan ini telah dipublikasikan di website Dewan Pers, Senin, 23 September 2013)

Stanley Adi Prasetyo

Ketua Komisi Hukum Dewan Pers mana.Para wartawan dan aktivis di Yogya menemukan indikasi kemungkinan adanya kaitan antara beberapa tulisan kritis Udin di Bernas dengan kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer. Bupati Bantul Kolonel Art Sri Roso Sudarmo yang merupakan kerabat keluarga Cendana saat itu dikatit-kaitkan dengan kematian Udin. Kapolres Bantul saat itu, Letkol Pol Ade Subardan mengatakan tidak ada dalang dalam kasus Udin meski tersangka belum tertangkap. Ia menyatakan akan menangkap pelaku pembunuh Udin dalam waktu tiga hari setelah konferensi pers tersebut berlangsung. Di tengah pertanyaan orang tentang apa yang dilakukan polisi untuk mengusut kematian Udin, si Kanit Reskrimum tersebut kemudian dimutasikan dari tempat dinasnya di Yogyakarta ke Mabes Polri di Jakarta. Apakah ia seorang pahlawan yang perlu diselamatkan dan dilindungi ataukah ia seorang yang teledor dan melakukan kesalahan sehingga patut dihukum? Ataukah justru ia menyelamatkan Polri dari kemarahan penguasa saat itu? Yang jelas pertanyaan ini bagi publik juga menggantung. Beberapa sumber menyebut sang mantan Kanit kini telah berpangkat Kombes dan berdinas di satuan khusus di kepolisian.Penjelasan polisi berbeda dengan logika masyarakat. Masyarakat menilai ada skenario pihak tertentu yang tampaknya mencoba mengalihkan kasus ini. Seorang perempuan bernama Tri Sumaryani mengaku ditawari sejumlah uang sebagai imbalan membuat pengakuan bahwa Udin melakukan hubungan gelap dengannya dan kemudian dibunuh oleh suaminya. Sedangkan Dwi Sumaji (Iwik) seorang sopir perusahaan iklan, juga mengaku

dikorbankan oleh polisi untuk membuat pengakuan bahwa ia telah membunuh Udin. Iwik mengaku dipaksa meminum bir berbotol-botol dan kemudian ditawari uang, pekerjaan, dan seorang pelacur. Namun di pengadilan, pada 5 Agustus 1997 Iwik mengatakan, “Saya telah dikorbankan untuk bisnis politik dan melindungi mafia politik.�Hal tersebut memunculkan berbagai pro-kontra sekaligus sorotan terhadap kinerja Polri. Berbagai pihak termasuk di antaranya Sri Sultan Hamengku Buwono X, Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jateng-DIY dan sejumlah


17

Puailiggoubat

PODIUM

NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

UKT: Ability To Pay dalam Sistem Pembayaran Kuliah

D

unia pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi beberapa tahun terakhir ini mendapat sorotan tajam dari publik. Ada beberapa hal yang sering “dikeluhkan” antara lain: belum meratanya sistem pendidikan tinggi di Jawa dengan luar Jawa; lulusan Perguruan Tinggi yang belum siap kerja; lamanya masa tunggu setelah menyelesaikan studi sampai mendapatkan pekerjaan, sarana dan prasarana yang belum cukup memadahi. Disamping itu, secara akademik belum cukup banyak dosen bergelar doktor apalagi profesor; kemampuan bahasa asing yang kurang memadahi; belum kuatnya budaya menulis bagi dosen di berbagai jurnal; cukup banyak laporan penelitian yang hanya sekedar memenuhi ketentuan formal dan memburu selesainya laporan penelitian tanpa mempertimbangkan tindak lanjut dari penelitian tersebut dll. Sorotan yang tidak kalah tajam, selain itu adalah adanya pandangan publik atas isu komersialisasi pendidikan, sehingga pendidikan di PTN diidentikkan dengan membayar mahal dan hanya orang kaya saja yang mendapatkan akses pendidikan, sedangkan orang miskin sulit untuk merealisasi cita-citanya untuk menjadi sarjana atau ahli madya. Untuk membuktikan bahwa pendidikan itu sangat terbuka bagi setiap warga negara sebagai realisasi dari Pasal 31 UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak atas pendidikan. Oleh karena itu berbagai terobosan dilakukan oleh Kementrian Pendidikan Nasional, antara lain pembebasan seluruh biaya pendidikan dengan memunculkan beasiswa bidik misi yang menggratiskan seluruh biaya pendidikan dan diberi biaya hidup selama studi berlangsung. Selain itu dikenal juga kebijakan afirmasi dan kebijakan baru dalam sistem pembayaran biaya kuliah selama studi berlangsung. Kebijakan baru itu bernama Uang Kuliah Tunggal yang sering disingkat UKT Landasan Hukum Dalam lintasan sejarah, dasar yang dipakai dalam pelaksanaan UKT atau “tussen fee” dimulai dari adanya surat edaran Dirjen Dikti No 305/E/T/2012 tentang Tarif Uang Kuliah yang diperbaharui dengan SE Dirjen Dikti No 488/ E/T/2012 tentang Uang Kuliah Tunggal dan SE Dirjen Dikti no 97/E/KU/2012 Tentang Uang Kuliah Tunggal. Walaupun telah ada 3 surat edaran tersebut ternyata dilapangan hampir semua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) belum

oleh: Prof Dr Jamal Wiwoho, SH, MHum Dosen Universitas Sebelas Maret Surakarta mampu melaksanakan UKT dan hanya beberapa PTN telah melakukan UKT sejak tahun ajaran baru 2012/2013. Permasalahan UKT lebih jelas nampak mudah difahami setelah keluarnya Surat Edaran Dirjen Dikti No 272/ E1.1/KU/2013 tertanggal 3 April 2013 tentang Uang Kuliah Tunggal yang memberikan arah lebih konkrit dan realistis mengenai jenis dan penghitungan serta pengelompokkan besarnya UKT pada suatu prodi/jurusan/fakultas tertentu. Dalam Surat yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso tersebut disampaikan agar penetapan UKT memperhatikan berbagai hal, antara lain: Pertama, tarif UKT sebaiknya dibagi atas 5 kelompok, dari kelompok yang terendah (kelompok 1) sampai kelompok yang paling tinggi (kelompok 5); Kedua, tarif UKT paling rendah (kelompok 1) rentangnya yang bisa dijangkau oleh masyarakat tidak mampu (misalnya kuli bangunan, tukang becak, dll) dengan rentang RP.0- s.d Rp 500.00: Ketiga, paling sedikit 5% dari total mahasiswa yang diterima membayar UKT kelompok 1; Keempat, untuk kelompok 3 s.d 5 masing-masing membayar UKT sesuai dengan kemampuan ekonominya, di mana kelompok 5 merupakan kelompok dengan UKT tertinggi sesuai dengan program studi masing-masing, dan Kelima, paling sedikit ada 5% dari total mahasiswa yang diterima membayar UKT kelompok 2 dengan rentang Rp 500.000- s.d Rp 1.000.000. Sebagai tindaklanjut dari surat edaran tersebut para Rektor PTN mencoba menggodok dan mendesign 5 model/ penggolongan UKT seperti yang tertuang dalam SE tersebut. Memang UKT hanya untuk jenjang program Sarjana dan Diploma program reguler dan/atau non reguler bagi mahasiswa baru semester I tahun ajaran 2012/2013 dan baru efektif tahun ajaran 2013/2014 dengan komponen SPP persemester yang diterapkan saat ini, Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) atau Biaya Pengembangan Institusi (BPI) atau uang pangkal serta pungutanpungutan lain selain SPP yang berhubungan dengan mahasiswa, seperti uang ujian masuk, kartu mahasiswa, uang praktikum, uang jaket, uang asuransi,

biaya wisuda, uang ujian akhir, uang bimbingan skripsi, kuliah kerja nyata (KKN), biaya magang mahasiswa, biaya kegiatan mahasiswa, biaya perpustakaan, biaya pada unit-unit kegiatan mahasiswa dan lain-lain. Sebagai upaya peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam implementasi model baru pembayaran biaya kuliah tersebut maka keluarlah Permendiknas Nomor 55 Tahun 2013 tertanggal 23 Mei 2013 yang mengatur tentang Biaya Kuliah Tunggal (BKT)

dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada Perguruan Tinggi Negeri di Lingkunan Kementrian Pendidikan Nasional. Hakekat dari Permendiknas tersebut adalah menindaklanjuti secara riil dan kongkrit atas usul UKT yang telah disusun oleh 94 (sembilan puluh empat) PTN (yang akhirnya termuat dalam lampiran Permendiknas tersebut) dan memberikan informasi segera kepada publik tentang pola dan besaran UKT yang diperlakukan setiap prodi pada jenjang. Dalam Permendiknas tersebut dinyatakan bahwa BKT digunakan sebagai dasar penetapan biaya yang dibebankan kepada mahasiswa, masyarakat dan pemerintah. Sementara itu UKT merupakan sebagian dari biaya kuliah tunggal yang ditanggung oleh mahasiswa berdasarkan kemampuan

ekonominya. Dasar penyusunan BKT tersebut sesuai dengan amanah Pasal 88 UU No 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi dimana Pasal 88 ayat (1) menyatakan “Pemerintah menetapkan standar satuan biaya operational Pendidikan Tinggi secara periodik dengan mempertimbangkan a. capaian Standar Nasional Pendidikan Tinggi, b. jenis program studi,dan c. indeks kemahalan wilayah. Sedangkan dasar penyusunan UKT sesuai dengan amanah UU Pendidikan Tinggi khususnya Pasal 88 ayat (3) yang menyatakan bahwa standar satuan biaya sebagai dimaksud dalam ayat( 2) digunakan sebagai dasar oleh PTN untuk menetapkan biaya yang ditanggung mahasiswa; ayat (4) biaya yang ditanggung oleh mahasiswa harus sesuai dengan kemampuan ekonomi mahasiswa, orang tua, atau pihak lain yang membiayai. Penyusunan Permendinas No 55 tahun 2013 tersebut sesuai dengan amanah Pasal 88 ayat (5) UU 12 Tahun 2012 yang menyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai standar satuan biaya operational Pendidikan Tinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri. Disamping BKT dan UKT tersebut UU Pendidikan Tinggi juga memperkenalkan Bantuan Operational Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) sesuai dengan Pasal 98 ayat (5) dan ayat (6) yang menyatakan bahwa “Pemerintah mengalokasikan dana bantuan operasional PTN dari anggaran fungsi Pendidikan dan Pemerintah mengalokasikan paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari dana sebagaimana dimaksud pada ayat (5) -Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri untuk dana penelitian Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Harapannya dengan adanya BOPTN tersebut maka secara logika maka uang kuliah yang ditanggung oleh mahasiswa semakin lama semakin kecil dengan memperhatikan masyarakat yang tidak mampu (afirmasi), subsidi silang (karena yang kaya mensubsidi yang miskin) dan dengan pengendalian biaya yang tepat. Banyak Manfaat Berlakunya UKT

Dengan

Dengan adanya UKT , maka biaya yang dibayar mahasiswa akan mudah dikendalikan jika dikumpulkan jadi satu menjadi satu ( UKT) dan dengan adanya BOPTN membuat total biaya yang harus dibayar oleh mahasiswa (UKT) akan turun, karena BOPTN mengurangi biaya pendidikan yang ditangung oleh mahasiswa, serta dengan BOPTN kegiatan penelelitian dan pengabdian kepada masyarakat semakin meningkat dan diharapkan akan melahirkan peneliti-peneliti yang output nya dapat disebarluaskan melalui jurnal-jurnal nasional terakrefitasi maupun jurnal internasional yang terindeks. Manfaat lainnya dari UKT mutu layanan kepada mahasiswa dapat ditingkatkan, karena dengan menggabungkan semua biaya yang harus ditanggung mahasiswa menjadi UKT maka pengelolaannya menjadi semakin mudah. Disamping hal hal tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. UKT secara umum merupakan suatu kebijakan untuk menepis anggapan mahalnya biaya kuliah di PTN karena meringankan beban mahasiswa terhadap pembiayaan selama menempuh program studi. 2. UKT juga memberikan kepastian kepada mahasiswa, orang tua atau para pihak yang membiayai mahasiswa seberapa besar dana yang harus disiapkan sampai lulus kuliah. 3. Dengan adanya UKT dapat dicegah adanya berbagai pungutan yang tidak jelas dan dilakukan oleh oknum-oknum prodi/jurusan/fakultas/universitas. 4. UKT mendidik para penyelengara PTN (Rektor, Pembantu Rektor, Dekan, Pembantu Dekan, Ketua/sekretaris bagian/jurusan/prodi untuk membuat perencanaan penganggaran /keuangan yang tepat, transparan dan akuntabel seberapa besar biaya kuliah dan uang kuliah selama mahasiswa menempuh studi; dan 5. UKT sebagai sebuah sistem pembayaran kuliah mahasiswa sebagai implementasi dari UU Pendidikan Tinggi telah mampu merealisasi suatu prinsip ability to pay sebuah prinsip keadilan yang tak terbantahkan keberlakuannya. Mengakhiri tulisan ini, jika semua pihak yang terkait dengan pemberlakuan UKT tersebut mau dan mampu mengimplementasikan pemberlakuan UKT secara baik dan benar maka penulis meyakini bahwa UKT akan menghadirkan sebuah sistem pembayaran kuliah bagi mahasiswa PTN di seluruh Indonesia yang jauh dari kesan mahal, membebani mahasiswa, orang tua dan pihak-pihak yang membiayai mahasiswa serta komersialisasi Pendididikan Tinggi. Semoga.


Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Murid SDN 09 Sikabaluan Wisata Sambil Belajar SIKABALUAN - Berwisata atau rekreasi sambil menimba ilmu di alam terbuka, itulah konsep belajar yang mulai diterapkan di SDN 09 Muara Sikabaluan pada acara belajar sambil berwisata bagi muridnya mulai kelas I hingga kelas VI untuk bidang studi IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) yang dilakukan selama dua hari sejak Sabtu, 28 September. Kegiatan yang pertama kali dilakukan di SDN 09 Muara Sikabaluan disambut antusias murid dan orang tua. Sebagai bukti dukungan dari orang tua, banyak diantaranya yang turut mengantar dan mengawasi anaknya dalam kegiatan tersebut. Lokasi belajar sambil berwisata tersebut berada di Brambang antara jalan Sirilanggai-Pokai Kecamatan Siberut Utara. Sebelum berangkat, masing-masing anak diberikan kertas yang sudah ada gambar aneka macam daun-daunan. “Kita diminta mencari dan mengenali daun eceng gondok, daun jambu biji, daun pepaya seperti digambar,” kata Novita, murid kelas III SDN 09 Sikabaluan. Salim Tasirilotik, salah seorang guru yang mendampingi murid dalam kegiatan tersebut mengatakan, dirinya sangat senang melihat antusias murid dan orang tua. “Kita jarang sekali melakukan kegiatan di alam seperti ini. Awalnya kita tidak yakin kegiatan ini berjalan dengan baik dan disambut senang, ternyata murid terlihat gembira dan semangat mencari tugas-tugas yang diberikan,” katanya. Menurut Salim, kegiatan ini untuk melatih siswa mengenal lingkungan sekitarnya sehingga muncul kecintaan mereka untuk tetap menjaga lingkungan. (bs/g)

Pembangunan SDN 02 dan SDN 19 Sigapokna Rampung Tahun ini SIKABALUAN - Pembangunan kelas baru di SDN 02 Sigapokna yang ada di Dusun Pulitcoman dan SDN 19 Sigapokna di Dusun Lobajau Kecamatan Siberut Barat yang terbengkalai tahun lalu karena putus kontrak kembali dilanjutkan pada tahun ini. Pengawas Sekolah (PS) Cabang Dinas Pendidikan Siberut Barat yang juga mantan Kepala SDN 02 Sigapokna, Ismael mengatakan, kontraktor bangunan telah mengerahkan tukang untuk memasang pintu dan jendela sekolah. Ismael menyebutkan, saat kontrak diputus tahun lalu pintu, jendela dan loteng bangunan belum terpasang. “Kita berharap tahun ini sudah selesai,” katanya kepada Puailiggoubat, Jumat, 4 Oktober. Sementara di SDN 19 Sigapokna, lanjut Ismael, selain pintu, jendela, dinding dan loteng yang belum terpasang, keramik lantai juga diperbaiki karena terpasang acak-acakan. “Lantai keramik harus dibongkar karena pemasangannya terlalu renggang dan tidak rata, juga loteng, pintu dan jendela,” katanya. (bs/g)

18

Percepat Relokasi SMPN 1 Siberut Utara Lahan yang belum jelas penyebab relokasi sekolah terkatungkatung

FOTO:BAMBANG/PUAILIGGOUBAT

Bambang Sagurung

L

etaknya yang tak jauh dari pantai yakni hanya sekitar 50 meter membuat SMPN

1 Siberut Utara rawan terhadap risiko ancaman bencana gempa dan tsunami yang menghantui Mentawai. Saat ini saja, gedung sekolah sering diterjang gelombang pasang laut dan banjir hingga masuk ke lokal belajar sehingga kegiatan belajar terpaksa diliburkan. Kepala SMPN I Siberut Utara Jumpang Sinurat, mengatakan selain lokasi sekolah, kondisi bangunan juga tidak layak pakai karena ada beberapa ruangan yang nyaris ambruk. “Labor, ruang kelas, rumah dinas guru banyak yang tidak layak pakai dan bahkan ada ruang yang nyaris ambruk,” katanya kepada Puailiggoubat, Sabtu, 12 Oktober. Ruangan yang disebutkan Jumpang tak dipakai lagi sejak tahun lalu karena kondisinya tidak layak, bahkan sebagian diantaranya tidak memiliki atap, kalau pun ada sudah bocor. Karena itu, Jumpang berharap pemerintah segera merelokasi sekolah ke tempat yang lebih aman dan membangun gedung yang layak. “Kita sudah punya lahan di jalan antara Sikabaluan-Monganpoula dengan harapan relokasi dipercepat,” ujarnya. Kepala Cabang Dinas Pendidikan

RUSAK - Kondisi beberapa bangunan SMPN 1 Siberut Utara yang tidak layak pakai Kecamatan Siberut Utara, Jop Sirirui mengatakan, relokasi SMPN 1 Siberut Utara hanya menunggu ketersediaan lahan untuk pembangunan. “ Kalau ada lahan yang jelas hal itu bisa dilakukan segera,” katanya. Sementara itu, Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet saat meninjau rencana lokasi pembangunan sekolah yang terletak antara Monganpoula dan Sikabaluan menyebutkan, perlu ada upaya pembersihan lahan agar pemerintah yakin untuk membangun di lokasi itu. “Masyarakat mesti gotong royong membersihkan areal tersebut, hanya saja maukah orang tua siswa diajak bergotong royong melakukan itu, hal itu akan menjadi pertim-

bangan,” katanya usai melantik kepala sekolah dan pengawas sekolah di wilayah Cabang Dinas Pendidikan Siberut Utara yang didampingi Ketua DPRD Mentawai Hendri Dori Satoko dan Kepala Dinas Pendidikan Mentawai Sermon Sakerebau, Selasa 1 Oktober. Kondisi SMPN I Siberut Utara yang sering tergenang banjir sungai maupun rob tidak hanya terjadi pada tahun ini, dari data Puailiggoubat tahun lalu, pada Juni 2012 lalu banjir rob juga menggenangi sekolah ini yang membuat kegiatan belajar mengajar terhenti total selama dua hari. Kejadian ini kerap terjadi namun belum ada tindakan cepat dari pemerintah untuk menangani hal ini.

Mengutip wawancara Puailiggoubat pada 8 Juni 2012 lalu, Kepala SMPN I Siberut Utara Heri Kurniawan yang menjabat ketika itu mengatakan, rencana relokasi sekolah sudah lama diwacanakan namun belum ada tindakan nyata. “Sebenarnya rencana itu sudah lama. Namun pihak dinas sampai sekarang ini belum ada tindakan nyata. Saya rasa bupati dan DPRD juga tahu kondisi kita di SMPN 1 Siberut Utara ini. pemerintah terkesan tidak berani dan beralasan lokasi pembangunan sarana pemerintah di jalan SikabaluanMonganpoula seluas 12 hektar adalah kawasan hutan dan kontur tanahnya labil atau rawa-rawa,” katanya kala itu. (g)

Cabang Dinas Pendidikan Siberut Barat Butuh Kantor SIKABALUAN - Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Siberut Barat belum memiliki kantor sejak dibentuk awal 2013 lalu. Selama ini kegiatan administrasi dan pekerjaan dilakukan di rumah salah seorang warga yang dipinjam. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Siberut Barat, Ignatius Sinou mengatakan, mereka sangat berharap pemerintah segera membangun kantor agar

kegiatan berjalan normal. “Selama ini kami tidak memiliki kantor cabang, sementara hanya menumpang di rumah masyarakat. Kita berharap adanya pembangunan kantor cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Siberut Barat,” katanya dalam acara ramah tama dengan Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet usai pelantikan kepala Sekolah di wilayah Siberut Utara di aula Kantor Camat Siberut

Utara, Selasa, 1 Oktober. Menanggapi permintaan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Mentawai Sermon Sakerebau mengatakan, pembangunan kantor cabang di wilayah Mentawai akan dilakukan bertahap. “Untuk di dinas pendidikan masih banyak yang harus kita benahi, kita akan siapkan satu persatu secara bertahap,” ujarnya. Salah satu syarat yang harus

dipersiapkan, lanjut Sermon, lahan untuk pembangunan kantor mesti ada. “Lokasi harus ada yang dihibahkan masyarakat, kita tidak mau bangunan pemerintah yang dibangun bermasalah kemudian hari karena persoalan tanah,” katanya. Untuk tahun 2013 ini kantor cabang Dinas Pendidikan yang dibangun yaitu kantor Cabang Dinas Pendidikan Siberut Utara dan Sikakap. (bs/g)


19

Puailiggoubat

PENDIDIKAN

NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Mutasi untuk memacu peningkatan kualitas pendidikan di Mentawai

Bambang Sagurung

ebanyak sembilan orang guru yang berasal dari wilayah Siberut Barat, 10 guru dari Siberut Utara dan dua orang guru dari Siberut Tengah dimutasi dari jabatan atau tugasnya terdahulu. Mutasi tersebut berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet Nomor : 821.2/592/BKD2013 tertanggal 20 September 2013 tentang pengangkatan Pegawai Negeri Sipil menjadi kepala sekolah. Di wilayah kerja Cabang Dinas Pendidikan Siberut Barat sesuai SK tersebut, guru yang dimutasi yakni Suwarno yang sebelumnya sebagai guru SDN 16 Sigapokna diangkat menjadi kepala SDN 20 Malancan Kecamatan Siberut Utara. Budi Santoso yang sebelumnya kepala SDN 14 Simalegi diangkat menjadi kepala SDN 11 Simalegi. Tri Sujoko dari guru SDN 18 Simalegi menjadi kepala SDN 18 Simalegi. Yusman Laia diangkat menjadi kepala SDN 05 Simatalu Kecamatan Siberut Barat sebelumnya guru di SDN 17 Simatalu. Etia dari guru SDN 11 Simalegi menjabat sebagai kepala SDN 14 Simalegi Kecamatan Siberut Barat. Daulat Ginting, guru di SDN 02

21 Guru di Siberut Utara dan Barat Dimutasi FOTO:BAMBANG/PUAILIGGOUBAT

S

PELANTIKAN - Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet (kanan) melantik kepala sekolah dan pengawas di lingkungan kerja cabang Dinas Pendidikan Siberut Utara, Barat dan Tengah Sigapokna menjadi kepala SDN 02 Sigapokna Kecamatan Siberut Barat. Sementara Pius sebelumnya kepala SDN 18 Simalegi menjadi pengawas TK/SD Cabang Dinas Pendidikan

Kecamatan Siberut Barat. Lauren sebelumnya menjabat sebagai kepala SDN 11 Simalegi Kecamatan Siberut Barat menjadi penilik Dikmas Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Siberut

Barat. Ismael sebelumnya kepala SDN 02 Sigapokna Kecamatan Siberut Barat menjadi Penilik Olahraga Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Siberut Barat. Di wilayah kerja Cabang Dinas

Sispala Karonan Lakukan Aksi Lingkungan SIKABALUAN - Siswa-siswi SMAN 1 Siberut Utara yang tergabung dalam Siswa Pencinta Alam (Sispala) Karonan melakukan aksi lingkungan berupa bersih lingkungan di Dusun Sirilanggai Desa Malancan Kecamatan Siberut Utara pada Minggu, 29 September lalu. Aksi tersebut berupa pembersihan sampah-sampah di lingkungan rumah

masyarakat dan sepanjang jalan dusun Sirilanggai Barat maupun Sirilanggai Timur Desa Malancan Kecamatan Siberut Utara. “Kegiatan ini menjadi percobaan sekaligus pembuktian bagi siswa yang mau menjadi anggota sispala, apa kita cinta lingkungan atau tidak?” kata Arjun, salah seorang siswa pada Puailiggoubat, Minggu, 29 September. FOTO:BAMBANG/PUAILIGGOUBAT

PLANG - Plang ajakan sispala tidak merusak lingkungan tempat menanam pohon cemara di Sikabaluan-Bambang Sagurung

Pembina Sispala Karonan SMAN 1 Siberut Utara, Judas Imo mengatakan, kegiatan lingkungan seperti bersih lingkungan dan kegiatan lainnya yang menyangkut dengan kegiatan pencinta alam akan rutin dilakukan. “Kita juga akan melakukan ekspedisi ke air terjun yang ada di Sirilanggai dan melakukan perkemahan,” katanya. Selain membersihkan sampah, kegiatan juga diisi dengan upaya penyelamatan cemara pantai yang ada di sepanjang pantai Sikabaluan, mulai dari pantai Dusun Muara Desa Sikabaluan hingga SMAN 1 Siberut Utara. Aksi dilakukan dalam bentuk pemasangan plang berukuran 30 centimeter X 25 centimeter yang berisi pesan singkat untuk tidak menebangi pohon tersebut. “Kita berharap dengan tulisan-tulisan sederhana ini dapat menggugah hati masyarakat sehingga mereka urung menebang pohon pelindung,” ujar Arjun. Beberapa tulisan yang dibuat dan dipakukan dipohon cemara pantai, lanjut Arjun, berupa tulisan ‘Aku dilindungi masyarakat’ yang dibuat Lauren, ‘Hidup mati kami ditangan anda’ yang dibuat Salman Z dan

‘Mohon jangan bunuh kami karena kami ada untuk anda’ yang dibuat Wati dan Vinel. Tapi sayang, kata Arjun, beberapa tulisan yang dibuat sispala ini dilempar hingga jatuh oleh oknum masyarakat yang tidak suka terhadap tulisan-tulisan yang dibuat. Seperti tulisan ‘Jangan tebang kami’ dilempari hingga jatuh. Menurut Yudas, pemeliharaan pohon cemara pantai untuk mengurangi dampak bencana bagi masyarakat dari ancaman gempa yang disusul tsunami yang selama ini menghantui masyarakat. “Tsunami memang tidak bisa dihalangi oleh pohon cemara, namun dengan adanya pohon pelindung di pantai nantinya dapat mengurangi laju arus air yang akan masuk,” ujarnya. Pohon cemara pantai di Sikabaluan telah ditanam tahun 2006 dan 2007 dari program reboisasi Dinas Kehutanan Mentawai, kemudian dilanjutkan kembali dengan penanaman oleh Sispala Karonan SMAN 1 Siberut Utara dan juga kader konservasi Balai Taman Nasional Siberut wilayah Divisi II Siberut Utara. (bs/g)

Pendidikan Siberut Utara mutasi dilakukan kepada Isman Jelius dari guru SDN 06 Malancan menjadi kepala SDN 01 Malancan Kecamatan Siberut Utara. Jacinta dari guru SDN 03 Sotboyak menjadi kepala SDN 03 Sotboyak Kecamatan Siberut Utara. Martin sebelumnya kepala SDN 01 Malancan diangkat menjadi kepala SDN 04 Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara. Agustinus Salakkau sebelumnya kepala SDN 08 Sikabaluan menjadi kepala SDN 06 Malancan Kecamatan Siberut Utara. Petrus Kurung Ogok sebelumnya kepala SDN 20 Malancan diangkat menjadi kepala SDN 08 Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara. Petrus Boi sebelumnya guru SDN 15 Bojakan menjadi kepala SDN 15 Bojakan Kecamatan Siberut Utara. Rebeka sebelumnya guru SDN 10 Cimpungan Kecamatan Siberut Utara menjabat sebagai kepala SDN 10 Cimpungan. Marnisyah sebelumnya kepala SDN 13 Cimpungan menjadi kepala SDN 07 Sirilogui Kecamatan Siberut Utara. Sementara Petrus Geyak dari pengawas TK/SD menjadi penilik Pendidikan masyarakat (Dikmas) Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Siberut Utara. Aleksander sebelumnya kepala SDN 03 Sotboyak menjadi pengawas TK/SD Cabang Dinas Pendidikan Siberut Utara. Di wilayah kerja Cabang Dinas Pendidikan Siberut Tengah, Sending sebelumnya menjabat kepala SDN 10 Cimpungan menjadi pengawas TK/SD Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Siberut Tengah. Timon sebelumnya kepala SDN 07 Sirilogui menjadi pengawas TK/SD Kecamatan Siberut Tengah. Para guru dan pengawas tersebut telah dilantik oleh Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet Selasa, 1 Oktober 2013 dan dikukuhkan melalui SK Bupati Mentawai Nomor: 821.2/596/BKD2013. Dalam sambutannya, Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet berharap dengan pengangkatan kepala sekolah yang baru kualitas pendidikan di Mentawai makin meningkat. “Pengangkatan kepala sekolah murni untuk meningkatkan kualitas pendidikan tanpa ada unsur lain. Untuk itu kita berharap adanya kerjasama yang baik antara kepala sekolah, guru, PS dan cabang dalam meningkatkan mutu pendidikan,” katanya dalam acara pelantikan di SDN 09 Muara Sikabaluan yang turut dihadiri Ketua DPRD Mentawai Hendri Dori Satoko, Kepala Dinas Pendidikan Mentawai Sermon Sakerebau dan BKD (Badan Kepegawaian Daerah) Mentawai. (g)


PENDIDIKAN Siswa yang hamil tidak dibolehkan ujian dan akan dikeluarkan dari sekolah Syafril Adriansyah

ebanyak 208 pelajar kelas XII SMAN 1 Pagai Utara Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai disiapkan mengikuti Ujian Nasional tahun depan. Persiapan yang dilakukan yakni evaluasi terhadap hasil UN tahun 2013, evaluasi guru, sistem pengajaran dan pengajaran ekstra di luar waktu sekolah secara gratis. “Juga akan ada try out (uji coba) UN yang dijadwalkan Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar pada akhir November nanti,” kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 PUS, Aziz Prima Syahrial, Senin, 7 Oktober. Menurut Aziz, ada 126 siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan 82 orang jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mereka diharapkan mampu lulus dengan nilai yang sangat bagus dan mengulang prestasi kelulusan UN tahun 2013. “Mudah-mudahan seluruh siswa yang ada sekarang bisa mengikuti UN dan tidak ada yang dikeluarkan,” ujarnya. Pada tahun lalu, kata Aziz, sebanyak 7 siswa terpaksa dikeluarkan dari sekolah akibat hamil di luar nikah. Tidak ada dispensasi bagi siswa perempuan yang hamil, termasuk siswa laki-laki

Puailiggoubat

20

208 Pelajar SMAN 1 PUS Disiapkan Ikut UN 2014 FOTO:RUS/PUAILIGGOUBAT

S

UJIAN TENGAH SEMESTER - Pelajar menjalani ujian tengah semester di SMAN 1 PUS yang menghamilinya. Pada tahun ini, lanjut Aziz, pihaknya telah mengeluar-

kan satu orang siswa kelas XI jurusan IPS karena ketahuan telah hamil.

SMAN 1 PUS Kekurangan Tenaga Guru SIKAKAP - SMA Negeri 1 Pagai Utara Selatan (PUS) Kabupaten Kepulauan Mentawai masih kekurangan tenaga guru untuk sejumlah mata pelajaran. Meski tahun ini Pemkab Mentawai merekrut CPNS, namun sekolah yang terletak di Dusun Seay Baru, Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap itu tidak menerima jatah tambahan tenaga

NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

pendidik. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 PUS, Aziz Prima Syahrial mengatakan, pihaknya masih membutuhkan guru untuk bidang studi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia dan Fisika. Aziz menyebutkan, saat ini hanya terdapat satu orang guru untuk maFOTO:RUS/PUAILIGGOUBAT

RUANGAN RUSAK - Salah seorang guru SMAN 1 PUS mengawas ujian tengah semester di salah satu ruang kelas yang rusak

sing-masing bidang studi tersebut. Karena kekurangan itu, guru Bidang Studi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris harus mengisi 21 kelas sedangkan guru Kimia dan Fisika 15 kelas . “Untuk satu pelajaran, paling tidak harus ada empat orang guru sehingga proses belajar mengajar di setiap kelas bisa efektif,” katanya, Senin, 7 Oktober. Menurut Aziz, minimnya tenaga guru ini disebabkan adanya mutasi ke sekolah lain di kota Padang dan ke kantor Dinas Pendidikan di Tuapeijat. Untuk sementara, pihaknya hanya mengandalkan dua orang tenaga honor untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. “Saya juga membantu untuk mengajar Fisika untuk memenuhi 36 jam kewajiban mengajar,” ujarnya. Sementara total guru untuk seluruh pelajaran yakni sebanyak 38 orang termasuk 10 orang tenaga honor. Meski sudah mengusulkan penambahan staf pengajar kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Mentawai, tetapi masih belum ada respon. “Saya juga heran kenapa tidak ada jatah untuk sekolah ini pada penerimaan CPNS tahun ini,” katanya. (prl/g)

“Kami akan langsung mengeluarkan keduanya, karena dinilai akan membe-

rikan cap jelek kepada sekolah,” katanya. Pelajar yang hamil, menurut Aziz lebih disebabkan karena faktor lingkungan dan pergaulan karena banyak pelajar yang tinggal di pondokan dan kos-kosan yang jauh dari orang tua. Akibatnya, lanjut Aziz, pengawasan minim baik dari orang tua, pemilik koskosan serta masyarakat. Selain itu, ada siswa yang didapati menyimpan video porno di telepon genggam mereka. “Sangat dibutuhkan peran pemilik kos atau masyarakat di lingkungan pondokan untuk mengawasi para siswa. Para siswa juga diharapkan dapat menambah pengetahuan agama mereka,” katanya. Untuk mencegah pergaulan bebas, Aziz menyebutkan, pihak sekolah menjadwalkan razia telepon seluler. Razia dilakukan sekali dalam dua bulan.Namun razia ini juga dinilai kurang efektif karena mudah bocor. “Ketika siswa melihat ada ramairamai, mereka akan langsung cepat mengeluarkan kartu memory di HP mereka atau menghapus video yang ada,” ujarnya. (g)

Kebudayaan Kerangka Pokok Dalam Pembangunan YOGYAKARTA - Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2013 yang bertema Kebudayaan untuk Ke-Indonesiaan telah dibuka secara resmi Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan (Wamenbud) Wiendu Nuryanti Selasa 8 Oktober 2013di Hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta. KKI tersebut membahas lima pokok masalah kebudayaan yang sedang dihadapi Indonesia yakni multikultural dalam pluralisme, warisan dan pewarisan budaya, kerja sama dalam pengelolaan kebudayaan, diplomasi kebudayaan dan sumber daya kebudayaan. Dalam sambutannya, Wiendu mengharapkan, KKI menjadi sarana dialog atau saling berinteraksi, maupun saling beradu argumentasi dengan satu tujuan yang sangat baik. “Agar menghasilkan pemikiran-pemikiran strategis yang sifatnya terobosan untuk pembangunan kebudayaan di Indonesia,” katanya dihadapan 700 peserta kongres yang terdiri dari budayawan, cendekiawan, seniman, pakar, tokoh masyarakat, wartawan dan pemerintah. Wiendu menyebutkan, kebudayaan merupakan panglima yang bermakna pembangunan bangsa menempatkan manusia sebagai konsep sentral. Kebudayaan menjadi satu kerangka pokok, sehingga paradigma pembangunan tidak lagi diukur dengan pendekatan ekonomi dan politik, melainkan kebudayaan. “Kongres ini diharapkan menghasilkan terobosan-terobosan baru untuk pembangunan manusia dan budaya Indonesia ke depan. Pendekatan kebudayaan, merupakan strategi yang efektif untuk digunakan dalam membangun bangsa,” ujarnya seperti yang dilansir situs kemendikbud. Menurut Wiendu, ruang lingkup kebudayaan jauh lebih besar ketimbang pendidikan karena pendidikan hanya salah satu instrumen untuk membudayakan manusia. “Pendidikan itu sangat penting, tapi bukan satu-satunya,” katanya. (int/g)


Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Pengelolaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan mesti efektif dan tidak merusak lingkungan sekitarnya Gerson Merari Saleleubaja

Riset YCMM

Kembangkan Pertanian Berbasiskan Pengelolaan SDA FOTO:GERSON/PUAILIGGOUBAT

pemahaman yang memadai, masyarakat mulai mengikuti sistem perladangan monokultur yang ditawarkan beberapa pihak termasuk pemerintah Mentawai sendiri. Kajian PSDA yang dilakukan YCMM, lanjut Yosef mencakup banyak unsur, yakni kearifan lokal Mentawai dalam pengelolaan sumber daya hutan dilihat dalam sudut pandang ilmu Antropologi yang bertujuan mengetahui tata guna lahan, kriteria yang digunakan dan tata cara pemanfatan menuDISKUSI - Aktivis YCMM menggelar diskusi pematangan kegiatan pembuatan konsep rut masyarakat Mentawai PSDA Mentawai di Hotel Aliga Padang sekaligus mengetahui konsep kepemilikan, pengumasa depan. masyarakatnya. Kearifan lokal terben- asaan dan pemanfaatan tanah. Salah satu contoh, kata Yosep, tuk sebagai keunggulan budaya masyaRiset juga akan melihat kesuburan rencana pembukaan perkebunan skala rakat setempat maupun kondisi geogra- tanah, pengelolaan tanah, pemilihan besar yang diprogramkan pemerintah. fis dalam arti yang luas,” ujarnya. jenis komoditi, perawatan tanaman dan “Jika melihat kearifan lokal di Namun tradisi seperti pembukaan pemberantasan hama dan teknologi Mentawai, pengelolaan SDA secara dan penggunaan kawasan hutan untuk pertanian yang efisien dalam sudut umum dapat dipahami sebagai gagasan- perladangan (pumonean) atau berladang pandang ilmu agronomi. gagasan setempat yang bersifat bijak- (tinungglu) pada masyarakat adat Dalam sudut pandang sosiologi, kata sana, penuh kearifan, bernilai baik, yang Mentawai di Siberut misalnya, lanjut Yosep, PSDA akan merekam karakteristertanam dan diikuti oleh anggota Yosep, sudah mulai ditinggalkan. tik masyarakat adat saat pemilihan jenis “Sebagian dari masyarakat menganggap komoditi yan mencakup faktor yang hal itu tidak relevan terhadap pening- mempengaruhi saat memilih jenis Irigasi Sirilanggai Belum Dibangun katan nilai produksi begitu juga dengan komoditi yang ditanam.”Mulai dari sistem komiditi yang menganut mul- sejarahnya hingga faktor yang menyeSIRILANGGAI - Memasuki Oktober, pembangunan jaringan irigasi tikultur,” katanya. babkan kegagalan dan keberhasilan yang direncanakan dilakukan tahun ini di Sirilanggai, Desa Malancan, Menurut Yosep, tanpa disertai sebuah komoditi,” ujarnya. Kecamatan Siberut Utara, yang dianggarkan dalam APBD Mentawai 2013 belum dikerjakan. Kepala Desa Malancan Barnabas Saerejen merasa kecewa karena lambatnya realisasi pembangunan, sementara pembangunan sawah baru sedang berjalan. “Kita maunya pembangunannya seiring karena pembuatan sawah tidak lepas dari pengairan,” katanya kepada Puailiggoubat, Minggu, 29 September. SIKABALUAN - Bantuan Langsung Meski BLSM dicairkan di Kantor Menurut Barnabas, irigasi sangat diperlukan karena dulu gara-gara Sementara Masyarakat (BLSM) unPos Sikabaluan, Ridwan tidak tahu irigasi yang tidak ada, warga Sirilanggai meninggalkan sawah karena tuk masyarakat yang ada di Kecamatberapa jumlah dana yang diterima hanya mengandalkan air hujan untuk pengairan. “Ditambah lagi pembangunan badan jalan menuju Terekan Hulu an Siberut Utara dan Siberut Barat warga karena bantuan yang diserahkan yang membelah areal persawahan mengakibatkan sawah masyarakat untuk tahap kedua telah direalisasikan sudah dalam amplop yang dilem. kekeringan dan ditinggalkan,” ujarnya. petugas pos Sikabaluan Kecamatan “Dari Padang sudah tertutup rapat, Di dalam APBD Mentawai 2013, pembangunan jaringan irigasi Siberut Utara sejak September lalu. kami tinggal bagikan sesuai nama yang lokal (pipanisasi) pada program Dinas Pertanian, Peternakan dan Desa-desa yang telah mengambil tertera,” ujarnya. Perkebunan Mentawai di Dusun Sirilanggai Kecamatan Siberut Utara bantuan diantaranya Desa Sikabaluan, Meski BLSM telah dicairkan, beranggaran Rp1.076.743.750. Monganpoula, Sotboyak, Sirilogui, namun beberapa masyarakat di Berbeda dengan Malancan, di Desa Sotboyak, kata Melki Malancan Kecamatan Siberut Utara. Kecamatan Siberut Barat mengaku Sapolenggu, salah seorang anggota DPRD Mentawai yang meninjau Sementara di Kecamatan Siberut Barat belum menerima bantuan kompensasi lokasi tersebut menyebutkan, pembangunan jaringan irigasi yang yakni Desa Simalegi dan Simatalu. dari BBM tersebut. “BLSM Desa beranggaran Rp1,449 miliar dalam APBD Mentawai 2013 program “Tinggal dua desa lagi yaitu Desa Simalegi sudah diambil kepala desa, Dinas Pekerjaan Umum Mentawai hampir rampung. Sigapokna Kecamatan Siberut Barat namun belum diserahkan pada “Kita ke lokasi kemarin hasilnya cukup bagus, mudah-mudahan dan Desa Bojakan Kecamatan Siberut masyarakat yang terdaftar namanya,” dapat rampung tahun ini sehingga masyarakat kita yang bersawah Utara yang belum,” kata Ridwan, kata Vincensius India, salah seorang dapat terbantu pengairan sawahnya,” katanya pada Puailiggoubat, Petugas Pos Sikabaluan pada warga Simalegi yang dihubungi Sabtu, 12 Oktober.(bs/g) Puailiggoubat, Kamis, 10 Oktober. Puailiggoubat melalui telepon seluler,

engelolaan sumber daya alam di Kabupaten Kepulauan Mentawai mesti menganut dua prinsip pokok yakni, menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat dan mampu menjaga keseimbangan ekologi. Konsep itu yang akan dipedomani Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) dalam penelitian untuk menemukan sistem pertanian yang tepat dikembangkan di Mentawai. Menurut Koordinator Divisi Pengembangan Ekonomi Rakyat YCMM, Yosep Sarogdok, wacana apapun tentang PSDA harus berdasar prinsip keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam. “Bentuknya pengelolaan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan dan bertanggung jawab menjadi sangat penting untuk diwariskan kepada generasi,” katanya, Kamis, 3 Oktober. Prinsip itu, kata Yosep, menyangkut efektifitas pemakaian sumber daya yang tidak merusak keutuhan sumber daya lain di lingkungan sekitarnya. Lanjut Yosep, kemajuan zaman dan teknologi serta proses pembangunan yang multi kepentingan di Mentawai membuat sumber daya hutan cenderung bersifat eksploitatif untuk kepentingan sesaat tanpa perencanaan bagi keberlanjutan di

P

21

Karakteristik pasar dan sistem adaptasi timbal balik pasar terhadap tren komoditi juga akan dikaji dalam sudut ilmu ekonomi pemasaran untuk mengetahui perilaku dan aktor-aktor pasar atas komoditi yang diusahakan masyarakat adat Mentawai. “Bagaimana respon masyarakat terhadap kecenderungan pasar dan respon pasar terhadap sebuah komoditi,” kata Yosep. Ruang lingkup komoditi unggulan yang akan dikaji YCMM berupa kakao, pisang, kopra, cengkeh dan rotan yang meliputi wilayah Dusun Sirilanggai, Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Magosi dan Puro Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan, Desa Goisok Oinan dan Saureinuk Kecamatan Sipora Selatan Menurut Ketua Dewan Pengurus YCMM, Kortanius Sabeleakek, hasil kajian ini akan menjadi sebuah buku referensi bagaimana sistem pertanian yang bisa diterapkan di Mentawai. “Hal ini bisa menjadi acuan bagi pemerintah dan masyarakat untuk menentukan model pertanian apa yang bisa diterapkan di Mentawai yang menguntungkan secara ekonomi namun tetap menjaga keseimbangan lingkungan,” katanya saat acara perumusan konsep penelitian di Hotel The Aliga, Padang, Senin, 30 September. Menurut Korta, meski tempat riset belum menyentuh seluruh wilayah Mentawai namun hasil ini dapat dijadikan patokan dalam PSDA yang berkelanjutan. (g)

Sebagian Warga Siberut Utara dan Barat Belum Terima BLSM Sabtu, 28 September. Menurut Vincensius, Kepala Desa Simalegi Kecamatan Siberut Barat Gunawan telah mencairkan BLSM tersebut di Kantor Pos Sikabaluan pada Rabu, 25 September malam dan berangkat ke Tuapeijat pada Kamis, 26 September karena mengikuti pelatihan teknis penggunaan ADD seluruh kepala desa, sekretaris dan bendahara desa se-Kabupaten Mentawai. Sementara Kepala Desa Simalegi Gunawan yang dikonfirmasi Puailiggoubat terkait dana yang belum dicairkan kepada masyarakat melalui telepon sejak Sabtu, 13 Oktober belum mendapat jawaban karena telepon selulernya tidak aktif. (bs/g)


22

Puailiggoubat

EKOKER

NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

Pemerintah memberikan upah dan bantuan peralatan pertanian kepada petani agar mereka serius bersawah

30 Hektar Sawah Direhabilitasi di Saibi dan Siberut Utara

Rinto Robertius Sanene’ Bambang Sagurung

W

FOTO:APRIL/PUAILIGGOUBAT

arga Desa Saibi Samukop Kecamatan Siberut Tengah dan Dusun Sirilanggai Desa

Malancan Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai membuka dan merehabilitasi areal persawahan seluas 30 hektar. Menurut Ketua Umum Kelompok Rehabilitasi Persawahan Desa Saibi Samukop, Ishak, sawah yang dibuka dan direhabilitasi seluas 30 hektar. Pengerjaannya dilakukan 80 kepala keluarga. Sawah yang sedang direhab, kata Ishak, terletak pada dua lokasi yakni 20 hektar di pusat desa tepatnya di depan kantor Camat Siberut Tengah dan selebihnya di Dusun Simoilalak “Sejak September dan memasuki Oktober ini, sudah 9,5 hektar yang selesai dibabat, masyarakat masih terus bekerja sekalian membagi-bagi lokasi garapan untuk dikerjakan masing-masing,” katanya saat ditemui Puailiggoubat di rumahnya, Rabu, 9 Oktober. Ishak mengatakan, 80 kepala keluarga itu merupakan warga yang benarbenar ingin bersawah, jumlah itu mengalami penambahan karena ada anggota baru yang ikut mendaftar. “Kita tetap terima karena persawahan yang akan kita olah di Saibi ini sangat luas dan masih sanggup untuk merehabilitasi persawahan baru lagi, tapi solusinya kita hanya bisa bantu bibit saja dan meskipun begitu kita akan cari solusi di dinas (Dinas Pertanian-red),’’ ujarnya. Menurut Ishak, Dinas Pertanian akan membantu dana maupun peralatan hingga panen. Masyarakat hanya

SAWAH - Areal persawahan di Desa Sidomakmur, Kecamatan Sipora Utara disuruh menggarap lahan dan nanti akan diberi. “Menurut pemaparan Dinas Pertanian dalam pertemuan dengan petani Saibi, jumlah dana yang akan diberikan sebesar Rp168 juta,” kata Ishak. Selain diberikan upah, Dinas Pertanian juga akan memberikan bantuan bibit padi, “Diharapkan dengan keberadaan bantuan ini kegiatan terhenti puluhan tahun lalu dapat dilanjutkan kembali dan tak akan berhenti untuk mengolah sawah demi kesejahteraan dan meningkatnya ekonomi warga,’’ katanya. Frans (32), salah seorang warga yang ikut bersawah mengatakan, ia sangat gembira program yang dicanangkan oleh pemerintah ini. “Puluhan tahun kegiatan ini (sawah) ditinggalkan,

sekarang kami dibantu peralatan plus upah tentu makin semangat apalagi hasil panen nanti tetap milik petani, kami tidak susah dapat uang untuk beli beras karena nantinya stok akan banyak. Jadi tak ada alasan lagi untuk tidak dilakukan,” katanya. Dari pantauan Puailiggoubat, aktivitas bersawah warga ini terus berjalan setiap hari, pergi pagi pulang sore secara bersama-sama, terkadang juga pergi siang pulang sore sesuai kesepakatan bersama. Sementara lokasi yang yang telah digarap warga sudah bersih tinggal membuat saluran irigasi untuk mengairi persawahan. Program pencetakan sawah di Saibi Samukop ini dianggarkan dalam APBD 2013 Mentawai sebesar Rp333.644.000 dalam pos belanja Dinas Pertanian dan

Perkebunan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Menurut Ishak, pada tahun 1970an, Desa Saibi Samukop pernah menjadi lumbung padi Mentawai karena banyaknya warga dan hasil panen yang melimpah. “Bahkan karena padi melimpah saat itu datang kapal dari Padang yang selalu membeli padi atau beras warga, kalau dalam keluarga kami yang saya ingat saat itu ada ratusan kaleng besar padi berjejeran di rumah, itu baru satu keluarga saja, belum lagi warga lainnya,” kenangnya. Namun setelah beberapa tahun berlalu, lanjut Ishak, kegiatan bersawah mulai ditinggalkan warga karena makin banyak bermunculan warung yang turut menjual beras. Warga terbuai sehingga meninggalkan sawah dan beralih ke

komoditi lain. “Warga mengandalkan uang untuk beli beras, tidak mau bersawah lagi, ditambah lagi pemerintah yang memanjakan warga dengan beras miskin yang kualitasnya tidak layak dimakan manusia. Dengan adanya bantuan ini mudah-mudahan warga termotivasi,” katanya. Sementara di Dusun Sirilanggai Desa Malancan Kecamatan Siberut Utara, masyarakat telah selesai membuka sawah baru seluas 30 hektar yang dikerjakan 46 anggota petani. “Bibit sudah disemai, kita berharap pada Oktober sudah mulai tanam,” kata Kepala Desa Malancan, Barnabas Saerejen kepada Puailiggoubat di rumahnya, Minggu, 29 September. Barnabas menyebutkan, mulai dari pembukaan lahan, pembersihan dan pembibitan, Dinas Pertanian Kabupaten Mentawai telah mengucurkan dana kepada masyarakat sebanyak Rp240 juta di luar beli bibit dan sarana prasarana pendukung. “Tahap pertama kita sudah diberikan anggaran Rp40 juta oleh dinas. Ini sudah kita manfaatkan untuk pembukaan lahan dan pembersihan lahan,” ujarnya. Melki Sapolenggu, salah satu anggota DPRD Mentawai yang melakukan monitoring pembangunan tahun 2013 di wilayah Siberut Utara dan Siberut Barat mengatakan, untuk program sawah cukup memuaskan. “Berdasarkan pantauan kita, sawah di Sigapokna Kecamatan Siberut Barat dan Sirilanggai Kecamatan Siberut Utara kerjanya cukup bagus. Kita berharap pada hasil panennya nanti memuaskan,” katanya pada Puailiggoubat, Sabtu, 12 Oktober.(g) FOTO:GERSON/PUAILIGGOUBAT

Tarik Wisatawan ke Air Terjun Sinungunung, Malancan Bangun Jalan SIRILANGGAI - Untuk memudahkan akses dan menarik minat masyarakat Siberut Utara berwisata ke air terjun Sinungunung yang berlokasi di Dusun Sirilanggai Desa Malancan Kecamatan Siberut Utara, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) tahun 2013 akan membangun jalan rabat beton sepanjang 750 meter. Kepala Desa Malancan, Barnabas Saerejen mengatakan, rencana program PPIP ini sudah disampaikan kepada Bappeda dan DPRD Mentawai. “Respon mereka cukup baik,” katanya saat ditemui Puailiggoubat di

kediamannya, Minggu, 28 September. Menurut Barnabas, pihaknya telah merancang sistem kerja untuk jalan tersebut, dengan panjang jalan 750 meter maka dibutuhkan 10 OMS. “Kita mau pada waktu-waktu libur, masyarakat tidak hanya ke pulaupulau saja, namun juga ke air terjun yang ada di Sirilanggai. Kita yakin kalau ada akses yang lancar masyarakat akan banyak yang tertarik ke sana,” katanya. Lanjut Barnabas, masyarakat Siberut Utara, seperti Sikabaluan pada waktu lebaran atau hari libur biasanya berwisata ke pulau Simasin, pulau

Tumbang atau ke pantai Sikabaluan, sementara air terjun di Sirilanggai tidak ada pengunjung karena lokasinya sulit dijangkau. “Kadang anak-anak sekolah atau masyarakat yang mau jalan-jalan ke sana ada yang berangkat kendati melalui jalan setapak dan naik-turun bukit kecil. Wisata ini yang mau kita kembangkan ke depan,” katanya. “Kalau jalan sudah ada, orang dari luar akan datang ke sini menikmati air terjun yang ada. Direncanakan air bersih yang akan dibangun di Sikabaluan akan bersumber dari air terjun Sinungunung,” tambahnya. (bs/g)

BERWISATA - Sejumlah wisatawan berlibur di Pantai desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan


23

Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013 FOTO:APRIL/PUAILIGGOUBAT

Suara Daun Roberta Sarogdok

Alokasi Dana Desa Jauh dari Harapan

K

H

ubungan orang Mentawai dengan suku-suku tetangga dari daerah lain diawali dengan adanya saling tukar barang. Orang Mentawai tidak mengenal logam dan besi, karena itu mereka menukarnya dengan barang-barang asli dan hasil hutan, seperti rotan dan damar, untuk memperoleh parang. Persinggungan orang Mentawai dengan suku lain ditulis Stefano Coronese dalam buku Kebudayaan Suku Mentawai. Dalam bukunya, Stefano mengutip tulisan Veth pada tahun 1849, bahwa Komandan Perancis, Boileu pernah memperoleh informasi dari penduduk Tiku, Pariaman bahwa di Barat terdapat dua buah pulau tanpa penghuni, Belanda menyebutnya dengan Nassau dan Zuid-Pora. Pulau ketiga, letaknya di Utara yang berpenghuni, dinamai Mantawei (William Marsden) dan Noord-Pora atau Sibiru atau Mantabey (Neumann). Orang Mentawai pernah pula melakukan hubungan dagang dengan oran Tiku pada tahun 1621. Disimpulkan bahwa kala itu, yang disebut Pulau Nassau hanya satu, karena Pulau Pagai Utara dan Selatan dianggap tunggal. Sebelum tahun 1600 hanya Siberut yang dianggap berpenghuni, baru kemudian orang yang ada di Siberut berpindah ke Sipora dan Pagai.

Keadaan Abad XVIII Waktu John Crisp sampai di Pagai pada tahun 1792, ia menemui suatu tempat di bagian SelatSikakap, yang disebut Tunggu. Di sini beberapa orang Melayu membuat sampan karena menurut mereka, bahan perkayuannya berkualitas baik. Dari informasi Crisp dapat disimpulkan; a. Waktu itu terjadi hubungan dagang antara Sumatera dan Mentawai, bukan dari Padang, melanikan Bengkulu. Kapal-kapal yang datang dari Selatan, tentu bertemu di Pulau Pagai. Itulah sebabnya Siberut ditinggalkan dan terisolir, sedangkan Sipora dan SIkakap lebih sering dikunjungi sehingga lebih dikenal dan maju. b. Orang-orang bukan Mentawai yang pertamakalindatang ke Mentawai bukan suku Minangkabau melainkan orang Bengkulu. Hansen menerangkan pula, bahwa pernah ada kontak antara orang Sumatera dengan Kepulauan Mentawai yaitu: Orang Bugis Di dalam Uma Sabeu di Silabu, sebuah kampung yang terletak di pantai Barat Pagai Utara, ada sepucuk meriam tua yang merupakan peninggalan kapal Bugis. Pada abad XVIII, orang Bugis dari Makasar berlayar ke Padang berdagang kain. Sementara itu telah

berto-lak dari pantai Padang sebuah kapal dari dari Bugis menuju Mentawai untuk memancing ikan. Kapal itu berlabuh di Teluk Silabu, dekat pulau kecil, Silabu Mabeu. Asimilasi Pendatang Pada tahun 1910 sejak Hansen, diketahui pula selain penduduk asli orang Tionghoa, Melayu dan beberapa orang Nias juga tinggal di Mentawai. Ditambah dengan orang Batak yang menjadi pelayan pemerintah, menjabat tentara dan polisi. Juga menjadi guru dalam melayani tugas misi. Orang-orang lain yang datang ke Mentawai umumnya bermaksud berdagang. Mereka bebas, leluasa, menipu dan memeras penduduk Mentawai untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Niat jahat mereka dapat larangan dari pemerintah sehingga tidak dibolehkan masuk menyusup ke kampung-kampung jauh ke pedalaman. Pada dua kampung, Berre dan pasapuat bermukim beberapa orang Melayu dengan stabil. Dua kampung ini dijadikan koloni oleh orang Melayu dalam waktu yang cukup. Menurut Hansen di pasapuat sudah banyak terjadi asimilasi dengan pendatang. Pada tahun 1879, sebuah kapal dalam pelayaran dari Aceh ke Padang, karam di Mentawai. Kapal itu tidak ter-

tolong dan akhirnya tenggelam, hanya seorang saja dapat selamat. Orang itu menetap di Pasapuat dan berasimilasi dengan orang Mentawai. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terjadi percampuran darah Mentawai dengan Melayu Aceh, Bugis dan Nias. Selanjutnya Hansen menulis pula, bahwa menurut Neumann, ada sebuah teluk Labuhan Bajau yang terletak di ujung timur Siberut. Teluk ini cocok sekali untuk perlindungan kapal perampok Bugis dan Aceh. Transmigrasi Minang Ada kemungkinan orangorang Minangkabau telah berkunjung ke Mentawai pada akhir perang dunia ketiga. Kini mereka mendiami ibu kecamatan yang ada di Mentawai. Orang-orang Minang itu, langsung terjun ke kampungkampung melakukan perdagangan dengan penduduk asli. Tempat tinggal orang Minag di Mentawai tidak bercampur dengan tempat tinggal orang Mentawai. Jarang terjadi perkawinan antara dua suku ini. Hal itu disebabkan perbedaan bahas dan agama yang mereka anut. (Sumber: Kebudayaan Suku Mentawai; Stefano Coronese; Penerbit Grafidian Jaya Jakarta;1986)

eluarnya aturan soal Alokasi Dana Desa sebetulnya bertujuan untuk menyerahkan pembangunan desa kepada aparatus pemerintahan desa sebagai perpanjangan tangan pemerintah kabupaten. Kepala desa dimaksudkan membantu pemerintahan kabupaten dalam mengotrol pembangunan di desanya itu sendiri mulai dari pembangunan fisik, peraturan dan pendapatan desa termasuk keuangannya. Adanya Alokasi Dana Desa ini akan menjadikan desa-desa di Mentawai otonom. Dalam aturan yang dikeluarkan Bupati Mentawai soal ADD, menyatakan bahwa setiap langkah yang diambil kepala desa harus dalam rangka membantu pemerintahan. Namun kenyataannya, penggunaan dana ADD yang telah dicairkan untuk tahap pertama, diduga lebih banyak untuk kepentingan pribadi, bukan kebutuhan yang ada pada perencanaan yang telah tertulis sebelum adanya pencairan dana itu. Ada desa dimana semua dana yang telah dicairkan pada tahap pertama hanya dpergunakan sendiri oleh aparatus desanya, bahkan untuk gaji kepala dusun dan yang lain yang terdaftar untuk digaji sama sekali tidak terbayarkan hingga hari ini. Di desa lain juga ada sebagian dana yang telah dicairkan tidak tahu penggunaannya untuk apa saja. Dari hal yang sangat buruk ini mestinya ada yang diperhatikan oleh Bupati sebagai kepala daerah untuk memberikan peningkatan kapasitas dan menambah pengetahuan agar dalam pengelolaan ADD tersebut tepat pada sasaran. Sebelum menyerahkan pengelolaan dana ADD itu mestinya berulang kali digelar pelatihan dan pembekalan di tingkat aparatur desa secara bersama, bukan hanya kepala desa dan sekretarisnya yang dilatih akan tetapi semua yang bergabung di pemerintahan desa itu. Nah, apakah dengan kondisi yang dialami oleh sebagian kepala desa dibiarkan dan kesalahan atau korupsinya yang sudah ada tetap dibiarkan ? Dan adakah sanksinya jika penggunaan dana pada tahap pertama tetap diamankan dan pencairan dana yang kedua tetap diberikan? Dan apakah peluang-peluang korupsi ini tetap dibungkus rapat? Semoga tidak ada kepala desa yang masuk penjara gara-agar menyalahgunakan ADD.


Lingkungan

Bilou beraktivitas di pohon tinggi. Berkurangnya jumlah hutan di Mentawai menyebabkan populasi bilou di luar TNS diperkirakan tinggal seribu ekor.

Taman Nasional Siberut antara lain, simakobu sekitar 8.739 ekor, bokkoi sebanyak 11.365 ekor, joja berjumlah 14.094 ekor dan bilou sebanyak 7.991 ekor. (Puailiggoubat, Juni 2012). Fauna dan Flora Internasional (FFI) Wilayah Sumatra Barat juga mendata populasi bilou di Mentawai sejak 2010. Peneliti FFI di Mentawai, Christian Nahot Simanjuntak, kepada Puailiggoubat, mengatakan, populasi

Yuafriza

S

uara bilou, sore itu, 12 September 2007, di Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Mentawai, terdengar tidak seperti biasanya. Suaranya yang melengking tinggi dan panjang, hari itu terdengar bersahut-sahutan dan ribut. Tak lama setelah bilou mengeluarkan suara, gempa kuat mengguncang Mentawai, kekuatannya 8,4 SR yang berpusat di perairan Pagai Selatan dengan Pulau Enggano. Suara bilou bagi orang Mentawai memang menjadi semacam penanda. Jika terdengar suara bilou merintih dan menyayat, pertanda akan ada kejadian buruk, misal kematian. Jika suaranya ribut, biasanya akan ada gempa. Bilou (hylobates klossii/kloss gibbon) atau kera kecil merupakan salah satu dari empat primata endemik Mentawai. Primata lainnya joja atau lutung (presbytis potenziani), bokkoi (Macaca pagensis) dan simakobu (simias concolor). Keempat primata endemik ini menjadi bagian dalam kehidupan adat Mentawai. Bokkoi dan simakobu misalnya, merupakan hewan buruan

Puailiggoubat NO. 274, 15 - 31 Oktober 2013

saat upacara eneget yakni upacara yang menandai seorang anak laki-laki masuk fase dewasa. Biasanya si anak akan dibawa ke dalam hutan dengan membawa panah serta busur sebagai alat untuk berburu. Sementara bilou menjadi hewan pantangan dimakan oleh sikerei (ahli pengobatan) dengan sikebbukat uma (ketua uma) yang menjadi penjaga bakkat katsaila’ (tempat persembahan). Dalam punen (upacara adat), daging bilou tidak diperbolehkan ada. Sementara simakobu, merupakan salah satu roh dalam kepercayaan arat sabulungan (kepercayaan asal orang Mentawai) Kini, keempat primata endemik Mentawai ini, populasinya semakin menurun. Data Taman Nasional Siberut (TNS) tahun 2011 mencatat, populasi jenis primata endemik di dalam kawasan

bilou saat ini di luar kawasan TNS tinggal 1.000 ekor saja. Jika dipadukan dengan data TNS, maka populasi bilou saat ini sekitar 8.991 ekor. Jumlah ini jauh menurun dibanding hasil penelitian Whittaker tahun 2005, dimana populasi bilou masih 25.000. “Populasi terendah berada di Sipora Utara, perkiraan kami hanya tinggal 15 ekor saja,” kata Nahot. Sipora Utara merupakan ibu kabupaten Mentawai. Tingginya jumlah pendatang dan giatnya pembangunan disana telah menekan drastis jumlah hutan disana. Hutan dengan pohon tinggi memang menjadi tempat hidup bilou. Penelitian FFI dilakukan di empat pulau besar Mentawai. Di Siberut, penelitian dilakukan di luar kawasan TNS. Di Pagai Utara, dilakukan di Saumanganya, Silabu, Matobe. Di Pagai

3.300 Pohon untuk Mentawai MUARASIBERUT - Kementerian Kehutanan Repulik Indonesia mencanangkan program nasional berupa penanaman 1 miliar pohon sebagai bentuk melestarikan lingkungan, di Mentawai melalui Dinas Kehutanan telah merealisasikan program tersebut dengan menanam 3.300 pohon di Siberut Selatan yang diresmikan Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet, Kamis, 19 September. Menandai peresmian kegiatan, Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet menyerahkan bibit pohon lindung kepada Kepala Desa Maileppet Idris Siregar dan Kepala Desa Muara Siberut Alizar. Kemudian acara dilanjutkan

dengan penanaman pohon di sekitar lapangan bola kaki Muara Siberut yang dilubangi Siswa Pe-cinta Alam (Sispala) SMAN I Siberut Selatan. “Saya senang dengan Siberut karena masih mempunyai rasa peduli terhadap lingkungan, itu mesti dijaga dengan baik,” katanya. Kepala Dinas Kehutanan Mentawai Tasliatul Fuaddi mengatakan, program ini untuk merehabilitasi hutan, mengurangi emisi karbon. “Kita berharap masyarakat berpar-tisipasi untuk menjalankan program ini,” katanya, Senin, 30 September. Penanaman pohon tersebut, kata Fuad, melibatkan masyarakat dan Muspika Siberut Selatan, juga kepala desa, pihak sekolah baik

SD, SMP mau pun SMA, organisasi keagamaan dan pemuda yang diserahkan melalui koordinatornya. “Mekanismenya, bibit diserahkan sekaligus untuk tahun 2013 kepada koordinator masing-masing, kemudian ditanam anggotanya,” ujarnya. Fuad menyebutkan, jenis kayu yang akan ditanam adalah kayu mahoni, ketapang, cemara juga bibit rambutan, manggis, durian, sirsak yang semuanya didatangkan dari Padang. “Kita berharap masyarakat mau merawat tanaman ini agar tumbuh bagus,” katanya. (trs/bbr/g)

Selatan, penelitiannya di Malakopa dan Bulasat serta Sipora di Saureinu, Silabu hingga Betumonga. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan sistem jalur (transek) dan “Fix Point Count”. Metode jalur dilakukan dengan cara menyusuri jalur-jalur habitat bilou. Sementara, “Fix Point Count” dilakukan dengan pembukaan pos pendengaran terhadap suara hewan itu dengan jarak masing-masing 600 meter. “Pendengaran hanya dilakukan dengan telinga, dan dicatat menggunakan kompas dan GPS,” katanya. Menurunnya populasi bilou, menurut Nahot disebabkan pengelolaan hutan yang tidak bijaksana. “Berkurangnya jumlah hutan akibat ekspolitasi legal

24

maupun ilegal menjadi penyebab menurunnya populasi bilou sebab bilou ini sebagian besar aktivitasnya di atas pohon tinggi dan jarang turun ke tanah,” kata Nahot. Semakin menurunnya populasi empat primata Mentawai yang statusnya dilindungi itu tentu mengkhawatirkan. Menurut Nahot, menjaga agar empat primata endemik ini tidak punah adalah dengan menjaga kelestarian hutan Mentawai. “Saya pribadi berharap hutan ini dapat dikelola tanpa merusak lingkungan sehingga habitat bilou tidak terganggu. Di samping itu, hutan juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi,” kata Nahot. (ocha)

Primata Paling Setia

B

ilou merupakan jenis primata yang paling terkenal di Mentawai. Kera kerdil ini memiliki ekor pendek, tubuh ramping padat, rambut hitam mengkilap dengan dengan bantalan pantat dan punya selaput antara jari kedua dan ketiga. Pada bawah dagu terdapat kantung tenggorokan besar yang membuat suara bilou melengking dan panjang. Bilou memang dikenal karena suaranya yang melengking. Bilou betina suaranya lebih khas dibanding bilou jantan. Mereka biasanya bersuara saat pagi hari. Bilou jantan biasa mengeluarkan suara 10 menit hingga 2 jam saat fajar dengan kontribusi betina sekitar 15 menit. Kadang-kadang,bilou muda akan bergabung dengan duet orangtuanya. Telah dihipotesiskan bahwa duet adalah suatu cara mengintimidasi tetangga untuk mempertahankan wilayah mereka atau sebagai cara untuk mempertahankan kelompok. Sebagai primata yang hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari ibu-bapak dan anak-anaknya, bilou merupakan primata monogami. Bilou jantan hanya setia pada betinanya. Bilou memasuki tahap produktif saat usia 7 tahun. Masa kehamilan berlangsung 7-8 bulan dengan satu bayi lahir setiap 2 sampai 3 tahun. Sementara, tingkat produktivitas kera hitam ini tergolong cukup rendah, karena hanya dapat beranak 3 - 4 ekor selama 25 tahun. Bilou beraktivitas siang hari dengan bergerak dari pohon ke pohon setidaknya 10 meter. Hal ini menyebabkan mereka bisa bergerak melalui udara hampir seolah-olah mereka terbang. Jika di tanah, mereka dapat bergerak bipedally untuk jarak yang sangat pendek. Mereka bergerak rata-rata 1.514 meter per hari dan diurnal, tidur di pohon-pohon di malam hari. Mereka sering mereka menggunakan pohon yang sama setiap malam untuk tidur. Mereka aktif hingga 10 jam per hari. Kera hitam ini pemakan buah, terutama yang berkadar gula tinggi. Mereka juga akan mengkonsumsi bunga, telur, vertebrata kecil, dan serangga. Karena itu bilou bertindak sebagai penyebar benih penting dalam ekosistem hutan. (ocha)


274 ok